Anda di halaman 1dari 11

SEMINAR JURNAL

Pengaruh Terapi Token Terhadap Kemampuan Mengontrol Perilaku


Kekerasan Pada Pasien Gangguan Jiwa

Oleh :

INDAH SETYOWATI I4B018082


MUHAMMAD NUR I4B018060
NURHADI I4B018058
UMAR SUMARDI I4B018067
RNDA BAGUS S I4B018088
ADITYA WICAKSONO I4B018059
HERI FIRMANSYAH I4B018061
SRI ASIH DIANA FITRI I4B018103
ATIT PRASETYA I4B018077
NADYA ROHMATUL L I4B018111

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
PENDIDIKAN PROFESI NERS
PURWOKERTO
2019

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Orang Dengan Gangguan Jiwa adalah orang yang mengalami
gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam
bentuk sekumpulan gejala atau perubahan perilaku yang bermakna, serta
dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi
sebagai manusia (Undang-Undang RI Nomor 36, 2014). Prevalensi orang
gangguan jiwa meningkat. WHO (2015) sekitar 450 juta orang di dunia
menderita gangguan jiwa. Menurut National institute of mental health pada
tahun 2030 gangguan jiwa akan meningkat menjadi jumlah 25% dari awalnya
13%, sehingga prevalensi gangguan jiwa di berbagai negara akan mengalami
peningkatan (Lestari & Choiriyah, 2014). Di indonesia sendiri berdasarkan
data RisKesDas (2013) menyatakan bahwa prevalensi gangguan jiwa berat,
seperti schizophrenia adalah 1,7 per 1000 penduduk atau sekitar 400.000
orang.
Salah satu gangguan jiwa berat adalah perilaku kekerasan. Masyarakat
merasa ketakutan jika ada penderita perilaku kekerasan di lingkungan, karena
3mencelakai orang lain (Mestdagh & Hansen, 2013). Perilaku kekerasan
beresiko menciderai diri, orang lain dan lingkungan, perilaku kekerasan
dipandang sebagai tindakan yang bersifat destruktif (Dalami, et al. 2009).
Perilaku kekerasan adalah salah satu respon terhadap stresor yang dihadapi
oleh seseorang yang ditunjukkan dengan perilaku kekerasan baik pada diri
sendiri atau orang lain dan lingkungan baik secara verbal maupun non verbal
(Stuart, 2009). Perilaku kekerasan dilakukan karena ketidakmampuan dalam
melakukan koping terhadap stres, ketidakpahaman terhadap situasi sosial,
tidak mampu untuk mengidentifikasi stimulus yang dihadapi, dan tidak
mampu mengontrol dorongan untuk melakukan perilaku kekerasan (Volavka
& Citrome, 2011).
Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas memiliki 4 Ruang khusus
melakukan perawatan dengan pasien gangguan jiwa. Ruang Bima merupakan
salah satunya dan ruangan ini merawat pasien gangguan jiwa dengan kelas II
dan III. Berdasarkan data .... paling banyak pasien datang dan di rawat di
Ruang Bima adalah pasien dengan perilaku kekerasan.
Terapi yang digunakan pada pasien gangguan jiwa meliputi terapi
psikofarmaka, terapi kejang listrik, terapi aktivitas kelompok, terapi kognitif,
terapi lingkungan, terapi keluarga dan perilaku (Yusuf et al, 2015). Salah satu
terapi yang dapat dilakukan perawat untuk mengontrol perilaku kekerasan
adalah dengan diberikan terapi kognitif, terapi keluarga, terapi perilaku :
token (Susana, 2012).
Terapi token merupakan salah satu terapi dengan modifikasi perilaku,
menggunakan kepingan berbentuk koin yang dapat ditukarkan apabila pasien
berperilaku sesuai dengan yang diharapkan. Token merupakakan sistem
perlakuan pemberian penghargaan yang diwujudkan secara visual. Token
merupakan usaha mengembangkan perilaku, bisa dalam bentuk merubah,
mengurangi, dan menambah sesuai dengan tujuan yang diharapkan dengan
menggunaan penghargaan. Setiap individu mendapat penghargaan setelah
menunjukan perilaku yang diharapkan atau perilaku target ( Nurany et al,
2016).
Oleh karena itu kelompok tertarik untuk melakukan analisis jurnal
yang berjudul “Pengaruh Terapi Token Terhadap Kemampuan Mengontrol
Perilaku Kekerasan Pada Pasien Gangguan Jiwa”.
B. Tujuan
a. Mahasiswa mampu menganalisis jurnal yang berjudul “Pengaruh Terapi
Token Terhadap Kemampuan Mengontrol Perilaku Kekerasan Pada
Pasien Gangguan Jiwa”.
b. Menambah wawasan pengetahuan kepada mahasiswa keperawatan dan
perawat klinik tentang manfaat terapi token pada pasien gangguan jiwa.
c. Menjadi bahan pertimbangan perawat RS untuk menerapkan terapi token
pada pasien ganguuan jiwa.
BAB II

REVIEW JURNAL

A. Identifikasi
1. Judul Jurnal : Jurnal Keperawatan
2. Judul Artikel : Pengaruh Terapi Token Terhadap
Kemampuan Mengontrol Perilaku
Kekerasan Pada Pasien Gangguan Jiwa
3. Penulis : Sunarsih, Idawati Manurung dan Holidy
4. Tahun Terbit : 2017

B. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai rata-rata kemampuan
mengontrol diri pasien rawat inap di LKS-ODK Kemiling Bandar Lampung
sebelum dan setelah dilakukan terapi token.

C. Metodologi Penelitian
1. Jenis Penelitian : Quasy experimental dengan rancangan pretest-
posttest one group design
2. Populasi : -

3. Sampel : Klien yang dirawat inap dengan perilaku kekerasan


dengan memperhatikan kriteria inklusi sebanyak
20 orang dipilih dengan purposive sampling
4. Tempat Penelitian : Lks-odk ekspsikotik kemiling bandar lampung
5. Waktu Penelitian : 20-30 juli 2016
6. Uji Analisis Data : Uji Dependen Sample T-Test

D. Hasil
: Distribusi Responden Berdasarkan Kemampuan Mengontrol Perilaku
Kekerasan Sebelum dan Sesudah Terapi Token.
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa distribusi frekuensi kemampuan
dalam mengontrol perilaku kekerasan sebelum dilakukan terapi 7
respondenmampu mengontrl dan setelah dilakukan terapi token kemampuan
mengontrol perilaku kekerasan meningkat menjadi 14 responden mampu
mengontrol perilaku kekerasan.
Tabel 2: Distribusi Rata-Rata Kemampuan Mengontrol Perilaku Kekerasan
Sebelum dan Sesudah Terapi Token.

Berdasarkan tabel di atas rata-rata skor kemampuan mengontrol perilaku


kekerasan sebelum dilakukan terapi token sebesar 20,05 dengan standar
deviasi sebesar 7,02. Skor terendah 12 dan teringgi 32. Sedangkan sesudah
dilakukan terapi token menjadi sebesar 36,20 dengan standar deviasi sebesar
11,23. Skor terendah 16 dan tertinggi 50
BAB III
PEMBAHASAN

Gangguan jiwa merupakan sindrom perilaku yang secara klinik bermakna


atau sindroma psikologis atau pola yang dihubungkan dengan kejadian distres
pada seseorang atau ketidakmampuan atau peningkatan secara signifikan risiko
kematian, sakit, ketidakmampuan atau hilang rasa bebas (Psychiatric Assosiation
dalam Diagnostic and Statistic Manual of Mental (DSM) IV-TR 2000 dalam
Townsend 2009). Salah satu tanda dan gejala seseorang memiliki gangguan jiwa
adalah dengan melakukan perilaku kekerasan. Perilaku kekerasan adalah suatu
bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang baik secara fisik maupun
psikologis. Perilaku kekerasan dapat dilakukan secara verbal, diarahkan pada diri
sendiri, orang lain, dan lingkungan. Ketidakmampuan yang terjadi pada klien
gangguan jiwa dikaitkan disabilitas akibat gangguan jiwa berat yang dialami.
Dari jurnal penelitian yang dilakukan oleh Sunarsih dkk, 2017 hasil penelitian
didapatkan setelah dilakukan terapi prilaku token ekonomi, adalah kemampuan
mengontrol perilaku kekerasan meningkat.

Terapi perilaku bisa menjadi salah satu intervensi keperawatan pada klien
dengan gangguan kejiwaan. Terapi perilaku merupakan salah satu terapi spesialis
keperawatan jiwa yang dapat mengubah perilaku secara nyata yang muncul pada
klien. Perawat dapat melakukan perawatan pada klien dengan masalah perilaku
kekerasan secara komprehensif bukan hanya dengan kolaborasi pemberian
psikofarmaka saja namun penting juga untuk latihan mengontrol perilaku salah
satuya menggunakan token ekonomi.

Token ekonomi merupakan salah satu teknik pengubahan perilaku yang


dirancang untuk meningkatkan perilaku yang disukai dan mengurangkan perilaku
yang tidak disukai dengan menggunakan token (koin). Token ekonomi merupakan
sebuah sistem reinforcement untuk perilaku yang dikelola dan diubah, seseorang
mesti dihadiahi atau diberikan penguatan untuk meningkatkan atau mengurangi
perilaku yang diinginkan. Selanjutnya ekonomi token digunakan dalam
pengubahan perilaku di setting institusional. Termasuk rumah sakit jiwa, lembaga
koreksional atau pusat rehabilitasi untuk mengatur perilaku individu yang agresif
atau tidak dapat diprediksi. Esensi ekonomi token adalah mengajarkan tingkah
laku yang tepat dan keterampilan sosial yang dapat digunakan dalam suatu
lingkungan alamiah (Ayllon, 1999 dalam Fahrudin, 2012; Miltenberger, 2001).
Terapi token ekonomi dapat menjadi program intervensi unggulan dalam
pelayanan kesehatan jiwa. Rumah sakit diharapkan dapat mendukung penerapan
terapi perilaku token ekonomi pada klien sehingga dapat meningkatkan mutu
pelayanan keperawatan pada pasien dan mampu merubah perilaku maladaptif
menjadi adaptif. Hasil penelitian menunjukkan\ bahwa terjadi perbedaan
bermakna kemampuan merawat diri pada pasien dengan skizofrenia dengan defisit
perawatan diri sebelum dan sesudah dilakukan terapi token ekonomi. Hasil
penelitian lain juga menunjukan bahwa ada pengaruh kemampuan mengontrol
perilaku kekerasan sebelum dan setelah dilakukan terapi token ekonomi dan
terdapat perubahan harga diri yang mengarah pada peningkatan pada pasien
perilaku kekerasan sebelum dan sesudah diberikan terapi CBT dengan token
economi (terapi modifikasi). Hasil dari proses perubahan perilaku ini diharapkan
akan langgeng dan menetap walaupun sudah keluar dari rumah sakit dengan terus
melakukan latihan yang diajarkan atau dengan latihan bersama keluarga (Marta,
2015; Sunarsih, Manurung & Holidy, 2017; Maryatun & Ningsih, 2019).
Ada enam elemen yang perlu ada dalam pelaksanaan terapi psikososial
menggunakan teknik token ekonomi. Keenam elemen tersebut yaitu: token (koin),
kejelasan pendefinisian tingkah laku target, motif-motif penguat (back-up
reinforcers), sistem penukaran koin, sistem perekam data (misalnya lembar data
harian) dan implementasi konsistensi dari perawat ruangan (Fahrudin, 2012)
Ada keuntungan dan kerugian dalam pemberian intervensi token ekonomi.
Keuntungan dari token ekonomi adalah bahwa perilaku-perilaku yang ditunjukan
individu dapat dihargai dengan segera, besarnya reward/hadiah adalah sama
nilainya untuk semua individu dalam suatu kelompok, penggunaan dari hukuman
(respon costs) lebih sedikit resikonya dibandingkan bentuk-bentuk hukuman yang
lain, dan individu dapat belajar ketrampilan-ketrampilan yang berhubungan
dengan masa depan. Kerugian-kerugian yang pantas dipertimbangkan dari token
ekonomi termasuk biaya, usaha dan pelatihan karyawan dan manajemen.
Beberapa profesional menemukan bahwa token ekonomi bersifat tidak praktis dan
memakan waktu. Untuk memperoleh hasil yang maksimal token ekonomi dapat
divariasikan atau dimodifikasikan dengan teknik dan cara lain yaitu: 1)
memperbolehkan klien menikmati hadiah (reinforcement) bersama dengan teman-
temannya; 2) pengelolaan program token ekonomi oleh klien itu sendiri; 3)
kombinasikan program token ekonomi dengan bimbingan keterampilan; dan 4)
kombinasikan dengan kelompok yang berbeda (Fahrudin, 2012).
Pada pelaksanaannya terapi token tidak bisa dilakukan dalam satu kali
pertemuan dan membutuhkan waktu yang lama, secara teori untuk mengubah
suatu prilaku lama ke prilaku yang diinginkan dibutuhkan waktu antara 18-246
hari, seperti halnya dalam jurnal disebutkan penelitian yang dilakukan
membutuhkan waktu selama 10 hari.
BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Token ekonomi merupakan sebuah sistem reinforcement untuk
perilaku yang dikelola dan diubah, seseorang mesti dihadiahi atau diberikan
penguatan untuk meningkatkan atau mengurangi perilaku yang diinginkan.
Terapi ini telah terbukti mampu merubah perilaku pasien yang dirawat
dengan defisit perawatan diri, harga diri rendah dan perilaku kekerasan
menjadi lebih adaptif.
Terapi perilaku token ekonomi mempunyai keuntungan dan kerugian.
Keuntungan dari token ekonomi adalah bahwa perilaku-perilaku yang
ditunjukan individu dapat dihargai dengan segera, besarnya reward/hadiah
adalah sama nilainya untuk semua individu dalam suatu kelompok,
penggunaan dari hukuman (respon costs) lebih sedikit resikonya
dibandingkan bentuk-bentuk hukuman yang lain, dan individu dapat belajar
ketrampilan-ketrampilan yang berhubungan dengan masa depan. Kerugian-
kerugian yang pantas dipertimbangkan dari token ekonomi termasuk biaya,
usaha dan pelatihan karyawan dan manajemen. Beberapa profesional
menemukan bahwa token ekonomi bersifat tidak praktis dan memakan waktu.
B. Saran
Terapi token ekonomi sebagai terapi perilaku sangat bermanfaat dalam
merubah perilaku pasien menjadi lebih adaptif. Untuk itu sangat penting
dibuatnya standar prosedur operasional bagi setiap instansi pelayanan
kesehatan jiwa sehingga terapi ini dapat diterapkan di dalam memberikan
pelayanan kepada pasien dengan gangguan psikososial.
Bagi lembaga penyedia pelatihan terapi perilaku di harapkan membuat
suatu metode pelatihan yang efektif dan efisien sehingga tidak memerlukan
biaya serta waktu yang lama dalam melaksanakan pelatihan.

DAFTAR PUSTAKA
Dalami. 2009. Hubungan Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Gangguan
Jiwa Terhadap Sikap Memberikan Pertolongan Kesehatan Jiwa di Desa
Kualu Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar. Skripsi.

Lestari, & Choiriyyah. 2014. Kecenderungan Atau Sikap Keluarga Penderita


Gangguan Jiwa Terhadap Tindakan Pasung (Studi Kasus Di RSJ Amino
Gondho Utomo Semarang). Jurnal Keperawatan Jiwa

Mestdagh, A & Hansen, B. 2013. Stigma in patients with schizophrenia receiving


community mental health care. Soc Psychiatry Psychiatr Epidemiol

Nurany, N., Taftazani, Budi, M., P. N. M. 2016. Penerapan Token Economy Pada
Siswa Dengan Masalah Kenakalan Remaja. Prosiding Penelitian Dan
Pengabdian Kepada Masyarakat, Vol 3, No 2

Riset Kesehatan Dasar (RisKesDas). 2013.


http://www.depkes.go.id/resources/download/general /Hasil%20Riskesdas
%202013

Susana, S. A. 2012. Terapi Modalitas Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta:


Buku Kedokteran EGC.

Stuart, G. W. 2009. Buku Saku Keperawatan Jiwa . Jakarta: EGC.

The Word Health Repoth (WHO). 2015. Mental Health : New Understanding.
New Hope.

Volavka, J & Citrome, L. 2011. Pathways to Aggression in Schizophrenia Affect


Results of Treatment. Oxford Journal.

Yusuf, A, Fitryasari, Rizki, P.K, Nihayati & Endang, H. 2015. Buku Ajar
Keperawatan Jiwa, Jakarta : Salemba Medika

Fahrudin, A., 2012, ‘Teknik Ekonomi Token Dalam Pengubahan Perilaku Klien’,
Informasi, Vol. 17, No. 03, pp. 139-143.

Marta, S., 2015, Pengaruh Terapi Perilaku: Token Economy Terhadap


Kemampuan Perawatan Diri Pada Pasien Skizofrenia Diruang Rawat
Inap Rsjd Provinsi Jambi Tahun 2015, diakses pada 1 Oktober 2019,
http://scholar.unand.ac.id/14712/.

Maryatun, S. dan Ningsih, N., 2019, Pengaruh Cognitive Behaviour Therapy


(Cbt) Terhadap Perubahan Harga Diri Pasien Perilaku Kekerasan
Dengan Aplikasi Model Token Economy, diakses pada 1 Oktober 2019,
http://conference.unsri.ac.id/index.php/SNK/article/download/1213/610.

Miltenberger, R.G., 2001. Behavior Modification: Principles and Procedures,


(2nd ed.) Wadsworth/ Thomson Learning, Belmont, California.
Sunarsih, Manurung, I. dan Holidy, 2017, ‘Pengaruh Terapi Token Terhadap
Kemampuan Mengontrol Perilaku Kekerasan Pada Pasien Gangguan
Jiwa’, Jurnal Keperawatan, Vol. 13, No. 2, pp. 234-238.