Anda di halaman 1dari 5

Nama Kontribusi Kelas/Golongan

Galuh Nonif Rizkia (11406) Menangani larutan dapar dalam botol C 2017
infus
Gol IV
Mahbub Abdul Ghoni Menangani sample untuk
Kelompok 2
(11410) diabsorbansi
Mudy Atalie Medina (11412) Menangani anestesi tikus
Muhammad Alfin A. (11414) Menangani bedah tikus

ABSORBSI OBAT SECARA IN SITU

A. DATA DAN PERHITUNGAN

Nama bahan obat : Asam salisilat dapar pH 1,2 dan pH 7,5

Konsentrasi obat mula (C0) : 150 ppm = 150 mg/1000 mL = 0.15 mg/mL

Bobot tikus : 195 g (pH = 1,2) dan 250 g (pH = 7,5)

Panjang usus : 20 cm (pH 1,2) dan 46 cm (pH 7,5)

Diameter usus : 0,64 cm (pH 7,5) dan 0,478 cm (pH 7,5)

Kecepatan alir larutan obat : 5ml/menit (pH 1,2) dan 5 mL/menit (pH 7,5)

Panjang gelombang : 239 nm (pH 1,2) dan 233 nm (pH 7,5)

Persamaan kurva baku : y = 0.594x + 0,017 (pH 1,2)

: y = 0,469x – 0,0062 (pH 7,5)

Data asam salisilat dalam dapar fosfat pH 1,2


waktu Absor- Co C1 Grafik Waktu vs Papp
(menit) bansi Fp (mg/mL) (mg/mL) Papp 0.6000
5 0,267 1x 0,15 0,0042 0,4445
0.4000
Papp

10 0,127 1x 0,15 0,0019 0,5467


20 0,195 1x 0,15 0,0030 0,4868 0.2000
Papp
30 0,56 1x 0,15 0,0091 0,3481 0.0000
40 0,628 1x 0,15 0,0103 0,3334 0 20 40 60
50 0,38 1x 0,15 0,0061 0,3982 Waktu
rerata 0,0058 0,4263

Data asam salisilat dalam dapar fosfat pH 7,5


Grafik waktu vs Papp
0.2500
0.2000
0.1500
PaPP

0.1000
waktu Absor- Co C1
(menit) bansi Fp (mg/mL) (ug/mL) Papp
10 0,691 1x 0,15 0,0149 0,1674
20 0,692 1x 0,15 0,0149 0,1673
30 1,676 1x 0,15 0,0359 0,1036
50 0,464 1x 0,15 0,0100 0,1959
60 0,686 1x 0,15 0,0148 0,1679
rerata 0,0181 0,1604
B. PEMBAHASAN

Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pH terhadap absorpsi obat yang
diabsorpsi secara difusi pasif dan percobaan dilakukan secara in situ. Dengan obat yang
digunakan yaitu asam salisilat pada pH 1,2 dan 7,5. Percobaan pada pH 7,5 dilakukan oleh
kelompok praktikum pada golongan lain.

Absorpsi adalah masuknya molekul- molekul obat kedalam tubuh atau menuju
peredaran darah setelah melewati sawar biologik (Aiache, et al, 1995). Faktor-faktor seperti
luas permukaan dinding usus, kecepatan pengosongan lambung, pergerakan saluran cerna dan
aliran darah ke tempat absorpsi, semuanya mempengaruhi laju dan jumlah absorpsi obat
(Shargel dan Yu, 2005). Percobaan absorpsi obat pada praktikum kali ini dilakukan secara in
situ pada daerah duodenum usus halus. Hal ini didasarkan atas penentuan kecepatan hilangnya
obat dari lumen usus halus setelah larutan obat dengan kadar tertentu dilewatkan melalui lumen
usus halus secara perfusi dengan kecepatan tertentu (Ye, dkk., 2015).

Hal pertama yang dilakukan adalah, sudah disiapkan 2 tikus putih yang telah
dipuasakan 24 jam sebelumnya untuk meminimalkan adanya makanan dan mempercepat
waktu pengosongan lambung, sehingga absorpsi berjalan cepat. Lalu tikus ditimbang untuk
menentukan volume pemberian larutan uretan 40% b/v dengan dosis 1 mL/200 g bobot tikus.
Tikus percobaan pada pH 1,2 didapat bobot sebesar 195g sehingga volume uretan yang
diberikan sebesar 0,975 mL Kemudian larutan uretan yang berfungsi sebagai anastesi
diinjeksikan secara subkutan pada bagian paha dalam tikus. Dilakukan injeksi secara subkutan
karena efek anastesi lebih lama dan juga lebih aman. Lalu ditunggu hingga tikus pingsan
kurang lebih 50 menit. Namun, apabila tikus belum teranestesi maka ditambahkan dosis uretan
secara berkala sebanyak 0,2 ml.

Setelah pingsan, tikus diletakkan diatas papan fiksasi lalu dibedah pada rongga perut
bagian bawah menurut arah linea mediana. Pembedahan dilakukan menggunakan cutter listrik
untuk menghindari pendarahan. Setelah dibedah, dicari bagian lambung untuk menentukan
usus halus yang akan digunakan pada percobaan.Dari bagian oral diukur 15 cm menggunakan
benang ke arah anal, dibuat lubang sepertiga diameter usus lalu dimasukkan selang kedalam
usus kearah anal untuk mengalirkan larutan obat. Kemudian selang diikat kencang dengan
benang, supaya saat dialirkan larutan obat selang tidak lepas. Dari lubang pertama, diukur 20
cm kearah anal, kemudian dibuat lubang seperti sebelumnya dan dimasukkan selang kearah
oral untuk mengalirkan obat yang keluar dari lumen usus menuju tempat penampungan sampel.
Dan selang diikat dengan benang supaya tidak lepas. Pemasangan kedua selang untuk
membatasi area usus yang diteliti sebagai objek absorpsi obat. Rongga perut tikus yang terbuka
ditetesi menggunakan larutan fisiologis NaCl 0,9% supaya sel-sel pada usus tetap hidup dan
masih berfungsi baik. Kemudian setelah selang terpasang kuat, dialirkan larutan dapar fosfat
pH 1,2 dan pH 7,5 (untuk kelompok lain).
Dapar fosfat digunakan untuk membersihkan sisa makanan dalam lumen usus supaya
tidak mengganggu absorpsi obat. Aliran larutan dapar fosfat tanpa obat maupun dengan obat
diatur sedemikian rupa sehingga mempunyai kecepatan aliran sebesar 5 mL/menit. Pada
kecepatan tersebut obat diharapkan dapat terabsorpsi secara optimum. Ditunggu hingga cairan
yang keluar bening. Setelah bening, cairan ditampung dan digunakan sebagai
blangko/pembanding. Kemudian larutan dapar fosfat tanpa obat diganti dengan larutan obat
(asam salisilat dalam dapar fosfat). Kemudian dialirkan selama 60 menit dan pada menit
tertentu (0, 5, 10, 20, 30, 40, dan 60 menit) dilakukan sampling dengan menampung larutan
yang keluar pada selang kedua selama 1 menit. Menit ke-0 dihitung setelah gelembung larutan
obat mencapai usus halus. Kemudian diambil 1 mL dari tiap sampel ditambah 2 mL seng sulfat
dan 2 mL barium hidroksida. Penambahan seng sulfat dan barium hidroksida digunakan untuk
mengendapkan molekul-molekul protein dan molekul berukuran besar yang lain dengan cara
koagulasi agar tidak mengganggu dalam pembacaan absorbansi. Kemudian di sentrifuge
selama 5 menit untuk menyempurnakan pengendapan sehingga terjadi pemisahan antara
supernatan (lar. jernih) dan endapan. Lalu diambil supernatan dan dibaca pada
spektrofotometer UV pada λ 233 nm untuk pH 7,5 dan λ 239 nm untuk pH 1,2.

Dari hasil perhitungan, didapatkan nilai Papp (tetapan permeabilitas semu) pada pH 1,2
dan pH 7,5 secara berturut-turut 0,4263 cm/s dan 0,1604 cm/s. Berdasarkan nilai Papp yang
didapat, semakin besar nilai Papp maka absorbsi semakin banyak terjadi. Obat asam salisilat
lebih banyak diabsorbsi pada kondisi pH yang lebih asam (pH 1,2) karena akan lebih banyak
dalam bentuk tak terion/bentuk molekulnya dibandingkan pada pH yang lebih basa (pH 7,5)
lebih banyak bentuk terion sehingga lebih sulit menembus membran yang lipofil.

C. KESIMPULAN

1. Didapatkan nilai Papp (tetapan permeabilitas semu) pada pH 1,2 dan pH 7,5 secara
berturut-turut 0,4263 cm/s dan 0,1604 cm/s. Semakin besar nilai Papp maka absorbsi
semakin banyak terjadi.
2. Obat asam salisilat lebih banyak diabsorbsi pada kondisi pH asam daripada kondisi
basa karena lebih banyak dalam bentuk molekul

D. DAFTAR PUSTAKA

Aiache J.M. dan Devissa Guet J., 1995, Farmasetika 2-Biofarmasetika, Edisi 2, Airlangga
University Press, Surabaya.

Shargel, L. dan Yu, A., 2005, Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan, Edisi kedua,
Airlangga University Press, Surabaya.

Ye, Y., Yu, J., dan Gu, Z., 2015, Versatile Protein Nanogels Prepared by In Situ
Polymerization, Macromolecular Chemistry and Physics Journal, 217(3):333-343.