Anda di halaman 1dari 9

Nama : Mutiara ALfina

NIM : B1031191051
Kelas : Akuntansi/B
Mata Kuliah : Agama Islam

A. Sejarah Pemikiran manusia tentang ketuhanan


Dalam sejarah peradaban Yunani, tercatat bahwa pengkajian dan kontemplasi tentang
eksistensi Tuhan menempati tempat yang khusus dalam bidang pemikiran filsafat. Contoh
yang paling nyata dari usaha kajian filosofis tentang eksistensi Tuhan dapat dilihat bagaimana
filosof Aristoteles menggunakan gerak-gerak yang nampak di alam dalam membuktikan
adanya penggerak yang tak terlihat (baca: wujud Tuhan). Tradisi argumentasi filosofis
tentang eksistensi Tuhan, sifat dan perbuatan-Nya ini kemudian secara berangsur-angsur
masuk dan berpengaruh ke dalam dunia keimanan Islam. Tapi tradisi ini, mewujudkan
semangat baru di bawah pengaruh doktrin-doktrin suci Islam dan kemudian secara
spektakuler melahirkan filosof-filosof seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina, dan secara riil, tradisi
ini juga mempengaruhi warna pemikiran teologi dan tasawuf (irfan) dalam penafsiran Islam.

1. Siapakah Tuhan itu


Perkataan ilah, yang selalu diterjemahkan “Tuhan”, dalam al-Qur’an dipakai untuk
menyatakan berbagai objek yang dibesarkan atau dipentingkan manusia, misalnya dalam
surat al-Furqan ayat 43.

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai


Tuhannya ?
Tuhan (ilah) ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia
sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai olehnya. Perkataan tersebut
hendaklah diartikan secara luas oleh kita. Tercakup di dalamnya yang dipuja, dicintai,
diagungkan, diharap-harapkan dapat memberikan kemaslahatan atau kegembiraan, dan
termasuk pula sesuatu yang ditakuti akan mendatangkan bahaya atau kerugian. Ibnu
Taimiyah memberikan definisi al-ilah sebagai berikut:
Al-ilah ialah: yang dipuja dengan penuh kecintaan hati, tunduk kepadanya,
merendahkan diri di hadapannya, takut, dan mengharapkannya, kepadanya tempat
berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdo’a, dan bertawakkal kepadanya untuk
kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya, dan menimbulkan ketenangan di
saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya. (M. Imaduddin, 1989: 56).
Berdasarkan definisi di atas dapat dipahami, bahwa Tuhan itu bisa berbentuk apa
saja, yang dipentingkan oleh manusia. Yang pasti ialah manusia tidak mungkin atheis, tidak
mungkin tidak ber-Tuhan. Berdasarkan logika al-Qur’an setiap manusia pasti mempunyai
sesuatu yang dipertuhankannya. Dengan demikian, orang-orang komunis pada hakikatnya
ber-Tuhan juga.
Dalam ajaran Islam diajarkan kalimat “Laa illaha illaa Allah”. Susunan kalimat
tersebut dimulai dengan peniadaan, yaitu “tidak ada Tuhan”, kemudian baru diikuti dengan
suatu penegasan “melainkan Allah”. Hal itu berarti bahwa seorang muslim harus
membersihkan dari segala macam Tuhan terlebih dahulu, yang ada dalam hatinya hanya satu
Tuhan yang bernama Allah.

2. Pemikiran Manusia Tentang Tuhan


a. Pemikiran Barat
Yang dimaksud konsep Ketuhanan menurut pemikiran manusia adalah konsep yang
didasarkan atas hasil pemikiran baik melalui pengalaman lahiriah maupun batiniah, baik
yang bersifat penelitian rasional maupun pengalaman batin. Dalam literatur sejarah agama,
dikenal teori evolusionisme, yaitu teori yang menyatakan adanya proses dari kepercayaan
yang amat sederhana, lama kelamaan meningkat menjadi sempurna. Proses perkembangan
pemikiran tentang Tuhan menurut teori evolusionisme adalah sebagai berikut:
a. Dinamisme
Menurut paham ini, manusia sejak zaman primitif telah mengakui adanya kekuatan
yang berpengaruh dalam kehidupan. Mula-mula sesuatu yang berpengaruh tersebut
ditujukan pada benda. Setiap benda mempunyai pengaruh pada manusia, ada yang
berpengaruh positif dan ada pula yang berpengaruh negatif.
b. Animisme
Di samping kepercayaan dinamisme, masyarakat primitif juga mempercayai adanya
peran roh dalam hidupnya. Setiap benda yang dianggap benda baik, mempunyai roh. Oleh
masyarakat primitif, roh dipercayai sebagai sesuatu yang aktif sekalipun bendanya telah
mati. Oleh karena itu, roh dianggap sebagai sesuatu yang selalu hidup, mempunyai rasa
senang, rasa tidak senang, serta mempunyai kebutuhan-kebutuhan.

c. Politeisme

Kepercayaan dinamisme dan animisme lama-lama tidak memberikan kepuasan,


karena terlalu banyak yang menjadi sanjungan dan pujaan. Roh yang lebih dari yang lain
kemudian disebut dewa. Dewa mempunyai tugas dan kekuasaan tertentu sesuai dengan
bidangnya. Ada Dewa yang bertanggung jawab terhadap cahaya, ada yang membidangi
masalah air, ada yang membidangi angin dan lain sebagainya.

d. Henoteisme
Politeisme tidak memberikan kepuasan terutama terhadap kaum cendekiawan. Oleh
karena itu dari dewa-dewa yang diakui diadakan seleksi, karena tidak mungkin mempunyai
kekuatan yang sama. Lama-kelamaan kepercayaan manusia meningkat menjadi lebih
definitif (tertentu). Satu bangsa hanya mengakui satu dewa yang disebut dengan Tuhan,
namun manusia masih mengakui Tuhan (Ilah) bangsa lain. kepercayaan satu Tuhan untuk
satu bangsa disebut dengan henoteisme (Tuhan tingkat Nasional).
e. Monoteisme
Kepercayaan dalam bentuk henoteisme melangkah menjadi monoteisme. Dalam
monoteisme hanya mengakui satu Tuhan untuk seluruh bangsa dan bersifat internasional.
Bentuk monoteisme ditinjau dari filsafat Ketuhanan terbagi dalam tiga paham yaitu:
deisme, panteisme, dan teisme.

3. Pemikiran Umat Islam

Dikalangan umat Islam terdapat polemik dalam masalah ketuhanan. Satu kelompok
berpegang teguh dengan Jabariah, yaitu faham yang mengatakan bahwa Tuhan mempunyai
kekuatan mutlah yang menjadi penentu segalanya. Di lain pihak ada yang berpegang pada
doktrin Qodariah, yaitu faham yang mengatakan bahwa manusialah yang menentukan
nasibnya. Polemik dalam masalah ketuhanan di kalangan umat Islam pernah menimbulkan
suatu dis-integrasi (perpecahan) umat Islam, yang cukup menyedihkan. Peristiwa al-mihnah
yaitu pembantaian terhadap para tokoh Jabariah oleh penguasa Qadariah pada zaman
khalifah al-Makmun (Dinasti Abbasiah). Munculnya faham Jabariah dan Qadariah
berkaitan erat dengan masalah politik umat Islam setelah Rasulullah Muhammad
meninggal. Sebagai kepala pemerintahaan, Abu Bakar Siddiq secara aklamasi formal
diangkat sebagai pelanjut Rasulullah. Berikutnya digantikan oleh Umar Ibnu Al-Khattab,
Usman dan Ali.
Menurut Muktazilah, Tuhan terikat dengan kewajiban-kewajiban. Tuhan wajib
memenuhi janjinya. Ia berkewajiban memasukkan orang yang baik ke surga dan wajib
memasukkan orang yang jahat ke neraka, dan kewajiban-kewajiban lain. Pandangan-
pandangan kelompok ini menempatkan akal manusia dalam posisi yang kuat. Sebab itu
kelompok ini dimasukkan ke dalam kelompok teologi rasional dengan sebutan Qadariah.

Sebaliknya, aliran teologi tradisional (Jabariah) berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat
(sifat 20, sifat 13, dan maha sifat). Ia maha kuasa, memiliki kehendak mutlak. Kehendak
Tuhan tidak terikat dengan apapun. Karena itu ia mungkin saja menempatkan orang yang
baik ke dalam neraka dan sebaliknya mungkin pula ia menempatkan orang jahat ke dalam
surga, kalau Ia menghendaki. Dari faham Jabariah inilah ilmu-ilmu kebatinan berkembang
di sebagaian umat Islam.

4. Pemikiran Tuhan Menurut Agama-Agama Wahyu


Pengkajian manusia tentang Tuhan, yang hanya didasarkan atas pengamatan dan
pengalaman serta pemikiran manusia, tidak akan pernah benar. Sebab Tuhan merupakan
sesuatu yang ghaib, sehingga informasi tentang Tuhan yang hanya berasal dari manusia
biarpun dinyatakan sebagai hasil renungan maupun pemikiran rasional, tidak akan benar.
Informasi tentang asal-usul kepercayaan terhadap Tuhan antara lain tertera dalam:
1. QS 21 (Al-Anbiya): 92, “Sesungguhnya agama yang diturunkan Allah adalah satu,
yaitu agama Tauhid. Oleh karena itu seharusnya manusia menganut satu agama,
tetapi mereka telah berpecah belah. Mereka akan kembali kepada Allah dan Allah
akan menghakimi mereka.
Ayat tersebut di atas memberi petunjuk kepada manusia bahwa sebenarnya tidak ada
perbedaan konsep tentang ajaran ketuhanan sejak zaman dahulu hingga sekarang.
Melalui Rasul-rasul-Nya, Allah memperkenalkan dirinya melalui ajaran-Nya, yang
dibawa para Rasul, Adam sebagai Rasul pertama dan Muhammad sebagai terakhir.
Jika terjadi perbedaan-perbedaan ajaran tentang ketuhanan di antara agama-agama
adalah karena perbuatan manusia. Ajaran yang tidak sama dengan konsep ajaran
aslinya, merupakan manipulasi dan kebohongan manusia yang teramat besar.
2. QS 5 (Al-Maidah):72, “Al-Masih berkata: “Hai Bani Israil sembahlah Allah
Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu
dengan) Allah, maka pasti mengharamkan kepadanya syurga, dan tempat mereka
adalah neraka.
3. QS 112 (Al-Ikhlas): 1-4, “Katakanlah, Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah
Tuhan yang bergantung pada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula
diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
Dari ungkapan ayat-ayat tersebut, jelas bahwa Tuhan adalah Allah. Kata Allah adalah
nama isim jumid atau personal name. Merupakan suatu pendapat yang keliru, jika nama
Allah diterjemahkan dengan kata “Tuhan”, karena dianggap sebagai isim musytaq.
Tuhan yang haqiqi dalam konsep Al-Quran adalah Allah. Hal ini dinyatakan antara
lain dalam surat Ali Imran ayat 62, surat Shad 35 dan 65, surat Muhammad ayat 19. Dalam
al-quran diberitahukan pula bahwa ajaran tentang Tuhan yang diberikan kepada Nabi
sebelum Muhammad adalah Tuhan Allah juga. Perhatikan antara lain surat Hud ayat 84 dan
surat al-Maidah ayat 72. Tuhan Allah adalah esa sebagaimana dinyatakan dalam surat al-
Ankabut ayat 46, Thaha ayat 98, dan Shad ayat 4.
Dengan mengemukakan alasan-alasan tersebut di atas, maka menurut informasi al-
Quran, sebutan yang benar bagi Tuhan yang benar-benar Tuhan adalah sebutan “Allah”,
dan kemahaesaan Allah tidak melalui teori evolusi melainkan melalui wahyu yang datang
dari Allah. Hal ini berarti konsep tauhid telah ada sejak datangnya Rasul Adam di muka
bumi. Esa menurut al-Quran adalah esa yang sebenar-benarnya esa, yang tidak berasal dari
bagian-bagiandan tidak pula dapat dibagi menjadi bagian-bagian. Keesaan Allah adalah
mutlak. Ia tidak dapat didampingi atau disejajarkan dengan yang lain. Sebagai umat Islam,
yang mengikrarkan kalimat syahadat La ilaaha illa Allahharus menempatkan Allah sebagai
prioritas utama dalam setiap tindakan dan ucapannya. Konsepsi kalimat La ilaaha illa Allah
yang bersumber dari al-quran memberi petunjuk bahwa manusia mempunyai
kecenderungan untuk mencari Tuhan yang lain selain Allah dan hal itu akan kelihatan
dalam sikap dan praktik menjalani kehidupan

B. Pembuktian Wujud Adanya Tuhan


Allah sebagai wujud yang tidak terbatas, maka hakikat dirinya tidak akan pernah
dicapai, namun pemahaman tentang-Nya dapat dijangkau sehingga kita mengenal-Nya
dengan pengenalan yang secara umum dapat diperoleh, malalui jejak dan tanda-tanda yang
tak terhingga. Imam `Ali as dalam hal ini menjelaskan bahwa: “Allah tidak memberitahu
akal bagaimana cara menjangkau sifat-sifat-Nya, tapi pada saat yang sama tidak
menghalangi akal untuk mengetahui-Nya.”
Selain itu, jika kita menyelami diri kita sendiri, maka secara fitrah manusia memiliki
rasa berketuhanan. Fitrah ini tidak dapat dihilangkan, hanya saja dapat ditekan dan
disembunyikan, dengan berbagai tekanan kebudayaan, ilmu dan lainnya, sehingga
terkadang muncul pada saat-saat tertentu seperti pada saat tertimpa musibah atau dalam
kesulitan yang benar-benar tidak mampu ia mengatasinya. Pada kondisi ini, kita secara
fitriah mengharapkan adanya sosok lain yang memiliki kemampuan lebih dari kita untuk
datang dan memberikan pertolongan kepada kita.

a. Dalil Fitrah
Yaitu perasaan alami yang tajam pada manusia bahwa ada dzat yang maujud, yang
tidak terbatas dan tidak berkesudahan, yang mengawasi segala sesuatu, mengurus dan
mengatur segala yang ada di alam semesta, yang diharapkan kasih sayang-Nya dan ditakuti
kemurkaan-Nya. Hal ini digambarkan oleh Allah SWT dalam QS. 10:22.
b. Dalil Akal
Yaitu dengan tafakkur dan perenungan terhadap alam semesta yang merupakan
manifestasi dari eksistensi Allah SWT. Orang yang memikirkan dan merenungkan alam
semesta akan menemukan empat unsur alam semesta :
1. Ciptaan-Nya
Bila kita perhatikan makhluk yang hidup di muka bumi, kita akan menemukan
berbagai jenis dan bentuk, berbagai macam cara hidup dan cara berkembang biak (QS.
35:28). Semua itu menunjukkan adanya zat yang menciptakan, membentuk, menentukan
rizki dan meniupkan ruh kehidupan (QS. 29:19,20). Bagaimanapun pintarnya manusia,
tentu ia tidak akan dapat membuat makhluk yang hidup dari sesuatu yang belum ada. Allah
SWT menantang manusia untuk membuat seekor lalat jika mereka mampu (QS. 22:73).
Nyatalah bahwa tiada yang dapat menciptakan alam semesta ini kecuali Allah Yang Maha
Tinggi dan Maha Hidup.
2. Kesempurnaan
Kalau kita perhatikan, akan terlihat bahwa alam ini sangat tersusun rapi, diciptakan
dalam kondisi yang sangat sempurna tanpa cacat.Hal ini menunjukkan adanya kehendak
agung yang bersumber dari Sang Pencipta. Sebagai contoh, seandainya matahari
memberikan panasnya pada bumi hanya setengah dari panasnya sekarang, pastilah manusia
akan membeku kedinginan. Dan seandainya malam lebih panjang sepuluh kali lipat dari
malam yang normal tentulah matahari pada musim panas akan membakar seluruh tanaman
di siang hari dan di malam hari seluruh tumbuhan membeku. Firman Allah:
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali melihat pada ciptaan
Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang,
adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya
penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan
penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah.” (QS. 67:3,4)

3. Perbandingan Ukuran Yang Tepat Dan Akurat (QS. 25:2)


Alam ini diciptakan dalam perbandingan ukuran, susunan, timbangan dan
perhitungan yang tepat dan sangat akurat. Bila tidak, maka tidak akan mungkin para
ilmuwan berhasil menyusun rumus-rumus matematika, fisika, kimia bahkan biologi.
4. Hidayah (Tuntunan dan Bimbingan) (QS. 20:50)
Allah memberikan hidayah (tuntunan dan petunjuk) kepada makhluk-Nya untuk
dapat menjalankan hidupnya dengan mudah, sesuai dengan karakteristiknya masing-
masing. Pada manusia sering disebut sebagai ilham dan pada hewan disebut insting/naluri.
Eksistensi Allah terlihat dalam banyak sekali fenomena-fenomena kehidupan.
Barangsiapa yang membaca alam yang maha luas ini dan memperhatikan penciptaan langit
dan bumi serta dirinya sendiri, pasti ia akan menemukan bukti-bukti yang jelas tentang
adanya Allah SWT. Firman Allah :
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk
dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Quran itu adalah
benar.” (QS.41:53)
a. Dalil Akhlaq
Secara fitrah manusia memiliki moral (akhlaq). Dengan adanya moral (akhlaq)
inilah, ia secar naluriah mau tunduk dan menerima kebenaran agar hidupnya lurus dan
urusannya berjalan teratur dan baik. Zat yang dapat menanamkan akhlaq dalam jiwa
manusia adalah Allah, sumber dari segala sumber kebaikan, cinta dan keindahan.
Keberadaan ‘moral’ yang mendominasi jiwa manusia merupakan bukti eksistensi Allah.
(QS. 91:7-8)
b. Dalil Wahyu
Para rasul diutus ke berbagai umat yang berbeda pada zaman yang berbeda. Semua
rasul menjalankan misi dari langit dengan perantaraan wahtu. Dengan membawa bukti yang
nyata (kitab/wahyu dan mukzijat) mengajak umatnya agar beriman kepada Allah,
mengesakan-Nya dan menjalin hubungan baik dengan-Nya, serta memberi peringatan akan
akibat buruk dari syirik/berpaling dari-Nya (QS.6:91). Siapa yang mengutus mereka dengan
tugas yang persis sama? Siapa yang memberikan kekuatan, mendukung dan mempersenjatai
mereka dengan mukzijat? Tentu suatu zat yang eksis (maujud), Yang Maha Kuat dan
Perkasa, yaitu Allah. Keberadaan para rasul ini merupakan bukti eksistensi Allah.
c. Dalil Sejarah
Semua umat manusia di berbagai budaya, suku, bangsa dan zaman, percaya akan
adanya Tuhan yang patut disembah dan diagungkan. Semuanya telah mengenal iman
kepada Allah menurut cara masing-masing. Konsensus sejarah ini merupakan bukti yang
memperkuat eksistensi Allah. (QS.47:10; perkataan ahli sejarah Yunani kuno bernama
Plutarch). Terdapat beberapa cara mengenal Tuhan menurut ajaran selain Islam, diantaranya
yaitu dengan hanya mengandalkan panca indera dan sedikit akal, sehingga timbul
perkiraan-perkiraan yang membentuk filsafat-filsafat atau pemikiran tentang ketuhanan.
Filsafat dan pemikiran tersebut justru mendatangkan keguncangan dan kebingungan dalam
jiwa. Sehingga hanya menanamkan keraguan dan kesangsian terhadap keberadaan Allah.
Adapun jalan yang ditempuh Islam untuk mengenal Allah ialah dengan menggunakan
keimanan dan dilengkapi dengan akal. Kedua potensi tersebut dioptimalkan dengan proses
tafakkur dan tadabbur. Tafakkur artinya memikirkan ciptaan atau tanda-tanda kebesaran
Allah (ayat kauniyah). Tadabbur berarti merenungkan ayat-ayat Allah yang tertulis dalam
al-Qur’an (ayat qauliyah). Sehingga timbul keyakinan di dalam hati tentang keberadaan dan
kekuasaan Allah (QS.3:190-191; 12:105; 10:101).
C. Ayat – ayat Al-Qur’an

 Surat Al-Anbiya Ayat 92

‫ِن ُو ُدب ْعاَف ْمُكُّبَر اَ َنأَو ً َةدِحاَو ًة َّ ُمأ ْمُ ُكت َّ ُمأ ِه ِذََٰه َّنِإ‬

Terjemah Arti: Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang
satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.

 Surat Al-Ma’idah Ayat 72

َّ ‫َّللاَ ه َُو ْال َمسِي ُح ا ْبنُ َم ْريَ َم ۖ َوقَا َل ْال َمسِي ُح يَا بَ ِني إِس َْرائِي َل ا ْعبُدُوا‬
‫َّللاَ َربِي َو َربَّ ُك ْم ۖ إِنَّهُ َم ْن‬ َّ ‫لَقَدْ َكفَ َر الَّذِينَ قَالُوا إِ َّن‬
‫صار‬ َ ‫ظا ِل ِمينَ ِم ْن أ َ ْن‬ ُ َّ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه ْال َجنَّةَ َو َمأ ْ َواهُ الن‬
َّ ‫ار ۖ َو َما ِلل‬ َّ ِ‫يُ ْش ِر ْك ب‬
َّ ‫اَّللِ فَقَدْ َح َّر َم‬

Terjemah Arti: Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah
ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil,
sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan
(sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya
ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.

 Surat Al-‘Ankabut Ayat 6

َ‫ي َع ِن ْالعَالَ ِمين‬


ٌّ ِ‫َّللاَ لَغَن‬
َّ ‫َو َم ْن َجا َهدَ فَإِنَّ َما يُ َجا ِهدُ ِلنَ ْف ِس ِه ۚ إِ َّن‬
Terjemah Arti: Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk
dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu)
dari semesta alam.

 Surat Muhammad Ayat 9

‫ط أ َ ْع َمالَ ُه ْم‬ َّ ‫َٰذَلِكَ بِأَنَّ ُه ْم ك َِرهُوا َما أَ ْنزَ َل‬


َ ‫َّللاُ فَأَحْ َب‬
Terjemah Arti: Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa
yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal
mereka.

 Surat Al-An’am Ayat 101-103


Ayat 101
‫ش ْيء َع ِليم‬ َ ‫احبَة ۖ َو َخلَقَ ُك َّل‬
َ ‫ش ْيء ۖ َوه َُو بِ ُك ِل‬ ِ ‫ص‬َ ُ‫ض ۖ أَنَّ َٰى َي ُكونُ لَهُ َولَد َولَ ْم ت َ ُك ْن لَه‬
ِ ‫ت َو ْاْل َ ْر‬
ِ ‫س َم َاوا‬
َّ ‫بَدِي ُع ال‬
Terjemah Arti: Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia
tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.

Ayat 102

َ ‫َل إِ َٰلَهَ إِ ََّل ه َُو ۖ َٰ َخ ِل ُق ُك ِل‬


َ ‫ش ْىء فَٱ ْعبُدُوهُ ۚ َوه َُو َعلَ َٰى ُك ِل‬
‫ش ْىء َو ِكيل‬ َّ ‫َٰذَ ِل ُك ُم‬
ٓ َ ۖ ‫ٱَّللُ َربُّ ُك ْم‬
Terjemah arti : (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak
ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah
Pemelihara segala sesuatu. (Al-An'am 6:102)

Ayat 103

ُ ِ‫يف ْٱل َخب‬


‫ير‬ ُ ‫ص َر ۖ َوه َُو ٱللَّ ِط‬
َ َٰ ‫ص ُر َوه َُو يُد ِْركُ ْٱْل َ ْب‬
َ َٰ ‫ََّل تُد ِْر ُكهُ ْٱْل َ ْب‬
Terjemahan arti : Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat
segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Al-An'am
6:103).

 Surat Thaha Ayat 89

َ ‫أَفَ ََل يَ َر ْونَ أَ ََّل يَ ْر ِج ُع إِلَ ْي ِه ْم قَ ْو ًَل َو ََل يَ ْم ِلكُ لَ ُه ْم‬


‫ض ًّرا َو ََل نَ ْفعًا‬

Terjemah Arti: Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu
tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada
mereka dan tidak (pula) kemanfaatan?

 Surat Yunus Ayat 84

َ‫اَّللِ فَعَلَ ْي ِه ت ََو َّكلُوا إِ ْن ُك ْنت ُ ْم ُم ْس ِل ِمين‬


َّ ِ‫س َٰى يَا قَ ْو ِم إِ ْن ُك ْنت ُ ْم آ َم ْنت ُ ْم ب‬
َ ‫َوقَا َل ُمو‬

Terjemah Arti: Berkata Musa: "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka
bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri".

 Surat Al-Baqarah Ayat 131

َ‫ب ْالعَالَ ِمين‬


ِ ‫إِذْ قَا َل لَهُ َربُّهُ أَ ْس ِل ْم ۖ قَا َل أ َ ْسلَ ْمتُ ِل َر‬

Terjemah Arti: Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim


menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam".

 Surat Al-Baqarah Ayat 132

َ‫طفَ َٰى لَ ُك ُم الدِينَ فَ ََل ت َ ُموت ُ َّن إِ ََّل َوأَ ْنت ُ ْم ُم ْس ِل ُمون‬
َ ‫ص‬ َّ ِ‫ص َٰى بِ َها إِب َْراهِي ُم بَ ِني ِه َويَ ْعقُوبُ يَا بَن‬
َّ ‫ي إِ َّن‬
ْ ‫َّللاَ ا‬ َّ ‫َو َو‬

Terjemah Arti: Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian
pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama
ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".
 Surat Al-Baqarah Ayat 133
َٰ َٰ
َ ‫وب ْال َم ْوتُ ِإذْ قَا َل ِل َب ِني ِه َما تَ ْعبُدُونَ ِم ْن َب ْعدِي قَالُوا نَ ْعبُد ُ ِإ َل َهكَ َو ِإلَهَ آ َبائِكَ ِإب َْراه‬
‫ِيم‬ ُ ‫أ َ ْم ُك ْنت ُ ْم‬
َ ‫ش َهدَا َء ِإذْ َح‬
َ ُ‫ض َر َي ْعق‬
َ‫احدًا َونَحْ نُ لَهُ ُم ْس ِل ُمون‬ َٰ
ِ ‫َو ِإ ْس َما ِعي َل َو ِإ ْس َحاقَ ِإلَ ًها َو‬

Terjemah Arti: Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia
berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab:
"Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq,
(yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya".

 Surat Al-Baqarah Ayat 134

َ‫س ْبت ُ ْم ۖ َو ََل ت ُ ْسأَلُونَ َع َّما كَانُوا َي ْع َملُون‬


َ ‫ت َولَ ُك ْم َما َك‬ ْ َ‫ِت ْلكَ أ ُ َّمة قَدْ َخل‬
َ ‫ت ۖ لَ َها َما َك‬
ْ ‫س َب‬

Terjemah Arti: Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu
apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang
apa yang telah mereka kerjakan.

 Surat Ali ‘Imran Ayat 62

‫يز ْال َح ِكي ُم‬


ُ ‫َّللاَ لَ ُه َو ْال َع ِز‬ َّ ‫ص ْال َح ُّق ۚ َو َما ِم ْن ِإ َٰلَه ِإ ََّل‬
َّ ‫َّللاُ ۚ َو ِإ َّن‬ َ َ‫ِإ َّن َٰ َهذَا لَ ُه َو ْالق‬
ُ ‫ص‬

Terjemah Arti: Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak
disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana

 . Surat Hud Ayat 84

۞ ‫صوا ْال ِم ْكيَا َل َو ْال ِميزَ انَ ۚ إِنِي أَ َرا ُك ْم‬ َ ‫َّللاَ َما لَ ُك ْم ِم ْن إِ َٰلَه‬
ُ ُ‫غي ُْرهُ ۖ َو ََل ت َ ْنق‬ ُ ‫َوإِلَ َٰى َمدْيَنَ أَخَا ُه ْم‬
َّ ‫شعَ ْيبًا ۚ قَا َل يَا قَ ْو ِم ا ْعبُد ُوا‬
ُ ‫ِب َخيْر َو ِإ ِني أَخ‬
َ َ‫َاف َعلَ ْي ُك ْم َعذ‬
‫اب َي ْوم ُم ِحيط‬

Terjemah Arti: Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. Ia
berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan
janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam
keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang
membinasakan (kiamat).