Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA PASIEN

GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI

A. KONSEP DASAR HALUSINASI


1. Definisi
Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan
internal (pikiran) dan rangsangn eksternal (dunia luar). Klien memberikan persepsi atau
pendapat tentang lingkungan tanpa adanya objek atau rangsangan yang nyata.
Halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan terhadap lingkungan tanpa
stimulus yang nyata, artinya klien menginterpretasikan sesuatu yang nyata tanpa
stimulus atau rangsangan dari luar (Herman, 2011).
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa dimana klien mengalami
perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan,
pengecapan, parabaan atau penghiduan. Klien merasakan stimulus yang sebetul-
betulnya tidak ada (Damaiyanti, 2012).
Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan
internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar). Klien memberi persepsi atau
pendapat tentang lingkungan tanpa ada objek atau rangsangan yang nyata. Sebagai
contoh klien mengatakan mendengar suara padahal tidak ada orang yang berbicara
(Direja, 2011).

2. Rentang Respon

Adaptif Mal Adaptif

Pikiran logis Kadang-kadang Waham


proses pikir
Persepsi akurat terganggu Halusinasi

Emosi konsisten Ilusi Kerusakan proses


dengan emosi
pengalaman Emosi berlebihan
Perilaku tidak
Perilaku cocok Perilaku yang tidak terorganisasi
biasa
Hubungan sosial Isolasi sosial
harmonis Menarik diri

Keterangan:

a. Respon adaptif

1
1) Pikiran logis yaitu pandangan yang mengarah pada kenyataan
2) Persepsi akurat yaitu pandangan yang tepat pada kenyataan
3) Emosi konsisten adalah pengalaman yaitu perasaan yang timbul dari pengalaman
ahli
4) Perilaku social adalah sikap dan tingkah laku yang masih dalam batas kewajaran
5) Hubungan social adalah proses suatu interaksi dengan orang lain dan lingkungan
b. Respon psikososial
1) Proses piker terganggu adalah proses pikir yang menimbulkan gangguan
2) Ilusi adalah penilaian yang salah tentang penerapan yang benar-benar terjadi
(objek nyata) karena rangsangan panca indera
3) Emosi berlebihan atau berkurang
4) Perilaku tidak biasa yaitu sikap dan tingkah laku yang melebihi batas kewajaran
5) Menarik diri adalah percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain
c. Respon maladaptif
1) Waham adalah keyakinan yang secara kokoh dipertahankan walaupun tidak
diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan kenyataan social
2) Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah atau persepsi eksternal yang
tidak realita atau tidak ada
3) Kerusakan proses emosi adalah perubahan sesuatu yang timbul dari hati
4) Perilaku tidak terorganisir yaitu suatu yang tidak teratur
5) Isolasi social yaitu kondisi kesendirian yang dialami oleh individu dan diterima
sebagai ketentuan oleh orang lain dan sebagai suatu kecelakaan yang negatif
mengancam.

3. Etiologi
Faktor penyebab halusinasi (Yosep, 2009) yaitu:
a. Predisposisi
1) Faktor perkembangan
Tugas perkembangan klien yang terganggu misalnya rendahnya kontrol dan
kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak mampu mandiri sejak kecil, mudah
frustasi, hilang percaya diri dan lebih rentan terhadap stres.

2) Faktor sosiokultural
Seseorang yang merasa tidak diterima lingkungannya sejak bayi (unwanted
child) akan merasa disingkirkan, kesepian, dan tidak percaya pada lingkungannya.
3) Faktor biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Adanya stress yang
berlebihan dialami seorang maka di dalam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang
dapat bersifat halusiogenik neurokimia seperti buffofenon dan dimetytranferase
(DMP). Akibat stress berkepanjangan menyebabkan teraktivasinya
neurotransmitter otak. Misalnya terjadi ketidakseimbangan acetylcholin dan
dopamin.
4) Faktor psikologis

2
Tipe kepribadian lemah dan tidak tanggung jawab mudah terjerumus pada
penyalahgunaan zat adiktif. Hal ini berpengaruh pada ketidakmampuan klien
dalam mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya. Klien lebih memilih
kesenangan sesaat dan lari dari alam nyata menuju alam hayal.
5) Faktor genetik dan pola asuh
Penelitian menunjukkan bahwa anak sehat yang diasuh oleh orangtua
skizofrenia cenderung mengalami skizofrenia. Hasil studi menunjukkan bahwa
faktor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit
ini.

b. Faktor Presipitasi
1) Perilaku
Respons klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, perasaan
tidak aman, gelisah, dan bingung, perilaku merusak diri, kurang perhatian, tidak
mampu mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan
tidak nyata. Menurut Rawlins dan Heacock, 1993 dalam Iyus Yoseph (2009)
mencoba memecahkan masalah halusinasi berlandaskan atas hakikat keberadaan
seorang individu sebagai makhluk yang dibangun atas dasar unsur-unsur bio-
psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi dapat dilihat dari lima simensi yaitu :
a) Dimensi Fisik
Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti kelelahan
yang luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium, intoksikasi
alkohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama.

b) Dimensi Emosional
Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak dapat diatasi
merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. Isi dari halusinasi dapat berupa
perintah memaksa dan menakutkan. Klien tidak sanggup lagi menentang
perintah tersebut hinnga dengan kondisi tersebut klien berbuat sesuatu terhadap
ketakutan tersebut.
c) Dimensi Intelektual
Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa individu dengan
halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego. Pada awalnya
halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri untuk melawan impuls yang
menekan, namu merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang
dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tak jarang akan mengontrol
semua prilaku klien.
d) Dimensi Sosial
Klien mengalami gangguan interaksi sosial dalam fase awal dan
comforting, klien menganggap bahwa hidup bersosialisasi di alam nyata sangat

3
membahayakan. Klien asyik dengan halusinasinya, seolah-olah ia merupakan
tempat untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial, kontrol diri dan harga
diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata.
e) Dimensi Spiritual
Secara spiritual klien halusinasi mulai dengan kehampaan hidup,
rutinitas tidak bermakna, hilangnya aktivitas ibadah dan jarang berupaya secara
spiritual untuk mengucilkan dirinya. Irama sirkardiannya terganggu, karena ia
sering tidur larut malam dan bangun saat siang. Saat terbangun terasa hampa
dan tidak jelas tujuan hidupnya. Ia sering memakai takdir tetapi lemah dalam
upaya menjemput rejeki, menyalahkan lingkungan dan orang lain yang
menyebabkan takdirnya memburuk.

4. Tanda dan gejala


Adapun Tanda dan gejala halusinasi menurt Direja, 2011 sebagai berikut :
a. Halusinasi Pendengaran
Data Objektif : Bicara atau ketawa sendiri, marah-marah tanpa sebab, mengarahkan
telinga ke arah tertentu, menutup telinga.
Data Subjektif: Mendengar suara atau kegaduhan, mendengarkan suara yang
mengajak bercakap-cakap, mendengarkan suara yang menyuruh
melakukan sesuatu yang berbahaya.
b. Halusinasi Penglihatan
Data Objektif : Menunjuk-nunjuk kearah tertentu, ketakutan pada sesuatu yang
tidak jelas.
Data Subjektif: Melihat bayangan, sinar bentuk geometris, bentuk kortoon,
melihat hantu atau monster.
c. Halusinasi Penghidungan
Data Objektif : menghidu seperti sedang membaui bau-bauan tertentu, menutup
hidung.
Data Subjektif : membaui bau-bauan seperti bau darah, urine, feses, kadang-
kadang bau itu menyenangkan.
d. Halusinasi Pengecapan
Data Objektif : Sering meludah, muntah.
Data Subjektif : Merasakan rasa seperti darah, urine atau feses.
e. Halusinasi Perabaan
Data Objektif : Menggaruk- garuk permukaan kulit.
Data Subjektif : menyatakan ada serangga di permukaan kulit, merasa tersengat
listrik.

5. Jenis-jenis
Menurut Kusumawati & Hartono (2011) membagi halusinasi menjadi 10 jenis,
antara lain sebagai berikut :
a. Halusinasi Pendengaran (auditory-hearing voices or sounds)
Paling sering dijumpai dapat berupa bunyi mendenging atau suara bising yang
tidak mempunyai arti, tetapi lebih sering terdengar sebagai sebuah kata atau kalimat

4
yang bermakna. Biasanya suara tersebut ditunjukkan pada penderita sehingga tidak
jarang penderita bertengkar dan berdebat dengan suara-suara tersebut. Suara tersebut
dapat dirasakan berasal dari jauh atau dekat bahkan mungkin datang dari tiap bagian
tubuhnya sendiri. Suara bisa menyenangkan, menyuruh berbuat baik, tetapi dapat
pula berupa ancaman, mengejek, memaki atau bahkan yang menakutkan dan
kadang-kadang mendesak atau memerintah untuk berbuat sesuatu seperti membunuh
atau merusak.
b. Halusinasi Penglihatan (visual-seeing persons or thinks)
Lebih sering terjadi pada keadaan delirium (penyakit organik). Biasanya sering
muncul bersamaan dengan penurunan kesadaran, menimbulkan rasa takut akibat
gambaran-gambaran yang mengerikan.

c. Halusinasi Penciuman (olfaktory-smelling odors)


Halusinasi ini biasanya berupa mencium sesuatu bau tertentu dan dirasakan
tidak enak, melambangkan rasa bersalah pada penderita. Bau dilambangkan
sebagai pengalaman yang dianggap penderita sebagai suatu kombinasi moral.
d. Halusinasi Pengecapan (gustatorik)
Walaupun jarang terjadi, biasanya bersamaan dengan halusinasi penciuman
penderita merasa mengecap sesuatu. Halusinasi gastorik lebih jarang dari
halusinasi gustatorik.
e. Halusinasi Raba (taktile-feeling bodily sensation)
Merasa diraba , disentuh, ditiup atau seperti ada ulat, yang bergerak di bawah
kulit. Terutama pada keadaan delirium toksis dan skizofrenia.
f. Halusinasi kinestetik
Merasa badannya bergerak dalam sebuah ruangan, atau anggota badannya
bergerak (umpamanya anggota badan bayangan atau “phantomlimb”).
g. Halusinasi visceral
Perasaan tertentu timbul di dalam tubuhnya.
1) Depersonalisasi adalah perasaan aneh pada dirinya bahwa pribadinya sudah
tidak seperti biasanya lagi serta tidak sesuai dengan kenyataan yang ada
2) Direalisasi adalah suatu perasaan aneh tentang lingkungannya yang tidak sesuai
dengan kenyataan. Misalnya perasaan segala sesuatu yang dialami seperti
impian.
h. Halusinasi hipnagogik :
Terdapat ada kalanya pada seorang yang normal, tepat sebelum tertidur persepsi
sensorik berkerja salah.
i. Halusinasi hipnopompik
Terdapat ada kalanya pada seorang yang normal, tepat sebelum terbangun sama
sekali dari tidurnya. Disamping itu ada pula pengalaman halusinatorik dalam
impian yang normal.
j. Halusinasi histerik
Timbul pada nerosa histerik karena konflik emosional.
k. Halusionis

5
Paling sering adalah halusinasi dengar yang berhubungan dengan penyalahgunaan
alcohol dan terjadi dalam sensorium yang jernih berbeda

6. Fase-fase halusinasi
Halusinasi berkembang menjadi empat fase, yaitu sebagai berikut (Yoseph, 2011) :
a. Fase pertama : Sleep Disorder
Fase awal seseorang sebelum muncul halusinasi . pada fase ini klien merasa
banyak masalah, ingin menghindar dari lingkungan, takut diketahui orang lain
bahwa dirinya banyak masalah. Masalah makin terasa sulit karena berbagai
stressor terakumulasi, misalnya kekasih hamil, terlibat narkoba, dihianati kekasih,
masalah di kampus, PHK di tempat kerja penyakit, utang, nilai di kampus, drop
out dan sebagainya. Masalah terasa menekan karena terakumulasi sedangkan
support system kurang dan persepsi terhadap masalah sangat buruk. Sulit tidur
berlangsung terus menerus sehingga terbiasa menghayal. Klien menganggap
lamunan-lamunan awal tersebut sebagai pemecahan masalah.
b. Fase kedua : Comforting
Disebut juga fase comporting yaitu fase yang menyenangkan. Pada tahap ini
masuk dalam golongan nonpsikotik. Pasien mengalami emosi yang berlanjut
seperti adanya perasaan cemas, kesepian, perasaan berdosa, ketakutan dan
mencoba memusatkan pemikiran pada timbulnya kecemasan. Ia beranggapan
bahwa pengalaman pikiran dan sensorinya dapat ia control bila kecemasannya
diatur, dalam tahp ini ada kecenderungan klien merasa nyaman dengan
halusinasinya.
c. Fase ketiga : Condemning
Disebut denga fase condemming atau anisietas berat yaitu halusinasi menjadi
menjijikan, termasuk dalam psikotik ringan. Pengalaman sensori klien menjadi
sering datang dan mengalami bias. Klien mulai tidak mampu lagi mengontrolnya
dan mulai berupaya menjaga jarak antara dirinya dengan objek yang dipersepsikan
klien mulai menarik diri dari orang lain dengan intensitas waktu yang lama.
d. Fase keempat : Controlling
Adalah fase controling atau ansietas berat yaitu pengalaman sensori menjadi
berkuasa. Termasuk dalam gangguan psikotik. Klien mencoba melawan suara-
suara atau sensory abnormal yang datang. Klien dapat merasakan kesepian bila
halusinasinya berakhir. Dari sinilah dimulai fase gangguan Psychotic.
e. Fase kelima : Conquering
Adalah fase conquering atau panik yaitu klien lebur dengan halusinasinya.
Termasuk dalam psikotik berat. Pengalaman sensorinya terganggu, klien mulai
merasa terancam dengan datangnya suara-suara terutama bila klien tidak dapat
menuruti ancaman atau perintah yang ia dengar dari halusinasinya. Halusinasi

6
dapat berlangsung selama minimal 4 jam atau seharian bila klien tidak
mendapatkan komunikasi terapeutik.

7. Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang sering digunakan dengan halusinasi:
a. Regresi, menjadi malas beraktivitas sehari-hari
b. Proyeksi, mencoba menjelaskan gangguan persepsi dengan mengalihkan tanggung
jawab kepada orang lain atau suatu benda
c. Menarik diri, sulit mencari orang lain dan asik dengan stimulus internal
d. Keluarga mengingkari masalah yang dialami oleh klien.

8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada halusinasi di bagi menjadi dua yaitu penatalaksanaan
medis dan penatalaksanaan keperawatan, yaitu :
a. Penatalaksanaan Medis
1) Psikofarmakoterapi
Gejala halusinasi sebagai salah satu gejala psikotik/ skizofrenia biasanya
diatasi dengan menggunakan obat-obatan anti psikotik antara lain :
a) Golongan butirefenon : Haldol, Serenace, Ludomer. Pada kondisi akut biasanya
diberikan dalam bentuk injeksi 3x5 mg, im. Pemberian injeksi biasanya cukup
3x24 jam. Setelahnya klien bisa diberikan obat per oral 3x1,5 mg atau 3x5 mg.
b) Golongan Fenotiazine :Chlorpramizine/ Largactile/ Promactile. Biasanya
diberikan per oral. Kondisi akut biasanya diberikan 3x 100mg. Apabila kondisi
sudah stabil dosis dapat dikurangi 1x100 mg pada malam hari saja (Yosep,
2011).
2) Psikoterapi
Terapi kejang listrik adalah pengobatan untuk menimbulkan kejang grandmall
secara artificial dengan melewatkan aliran listrik melalui electrode yang dipasang
pada satu atau dua temples, terapi kejang listrik dapat diberikan pada skizoprenia
yang tidak mempan dengan terapi neuroleptika oral atau injeksi, dosis terapi
kejang listrik 4-5 joule/detik.
3) Rehabilitasi
Terapi kerja baik untuk mendorong penderita bergaul lagi dengan orang lain,
penderita lain, perawat dan dokter. Maksudnya supaya ia tidak mengasingkan diri
lagi karena bila menarik diri dia dapat membentuk kebiasaan yang kurang baik.
Dianjurkan penderita untuk mengadakan permainan atau pelatihan bersama
(Maramis, 2005).

b. Penatalaksanaan Keperawatan
Terapi Aktivitas Kelompok yang diberikan pada pasien dengan Halusinasi yaitu
( Keliat, 2010):
1) Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Kognitif/Persepsi

7
Klien dilatih mempersepsikan stimulus yang disediakan atau stimulus yang
pernah dialami. Kemampuan persepsi klien dievaluasi dan ditingkatkan pada tiap
sessi. Dengan proses ini, diharapkan respon klien terhadap berbagai stimulus
dalam kehidupan menjadi adatif. Aktivitas berupa stimulus dan persepsi. Stimulus
yang disediakan : baca artikel/majalah/buku/puisi, menonton acara TV (ini
merupakan stimulus yang disediakan), stimulus dari pengalaman masa lalu yang
menghasilkan proses persepsi klien yang maladaptive atau distruktif, misalnya
kemarahan, kebencian, putus hubungan, pandangan negative pada orang lain dan
halusinasi. Kemudian dilatih persepsi klien terhadap stimulus.
2) Terapi Aktivitas Kelompok Stimulus Sensori
Aktivitas digunakan sebagai stimulus pada sensori klien. Kemudian diobservasi
reaksi sensori klien terhadap stimulus yang disediakan, berupa ekspresi perasaan
secara nonverbal (ekspresi wajah, gerakan tubuh). Biasanya klien yang tidak mau
mengungkapkan komunikasi verbal akan testimulasi emosi dan perasaannya, serta
menampilkan respons. Aktivitas yang digunakan sebagai stimulus adalah : musik,
seni menyanyi, menari. Jika hobby klien diketahui sebelumnya, dapat dipakai
sebagai stimulus, misalnya lagu kesukaan klien, dapat digunakan sebagai
stimulus.

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
Dalam keperawatan, pengkajian merupakan pengumpulan data subjektif dan objektif
secara sistematis dengan tujuan membuat penentuan tindakan keperawatan bagi
individu, keluarga dan komunitas (Damaiyanti, 2012).
a. Identitas klien dan penanggung
b. Keluhan utama atau alasan masuk
c. Faktor predisposisi
d. Aspek fisik atau biologis
e. Aspek psikososial

8
f. Status mental
g. Kebutuhan persiapan pulang
h. Mekanisme koping
i. Masalah psikososial dan lingkungan
j. Pengetahuan
k. Aspek medik
1) Kemudian data yang diperoleh dapat dikelompokkan menjadi dua macam sebagai
berikut :
a) Data Objektif
Ialah data yang ditemukan secara nyata. Data ini didapatkan melalui observasi
atau pemeriksaan langsung oleh perawat.
b) Data Subjektif
Ialah data yang disampaikan secara lisan oleh klien dan keluarga. Data ini
diperoleh melalui wawancara perawat kepada klien dan keluarga. Data yang
langsung didapat oleh perawat disebut sebagai data primer, dan data yang di
ambil dari hasil catatan tim kesehatan lain sebagai data sekunder.
2) Menurut Damaiyanti, (2012) adapun format atau data fokus pada pengkajian klien
dengan gangguan pesepsi sensori : halusinasi :
a) Jenis halusinasi
b) Isi halusinasi
c) Waktu halusinasi
d) Frekuensi halusinasi
e) Situasi halusinasi
f) Respon klien

2. Rumusan Masalah
a. Isolasi sosial
b. Gangguan persepsi sensori : Halusinasi
c. Resiko Prilaku kekerasan
Masalah Utama:
a. Gangguan persepsi sensori : Halusinasi

3. Pohon Masalah
Pohon masalah adalah tehnik atau diagram untuk mengidentifikasi masalah dalam

situasi tergantung dengan mengedepankan hubungan sebab akibat (Fitria, 2011).

Risiko tinggi perilaku


efek kekerasan

Core Problem Perubahan persepsi Defisit Perawatan


sensori : halusinasi Diri

9
Cause Isolasi Sosial

Harga diri rendah kronis

Keterangan :

: Masalah Utama (core problem)

: hubungan sebab akibat

1. Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan dari pohon masalah diatas dapat ditegakkan diagnosa keperawatan


sesuai prioritas masalah pada klien dengan halusinasi menurut Fitria, (2011 ) yaitu :
a. Resiko tinggi perilaku kekerasan.
b. Perubahan persepsi sensori : halusinasi.
c. Kerusakan interaksi sosial.
d. Harga diri rendah kronis
e. Defisit perawatan diri

10
3. Rencana Keperawatan

Hari/Tgl/ Diagnosa Perencanaan


Tujuan Kriteria hasil Intervensi Rasional
Jam Keperawatan
Gangguan persepsi TUM : Setelah diberikan asuhan 1. Sapa klien dengan nama Hubungan saling percaya
Klien dapat mengontrol
sensori : keperawatan selama 15 baik verbal maupun non merupakan dasar untuk
halusinasi yang dialaminya.
Halusinasi menit dengan 1 kali verbal kelancaran hubungan
TUK 1 :
2. Perkenalkan diri dengan
Pasien dapat membina pertemuan pasien interaksi selanjutnya
sopan
hubungan saling percaya diharapkan:
3. Tanyakan nama lengkap
Kriteria Evaluasi :
1. Ekspresi wajah klien dan nama panggilan
bersahabat yang disukai klien
2. Menunjukan rasa 4. Jelaskan tujuan pertemuan
5. Jujur dan menepati janji
senang
6. Tunjukan sikap empati dan
3. Ada kontak mata
4. Mau berjabat tangan, menerima klien apa adanya
7. Berikan perhatian kepada
mau menyebut nama,
klien
mau menjawab salam
5. Mau duduk
berdampingan dengan
perawat
6. Mau mengutarakan
masalah yang
dihadapi.

11
TUK 2 : Setelah diberikan 1. Adakah kontak sering dan 1. Kontak sering tapi
Klien mengenal halusinasinya
asuhan keperawatan singkat secara bertahap singkat selain
selama 15 menit dengan membina hubungan
1 kali pertemuan pasien saling percaya, juga
diharapkan: dapat memutuskan
2. Observasi tingkah laku klien
Kriteria Evaluasi :
halusinasi
1. Klien dapat terkait dengan halusinasinya;
2. Mengenal perilaku
menyebutkan waktu, bicara dan tertawa terhadap
pada saat halusinasi
isi, frekuensi stimulus, memandang ke kiri
timbul memudahkan
timbulnya halusinasi atau ke kanan atau ke dean
perawat dalam
2. Klien dapat
seolah-olah ada teman bicara
melakukan intervensi
mengungkapkan 3. Bantu klien mengenal
peran terhadap halusinasinya.
3. Mengenal halusinasi
halusinasi.
memungkinkan klien
untuk menghindarkan
factor pencetus
4. Diskusikan dengan klien
timbulnya halusinasi
situasi yang menimbulkan
4. Dengan mengetahui
atau tidak menimbulkan
waktu, isi, dan
halusinasi , waktu dan
frekuensi munculnya
frekuensi terjadinya
halusinasi
halusinasi
mempermudah
tindakan keperawatan
12
TUK 3 : Klien dapat Setelah diberikan asuhan 1. Identifikasi bersama klien 1. Upaya untuk
mengontrol halusinasinya keperawatan selama 15 cara tindakan yang memutuskan
menit dengan 1 kali dilakukan jika terjadi halusinasi sehingga
pertemuan pasien halusinasi tidak berlanjut.
2. Diskusikan manfaat cara 2. Reinforcement positif
diharapkan :
Kriteria Hasil : yang akan dilakukan klien, akan meningkatkan
1. Klien dapat
jika bermanfaat beri pujian. harga diri klien.
menyebutkan 3. Diskusikan cara baru untuk 3. Memberikan
tindakan yang memutus atau mengontrol alternative pilihan
biasa dilakukan halusinansi : bagi klien mengontrol
a. Katakan “ Saya tidak mau
untuk halusinasi
dengar kamu” ( pada saat
mengendalikan
halusinasi terjadi )
halusinasinya.
b. Menemui orang lain untuk
2. Klien dapat
bercakap – cakap atau
menyebutkan cara
mengatakan halusinasi yang
baru
3. Klien dapat terdengar
c. Membuat jadwal kegiatan
memilih cara
sehari – hari agar halusinasi
mengatasi
tidak muncul
halusinasi seperti
d. Minta
yang telah
keluarga/teman/perawat jika
didiskusikan
nampak bicara sendiri.
dengan klien. e. Bantu klien memilih dan

13
melatih cara memutuskan
halusinasi secara bertahap.
TUK 4 : Klien dapat dukungan Setelah diberikan asuhan 1. Diskusikan dengan 1.
dari keluarga dalam keperawatan selama 15 keluarga: Untuk mengetahui
a. Gejala halusinasi yang
mengontrol halusinasi menit dengan 1 kali pengetahuan keluarga
dialami klien
pertemuan pasien dan meningkatkan
b. Cara yang dapat
diharapkan : kemampuan
dilakukan klien dan
Kriterian Hasil :
pengetahuan tentang
Keluarga dapat keluarga untuk memutus
halusinasi
menyebutkan pengertian, halusinasi
c. Cara merawat anggota
tanda dan kegiatan untuk
keluarga untuk memutus
mengendalikan
halusinasi di rumah, beri
halusinasi
kegiatan, jangan biarkan
sendiri, makan bersama,
berpergian bersama.
d. Beri informasi waktu
follow up atau kapan
perlu mendapat bantuan
halusinasi terkontrol dan
risiko mencederai orang
lain.
TUK 5: Setelah diberikan 1. Diskusikan dengan klien 1. Dengan menyebutkan
Klien dapat memanfaatkan
asuhan keperawatan dan keluaraga tentang dosis, frekuensi dan

14
obat dengan benar selama 15 menit dengan dosis, frekuensi, manfaat manfaat obat.
1 kali pertemuan pasien obat
2. Diharapkan klien
diharapkan: 2. Anjurkan klien minta
melaksanakan
Kriteria Evaluasi :
sendiri obat pada perawat
1. Klien dapat program pengobatan.
dan merasakan
menyebutkan
manfaatnya
manfaat, dosis, dan 3. Menilai kemampuan
3. Anjurkan klien bicara
efek samping obat klien dalam
1. Klien dapat dengan dokter tentang
pengobatannya
mendemonstrasikan manfaat dan efek samping
sendiri.
penggunaan obat obat yang dirasakan 4. Dengan mengetahui
secara benar 4. Diskusikan akibat berhenti efek samping obat
2. Klien dapat
minum obat tanpa klien akan tahu apa
informasi tentang
konsultasi yang harus dilakukan
efek samping obat
setelah minum obat
3. Klien dapat
5. Dengan mengetahui
memahami akibat
prinsip penggunaan
berhenti minum
obat, maka
5. Bantu klien menggunakan
obat
kemandirian klien
Klien dapat obat dengan prinsip benar
untuk pengobatan
menyebutkan prinsip 5
dapat ditingkatkan
benar penggunaan obat
secara bertahap.

15
4. Implementasi
SP PASIEN SP KELUARGA
SP1 : SP 1:
a. Bina hubungan saling percaya dengan a. Identifikasi masalah keluarga
mengungkapkan prinsip komunikasi dalam merawat pasien.
b. Jelaskan tentang halusinasi :
- Sapa klien dengan ramah
- Pengertian halusinasi.
- Perkenalkan diri dengan sopan - Jenis halusinasi yang
- Jelaskan tujuan pertemuan dialami pasien.
- Tanda dan gejala
- Jujur dan menepati janji
halusinasi.
b. Bantu pasien mengenal halusinasi (isi,
- Cara merawat pasien
waktu terjadinya, frekuensi, situasi
halusinasi (cara
pencetus, perasaan saat terjadi halusinasi.
berkomunikasi, pemberian
c. Latih mengontrol halusinasi dengan cara
obat & pemberian
menghardik.
aktivitas kepada pasien).
Tahapan tindakannya meliputi : - Sumber-sumber pelayanan
- Jelaskan cara menghardik halusinasi. kesehatan yang bisa
- Peragakan cara menghardik dijangkau.
- Bermain peran cara
- Minta pasien memperagakan ulang.
merawat.
- Pantau penerapan cara ini, beri
- Rencana tindak lanjut
penguatan perilaku pasien
keluarga, jadwal keluarga
Masukkan dalam jadwal kegiatan pasien
untuk merawat pasien
SP 2: SP 2
a. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1) a. Evaluasi kemampuan
b. Latih berbicara / bercakap dengan orang
keluarga (SP 1).
lain saat halusinasi muncul b. Latih keluarga merawat
Masukkan dalam jadwal kegiatan pasien pasien.
c. RTL keluarga / jadwal
keluarga untuk merawat
pasien
SP 3: SP 3
a. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1 dan 2). a. Evaluasi kemampuan
b. Latih kegiatan agar halusinasi tidak
keluarga (SP 2)
muncul. b. Latih keluarga merawat
Tahapannya :
pasien.
- Jelaskan pentingnya aktivitas yang
c. RTL keluarga / jadwal
teratur untuk mengatasi halusinasi
- Diskusikan aktivitas yang biasa keluarga untuk merawat
dilakukan oleh pasien. pasien
- Latih pasien melakukan aktivitas.

16
- Susun jadwal aktivitas sehari-hari
sesuai dengan aktivitas yang telah
dilatih (dari bangun pagi sampai tidur
malam)
a. Pantau pelaksanaan jadwal kegiatan,
berikan penguatan terhadap perilaku
pasien yang (+)
SP 4: SP 4
a. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 1,2 & 3) a. Evaluasi kemampuan
b. Tanyakan program pengobatan.
keluarga.
c. Jelaskan pentingnya penggunaan obat
b. Evaluasi kemampuan pasien.
pada gangguan jiwa c. RTL Keluarga:
d. Jelaskan akibat bila tidak digunakan - Follow Up
sesuai program - Rujukan
e. Jelaskan akibat bila putus obat.
f. Jelaskan cara mendapatkan obat/ berobat.
g. Jelaskan pengobatan (5B).
h. Latih pasien minum obat
a. Masukkan dalam jadwal harian pasien

17
5. Evaluasi
Evaluasi adalah proses berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan
pada klien. Evaluasi dibagi dua yaitu, evaluasi proses atau pormatif yang dilakukan setiap
selesai melaksanakan tindakan, evaluasi hasil atau sumatif yang dilakukan dengan
membandingkan antara respon klien dan tujuan khusus serta umum yang telah ditentukan
(Direja, 2011).
Menurut Damaiyanti (2012), evaluasi dilakukan sesuai TUK pada perubahan persepsi
sensori : halusinasi yaitu :
a. Klien dapat menbina hubungan saling percaya
b. Klien dapat mengenali halusinasinya
c. Klien dapat mengontrol halusinasinya
d. Klien dapat dukungan dari keluarga dalam mrngontrol halusinasi
e. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik

DAFTAR PUSTAKA

Ade Herman, S.D. 2011. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Nuha Medika.

18
Damaiyanti, M. Iskandar. 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung : PT Refika
Aditama

Direja, A. Herman., 2011, Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa, Yogyakarta : Nuha Medika

Fitria, Nita. 2009. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP). Jakarta : Salemba
Medika.

Keliat, B. A., 2004, Terapi Aktivitas Kelompok. Jakarta : EGC.

Kusumawati Farida & Hartono Yudi. 2011. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : Selemba
Medika

Maramis F. Willy., 2005, Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Surabaya : Airlangga University
Press. .

Suliswati, dkk. 2005. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC.

Tim Pengembangan MPKP RSJ Provinsi Bali. 2009. Pedoman Manajemen Asuhan
Keperawatan (7 Masalah Utama Keperawatan Jiwa). Bangli.

Videbeck, S.L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC

Yosep, I., 2009, Keperawatan Jiwa, Bandung : Refika Aditama

19