Anda di halaman 1dari 92

BEST PRACTICES SERIES

Membangun Taman,
Melestarikan Keanekaragaman
Manual Pembangunan Taman Keanekaragaman Hayati
Dr. Ir. Hendra Gunawan, M.Si.
Peneliti Utama pada Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Ir. Sugiarti
Humas Madya pada Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Editor:
Prof. Riset Dr. M. Bismark, M.S.
Prof. Riset Dr. Ir. Nina Mindawati, M.S.

Penerbit FORDA PRESS


Bogor, Indonesia
Membangun Taman, Melestarikan Keanekaragaman:
Manual Pembangunan Taman Keanekaragaman Hayati

© Hak Cipta Dilindungi Undang-undang (2016)

Penulis : Dr. Ir. Hendra Gunawan, M.Si. dan Ir. Sugiarti


Editor : Prof. Riset Dr. M. Bismark, M.S.
Prof. Riset Dr. Ir. Nina Mindawati, M.S.
Desain sampul : Tatang Rohana dan Hendra Gunawan
Tata letak isi : Tatang Rohana
Kontributor Foto : Irsa Muthia (sampul belakang, hal.10, 12, 13, 66, 67, 69, 71); Andi
Suhandi (Burung rajaudang jawa di sampul dalam, burung rajaudang
biru hal. 17, hal. 15, 54, 63, Gbr.32, Gbr.36); Syarofah Aini (hal. 38,
60, 61, Gbr. 33, Gbr. 34)
Diterbitkan oleh : FORDA PRESS, Bogor. (Anggota IKAPI No. 257/JB/2014)
Cetakan Pertama, Desember 2016
xii + 80 halaman; 240 x 210 mm
ISBN 978-602-6961-16-7
Penerbitan
dibiayai oleh : PT. Aqua Golden Mississippi, Mekarsari, Cicurug, Sukabumi

Hak cipta dilindungi Undang-undang Republik Indonesia


Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta

Cara Mengutip:
Gunawan H, Sugiarti. 2016. Membangun Taman, Melestarikan Keanekaragaman: Manual
Pembangunan Taman Keanekaragaman Hayati. Forda Press. Bogor.
SAMBUTAN
KEPALA BADAN PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN INOVASI
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
Sebagai negara megabiodiversity yang kaya dengan sumber daya alam hayati, permasalahan
yang dihadapi Indonesia di sektor Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) adalah
mempertahankan keberadaan kekayaan hayati tersebut dari ancaman kepunahan sekaligus
harus dapat memanfaatkannya secara lestari untuk mendorong perekonomian. Sejalan
dengan itu, sasaran strategis pembangunan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
(KLHK) adalah: (1) menjaga kualitas lingkungan hidup; (2) menjaga luasan, dan fungsi hutan;
dan (3) menjaga keseimbangan ekosistem.
Tantangan yang harus diselesaikan Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi (BLI) adalah menyediakan IPTEK yang inovatif
untuk mendukung keberlanjutan pemanfaatan sumber daya alam hayati untuk ketahanan pangan, ketahanan energi, kesehatan
dan obat, serta jasa lingkungan. Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi LHK mempunyai tugas menyelenggarakan
penelitian, pengembangan dan inovasi di bidang lingkungan hidup dan kehutanan termasuk penyebarluasan hasil-hasil
penelitian, pengembangan dan inovasi kepada pengguna baik internal maupun eksternal Kementerian LHK.
Untuk pengguna internal KLHK, Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi memiliki tugas dan fungsi mengakomodasi
kebutuhan IPTEK bagi pencapaian indikator kinerja program (IKP) dan indikator kinerja kegiatan (IKK) Eselon I KLHK. Oleh
karena itu, output hasil penelitian, pengembangan dan inovasi ditujukan untuk menjawab IKK Eselon I (2015-2019) dan
menjawab kebutuhan parapihak (Pusat dan Daerah).
Pembangunan Taman Keanekaragaman Hayati (Taman Kehati) merupakan salah satu indikator kinerja program (IKP) KSDAE
untuk mencapai sasaran program peningkatan efektifitas hutan konservasi dan upaya konservasi keanekaragaman hayati.
Melalui penerbitan buku Membangun Taman, Melestarikan Keanekaragaman, BLI secara langsung mendukung kinerja
Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), khususnya Direktorat Bina Pengelolaan Ekosistem
Esensial (BPEE) yang memiliki target 30 unit kelembagaan Taman Kehati sampai akhir tahun 2019.
Akhirnya, saya sampaikan penghargaan dan ucapan selamat kepada penulis, editor dan para pihak yang telah mewujudkan buku
yang sangat dibutuhkan ini. Semoga buku ini bermanfaat bagi para pengelola LHK, dunia usaha dan masyarakat luas dalam
rangka pembangunan Taman Kehati.

Bogor, November 2016


Kepala Badan

Dr. Henry Bastaman, MES


NIP. 19571008 198503 1 001

iii
SAMBUTAN
DIREKTUR JENDERAL KONSERVASI
SUMBER DAYA ALAM DAN EKOSISTEM
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Taman Keanekaragaman Hayati atau Taman Kehati menjadi salah satu indikator kinerja sasaran program peningkatan efektifitas pengelolaan
hutan konservasi dan upaya konservasi keanekaragaman hayati, lingkup Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem
(Ditjen KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dalam masa kerja 2015-2019, Ditjen KSDAE menetapkan target
pembangunan Taman Kehati sebanyak 30 unit lembaga. Direktorat Jenderal KSDAE cq. Direktorat Bina Ekosistem Esensial (BPEE)
bekerjasama dan bersinergi dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi dalam
menyiapkan dan membangun Taman Kehati, khususnya Taman Kehati yang diinisiasi oleh sektor swasta.
Dalam implementasi pembangunan Taman Kehati sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2012
tentang Taman Keanekaragaman Hayati, salah satu kendalanya adalah belum tersedianya panduan teknis yang bersifat praktis dan mudah
diaplikasikan. Panduan praktis yang dibuat berdasarkan pengalaman praktik-praktik terbaik (best practices) dapat menjadi jawaban atas
berbagai pertanyaan dan menjadi acuan dalam pembangunan Taman Kehati oleh pemerintah daerah dan sektor swasta, yang saat ini sedang
berlomba-lomba membangun Taman Kehati.
Dengan diterbitkannya “Buku Membangun Taman, Melestarikan Keanekaragaman: Manual Pembangunan Taman Keanekaragaman Hayati”,
diharapkan dapat mempercepat pembangunan Taman Kehati oleh pemerintah daerah dan sektor swasta. Kepada penulis dan Pusat
Penelitian dan Pengembangan Hutan disampaikan penghargaan dan terima kasih atas diterbitkannya buku ini. Semoga buku ini dapat
didistribusikan secara luas dan sampai kepada para praktisi lapangan sebagai pedoman pembangunan dan pengelolaan Taman Kehati.

Jakarta, November 2016


Plt. Direktur Jenderal,

Dr. Ir. Bambang Hendroyono, M.M


NIP. 19640930 198903 1 001

iv
KATA PENGANTAR
KEPALA PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HUTAN
BADAN PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN INOVASI
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, satu lagi buku karya peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan telah terbit untuk
memenuhi kebutuhan para pengguna. Buku Membangun Taman, Melestarikan Keanekaragaman diterbitkan untuk mendukung kinerja
Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), khususnya Direktorat Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial (BPEE)
yang memiliki target 30 unit kelembagaan Taman Keanekaragaman Hayati (Taman Kehati) sampai akhir tahun 2019.
Ancaman kepunahan keanekaragaman hayati dan usaha konservasi eksitu merupakan salah satu isu strategis yang dihadapi Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Pembangunan Taman Kehati di setiap kabupaten dan kota merupakan upaya menjawab isu
tersebut. Pembangunan Taman Kehati menjadi indikator kinerja program (IKP) KSDAE untuk mencapai sasaran program peningkatan
efektifitas hutan konservasi dan upaya konservasi keanekaragaman hayati.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan sebagai salah satu unit pelaksana teknis Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi memiliki
tugas dan fungsi mengakomodasi kebutuhan IPTEK bagi pencapaian indikator kinerja program (IKP) dan indikaor kinerja kegiatan (IKK) Eselon
I KLHK. Oleh karena itu, output hasil penelitian, pengembangan dan inovasi ditujukan untuk menjawab IKK Eselon I (2015-2019) dan menjawab
kebutuhan parapihak (Pusat dan Daerah). Buku Membangun Taman, Melestarikan Keanekaragaman merupakan manual pembangunan
Taman Kehati yang sangat dibutuhkan oleh Pemerintah Daerah dan Kota yang sedang dan akan membangun Taman Kehati.
Di samping menyediakan IPTEK melalui penerbitan buku, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan juga terlibat langsung dalam
pembangunan Taman Kehati oleh para mitra kerjasama, dalam bentuk pilotting, pendampingan dan bimbingan teknis sumber daya manusia
pengelola Taman Kehati. Buku ini merupakan buku kedua setelah buku pertama Sistem Monitoring dan Evaluasi Keanekaragaman Hayati
di Taman Kehati, diluncurkan pada tahun 2015.
Akhirnya, kepada penulis, editor dan semua pihak yang terlibat dalam penerbitan buku ini, disampaikan terima kasih dan penghargaan, serta
dorongan untuk terus berkarya. Semoga buku ini bermanfaat bagi para pihak, khususnya para paktisi Taman Kehati di daerah.

Bogor, November 2016


Kepala Pusat,

Ir. Djohan Utama Perbatasari, MM.


NIP. 19601230 198801 1 001
v
KATA PENGANTAR PENULIS

Implementasi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2012 tentang


Taman Keanekaragaman Hayati (Taman Kehati) dapat menjadi salah satu upaya
pemerintah dalam mewujudkan kebijakan memperbanyak tutupan vegetasi, ruang
terbuka hijau dan taman-taman di tengah permukiman perkotaan sebagai sarana
sosialisasi dan interaksi masyarakat. Di sisi lain, dengan diberlakukannya Undang-
Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, saat ini banyak kabupaten
dan kota yang berinisiatif membangun Taman Kehati sebagai salah satu pelaksanaan
urusan pemerintahan bidang lingkungan hidup yang pengelolaannya menjadi
kewenangan kabupaten/kota.
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2012 dalam pelaksanaannya
diperlukan pedoman atau manual di tingkat teknis untuk memudahkan para pelaksana
di lapangan dalam membangun Taman Kehati yang sesuai dengan ketentuan peraturan
tersebut. Buku “Membangun Taman, Melestarikan Keanekaragaman” ini dapat
menjadi panduan praktis (manual) pembangunan Taman Kehati di tingkat tapak
(lapangan) karena disertai dengan contoh-contoh yang telah diterapkan di enam
Taman Kehati Aqua Danone Group.
Dengan diterbitkannya buku ini, diharapkan dapat membantu mempercepat
pembangunan Taman Kehati di kabupaten dan kota, karena Program Taman Kehati
merupakan program pemerintah (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan)
dengan target sebanyak 30 unit Taman Kehati beserta kelembagaannya sampai di akhir
tahun 2019.
Akhirnya, penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
memungkinkan buku ini terwujud dan dapat disebarluaskan. Semoga buku ini
bermanfaat bagi para pihak yang membutuhkannya dan dapat mendukung program
pemerintah dalam rangka pembangunan Taman Kehati untuk menciptakan lingkungan
hidup yang lebih baik.
Bogor, November 2016
Penulis
vi Hendra Gunawan & Sugiarti
DAFTAR ISI

SAMBUTAN Desain Infrastruktur .................................................... 24


KEPALA BADAN LITBANG DAN INOVASI, KEMENTERIAN 1. Jalan Akses dan Jalan Pemeliharaan................... 24
LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN ......................... iii 2. Drainase/ Irigasi ................................................... 26
SAMBUTAN 3. Penguat Tebing ................................................... 28
DIREKTUR JENDERAL KONSERVASI SUMBER DAYA 4. Persemaian/ Pembibitan .................................... 29
ALAM DAN EKOSISTEM, KEMENTERIAAN LINGKUNGAN 5. Pos Pemantau ..................................................... 31
HIDUP DAN KEHUTANAN ................................................. iv 6. Papan Nama Taman KEHATI .............................. 32
KATA PENGANTAR 7. Papan Label Identitas Pohon ............................. 33
KEPALA PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN 8. Papan Interpretasi ............................................. 34
HUTAN BADAN PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN 9. Gazebo ............................................................... 36
INOVASI, KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN 10.Adisionalitas....................................................... 37
KEHUTANAN ................................................................ v
IV. ORGANISASI PELAKSANA.......................................... 39
KATA PENGANTAR PENULIS.............................................. vi
V. PENANAMAN DAN PEMELIHARAAN ....................... 43
DAFTAR ISI..................................... .................................... vii
Pengadaan Bibit. ...................................................... 43
DAFTAR TABEL .................................................................. ix
Penyiapan Lahan........................................................ 44
DAFTAR GAMBAR ............................................................. x
Tempat dan Waktu Penanaman ............................... 45
DAFTAR LAMPIRAN ....................... .................................. xi
Pemeliharaan ........................................................... 46
I. PENDAHULUAN.............................................................. 1
VI. PROGRAM KERJASAMA DAN KEMITRAAN.............. 49
Pengertian ................................................................... 1
Mengapa Perlu Taman KEHATI?.................................. 4 Penelitian dan Publikasi HAsil Penelitian ...............… 50
Apa Manfaat Taman KEHATI?..................................... 6 Pelatihan …................................................................ 53
Pendidikan Lingkungan Hidup dan Konservasi …..... 54
II. PERSIAPAN MEMBANGUN TAMAN KEHATI................ 7
Rehabilitasi Lahan Kritis dan Restorasi
Alokasi Lahan Taman KEHATI. .................................... 7 Kawasan Konservasi ….......................................... 55
Pengukuran, Tata batas dan Pemetaan ..................... 9 Pembinaan dan Konsultasi Teknis ..........................… 55
Baseline Survey ........................................................... 9 Pengadaan Bibit ......................................................… 55
III. PERENCANAAN ........................................................... 13 Adopsi Pohon...........................................................… 56
Penetapan Tapak dan Program Taman KEHATI ........ 14 Wisata Alam ................................................................ 57
Penetapan Tumbuhan Lokal dan VII. PEMANTAUAN DAN EVALUASI................................... 59
Satwa Target Konservasi ............................................. 15 VIII.PENGEMBANGAN DATABASE. .................................... 63
Desain vegetasi ........................................................... 18 IX. PENUTUP ..................................................................... 67
1. Desain Vegetasi Berbasis Ekosistem …................. 19
UCAPAN TERIMA KASIH ..................................................... 68
2. Desain Vegetasi Berbasis Tematik…...................... 22
DAFTAR PUSTAKA .............................................................. 69 vii
DAFTAR TABEL

Tabel 1. 8
Ketentuan tipe, luas dan jumlah jenis tumbuhan utama Taman Kehati Kota

Tabel 2. 8
Ketentuan tipe, luas dan jumlah jenis tumbuhan utama Taman Kehati Kabupaten

Tabel 3. 16
Jenis flora unggulan konservasi Taman Kehati
PT. AGM Mekarsari dengan tema buah lokal jawa yang langka

Tabel 4. 17
Lima Jenis fauna target konservasi di Taman Kehati PT. AGM Mekarsari.

Tabel 5. 22
Zonasi tematik Taman Kehati PT. AGM Mekarsari

Tabel 6. 30
Sarana, peralatan dan bahan yang harus ada di pembibitan atau persemaian

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Beberapa contoh buku Baseline Study Taman Kehati 11


Gambar 2. Contoh gambaran stratifikasi tajuk pada hutan 21
Gambar 3. Peta zonasi tematik Taman Kehati PT. AGM Mekarsari 23
Gambar 4. Jalan utama atau jalan akses Taman Kehati cukup untuk melintas kendaraan roda empat terbuat 25
dari paving block agar tidak mengurangi penyerapan air hujan
Gambar 5. Kiri: Jalan setapak di dalam Taman Kehati PT. AGM Mekarsari untuk kegiatan pemeliharaan, 25
terbuat dari paving block, Kanan: contoh jalan setapak terbuat dari gico.
Gambar 6. Contoh jalan setapak menanjak berupa anak tangga yang dilengkapi handrail 26
Gambar 7. Beberapa tipe saluran irigasi di Taman Kehati 27
Gambar 8. Saluran irigasi yang terintegrasi dengan pipa transmisi air baku 28
Gambar 9. Kiri: bangunan penguat tebing; Kanan: bangunan penguat tebing dan tanaman penguatan tebing 28
Gambar 10. Contoh persemaian permanen 29
Gambar 11. Contoh Pos security (kiri) dan Sekretariat relawan CSR yang digunakan 31
sebagai pos pemantau Taman Kehati PT. AGM Mekarsari.
Gambar 12. Contoh papan informasi yang berisi informasi denah lokasi, spesies flora dan fauna unggulan 32
di Taman Kehati
Gambar 13. Papan identitas pohon koleksi yang mengikuti kaidah ilmiah dan dilengkapi “QR Code”. 34
Gambar 14. Contoh papan interpretasi untuk membantu pengunjung memahami dan menambah
pengetahuan tentang keanekaragaman hayati
Gambar 15. Ukuran, ketinggian dan kemiringan papan interpretasi disesuaikan untuk memudahkan 35
pengunjung membaca informasi yang disajikan (Foto di Taman Kehati PT. TIV Subang).
Gambar 16. Gazebo yang terbuat dari bambu dan atap ijuk di tengah blok tanaman buah Taman Kehati 36
PT. AGM Mekarsari.
Gambar 17. Contoh struktur organisasi pengelola Taman Kehati di Perusahaan Swasta. 39
Gambar 18. Pelatihan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati, para peserta antara lain dilatih identifikasi dan 41
pengukuran pohon, pengamatan dan identifikasi satwa.
Gambar 19. Pengangkutan bibit menggunakan truk bak terbuka 43
Gambar 20. Penyiapan lahan, mulai dari pembuatan lubang tanam, pengadaan ajir, pengadaan pupuk kandang 44
ix
dan akhirnya lubang tanaman yang siap untuk ditanami.
Gambar 21. Penanaman Taman Kehati bersama tokoh masyarakat dan pelajar dapat membangkitkan 45
kesadaran masyarakat dan generasi muda tentang pentingnya pelestarian keanekaragaman
hayati.
Gambar 22. Pemeliharan tanaman dengan pendangiran sistem cemplongan 47
Gambar 23. Penandatanganan MoU kerjasama penelitian, pengembangan dan pelatihan antara Taman 50
Kehati Aqua Danone Group dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Gambar 24. Penelitian monitoring erosi di Taman kehati 51
Gambar 25. Pemasangan alat pengukur curah hujan dan kegiatan monitoring curah hujan di Taman Kehati. 51
Gambar 26. Pemasangan camera trap di Taman Kehati untuk memonitor keberadaan satwa sebagai 51
dampak adanya Taman Kehati
Gambar 27. Berang-berang jawa (Aonyx cinerea) tertangkap camera trap di Taman Kehati PT. TIV Lido. 52
Gambar 28. Musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus) tertangkap camera trap di Taman Kehati 52
Mekarsari.
Gambar 29. Pelatihan Teknik Budidaya dan Inokulasi Gaharu untuk pemberdayaan masyarakat, yang 53
diselenggarakan oleh Aqua Danone Group bekerjasama dengan Pusat Litbang Hutan,
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Gambar 30. Acara pendidikan lingkungan anak-anak Sekolah Dasar di Taman Kehati Mekarsari. 54
Gambar 31. Brosur untuk pendidikan lingkungan akan terus di-update dengan berbagai informasi terbaru. 54
Gambar 32. Adopsi pohon oleh tokoh masyarakat 56
Gambar 33. Adopsi pohon oleh anak-anak sekolah 56
Gambar 34.Pertemuan informaal di areal terbuka Taman Kehati memberikan suasana berbeda dan bisa 57
lebih produktif
Gambar 35.Taman Kehati bisa menjadi wahana wisata alam bagi anak-anak sekolah dasar, sekaligus sebagai 57
sarana pendidikan lingkungan hidup
Gambar 36. Taman Kehati sebagai wahana studi banding 57
Gambar 37. Contoh buku rencana dan program pengembangan dan pengelolaan Taman Kehati . 58
Gambar 38. Pemasangan label kendali monitoring dan pengukuran diameter pohon secara berkala 62
di Taman Kehati.
Gambar 39. Contoh buku pangakalan data. 64
Gambar 40. Contoh pertelaan jenis pohon di dalam buku pangkalan data. 64
x Gambar 41. Contoh pertelan jenis 66
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. 72
Jenis-jenis pohon penghasil kayu yang dikoleksi
di Taman Kehati PT. AGM Mekarsari
Lampiran 2. 73
Jenis-jenis tanaman buah-buahan |
di Taman Kehati PT. AGM Mekarsari
Lampiran 3. 74
Koleksi jenis-jenis pohon bernilai sosial dan budaya bagi masyarakat sekitar
selain penghasil kayu dan buah di Taman Kehati PT. AGM Mekarsari.
Lampiran 4. 75
Jenis-jenis pohon yang menjadi habitat satwaliar
di Taman Kehati PT. AGM Mekarsari

xi
1
Pendahuluan

Pengertian
Keanekaragaman hayati (Kehati) adalah keanekaragaman makhluk hidup di muka bumi
dan peranan-peranan ekologisnya, yang meliputi keanekaragaman ekosistem,
keanekaragaman spesies, dan keanekaragaman genetik.
Konservasi keanekaragaman hayati adalah pengelolaan keanekaragaman hayati yang
pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan
persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman
dan nilainya.
Taman Keanekaragaman Hayati (Taman Kehati) adalah suatu kawasan pencadangan
sumber daya alam hayati lokal di luar kawasan hutan yang mempunyai fungsi konservasi
in-situ dan/atau ex-situ, khususnya bagi tumbuhan yang penyerbukan dan/atau
pemencaran bijinya harus dibantu oleh satwa, dengan struktur dan komposisi
vegetasinya dapat mendukung kelestarian satwa penyerbuk dan pemencar biji.
Program Taman Kehati adalah program Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
yang diselenggarakan untuk menyelamatkan berbagai spesies tumbuhan asli/lokal yang
memiliki tingkat ancaman sangat tinggi terhadap kelestariannya atau ancaman yang
mengakibatkan kepunahannya
Keanekaragaman Hayati Lokal (Kehati Lokal) adalah spesies atau sumber daya genetik
tumbuhan dan satwa endemik, lokal yang hidup berkembang secara alamiah di daerah
tertentu. 1
Pengawetan adalah upaya untuk menjaga agar keanekaragaman jenis tumbuhan
dan satwa beserta ekosistemnya baik di dalam maupun di luar habitatnya tidak
punah.
Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di luar habitatnya adalah upaya menjaga
keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa agar tidak punah.
Jenis tumbuhan atau satwa adalah jenis yang secara ilmiah disebut spesies atau
anak jenis yang secara ilmiah disebut sub-spesies baik di dalam maupun di luar
habitatnya.
Tumbuhan liar adalah tumbuhan yang hidup di alam bebas dan atau dipelihara, yang
masih mempunyai kemurnian jenis atau genetisnya.
Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat, dan atau di air, dan atau di
udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang
dipelihara oleh manusia.
Tumbuhan liar yang dilindungi adalah jenis tumbuhan baik hidup maupun mati serta
bagian-bagiannya yang menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku
ditetapkan sebagai tumbuhan yang dilindungi.
Satwa liar yang dilindungi adalah jenis satwa baik hidup maupun mati serta bagian-
bagiannya yang menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku ditetapkan
sebagai satwa yang dilindungi.
Ekosistem ialah kompleks komunitas tumbuhan, binatang dan jasad renik yang
dinamis dan lingkungan nir hayati/abiotik-nya yang berinteraksi sebagai unit
fungsional.
Konservasi ex-situ ialah konservasi komponen-komponen keanekaragaman hayati di
luar habitat alaminya.
Konservasi in-situ ialah korservasi ekosistem dan habitat alami serta pemeliharaan
dan pemukiman populasi jenis-jenis berdaya hidup dalam lingkungan alaminya, dan
dalam hal jenis-jenis terdomestikasi atau budidaya, di dalam lingkungan tempat
sifat-sifat khususnya berkembang.
2
Habitat ialah tempat atau tipe tapak tempat organisme atau populasi terjadi secara alami.
CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) atau konvensi perdagangan
internasional tumbuhan dan satwa liar spesies terancam adalah perjanjian internasional antar negara yang disusun
berdasarkan resolusi sidang anggota World Conservation Union (IUCN) tahun 1963. Konvensi bertujuan melindungi
tumbuhan dan satwa liar terhadap perdagangan internasional spesimen tumbuhan dan satwa liar yang
mengakibatkan kelestarian spesies tersebut terancam. Selain itu, CITES menetapkan berbagai tingkatan proteksi
untuk lebih dari 33.000 spesies terancam. CITES terdiri dari tiga apendiks:
Ÿ Apendiks I: daftar seluruh spesies tumbuhan dan satwa liar yang dilarang dalam segala bentuk perdagangan
internasional
Ÿ Apendiks II: daftar spesies yang tidak terancam kepunahan, tapi mungkin terancam punah bila perdagangan
terus berlanjut tanpa adanya pengaturan
Ÿ Apendiks III: daftar spesies tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi di negara tertentu dalam batas-batas
kawasan habitatnya, dan suatu saat peringkatnya bisa dinaikkan ke dalam Apendiks II atau Apendiks I.
Daftar merah IUCN (IUCN Red List) pertama kali digagas pada tahun 1964 untuk menetapkan standar
daftar spesies, dan upaya penilaian konservasinya. IUCN Red List bertujuan memberi informasi,
dan analisis mengenai status, tren, dan ancaman terhadap spesies untuk memberitahukan,
dan mempercepat tindakan dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati.
Kategori keterancaman suatu spesies menurut IUCN adalah sebagai berikut:
Ÿ Punah (Extinct=EX)
Ÿ Punah di alam liar (Extinct in the Wild=EW)
Ÿ Kritis (Critically Endangered=CR)
Ÿ Genting (Endangered=EN)
Ÿ Rentan (Vulnerable=VU)
Ÿ Hampir terancam (Near Threatened=NT)
Ÿ Risiko rendah (Least Concern=LC)

3
Mengapa perlu membangun Taman Kehati?

Pemerintah memiliki kebijakan untuk menambah ruang terbuka hijau di perkotaan


terutama taman-taman yang dapat menjadi arena masyarakat bersosialisasi dan
berinteraksi serta dapat memberikan suasana yang asri, sejuk, indah dan nyaman
dengan kehadiran berbagai satwa seperti burung dan kupu-kupu. Oleh karena itu saat
ini sedang digalakkan pembangunan kebun raya, hutan kota, taman hutan raya dan
taman kehati.
Pemerintah memiliki target membangun kelembagaan 30 Taman Kehati sampai akhir
tahun 2019. Saat ini, puluhan kabupaten di seluruh nusantara telah mendeklarasikan
membangun Taman Kehati, sebagai implementasi Peraturan Menteri Lingkungan
Hidup Nomor 3 Tahun 2012. Beberapa pihak swasta juga turut mengambil bagian
membangun Taman Kehati sebagai sarana memperoleh predikat Hijau dalam penilian
PROPER. Perusahaan yang telah membangun Taman Kehati antara lain dari group
Aqua Danone seperti PT. Aqua Golden Mississippi Mekarsari Sukabumi, PT. Tirta
Investama Ciherang Bogor, PT. Tirta Investama Babakan Pari Sukabumi, PT. Tirta
Investama Lido Bogor, PT. Tirta Investama Wonosobo, dan PT. Tirta Investama
Subang.
Membangun Taman Kehati memiliki beberapa keuntungan antara lain:
Ÿ Bagi Masyarakat: menjadi sarana pembelajaran dan pemberdayaan ekonomi,
wahana wisata, pendidikan, menambah pengetahuan dan meningkatkan
kesadaran lingkungan
Ÿ Bagi Lingkungan: menjaga kelestarian keanekaragaman hayati jenis lokal yang
semakin langka dan terancam, serta menjadi habitat satwa yang terdesak oleh
industri dan pemukiman.
Ÿ Bagi Perusahaan: sebagai upaya untuk memperoleh penghargaaan PROPER
Hijau atau Emas.
Ÿ Bagi Pemerintah: meningkatkan kinerja kementerian atau lembaga yang terkait.

4
Taman Kehati yang dibangun di sekitar pabrik atau di tengah lingkungan perkotaan
lebih mudah diakses dan dinikmati manfaatnya oleh masyarakat dan menjadi show
window komitmen hijau perusahaan yang membangunnya. Program Taman Kehati juga
menjadi salah satu cara melibatkan swasta ikut melaksanakan konservasi
keanekaragaman hayati. Bagi perusahaan swasta, dengan membangun Taman Kehati
akan mendapatkan peluang-peluang insensif ekonomi seperti penghargaan PROPER
Hijau atau Emas sehingga dapat masuk bursa saham dan produknya di terima di pasar
internasional.
Taman Kehati yang dikelola dengan baik dan diikutkan dalam Program PROPER perlu
didukung dengan kegiatan penelitian, pengembangan dan inovasi yang melibatkan para
peneliti ahli di bidangnya, diperkuat dengan pengelola yang terlatih dan menjadi basis
pemberdayaan masyarakat sekitar.

5
Apa Manfaat Taman Kehati?

Taman Kehati memberikan berbagai manfaat antara lain:


(1) Koleksi tumbuhan, khususnya tumbuhan lokal dan langka
(2) Menjadi tempat pengembangbiakan tumbuhan dan satwa yang mendukung kelestarian ekosistem dan
bermanfaat bagi manusia
(3) Menjadi penyedia bibit berbagai tanaman yang sudah mulai langka
(4) Sumber genetik tumbuhan dan tanaman lokal yang saat ini sulit dijumpai dan terancam punah
(5) Menjadi sarana pendidikan bagi generasi muda khususnya para pelajar untuk menanamkan rasa cinta alam
dan kebanggaan terhadap tanah air
(6) Menjadi wahana penelitian khususnya yang berkaitan dengan konservasi tumbuhan dan satwa langka, dan
untuk pengembangan ilmu pengetahuan baru yang bermanfaat.
(7) Menjadi tujuan ekowisata yang berguna untuk kampanye konservasi keanekaragaman hayati dan
peningkatan kesadaran kelestarian lingkungan bagi masyarakat.
(8) Menjadi sumber bibit dan benih unggul bagi pengembangan budidaya pertanian di sekitarnya.
(9) Menjadi ruang terbuka hijau yang dapat memperbaiki iklim mikro di sekitarnya sehingga memberikan
keteduhan, kesejukan, keasrian, keindaha, kesehatan dan kenyamanan bagi masyarakat sekitar.
(10) Menambah tutupan vegetasi yang berperan dalam perbaikan sistem hidrologi seperti menambah daerah
tangkapan air atau reservoir, mencegah erosi dan tanah longsor serta memberikan habitat bagi berbagai
jenis satwa.

6
2
Persiapan Membangun
Taman Kehati
Alokasi Lahan Taman Kehati

Lahan untuk membangun Taman Kehati harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
(1) Berada di luar (bukan) kawasan hutan
(2) Status pemilikan atau penguasaan yang sah secara hukum (clear) dan tidak
sedang dipersengketakan hak kepemilikan, penguasaannya maupun
pengelolaannya (Clean).
(3) Dinyatakan oleh pemilik secara tertulis dan memiliki kekuatan hukum bahwa
lahan tersebut dipastikan peruntukannya untuk Taman Kehati dengan surat
penetapan.
(4) Lahan Taman Kehati diutamakan berada pada ketinggian antara 400–600
meter di atas permukaan laut. Hal ini umumnya pada ketinggian
tersebutsangat minim ruang terbuka hijau karena sudah padat dengan
pemukiman dan industri.
(5) Diutamakan dekat dengan sumber air sehingga dapat memberikan pengaruh
positif bagi perlindungan mata air.
(6) Memiliki luas minimal 3 hektar sehingga memenuhi salah satu kriteria tipe
Taman Kehati sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Permen LH No. 3
Tahun 2012.
7
Tabel 1. Ketentuan tipe, luas dan jumlah jenis tumbuhan utama Taman Kehati Kota.
TAMAN KEHATI KOTA
Tipe Luas (Ha) Jumlah Jenis Tumbuhan Utama
A 3,0 – 4,9 6 spesies lokal dengan populasi setiap spesiesnya terdiri atas
paling sedikit 5 (lima)individu yang berasal dari induk berbeda
B 5 – 9,9 6 spesies lokal dengan populasi setiap spesiesnya terdiri atas
paling sedikit 15 (lima belas) individu yang berasal dari induk
berbeda
C 10 – 24,9 Minimal 12 spesies lokal dengan populasi setiap spesiesnya
terdiri atas paling sedikit 15 (lima belas) individu yang berasal
dari induk berbeda
D = 25 Minimal 18 spesies lokal dengan populasi setiap spesiesnya
terdiri atas paling sedikit 15 (lima belas) individu yang berasal
dari induk berbeda

Tabel 2. Ketentuan tipe, luas dan jumlah jenis tumbuhan utama Taman Kehati Kabupaten.
TAMAN KEHATI KABUPATEN
Tipe Luas (Ha) Jumlah Jenis Utama
A 10 - 14,9 Minimal 8 spesies lokal dengan populasi setiap spesiesnya
paling sedikit 15 (lima belas) individu yang berasal dari induk
berbeda
B 15 – 24,9 Minimal 12 spesies lokal dengan populasi setiap spesiesnya
terdiri atas paling sedikit 15 (lima belas) individu yang berasal
dari induk berbeda
C 25 – 49,9 Minimal 24 spesies lokal dengan populasi setiap spesiesnya
terdiri atas paling sedikit 30 (tiga puluh) individu yang berasal
dari induk berbeda
D = 50 Minimal 36 spesies lokal dengan populasi setiap spesiesnya
terdiri atas paling sedikit 60 (enam puluh) individu yang berasal
8 dari induk berbeda
Pengukuran, Tata Batas dan Pemetaan.
Lahan yang telah ditetapkan sebagai Taman Kehati diukur luasnya dan ditata batas
sehingga jelas batas-batas luarnya, kemudian dipetakan secara digital menggunakan
GIS (geographic information system).

Baseline Survey
Baseline Survey atau Baseline Study bertujuan untuk mengetahui kondisi atau status
keanekaragaman hayati flora dan fauna rona awal di lahan Taman Kehati sebelum
dilakukan penanaman dan program perlindungan keanekaragaman hayati lainnya.
Sasaran kegiatan Baseline Study adalah tersedianya data dasar (baseline data) status
keanekaragaman hayati flora dan fauna di areal Taman Kehati.
Baseline Data keanekaragaman hayati flora dan fauna Taman Kehati bermanfaat
sebagai patokan atau titik acuan dalam pengukuran peningkatan keanekaragaman
hayati melalui program Taman Kehati. Disamping itu, data-data hasil baseline survey
juga berguna dalam rangka:
(1) Identifikasi jenis-jenis flora dan fauna lokal, endemik, langka dan terancam
untuk dikonservasi di Taman Kehati.
(2) Penetapan jenis-jenis flora dan fauna unggulan atau prioritas konservasi dalam
Program Taman Kehati.
(3) Pemilihan jenis-jenis pohon lokal, endemik, dilindungi dan terancam yang akan
ditanam dan dilestarikan di Taman Kehati.
(4) Pembuatan disain tapak penanaman pohon dan vegetasi serta infrastruktur
Taman Kehati.
(5) Penyusunan Pangkalan Data Kehati Berbasis Satelit.
Baseline Survey menghasilkan buku baseline data Taman Kehati yang berisi bab-bab
sebagai berikut (Gambar 1) :
9
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan, Sasaran dan Luaran
C. Manfaat
II. METODOLOGI
A. Waktu dan Lokasi
B. Ruang Lingkup Studi
C. Alat dan Bahan
D. Metode Pengumpulan Data
1. Parameter yang diukur/diamati
2. Data yang Dikumpulkan
E. Metode Analisis Data
III. KEADAAN UMUM
A. Letak, Luas dan Status Lahan
B. Kondisi Bio-Fisik
1. Kondisi Vegetasi (Tutupan Lahan)
2. Satwaliar
3. Tanah dan Topografi
4. Iklim
5. Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Hidrologi
6. Penduduk
7. Sosial Ekonomi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Keanekaragaman Hayati Flora
1. Kondisi Rona Awal (Sebelum Taman Kehati)
2. Kondisi Flora Taman Kehati Tahun 2014
3. Komposisi
4. Indeks Keanekaragaman Jenis (Diversity Index) dan
Kemerataan Jenis (Evenness Index).
B. Keanekaragaman Hayati Fauna
1. Komposisi
2. Indeks Keanekaragaman (Diversity index) dan
Kemerataan (Evenness index).
3. Status Konservasi
C. Keanekaragaman Habitat
D. Implikasi Pengelolaan
1. Pengelolaan Keanekaragaman Flora
2. Pengelolaan Keanekaragaman Fauna
3. Pengelolaan Habitat dan Lansekap
4. Pemanfaatan
5. Program Pengembangan
V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan
B. Rekomendasi
10 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Gambar 1. Beberapa contoh buku Baseline Study Taman Kehati. 11
12
3
Perencanaan

Taman Kehati harus memiliki Buku Rencana dan Program Pembangunan, dan
Pengelolaan untuk jangka waktu minimal lima tahun. Tujuan penyusunan Rencana dan
Program Taman Kehati adalah untuk memberikan pedoman bagi pembangunan
Taman Kehati yang meliputi menyiapkan lahan dan persyaratannya, arahan teknis
pelaksanaan kegiatan dan program secara sistematis dan rinci sebagai panduan
pembangunan dan pengelolaan Taman Kehati. Buku Rencana dan Program Taman
Kehati ini berisi bab-bab sebagai berikut:
(1) Penetapan lokasi tapak
(2) Penetapan tumbuhan lokal yang akan ditanam
(3) Pembuatan desain yang meliputi desain vegetasi dan desain infrastruktur.
(4) Penyiapan organisasi pelaksana
(5) Kelembagaan dan Program kemitraan
(6) Kegiatan penanaman dan pemeliharaan
(7) Monitoring dan evaluasi
(8) Pengembangan database
(9) Tata waktu pelaksanaan

13
Penetapan Tapak dan Program Taman Kehati
Tapak lahan yang akan dijadikan Taman Kehati diusulkan persetujuannya sekaligus pengajuan permohonan untuk
mengikuti Program Taman Kehati. Program Taman Kehati diikuti oleh:
a. Pemerintah daerah provinsi;
b. Pemerintah daerah kabupaten/kota; dan/atau
c. Setiap orang/perusahaan.

Program Taman Kehati sebagaimana dimaksud dilakukan melalui tahapan:


a. Pengajuan permohonan pembangunan Taman Kehati yang dilengkapi dengan
Ÿ Dokumen lingkungan hidup sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan
Ÿ Dokumen perencanaan pembangunan Taman Kehati;
b. Verifikasi persyaratan Taman Kehati dilakukan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
tipe Taman Kehati. Hasil verifikasi dipergunakan sebagai dasar diterbitkannya persetujuan mengikuti
Program Taman Kehati oleh Menteri, gubernur atau bupati/walikota
c. Persetujuan Taman Kehati oleh Menteri, gubernur atau bupati/walikota

Taman Kehati Provinsi diusulkan penetapan lahannya dan persetujuan untuk mengikuti program Taman Kehati
kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Taman Kehati Kabupaten/Kota diusulkan penetapan lahannya dan persetujuan mengikuti program Taman Kehati
kepada Gubernur.
Taman Kehati Kabupaten/Perorangan/Perusahaan diusulkan penetapan lahannya dan persetujuan mengikuti
program Taman Kehati kepada Menteri atau gubernur atau bupati/walikota, sesuai kewenangannya.

14
Penetapan Jenis Tumbuhan Lokal dan Satwa Target
Konservasi
Penetapan jenis tumbuhan lokal dilakukan dengan tahapan:
(1) Inventarisasi oleh tenaga ahli terhadap tumbuhan lokal, baik di lokasi calon
Taman Kehati maupun lahan-lahan sekitarnya, terutama di ekosistem alami
yang terdekat sebagai referensi. Jenis-jenis flora dikelompokkan menurut
klasifikasi taksonomi, kategori konservasi (dilindungi/tidak dilindungi)
kategori kelangkaan atau keterancaman, kategori manfaat atau kegunaan,
kategori endemisitas dan asal (indigenous atau eksotik), kategori nilai sosial
budaya, kategori tinggi strata tajuk, kategori toleransi terhadap cahaya atau
tingkatan suksesi (jenis klimak atau jenis pionir) dan bila perlu dikategorikan
menurut Appendix CITES. Contoh-contoh hasil inventarisasi disajikan pada
Lampiran.
(2) Seleksi jenis yang akan menjadi target konservasi (jenis utama) di Taman
Kehati, yang memenuhi kriteria lokal atau endemik, langka atau terancam
sehingga memerlukan tindakan konservasi.
(3) Seleksi jenis vegetasi pendukung yang memenuhi kriteria dapat memberikan
habitat bagi satwa penyerbuk, penyebar biji atau pemakan serangga dan
pengendali hama.
(4) Penetapan spesies yang akan ditanam, baik sebagai jenis utama maupun jenis
pendukung.
(5) Kebenaran identifikasi taksonomi dan fungsi atau kegunaan divalidasi oleh
institusi yang memiliki otoritas ilmiah, misalnya lembaga Litbang atau
Perguruan Tinggi.

Jenis flora utama yang terpilih akan menjadi flora unggulan yang dikonservasi Taman
Kehati dan akan menjadi maskot atau icon dari Taman Kehati tersebut. Dalam
pemilihan jenis utama yang akan dijadikan unggulan di suatu Taman Kehati, perlu
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: 15
Sandoricum koetjape Cynometra cauliflora Mangifera kemanga

Tabel 3. Jenis flora unggulan konservasi Taman Kehati


PT. AGM Mekarsari dengan tema buah lokal jawa yang langka.
NO Nama Lokal Nama Latin
1 Gandaria Bouea macrophylla Griff.*
2 Namnam Cynometra cauliflora L.
3 Mundu Garcinia porrecta Wall.
4 Kecapi Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr.
5 Burahol Stelechocarpus burahol (Blume) Hook.f.&Thomson
6 Gowok Syzygium polycephaloides (C.B.Rob) Merr.
7 Kemang Mangifera kemanga Blume
8 Kenari babi Canarium decumanum Gaertn
* Tumbuhan identitas provinsi Jawa Barat

16
Canarium decumanum Stelechocarpus burahol Bouea macrophylla
Pembangunan Taman Kehati juga dimaksudkan untuk menciptakan habitat bagi
berbagai jenis fauna. Keberadaan Taman Kehati mengundang berbagai jenis satwa
yang hidup dan mencari makan di dalam areal tersebut. Beberapa jenis dapat dipilih
sebagai jenis satwa target konservasi di Taman Kehati dengan pertimbangan sebagai
berikut:
(1) Jenis penghuni atau pengunjung (migran) tetap.
(2) Merupakan jenis dilindungi atau jenis yang masuk dalam Redlist IUCN.
(3) Memiliki peranan penting dalam rantai makanan di ekosistem Taman Kehati.

Todirhampus chloris Sebagai contoh, di Taman Kehati Mekarsari ditemukan lima jenis satwa yang memenuhi
kriteria tersebut yang dapat dijadikan target konservasi. Kelima jenis tersebut disajikan
pada Tabel 4.

Tabel 4. Lima Jenis fauna target konservasi di Taman Kehati PT. AGM Mekarsari.

No. Nama Lokal Nama Latin Keterangan


1. Rajaudang Biru, Todirhamphus chloris (Boddaert, 1783) Endemik Indonesia; Least Concern*;
Cekakak Sungai Dilindungi PP7/1999
2. Rajaudang Jawa Halcyon cyanoventris (Vieillot, 1818) Endemik Jawa; Least Concern*; Dilindungi
PP7/1999
3. Berang-berang jawa Aonyx cinerea Illigeer, 1815 Endemik Indonesia; Least Concern*;
Dilindungi PP7/1999
4. Gagarangan , Herpestes javanicus (É. Geoffroy Saint
- Endemik Jawa; Least Concern*; Tidak
Garangan Jawa Hilaire, 1818) Dilindungi
5. Musang Luwak Paradoxurus hermaphroditus (Pallas, 1777) EndemikIndonesia; Least Concern*;Tidak
Dilindungi

Herpestes javanicus Aonyx cinerea


17
Desain Vegetasi

Dalam membuat desain vegetasi Taman Kehati, pengetahuan ekosistem alami di


sekitarnya sangatlah penting sebagai acuan atau referensi. Hal ini karena konsep
pembangunan dan pengelolaan Taman Kehati adalah membangun ekosistem yang di
dalamnya terjadi proses-proses dan fungsi ekosistem.
Penetapan referensi ekosistem perlu dilakukan sebagai acuan dalam pembangunan
Taman Kehati. Menurut pasal 6 Permen LH No. 3 Tahun 2012 jenis pohon yang perlu
dikonservasi di Taman Kehati adalah jenis yang memiliki peranan penting dalam
proses-proses ekosistem yaitu antara lain terkait dengan proses penyerbukan dan
pemencaran tumbuhan oleh satwa. Jenis-jenis tersebut bukan saja berperan
memberikan makanan bagi satwa, tetapi juga mempermudah reproduksi dan
pemencaran benih, sehingga pohon-pohon akan bertambah jumlahnya secara alami.
Jenis pohon yang memberikan habitat bagi satwa pemangsa hama seperti serangga,
juga menjadi jenis unggulan target konservasi.
Taman Kehati juga bertujuan menyelamatkan jenis-jenis asli, endemik, langka dan
terancam. Oleh karena itu sebagai pertimbangan dalam pemilihan jenis asli atau
endemik maka perlu melihat ekosistem referensi terdekat yang masih dalam satu
hamparan bentang alam (landscape) atau bioregion.
Sebagai contoh, ekosistem hutan alami terdekat yang dapat dijadikan referensi untuk
dibuat replikanya di Taman Kehati PT. AGM Mekarsari adalah Ekosistem Hutan Gunung
Halimun dan Gunung Salak (wilayah Taman Nasional Gunung Halimun-Salak) di sebelah
selatan dan Gunung Gede dan Gunung Pangrango (wilayah Taman Nasional Gunung
Gede-Pangrango) di sebelah utara. Ke empat gunung tersebut memiliki tipe
ekosistem hutan hujan tropis pegunungan pada ketinggian lebih dari 1.000 m di atas
permukaan laut. Beberapa jenis pohon di ekosistem hutan hujan tropis pegunungan di
kedua taman nasional tersebut disajikan pada Lampiran.
Taman Kehati pada prinsipnya adalah menciptakan ekosistem yang memiliki fungsi dan
peranan seperti ekosistem alami. Oleh karena itu, Taman Kehati dapat dikatakan juga
sebagai replika ekosistem alami. Sebagai replika ekosistem hutan hujan tropis, Taman
18
Kehati perlu didesain sedemikian rupa sehingga vegetasi yang terbentuk secara asosiatif dan komunitas mampu
memberikan manfaat dan fungsi ekosistem seoptimal mungkin sebagaimana yang dapat diberikan oleh ekosistem
hutan hujan tropis alami seperti:
(1) Perlindungan sistem hidrologi atau tata air termasuk konservasi tanah dan air
(2) Menyediakan habitat bagi berbagai jenis fauna, termasuk tempat tinggal, sumber pakan, tempat
mencari makan, tempat berlindung dan berkembangbiak.
(3) Menyediakan hasil hutan bukan kayu seperti buah-buahan dan madu
(4) Menciptakan keindahan (estetika) yang dapat dikembangkan menjadi wisata alam.
(5) Menciptakan kenyamanan seperti udara sejuk, bersih dan segar

Desain vegetasi Taman Kehati dibuat dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Desain Vegetasi Berbasis Ekosistem


Taman Kehati Mekarsari terletak berdekatan dengan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango dan Taman
Nasional Gunung Halimun-Salak. Ekosistem yang menjadi referensi dalam pembangunan Taman Kehati
Mekarsari adalah ekosistem hutan hujan tropis di kedua taman nasional tersebut. Oleh karena itu jenis-jenis
pohon yang akan ditanam adalah jenis yang memiliki sebaran geografis sama. Demikian juga desain struktur
vegetasinya akan meniru ekosistem hutan hujan tropis.
Menurut Kershaw (1973) struktur vegetasi terdiri atas tiga komponen yaitu:
a. Struktur vegetasi secara vertikal merupakan diagram profil yang menggambarkan stratifikasi (lapisan)
pohon, tiang, sapihan, semai dan herba penyusun vegetasi.
b. Struktur vegetasi secara horisontal yaitu sebaran horisontal jenis-jenis penyusun yang menggambarkan
letak individu pohon satu terhadap individu lainnya.
c. Kelimpahan (abundance) adalah jumlah setiap jenis dalam suatu komunitas.

Hutan hujan tropis dapat dibedakan menjadi lima strata (Kershaw, 1973; Soerianegara dan Indrawan, 1988) yaitu;
· Strata A (tinggi > 30m) berisi pohon-pohon tertinggi berukuran raksasa atau emergent
· Strata B (20 – 30m) berisi pohon-pohon yang lebih rendah dan berukuran sedang
· Strata C (4 – 20m) berisi pohon-pohon kecil sampai sedang
· Strata D (1 – 4 m) berisi semak belukar dan perdu
· Strata E (0 – 1 m) berisi tumbuhan bawah lantai hutan dan anakan pohon.
19
Stratifikasi tajuk vegetasi pada sebuah hamparan hutan menjadi relung-relung
ruang bagi berbagai aktifitas satwa, misalnya untuk bersembunyi, bersarang,
berlindung dan mencari makan. Struktur vertikal atau stratifikasi tajuk
menciptakan relung-relung habitat secara vertikal dapat dibuat dengan memilih
jenis-jenis pohon yang memiliki berbagai ketinggian tajuk. Sementara struktur
horisontal dibuat dengan mengatur jarak tanam sedemikian rupa sehingga dapat
terbentuk kesinambungan tajuk secara horisontal. Kelimpahan individu setiap jenis
pohon berpengaruh terhadap nilai keanekaragaman, jumlah yang merata pada
setiap jenis akan memberikan nilai keanekaragaman yang tinggi. Dalam hal ini
dihindarkan jumlah individu per jenis hanya satu, tetapi minimal lima individu setiap
jenis. Sedangkan jarak tanam antar pohon yang optimal untuk mempercepat
pembentukan komunitas hutan adalah 3m x 3m, sehingga kelimpahan setiap
hektarnya sekitar 1.111 pohon.
(1) Keanekaragaman, semakin beranekaragam pohon akan semakin banyak
ragam relung habitat yang dapat tercipta. Beraneka jenis pohon penghasil
nektar (berbunga) dan buah menjadi sumber pakan bagi beranekaragam
satwa. Beraneka ragam tinggi pohon dengan beraneka macam percabangan
menciptakan relung ruang bagi berbagai jenis satwa.
(2) Kesesuaian dengan kondisi tapak, untuk menjamin keberhasilan tumbuh,
maka perlu dipilih jenis-jenis pohon yang memiliki kesesuaian ekologis (tanah,
iklim dan ketinggian) dengan kondisi tapak.
(3) Kesesuaian dengan tujuan fungsi, misal, untuk tujuan mencegah erosi dan
longsor tapak bertopografi curam, perlu ditanami jenis pohon yang memiliki
perakaran banyak dan kuat untuk mencegah longsor serta bertajuk lebat dan
lebar untuk meningkatkan throughfall yaitu air hujan yang tidak langsung jatuh
ke tanah tetapi terhambat oleh dedaunan terlebih dahulu sehingga
mengurangi erosi tanah. Untuk konservasi air perlu dipilih jenis pohon yang
mampu menyimpan air dan memiliki evapotranspirasi rendah di sekitar mata
air. Untuk menciptakan keindahan (estetika), maka perlu ditanam jenis pohon
berbunga indah dan harum di sepanjang kiri-kanan jalan inspeksi untuk
memberikan kesan estetika dan kenyamanan.
20
(4) Struktur vegetasi meniru struktur hutan alam. Penanaman jenis-jenis pohon
yang memiliki beragam tinggi untuk menciptakan stratifikasi yang lengkap
seperti halnya stratifikasi di hutan alam yaitu strata A, B, C, D, E.

Sumber Gambar : http://www.cloudbridge.org

Gambar 2. Contoh gambaran stratifikasi tajuk pada hutan


21
2. Desain Vegetasi Berbasis Tematik

Untuk mengakomodir berbagai tujuan dan fungsi, maka Taman Kehati perlu dibuat
zonasi sesuai dengan tema, tujuan atau fungsi yang diinginkan. Zonasi tematik
dimaksudkan untuk memudahkan perawatan, pengelolaan dan pemanfaatan
Taman Kehati sesuai fungsi. Zonasi adalah membagi-bagi areal taman kehati
menjadi beberapa blok atau zona yang akan diperlakukan secara unik dengan
tujuan memudahkan pengelolaan dan pemanfaatan. Sebagai contoh zona atau
blok tematik yang akan dibuat dalam Taman Kehati Mekarsari dibuat untuk
mengakomodir sebagai berikut :
(a) Perlindungan mata air
(b) Replika ekosistem hutan tropis pegunungan
(c) Koleksi jenis pohon buah-buahan lokal
(d) Koleksi jenis bambu dan konservasi lahan bertopografi curam

Secara keseluruhan dan atau bersama-sama (komunitas vegetasi), zona-zona dalam


Taman Kehati dapat memberikan fungsi pokok (1) ekologis atau habitat satwa,
(2) pendidikan dan ilmu pengetahuan serta (3) estetika atau wisata. Sebagai
contoh pembuatan zonasi Taman Kehati PT. AGM Mekarsari dapat dilihat pada
Tabel 5 dan Gambar 3.

Tabel 5. Zonasi tematik Taman Kehati PT. AGM Mekarsari.


Luas
Nama Blok Peruntukan Persentase
(Ha)

1. Blok Rimba Pelestarian pohon asli ekosistem hutan hujan tropis 2.01 18.4

2. Blok Buah Pelestarian pohon buah-buahan asli dan langka 1.1 10.0

3. Blok Bambu Pelestarian jenis-jenis bambu 7.22 65.9

4. Blok Sumber Air Perlindungan sumber air 0.62 5.7

Jumlah 10.12 100.0

22
10.12

Gambar 3. Peta zonasi tematik Taman Kehati PT. AGM Mekarsari

23
Desain Infrastruktur

Desain infrastruktur harus memperhatikan fungsi ekosistem, lanskap, dan estetika dan
tidak lebih dari 10% dari luas lahan. Infrastruktur yang dibutuhkan guna menunjang
Taman Kehati meliputi jalan setapak, drainase, pembibitan/persemaian, pos pemantau,
papan nama, papan label identitas pohon, dan papan interpretasi. Apabila Taman
Kehati akan difungsikan untuk wisata, maka dapat dilengkapi sarana penunjang wisata
seperti shelter, bangku taman, toilet, tempat sampah dan lain-lain.

1. Jalan Akses dan Jalan Pemeliharaan


Sebagai contoh Taman Kehati Mekarsari telah memiliki infrastruktur jalan, baik
jalan utama dengan lebar 3 meter maupun jalan setapak dengan lebar 1 meter.
Jalan utama dan jalan setapak dibuat dari paving block. Sebagian jalan setapak di
turunan atau tanjakan dibuat dari semen beton dan berundak-undakan. Jalan
utama maupun jalan setapak umumnya digunakan untuk inspeksi pipa transmisi air
dari sumber ke pabrik dan sebagai jalan untuk kepentingan pengelolaan Taman
Kehati.
Jalan setapak pada kondisi naik atau turun perlu dilengkapi dengan handrail
(pegangan). Jalan setapak untuk keperluan inspeksi dibuat di areal yang belum ada
jalan setapaknya.
Jalan setapak harus dibuat ramah lingkungan, tidak mengurangi tangkapan air dan
tidak melebihi proporsi luas yang ditentukan. Jalan juga harus multifungsi,
disamping sebagai jalan inspeksi, juga menjadi jogging track, penunjang kesehatan
(jalan refleksi kaki) dan memiliki estetika. Oleh karena itu, spesifikasi jalan setapak
1
terbuat dari paving block dan gico atau reflexology track, pada jarak tertentu
dengan lebar 100 cm. (Gambar 4,5 dan 6).

1
Gico adalah batu-batu berdiameter rata-rata 5 cm yang disusun sedimikian rupa membentuk
jalan setapak sehingga dapat digunakan sebagai sarana reflexy bagi pejalan kaki.
24
Gambar 4.
Jalan utama atau jalan akses Taman Kehati
cukup untuk melintas kendaraan roda empat
terbuat dari paving block agar tidak
mengurangi penyerapan air hujan

(Foto di Taman Kehati PT. AGM Mekarsari)

Gambar 5. Kiri: Jalan setapak di dalam Taman Kehati PT. AGM Mekarsari untuk kegiatan
pemeliharaan, terbuat dari paving block, Kanan: contoh jalan setapak
terbuat dari gico. 25
Gambar 6.
Contoh jalan setapak menanjak berupa anak
tangga yang dilengkapi handrail

(Foto di Taman Kehati PT. TIV. Lido)

2. Drainase/irigasi
Drainase diperlukan untuk menampung, mengarahkan atau mengendalikan tata
aliran air limpasan, baik dari sumber mata air maupun area tangkapan terutama
area tangkapan yang memiliki aliran permukaan tinggi seperti jalan dan lahan
miring. Saluran umumnya terbuka berbentuk “U” dibuat sepanjang sisi-sisi jalan.
Sebagai contoh, ada beberapa tipe saluran drainase di Taman Kehati Mekarsari
yaitu:
Ÿ Saluran drainase terbuat dari beton masif berbentuk cekungan dangkal dengan
kedalaman kurang dari 25 cm memanjang di tepi jalan (Gambar 7A);
Ÿ Saluran drainase berbentuk alur dangkal tanpa bangunan semen hanya
dasarnya ditebari batu untuk estetika dan kesan bersih (Gambar 7B);
Ÿ Saluran drainase berbentuk “U” dengan dalam 50-70 cm terbuat dari semen
dan batu untuk menampung limpasan dari jalan dan sekitarnya (Gambar7 C);
Ÿ Saluran besar dengan dinding dari semen dan batu, sedangkan dasar tidak
disemen untuk menampung limpasan dari sumber mata air (Gambar 7D);
Ÿ Saluran terbuat dari semen berbentuk “U” berukuran kecil dan dangkal
sepanjang jalan setapak (Gambar 7E): dan
Ÿ Saluran berupa cerukan tanah tanpa disemen di sepanjang sisi jalan
(Gambar 7F).

26
A B

C D

E F

Gambar 7. Beberapa tipe saluran irigasi di Taman Kehati


(Foto di Taman Kehati PT. AGM Mekarsari).

27
Gambar 8.
Saluran irigasi yang
terintegrasi dengan pipa
transmisi air baku
(Foto di Taman Kehati
PT. TIV Lido).

3. Penguat Tebing
Taman Kehati Mekarsari memiliki area dengan topografi yang bervariasi dari datar
sampai curam. Area bertopografi curam memiliki resiko rawan erosi dan longsor.
Upaya konservasi tanah untuk mencegahan erosi dan longsor dilakukan dengan
cara membuat terasering (undakan), talud atau bangunan penguat tebing dan
menanami tebing dengan tanaman penguat tebing. (gambar 9.)

Gambar 9.
Kiri: bangunan penguat
tebing; Kanan: bangunan
penguat tebing dan
tanaman penguatan tebing
(Foto di Taman Kehati
PT. AGM Mekarsari).

28
4. Persemaian dan Pembibitan
Taman Kehati diwajibkan memiliki persemaian dan pembibitan. Persemaian dan pembibitan dimaksudkan untuk
menyiapkan bibit yang akan ditanam maupun untuk penyulaman. Pembibitan dan persemaian juga digunakan
untuk transit dan aklimatisasi bibit dari tempat lain sebelum ditanam di Taman Kehati. Persemaian dan
pembibitan dapat difungsikan untuk membuat bibit pohon untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar
Menurut Kurniaty dan Danu (2012), lokasi persemaian harus memenuhi persyaratan teknis sebagai berikut:
(a) Lokasi dekat dengan areal penanaman, mudah dijangkau.
(b) Ada jalan angkutan sesuai kebutuhan.
(c) Luas lokasi disesuaikan dengan jumlah bibit yang akan dihasilkan dan cara pembibitan apakah
menggunakan polybag atau polytube.
(d) Pada umumnya luas persemaian efektif (bedeng tabur, bedeng semai dan bedeng sapih) adalah 60 % dari
luas areal persemaian dan 40 % digunakan untuk bangunan lainnya seperti pondok kerja, saluran irigasi
dan jalan inspeksi.
(e) Bedeng tabur dibuat 5 x 1m dengan tinggi/tebal tanah bedengan 15 cm.
(f) Ukuran bedeng semai umumnya 5 x 1m agar memudahkan menghitung jumlah bibit yang ada.
(g) Arah bedeng semai utara-selatan.

Kurniaty dan Danu (2012) menambahkan bahwa


persemaian harus memenuhi persyaratan Aspek
Fisik yaitu :
(a) Tersedia sumber air (sungai, air tanah )
(b) Lokasi datar (kemiringan kurang dari 10 %)
(c) Tersedia tenaga kerja (dekat
perkampungan)
(d) Tersedia bahan (benih, media tumbuh,
kantong plastik/polybag, fungisida, pestisida
dan pupuk)
(e) Tersedia peralatan (cangkul dan peralatan
kerja lainnya, pondok kerja, pagar, Gambar 10. Contoh persemaian permanen
naungan dsb) (Pusat Litbang Hutan Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan).

29
Sarana, peralatan dan bahan yang harus ada dalam di pembibitan atau persemaian
disajikan pada Tabel 11.

Tabel 6. Sarana, peralatan dan bahan yang harus ada di pembibitan atau persemaian.

No Sarana, Peralatan dan Keterangan/Penggunaan


Bahan
SARANA
Bedengan Ukuran 5m x 1m
Naungan Terbuat dari paranet
Pondok/Pos kerja Jika persemaian permanen
Gudang Jika persemaian permanen
Bak penampung air Jika diperlukan
Saluran air
Sumber energi listrik Untuk persemaian permanen
PERALATAN
Alat penyiram (Gembor) Jika tidak menggunakan pompa air
Gerobak Dorong Untuk angkut bibit
Cangkul Serbaguna
Parang/Golok Serbaguna
Gunting stek Serbaguna
Pisau cutter Serbaguna
BAHAN PERLENGKAPAN
Pupuk Jika diperlukan
Paranet/ Waring Untuk naungan
Ember Serbaguna
Polibag Untuk bibit yang disapih
Plastik sungkup Untuk bedeng semai
Bambu Untuk membuat bedengan dan naungan
Benih Jika diperlukan
Label tanaman Untuk pelabelan bibit yang ditanam
Fungisida, Insektisida, Jika diperlukan
Herbisida
Media semai Jika diperlukan
Buku catatan dan alat tulis Untuk pencatatan keluar masuk bibit ,
pemakaian pupuk , fungisida , insektisida ,
30 herbisida , dan lain -lain yang perlu dicatat .
5. Pos Pemantau
Pos pemantau diperlukan untuk kegiatan administrasi pengelolaan, pusat informasi
Taman Kehati dan gudang penyimpanan. Pos pemantau dilengkapi dengan
Personal Komputer untuk pengelolaan database Taman Kehati dan kegiatan
administrasi lainnya. Pos pemantau berfungsi sebagai layaknya sebuah kantor
kecil. Pos pemantau bisa menggunakan bangunan yang telah ada atau membuat
bangunan baru. Pos pemantau sebaiknya berada di dalam area Taman Kehati.
(Gambar 11.)

Gambar 11. Contoh Pos security (kiri) dan Sekretariat relawan CSR yang digunakan
sebagai pos pemantau Taman Kehati PT. AGM Mekarsari.

31
Gambar 12. Contoh papan informasi yang berisi informasi denah lokasi, spesies
flora dan fauna unggulan di Taman Kehati (Foto di Taman Kehati
PT. AGM Mekarsari).

6. Papan Nama Taman Kehati


Taman Kehati harus memiliki papan petunjuk, berisi informasi : nama Taman Kehati;
denah; spesies tumbuhan dan satwa. Untuk dapat memberikan informasi tersebut
secara jelas maka ukuran papan nama sekitar 200cm x 300cm. Sebagai contoh
berikut disajikan papan informasi yang dipasang di Taman Kehati Mekarsari,
Sukabumi.

32
7. Papan Label Identitas Pohon
Menurut Permen LH No. 3 tahun 2012 pasal 7 butir 4c, pohon-pohon koleksi di
Taman Kehati harus diberi label nama yang berisi informasi tentang nomor individu;
dan nama spesies lokal dan ilmiah. Berikut ini adalah contoh label nama pohon
koleksi yang lazim (standar) digunakan oleh lembaga ilmiah. Label identitas pohon
biasanya menggunakan plat seng atau aluminium atau bisa juga menggunakan
acrylic. (Gambar 13.)

Gambar 13.
Papan identitas pohon koleksi yang
mengikuti kaidah ilmiah dan
dilengkapi “QR Code”.

33
8. Papan Interpretasi
Papan interpretasi di Taman Kehati sangat membantu pengunjung mendapatkan informasi dan pengetahuan
tentang keanekaragaman hayati selama berada di Taman Kehati. Papan interpretasi, dirancang untuk
memberikan informasi yang singkat namun jelas dan harus bisa membangkitkan rasa cinta dan kepedulian
masyarakat kepada keanekaragaman hayati. Papan interpretasi dipasang di lokasi yang mudah dilihat oleh
pengunjung. Papan interpretasi harus memiliki kualitas dan ukuran huruf serta gambar yang terbaca dari jarak
beberapa meter. Papan interpretasi dapat dipasang vertikal atau miring. (Gambar 14.)

Gambar 14.
Contoh papan interpretasi untuk
membantu pengunjung memahami
dan menambah pengetahuan
tentang keanekaragaman hayati
(Foto di Taman Kehati PT. TIV
Ciherang).

Papan interpretasi vertikal lebih banyak memiliki kelebihan atau keunggulan yaitu :
(a) Dapat dibuat dua muka sehingga bisa di lihat dari dua arah
(b) Bisa dilihat sambil berjalan pelan (tidak perlu berhenti)
(c) Bisa dilihat oleh orang yang lebih pendek dari posisi papan
(d) Tidak lebih cepat lapuk karena tidak terkena langsung terpaan hujan dan sinar matahari tegak lurus dari
atas
(e) Tidak memerlukan penyangga/kaki khusus, bisa ditempel di pohon atau pagar.
(f) Lebih mudah menarik perhatian (eye catching) walau dari jarak yang cukup jauh.
34
Informasi yang disampaikan dalam papan interpretasi harus ilmiah tetapi juga harus
tampil menarik dan bahasanya populer sehingga mudah dipahami oleh masyarakat
awam. Papan interpretasi sebaiknya terbuat dari bahan yang awet dan aman serta
memiliki unsur estetika (keindahan) dan serasi dengan alam sekitarnya. Papan
interpretasi diletakan di tempat yang strategis, menghadap ke arah orang datang
dan di tempat yang teduh sehingga pembacanya nyaman.

Gambar 15. Ukuran, ketinggian dan kemiringan papan interpretasi disesuaikan untuk
memudahkan pengunjung membaca informasi yang disajikan (Foto di
Taman Kehati PT. TIV Subang).

35
9. Gazebo
Gazebo atau saung atau balai-balai biasanya merupakan bagian tak terpisahkan dari
suatu taman. Gazebo dibuat untuk tempat beristirahat, berdiskusi atau berteduh.
Selain fungsi tersebut, gazebo juga menjadi bagian pemanis suatu taman atau
ditujukan untuk memperindah taman. Oleh karena itu gazebo dibuat sedemikian
rupa dengan sentuhan seni sehingga kelihatan indah dipandang. (Gambar 16.)

Gambar 16. Gazebo yang terbuat dari bambu dan atap ijuk di tengah blok tanaman buah Taman Kehati
PT. AGM Mekarsari.
36
10. Adisionalitas
Setiap Taman Kehati akan lebih baik memiliki kelebihan tambahan yang tidak dimiliki Taman Kehati lainnya.
Kelebihan tersebut dapat menjadi unggulan atau icon dari Taman Kehati. Sebagai contoh, Taman Kehati yang
mengusung tema konservasi keanekaragaman hayati hutan tropis, dapat melengkapi Taman Kehatinya dengan
Herbarium, Orchidarium, Insektarium atau Pusat Informasi Keanekaragaman Hayati Tropika. Taman Kehati yang
mengusung tema bambu, seperti Taman Kehati PT. AGM Mekarsari dapat melengkapi Taman Kehatinya dengan
Museum Kerajinan Bambu. Museum bambu, selain sebagai sarana pendidikan lingkungan dan pembelajaran bagi
masyarakat, juga akan menjadi tempat koleksi berbagai jenis kerajinan bambu di seluruh nusantara pada
umumnya dan Jawa Barat khususnya

Contoh lain, Taman Kehati Babakan Pari yang terletak di Dusun Papisangan (diberi nama demikian karena kaya
akan jenis pisang), mengalokasikan satu blok Taman Kehatinya sebagai Blok Pisang untuk melestarikan lebih dari
20 varietas pisang. Ke depan, tema pelestarian pisang ini juga akan diikuti dengan program pemberdayaan
masyarakat berbasis Taman Kehati berupa pelatihan pengolahan produk pisang secara inovatif.

37
38
4
Organisasi Pelaksana

Mengacu pada Permen LH No. 3 Tahun 2012, sebuah Taman Kehati harus memiliki
pengelola yang terdiri atas:
1. Pimpinan;
2. Staf yang menangani koleksi; dan
3. Petugas lapangan;

Pimpinan Taman Kehati adalah Kepala Unit atau


Div. Environment atau CSER
Kepala Seksi Taman Kehati yang ditunjuk khusus
mengelola Taman Kehati. Jabatan tersebut bisa
Kepala Taman Kehati berada di bawah Divisi Lingkungan atau Divisi
Human Resources and Environment atau di bawah
Staf Koleksi Divisi CSER (Corporate Social and Environment
Responsibility). Kepala unit Taman kehati dibantu
Petugas Lapangan oleh seorang staf yang bertugas menangani
koleksi, staf ini minimal berpendidikan sarjana (S1)
di bidang Biologi, Pertanian atau Kehutanan. Hal
ini diperlukan karena akan membuat pelaporan
Gambar 17. kegiatan/progres, melakukan monitoring, evaluasi
Contoh struktur organisasi dan mengelola pangkalan data (data base) yang
pengelola Taman Kehati di
Perusahaan Swasta. memerlukan pengetahuan ilmu biologi, botani dan
ekologi.
39
Untuk pekerjaan sehari-hari di lapangan seperti penanaman, penyulaman, pemupukan, penyiraman, penyiangan,
penyemprotan dan pengamanan, maka diperlukan beberapa tenaga lapangan yang bisa direkrut harian, musiman
atau sebagai pegawai tetap. Tenaga lapangan tidak memerlukan kualifikasi khusus, tetapi cukup tenaga yang dilatih
atau diajari praktik-praktik pengelolaan persemaian, penanaman, pemeliharaan dan pengamanan yang dapat
dilakukan oleh Staf Koleksi atau Kepala Unit Taman Kehati. (Gambar 17.)

Untuk meningkatkan kapasitas dan ketrampilan para pengelola Taman Kehati, maka tenaga teknis yang menangani
langsung Taman Kehati perlu diikutsertakan dalam pelatihan-pelatihan yang relevan, misalnya Pelatihan
Pengelolaan Keanekaragaman Hayati di Taman Kehati dan Pelatihan Monitoring Kenekaragaman Hayati di Taman
Kehati. Penyelenggaraan pelatihan sebaiknya dilakukan secara in house training bekerjasama dengan lembaga yang
kompeten, misalnya Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan di Bogor. (Gambar 18.)

40
Gambar 18. Pelatihan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati, para peserta antara lain dilatih identifikasi dan
pengukuran pohon, pengamatan dan identifikasi satwa.

41
42
5
Penanaman dan
Pemeliharaan
Pengadaan Bibit
Bibit yang akan ditanam dapat didatangkan dari beberapa sumber seperti Pusat
Penelitian dan Pengembangan Hutan, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS),
Dinas Kehutanan, Kebun Raya, Kebun Bibit Rakyat atau bekerjasama dengan pengelola
Taman Nasional terdekat untuk pengadaan bibit asli atau lokal. Hal penting yang perlu
diketahui adalah asal bibit-bibit tersebut dan jenisnya harus memenuhi kriteria (lokal, asli
atau endemik) dan jelas asal-usul induknya.
Bibit-bibit yang siap untuk ditanam sebaiknya dipilih yang telah memiliki tinggi 100 cm
agar memiliki daya tahan hidup yang tinggi. Pengalaman menunjukkan bahwa dengan
pemilihan bibit siap tanam yang tepat, tingkat kematian di lapangan setelah penanaman
dapat ditekan hingga 1%.
Bibit diangkut ke lokasi penanaman menggunakan truk bak terbuka. Di lokasi
penanaman bibit akan dipelihara beberapa hari untuk proses adaptasi dan aklimatisasi
dengan kondisi sekitarnya. Penyimpanan bibit sementara dilakukan di bawah naungan
pohon atau persemaian/pembibitan sementara. Kegiatan ini paralel dengan kegiatan
pembuatan lubang tanam dan penyiapan pupuk kandang. (Gambar 19.)

Gambar 19.
Pengangkutan bibit menggunakan
truk bak terbuka 43
Penyiapan Lahan
Tahapan penyiapan lahan dilakukan secara paralel dengan pengadaan bibit. Kegiatan penyiapan lahan meliputi
(Gambar 20.) :
(1) Pembersihan lapangan dari gulma, alang-alang, rumput, semak belukar dan pohon-pohon yang tidak
diperlukan.
(2) Memberi tanda ajir pada titk-titik yang akan ditanami.
(3) Pembuatan lubang tanam sesuai dengan ketentuan teknis kebutuhan tanaman, misalnya kedalaman,
panjang dan lebar 30cmx30cmx30cm.
(4) Menyiapkan pupuk kandang yang dibutuhkan dari masyarakat sekitar
(5) Menyiapkan tenaga kerja penanaman dari masyarakat sekitar

Gambar 20.
Penyiapan lahan, mulai dari
pembuatan lubang tanam,
pengadaan ajir, pengadaan
pupuk kandang dan
akhirnya lubang tanaman
yang siap untuk ditanami.

44
Tempat dan Waktu Penanaman
Penanaman dilakukan pada dua tipe tempat berbeda yaitu
(1) Pada tempat yang sudah ada tanamannya tetapi masih kurang memenuhi
jumlah per hektarnya sehingga perlu diperkaya (penanaman pengkayaan/
enrichment planting). Jarak tanam menyesuaikan dengan tanaman yang sudah
ada.
(2) Pada tempat yang masih kosong dilakukan penanaman baru dengan jarak
tanam 3mx3m di lahan datar atau 2,5mx2,5m pada lahan curam.
Penanaman dilakukan secara bertahap, di awal atau tengah-tengah musim hujan
(Oktober-Februari) pada pagi hari setelah malamnya hujan. (Gambar 21.)

Gambar 21. Penanaman Taman Kehati bersama tokoh masyarakat dan pelajar dapat
membangkitkan kesadaran masyarakat dan generasi muda tentang
pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati. 45
Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman meliputi penyiangan atau pembersihan gulma, pendangiran,
pemupukan, pemberantasan hama dan penyakit serta penyulaman tanaman yang mati.
Penyiangan dilakukan untuk menghilangkan tumbuhan pengganggu di sekitar tanaman
yang menjadi pesaing dengan tujuan memberikan ruang tumbuh yang lebih baik kepada
tanaman. Penyiangan dilakukan secara cemplongan, yaitu berbentuk lingkaran di
sekeliling tanaman dengan jari jari 50-100cm. Penyiangan dilakukan secara rutin, pada
tahun pertama setiap tiga bulan dan tahun berikutnya setiap enam bulan atau
tergantung kebutuhan.
Pendangiran adalah kegiatan menggemburkan tanah di sekitar tanaman dengan
maksud agar unsur hara dari pupuk dapat cepat masuk untuk memacu pertumbuhan
tanaman. Pendangiran dilakukan bersamaan dengan penyiangan atau pembersihan
tanaman pengganggu (gulma). (Gambar 22.)
Pemupukan, dilakukan untuk meningkatkan kesuburan tanah sehingga tanaman dapat
tumbuh lebih cepat dan lebih baik. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang atau
kompos dengan dosis yang disesuaikan dengan kondisi tapak. Bila tidak ada pupuk
kandang, dapat juga digunakan pupuk buatan untuk memenuhi unsur NPK. Pemupukan
dilakukan setelah penyiangan dan pendangiran.
Hama dan penyakit tanaman dapat menyebabkan pohon terhambat tumbuhnya atau
bahkan mati. Pada tahun-tahun pertama saat tanaman masih berupa anakan, sangat
rentan terserang hama dan penyakit. Oleh karena itu tanaman harus secara rutin
diperiksa apakah terserang hama atau penyakit. Apabila ada tanaman yang terkena
hama atau penyakit harus segera ditangani agar tidak menular ke tanaman lainnya.
Hama serangga diberantas menggunakan insektisida, jamur diberantas menggunakan
fungisida.
Penyulaman dilakukan apabila ada tanaman yang mati. Oleh karena itu penyulaman
dilakukan pada tahun pertama setelah penanaman. Perlakuan tanaman sulaman sama
dengan penanaman baru, yaitu pada musim hujan. Jenis tanaman sulaman harus sama
dengan jenis tanaman yang mati (disulam) karena jenis tersebut sudah teregister dalam
pangakalan data, sehingga apabila diganti juga harus mengubah data yang ada di
pangkalan data.
46
Gambar 22. Pemeliharan tanaman dengan pendangiran sistem cemplongan
(foto di Taman Kehati PT. TIV Babakan Pari).
47
6
Program
Kerjasama dan Kemitraan
Dalam rangka perlindungan keanekaragaman hayati, Unit Pengelola
Taman Kehati menjalin kerjasama dan kemitraan dengan pihak lain. Kegiatan-kegiatan
yang potensial dikerjasamakan dengan pola kemitraan antara lain:
(1) Penelitian dan publikasi hasil penelitian
(2) Pelatihan dalam rangka pemberdayaan masyarakat melalui konservasi dan
pemanfaatan flora fauna
(3) Pelatihan peningkatan kapasitas SDM dalam pengelolaan Taman Kehati
(4) Pendidikan lingkungan hidup dan konservasi
(5) Rehabilitasi lahan kritis, daerah aliran sungai dan kawasan konservasi
(6) Pembinaan dan konsultasi teknis pengelolaan Taman Kehati
(7) Pengadaan bibit tanaman asli atau langka
(8) Adopsi pohon
(9) Wisata alam.
(10) Ekonomi kreatif, handicraft, seni pemotretan, dll.

Kerjasama dan kemitraan dilakukan dengan lembaga pemerintah, lembaga penelitian,


lembaga pendidikan (sekolah atau perguruan tinggi), lembaga swadaya masyarakat
maupun kelompok-kelompok masyarakat sekitar. Program kerjasama dan kemitraan
yang dapat dilaksanakan antara lain sebagai berikut:

49
Penelitian dan Publikasi Hasil Penelitian
Kegiatan penelitian merupakan salah satu kriteria dalam PROPER. Jika hasil penelitiannya diterbitkan dalam jurnal
ilmiah baik nasional maupun internasional maka akan mendapatkan point nilai. Oleh karena itu Taman Kehati perlu
menjalin kerjasama di bidang penelitian dan pengembangan serta penerbitan publikasi. Taman Kehati harus
terbuka bagi siapa saja yang berminat melakukan kegiatan penelitan berkaitan dengan program Taman Kehati.
Penelitian dapat dilakukan oleh peneliti dari lembaga penelitian, maupun oleh mahasiswa yang sedang menyusun
skripsi atau tugas akhir.

Kegiatan penelitian yang dapat dikerjasamakan antara lain tentang pemantauan satwa di dalam Taman Kehati
secara time series, pemantauan erosi dan perbaikan kesuburan tanah di Taman Kehati secara time series,
penyusunan buku dan penerbitan publikasi hasil penelitian. Tema penelitian lainnya dapat ditentukan kemudian
sesuai dengan kebutuhan.

Gambar 23.
Penandatanganan MoU
kerjasama penelitian,
pengembangan dan pelatihan
antara Taman Kehati Aqua
Danone Group dengan Pusat
Penelitian dan Pengembangan
Hutan, Kementerian
Lingkungan Hidup dan
Kehutanan.

50
Gambar 24.
Penelitian monitoring erosi di
Taman kehati (Foto di Taman Kehati
PT. TIV Babakan Pari).

Gambar 25.
Pemasangan alat pengukur curah
hujan dan kegiatan monitoring
curah hujan di Taman Kehati.

Gambar 26.
Pemasangan camera trap di
Taman Kehati untuk memonitor
keberadaan satwa sebagai
dampak adanya Taman Kehati
(Foto di Taman Kehati PT. AGM
Mekarsari).

51
Gambar 27.
Berang-berang jawa (Aonyx cinerea)
tertangkap camera trap
di Taman Kehati PT. TIV Lido.

Gambar 28.
Musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus)
tertangkap camera trap di Taman Kehati
Mekarsari.

52
Pelatihan
Pengelola Taman Kehati perlu membangun kerjasama dengan lembaga yang relevan
dan kompeten untuk penyelenggaraan pelatihan dalam rangka pemberdayaan
masyarakat. Misalnya, Aqua Danone Group telah bekerjasama dengan Pusat Penelitian
dan Pengembangan Hutan untuk pelatihan Teknik Budidaya dan inokulasi Gaharu bagi
masyarakat petani sekitar Taman Kehati. Pelatihan tematik lainnya dapat dirancang
bersama para pihak, misalnya pelatihan budidaya anggrek, budidaya kupu-kupu,
kerajinan bambu, pengolahan produk pertanian, dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan
masyarakat.

Gambar 29. Pelatihan Teknik Budidaya dan Inokulasi Gaharu untuk pemberdayaan
masyarakat, yang diselenggarakan oleh Aqua Danone Group
bekerjasama dengan Pusat Litbang Hutan, Kementerian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan.
53
Pendidikan Lingkungan Hidup dan Konservasi
Salah satu tujuan program konservasi keanekaragaman hayati melalui Taman Kehati
adalah memberikan pendidikan kepada masyarakat sekitar, terutama generasi muda,
tentang pentingnya menjaga lingkungan serta konservasi flora, fauna dan ekosistem
untuk kesejahteraan manusia. Program pendidikan lingkungan dan konservasi
sebaiknya dilakukan sejak usia dini. Oleh karena itu melalui program Taman Kehati
dapat dilakukan kegiatan pendidikan lingkungan dan konservasi kepada murid-murid
Sekolah Dasar di sekitarnya.

Program pendidikan lingkungan dan konservasi antara lain melalui pelibatan para
pelajar dalam penanaman di Taman Kehati, pembagian bibit gratis untuk taman
sekolah, lomba-lomba tematik lingkungan dan konservasi pada event-event penting,
pembagian brosur dan/atau poster. Pendidikan lingkungan dan konservasi dapat
dilaksanakan melalui kerjasama dengan lembaga yang kompeten seperti di kebun raya
dan sekolah-sekolah di sekitar Taman Kehati.

Gambar 30. Acara pendidikan lingkungan anak-anak Gambar 31. Brosur untuk pendidikan lingkungan akan
Sekolah Dasar di Taman Kehati terus di-update dengan berbagai
54 Mekarsari. informasi terbaru.
Rehabilitasi Lahan Kritis dan Restorasi Kawasan
Konservasi.
Perusahaan swasta yang memiliki komitmen produksi hijau, tidak hanya dapat
membangun Taman Kehati tetapi juga dapat ikut serta dalam program-program
penghijauan, rehabilitasi lahan kritis di Daerah Aliran Sungai (DAS) dan restorasi
kawasan konservasi. Banyak perusahaan swasta telah ikut terlibat dalam rehabilitasi
dan restorasi kawasan konservasi misalnya di TN. Gunung Gede-Gunung Pangrango,
TN. Gunung Halimun-Salak, TN Gunung Ciremai dan TN. Gunung Merapi. Demikian juga
program rehabilitasi lahan kritis di DAS, antara lain sudah dilakukan di DAS Ciliwung
dan Cisadane, DAS Cimanuk dan DAS Cipunegara.

Pembinaan dan Konsultasi Teknis


Dalam rangka pembinaan, pengelola Taman Kehati dapat secar rutin berkordinasi dan
berkonsultasi dengan pihak-pihak yang berwenang dan memiliki kompetensi, seperti
Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Hutan dan pengelola Kebun Raya terdekat serta lembaga pengelola
konservasi sumberdaya alam seperti taman nasional dan Balai Konservasi Sumber
Daya Alam yang terdekat.

Pengadaan Bibit
Bibit pohon asli dan langka untuk memperkaya koleksi Taman Kehati masih sulit
didapatkan, oleh karena itu pengadaannya perlu bekerjasama dengan lembaga-
lembaga yang kompeten seperti Pusat Litbang Hutan, Balai Pengelolaan DAS, Kebun
Raya, dan pengelola kawasan konservasi terdekat.

55
Adopsi pohon
Adopsi pohon merupakan salah satu bentuk kemitraan dalam pembangunan dan pengelolaan Taman Kehati.
Program adopsi pohon dilaksanakan di Taman Kehati, dimana setiap pohon ada pengasuhnya, yaitu orang yang
menanam dan mengasuh (memantau tumbuh kembang dan kesehatan pohon hingga pohon dewasa). Pola asuhan
biasanya dalam bentuk menanam dan/atau menyumbang bibit serta biaya pemeliharaan. Untuk program anak-anak
sekolah, adopsi bisa dalam bentuk melibatkan mereka menanam dan memelihara secara berkala. Sebagai
imbalannya, nama mereka dicantumkan bersama nama pohon yang diadopsinya. Untuk para pejabat dan
pengusaha, adopsi pohon biasanya tidak hanya dalam bentuk keterlibatan dalam penanaman tetapi juga disertai
sumbangan biaya pembelian bibit dan pemeliharannya.

Dengan pola adopsi pohon bagi anak-anak sekolah dan masyarakat, dapat menumbuhkan rasa memiliki dan
meningkatkan rasa cinta terhadap lingkungan. Agar berdampak luas bagi peningkatan kesadaran lingkungan,
program adopsi pohon dilaksanakan bersamaan dengan peringatan hari-hari penting seperti “hari lingkungan
hidup”, “hari menanam pohon”, “hari hutan internasional”, “hari konservasi alam nasional”, “hari cinta puspa dan
satwa nasional” dan peringatan hari penting lainnya, misalnya hari ulang tahun perusahaan atau lembaga.

Gambar 32. Adopsi pohon oleh tokoh masyarakat Gambar 33. Adopsi pohon oleh anak-anak sekolah
(Foto di Taman Kehati PT. AGM Mekarsari). (Foto di Taman Kehati PT. TIV Babakan Pari).
56
Wisata alam
Salah satu manfaat dari Taman Kehati adalah untuk wisata alam. Di
masa mendatang, ketika Taman Kehati Telah berkembang dan
mapan, secara ekologis dan estetika lanskap, tidak menutup
kemungkinan areal ini akan menjadi areal wisata alam untuk
masyarakat sekitarnya. Untuk itu, pengelolaan wisata alam di
Taman Kehati dapat dilaksanakan dengan pola kemitraan dengan
kelompok masyarakat setempat.

Taman Kehati di lingkungan perusahaan bisa menjadi wahana


refreshing dan gathering bagi para karyawan di akhir pekan atau
akhir bulan. Pertemuan informal atau rapat-rapat yang tidak Gambar 34. Pertemuan informaal di areal terbuka
Taman Kehati memberikan suasana
memerlukan perangkat listrik juga bisa dilakukan di area terbuka di berbeda dan bisa lebih produktif
dalam Taman Kehati, untuk memberikan suasana berbeda dan dapat (Foto di Taman Kehati PT. TIV
melahirkan ide-ide baru atau inspirasi. Babakan Pari).

Gambar 35. Taman Kehati bisa menjadi wahana wisata alam bagi Gambar 36. Taman Kehati sebagai wahana
anak-anak sekolah dasar, sekaligus sebagai sarana studi banding (Foto di Taman
pendidikan lingkungan hidup (Foto di Taman Kehati Kehati PT. AGM Mekarsari).
57
PT. TIV Babakan Pari).
Buku Rencana dan Program Pengembangan dan Pengelolaan Taman Kehati sekurang-
kurangnya memiliki Daftar Isi sebagai berikut:

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Peraturan Perundangan yang Mendasari
C. Tujuan
D. Manfaat Taman Kehati
PENETAPAN TAPAK
A. Luas, Lokasi dan Status Tapak
B. Kondisi Bio-Fisik Tapak
1. Kondisi Vegetasi (Tutupan Lahan)
2. Satwaliar
3. Tanah dan Topografi
4. Iklim
5. Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Hidrologi
C. Kondisi Demografi dan Sosial Ekonomi
1. Penduduk
2. Sosial Ekonomi
PENETAPAN TUMBUHAN LOKAL
A. Spesies Tumbuhan Lokal (Tapak)
B. Spesies Referensi Ekosistem Terdekat
C. Persediaan Bibit Pohon
D. Spesies Flora Unggulan Konservasi Taman Kehati
E. Spesies Fauna Unggulan Konservasi Taman Kehati
PEMBUATAN DESAIN TAMAN KEHATI
A. Desain Vegetasi
1. Desain Vegetasi Berbasis Ekosistem
2. Desain Zonasi Tematik Vegetasi
B. Desain Infrastruktur Sarana Prasarana
1. Jalan Akses dan Jalan Pemeliharaan
2. Drainase/Irigasi
3. Penguat Tebing
4. Persemaian/Pembibitan
5. Pos Pemantau
6. Papan Nama Taman Kehati
7. Papan Label Identitas Pohon
8. Papan Interpretasi
9. Gazebo
10. Museum Bambu
ORGANISASI PELAKSANA
PENANAMAN DAN PEMELIHARAAN
A. Pengadaan Bibit
B. Penyiapan Lahan
C. Penanaman
D. Penataan Tanaman Koleksi
E. Pemeliharaan
Gambar 37. PROGRAM KEMITRAAN
A. Adopsi Pohon
Contoh buku rencana dan B. Pendidikan Lingkungan dan Konservasi
program pengembangan C. Penelitian dan Pengembangan
D. Pelestarian Tanaman Langka
dan pengelolaan Taman E. Pelatihan
Kehati . F. Rehabilitasi Lahan Kritis, Daerah Aliran Sungai dan Kawasan Konservasi.
G. Pembinaan dan Konsultasi Teknis Pengelolaan Taman Kehati

58 H. Pengembangan Wisata Taman Kehati


TATA WAKTU PELAKSANAAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
7
Pemantauan dan
Evaluasi
Pemantauan dan evaluasi Taman Kehati perlu dilakukan sebagaimana diamanatkan oleh Permen LH No. 3 Tahun
2014 Pasal 14. Pemantauan adalah kegiatan pengumpulan informasi secara rutin atau periodik untuk melihat kinerja
semua pelaksana program dan memastikan seluruh kegiatan dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana yang
ditetapkan serta sesuai dengan biaya yang dialokasikan. Laporan monitoring biasanya dibuat dalam periode
bulanan, tri wulan, catur wulan atau semester dan isinya mencakup output, hasil kegiatan (aktivitas), dan
penggunaan input sumberdaya (manusia, waktu, uang dan material).

Pemantauan adalah bagian fungsi internal dari proyek atau organisasi, yaitu suatu fungsi berkelanjutan yang
menggunakan pengumpulan data secara sistematik dari indikator-indikator yang telah ditetapkan dalam rangka
memberi pihak manajemen dan stakeholders tentang sejauh mana capaian dari tujuan dan kemajuan dalam
penggunaan sumberdaya (input). Indikator-indikator yang ditetapkan selama fase perencanaan proyek biasanya
meliputi komponen-komponen sebagai berikut:
(1) Apa objek komponentTaman yang akan diukur?
(2) Unit ukuran yang digunakan untuk menggambarkan perubahan (misalnya persentase).
(3) Status sebelumnya atau baseline. Misalnya pada tahun 2010 nilainya 10%.
(4) Ukuran, arah dan dimensi dari perubahan yang diinginkan (misalnya 30% pada tahun 2012).
(5) Kualitas atau standar perubahan yang ingin dicapai (misalnya peningkatan presentase menjadi lebih tinggi)
(6) Sasaran yang dimonitor (misalnya : tanaman, satwa dan lain-lain)
(7) Jangka waktu (misalnya periode Januari 2010 – Januari 2011)

59
Menurut Permen LH No. 3 Tahun 2014 Pasal 14, hal-hal yang perlu dipantau dan dicatat sebagai dampak dari
kegiatan Taman Kehati antara lain sebagai berikut :
(1) Persen tumbuh tanaman
(2) Pertumbuhan diameter dan tinggi jenis-jenis pohon target konservasi
(3) Waktu berbunga dan berbuah jenis-jenis pohon target konservasi
(4) Dinamika keanekaragaman jenis satwa secara temporal.

Evaluasi adalah suatu kegiatan untuk menilai hasil pelaksanaan program dan kegiatan yang telah dilakukan dan
melihat realisasi capaian maupun dampaknya. Evaluasi dilakukan untuk memastikan bahwa program dan kegiatan
telah dilaksanakan sesuai dengan target yang diharapkan, dengan metode dan penggunaan sumberdaya yang
benar. Evaluasi membantu para pihak mengambil pembelajaran, pemahaman, dan menunjukkan tingkat
pencapaian. Evaluasi berfokus pada outcome dan keterkaitannya dengan output. Dalam evaluasi yang dilihat
adalah efisiensi, efektifitas dan dampak.

Evaluasi adalah penilaian sistematik dan obyektif dari suatu program atau kebijakan, baik yang masih berlangsung
maupun yang sudah selesai, meliputi rencana, implementasi dan hasilnya. Evaluasi lebih menekankan pada
penilaian outcome dan dampak (impact) daripada output-output yang telah dihasilkan. Evaluasi harus memenuhi
kriteria :
(1) Obyektif
(2) Efesiensi
(3) Efektifitas
(4) Dampak (impact)
(5) Keberlanjutan (sustainability)

60
Pedoman pemantauan dan evaluasi Taman Kehati dapat mengacu pada Buku “Sistem
Monitoring Dan Evaluasi Keanekaragaman Hayati Di Taman Kehati” (Gunawan et al.
2015). Menurut Gunawan et al. (2015) pemantauan dan evaluasi Taman Kehati
dimaksudkan untuk:
(1) Membantu pengambil keputusan dan pelaksana program perlindungan
keanekaragaman hayati di Taman Kehati untuk mengetahui kemajuan dan
perkembangan yang telah dicapai.
(2) Membantu pelaksana program untuk memeriksa apakah suatu kegiatan
berhasil diselesaikan sesuai dengan rencana atau tidak.
(3) Membantu pelaksana program untuk mengambil tindakan perbaikan atas
masalah yang ditemukan di lapangan.
(4) Mendokumentasikan berbagai pengalaman yang muncul dalam pelaksanaan
program dan dapat mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut.

Tujuan pemantauan dan evaluasi keberhasilan pengembangan dan pengelolaan


Taman Kehati adalah untuk (Gunawan et al. 2016):
(1) Memastikan pembangunan dan pengelolaan Taman Kehati sesuai dengan
prinsip dan ketentuan yang ditetapkan.
(2) Memastikan Taman Kehati memberikan manfaat langsung dan tidak langsung
bagi pelestarian flora dan fauna dan peningkatan kesadaran masyarakat akan
pentingnya konservasi keanekaragaman hayati.
(3) Memastikan pelaksanaan program dan kegiatan sesuai dengan rencana dan
memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.
(4) Memastikan para pihak yang terlibat dalam pengelolaan keanekaragaman
hayati dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya secara baik sesuai
dengan fungsinya masing-masing.
(5) Memberikan penilaian independen terhadap pelaksanaan program
perlindungan keanekaragaman hayati di Taman Kehati.

61
Gambar 38. Pemasangan label kendali monitoring dan pengukuran diameter pohon secara berkala
di Taman Kehati.

62
8
Pengembangan
Data Base
Sistem informasi keanekaragaman hayati yang dibangun menyertai Taman Kehati adalah
Pangkalan Data Berbasis Satelit atau Geolokasi. Pangkalan data tersebut memuat data
dan informasi sebagaimana yang disebutkan dalam Lampiran II Permen LH No. 3 Tahun
2012 (Pasal 12, Permen LH No. 12 Tahun 2012), yaitu :
(a) Gambar foto koleksi berupa bentuk keseluruhan tumbuhan daun, bunga, dan
buah;
(b) Nama lokal yang dipakai di daerah tersebut dan Nama umum indonesia;
(c) Nama ilmiah yang baku (valid) (genus, spesies, Author);
(d) Klasifikasi baku yang dipakai dengan menyebut sumber publikasinya;
(e) Ciri-ciri morfologi berupa pertelaan terhadap bentuk pohon, daun, bunga, Buah.
Kapan berbunga dan berbuahnya di alam dan jika ada di Taman Kehati;
(f) Geolokasi yaitu pemberian data lokasi tempat koleksi dari setiap individu Yang
ditanam, meliputi Koordinat; Ketinggian dan Nomor koleksi;
(g) Asal usul koleksi tanaman meliputi:
1. Nama kampung; Desa; Kecamatan; Kabupaten; Provinsi;
2. Koordinat dan Ketinggian;
(h) Sebaran tumbuhan koleksi secara global dan informasi koleksi tersebut endemik,
dengan menyebutkan referensi publikasinya;
(i) Data habitat alami tumbuhan koleksi dengan referensi publikasinya;
(j) Metode untuk memperbanyak tumbuhan koleksi;

63
(k) Manfaat Taman Kehati bagi masyarakat setempat, lingkungan hayati dan non hayati, serta potensi manfaat yang
dapat dikembangkan lebih lanjut;
(l) Tanggal penanaman koleksi berupa informasi kapan dikumpulkan, ditanam untuk mengetahui umur koleksi.

Gambar 39.
Contoh pertelaan jenis pohon
di dalam buku pangkalan data.

Gambar 38. Contoh buku pangakalan data.


64
Buku pangkalan data berisi informasi sebagai berikut
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan dan Manfaat
II. METODE
A. Identifikasi dan Determinasi
B. Geolokasi atau Geotagging
C. Labeling
D. Pertelaan Pohon
E. Pemetaan Sebaran Spasial Pohon
F. Papan Identitas Pohon
III. PROFIL TAMAN KEHATI
A. Keadaan Umum
1. Letak, Luas dan Status
2. Iklim
3. Tanah dan Topografi
4. Hidrologi dan DAS
B. Zonasi Taman Kehati
C. Spesies Unggulan
1. Spesies Flora Unggulan I
2. Satwaliar Unggulan
D. Tema Taman Kehati
1. Satwaliar Unggulan
2. Spesies Fauna Unggulan
IV. PANGKALAN DATA POHON
A. Jenis-Jenis Koleksi Pohon
B. Kategorisasi
C. Indeks Keanekaragaman Jenis (Diversity Index) dan Kemerataan
Jenis (Evenness Index)
D. Pemasangan Papan label Identitas Pohon
E. Pertelaan Jenis
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
65
66 Gambar 41. Contoh pertelaan jenis
9
Penutup

Membangun taman bertujuan menciptakan keindahan, oleh karena itu diperlukan cita
rasa seni yang tinggi untuk menghadirkan view yang indah melalui pengaturan jenis
tanaman, struktur, komposisi dan pola pengaturan ruang. Membangun Taman Kehati,
tidak saja menonjolkan aspek keindahan tetapi juga mengutamakan prinsip
perlindungan, pengawetan dan kelestarian manfaat dari keanekaragaman hayati, baik
tumbuhan maupun hewan yang hidup di dalamnya.

Taman Kehati tidak saja menghadirkan unsur estetik (indah), tetapi juga aspek saintifik
(ilmiah), edukatif (memberikan pembelajaran), rekreatif dan amenity (kenyamanan).
Oleh karena itu, Taman Kehati perlu dirancang oleh beberapa ahli seperti ahli
konservasi keanekaragaman hayati, ahli budidaya pohon dan arsitekur pertamanan.

Dengan kerendahan hati, penulis memberanikan diri berbagi pengalaman dalam


membangun Taman Kehati, semata-mata bukan untuk menggurui apalagi menjadikan
buku ini sebagai pakem, namun dalam semangat mendukung program pemerintah
melestarikan keanekaragaman hayati asli Indonesia yang semakin terancam. Semoga
buku ini dapat memberikan inspirasi dan manfaat bagi siapa saja untuk ikut berperan
aktif melestarikan keanekaragaman hayati Indonesia.

67
Ucapan Terima Kasih

Penulis menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada PT. Aqua Golden


Mississippi yang telah membiayai penyusunan dan penerbitan buku ini. Terima kasih
juga disampaikan kepada :
1. Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial, Kementerian Lingkungan Hidup
dan Kehutanan.
2. Kepala Sub Direktorat Lahan Basah dan Taman Kehati, Kementerian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan.
3. Kepala Seksi Taman Kehati, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
4. PT. Aqua Golden Mississippi Pabrik Mekarsari, Cicurug, Sukabumi (Kontributor
Biaya).
5. PT. Tirta Investama Pabrik Babakan Pari, Cidahu, Sukabumi (Kontributor data).
6. PT. Tirta Investama Pabrik Ciherang, Caringin, Bogor (Kontributor data).
7. PT. Tirta Investama Lido, Cigombong, Bogor (Kontributor data).
8. PT. Tirta Investama Pabrik Subang (Kontributor data).
9. Irsa Muthia (Kontributor foto)
10. Syarofah Aini (Kontributor foto)
11. Andi Suhandi (Kontributor foto)
12. Prof. Dr. M. Bismark, M.S. (Editor isi)
13. Prof. Dr. Ir. Nina Mindawati, M.S. (Editor isi)
14. Tatang Rohana (Desain sampul dan tata letak isi)
70
68 15. Vivin S. Sihombing dan Ania Rianti (Teks editor)
Daftar Pustaka

Departemen Kehutanan. 2006. Handbook CITES. Departemen Kehutanan, Jakarta.


Hedges, S., Duckworth, J.W., Timmins, R.J., G. Semiadi & A.P. Priyono. 2008. Rusa
timorensis. In: IUCN. IUCN Red List of Threathened Species.
(www.iucnredlist.org). Downloaded on 05 November 2008.
Kershaw, K.A. 1973. Quantitative and Dynamic Plant Ecology (second edition). Edward
Arnol. London.
Kurniaty, K. dan Danu. 2012. Teknik Persemaian. Balai Penelitian Teknologi
Perbenihan Tanaman Hutan. Bogor.
Kusmana & Istomo, 1995. Ekologi Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P. 19/Menhut-II/2005 tentang Penangkaran
Tumbuhan dan Satwa Liar,
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.52/Menhut-II/2006 tentang Peragaan Jenis
Tumbuhan dan Satwa Liar Dilindungi Menteri Kehutanan.
Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P.31/Menhut-II/2012
tentang Lembaga Konservasi.
Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.69/Menhut-II/2013
tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.19/Menhut-
II/2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar.
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 06 Tahun 2014
tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan
Lingkungan Hidup.
Departemen Kehutanan. 2006. Handbook CITES. Departemen Kehutanan, Jakarta.
69
Hedges, S., Duckworth, J.W., Timmins, R.J., G. Semiadi & A.P. Priyono. 2008. Rusa timorensis. In: IUCN. IUCN Red
List of Threathened Species. (www.iucnredlist.org). Downloaded on 05 November 2008.
Kershaw, K.A. 1973. Quantitative and Dynamic Plant Ecology (second edition). Edward Arnol. London.
Kurniaty, K. dan Danu. 2012. Teknik Persemaian. Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan. Bogor.
Kusmana & Istomo, 1995. Ekologi Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P. 19/Menhut-II/2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar,
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.52/Menhut-II/2006 tentang Peragaan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar
Dilindungi Menteri Kehutanan.
Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P.31/Menhut-II/2012 tentang Lembaga Konservasi.
Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.69/Menhut-II/2013 tentang Perubahan Atas Peraturan
Menteri Kehutanan Nomor P.19/Menhut-II/2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar.
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 06 Tahun 2014 tentang Program Penilaian
Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 03 Tahun 2012 tentang Taman
Keanekaragaman Hayati.
Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang : Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa
Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang : Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
Richard & Steven, 1988. Forest Ecosystem : Academic Press. San Diego. California.
Soerianegara, I dan Indrawan, A. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Laboratorium Ekologi. Fakultas Kehutanan.
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 48 Tahun 1989 tanggal 1 September 1989 tentang Pedoman
Penetapan Identitas Flora dan Fauna Daerah.
Undang Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang : Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Convention on
Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai keanekaragaman Hayati)

70
Lampiran 1.
Jenis-jenis pohon penghasil kayu yang dikoleksi di Taman Kehati PT. AGM Mekarsari
Status
No. Nama Latin Nama Lokal Famili Redlist Asal
IUCN
1 Agathis borneensis L. Damar Araucariaceae EN Asli
2 Cananga odorata (Lam.) Hook.f. & Thomson Kenanga Annonaceae NE Asli
3 Canarium indicum L. Kenari Burseraceae NE Asli
4 Ceiba pentandra (L.) Gaertn. Randu Malvaceae NE Introduksi
5 Cinnamomum burmanii Nees ex Blume Kayu manis Lauraceae NE Asli
6 Intsia bijuga (Colebr.) O.K Merbau Fabaceae VU Asli
7 Maesospsis emenii Engl. Kayu Afrika Rhamnaceae NE Intro
duksi
8 Myristica fragrans Houtt. Pala Myristicaceae DD Asli
9 Palaquium amboinense Burck Getah perca Sapotaceae NE Asli
10 Paraserianthes falcataria (L.) I.C. Nielsen Sengon Fabaceae NE Asli
11 Parkia timoriana (DC.)Merr. Kedaung Fabaceae NE Asli
12 Peronema canescens Jacq. Sungkai Verbenaceae NE Asli
13 Pinus merkusii Jungh.& de Vriese Pinus Pinaceae VU Asli
14 Pometia pinnata J.R. Forst. & G. Forst. Matoa Sapindaceae NE Asli
15 Pongamia pinnata (L.) Pierre Honge Fabaceae LC Asli
16 Pterocarpus indicus Willd. Angsana Fabaceae VU Asli
17 Samanea saman(Jacq.) Merr. Trembesi Fabaceae NE Introduksi
18 Sterculia foetida L Kepuh Malvaceae NE Asli
19 Swietenia macrophylla King Mahoni Meliaceae VU Introduksi
20 Tectona grandis L. Jati Verbenaceae NE Asli
21 Toona sureni (Bl.) Merr. Suren Meliaceae NE Asli
72
Lampiran 2.
Jenis-jenis tanaman buah-buahan di Taman Kehati PT. AGM Mekarsari.
Status
No. Nama Latin Nama Lokal Famili Redlist Asal
IUCN
1 Annona muricata L. Sirsak Annonaceae NE Introduksi
2 Antidesma bunius (L.) Spreng Buni Euphorbiaceae NE Asli
3 Artocarpus heterophyllus Lam. Nangka Moraceae NE Introduksi
4 Averrhoa bilimbi L. Belimbing wuluh Oxalidaceae NE Asli
5 Averrhoa carambola L. Belimbing Averrhoaceae NE Asli
6 Baccaurea dulcis (Jack) Müll.Arg. Rambai Phyllanthaceae NE Asli
7 Citrus hystrix DC. Jeruk purut Rutaceae NE Asli
8 Citrus maxima (Burm. f.) Osbeck Jeruk bali Rutaceae NE Asli
9 Diospyros blancoi A.DC Bisbul Ebenaceae NE Asli
10 Durio zibethinus Murray Durian Malvaceae NE Asli
11 Garcinia mangostanaL Manggis Clusiaceae NE Asli
12 Garcinia xanthochymus Hook. f. ex T. Anderson Asam gelugur Clusiaceae NE Asli
13 Lansium domesticum Corr. Duku Meliaceae NE Asli
14 Litchi chinensis Sonn. Leci Sapindaceae NE Introduksi
15 Mangifera indica L. Mangga Anacardiaceae DD Asli
16 Mangifera kemanga Blume Kemang Anacardiaceae NE Asli
17 Manilkara zapota (L.) P.Royen Sawo Sapotaceae NE Introduksi
18 Nephelium lappaceum L. Rambutan Sapindaceae LC Asli
19 Parkia speciosa Hassk. Pete Fabaceae NE Asli
20 Pometia pinnata J.R. Forst. & G. Forst. Matoa Sapindaceae NE Asli
21 Psidium guajava L. Jambu batu Myrtaceae NE Introduksi
22 Salacca zalacca (Gaertn.) Voss Salak Arecaceae NE Asli
23 Spondias dulcis Soland. ex Forst. f. Kedondong Anacardiaceae NE Asli
24 Syzygium cumini (L.) Skeel Jamblang Myrtaceae NE Asli
25 Syzygium jambos L. (Alston) Jambu mawar Myrtaceae NE Asli
26 Syzygium javanicum Miq. Jambu air Myrtaceae NE Asli
27 Syzygium malaccense (L.) Merr. & Perry, Jambu bol Myrtaceae NE Asli
28 Syzygium samarangense (Blume) Merr. &L.M. Perry Jambu air semarang Myrtaceae NE Asli
73
Lampiran 3.
Koleksi jenis-jenis pohon bernilai sosial dan budaya bagi masyarakat sekitar
selain penghasil kayu dan buah di Taman Kehati PT. AGM Mekarsari.
Status
No. Nama Latin Nama Lokal Famili Asal
Redlist IUCN

1 Archidendron pauciflorum (Benth.) I.C.Nielsen Jengkol Mimosaceae NE Asli

2 Areca catechu L. Pinang Arecaceae NE Introduksi

3 Arenga pinnata (Wurmb ) Merr. Aren Arecaceae NE Asli

4 Cocos nucifera L. Kelapa Arecaceae NE Asli

5 Coffea arabica L. Kopi Rubiaceae NE Introduksi

6 Gnetum gnemon L. Melinjo Gnetaceae LC Asli

7 Parkia speciosa Hassk. Pete Fabaceae NE Asli

8 Myristica fragrans Houtt. Pala Myristicaceae DD Asli

74
Lampiran 4.

Jenis-jenis pohon yang menjadi habitat satwaliar di Taman Kehati PT. AGM Mekarsari

No Nama Latin Nama Lokal Satwa Pengguna Redlist Asal Strata


1 Agathis borneensis L. Damar Tempat berlindung burung, bunglon EN Asli A
cecak terbang
2 Antidesma bunius (L.) Spreng Buni Makanan Luwak, kuskus NE Asli C
3 Archidendron pauciflorum (Benth.) Jengkol Tempat bersarang burung NE Asli C
I.C.Nielsen
4 Areca catechu L. Pinang Nektar bagi burung dan serangga NE Introduksi C
5 Arenga pinnata (Wurmb) Merr. Aren Makanan musang NE Asli D
Artocarpus elastica Reinw. Tempat berlindung burung, bunglon,
6 Benda cecak terbang NE Asli A
7 Baccaurea dulcis (Jack) Müll.Arg. Rambai Makanan Luwak, kuskus NE Asli D
8 Canarium indicum L. Kenari Makanan tupai NE Asli B
9 Ceiba pentrandra (L.) Gaertn. Randu Nektar bagi burung dan serangga NE Introduksi A
10 Citrus hystrix DC. Jeruk purut Nektar bagi burung dan serangga NE Asli D
11 Citrus maxima (Burm. f.) Osbeck Jeruk balli Nektar bagi burung dan serangga NE Asli C
Nektar bagi burung dan serangga,
12 Cocos nucifera L. Kelapa NE Asli C
buah makanan tupai
13 Kopi Nektar bagi burung dan serangga, NE D
Coffea arabica L. Introduksi
buah makanan luwak
14 Crescentia cujete L. Maja, Brenuk NE Introduksi C
15 Cyathea contaminans (Wall. ex Hook.) Copel. Paku pohon NE Asli B
16 Delonix regia (Boj. Ex Hook) Raf. Flamboyan Nektar bagi burung dan serangga LC Introduksi D
17 Durio zibethinus Murray Durian Nektar bagi burung dan kelelawar NE Asli A
Buah makanan burung, pohon
18 Ficus benjamina L. Beringin tempat berlindung, bersarang NE Asli A
burung dan satwa lain.
19 Filicium decipiens (Wight & Arn.) Thwaites Keray payung Pohon tempat berlindung,
bersarang burung NE Introduksi C
20 Gliricidia sepium (Jacq.) Kunth ex Walp. Gamal Nektar bagi burung dan serangga NE Asli C
Gnetum gnemon L. Melinjo Pohon tempat berlindung, bersarang
21 burung LC Asli C
22 Ixora javanica (Blume) DC. Soka lokal Nektar bagi burung dan serangga NE Asli D
23 Livistona rotundifolia (Lam.) Mart. Palem payung Nektar bagi burung dan serangga NE Asli B
Nektar bagi burung dan serangga,
24 Maesospsis eminii Engl. Kayu Afrika NE Introduksi B
buah makanan burung, tupai.
25 Mangifera foetida Lour. Bacang Nektar bagi burung dan serangga LC Asli A
26 Mangifera indica L. Mangga Nektar bagi burung dan serangga DD Asli A
75
Jenis-jenis pohon yang menjadi habitat satwaliar di Taman Kehati PT. AGM Mekarsari
No Nama Latin Nama Lokal Satwa Pengguna Redlist Asal Strata
27 Mangifera kemanga Blume Kemang Nektar bagi burung dan serangga NE Asli A
28 Manilkara zapota (L.) P.Royen Sawo Nektar bagi burung dan serangga, NE Introduksi A
buah makanan luwak
29 Melicope glabra (Blume). T.G. Hartley Nektar bagi burung dan serangga NE Asli C
30 Myristica fragrans Houtt. Pala Makanan tupai DD Asli C
31 Nephelium lappaceum L. Rambutan Makanan luwak, kelelawar LC Asli B
Paraserianthes falcataria (L.) I.C. Nielsen Sengon Tempat mencari makan burung dan
32 serangga NE Asli B
33 Parkia timoriana (DC.) Merr. Kedaung Pohon tempat bersarang burung NE Asli B
34 Pinus merkusii Jungh.& de Vriese Pinus Makanan tupai VU Asli B
Makanan kelelawar, pohon tempat
35 Pometia pinnata J.R. Forst. & G. Forst. Matoa NE Asli A
berlindung burung, bunglon
36 Psidium guajava L. Jambu batu Makanan kelelawar NE Introduksi C
37 Roystonea elata (W.Bartram ) F.Harper Palem raja Nektar bagi burung dan serangga NE Introduksi C
Temppat bersarang tikus,
38 Salacca zalacca (Gaertn.) Voss Salak buah dimakan tikus, tupai NE Asli D
39 Spathodea campanulata Beauv Ki Acret Nektar bagi burung dan serangga NE Introduksi B
40 Sterculia foetida L Kepuh Tempat berlindung burung dan NE Asli B
kelelawar
41 Syzygium cumini (L.) Skeel Jamblang Makanan burung, luwak NE Asli B
Nektar bagi burung dan serangga,
42 Syzygium jambos L. (Alston) Jambu mawar buah makanan burung, kelelawar NE Asli C
dan luwak
Nektar bagi burung dan serangga,
43 Syzygium javanicum Miq. Jambu air buah makanan burung, kelelawar NE Asli C
dan luwak
Nektar bagi burung dan serangga,
44 Syzygium malaccense (L.) Merr. & Perry, Jambu bol buah makanan burung, kelelawar NE Asli C
dan luwak
Syzygium samarangense (Blume) Merr. Jambu air Nektar bagi burung dan serangga,
45 &L.M. Perry semarang buah makanan burung, kelelawar NE Asli C
dan luwak

76
Tentang Penulis

Dr. Ir. Hendra Gunawan, M.Si. adalah Peneliti Utama di Bidang


Konservasi Sumber Daya Alam yang telah 22 tahun melakukan penelitian
keanekaragaman hayati flora fauna di Kementerian Kehutanan. Ia juga
berpengalaman sebagai penyusun AMDAL dan memegang Sertifikat Kompetensi
Ketua Penyusun AMDAL (Reg. No. K.030.02.11.016.000396) serta pernah menjadi
konsultan untuk beberapa lembaga nasional dan internasional seperti CIFOR,
WWF, DFID, BAPPENAS dan Pemerintah Daerah. Masih aktif mengajar sebagai
dosen luar biasa Mata Kuliah AMDAL dan Ekologi Satwa di Pascasarjana IPB dan
Biologi Konservasi di Pascasarjana UI, juga mengajar Diklat Fungsional Peneliti di
LIPI. Jabatan lain yang pernah dipercayakan kepadanya a.l.
Ÿ Koordinator Penelitian Integratif Konservasi dan Pemanfaatan Flora
Fauna (2014-2015)
Ÿ Ketua Kelompok Peneliti Konservasi Biodiversitas Satwa
Ÿ Dewan Riset (bidang konservasi) Badan Litbang Kehutanan
Ÿ Dewan Redaksi Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Ÿ Dewan Redaksi Journal of Rehabilitation Science
Ÿ Kelompok Kerja Kebijakan Kementerian Kehutanan.
Ÿ Member Cat Specialist Group IUCN
Ÿ Ketua Forum Konservasi Macan Tutul Jawa
Ÿ Pengurus Forum Konservasi Rafflesia dan Amorphophallus
Ÿ Saat ini aktif menjadi narasumber berbagai kegiatan terkait dengan
konservasi kenekaragaman hayati dan aktif memberikan advokasi
Program Konservasi Keanekaragaman Hayati untuk PROPER, antara lain
pada AQUA Danone Group dan PT. PERTAMINA RU VI Balongan
78
Ir. Sugiarti adalah Humas Madya di Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun
Raya Bogor LIPI. Selama lebih dari 20 tahun ia telah melakukan berbagai
kegiatan kehumasan di bidang pendidikan lingkungan dan konservasi
tumbuhan. Beberapa jabatan lain yang pernah dipercayakan kepadanya yaitu
a.l.
Ÿ Penanggung jawab kerjasama Pembangunan Replika Hutan Tropis
Ecoregion Jawa Bali di Ecopark LIPI Cibinong dengan Yayasan KEHATI,
Kementerian Kehutanan dan PT. Garuda Indonesia (Perseroan) Tbk
Ÿ Penanggung Jawab pembangunan Ecoregion Kalimantan dengan Bank
Mandiri di Ecopark LIPI Cibinong.
Ÿ Tenaga ahli program Eco Study PT Sharp Electronic Indonesia.

Ÿ Tenaga ahli revitalisasi lapangan golf Rumbai Camp, PT Caltex Pacific


Indonesia.
Ÿ Ketua Bidang Humas Perhimpunan Biologi Indonesia.

Ÿ Pengurus Forum Rafflesia dan Amorphophallus

79