Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM PERILAKU HEWAN

PERCOBAAN IV
PERILAKU AGONISTIK IKAN CUPANG (Betta sp.)

OLEH:

NAMA : SAHRA REPI PERTIWI


STAMBUK : F1D1 16 058
KELOMPOK : I (SATU)
ASISTEN PEMBIMBING : SULHADANA, S.Si

PROGRAM STUDI BIOLOGI


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perilaku agonistik merupakan perilaku sosial yang terkait dengan

pertarungan. Perilaku agonistik terjadi pada salah satu ikan yaitu pada ikan

cupang (Betta sp.). Ikan cupang (Betta sp.) adalah ikan air tawar yang habitat

asalnya adalah beberapa negara di Asia Tenggara, antara lain Indonesia,

Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Vietnam. Ikan ini

mempunyai bentuk dan karakter yang unik dan cenderung agresif dalam

mempertahankan wilayahnya. Ikan cupang (Betta sp.) adalah salah satu jenis

ikan hias yang memiliki banyak bentuk terutama pada bentuk ekor, seperti tipe

mahkota (crown tail), ekor penuh (full tail) dan slayer. Ikan hias ini juga

memiliki perbedaan harga antara ikan jantan dan betina.

Ikan jantan sendiri memiliki harga yang lebih tinggi atau mahal daripada

betina. Hal ini disebabkan ikan jantan memiliki keunggulan dari morfologi

dan warnanya sehingga menjadi nilai estetika. Ikan betina memiliki warna

yang kurang menarik, perut gemuk, serta sirip ekor dan sirip anal pendek,

sehingga harga jual ikan betina lebih rendah dari ikan jantan. Ikan jantan lebih

banyak peminat dan diburu para pecinta ikan hias, sehingga lebih efektif dan

menguntungkan apabila hanya memproduksi dan dipelihara jantannya saja

(Zain, 2002).

Ikan Cupang (Betta sp.) memiliki alat pernapasan tambahan yang disebut

labirin (labyrinth). Alat pernapasan tambahan ini dipergunakan untuk

mengambil oksigen langsung dari udara. Ikan cupang dapat kuat bertahan
hidup dalam waktu lama sehingga apabila ikan tersebut ditempatkan di wadah

dengan volume air sedikit dan tanpa adanya alat sirkulasi udara (aerator), ikan

ini masih dapat bertahan hidup.

Penampakan warna pada ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu

jenis kelamin, kematangan gonad, genetik dan faktor geografi. Ikan cupang

(Betta sp.) terkenal karena sifatnya yang agresif dan kebiasaan hidupnya

berkelahi dengan sesama jenis, sehingga dinamakan fighting fish. Warna tubuh

ikan ini berwarna-warni, sehingga menjadi daya tarik para penggemar dan

penghobi untuk mengoleksinya. Warna-warna klasik seperti merah, hijau,

biru, abu-abu, dan kombinasinya banyak dijumpai. Warna-warna baru juga

bermunculan dari kuning, putih, jingga, hingga warna-warna metalik seperti

tembaga, platinum, emas dan kombinasinya. Berdasarkan uraian di atas, maka

perlu dilakukan praktikum mengenai Pengamatan Agonistik Ikan Cupang

(Betta sp.).

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada praktikum ini adalah bagaimana tingkah laku

agonistik pada ikan cupang (Betta sp.)?

C. Tujuan Praktikum

Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum ini adalah bagaimana tingkah

laku agonistik pada ikan cupang (Betta sp.).


D. Manfaat Praktikum

Manfaat yang dapat diperoleh pada praktikum ini adalah bagaimana

tingkah laku agonistik pada ikan cupang (Betta sp.).


II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Ikan Cupang (Betta sp.)

Ikan cupang (Betta sp.) adalah salah satu jenis ikan hias yang

memiliki banyak bentuk terutama pada bentuk ekor, seperti tipe mahkota

(crown tail), ekor penuh (full tail) dan slayer. Ikan hias ini juga memiliki

perbedaan harga antara ikan jantan dan betina. Ikan jantan sendiri memiliki

harga yang lebih tinggi atau mahal daripada betina. Hal ini disebabkan ikan

jantan memiliki keunggulan dari morfologi dan warnanya sehingga menjadi

nilai estetika. Ikan betina memiliki warna yang kurang menarik, perut gemuk,

serta sirip ekor dan sirip anal pendek, sehingga harga jual ikan betina lebih

rendah dari ikan jantan. Ikan jantan lebih banyak peminat dan diburu para

pecinta ikan hias, sehingga lebih efektif dan menguntungkan apabila hanya

memproduksi dan dipelihara jantannya saja (Yuniarti, dkk., 2016).

Ikan cupang hias adalah salah satu jenis ikan hias yang mempunyai

nilai ekonomi tinggi. Hal ini dilihat dengan banyaknya penggemar ikan

cupang, yang tidak hanya terbatas dari kelas ekonomi tinggi, mulai anak-anak,

remaja hingga orang dewasa. Ikan cupang mempunyai nama latin Betta sp.,

termasuk dalam famili Anabantidae. Ikan ini mempunyai kemampuan yang

dapat bernafas dengan mengambil oksigen langsung dari udara. Ikan cupang

sering dijumpai pada genangan-genangan air yang dangkal dan berlumpur

dengan kadar oksigen terlarut yang rendah. Ciri khas ikan cupang adalah saat

memamerkan keindahan warna tubuhnya. Karena keindahannya itulah harga


seekor ikan cupang hias bisa mencapai ratusan ribu rupiah bahkan jutaan

rupiah (Wijaya, dkk., 2017).

B. Jenis-jenis Ikan Cupang (Betta sp.)

Terdapat tiga jenis cupang yang populer di masyarakat. Pertama, cupang

untuk hiasan antara lain kumpai, serit dan slayer pancawarna, semua ini

disebut Betta splendens. Kedua, betta aduan antara lain, Betta Singapura

(Betta imbilis), Adu Kamboja/Singa-pura Belgi (Betta smaragdina) dan Bagan

(Betta imbilis var sumatraensis). Ketiga, cupang hias yang dapat diadu

merupakan tipe yang populer yang biasa disebut three colour atau pancawarna

ekor pendek antara lain, Betta Malaysia (Betta imbilis var Malayah). Selama

ini untuk menda-patkan ikan cupang yang berkualitas, para peng-gemar ikan

cupang di Indonesia masih mengim-por dari Malaysia, Singapura dan

Thailand, sehingga pengembangan usaha pembenihan ikan ini sangat

menjanjikan (Suyoto dan Mustahal, 2005).

C. Teknik Benih Ikan Cupang (Betta sp.)

Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk memproduksi benih ikan

kelamin tunggal (monosex) jantan adalah melalui pembalikan ke-lamin (sex

reversal), yang mene-rapkan rekayasa hormonal untuk mengubah ka-rakter

seksual betina ke jantan (maskulinisasi/ penjantanan) atau dari jantan menjadi

betina (fe-minisasi) (Mardiana 2009). Hormon jantan ste-roid yang umum

digunakan adalah hormon 17α- metiltestosterone. Namun, hormon ini merupa-

kan salah satu steroid sintetik yang dilarang penggunaannya dalam kegiatan
akuakultur pada hewan yang diberi perlakuan. Hormon sintetik seperti

metiltestosteron yang dapat dimanfaatkan untuk penjantanan, mempunyai

kelemahan yaitu sulit terurai di dalam tubuh, bersifat karsinoge-nik,

mencemari lingkungan, dan kadang menim-bulkan efek samping yang tidak

diinginkan (Aslamyah, dkk., 2016).

Identifikasi kelamin dilakukan dengan pengamatan secara morfologi

karena tidak perlu membunuh hewan uji untuk melakukan pengamatan

terhadap organ reproduksi. Cara ini ideal untuk ikan-ikan yang memiliki

dimorfismeyang jelas antara jantan dengan betinanya. Beberapa jenis ikan hias

seperti guppy, rainbow, cupang dan kongo mudah dibedakan antara jantan

dengan betina berdasarkan morfologi tubuhnya (Zairin, 2002). Ikan yang

pertumbuhannya lambat, ukuran tubuh yang lebih kecil, sehingga secara

morfologi sulit dibedakan antara ikan jantan dengan ikan betina maka

dilakukan pemeriksaan gonad secara mikroskopis dengan metode pewarnaan

asetokarmin (Fitriani, dkk., 2017).

D. Perilaku Ikan Cupang (Betta sp.)

Salah satu sifat yang terkenal dari ikan cupang adalah berkelahi satu

sama lainnya untuk mempertahankan wilayahnya. Sifat agresifnya menjadi

daya tarik tersendiri bagi seseorang untuk menyukai ikan ini. Saat

bereproduksi ikan cupang memiliki perilaku yang unik, yaitu menari. Ketika

bertelur, betina akan mendekati sarang dan memiringkan badannya untuk

dijepit oleh jantan dengan meliukkan tubuhnya agar jantan bisa


menyemprotkan spermanya ke telur-telur tersebut (Perkasa dan Hendry,

2002).

E. Pakan Ikan Cupang (Betta sp.)

Pakan merupakan salah satu komponen penting dalam budidaya ikan

dalam menentukan pertumbuhan ikan. Suplementasi pakan ikan sering

dilakukan dengan penambahan sejumlah vitamin untuk memenuhi kebutuhan

penting berkenaan dengan pertumbuhan (Muhammad Fahri, 2009). Asmawi

(1986) menyatakan bahwa pakan berperan penting dalam merangsang

pertumbuhan individu yang optimal. Ketersediaan pakan alami sudah tentu

tidak akan mencukupi kebutuhan ikan terhadap pakan selama periode

pemeliharaan, untuk itu diperlukan pakan tambahan. Dosis pakan yang

diberikan tidak hanya terbatas dalam jumlah saja, tetapi nilai gizi pakan perlu

diperhatikan untuk mendapatkan pertambahan berat yang optimal pada kurun

waktu pemeliharaan yang cukup (Kase, dkk., 2018).


DAFTAR PUSTAKA

Aslamyah, S., Trijuno, D.D., Fujaya, Y., dan Hidayani, A.A., 2016, Pemanfaatan
Tepung Testis Sapi Sebagai Hormon Alami pada Penjantanan Ikan
Cupang, Betta Splendens Regan, 1910, Jurnal Iktiologi Indonesia, 16(1):
91-101

Fitiani, M., Muslim, dan Lubis, A.M., 2017, Maskulinisasi Ikan Cupang (Betta
Sp.) Menggunakan Madu Alami Melalui Metode Perendaman dengan
Konsentrasi Berbeda, Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia, 5(1): 97-108

Kase, O.K.I., Manurung, N.U., dan Susantie, D., 2018, Tingkah Laku Ikan
Cupang (Betta Splendes) Terhadap Pakan yang Berbeda, Jurnal Ilmiah
Tindalung, 4(2): 83-88

Sunyoto, P., dan Mustahal, D.S., 2005, Usaha Pembenihan Ikan Hias Cupang
(Betta Splenders) di Kabupaten Serang, Jurnal Pengkajian dan
Pengembangan Teknologi Pertanian 8(2): 292-299

Wijaya, S., Rahimi, E.A.S., dan Syukran, M., 2017, Intensitas dan Prevalensi
Ektoparasit Pada Ikan Cupang Hias (Betta splendens) di Perairan
Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh, Jurnal Ilmiah Mahasiswa
Kelautan dan Perikanan Unsyiah, 2(1): 221-228

Yuniarti, T., Basuki, F., dan Rachmawati, D., 2016, Pengaruh Pemberian Tepung
Testis Sapi dengan Dosis yang Berbeda Terhadap Keberhasilan
Jantanisasi pada Ikan Cupang (Betta sp.), Journal of Aquaculture
Management and Technology, 5(1): 130-136
III. METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, 14 November 2019, pukul

15.30-17.00 WITA dan bertempat di Laboratorium Unit Zoologi, Jurusan

Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Halu

Oleo, Kendari.

B. Bahan Praktikum

Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah Ikan Cupang (Betta

sp.) dan air sebagai objek pengamatan.

C. Alat Praktikum

Alat yang digunakan pada praktikum ini tercantum pada Tabel 1.

Tabel 2. Alat dan Kegunaan


No. Nama Alat Kegunaan
1 Toples Untuk wadah pengujian tingkah laku agonistik ikan
cupang (Betta sp.)
Untuk pengujian tingkah laku agonistik ikan cupang
2 Cermin
(Betta sp.)
3 Stopwatch Untuk menghitung waktu pengujian tingkah laku
agonistik ikan cupang (Betta sp.)
4 Alat tulis Untuk mencatat hasil pengamatan
5 Kamera Untuk mendokumentasikan hasil pengamatan

D. Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum ini adalah sebagai

berikut :
A. Perlakuan Pertama

1. Menyiapkan alat dan bahan.

2. Memasukkan salah satu ikan cupang (Betta sp.) ke dalam toples.

3. Memasukkan cermin ke dalam toples.

4. Mengamati morfologi dan tingkah laku individu yang terjadi di

dalam toples tersebut selama 10 menit.

5. Mencatat dan mendokumentasikan hasil pengamatan.

B. Perlakuan Kedua

1. Menyiapkan alat dan bahan.

2. Memasukkan dua ekor ikan cupang (Betta sp.) ke dalam toples.

3. Mengamati tingkah laku perkelahian antara kedua ikan cupang (Betta

sp.) di dalam toples tersebut selama 10 menit.

4. Mencatat dan mendokumentasikan hasil pengamatan.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan pada praktikum ini tercantum pada tabel 3 dan 4.

Tabel 3. Hasil Pengamatan Tingkah Laku Morfologi Individu Ikan Cupang


(Betta sp.)
No. Nama Individu Waktu Banyak Perlakuan
Spesies Ap Bi Ch Ft St Mc Fl Tf Ci Ex

A 10 14 - - - - 9 - 7 4 -
1. Ikan menit
Cupang
(Betta sp.)
B 10 12 - - 5 - 31 - 18 13 -
menit

Tabel 4. Hasil Pengamatan Perkelahian Antar Individu Ikan Cupang (Betta


sp.)
No. Nama Individu Waktu Banyak Perlakuan
Spesies Ap Bi Ch Ft St Mc Fl Tf Ci Ex

A 10 4 11 1 4 10 - 1 7 10 -
Ikan menit
1. Cupang
(Betta sp.)
B 10 2 9 - 6 9 - 1 6 11 -
menit

Keterangan :
Ap (Apporoach) : Mendekati
Bi (Bite) : Menggigit
Ch (Chase) : Mengejar
Ft (Frontal threat) : Mengancam dari depan
St (Side threat) : Mengancam dari samping
Mc (Mouth-to mouth contact) : Kontak mulut
Fl (Flight) : Melarikan diri
Tf (Tail flagging) : Mengibaskan ekor
Ci (Circle) : Bergerak memutar
Ex (Explore) : Menjelajah
B. Pembahasan

Ikan cupang (Betta sp.) terkenal karena sifatnya yang agresif dan

kebiasaan hidupnya berkelahi dengan sesama jenis, sehingga dinamakan

fighting fish. Warna tubuh ikan ini berwarna-warni, sehingga menjadi daya

tarik para penggemar dan penghobi untuk mengoleksinya. Warna-warna klasik

seperti merah, hijau, biru, abu-abu, dan kombinasinya banyak dijumpai.

Warna-warna baru juga bermunculan dari kuning, putih, jingga, hingga warna-

warna metalik seperti tembaga, platinum, emas dan kombinasinya.

Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum perilaku agonistik pada

ikan cupang (Betta sp.), bahwa pengamatan menggunakan dua jenis ekor ikan

cupang (Betta sp.) yaitu berwarna merah dan biru. Pengamatan agonistik ikan

cupang (Betta sp.) menggunakan beberapa jenis perlakuan yaitu Ap

(Apporoach), Bi (Bite), Ch (Chase), Ft (Frontal threat), St (Side threat), Mc

(Mouth-to mouth contact) , Fl (Flight), Tf (Tail flagging), Ci (Circle) dan Ex

(Explore). Pengamatan pertama yaitu Tingkah Laku Morfologi Individu Ikan

Cupang (Betta sp.). Pengamatan morfologi pada Ikan cupang (Betta sp.) yaitu

ikan yang memiliki banyak bentuk (Polymorphisme), seperti ekor bertipe

mahkota/serit (crown tail), ekor setengah bulan/lingkaran (half moon), ekor

pendek (plakat) dan ekor tipe lilin/selendang (slayer) dengan sirip panjang dan

berwarna-warni. Keindahan bentuk sirip dan warna sangat menentukan nilai

estetika dan nilai komersial ikan hias cupang. Cupang jantan dapat dibedakan

dari warnanya yang cerah dan menarik, bentuk perut ramping, serta sirip ekor

dan sirip anal panjang. Sementara cupang betina berwarna kurang menarik,
bentuk perut gemuk serta sirip ekor dan sirip anal pendek. Menurut Zairin

(2002), menyatakan bahwa penampakan warna pada ikan dipengaruhi oleh

beberapa faktor yaitu jenis kelamin, kematangan gonad, genetik dan faktor

geografi. Sebagaimana telah diketahui bahwa pola pigmen merupakan

karakter fenotipe yang selalu diturunkan dari induk pada turunannya. Selain

faktor gen sebagai pengontrol pola pigmen, lingkungan juga mempengaruhi

fisiologi sel pigmen yang mendorong perubahan formasi pola pigmen yang

muncul.

Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh dimana pengamatan

morfologi dengan menggunakan waktu selama 10 menit, perlakuan yang

terjadi pada ikan A yaitu Ap (Apporoach) sebanyak 14 kali dan 12 kali pada

ikan B , Ft (Frontal threat) sebanyak 5 kali, Mc (Mouth-to mouth contact)

sebanyak 9 kali dan 31 pada ikan B, Tf (Tail flagging) sebanyak 7 kali dan 18

kali pada ikan B, Ci (Circle) sebanyak 4 kali dan 13 kali pada ikan B.

Pengamatan yang kedua yaitu pada pengamatan Perkelahian Antar Individu

Ikan Cupang (Betta sp.) dimana menggunakan dua jenis individu ikan cupang

(Betta sp.) dengan waktu 10 menit. Banyaknya perlakuan yang terjadi yaitu

Ap (Apporoach) sebanyak 4 kali pada ikan A dan 2 kali pada ikan B, Bi (Bite)

sebanyak 11 kali pada ikan A dan 9 kali pada ikan B, Ch (Chase) sebanyak 1

kali pada ikan A, Ft (Frontal threat) sebanyak 4 kali pada ikan A dan 6 kali

pada ikan B, St (Side threat) sebanyak 10 kali pada ikan A dan 9 kali pada

ikan B, Fl (Flight) sebanyak 1 kali pada ikan A dan 1 kali pada ikan B, Tf

(Tail flagging) sebanyak 7 kali pada ikan A dan 6 kali pada ikan B, Ci (Circle)
sebanyak 10 kali dan 11 kali pada ikan B. Pengamatan tingkah laku

perkelahian pada ikan cupang (Betta sp.), menurut Perkasa dan Hendry

(2002), menyatakan bahwa salah satu sifat yang terkenal dari ikan cupang adalah

berkelahi satu sama lainnya untuk mempertahankan wilayahnya. Sifat agresifnya

menjadi daya tarik tersendiri bagi seseorang untuk menyukai ikan ini. Saat

bereproduksi ikan cupang memiliki perilaku yang unik, yaitu menari. Ketika

bertelur, betina akan mendekati sarang dan memiringkan badannya untuk dijepit

oleh jantan dengan meliukkan tubuhnya agar jantan bisa menyemprotkan

spermanya ke telur-telur tersebut.


V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan perilaku agonistik ikan cupang (Betta sp.)

bahwa perilaku agonistik pada ikan cupang (Betta sp.) yaitu merupakan salah

satu bentuk konflik yang menunjukkan perilaku atau postur tubuh atau

penampilan yang khas (Display) yang melibatkan mengancam (Threat),

perkelahian (Fighting), melarikan diri (Escaping) dan diam (Freezing) antar

individu dalam populasi atau antarpopulasi. Perilaku agonistik salah satunya

adalah berkelahi satu sama lainnya untuk mempertahankan wilayahnya,

dimana sifat agresifnya menjadi daya tarik tersendiri.

B. Saran

Saran yang dapat diajukan pada praktikum ini adalah sebaiknya

seluruh praktikan melakukan pengamatan dan dapat menjaga ketenangan pada

saat praktikum.