Anda di halaman 1dari 65

BAB VI

SISTEM POLITIK DI INDONSIA

Standar Kompetensi :
6. Menganalisis Sistem Politik di Indonesia.
Kompetensi Dasar :
6.1. Mendeskripsikan supra struktur dan infra struktur politik di
Indonesia.
6.2. Mendeskripsikan perbedaan sistem politik di berbagai negara.
6.3. Menampilkan peran serta dalam sistem politik di Indonesia.

A. PENDAHULUAN

------------------------------- ada gambar suasana kampanye/pemilu


--------------------------------------

Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk monodualis, artinya di


samping sebagai makhluk pribadi manusia juga merupakan makhluk
sosial. Sebaagai makhluk sosial (homo socius), manusia merupakan
makhluk yang pada dasarnya selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan
manusia lain. Sebagai makhluk sosial, sesungguhnya manusia tidak
dapat memenuhi kebutuhannya tanpa bantuan orang lain. Manusia
dengan aktivitasnya, telah membentuk kelompok-kelompok di dalam
suatu wilayah tertentu yang dapat disebut dengan masyarakat. Menurut
Robert Mac Iver, masyarakat adalah suatu sistem hubungan-hubungan
yang tertib/teratur (Society means a system of ordered relations).
Diantara hubungan-hubungan yang dilakukan antarmanusia, terdapat
suatu hubungan yang sangat mempengaruhi sebagian besar aspek
kehidupan manusia. Hubungan tersebut adalah hubungan politik dalam
satu kesatuan sistem. Dalam sistem politik, manusia akan
mengembangkan kegiatan-kegiatan yang diarahkan untuk membuat,
melindungi, dan mengubah aturan yang dimaksudkan untuk kebaikan
bersama. Di dalam sistem politik inilah manusia membentuk hubungan-
hubungan yang mengarah pada terbentuknya suatu masyarakat politik.
Pada sistem politik di Indonesia, peran masyarakat sangat penting
dalam mengembangkan lembaga-lembaga politik formal baik di daerah
maupun di pusat. Pada hakekatnya sistem politik merupakan
seperangkat interaksi yang diabstraksikan dari totalitas perilaku sosial
melalui nilai-nilai yang disebarkan untuk masyarakat. Suatu sistem
politik diharuskan memiliki kemampuan untuk mempertahankan
kehidupan, kelanggengan, berkelanjutan, mempunyai dorongan alamiah,

1
serta bertahan dalam segala kondisi lingkungan yang menekannya
sampai batas tertentu.
Sistem politik identik dengan kehidupan politik masyarakat (social
political life, Infrastruktur) dan kehidupan politik pemerintah
(governmental political life, supra struktur). Pemerintah dalam sistem
politik merupakan mekanisme formal atau mesin resmi negara
disamping pranata sosial-politik lainnya yang tidak resmi.

A. SISTEM POLITIK
Sebelum kita memahami tentang apa dan bagaimana tentang sistem
politik, alangkah baiknya jika pemahaman tentang ”sistem” dan ”politik”
terlebih dahulu telah diketahui. Meskipun dalam kehidupan sehari-hari
istilah ini sering dijumpai, namun penjelasan lebih lanjut tentang sistem
dan politik akan diuraikan sebagai berikut.

Fokus Kita :
Pengertian Sistem dalam Webster,s New Collegiate Dictionary
teridiri dari kata “syn” dan “histanai” (greek) yang berarti to place
together, menempatkan bersama. Dijelaskan lebih lanjut bahwa system
is a complesx of ideas, principle etc forming a coherent whole, as the
American system of government yang artinya adalah suatu kumpulan
pendapat-pendapat, prinsip-prinsip dan lain-lain yang membentuk
suatu kesatuan yang berhubung-hubungan satu sama lain, seperti

Prof. Pamudji mengartikan ”sistem” sebagai suatu kebulatan atau


keseluruhan yang kompleks atau terorganisir, suatu himpunan atau
perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan
atau keseluruhan yang kompleks atau utuh. Suatu kebulatan atau
keseluruhan yang utuh, di mana di dalamnya terdapat komponen-
komponen yang pada gilirannya merupakan sistem tersendiri yang
mempunyai fungsi masing-masing, saling berhubungan satu sama lain
menurut pola, tata atau norma tertentu dalam rangka mecapai suatu
tujuan.
Sistem dapat pula diartikan sebagai kumpulan fakta-fakta, pendapat-
pendapat, kepercayaan-kepercayaan dan lain-lain yang disusun dalam
suatu cara yang teratur; seperti sistem filsafat. Ada juga yang
mengartikan bahwa sistem selalui dimulai dari suatu tempat dan diakhiri
di tempat lain pula. Kalau kita kaitkan langsung dengan sistem politik
bukanlah pekerjaan gampang, sebab sistem politik bukan diatur oleh
orang perorangan, tapi oleh peranan yang telah melembaga. Jadi sistem
dianggap sebagai ”pola yang relatif tetap” dri hubungan antara manusia
yang melibatkan makna yang luas dari kekuasaan, aturan-aturan dan
kewenangan.

2
Kata ”politik” berasal dari kata Yunani ”polis” yang berarti kota yang
berstatus negara/negara kota, seperti dalam Webster,s New Collegiate
Dictionary, berasal dari kata “polis” yang berarti “city state” – negara
kota. Segala aktivitas yang dijalankan oleh Polis untuk kelestarian dan
perkembangannya disebut “politike techne” (politika). Berdasarkan
pengertian tersebut, maka politik pada hakikatnya “the art and science
of government” atau seni dan ilmu memerintah.
Dalam pengertian umum, politik adalah “macam-macam kegiatan
dalam suatu sistem politik/negara yang menyangkut proses menentukan
dan sekaligus melaksanakan tujuan-tujuan sistem itu”. Dapat juga
pengambilan keputusan mengenai apa yang menjadi tujuan sistem
politik, seleksi dari beberapa alternatif dan penyusunan skala prioritas
tujuan-tujuan yang telah dipilihnya. Politik juga merupakan proses
pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara
lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara.
Dalam sudut pandang yang berbeda, politik dapat diartikan sebagai
berikut :
1. Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara
konstitusional maupun nonkonstitusional.
2. Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk
mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles).
3. Politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan
pemerintahan dan negara.
4. Politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan
dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat.
5. Politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan
pelaskanaan kebijakan publik.

1. Pengertian Sistem Politik


Suatu sistem politik terdiri dari interaksi peranan para warga
negara. Orang sama dalam sistem politik dapat sekaligus memainkan
peranan lain seperti dalam sistem ekonomi, sosial, keagamaan dan
lain-lain. Para ahli politik dalam memberikan batasan tentang sistem
politik sangat beragam, antara lain sebagai berikut ;
a. Rusandi Simuntapura
Sistem politik ialah mekanisme seperangkat fungsi atau peranan
dalam struktur politik dalam hubungan satu sama lain yang
menunjukkan suatu proses yang langgeng.
b. Sukarna
Sistem politik ialah suatu tata cara untuk mengatur atau mengolah
bagaimana memperoleh kekuasaan di dalam negara, mengatur
hubungan pemerintah dan rakyat atau sebaliknya, dan mengatur
hubungan antara negara dengan negara atau dengan rakyatnya.
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa sistem politik ialah tata
cara mengatur negara.
c. David Easton
Sistem politik dapat diperkenalkan sebagai interaksi yang
diabstraksikan dari seluruh tingkah laku sosial sehingga nilai-nilai
dialokasikan secara otoritatif kepada masyarakat.

3
d. Robert Dahl
Sistem politik merupakan pola yang tetap dari hubungan antara
manusia serta melibatkan sesuatu yang luas dan berarti tentang
kekuasaan, aturan-aturan, dan kewenangan.
e. Almond
Sistem politik adalah sistem interaksi yang ditemui dalam
masyarakat merdeka serta menjalankan fungsi integrasi dan
adaptasi. Fungsi integrasi yang dijalankan oleh sistem politik
adalah untuk mencapai kesatuan dan persatuan dalam masyarakat
yang bersangkutan. Fungsi adaptasi adalah fungsi penyesuaian
terhadap lingkungan.

Fokus Kita :
Sistem politik dapat diartikan sebagai seperangkat interaksi
yang diabstrasikan dari totalitas perilaku sosial melalui nilai-nilai
yang disebarkan untuk suatu masyarakat. Suatu sistem politik
harus mempunyai kemampuan untuk mempertahankan kehidupan
(viability), langgeng dan berkelanjutan serta mempunyai dorongan
alamiah (propensity) bertahan (persisting) dalam segala kondisi

Berdasarkan pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa


dalam sistem politik mencakup hal-hal sebagai berikut :
a. Fungsi integrasi dan adaptasi terhadap masyarakat, baik ke dalam
maupun keluar.
b. Penerapan nilai-nilai dalam masyarakat berdasarkan kewenangan.
c. Penggunaan kewenangan atau kekuasaan, baik secara sah ataupun
tidak.

2. Ciri-ciri Umum Sistem Politik.


Sistem politik baik modern maupun primitif sifatnya memiliki ciri-
ciri yang ada padanya – Almond dalam The Politics of Developing
Areas, mengatakan ada 4 (empat) ciri dalam sistem politik :
a. Semua sistem politik termasuk yang paling sederhana
mempunyai kebudayaan politik. Dalam pengertian bahwa
masyarakat yang paling sederhanapun mempunyai tipe struktur
politik yang terdapat dalam masyarakat yang paling kompleks
sekalipun. Tipe-tipe tersebut dapat diperbandingkan satu sama lain
sesuai dengan tingkatan dan bentuk pembidangan kerja yang
teratur.
b. Semua sistem politik menjalankan fungsi-fungsi yang
sama walaupun tingkatannya berbeda-beda yang ditimbulkan
karena perbedaan struktur. Hal ini dapat diperbandingkan yaitu
bagaimana fungsi-fungsi itu tadi sering dilaksanakan atau tidak
dan bagaimana gaya pelaksnaannya.
c. Semua struktur politik biar bagaiamanapun juga
dispesialisasikannya baik pada masyarakat yang primitif maupun
yang yang modern melaksanakan banyak fungsi. Oleh karena itu

4
sistem politik dapat membandingkan sesuai dengan tingkat
kekhususan tugas.
d. Semua sistem politik adalah sistem campuran dalam
pengertian kebudayaan. Secara rasional tidak ada struktur dan
kebudayaan yang semuanya modern atau semuanya primitif
melainkan dalam pengertian tradisional, semuanya adalah
campuran atara unsur modern dan tradisional.
Dalam memahami cara kerja sistem politik pada umumnya, peran
input dan output mempunyai pengaruh besar terhadap kebijakan
publik. Hoogerwerf berpendapat bahwa ”input” bisa berasal dari
sistem lain, misalnya sistem ekonomi, misalnya sistem ekonomi.
Sistem ekonomi yang terkena dampak dari kebijaksanaan pemerintah
akan memberikan reaksi tertentu, mungkin memperkuat atau
bertentangan. Reaksi ini merupakan input bagi sistem politik untuk
diproses lebih lanjut. Di samping itu, input juga bisa berasal dari
perilaku politik berupa unjuk rasa/demonstrasi atau tindakan makar
sebagai dampak dari output sistem politik.
Cara kerja sistem politik berdasarkan input dan output yang
demikian, digambarkan oleh Hoogerwerf sebagai berikut :

MASUKAN (INPUT)
SISTEM
SISTEM
Sistem EKONOMI
TEKNIS
Budaya Politik
Struktur Politik
UMPAN BALIK
Dampak kebijaksanaan pemerintah
Politik

MASUKAN (Input) HASIL (Output)


Referensi Kebijaksanaan sarana kekuasaan Kebijaksanaan pemerintah
Pengem-bangan
Integ-rasi

Dampak kebijaksanaan pemerintah

UMPAN BALIK

3. Macam-macam Sistem Politik


Macam-macam sistem politik yang hendak diuraikan, sesungguhnya

merupakan tipe, atau model yang mendasarkan pada sudut kesejarahan

5
dan perkembangan sistem politik dari berbagai negara yang disesuaikan

dengan perkembangan kultur dan struktur masyarakatnya.

 Almond dan Powell, membagi 3 (tiga) katagori sistem


politik yakni :
a. Sistem-sistem primitif yang intermittent (bekerja dengan
sebentar-sebentar istirahat). Sistem politik ini sangat kecil
kemungkinannya untuk mengubah peranannya menjadi
terspesialisasi atau lebih otonom. Sistem ini lebih
mencerminkan suatu kebudayaan yang samar-samar dan
bersifat keagamaan (parachiale).
b. Sistem-sistem tradisional dengan struktur-struktur
bersifat pemerintahan politik yang berbeda-beda dan suatu
kebudayaan “subyek”.
c. Sistem-sistem modern di mana struktur-struktur politik
yang berbeda-beda (partai-partai politik, kelompok-kelompok
kepentingan dan media massa) berkembang dan mencerminkan
aktivitas budaya politik “participant”.
 Alfian, mengklasifikasikan sistem politik menjadi 4
(empat) tipe, yakni :
a. Sistem politik otoriter/totaliter
b. Sistem politik anarki
c. Sistem politik demokrasi
d. Sistem politik demokrasi dalam transisi.

Ramlan Surbakti dalam mengklasifikasikan sistem politik

menggunakan model sistem politik dengan empat macam kriteria,

sebagai berikut :

Perbandingan Sistem Politik


Jenis Sispol Sistem Sistem Sispol
Variabel Otokrasi Politik Politik Negara
Tradisional Totaliter Demokrasi Berkemban
g
Kebaikan Tidak ada Tidak ada Ada Tidak tetap/
Bersama persa-maan persa-maan persamaan mencari
dan kebeba- dan kebeba- dan bentuk.
san politik. san politik. kebebasan Tidak tentu.
Ada Sama rata politik. Tidak
stratifikasi dan sama ada
ekono-mi, rasa dalam stratifikasi
nilai & moral. kebutuhan ekono-mi
materiil. materiil/
moril.

6
Identitas Primordial Bersifat Bersatu Campur
Bersama (sara). sakral. dalam tangan
Pemimpin Ideologi perbedaan. pemerintah
lam-bang sebagai begitu luas.
kebersama- agama
an. politik.

Hubungan Pribadi Monopoli, Distribusi. Dominatif,


Kekuasaan negatif, sentral, Kekua-saan ne-gatif,
sedikit tunggal dan yang relatif paksaan ta-
konsensus non- merata. Ada pi dapat
Ada pada konsensus. pada dengan
Raja/ Emir. Ada Pimpinan Presiden/ konsensus.
partai. Perda-na Ada pada
Menteri. Presiden/
PM.

Legitimasi Otokrat, Totaliter, Rule of law Belum ada


Kewena- berdasar doktri-ner dan pola/ pihak
ngan. tradisi. dan paksaan. konstitusional penguasa.
.

Hubungan Penguasa Partai Rakyat ambil Pola


Politik & kaya dan pengendali bagi-an hubungan,
Ekonomi. rakyat politik dan secara aktif/ baru
miskin. ekono-mi mekanisme mencari
rakyat. pasar. bentuk
(sentral/
desentralisa
si).

Bonus Info Kewarganegaraan


David Easton dalam buku A Systems Analysis of Political Life,
mengatakan “Sistim politik adalah keseluruhan dari interaksi-interaksi
yang mengatur pembagian nilai-nilai secara autoritatif (berdasarkan
wewenang) untuk dan atas nama masyarakat”.
Tentang “Bidang-bidang Ilmu Politik”, dalam Contemporary
Political Science (terbitan UNESCO 1950), ilmu politik dibagi dalam
empat bidang :
1. Teori Politik :
a. Teori politik
b. Sejarah perkembangan idee-idee politik.
2. Lembaga-lembaga politik :
a. Undang-Undang Dasar
b. Pemerintahan Nasional
c. Pemerintah Daerah dan Lokal
d. Fungsi ekonomi dan sosial dari pemerintah

7
e. Perbandingan lembaga-lembaga politik.
3. Partai-partai, Golongan-golongan (groups) dan Pendapat Umum :

a. Partai-partai Politik
b. Golongan-golongan dan Asosiasi-asosiasi
c. Partisipasi warga negara dalam pemerintah dan administrasi
d. Pendapat umum
4. Hubungan Internasional :
a. Politik Internasional
b. Organisasi-organisasi dan Administrasi Internasional
c. Hukum Internasional

Menurut Almond dan Coleman terdapat bermacam-macam sistem


politik yang terpenting, khususnya yang banyak berlaku di negara-
negara berkembang. Diantara sistem politik yang ada antara lain sebagai
berikut :

Nama
No Sistem Uraian/Keterangan
Politik
a. Demokrasi Demokrasi Politik adalah suatu sistem di mana ada
Politik kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif yang
berfungsi. Kekuasaan legislatif dipiliih secara
periodik dalam pemilu yang bebas. Badan tersebut
mengontrol eksekutif. Terdapat macam-macam
kelompok dengan kepentingan yang sama yang
otonom, partai-partai politik, dan sarana-sarana yang
bebas untuk pembentukan pendapat/opini.

b. Demokrasi Struktur formal sistem ini boleh dikatakan sama


Terpimpin dengan demokrasi politik. Karena kesulitan tertentu
diusahakan untuk menyesuaikan dengan struktur
formal dan prakteknya untuk menjalin ada
pemerintahan secara efektif. Di sini kekuasaan lebih
terkonsentrasi kepada eksekutif dan ikatan
kekuasaan eksekutif lebih erat dengan partai
pemerintah dengan ruang gerak terbatas kepada
oposisi. Pendapat umum didominasi oleh
pemerintah.

c. Oligarki Sistem ini digunakan dengan mengingat masalah-


Pembangu masalah mengenai pelaksanaan demokrasi dan
nan perlunya mengadakan modernisasi dengan cepat.
Konsentrasi kekuasaan di tangan pemerintah yang
dianggap syarat pembangunan dan persatuan.
Sistem pengawasan ada di tangan militer atau rezim
sipil yang didukung oleh elit yang besar jumlahnya.
Parlemen tidak punya kekuasaan lagi dan hanya
sebagai persetujuan serta pemberi nasihat rencana

8
peraturan. Tidak ada tempat untuk oposisi. Sebagai
pelaksanaan kekuasaan tergantung kepada birokrasi
yang ada. Kekuasaan yudikatif tidak bebas lagi.
Militer dan politik bekerja menumpas gerakan di
bawah tanah. Kampanye dari nasional dan
melancarkan proyek-proyek pembangunan.

d. Oligarki Terdapat kekuasaan kepada rezim totaliter


Totaliter tradisional, seperti rezim fasis di jerman dan Italia
dahulu serta rezim nasionalis jepang sebelum PD II.
Rezim ini tidak mentolelir ada kekuasaan lain di
sampingnya. Elite politiknya mempunyai ideologi
yang konsisten dan terperinci dan menjabarkan
sistem pemerintahan.
e. Oligarki Sistem politik ini peninggalan dari kebudayaan
Tradisional pramodern. Elite dinasti dapat bertahan lama karena
dapat menghindar dari penjajahan, seperti Etiopia.
Kekuasaan raja mendapat pengesahan karena
tradisi, aparat negara terbatas kewajibannya, desa-
desa tidak mendapat perhatian dan tak banyak
mendapat pengaruh. Pengangkatan jabatan atas
pertimbangan pribadi.

4. Demokrasi Sebagai Sistem Politik


Kata demokrasi dalam sistem politik, memiliki makna umum yaitu :
adanya perlindungan hak asasi manusia, menjunjung tinggi hukum,
tunduk terhadap kemauan orang banyak, tanpa mengaikan hak
golongan kecil agar tidak timbul diktator mayoritas. Sebuh sistem
politik demokrasi yang kuat, yaitu apabila bersumber pada “kehendak
rakyat” dan bertujuan untuk mencapai kebaikan atau kemaslahatan
bersama. Untuk itu, demokrasi selalu berkaitan dengan persoalan
perwakilan kehendak rakyat.
Sistem politik demokrasi, menurut Bingham Powel, Jr. ditandai
dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Legitimasi pemerintah didasarkan pada klaim bahwa
pemerintah tersebut mewakili keinginan rakyatnya, artinya klaim
pemerintah untuk patuh pada aturan hukum didasarkan pada
penekanan bahwa apa yang dilakukan merupakan kehendak
rakyat.
b. Pengaturan yang mengorganaisasikan perundingan
(bargaining)untuk memperoleh legitimasi dilaksanakan melalui
pemilihan umum yang kompetitif. Pemilihan dipilih dengan interval
yang teratur, dan pemilih dapat memilih diantara beberapa
alternatif calon. Dalam praktiknya, paling tidak terdapat dua partai
politik yang mempunyai kesempatan untuk menang sehingga
pilihan tersebut benar-benar bermakna.

9
c. Sebagian besar orang dewasa dapat ikut serta dalam proses
pemilihan, baik sebagai pemilih maupun sebagai calon untuk
menduduki jabatan penting.
d. Penduduk memilih ecara rahasia dan tanpa dipaksa.
e. Masyarakat dan pemimpin menikmati hak-hak dasar, seperti
kebebasan berbicara, berkumpul, berorganisasi dan kebebasan
pers. Baik partai politik yang lama maupun yang baru dapat
berusaha untuk memperoleh dukungan.

Penugasan
1 Praktik Kewarganegaraan
Setelah mempelajari materi-materi tentang : Sistem Politik (Pengertian Sistem Politik, Ciri-c

1. Berikan pengertian tentang “sistem politik” sesuai pendapat


anda dan tokoh-tokoh terkenal !
Pendapat anda tentang sistem
politik ? ............................................................................................
.................................................................................................................
.................................................

No Tokoh Uraian Singkat


1.
2.

2. Di dalam salah satu pengertian politik dikatakan bahwa politik


merupakan seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara
konstitusional maupun nonkonstitusional. Berikan penjelasn
singkatnya !
a. Secara
Konstitusional : .................................................................................
................................
...........................................................................................................
.................................................
b. Nonkonstitusional : .......................................................................
.................................................
............................................................................................................
................................................

3. Dalam perkembangan lebih lanjut tentang macam-macam


sistem politik, terdapat antara lain Oligarki Totaliter dan Oligarki
Tradisional. Beri penjelasan singkat pada kolom di bawah ini!
Oligarki Totaliter Oligarki Tradisional
............................................................... ......................................................

1
............... ........................
............................................................... ......................................................
............... ........................
............................................................... ......................................................
............... ........................
............................................................... ......................................................
............... ........................

4. Berikan tanggapan penjelasan, mengapa dalam sistem politik


faktor input dan output sangat berpengaruh terhadap kebijaksanaan
pemerintah ! ..........................................................................
.................................................................................................................
..................................................
.................................................................................................................
..................................................
.................................................................................................................
..................................................

5. Tuliskan pendapat Almond berkaitan dengan ciri-ciri umum


sistem politik di bawah ini, dan jelaskan sesuai pendapat anda !

Mempunyai Kebudayaan Politik Melaksanakan Fungsi-fungsi


Politik
............................................................... .......................................................
.............. .........................
............................................................... .......................................................
.............. .........................
............................................................... .......................................................
.............. .........................
............................................................... .......................................................
.............. .........................
............................................................... .......................................................
.............. .........................
B. SUPRA STRUKTUR DAN INFRA STRUKTUR POLITIK
DI INDONESIA

Pada setiap sistem politik negara-negara dunia, akan selalu dijumpai


adanya struktur politik. Struktur politik di dalam suatu negara, adalah
pelembagaan hubungan organisasi antara komponen-komponen yang
membentuk bangunan politik. Struktur politik sebagai bagian dari
struktur yang pada umumnya selalu berkenaan dengan alokasi nilai-nilai
yang bersifat otoritatif, yaitu yang dipengaruhi oleh distribusi serta
penggunaan kekuasaan.
Permasalahan politik menurut Alfian, dapat dikaji melalui berbagai
pendekatan yaitu dapat didekati dari sudut kekuasaan, struktur politik,
komunikasi politik, konstitusi, pendidikan dan sosialisasi politik,
pemikiran dan kebudayaan politik.

1
Fokus Kita :
Struktur adalah suatu cara bagaimana sesuatu itu
disusun/dibangun atau merupakan pola peranan yang kait-mengkait
atau hubungan yang sudah mapan diantara orang seorang dan atau
organisasi. Di dalam suatu situasi, struktur ini relatif mempunyai unsur-

Sistem politik yang pada umumnya berlaku di setiap negara, meliputi


dua struktur kehidupan politik yakni ; Infra Struktur Politik dan Supra
Struktur Politik.

1. Infra Struktur Politik


Di dalam suatu kehidupan politik rakyat (the social – political
sphere), akan selalu ada sangkut paut atau bersinggungan dengan
kelompok-kelompok anggota masyarakat lain ke dalam berbagai
macam golongan yang biasanya disebut “kekuatan sosial politik
masyarakat”. Kelompok masyarakat tersebut yang merupakan
kekuatan politik riil di dalam masyarakat, disebut “infra struktur
politik”. Berdasarkan teori politik, infra struktur politik mencakup 5
(lima) unsur atau komponen sebagai berikut : a) partai politik
(political party), b) kelompok kepentingan (interest group), c)
kelompok penekan (pressure group), d) media komunikasi politik
(political communication media), dan e) tokoh politik (political figure).

 Partai Politik (Political Partai) di Indonesia


Partai politik sebagai institusi, mempunyai hubungan yang sangat
erat dengan masyarakat dalam mengendalikan kekuasaan. Hubungan
ini banyak dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat yang
melahirkannya. Kalau kelahiran partai politik sebagai
pengejawantahan dari kedaulatan rakyat dalam politik formal, maka
semangat kebebasan selalu dikaitkan orang dalam membicarakan
partai politik sebagai pengendali kekuasaan.

Fokus Kita :
Partai politik sering dianggap sebagai salah satu atribut negara
demokrasi modern, karena diperlukan kehadirannya bagi negara-
negara yang berdaulat. Bagi negara-negara yang merdeka dan
berdaulat, eksistensi partai politik merupakan prasyarat baik
sebagai sarana untuk menyalurkan aspirasi rakyat, juga terlibat
langsung dalam proses penyelenggaraan negara melalui wakil-

Sebagaimana dikatakan oleh Husazar dan Stevenson dalam


bukunya Political Science, bahwa partai politik (parpol) adalah
sekelompok orang yang terorganisir serta berusaha untuk
mengendalikan pemerintahan agar supaya dapat melaksanakan

1
program-programnya dan menempatkan/mendudukkan anggota-
anggotanya dalam jabatan pemerintah. Suatu partai politik berusaha
untuk memperoleh kekuasaan dengan dua cara; pertama, ikut serta
dalam pelaksanaan pemerintahan secara sah, dengan tujuan bahwa
dalam pemilu memperoleh suara mayoritas dalam badan legislatif.
Dan kedua, mungkin bekerja secara tidak sah/melakukan subversib
untuk memperoleh kekuasaan tertinggi dalam negara yaitu melalui
revolusi atau coup d`etat.
Berdasarkan perjalanan sejarah kehidupan partai politik di
Indonesia, secara garis besar dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Masa Pra Kemerdekaan
Organisasi modern pertama di Indonesia yang melakukan
perlawanan terhadap penjajah (tidak secara fisik) adalah Budi
Utomo yang di dirikan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 1908. Pada
awalnya, organisasi ini berkembang di kalangan pelajar dalam
bentuk studieclub dan organisasi pendidikan. Namun dalam
perkembangan berikutnya menjadi partai-partai politik yang
didukung kaum terpelajar dan massa buruh tani.
Berikut adalah partai-partai yang berkembang sebelum
kemerdekaan dengan tiga aliran besar, yaitu Islam, Nasionalis, dan
Marxisme/Komunisme.
No Nama Parpol Uraian / Keterangan
1. Sarekat Islam Partai Sarekat Islam (SI) dianggap pelopor
(1912), partai yang beraliran Islam. Hal yang
Muhammadiy menarik dari partai SI, adalah mampu
ah (1912) mengidentifikasi dirinya dengan aspirasi
politik Bumi Putera untuk memperjuangkan
kemerdekaan.
2. PKI (1921) Partai yang bercorak ideologi
Marxisme/Komunisme, awalnya berhasil
mempengaruhi massa rakyat dengan
memperke-nalkan analisa Lenin dan Bucharin
tentang imperalisme sebagai tingkat terakhir
dari kapitalisme. PKI awalnya mencoba
mempelopori perjuangan anti kolonialisme
/imperialisme. Namun pada tahun 1926-1927
kehilangan simpati rakyat setelah melakukan
pemberontakan berdarah.
3. Indische Merupakan partai yang beraliran
Partij (1912), nasionalisme dengan perjuangan utama
PNI (1927) adalah untuk mencapai kemerdekaan dari
,Partai kolonialisme/imperialisme bangsa penjajah.
Indonesia Golongan nasionalis yang dipersonifikasikan
(1931), Partai dengan Sukarno-Hatta, dianggap sebagai
Ra-kyat rival utama golongan Islam karena digerakan
Indonesia/ oleh kaum terpelajar yang berasal dari
PRI (1930), berbagai agama dan golongan. Dilihat dari
Partai pengikutnya, merupakan runner up dari
Indonesia setelah golongan Islam, kendatipun tokoh-

1
Raya/ tokohnya belum melebihi dari golongan Islam
Parindra sekaliber Mohammad Natsir.
(1931).

b. Masa Pasca Kemerdekaan (Tahun 1945 – 1965)


Tumbuh suburnya partai-partai politik pasca kemerdekaan,
didasarkan pada Maklumat Pemerintah tertanggal 3 November 1945
yang ditandatangani Wakil Presiden Moh. Hatta yang antara lain
memuat keinginan pemerintah akan kehadiran partai politik agar
masyarakat dapat menyalurkan aspirasi (aliran pahamnya) secara
teratur. Sejak dikeluarkannya Maklumat Pemerintah tersebut, dapat
diklasifikasi sejumlah partai politik yang ada sebagai berikut :
1) Dasar Ketuhanan : a) Partai Masjumi, b) Partai Sjarikat
Indonesia, c) Pergerakan Tarbiyan Islamiah (Perti), d) Partai
Kristen Indonesia (Parkindo), Nahdlatul Ulama (NU)
dan e) Partai Katholik.
2) Dasar Kebangsaan : Alfian, mengelompokkan
 Partai Nasional Indonesia (PNI) partai politik hasil Pemilu
 Partai Indonesia Raya (Parindra)1955, sebagai berikut :
 Persatuan Indonesia Raya (PIR) 1. Aliran Nasionalis :
 Partai Rakyat Indonesia (PRI) PNI, PRN, PIR
 Partai Demokrasi Rakyat (Banteng)Hazairin, Parindra,
 Partai Rakyat Nasional (PRN) Partai Buruh, SKI, dan
 Partai Wanita Rakyat (PWR) PIR-Wongsonegoro.
 Partai Kebangsaan Indonesia (Parki)2. Partai Islam :
 Partai Kedaulatan Rakyat (PKR) Masjumi, NU, PSII, dan
 Serikat Kerakyatan Indonesia (SKI)Perti.
 Ikatan Nasional Indonesia (INI) 3. Aliran Komunis :
 Partai Rakyat Jelata (PRJ) PKI, SOBSI dan BTI.
 Partai Tani Indonesia (PTI) 4. Aliran Sosialis :
 Wanita Demokrasi Indonesia (PTI)
3) Dasar Marxisme :
 Partai Komunis Indonesia (PKI)
 Partai Sosialis Indonesia
 Partai Murba
 Partai Buruh
 Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia (Permai)
4) Dasar Marxisme :
 Partai Demokrat Tionghoa (PTDI)
 Partai Indonesia Nasional (PIN)
 Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI)

Salah satu ciri utama kehidupan politik masa demokrasi liberal


ditandai dengan pergantian kabinet yang berulang kali rata-rata
berumur 8 (delapan) bulan. Persaingan antar elit partai politik besar
(nasionalis, Islam dan Komunis), telah membawa negara pada
instabilitas politik berkepanjangan. Hal ini berakibat mandeknya

1
pembangunan ekonomi dan rawannya keamanan, karena perhatian
lebih ditujukan pada pembenahan bidang politik.
Melihat konflik yang berkepanjangan di tubuh Badan Konstituante
dalam merumuskan UUD yang bersifat tetap tidak segera terwujud,
mendorong Presiden Soekarno menggunakan kekuasaan ekstra-
konstitusional dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang selanjutnya
melahirkan demokrasi terpimpin. Dalam kurun waktu 1959 – 1965,
tampak antara Soekarno, PKI dan TNI AD saling bersaing, sementara
itu partai politik lain kurang menunjukkan aset yang berarti dalam
percaturan politik.

Fokus Kita :
Pemilu Tahun 1955, mengangkat posisi NU dan PKI ke
panggung politik dan mendesak PSI ke luar, karena partai ini sangat
merosot dalam perolehan suara. Karena tidak ada partai yang
mayoritas dalam pemilu, membuka peluang adanya koalisi. Kondisi
semacam ini menjadi salah satu penyebab sering terjadinya
pergantian kabinet, dalam bahasa Orde Baru tidak mungkin

PKI dengan kelihaiannya telah mampu memobilisasi massa sampi


pelosok desa dengan kader-kadernya yang militan dengan memberi
keyakinan kemenangan segera diraih, akhirnya melakukan pengucilan
kekuatan TNI dan melakukan pemberontakan G 30S/PKI dengan
jatuhnya 7 (tujuh) korban perwira tinggi dan menengah TNI – AD.
Dari malapetaka G 30S/PKI, mendorong segenap potensi bangsa yang
terdiri dari Militer, Angkatan 66, Umat Islam dan ditambah kekuatan
sosial keagamaan lain bergerak menumpas PKI. Kehancuran Orde
lama ditandai dengan surutnya politisi sipil dari gelanggang politik
dan naiknya peranan militer yang oleh Alfian, diberi istilah dengan
“format politik baru”.

c. Masa Orde Baru (Tahun 1966 - 1998)


Awal kebangkitan Orde Baru (1966) dalam melakukan pembenahan
institusi politik, tetap berpandangan bahwa jumlah partai politik yang
terlalu banyak, tidak menjamin stabilitas politik. Usaha pertama
disamping memulihkan partai-partai yang tidak secara resmi dilarang,
adalah menyusun undang-undang tentang pemilu yang dianggap
sesuai dengan perkembangan masyarakat saat itu. Dan pemilu yang
direncanakan dilakanakan dalam waktu dekat, ternyata baru
terlaksana tahun 1971 dengan peserta sebanyak 10 partai politik,
yaitu :
1. Golongan Karya (Golkar)
2. Partai Nasional Indonesia (PNI)
3. Nahdatul Ulama (NU)
4. Partai Katolik
5. Partai Murba
6. Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII)
7. Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI)
8. Partai Kristen Indonesia (Parkindo)

1
9. Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), dan
10. Partai Islam Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah)
Hasil Pemilu 1971, menunjukkan kemenangan Golkar yang diikuti
oleh Parmusi, NU, dan PNI. Khusus untuk kemenangan Golkar, tidak
lepas dari jasa ABRI yang dibantu oleh pemerintah. Dalam
perkembangan lebih lanjut, pemerintah melakukan penyederhanaan
partai politik secara melembaga melalui proses fusi ; partai yang
berbasis Islam (NU, Parmusi, PSII, dan Partai Islam) menjadi Partai
Persatuan Pembangunan (PPP); partai yang berbasis sosialis dan
nasionalis (Parkindo, Partai Katolik, PNI, Murba dan IPKI) menjadi
Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Selanjutnya, dengan
diberlakukannya UU No.3 Tahun 1975 maka pemilu 1977 dan 1982
hanya 3 (tiga) peserta yang masing-masing mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut :
1. PPP dengan ciri ke-Islaman dan ideologi Islam
2. Golkar dengan ciri kekaryaan dan keadilan sosial
3. PDI dengan ciri demokrasi, kebangsaan (nasionalisme) dan
keadilan.

Pada pemilu tahun 1987 dan 1992 dengan diberlakukannya UU


No.3 Tahun 1985, Partai Politik dan Golkar ditetapkan hanya
mempergunakan satu-satunya asas yaitu Pancasila dengan tujuan
agar setiap kontestan setiap pemilu lebih berorientasi pada program
kerja masing-masing. Penerapan asas tersebut, berlangsung sampai
dengan pelaksanaan pemilu 1997. Fakta memperlihatkan, bahwa
selama pemilu Orde Baru Golkar selalu dominan. Dalam Pemilu 1971
Golkar meraih (62,8%), tahun 1977 (62,1%), tahun 1982 (64,3%),
tahun 1987 (73,2%), tahun 1992 (68,1%) dan pada tahun 1997
(70,2%).
Untuk lebih jelasnya tentang perbandingan perolehan suara partai
peserta pemilu selama Orde Baru dalam perolehan Jumlah Suara dan
Kursi yang diperoleh setiap OPP (Organisasi Peserta Pemilu), dapat
dilihat pada tabel di bawah ini !

Partai Politik Peserta Pemilu


Tahun
No Pemil Partai Persatuan Golongan Partai
u Pembangunan Karya Demokrasi
(PPP) (Golkar) Indonesia (PDI)
1. 1971 14.833.942 (96) 34.348.673 5.516.849 (30)
(236)
2. 1977 18.722.138 (99) 39.313.354 5.459.987 (29)
(232)
3. 1982 20.871.880 (94) 48.334.724 5.919.702 (24)
(242)
4. 1987 13.701.428 (61) 62.783.680 9.324.708 (40)
(299)

1
5. 1992 16.624.647 (62) 66.599.331 14.565.556 (56)
(282)
6. 1997 25.340.028 (89) 84.187.907 3.463.225 (11)
(325)
Data diambil dari Lembaga
Pemilihan Umum (LPU).

Era orde baru mengalami anti klimaks kekuasaan setelah pada


tahun akhir tahun 1997 negara Indonesia mengalami krisis moneter
yang selanjutnya berkembang menjadi krisis multidimensi karena
terperangkap hutang luar negeri yang besar dan banyaknya praktik-
praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang melibatkan pejabat
birokrasi dan pengusaha.

d. Masa/ Era Reformasi (Tahun 1999 s.d. Sekarang)


Era reformasi, benar-benar merupakan arus angin perubahan
menuju demokratisasi dan asas keadilan. Partai-partai politik
diberikan kesempatan untuk hidup kembali mengikuti pemilu dengan
multi partai yang diselenggarakan pada tanggal tahun 1999
berdasarkan Undang-Undang No. 3 Tahun 1999. Sangat mengejutkan
bagi semua elemen masyarakat Indonesia, ternyata pasca orde baru
(di era reformasi) pemilu diikuti sebanyak 48 partai politik, yaitu :

No Nama Partai Politik N Nama Partai Politik


o
1. Partai Indonesia Baru (PIB) 26 Partai Nasional Indonensia
2. Partai Kristen Indonesia . (PNI) Front Marhaenis
3. (Krisna) Partai Ikatan Pendukung
4. Partai Nasional Indonesia 27 Kemerdekaan Indonesia
5. (PNI) . (IPKI)
6. Partai Aliansi Demokrat 28 Partai Republik
7. Indonesia . Partai Islam Demokrat
8. Partai Kebangkitan Muslim 29 Partai Nasional Indonesia
9. Indonesia . (PNI) Massa Marhaen
10. Partai Umat Islam (PUI) 30 Partai Musyawarah Rakyat
11. Partai Kebangkitan Umat . Banyak
(PKU) Partai Demokrasi Indonesia
12. Partai Masyumi Baru (PMB) 31 (PDI)
13. Partai Persatuan . Partai Golongan Karya
14. Pembangunan (PPP) 32 (Golkar)
Partai Syarikat Islam . Partai Persatuan
15. Indonesia (PSII) 33 Partai Kebangkitan Bangsa
16. Partai Demokrasi Indonesia . (PKB)
17. Perjuangan (PDIP) 34 Partai Uni Demokrasi
18. Partai Abul Yatama . Indonesia
19. Partai Kebangsaan Merdeka 35 Partai Buruh Nasional
20. (PKM) . Partai Musyawarah
21. Partai Demokrasi Kasih 36 Kekeluargaan Gotong
22. Bangsa PDKB) . Royong (MKGR)

1
23. Partai Amanat Nasional 37 Partai Daulat Rakyat
24. (PAN) . Partai Cinta Damai
25. Partai Rakyat Demokrat 38 Partai Keadilan dan
(PRD) . Persatuan (PKP)
Partai Syarikat Islam Partai Solideritas Pekerja
Indonesia 1905 39 Seluruh Indonesia (SPSI)
Partai Katolik Demokrat . Partai Nasional Bangsa
Partai Pilihan Rakyat (Pilar) 40 Indonesia
Partai Rakyat Indonesia . Partai Bhineka Tunggal Ika
(PARI) 41 Partai Solideritas Uni
Partai Politik Islam Masyumi . Nasional Indonesia (SUNI)
Partai Bulan Bintang (PBB) 42 Partai Nasional Demokrat
Partai Solideritas Pekerja . (PND)
Partai Keadilan 43 Partai Ummat Muslimin
Partai Nahdlatul Ulama . Indonesia
Partai Pekerja Indonesia
44
.
45
.

46
.
47
.
48
.

Bonus Info Kewarganegaraan


PARTAI MESTI SEDERHANA
(Penyederhaan Harus Lewat Seleksi Alam)

Sistem multipartai sederhana mesti tercipta lewat Pemilihan Umum


2009, Sistem multipartai dalam Pemilu 1999 dan 2004 sudah cukup
digunakan sebagai bahan pelajaran dalam proses transisi demokrasi.
Pandangan itu disampaikan Wakil Sekjen Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan Sutradara Ginting dan Wakil Sekjen Partai Golkar Priyo
Budi Santoso secara terpisah di Jakarta. Keduanya sependapat sistem
multipartai sederhaana didasari pada pertimbangan perlunya stabilitas
pemerintahan sistem presidential. Sepanjang jumlah partai politik banyak,
pemerintahan cenderung tidak stabil dan tidak produktif.
Penyederhanaan partai harus dilakukan lewat seleksi alam, dipandu
mekanisme yang demokratis, dan tidak top-down. “Multi partai sekarang
ini hanya hebat dalam ingar bingar demokrasi, tapi tidak bisa membangun
ekonomi,” kata Priyo. Sutradara menilai ambang batas (electoral
threshold) pada Pemilu 1999 dan 2004 tidak sejalan dengan ide
multipartai sederhana. Parpol yang tidak mempunyai ambang batas tetap

1
saja punya wakil di DPR atau DPRD. Fenomena khas Indonesia itu bisa
dipahami karena kedua pemilu itu merupakan pemilu masa transisi.
Mestinya, ketentuan ambang batas diterapkan secara konsekuen,
parpol yang tidak memenuhinya tidak bisa mengirimkan wakilnya duduk
di lembaga legislatif dan itu diberlakukan dipusat ataupun di daerah. Cara
itu sekaligus akan menegaskan adanya parpol dengan basis lokal (political
party with local base). Secara tidak langsung, prinsip itu juga akan
memangkas egoisme elite karena adanya “paksaan” berkoalisi dengan
parpol lain. Parpol yang lolos ambang bataspun mesti terbuka
menampung kader berkualitas dari parpol yang tidak lolos ambang batas.
Priyo menyebutkan, penyederhaan parpol bisa dimulai dengan
penetapan sistem pemilu. Sistim distrik memang memungkinkan
penyederhanaan lebih cepat. Namu bisa juga diintrodusir larangan
membentuk parpol baru, kecuali untuk daerah khusus. Ketua Partai
Demokrat Anas Urbaningrum secara terpisah menyebutkan, electoral
threshold yang cocok di Indonesia adalah untuk seleksi pemilu berikutnya,
bukan pola hilangnya kursi bagi parpol yang tidak memenuhi ambang
batas itu. Pola ambang batas dengan hilangnya kursi kurang cocok
dengan asas representasi karena kursi di lembaga legislatif merupakan
perwujudan dari perolehan suara.

Sumber : Kompas, 24/5/2006.

 Kelompok Kepentingan (Interest Group)


Kelompok kepentingan (interest group), dalam gerak langkahnya
akan sangat tergantung kepada sistem kepartaian yang diterapkan
dalam suatu negara. Aktivitas kelompok kepentingan umumnya
menyangkut tujuan-tujuan yang lebih terbatas, dengan sasaran-
sasaran yang monolitis dan intensitas usaha yang tidak berlebihan.
Kelompok kepentingan bisa menghimpun ataupun mengeluarkan dana
dan tenaganya untuk melaksanakan tindakan-tindakan politik yang
biasanya berada di luar tugas partai politik.
Dalam hal-hal tertentu, kelompok kepentingan seringkali
bergandengan erat dengan salah satu partai politik, adakalanya
menjaga jarak/bersifat independen, tidak menutup kemungkinan
kelompok kepentingan melakukan negosiasi dan mencari dukungan
dengan berbagai partai yang diprediksikan akan dan mampu
memperjuangkan kepentingannya demi pencapaian tujuannya.

Fokus Kita :
Suatu kelompok kepentingan, adalah “setiap organisasi yang
berusaha mempengaruhi kebijaksanaan pemerintah tanpa, pada
waktu yang sama, berkehendak memperoleh jabatan publik”.

Menurut Gabriel A. Almond, kelompok kepentingan dapat


diidentifikasi ke dalam jenis-jenis kelompok sebagai berikut :

1
a. Kelompok Anomik
Kelompok-kelompok anomik ini terbentuk di antara unsur-unsur
dalam masyarakat secara spontan dan hanya seketika, dan karena
tidak memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang mengatur,
kelompok ini sering bertumpang tindih (overlap) dengan bentuk-
bentuk partisipasi politik non-konvensional, seperti demonstrasi,
kerusuhan, tindak kekerasan politik dan sebagainya. Tetapi kita
harus hati-hati menilai, sebab seringkali yang nampak anomik itu
kadang-kadang merupakan tindakan yang direncanakan secara
teliti oleh kelompok kepentingan yang terorganisir.

b. Kelompok Non-Assosiasonal
Kelompok kepentingan non-asosiasional, biasanya jarang yang
terorganisir rapi dan kegiatannya bersifat kadang kala. Ini
mungkin berwujud kelompok-kelompok keluarga dan keturunan
atau etnik, regional, status dan kelas yang menyatakan
kepentingan secara kadang kala melalui individu-individu, klik-klik,
kepala keluarga atau pemimpin agama, dan semacam itu.
Misalnya, keluhan dari delegasi informal suatu kelompok linguistik
mengenai bahasa pengantar di sekolah, permintaan dari beberapa
tuan tanah kepada seorang birokrat dalam suatu klub sosial
informal tentang tarif hasil pertanian dan sebagainya.
Pertemuan-pertemuan sosial, pesta-pesta tidak resmi, dan
semacamnya seringkali menciptakan situasi yang memungkinkan
pembicaraan tawar-menawar (bargaining) antara para pembuat
keputusan dan kelompok-kelompok warga negara yang memiliki
kepentingan yang sama.

c. Kelompok Institusional
Organisasi-organisasi seperti partai politik, korporasi bisnis,
badan legislatif, militer, birokrasi, dan gereja seringkali
mendukung kelompok kepentingan institusional atau memiliki
anggota-anggota yang khusus bertanggung jawab melakukan
kegiatan lobbying. Kelompok ini bersifat formal dan memiliki
fungsi-fungsi politik atau sosial lain di samping artikulasi
kepentingan. Tetapi, baik sebagai badan hukum maupun sebagai
kelompok-kelompok lebih kecil dalam badan hukum itu (seperti
fraksi-fraksi badan legislatif, klik-klik perwira, departemen, dan
klik-klik ideologis dalam birokrasi). Kelompok semacam ini bisa
menyatakan kepentingannya sendiri maupun mewakili kepentingan
dari kelompok-kelompok lain dalam masyarakat. Bila kelompok-
kelompok kepentingan institusional sangat berpengaruh, biasanya
akibat dari basis organisasinya yang kuat.
Klik-klik militer, kelompok-kelompok birokrat, dan pemimpin-
pemimpin partai sangat dominan di negara-negara belum maju, di
mana kelompok kepentingan asosiasional sangat terbatas
jumlahnya atau tidak efektif. Misalnya, di banyak negara baru di
Asia dan Afrika pemerintahan hasil pemilihan umum seringkali
dijatuhkan dan diganti oleh rezim-rezim militer otoriter.

d. Kelompok Assosiasonal

2
Kelompok asosiasional meliputi serikat buruh, federasi kamar
dagang atau perkumpulan usahawan dan insdustrialis, paguyuban
etnik, persatuan-persatuan yang diorganisir oleh kelompok-
kelompok agama, dan sebagainya. Secara khas kelompok ini
menyatakan kepentingan dari suatu kelompok khusus, memakai
tenaga staff profesional yang bekerja penuh, dan memiliki
prosedur teratur untuk memustuskan kepentingan dan tuntunan.
Kegiatan politik utama dari kelompok asosiasional antara lain
melakukan tawar menawar (bargaining) di luar saluran-saluran
partai politik dengan pejabat-pejabat pemerintah tentang
peraturan pemerintah dan usul rencana undang-undang di
parlemen. Mereka juga berusaha mempengaruhi opini masyarakat
dengan mengiklankan kampanye-kampanye, misalnya,
penentangan terhadap usaha nasionalisasi perusahaan tertentu.
Pelaksanaan kegiatan kelompok kepentingan di dalam suatu
negara akan sangat bergantung kepada sistem politik pemerintah
dalam hal sistem kepartaiannya. Kiprah suatu kelompok kepentingan,
akan sangat berbeda pada negara yang menganut sistem kepartaian
tunggal dan sistem kepartaian dua partai/ lebih (dwi atau multi parti).
Untuk lebih jelasnya perhatikan pada matrik di bawah ini.

Sistem Kepartaian Suatu Negara


Partai Tunggal (Totaliter) Dwi Partai (Dua partai atau
lebih)
 Kelompok kepentingan sangat  Kelompok kepentingan
dibatasi, karena pemerintahan berpeluang tumbuh dan
totaliter (Fasisme, Komunisme, dan berkembang dengan pesat
Nazisme). (di negara-negara
 Partisipasi politik sulit berkembang Demokrasi).
dan tidak kompetitif.  Partisipasi politik yang
 Rakyat dipaksa menerima satu pluralitas, sehingga terjadi
ideologi yang menggiring ke arah suasana kompetitif.
pola tingkah laku yang seragam.  Ideologi diterima sebagai
 Aspirasi rakyat/kebebasan dalam pedoman tingkah laku yang
berbicara dan media komunikasi perlu dikembangkan dalam
pers sangat dibatasi pemerintah. berbagai aspek kehidupan.
 Rakyat sering dimobilisir ke arah  Adanya kebebasan berbicara
aksi politik yang sudah digariskan dan media komunikasi yang
penguasa. didukung struktur
 Pemerintah sering membuat suasana masyarakat yang
yang secara psikologis menakutkan demokratis.
rakyatnya.  Tersedianya saluran untuk
 Pola kelompok kepentingan tidak berhubungan dengan pusat-
lebih hanya sekedar pendukung pusat pemerintahan.
kelompok yang mapan saja.  Akses dalam mencapai
tujuan-tujuan kebijakan
umum, jauh lebih luas.
 Kelompok kepentingan
berperan seba-gai saluran
yang meningkatkan fungsi

2
wakil-wakil dalam proses
pembuatan keputusan.

Kelompok kepentingan pada negara totaliter (partai tunggal), pada


umumnya dianut oleh negara komunis (Rusia, RRC, Vietnam, Korea
Utara, Kuba dan lain-lain). David Lane, (seorang analisis politik)
mengidentifikasi ada sebanyak 5 (lima) kategori kelompok
kepentingan di Uni Soviet (Rusia) sebagai berikut :
a. Elite politik, seperti anggota-angota politbiro.
b. Kelompok-kelompok institusional, seperti serikat-serikat
dagang.
c. Kelompok-kelompok pembangkang yang setia, seperti para
dokter dan guru.
d. Pengelompokkan-pengelompokkan sosial yang tidak terorganisir
dalam satu kesatuan, seperti petani dan tukang.
e. Kelompok-kelompok yang tidak terorganisir dalam satu
kesatuan, yang bukan merupakan bagian dari aparat Soviet
(Rusia), atau yang mempunyai jarak dengan rezaim penguasa,
seperti kelompok intelektual yang menentang rezim atau anggota
sekte-sekte keagamaan tertentu.
Pada negara yang menerapkan sistem dua partai, disiplin partai
baik dalam parlemen maupun kabinet relatif lebih ketat dan hal ini
merupakan kendala tersediri terutama untuk mendukung sepenuhnya
program-program kelompok-kelompok tertentu. Siasat yang sering
digunakan oleh kelompok kepentingan biasanya dengan mensponsori
atau menolak sama sekali amandemen undang-undang. Tidak bisa
dipungkiri bahwa kelompok kepentingan dapat memainkan peranan
yang cukup penting pada negara-negara yang menganut sistem dua
partai.
Di negara berkembang pada umumnya, dan khususnya di
Indonesia masyarakat yang tergabung dalam kelompok kepentingan
biasanya sensitif terhadap isu politik dalam lingkup kelompok politik
yang sempit. Masyarakat masih dibatasi realita hak politiknya
(terutama masa orde baru) oleh para pemegang kekuasaan
negara/pemerintah, dengan asumsi demi stabilitas politik. Nampak
bahwa pada masa itu pemegang kekuasaan negara/pemerintah cukup
tangguh mengendalikan kehidupan politik supaya terdapat
keleluasaan bagi proses pembangunan bidang kehidupan lainnya. Hal
ini berakibat timpangnya distribusi sumber daya politik dan
masyarakat menjadi ketergantungan dengan elite politik, sehingga
kedewasaan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dan positif dalam
proses politik terhambat.
Namun pasca orde baru (tahun 1998) yang disebut dengan era
reformasi, telah membawa masyarakat dalam tumbuhkembangnya
partisipasi politik “demokratisasi” setelah selama 32 tahun dikekang
dengan berbagai instrumen politik dan peraturan perundangan.
Berkembangnya sistem politik di Indonesia dewasa ini tidak lepas dari
peran kelompok kepentingan yang selama orde baru berkuasa

2
berseberangan, terutama dari kalangan akademisi, politikus, lembaga
swadaya masyarakat, pengusaha dan sebagainya.

Bonus Info Kewarganegaraan


KELOMPOK KEPENTINGAN KEBINGUNGAN
(Partai Sebaiknya Ditata Ulang)

Marakanya pendirian parttai politik menegaskan kembali kebingungan


pada kelompok kepentingan. Kelompok kepentingan yang bersalin diri
menjadi parpol merupakan respons terhadap parpol yang sudah ada yang
dinilia tidak mampu menangkap kegelisahan masyarakat. Selain menjadi
jalan merebut kekuasaan, parpol masih dianggap sebagai mekanisme
tunggal penyaluran aspirasi.
Pakar ilmu politik Universitas Gadjah Mada (UGM) I Ketut Putra
Erawan di Yogyakarta, berpendapat akan lebih baik jika tetap ada
kelompok kepentingan yang kuat di luar parpol dan pusat kekuasaan
negara. Namun, katanya yang terjadi sekarang, saat parpol sebagai
penyaring aspirasi belum optimal, kelompok kepentingan sebagai
infrapolitik-pun kebingungan menetapkan dirinya sendiri. Ketimbang
menjadikan parpol yang ada sebagai penyalur aspirasi, akhirnya kelompok
kepentingan ini ada juga yang mengubah diri menjadi parpol. Jika parpol
baru itu menawarkan ideologi, program, dan juga konstituen yang jelas,
implikasinya pun lebih baik dan luas. Namun yang terjadi saat ini tidak
lebih dari upaya berebut kekuasaan. Menurut Ketut, pada akhirnya
membiarkan parpol-parpol kecil terus tumbuh juga akan menyulitkan.
“Biarpun kecil, mereka bisa meminta konsesi besar,” kata Ketut.
Di Jakarta, Direktur Eksekutif Indobarometer M. Qodari menilai,
maraknya pendirian parpol oleh politisi lama secara psikologis
menunjukkan adanya kecenderungan megalomania atau merasa diri besar.
Ketika politisi lama sudah sekali-dua kali mencoba membangun parpol dan
akhirnya tidak mendapat kepercayaan rakyat secara signifikan, akan lebih
baik jika mereka berhenti saja. Mestinya ada kesadaran bahwa posisi
terbaik buat mereka bukanlah parpol. Namun, Qodari menenkankan hal itu
tidak bisa digeneralisasi begitu saja. Tumbuhnya parpol yang membawa
gagasan yang benar-benar baru menunjukkan ada segmen yang belum
diisi.
Anggota DPR Sutradara Ginting (F-PDIP) di Jakarta, mengatakan
bahwa sistem pemerintahan presidensiil di Indonesia lebih efektif
menggunakan sistem multipartai sederhana. Menurut dia, dengan
banyaknya partai politik yang ada saat ini, lebih baik diadakan penataan
ulang pada pemilu 2009 mendatang. Ketua Badan Pemenangan Pemilu
PAN Totok Daryanto di Jakarta mengatakan, partainya membuka diri
untuk menaungi semua parpol peserta pemilu 2004 yang tidak mencapai
electoral threshold (ambang batas minimal).

Sumber : Kompas, 26/12/2006

2
Penugasan Praktik Kewarganegaraan

2 baik dari buku, koran, majalah, internet, buletin dan sebagainya, ke


Carilah sumber informasi lain
Rumuskan kembali yang dimaksud dengan infra struktur politik yang pada umumnya ada pada sis
Berikan alasan penjelasan, mengapa pasca kemerdekaan dikeluarkan Maklumat Pemerintah tang
Berikan alasan penjelasan hal-hal yang mendorong pada masa pemerintah Orde Baru, partai-part
Jelaskan dengan alasan, mengapa pada era reformasi bangsa Indonesia menghendaki kembali mu
Berikan penjelasan singkat perbedaan pokok peran dan fungsi kelompok kepentingan di Indonesa

 Kelompok Penekan (Pressure Group)


Kelompok penekan (pressure group) merupakan salah satu institusi
politik yang dapat dipergunakan oleh rakyat untuk menyalurkan aspirasi
dan kebutuhannya dengan sasaran akhir adalah untuk mempengaruhi
atau bahkan membentuk kebijaksanaan pemerintah. Adapun cara yang
dipergunakan dapat melalui persuasi, propaganda, atau cara-cara lain
yang dipandang lebih efektif. Kelompok penekan dapat terhimpun dalam
beberapa asosiasi yang mempunyai kepentingan sama, antara lain :
a. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),
b. Organisasi-organisasi sosial keagamaan,
c. Organisasi Kepemudaan,
d. Organisasi Lingkungan Hidup,
e. Organisasi pembela Hukum dan HAM, serta
f. Yayasan atau Badan hukum lainnya.
Mereka pada umumnya dapat menjadi kelompok penekan dengan
cara mengatur orientasi tujuan-tujuannya yang secara operasional
(melakukan negosiasi/lobby) sehingga dapat mempengaruhi
kebijaksanaan umum. Kelompok pengusaha, industriawan dan asosiasi
lainnya sering menggunakan tenaga mereka (menjadi
negosiator/pelobbyst) untuk memperjuangkan kepentingannya.
Dalam realitas kehidupan politik, kita mengenal berbagai kelompok
penekan baik yang sifatnya sektoral maupun regional. Tujuan dan target

2
mereka biasanya bagaimana agar keputusan politik berupa undang-
undang atau kebijaksanaan yang dikeluarkan oleh pemrintah lebih
menguntungkan kelompoknya (sekurang-kurangnya tidak merugikan).
Manakala ada rancangan undang-undang/kebijaksanaan atau program
yang merugikan kelompoknya dan menguntungkan kelompok lain,
dengan berbagai cara mereka akan berusaha menghalang-halangi.
Kelompok penekan, kadang-kadang muncul lebih dominan dibanding
dengan partai politik, manakala partai politik peranannya tidak bisa lagi
diharapkan untuk mengangkat isu sentral yang mereka perjuangkan.
Kondisi inilah yang mendorong kelompok penekan tampil kedepan
sebagai alternatif terkemuka. Untuk memperbesar pengaruh, mereka
acapkali berusaha menciptakan image masyarakat yang baik terhadap
kelompoknya, yakni dengan menampilkan program-program
kemasyarakatan berupa aksi sosial, aksi politik guna menumbuhkan
kesadaran politik masyarakat. Tidak jarang mereka menampilkan
aktivitas rekreatif, olahraga dan kepemudaan serta menerbitkan laporan-
laporan kegiatannya dalam media massa. Hal ini dilakukan untuk
menciptakan pendapat umum yang menguntungkan kelompoknya.

 Media Komunikasi Politik (Political Communication


Media)
Media komunikasi politik merupakan salah satu instrumen politik
yang dapat berfungsi untuk menyampaikan informasi dan persuasi
mengenai politik baik dari pemerintah kepada masyarakat maupun
sebaliknya. Media komunikasi antara lain berupa surat kabar, telefon,
faximile, internet, televisi, radio, film, dan sebagainya dapat memainkan
peran penting terhadap penyampaian informasi serta
pembentukan/mengubah pendapat umum dan sikap politik publik.

Fokus Kita :
Media komunikasi politik apabila disajikan secara komunikatif,
hal ini akan memberi efek bukan saja informatif tetapi juga
komunikan akan mengerti dan tahu serta bersedia menerima suatu
paham atau keyakinan tertentu. Dewasa ini media cetak dan
elektronik kian dituntut terlibat dalam proses demokratisasi yang
tidak hanya sebagai alat artikulasi kepentingan masyarakat, akan
tetapi juga mampu menjadi mitra pemerintah. Oleh sebab itu, posisi

Ada beberapa terori komunikasi yang membahas tentang peranan


komunikasi yang membahas tentang peranan komunikasi massa dalam
pembangunan.

No Teori Uraian / Keterangan


Komunikasi
1. Null Peranan komunikasi sedikit sekali maknanya atau
bahkan tidak penting sama sekali, justru faktor-
faktor yang betul penting dalam pembangunan
adalah faktor ekonomis, dan faktor-faktor lain

2
seperti pendidikan, kemajuan kebudayaan,
stabilitas politik dan komunikasi massa dianggap
tidak relevan bahkan tergantung pada
perkembangan ekonomi.
2. The Komunikasi media massa mempunyai peranan
Enthusiastic yang menentukan dalam perjuangan mencapai
Positition perdamaian dan kemajuan kemanusiaan dalam
(Pandangan setiap lingkup kegiatan. Bahkan potensi
Antusias) komunikasi massa dianggap sebagai kunci ajaib
bagi seluruh proses pembangunan.
3. The Coutious Komunikasi massa tidaklah terlalu besar
Position pengarusnya (omnipotent) yaitu bahwa
(Pandangan penyebaran pesan-pesan (messages) melalui
Hati-hati) media massa itu tidak menjamin akan timbulnya
perhatian, penelaahan, perubahan sikap atau
tindakan, terhadap pesan itu; dan bahwa faktor
sosial budaya dapat menghalangi, mengaburkan
atau bahkan menghapus sama sekali pesan-pesan
media itu.
4. The Komunikasi massa harus mampu menyesuaikan
Pragmatic diri dengan berbagai macam data dan hipotesa
Posisition dari segala situasi dan kultural. Ia mengakui
(Pandangan bahwa media massa mungkin saja tidak
Pragmatis) berpengaruh, meskipun berpengaruh tetapi
terbatas atau sangat berpengaruh, tergantung
pada kondisi-kondisi yang ada. Ia tidak menolak
kemungkinan efek-efek media yang langsung
maupun tidak langsung melalui orang-orang yang
berpengaruh besar, kemungkinan efek-efeknya
yang segera bisa diukur maupun efek-efek jangka
panjang melalui pertambahan yang hampir-
hampir tidak dapat dilihat.

Bonus Info Kewarganegaraan


POSISI DILEMATIS MEDIA MASSA
Gunawan Muhammad mengatakan, ketika pengontrolan ketat terus
dilakukan terhadap pers, saat itu pula terjadi arus informasi yang kian
deras lewat print out (hasil cetakan), seperti internet, komputer atau
faksimile. Fakta yang terjadi dalam dunia pers Indonesia, mengingatkan
perjuangan pers dalam usaha menegakkan demokratisasi yang terjadi di
Nigeria (Dele Giwa), Philipina (Evelio B. Javier) dan Colombia
(Silvia) yang meringkuk dalam penjara dan bahkan terbunuh untuk
mempertahankan kemerdekaan pers dan demokrasi.
Posisi dilematis sebagaimana dihadpi pers negara-negara berkembang
dewasa ini yakni antara mempertahankan kebenaran dan keadilan (boleh
jadi oposisi), dan larus malam kepentingan pemerintah (yang berarti
fungsi kontrolnya tercerabut dari akarnya). Mencermati kondisi di atas,

2
mendorong pemikiran bagaimana memposisikan pers agar tidak terbawa
arus tarik menarik antara kepentingan kekuasaan dan kepentingan
hukum. Dalam konteks semacam ini, menurut Alfian, pengendalian
komunikasi politik bersifat “gelang karet”, seperti tersimpul dalam konsep
“kebebasan pers yang bertanggungjawab”. Kata-kata “bertanggungjawab”
dibelakang kebebasan pers merupakan kewajiban pers terhadap negara,
seperti tercantum dalam Undang-Undang No. 21 Tahun 1982 tentang
Pokok-Pokok Pers, sehingga dalam pasalnya dinyatakan “Pers mempunyai
hak kontrol, kritik, dan koreksi yang bersifat konstruktif.

Sumber : Media Indonesia, 7/1/1996 dalam Arifin Rahman “Sistem


Politik Indonesia”.

 Tokoh Politik (Political Figure)


Pengangkatan tokoh-tokoh politik merupakan proses transformasi
seleksi terhadap anggota-anggota masyarakat dari berbagai sub-kultur,
keagamaan, status sosial, kelas dan atas dasar isme-isme kesukuan dan
kualifikasi tertentu, yang kemudian memperkenalkan mereka pada
peranan-peranan khusus dalam sistem politik. Bagi aktor-aktor politik itu
sendiri, pengangkatan diri mereka selalu melalui proses, yaitu :
a. Transformasi dari peranan-peranan non-politis kepada suatu
situasi dimana mereka menjadi cukup berbobot memainkan peranan-
peranan politik yang bersifat khusus.
b. Pengangkatan dan penugasan untuk menjalankan tugas-tugas
politik yang selama ini belum pernah mereka kerjakan, walaupun
mereka telah cukup mampu untuk mengemban tugas seperti itu.
Proses pengangkatan itu melibatkan baik persyaratan status maupun
penyerahan posisi khusus pada mereka.

Fokus Kita :
Secara umum pengangkatan tokoh-tokoh politik, dilegitimasi
melalui penjelmaan nilai-nilai sebuah sistem, baik sistem otokrasi,
oligarki, monarki, aristokrasi, totaliter maupun demokrasi. Disamping
itu ada tujuan-tujuan lain yang sifatnya terpadu yaitu identifikasi diri,
prestise internasional dan kebangkitan kebudayaan bangsa.

Faktor sebab dan akibat yang dapat berpengaruh dalam proses


pengangkatan tokoh-tokoh politik adalah sebagai berikut :

Pengangkatan Tokoh-Tokoh Politik


Faktor Sebab Faktor Akibat
Pengangkatan tokoh-tokoh politik Mengambarkan sistem nilai di
akan menentukan kesempatan bagi dalam masya-rakat serta derajat
partisipasi politik dan kesempatan konsistensi dan kontradik-sinya,
untuk mendapatkan status. Ia juga derajat dan tipe representativitas
akan mempengaruhi segala bentuk sistem tersebut, dasar-dasar

2
kebijaksanaan umum yang akan dike- stratifikasi sosial dan artikulasinya
luarkan, mempercepat atau dengan sistem politik, serta
memperlambat pertumbuhan dan struktur dan perubahan di dalam
perubahan sosial, mempe-ngaruhi peranan-peranan politik yang
distribusi kekuasaan dan prestise berlangsung.
sosial, serta stabilitas sistem itu
sendiri.

Di dalam benak masyarakat sering timbul pertanyaan apakah


pengangkatan tokoh-tokoh politik akan berpengaruh besar terhadap
pembangunan dan perubahan ?. Pada umumnya pengangkatan tokoh-
tokoh politik akan memberikan angin segar dalam memaparkan
beberapa komponen perubahan dalam segala bentuk dan manifestasinya.
Hal lain, nampaknya pada negara-negara berkembang menunjukkan
adanya pertumbuhan ekonomi dari pola agraris ke arah ekonomi yang
bertumpu pada kekuatan industri.
Pengangkatan tokoh-tokoh politik akan berakibat terjadinya
pergeseran disektor infrastruktur politik, organisasi, asosiasi-asosiasi,
kelompok-kelompok kepentingan serta derajat politisasi dan partisipasi
masyarakat. Hal ini mungkin saja terjadi, manakala terciptanya iklim
yang kondusif dalam proses sosialisasi politik, pemberian kesempatan
kerja dan usaha yang adil dan merata di semua lapisan masyarakat.
Menurut Lester G. Seligman, bahwa proses pengangkatan tokoh-
tokoh politik akan berkaitan dengan beberapa aspek yakni :
a. Legitimati elit politik,
b. Masalah kekuasaan,
c. Representativitas elit politik, dan
d. Hubungan antara pengangkatan tokoh-tokoh politik dengan
perubahan politik.
Di negara-negara demokrasi pada umumnya, pengangkatan tokoh-
tokoh politik dilakukan melalui pemilihan umum. Hal ini akan berbeda
jika dilaksanakan di negara-negara totaliter, diktator atau otoriter.
Kriteria dan persyaratan politik lain dalam sistem politik masyarakat
yang sudah maju adalah “representativitas”. Tugas-tugas politik
diluncurkan sekaligus didesak oleh beberapa kelompok yang
berpengaruh dan memiliki wakil-wakilnya, seperti juru bicara dan wali-
wali lainnya yang berperan dalam sistem. Pada negara-negara yang
sedang berkembang pengelompokan masih didasarkan atas persamaan
daerah, suku bangsa, bahasa dan agama. Ada juga yang berdasarkan
persamaan profesi, dan keahlian tertentu.

2. Supra Struktur Politik


Di dalam kehidupan sehari-hari, antara suasana kehidupan politik
rakyat (the social-political sphere) dan suasana kehidupan politik
pemerintah (the governmental political sphere) kedua bidang kehidupan
tersebut hanya dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan. Demikian
juga antara infrastruktur politik dan supra struktur politik di dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam sistem
politik negara.

2
Supra struktur politik (elit pemerintah), merupakan mesin politik
resmi di suatu negara sebagai penggerak politik formal. Kehidupan
politik pemerintah bersifat kompleks, karena akan bersinggungan
dengan lembaga-lembaga negara yang ada, fungsi dan
wewenang/kekuasaan antara lembaga yang satu dengan lainnya.
Suasana ini pada umumnya dapat diketahui di dalam konstitusi atau
undang-undang dasar dan peraturan perundangan-undangan suatu
negara.
Perihal yang menduduki kekuasaan pada supra struktur politik di
suatu negara, secara umum dapat dilihat berikut ini.
Supra Struktur Politik
Pada Negara Monarki Pada Negara Republik
Kelompok elit pemerintah biasanya Tidak sedikit elit politik bersifat
dikuasi oleh keluarga bangsawan, diktator, karena kekuasaannya
atau oleh suatu kabinet manakala dipegang sendiri atau direkayasa
raja/ratu berperan sebagai lambang untuk memegang jabatan pemerin-
kebesaran atau sebagai alat pemer- tahan. Namun juga banyak yang
satu. Kabinet /dewan menteri dapat bersifat demokratis. Hal ini sangat
dibentuk berdasarkan pemilu atau tergantung pada Konstitusi/UUD-
karena restu raja/ ratu, tergantung nya yang mengatur pemba-gian
tingkat pendemokrasiannya. Raja kekuasaan di suatu negara.
atau ratu sebagai elit politik Lembaga-lembaga kekuasaan
kedudukan-nya adalah turun inilah yang memegang kendali
temurun. pemerintahan dalam arti luas.

Dalam perkembangan ketatanegaraan modern, pada umumnya elit


politik pemerintah dibagi dalam kekuasaan eksekutif (pelaksana
undang-undang), legislatif (pembuat undang-undang), dan yudikatif
(yang mengadili pelanggaran undang-undang) dengan sistem pembagian
kekuasaan atau pemisahan kekuasaan.
Untuk terciptanya dan mantapnya kondisi politik negara, maka supra
struktur politik harus memperoleh dukungan dari infra struktur politik
yang mantap pula. Rakyat, baik secara berkelompok berupa partai politik
atau organisasi kemasyarakatan, maupun secara individual dapat ikut
berpartisipasi dalam pemerintahan melalui wakil-wakilnya. Dengan
demikian berarti bahwa sistem politik dan juga mekanisme
pemerintahan (government mechanism) dapat memenuhi fungsinya,
manakala :
a. Sistem politik mampu mempertahankan pola, dalam
arti dapat mempertahankan tata cara, kebiasaan-kebiasaan, norma-
norma dan prosedur-prosedur yang berlaku. Pola ini dapat
dipertahankan apabila rakyat menerima dan meyakini, sedangkan
penerimaan dan pengakuan sesuatu pola dalam satu sistem politik
tergantung diikutsertakan/diwakili tidaknya rakyat dalam mekanisme
pemerintahan tersebut.
b. Sistem politik mampu menyelesaikan ketegangan,
dalam arti dapat mendamaikan perselisihan, konflik dan perbedaan
pendapat yang selalu timbul dalam masyarakat dengan cara dan

2
prosedur yang sedapat mungkin memuaskan semua pihak. Cara-cara
penyelesaian berupa konsultasi, perundingan/negosiasi dan pencairan
alternatif terbaik, melalui musyawarah untuk mufakat merupakan
cara penyelesaian yang sangat menguntungkan semua pihak untuk
menyelesaikan ketegangan.
c. Perubahan-perubahan, dalam arti memiliki
kemampuan adaptasi yang besar untuk menyesuaikan diri dengan
perkembangan-perkembangannya yang terjadi baik di dalam negeri
maupun dalam rangka hubungan internasional yang bersifat
interdependesi dan interrelasi antar negara.
d. Sistem politik harus mampu mewujudkan tujuan
nasional, dalam arti kristalisasi keinginan anggota masyarakat
menjadi tekad yang harus dicapai dan menentukan cara untuk
mencapai tujuan itu. Hal ini bisa berupa Garis-garis Besar Haluan
Negara dan peraturan perundang-undangan lainnya sebagai dasar
yuridis formal dalam upaya meraihnya.
e. Sistem politik harus mampu mengintegrasikan dan
menjamin keutuhan seluruh sistem sosial, karena ancaman, hambatan
terhadap sistem sosial yang berupa rasa ketidakpuasan, keresahan,
ketegangan, perpecahan/disentegrasi merupakan masalah yang harus
diselesaikan oleh sistem politik itu sendiri.

Supra Struktur politik di negara Indonesia sejak bergulirnya gerakan


reformasi tahun 1998 sampai dengan tahun 2006, telah membawa
perubahan besar di dalam sistem politik dan ketatanegaraan republik
Indonesia. Era reformasi disebut juga sebagai “Era Kebangkitan
Demokrasi”. Presiden B.J. Habibie dalam pidato kenegaraan di
hadapan DPR/MPR pada tanggal 15 Agustus 1998, antara lain
menyebutkan :
a. Esensi Reformasi Nasional, adalah koreksi terencana,
melembaga dan berkesinambungan terhadap seluruh penyimpangan
yang telah terjadi dalam bidang ekonomi, politik dan hukum.
b. Sasarannya, adalah agar bangsa Indonesia bangkit kembali
dalam suasana yang lebih terbuka, lebih teratur dan demokratis.
Penetapan sasaran ini dilandasi oleh kesadaran bahwa “penyakit
utama” rezim Orde Baru adalah dikenal Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme (KKN) yang telah terbukti mengakibatkan lemahnya daya
tahan bangsa dan negara di segala bidang, terutama bidang ekonomi,
politik dan hukum.

Program reformasi yang digulirkan oleh pemerintahan B.J. Habibie


(sebagai peletak dasar) dan K.H. Abdurahman Wahid (sebagai
penerus), dalam bidang politik dapat disebutkan sebagai berikut :

Strategi /Kebijaksanaan Keterangan / Tindak Lanjut

3
 Menegakkan kembali demokrasi
yang bertumpu pada partisipasi
aktif rakyat. Pemberian ruang
gerak yang luas terhadap hak-hak
untuk mengeluarkan pendapat
secara lisan maupun tulisan yang
diwujudkan antara lain dalam a. Dikeluarkannya UU No. 2/1999
bentuk : tentang “Partai Politik”.
a. pembentukan partai-partai b. Dikeluarkannya UU No. 9/1998
politik dan organisasi lainnya. tentang “Kemerdekaan
b. Kebebasan unjuk Menyampaikan Pendapat”
rasa/demonstrasi dalam
a. Dikeluarkannya Ketetapan MPR
menyampaikan aspirasi.
No.IX/ MPR/1998 tentang
 Menciptakan pemerintahan yang “Penyelenggaraan Negara yang
bersih, berwibawa, dan bersih dan bebas KKN”.
bertanggung jawab dengan cara : b. Keluarnya UU No. 5/1999
a. bersih dari praktik-praktik tentang “Pega-wai Negeri yang
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme menjadi anggota Partai Politik”.
(KKN).
b. memberikan pelayanan
kepada masyarakat secara adil
dan merata.

Reformasi di bidang politik dan hukum ketatanegaraan, yaitu dengan


dilaksanakannya amandemen Undang-Undang Dasar 1945 selama 4
(empat kali) dari tahun 1999 – 2002. Amandemen pertama, disahkan (19
Oktober 1999), kedua (18 Agustus 2000), ketiga (10 November 2001)
dan keempat (10 Agustus 2002). Adanya amandemen UUD 1945
tersebut, telah merubah struktur supra politik di Indonesia sebagai
berikut :
Sebelum Amandemen Setelah Amanden
Lembaga Tertinggi Negara : Lembaga Negara :
 Majelis Permusyawaratan Rakyat 1. Majelis Permusyawaratan Rakyat
(MPR) (MPR)
Lembaga Tinggi Negara : 2. Presiden
1. Presiden 3. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
2. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) 4. Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK)
3. Dewan Pertimbangan Agung (DPA)
4. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) 5. Mahkamah Agung
6. Mahkamah Konstitusi
5. Mahkamah Agung

Penugasan Praktik Kew


Setelah mempelajari materi-materi3tentang : Infra Struktur Politik dan Supra Struktur Politik, lakukan Strategi Pembel
Langkah-langkah :
Bentuk kelompok dengan anggotanya antara 4 – 5 orang.
Diberikan “wacana” atau kliping sesuai dengan topik pembelejaran.
Setiap kelompok bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok serta memberi tanggapan terhadap wacana/kl
Mempresentasikan atau membacakan hasil kelompok. 3
Buatlah kesimpulan bersama.
Penutup.
C. PERBEDAAN SISTEM POLITIK DI BERBAGAI NEGARA
1. Pendekatan Sistem Politik Negara
Untuk mengetahui adanya perbedaan sistem politik diberbagai
negara, terlebih dahulu perlu dipahami fungsi dari sistem politik
tersebut. Terdapat 3 (tiga) fungsi politik yang tidak secara langsung
terlibat dalam pembuatan dan pelaksanaan pemerintahan (public
policy), tetapi sangat penting dalam menentukan cara bekerjanya
sistem politik, yaitu sebagai berikut :
a. Sosial Politik. Setiap sistem politik merupakan fungsi
pengembangan dan memperkuat sikap-sikap politik di kalangan
penduduk umum, bagian-bagian dari penduduk, atau melatih
rakyat untuk menjalankan peranan-peranan politik, administratif,
dan judicial tertentu. Fungsi ini melibatkan keluarga, sekolah,
media komunikasi, lembaga keagamaan, pekerjaan dan berbagai
struktur politik.
b. Rekrutmen Politik (Political Recruitment). Rekrutmen
merupakan fungsi penyeleksian rakyat untuk kegiatan politik dan
masa jabatan pemerintahan melalui penampilan dalam media
kemunikasi, menjadi anggota organisasi, mencalonkan diri untuk
jabatan tertentu, pendidikan dan ujian.
c. Komunikasi Politik. Komunikasi Politik merupakan jalan
mengalirnya informasi melalui masyarakat dan melalui berbagai
struktur yang ada dalam sistem politik.
Setiap negara memiliki sistem politik yang berbeda-beda. Oleh
sebab itu, dalam mempelajari proses politik suatu negara diperlukan
beberapa pendekatan sebagai berikut :

No Pendekatan Uraian / Keterangan


1. Pendekata Sistem politik dipelajari dari sejarah bangsa. Ada
n Sejarah tiga faktor yang mempengaruhi pendekatan ini,
yakni masa silam (the past), masa sekarang (the
present), dan masa yang akan datang (the future).

2. Pendekata Untuk mempelajari sistem politik suatu negara


n perlu mempelajari sistem sosial/sistem
Sosiologis kemasyarakatan yang ada di suatu negara.
Perbedaan-perbedaan sistem sosial akan
mempengaruhi terhadap sistem politik suatu
negara.

3
3. Pendekata Pendekatan ini diliihat dari pendidikan dan
n Kultural / budaya masyarakatnya. Suatu masyarakat yang
Budaya anggota-anggotanya telah terdidik dan
mempunyai budaya yang tinggi akan berpengaruh
terhadap suatu sistem politik dari negara
tersebut. Suatu masyarakat yang pendidikan dan
budayanya masih rendah akan merupakan
hambatan untuk dibawa ke arah pengembangan
suatu sistem politik yang modern.

4. Pendekata Dalam pendekatan dilihat dari sikap-sikap


n Psycho- masyarakat yang akan berpengaruh terhadap
Sosial / sikap-sikap politik. Suatu masyarakat yang
Kejiwaan tertutup atau menolak, terhadap segala
masyarakat perubahan atau pengaruh luar, akan
mempengaruhi sistem politik sehingga sistem
politik itu pun akan bersifat tertutup.

5. Pendekata Dalam pendekatan ini dibicarakan tentang


n Filsafat filsafat yang menjadi way of life dari masyarakat
atau bangsa itu. Sistem politik suatu
bangsa/negara akan sulit dipisahkan dari way of
life masyarakat/ bangsanya. Suatu masyarakat
yang dalam hidupnya selalu mengutamakan
kepentingan-kepentingan masyarakat dan pola
pikir yang menjunjung tinggi norma-norma adat
dan agama maka sistem politiknya tidak akan
kepas dari filsafat yang dianut oleh
masyarakat/bangsanya.

6. Pendekata Di dalam pendekatan ini, suatu sistem politik


n Ideologi dilihat dan dipelajari dari ideologi bangsa/negara
yang berlaku di dalam negara itu. Ideologi
sebagai ajaran yang dihasilkan oleh pemikiran
manusia tentang konsep-konsep politik, sosial,
ekonomi dan budaya. Dengan kata lain, sistem
politik tidak bisa lepas dari doktrin politik, sosial,
ekonomi dan budaya yang telah diterima oleh
sebagian besar rakyatnya.

7. Pendekata Dalam pendekatan ini, suatu sistem politik dilihat


n dari konstitusi dan undang-undang serta hukum
Konstitusi yang berlaku di dalam negara itu. Jadi, suatu
dan Hukum sistem politik tidak bisa dipisahkan dari
konstitusi negara atau hukum yang berlaku dalam
negara itu. Dengan demikian, segala kegiatan
dari suatu sistem politk akan selalu bersumber
dan berpedoman kepada undang-undang dasar
dan undang-undang yang dapat mencerminkan
apakah sistem politik yang berlaku di negara itu

3
demokratif atau kediktatoran.

2. Perbedaan Sistem Politik Negara


Untuk memahami tentang perbedaan sistem politik yang ada pada
setiap negara, bukanlah sesuatu yang mudah. Perlu waktu untuk
mengadakan studi mendalam tentang apa dan bagaimana suatu
negara dijalankan dengan sistem politik yang dianutnya. Berikut ini
akan disajikan 3 (tiga) contoh negara yang diharapkan dapat mewakili
dari komunitas negara-negara yang ada di dunia, yaitu : a) Sistem
politik negara Inggris (liberal), b) Sistem politik negara Republik
Rakyat China (Komunis), dan c) Sistem politik negara Indonesia.

a. Sistem Politik Negara Inggris


Faktor
Yang
No Uraian / Keterangan
Mempenga
ruhi
1. Latar Masyarakat Inggris sejak abad 19, mulai merubah
Belakang bentuk ekonominya dari ekonomi pertanian dan
Sejarah kerajinan tangan menjadi masyarakat industri
modern. Para politisi mulai menyesuaiakan sistem
politik dan pemerintahannya dengan membuat
undang-undang pembaharuan (reform acts) yang
disahkan pada tahun 1918. Inggris juga
dihadapkan pada masalah upaya membangun
kesejahteraan warganegaranya dan persaingan
sebagai negara industri muda dengan negara
Amerika Serikat, Jerman dan Jepang.

2. Kondisi Kondisi masyarakat Inggris yang semula agraris


Sosiologis feodal, dengan cepat menyesuaikan menjadi
masyarakat industri modern. Oleh sebab itu,
masyarakat Inggris dalam waktu cepat mampu
bersaing dengan negara –negara lain yang lebih
dahulu merintis ke arah industrialisasi. Hal ini
dapat difahami, karena sesungguhnya masyarakat
Inggris adalah bangsa yang paling ”bersifat
kekotaan” atau urban. Meskipun demikian,
masyarakat Inggris tetap menghendaki sistem
monarki dengan satu raja dan banyak bangsa.

3. Kondisi Sebagian masyarakat Inggris memiliki tingkat


Kultural/ pendidikan dan kesejateraan yang baik. Mereka
Budaya dikenal sebagai masyarakat yang disiplin dan taat
pada aturan. Nilai-nilai, keyakinan-keyakinan dan
perasaan-perasaan dari kebudayaan politik
diwariskan dari generasi ke generasi melalui
suatu rangkaian pengalaman dalam keluarga, di
sekolah dan ditempat kerja. Pandangan-

3
pandangan politik sekarang, merupakan
pencerminan sikap yang mereka pelajari semasa
kanak-kanak dan sikap-sikap yang berkembang
sesudah dewasa.

4. Kondisi Mayoritas masyarakat Inggris sangat


Psycho- menghormati simbol-simbol kekuasaan negara,
Sosial / seperti ratu/raja, lembaga pemerintah, dan lain-
Kejiwaan lain. Mereka sangat setia kepada wewenang
masyarakat kekuasaan politik dan senantiasa menunjukkan
ketaatannya kepada undang-undang politik azasi.

5. Pedoman Masyarakat Inggris akan sangat mendukung rejim


Filsafat yang berkuasa, manakala para penguasa juga
mentaati undang-undang politik asasi, dan jika
dilanggar maka akan mengahadapi perlawanan.
Konsep kejahatan politik atau ”kejahatan
melawan negara”, hampir tidak dikenal. Siapapun
orangnya yang melanggar undang-undang
dianggap anti sosial, sehingga orang yang jahat
sangat tercela dan dianggap melawan
masyarakat.

6. Paham Penerapan ideologi negara Inggris yang juga pada


atau umumnya dianut oleh negara-negara Eropa
Ideologi (Barat) adalah ideologi liberal. Masyarakat
yang Inggris dalam kehidupan sehari-hari sangat
diterapkan menghormati kebebasan dan hak-hak asasi
manusia. Meskipun simbol kebebasan ada dalam
berbagai bidang kehidupan, namun mereka
sangat mematuhi peraturan perundang-
perundangan. Negara Inggris tidak memiliki
konstitusi tertulis, namun jika terjadi perdebatan
atas tindakan pemerintah, biasanya diselesaikan
oleh kekuatan politik terkuat. Kekuasaan
pemerintah Inggris tergantung pada raja/ratu,
akan tetapi raja/ratu tersebut hanya berperan
sebagai simbol kolektif bagi lembaga-lembaga
pemerinah dalam sistem Inggris.

7. Pedoman Kekuasaan pemerintah Inggris lebih banyak


Konstitusi dibatasi oleh konvensi (hukum tidak tertulis) dari
dan Hukum pada hukum formal. Rakyat hidup dalam
ketenangan dan kepastian hukum karena
pemerintah memberikan perlindungan hukum
yang baik dan penghormatan terhadap hak-hak
asasi warganegaranya. Aparat penegak hukum
tidaklah merasa sebagai wasit yang senantiasa
mengawasi tindakan-tindakan yang dilakukan
oleh pemerintah maupun warganya. Aturan yang
dibuat, ditaati oleh semua komponen elit politik,

3
pemerintah maupun masyarakat demi jaminan
keamanan dan kesejahteraan bersama.

Dalam struktur politik pemerintahan Inggris, pemegang peranan


politik pusat digolongan dalam 3 (tiga) bagian, yaitu : para menteri
kabinet, para pegawai negeri senior, dan para pegawai tidak tetap
lainnya. Para pemegang peranan politik pusat, pengalaman/senioritas
sangat dihargai. Bagi seseorang yang ingin ke jenjang karier politik,
harus sejak muda mengarah ke jalan karier itu. Pada awalnya, karir
seseorang harus memperoleh peranan politik pusat, kemudian secara
perlahan-lahan menghimpun pengalaman dan senioritas di samping
kecakapan.
Penyelenggaraan pemerintah, dilaksanakan oleh kabinet (Perdana
menteri dan dewan menteri) serta parlemen yang terdiri dari Majelis
Rendah dan Majelis Tinggi. Peranan parlemen dalam merumuskan
kebijaksanaan pemerintah dibatasi, karena cara bekerjanya diawasi
oleh kabinet. Sedangkan Perdana Menteri dapat memastikan bahwa
setiap usul yang diajukan oleh pemerintahnya akan diputuskan dalam
parlemen tepat pada waktu yang telah ditetapkan, dan disetujui
dalam bentuk yang dikehendaki oleh parlemen.
Dalam hal komunikasi politik, media massa televisi dan pers,
merupakan industri yang besar dan kompleks, karena dijadikan
sebagai saluran-saluran komunikasi politik yang sangat terpusat
tetapi kompetitif. Dan untuk itu, masyarakat umum mempercayai
kejujuran media siaran itu. Baik koran, radio maupun televisi sangat
mempengaruhi pola perilaku politik masyarakat. Antara politisi dan
pers sudah terjalin komukasi yang baik, satu sisi wartawan
membutuhkan politisi untuk menjadi sumber berita; disisi lain para
politisi juga membutuhkan wartawan untuk mempublikasikan
pandangan-pandangan dan diri mereka sendiri.

b. Sistem Politik Negara Republik Rakyat Cina (RRC)


Faktor
Yang
No Uraian / Keterangan
Mempenga
ruhi
1. Latar Proses kehidupan sistem politik di China,
Belakang merupakan produk revolusi antara tahun 1911
Sejarah s.d. 1949. Revolusi pertama (1911),
menggantikan sistem kerajaan yang telah
bertahan berabad-abad. Revolusi kedua (1928),
dibentuk pemerintah pusat yang baru di bawah
Kuomintang dengan dominasi satu partai yang
lebih bersemangat, terorganisir, dan terpusat.
Revolusi ketiga (1949), menjadikan Partai
Komunis Cina (PKC) sebagai penguasa dan
membentuk pemerintahan komunis sampai
dengan sekarang.

3
2. Kondisi Pada masyarakat Cina tradisional, lembaga-
Sosiologis lembaga sosial yang dominan adalah keluarga;
setiap individu harus menyesuaikan tindakan-
tindakan mereka demi pemeliharaan dan
kemakmuran unit itu. Mereka mengakui
wewenang kekuasaan para pemimpinnya atas
tingkah laku sosial mereka. Wewenang kekuasaan
politik, pada tingkat apapun, adalah lebih tinggi
daripada tuntutan unsur-unsur dalam masyarakat.
Kesetiaan harus diarahkan pada kepentingan
kolektif dan bukan pada ikatan-ikatan pribadi.

3. Kondisi Pemerintah Cina sejak tahun 1949, telah


Kultural/ mengupayakan pendidikan sabagai salah satu alat
Budaya yang paling efektif untuk mengubah sikap politik
orang-orang Cina. Pemerintah berkepentingan
dengan pendidikan, karena dapat mempermudah
melakukan mekanisme kontrol dalam
mengendalikan warganegara yang mencapai usia
sekolah. Melalui pendidikan, masyarakat ikut
menanggung beban sosialisasi dan menciptakan
masyarakat yang melek huruf sebagai syarat
pendidikan politik dan keterlibatan politik.
Pemerintah menyadari bahwa beban penduduk
yang besar dengan corak agraris, perlu kerja
keras dalam memajukan warganegaranya.

4. Kondisi Negara Cina yang memiliki wilayah dan penduduk


Psycho- terbesar di dunia, sebelum menjadikan Partai
Sosial / Komunis Cina berkuasa selalu dilanda perang
Kejiwaan saudara. Hal ini menyebabkan negara menjadi
masyarakat lemah dan banyak mengalami penyerbuan bangsa
asing. Namun dewasa ini, dengan kepercayaan
diri yang tinggi telah mampu berada dalam suatu
posisi menguasai pengaruh atas suatu wilayah
yang sangat luas dan penting. Mereka juga
bangga telah memiliki kekayaan budaya yang
tinggi yang telah diwariskan oleh para
pendahulunya.

5. Pedoman Mayoritas masyarakat Cina memiliki tingkat


Filsafat kepercayaan diri yang tinggi. Mereka memiliki
keyakinan bahwa mobilisasi dan perjuangan
adalah inti dari politik. Sifat-sifat seperti militer
--antusiasme, kepahlawanan, pengorbanan, dan
usaha bersama – mendapatkan nilai yang tinggi.
Azas percaya diri sendiri mempunyai implikasi
nasional maupun internasional. Dalam dukungan
internasional, meskipun mereka bersimpati,
namun mereka tetap menegaskan bahwa setiap
gerakan harus bersandar pada sumber-sumber

3
dayanya sendiri demi mencapai tujuannya.

6. Paham Sistem komunis timbul secara langsung dari


atau periode revolusioner yang bukan diciptakan oleh
Ideologi kaum komunis. Revolusi Cina telah berlangsung
yang selama berpuluh-puluh tahun sebelum partai
diterapkan komunis menjadi kekuatan yang besar dalam
politik Cina dan mulai menguasai
pemerintahannya. Tidak dapat disangkal bahwa
Uni Soviet mempunyai pengaruh kuat melalui
penyebaran Marxisme-Leninisme. Anti
imperialisme merupakan unsur paling kuat dalam
pembentukan ideologi komunis. Penindasan oleh
bangsa asing harus dihapuskan dan menjadikan
Marxisme-Leninisme sebagai suatu gagasan yang
secara langsung relevan dengan kenyataan
kehidupan politik Cina.

7. Pedoman Berdasarkan Konstitusi tahun 1954, organ


Konstitusi wewenang negara tertinggi dan pemegang
dan Hukum wewenang legislatif satu-satunya dalam sistem
politik negara adalah ”Konggres Rakyat Nasional”
(KRN). KRN merupakan badan perwakilan yang
terdiri dari wakil-wakil yang dipilih oleh konggres
tingkat provinsi, angkatan bersenjata, dan orang-
orang Cina perantauan. KRN merupakan forum
proses politik untuk mempelajari, mendukung,
dan mengesahkan tindakan-tindakan pimpinan
pusat yang melambangkan dukungan rakyat.
Selain KRN, organ administratif utama dalam
struktur politik negara adalah Dewan Negara
yang terdiri dari Perdana Menteri, Wakil-wakil
Perdana Menteri dan kepala-kepala dari semua
kementerian dan komisi. Mereka merupakan
pusat kekuasaan negara yang sesungguhnya.
Sedangkan Mahkamah Rakyat Tertinggi dan
Kejakasaan Rakyat Tertinggi, berdasarkan
konstitusi merupakan organ-organ pengadilan
yang menyelidiki masalah-masalah dan
memberikan putusan pengadilan. Kejaksaan
mempunyai kekuasaan yang bebas, termasuk
penyelidikan, penuntutan, dan pengawasan
secara umum terhadap semua organ negara,
termasuk pengadilan-pengadilan.

Dalam menumbuhkan peran serta masyarakat di bidang politik,


penguasa komunis berusaha menciptakan kehidupan masyarakat yang
sesuai dengan norma-norma sosialisasi politik yang diciptakannya.
Hal ini dilakukan oleh para penguasa dengan cara mulai
meninggalkan tradisi keluarga yang tidak sesuai dengan nilai-nilai

3
komunisme, menetapkan persamaan hukum antara laki-laki dan
wanita, melaksanakan pendidikan umum dan membangun jaringan
komunikasi. Jaringan komunikasi yang mencakup berbagai jenis dan
isi pesan (message), merupakan usaha partai atau negara secara
resmi yang isinya dan pengelolaannya dikendalikan oleh para
penguasa pusat.
Sebagian besar jaringan komunikasi sangat dipengaruhi oleh
ideologi resmi yang merupakan mekanisme penyatuan bagi yang
menyetujui dan yang tidak menyetujui. Jaringan komunikasi lebih
banyak ditujukan kepada elite atau sub-elite yang memahami
perbincangan ideologi dan merasa ikut bertanggung jawab
menerapkannya, menurut kondisi masing-masing daerah kepada
seluruh rakyat. Sistem komunikasi merupakan alat komunikasi yang
paling efektif dalam memperluas pengetahuan tentang politik dan
meningkatkan kepekaan terhadap soal-soal politik.
Penguasa komunis juga berupaya mengikutsertakan setiap
warganya dalam kegiatan politik secara teratur dan terorganisir,
terutama melalui gerakan-gerakan masa, perwakilan tingkat rendah,
keanggotaan dalam organisasi masa, dan partisipasi dalam
pengelolaan unit-unit produksi dan unit-unit pemukiman. Untuk
kepentingan kaderisasi calon-calon pemimpin komunis, dilakukan
rekruitmen aktivis, kader dan anggota partai. Mereka diambil dari
organisasi partaim lokal dan para aktivis dilingkungn kekuasaan.
Masuk menjadi anggota PKC merupakan tindakan yang menentukan
dalam rekruitmen politik yang pada gilirannya akan memperoleh
promosi dan kekuasaan.

c. Sistem Politik Negara Republik Indonesia


Faktor
Yang
No Uraian / Keterangan
Mempenga
ruhi
1. Latar Terjadinya negara kesatuan republik Indonesia
Belakang telah melalui perjalanan politik yang panjang.
Sejarah Bangsa Indonesia harus menghadapi kolonial
Belanda selama lk. 350 tahun, dan bala tentara
Jepang selama lk. 3,5 tahun untuk mewujudkan
Proklamasi Kemerdekaan yang akhirnya
terwujudnya pada tanggal 17 Agustus 1945.
Pasca proklamasi kemerdekaan, para pemimpin
Indonesia terlibat dalam proses politik dengan
mencari format berdasarkan demokrasi Pancasila.
Namun dalam perjalannya mengalami pasang
surut politik kenegaraan, karena pernah
diterapkan demokrasi liberal (1949 - 1955),
demokrasi terpimpin (1955 – 1965) dan
selanjutnya adalah demokrasi Pancasila.

2. Kondisi Kondisi bangsa Indonesia yang pernah mengalami


Sosiologis penjajahan, sangat merasakan penderitaan dan

3
keterbelakangan dalam berbagai bidang
kehidupan. Masyarakat Indonesia yang multi
bangsa, agama, ras dan antar golongan telah
dipersatukan dalam kesatuan politik dengan
semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Sangat disadari
bahwa banyaknya perbedaan akan membawa
konsekuensi terjadinya konflik sosial vertikal
maupun horizontal. Dengan demikian, upaya
saling menghormati dan kerja sama dalam
membangun kerukunan hidup penting untuk
ditegakkan.

3. Kondisi Negara Kesatuan Republik Indonesia dibangun


Kultural/ atas dasar sendi-sendi multi kultural, berbeda-
Budaya beda suku, agama, ras dan antar golongan.
Semangat menjunjung tinggi persatuan dan
kesatuan, serta rela berkorban untuk kepentingan
bangsa dan negara telah tertanam di dada setiap
warga negara. Budaya musyawarah, toleransi,
gotong royong dan saling menghormati telah
dapat diwariskan kepada generasi mendatang
baik sebagai anggota masyarakat maupun calon
pemimpin bangsa melalui jalur-jalur pendidikan
formal, in-formal, maupun nor-formal.

4. Kondisi Bangsa sebelum menjadikan Pancasila sebagai


Psycho- dasar negara selalu dapat dipecah belah oleh
Sosial / bangsa lain. Hal ini menyebabkan negara pernah
Kejiwaan mengalami penjajahan dari kolonial Belanda
masyarakat maupun Jepang. Dengan semangat pantang
menyerah, rela berkorban dan cinta tanah air
bangsa Indonesia mampu sejajar dengan bangsa-
bangsa lain di dunia. Bangsa Indonesia secara
politik dan dinyatakan di dalam Pembukaan UUD
1945, sangat menentang segala mecam bentuk
penjajahan karena tidak sesuai dengan
perikemanusiaan dan keadilan.

5. Pedoman Negara Indonesia sebagai salah satu negara yang


Filsafat merdeka dan berdaulat, berhak menentukan
pandangan hidup, cita-cita dan tujuan negaranya.
Pandangan hidup bangsa Indonesia untuk
mewujudkan cita-cita dan tujuannya. Pancasila
dalam sistem politik Indonesia, telah dijadikan
dasar dan motivasi dalam segala sikap, tingkah
laku dan perbuatan dalam hidup bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara untuk mencapai tujuan
nasionalnya sebagaimana terkandung di dalam
Pembukaan UUD 1945.

6. Paham Ideologi negara Indonesia yang berdasarkan

4
atau Pancasila, akan selalu dikaitkan dengan proses
Ideologi politik dalam pengaturan penyelengga-raan
yang pemerintahan negara yang meliputi bidang
diterapkan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan
pertahanan keamanan. Hal ini akan dituangkan di
dalam konstitusi negara dan peraturan
perundang-undangan lainnya. Dalam struktur
politik, Pancasila menjadi sumber segala sumber
hukum yang berarti semua peraturan perundang-
undangan harus bersumber pada Pancasila.

7. Pedoman Berdasarkan Konstitusi UUD 1945 (amandemen),


Konstitusi implementasi demokrasi Pancasila telah
dan Hukum memberikan kekuasaan yang besar kepada
Presiden. Sejak pemilu 2004, presiden dipilih oleh
rakyat sehingga tanggung jawab besarnya adalah
kepada rakyat. Presiden sebagai kepala eksekutif
mempunyai kekuasaan memerintah dan
melaksanakan undang-undang dengan
pengawasan dari legislatif (DPR). Dalam sistem
politik, DPR berhak menyuarakan aspirasi dan
tuntutan-tuntutan rakyat yang diwakilinya. Oleh
karena DPR tidak dapat dibubarkan oleh
Presiden, maka dalam menjalankan kebijaksanaan
politiknya kepada eksekutif perlu memperhatikan
suara-suara para wakil rakyat tersebut.
Pengawasan terhadap pelaksanaan penggunaan
anggaran negara oleh lembaga-lembaga
penyelenggara negara, dilakukan oleh Badan
Pengawas Keuangan (BPK). Sedangkan dalam hal
pelaksanaan pelanggaran terhadap undang-
undang akan dilakukan oleh lembaga yudikatif
(Mahkamah Agung) dan Kejaksaan Agung.
Negara Indonesia dalam sistem politik, menerapkan sistem
demokrasi Pancasila yang merupakan suatu paham demokrasi yang
bersumber pada pandangan hidup atau falsafah hidup bangsa
Indonesia yang digali dari kepribadian rakyat Indonesia sendiri. Dari
falsafah hidup bangsa Indonesia inilah kemudian timbul dasar falsafah
negara kita bernama falsafah negara Pancasila yang tercermin dan
terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.
Pelaksanaan demokrasi di Indonesia harus dijiwai oleh sila-sila
yang terkandung dalam Pancasila. Oleh karena itu, demokrasi
menurut Pancasila atau disebut Demokrasi Pancasila adalah
demokrasi yang merupakan perwujudan kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan yang
mengandung semangat ke-Tuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan
yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia. Adapun isi pokok pelaksanaan Demokrasi
Pancasila sebagai berikut :

4
a. Pelaksanaan demokrasi harus berdasarkan Pancasila sebagaimana
disebut di dalam Pembukaan UUD 1945, serta penjabarannya
dalam Batang Tubuh dan Penjelasan UUD 1945.
b. Demokrasi ini harus menghargai dan melindungi hak-hak asasi
manusia.
c. Pelaksanaan kehidupan ketatanegaraan harus berdasarkan atas
kelembagaan (institusional). Melalui kelembagaan ini diharapkan
segala sesuatunya dapat diselesaikan melalui saluran-saluran
tertentu sesuai dengan UUD 1945.
d. Demokrasi ini harus bersendi atas hukum sebagaimana dijelaskan
di dalam penjelasan UUD 1945.
Menurut Dardji Darmadiharjo, Demokrasi Pancasila adalah
paham demokrasi yang bersumber pada kepribadian dan falsafah
hidup Bangsa Indonesia yang perwujudannya seperti dalam
Pembukaan UUD 1945. Makna demokrasi Pancasila pada dasarnya
adalah perluasan keikutsertaan rakyat dalam berbagai kehidupan
bermasyarakat dan kehidupan bernegara yang ditentukan dalam
peraturan perundangan yang berlaku. Aturan permainan dalam
kehidupan bermasyarakat dan bernegara diatur secara melembaga.
Keinginan-keinginan rakyat dapat disalurkan, baik melalui lembaga-
lembaga negara (suprastruktur) maupun melalui organisasi politik,
organisasi masa, dan media politik lainnya (infrastruktur).
Demokrasi Pancasila tidak hanya meliputi demokrasi dibidang
pemerintahan atau politik (demokrasi dalam arti sempit), tetapi juga
telah berkembang menjadi demokrasi dalam arti yang luas, yaitu
meliputi berbagai sistem dalam masyarakat, seperti sistem politik
ekonomi, sosial dan sebagainya.
Sistem politik Demokrasi Pancasila menghargai nilai-nilai
musyawarah. Oleh karena itu, kita pun harus memahami bagaimana
tata cara bermusyawarah sebagai berikut:
a. Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat;
b. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain;
c. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk
kepentingan bersama;
d. Musyawarah harus diliputi oleh semangat kekeluargaan;
e. Dengan itikad baik dan rasa tanggungjawab menerima dan
melaksanakan keputusan musyawarah;
f. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati
nurani yang luhur;
g. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan
secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi
harkat dan martabat manusia, serta nilai-nilai kebenaran dan
keadilan.
Adapun tata cara musyawarah dalam berbagai kehidupan harus
mengandung prinsip-prinsip sebagai berikut :
a. Musyawarah bersumber pada paham kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
b. Setiap putusan yang diambil harus selalu dapat
dipertanggungjawabkan dan sama sekali tidak boleh bertentangan
dengan Pancasila dan UUD 1945 beserta penjelasan.

4
c. Setiap peserta musyawarah mempunyai hak dan kesempatan yang
sama dalam mengeluarkan pendapat.
d. Hasil musyawarah atau setiap putusan, baik sebagai hasil mufakat
maupun berdasarkan suara terbanyak harus diterima dan
dilaksanakan.
e. Apabila cara musyawarah untuk mufakat tidak dapat
mempertemukan pendapat yang berbeda dan hal ini sudah
diupayakan berkali-kali maka dapat digunakan cara lain, misalnya
cara pengambilan dengan keputusan suara terbanyak (voting).
Cara pengambilan suara terbanyak (voting) dalam demokrasi
Pancasila dilakukan dengan persyaratan-persyaratan sebagai berikut:
a. Jika jalan musyawarah untuk mufakat sudah ditempuh secara
maksimal, tetapi tidak berhasil mencapai mufakat.
b. Musyawarah untuk mufakat tidak mungkin diusahakan lagi karena
terjadi perbedaan pendapat dan pendirian yang tidak mungkin lagi
ditemukan atau didekatkan.
c. Karena faktor waktu yang mendesak sehingga harus segera
diambil keputusan.
d. Sebelum dilakukan voting kepada semua peserta rapat diberikan
kesempatan untuk mempelajari pendirian-pendirian atau pendapat-
pendapat yang berbeda itu.
e. Pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak adalah sah
jika diambil dalam rapat yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya
2/3 (dua pertiga) jumlah anggota rapat (quorum) dan disetujui oleh
lebih dari separuh jumlah anggota yang hadir memenuhi quorum.
Setiap peserta musyawarah hendaknya menyadari bahwa yang
menjadi tugas utamanya bukan sekadar ikut musyawarah, melainkan
turut bertanggungjawab atas terlaksananya semua keputusan
musyawarah. Adapun nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap
pengambilan keputusan adalah sebagai berikut :
a. Legawa atau berlapang dada, artinya bahwa setiap peserta
musyawarah harus secara sadar menerima dan melaksanakan
keputusan musyawarah itu dengan sepenuh hati.
b. Religuis, artinya bahwa hasil musyawarah itu harus dapat
dipertanggung jawabkan secara moral terhadap Tuhan Yang Maha
Esa.
c. Tenggang rasa, artinya bahwa dalam pelaksanaan musyawarah
setiap peserta harus mau mendengarkan pendapat orang lain
walaupun pendapatnya tersebut kurang berkenan dengan
pendapat kita.
d. Keadilan, artinya bahwa dalam pengambilan keputusan hendaknya
setiap peserta musyawarah diperlakukan secara adil. Maksudnya,
seluruh peserta diikutsertakan secara layak sebagai peserta
lainnya.
e. Kemanusiaan, artinya bahwa keputusan yang diambil hendaknya
menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia jangan sampai
merendahkan martabat manusia.
Berikut aspek - aspek yang terkandung dalam Demokrasi Pancasila
yaitu sebagai berikut :

4
a. Aspek formal
yaitu aspek yang mempersoalkan proses dan cara rakyat dalam
menunjuk wakil-wakil dalam badan-badan perwakilan rakyat dan
pemerintahan serta cara mengatur permusyawaratan wakil-wakil
rakyat secara bebas, terbuka dan jujur untuk mencapai konsensus
bersama.
b. Aspek materiil
yaitu aspek yang mengemukakan gambaran manusia dan
mengakui harkat dan martabatnya dan menjamin terwujudnya
Indonesia sesuai dengan gambaran, harkat, dan martabat manusia.
c. Aspek normatif (kaidah)
yaitu aspek yang mengungkapkan seperangkat norma-norma atau
kaidah-kaidah yang menjadi pembimbing dan kriteria dalam
mencapai tujuan kenegaraan.
Dalam Demokrasi Pancasila terdapat beberapa norma penting yang
harus diperhatikan, yaitu keterbukaan, keadilan, dan kebenaran.
Ketiga norma tersebut dapat menjadi aturan permainan dalam
melaksanakan Demokrasi Pancasila yang harus ditaati oleh siapapun.
Selain itu, norma tersebut harus didukung oleh aspek-aspek sebagai
berikut :
1. Aspek Optatif
Aspek ini mengetengahkan tujuan atau keinginan yang hendak
dicapai. Tujuan ini meliputi tiga hal, yaitu terciptanya negara
hukum, negara kesejahteraan, dan negara kebudayaan.
2. Aspek Organisasi
Aspek ini mempersoalkan organisasi sebagai wadah pelaksanaan
Demokrasi Pancasila. Wadah tersebut harus cocok dengan tujuan
yang hendak dicapai. Organisasi ini meliputi organisasi sistem
pemerintahan atau lembaga-lembaga negara dan organisasi-
organisasi sosial politik di masyarakat.
3. Aspek Kejiwaan
Aspek kejiwaan dalam Demokrasi Pancasila ialah semangat, yakni
semangat para penyelenggara negara dan semangat para
pemimpin pemerintahan. Dalam jiwa Demokrasi Pancasila dikenal
beberapa aspek kejiwaan, yaitu :
a. Jiwa Demokrasi Pancasila pasif, yakni hak untuk mendapat
perlakuan secara Demokrasi Pancasila.
b. Jiwa Demokrasi Pancasila aktif, yakni jiwa yang mengandung
kesediaan untuk memperlakukan pihak lain sesuai dengan hak-
hak yang diberikan oleh Demokrasi Pancasila;
c. Jiwa Demokrasi Pancasila nasional, yakni jiwa objektif dan
masuk akal tanpa meninggalkan jiwa kekeluargaan dalam
pergaulan masyarakat;
d. Jiwa pengabdiaan, yakni kesediaan berkorban demi menunaikan
tugas jabatan yang dipangkunya dan jiwa kesediaan berkorban
untuk sesama manusia dan warga negara.

4
d. Penerapan Prinsip-Prinsip Demokrasi Pancasila
Demokrasi Pancasila pada hakikatnya demokrasi yang bercorak
khas Indonesia, yang penerapannya dijabarkan dalam :
 Pemerintahan Berdasarkan Hukum.
Demokrasi Pancasila menghendaki suatu pemerintahan yang
benar-benar menjunjung tinggi hukum (Rechtstaate) dan bukan
berdasarkan kekuasaan belaka (Machstaate). Dengan demikian,
segala tindakan atau kebijaksanaan harus berdasarkan pada
hukum yang berlaku.
 Perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia
Hak asasi menusia merupakan hak-hak yang dianugerakan
Tuhan kepada manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya. Konstitusi
negara Republik Indonesia memberikan jaminan atas
pelaksanaan hak-hak manusia yang dituangkan dalam
Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945, ketetapan MPR RI
No. XVII/MPR/1998 tentang hak asasi manusia, Undang-Undang
No. 39 Tahun 1999, dan Undang-Undang No. 26 tentang
Peradilan HAM.
 Pengambilan Keputusan Berdasakan Musyawarah
Prinsip ini sudah membudaya, baik dalam kehidupan
bermasyarkat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu,
dalam setiap pengambilan putusan diusahakan melalui
musyawarah untuk mencapai mufakat. Jika musyawarah tidak
tercapai, putusan diambil berdasarkan suara terbanyak (voting).

 Peradilan yang Bebas dan Merdeka


Badan peradilan (kehakiman) merupakan badan yang merdeka,
artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah dan
kekuasaan lainnya. Hal ini penting untuk menegakkan keadilan
di bumi Indonesia. Untuk itu, UUD 1945 menjamin keberadaan
badan peradilan sebagai badan yang merdeka sebagaimana
yang tercantung dalam Pasal 24 dan Pasal 25.
 Partai Politik (Parpol) dan Organisasi Sosial Politik
(Orsospol)
Walaupun dalam pasal 28 UUD 1945, negara menjamin
kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan
pendapat baik dengan lisan maupun tulisan, hal ini tidak berarti
rakyat (warga negara) dapat menggunakan haknya dengan
sesuka hatinya, tetapi disalurkan melalui partai politik atau
orsospol. Dengan demikian, keberadaan partai politik atau
orsospol di dalam Demokrasi Pancasila, diperlukan guna
menyalurkan aspirasi atau kehendak rakyat, membina
pendidikan politik para kader dan simpatisannya. Hal ini
terdapat dalam UU No. 31 Tahun 2002 tentang partai politik.
 Pelaksanaan Pemilihan Umum (pemilu)
Negara Republik Indonesia merupakan negara yang
berkedaulatan rakyat, artinya rakyat diakui sebagai sumber dan
pendukung kedaulatan dalam negara. Kedaulatan rakyat

4
tersebut harus berdasarkan permusyawaratan perwakilan.
Dengan demikian, rakyat tidak secara langsung mengatur
negara, melainkan melalui wakil-wakilnya. Wakil-wakil rakyat
tersebut memusyawarahkan segala sesuatu yang menyangkut
masalah kenegaraan. Untuk pengisian wakil-wakil rakyat yang
akan duduk dalam lembaga perwakilan rakyat (MPR, DPR, DPD,
dan DPRD), dilakukan melalui cara pemilihan umum. Pemilihan
umum telah diatur dalam UU No 12 Tahun 2003 tentang
pemilihan umum. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa
pemilihan umum merupakan perwujudan dari demokrasi
Pancasila.

e. Pelaksanaan Demokrasi Pancasila dalam Pengambilan


Keputusan
Pengambilan keputusan sesuai dengan prinsip-prinsip
Demokrasi Pancasila menekankan pada empat prinsip penting
sebagai berikut :
a. Keseimbangan antara hak dan kewajiban, yaitu prinsip dalam
melaksanakan musyawarah ketika setiap orang mengetahui apa
yang menjadi hak pribadi, hak orang lain dan kewajiban
terhadap orang lain.
b. Persamaan, yakni prinsip yang menekankan bahwa setiap orang
memiliki kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
c. Kebebasan yang bertanggungjawab, artinya bahwa setiap orang
bebas untuk mengemukakan pendapat.
d. Mengutamakan persatuan dan kesatuan, artinya setiap
pelaksanaan musyawarah harus mengutamakan kepentingan
umum.
Contoh Proses Pengambilan Keputusan sebagai perwujudan
Demokrasi pancasila diantaranya adalah :
Pemilihan Anggota DPR dan DPD Periode 2004 – 2009
Pada Hari Sabtu, 2 Oktober 2004 telah terpilih Ketua DPR dan
DPD. Setelah sidang yang berakhir sabtu dini hari dalam
pemungutan suara yang dipimpin oleh Pimpinan sementara DPR
Agung Laksono (PG) dan Yacobus Camario (PDIP), akhirnya
terpilih Paket A (Agung Laksono) mendapatkan suara 280 suara,
mengalahkan Paket B (Endin. S) dengan 257 suara. Dengan
demikian Agung Laksono terpilih sebagai Ketua DPR untuk masa
jabatan 2004 – 2009 dengan Wakil terpilihnya Soetardjo Soerjo
Goeritno (PDIP), Muhaimin Iskandar (PKB) dan Zaenal Ma’arif
(PBR).

Penugasan
4 Praktik Kewarganegaraan
Setelah mempelajari materi-materi tentang : Sistem Politik di Berbagai Negara (Negara Inggr

4
1. Berikan penjelasan singakt, apa sajakah perbedaan pokok dalam
menentukan cara bekerjanya sistem politik sebagai berikut :
Cara
No Uraian Singkat
Kerja
...............................................................................
Sosial ....................................
1.
Politik ...............................................................................
....................................

...............................................................................
Rekruitm ....................................
2.
en Politik ...............................................................................
....................................

...............................................................................
Komunik ....................................
3.
asi Politik
...............................................................................
....................................

2. Berikan penjelasan tentang pendekatan yang diperlukan dalam


mempelajari sistem politik suatu negara sebagai berikut !
a. Pendekatan
Sosiologis : ....................................................................................
.......................
.......................................................................................................
..............................................
b. Pendekatan
Filsafat : ........................................................................................
........................
.......................................................................................................
...............................................

3. Dalam sistem politik negara Cina berdasarkan Konstitusi Tahun


1954, terdapat 3 elit politik yang sangat berpengaruh. Berikan
penjelasan singkat tugas pokok elit politik tersebut !
Konggres Rakyat Dewan Mahkamah Rakyat
Nasional Negara Tertinggi
.............................................. ................................ ...................................
. ............... ............
.............................................. ................................ ...................................
. ............... ............
.............................................. ................................ ...................................
. ............... ............

4. Berikan tanggapan penjelasan, bagaimanakah pola pembinaan


dan proses politik pada masyarakat Inggris yang dikenal sangat

4
patuh kepada peraturan perundangan dan disiplin dalam
kehidupan sehari-
hari ! ..................................................................................................
.....
............................................................................................................
................................................
............................................................................................................
................................................

5. Tuliskan persamaan dan perbedaan Demokrasi Terpimpin dan


Demokrasi Pancasila yang pernah dipraktikkan dalam sistem
politik negara Inodnesia !
Demokrasi Terpimpin Demokrasi Pancasila
................................................................. ....................................................
......... ........................
................................................................. ....................................................
......... ........................
................................................................. ....................................................
......... ........................
................................................................. ....................................................
......... ........................
D. PERAN SERTA DALAM SISTEM POLITIK DI
INDONESIA

1. Partisipasi Politik Warga Negara


Istilah partisipai politik diterapkan kepada aktivitas orang dari
semua tingkat sistem politik, misalnya ; pemilih (pemberi suara)
berpartisipasi dengan memberikan suaranya; menteri luar negeri
berpartisipasi dalam menetapkan kebijaksanaan luar negerinya, dan
sebagainya.
Dengan demikian, partisipasi politik dapat diartikan penentuan
sikap dan keterlibatan hasrat setiap individu dalam situasi dan kondisi
organisasinya, sehingga pada akhirnya mendorong individu tersebut
berperan serta dalam pencapaian tujuan organisasi, serta ambil
bagian dalam setiap pertanggungjawaban bersama.

Fokus Kita :
Dengan partisipasi politik, kita mengacu pada semua aktivitas
yang sah oleh semua warga negara yang kurang lebih langsung
dimaksudkan untuk mempengaruhi pemilihan pejabat
pemerintahan dan/ atau tindakan-tindakan yang mereka ambil.
Beberapa pengertian Partisipasi Politik menurut para ahli :
1) Herbert Mc. Closky, dalam “International Encyclopedia of
The Social Science”
Partisipasi politik adalah kegiatan-kegiatan sukarela dari warga
masyarakat melalui mana mereka mengambil bagian dalam proses
pemilihan penguasa dan secara langsung, dalam proses
pembentukan kebijaksanaan umum.

4
2) Norman H. Nie dan Sidney Verba, dalam “Handbook of
Political Science”
Partisipasi politik adalah kegiatan pribadi warga negara yang legal
yang sedikit banyak langsung bertujuan untuk mempengaruhi
seleksi pejabat-pejabat negara dan/atau tindakan-tindakan yang
diambil oleh mereka.
3) Prof. Miriam Budiardjo, dalam “Dasar-Dasar Ilmu Politik”
Partisipasi politik merupakan kegiatan seseorang dalam partai
politik. Partisipasi politik mencakup semua kegiatan sukarela
melalui mana seseorang turut serta dalam proses pemi-lihan
pemimpin-pemimpin politik dan turut serta – secara langsung atau
tak langsung – da-lam pembentukan kebijaksanaan umum.

a. Bentuk-bentuk Partisipasi Politik


Bentuk-bentuk partisipasi politik yang terjadi diberbagai negara,
dapat dibedakan dalam kegiatan politik yang berbentuk konvensional
dan non-konvensional, termasuk yang mungkin legal (seperti petisi)
maupun ilegal, penuh kekerasan, dan revolusioner. Berikut ini adalah
bentuk-bentuk partisipasi politik menurut Almond.

KONVENSIONAL NON-KONVENSIONAL
 Pemberian Suara (voting) Pengajuan petisi
 Diskusi politik Berdemonstrasi
 Kegiatan kampanye Konfrontasi
 Membentuk dan bergabung Mogok
dalam kelompok Kepentingan. Tindak kekerasan politik terhadap
 Komunikasi individual dengan harta benda; perusakan,
pejabat politik/administratif. pemboman, pembaka-ran.
 Tindak kekerasan politik terhadap
manu-sia ; penculikan,
pembunuhan, perang gerilya
/revolusi.
Dalam hal partisipasi politik, Rousseau menyatakan bahwa hanya
melalui partisipasi seluruh warga negara dalam kehidupan politik
secara langsung dan berkelanjutan, maka negara dapat terikat ke
dalam tujuan kebaikan sebagai kehendak bersama.
Berbagai bentuk partisipasi politik tersebut dapat dilihat dari
berbagai kegiatan warga negara yg mencakup antara lain :
a. Terbentuknya organisasi-organisasi politik maupun organisasi
masyarakat sebagai bagian dari kegiatan sosial, sekaligus sebagai
penyalur aspirasi rakyat yang ikut menentukan kebijakan negara.
b. Lahirnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sebagai kontrol
sosial maupun pemberi input terhadap kebijakan pemerintah.
c. Pelaksanaan pemilu yang memberi kesempatan kepada warga
negara untuk dipilih atau memilih, misalnya : berkampanye,
menjadi pemilih aktif, menjadi anggota perwakilan rakyat, menjadi
calon presiden yang dipilih langsung, dan sebagainya.

4
d. Munculnya kelompok-kelompok kontemporer yang memberi
warna pada sistem input dan output kepada pemerintah, misalnya :
melalui unjuk rasa, petisi, protets, demonstrasi, dan sebagainya.

Fokus Kita :
Bentuk-bentuk dan frekuensi partisipasi politik dapat dipakai
sebagai ukuran untuk menilai stabilitas sistem politik, integritas
kehidupan politik, kepuasan/ketidakpuasan warga negara.
Dari berbagai aktivitas-aktivitas ini, kita bisa melihat keberagaman
aktivitas dalam partisipasi politik. Dalam hal yang paling sederhana
hingga yang kompleks, dari bentuk-bentuk yang mengedepankan
kondisi damai sampai tindakan-tindakan kekerasan. Namun seluruh
aktivitas ini termasuk dalam kerangka partisipasi politik, setiap
tindakan yang berhadapan dengan pembuat dan pelaksana lebijakan,
dan partisipan terlibat untuk mempengaruhi jalannya proses tersebut
agar sesuai kepentingan dan aspirasinya.
Di tingkat individu, secara lebih spesifik Milbrath M.L. Goel
mengidentifikasi tujuh bentuk partisipasi politik individual:

No Bentuk Uraian / Keterangan


Partisipasi
1. Aphatetic Tidak beraktifitas dan partisipatif, tidak pernah
Inactives memilih.
2. Passive Memilih secara reguler/teratur, menghadiri
Supporters parade patriotik, membayarseluruh pajak,
“mencintai negara”.
3. Contact Pejabat penghubung lokal (daerah), propinsi
Specialist dan nasional dalam maslaah-masalah tertentu.
4. Communicator Mengikuti informasi-informasi politik, terlibat
s dalam diskusi-diskusi, menulis surat pada
editor surat kabar, mengirim pesan-pesan
dukungan dan protes terhadap pemimpin-
pemimpin partai politik.
5. Party and Bekerja untuk partai politik atau kandidat,
Campaign meyakinkan orang lain tentang bagaimana
Workers memilih, menghadiri pertemuan-pertemuan,
menyumbang uang pada partai politik atau
kandidat, bergabung dan mendukung partai
politik, dipilih jadi kandidat partai politik.
6. Community Bekerja dengan orang-orang lain berkaitan
Activist dengan masalah-masalah lokal, membentuk
kelompok untuk menangani problem-problem
lokal, keanggotaan aktif dalam organisasi-
organisasi kemasyarakatan, melakukan kontak
terhadap pejabat-pejabat berkenaan dengan
isu-isu sosial.
7. Protesters Bergabung dengan dmonstrasi-demonstrasi
publik di jalanan, melakukan kerusuhan bila
perlu, melakukan protes keras bila pemerintah

5
melakukan sesuatu yang salah, menghadapi
pertemuan-pertemuan protes, menolak
mematuhi aturan-aturan.

b. Tingkatan Partisipasi Politik


Tingkat-tingkat partisipasi politik, menurut Huntington dan
Nelson terbagi dua kriteria. Pertama, dilihat dari ruang lingkup atau
proporsi dari suatu kategori warga negara yang melibatkan diri dalam
kegiatan-kegiatan partisipasi politik. Kedua, intensitasnya, atau
ukuran, lamanya, dan arti penting dari kegiatan khusus itu bagi
sistem politik.
Hubungan tingkat-tingkat partisipasi nampak dalam hubungan
“berbanding terbalik”. Lingkup partisipasi politik yang besar biasanya
terjadi dalam intensitas yang kecil atau rendah, misal partisipasi
dalam pemilihan umum. Sebaliknya jika lingkup partisipasi rendah
atau kecil, maka intensitasnya semakin tinggi. Contoh, kegiatan
aktivis-aktivis partai politik, pejabat partai politik, dan kelompok-
kelompok penekan.
Semakin luas ruang lingkup partisipasi politik, maka semakin
rendah atau kecil hasil intensitasnya. Dan sebaliknya, semakin kecil
ruang lingkup partisipasi politik, maka intensitasnya semakin tinggi”.
Sebagai contoh, kita lihat piramida partisipasi politik dari David F.
Roth dan Frank L. Wilson (1980).

Pejabat
Menghadiri
Petugas umum,
kampanye,
rapat
(Menyimpang)
pejabat
umum,
aktif
Orang
parpol
dalam
anggota
Partisipan
Pengamat
Aktivis Yang
sepenuh
parpol/kelompok
kelompok
apolitis
waktu,
kepentingan,
pimpinan
kepentingan,
kelompok
usahaaktif
meyakinkan
kepentingan
dalam proyek-proyek
orang, memberikan
sosial suara dal
Pembunuh politik, teroris, pembajak

5
Berdasarkan piramida partisipasi politik, bisa ditemukan tentang
tingkatan partisipasi politik memiliki kesusaian. Semakin tinggi
tingkat partisipasi politik, semakin tinggi tingkat intensitasnya, dan
semakin kecil luas cakupannya. Sebaliknya, semakin menuju ke
bawah, maka semakin semakin besar lingkup partisipasi politik dan
semakin kecil intensitasnya.
 Tingkatan Pengamat
Pada tingkat pengamat, seperti menghadiri rapat umum,
memberikan suara dalam pemilu, menjadi anggota kelompok
kepentingan, mendiskusikan masalah politik, perhatian pada
perkembangan politik, dan usaha meyakinkan orang lain,
merupakan contoh-contoh kegiatan yang banyak dilakukan oleh
warga negara, artinya proporsi atau lingkup jumlah orang yang
terlibat di dalamnya tinggi.
Namun tidak demikian dengan intensitas partisipasi politiknya,
terutama kalau dikaitkan dengan arti pentingnya bagi sistem
politik, praktik-praktik tersebut pengaruhnya rendah atau tingkat
efektifitasnya dalam mempengaruhi kebijakan yang dibuat
pemerintah, membutuhkan waktu dan sumber daya yang cukup
banyak.
 Tingkatan Aktivis
Pada kategori aktivis, para pejabat umum, pejabat partai penuh
waktu, pimpinan kelompok kepentingan merupakan pelaku-pelaku
politik yang memiliki intensitas tinggi dalam berpartisipasi politik.
Mereka memili akses yang cukup kuat untuk melakukan contacting
dengan pejabat-pejabat pemerintah, sehingga upaya-upaya untuk
mempengaruhi pembuatan kebijakan pemerintah menjadi sangat
efektif.
Terutam bagi pejabat umum, secara politis mereka memiliki
peluang yang cukup kuat dalam mempengaruhi kebijakan politik
yang dibuat pemerintah, bahkan secara individual bisa
mempengaruhi secara langsung. Namun warga negara yang
terlibat dalam praktik-praktik partisipasi politik di tingkatan aktivis
jumlahnya terbatas, hanya diperuntukkan bagi sejumlah kecil
orang (terutama elit politik), yang memiliki kesempatan untuk
terlibat dalam proses politik dengan mekanisme dan kekuatan
pengaruh seperti ini.
Kegiatan partisipasi politik ditingkat aktivis bukan saja
ditempuh dengan cara-cara yang formal-prosedural atau mengikuti
aturan yang ditetapkan. Dapat juga ditempuh dengan cara-cara
non-formal, tidak mengikuti jalur yang ditetapkan secara hukum,
bahkan sampai tindakan kekerasan. Tindakan yang dilakukan bisa
berupa pembunuhan, tindakan-tindakan terorisme nasional dan
internasional, dan pembajakan.
Tingkatan atau hierarki yang terdapat pada parisipasi politik,
sangat tergantung dari akibat yang disebabkannya terhadap sistem

5
politik. Tingkatan partisipasi politik ini disampaikan sebagai
berikut:
a. Menduduki jabatan politik atau administratif.
b. Mencari jabatan politik atau administratif.
c. Keanggotaan aktif suatu organisasi politik.
d. Keanggotaan pasif suatu organisasi politik.
e. Keanggotan aktif suatu organisasi semu politik (quasi-
political ).
f. Keanggotan pasif suatu organisasi semu politik (quasi-
political ).
g. Partisipasi dalam rapat umum, demonstrasi, dan
sebagainya.
h. Partisipasi dalam diskusi politik informal minat dalam
bidang politik.
i. Voting (pemberian suara).

Fokus Kita :
Tingkatan partisipasi politik, mencerminkan kapasitas
partisipan dalam berpartisipasi politik. Semakin tinggi tingkatan
yang ditempati oleh seseorang atau sekelompok orang, maka
semakin tinggi pula tingkatan parisipasi politiknya. Namun tidak
demikian dengan lingkup partisipasi politiknya, semakin tinggi
Voting merupakan tingkatan partisipasi politik terendah, yang
membedakan satu tingkat di atas orang yang apatis total,
sementara di atasnya terdapat orang atau sekelompok orang yang
sering terlibat dalam diskusi-diskusi politik informal, yang dalam
lingkup atau proporsinya lebih rendah namun intensitasnya lebih
tinggi. Posisi puncak diduduki oleh warga negara yang menduduki
jabatan politik atau administratif, maka terseleksi dengan cukup
ketat sehingga jumlahnya relatif sedikit namun memiliki posisi
yang cukup kuat untuk terlibat lebih jauh dalam proses-proses
politik dan aktivitas-aktivitas tersebut memiliki akibat yang cukup
kuat terhadap sistem politik.

Bonus Info Kewarganegaraan

5
HIRARKI PARTISIPASI POLITIK
Menurut THALHA HI ABU

Menduduki jabatan politik atau administratif


Mencari jabatan politik atau administratif
Keanggotaan aktif suatu organisasi politik
Keanggotaan pasif suatu organisasi politik
Keanggotaan aktif organisasi semu politik
Keanggotaan pasif organisasi semu politik
Partisipasi dalam rapat umum, demonstrasi, dsb.
Partisipasi dalam diskusi politik informal minat
umum dalam politik
Voting (pemberian suara)
Apatis total (masa

c. Sebab-sebab Timbulnya Gerakan Partisipasi


Politik
Menurut Myron Weiner, bahwa paling tidak terdapat 5 (lima) hal
yang dapat menyebabkan timbulnya gerakan ke arah partisipasi yang
lebih luas dalam proses politik antara lain :
a. Modernisasi
Sejalan dengan berkembangnya industrialisasi, perbaikan
pendidikan dan media komunikasi massa, maka pada sebagian
penduduk yang merasakan terjadinya perubahan nasib akan
menuntut berperan dalam kekuasaan politik.
b. Perubahan-perubahan Struktur Kelas Sosial
Salah satu dampak modernisasi adalah munculnya kelas pekerja
baru dan kela menengah yang semakin meluas, sehingga mereka
merasa berkepntingan untuk berpartisipasi secara politik dalam
pembuatan keputusan politik.
c. Pengaruh Kaum Intelektual dan Komunikasi Massa
Modern
Kaum intelektual (sarjana, pengarang, wartawan dan sebagainya)
melalui ide-idenya kepada masyarakat umum dapat
membangkitkan tuntutan akan idenya kepad masyarakat umum
dapat membangkitkan tuntutan akan partisipasi massa dalam
pembuatan keputusan politik. Demikian juga berkembangnya
sarana transportasi dan komunikasi modern mampu mempercepat
penyebaran ide-ide baru.
d. Konflik diantara Kelompok-kelompok Pemimpin Politik

5
Para pemimpin politik berkompetisi merebutkan kekuasaan.
Sesungguhnya apa yang mereka lakukan adalah dalam rangka
mencari dukungan rakyat. Berbagai upaya yang mereka lakukan
untuk memperjuangkan ide-ide partiipasi massa dapat
menimbulkan gerakan-gerakan yang menuntut agar “hak-haknya”
terpenuhi.
e. Keterlibatan Pemerintah yang Meluas dalam Urusan
Sosial., Ekonomi, dan Kebudayaan.
Perluasan kegiatan pemerintah dalam berbagai bidang membawa
konsekuensi adanya tindakan-tindakan yang semakin menyusup ke
segala segi kehidupan rakyat. Ruang lingkup aktivitas atau
tindakan pemerintah yang semakin luas mendorong timbulnya
tuntutan-tuntutan yang terorganasir untuk ikut serta dalam
pembuatan keputusan politik.

4. Faktor-faktor Pendukung Partisipasi Politik


a. Pendidikan Politik
Menurut Ramdlon Naning, Pendidikan politik adalah usaha
untuk memasyarakatkan politik, dalam arti mencerdaskan
kehidupan politik rakyat, meningkatkan kesadaran setiap warga
negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; serta
meningkatkan kepekaan dan kesadaran rakyat terhadap hak,
kewajiban dan tanggungjawabnya terhadap bangsa dan negara.
Sedangkan dalam pandangan Alfian, Pendidikan politik dapat
diartikan sebagai usaha yang sadar untuk mengubah proses
sosialisasi politik masyarakat sehingga mereka memahami dan
menghayati betul-betul nilai-nilai yang terkandung dalam suatu
sistem politik yang ideal yang hendak dibangun. Hasil dari
penghayatan itu akan melahirkan sikap dan tingkah laku politik
baru yang mendukung sistem politik yang ideal itu, dan bersamaan
dengan itu lahir pulalah kebudayaan politik baru.

Fokus Kita :
Pendidikan politik sebenarnya dimaksudkan untuk
mewujudkan atau setidak-tidaknya menyiapkan kader-kader
yang dapat diandalkan untuk memenuhi harapan masyarakat
luas, dalam arti yang benar-benar memahami semangat yang
terkandung di dalam perjuangan sebagai kader bangsa.

Melalui pendidikan politik, diharapkan kader-kader anggota


partai politik tersebut akan memperoleh manfaat atau kegunaan :
1) Dapat memperluas pemahaman, penghayatan dan
wawasan terhadap masalah-masalah atau isu-isu yang bersifat
politis.
2) Mampu meningkatkan kualitas diri dalam berpolitik dan
berbudaya politik sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

5
3) Lebih meningkatkan kualitas kesadaran politik rakyat
menuju peran aktif dan partisipasinya terhadap pembangunan
politik bangsa secara keseluruhan.

Bonus Info Kewarganegaraan


Agar pendidikan politik dapat berjalan dengan baik, maka salah satu kuncinya adalah dengan menamkan
disiplin yang benar kepada anak, mulai dari pemupukan disiplin pribadi yang dinamis dan pemberian
keteladanan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan disiplin sosial dan disiplin nasional yang positif dan kuat.
Dengan menanamkan dasar landasan kepribadian yang sehat sejak dini, secara tidak langsung telah
meletakkan dasar bagi pendidikan politik masyarakat dan pembentukan kader bangsa (generasi muda / penerus),
yang selanjutnya secara mutlak diperlukan dalam mempertahankan eksistensi dan untuk menjaminn
kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sasaran pendidikan politik adalah orang dewasa, dan lebih diutamakan Generasi Muda yang memiliki
potensi sebagai generasi penerus bangsa. Adapun potensi-potensi yang dimiliki generasi muda, antara lain :
1. Memiliki idealisme dan daya kritis
2. Memiliki dinamika dan kreatifitas
3. Mempunyai keberanian mengambil resiko
4. Bersifat optimis dan memiliki kegairahan semangat
5. Memiliki sikap kemandirian dan disiplin murni (self disipline)
6. Terdidik dan terpelajar
7. Keanekaragaman dalam persatuan dan kesatuan bangsa
8. Patriotisme dan nasionalisme yang tinggi
9. Fisik (jasmani) kuat dan jumlahnya banyak
10. Mempunyai sikap kesatria
11. Memiliki kemampuan penguasaan ilmu dan teknologi.

b. Kesadaran Politik
Menurut Drs. M. Taopan, kesadaran politik adalah suatu
proses batin yang menampakkan keinsafan dari setiap warga
negara akan urgensi (hal terpenting) urusan kenegaraan dalam
kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kesadaran politik atau
keinsafan hidup bernegara menjadi penting dalam kehidupan
kenegaraan, mengingat tugas-tugas negara bersifat menyeluruh
dan kompleks sehingga tanpa dukungan positif dari seluruh warga
masyarakat, tugas-tugas negara banyak yang terbengkelai.

Fokus Kita :
Tingkat kesadaran politik masyarakat tidaklah sama, sangat
tergantung pada latar belakang pendidikannya. Kaum elit dan
kelompok menengah, nampak relatif lebih baik. Sedangkan
kelompok masyarakat yang tingkat pendidikannya rendah,

5
Di negara berkembang khususnya di Indonesia, masyarakat
yang hidup di pedesaan (lk. 70%) dan yang di perkotaan (lk.30%)
menuntut penanganan sungguh-sungguh dari aparat pemerintah
atau penguasa setempat. Masyarakat pedesaan yang secara
kuantitatif jauh lebih besar, sangat minim dalam hal kesadaran
berpolitik sehingga berdampak pada kehidupan politik nasional.
Hal ini jelas akan berpengaruh terhadap kemajuan pembangunan
nasioanl di segala bidang. Dalam hal kesadaran politik masyarakat,
Drs. Arbi Sanit antara lain menyatakan “ …. Sekalipun sudah
bangkit kesadaran nasional dan meningkatnya aktivitas kehdiupan
politik di tingkat pedesaan, namun masyarakat tani masih belum
terkait secara aktif kepada pemerintah nasional dalam hubungan
timbal balik yg aktif dan responsif. Hubungan yang ada baru bersi-
fat berat sebelah, yaitu dari atas ke bawah …. “
Bila dihubungkan dengan hak dan kewajiban sebagai warga
negara, maka partisipasi politik merupakan kewajiban yang harus
dilaksanakan sebagai wujud tanggung jawab negara yang
berkesadaran politik tinggi dan baik. Secara teknis operasional,
partisipasi politik anggota masyarakat dapat dilaksanakan dengan
cara-cara seperti nampak pada matrik di bawah ini.
No Bidang Implementasi Partisipasi politik

1. Politik Setiap warga negara dapat ikut serta secara langsung ataupun tidak
langsung dalam kegiatan-kegiatan antara lain :
a. Ikut memilih dalam pemilihan umum,
b. Menjadi anggota aktif dalam partai politik, kelompok penekan
(presure group), maupun kelompok kepentingan tertentu.
c. Duduk dalam lembaga politik, seperti MPR, Presiden, DPR, Menteri,
dan sebagainya,
d. Mengadakan komunikasi (dialog) dengan wakil-wakil rakyat,
e. Berkampanye, menghadiri kelompok diskusi, dan lain-lain.
f. Mempengaruhi para pembuat keputusan sehingga produk-produk
yang dihasilkan/dikeluarkan sesuai dengan aspirasi atau
kepentingan masyarakat.

2. Ekonomi Setiap warga negara dapat ikut serta secara aktif dalam kegiatan-
kegiatan antara lain :
a. Menciptakan sektor-sektor ekonomi yang produktif baik dalam
bentuk jasa, barang, transportasi, komunikasi, dan sebagainya.
b. Melalui keahlian masing-masing, dapat menciptakan produk-produk
unggulan yang inovatif, kreatif dan kompetititf dari pada produk
luar.
c. Kesadaran untuk membayar pajak secara teratur demi
kesejahteeraan dan kemajuan bersama.
3. Sosial- Setiap warga negara dapat mengikuti kegiatan-kegiatan antara lain :
Budaya
a. Sebagai pelajar atau mahasiswa, harus dapat menunjukkan prestasi
belajar yang tinggi.
b. Menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum ,
seperti misalnya tawuran, narkoba, merampok, berjudi, dan
sebagainya.
c. Profesional dalam bidang pekerjaannya, disiplin, dan produktivitas

5
tinggi untuk menunjang keberhasilan pembangunan nasional.
4. Hankam Setiap warga negara dapat ikut serta secara aktif dalam kegiatan-
kegiatan antara lain :
a. Bela negara dalam arti luas, sesuai dengan kemampuan dan
profesinya masing-masing.
b. Senantiasa memelihara ketertiban dan keamanan wilayah atau
lingkungan tempat tinggalnya.
c. Memelihara persatuan dan kesatuan bangsa demi tetap tegak
negara republik Indonesia.
d. Menjaga stabilitas dan kemanan nasional agar pelaksanaan
pembangunan dapat berjalan sesuai dengan rencana.

Kebalikan dari partisipasi politik adalah sikap apatis. Seseorang


dinamakan apatis (secara politis), jika dia tidak mau ikut serta
dalam berbagai kegiatan politik kenegaraan di berbagai bidang
kehidupan seperti tersebut di atas. Dengan demikian
sesungguhnya kegiatan-kegiatan pendidikan politik, kesadaran
politik, dan partisipasi politik masyarakat baik di pedesaan maupun
di perkotaan perlu terus didorong dan ditingkatkan demi
keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan
nasional.

c. Sosialisasi Politik
Studi tentang sosialisasi politik, telah menjadi bidang kajian
yang sangat menarik akhir-akhir ini. Ada dua alasan yang
melaterbelakangi sehingga sosialisasi politik menjadi kajian
tersendiri dalam politik kenegaraan.
Pertama : Sosialisasi politik dapat berfungsi untuk memelihara

suatu sistem, yaitu agar stabilitas berjalan dengan baik

dan positif. Dengan demikian sosialisasi merupakan alat

agar individu sadar dan merasa cocok dengan sistem serta

kultur (budaya) politik yang ada.

Kedua : Sosialisasi politik ingin menunjukkan relevansinya


dengan sistem politik dan data mengenai orientasi anak-
anak terhadap kultur politik orang dewasa, dan pelaksana-
annya di masa mendatang mengenai sistem politik.

Sosialisasi politik adalah istilah yang digunakan untuk


menggambarkan proses dengan jalan mana orang belajar tentang
politik dan mengembangkan orientasi pada politik. Adapun alat
yang dapat dijadikan sebagai perantara/sarana dalam sosialisasi
politik, antara lain :
1) Keluarga (family)

5
Wadah penanaman (sosialisasi) nilai-nilai politik yang paling
efisien dan efektif adalah di dalam keluarga. Di mulai dari
keluarga inilah antara orang tua dengan anak, sering terjadi
“obrolan” politik ringan tentang segala hal, sehingga tanpa
disadari terjadi tranfer pengetahuan dan nilai-nilai politik
tertentu yang diserap oleh si anak.
2) Sekolah
Di sekolah melalui pelajaran civics education (pendidikan
kewarganegaraan), siswa dan gurunya saling bertukar informasi
dan berinteraksi dalam membahas topik-topik tertentu yang
mengandung nilai-nilai politik teoritis maupun praktis. Dengan
demikian, siswa telah memperoleh pengetahuan awal tentang
kehidupan berpolitik secara dini dan nilai-nilai politik yang
benar dari sudut pandang akademis.
3) Partai Politik
Salah satu fungsi dari partai politik adalah dapat memainkan
peran sebagai sosialisasi politik. Ini berarti partai politik
tersebut setelah merekrut anggota kader maupun simpati-
sannya secara periodik maupun pada saat kampanye, mampu
menanamkan nilai-nilai dan norma-norma dari satu generasi ke
generasi berikutnya. Partai politik harus mampu men-ciptakan
“image” memperjuangkan kepentingan umum, agar mendapat
dukungan luas dari masyarakat dan senantiasa dapat
memenangkan pemilu.

Penugasan
5 Praktik Kewarganegaraan
Setelah mempelajari materi-materi tentang : Partisipasi Politik (Pengertian, Bemtuk-bentuknya,

1. Berikan penjelasan singkat tentang bentuk-bentuk partisipasi


politik sebagai berikut :
Bentuk
No Partisip Uraian Singkat
asi

................................................................................
Passive ....................................
1.
Support ................................................................................
....................................

................................................................................
Contact
....................................
2. Speciali
st ................................................................................
....................................

5
................................................................................
Commu
....................................
3. nity
Activist ................................................................................
....................................

2. Berikan penjelasan pentingnya partisipasi politik warga negara


di dalam sistem politik negara Indonesia !
............................................................................................................
............................................................................................................
................................................................................................
Berikan 2 (dua) contoh yang anda
ketahui : ................................................................................
............................................................................................................
................................................

3. Tingkatan Partisipasi politik menurut David F. Roth dan Frank L.


Wilson mencakup hal – hal berikut. Beri penjelasan singkat !
Aktivis Partisipan Pengamat
.............................................. .................................. ................................
. ................ ...............
.............................................. .................................. ................................
. ................ ...............
.............................................. .................................. ................................
. ................ ...............
.............................................. .................................. ................................
. ................ ...............

4. Berikan tanggapan penjelasan, pentingnya pendidikan politik


warga negara dalam sistem politik negara Indonesia dan berikan
contohnya ! .....................................................................
............................................................................................................
................................................
............................................................................................................
................................................

5. Berikan penjelasan singkat sebab-sebab timbulnya gerakan


partisipasi politik dalam proses politik masyarakat berikut ini !
Perubahan Struktur Kelas Sosial Kelompok-kelompok
Pemimpin Politik
................................................................. ....................................................
......... ......................
................................................................. ....................................................
......... ......................
................................................................. ....................................................
......... ......................
................................................................. ....................................................
......... ......................

6
................................................................. ....................................................
......... ......................

6
E KESIMPULAN
Sistem dapat diartikan sebagai kumpulan fakta-fakta, pendapat-pendapat, kepercayaan-kepercaya
LATIHAN
Pengertian sistem UJI
politik KOMPETENSI
secara sederhana dapat dikatakan sebagai interaksi yang diabstrasikan
Sistem politik yang diterapkan di setiap negara, terdapat perbedaan-perbadaan mendasar yang sa
A. Pilihan
Pada setiap sistem Ganda
politik negara-negara dunia, akan selalu dijumpai adanya struktur politik. Stru
Di dalam kehidupan politik
Pilihlah salahrakyat terdapatyang
satu jawaban “kekuatan sosial
dianggap politik
paling masyarakat”
benar ! yang merupakan
Supra struktur politik (elit pemerintah), merupakan mesin politik resmi di suatu negara sebagai
Setiap negara memiliki
1. Ciri sistem
utama politik
dari yang berbeda, oleh sebab
sebuah itu untuk
c. primitif, mempelajari
tradisional proses poli
dan
Sistem politik demokrasi
sistem adalahPancasila,
berupamengajarkan
…. kepada bangsa
modern Indonesia agar dalam menyelesa
Partisipai politik merupakan penentuan sikap
a. kumpulan sejumlah fakta- dan keterlibatan
d. modern, setiap
hasrat individudan
tatoliter dalam situas
Suksesnya kegiatan kalender politik kenegaraan adalah apabila
fakta setiap warganya memiliki tingkat
demokrasi
b. proses penentuan dan e. tradisional, totaliter dan
pelaksanaan demokrasi
c. kumpulan pendapat- 5. Salah satu indikator kuatnya
pendapat ahli sebuah sistem politik demokrasi
d. wujud suatu kebulatan di suatu negara adalah ….
yang utuh a. mempunyai tujuan yang
e. seluruh yang komplek jelas
dan utuh b. adanya komunikasi politik
2. Kegiatan politik biasanya yang baik
lebih banyak dilaksanakan atau c. pemimpinnya bukan dari
diimplementasikan untuk militer
kepentingan …. d. bersumber pada
a. pribadi/perseorangan kehendak rakyat
b. organisasi e. peran sipil lebih dominan
kemasyarakatan 6. Salah satu bentuk partisipasi
c. partai politik semata politik dalam bentuk non
d. organisasi profesional konvensional, adalah … .
e. bangsa dan negara a. pemberian suara
3. Penerapan sistem politik di b. diskusi politik
dalam suatu negara, harus c. membentuk kelompok
bersifat …. kepentingan
a. memaksa untuk mengikat d. mogok makan
masyarakat e. komunikasi dengan
b. memaksa agar semua pejabat politik
orang mematuhinya 7. Aspek formal sistem
c. sukarela untuk menarik demokrasi Pancasila, dapat
masyarakat dilihat dalam bentuk ….
d. memaksa agar negara a. pelaksanaan pemilu
memiliki wibawa b. asas kekeluargaan
e. sukarela guna mencari
c. asas musyawarah
simpati masyarakat
d. musyawarah mufakat
4. Menurut Almond dan e. pengambilan keputusan
Powell, sistem politik dapat 8. Demokrasi rakyat yang
dikategorikan antara lain diterapkan di negara-negara
sebagai berikut : …. komunis (Cina) pada umumnya,
a. primitif, anarki dan yakni mencita-citakan ….
modern a. pengekangan kebebasan
b. tradisional, modern & individu
demokrasi

6
b. masyarakat tanpa kelas d. untuk mengawasi
sosial sekaligus mengontrol setiap
c. melarang kebebasan peraturan yang ada
beragama e. mengadakan pengawasan
d. kaum proletar yang terhadap setiap keputusan
berkuasa pemerintah
e. masyarakat tanpa 10. Suatu aktivitas seseorang/
keteraturan sekelompok orang untuk
9. Salah satu tujuan perlunya belajar tentang politik dan
masyarakat memiliki partisipasi mengembangkan orientasi
politik di dalam negaranya politiknya secara aktif dalam
yaitu … kehidupan politik dinamakan
a. untuk mempengaruhi ….
pemilihan pejabat a. Sistem politik
publik/pemerintahan b. Partisipasi politik
b. melaksanakan kewajiban c. Dinamika politik
sebagai warga negara yang d. Sosialisasi politik
bertanggung jawab e. Komunikasi politik
c. mewujudkan sistem
politik yang berbasis pada
perwakilan rakyat
B. Uraian
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas !
1. Rumuskan kembali dari berbagai sumber yang dimaksud
dengan sistem politik !
2. Jelaskan mengapa penerapan sistem politik di dalam suatu
negara harus dipaksakan !
3. Berikan penjelasan, ciri-ciri umum sistem politik menurut
Almond !
4. Jelaskan dengan memberi alasan, mengapa sistem politik pada
negara-negara komunis bersifat totaliter !
5. Apa yang dimaksud “legitimasi” dalam salah satu ciri sistem
politik demokrasi menurut Bingham Powel, Jr. ?
6. Dalam hal penerapan, jelaskan perbedaan orientasi tujuan
partai politik di Indonesia pada masa orde baru dan era reforamsi !
7. Jelaskan perbedaan tingkatan politik menurut pendapat David
F. Roth dan Frank L. Wilson, yaitu aktivis dan pengamat !
8. Pada akhir abad 20-an, gerakan partisipasi politik di Indonesia
semakin meningkat, berikan alasan penjelasannya !
9. Berikan penjelasan tentang pentingnya “pendidikan politik !
dalam kegiatan partisipai politik di Indonesia !
10. Berikan masing-maing 2 (dua) contoh wujud sosialisasi politik
baik di dalam keluarga, sekolah maupun melalui partai politik !

6
C. Studi Kasus
PARTAI POLITIK ALAMI KRISIS,
DAYA ARTIKULASI MENURUN

Setelah pemilu (2004), daya artikulasi partai politik menurun. Tidak


heran jika sekarang kekuatan di luar negara muncul dengan kekuatan
yang lebih kentara. Kondisi ini memperlihatkan betapa partai politik
sekarang mengalami krisis. Hal ini disampaikan oleh pengamat Fachry Ali
dalam diskusi tentang sikap partai politik terhadap masalah diplomasi
pertahanan dan keamanan nasional yang diselenggarakan Majelis Pakar
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Jakarta, Kamis 4 Mei 2006.
Menurut Fachry, partai politik memang sudah bisa menerima hasil
pemilu. Namun, pemerintah yang terpilih tidak mampu membuatg koalisi
nasional secara besar-besaran. “Problemnya, presiden terpilih yang
berasal dari partai kecil akan bermasalah ketika berhadapan dengan
parlemen. Untungnya ada Jusuf Kalla, yang berhasil menguasai Golkar
sehingga bisa membuat stabilitas politik lebih kuat di parlemen,” ujarnya.
Sayangnya, partai seperti PPP hampir tidak bersuara pada kebijakan
pemerintah dan rakyat. Bahkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
(PDIP), yang sudah menempatkan diri sebagai oposisi, tidak punya
kepandaian menangkap esensi persoalan. Mereka tidak punya kemampuan
meluncurkan persoalan pada saat yang tepat. “Jadinya, fungsi oposisi
hampir tidak berjalan, dan yang dilakukan hanya hal-hal kecil. Padahal,
PDIP potensial tampil berhadapan dengan pemerintah, ujarnya.
Sumber : Harian Kompas,
5/5/2006

Tagihan Tugas :
1. Setelah disimak dan baca baik-baik, jelaskan kembali apa
telah ditulis sesuai dengan persepsi yang ada dibenak anda !
2. Berikan beberapa penjelasan indikasi tentang terjadinya
“krisis” dan “menurunnya daya artikulasi” partai politik di Indonesia
pasca pemilu 2004 !
3. Jelaskan dengan memberi alasan, mengapa partai politik
sebesar PPP dan PDIP kurang mampu menangkap esensi persoalan
bangsa dan negara dalam memberi usulan-usalan konstruktif kepada
pemerintah !
4. Tentukan langkah-langkah konkrit upaya-upaya dalam
membangun artikulasi partai politik guna meningkatkan kinerja di
parlemen !
5. Berikan usulan konkrit, apa yang harus anda lakukan guna
meningkatkan kinerja pemerintah dengan mitra kerjanya parlemen :
a. Sebagai salah satu kelompok kepentingan !
b. Sebagai ketua suatu partai politik !

6
c. Sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat
!
d. Sebagai Presiden Republik Indonesia !

D. Inquiri (Tugas Kelompok)


Carilah referensi dari berbagai sumber untuk mengkaji ulang tentang
rumusan dan penerapan sistem politik demokrasi Pancasila (berikut
gambar-gambar pendukungnya) yang berkaitan dengan tata cara
pengambilan keputusan !
1. Pahami kembali tentang rumusan “demokrasi Pancasila ”, dan
buatlah skenario (simulasi atau role play) wujud demokrasi Pancasila
dalam pengambilan keputusan di sekolah !
2. Carilah topik-topik dari berbagai sumber (mass media cetak atau
elektronik) sekitar pelaksanaan sistem politik demokrasi Pancasila
(cara pengambilan keputusan),
3. Kemudian lakukan demonstrasi dalam bentuk simulasi atau role
play di dalam kelas !