Anda di halaman 1dari 7

UJIAN TENGAH SEMESTER

1. Bagaimana pendapat saudara mengenai fenomena perkembangan pendidikan


kebidanan terkini di Indonesia? Yang erat kaitannya dengan PMK No.28
tentang izin dan penyelenggaraan praktik bidan dan UU Kebidanan yang
terbaru.
Jawaban :
Menurut PMK No. 28 Tahun 2017, bidan adalah seorang perempuan yang
lulus dari pendidikan bidan yang telah teregistrasi sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.1 Sedangkan menurut Undang-Undang
Kebidanan, bidan adalah seorang perempuan yang telah menyelesaikan
program pendidikan kebidanan baik di dalam negeri maupun di luar negeri
yang diakui secara sah oleh pemerintah pusat dan telah memenuhi persyaratan
untuk melakukan praktik kebidanan. Pendidikan kebidanan di Indonesia sudah
mengalami perkembangan, meskipun belum sangat pesat seperti negara lain.
Dalam Pasal 2 PMK No. 28 tahun 2017 menjelaskan bahwa dalam
menjalankan praktik kebidanan, bidan paling rendah memiliki kualifikasi
jenjang pendidikan diploma tiga kebidanan.1 Dalam Undang-Undang
Kebidanan lebih rinci menjelaskan tentang pendidikan kebidanan di Indonesia.
Pada Pasal 4 UU Kebidanan menjelaskan bahwa pendidikan kebidanan terdiri
atas pendidikan vokasi, akademik, dan profesi. Pendidikan vokasi sebagaimana
dimaksud merupakan program diploma tiga kebidanan. Pendidikan akademik
terdiri atas program sarjana kebidanan, program magister kebidanan dan doktor
Kebidanan. Sedangkan pendidikan profesi bidan merupakan program lanjutan
dari program pendidikan setara sarjana kebidanan atau program sarjana
kebidanan.
Saat ini, perkembangan pendidikan kebidanan di Indonesia sudah
mencapai level program magister kebidanan yang dijalankan oleh pendidikan
akademik, seperti universitas. Terdapat beberapa universitas di Indonesia yang
memiliki program magister kebidanan seperti Universitas Padjajaran
(UNPAD), Universitas Hassanudin (UNHAS), Universitas Brawijaya (UB),
dsb. Selain dari pendidikan akademik, juga terdapat program magister
kebidanan yang dikembangkan oleh pendidikan vokasi, yang disebut program
magister terapan kebidanan. Saat ini program magister terapan kebidanan baru
ada di Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang. Program doktor kebidanan
belum ada di Indonesia, meskipun telah disebutkan dalam UU Kebidanan.
Indonesia mengalami keterlambatan dari negara lain seperti Australia, Amerika
Serikat, Belanda, dsb. Mereka telah memiliki program doktor kebidanan sejak
bertahun-tahun yang lalu. Bahkan di Amerika untuk membuka praktik
kebidanan mandiri kualifikasi pendidikan yang harus dimiliki seorang bidan
adalah doktoral. Jadi, sampai saat ini bagi lulusan S2 kebidanan yang ingin
melanjutkan pendidikannya ke jenjang doktoral harus menempuh pendidikan
ke luar negeri. Tentunya biaya yang dikeluarkan tidak sedikit dibandingkan
bila menempuh pendidikan di Indonesia. Beasiswa doktoral ke luar negeri
memang sangat banyak saat ini, namun untuk mencapainya juga diperlukan
usaha yang tidak mudah, terlebih lagi kaitannya dengan persyaratan bahasa.
Sehingga saat ini bidan dengan gelar doktor masih belum banyak di Indonesia.
Pendidikan kebidanan yang berkembang pesat di Indonesia yaitu pada
level diploma. Saat ini, banyak didirikan akademi-akademi kebidanan swasta.
Dalam satu wilayah provinsi, terdapat tiga atau lebih akademi kebidanan
disamping pendidikan kebidanan yang diadakan oleh universitas negeri,
swasta, dan politeknik kesehatan. Akademi kebidanan harus berdiri sesuai
dengan peraturan perundang-undangan. Menurut UU Kebidanan Pasal 11 ayat
1 menyebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan kebidanan harus
memenuhi Standar Nasional Pendidikan Kebidanan yang disusun oleh
kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
pendidikan tinggi dengan melibatkan kementerian yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang kesehatan, Organisasi Profesi Bidan, dan
asosiasi pendidikan Kebidanan. Dalam pasal 12 ayat 1 juga disebutkan bahwa
untuk menjamin mutu lulusan, pendidikan kebidanan harus menerima
mahasiswa sesuai dengan kuota nasional. Namun, kenyataannya saat ini masih
banyak pendidikan kebidanan yang menerima mahasiswa melebihi kuota
nasional. Selain itu, tenaga pengajar/dosen tidak mencukupi kebutuhan,
sehingga membuat proses belajar mengajar menjadi kurang efektif. Kualifikasi
dosen di akademi kebidanan juga masih menjadi tantangan. Kualifikasi dosen
di Indonesia saat ini adalah minimal magister. Sedangkan masih banyak dosen
dengan pendidikan terakhir sarjana/diploma di akademi kebidanan. Masalah
kurangnya pendidikan kebidanan dan pendidikan kebidanan yang tidak
berkualitas, serta kurangnya penerapan dalam hal praktis, diidentifikasi sebagai
kendala utama dalam penyediaan layanan yang berkualitas untuk menurunkan
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).2 Sehingga
dengan adanya masalah tersebut, perlu dilakukan akreditasi rutin bagi
akademi-akademi atau pendidikan kebidanan lainnya (terutama yang belum
terakreditasi) untuk menyaring pendidikan kebidanan mana yang layak untuk
dipertahankan sehingga dapat menghasilkan bidan-bidan yang terampil dan
professional.
Menurut Pasal 18 PMK No. 28 Tahun 2018, dalam penyelenggaraan
praktik kebidanan, bidan memiliki kewenangan untuk memberikan pelayanan
kesehatan ibu, pelayanan kesehatan anak, dan pelayanan kesehatan reproduksi
perempuan dan keluarga berencana.1 Untuk dapat menjalankan
kewenangannya tersebut, bidan harus mendapatkan pengetahuan dan
keterampilan yang baik selama menjalani proses pendidikannya. Kurikulum
yang dijalankan oleh pendidikan kebidanan juga harus mencakup semua
kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang bidan. Kurikulum yang baik harus
sesuai dengan standar kompetensi nasional dan mengikuti perkembangan
global sehingga dapat menghasilkan lulusan yang terampil dan kompeten.3
Kurikulum berbasis kompetensi merupakan pendekatan pendidikan yang tepat
yang memberdayakan lulusan dengan yang diharapkan kompetensi untuk abad
ke-21. Kurikulum berbasis kompetensi bersifat transformatif dengan cara
membangun siswa menjadi lulusan yang secara kritis menganalisis informasi
untuk mengambil keputusan yang tepat dan mampu membawa perubahan di
tempat kerja.4 Sehingga kurikulum berbasis kompetensi akan sangat
bermanfaat bagi mahasiswa bidan saat nantinya memasuki dunia kerja. Dalam
menjalankan kewenangannya, bidan harus melakukannya secara
berkesinambungan, karena mencakup satu siklus kehidupan wanita. Sehingga
perlunya keterampilan terkait pelayanan yang berkesinambungan (continuity
of care). Adanya pendidikan tentang pelayanan yang berkesinambungan
terbukti dapat memberi siswa sebuah kesempatan untuk mengembangkan
hubungan yang unik dengan wanita, yang meningkatkan pembelajaran
kebidanan mereka dan mengembangkan seperangkat keterampilan dan
pengetahuan.5 Selain itu, untuk memudahkan dalam menjalankan
kewenangannya, mahasiswa bidan harus belajar membina hubungan baik
dengan masyarakat dan memiliki sikap empati kepada wanita sebagai objek
utama kebidanan. Peningkatan rasa empati dapat dilakukan dengan melakukan
kegiatan-kegiatan di masyarakat selama proses pendidikan sehingga dapat
terjalin hubungan yang baik dengan masyarakat. Suatu studi menunjukkan
bahwa kegiatan-kegiatan di masyarakat seperti lokakarya dapat meningkatkan
sikap empati siswa.6 Kurikulum kebidanan harus memuat kegiatan-kegiatan
dan program-program yang bermanfaat bagi peningkatan keterampilan
mahasiswa bidan dan memenuhi kompetensi kebidanan. Dalam UU Kebidanan
dijelaskan bahwa untuk menjadi bidan voaksi atau bidan profesi diperlukan
adanya uji kompetensi nasional untuk menilai kompetensi bidan. Pendidikan
kebidanan harus diperkuat untuk membantu mengatasi hambatan dan
meningkatkan perawatan berkualitas. Saat ini, pengembangan pendidikan
kebidanan merupakan fokus utama Majelis Kesehatan Dunia/World Health
Assembly (WHA).2

2. Bagaimana pendapat saudara mengenai linieritas pendidikan terutama pada


pendidikan kebidanan yang selalu menjadi masalah dan perbedaan persepsi di
berbagai kalangan dewasa ini.
Jawaban :
Sebelumnya telah dijelaskan dalam UU Kebidanan bahwa pendidikan
kebidanan terdiri atas pendidikan vokasi, akademik, dan profesi. Pendidikan
vokasi sebagaimana dimaksud merupakan program diploma kebidanan, yang
saat ini terdiri atas Diploma III (DIII) dan Diploma IV (DIV), program
Magister Terapan Kebidanan, dan yang sebentar lagi akan dikembangkan
adalah program Doktor Terapan Kesehatan. Pendidikan akademik terdiri atas
program sarjana kebidanan, program magister kebidanan dan doktor
Kebidanan. Sedangkan pendidikan profesi bidan merupakan program lanjutan
dari program pendidikan setara sarjana kebidanan atau program sarjana
kebidanan.
Pendidikan vokasi dan pendidikan akademik sebenarnya memiliki
jenjang yang sama, misalnya sarjana kebidanan setara dengan diploma IV
kebidanan, program magister kebidanan setara dengan magister terapan
kebidanan. Perbedaannya terletak pada kurikulum dan gelar yang didapatkan.
Pendidikan vokasi lebih menekankan pada praktik dalam proses
pembelajarannya, sedangkan pendidikan akademik lebih menekankan pada
teori. Gelar yang didapat bagi pendidikan vokasi adalah ahli madya, sarjana
terapan, serta magister terapan. Sedangkan pada pendidikan akademik gelar
yang didapat adalah sarjana kebidanan dan magister kebidanan.
Linieritas dalam pendidikan memang diperlukan, termasuk dalam
pendidikan kebidanan. Dengan adanya linieritas, pendidikan kebidanan
menjadi lebih fokus dan konsisten. Misalnya, seseorang dengan latar belakang
pendidikan vokasi, sebaiknya memilih pendidikan vokasi lagi untuk jenjang
selanjutnya. Karena sebelumnya dia telah memiliki pengalaman pembelajaran
di pendidikan vokasi yang lebih menekankan pada praktik. Ini juga akan
memudahkannya dalam beradaptasi di jenjang selanjutnya. Begitu pula dengan
pendidikan akademik.
Selain itu, tidak mudah untuk melakukan peralihan dari pendidikan
vokasi ke pendidikan akademik. Tidak semua instansi yang menyediakan
program pendidikan akademik menerima mahasiswa dari program vokasi,
begitu pun sebaliknya. Hal ini terkait dengan kelinieritasan tersebut. Jika
terjadi peralihan dari program vokasi ke program akademik atau sebaliknya,
dikhawatirkan akan menyulitkan dalam proses pembelajaran dan pemahaman
materi.
Hal ini juga berkaitan dengan potensi kerja untuk lulusan kedepannya.
Lulusan pendidikan vokasi akan lebih cocok bekerja di pelayanan kesehatan
atau instansi pendidikan vokasi, yang lebih mengedepankan praktik dalam
pelaksanaannya. Sedangkan pendidikan akademik lebih cocok bermain di
ranah akademik pula, yang lebih menekankan pada teori. Dengan adanya
linieritas dalam pendidikan, pendidikan akan lebih terspesifikasi, tetapi akan
menghasilkan ahli-ahli dalam bidang yang bersangkutan. Misalnya, mahasiswa
kebidanan lulusan diploma IV yang melanjutkan ke program magister terapan
kebidanan. Karena sama-sama merupakan pendidikan vokasi, maka fokus
pembelajaran juga tidak akan jauh berbeda. Dia hanya tinggal mengembangkan
pengetahuan dan keterampilan yang sebelumnya sudah dimiliki. Sehingga jika
nantinya setelah lulus ia bekerja pada bidang yang sesuai, misalnya menjadi
dosen di pendidikan vokasi, ia dapat menjadi dosen yang ahl karena adanya
latar belakang pendidikan yang menunjang.
Pendidikan vokasi dan pendidikan akademik memiliki kelebihan dan
kekurangan masing-masing. Meskipun pada beberapa penelitian menunjukkan
bahwa lulusan pendidikan vokasi lebih kompeten dalam memberikan
pelayanan kepada masyarakat.7 Hal ini kemungkinan dikarenakan pendidikan
vokasi lebih menekankan pada praktik, sehingga memiliki keterampilan yang
lebih baik. Pendidikan akademik dapat lebih unggul dalam hal teori karena
pembelajaran lebih menekankan pada aspek teoritis. Sehingga akan berperan
juga dalam penemuan teori-teori baru. Dengan demikian, pendidikan vokasi
dan pendidikan akademik dapat saling melengkapi.
Sementara itu, menurut UU Kebidanan, pendidikan profesi merupakan
program lanjutan dari program pendidikan setara sarjana kebidanan atau
program sarjana kebidanan. Jadi, program diploma IV kebidanan juga
dianjurkan untuk mengambil pendidikan profesi. Pendidikan profesi dilakukan
selama satu tahun dan sebagian besar terdiri dari praktik. Hal ini diperuntukkan
bagi lulusan sarjana kebidanan yang selama masa perkuliahannya jarang
melakukan praktik, karena lebih menekankan pada teori. Sehingga dalam
pendidikan profesi mereka dapat mempraktikkan teori-teori yang telah mereka
pelajari dan dapat menambah keterampilan mereka. Untuk lulusan diploma IV
yang melanjutkan ke pendidikan profesi, sebenarnya masih menjadi pro kontra.
Karena mereka dianggap sudah cukup terampil dengan adanya praktik di setiap
semester selama pendidikan diploma IV. Sehingga tidak perlu lagi pendidikan
profesi selama satu tahun. Tetapi, ini dapat menimbulkan kesenjangan dalam
hal lama pendidikan antara sarjana kebidanan dan diploma IV kebidanan.
Sarjana kebidanan memerlukan waktu 5 tahun (termasuk profesi) dan diploma
IV hanya 4 tahun untuk dapat dianggap sebagai bidan terampil. Sedangkan
dalam jenjang pendidikan, sarjana dan diploma IV dianggap setara.

SOURCES

1. Kemenkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28


Tahun 2017 Tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan. J Pers Soc
Psychol. 2017. doi:10.1111/j.1469-7610.2010.02280.x
2. McConville F. Midwifery education from perspective of the WHO. Midwifery.
2018;65:83. doi:10.1016/j.midw.2018.07.004
3. Shaban I, Leap N. A review of midwifery education curriculum documents in
Jordan. Women and Birth. 2012;25(4):e47-e55.
doi:10.1016/j.wombi.2011.09.001
4. Muraraneza C, Mtshali GN. Conceptualization of competency based curricula
in pre-service nursing and midwifery education: A grounded theory approach.
Nurse Educ Pract. 2018;28:175-181. doi:10.1016/j.nepr.2017.09.018
5. Tierney O, Sweet L, Houston D, Ebert L. The Continuity of Care Experience
in Australian midwifery education—What have we achieved? Women and
Birth. 2017;30(3):200-205. doi:10.1016/j.wombi.2016.10.006
6. Hogan R, Rossiter C, Catling C. Cultural empathy in midwifery students:
Assessment of an education program. Nurse Educ Today. 2018;70(June):103-
108. doi:10.1016/j.nedt.2018.08.023
7. Sharma B, Hildingsson I, Johansson E, Christensson K. Self-assessed
confidence of students on selected midwifery skills: Comparing diploma and
bachelors programmes in one province of India. Midwifery.
2018;67(August):12-17. doi:10.1016/j.midw.2018.08.015