Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator dalam menentukan derajat
kesehatan masyarakat. Secara global World Health Organization (WHO) mencatat angka
kematian ibu di dunia berkisar 196 per 100.000 kelahiran hidup. Menurut hasil Survey
Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), angka kematian ibu di Indonesia tahun 2017
tercatat 305 per 100.000 kelahiran hidup. Selain AKI, untuk menentukan derajat kesehatan
masyarakat dapat dilihat Angka Kematian Bayi (AKB), tercatat pada Profil Kesehatan 2018
AKB sebesar 24/1.000 kelahiran hidup. Berdasarkan data diatas, dapat diketahui bahwa AKI
dan AKB di Indonesia masih tinggi, sehingga perlu dilakukaan berbagai upaya, serta koordinasi
yang lebih baik antara pemegang program maupun tenaga kesehatan. Adapun kebijakan
Departemen Kesehatan pada dasarnya mengacu “empat pilar safe motherhood”, yaitu: Program
Keluarga Berencana, Akses terhadap pelayanan antenatal, persalinan yang aman dan cakupan
pelayan obstetrik esensial.1,2

Antenatal care adalah suatu program berupa observasi, edukasi dan penanganan medik
pada ibu hamil. Antenatal care yang lengkap minimal dilakukan empat kali selama kehamilan.
Kunjungan Antenatal care ini penting untuk diketahui oleh ibu hamul karena mempunyai
banyak manfaat antara lain menjaga agar sehat selama masa kehamilan, memantau
kemungkinan adanya resiko kehamilan, dan merencanakan penatalaksanaan yang optimal
sehingga dapat menurunkan morbiditas dan mortalita ibu dan janin.3

Beberapa faktor yang mempengaruhi kunjungan ke pelayanan kesehatan, antara lain


adalah dukungan suami dan keluarga.Dukungan dapat diberikan baik fisik maupun psikis.
Selain dukungan suami, tingkat pengetahuan tentang antenatal care juga berperan dalam
kunjungan antenatal care. Semakin tinggi tingkat pengetahuan ibu hamil maka akan semakin
sering kunjungan antenatal care yang dilakukan.Ketidaktahuan ibu dan keluarga terhadap
pentingnya pemeriksaan kehamilan berdampak pada ibu hamil tidak memeriksakan
kehamilannya pada petugas kesehatan.4

1.2 Batasan Penulisan


Makalah ini membahas tentang definisi, jadwal kunjungan, permasalahan dalam
kehamilan, faktor-faktor yang mempengaruhi Antenatal Care

1
1.3 Metode Penulisan
Penulisan makalah ini disusun berdasarkan tinjauan kepustakaan yang merujuk kepada
beberapa literature

2
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Asuhan antenatal adalah upaya preventif program pelayanan kesehatan obstetrik untuk
optimaliasis luaran marernal dan neonatal melalui serangkaian kegiatan pemantauan rutin
selama kehamilan. Antenatal care adalah pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga
kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya, dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan
antenatal yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan (SPK). ANC merupakan
program terencana berupa observasi, edukasi, dan penanganan medik pada ibu hamil, dengan
tujuan menjaga agar ibu sehat selama kehamilan yaitu dengan memantau kemungkinan adanya
resiko dalam kehamilan dan merencanakan penatalaksanaan yang optimal terhadap kehamilan
risiko tinggi. Pemantauan kehamilan yang baik dapat mewujudkan persalinan yang aman dan
memuaskan sehingga bayi yang dilahirkan sehat. Sehingga hal tersebut akan terlihat terwujud
melalui penurunan morbiditas dan mortalitas ibu dan janin perinatal.3,4
Ada 6 alasan penting untuk mendapatkan asuhan antenatal, yaitu: 5

1. Membangun rasa saling percaya antara klien dan petugas kesehatan.


2. Mengupayakan terwujudnya kondisi terbaik bagi ibu dan bayi yang dikandungnya.
3. Memperoleh informasi dasar tentang kesehatan ibu dan kehamilannya.

4. Mengidentifikasi dan menatalaksana kehamilan risiko tinggi.


5. Memberikan pendidikan kesehatan yang diperlukan dalam menjaga kualitas kehamilan


dan merawat bayi.
6. Menghindarkan gangguan kesehatan selama kehamilan yang akan membahayakan
keselamatan ibu hamil dan bayi yang dikandungnya.

2.2 Jadwal Kunjungan Asuhan Antenatal

Bila kehamilan termasuk risiko tinggi perhatian dan jadwal kunjungan harus lebih ketat.
Namun, bila kehamilan normal jadwal asuhan cukup empat kali. Dalam bahasa program
kesehatan ibu dan anak, kunjungan antenatal ini diberi kode angka K yang merupakan singkatan
dari kunjungan. Pemeriksaan antenatal yang lengkap adalah Kl, K2, K3. dan K4. Hal ini berarti,
minimal dilakukan sekali kunjungan antenatal hingga usia keharnilan 28 minggu, sekali
kunjungan antenatal selama kehamilan 28-36 minggu dan sebanyak dua kali kunjungan

3
antenatal pada usia kehamilan di atas 36 minggu. 5

2.3 Pelayanan Antenatal Care

Pelayanan antenatal sesuai standar meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik (umum dan
kebidanan), pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus, serta intervensi umum dan khusus
(sesuai risiko yang ditemukan dalam pemeriksaan). Pelayanan yang diberikan dalam kunjungan
ANC dengan standar 10 T, yaitu:3
1) Timbang berat badan dan ukur tinggi badan

Penimbangan berat badan pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk
mendeteksi adanya gangguan pertumbuhan janin. Adanya tanda gangguan
pertumbuhan janin jika penambahan berat badan yang kurang dari 9 kilogram selama
kehamilan atau kurang dari 1 kilogram setiap bulannya.
2) Tekanan darah

Pengukuran tekanan darah pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk
mendeteksi adanya hipertensi pada kehamilan (tekanan darah 140/90 mmHg) dan
preeklampsia (hipertensi disertai edema wajah dan atau tungkai bawah; dan atau
proteinuria)
3) Tentukan / nilai status gizi (ukur LiLA)

Pengukuran LiLA hanya dilakukan pada kunjungan pertama untuk skrining ibu hamil
berisiko kurang energi kronis (KEK) dimana LiLA kurang dari 23,5 cm. Kurang energi
kronis maksudnya ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi dan telah berlangsung
lama (beberapa bulan/tahun). Ibu hamil dengan KEK beresiko melahirkan bayi berat
lahir rendah (BBLR).
4) Tinggi fundus uterus

Pengukuran tinggi fundus pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk
mendeteksi apakah pertumbuhan janin sesuai atau tidak dengan umur kehamilan.
Adanya gangguan pertumbuhan janin jika tinggi fundus tidak sesuai dengan umur
kehamilan. Standar pengukuran menggunakan pita pengukur setelah kehamilan 24
minggu.

5) Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui letak janin yang dilakukan pada akhir
trimester II dan selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal. Indikasi kelainan letak,
panggul sempit atau ada masalah lain apabila pada trimester III bagian bawah janin

4
bukan kepala, atau kepala janin belum masuk ke panggul. Penilaian DJJ dilakukan
pada akhir trimester I dan selanjutnya setiap kali ANC. DJJ lambat kurang dari
120/menit atau DJJ cepat lebih dari 160/menit menunjukkan adanya gawat janin.
6) Tetanus toxoid

Ibu hamil harus mendapat imunisasi TT untuk mencegah tetanus neonatorum. Pada
saat kunjungan pertama, dilakukan skrining status imunisasi TT ibu hamil. Pemberian
imunisasi TT pada ibu hamil, disesuaikan dengan status imunisasi ibu saat ini.
7) Tablet besi

Suplementasi besi merupakan penanggulangan anemia yang paling banyak


dilakukan, di samping upaya lain seperti fortifikasi bahan makanan dengan zat besi
dan pendidikan gizi lewat strategi komunikasi, informasi, dan edukasi. Pemberian
tablet besi dilakukan dengan cara memberikan tablet tambah darah yang berisi 60 mg
ferro dan 0,25 mg asam folat kepada setiap ibu hamil minimal 90 tablet selama hamil.26
8) Tes laboratorium (Rutin dan Khusus)

Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada saat antenatal meliputi:

a. Pemeriksaan golongan darah

Bertujuan untuk mengetahui jenis golongan darah ibu dan juga untuk mempersiapkan
calon pendonor darah yang sewaktu-waktu diperlukan apabila terjadi situasi
gawatdarurat.
b. Pemeriksaan kadar hemoglobin darah (Hb)

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui ibu hamil tersebut menderita anemia
atau tidak selama kehamilannya karena anemia dapat mempengaruhi proses
pertumbuhan dan perkembangan janin. Pemeriksaan kadar hemoglobin darah ibu hamil
dilakukan minimal sekali pada trimester pertama dan sekali pada trimester ketiga.
c. Pemeriksaan protein dalam urin

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui adanya proteinuria pada ibu hamil.
Pemeriksaan protein urin pada ibu hamil dilakukan pada trimester kedua dan ketiga
atas indikasi (pada preeklamsia).
d. Pemeriksaan kadar gula darah

Ibu hamil yang dicurigai menderita Diabetes Melitus harus dilakukan pemeriksaan
gula darah selama kehamilannya minimal sekali pada trimester pertama, sekali pada
trimester kedua, dan sekali pada trimester ketiga (terutama pada akhir trimester

5
ketiga).

e. Pemeriksaan darah Malaria

Semua ibu hamil di daerah endemis Malaria dilakukan pemeriksaan darah Malaria
dalam rangka skrining pada kunjungan pertama, sedangkan pada daerah non-endemis
dilakukan pemeriksaan darah Malaria apabila ada indikasi.
f. Pemeriksaan tes Sifilis.
Pemeriksaan tes Sifilis dilakukan pada ibu hamil yang diduga Sifilis dan di daerah
dengan risiko tinggi. Pemeriksaaan Sifilis sebaiknya dilakukan sedini mungkin pada
kehamilan.
g. Pemeriksaan HIV

Pemeriksaan HIV terutama untuk daerah dengan risiko tinggi kasus HIV dan ibu
hamil yang dicurigai menderita HIV. Ibu hamil setelah menjalani konseling kemudian
diberi kesempatan untuk menetapkan sendiri keputusannya untuk menjalani tes HIV.
h. Pemeriksaan BTA.

Pemeriksaan BTA dilakukan pada ibu hamil yang dicurigai menderita Tuberkulosis
sebagai pencegahan agar infeksi Tuberkulosis tidak mempengaruhi kesehatan janin.
9) Tatalaksana kasus

Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal di atas dan hasil pemeriksaan laboratorium,


setiap kelainan yang ditemukan pada ibu hamil harus ditangani sesuai dengan standar
dan kewenangan tenaga kesehatan. Kasus- kasus yang tidak dapat ditangani dirujuk
sesuai dengan sistem rujukan.
10) Temu wicara atau Konseling (termasuk P4K, KB pascasalin, tempat pelayanan
antenatal care, tanda bahaya kehamilan, tanda-tanda persalinan, nasehat untuk ibu
selama hamil, dan lain-lain).
a. Kesehatan Ibu

Setiap ibu hamil dianjurkan untuk beristirahat yang cukup selama kehamilannya
(sekitar 9-10 jam per hari), tidak melakukan pekerjaan berat dan memeriksakan
kehamilannya secara rutin ke tenaga kesehatan.
b. Tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan nifas serta kesiapan
menghadapi komplikasi
Setiap ibu hamil diperkenalkan mengenai tanda-tanda bahaya baik selama
kehamilan, persalinan, dan nifas misalnya perdarahan pada hamil muda maupun hamil

6
tua, keluar cairan berbau pada jalan lahir saat nifas, dsb. Mengenal tanda-tanda bahaya
ini penting agar ibu hamil segera mencari pertolongan ke tenaga kesehatan kesehatan.
c. Peran suami/keluarga dalam kehamilan dan perencanaan persalinan
Setiap ibu hamil perlu mendapatkan dukungan dari keluarga terutama suami dalam
kehamilannya. Suami, keluarga atau masyarakat perlu menyiapkan biaya persalinan,
kebutuhan bayi, transportasi, dan calon donor darah. Hal ini penting apabila terjadi
komplikasi kehamilan, persalinan, dan nifas agar segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
d. Asupan gizi seimbang

Selama hamil, asupan makanan yang cukup dengan pola gizi yang seimbang harus
diijaga karena hal ini penting untuk kesehatan ibu dan proses tumbuh kembang janin.

e. KB pasca persalinan

Pentingnya pemberian informasi kepada ibu hamil untuk ikut KB setelah persalinan
yaitu untuk memberi jarak antar kehamilan agar ibu punya waktu merawat kesehatan
diri sendiri, anak, dan keluarga.
f. Gejala penyakit menular dan tidak menular
Setiap ibu hamil harus tahu mengenai gejala-gejala penyakit menular (misalnya
penyakit IMS,Tuberkulosis) dan penyakit tidak menular (misalnya hipertensi) karena
dapat mempengaruhi pada kesehatan ibu dan janinnya.6

2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kunjungan Antenatal Care

Perilaku manusia muncul sebagai reaksi dari berbagai stimulus. Adanya


stimulus baik dari dalam diri individu tersebut (faktor internal) maupun dari luar
individu (faktor eksternal) akan menghasilkan menghasikan resultansi sehingga
terbentuklah suatu perilaku.Kunjungan ANC oleh ibu hamil dipengaruhi oleh beberapa
faktor. Pembagian faktor yang memengaruhi perilaku seseorang dalam memanfaatkan
pelayanan kesehatan berdasarkan teori Lawrence Green tahun 1984 yaitu:7,8
1. Predisposing Factors

adalah faktor yang mempermudah perubahan perilaku yang mencakup usia,


tingkat pendidikan, paritas, sikap dan pengetahuan.
a. Usia

Ibu usia produktif (20-35 tahun) memiliki pola pikir yang lebih rasional
dibandingkan ibu dengan usia yang lebih tua atau lebih muda. Ibu di
usia produktif lebih termotivasi untuk memeriksakan kehamilannya.9
b. Tingkat Pendidikan
7
Tingkat pengetahuan seseorang biasanya tercermin dari tingkat
pendidikan yang diperolehnya. Semakin baik ingkat pendidikannya
maka ibu hamil tersebut semakin peduli terhadap kebutuhan gizinya
selama hamil. Selain itu, pendidikan juga merupakan cara untuk
melatih kemampuan berpikir masyarakat, maka dari itu untuk
mengubah pola pikir masyarakat kearah yang lebih baik, diperlukan
pendidikan yang baik. 8
c. Paritas

Jumlah kelahiran hidup yang dialami oleh seorang wanita disebut


paritas. Wanita multipara cenderung memiliki kunjungan ANC yang
tidak lengkap dibandingkan dengan yang primipara. Ibu dengan
kehamilan pertama merasa ANC merupakan sesuatu yang sangat baru
sehingga termotivasi dalam memeriksakan kehamilannya ketenaga
kesehatan. Sebaliknya ibu yang sudah pernah melahirkan lebih dari satu
orang, beranggapan bahwa ia cukup berpengalaman sehingga tidak
termotivasi untuk memeriksakan kehamilannya. Tetapi mungkin saja
kunjungan ANC yang rendah pada primipara karena kurangnya
pemahaman mengenai pentingnya ANC selama kehamilan.9
d. Sikap
Sikap merupakan gabungan dari kepercayaan, pengetahuan, dan
kesiapan seseorang untuk bereaksi terhadap suatu stimulus atau objek
dan menentukan seseorang tersebut punya kecenderungan untuk
bertindak atau tidak atas suatu masalah yang dihadapinya.Sikap positif
adalah kecendrungan untuk mendekati, menyenangi, mengharapkan
objek tertentu. Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk tidak
menyukai, menghindari, menjauhi, bahkan membenci objek tertentu.
Untuk itu diperlukan upaya meyakinkan ibu tentang manfaat pelayanan
ANC sedini mungkin penanganan yang tepat bagi kelangsungan
kesehatan kehamilan ibu.Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan
yang bermakna antara sikap dengan kelengkapan kunjungan ANC. Ibu
yang memiliki sikap negatif 16,75 kali berisiko melakukan kunjungan
ANC tidak lengkap dibanding ibu yang memiliki sikap positif tentang
ANC.8,10,11
e. Pengetahuan

8
Pengetahuan merupakan indikator penting bagi seseorang dalam
melakukan suatu tindakan. Seorang ibu yang memiliki tingkat
pengetahuan yang tinggi, akan menganggap kunjungan ANC adalah
suatu kebutuhan untuk kehamilannya.Ibu hamil yang berpengetahuan
rendah 19 kali berisiko melakukan kunjungan ANC tidak lengkap
dibanding ibu yang memiliki pengetahuan tinggi tentang ANC. Apabila
ibu hamil memiliki pengetahuan yang baik tentang ANC, mereka
cenderung untuk memeriksakan kehamilan sesuai standar. Masih ada
responden yang tidak mengetahui tentang standar kunjungan ANC
sesuai kebijakan Pemerintah, yaitu 1 kali trimester pertama, 1 kali
trimester kedua, dan 2 kali trimester ketiga dengan layanan 10 T, dan
juga harus sesuai dengan Standar Pelayanan Kebidanan (SPK), yang
meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium rutin
dan khusus, serta intervensi umum dan khusus, mengakibatkan
rendahnya kelengkapan kunjungan ANC.10,11,12

2. Enabling Factors

yaitu faktor yang memungkinkan seseorang untuk merubah perilaku meliputi


fasilitas pelayanan kesehatan, media informasi, serta keterjangkauan fasilitas
kesehatan.
a. Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Terlepas dari pentingnya peran individu mempengaruhi pemanfaatan


pelayanan kesehatan, kehadiran ANC sangat bergantung pada kualitas
perawatan yang didapatkan di fasilitas kesehatan. Pelayanan ANC ini
berguna untuk memastikan akses ke perawatan yang berorientasi pada
tujuan dan pelayanan berkualitas tinggi untuk semua wanita, tidak
hanya mereka yang berisiko, dengan intervensi yang ditargetkan pada
setiap kunjungan. Wanita yang sering menerima perawatan yang baik
dari penyedia layanan kesehatan memliki kecendrungan 5,54 kali lebih
baik untuk melakukan kunjungan ANC secara memadai dibandingkan
dengan mereka yang jarang mendapat perawatan yang baik.13
b. Media Informasi

Informasi tentang Antenatal Care diperoleh dari media cetak seperti


leaflet, poster, koran, majalah, dan lain-lain dan media elektronik
seperti televisi, internet, dan lain-lain maupun penyuluhan oleh petugas

9
kesehatan. Media informasi yang mencakup informasi mengenai
pentingnya pelayanan antenatal pada ibu hamil dapat meningkatkan
pengetahuan dan motivasi ibu dalam melakukan kunjungan. Edukasi
melalui media biasanya menjadi salah satu cara yang dilakukan oleh
pemerintah untuk mengubah perilaku masyarakat dengan tingkat
pendidikan dan pengetahuan yang rendah.14
c. Keterjangkauan Fasilitas Kesehatan

Jika akses menuju ke fasilitas kesehatan tidak memadai atau jarak dari
tempat tinggal ke pelayanan kesehatan jauh, itu akan menurunkan
motivasi ibu hamil untuk melakukan kunjungan ANC. Ibu yang
menggunakan transportasi cendrung lebih berkeinginan untuk
melkukan kunjungan ANC dibanding ibu yang berjalan kaki.10
3. Reinforcing Factors

merupakan faktor pendorong perubahan perilaku seperti dukungan keluarga


dan peran tenaga kesehatan.8
a. Dukungan Keluarga/Suami

Dukungan sosial dari orang-orang yang berarti bagi individu, seperti:


keluarga, pasangan hidup, teman dekat, saudara, dan tetangga.
Terwujudnya sebuah hal yang positif tidak lepas dari dukungan
keluarga. Ibu hamil yang tidak mendapatkan dukungan keluarga 2,54
kali berisiko memiliki kunjungan ANC yang tidak lengkap dibanding
ibu yang mendapat dukungan keluarga. Peningkatan edukasi bagi
suami sangat diperlukan demi tercapainya kebutuhan ibu hamil untuk
melaksanakan kunjungan ANC

b. Peran Tenaga Kesehatan

Sikap petugas kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan


mempengaruhi frekuensi kunjungan ANC ibu hamil. Membangun
hubungan baik dengan ibu hamil dapat berkontribusi dalam
kelengkapan jumlah kunjungan ANC. Ibu hamil yang sering didorong
oleh petugas kesehatan dalam melakukan kunjungan ANC di fasilitas
kesehatan 1,82 kali lebih sering untuk melakukan ANC yang memadai.
Sebaliknya, jika tenaga kesehatan cendrung untuk bersikap kasar, akan
mempengaruhi kehadiran ANC secara negatif.13

10
2.5 Edukasi Kesehatan Bagi Ibu Hamil 


Tidak semua ibu hamil dan keluarganya mendapat pendidikan dan konseling kesehatan
yang memadai tentang kesehatan reproduksi, terutama tentang kehamilan dan upaya untuk
menjaga agar kehamilan tetap sehat dan berkualitas. Kunjungan antenatal memberi kesempatan
bagi petugas kesehatan untuk memberikan informasi kesehatan esensial bagi ibu hamil dan
keluarganya termasuk rencana persalinan (di mana, penolong, dana, pendamping, dan
sebagainya) dan cara merawat bayi. Beberapa informasi penting tersebut adalah sebagai
berikut: 5

a. Nutrisi yang adekuat


 Kalori
Jumlah kalori yang diperlukan bagi ibu hamil untuk setiap harinya adalah 2.500
kalori. Pengetahuan tentang berbagai jenis makanan yang dapat memberikan
kecukupan kalori tersebut sebaiknya dapat dijelaskan secara rinci dan bahasa yang
dimengerti oleh para ibu hamil dan keluarganya. Jumiah kalori yang berlebih dapat
menyebabkan obesitas dan hal ini merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya
preeklampsia. Jumlah pertambahan berat badan sebaiknya tidak melebihi 10-12 kg
selama hamil.

 Protein


Jumlah protein yang diperlukan oleh ibu hamil adalah 85 gram per hari. Sumber
protein tersebut dapat diperoleh dari tumbuh-tumbuhan (kacang-kacangan) atau
hewani (ikan, ayam, keju, susu, telur). Defisiensi protein dapat menyebabkan
kelahiran prematur, anemia, dan edema.

 Kalsium


Kebutuhan kalsium ibu hamil adalah 1,5 gram per hari. Kalsium dibutuhkan untuk
pertumbuhan janin, terutama bagi pengembangan orot dan rangka. Sumber kalsium
yang mudah diperoleh adalah susu, keju, yogurt, dan kalsium karbonat. Defisiensi
kalsium dapat menyebabkan riketsia pada bayi atau osteomalasia pada ibu.

 Zat besi


Metabolisme yang tinggi pada ibu hamil memerlukan kecukupan oksigenasi


jaringan yang diperoleh dari pengikatan dan pengantaran oksigen melalui

11
hemoglobin di dalam sel-sel darah merah. Untuk menjaga konsentrasi hemoglobin
yang normal, diperlukan asupan zat besi bagi ibu hamil dengan jumlah 30 mg/hari
rerutama setelah trimester kedua. Bila tidak ditemukan anemia pemberian besi per
minggu cukup adekuat. Zat besi yang diberikan dapat berupa ferrous gluconate,

ferrous fumarate, atau ferrous sulphate. Kekurangan zat besi pada ibu hamil dapat
menyebabkan anemia defisiensi zat besi.

 Asam folat


Selain zat besi, sel-sel darah merah juga memerlukan asam folat bagi pematangan
sel. Jumlah asam folat yang dibutuhkan oleh ibu hamil adalah 400 mikrogram per
hari. Kekurangan asam folat dapat menyebabkan anemia megaloblastik pada ibu
hamil.
b. Perawatan payudara

Payudara perlu dipersiapkan sejak sebelum bayi lahir sehingga dapat segera berfungsi
dengan baik pada saat diperlukan. Pengurutan payudara untuk mengeluarkan sekresi dan
membuka duktus dan sinus laktiferus, sebaiknya dilakukan secara hati-hati dan benar karena
pengurutan yang salah dapat menimbulkan kontraksi pada rahim sehingga teriadi kondisi
seperti pada uji kesejahteraan janin menggunakan uteroronika. Basuhan lembut setiap hari pada
areola dan puting susu akan dapat mengurangi retak dan lecet pada area tersebut.

c. Kebersihan tubuh dan pakaian

Kebersihan tubuh harus terjaga selama kehamilan. Perubahan anatomik pada perut, area
genitalia/lipat paha, dan payudara menyebabkan lipatan-lipatan kulit menjadi lebih lembab dan
mudah terinvestasi oleh mikroorganisme. Gunakan pakaian yang longgar, bersih dan nyaman
dan hindarkan sepatu bertongkat tinggi (high heels) dan alas kaki yang keras (tidak elastis) serta
korset penahan perut. Lakukan gerak tubuh ringan, misalnya berjalan kaki, terutama pada pagi
hari. Jangan melakukan pekerjaan rumah tangga yang berat dan hindarkan kerja fisik yang

dapat menimbulkan kelelahan yang berlebihan. Beristirahat cukup, minimal 8 jam pada malam
hari dan 2 jam di siang hari. Ibu tidak dianjurkan untuk melakukan kebiasaan merokok selama
hamil karena dapat menimbulkan vasospasme yang berakibat anoksia janin, berat badan lahir
rendah (BBLR), prematuritas, kelainan kongenital, dan solusio plasenta.

2.6 Beberapa Gejala dan Tanda Bahaya Selama Kehamilan

Pada umumnya 80-90 % kehamilan akan berlangsung normal dan hanya 10-12 %
12
kehamilan yang disertai dengan penyulit atau berkembang menjadi kehamilan patologis.
Kehamilan patologis sendiri tidak terjadi secara mendadak karena kehamilan dan efeknya
terhadap organ tubuh berlangsung secara bertahap dan berangsur-angsur. Deteksi dini gejala
dan tanda bahaya selama kehamilan merupakan upaya terbaik untuk mencegah terjadinya
gangguan yang serius terhadap kehamilan ataupun keselamatan ibu hamil. Faktor predisposisi
dan adanya penyakit penyerta sebaiknya juga dikenali sejak awal sehingga dapat dilakukan
berbagai upaya maksimal untuk mencegah gangguan yang berat baik terhadap kehamilan dan
keselamatan ibu maupun bayi yang dikandungnya.5

a. Perdarahan

Perdarahan pada kehamilan muda atau usia kehamilan di bawah 20 minggu, umumnya
disebabkan oleh keguguran. Sekitar 10-12 % kehamilan akan berakhir dengan keguguran yang
pada umumnya (60-80 %) disebabkan oleh kelainan kromosom vang ditemui pada spermarozoa

ataupun ovum. Penyebab yang sama dan menimbulkan gejala perdarahan pada kehamilan muda
dan ukuran pembesaran uterus yang di atas normal, pada umumnya disebabkan oleh mola
hidatidosa. Perdarahan pada kehamilan muda dengan uji kehamilan yang tidak jelas,
pembesaran urerus yang tidak sesuai (lebih kecil) dari usia kehamilan, dan adanya massa di
adneksa biasanya disebabkan oleh kehamilan ektopik. 5

Perdarahan pada kehamilan lanjut atau di atas 20 minggu pada umumnya disebabkan oleh
plasenta previa. Perdarahan yang terjadi, sangat terkait dengan luas plasenta dan kondisi
segmen bawah rahim yang menjadi tempat implemenrasi plasenta tersebut. Pada plasenta yang
tipis dan menutupi sebagian jalan lahir, maka umumnya terjadi perdarahan bercak berulang dan
apabila segmen bawah rahim mulai terbentuk disertai dengan sedikit penurunan bagian
terbawah janin, maka perdarahan mulai meningkat hingga tingkatan yang dapat membahayakan
keselamatan ibu. Plasenta yang tebal yang menutupi seluruh jalan lahir dapat menimbulkan
perdarahan hebat tanpa didahului oleh perdarahan bercak atau berulang sebelumnya. Plasenta
previa menjadi penyebab dari 25% kasus perdarahan anrepartum. Bila mendekati saat
persalinan, perdarahan dapat disebabkan oleh solusio plasenta (40 %) atau vasa previa (5 %)
dari keseluruhan kasus perdarahan antepartum. 5

b. Preeklampsia

Pada umumnya ibu hamil dengan usia kehamilan di atas 20 minggu disertai dengan

13
peningkatan tekanan darah di atas normal sering diasosiasikan dengan preeklampsia. Data atau
informasi awal terkait dengan tekanan darah sebelum hamil akan sangat membantu petugas
kesehatan untuk membedakan hipertensi kronis (yang sudah ada sebelumnya) dengan
preeklampsia. Gejala dan tanda lain dari preeklampsia adalah sebagai berikut: hiperrefleksia
(iritabilitas susunan saraf pusat), sakit kepala atau sefalgia (frontal atau oksipital) yang tidak
membaik dengan pengobatan umum, gangguan penglihatan seperti pandangan kabur,
skotomata, silau atau berkunang- kunang, nyeri epigastric, oliguria (luaran kurang dari 500
ml/24 jam), tekanan darah sistolik 20-30 mmHg dan diastolik 10-20 mmHg di atas normal .
Proreinuria (di atas positif 3),edema menyeluruh. 5

c. Nyeri Hebat di Daerah Abdominopelvikum

Bila hal tersebut di atas terjadi pada kehamilan trimester kedua atau ketiga dan disertai
dengan riwayat dan tanda-tanda di bawah ini, maka diagnosisnya mengarah pada solusio
plasenta, baik dari jenis yang disertai perdarahan (reuealed) maupun tersembunyi (concealed):5

Gambar 1. Solusio Plasenta dengan Perdarahan (A) dan Perdarahan Tersembunyi (B)

14
BAB 3

KESIMPULAN

Antenatal Care (ANC) merupakan program terencana berupa observasi, edukasi, dan
penanganan medik pada ibu hamil, dengan tujuan menjaga agar ibu sehat selama kehamilan
yaitu dengan memantau kemungkinan adanya resiko dalam kehamilan dan merencanakan
penatalaksanaan yang optimal terhadap kehamilan risiko tinggi. Pemantauan kehamilan yang
baik dapat mewujudkan persalinan yang aman dan memuaskan sehingga bayi yang dilahirkan
sehat. Jadwal kunjungan ANC bila kehamilan termasuk risiko tinggi perhatian dan jadwal
kunjungan harus lebih ketat. Namun, bila kehamilan normal jadwal asuhan cukup empat kali.

Pelayanan yang diberikan dalam kunjungan ANC dengan standar 10 T. Faktor-faktor yang
mempengaruhi kunjungan ANC adalah predisposing factors, enabling factors, dan reinforcing
factors. Edukasi pada ibu hamil meliputi nutrisi yang adekuat, perawatan payudara dan
kebersihan tubuh dan pakaian.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. WHO. 2013. Global health observatory (maternal mortality).


http://www.who.int/gho/maternal_health/mortality/maternal/en/index.html. Diakses 14
Oktober 2019

2. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2018. Profil Kesehatan 2018.


http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-
indonesia/profil-kesehatan-indonesia-2018.pdf. Diakses 14 Oktober 2019

3. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Pedoman Pemantauan Wilayah


Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA). Jakarta; 2010.
4. Mufdilah. ANC Pemeriksaan Kehamilan Fokus. In Jakarta: Mulia Medika; 2009. p.
35–8.
5. Adriaansz G. Asuhan Antenatal dalam Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo; 2008. p. 278-87

6. Manuaba. Ilmu kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB. In Jakarta: EGC; 2010. p. 32–
9.
7. Notoadmojo S. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. In Jakarta: Rineka Cipta;
2012. p. 45–62.
8. Notoadmojo S. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasinya. In Jakarta: Rineka Cipta;
2010. p. 43–7.
9. Yenita A, Shigeko H. Factors influencing the use of antenatal care in rural West
Sumatra, Indonesia. TT -. BMC Pregnancy Childbirth. 2012;12:9.
10. Rachmawati AI, Puspitasari RD, Cania E. Faktor-faktor yang Memengaruhi Kunjungan
Antenatal Care ( ANC ) Ibu Hamil Factors Affecting The Antenatal Care ( ANC ) Visits
on Pregnant Women. Majority. 2017;7(November):72–6.
11. Fitrayeni, Suryati, Faranti RM. Penyebab Rendahnya Kelengkapan Kunjungan
Antenatal Care Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Pegambiran. J Kesehat Masy
Andalas. 2015;10(1):101–7.
12. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pusat Data dan Informasi Ibu. Jakarta;

16
2014.

13. Hijazi HH, Alyahya MS, Sindiani AM, Saqan RS, Okour AM. Determinants of
antenatal care attendance among women residing in highly disadvantaged communities
in northern Jordan: A cross-sectional study. Reprod Health. 2018;15(1):1–18.
14. Syamsiah N, Pustikasari A. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kunjungan
Antenatal Care Pada Ibu Hamil Di Puskesmas Kecamatan Kembangan Jakarta Barat
Tahun 2013. 2014;6(1):2012–5

17