Anda di halaman 1dari 16

DERMATITIS KONTAK ALERGI

Trisna Yuliharti Tersinanda, Luh Made Mas Rusyati Bagian/SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar

ABSTRAK

Dermatitis kontak alergi merupakan reaksi imunologis yang cenderung melibatkan kulit sekitarnya dan dapat menyebar pada area sekitarnya. Penyakit kulit ini merupakan salah satu masalah dermatologi yang paling sering dan menghabiskan biaya. Data terbaru dari Inggris dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa persentase dermatitis kontak akibat kerja karena alergi lebih tinggi, dimana akan memberi peningkatan terhadap dampak ekonomi pada dermatitis kontak alergi akibat kerja. Belum ada data yang cukup mengenai dermatitis kontak alergi di Indonesia, namun dalam penelitian terhadap penata rias di Denpasar, sekitar 27,6 persen mengalami efek samping dari kosmetika, dimana 25,4 persen di antaranya bermanifestasi sebagai dermatitis kontak alergi. Diagnosis daripada dermatitis kontak alergi dibuat berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, uji tempel, dan harus dibedakan dengan penyakit eksema kulit lainnya. Penanganannya yaitu pencegahan terhadap paparan alergen, terapi simtomatis, dan physicochemical barrier.

Kata kunci: alergi, pekerjaan, dermatitis kontak

ALLERGIC CONTACT DERMATITIS

ABSTRACT

Allergic contact dermatitis is an immunologic reaction that tends to involve the surrounding skin and may even spread beyond affected sites. This skin disease is one of the more frequent, and costly dermatologic problems. Recent data from United Kingdom and United States suggest that the percentage of occupational contact dermatitis due to allergy may be much higher, thus raising the economic impact of occupational allergic contact dermatitis. There is not enough data about the epidemiology of allergic contact dermatitis in Indonesia, however based on research that include beautician in Denpasar, about 27,6 percent had side effect of cosmetics, which is 25,4 percent of it manifested as allergic contact dermatitis. Diagnosis of allergic contact dermatitis is based on anamnesis, physical examination, patch test, and this disease should be distinguished from other eczematous skin disease. The management is prevention of allergen exposure, symptomatic treatment, and physicochemical barrier.

Keywords: allergic, occupation, contact dermatitis

PENDAHULUAN

Dermatitis kontak merupakan istilah umum pada reaksi inflamasi akut atau kronis dari

suatu zat yang bersentuhan dengan kulit. Ada dua jenis dermatitis kontak. Pertama,

dermatitis kontak iritan (DKI) disebabkan oleh iritasi kimia, dermatitis kontak alergi

(DKA) disebabkan oleh antigen (alergen) dimana memunculkan reaksi hipersensitivitas

tipe IV (cell-mediated atau tipe lambat). Karena DKI bersifat toksik, maka reaksi

inflamasi

hanya

terbatas

pada

daerah

paparan,

batasnya

tegas

dan

tidak

pernah

menyebar. Sedangkan DKA adalah reaksi imun yang cenderung melibatkan kulit di

sekitarnya (spreading phenomenon) dan bahkan dapat menyebar di luar area yang

terkena. Pada DKA dapat terjadi penyebaran yang menyeluruh. 1

Dalam praktek klinis, kedua respon ini (antara iritan dan alergi) mungkin sulit

untuk membedakan. Banyak bahan kimia dapat bertindak baik sebagai iritan maupun

alergen.

DKA

adalah

salah

satu

masalah

dermatologi

yang

cukup

sering,

menjengkelkan, dan menghabiskan biaya. Perlu dicatat bahwa 80% dari dermatitis

kontak akibat kerja (Occupational Contact Dermatitis) adalah iritan dan 20% alergi.

Namun, data terakhir dari Inggris dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa persentase

dermatitis kontak akibat kerja karena alergi mungkin jauh lebih tinggi, berkisar antara

50 dan 60 persen, sehingga meningkatkan dampak ekonomi dari kerja DKA. 2,3

DEFINISI

Dermatitis kontak alergi tidak berhubungan dengan atopi. DKA merupakan reaksi

hipersensitivitas tipe lambat, atau reaksi imunologi tipe IV, dimediasi terutama oleh

limfosit yang sebelumnya tersensitisasi, yang menyebabkan peradangan dan edema

pada kulit. 4, 5

EPIDEMIOLOGI

Insiden dan Prevalensi Penyakit

Epidemiologi DKA sering terjadi. Penyakit ini terhitung sebesar 7% dari penyakit yang

terkait

dengan

pekerjaan

di

Amerika

Serikat. 1

dilakukan,

insiden

dan

tingkat

prevalensi

DKA

Berdasarkan

dipengaruhi

beberapa

studi

yang

oleh

alergen-alergen

tertentu. Dalam data terakhir, lebih banyak perempuan (18,8%) ditemukan memiliki

DKA

dibandingkan

laki-laki

(11,5%).

Namun,

harus

dipahami

bahwa

angka

ini

mengacu pada prevalensi DKA dalam populasi (yaitu, jumlah individu yang potensial

menderita DKA bila terkena alergen), dan ini bukan merupakan angka insiden (yaitu,

jumlah individu yang menderita DKA setelah jangka waktu tertentu). 3 Tidak ada data

yang

cukup

tentang

epidemiologi

dermatitis

kontak

alergi

di

Indonesia,

namun

berdasarkan penelitian pada penata rias di Denpasar, sekitar 27,6 persen memiliki efek

samping kosmetik, dimana 25, 4 persen dari angka itu menderita DKA. 4

Usia

Dalam studi tentang reaktivitas Rhus, individu yang lebih muda (18 sampai 25 tahun)

memiliki onset lebih cepat dan resolusi cepat untuk terjadi dermatitis dibandingkan

orang tua. Kompetensi reaksi imun yang dimediasi sel T pada anak-anak masih

kontroversi. Studi ini masih menganggap bahwa anak-anak jarang mengalami DKA

karena sistem kekebalan tubuh yang belum matang, namun Strauss menyarankan bahwa

hiporesponsifitas yang jelas pada anak-anak mungkin karena terbatasnya paparan dan

bukan karena kurangnya imunitas. Dengan demikian, reaksi alergi terlihat terutama

pada pasien anak yang lebih tua dan yang terjadi sekunder oleh karena obat topikal,

tanaman, nikel, atau wewangian. 3

Pola Paparan

Paparan alergen dan kemungkinan terjadinya sensitisasi bervariasi tidak hanya pada

usia, tetapi juga dengan faktor sosial, lingkungan, kegemaran, dan pekerjaan. Meskipun

sebagian besar variasi yang berkaitan dengan jenis kelamin dan geografis pada DKA

telah dikaitkan dengan faktor-faktor sosial dan lingkungan, kegemaran dan pekerjaan

memiliki efek yang lebih menonjol. 3

Penyakit Penyerta

Penyakit penyerta yang sering adalah gangguan yang terkait dengan defisiensi imun,

seperti AIDS atau imunodefisiensi berat, penyakit yang beragam seperti limfoma,

sarkoidosis, kusta lepromatosa, dan dermatitis atopik telah dikaitkan dengan kurangnya

reaktivitas atau anergy. 3

Pekerjaan yang Umumnya Terkait dengan DKA

Ada banyak pekerjaan yang berhubungan dengan DKA dan hal itu berkaitan dengan

alergen yang sering terpapar pada pekerjaan tertentu. Ada pekerja industri tekstil, dokter

gigi,

pekerja

konstruksi,

elektronik

dan

industri

lukisan,

rambut,

industri

sektor

makanan dan logam, dan industri produk pembersih. 2,6,7,8,9

ETIOLOGI

Sekitar 25 bahan kimia yang tampaknya memberi pengaruh terhadap sebanyak setengah

dari semua kasus DKA. Ini termasuk nikel, pengawet, pewarna, dan parfum. 10 Bahan-

bahan yang sering menyebabkan DKA dan sumbernya akan dijelaskan pada Tabel 1.

PATOFISIOLOGI

Fase sensitisasi

Alergen atau hapten diaplikasikan pada kulit dan diambil oleh sel Langerhans. Antigen

akan terdegradasi atau diproses dan terikat pada Human Leucocyte Antigen-DR (HLA-

DR),

dan

kompleks

yang

diekspresikan

pada

permukaan

sel

Langerhans.

Sel

Langerhans akan bergerak melalui jalur limfatik ke kelenjar regional, dimana akan

terdapat kompleks yang spesifik terhadap sel T dengan CD4-positif. Kompleks antigen-

HLA-DR ini berinteraksi dengan reseptor T-sel tertentu (TCR) dan kompleks CD3. Sel

Langerhans juga akan mengeluarkan Interleukin-1 (IL-1). Interaksi antigen dan IL-1

mengaktifkan sel T. Sel T mensekresi IL-2 dan mengekspresikan reseptor IL-2 pada

permukaannya. Hal ini menyebabkan stimulasi autokrin dan proliferasi sel T spesifik

yang beredar di seluruh tubuh dan kembali ke kulit. 2

Tahap elisitasi

Setelah seorang individu tersensitisasi oleh antigen, sel T primer atau memori dengan

antigen-TCR spesifik meningkat dalam jumlah dan beredar melalui pembuluh darah

kemudian masuk ke kulit. Ketika antigen kontak pada kulit, antigen akan diproses dan

dipresentasikan dengan HLA-DR pada permukaan sel Langerhans. Kompleks akan

dipresentasikan kepada sel T4 spesifik dalam kulit (atau kelenjar, atau keduanya), dan

elisitasi dimulai. Kompleks HLA-DR-antigen berinteraksi dengan kompleks CD3-TCR

spesifik untuk mengaktifkan baik sel Langerhans maupun sel T. Ini akan menginduksi

sekresi IL-1 oleh sel Langerhans dan menghasilkan IL-2 dan produksi IL-2R oleh sel T.

Hal ini menyebabkan proliferasi sel T. Sel T yang teraktivasi akan mensekresi IL-3, IL-

4, interferon-gamma, dan granulocyte macrophage colony-stimulating factor (GMCSF).

Kemudian sitokin akan mengaktifkan sel Langerhans dan keratinosit. Keratinosit yang

teraktivasi akan mensekresi IL-1, kemudian IL-1 mengaktifkan phospolipase. Hal ini

melepaskan asam arakidonik untuk produksi prostaglandin (PG) dan leukotrin (LT). PG

dan LT menginduksi aktivasi sel mast dan pelebaran pembuluh darah secara langsung

dan

pelepasan

histamin

yang

melalui

sel

mast.

Karena

produk

vasoaktif

dan

chemoattractant, sel-sel dan protein dilepaskan dari pembuluh darah. Keratinosit yang

teraktivasi juga mengungkapkan intercellular adhesion molecule-1 (ICAM-1) dan

HLA-DR, yang memungkinkan interaksi seluler langsung dengan sel-sel darah. 2

HISTOPATOLOGI

Gambaran histologis pada DKA mengungkapkan bahwa dermis diinfiltrasi oleh sel

inflamasi

mononuklear,

terutama

pada

pembuluh

darah

dan

kelenjar

keringat.

Epidermisnya

hiperplastik

dengan

invasi

sel

mononuklear.

Sering

vesikel

intraepidermal terbentuk, yang bisa bergabung menjadi lepuh yang besar. Vesikula

dipenuhi dengan granulosit yang mengandung serosa dan sel mononuklear. Dalam

sensitivitas kontak Jones-Mote, selain akumulasi fagosit mononuklear dan limfosit,

basofil ditemukan. Ini merupakan perbedaan penting dari reaksi hipersensitivitas tipe

T H 1, di mana basofil benar-benar tidak ada. 12

DIAGNOSA

Riwayat Penyakit

Perempuan lebih sering mengalami DKA daripada laki-laki, dan ada peningkatan

insiden dengan bertambahnya usia. Riwayat awal pasien terkena penyakit ini yang pada

akhirnya akan dievaluasi sebagai DKA merupakan standar anamnesa dermatologi.

Riwayat dimulai dengan diskusi tentang penyakit ini dan fokus pada tempat timbulnya

masalah dan agen topikal yang digunakan untuk mengobati masalah. Riwayat penyakit

kulit, atopi, dan kesehatan umum juga secara rutin diselidiki. Gambaran klinis DKA

tergantung pada jenis alergen yang menyebabkan. Biasanya, dermatitis terjadi pada

lokasi aplikasi alergen tetapi penyebaran dermatitis juga mungkin terjadi. Dalam

anamnesis riwayat pasien, penting untuk mempertimbangkan pekerjaan, rumah tangga,

dan kemungkinan paparan terhadap alergen saat bepergian, dan juga tentu saja waktu,

lokalisasi, alergen sebelumnya diidentifikasi, diatesis topik, perawatan kulit, kosmetik,

dan obat topikal maupun sistemik. 2,5

Pemeriksaan Fisik

Penampilan klinis DKA dapat bervariasi tergantung pada lokasi dan durasi. Pada

kebanyakan kasus, erupsi akut ditandai dengan makula dan papula eritema, vesikel, atau

bula, tergantung pada intensitas dari respon alergi (Gambar 1). Namun, dalam DKA

akut di daerah tertentu dari tubuh, seperti kelopak mata, penis, dan skrotum, eritema dan

edema biasanya mendominasi dibandingkan vesikel. Batas-batas dermatitis umumnya

tidak tegas. DKA pada wajah dapat mengakibatkan pembengkakan periorbital yang

menyerupai angioedema. Pada fase subakut, vesikel kurang menonjol, dan pengerasan

kulit, skala, dan lichenifikasi dini bisa saja terjadi. Pada DKA kronis hampir semua kulit

muncul scaling, lichenifikasi, dermatitis yang pecah-pecah (membentuk fisura), dengan

atau tanpa papulovesikelisasi yang menyertainya (Gambar 2). DKA tidak selalu

tampak eksema, ada varian noneksema yang mencakup lichenoid kontak, eritema

multiformis (EM), hipersensitivitas kontak kulit seperti selulitis, leukoderma kontak,

purpura kontak, dan erythema dyschromicum perstans. Dari jumlah tersebut, varian

lichenoid dan EM terlihat paling sering.

Daerah

kulit

yang

berbeda

juga

berbeda

dalam

kemudahan

tersensitisasi

(Gambar 3). Tekanan, gesekan, dan keringat merupakan faktor yang tampaknya

meningkatkan sensitisasi. Kelopak mata, leher, dan alat kelamin adalah salah satu

daerah yang paling mudah peka, sedangkan telapak tangan, telapak kaki, dan kulit

kepala lebih resisten. 3,12

Pemeriksaan Penunjang

Uji Tempel atau Patch Test (In Vivo)

Uji tempel digunakan untuk mendeteksi hipersensitivitas terhadap zat yang bersentuhan

dengan kulit sehingga alergen dapat ditentukan dan tindakan korektif dapat diambil. Uji

tempel merupakan pemeriksaan untuk konfirmasi dan diagnostik tetapi hanya dalam

kerangka anamnesis dan pemeriksaan fisik, uji tempel ini jarang membantu jika tanpa

anamnesis dan pemeriksaan fisik. Uji tempel dapat diadministrasikan dengan thin-layer

rapid-use epicutaneous (TRUE) atau dengan ruang aluminium yang disiapkan tersendiri

(Finn) dimana dipasang pada tape Scanpor. Zat uji biasanya diaplikasikan pada

punggung atas, meskipun jika hanya satu atau dua yang diterapkan, lengan luar atas

juga dapat digunakan (Gambar 4). 13 Tempelan dihapus setelah 48 jam (atau lebih cepat

jika gatal parah atau terbakar pada kulit) kemudian dibaca. Kulit yang ditempel ini perlu

dievaluasi lagi pada hari ke-4 atau 5, karena reaksi positif mungkin tidak muncul

sebelumnya. Tabel 2 menunjukkan interpretasi reaksi uji tempel. 3, 5,10,14,15

Provocative Use Test

Pemeriksaan ini akan mengkonfirmasi reaksi uji tempel yang mendekati positif terhadap

bahan-bahan dari zat, seperti kosmetik. Pemeriksaan ini juga digunakan untuk menguji

produk-produk untuk kulit. Bahan digosok ke kulit normal pada bagian dalam lengan

atas beberapa kali sehari selama lima hari. 10

Uji Photopatch

Uji photopatch digunakan untuk mengevaluasi fotoalergi kontak terhadap zat seperti

sulfonamid, fenotiazin, p-aminobenzoic acid, oxybenzone, 6-metil kumarin, musk

ambrette, atau tetrachlorsalicylanilide. Sebuah uji tempel standar diterapkan selama 24

jam, hal ini kemudian terekspos 5 sampai 15 J/m2 dari ultraviolet-A dan dibaca setelah

48 jam. 10

Tes in Vitro

Tes in vitro dan tes pada hewan untuk diagnosis DKA telah menerima banyak perhatian

dalam dekade terakhir. Laboratorium studi seperti transformasi limfosit atau inhibisi

makrofag telah dievaluasi sebagai pengukuran DKA pada manusia dan hewan. Masalah

utama dalam mengembangkan sistem in vitro adalah kurangnya pengetahuan tentang

apa yang merupakan bagian antigenik dari suatu bahan kimia tertentu. Meskipun pada

uji tempel in vivo, di mana kulit dapat memproses alergen untuk presentasi, saat ini

tetap menjadi "standar baku" masih ada prospek menarik dalam pengujian in vitro di

masa depan. 3

DIAGNOSA BANDING

Kondisi kulit yang paling sering membingungkan adalah dermatitis seboroik, dermatitis

atopik,

psoriasis,

dan

dermatitis

iritan

primer.

Pada

dermatitis

seboroik,

ada

kecenderungan umum ke arah kulitnya yang sifatnya berminyak, predileksi lesi ini

adalah kulit kepala, zona T pada wajah, dada tengah, dan lipatan inguinal. Dermatitis

atopik sering onsetnya pada masa bayi atau anak usia dini. Kulit tampak kering dan

meskipun pruritus merupakan fitur yang menonjol, pruritus akan muncul sebelum lesi,

bukan setelah lesi. Daerah yang paling sering terlibat adalah permukaan fleksura. Batas

dermatitis tidak tegas, dan perkembangan dari eritema ke papula dan ke vesikel tidak

terlihat. Dermatitis psoriatik ditandai oleh plak eritematosa berbatas tegas dengan sisik

warna putih keperakan. Lesi sering didistribusikan secara simetris di atas permukaan

ekstensor seperti lutut atau siku. Dermatitis iritan primer mungkin hampir tidak bisa

dibedakan dalam penampilan fisiknya dari DKA. Namun perbedaan antara iritan dan

dermatitis kontak alergi akan dijelaskan pada Tabel 3. Perlu ditekankan bahwa mungkin

ada kondisi-kondisi kulit lainnya yang menyertai. Hal ini tidak biasa untuk melihat

DKA disebabkan oleh obat topikal yang digunakan sebagai pengobatan dermatitis

atopik maupun dermatitis lainnya. 12 DKA harus dibedakan dari urtikaria kontak di mana

ruam muncul dalam beberapa menit setelah pemaparan dan memudar dalam beberapa

menit sampai beberapa jam. Reaksi alergi terhadap lateks adalah contoh terbaik dari

urtikaria kontak alergi. 14 Tabel 4 menunjukkan perbandingan antara dermatitis kontak

alergi dan penyakit eksema kulit lainnya.

PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan awal dari semua jenis DKA diduga terdiri dari reduksi atau, jika

memungkinkan, eliminasi semua alergen yang dicurigai dan penggunaan steroid topikal

atau - terutama di wajah - inhibitor kalsineurin topikal untuk mengembalikan kulit

menjadi normal. 5

Pencegahan

Menghindari Alergen

Setelah kemungkinan penyebab masalah dermatologi pasien telah ditentukan oleh uji

tempel, sangat penting untuk menyampaikan informasi ini kepada pasien dengan cara

yang

mudah

dimengerti.

mengandung alergen. 5

Ini

melibatkan

penjelasan

cermat

terhadap

bahan

yang

Namun, untuk beberapa bahan kimia (seperti nikel dan kromium logam), penghindaran

langsung setelah sekali sensitisasi tidak selalu menghasilkan perbaikan gejala. Secara

keseluruhan,

prognosis

untuk

alergi

akibat

kerja

ini

buruk.

Dengan

demikian,

menghindari alergen yang sudah pernah terpapar sekali adalah pencegahan yang tidak

memadai. Selain itu, menasihati pekerja dengan DKA untuk meninggalkan posisi

mereka saat ini mungkin bukan saran terbaik, terutama jika perubahan pekerjaan akan

menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan buruk. 3

Induksi Ambang Batas

Pencegahan DKA yang benar terletak pada penentuan ambang batas untuk induksi

penyakit.

Berdasarkan

informasi

ini,

produk

dapat

dipasarkan

dan

tempat

kerja

dirancang agar mengandung alergen pada tingkat bawah ambang batas. 3

Pengobatan

Terapi Gejala

Bahan pengering seperti aluminium sulfat topikal, kalsium asetat bermanfaat untuk

vesikel akut dan erupsi yang basah, sedangkan erupsi likenifikasi paling baik ditangani

dengan emolien. Pruritus dapat dikontrol dengan antipruritus topikal atau antihistamin

oral, antihistamin topikal atau anestesi sebaiknya dihindari karena risiko merangsang

alergi sekunder pada kulit yang sudah mengalami dermatitis. Pengobatan dengan agen

fisikokimia

yang

mengurangi

respon

juga

mungkin

diperlukan.

Glukokortikoid,

macrolaktam, dan radiasi ultraviolet yang paling banyak digunakan. Individu dengan

DKA akibat kerja yang secara ekonomi tidak mampu untuk berhenti bekerja dengan

alergen dan yang juga tidak dapat bekerja dengan sarung tangan atau krim pelindung,

dapat mengambil manfaat dari terapi UVB atau PUVA. 3

Pelindung Fisikokimia

Pencegahan DKA yaitu menghindari alergen, namun karena berbagai alasan, terutama

ekonomi, hal ini tidak selalu dapat dilakukan. Banyak bahan kimia, terutama molekul

organik, cepat dapat menembus sarung tangan berbahan vinyl atau karet lateks yang

alami maupun sintetik, dan pekerja mungkin tidak dapat menghindari kontak setiap hari

dengan alergen. Orang-orang ini mungkin dapat menggunakan sarung tangan plastik

yang terbuat dari laminasi proprietary. Di masa depan, krim pelindung mungkin

tersedia untuk membantu pasien tersebut. Namun, krim ini tersedia untuk alergen

tertentu saja (terutama poison ivy dan poison oak), dan hanya efektif jika area yang

dilindungi dicuci dalam beberapa jam setelah kontak dengan alergen, dan pantas bagi

banyak pasien oleh karena konsistensinya yang berminyak. 3

PROGNOSIS

Individu dengan dermatitis kontak alergi dapat memiliki dermatitis persisten atau

kambuh, terutama jika bahan yang mereka alergi tidak dapat diidentifikasi atau jika

mereka terus menggunakan perawatan kulit yang tidak lagi sesuai (yaitu, mereka terus

menggunakan bahan kimia untuk mencuci kulit merekadan tidak menggunakan emolien

untuk melindungi kulit mereka). Semakin lama seorang individu mengalami dermatitis

yang

parah,

semakin

lama

dermatitis

dapat

disembuhkan

setelah

penyebabnya

terindentifikasi. Beberapa individu memiliki dermatitis persisten diikuti dermatitis

kontak alergi, yang tampaknya benar terutama pada individu yang alergi terhadap krom.

Masalah yang khusus adalah neurodermatitis (lichen simpleks chronicus), di mana

individu berulang kali menggosok atau menggaruk daerah awalnya terpengaruh oleh

dermatitis kontak alergi. Tes TRUE dapat memberikan informasi dasar yang akurat

tentang alergen yang sering menyebabkan DKA. 16

RINGKASAN

Dermatitis kontak alergi (DKA) merupakan salah satu penyakit kulit akibat kerja yang

cukup sering. Hal ini tidak terkait dengan atopi dan merupakan reaksi imunologi tipe IV

yang dimediasi terutama oleh limfosit yang sudah tersensitisasi sebelumnya. Tanda dan

gejala klinis yang sering yaitu pruritus, menyengat, nyeri, eritema berbatas tegas,

edema,

vesikel,

pigmentasi.

papula,

bula,

erosi,

kerak,

scaling,

lichenifikasi,

ekskoriasi,

dan

Alat-alat diagnostik yang digunakan untuk mengkonfirmasi diagnosis adalah uji

tempel sebagai baku emas. Kita harus memahami interpretasi masing-masing. Mereka

adalah reaksi ragu, reaksi positif lemah (non-vesikular), reaksi positif yang kuat

(vesikuler), reaksi positif yang ekstrim (bulosa), reaksi negatif, dan reaksi iritasi.

Untuk mengkonfirmasi diagnosis, kita harus menggabungkan dengan anamnesis.

Dalam aspek ini, kita harus mempertimbangkan tentang etiologi. Etiologi yang beragam

dan berkisar dari logam sampai antibiotik, pewarna sampai produk tanaman. Dengan

demikian, alergen yang ditemukan dalam perhiasan, produk perawatan pribadi, obat

topikal, tanaman, dan bahan kimia yang memungkinkan kontak terhadap individu

dengan pekerjaan tertentu. Setelah kita mengetahui etiologi, kita dapat mencegah

penyakit dengan menghindari alergen. Namun, tidak hanya menghindari alergen yang

bisa kita gunakan sebagai pencegahan, karena alasan pekerjaan (juga dampak ekonomi),

kita

juga

dapat

menyarankan

pakaian

pelindung

atau

krim

pelindung.

Untuk

mengurangi

keparahan

DKA,

kita

dapat

memberikan

terapi

simtomatis,

seperti

aluminium sulfat topikal, antihistamin oral, glukokortikoid, macrolaktam, dan radiasi

ultraviolet.

DAFTAR PUSTAKA

1. Wolff

K,

Johnson

RA.

Fitzpatrick s

Color

Atlas

and

Synopsis

of

Clinical

Dermatology. 6 th ed. New York: The McGraw-Hill Companies; 2009. h. 20-33.

2. Marks JG, Elsner P, Deleo VA. Contact & Occupational Dermatology. 3 rd ed.USA:

Mosby Inc; 2002. h. 3-33.

3. Belsito DV. Allergic Contact Dermatitis. Dalam: Freedberg IM, Eisen AZ, Wolff K,

Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI (eds). Fitzpatrick s Dermatology in General

Medicine. 6 th ed. New York: The McGraw-Hill; 2003. h. 1164-1179.

4. Fransisca SK, Kurniawan DS, Suryawati N, Sumedha P, Wardhana M. Efek

Samping Kosmetika Pada Pekerja Salon Di Denpasar. Denpasar: 2012 [Diakses

November

2012]

Diunduh

dari:

http://madewardhana.com/artikel/efek-samping-

kosmetika-pada-pekerja-salon-kecantikan-di-denpasar.html

5. Holgate S, Church MK, Lichtenstein LM. Allergy. 3 rd ed. Philadelphia: Mosby

Elsevier; 2006. h.118-127.

6. Hamman CP, Rodgers PA, Sullivan K. Allergic Contact Dermatitis in Dental

Professionals: Effective Diagnosis and Treatment. J Am Dent Assoc. 2003; 134:

185-194.

7. Maiphetlho L. Allergies in the Workplace: Contact Dermatitis in the Textile

Industry. Current Allergy and Clinical Immunology. 2007; 20: 28-35.

8. Chang T, Lee LJ, Wang J, Shie R, Chan C. Occupational Risk Assessment on

Allergic Contact Dermatitis in a Resin Model Making Process. J Occup Health.

2004; 46: 148-152.

9. Sanja, Maaike J, Maarten M. Individual Susceptibility to Occupational Contact

Dermatitis. Industrial Health. 2009; 47: 469-478.

10.

James WD, Berger TG, Elston DM. Andrew s Diseases of the Skin Clinical

Dermatology. 10 th ed. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2006. h.91-112.

11. Racheva S. Etiology of Common Contact Dermatitis. Journal of IMAB. 2006; 3: 14-

17.

Scheman

12. AJ.

Contact

Dermatitis.

In:

Grammer

LC,

Greenberger

PA

(eds).

Patterson s Allergic Disease. 6 th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins;

2002. h. 387-401.

13. Morris A. ABC of Allergology: Contact Dermatitis. Current Allergy and Clinical

Immunology. 2004; 17: 190-191.

14. DermNet NZ. Allergic Contact Dermatitis. New Zealand: 2009 [Diakses 2010

January]. Diunduh dari: http://www.dermnetnz.org/dermatitis-contactallergy.html

15. Schnuch A, Aberer W, Agathos M, Becker D, Brasch J, Elsner P, Frosch PJ, Fuchs

T, Geier J, Hillen U, Loffler H, Mahler V, Richter G, Szliska C. Patch Testing with

Contact Allergens. JDDG; 2008: 9: 770-775.

16. Hogan DJ. Contact Dermatitis, Allergic: Follow-up. Florida: 2009 [Diakses 2010

January]. Diunduh dari: http://emedicine.medscape.com/article/1049216-followup