Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Seorang guru memiliki memiliki kebebasan dan menjadi suatu hak
untuknya meningkatkan empat kemampuan dasar yang dimilikinya seperti
kemampuan pengetahuan, profesional, sikap dan keterampilannya. Dalam diri
seorang guru masing-masing memiliki potensi yang sangat baik sehingga harus
dikembangkan semaksimal mungkin. Guru menjadi ujung tombak penentu
keberhasilan pendidikan. Hal ini dapat dilihat seperti yang dikemukakan oleh
Danim (2012:44) dalam Mardhiah dkk (2014) “Guru bermakna sebagai pendidik
profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada jalur
pendidikan formal. Tugas utama itu akan efektif jika guru memiliki derajat
profesionalitas tertentu yang terjermin dari kompetensi, kemahiran, kecakapan,
atau keterampilan yang memenuhi standar mutu atau norma etik tetentu.”
Artinya bahwa seorang guru diharapkan mengembangkan kemampuan yang
dimilikinya agar dapat dikatakan profesional.

Tetapi pada kenyataannya, saat guru ingin meningkatkan dan


mengembangkan kemampuan yang dimilikinya ini, seorang guru sering kali
mengahadapi hambatan seperti kesulitan yang tidak terduga dan terkadang tidak
bisa diselesaikan sendiri. Masalah tersebut dapat muncul karena faktor internal
dalam diri guru tersebut ataupun faktor eksternal seperti kondisi siswa, kondisi
sekolah serta ketersediaan sarana dan prasarana penunjang pembelajaran. Hal
inilah yang memerlukan bimbingan dan bantuan dari seseorang yang
berkompeten untuk membimbing seperti kepala sekolah, guru senior yang
berkompeten ataupun pengawas. Proses pengawasan dan bimbingan ini sering
disebut sebagai supervisi. Supervisi menurut Boardman dalam Daryanto (2006)
adalah suatu usaha menstimulir, mengkoordinir dan membimbing secara kontinu

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 1


pertumbuhan guru-guru sekolah, baik secara individual maupun secara secara
kolektif, agar lebih mengerti, dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi
pengajaran, sehingga dengan demikian mereka mampu dan lebih cakap
bepartisipasi dalam masyarakat demokrasi modern. Dari pengertian diatas dapat
dilihat bahwa supervisi mampu membantu seorang guru dalam mengembangkan
kemampuannya. Supervisi juga dapat dijadikan penilaian terhadap kinerja guru
dan supervisi juga dilakukan secara berkesinambungan serta sistematis.

Dari latar belakang diatas, penulis jadikan dasar dari penyusunan makalah
ini agar nantinya calon-calon guru maupun yang sudah menjadi guru menjadi
lebih baik lagi dalam mengembangkan kemampuannya.

1.2. Rumusan Masalah


1.2.1. Bagaimanakah konsep supervisi?
1.2.2. Apa sajakah tujuan dari supervisi?
1.2.3. Apa sajakah manfaat supervisi?
1.2.4. Apa sajakah jenis supervisi?
1.2.5. Bagaimanakah pendekatan dalam supervisi?
1.2.6. Bagaimanakah strategi dalam supervisi?
1.2.7. Apa sajakah metode dalam supervisi?
1.2.8. Bagaimanakah pembuatan format analisis masalah supervisi?
1.3. Tujuan
1.3.1. Untuk mengetahui konsep supervisi.
1.3.2. Untuk mengetahui tujuan dari supervisi.
1.3.3. Untuk mengetahui manfaat dari supervisi.
1.3.4. Untuk mengetahui jenis supervisi.
1.3.5. Untuk mengetahui pendekatan dalam supervisi.
1.3.6. Untuk mengetahui strategi dalam supervisi.
1.3.7. Untuk mengetahui metode dalam supervisi.
1.3.8. Untuk mengetahui pembuatan format analisis masalah supervisi.

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 2


BAB II
ISI
2.1. Konsep Supervisi
2.1.1. Pengertian Supervisi
Secara etimologis, menurut Ametembun (1993:1) dalam Metode
dan Teknik Supervisi menyebutkan bahwa supervisi dilihat dari bentuk
perkataannya, terdiri dari dua buah kata super + vision : Super = atas,
lebih dan Vision = lihat, tilik, awasi (Direktorat tenaga kependidikan:
2008). Artinya bahwa supervisi merupakan suatu proses melihat, menilik
dan mengawasi yang dilakukan oleh seseorang yang diberi wewenang
khusus dengan jabatan lebih tinggi daripada orang-orang yang diawasi.
Sedangkan menurut Pidarta (1992) dalam Jurnal yang ditulis Imam
Setiyono Supervisi merupakan kegatan membina dan membimbing guru
agar bekerja dengan betul dalam mendidik dan mengajar siswanya. Dan
menurut Mc.Nerney supervisi adalah prosedur memberi arah serta
mengadakan penilaian secara kritis terhadap proses pengajaran (Suwardie
dan Junaidin, 2012). Kimbal Wiles juga mengartikan supervisi adalah
bantuan dalam mengembangkan situasi belajar mengajar secara lebih baik.
Dalam Suwardie dan Junaidin (2012), Azwar (1996) memberi pengertian
supervisi adalah melakukan pengamatan secara langsung dan berkala oleh
atasan terhadap pekerjaan yang dilaksanakan oleh bawahan untuk
kemudian dtemukan masalah, segera diberikan petunjuk atau bantuan
yang bersifat langsung guna mengatasinya.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
pengertian supervisi merupakan serangkaian tugas yang dilakukan oleh
kepala sekolah atau pengawas dalam mengidentifikasi, memperbaiki,
mengembangkan, membimbing, membina, membantu dan menilai
masalah-masalah yang dihadapi oleh guru agar mutu serta kegiatan belajar

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 3


mengajar menjadi lebih baik dan optimal serta pencapaian tujuan
pendidikan dapat berjalan lancar.
Garis besar pengertian supervisi adalah pengawasan serta
bimbingan untuk meningkatkan kinerja seseorang menjadi lebih baik.
2.1.2. Ciri-ciri Supervisi
Dari beberapa pengertian diatas, dapat diketahui ciri-ciri supervisi yaitu:
a. Adanya proses penelitian (Research)
b. Adanya proses penilaian (Evaluation)
c. Adanya proses perbaikan (Improvement)
d. Adanya proses pemberian bantuan (Assistence)
e. Adanya kerjasama (Cooperation)
f. Adanya interaksi antara dua orang atau kelompok
g. Prosesnya berkelanjutan dan teratur
2.1.3. Ruang Lingkup Supervisi
Yang dapat menjadi objek dari supervisi adalah sebagai berikut:
a. Unsur Personal
 Kepala Sekolah
Hal-hal yang dapat disupervisi terhadap kepala sekolah adalah
maslaah mengenai proses pengajaran, program pengajaran di
sekolah, kepemimpina kepala sekolah, kerja sama antar sekolah
dengan sekolah lain, kebijakan sekolah dna bimbingan sekolah.
 Pegawai Tata Usaha
Hal-hal yang perlu disupervisi terhadap tata usaha adalah masalah-
masalah mengenai keseluruhan informasi sekolah.
 Guru
Hal-hal yang perlu dapat disupervisi terhadap guru adalah berkaitan
dengan peningkatan profesionalitasnya dalam profesinya seperti
kegiatan belajar mengajarnya.

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 4


 Siswa
Hal-hal yang dapat disupervisi terhdap siswa yaitu mengenai
bagaimana dan apa yang siswa rasakan tentang situasi yang ia dapat
di sekolah serta motivasi belajar siswa.
b. Unsur Material
Berkaitan dengan barang-barang atau peralatan penunjang proses
belajar mengajar apakah sudah lengkap atau belum. Seperti buku,
perpustakaan dan laboratorium. Kemudian perawatan serta pengelolaan
barang-barang tersebut.
c. Unsur Operasional
Hal-hal yang bisa di supervisi dari unsur operasional suatu lembaga
atau sekolah adalah:
 Masalah yang berkaitan dengan teknik edukatif seperti kurikulum,
susunan satuan pelajaran, penyediaan sumber belajar dan penilaian
hasil belajar.
 Masalah yang berkaitan dengan teknk administrasi (administrasi
personal, administrasi material, administrasi kurikulum, dan
sebagainya)
 Masalah yang berkaitan dengan koordinasi dan kerjasama seperti
hubungan sekolah sengan warga di luar sekolah (masyarakat,
lembaga swadaya masyarakat, organisasi kepemudaan, instansi
pemerintahan terkait).
2.2. Tujuan Supervisi
Setelah memahami konsep supervisi, maka selanjutnya tujuan dari
supervisi itu akan terlihat. Dan pada dasarnya, tujuan utama dari supervisi adalah
untuk meningkatkan kinerja seorang guru agar lebih baik dalam melaksanakan
pengajaran secara efektif dan efisien. Dalam Suwardie dan Junaidin (2012) juga
ditegaskan tujuan dari supervisi adalah untuk meningkatkan situasi dan proses

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 5


belajar mengajar dalam rangka tujuan pendidikan nasional dengan membantu
guru-guru untuk lebih memahami mutu, pertumbuhan dan peranan sekolah untuk
mencapai tujuan yang dimaksud. Tujuan dari supervisi juga untuk meningkatkan
keefektifan dari kurikulum serta pengelolaan sarana dan prasarana dapat
digunakan secara efektif dan efisien sehingga akan menciptakan situasi kerja
yang optimal yang mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. Tujuan
supervisi menurut Hariwung (1989) dalam Suryani (2015) adalah sebagai
pengendalian kualitas, pengembangan profesional dan untuk memotivasi guru.
2.3. Manfaat Supervisi
Dalam Suarli dan Bachtiar (2009) dalam Rahayu (2014) manfaat dari
supervisi adalah:
1. Supervisi dapat meningkatkan efektifitas kerja. Peningkatan efektifitas kerja
ini maksudnya adalah peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang
dimiliki seorang bawahan, serta terciptanya suasanya kerjasama yang baik
antara pemimpin dan bawahan.
2. Supervisi dapat lebih meningkatkan efisiensi kerja. Maksudnya adalah
berkurangnya kesalahan yang dilakukan bawahan sehingga pemakaian sumber
daya (tenaga, harta dan sarana) yang sia-sia mampu dicegah.
Selain manfaat dari supervisi secara umum, supervisi pendidikan
bermanfaat untuk memperoleh gambaran yang jelas dan objektif mengenai
situasi pendidikan yang terjadi pada suatu lembaga atau sekolah. Mulai dari
kegiatan apa yang sudah dan yang belum sesuai dengan tujuan, kinerja guru dan
petugas sekolah, buku-buku yang digunakan sesuai atau tidak, kelemahan
kurikulum, serta mutu proses belajar mengajar. Sehingga setelah mengetahui
semua itu, dapat dibuatkan skala prioritas penyelesaian masalah kemudian dapat
memertahankan dan membina sesuatu yang sudah baik. Selain itu, supervisi
mampu meningkatkan profesionalisme guru.

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 6


2.4. Jenis Supervisi
Dalam buku karangan Ngalim Purwanto (2005) mengemukakan jenis-
jenis supervisi yaitu supervisi umum dan pengajaran, supervisi klinis serta
pengawasan melekat dan pengawasan fungsional. Penjelasan dari ketiga jenis
supervisi adalah sebagai berikut:
1. Supervisi umum dan Supervisi pengajaran
Supervisi umum merupakan suatu supervisi yang dilakukan terhadap kegiatan
atau kondisi yang bersifat material yang tidak langsung berperan dalam
menunjang pengajaran. Misalnya, supervisi terhadap kegiatan pengelolaan
bangunan, dan perlengkapan sekolah, pengelolaan uang sekolah dan
pengelolaan administrasi sekolah.
Sedangkan yang dimaksud dengan supervisi pengajaran merupakan supervisi
yang dilakukan terhadap kondisi-kondisi yang bersifat personal maupun
material yang berperan dalam menunjang pengajaran yang lebih baik agar
tujuan pendidikan dapat tercapai
2. Supervisi klinis
Supervisi klinis merupakan bagian dari supervisi pengajaran. Supervisi klinis
adalah supervisi yang dilakukan untuk mencari alasan dan kekurangan yang
terjadi di dalam proses belajar mengajar untuk kemudian dicarikan cara
penyelesaian kekurangan tersebut secara langsung. Supervisi klinis dilakukan
dengan cara supervisor mengidentifikasi kelemahan pada seorang guru
kemudian supervisor mengajak guru tersebut untuk berdiskusi untuk
mengungkapkan kelemahan dan kelebihan guru tersebut dan memberitahu
cara untuk memperbaiki kelemahan tersebut. Dapat dilihat proses tersebut
sejalan dengan yang diungkapkan tiga tokoh yaitu Richard Waller, Keith
Acheson dan Meredith D. Gall dalam Purwanto (2005) bahwa “Supervisi
klinis adalah suatu model supervisi yang terdiri atas tiga fase, yaitu : (1)
pertemuan perencanaan, (2) observasi kelas, dan (3) pertemuan balik.”

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 7


3. Pengawasan Melekat dan Pengawasan Fungsional
Pengawasan melekat merupakan suatu pengawasan yang memang sudah
menjadi tugas dan tanggung jawab semua pimpinan dari tingkat atas hingga
tingkat bawah dari semua organisasi atau lembaga. Misalnya pimpinan dari
tingkat atas sampai bawah masing-masing unit kerja di departemen
pendidikan dan kebudayaan.
Sedangkan yang dimaksud dengan pengawasan fungsional adalah pengawasan
yang dilakukan oleh seseorang yang memiliki jabatan sebagai pengawas.
Misalnya pengawas bidang pendidikan menengah, pengawas bidang
pendidikan guru dan tenaga teknis.
2.5. Pendekatan Supervisi
Terdapat beberapa pendapat mengenai pendekatan yang dapat digunakan
dalam supervisi. Dalam Wahyudi (2012) dijelaskan mengenai 4 pendekatan yang
dapat digunakan dalam supervisi, diantaranya adalah:
1. Pendekatan Kolegial
Pendekatan kolegial merupakan pendekatan yang bersifat formal moderat,
artinya dua orang guru atau lebih bekerjasama untuk perkembangan
profesional guru. Pendekatan ini dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu
pertemuan antar guru dengan membahas suatu topik yang mampu memajukan
pendidikan di suatu sekolah. Kemudian dapat juga dilakukan dengan
workshops, yaitu penyelesaian suatu masalah dengan diskusi dan bekerja
secara kelompok yang dilakukan oleh pihak terkait di sekolah seperti kepala
sekolah, pengawas dan guru. Dan cara lainnya adalah dengan observasi
sesama guru di kelas, artinya dua orang guru atau lebih berganti-gantian
mengajar, sedang teman yang lain menilai cara guru mengajar.
2. Pendekatan Individual
Pendekatan individual merupakan pendekatan yang memberikan kesempatan
guru untuk bekerja secara individual untuk mengatasi masalah-maslaah
profesionalnya. Pengawas atau kepala sekolah menekankan tanggung jawab

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 8


pribadi guru terhadap profesionalitasnya. Guru melakukan diskusi setelah
memberikan rancangan pembelajaran diawal semester kemudian pada akhir
semester guru mengungkapkan kendala yang dihadapi selama melaksanakan
program pembelajaran kepada kepala sekolah atau pengawas.
3. Pendekatan Klinis
Pendekatan klinis merupakan pendekatan yang hanya berfokus pada
peningkatan pembelajaran melalui suatu siklus dan tahapan yang terstruktur
dalam suatu perencanaan, pengamatan serta analisis yang logis dan intensif
mengenai car amengajar yang sesungguhnya dalam mengadakan perubahan
dengan cara yang rasional.
4. Pendekatan Artistik
Pendekatan artistic merupakan pendekatan dengan memberikan pelayanan
bantuan kepada guru-guru secara indvidu maupun kelompok untuk
memperbaiki pengajaran serta program kurikulum dan menuntut adanya
kreatifitas, intuisi, kecerdikan dan keterampilan seorang supervisor dalam
suatu kegiatan supervisi yang belum disepakati secara tertulis dalam rangka
meningkatkan mutu pendidikan.
Dalam sumber lain disebutkan pendekatan lain seperti pendekatan
direktif, pendekatan non-direktif dan pendekatan kolaboratif.
1. Pendekatan Direktif (langsung)
Pendekatan direktif merupakan pendekatan yang dilakukan dengan
memberikan pengarahan secara langsung terhadap suatu masalah yang
bersifat langsung sehingga guru yang menghadapi masalah tersebut dapat
langsung bereaksi. Supervisor disini menjadi penentu perbaikan pada guru
sehingga ia harus kreatif, aktif dan inovatif dalam memberikan pengarahan
sehingga guru tidak merasa di perintah dalam memperbaiki pengajarannya.
Pendekatan ini dilakukan dengan menjelaskan serta menyajikan kekurangan
yang dihadapi guru kemudian mengarahkan langkah yang dapat dilakukan,

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 9


selanjutnya diberikan contoh dan kemudian ditetapkan tolak ukur sebagai
penilaian setelah itu diadakan penguatan.
2. Pendekatan Non-Direktif (tidak langsung)
Pendekatan ini merupakan pendekatan yang dilakukan dengan cara supervisor
mendengarkan sebanyak mungkin permasalahan yang diungkapkan oleh guru.
Biasanya dalam menggunakan pendekatan ini adalah terhadap permasalahan-
permasalahan yang bersifat tidak langsung. Supervisor berperan memberikan
dorongan dan semangat, dan guru lah yang menentukan perubahan perbaikan
yang ada pada dirinya. Pendekatan dilakukan dengan mendengarkan
permasalahan, memberi penguatan kemuadian menjelaskan setelah itu
memecahkan masalah yang ada. Pendekatan ini biasa dilakukan terhadap guru
yang profesional.
3. Pendekatan Kolaboratif
Pendekatan ini merupakan campuran dari pendekatan direktif dan non-
direktif. Pendekatan ini dilakukan secara bersama-sama antara guru dan
supervisor membuat kesepakatan untuk menetapkan struktur, proses serta
kriteria dalam proses diskusi mengenai masalah yang dihadapi serta
meningkatkan pengajarannya. Dalam pendekatan ini, supervisor dan guru
sama-sama berperan aktif, guru memberikan masalah dan supervisor
membimbing untuk menyelesaikan masalah. Keduanya harus saling
mendukung untuk menentukan perbaikan dan pengembangan kemampuan
kreativitas guru.
2.6. Strategi Supervisi
Strategi merupakan cara yang digunakan sebagai usaha yang dilakukan
untuk mencapai sasaran tujuan yang telah ditentukan. Dalam supervisi
pendidikan, yang dimaksud dengan strategi supervisi merupakan cara yang
digunakan oleh seorang supervisor saat mensupervisi seorang guru. Dan pada
dasarnya, terdapat strategi dasar yang digunakan oleh supervisor saat
mensupervisi, diantaranya adalah sebagai berikut:

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 10


1. Supervisor mengidentifikasi pelaksaan tugas dari kepala sekolah atau guru
dengan cara meneliti dan mengamati
2. Supervisor menentukan pelaksanaan tugas yang dilakukan oleh kepala
sekolah atau guru sudah baik atau masih kurang
3. Supervisor mengadakan perbaikan terhadap hal-hal yang dianggap kurang
sesuai dengan harapan yang ditentukan supervisor
4. Supervisor memberikan bantuan kepada kepala sekolah atau guru untuk
mengadakan perbaikan pada pelaksanaan tugasnya yang masih kurang
5. Supervisor bersama dengan kepala sekolah serta guru menciptakan kerjasama
yang baik unruk menciptakan situasi belajar yang baik sesuai dengan yang
diharapkan
Kelima strategi tersebut jika dilaksanakan dengan tepat akan membuat
supervisi berjalan dengan lancar.
2.7. Metode Supervisi
Metode dalam supervisi merupakan suatu cara yang dilakukan oleh
pengawas atau kepala sekolah guna menyusun tujuan yang ingin dicapai baik
secara individu maupun kelompok. Pada dasarnya metode observasi dilakukan
dengan wawancara dan observasi. Namun, dari sumber yang penulis dapatkan
disebutkan beberapa metode yang dapat digunakan dalam supervisi. Metode
supervisi dibagi atas metode yang digunakan secara individual dan kelompok.
Metode supervisi individual adalah sebagai berikut:
1. Metode Observasi
Metode yang dilakukan dengan cara merekam (mendapatkan) informasi
secara langsung dalam kegiatan belajar-mengajar. Pada metode ini, pengawas
langsung mengawasi di dalam kelas terkadang dari luar kelas. Metode ini
bertujuan untuk melihat sejauh mana keberhasilan seorang guru dalam
mengajar.

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 11


2. Metode Pertemuan Individu
Metode ini dilaksanakan setelah observasi, hal ini diharapkan dapat
menciptakan hubungan yang baik antara supervisor dengan guru. Tujuan dari
pertemuan individu ini adalah dapat menganalisa hambatan-hambatan yang
muncul dari diri guru itu sendiri atau dari faktor lain. Metode ini biasanya
dilakukan oleh seorang supervisor yang sudah memiliki pengalaman yang
banyak serta memiliki kompetensi yang baik.
3. Metode Kunjungan Antar Guru
Metode dilakukan oleh sesama sengan bimbingan pengawas, metode ini
merupakan metode inisiatif antar guru. Sekelompok guru bertukar
pengalaman dalam suatu forum. Metode ini diharapkan mampu meningkatkan
sikap, keterampilan serta pengetahuan guru. Metode ini biasanya disenangi
dan diminati oleh guru karena dengan adanya sharing dengan suasana yang
nyaman mampu menumbuhkan pola kerja yang menyenangkan untuk
berbagai pihak.
4. Metode Evaluasi Diri
Metode ini dilakukan dengan cara seorang supervisor memberi dorongan dan
motivasi kepada guru untuk menilai bagaimana pengajaran yang dilakukannya
sendiri. Metode ini pada dasarnya untuk menumbuhkan serta
mengembangkan potensi yang ada pada diri seorang guru secara akurat.
Dengan penerapan metode ini diharapkan guru mampu membangkitkan
keberanian pada dirinya. Namun, kelemahan dari metode ini adalah kesulitan
yang dihadapi akan kembali pada sejauh mana masih-masing individu
memiliki kesadaran diri.
5. Metode Supervisi Bulletin
Metode ini dilakukan dengan memusatkan perhatian terhadap hasil belajar
berdasarkan keseluruhan. Tujuan dari metode yaitu untuk menciptakan
komunikasi internal dan bersifat pengembangan staf. Dengan metode ini, guru
dapat mengoptimalisasikan media cetak bagi pendidikan.

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 12


6. Metode Bacaan Profesional
Membaca juga dapat digunakan sebagai metode dalam mensupervisi. Artinya
supervisi menggunakan metode ini dilakukan dengan melihat sejauh mana
pengalaman individual yang di supervisi melalui bacaan yang pernah di baca.
Dengan menggunakan metode ini diharapkan seorang yang di supervisi
mampu menggali potensi dirinya secara akurat. Namun, pada kenyataannya
sumber bacaan yang disediakan di sekolah sangat kurang sehingga
menghambar supervisor jika ingin menerapkan metode ini.
7. Metode Menulis Porfesional
Supervisi juga dapat dilakukan dengan menilai karya tulis ilmiah seorang
guru. Menulis mampu mengoptimalkan potensi diri yang dimiliki oleh guru.
Metode ini mampu meningkatkan kemandirian profesional. Namun,
kelemahan dari metode ini adalah kurangnya rasa percaya diri pada seorang
guru serta kurangnya media yang mampu mendukung penulisan ilmiah.
Selain metode supervisi secara individual, terdapat juga supervisi secara
kelompok, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Metode Rapat Sekolah
Metode ini dilakukan dengan adanya diskusi bersama untuk merencanakan
visi, misi, orientasi serta strategi sekolah. Metode ini bertujuan untuk
memperbaiki kualitas personil staf dan program sekolah. Metode ini
dilakukan berkala untuk memperhatikan kualitas efektifitas dan efisiensi.
2. Metode Orientasi Guru Baru
Metode ini dilakukan dengan bertukar pengalaman antara guru lama dengan
guru baru. Sehingga guru baru mendapat pengalaman baru maupun informasi
mengenai sekolah barunya sehingga akan membantu guru tersebut
menyesuaikan diri dan mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya
untuk sekolah barunya tersebut. Namun, metode ini jarang digunakan karena
kurangnya kesadaran dari guru lama untuk melakukan hal tersebut. Padahal
metode ini sangat membantu guru baru agar saat ada supervisi saat guru

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 13


tersebut baru mengajar, guru tersebut mampu memberikan performan yang
baik.
3. Metode Laboratorium Kurikulum
Metode ini dilakukan dengan mendiskusikan apa kelebihan atau kekurangan
suatu kurikulum yang diterapkan sehingga metode ini dapat membantu guru
untuk mengembangkan maupun memperbaiki kurikulum. Metode ini baru
dicoba oleh sekolah-sekolah yang sudah terakreditasi unggul.
4. Metode Panitia
Metode ini dilakukan dengan memberikan tugas kepada kepanitian sekolah
untuk mencari cara memecahkan masalah-masalah khusus. Metode ini juga
mampu mendorong keberanian dan memberikan kesempatan kepada
seseorang agar memiliki pengalaman profesional. Namun kelemahan dari
metode ini adalah kecenderungan dari individu untuk saling melempar tugas
yang sudah diberikan kepadanya.
5. Metode Perpustakaan Profesional
Metode ini dilakukan dengan menilai kompetensi profesional seorang guru.
Sehingga dengan menerapkan metode ini supervisor dapat memberikan
bantuan dalam peningkatan kompetensi profesional. Tujuan dari metode ini
adalah untuk meningkatkan pengetahuan yang dimiliki seorang guru. Metode
ini diharapkan mampu membentuk kebiasaan yang harus dilaksanakan oleh
guru sedini mungkin.
6. Metode Demonstrasi Mengajar
Metode ini dilakukan dengan memberikan penilaian terhadap metode yang
digunakan guru dalam mengajar. Tujuan dari metode ini adalah untuk
membantu mengembangkan pengajaran yang efektif. Namun metode ini
jarang digunakan karena motivasi dalam diri serta kepercayaan diri yang
kurang.

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 14


7. Metode Lokakarya
Metode ini dilakukan dengan diskusi dan kunjungan misalnya kunjungan ke
perpustakaan atau alam. Sehingga para guru akan merasa nyaman dan senang.
Dengan kondisi hati yang bahagia itu diharapkan guru lebih terbuka dalam
diskusi mengenai masalah-masalah yang dihadapi para guru dan dapat
dicarikan pemecahan masalahnya bersama tanpa ada ketegangan. Tetapi
kekurangan dari metode ini adalah membutuhkan biaya yang banyak.
8. Metode Fiels Trips for Staff Personnels
Metode ini dilakukan dengan memberikan penilaian berdasarkan kinerja staf
pada suatu sekolah. Staf diberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi
yang dimilikinya. Metode ini dilakukan dengan mempertimbangkan teknik
supervisi yang ditentukan oleh kebutuhan staf. Metode ini memerlukan tidak
lanjut yaitu sistem evaluasi yang memadai.
9. Metode Diskusi Panel
Metode ini dilakukan dengan cara berdiskusi dengan beberapa kelompok guru
atau beberapa orang guru dalam satu waktu. Setiap orang memberikan
masalah-masalah yang dihadapi selama pengajaran, setelah semua
memaparkan masalahnya, barulah bersama-sama dibahas mulai dari masalah
pertama hingga terakhir solusi penyelesaiannya seperti apa. Metode ini
mampu memperkaya ide seorang guru dalam menyelesaikan masalah
dikemudian hari. Pengetahuan, keterampilan serta berfikir kritis juga sangat
diperlukan disini. Metode ini membutuhkan biaya yang sangat besar.
10. Metode In Service Training
Metode ini dilakukan dengan memberikan pelayanan pelatihan kepada guru.
Pelayanan pelatihan ini diberikan selama guru itu aktif dalam pekerjaannya.
Metode ini bertujuan untuk pemenuhan kebutuhan tenaga profesional. Hal
yang harus diperhatikan jika menggunakan metode ini adalah strategi yang
memadai.

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 15


11. Metode Organisasi Profesi
Metode ini dilakukan dengan berdiskusi pada suatu organiasi yang khusus
memiliki profesi yang sama. Sehingga metode ini memberikan kebebasan
pada individu guru untuk menentukan kebutuhannya apakah akan bergabung
menjadi anggota dari organiasi tersebut atau tidak. Metode ini bertujuan
untuk meningkatkan tanggung jawab serta kesadaran guru.
Metode dalam melaksanakan supervisi tidak bisa hanya menggunakan
satu metode saja tetapi harus menggunakan dua atau lebih metode agar hasil
supervisi maksimal.
2.8. Pembuatan Format Analisis Masalah Supervisi
Langkah pertama seorang supervisor saat mensupervisi seorang guru
adalah membuat kesepakatan mengenai hal yang akan di observasi. Kemudian
memberikan jadwal supervisi. Saat observasi, supervisor mengawali dengan
mensupervisi administrasi perencanaan pembelajaran dengan menggunakan
angket yang berformat seperti pada lembar selanjutnya.

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 16


SUPERVISI ADMINISTRASI PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Identitas Sekolah :
Nama Guru :
Pangkat dan Golongan :
Masa Kerja :
Mata Pelajaran Yang diampu :
Sertifikasi : Sudah/Belum*)
Tahun Sertifikasi :
Komponen Kondisi Skor Perolehan
No Perencanaan Keterangan
pembelajaran Ya Tidak 4 3 2 1
1 Kalender Pendidikan
Distribusi Alokasi
2
Waktu
3 Pemetaan KI, KD
4 Program Tahunan
5 Program Semester
6 Silabus
7 RPP 4 = Baik Sekali
8 Jadwal Tatap Muka 3 = Baik
9 Agenda Harian 2 = Cukup
10 Daftar Nilai 1 = Kurang
11 KKM
12 Absensi Siswa
Analisis Ulangan
13
Harian
14 Kisi-kisi soal
15 Bank Soal
16 Problematika Siswa
Jumlah Skor
Keterangan:
𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑃𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛
Nilai Akhir = 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑀𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 × 100
Ketercapaian:
86% - 100% = Baik Sekali
Nilai Akhir:
70% - 85% = Baik
55% - 69% = Cukup
≤ 55% = Kurang

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 17


Tidak Lanjut:

Mataram,…………………
Mengetahui:
Supervisor, Guru Mata Pelajaran,

Nip. Nip.
Setelah mensupervisi administrasi pelaksanaan pembelajaran pada saat awal
pelajaran, maka selanjutnya supervisor mensupervisi proses belajar mengajar yang
dilakukan oleh guru. Penilaian oleh supervisor dilakukan dengan menggunakan
instrument penilaian pelaksanaan pembelajaran berbasis kurikulum yang diterapkan
di sekolah tersebut. Contohnya seperti berikut ini.

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 18


INSTRUMEN PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
KURIKULUM 2013
Identitas Sekolah :
Nama Guru :
Mata Pelajaran/Tema :
ASPEK YANG DIAMATI YA TIDAK CATATAN
Kegiatan pendahuluan
Apersepsi dan Motivasi
Mengaitkan materi
pembelajaran sekarang
1 dengan pengalaman peserta
didik atau pembelajaran
sebelumnya.
2 Mengajukan pertanyaan
menantang
3 Menyampaikan manfaat
materi pembelajaran
4 Mendemonstrasikan sesuatu
yang terkait dengan tema
Pencapaian Kompetensi dan
Rencana Kegiatan
Menyampaikan kemampuan
1 yang akan dicapai peserta
didik
Menyampaikan rencana
2 kegiatan misalnya, individual,
kerja kelompok dan
melakukan observasi
Kegiatan inti
Penguasaan materi pelajaran
1 Kemampuan menyesuaikan
dengan tujuan pembelajaran
Kemampuan mengaitkan
materi dengan pengetahuan
2 lain yang relevan,
Perkembangan IPTEK dan
kehidupan

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 19


Menyajikan pembahasan
3 materi pembelajaran dengan
tepat
Menyajikan materi secara
4 sistematis (mudah ke sulit,
dari konkrit ke abstrak)
Penerapan Strategi Pembelajaran
yang Mendidik
Melaksanakan pembelajaran
1 sesuai kompetensi yang akan
dicapai
Memfasilitasi kegiatan yang
memuat komponen
2
eksplorasi, elaborasi dan
konfirmasi
3 Melaksanakan pembelajaran
secara runtut
4 Menguasai kelas
5 Melaksanakan pembelajaran
yang bersifat konstektual
Melaksanakan pembelajaran
6 yang memungkinkan
tumbuhnya kebiasaan positif
Melaksanakan pembelajaran
7 sesuai dengan alokasi waktu
yang direncanakan
Penerapan pendekatan Scientific
1 Memberikan pertanyaan
mengapa dan bagaimana
2 Memancing peserta didik
untuk bertanya
3 Memfasilitasi peserta didik
untuk mencoba
4 Memfasilitasi peserta didik
untuk mengamati
5 Memfasilitasi peserta didik
untuk menganalisis

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 20


Memberikan pertanyaan
6 peserta didik untuk berfikir
logis dan sistematis
7 Menyajikan kegiatan peserta
didik untuk berkomunikasi
Penerapan pembelajaran tematik
terpadu
1 Menyajikan Pembelajaran
sesuai dengan tema
Menyajikan Pembelajaran
2 dengan mengkaitkan mata
pelajaran lain
Menyajikan pembelajaran
3 yang memuat komponen
karakteristik terpadu
Menyajikan pembelajaran
4 yang bernuansa aktif dan
menyenangkan
Pemanfaatan sumber
belajar/media pembelajaran
Menunjukkan keterampilan
1 dalam penggunaan sumber
belajar
2 Menunjukkan keterampilan
dalam penggunaan media
3 Menghasilkan pembelajaran
yang menarik
Melibatkan peserta didik
4 dalam pemanfaatan sumber
belajar
5 Melibatkan peserta didik
dalam pemanfaatan media
Pelibatan Peserta Didik dalam
Pembelajaran
Menumbuhkan partisipasi
1 aktif peserta didik melalui
interaksi guru, peserta didik,
sumber belajar

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 21


2 Merespon positif partisipasi
peserta didik
3 Menunjukkan sikap terbuka
terhadap respon peserta didik
4 Menunjukkan hubungan antar
pribadi yang kondusif
Menumbuhkan keceriaan atau
5 antusiasme peserta didik
dalam belajar
Penggunaan Bahasa Yang Benar
dan Tepat
1 Menggunakan bahasa lisan
yang jelas dan lancar
2 Menggunakan bahasa tulisan
yang baik dan benar
Kegiatan penutup pembelajaran
Melakukan refleksi atau
1 membuat rangkuman dengan
melibatkan peserta didik
2 Memberikan tes lisan atau
tulisan
3 Mengumpulkan hasil kerja
sebagai bahan portofolio
Melaksanakan tindak lanjut
4 dengan memberikan arahan
kegiatan berikutnya dan
pemberian tugas
JUMLAH
Rumus Penilaian:
𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑃𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛(𝑌𝑎) Nilai Akhir =
Nilai Akhir = × 100
𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑀𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 (44)

Kriteria Nilai
Amat Baik 91 - 100
Baik 81 – 90
Cukup 71 - 80
Kurang ≤ 70

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 22


Mataram,…………………
Mengetahui:
Supervisor, Guru Mata Pelajaran,

Nip. Nip.

Supervisor juga membuat format penilaian dengan melihat empat


kompetensi dasar yang dimiliki guru yang kemudian dijabarkan menjadi empat
belas poin penilaian yang mewakili ke empat kompetensi dasar yang dimiliki
guru. Formatnya dapat dibuat seperti berikut ini.
Format 1
Kompetensi 1 : Mengenal Karakteristik Peserta Didik
Nama Guru :
Nama Penilai :
Sebelum Pengamatan
Tanggal
Dokumen dan Bahan Lain yang
Diperiksa
Tanggapan penilaian terhadap dokumen dan atau keterangan guru:

Tindak lanjut yang diperlukan:
Selama Pengamatan
Tanggal
Dokumen dan Bahan Lain yang
Diperiksa
Kegiatan/aktivitas guru dan peserta didik selama pengamatan:

Tindak Lanjut Yang Diperlukan:
Setelah Pengamatan
Tanggal
Dokumen dan Bahan Lain yang
Diperiksa

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 23


Setelah pengamatan: tanggapan penilai terhadap dokumen dan atau keterangan
guru

Tindak Lanjut Yang Diperlukan:
Pemantauan
Tanggal
Dokumen dan Bahan Lain yang
Diperiksa
Catatan dan tanggapan penilai terhadap dokumen dan atau keterangan guru (catat
kegiatan yang dilakukan):
Format 2
Kompetensi 1 : Mengenal Karakteristik Peserta Didik
Skor
Indikator Tidak Ada Terpenuhi Seluruhnya
Bukti Sebagian Terpenuhi
1. Guru dapat mengidentifikasi karakteristik
belajar setiap peserta didik di kelasnya.
2. Guru memastikan bahwa semua peserta didik
mendapatkan kesempatan yang sama untuk
berpartisipasi aktif dalam kegiatan
pembelajaran.
3. Guru dapat mengatur kelas untuk memberikan
kesempatan belajar yang sama pada semua
peserta didik dengan kelainan fisik dan
kemampuan belajar yang berbeda.
4. Guru mencoba mengetahui penyebab
penyimpangan perilaku peserta didik untuk
mencegah agar perilaku tersebut tidak
merugikan peserta didik lainnya.
5. Guru membantu mengembangkan potensi dan
mengatasi kekurangan peserta didik.
6. Guru memperhatikan peserta didik dengan
kelemahan fisik tertentu agar dapat mengikuti
aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik
tersebut tidak termarginalkan (tersisihkan,
diolok‐olok, minder, dsb)
Total skor
Skor maksimum = jumlah indikator x 2

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 24


Persentase = (total skor/skor maksimum) x 100%
Nilai Kompetensi:
0% < x ≤ 25% = 1
25% < x ≤ 50% = 2
50% < x ≤ 75% = 3
75% < x ≤ 100% = 4

 Contoh pengisian format:


Kompetensi 2 : Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang
mendidik
Nama Guru : Ellysabeth Usmiatiningsih S.Pd., M.Pd.
Nama Penilai : Hj Baiq Harwini S.Pd
Sebelum Pengamatan
Tanggal 05 April 2015
Dokumen dan Bahan Lain yang RPP,LKS, dan Silabus
Diperiksa
Tanggapan penilaian terhadap dokumen dan atau keterangan guru:
 Guru dapat menjelaskan alasan penyusunan langkah-langkah kegiatan dalam
RPP.
 Guru dapat menjelaskan alasan memilih pendekatan, model, metode, media, dan
sumber belajar pada saat KBM dan Guru mengetahui tujuan pembelajaran dan
membuat LKS.
Tindak lanjut yang diperlukan:
Selama Pengamatan
Tanggal 06 April 2015
Dokumen dan Bahan Lain yang Diperiksa RPP, Silabus
Kegiatan/aktivitas guru dan peserta didik selama pengamatan:
 Guru melakukan apersepsi untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi
yang telah dipelajari, memotivasi belajar siswa tentang materi yang akan
dipelajari
 Guru menuliskan tujuan pembelajaran, siswa merumuskan masalah pada
kegiatan yang dilaksanakan. Guru memberikan pertanyaan kepada siswa secara
individu maupun kelompok.
 Guru membimbing siswa dalam mengerjakan tugas praktikum kelompok agar
dapat melakukan eksplorasi.
 Guru meminta setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja
kelompoknya dan kelompok lain menanggapi dengan memberikan kesempatan
pada semua siswa untuk bertanya dan menanggapi pertanyaan.
 Guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan sesuai dengan tujuan

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 25


pelajaran untuk menjawab masalah.
 Guru mengadakan evaluasi terhadap materi yang dipelajari siswa.
 Guru memberi tugas untuk mempelajari materi pada pertemuan selanjutnya.
Tindak Lanjut Yang Diperlukan
Menanyakan kepada guru tentang aktivitas yang berbeda dari rencana yang
tertulis di RPP.
Setelah Pengamatan
Tanggal 06 April 2015
Dokumen dan Bahan Lain yang Diperiksa RPP
Setelah pengamatan: tanggapan penilai terhadap dokumen dan atau keterangan
guru
 Guru dapat menjelaskan alasan menggunakan model pembelajaran 5E
Tindak Lanjut Yang Diperlukan
Pemantauan
Tanggal 07 April 2015
Dokumen dan Bahan Lain yang Diperiksa RPP dan silabus
Catatan dan tanggapan penilai terhadap dokumen dan/atau kekurangan guru
 RPP perlu direvisi sedikit agar lebih sempurna
 KBM berlangsung baik sesuai rencana.

Kompetensi 2 : Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang


mendidik
Skor
Terpenu Seluruh
Tidak
Indikator hi nya
Ada
Sebagia Terpenu
Bukti
n hi
1. Guru memberi kesempatan kepada peserta didik
untuk menguasai materi pembelajaran sesuai usia
0 1 2
dan kemampuan belajarnya melalui pengaturan
proses pembelajaran dan aktivitas yang bervariasi.
2. Guru selalu memastikan tingkat pemahaman peserta
didik terhadap materi pembelajaran tertentu dan
0 1 2
menyesuaikan aktivitas pembelajaran berikutnya
berdasarkan tingkat pemahaman tersebut.
3. Guru dapat menjelaskan alasan pelaksanaan
kegiatan/aktivitas yang dilakukannya, baik yang
0 1 2
sesuai maupun yang berbeda dengan rencana, terkait
keberhasilan pembelajaran.

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 26


4. Guru menggunakan berbagai teknik untuk
0 1 2
memotiviasi kemauan belajar peserta didik.
5. Guru merencanakan kegiatan pembelajaran yang
saling terkait satu sama lain, dengan memperhatikan
0 1 2
tujuan pembelajaran maupun proses belajar peserta
didik.
6. Guru memperhatikan respon peserta didik yang
belum/kurang memahami materi pembelajaran yang
0 1 2
diajarkan dan menggunakannya untuk memperbaiki
rancangan pembelajaran berikutnya.
Total skor
Skor maksimum = jumlah indikator x 2
Persentase = (total skor/skor maksimum) x 100%
Nilai Kompetensi:
(0% < x ≤ 25% = 1; 25% < x ≤ 50% = 2; 50% < x ≤
75% = 3;
75% < x ≤ 100% = 4)

Berikut adalah keempat belas kompetensi yang dijabarkan dari empat


kompetensi dasar guru:
1. Mengenal Karakteristik Peserta Didik
2. Menguasai Teori Belajar dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran yang Mendidik
Indikator yang Dinilai:
3. Pengembangan Kurikulum
4. Kegiatan Pembelajaran Yang Mendidik
5. Memahami dan Mengembangkan Potensi
6. Komunikasi dengan Peserta Didik
7. Penilaian dan Evaluasi
8. Bertindak Sesuai dengan Norma Agama, Hukum, Sosial dan Kebudayaan
Nasional Indonesia
9. Menunjukkan pribadi yang dewasa dan teladan
10. Etos Kerja, Tanggung Jawab yang Tinggi, Rasa Bangga menjadi Guru
11. Bersikap Inklusif, Bertintak Obyektif, serta tidak Diskriminatif

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 27


12. Komunikasi dengan Sesama Guru, Tenan Kependidikan, Orang Tua Peserta
Didik dan Masyarakat
13. Penguasaan Materi Struktur Konsep dan Pola Pikir Keilmuan yang
Mendukung Mata Pelajaran yang Diampu
14. Mengembangkan Keprofesian melalui Tindakan Reflektif
Masing-masing kompetensi dibuatkan format penilaian seperti format 1
dan format 2. Pada format 1 ditulis menggunakan kalimat sesuai dengan apa
yang terjadi di lapangan. Kemudian pada format 2 setiap kompetensi dibuatkan
indikator sebagai acuan penilaian yang ditentukan oleh pengawas atau supervisor
dan diisi menggunakan nilai dengan rentang nilai 1-4 yang telah ditentukan
kemudian dapat terlihat apakah indikator yang ditentukan belum terpenuhi,
terpenuhi sebagaian atau seluruhnya terpenuhi.

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 28


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada pembahasan diatas, didapatkan suatu kesimpulan
bahwa supervisi merupakan proses bantuan dan bimbingan serta penilaian yang
dilakukan oleh supervisor terhadap seorang guru agar kinerjanya menjadi lebih
baik serta tujuan yang ditentukan tercapai dengan optimal. Tujuan dari supervisi
adalah memperbaiki kinerja kerja seorang guru agar menjadi lebih baik. Manfaat
dari supervisi pendidikan adalah memberikan gambaran kepada pemimpin
terhadap kondisi pendidikan saat ini. Jenis-jenis supervisi yaitu supervisi umum
dan pengajaran, supervisi klinis serta pengawasan melekat dan pengawasan
fungsional. Strategi dalam supervisi pendidikan mulai dari identifikasi kemudian
diskusi penyelesaian masalah selanjutnya menerapkannya pada pengajaran harus
dilakukan secara tepat agar supervisi berjalan dengan baik. Metode yang
digunakan dalam supervisi pada dasarnya terdiri dari metode secara individu dan
metode secara kelompok mulai dari wawancara hingga observasi. Pembuatan
format analisis masalah supervisi dilakukan dengan observasi yang dibuatkan
format tertentu agar dapat memudahkan penilaian.
3.2 Saran
Seorang guru hendaknya memiliki kesadaran dan keinginan untuk
meningkatkan kompetensi yang dimilikinya. Dan seorang supervisor hendaknya
memiliki kompetensi yang baik agar dapat mensupervisi dengan baik.

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 29


DAFTAR PUSTAKA
Aedi Nur. 2008. Metode dan Teknik Supervisi. Direktorat Tenaga Kependidikan,
Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga
Kependidikan. Diakses pada hari senin 26 Desember 2016 pukul
20:17.
Anonim.2014.http://makalahmanajemenpendidikan.blogspot.co.id/2014/06/makalah-
tentang-strategi-pelaksanaan.html?=1. Diakses pada hari Sabtu 24
Desember 2016 pukul 20:14.
Daryanto M. 2006. Administrasi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Mardhiah Ainon, Yusrizal dan Usman Nasir. 2014. Jurnal Administrasi Pendidikan
Pascasarjana Universitas Syiah Kuala: Peningkatan Profesionalitas
Guru Melalui Supervisi Akademik di SMP Negeri 3 Peusangan
Kabupaten Bireuen. Universitas Syiah Kuala. Diakses pada hari
Senin 26 Desember 2016 pukul 19:55.
Purwanto Ngalim. 2005. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Rahayu Srikandi. 2014. http://seputarpengertian.blogspot.co.id/2014/ 04/seputar-
pengertian-supervisi.html?m=1. Diakses pada hari Senin 26
Desember 2016 pukul 19.46.
Setiyono Imam. 2005. Jurnal Pendidikan Dasar Volume 6 Nomor 1 Supervisi
Pendidikan Sekolah Dasar. Universitas Negeri Surabaya. Diakses
pada hari Senin 26 Desember 2016 pukul 22:10.
Suryani Cut. 2015. Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA Volume 16 Nomor 1 Implementasi
Supervisi Pendidikan dalam Meningkatkan Proses Pembelajaran di
MIN Sukadamai Kota Banda Aceh. UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Diakses pada hari Selasa 27 Desember 2016 pukul 14:16.
Suwardie dan Junaidin. 2012. Administrasi Pendidikan. Mataram: CV Dimensi Raya.
Wahyudi. 2012. Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Organisasi Pembelajaran
(Learning Organization). Bandung: CV. Alfabeta.

Supervisi | Administrasi dan Supervisi 30