Anda di halaman 1dari 12

10.

Homomorfisma dan Grup Faktor

Program Studi : Matematika


Nama mata kuliah/kode : Struktur Aljabar /310H1103
Jumlah SKS : 3
Pengajar : 1. Prof. DR. Amir Kamal Amir, M. Sc
2. Dra. Nur Erawaty, M. Si
Sasaran Belajar : Mahasiswa mampu menggunakan konsep struktur
aljabar dalam meyelesaikan permasalahan Aljabar dan
terapannya.
Mata Kuliah Prasyarat : Aljabar Linear 2
Deskripsi matakuliah : Grup termasuk subgrup, grup siklik, grup permutasi,
grup terentang hingga, grup faktor, grup sederhana
dan gelanggang. Beberapa struktur aljabar yang terkait
konsep isomorf, siklik, subgrup normal dan
homomorfisma.

A. Pendahuluan
1. Sasaran Pembelajaran
Mahasiswa mampu menyatakan ‘kesamaan’ struktur dua grup yang berbeda,
mampu menjelaskan beberapa sifat homomorfisma  dari grup G ke G‘
dengan kernel H dan daerah jangkauan (G), kenormalan H dan sifat G/H 
(G).
2. Kemampuan Mahasiswa yang Menjadi Prasyarat
Konsep grup, subgrup dan siklik masih tetap dibutuhkan, pengertian
isomorfisma yang telah diperoleh di awal kuliah akan diperdalam.
3. Keterkaitan Bahan Pembelajaran dengan Pokok Bahasan Lainnya
Meramu beberapa konsep yang telah diperoleh pada materi sebelumnya,
subgrup, siklik, untuk selanjutnya akan dipakai ketika masuk pada
pembahasan Teorema Dasar Homomorfisma.
4. Manfaat atau Pentingnya Bahan Pembelajaran ini
Beberapa sifat atau teorema yang berkaitan dengan grup kaktor dan
homomorfisma ini sangat diperlukan ketika membicarakan subgrup normal
mau pun Teorema Dasar Homomorfisma. Lebih lanjut, manfaat utama dari
homomorfisma f : G  H yaitu dengan melihat sifat-sifat dari petanya
(image) dapat disimpulkan sifat-sifat dari grup G.

122
5. Petunjuk Belajar Mahasiswa
Mahasiswa dianjurkan untuk membaca materi pembelajaran sebelum
masuk kuliah, termasuk mengerjakan beberapa soal latihannya. Sehingga
mahasiswa lebih mempermantap pemahamannya mengenai konsep Grup
Faktor dan Homomorfisma ketika berada pada kelas.

B. Penyajian
Dalam mempelajari sistem, perlu juga mempelajari tentang suatu fungsi
yang mengawetkan operasi aljabar. Sebagai contoh, dalam aljabar linier dipelajari
tentang alih ragam linier ( linier transformation ). Fungsi ini T : V  W
mengawetkan penjumlahan dan pergandaan skalar.

123
Pengertian isomorfisma yang dibahas dalam Bab 4 merupakan bentuk khusus dari
pengertian homomorfisma berikut.
Definisi 10.1
Misalkan G dan G’ adalah dua grup. Suatu pemetaan φ: G  G’ disebut
homomorfisma grup jika dan hanya jika untuk setiap a, b  G berlaku
φ(ab) = φ(a)φ(b). (10.1)

Pelajari dan bandingkan ekspresi (10.1) dalam definisi di atas dengan


ekspresi (4.1). Dalam konteks teori grup, istilah ’homomorfisma grup’ cukup ditulis
singkat ’homomorfisma’ tanpa menimbulkan salah penafsiran.

Pada umumnya, cara pembuktian bahwa φ: G  G’ adalah homomorfisma


tidak dilakukan dengan cara mengecek satu per satu berlakunya (10.1) pada setiap
unsur a, b  G. Tetapi harus berhati-hati dengan notasi. Misalnya dalam notasi
tambah, ekspresi (10.1) berubah menjadi
φ(a + b) = φ(a) + φ(b).
Contoh 10.1:
Untuk membuktikan bahwa φ: Z  Z dengan φ(z) = 4z adalah suatu
homomorfisma, ambil a, b  Z kemudian diturunkan kesamaan-kesamaan
berikut:
φ(a + b) = 4(a + b) (definisi φ dalam contoh ini)
= 4a + 4b (hukum distributif dalam Z)
= φ(a) + φ(b). (definisi φ dalam contoh ini)

Jelas, setiap isomorfisma adalah homomorfisma. Berikut contoh suatu


isomorfisma φ:G  G’ dengan G dan G’ ditulis dalam dua notasi operasi yang
berbeda.

Contoh 10.2: (Bagi yang sudah mengetahui Kalkulus)

Mudah dibuktikan bahwa himpunan semua bilangan real  terhadap operasi


tambah aritmatik merupakan grup. Demikian pula, himpunan semua bilangan
real positif + terhadap operasi kali merupakan grup. Berdasarkan pelajaran
Kalkulus telah diketahui jika c adalah suatu bilangan real positif c ≠ 1, maka
untuk setiap pasang bilangan x, y  + berlaku
logc xy = logc x + logc y.
Dengan kata lain, fungsi φ:+   dengan φ(x) = logc x memenuhi ekspresi
124
(10.1)
φ(xy) = φ(x) + φ(y).
(dengan mencampurkan notasi tambah dan kali). Jadi φ adalah homomorfisma.
Dalam Kalkulus juga dibuktikan bahwa φ(x) = logc x adalah naik murni (strictly
increasing) sehingga φ adalah suatu bijeksi (Jadi φ adalah suatu isomorfisma).
Ini berarti φ memiliki invers ψ:   +. Sesungguhnya ψ(x) = cx. Di sini,
persamaan
cx+y = ex ey
berbentuk (10.1), yaitu
ψ(x + y) = ψ(x) ψ(y).

Untuk setiap pemetaan f: A  B, a  A dan sub himpunan C  A dan D 


B, disepakati untuk membedakan penulisan unsur f(c)  B dengan penulisan sub
himpunan

f[C] = {f(c)  B | c  C}  B
dan

f 1[D] = {a  A | f(a)  D}  A. ( 10.2)

Apabila D adalah singleton (himpunan dengan unsur tunggal), katakan D = {b} 


B, disepakati untuk menulis f 1[D] sebagai f 1[b] (bukan f 1[{b}]).
Contoh 10.3:
Pemetaan φ: Z9  Z3 dengan φ(a) = c jhj a  c (mod 3) adalah homomorfisma
yang bukan isomorfisma (sebab φ bukan bijeksi). Di sini
φ[{0, 3, 6}] = {0}, φ[{1, 4, 7}] = {1}, φ[{2, 5, 8}] = {2}  Z3.
Tampak
f 1[{0, 2}]) = {0, 2, 3, 5, 6, 8}
dan
f1[2] = {2, 5, 8}.

Contoh 10.4:
Telah diketahui Z9 = {1, 2, 4, 5, 7, 8}. Pemetaan φ: Z9  Z9 dengan φ(a) =
a2 (yang dikalikan melalui operator kali kongruen modulo 9) adalah
homomorfisma. Hal ini bisa dibuktikan sebagai berikut. Ambil sembarang a, b
125
 Z9.
φ(ab) = (ab)2 (definisi φ dalam contoh ini)
= abab (makna pemangkatan)
= aabb (karena Z9 grup abel: ba = ab)
= a 2b 2 (makna pemangkatan)
= φ(a)φ(b). (definisi φ dalam contoh ini)
Terbukti φ adalah homomorfisma. Lebih jauh, dari
φ(1) = 1, φ(2) = 4, φ(4) = 7, φ(5) = 7, φ(7) = 4, φ(5) = 2,
tampaklah φ bukan merupakan bijeksi sehingga φ bukan isomorfisma.

Teorema 10.1 (Sifat-sifat Homomorfisma)


Misalkan G dan G’ adalah dua grup yang masing-masing berunsurkan identitas
e dan e’. Jika φ: G  G’ adalah homomorfisma, maka berlaku:
i. φ(e) = e’; peta dari unsur identitas G adalah unsur identitas G’;
ii. Untuk setiap a  G berlaku φ(a1) = (φ(a)) 1;
iii. Jika H ≤ G, maka φ[H] ≤ G’.
iv. Jika K’ ≤ G’, maka φ1[K’] ≤ G.
Bukti.
Untuk setiap a  G berlaku φ(a) = φ(ea) = φ(e)φ(a).
Dengan cara yang sama, φ(a) = φ(a)φ(e).
Berdasarkan ketunggalan unsur identitas, φ(e) = e’.
Lebih jauh, pembuktian φ(a)1 = φ(a1) (baca: φ(a1) adalah balikan dari φ(a))
langsung terlihat dari
φ(a)φ(a1) = φ(aa1) = φ(e) = e’.
Untuk membuktikan sifat tertutup dari φ[H], misalkan a, b  H.
Dari sifat tertutup operasi biner dalam H, diperoleh ab  H.
Berdasarkan hasil ini dan definisi himpunan φ[H], diperoleh φ(a), φ(b)  φ[H]
sehingga φ(a)φ(b) = φ(ab)  φ[H].
Jadi φ[H]  G’ sehingga sifat i, ii dan iii dari teorema terbukti.
Selanjutnya misalkan K’  G’ dan a, b  φ1[K’].
Berdasarkan definisi φ1[K’], kedua unsur φ(a) dan φ(b) berada dalam K’  G’
sehingga φ(ab) = φ(a)φ(b)  K’.
Hasil ini menunjukkan ab  φ1[K’].
Lebih jauh, karena φ(e) = e’  K’ maka e  φ1[K’].
Akhirnya karena untuk setiap a  φ1[K’], φ(a)  K’  G’.

126
Dari sini disimpulkan φ(a1)  K’ sehingga a1  φ1[K’].

Kernel Homomorfisma
Dalam Teorema 10. di atas, K’ = {e’ } adalah sub grup (trivial) dari G’,
maka menurut sifat iv teorema tersebut, φ1[e’]  G. Sub grup φ1[e’] ini disebut
kernel dari φ dan lazim ditulis singkat sebagai
ker φ.

Contoh 10.5:
Untuk setiap pasang grup G dan G’ dengan masing-masing unsur identitas e
dan e’, pemetaan φ: G  G’ dengan aturan pengawanan φ(g) = e’ yang berlaku
untuk setiap g  G adalah suatu homomorfisma yang disebut homomorfisma
trivial. Jelas ker φ = G.

Contoh 10.6: (Projeksi)


Pandang grup hasil kali langsung G1  G2 dan pemetaan π1: G1  G2  G1  G2
dengan aturan pengawanan π1(x, y) = (x, e2), di mana e2 adalah unsur identitas
dari G2. Mudah dibuktikan bahwa π1 adalah homomorfisma grup dengan
ker π1 = {e1}  G2
di mana e1 adalah unsur identitas dari G1. Pemetaan π1 disebut projeksi dari G1
 G2 pada G1. Demikian pula, pemetaan
π2: G1  G2  G1  G2
dengan aturan pengawanan π1(x, y) = (e1, y)
adalah homomorfisma yang disebut projeksi dari G1  G2 pada G2.
Konsep projeksi bisa diperluas ke projeksi πi dari sembarang grup hasil kali
langsung
G1  G2  …  Gn

pada komponen grup Gi. Di sini, ker πi = G1  G2  ...  Gi1  {ei}  Gi+1  …
 Gn.

Isomorfisma φ dalam Contoh 10. merupakan satu contoh dari jenis


homomorfisma yang disebut otomorfisma grup (group automorphism), atau secara
singkat disebut otomorfisma, yaitu isomorfisma dari suatu grup ke dirinya sendiri.

Contoh 10.7:

127
Misalkan G adalah grup dan g  G tetap, buktikan bahwa pemetaan ig: G  G
dengan ig(x) = gx adalah otomorfisma pada grup G dengan membuktikan secara
berurutan: sifat 1-1, sifat onto (pada) dan sifat homomorfisma dari pemetaan ig
ini!
Petunjuk: Jika y  G, maka y = gx memiliki solusi untuk x.

Fungsi identitas yang terdefinisi pada sebuah grup adalah contoh lain dari
sebuah otomorfisma grup. Sesungguhnya bisa dibuktikan bahwa untuk setiap grup
G, himpunan semua otomorfisma pada G terhadap operasi komposisi fungsi
membentuk grup. Secara umum, homomorfisma dari suatu grup ke grup itu sendiri
disebut endomorfisma. Berikut satu contoh endomorfisma yang bukan
otomorfisma.

Contoh 10.8:
Misalkan didefinisikan φ: Z18  Z18 dengan φ(a) = 3c jhj a  c (mod 6).
Sebagai contoh φ(2) = φ(8) = φ(14) = 3·2 = 6 sebab 8  2 (mod 6) dan 14  2
(mod 6). Dengan cara pendefinisian seperti di atas, diperoleh secara lengkap
peta-peta
φ(0) = φ(6) = φ(12) = 0;
φ(1) = φ(7) = φ(13) = 3;
φ(2) = φ(8) = φ(14) = 6.
φ(3) = φ(9) = φ(15) = 9;
φ(4) = φ(10) = φ(16) = 12;
φ(5) = φ(11) = φ(17) = 15.
φ adalah endomorfisma yang bukan automorfisma (sebab tidak bersifat 1-1).
Sebagai ilustrasi berlakunya (10.1) dalam notasi tambah (dalam Contoh 4.3),
dilihat (dalam operasi tambah dalam kongruen modulo 18)
φ(14) = 6 = 3 + 3 = φ(7) + φ(7)
= 0 + 6 = φ(0) + φ(14) = φ(6) + φ(8) = φ(12) + φ(2)
sehingga
φ(7 + 7) = φ(14) = φ(7) + φ(7)
dan
φ(6 + 8) = φ(14) = φ(6) + φ(8).
Demikian pula, karena 15 = 1 + 14 = 0 + 15 = 6 + 9 = 12 + 3, berlaku
φ(15)= 9= 3 + 6 = φ(1) + φ(14) = φ(7) + φ(8) = φ(13) + φ(2);
= 0 + 9 = φ(0) + φ(15) = φ(6) + φ(9) = φ(12) + φ(3)
Ilustrasi sifat-sifat i, ii, iii dan iv dari Teorema 10. selanjutnya disajikan sebagai
128
berikut.
Sifat i dipenuhi sebab φ(0) = 0. Sebagai ilustrasi sifat ii dari Teorema 10.,
dilihat
φ(4) = φ(14) = 6 = 12 = φ(4).
Demikian pula,
φ(13) = φ(5) = 15 = 3 = φ(13).
Mudah dicek, walaupun secara bertele-tele, sifat iii dari Teorema 10. juga
dipenuhi. Misalnya karena H = {0, 3, 6, 9, 12, 15} ≤ Z18 (Mengapa?), maka
φ[H] = {0, 9} ≤ Z18.
Sebagai ilustrasi sifat iv dari Teorema 10., pandang
K’ = {0, 6, 12} ≤ G’ = Z18.
Jelas
φ1[K’] = {0, 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, 16} ≤ G = Z18.
Perhatikan, ada tiga koset dari H yaitu H sendiri (yang boleh ditulis 0 + H),
1 + H = {1, 4, 7, 10, 13, 16};
2 + H = {2, 5, 8, 11, 14, 17}.
Contoh 10.9:
Kernel homomorfisma φ: Z  Z dalam Contoh 10. dengan φ(z) = 4z
adalah sub grup 4Z. Kernel homomorfisma φ: Z18  Z18 dalam Contoh 10. dengan
φ(a) = 3c jhj a  c (mod 6) adalah sub grup {0, 6, 12}  Z.

Jika φ: G  G’ adalah suatu homomorfisma dan G grup terentang hingga


(tidak harus grup abel), perumusan aturan pengawanan dari homomorfisma φ bisa
diketehui secara lengkap berdasarkan aturan pengawanan unsur-unsur perentang
dari G.

Contoh 10.10:
Diketahui bahwa grup D4 direntang oleh 1 dan 1, di mana 1 = (1, 2, 3, 4)
dan 1 = (1,2)(3,4). Sebagai akibatnya, suatu homomorfisma φ: D4  S4 bisa
diketahui secara lengkap dengan hanya merumuskan φ(1) dan φ(1). Dengan r
= 1 dan s = 1, semua unsur-unsur D4 (selain 0, 1 dan 1) bisa diperoleh
dengan cara sebagai berikut.
12 = (1, 3)(2, 4) = 2,
13 = (1, 4, 3, 2) = 3,
11 = (1,2)(3,4)(1, 2, 3, 4) = (2, 4) = 2,
129
112 = (1,2)(3,4)(1, 3)(2, 4) = (1,4)(2, 3) = 2,
113 = (1,2)(3,4)(1, 4, 3, 2) = (1, 3) = 1.
Misalkan φ adalah suatu homomorfisma yang hanya diketahui nilainya pada
kedua unsur perentang 1 dan 1, katakan
φ(1) = (1, 3)(2, 4)
dan
φ(1) = (1, 4)(2, 3),
maka nilai-nilai pada unsur-unsur D4 yang lain bisa diperoleh dari hasil-hasil
diatas dan dari bentuk perluasan ekspresi (10.1) (dengan meliputi kesamaan
yang melibatkan lebih dari dua unsur, khususnya kesamaan φ(abc) = φ(a)φ(b)
φ(b));
φ(2) = φ(12) = φ(1)φ(1) = (1, 3)(2, 4)(1, 3)(2, 4) = 0;
φ(3) = φ(13) = φ(1)φ(1)φ(1) = (1, 3)(2, 4)(1, 3)(2, 4) = (1, 3)(2, 4);
φ(2) = φ(11) = φ(1)φ(1) = (1, 4)(2, 3)(1, 3)(2, 4) = (1, 2)(3, 4);
φ(2) = φ(112) = φ(1)φ(1) = (1, 4)(2, 3)(1, 3)(2, 4) (1, 3)(2, 4) = (1,
4)(2, 3);
φ(1) = φ(113) = φ(1)φ(1)φ(1)φ(1) = (1, 4)(2, 3)(1, 3)(2, 4) = (1, 2)(3,
4).
Dari uraian di atas, terlihat bahwa
ker φ = {0, 2}.

Teorema 10.2
Jika H  G maka berlaku (dalam notasi kali)
a. Untuk setiap a  G berlaku aH = H jika dan hanya jika a  H.
b. Untuk setiap a, b  G berlaku aH = bH jika dan hanya jika b  aH
c. Untuk setiap a, b  G berlaku aH = bH jika dan hanya jika b1a  H
d. Untuk setiap a, b  G berlaku b  aH jika dan hanya jika a-1b  H
e. Untuk setiap a, b  G berlaku b  aH jika dan hanya jika ba1  H

Dalam notasi tambah, penulisan aH, bH, ab1, ba1, ... dsb dalam teorema di atas
diganti dengan a + H, b + H, a  b, b  a, ... dsb.

Contoh 10.11:
Misalkan G = S4. Jelas H = {0, (1, 2)(3, 4), (1, 4)(2, 3), (1, 3)(2, 4)} adalah
130
G = S4 (Silakan cek sendiri). Perhatikan bahwa ke-6
subgrup dari
koset-koset (bersama H) berikut membentuk partisi atas S4, jadi
tak ada koset dari H selain ke-6 koset ini.
(1,2)H = {(1, 2), (3, 4), (1, 3, 2, 4), (1, 4, 2, 3)},
(1,3)H = {(1, 3), (1, 4, 3, 2), (1, 2, 3, 4), (2, 4)},
(1,4)H = {(1,4), (1, 3, 4, 2), (2, 3), (1, 2, 4, 3)},
(1,2,3)H = {(1, 2, 3), (2, 4, 3), (1, 3, 4), (1, 4, 2)},
(1,3,2)H = {(1, 3, 2), (1, 4, 3), (1, 2, 4), (2, 3, 4)}.
Misalkan h = (1, 2)(3, 4)  H, maka
hH = (1, 2)(3, 4)H
= {(1, 2)(3, 4)0, (1, 2)(3, 4)(1, 2)(3, 4), (1, 2)(3, 4)(1, 4)(2, 3), (1, 2)(3, 4)(1,
3)(2, 4)} =
= {(1, 2)(3, 4), 0, (1, 3)(2, 4), (1, 4)(2, 3)} = H.
Jadi hH = (1, 2)(3, 4)H = H.
Misalkan
a = (1,2,3)
dan
b = (2, 4, 3)  aH = (1,2,3)H = {(1, 2, 3), (2, 4, 3), (1, 3, 4), (1, 4, 2)},
maka bH =
(2, 4, 3)H = {(2, 4, 3)0, (2, 4, 3)(1, 2)(3, 4), (2, 4, 3)(1, 4)(2, 3), (2, 4, 3)(1,
3)(2, 4)}
= {(2, 4, 3), (1, 4, 2), (1, 3, 4), (1, 2, 3)} = (1,2,3)H = aH.

Teorema 10.3.
Misal G grup dan S G. Misalkan .
Koset aS dan bS sama jika dan hanya jika b –1a  S.
aS = S jika hanya jika a  S.

Bukti :
Jika diketahui aS = bS maka a = ae = bs untuk suatu s dalam S.
Dengan kedua ruas dengan b –1 maka dapat b –1a = s yang berada dalam S.
Diketahui b –1a dalam S.
Tulis b –1a = S.
Didapat a = bs atau b = as –1
Hal ini berarti, sebarang pergandaan as haruslah sama dengan ( bs )s = b(ss) dan
sebarang pergandaan bs = (as-1 )s = a(s-1 s).
131
Oleh karena itu dengan sifat ketertutupan S, sebarang as sama dengan b digandakan
dengan suatu elemen S dan sebarang bs sama dengan a digandakan dengan
sebarang anggota S.
Akibatnya aS bS dan bS aS.
Berarti aS = bS.

Karena eS = S maka dengan menggunakan sifat (1) di atas didapat bahwa eS = S jika
hanya jika a dalam S.

Definisi 10.2.
Aturan * dikatakan terdefinisikan dengan baik (well-defined) jika a = c dan b = d
maka berakibat a*b = c*d.

Contoh 10.12.
Diketahui himpunan bilangan rasional Q dan didefinisikan aturan pada Q dengan
a/b c/d = (a+c) / (b+d)
a/b, c/d dalam Q.
Karena pada satu sisi 1/2 = 3/6 dan pada sisi lain
(1/2)  ( 1/3 ) = (1+1) / (2+3) = 2/5
(3/6)  (1/3) = (3+1) / (6+3) = 4/9
maka tidak terdefinisikan dengan baik.■

C. Penutup
Latihan:
1. Tentukan, apakah fungsi φ: Z  Z berikut merupakan homomorfisma
a. φ(z) = z2 + z; b. φ(z) = z3; c.
2
φ(z) = z + z.
2. Buktikan, jika φ: G  G’ adalah isomorfisma, maka G adalah grup abel
jhj G’ adalah grup abel.
3. Jika φ: G  G’ adalah homorfisma, syarat tambahan apakah yang
diperlukan agar G’ adalah grup abel jika G grup abel. Dengan syarat
tambahan ini, bisakah dibalik kesimpulannya, G adalah grup abel jika G’
adalah grup abel?
4. Ada berapa banyak automorfisma berbeda yang bisa terdefinisi pada grup
Klein V ?
5. a. Untuk homomorfisma φ dalam Contoh 10., tentukan empat himpunan
132
berikut
φ[{1, 1}], φ[{0, 2, 1}], φ1[{0, 1}], φ1[{0, 1, 1}].

b. Dari ke-4 himpunan di atas, yang manakah yang merupakan (sub)


grup?
c. Tentukan semua koset dari setiap sub grup yang diperoleh dari
jawaban butir b.

Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Jika mahasiswa dapat menyelesaikan minimal 30% dari soal-soal di atas, maka
mahasiswa dapat melanjutkan pada pokok bahasan berikutnya.

Daftar Kata Penting


Endomorfisma
Grup faktor
Homomorfisma
Kernel homomorfisma
Otomorfisma
Proyeksi
Transformasi linier

133