Anda di halaman 1dari 21

Gubernur VBL: Indeks Minat Baca

Masyarakat Masih Rendah

wartaperempuan.net-Kupang
Pertemuan Bakohumas Lingkup Pemerintah Provinsi NTT berlangsung di Aula Hotel Papa
Jhons Kupang, 12/11/2019, dengan tema"Peran Humas Provinsi NTT dalam rangka Sosialisasi
Gerakan Membàca Melalui Literasi NTT".

Pertemuan Bakohumas ini dibuka oleh Kepala dinas Komunikasi Dan Informasi Prov NTT,
Drs.Aba Maulaka mewakili Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat. Dalam sambutannya
yang di bacakan Kadis Kominfo, gubernur NTT mengatakan "saya memberikan apresiasi kepada
pihak penyelenggara kegiatan ini, dalam rangka meningkatkan kecerdasan masyarakat NTT.

Masih dalam semangat momentum hari pahlawan ke 74 kita dapat menjadi pahlawan kekinian,
harus tetap berjuang untuk membangun bangsa dan negara melalui kerja keras, untuk
mewujudkan Indonesia maju khususnya NTT yang selaras dengan visi pemerintah Provinsi
yaitu NTT bangkit menuju masyarakat sejahtera dalam bingkai NKRI.

Gubernur VBL juga mengatakan Buku adalah jendela dunia, dengan membaca kita menjelajahi
dunia, namun sayang semuanya hanya dapat digunakan sebagai "omong doang" (cuma bicara
saja tanpa realisasi, red.). Kenyataannya minat baca masyarakat luas kita, indeksnya masih
rendah khususnya di kalangan milenial dan masih memiliki tingkat kesadaran yang rendah,
padahal kita sadari bersama, bahwa dengan membaca banyak sekali manfaatnya karena
membaca adalah nutrisi efektif bagi otak kita tegas gubernur.

Makna dari literasi secara sederhana adalah kemampuan seseorang untuk membaca dan menulis
dengan benar. Literasi dalam arti yang luas ialah memilih dan mengkomsumsi informasi yang
dibutuhkan, mengakses kebutuhan informasi tersebut secara efektif dan efisien, mengevaluasi
informasi sumber sumber yang didapatkan secara kritis serta menggabungkan informasi yang
dipilih menjadi sebuah landasan pengetahuan dan menggunakan informasi secara efektif untuk
mencapai tujuan tertentu tutur gubernur VBL.

Literasi juga bermakna kemampuan sesorang untuk mengetahui dan menguasi isu-isu ekonomi,
sosial, hukum, seputar penggunaan informasi secara etis serta dapat dipertanggung jawabkan.

Pemerintah Provinsi NTT terus berupaya secara konsekuen untuk mendobrak kesadaran
masyarakat NTT, untuk membaca serta menumbuhkan budaya membaca yang tujuannya
membentuk reading society melalui NTT gemar membaca. Harapan saya agar perpustakaan
setiap daerah maupun perpustakaan keliling harus mengupayakan bersama meningkatkan minat
dan kesadaran membaca masyarakat demi mewujudkan NTT sebagai Provinsi Literasi.

Kegiatan pertemuan Bakohumas lingkup pemerintah Provinsi NTT menghadirkan pemateri


dari Akademisi dan Kearsipan Perpustakaan Provinsi NTT.

liputan; kristin fallo

editor; franz maksi

BNNP NTT Ringkus Pengedar Narkotika


Asal Aimere, Welamosa, dan Surabaya

KUPANG, suluhdesa.com – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) NTT berhasil


membongkar jaringan peredaran narkoba jenis shabu atau metamfetamin di Kabupaten
Manggarai Barat.
Hal ini disampaikan Plt. Kabid Pemberantasan BNN Provinsi NTT, AKP Yulie Beribe, SH pada
awak media di Aula kantor BNNP NTT, Kamis (14/11/2019).

AKP Yulie Beribe mengatakan, pengungkapan kasus itu bermula tertangkapnya kedua tersangka
di Kompleks pelabuhan laut Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat, saat sedang membawa
shabu atau metamfetamin dengan menggunakan sepeda motor tanggal 21/6/ 2019 pukul 23.04
wita.

Berkat kejelian dan ketangkasan, anggota BNNP NTT berhasil mengejar dan menangkap satu
orang tersangka lainnya di Surabaya Jawa Timur.

Ketiga tersangka tersebut, berinisial TAT, MT dan SL. Tersangka TAT alias A, seorang sopir
bus berusia 36 tahun asal Aimere Kabupaten Ngada, KTP beralamat di Jalan A Yani Kelurahan
Tetandara, Kota Ende.

Tersangka MT alias M, pengemudi sopir bus berusia 47 tahun, berasal dari Welamosa,
Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende.

Sementara tersangka SL adalah seorang ibu rumah tangga asal Banjar, Kecamatan Perak Timur,
Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur.

Yuli menjelaskan dalam penyidikan terhadap ketiga tersangka penyidik BNN Provinsi NTT
berhasil menyita barang bukti (BB) berupa satu (1) paket narkotika jenis Shabu atau
Metamfetamin dengan berat Netto 0,0078 gr sesuai hasil uji laboratorium, satu (1) bungkus
rokok Sampoerna Mild putih, tiga (3) batang pipet kaca atau pirex, satu (1) jaket dengan motof
bergaris cokelat-hitam, satu (1) buah handphone (HP) merk Nokia type 150 warna hitam dan
satu (1) handphone (HP) Oppo.

Shabu atau metamfematin di peroleh dari tersangka SL alias M yang beralamat di Surabaya dan
dikirim melalui jasa sopir ekspedisi, tersangka MT alias M yang memesan dan diserahkan
kepada tersangka TAT alias A.

Menurut Yulie ketiga tersangka kasus peredaran gelap narkotika ini, telah dilimpahkan kepada
Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Labuan Bajo dan telah disidangkan di Pengadilan Negeri
(PN) Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat.

Persidangan yang digelar pada Selasa, (2/11/2019), Majelis Hakim PN Labuan Bajo
menjatuhkan vonis lima (5) tahun penjara bagi tersangka/terdakwa TAT, enam (6) tahun penjara
bagi tersangka/terdakwa MT dan hukuman 7 tahun penjara bagi tersangka/terdakwa SL.
Lebih lanjut Yulie mengatakan, bahwa kasus ini merupakan kasus narkotika yang kedua kalinya
menjerat SL alias M seorang ibu rumah tangga dan sudah pernah dihukum.

Ia menambahkan, selama tahun 2019 ini pihaknya berhasil memperoleh 5 target dari 8 target
yang diberikan BNN RI terhitung 21 September 2019.

“Kami bekerja keras melakukan pemutusan jaringan peredaran Narkotika di NTT walau dengan
personil yang terbatas juga kondisi geografis yang luas, kami serius, kerja keras berusaha dengan
segala kemampuan dalam penanganan narkoba,” jelasnya.

Yulie berharap kalangan media membantu menyampaikan dan melapor ke Badan Narkotika
Nasional (BNNP)NTT jika menemukan orang di sekitar yang menggunakan atau menjadi
pengedar narkotika. (vrg/vrg)

BNNBNNP NTTNarkotika

Leko Ena, Wisata Pantai Selatan Aimere-


Inerie Yang Indah
Pantai Leko Ena saat senja

BAJAWA, suluhdesa.com – Akhir pekan atau liburan tentu sering kalian manfaatkan untuk
melepaskan penat usai bekerja. Tak sendiri, seringkali kalian membawa serta orang-orang
terkasih. Baik itu pasangan, suami/istri, anak-anak, keluarga maupun sahabat-sahabat anda.
Namun, terkadang tak jarang kalian dibuat bingung dengan destinasi yang akan dikunjungi
bukan?

Seperti dikutip dari Laman www.visitngada.com, masyarakat Indonesia diajak untuk


mengunjungi destinasi wisata bahari yang satu ini. Namanya Wisata Bahari Pantai Pasir Leko
Ena. Destinasi wisata ini terdapat di Desa Warupele I-Kecamatan Inerie-Kabupaten Ngada.

Muat Lebih

 Kelas Inspirasi Di SDK Malapedho, Arnoldus Wea Ajak Para Siswa Jangan Minder
 Wisatawan Asal Perancis dan Swiss Belajar Menganyam Di Kurubhoko
 Memanfaatkan Potensi Air, Kepala Desa Ini Menyulap Desa Ponggok Menjadi Desa Wisata
Keunggulan dari destinasi ini adalah keadaan alamnya yang sejuk karena di pesisir pantainya
ditumbuhi oleh hutan waru yang rimbun dan pepohonan kelapa. Selain itu kalian juga bisa
menikmati keindahan pemandangan piramida alam gunung Inerie yang sudah dikenal dunia.

Untuk kalian yang ingin menikmati kuliner lokal dengan nuansa seafood, kalian juga bisa
dapatkan di destinasi wisata ini, kalian dapat menikmati beberapa menu makanan lokal
masyarakat setempat, seperti ika lawa (ikan lawar), ikan bakar, ikan kuah, ra’a rete gurita, dan
siput, kalian juga bisa menikmati kuliner lokal hasil pertanian masyarakat setempat seperti umbi-
umbian, lawar batang pisang, lawar daun pisang, dan lain-lain dengan cara memesan kepada
masyarakat yang kalian temui di lokasi pantai tersebut.

 Adrianus Dhawu Ketua Kelompok Sadar Wisata Leko Ena, Desa Warupele I, Kecamatan
Inerie, Kabupaten Ngada, NTT (kaca mata)

Nah, bagi kalian yang ingin mengisi akhir pekan untuk melepaskan penat di alam pantai bersama
orang-orang tersayang, sekarang ini pantai Leko Ena bisa menjadi pilihan yang tepat untuk
kalian kunjungi karena di sana pun ada hamparan pasir halus. Selain itu tempat ini menjadi
pilihan para calon pengantin untuk melakukan foto sebelum nikah atau sekedar selfie.

Lokasi ini juga cocok untuk kalian yang menyukai keheningan. Di atas hamparan pasir kalian
dapat duduk dan mengheningkan diri sambil menikmati angin segar diiringi deburan ombak
putih.

Wisata pantai Leko Ena tidak terlepas dari pembentukan dan pengelolaannya.

Adalah Adrianus Dhawu Ketua Kelompok Sadar


Wisata Leko Ena, Desa Warupele I, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada, NTT, saat
diwawancarai Media Suluhdesa.Com pada Sabtu (19/10/2019) pukul 11.00 wita di lokasi wisata
pantai Leko Ena menjelaskan bahwa, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) ini dibentuk dengan
struktur yang ada dan disahkan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Ngada serta berbadan hukum
Nomor 556 sesuai dengan misi Presiden RI Joko Widodo tentang pariwisata sebagai lokomotif
perekonomian bangsa.

“Kami memulai ini dengan keterbatasan namun dengan semangat dan tekad yang ada kami ingin
menjadikan wisata pantai Leko Ena ini sebagai ikon wisata pantai selatan sepanjang Aimere dan
Inerie. Dinas Pariwisata usai bertemu kelompok kami di sini mereka mengundang kami untuk
memberikan pembekalan-pembekalan pada tanggal 17-19 Maret 2019,” tutur Adrianus.
Menurut Adrianus, usai pihaknya mendapat pelatihan di Dinas Pariwisata Kabupaten Ngada
dengan instrukturnya dari Bali yang merupakan rekomendasi dari Kementerian Pariwisata,
mereka diajarkan untuk mengelola tempat wisata yang baru saja dimulai di Leko Ena dan
sebagai contohnya mereka belajar dari pengelolaan wisata pantai Pandawa.

Berangkat dari ciri khas yang sama antara wisata pantai Pandawa dengan Leko Ena maka ini
perlu ditiru.

Ciri khas di Leko Ena adalah para nelayan yang selalu mencari ikan terbang. Namun ada yang
lebih menonjol yakni program kerja yang akan Pokdarwis lanjutkan dengan Festival Perahu
Layar, Festival Memancing Ikan, dan Festival Dayung Perahu. Ini akan dilakukan secara rutin
dalam setahun.

“Kami sementara mendesain pintu gerbang masuk dengan logo ikan terbang sebagai kekhasan
wisata pantai Leko Ena,” kata Adrianus.

Pokdarwis Leko Ena memiliki 7 seksi dengan jumlah keanggotaan 24 orang. Pokdarwis bekerja
sama dengan Pemerintah Desa Warupele I beserta masyarakat dalam mengelola wisata pantai
Leko Ena.

Ada dua elemen penting di Pokdarwis ini. Keduanya adalah organisasi dan nelayan.

Adrianus menjelaskan jika mereka menyatukan kedua unsur ini sebab daerah ini adalah daerah
nelayan. Sehingga antara Pokdarwis dan nelayan tidak saling dilepaspisahkan. Sebab Warupele I
memiliki jumlah nelayan terbesar di Kecamatan Inerie dan Kecamatan Aimere.

Ketika dipisahkan maka akan terjadi konflik. Sebagai contoh jika daerah ini adalah daerah
wisata, para nelayan mau kemana. Ini sangat sulit.

“Oleh karena itu kita rangkul mereka menjadi satu bagian. Wisata pantai Leko Ena ini kita
libatkan semua unsur untuk merawat dan menjaga dan baru berjalan 6 bulan,” jelas Adrianus.

 Wisata Pantai Leko Ena di Desa Warupele I, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada, NTT

Mengenai pengunjung, Adrianus mengakui jika sejauh ini sudah mulai banyak pengunjung yang
datang baik itu wisatawan asing maupun wisatawan lokal.

“Ke depan kami bersama Pemerintah Desa Warupele I akan menyiapkan fasilitas untuk wisata
pantai Leko Ena seperti MCK, tempat sampah, air bersih, listrik, dan infrastruktur. Ini disiapkan
secepatnya mengingat jumlah pengunjung yang sudah mulai ramai setiap harinya,” tutup
Adrianus.
Ayo bagi kalian yang ingin mengunjungi wisata pantai Leko Ena selain menikmati keindahan
pantainya dapat juga membeli ikan-ikan segar hasil tangkapan para nelayan yang ada di sekitar
lokasi pantai. (Frids Wawo Lado/fwl)

BNNP NTT: Tidak Ada Hukuman Fisik Bagi


Pecandu Narkoba

Dari kiri Penanggungjawab Klinik Pratama BNNP NTT(dr. Saud Samosir), Kepala Seksi Pasca Rehabilitasi
BNNP NTT (Marselinus Openg), Kabid Rehabilitasi Narkoba BNNP NTT (Stef Joni Didok, SH), Kabid
Pemberantasan Narkoba BNNP NTT (Yullie Beribe) pada Konferensi Pers Bersama BNNP NTT
(12/11/2019)
KUPANG, suluhdesa.com – BNNP Mencatat per November 2019 ini ada 36000 pengguna
narkoba di NTT. Dari jumlah ini BNNP berhasil merehabilitasi sebanyak 60 orang. Jumlah ini
sedikit karena alasan keluarga korban pecandu narkoba atau pecandu sendiri enggan melapor
ke BNNP.

Demikian hasil konferensi pers Badan Narkotika Nasiona Provinsi Nusa Tenggara Timur atau
BNNP NTT pada Selasa, 12 November 2019 kemarin di Kantor BNNP NTT, jalan Palapa Kota
Kupang.

Hadir sebagai narasumber dalam konferensi pers tersebut Penanggungjawab Klinik Pratama
BNNPT sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Seksi Penguatan Lembaga Rehabilitasi BNNP NTT
[dr. Saud Samosir] dan Kepala Seksi Pasca Rehabilitasi BNNP NTT [Marselinus Openg] serta
Kabid Pemberantasan Narkoba BNNP NTT [Yullie Beribe] dan Kepala Bidang Rehabilitasi
BNNP NTT [Stef Joni Didok, SH].

Di hadapan para wartawan, Kepala Bidang Rehabilitasi BNNP NTT [Stef Joni Didok, SH]
menjelaskan faktor dibalik keberhasilan merehabilitasi jumlah tersebut antara lain karena
pelaksanaan kegiatan penguatan rehabilitasi milik instansi pemerintah dan komponen masyarakat
yang efektif dan efisien serta tepat sasaran.

Selain itu karena hubungan kerjasama yang baik BNNP NTT dan BNNK jajaran dengan
stakeholders dan pemegang kebijakan. Lalu komitmen yang tinggi dari para stakeholder
penyelenggara rehabilitasi milik instansi pemerintah.

Lalu terkait pertanyaan mengapa hanya 60 orang dari jumlah 36000 orang? Joni Didok
menjawab karena kurangnya kesadaran dan pemahaman dari korban penyalah guna/pencandu
narkoba dan keluarga/kerabat tentang program rehabilitasi berkelanjutan sehingga enggan
melapor untuk mengikuti rehabilitasi dan pasca rehabilitasi.

Selain itu karena stigma masyarakat terhadap korban penyalah guna/pencandu narkoba
merupakan aib dan dapat dihukum apabila melapor diri untuk direhabilitasi.

Terkait hal ini juga Kabid Pemberantasan Narkoba BNNP NTT, Yullie Beribe menegaskan bagi
keluarga korban pencandu narkoba atau pencandu sendiri yang mau datang melapor dan minta
tolong untuk direhabilitasi, BNNP akan menjamin kerahasiaan identitas korban.

BNNP juga menjamin tidak akan memberi hukuman fisik tetapi rehabilitasi atau terapi
pemulihan. Proses hukum pencandu narkoba tetap berjalan tetapi pengadilan akan memutuskan
rehabilitasi.

“Kami jamin tidak ada hukuman fisik bagi korban pecandu narkoba yang melapor. Bahkan
kerahasiaan identitas korban pencadu Narkoba, lanjut Jullie, di jaga dan tidak dibuka ke publik.”
Tandas Yullie Beribe.
Joni Didok lanjut membeberkan rencana aksi Bidang Rehabilitasi BNNP NTT ke depan antara
lain memetakan kembali lembaga rehabilitasi milik instansi pemerintah dan lembaga rehabilitasi
komponen masyarakat yang akan diberi penguatan operasional.

Selain itu melakukan sosialisasi program rehabilitasi bagi pencandu dan atau penyalahguna
narkoba sebagai solusi terbaik dalam usaha menurunkan jumlah pecandu [demand reduction]
narkoba.

Termasuk meningkatkan peran stakeholders untuk ikut brpartisipasi mendukung program


rehabilitasi bagi pecandu dan atau penyalahguna narkoba. (kos//kos)

Generasi Muda Budayakan Gemar Membaca


KUPANG, RANAKA-NEWS.com – Membaca dan memahami sesuatu dengan baik merupakan salah
satu sumber pengetahuan yang mulia dan harus dilakukan secara terus menerus oleh generasi
muda guna memperbaiki kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) serta menunjang dalam membuat
perencanaan dan kebijakan pembangunan kedepan baik Provinsi dan Daerah.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi NTT, Drs.
Aba Maulaka dalam kegiatan Koordinasi Humas dan Protokol pemerintah Provinsi NTT yang
berlangsung di Hotel Papa Johns Kupang, Selasa (12/11/2019).

Kegiatan Bako Humas tersebut dihadiri Pimpinan OPD Lingkup Provinsi NTT, Akademisi
Universitas Nusa Cendana Kupang, Komisi Informasi Publik (KIP) Provinsi NTT, TNI dan Polri.

Aba Maulaka mengatakan Humas memiliki peran strategis dalam menyajikan informasi publik
untuk peningkatan pelayanan sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman.

Hal ini kata dia, sesuai UUD 1945 pada 28 ayat kedua memerintahkan seluruh anak bangsa
termasuk pejabat publik menyediakan informasi yang benar dan tepat guna memberikan
pelayanan yang berkualitas bagi masyarakat.

“Pejabat publik harus menjadi garda terdepan dalam memberikan informasi publik yang efektif,
terpercaya dan dijabarkan dalam RPJMD untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Aba
Maulaka.

Sementara itu, Kepala Bidang Layanan Pembinaan Perpustakaan Provinsi NTT, Dolly Chandra
menguraikan bahwa membaca merupakan sebuah proses mental untuk memperkaya pengetahuan
dan menambah pengalaman serta lebih kritis dalam membuat suatu perencanaan secara individu
maupun kepentingan publik.

Membaca kata dia, sebagai salah satu modal positif peningkatan pengetahuan umum dan sebagai
media penerangan perkembangan masyarakat.

Hal ini juga harus dibiasakan secara terus menerus dilingkungan keluarga, lembaga pendidikan
dan masyarakat. Budaya membaca dapat dilakukan dengan memanfaatkan perpustakaan, tempat-
tempat umum yang mudah dijangkau, murah dan bermutu.

Kegiatan yang telah dilaksanakan untuk meningkatkan kegemaran membaca yaitu lomba minat
baca bagi siswa SD/MI se-NTT, kunjungan rutin bagi anak usia dini untuk memperkenalkan
perbagai koleksi bahan bacaan, melakukan kunjungan keliling kepemukiman yang tidak memiliki
perpustakaan umum.

Kegiatan lain yang telah dilakukan pameran buku, lomba pengelola perpustakaan SLTA tingkat
Provinsi NTT dan melaksanakan lomba perpustakaan Desa/Kelurahan terbaik se-NTT serta
layanan perpustakaan di sekolah Negeri maupun Swasta sesuai kebutuhan yang berpusat di Kota
Kupang.
“Upaya yang dilakukan untuk peningkatan kinerja Perpustakaan Provinsi NTT yaitu membangun
kerjasama antar perpustakaan di 22 Kabupaten/Kota dengan membangun kerjasama dengan dinas
terkait dengan menyediakan layanan internet gratis, melaksanakan kegiatan transformasi
perpustakaan berbasis inklusi sosial dan menyediakan koleksi bahan pustaka untuk dihibahkan
bagi sekolah swasta dan komunitas agama,” jelas Dolly Chandra.

Perpustakaan Provinsi juga akan membuat kegiatan Story Feeling yang menceritakan bagi
Pendidikan Anak usia Dini (PAUD), TK, Kelompok bermain di Kota Kupang dan menyediakan bahan
pustaka (buku) untuk di hibahkan bagi delapan lokasi pariwisata di Provinsi NTT. (MD)

Romo Siprianus Hormat Terpilih Menjadi


Uskup Di Keuskupan Ruteng
RUTENG, RANAKA NEWS.com – Setelah menunggu kurang lebih dua tahun satu bulan
lamanya oleh umat katolik keuskupan Ruteng, Namun pada sore hari ini, rabu 13/11/2019, di
Gereja Khatedral Ruteng, vikaris jenderal (Vikjen) keuskupan Ruteng RD. Alfon Segar di
hadapan umat yang hadir, para imam serta biarawan/i mengumumkan nama pastor Siprianus
Hormat sebagai uskup baru di keuskupan Ruteng, kabupaten Manggarai, NTT.

Di hadapan wartawan RD. Alfons Segar mengatakan, pertama-tama tentu kita semua bersyukur
dan berbahagia karna kita sudah memperoleh seorang uskup yang defenitif yang sudah lama kita
nantikan kurang lebih dua tahun satu bulan.

“Seperti yang saya katakan tadi dalam pengumuman, selama kurun waktu dua tahun satu bulan
itu kita berdoa supaya bukan hanya kehendak kita, tetapi kehendak Tuhan. Sehingga kita sudah
memperoleh uskup terpilih dalam diri Mgr. Siprianus Hormat. Kita semua sebagai umat Allah di
keuskupan Ruteng ini patut menyambut, menerima beliau dengan penuh suka cita”, Kata RD.
Aflons Segar.

Lanjut Vikaris Jenderal ( Vikjen ) itu, dalam suka cita itu kita semua berdoa baik bagi beliau (
uskup Mgr. Siprianus Hormat ), supaya bisa memimpin keuskupan ini dengan sebaik – baiknya
dengan penuh bijaksana. Karna memang untuk menjadi uskup di tengah dunia dewasa ini saya
pikir memang tidak gampang, jelas vikaris jenderal itu.

Dirinya mengatakan, karna itu kita patut mendukung beliau dengan doa, maupun juga dengan
kerja sama dalam melaksanakan tugas beliau sebagai uskup di keuskupan ini.

Ketika di tanyakan wartawan terkait jadwal penthabisan, dirinya mengatakan kalau menurut
kebiasaan selama ini, setelah pengumuman di beri waktu tiga bulan sebelum waktu penthabisan.

Ia mengharapkan sebelum paskah kita akan melaksanakan penthabisan.

Sementara itu uskup terpilih Mgr. Siprianus Hormat kini tengah berada di Jakarta. Tepatnya
pukul 18 :00 wib, juga di lakukan pengumuman yang sama di Khatedral Jakarta oleh Mgr.
Siprianus Hormat itu sendiri.

Namun Silvester San sebagai Mgr Apostolik Ruteng, kini sementara berada di Jakarta untuk
mengikuti sidang para uskup se-Indonesia.

Menurut pengakuan Vikjen Alfons bahwa kemarin Mgr. Silvester San sempat mengirim pesan
WhatsApp kepadanya untuk meminta membacakan hasil putusan itu di hadapan umat se-
keuskupan Ruteng.

Mendengar kabar gembira itu, umat khatolik se-keuskupan Ruteng turut bersuka cita.

Penulis : Eventus Mardivanto


Editor : Yustinus Darmoyuwono

Mengenal Upacara Mata Golo di Ngada dan


Rangkaiannya

Etnis Ngadha di Kabupaten Ngada dengan salah satu tradisinya. (Foto milik Liputan 6)

BAJAWA, suluhdesa.com – Etnis Ngadha di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur
mengenal dua jenis kematian manusia. Menurut Budayawan Ngada Yoseph Rawi,BA, dua jenis
kematian itu adalah Mata Ade (mati wajar) dan Mata Golo (mati tidak wajar seperti dibunuh,
jatuh pohon dan sebagainya).

Berbincang dengan Media Suluhdesa.Com beberapa waktu lalu di kediamannya di Bajawa,


penulis novelet Kubur di Pantai Gersang ini menuturkan banyak hal tentang Mata Golo di
kalangan orang Ngadha (Bajawa dan sekkitarnya).

Berikut ini intisari penuturan pria kelahiran Watu Inerie ini yang beberapa waktu lalu
dianugerahi penghargaan sebagai Budayawan Nusantara oleh Presiden Joko Widodo.

Mata Golo adalah Kematian yang disebabkan oleh suatu kecelakaan, jadi bukan karena penyakit
atau usia lanjut. Mata Golo sangat ditakuti dan upacara penguburan pun sangat menyeramkan
serta biayanya sangat mahal.

Menurut kepercayaan masyarakat Ngadha, Mata Golo adalah Kematian karena kutukan Dewa
atau siksaan leluhur dan kekuatan roh jahat yang disebut Nitu. Kutukan disebabkan karena suatu
kesalahan, kejahatan yang tersembunyi atau pelanggaran berat terhadap adat dan kepercayaan.
Penyebabnyaa itu disebutut “ Su’i Du’i“. Penyebab atau Su’i Du’i itu dicari kejelasannya melalui
upacara tibo (upacara mencari tahu penyebabnya dengan bertanya kepada roh leluhur).

Orang yang Mata Golo harus diupacarai yang disebut Keo Rado (upacara tolak bala).

Adapun tahap-tahap Keo Rado yang harus dilalui adalah sebagai berikut;

1. Pa’i Tibo yakni upacara tibo yang dilaksanakan dua malam berturut-turut. Malam pertama
mencari kesalahan atau kejahatan tersembunyi, pelanggaran adat atau upacara adat yang tidak
dilaksanakan. Tibo adalah carang atau ranting bambu mentah yang didoakan atau dimantrai
dengan meminta petunjuk Dewa dan arwah leluhur. Ini dilakukan oleh seorang tua adat yang
disebut Ata Bhisa (orang pintar). Pada malam kedua upacara tibo dilaksanakan untuk
menentukan siapa saja yang akan bertugas pada upacara inti Keo Rado.
2. Upacara inti Keo Rado : Setelah dua malam melaksanakan upacara pai tibo dan menemukan
penyebab kematian, maka dilaksanakan upacara inti Keo Rado pada malam ketiga.

Yoseph Rawi, BA

Tahap-tahap upacara inti Keo Rado adalah:


a. Bhe logo one dan logo ema yakni mengundang keluarga pihak mama dan pihak bapa dari yang
Mata Golo.

b. Bhe Mae yakni mengundang arwah leluhur untuk hadir dalam upacara tersebut.

c. Tane tobo muku yakni menguburkan batang pisang sebagai ganti mayat (yang sudah
dikuburkan sebelum upacara). Umumnya upacara inti Keo Rado dibuat setelah mayat
dikuburkan. Namun jika upacara itu ada mayat maka mayat itu dikuburkan.

d. Sega Ringa yakni upacara bakar kayu kesambi (lute Sabi) dan jenis kayu yang lain disebut
Kaju Asa Lea atau kaju saruwalu saki. Dibakar di depan rumah dan harus tetap hidup sampai
upacara selesai. Beberapa suku menebutnya Api Polo (Api Suanggi).

e. Nea bhara pa yakni upacara pembuangan segala ranting bambu yang dipakai waktu Pai Tibo
serta semua tulang daging dan sisa makanan. Ini sebagai simbol pembuangan semua sial dan
kutukan.

f. Nea bhara po yakni upacara pembuangan ukuran tanduk kerbau yang telah diberi oleh Suanggi
dan semua sisa-sisa upacara.
g. Wela Luli dan papa jawa wali yakni upacara pembalasan terhadap hewan atau tempat atau
yang menyebabkan kematian orang tersebut. Lalu diadakan upacara perdamaian.

h. Se da Ze’e yakni menyingkirkan yang buruk, yang najis. Upacara pemulihan kembali,
menolak bala agar keluarga tidak lagi ditimpa kematian tidak wajar atau Mata Golo. Upacara ini
menjadi terakhir dan menutup seluruh proses upacara. (Agus G Thuru/Agus)

Nasib Perempuan NTT dan Pelecehan


Seksual

frater Ebith Lonek, CMF (Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang)


OPINI, suluhdesa.com – Dalam Surat Kabar Harian Pos Kupang (29/7/2019) terlihat
segerombolan anak-anak memegang spanduk dengan tulisan “Total 563 anak menjadi korban
kekerasan, dengan 222 anak korban pelecehan seksual, masihkah kita diam? Sebuah seruan yag
sejatinya menggelitik hati dan logika masyarakat pada umumnya.

Jika anak-anak sadar akan eksistensi mereka yang terancam oleh para predator liar yang
berkeliaran, masihkan kita yang seharusnya menjadi garda terdepan melidungi mereka
berpangku tangan dan menyaksikan kepedihan ini? Atau masihkah kita yang seharusnya menjadi
protektor malah menjadi predator yang buas bagi mereka?

Bila diikuti dengan baik dalam konten berita surat kabar di NTT atau media sosial lainnya bulan
Juli menjadi bulan yang cukup intens menyajikan berita terkait pelecehan seksual. Bahkan
konten berita yang disajikan seolah-olah memaksa logika manusia untuk memahami sesuatu
yang secara kaca mata moral sangat memalukan dan memiluhkan. Adakah ini sebuah
kebanggaan Provinsi seribu satu gereja ini? Apakah ini tema terhangat masyarakat NTT saat ini
ataukah tema yang dihangatkan sebagai sebuah warning bagi masyarakat NTT dalam
menghadapi industri 4.0?

Kasus pelecehan seksual yang sedang melanda NTT seolah memberikan seribu satu kata tanya
dengan rumusan 5W+1H untuk masyarakat NTT! Dan jawaban harus diberikan oleh masyarakat
NTT sendiri. Kasus demi kasus yang terjadi, seakan memberikan satu hipotesa mini bahwa
masyarakat NTT (tidak semua) masih lemah bahkan gagal dalam menghidupi dalil-dalil moral
yang diajarkan entah oleh keluarga, institusi religius, budaya, dan sekolah. Jika bertahun-tahun
NTT bertahan dengan streotipe Provinsi termiskin, jangan sampai streotipe baru membebani
pundak Provinsi ini yang sudah memasuki usia setengah abad lebih dengan streotipe yang
semakin membuat Provinsi ini stagnan (berjalan ditempat) dalam menyongsong keterpurukan.

Jika anak-anak NTT khususnya perempuan merasa terancam bahkan sangat tidak at home
dengan lingkungannya adalah sebuah kebenaran yang dipertahankan. Mereka merasa banyak
serigala berbulu domba, yang mencicipi “rumput” seladang dengan mereka yang siap menerkam
mereka. Bahkan “memalukan” banyak sebenarnya predator “bertopeng” protektor yang hidup
bersama mereka, yang hanya sedang menanti saat yang tepat.

Ketakutan anak-anak perempuan NTT itu terbukti dengan rentetan kasus pelecehan seksual yang
terjadi di NTT. Diliris oleh Pos Kupang secara eksluisif bahwa di Kota Kupang selama bulan
Januari-Juni 2019 terdiri 11 kasus pencabulan dan 25 kasus persetubuhan. Di kabupaten Sumba
Timur, periode Januari-Mei 2019 terjadi 50 kasus kekerasan terhadap anak, diantaranya 40 lebih
kasus kekerasan seksual, mirisnya Sumba Timur menjadi Kabupaten di NTT yang menempati
urutan pertama dalam maraknya kasus pelecehan seksual. Di Kabupaten Sikka, selama Januari-
Juni ada 5 kasus pencabulan, Lembata,17 kasus dan Kabupaten Ngada, 8 kasus pemerkosaan
(17/7/2019).

Hal ini belum dirampung dari Kabupaten lainnya. Intinya melihat sampel yang ada, kita boleh
berasumsi NTT tengah mendiami zona merah dalam kasus pelecehan seksual. Masihkah kita
diam? Dengan berkaca pada fenomena ini, apa yang harus dibuat? Jangan membebani kasus ini
sebagai akibat dari kelalaian orangtua, ingat banyak protektor yang predator, ataupun ini sebagai
kesalahan dari anak-anak? Masalah yang sedang melanda NTT adalah masalah bersama
(masyarakat NTT). Harus diretas bersama, bukan bersama-sama mendiami atau sengaja
didiamkan agar NTT tetap menjadi Provinsi seribu satu Gereja dengan banyak tulang-belualang
yang sengaja dikuburkan di dekat “halaman” gereja.

Nasib Perempuan

Simone de Beauvoir seorang filsuf dan novelis Prancis (Simone Blackburn: 2013,91) dalam
bukunya the second sex mengulas dengan baik mengenai nasib perempuan ketika diperhadapkan
dengan fakta jenis klamin. The second sex adalah sebuah telaah eksistensialis dari asal-muasal
perempuan, dan juga asal-muasal paham feminis dan proto-feminis (James Garvey:2010,309).
Melalui buku ini de Beauvoir berhadapan dengan pertanyaan “Apa itu perempuan, dan
pertanyaan ini menggiring sampai pada pertanyaan “mengapa perempuan itu berbeda?

Dalam bagian pertama bukunya Beauvoir mengatakan perempuan tidak ditentukan oleh biologi,
psikologi, atau ekonomi. Ia memperoleh sebuah tesis mini bahwa perempuan barangkali adalah
yang paling diperbudak dan segala jenis perempuan menyusui, juga manusia perempuan adalah
salah satu dari yang paling kuat bertahan dalam keadaan diperbudak (Garvey; 311). Ia juga
membicarakan fakta subyek-obyek atas laki-laki dan perempuan. Ia katakan perempuan adalah
mutlak lain, obyek yang tidak pernah menjadi subyek di mata lelaki. Walaupun Hegel
membangun sebuah presepsi bahwa subyek, menjadi subyek, memerlukan yang lain,
memerlukan untuk melihat dirinya sebagai subyek di mata subyek lain. Faktanya subyek yang
kedua akan tetap menjadi obyek bagi yang pertama.

Beauvoir menegaskan disamping kemajuan sosial, perempuan masih tetap ditaklukan oleh lelaki,
perempuan masih melihat dirinya dan membuat pilihan tidak sesuai dengan asal-muasalnya,
melainkan dari apa kata lelaki tentang mereka. Seorang perempuan masih, dalam sebagian besar
kawasan, sebagai khayalan laki-laki.

Melihat fenomena pelecehan seksual yang tengah melanda NTT, kita bisa menarik sebuah
hipotesa mini bahwa fenomena di atas adalah sebuah hasil akumulasi presepsi yang dibangun
oleh para predator atas diri perempuan yakni hanya sebagai kelas sosial nomor dua, karena tubuh
wanita itu lemah, status dan posisinya pun rendah, karena konvensi sosial dibangun atas diri
mereka (Garvey; 314).

Dengan demikian jika berkaca pada pandangan Beauvoir, fenomena pelecehan seksual adalah
sebuah penyimpangan bahkan kegagalan dalam persepsi yang dibangun oleh kaum lelaki
(predator), yang selalu melihat perempuan sebagai obyek atas kepuasan seks. Jika ada bentuk
teriakan protes dari kaum feminis bahwa mereka merasa tidak sebagai obyek, maka mengikuti
presepsi Hegel, mereka adalah subyek kedua yang akan menjadi obyek bagi subyek pertama
yakni lelaki. Karena bagi Beauvoir,bahwa perempuan pada umumnya tidak didefenisikan oleh
tubuh dan pikiran semata, tetapi juga oleh peristiwa historis mereka, tempat mereka dalam ranah
evolusi sosial, ekonomi dan teknologi yang dicapai spesies manusia.
NTT “Berjaga”

NTT “berjaga” adalah sebuah fakta imperatif yang seyogyanya harus didendangkan oleh
masyarakat NTT dalam menyikapi kasus ini. Kasus ini bukan lagi hanya persoalan sebatas pihak
korban dan pelaku ataupun atas pelaku dengan pihak berwajib. Namun masyarakat NTT
harus”berjaga” atas fenomena ini. Berjaga dalam pengertian kasus ini adalah sebuah warning
besar yakni masyarakat NTT harus berani mengambil langkaf prventif dalam menyikapi kasus
ini. Jangan hanya menjadi penikmat konten berita pelecehan seksual semata. Harus ada zeal yang
dibangun, yang membasis setiap usaha pembenahan moral.

NTT “berjaga” dapat juga diartikan sebagai satu seruan moralitas, agar kita bersama-sama
meretas kasus tersebut. Dari pengamatan pihak berwajib, pengaruh medsos atas kasus ini sangat
besar. Disorientasi dalam penggunaan medsos menjadi penyakit besar atas fenomena ini. Pada
tataran ini, tidak bisa disalahkan penemu medsos atau medsos itu sendiri. Karena in se medsos
adalah baik adanya bahkan sangat bermanfaat bagi kehidupan kita, jika digunakan semestinya.

Kedewasaan bermedsos sangat dituntut. Dalam konten berita yang disajikan, banyak modus
pelecehan seksual terjadi karena setelah menonton video mesum atau konten negative lainnya.
Akibatnya rasa ingin mencoba yang menggebu-gebu yang membawa mereka pada tindakan yang
amoral. Bahkan menjadikan orang-orang terdekatnya sebagai obyek atas nafsunya. Lebih lanjut
dikutip oleh Pos Kupang, tokoh agama Mery Kolimon mengatakan untuk mencegah kasus
pencebulan, pendidikan nilai di dalam keluarga, sekolah, lembaga agama serta masyarakat
menjadi sangat penting. Ini sangat penting dalam melindungi anak-anak dari paparan konten
pornografi sebab akan merusak mental dan intelektual anak.

Menyikapi kasus di atas, peran kita semua menjadi pilihan utama, kita perlu membangun satu
wawasan yang luas dalam bermedsos agar kita tidak menjadi budak dari pornografi. Konten
pornografi bersifat adiktif yang dapat menggangu kinerja otak kita dan sangat berbahya bagi
perkembangan dan pertumbuhan kita. Mengingat bahwa kasus ini banyak melibatkan anak-anak
muda, maka kita sebagai anak-anak muda apalagi yang mencicipi asuapan akademis, perlu
membangun sikap kritis-konstruktif dalam bergaul, bermedsos agar kita boleh menjadi orang-
orang yang berada pada garis terdepan dalam meretas kasus ini.

Bagi orangtua menjadi pribadi yang bijak dalam mendidik anak-anak adalah pilihan terbaik,
bukan mendidik dengan tangan besi yang membuat anak merasa dikekang dan mencari jalann
sendiri untuk menjawab rasa ingin tahunya. Namun harus menjadi orang-orang yang tegas dalam
prinsip namun santai dalam tindakan. Jiak kita semua dapat menjalankan peran kita sebagai
mana mestinya, yakin dan percaya bahwa kasus ini akan dapat diretas dan diatasi, sebagai bentuk
kecintaan kita akan masa depan para penerus bangsa ini. Jika penerus bangsa ini hancur masa
depannya, kemanakah kita membawa bangsa atapun Provinsi ini? (*)

Oleh; Frater Ebith Lonek, CMF (Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang)