Anda di halaman 1dari 7

Definisi Operasional Variabel

Variabel merupakan suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan

yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian

ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2013:60-64). Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel, yaitu

variabel terikat (dependent variable), variabel bebas (independent variable), dan variabel

mediasi (intervening variable). Sesuai dengan judul yang diajukan yaitu pengaruh Kapasitas

Sumber Daya Manusia dan Pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap Kualitas Laporan

Keuangan Pemerintah Daerah dengan Sistem Pengendalian Intern sebagai variabel

intervening. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel bebas, satu variabel intervening dan

satu variabel terikat. Berikut definisi operasional dari masing-masing variabel tersebut:

1. Dependent Variable

Variabel dependen merupakan variabel yang menjadi perhatian utama peneliti

(Sekaran, 2006). Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kualitas

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (Y). Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah

yaitu kemampuan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat dipahami, dan

memenuhi kebutuhan pemakainya dalam pengambilan keputusan, bebas dari pengertian

yang menyesatkan, kesalahan material serta dapat diandalkan, sehingga laporan keuangan

tersebut dapat dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Peraturan Pemerintah No.

71 Tahun 2010 menjelaskan karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran

normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi

tujuannya. Keempat karakteristik berikut ini merupakan prasyarat normatif yang diperlukan

agar laporan keuangan pemerintah dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki yaitu relevan,

andal, dapat dibandingkan dan dapat dipahami.


Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah diukur dengan menggunakan

instrumen berdasarkan PP No. 71 Tahun 2010 yaitu relevan, andal, dapat dibandingkan dan

dapat dipahami yang terdiri dari 10 item pernyataan dengan menggunakan skala likert 1-5.

Variabel ini diukur dengan menggunakan pernyataan yang berkaitan dengan hal-hal sebagai

berikut:

1. Laporan keuangan yang dihasilkan oleh Instansi/Lembaga memberikan informasi

yang dapat mengoreksi ekspektasi masa lalu.

2. Instansi/Lembaga menyelesaikan laporan keuangan tepat waktu.

3. Instansi/Lembaga menyajikan laporan keuangan secara lengkap.

4. Transaksi yang disajikan oleh Instansi/Lembaga tergambar dengan jujur dalam

laporan keuangan.

5. Informasi yang disajikan oleh Instansi/Lembaga bebas dari kesalahan yang bersifat

material.

6. Instansi/Lembaga menyajikan informasi yang diarahkan untuk kebutuhan umum

dan tidak berpihak pada kebutuhan khusus.

7. Informasi keuangan yang dihasilkan dapat diuji.

8. Informasi keuangan yang disajikan oleh Instansi/Lembaga dapat dibandingkan

dengan laporan keuangan periode sebelumnya.

9. Informasi keuangan yang disajikan Instansi/Lembaga dapat dipahami oleh

pengguna.

10. Laporan keuangan disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).

2. Independent Variable

Variabel independen merupakan variabel yang keberadaannya tidak dipengaruhi oleh

variabel lain, tetapi keberadaan variabel ini akan mempengaruhi variabel lainnya. Dalam

penelitian ini terdapat tiga variabel independen, yaitu Kapasitas Sumber Daya Manusia (X1)

dan Pemanfaatan Teknologi Informasi (X2). Definisi operasional dari masing-masing variabel

independen adalah sebagai berikut:


2.1 Kapasitas Sumber Daya Manusia

Kapasitas Sumber Daya Manusia (X1) adalah Kemampuan baik dalam tingkatan

individu, organisasi/kelembagaan, maupun sistem untuk melaksanakan fungsi-fungsi atau

kewenangannya untuk mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Menurut Tjiptoherijanto

(2001) untuk menilai kapasitas dan kualitas sumber daya manusia dalam melaksanakan suatu

fungsi, termasuk akuntansi dapat dilihat dari level of responsibility dapat dilihat dari atau

tertuang dalam deskripsi jabatan dan kompetensi sumber daya dapat dilihat dari latar

belakang pendidikan, pelatihan-pelatihan yang pernah diikuti dan dari keterampilan yang

dinyatakan dalam pelaksanaan tugas.

Kapasitas Sumber Daya Manusia diukur dengan instrumen yang diadopsi dari

Tjiptoherijanto (2001) dan dikembangkan oleh Indriasari dan Ertambang (2008) yang terdiri

dari 10 item pertanyaan dengan menggunakan skala likert 1-5. Variabel ini diukur dengan

menggunakan pernyataan yang berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut:

1. Subbagian keuangan atau akuntansi memiliki staf yang berkualifikasi dalam jumlah

cukup.

2. Paling tidak 10% dari staf subbagian keuangan atau akuntansi merupakan lulusan D3

akuntansi atau lebih tinggi.

3. Subbagian keuangan atau akuntansi memiliki uraian peran dan fungsi yang jelas.

4. Peran dan tanggung jawab seluruh pegawai subbagian keuangan atau akuntansi

ditetapkan secara jelas dalam peraturan daerah.

5. Uraian tugas subbagian keuangan atau akuntansi sesuai dengan fungsi akuntansi

yang sesungguhnya.

6. Terdapat pedoman mengenai prosedur dan proses akuntansi.

7. Subbagian keuangan atau akuntansi telah melaksanakan proses akuntansi.

8. Subbagian keuangan atau akuntansi memiliki sumber daya pendukung operasional

yang cukup.

9. Pelatihan-pelatihan untuk membantu penguasaan dan pengembangan keahlian

dalam tugas dilakukan.


10. Dana-dana dianggrakan untuk memperoleh sumber daya, peralatan dan pelatihan

yang dibutuhkan.

2.2 Pemanfaatan Teknologi Informasi

Pemanfaatan Teknologi Informasi (X2) merupakan tingkat integrasi teknologi informasi

pada pelaksanaan tugas-tugas akuntansi. Pemanfaatan teknologi informasi mencakup

adanya (a) pengolahan data, pengolahan informasi, sistem manajemen dan proses kerja

secara elektronik dan (b) pemanfaatan kemajuan teknologi informasi agar pelayanan publik

dapat diakses secara mudah dan murah oleh masyarakat (Hamzah, 2009).

Pemanfaatan Teknologi Informasi diukur dengan instrumen yang diadopsi dari

Thompson (1991:125-143) dan dikembangkan oleh Jurnali dan Supomo (2002) yang terdiri

dari 8 item pertanyaan dengan menggunakan skala likert 1-5. Variabel ini diukur dengan

menggunakan pernyataan yang berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut:

1. Subbagian akuntansi atau keuangan memiliki komputer yang cukup untuk

melaksanakan tugas.

2. Jaringan internet telah terpasang di unit kerja.

3. Jaringan internet telah dimanfaatkan sebagai penghubung antar unit kerja dalam

pengiriman data dan informasi yang dibutuhkan.

4. Proses akuntansi sejak awal transaksi hingga pembuatan laporan keuangan

dilakukan secara terkomputerisasi.

5. Pengolahan data transaksi keuangan menggunakan software yang sesuai dengan

peraturan perundang-undangan (PP No. 71 Tahun 2010) tentang SAP.

6. Laporan akuntansi dan manajerial dihasilkan dari sistem informasi yang terintegrasi.

7. Adanya jadwal pemeliharaan peralatan secara teratur.

8. Peralatan yang usang/rusak didata dan diperbaiki tepat pada waktunya.


3. Intervening Variable

Variabel intervening adalah variabel yang muncul antara saat variabel independen mulai

mempengaruhi variabel dependen dan saat pengaruh variabel independen terasa pada

variabel dependen. Variabel intervening dalam penelitian ini adalah sistem pengendalian

internal. Sistem pengendalian intern adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan

yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan

keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan

efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan asset Negara, dan ketaatan terhadap

peraturan perundang-undangan. Unsur-unsur sistem pengendalian internal yang berfungsi

sebagai pedoman penyelenggaraan dan tolak ukur pengujian efektivitas penyelenggaraan

sistem pengendalian internal.

Sistem Pengendalian Internal diukur dengan instrumen berdasarkan unsur-unsur sistem

pengendalian internal yang terdapat dalam PP No. 60 Tahun 2008 yaitu: lingkungan

pengendalian, penilaian resiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi serta

pemantauan yang terdiri dari 29 item pertanyaan dengan menggunakan skala likert 1-5.

Variabel ini diukur dengan menggunakan pernyataan yang berkaitan dengan hal-hal sebagai

berikut:

1. Jajaran pimpinan badan/dinas/kantor memiliki komitmen terhadap integritas.

2. Jajaran pimpinan badan/dinas/kantor memiliki komitmen terhadap etika.

3. Telah terdapat pembagian kerja yang menjelaskan tugas suatu pekerjaan/posisi

tertentu sesuai kebutuhan instansi.

4. Pertemuan koordinasi antar unit pelaksana dengan penanggungjawab selalu

dilakukan.

5. Jajaran pimpinan badan/dinas/kantor telah memahami sepenuhnya tanggung jawab

pengendalian yang mereka miliki.

6. Pengambilan keputusan dikaitkan dengan wewenang dan tanggung jawab.


7. Terdapat prosedur dan kebijakan tertulis dalam penggunaan, pelatihan, promosi dan

penggajian pegawai.

8. Pekerjaan pengawasan intern ditujukan pada perbaikan organisasi.

9. Pelaksanaan koordinasi dengan instansi terkait selama ini berjalan efektif.

10. Rencana startegis mendukung visi, misi, tujuan dan sasaran organisasi.

11. Semua aktivitas yang signifikan sudah berjalan dengan tujuan pada tingklatan

kegiatan.

12. Identifikasi risiko sudah diperhitungkan dalam rencana jangka pendek dan rencana

strategis jangka panjang.

13. Pimpinan badan/dinas/kantor telah menetapkan proses formasi untuk menganalisa

risiko termasuk proses informal berdasarkan aktivitas sehari-hari.

14. Pimpinan yang terkait menelaah kinerja suatu aktivitas atau fungsi terhadap rencana

yang telah dibuat sesuai mekanisme yang ada.

15. Kepada pegawai telah diberikan orientasi, training dan dukungan lainnya dalam

rangka menjalankan tugasnya.

16. Pembukuan semua transaksi dilakukan secara sekuensial.

17. Terdapat pengendalian fisik atas barang inventaris.

18. Data mengenai kinerja aktual senantiasa ditandingkan dengan tujuan yang akan

dicapai dan jika ada perbedaan akan dilakukan analisa.

19. Terdapat pemisahan tugas dan tanggung jawab dalam otorisasi, persetujuan

(approval), pemrosesan, pencatatan, pembayaran/penerimaan uang, audit dan fungsi

penyimpanan.

20. Prosedur otorisasi telah dikomunikasikan kepada seluruh pegawai termasuk kapan

otorisasi tersebut dapat digunakan.

21. Setiap transaksi telah diklasifikasi dan dicatat secara memadai guna mendukung

pengendalian operasi dan pengambilan keputusan.

22. Terdapat pembatasan terhadap akses atas sumber daya dan catatan.

23. Terdapat pembatasan terhadap akuntabilitas atas sumber daya dan catatan.
24. Sistem pengendalian intern, semua transaksi dan kejadian lainnya telah

didokumentasikan secara memadai.

25. Informasi diidentifikasi, diperoleh dan dilaporkan melalui suatu sistem infromasi.

26. Tugas dan tanggung jawab pengendlaian pegawai dikomunikasikan melalui jaringan

komunikasi yang efektif.

27. Pemerintah atau manajemen memiliki startegi untuk menjamin efektivitas

pelaksanaan pemantauan berkelanjutan.

28. Lingkup dan frekuensi pelaksanaan evaluasi khusus terhadap pengendalian intern

telah memadai.

29. Tindakan perbaikan dilakukan dalam jangka waktu yang telah ditentukan.