Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN MINGGUAN

PRAKTIKUM FISIKA LINGKUNGAN


PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN

Disusun Oleh:

NAMA : SEARPHIN NUGROHO


NIM : 1309045035
KELOMPOK : 2 (DUA)
ASISTEN : MARITA WULANDARI
NIM : 1109045017

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Kebisingan atau noise pollution sering disebut suara atau bunyi yang tidak dikehendaki
atau dapat diartikan pula sebagai suara yang salah pada tempat dan waktu yang salah.
Kebisingan merupakan salah satu faktor penting penyebab terjadinya stress dalam
kehidupan dunia modern. Sumber kebisingan dapat berasal dari kendaraan bermotor,
kawasan industri atau pabrik, pesawat terbang, kereta api, tempat-tempat umum dan
tempat niaga.

Setiap hari di jalan raya, banyak sekali kendaraan yang lalu-lalang baik yang beroda
dua maupun beroda empat bahkan lebih. Kendaraan-kendaraan tersebut terkadang
menimbulkan suara yang cukup besar dan mengganggu kehidupan orang-orang
disekitarnya, baik itu raungan mesinnya, klakson mobilnya, bahkan sirine dari mobil-
mobil tertentu seperti truk pemadam kebakaran, mobil polisi, dan ambulan.

Bising memberikan dampak yang merugikan manusia. Bising dapat menyebabkan


kemampuan pendengaran kita menurun bahkan menyebabkan ketulian. Selain itu,
bising juga dapat mengganggu konsentrasi dan meningkatkan kelelahan, ini dapat
terjadi pada kebisingan tingkat rendah. Sedangkan pada kebisingan tinggi dapat
meyebabkan salah tafsir pada saat bercakap-cakap. Bising juga dapat menyebabkan
gangguan hormonal, sistem saraf, dan merusak metabolisme. Dengan segala kerugian
yang ditimbulkan, diperlukan solusi yang tepat guna dan efektif untuk mengurangi
bahkan menghilangkan kebisingan.

Oleh karena itu, diadakanlah percobaan kebisingan di simpang tiga Plaza Mulia
sehingga dapat menentukan tingkat kebisingan pada kawasan tersebut serta menambah
menambah wawasan mengenai kebisingan dan keterampilan praktikan dalam
menggunakan sound level meter serta hasil yang di dapat bisa digunakan untuk
mengurangi bising yang menyakitkan bagi masyarakat.

1.2 Tujuan Praktikum


a. Mengetahui hasil penentuan kebisingan pada setiap tempat pengamatan.
b. Mengetahui parameter-parameter yang mempengaruhi kebisingan.
c. Mengetahui perbandingan hasil praktikum dengan Kepmenaker No.51 Tahun 1999.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Kebisingan

Kebisingan atau noise pollution sering disebut suara atau bunyi yang tidak dikehendaki
atau dapat diartikan pula sebagai suara yang salah pada tempat dan waktu yang salah.
Kebisingan merupakan salah satu faktor penting penyebab terjadinya stress dalam
kehidupan dunia modern. Sumber kebisingan dapat berasal dari kendaraan bermotor,
kawasan industri atau pabrik, pesawat terbang, kereta api, tempat-tempat umum dan
tempat niaga (Chandra, 2006).

Secara umum kebisingan dapat dikelompokkan berdasarkan kontinuitas, intensitas, dan


spektrum frekuensi suara yang ada, seperti berikut:

Tabel 2.1 Batas Kebisingan Komunitas


Intensitas Kebisingan Batas Tertinggi Jenis Kebisingan
Menulikan 120 Halilintar
110 Meriam
100 Mesin uap
Jalan hiruk piruk
Sangat Hiruk 90 Perusahaan sangat gaduh
80 Kantor gaduh
70 Jalanan pada umumnya
60 Rumah gaduh
Sedang 50 Kantor umumnya
Percakapan kuat
40 Radio perlahan
Tenang 30 Rumah tenang
Kantor perorangan
Auditorium
20 Percakapan
10 Suara daun-daun berisik
Batas dengar terendah 0

1. Steady state and narrow band noise


Kebisingan yang terus menerus dengan spektrum suara yang sempit seperti suara
mesin dan kipas angin.
2. Nonsteady state and narrow band noise
Kebisingan yang tidak terus-menerus dengan spektrum suara yang sempit seperti
suara mesin gerjaji dan katup uap.
3. Kebisingan intermittent
Kebisingan semacam ini terjadi sewaktu-waktu dan terputus, misalnya, suara
pesawat terbang dan kipas angin.
4. Kebisingan impulsif
Kebisingan yang impulsif atau memekakkan telinga, misalnya bunyi tembakan
bedil, meriam, atau ledakan bom.
(Chandra, 2006)

2.2. Pengaruh Kebisingan

Toleransi manusia terhadap kebisingan bergantung pada faktor akustikal dan faktor
non-akustikal. Faktor akustikal meliputi: tingkat kekerasan bunyi, frekuensi bunyi,
durasi munculnya bunyi, fluktuasi kekerasan bunyi, fluktuasi frekuensi bunyi, dan
waktu munculnya bunyi. Sementara faktir non-akustikal meliputi: pengalaman terhadap
kebisingan, kegiatan, perkiraan terhadap kemungkinan munculnya kebisingan,
kepribadian, lingkungan dan keadaan (Mediastika, 2008).

Pengaruh bising terhadap kesehatan yang paling utama adalah kerusakan pada indera
pendengar dan akibat ini telah diketahui umum. Kerusakan atau gangguan sistem
pendengaran dibagi atas:
1. Hilangnya pendengaran secara temporer atau sementara dan dapat pulih kembali
apabila bising tersebut dapat dihindarkan.
2. Orang menjadi kebal atau imun terhadap bising.
3. Telinga berdengung.
4. Kehilangan pendengaran secara permanen dan tidak pulih kembali, biasanya pada
frekuensi sekitar 4.000 Hz ke atas
(Subagiada, 2014).

Selain pengaruh bising terhadap sistem pendengaran, bising juga dapat mengganggu
konsentrasi dan meningkatkan kelelahan, ini dapat terjadi pada kebisingan tingkat
rendah. Sedangkan pada kebisingan tinggi dapat meyebabkan salah tafsir pada saat
bercakap-cakap (Subagiada, 2014).

Apabila bising berinterferensi dengan frekuensi 300 - 3.000Hz akan menyebabkan


perasaan tidak enak dalam pekerjaan dan terhadap lingkungan sekitarnya serta akan
menimbulkan reaksi masyarakat yaitu protes terhadap kebisingan. Pada suatu penelitian
di Jerman menunjukkan pekerja yang mengalami kebisingan dapat menyebabkan
gangguan hormonal, sistem saraf, dan merusak metabolisme (Subagiada, 2014).

2.3 Baku Kebisingan

Menyadari dampak yang ditimbulkan oleh kebisingan, pemerintah negara maju telah
mengupayakan agar permasalahan kebisingan dipahami oleh masyarakat umum dan
diatur dalam perundangan yang ketat disertai sanksi bagi yang menghasilkan
kebisingan tersebut. Meski demikian, negara-negara berkembang sering menghadapi
kendala untuk menerapkan peraturan yang ketat. Alasan utamanya adalah tingkat
pertumbuhan ekonomi masyarakat yang masih rendah. Hal ini mengakibatkan
banyaknya peralatan dan mesin yang sesungguhnya sudah tidak layak pakai lagi masih
dipergunakan. Peralatan dan mesin semacam ini menimbulkan kebisingan yang tinggi.
Pemerintah negara berkembang umumnya juga tidak memiliki pedoman perencanaan
kota yang baik, sehingga pertumbuhan pemakaian alat angkut bermotor belum diikuti
pertumbuhan lebar dan panjang ruas jalan yang memadai (Mediastika, 2008).

Pemerintah Indonesia memiliki aturan kebisingan dalam Undang-Undang No.16/2002


mengenai Bangunan Gedung (UUBG). Dalam UUBG, peraturan kebisingan hanya
dimasukkan dalam pasal megenai kenyamanan, belum sampai pada pasal yang
mengenai kesehatan. Kebisingan juga diatur dalam Peraturan MenKes No.
718/MenKes/Per/XI/87 dan Keputusan Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular (PPM)
No. 70-I/PP.03.04.LP. Dari peraturan tersebut, diperolehlah bakuan tingkat kebisingan
menurut pintakat penentuan (zone) sebagaimana tercantum pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Zona peruntukan (Peraturan MenKes No. 718/MenKes/Per/XI/87)


Tingkat Kebisingan Maksimum (dBA)
Zona Peruntukan di dalam Bangunan
Dianjurkan Diperbolehkan
Laboratorium, rumah sakit,
A 35 45
panti perawat
Rumah, sekolah, tempat
B 45 55
rekreasi
C Kantor, perkotaan 50 60
D Industri, terminal, stasiun KA 60 70
(Mediastika, 2008).

Pada kenyataannya, semakin bertambahnya pemakaian kendaraan bermotor, tingkat


kebisingan di tepi jalan raya di beberapa kota besar di Indonesia umumnya mendekati
70 hingga 80 dBA. Kenyataan ini menunjukkan bahwa bangunan yang berlokasi di tepi
jalan perlu dirancang secara cermat agar tingkat kebisingan di dalam bangunan sesuai
dengan bakuan yang telah ditetapkan (Mediastika, 2008).

Sampai saat ini, membatasi kebisingan di Indonesia dengan jalan membatasi atau
meniadakan kebisingan belum dapat diterapkan. Sebagai contoh, aturan ketat yang
membatasi dan menerapkan sanksi kepada mereka yang menghasilkan kebisingan yang
melebihi bakuan belum diterapkan di Indonesia. Di sisi lain, membatasi jumlah
kendaraan bermotor yang menghasilkan kebisingan, juga tidak mudah diterapkan,
sebab hal ini sangat berkaitan dengan usaha meningkatkan pertumbuhan ekonomi
masyarakat (Mediastika, 2008).

2.4 Alat Pengukur Kebisingan

Alat utama untuk mengukur tingkat kebisingan adalah sound level meter. Alat ini
berfungsi mengukur kebisingan yang berada dalam kisaran 30 sampai 130 desibel (dB)
dengan frekuensi antara 20 sampai 20.000 Hz. Di dalam alat itu sudah terpasang
kalibrasinya sendiri, kecuali untuk kalibrasi mikrofon yang memerlukan pengecekan
dengan kalibrasi tersendiri. Sebagai kalibrasi dapat dipakai pengeras suara yang
kekuatan suaranya diatur oleh amplifier. Piston phone juga dapat digunakan untuk
keperluan kalibrasi. Alat ini sangat baik untuk kalibrasi suara yang memiliki intensitas
tinggi (125 dB) (Chandra, 2006).

Analisis terhadap frekuensi suatu kebisingan biasanya diperlukan. Hal itu biasa
dilakukan dengan alat octave band analyzer, yang memiliki filter-filter yang disusun
menurut tingkatan oktafnya. Jika spektrumnya sangat curam dan berbeda banyak, skala
1/3 oktaf dapat digunakan. Untuk filter-filtr oktaf disukai frekuensi-frekuensi tengah
yang berukuran 31,5; 63; 125; 250; 500; 1.000; 2.000; 4.000; 8.000; 16.000; dan
31.500 Hz (Chandra, 2006).

Untuk analisis lebih lanjut, dapat dipakai narrow band analyzer (alat analisis spektrum
sempit), baik dengan layar spektrum yang tetap, misalnya 2-200 Hz, atau spektrum
yang melebar dengan frekuensi yang lebih tinggi. Alat ini lebih disukai di lapangan
mengingat komponen kebisingan mungkin berbeda-beda bergantung pada muatan
mesin (Chandra, 2006).

Kebisisngan yang terputus-putus biasanya direkam terlebih dahulu dengan tape


recorder dengan kualitas tinggi yang mampu merekam suara dengan frekuensi antara
20 sampai 30 kHz. Kaset berisi rekaman itu kemudian dibawa ke laboratorium untuk
dianalisis. Untuk kebisingan yang bersifat impulsif, pengukuran dilakukan dengan alat
impact noise analyzer. Dewasa ini tengah dikembangkan suatu alat pengukur suara
yang dinamakan personal noise doses meter (Chandra, 2006).
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Waktu dan Lokasi Praktikum


Praktikum Fisika Lingkungan tentang getaran dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 10
Mei 2014, pukul 06.00 - 09.00 WITA, 12.00 - 15.00 WITA, dan 19.00 - 21.00 WITA,
bertempat di pertigaan Plaza Mulia (Jalan Bhayangkara, Jalan Kesuma Bangsa, dan
Jalan Pahlawan), Samarinda.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat
1. GPS
2. Stopwatch
3. Meteran
4. Kalkuator
5. Payung
6. Kamera
7. Alat tulis
8. Vibration meter

3.2.2 Bahan
1. Software ArcGis 9.3
2. Software TatukGis Calculator
3. Papan LJK

3.3 Metode Kerja

3.3.1 Penentuan Titik Pengujian


1. Ditentukan titik awal yang tepat pada lampu merah di suatu jalan.
2. Digunakan GPS untuk menentukan koordinat dari titik tersebut.
3. Dinyalakan tombol power dan dibiarkan beberapa saat hingga GPS dapat dipakai.
4. Ditekan tombol enter untuk melihat layar utama.
5. Ditekan lagi tombol enter dengan cukup lama untuk menandai koordinat.
6. Dilakukan hal yang sama pada jarak 10 meter dari titik awal.
7. Dilakukan kegiatan 1-6 pada ruas jalan yang berbeda.

3.3.2 Penentuan Kebisingan


1. Dinyalakan sound level meter dan aturlah alat tersebut.
2. Diarahkan ujung sound level meter tersebut ke sumber suara dimulai dari tiitk awal
(lampu merah).
3. Dilihat pada display dari alat tersebut, kemudian dicatat hasilnya.
4. Dilakukan hal yang sama hingga sebanyak 20 kali.
5. Dilakukan hal yang sama pada jarak 10 m dari lampu merah.
6. Dilakukan langkah 1-4 pada ruas jalan yang berbeda.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

4.1.1 Hasil Pengukuran Kebisingan di Jalan Bhayangkara

Tabel 4.1 Hasil Pengukuran Kebisingan di Jalan Bhayangkara


Jam 06.00 - 09.00 Jam 12.00 - 15.00 Jam 19.00 - 22.00
Awal (dB) 10 m (dB) Awal (dB) 10 m (dB) Awal (dB) 10 m (dB)
1 85,9 83,3 85,2 79,2 86,1 84,3
2 88,6 87,4 84,6 85,6 96,1 85,1
3 87,1 90,5 84,6 88,7 86,7 87,6
4 76,3 85,9 82,2 89,5 86,0 86,4
5 82,9 79,9 81,4 82,2 90,8 82,7
6 78,9 87,5 84,3 86,3 90,3 84,4
7 82,0 88,0 87,3 84,9 92,1 88,3
8 86,5 86,7 84,0 97,3 89,3 84,2
9 85,0 84,4 86,3 86,4 93,6 88,6
10 79,5 82,7 84,0 84,2 84,8 90,8
11 85,6 86,0 84,4 89,0 90,4 90,9
12 85,7 86,5 82,1 85,0 93,6 95,3
13 83,3 91,4 80,0 85,3 88,2 104,5
14 86,1 83,6 81,2 83,4 89,2 85,1
15 83,8 84,2 82,7 92,8 91,4 83,5
16 83,7 86,2 83,6 91,5 92,8 87,8
17 85,8 84,5 86,1 94,4 85,8 93,8
18 88,3 82,9 97,3 89,8 87,6 92,8
19 81,3 87,4 89,6 84,9 95,8 88,7
20 82,9 86,7 81,7 86,9 94,7 86,6
Total 1679,2 1715,7 1692,6 1747,3 1805,3 1771,4
Rata-rata 83,96 85,785 84,63 87,365 90,265 88,57

4.1.2 Hasil Pengukuran Kebisingan di Jalan Kesuma Bangsa

Tabel 4.2 Hasil Pengukuran Kebisingan di Jalan Kesuma Bangsa


Jam 06.00 - 09.00 Jam 12.00 - 15.00 Jam 19.00 - 22.00
Awal (dB) 10 m (dB) Awal (dB) 10 m (dB) Awal (dB) 10 m (dB)
1 83,5 69,6 87,9 84,8 92,6 83,8
2 84,1 88,9 85,4 81,9 83,0 91,0
3 87,5 71,0 87,0 82,9 83,4 85,8
4 86,9 69,5 100,2 82,5 86,3 90,7
5 85,8 91,4 87,1 86,5 89,5 83,2
6 90,7 71,8 82,2 83,4 85,3 85,8
7 93,9 69,8 84,6 85,6 91,8 90,1
8 83,6 87,9 89,4 88,4 86,4 81,4
9 84,8 78,8 77,8 82,6 88,4 88,5
10 84,5 75,0 86,8 84,5 96,4 102,6
11 91,0 79,9 100,2 83,3 88,0 86,1
12 83,5 76,1 88,5 84,5 87,7 85,6
13 92,5 86,1 82,6 79,7 89,7 88,7
14 87,4 78,3 85,0 83,1 91,7 89,2
15 88,6 75,6 91,9 85,2 86,6 83,8
16 85,5 82,4 82,6 86,1 88,3 84,5
17 85,5 83,0 85,6 84,9 91,7 84,5
18 83,2 80,0 90,5 83,4 87,1 86,3
19 87,5 71,5 80,7 83,0 85,9 93,3
20 81,4 79,5 114,0 84,6 92,1 91,6
Total 1731,4 1645,6 1770 1680,9 1771,9 1756,5
Rata-rata 86,57 82,28 88,5 84,045 88,595 87,825

4.1.3 Hasil Pengukuran Kebisingan di Jalan Pahlawan

Tabel 4.3 Hasil Pengukuran Kebisingan di Jalan Pahlawan


Jam 06.00 - 09.00 Jam 12.00 - 15.00 Jam 19.00 - 22.00
Awal (dB) 10 m (dB) Awal (dB) 10 m (dB) Awal (dB) 10 m (dB)
1 82,1 87,2 88,9 92,3 101,3 99,4
2 73,5 76,3 90,6 90,0 94,2 85,9
3 73,5 87,6 78,8 89,6 88,4 87,0
4 82,6 79,5 85,6 86,3 93,3 87,4
5 81,7 75,0 85,5 85,0 89,6 88,5
6 72,1 77,7 88,1 92,4 88,0 84,0
7 73,9 79,3 91,6 90,7 93,6 85,8
8 79,7 74,9 90,2 89,4 89,0 92,7
9 74,5 77,7 82,5 87,2 98,5 86,5
10 84,6 82,6 85,2 92,0 88,2 87,0
11 72,1 79,9 84,3 84,3 89,6 91,8
12 84,3 73,4 86,9 89,0 90,3 84,1
13 71,2 79,5 86,0 88,8 89,7 94,7
14 78,1 79,7 89,9 87,9 90,2 94,0
15 84,3 79,7 82,5 91,0 88,7 85,4
16 73,9 73,5 86,2 90,8 87,3 85,7
17 77,0 78,5 88,5 89,5 86,4 92,4
18 78,2 80,4 91,6 90,5 85,1 88,8
19 78,6 77,8 83,9 89,4 86,4 92,8
20 79,9 74,3 87,8 88,5 88,6 88,0
Total 1555,8 1574,5 1734,6 1784,6 1806,4 1781,9
Rata-rata 77,79 78,725 86,73 89,23 90,32 89,095

4.1.4 Hasil Penentuan Titik Koordinat di Jalan Bhayangkara

Tabel 4.4 Hasil Penentuan Titik Koordinat di Jalan Bhayangkara


Titik Koordinat
X: 50 M 0516242
Titik awal
Y: UTM 9945880
X: 50 M 0516228
10 meter dari titik awal
Y: UTM 9945860

4.1.5 Hasil Penentuan Titik Koordinat di Jalan Kesuma Bangsa

Tabel 4.5 Hasil Penentuan Titik Koordinat di Jalan Kesuma Bangsa


Titik Koordinat
X: 50 M 0516318
Titik awal
Y: UTM 9945857
X: 50 M 0516307
10 meter dari titik awal
Y: UTM 9945856

4.1.6 Hasil Penentuan Titik Koordinat di Jalan Pahlawan

Tabel 4.6 Hasil Penentuan Titik Koordinat di Jalan Pahlawan


Titik Koordinat
X: 50 M 0516304
Titik awal
Y: UTM 9945921
X: 50 M 0516309
10 meter dari titik awal
Y: UTM 9945932
4.2 Perhitungan

4.2.1 Perhitungan Kebisingan di Jalan Bhayangkara

4.2.1.1 Perhitungan pada Lampu Merah


-Diketahui : dB1 = 83,96 dB
dB2 = 84,63 dB
dB3 = 90,265 dB
T1 = T2 = T3 = 1 jam
-Ditanya : LS = ...........?
-Jawab : LS = 10 log 1/3 [ 1 . 10 0,1 x dB1 + 1 . 10 0,1 x dB2 + 1 . 10 0,1 x dB3]
= 10 log 1/3 [ 10 0,1 x 83,96 + 10 0,1 x 84,63 + 10 0,1 x 90,265]
= 10 log 1/3 [ 10 8,396 + 10 8,463 + 10 9,0265]
= 10 log 1/3 [ 248.885.731+ 290.042.265 + 1.062.918.583]
= 10 log 1/3 [ 1.601.846.579]
= 10 log 533.948.859,7
= 10 . 8,727
= 87,27 dB

4.2.1.2 Perhitungan pada 10 m dari Lampu Merah


-Diketahui : dB1 = 85,785 dB
dB2 = 87,365 dB
dB3 = 88,57 dB
T1 = T2 = T3 = 1 jam
-Ditanya : LS = ...........?
-Jawab : LS = 10 log 1/3 [ 1 . 10 0,1 x dB1 + 1 . 10 0,1 x dB2 + 1 . 10 0,1 x dB3]
= 10 log 1/3 [ 10 0,1 x 85,785 + 10 0,1 x 87,365 + 10 0,1 x 88,57]
= 10 log 1/3 [ 10 8,5785 + 10 8,7365 + 10 8,857]
= 10 log 1/3 [ 378.878.533+ 545.129.895 + 719.448.978]
= 10 log 1/3 [ 1.643.457.406]
= 10 log 547.819.135,3
= 10 . 8,738
= 87,38 dB

4.2.2 Perhitungan Kebisingan di Jalan Kesuma Bangsa

4.2.2.1 Perhitungan pada Lampu Merah


-Diketahui : dB1 = 86,57 dB
dB2 = 88,5 dB
dB3 = 88,595 dB
T1 = T2 = T3 = 1 jam
-Ditanya : LS = ...........?
-Jawab : LS = 10 log 1/3 [ 1 . 10 0,1 x dB1 + 1 . 10 0,1 x dB2 + 1 . 10 0,1 x dB3]
= 10 log 1/3 [ 10 0,1 x 86,57 + 10 0,1 x 88,5 + 10 0,1 x 88,595]
= 10 log 1/3 [ 10 8,657 + 10 8,85 + 10 8,8595]
= 10 log 1/3 [ 453.941.616+ 707.945.784 + 723.602.402]
= 10 log 1/3 [ 1.885.489.802]
= 10 log 628.496.600,7
= 10 . 8,798
= 87,98 dB

4.2.2.2 Perhitungan pada 10 m dari Lampu Merah


-Diketahui : dB1 = 82,28 dB
dB2 = 84,045 dB
dB3 = 87,825 dB
T1 = T2 = T3 = 1 jam
-Ditanya : LS = ...........?
-Jawab : LS = 10 log 1/3 [ 1 . 10 0,1 x dB1 + 1 . 10 0,1 x dB2 + 1 . 10 0,1 x dB3]
= 10 log 1/3 [ 10 0,1 x 82,28 + 10 0,1 x 84,045+ 10 0,1 x 87,825]
= 10 log 1/3 [ 10 8,228 + 10 8,4045 + 10 8,7825]
= 10 log 1/3 [ 169.044.093+ 253.804.896 + 606.038.200]
= 10 log 1/3 [ 1.028.887.189]
= 10 log 342.962.396,3
= 10 . 8,535
= 85,35 dB

4.2.3 Perhitungan Kebisingan di Jalan Pahlawan

4.2.3.1 Perhitungan pada Lampu Merah


-Diketahui : dB1 = 77,79 dB
dB2 = 86,73 dB
dB3 = 90,32 dB
T1 = T2 = T3 = 1 jam
-Ditanya : LS = ...........?
-Jawab : LS = 10 log 1/3 [ 1 . 10 0,1 x dB1 + 1 . 10 0,1 x dB2 + 1 . 10 0,1 x dB3]
= 10 log 1/3 [ 10 0,1 x 77,79 + 10 0,1 x 86,73+ 10 0,1 x 90,32]
= 10 log 1/3 [ 10 7,779 + 10 8,673 + 10 9,032]
= 10 log 1/3 [ 60.117.373+ 470.977.326 + 1.076.465.214]
= 10 log 1/3 [ 1.607,559.913]
= 10 log 535.853.304,3
= 10 . 8,729
= 87,29 dB

4.2.3.2 Perhitungan pada 10 m dari Lampu Merah


-Diketahui : dB1 = 78,725 dB
dB2 = 89,23 dB
dB3 = 89,095 dB
T1 = T2 = T3 = 1 jam
-Ditanya : LS = ...........?
-Jawab : LS = 10 log 1/3 [ 1 . 10 0,1 x dB1 + 1 . 10 0,1 x dB2 + 1 . 10 0,1 x dB3]
= 10 log 1/3 [ 10 0,1 x 78,725 + 10 0,1 x 89,23+ 10 0,1 x 89,095]
= 10 log 1/3 [ 10 7,8725 + 10 8,923 + 10 8,9095]
= 10 log 1/3 [ 74.558.987+ 837.529.282 + 811.895.248]
= 10 log 1/3 [ 1.723.983.517]
= 10 log 574.661.172,3
= 10 . 8,759
= 87,59 dB

4.3 Pemetaan Lokasi Pengukuran

Gambar 4.7 Pemetaan Lokasi Pengukuran Tingkat Kebisingan di Persimpangan Plaza Mulia
(Jalan Bhayangkara, Jalan Kesuma Bangsa, dan Jalan Pahlawan)

4.4 Pembahasan

Kebisingan atau noise pollution sering disebut suara atau bunyi yang tidak dikehendaki
atau dapat diartikan pula sebagai suara yang salah pada tempat dan waktu yang salah.
Ada 3 macam kebisingan, yaitu audible noise, occupational noise dan impuls noise.
Ada dua macam parameter kebisingan, yaitu parameter umum dan parameter turunan.
Parameter umum terdiri dari frekuensi, tekanan bunyi, dan tenaga bunyi. Sedangkan
parameter turunan terdiri dari tingkat tekanan bunyi dan tingkat bunyi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kebisingan antara lain mesin dari kendaraan, keras
pelannya suara teriakan dari seseorang. Alat yang digunakan dalam melakukan
percobaan kali ini yaitu sound level meter. Sound level meter adalah alat pengukur
suara. Mekanisme kerja SLM apabila ada benda bergetar, maka akan menyebabkan
terjadinya perubahan tekanan udara yang dapat ditangkap oleh alat ini, selanjutnya
akan menggerakkan meter penunjuk. Sebuah alat ukur kebisingan disebut Sound Meter.
Alat ini didesain memberikan respon seperti telinga manusia dengan memasukkan
sebuah penguat dalam rangkaian elektroniknya yang memberikan penguatan tegangan
yang lebih kecil pada frekuensi rendah dan tinggi. Alat ukur ini ditandai dalam satuan
desibel (disingkat dB). Desibel (Lambang Internasional = dB) adalah satuan untuk
mengukur intensitas suara. Huruf "B" pada dB ditulis dengan huruf besar karena
merupakan bagian dari nama penemunya, yaitu "Bell" (Alexander Graham Bell).Sound
meter, ada 2 jenis yaitu: Sound meter analog, pada instrumen ini disusun dari rangkaian
listrik yang didesign khusus akan mengkonversi sinyal listrik dari mikropon menjadi
suatu bacaan angka pada skala. Sound meter digital, pada instrument ini disusun dari
rangkaian listrik yang didesign khusus akan mengkonversi sinyal listrik dari mikropon
menjadi bacaan angka yang terdisplai pada layar.

Hasil perhitungan yang kami dapatkan adalah kebisingan di Jalan Bhayangkara pada
lampu merah sebesar 87,27 dB dan pada jarak 10 m dari lampu merah sebesar 87,38
dB. Kebisingan di Jalan Kesuma Bangsa pada lampu merah sebesar 87,98 dB dan pada
jarak 10 m dari lampu merah sebesar 85,35 dB. Kebisingan di Jalan Pahlawan pada
lampu merah sebesar 87,29 dB dan pada jarak 10 m dari lampu merah sebesar 87,59
dB.

Adanya perbedaan tingkat kebisingan pada L1, L2, dan L3 disebabkan oleh beberapa
faktor, diantaranya karena kondisi jalan raya tidak konstan, kadang lenggang, kadang
ramai, sehingga jika ada kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi atau
membunyikan klakson akan memiliki intensitas bunyi yang jauh lebih tinggi.
Kemudian, putaran mesin yang dimiliki oleh setiap kendaraan berbeda-beda, semakin
halus putaran mesinnya semakin rendah tingkat kebisingannya. Begitu pula sebaliknya.

Kebisingan pada persimpangan tiga Plaza Mulia berkisar antara 85,35 - 87,98 dB.
Berdasarkan Kepmenaker No.51 Tahun 1999, di mana untuk tempat kerja NAB sebesar
85 dB, maka kebisingan pada persimpangan Plaza Mulia telah melewati batas yang
ditentukan, sehingga ada batas pemaparan yang ditentukan Kepmenaker No.51 Tahun
1999 pada persimpangan Plaza Mulia yakni sekitar 4 jam.

Kondisi simpang tiga Plaza Mulia pada pagi hari cuacanya cukup buruk, yakni hujan.
Dan kendaraan yang melintasi jalan tersebut cukup jarang. Pada saat siang hari,
cuacanya cerah dan banyak kendaraan yang melintasi jalan-jalan tersebut. Pada saat
malam hari, jalanan semakin padat karena banyak sekali kendaraan yang melintas.
Kendalanya adalah pada saat cuaca buruk kami harus berusaha menjaga sound level
meter agar tidak kebasahan. Selain itu, cuaca buruk sempat menghambat kami ke lokasi
percobaan.

Dampak negatif dari kebisingan antara lain mengganggu pengguna kendaraan bermotor
lainnya dan pejalan kaki di sekitar jalan raya, serta mengganggu
komunikasi/percakapan antar individu. Solusi untuk mengendalikan tingkat kebisingan
yang tinggi antara lain menggunakan penyumbat telinga, menghindari suara yang
terlalu bising, dan menggunakan komponen baru pada kendaraan bermotor yang
mampu meredam suara dari kendaraan tersebut.

Faktor kesalahan yang terjadi selama praktikum antara lain kesalahan pada saat men-
setting sound level meter, praktikan yang berbicara dengan keras pada saat melakukan
pengujian, dan kurang fokusnya praktikan dalam melakukan pengamatan pada display
sound level meter.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

a. Hasil perhitungan yang kami dapatkan adalah kebisingan di Jalan Bhayangkara


pada lampu merah sebesar 87,27 dB dan pada jarak 10 m dari lampu merah sebesar
87,38 dB. Kebisingan di Jalan Kesuma Bangsa pada lampu merah sebesar 87,98
dB dan pada jarak 10 m dari lampu merah sebesar 85,35 dB. Kebisingan di Jalan
Pahlawan pada lampu merah sebesar 87,29 dB dan pada jarak 10 m dari lampu
merah sebesar 87,59 dB.
b. Ada dua macam parameter kebisingan, yaitu parameter umum dan parameter
turunan. Parameter umum terdiri dari frekuensi, tekanan bunyi, dan tenaga bunyi.
Sedangkan parameter turunan terdiri dari tingkat tekanan bunyi dan tingkat bunyi.
c. Kebisingan pada persimpangan tiga Plaza Mulia berkisar antara 85,35 - 87,98 dB.
Berdasarkan Kepmenaker No.51 Tahun 1999, di mana untuk tempat kerja NAB
sebesar 85 dB, maka kebisingan pada persimpangan Plaza Mulia telah melewati
batas yang ditentukan, sehingga ada batas pemaparan yang ditentukan Kepmenaker
No.51 Tahun 1999 pada persimpangan Plaza Mulia yakni sekitar 4 jam.

5.2 Saran

Sebaiknya pengujian dilakukan dalam waktu yang sedikit lebih lama, misalnya 15
menit untuk setiap titik untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang mencolok
dengan metode sebelumnya atau tidak.
DAFTAR PUSTAKA

1. Chandra, Budiman., 2006. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Penerbit Buku


Kedokteran. Jakarta.
2. Mediastika, Christina. E., 2008. Akustika Bangunan. Erlangga. Jakarta.
3. Subagiada, Kadek., 2014. Penuntun Praktikum Fisika Lingkungan. Universitas
Mulawarman. Samarinda.
P