Anda di halaman 1dari 6

Suatu hari, Mas Debleng bertemu dengan orang seperti gila (al-majnuni murokkab) tak jauh dari

makam seorang wali, ia berbicara tidak jelas seperti sedang bicara dengan seseorang. Dia berbicara
seperti ini:.
“Andaikan mereka tahu bahwa ada wali “tanpa nama tanpa gelar” yang memiliki kemampuan
seperti wali Qutub, niscaya mereka akan datang berbondong-bondong mencium tangan wali tanpa
nama tanpa gelar tersebut minta dido’akan hajatnya. Jika wali tanpa nama tanpa gelar itu telah wafat
niscaya mereka akan berlama-lama dipekuburannya berdzikir, berdo’a dan bermuhasabah diri
meminta ampun kepada Allah Maha Pengampun atas dosa-dosa mereka selama ini. Andaikan
mereka tahu jika mereka sami’na wa atho’na kepada wali tanpa nama tanpa gelar niscaya Allah SWT
akan angkat derajatnya, Namun sayang sekali karena wali tersebut tanpa nama dan tanpa gelar
kewalian, maka ia seringkali dilupakan dan diabaikan setiap orang”

Mas Debleng yang mendengar omongannya kaget dan bergumam, “Halah? Ada wali tanpa nama
tanpa gelar yang kemampuannya seperti wali Qutub ngarang ini orang? Sok tau, Siapakah wali
tersebut?, masa jaman gini masih ada wali”

Dengan sedikit rasa takut, Mas Debleng dekati dia karena penasaran ingin tahu siapa sebenarnya wali
tanpa nama tanpa gelar tersebut? Lalu terjadi dialog:

Mas Debleng : “Maaf Mbah, tadi saya dengar mbah berbicara panjang lebar dan berbicara tentang
wali tanpa nama tanpa gelar, siapakah sebenarnya wali tersebut mbah? Mengapa sedemikian
hebatnya wali tanpa nama tanpa gelar” tersebut hingga kemampuan dan derajatnya hampir
menyamai wali Qutub?

Orang seperti gila tersebut menoleh ke arah Mas Debleng dan matanya sedikit melotot lalu berkata:
“Sampeyan siapa? Kamu nguping omongan ku yah? Apa pentingnya kamu perlu merasa tahu tentang
wali tanpa nama tanpa gelar,” ucapnya dengan nada tinggi. Mendengar ucapan suaranya yang agak
bernada tinggi terkesan kasar membuat Mas Debleng sedikit takut dan gemetar,

“Maaf Mbah, bukan maksud saya menyinggung mbah, nama saya Debleng. Saya seorang muhibbin
pecinta para wali-wali Allah. Kadang-kadang saya dan teman-teman seperti Diro, Huda, udin, sabik,
Ahmad, Ino, berziarah ke makam para wali. Saya penasaran dan tertarik dengan wali tanpa nama
tanpa gelar yang Mbah sebutkan, kalau boleh tahu siapakah wali tersebut mbah,” tany Mas Debleng
kemudian, memberanikan diri.

Orang seperti gila itu tertawa terbahak-bahak. “Ha ha ha ha ha…..dasar bocah goblog, namanya juga
wali tanpa nama tanpa gelar, tentu saja aku tidak tahu nama wali tersebut dan apa gelar
kewaliannya. Kamu ini tampang keliatan pintar tapi ternyata goblog dan dungu, ha ha ha ha ha..”

Terasa menusuk sekali perkataannya. Dia menyebut Mas Debleng anak bodoh, goblog, dungu,
diborong semua, padahal dikampung Mas Debleng dinilai cerdas, kritis, pintar, dan luas wawasan
serta pergaulannya. Wajah Mas Debleng merah padam menahan emosi. Sepertinya Mas Debleng
salah sangka. Mas Debleng kira orang seperti gila tersebut orang yang bisa diajak dialog, tapi
nyatanya dia sebut Mas Debleng anak bodoh, goblog, dungu.

Mas Debleng memang anak bodoh, goblog, dungu. Namanya juga wali tanpa nama tanpa gelar, jadi
siapa yang tahu nama wali tersebut? Siapa yang tahu gelar wali tersebut sedangkan wali tersebut
tanpa gelar?. Merasa tidak selevel Mas Debleng akan meninggalkan orang seperti gila tersebut.
Mas Debleng pun mulai membalikkan badan dan membuang muka dengan wajah masam hendak
meninggalkan orang seperti gila tersebut.

“Hai Debleng, mau kemana sampeyan. Sampeyan ini bagaimana, sudah datang tidak mengucapkan
salam, malah pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam. Baru diejek begitu saja sudah bermuka
masam. Apakah mursyidmu yang seorang wali Qutub tidak mengajarkanmu untuk mengucapkan
salam saat datang dan pergi? Apakah mursyidmu yang seorang wali tidak mengajarkanmu untuk bisa
bersabar menahan celaan dan hina an?”

Langkah Mas Debleng terhenti, “astaghfirullah! Betul sekali,” gumam Mas Debleng dalam hati tadi ia
lupa mengucapkan salam sebelum memulai obrolan, dan Mas Debleng juga pergi begitu saja tanpa
mengucapkan salam. Dan tak sangka oleh Mas Debleng, dia menyebut mursyid Mas Debleng
seorang wali Qutub, sepertinya dia mengenal mursyid Mas Debleng .

Kemudian Mas Debleng kembali menghampirinya dan berkata “Assalammu’ alaikum wr. wb. mbah,
mohon maaf mbah atas kelancangan saya karena datang dan pergi tanpa mengucapkan salam, sekali
lagi saya mohon maaf” (sambil mencoba meraih tangannya untuk menyalami dan mencium
tangannya). Tapi orang seperti gila itu menepis tangan Mas Debleng seraya berkata'”. Mas Debleng
jadi salah tingkah. Tiba-tiba suasana hening sejenak beberapa menit. Mas Debleng diam seribu
bahasa, yang biasanya selalu paling bisa ngeles dan bersilat lidah kali ini lidahnya kaku dan orang tua
seperti gila itu pun diam. Suasana serasa seperti di kuburan, “ngapain kamu masih disini?”
Tiba-tiba suaranya memecah keheningan. Mas Debleng kaget lalu berkata, “Maaf, anu mbah…anu”.
Orang seperti gila itu menyela kalimat Mas Debleng , “anu … anu …. anu-anu apa? Ngomong yang
jelas, jangan ngomong jorok, itu anu mu ada di situ gak kemana mana masih gantung, mau pamer

Mas Debleng merasa muka nya remek dan pucat menahan malu, merasa salah tingkah dan bodoh
dihadapan orang seperti gila tersebut, dan baru kali ini kemahiran dalam ngeles dan bersilat lidah
rontok seperti macan tanpa taring. Dengan rasa sedikit menahan malu, Mas Debleng tetap
memberanikan diri untuk bertanya, “maksud saya bukan anu mbah. Maksud saya adalah ingin tahu
siapa sebenarnya wali tanpa nama tanpa gelar yang mbah katakan saat saya mencuri dengar”

Orang seperti gila bertanya, “kamu ini ternyata nggak pinter juga dan lebih banyak goblognya, sudah
berapa lama kamu belajar tassawwuf dan ngaji hakekat?”

Mas Debleng menjawab, “sudah sekitar hampir 7 tahun, mbah”

Lalu orang seperti gila itu berkata sambil menepuk pahanya, “sudah 7 tahun masa kamu ora mudeng
dan tidak tahu wali tanpa nama dan tanpa gelar, memangnya gurumu tidak ngasih tahu?”

“Saya sering membaca dan mendengar suhbah dari guru saya mbah. tapi saya belum tahu dan belum
pernah dengar ada wali tanpa nama dan tanpa gelar. Dan guru saya pun tidak pernah menyebutkan
siapa wali tersebut,” jawab Mas Debleng .

Orang seperti gila itu tertawa terkekeh-kekeh, “sebenarnya gurumu ada menyebutkannya bahkan
berulang-ulang kali menyebutkannya. Hanya kamu saja yang yang tidak memperhatikan dan tidak
paham atas maksud gurumu. Lagipula sebutannya wali tanpa nama dan tanpa gelar, jelas gurumu
tidak tahu nama wali tersebut dan tidak tahu gelar wali tersebut tapi kamu sendiri tahu siapa wali
tersebut, bahkan wali tersebut begitu dekat denganmu”.

Mas Debleng bergumam dalam hati, “Apaaa aku mengenal wali tersebut? Siapa dia?”
“Maaf mbah, siapakah yang mbah maksud?” Mas Debleng bertanya pada orang yang seperti gila,
“Mbah katakan bahwa aku mengenal wali tanpa nama dan tanpa gelar tersebut, bahkan mbah
mengatakan wali tersebut dekat denganku, siapakah yang mbah maksud?”

Orang seperti gila itu lagi-lagi tertawa terkekeh-kekeh, “he .. he … he … wali tanpa nama dan tanpa
gelar itu adalah orang tuamu sendiri. Nah sekarang aku tanya kamu, memangnya kamu kenalkan dan
sebutkan nama orang tua mu pada ku, dan manamungkin aku kenal siapa nama orangtuamu dan
gelar orangtuamu? Wong kamu juga gak ngasih tau, bener gak bleng, mana aku tahu” orang tua
seperti gila tersebut bertanya pada Mas Debleng.

Mas Debleng jadi tambah bingung lalu bertanya-tanya, “Orang tua ku wali ?”,Kemudian Mas debleng
bertanya kembali , “maksud Mbah orang tua tau adalah wali tanpa nama dan tanpa gelar? Wong
sholatnya biasa, wiridnya juga biasa-biasa, amal ibdahnya biasa-biasa tidak ada kelebihannya.
Mengapa bisa begitu mbah?”

Orang seperti gila itu mulai menatap mat Mas Debleng dengan tajam, lalu bangkit dari duduknya lalu
berkata:

“Dasar goblog, dungu, dan tidak tau berterima kasih, Apakah kau tidak tahu tentang Uwaisy al Qarni,
salah satu sahabat yang tidak pernah bertemu kanjeng Rosul Mohammad secara fisik dan beliau
adalah juga seorang wali? Apa yang menyebabkan dia memiliki derajat yang begitu agung hingga
namanya terkenal di langit walau di bumi tak ada seorang pun mengenalnya? Kau tahu!!
Sahabat Uwaisy al Qarni berkata bahwa ibunya pernah berkata dan mendo’akannya ‘anakku Uwaisy
aku tahu hatimu begitu sangat mencintai dan menginginkan dapat bertemu makhluk paling mulia
dimuka bumi ini, yakni Baginda Rosulullah Muhammad SAW, namun kini kau datang dan kembali
pada ku dengan wajah dirundung sedih karena tak berhasil menemui Baginda Rosulullah
Muhammad SAW dan kau memilih segera pulang karena memikirkan dan mengkhawatirkan kondisi
ku, ibumu ini, Nak, dan aku ibu mu ridho padamu, Ya Allah, Kau Maha Tahu, saksikanlah bahwa
sesungguhnya aku telah ridha pada anakku, maka terimalah ridhoku ya Allah dan ridhoilah anak
ku Uwaisy‘.

Kemudian orang tua seperti gila tersebut menarik nafas dalam-dalam seperti hendak menangis,
kemudian melanjutkan omongannya, “Dan apa kau tidak kau tahu bahwa Sulthanul Aulya Syeikh
Abdul Qadir Jailani di masa kecilnya ketika dirampok malah berkata jujur tentang kantung emas yang
ia bawa, perampok itu heran mengapa ia malah jujur mengatakan kantung emas yang dibawanya
pada permapok padahal setiap orang yang mereka rampok selalu berbohong tentang bawaannya
dan berusaha menyembunyikannya dari mereka, lalu kau tahu apa kata Syeikh Abdul Qadir Jailani?
beliau berkata ‘ketika Syeikh Abdul Qadir Jailani hendak bepergian menuntut ilmu, ibunya berpesan,
“ anakku, bila engkau bertemu dengan siapa pun, maka jujurlah jangan berbohong, sungguh ibu
lebih ridho bila engkau jujur sekalipun engkau harus kehilangan harta dan perbekalanmu, termasuk
nyawa mu, daripada kau harus kehilangan kejujuranmu”.

Mas Debleng tersentak kaget, wajahnya mulai pucat pasi. Teringat olehnya salah satu hadist yang
menyatakan bahwa kita harus berbuat baik dan berbakti pada orangtua kita sendiri. Bahkan Baginda
Rosulullah Muhammad SAW sampai tiga kali menyebut kata, “ibumu, ibumu, ibumu, lalu ayahmu”.

Tak disangka, ternyata Mas Debleng tertipu oleh nafsu dan egonya sendiri hingga Mas Debleng tak
tahu bahwa selama ini wali tanpa nama yang memiliki kemampuan layaknya wali Qutub adalah orang
tuanya sendiri.

Lalu orang seperti gila berkata lagi:


“Lihatlah ibumu, berapa lama dia menanggung dan menggendong kemana-kemana dirimu dalam
perutnya? Apakah kamu sanggup menahan perih dan pedih seperti dirinya hanya untuk
menginginkan kamu lahir di dunia hingga bertaruh nyawa agar kamu terlahir sehat dan selamat?
Bahkan ketika dalam kondisi darurat ia lebih rela menerima kematian agar kamu tetap hidup, apakah
kamu pernah memikirkan hal ini? Kekuatan apa yang membuat ibumu sekuat dan setabah itu
sebagaimana kekuatan awliya yang sanggup menerima dan menanggung beban yang berat? Itu
kekuatan Allah SWT yang dianugerahkan kepada ibumu melalui Rahman dan Rahim-nya. Ini adalah
sumber kekuatan para auliya”.

Mas Debleng diam seribu bahasa, rasa hatinya ini ingin menangis sejadi-jadinya, Mas Debleng
serasa disambar petir, serasa dihakimi dalam hari perhitungan .

Lalu orang seperti gila itu berkata lagi dan lagi, “kamu bangga dan takjub dengan karomah para wali
tapi pernahkah kamu banggakan dan takjub dengan karomah ibumu yang Allah SWT anugerahkan
kepada ibu mu? Pernahkah kamu bangga dan takjub dengan karomah ibumu yang mengajarkan
berkata-kata ketika masih bayi? Tidurnya sedikit karena kamu selalu nangis dan rewel sebagaimana
para auliya yang tidurnya sedikit karena memikirkan umat Baginda Rosulullah Muhammad SAW
yang banyak berkeluh kesah dan merengek, air susunya seakan-akan tak pernah habis setiap kali kau
merengek ingin netek, apakah kamu tak tahu kalau itu adalah bukti karomah ibumu? Tidakkah kamu
pernah mendengar kalimat ini: “Ridhollah fi ridhol walidain wa sukhtullah fi shukhtil walidain” Ridho
Allah terletak pada ridho kedua orangtua kemurkaan Allah terletak pada kemarahan kedua orangtua,
Ya Allah yang maha pemurah, ampunilah dosa-dosa kami, keluarga dan orang tua kami.” Para auliya,
mereka menjadi wali Qutub dikarenakan ridho dari orangtua mereka. Tidakkah kamu sadar bahwa
doa dan harapan kedua orangtuamu hampir setara dengan wali Qutub?”

“Astaghfirullah,” Mas Debleng berucap dalam hati, ia teringat beberapa waktu lalu telah melakukan
kesalahan pada orang tuanya, Mas Debleng mendengar omongan orang seperti gila tersebut seakan
petir menyambar sekujur tubuhku. Badannya terasa lemasa dan tak berdaya, ia menangis dan
menenggelamkan wajahnya sujud sambil terus berucap “astagfirullah hal adhiem, astagfirullah hal
adhiem, astagfirullah hal adhiem” air mata Mas Debleng mengalir deras suara tangis memohon
ampunan terus tak henti-henti dari bibir yang sebelumnya selalu ngeles dan bersilat lidah.

Orang seperti gila itu berdiri lalu berkata sambil menunjuk ke arah Mas Debleng, “lihat dirimu, kelak
kamu akan jadi seorang bapak, apakah kau tahu karomah bapakmu selama ini? Lihat tangannya, lihat
punggungnya, lihat kulitnya, lihat jari-jarinya, lihat sorot matanya, setiap hari ia membanting tulang
agar kau tetap bisa makan, tetap bisa tertawa, tetap tersenyum, bekerja siang dan malam hanya
untuk mengabulkan segala macam keinginan dan rengekan mu. Ketika kau kecil, dirimu melakukan
berbagai kesalahan, dialah orang yang paling depan membelamu. Ketika kau dalam bahaya, dia rela
menghadapi bahaya itu untuk menyelamatkanmu, dia tanggung bebanmu dan ibumu di pundaknya,
walau kian rapuh, dia tetap berusaha menopang. Tidakkah kamu sadari bahwa bapakmu itu seorang
Mujahid fi Sabilillah? Yang setiap hari berjuang menafkahi kehidupanmu bertahun-tahun bahkan
berpuluh tahun. Dia, bapakmu adalah mujahidin kebanggaanmu”.

“Ya Rabb,” suara lirih kembali terdengar dari mulut Mas Debleng.

Mas Debleng merasa seperti hancur lebur mendengar nasehat orang seperti gila tersebut. Bahkan
ternyata selama ini Mas Debleng yang gila, dungu dan bodoh, bukan dia. Mas Debleng melupakan
siapa sesungguhnya orang tuanya sendiri. Mas Debleng melupakan semua yang telah diberikan
orang tua nya tanpa pamrih dengan penuh kasih sayang. Bahkan Mas Debleng sering takjub akan
pesona dan karomah wali yang lain akan tetapi Mas Debleng tak pernah sadar dengan orang tua Mas
Debleng sendiri yang merupakan wali tanpa nama dan tanpa gelar kewalian, yang derajat
kewaliannya selevel dengan wali Qutub

Sesaat kemudian, orang seperti gila itu berlalu meninggalkanku tanpa sepatah katapun. Mas Debleng
mengikuti dia dari belakang dengan lantkah gontai karena masih lemas, Mas Debleng ingin tahu ke
mana dia pergi. Ternyata dia mendatangi dua gundukan tanah, dan dia duduk di sana.

Mulutnya komat kamit membaca doa kemudian berkata dengan bahasa daerah, Mas Debleng tidak
tahu apa makna yang dia ucapkan, kemudian dia tertawa terbahak-bahak sambil senyum-senyum di
hadapan dua gundukan tanah yang ternyata itu tanah kuburan, sesekali terdengar isakan.

Mas Debleng tak tahu kuburan siapa itu, namun Mas Debleng berhusnudzon mungkin itu kuburan
seorang wali besar, karena dari doa dan bahasa yang keluar dari mulutnya orang seperti gila itu
sepertinya dia tahu betul tentang wali. Jadi Mas Debleng berpikir, itu kuburan seorang wali.

Tiba-tiba, setelah selesai tertawa, dia diam, suasana menjadi hening. Kemudian Ma Debleng melihat
dia mulai menangis, meneteskan ai rmata dengan suara terisak-isak. Tangisan begitu pilu sampai
serasa menyayat seperti sembilu menyata hati Mas Debleng, tak terasa Mas Debleng pun turut
meneteskan air mata dan menangis.

Mas Debleng tak tahu apa yang diucapkannya dalam logat daerah. Ucapannya seperti sedang curhat
pada kuburan tersebut sambil tangannya mengelus-elus kuburan itu. Tangisan kian jadi bahkan
meraung. Mas Debleng sedih bercampur bingung karena tak mengerti dengan bahasa yang
diucapkannya, namun akhirnya Mas Debleng mengerti mengapa dia meraung-raung menangis di
kuburan yang kusangkakan seorang wali.

Di tengah isak tangisnya, Mas Debleng mendengar dia mengucapkan kalimat “Mae, ..., mae …,
mae”, lalu pada kuburan yang sebelahnya dia berkata “pak, ...…”. Mas Debleng menangis sejadi-
jadinya dia ingat ibunya, dia ingat bapaknya. Ternyata itu kuburan orangtuanya. Ternyata, itu kuburan
seorang wali tanpa nama tanpa gelar.

Kini Mas Debleng baru paham mengapa orang-orang mulai menganggap gila. Sebab dia sering
tertawa, menangis, meraung dan bercakap-cakap sendiri di kuburan. Seandainya Mas Debleng jadi
dia, mungkin Mas Debleng akan sama dengannya, menjadi gila karena ditinggal pergi oleh kedua
orang yang paling disayangi.

Mas Debleng membalikkan badannya, bergegas ingin pulang ke kampung untuk menemui kedua
orang tuanya.

Kita yang masih beruntung masih memiliki wali tanpa nama tanpa gelar yang masih hidup.

Sepanjang jalan Mas Debleng berdoa, allahumma firlana dzunubanna waliwalidayya


warhamhumma kama robbaya nishagiro!

Dalam perjalanan pulang dia pun ingat pernah bertengkar dan melawan kepada kedua orang tuanya
dulu. Saat ini Mas Debleng sadar mereka berdua adalah wali tanpa nama tanpa gelar, Mas Debleng
akhirnya berubah dia selalu duduk dibawah kedua orang tuanya, dia selalu banggakan orang tuanya,
dia tidak pernah mau makan sebelum orang tuanya makan, dia tidak pernah berani selalu berjalan
dibelakang orang tuanya dengan sangat merendah, suaranya semakin kecil ketika bicara dengan
orang tuanya, dia tidak pernah mendahului orang tuanya bicara, dia selalu meminta izin dan mohon
maaf apapun yang dia lakukan kepada orang tuanya, dia tidak pernah pergi sbelum dapat izin dari
orang tuanya. Tanpa mereka, Mas Debleng bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Mas Debleng
bersyukur, kesadarannya datang sebelum kedua orang tuanya meninggalkannya. Buat teman-
temanku, jika “wali tanpa nama tanpa gelar”mu telah tiada, kunjungilah mereka.