Anda di halaman 1dari 39

MODUL 1

KB I

Semenjak kecil Jean Piaget tertarik pada bermacam-macam struktur tubuh makhluk hidup

yang memungkinkannya untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Pada awalnya beliau

mempelajari struktur fisik dan dilanjutkan mempelajari struktur mental. Peaget

menamakan struktur mental tersebut sebagai schema, di mana schema juga merupakan

unsur yang penting untuk beradaptasi seperti pada struktur fisik. Piaget menghabiskan

masa hidupnya untuk menjelaskan tahap-tahap yang bervariasi dari organisasi mental.

Melalui proses asimilasi, anak menggunakan schema lama untuk memperoleh informasi

baru. Melalui proses akomodasi, schema awal berubah untuk menyesuaikan dengan pengalaman-

pengalaman anak. Sebagai hasil dari dua proses tersebut schema pada anak berkembang menjadi

lebih kompleks untuk mengatur keselarasan kegiatannya di dunia. Piaget membagi

perkembangan mental anak menjadi empat tahapan :

 Tahap sensori motor (usia 0-2) ciri-ciri khusus, kecerdasan motorik (gerak) dunia (benda)

yang ada adalah yang tampak tidak ada bahasa pada tahap awal.

 Tahap pre-operasional (usia 2-7) ciri-ciri khusus, berpikir secara egosentris alasan-

alasan didominasi oleh persepsi lebih banyak intuisi daripada pemikiran logis belum

cepat melakukan konservasi.

 Tahap konkret operasional (usia 7-11 atau 12) ciri-ciri khusus, dapat melakukan

konservasi logika tentang kelas dan hubungan pengetahuan tentang angka berpikir

terkait dengan yang nyata.

 Tahap formal operasional (usia 7-11 atau 12 th 14 th atau 15 th) ciri-ciri khusus, pemikiran

yang sudah lengkap pemikiran yang proporsional kemampuan untuk mengatasi

hipotesis perkembangan idealisme yang kuat.

Menurut piaget, ada sedikitnya tiga hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam

merancang pembelajaran di kelas, terutama dalam pembelajaran IPA. Ketiga hal tersebut adalah :

1. Seluruh anak melalui tahapan yang sama secara berurutan

2. Anak mempunyai tanggapan yang berbeda terhadap suatu benda atau kejadian

3. Dan apabila hanya kegiatan fisik yang diberikan kepada anak, tidaklah cukup untuk

menjamin perkembangan intelektual anak


KB II

Bruner merupakan salah seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli belajar

kognitif. Beliau beranggapan bahwa belajar merupakan kegiatan pengolahan informasi.

Kegiatan pengolahan informasi tersebut meliputi pembentukan kategori-kategori. Di antara

kategori-kategori tersebut ada kemungkinan saling berhubungan yang disebut sebagai

koding. Teori belajar bruner ini disebut sebagai teori belajar penemuan.

Dalam penerapannya dalam proses pembelajaran di kelas, Bruner mengembangkan model

pembelajaran penemuan. Model ini pada prinsipnya memberikan kesempatan kepada siswa

untuk memperoleh informasi sendiri dengan bantuan guru dan biasanya menggunakan

barang yang nyata. Peranan guru dalam pembelajaran ini bukanlah sebagai seorang pemberi

informasi melainkan seorang penuntun untuk mendapatkan informasi.

Guru harus mempunyai cara yang baik untuk tidak secara langsung memberikan

informasi yang dibutuhkan oleh siswa. Model pembelajaran ini mempunyai banyak manfaatnya,

antara lain bahwa pembelajar (siswa) akan mudah mengingatnya apabila informasi tersebut

didapatkan sendiri, bukan merupakan informasi perolehan. Manfaat lainnya adalah apabila

pembelajar telah memperoleh informasi, maka dia akan mengingat lebih lama, dan masing

banyak lagi manfaat yang lainnya. Dalam penerapan model ini guru mungkin terganggu dengan

kebisingan dalam keributan siswa.


KB III

Menurut Gagne, belajar itu merupakan suatu proses yang memungkinkan seseorang

untuk mengubah tingkah lakunya cukup cepat, dan perubahan tersebut bersifat relative

tetap, sehingga perubahan yang serupa tidak perlu terjadi berulangkali setiap menghadapi situ

asi yang baru. Ada beberapa ciri penting tentang belajar yaitu :

1. Belajar itu merupakan suatu proses yang dapat dilakukan manusia

2. Belajar menyangkut interaksi antara pembelajar (orang yang belajar) dan lingkungannya.

3. Belajar telah berlangsung bila terjadi perubahan tingkah laku yang bertahan cukup lama

selama kehidupan orang itu.

Belajar sebagai suatu proses, seperti yang dikemukakan oleh Gagne bertitik tolak

dari suatu analogi antara manusia dan computer. Menurut model ini yang disebut model

pemrosesan informasi ( processing model ), proses belajar dianggap sebagai transformasi

input menjadi output seperti yang lazim terlihat pada sebuah komputer.
KB IV

Menurut Ausubel, belajar bermakna akan terjadi apabila informasi baru dapat

dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah terdapat dalam struktur kognitif seseorang.

Faktor yang paling penting yang mempengaruhi belajar adalah apa yang telah diketahui oleh

siswa. Informasi yang baru diterima akan disimpan di daerah tertentu dalam otak. Banyak

sel otak yang terlibat dalam penyimpanan pengetahuan tersebut.

Ada dua prinsip yang mengaitkan konsep-konsep yang diperlukan untuk belajar yaitu

diferensiasi progresif dan rekonsiliasi integrative. Dalam diferensiasi progresif, konsep-

konsep yang diajarkan dimulai dengan konsep-konsep yang umum ke konsep- konsep yang lebih

khusus. Sedangkan dalam rekonsiliasi integrative, konsep-konsep atau gagasan-

gagasan perlu diintegrasikan dan disesuaikan dengan konsep-konsep yang telah dipelajari

sebelumnya.
MODUL II

KB I

Kegiatan belajar ini memberi pengertian yang tepat mengenai pengertian, fungsi dan

tujuan, pertimbangan pemilihan, dan jenis pendekatan dalam pembelajaran IPA.

Pendekatan adalah cara umum dalam memandang permasalahan atau objek kajian,

sehingga berdampak ibarat seseorang memakai kaca mata dengan warna tertentu pada

saat memandang alam sekitar. Pendekatan bersifat aksiomatis yang menyatakan pendirian,

filosofi, dan keyakinan yang berkaitan dengan serangkaian asumsi.

Peranan pendekatan adalah menyesuaikan komponen input, output, produk, dan

outcomes pendidikan dengan bahan kajian yang akan disajikan, sehingga pembelajaran menjadi

menarik, menyenangkan, menumbuhkan rasa ingin tahu, memberikan penghargaan, serta

bermakna bagi hidup dan kehidupan sekarang dan yang akan datang. Tujuan pendekatan adalah

menggiring persepsi dan atau proses pengkajian dengan suatu terminilogi sehingga

diperoleh pembentukan perilaku yang diharapkan. Prinsip pemilihan pendekatan adalah

pertimbangan faktor-faktor terkait antara lain adalah tujuan pendidikan dan

pembelajaran, kurikulum, kemampuan siswa, psikologi belajar, dan sumber daya.

Pendekatan yang akan dilakukan pada kegiatan belajar I pada modul ini

adalah pendekatan Lingkungan, Pendekatan konseptual, Pendekatan faktual, Pendekatan

nilai, Pendekatan inkuiri, Pendekatan sejarah.


KB II

Pendekatan lingkungan menggunakan sumber belajar berupa lingkungan. Pendekatan

Sains-Lingkungan-Teknologi-Masyarakat. dipusatkan pada siswa dengan memperhatikan

keragaman siswa. Pendekatan Faktual dilakukan dengan menyodorkan hasil penemuan IPA dan

siswa diharapkan memperoleh informasi IPA. Pendekan Konseptual memberi kesempatan

siswa untuk mengorganisasikan fakta ke dalam suatu model atau penjelasan tentang sifat

alam semesta. Pendekatan pemecahan masalah bertolak dari suatu permasalahan.

Pendekatan nilai adalah cara mengajarkan IPA dengan menggunakan pandangan suatu

nilai. Pendekatan inkuiri memiliki prosedur umum merancanakan, mendiskusikan, membuat

hipotesis, menganalisis (secara rasiona, penggalian/penemuan/discover,eksperimen),

menafsirkan hasil untuk mendapatkan konsep umum. Pendekatan keterampilan proses

adalah mengajarkan berbagai keterampilan proses yang biasa digunakan para

ilmuwan dalam mendapatkan atau memformulasikan hasil IPA. Pendektan sejarah

mengajarkan IPA dalam menyajikan berbagai penemuan dan perkembangan temuan dikaitkan

dengan ilmu IPA.

Contoh gambaran penerapan pendekatan yang dijelaskan pada kegiatan belajar ini

berupa garis besar dari pembelajaran sedangkan rincian prosedur pembelajaran tersbut

dibahas dalam pembahasan tentang metode pembelajaran. Evaluasi formatif dan sumatif

dijelaskan secara ringkas untuk semua pendekatan yang dibahas. Aspek kempuan yang

dievaluasi terkait dengan ranah kognitif, psikomotor, dan sikap, tergantung dengan

kesesuaian dengan jenis yang dipilih.


METODE DALAM PEMBELAJARAN IPA

A. PENGERTIAN

Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan oleh guru untuk mengaplikasikan

strategi belajar yang sudah ditentukan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah

ditetapkan.

B. Jenis metode dalam pembelajaran IPA

Adapun jenis–jenis metode dalam pembelajaran IPA antara lain :

1. Metode Penugasan

Adalah suatu cara interaksi belajar mengajar yang ditandai dengan adanya tugas dari guru

untuk dikerjakan siswa.

Tujuannya untuk merangsang siswa aktif belajar secara individual maupun kelompok.

Metode penugasan digunakan untuk memperkaya materi dan merupakan tindak lanjut dari

kegiatan belajar sebelumnya.

Keuntungan dan kelemahannya antara lain :

a. Keuntungannya

- Membuat siswa aktif belajar

- Mendorong siswa untuk memperkaya wawasannya.

- Mengembangkan kemandirian siswa

- Membiasakan siswa mencari dan mengolah informasinya sendiri

- Membuat siswa bergairah dalam belajar

- Membina tanggung jawab dan disiplin siswa

- Mengembangkan kreativitas siswa

b. Kelemahannya

- Sulit mengontrol siswa apakah kerja atau tidak

- Sulit memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan siswa

- Tugas yang monoton bisa membosankan siswa

- Siswa merasa mengeluh jika tugasnya banyak

- Biasanya tugas kelompok dikerjakan oleh orang rajin saja

2. Metode Diskusi

Merupakan penyampaian bahan pelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan

masalah yang bersifat problematic.


Tujuannya :

a. Melatih siswa mengembangkan keterampilan bertanya,

berkomunikasi, menafsirkan dan menyimpulkan bahasan

b. Melatih dan membentuk kestabilan social emosional

c. Mengembangkan kemampuan berfikir sendiri dalam memecahkan masalah sehingga tum buh

konsep diri yang lebih positif

d. Mengembangkan kemampuan siswa mengemukakan pendapat

e. Mengembangkan siskap terhadap isu–isu controversial

f. Melatih siswa berani mengemukakan pendapat mengenai suatu masalah

Alasan Penggunaan :

a. Topik bahasan bersifat problematic

b. Merangsang siswa untuk berdebat secara ilmiah

c. Melatih siswa untuk berfikir kritis dan terbuka

d. Mengembangkan suasana demokratis dan berjiwa besar

e. Siswa memiliki pandangan yang berbeda–beda tentang topik diskusi

f. Adanya hubungan masalah yang didiskusikan dengan topik lain

Keuntungan Metode Diskusi :

a. Dapat mendorong partisipasi siswa secara aktif baik sebagai partisipan, penanya, atau

moderator.

b. Menimbulkan kreativitas dalam ide, pendapat, gagasan ataupun terobosan–terobosan baru

c. Menumbuhkan kemampuan berfikir kritis dan partisipasi demokratis

d. Bisa menghargai pendapat orang lain dan tidak memaksakan pendapat sendiri

e. Keputusan yang dihasilkan orang banyak lebih baik dengan keputusan yang dihasilkan satu

orang

Kelemahannya :

a. Sulit menentukan topik masalah yang sesuai dengan tingkat berfikir siswa

b. Memerlukan waktu yang tidak terbatas

c. Pembahasan sering mengambang

d. Biasanya didominasi oleh orang–orang yang aktif berbicara

e. Sulit menerapkan hasil keputusan yang sudah disepakati bersama

f. Dapat menumbuhkan reaksi di luar kelas, misalnya bentrok fisik.


3. Metode Tanya Jawab

Merupakan cara penyajian pelajaran dalam proses belajar mengajar melalui interaksi dua

arah.

Tujuannya :

a. Mengecek dan mengetahui sejauh mana penguasaan materi oleh siswa

b. Memberikan kesempatan pada siswa untuk membahas materi pelajaran yang belum dipahami

c. Memotivasi dan menimbulkan kompetisi belajar bagi siswa

d. Melatih siswa berfikir dan berbicara secara sistematis.

Alasan penggunaannya :

a. Menimbulkan rasa ingin tahu siswa terhadap permasalahan yang sedang dibicarakan

b. Menimbulkan berfikir reflektif, sistematis, kreatif, dan kritis pada siswa

c. Mewujudkan cara belajar siswa aktif

d. Mendorong siswa mengekspresikan kemampuan lisannya

e. Memungkinkan siswamenggunakan pengetahuan sebelumnya

f. Menarik dan memusatkan perhatian siswa terhadap materi pelajaran

g. Mengetahui kemampuan daya serap siswa

h. Merangsang siswa menggunakan daya fikir dan daya nalarnya

i. Distribusi pertanyaan tidak merata

j. Tidak memberdayakan siswa yang kurang aktif

k. Membuat siswa yang tidak biasa berbicara menjadi nerves (gugup)

l. Bisa membuang waktu jika siswa tidak responsive.

4. Metode Latihan

Adalah suatu tekhnik mengajar yang mendorong siswa untuk melaksanakan kegiatan latihan

agar memiliki ketangkasan atau keterampilan yang lebih tinggi dari pada yang dipelajari.

Kelebihan metode ini :

a. Untuk memperoleh kecakapan motoris

b. Untuk memperoleh kecakapan mental

c. Untuk memperoleh kecakapan dalam bentuk asosiasi yang dibuat

d. Pembentukan kebiasaan serta menambah ketepatan dan kecepatan pelaksanaan

e. Pemanfaatan kebiasaan yang tidak membutuhkan konsentrasi

f. Pembentukan kebiasaan yang lebih otomatis


Kelemahannya :

a. Menghambat bakat dan inisiatif siswa

b. Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan

c. Monoton, mudah membosankan

d. Membentuk kebiasaan yang kaku

e. Dapat menimbulkan verbalisme

5. Metode ceramah

Merupakan cara mengajar yang paling tradisional dan telah lama dijalankan dalam sejarah

pendidikan.

Kelebihannya :

a. Merupakan metode yang murah dan mudah

b. Dapat menyajikan materi pelajaran yang luas

c. Dapat mengontrol keadaan kelas

d. Dapat diikuti jumlah siswa yang besar

e. Dapat menyelesaikanmateri pelajaran dengan cepat

Kelemahannya :

a. Materi yang dikuasai siswa akan terbatas pada apa yang dikuasai guru

b. Guru yang kurang memiliki kemampuan bertutur yang baik, maka siswa akan merasa bosan

c. Guru sulit mengetahui apakah seluruh siswa sudah mengerti

tentang materi yang sudah dijelaskan oleh guru

d. Cenderung membuat siswa pasif

Agar metode ceramah lebih menarik perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut :

- Bahan ceramah dipersiapkan sebaik mungkin secara cermat

- Bahan ceramah disampaikan dengan jelas dan dapat didengar oleh semua murid

- Bahan ceramah harus dikuasai dengan luas dan mendalam

- Bahan pelajaran disampaikan dengan sistematis

- Dalam penyampainnya diselingi pertanyaan

- Memasukkan hal–hal baru kejadian–kejadian nyata dan pernah mereka alami

- Bahan dapat anda selesaikan sesuai dengan waktu yang ditetapkan

6. Metode simulasi

Adalah cara penyajian pelajaran dengan menggunakan situasi tiruan untuk menggambarkan

situasi sebenarnya.
Tujuannya :

a. Melatih keterampilan tertentu yang bersifat praktis dalam

kehidupan sehari hari.

b. Mengembangkan sikap percaya diri pada anak

c. Mengembangkan persuasi dan komunikasi

d. Melatih siswa memecahkan masalah dengan memanfaatkansumber–sumber yang dapat

digunakan

e. Meningkatkan pemahaman tentang konsep dan prinsip yang dipelajari

f. Meningkatkan keaktifan belajar bagi siswa

Alasan Penggunaannya :

a. Ada situasi yang tidak dapat dihadirkan secara nyata dalam situasi sebenarnya contoh :

keadaan perang

b. Perlunya konsep–konsep untuk diresapi dan dirasakan siswa secara langsung

c. Menanamkan sikap–sikap normative kepada siswa yang harus direfleksikan dalam apresiasi jiwa

d. Agar siswa dapat berperan dan berkomunikasi secara baik

Keuntungannya :

a. Menciptakan kegairahan siswa untuk belajar

b. Memupuk daya cipta siswa

c. Melatih keberanian siswa tampil di depan orang banyak

d. Siswa mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya yang kemungkinan terpendam

dengan pengan pengajaran metode lain

e. Dapat ditemukan siswa yang bakat berakting

Kekurangannya :

a. Memerlukan pengelompokan siswa yang fleksibel dan ruang

yang tidak selalu tersedia

b. Pengalaman yang disimulasikan tidak selalu tepat dan sempurna dengan kenyataan di lapangan

c. Suasana simulasi seringkali berubah menjadi ajang tempat bermain

d. Memerlukan imajinasi yang tinggi bagi guru dan siswa

e. Jika ada siswa yang merasa malu, ragu atau tidak percaya diri, maka ini akan menghambat

tercapainya tujuan simulasi


7. Metode Proyek

Adalah caqra mengajar dengan jalan memberikan kegiatan belajar pada siswa, dengan

memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih, merancang dan memimpin pikiran serta

pekerjaannya.

Ada 4 aspek dalam pelaksanaan metode proyek :

a. Menentukan tujuan

b. Merencanakan

c. Melaksanakan

d. Menilai

Langkah–langkah pembelajaran metode proyek :

a. Penyelidikan dan observasi

Misalnya guru mengajukan pertanyaan lisan.

b. Penyajian bahan baku

Dengan metode ceramah memberikan garis besar tentang bahan pelajaran

c. Asimilasi / pengumpulan keterangan Siswa mencari informasi

d. Mengorganisasikan data Siswa menggolongkan data atau mengolah data

e. Mengungkapkan kembali

Menyajikan hasil yang diperolehnya berupa laporan

Kelebihannya :

a. Dapat merombak pola pikir anak didik dari yang sempit menjadi lebih luas dan menyeluruh

dalam memandang dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan

b. Melalui metode ini siswa dibina dengan membiasakan menerapkan pengetahuan, sikap dan

keterampilan dengan terpadu yang diharapkan praktis dan berguna dalam kehidupan sehari–hari

c. Pengetahuan yang diperoleh fungsional

d. Anak–anak belajar bersungguh–sungguh dalam bekerja bersama

e. Anak–anak bertanggung jawab penuh pada pekerjaannya

Kekurangannya :

a. Kurikulum yang berlaku di Negara ini belum menunjang pelaksanaan metode ini

b. Organisasi bahan pelajaran, perencanaan dan pelaksanaan metode ini sukar dan memerlukan

keahlian khusus dari guru

c. Harus dapat memilih topic unit yang tepat sesuai kebutuhan siswa.

d. Bahan pelajaran sering menjadi luas sehingga mengaburkan pokok unit yang dibahas
8. Metode Studi Lapangan/karyawisata

Merupakan cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau

objek tertentu diluar kelas atau sekolah.

Kelebihannya :

a. Memiliki prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata

b. Membuat relevansi antara apa yang dipelajari dengan kebutuhan masyarakat

c. Merangsang kreatifitas siswa

d. Bahan pelajaran lebih luas dan actual

Kelemahannya :

a. Kurangnya fasilitas

b. Perlu perencanaan yang matang

c. Perlu koordinasi agar tidak tumpang tindih waktu

d. Mengabaikan unsur studi

e. Kesulitan mengatur siswa yang banyak.

9. Metode Demonstrasi

Adalah cara penyajian pelajaran dengan cara mempertunjukkan kepada siswa suatu proses,

situasi atau benda tertentu baik benda asli maupun benda tiruan.

Tujuannya :

a. Memperlihatkan suatu proses atau prosedur yang harus dikuasai siswa

b. Mengkongkritkan informasi kepada siswa

c. Mengembangkan kemampuan indera penglihatan dan indera pendengaran siswa

Alasan penggunaannya :

a. Ada topik–topik pelajaran tertentu yang tidak bisa dijelaskan dengan penjelasan

b. Sifat pelajaran yang menuntut diperagakan

c. Memperhatikan tipe belajar siswa

d. Memudahkan mengajarkan suatu cara kerja

Keuntungannya :

a. Pelajaran bisa menjadi lebih jelas sehingga terhindar dari verbalisme

b. Memudahkan siswa memahami materi pelajaran

c. Proses belajar mengajar menjadi lebih menarik

d. Melatih kemampuan mengamati siswa

e. Ada materi pelajaran lain yang tidak bisa disajikan dengan metode lain
Kerugiannya :

a. Memerlukan keterampilan guru secara khusus

b. Memerlukan banyak waktu

c. Kekurangan sumber belajar yang terjadi pada sekolah seringkali mengakibatkan metode ini

tidak bisa diterapkan

10. Metode Eksperimen

Merupakan cara belajar mengajar yang melibatkan siswa dengan mengalami dan

membuktikan sendiri.

Tujuannya :

a. Agar siswa mampu menyimpulkan fakta–fakta yang diperoleh

b. Melatih siswa merancang, mempersiapkan dan melaksanakan percobaan

c. Melatih kemampuan berfikir induktif siswa

Alasan Penggunaannya:

a. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat

secara aktif dalam percobaan

b. Menumbuhkan cara berfikir rasional dan ilmiah

Keuntungannya :

a. Siswa bisa membuktikan teori

Memungkinkan siswa terlibat secara aktif sehingga pemahaman siswa menjadi lebih mendalam

c. Siswa bisa melakukan prosedur dan berpikir ilmiah

d. Menghilangkan verbalisme

e. Hasil belajar siswa menjadi bermakna

Kerugiannya :

a. Memerlukan alat dan bahan yang komplit

b. Memerlukan waktu lama

c. Memerlukan perencanaan yang matang

d. Memungkinkan salah dalam menyimpulkan jika salah melakukan eksperimen

C. Memilih Metode Belajar Untuk Pembelajaran IPA

Faktor–faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilihmetode belajar yaitu :

1. Metode belajar hendaknya sesuai dengan tujuan

2. Metode belajar hendaknya diadaptasikan dengan kemampuan siswa


3. Metode belajar hendaknya sesuai dengan psikologi belajar

4. Metode belajar hendaknya disesuaikan dengan bahan pengajaran

5. Metode belajar hendaknya disesuaikan dengan alokasi waktu dan sarana prasarana yang

tersedia

6. Metode belajar hendaknya sesuai dengan pribadi guru


MODUL 4

KETERAMPILAN PROSES IPA DI SD

KEGIATAN BELAJAR 1:

PENGERTIAN KETERAMPILAN PROSES IPA SERTA KETERAMPILAN MENGOBSERVASI,

MENGKLASIFIKASI, DAN MENGUKUR

A. PENGERTIAN

Keterampilan proses dianggap sangat penting dalam pembelajaran IPA. Wynnie Harlen

(1992) mengemukakan beberapa alasan untuk itu, yaitu :

1. Pengubahan ide-ide kearah yang lebih ilmiah (dengan fenomena yang lebih cocok)

tergantung pada cara dan pengujian yang digunakan. Pengujian yang digunakan ini

berhubungan erat dengan penggunaan keterampilan-keterampilan proses.

2. Pengembangan pengetahuan dalam IPA tergantung kepada kemampuan melakukan

keterampilan proses dalam perilaku ilmiah. Itulah sebabnya mengapa pengembangan

keterampilan proses mendapat perhatian.

3. Peranan keterampilan proses sangat besar dalam pengembangan konsep-konsep ilmiah.

Carin (1992) menyampaikan pula beberapa alasan tentang pentingnya keterampilan

proses yaitu:

1. Dalam praktiknya apa yang dikenal dalam IPA merupakan hal yang tidak terpisah dari

metode penyelidikan. Mengetahui IPA tidak hanya sekedar mengetahui materi ke-IPA-an

saja, tetapi terkait pula dengan mengetahui bagaimana cara mengumpulkan fakta dan

menghubungkan fakta untuk membuat suatu penafsiran atau kesimpulan. Ilmuwan

menggunakan berbagai prosedur empiris dan analisis dalam usahanya dalam menjelaskan

misteri dari alam semesta. Prosedur ini disebut dengan proses IPA.

2. Keterampilan proses IPA merupakan keterampilan belajar sepanjang hayat yang dapat

digunakan bukan saja untuk belajar berbagai macam ilmu tetapi juga dapat digunakan dalam

kehidupan sehari-hari.

Sedangkan Semiawan, dkk (1992) mengemukakan alasan karena:

1. Adanya perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat cepat membuat para guru tidak

mungkin lagi untuk mengajarkan semua fakta dan kosep yang ada pada siswanya.
2. Anak-anak akan lebih mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai

contoh konkret.

3. Untuk menanamkan sifat ilmiah dan melatih melakukan penyelidikan ilmiah.

4. Merupakan wahana yang tepat untuk pengembangan konsep dan pengembangan sikap

serta nilai.

Pengertian keterampilan proses dikaitkan dengan keterampilan fisik dan mental yang

terkait dengan kemampuan-kemampuan yang mendasar yang dimiliki, dikuasai dan

diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiah sehingga para ilmuan berhasil menemukan sesuatu

yang baru (Semiawan, dkk, 1992).

Menurut Esler dan Esler (1984) terdapat 8 keterampilan proses dasar dan 5

keterampilan proses terpadu. Keterampilan proses dasar meliputi keterampilan

mengobservasi, mengklasifikasi, mengukur, mengkomunikasikan, menginferensi, memprediksi,

mengenal hubungan ruang dan waktu, serta mengenal hubungan-hubungan angka.

B. KETERAMPILAN MENGOBSERVASI

Keterampilan mengobservasi menurut Esler dan Esler (1984) adalah keterampilan

yang dikembangkan dengan semua indera yang kita miliki untuk mengidentifikasi dan

memberikan nama sifat-sifat dari objek-objek atau kejadian-kejadian. Pendapat tersebut

sejalan dengan pendapat Abruscato (1988) dan Carin (1992). Keterampilan

mengobservasi(keterampilan proses yang paling dasar) merupakan keterampilan yang

dikembangkan dengan semua indera yang kita miliki atau alat bantu indera untuk

mendapatkan informasi dan mengidentifikasi serta memberikan nama sifat-

sifat/karakteristik dari objek atau kejadian.

Memperoleh kemampuan untuk membuat yang teliti akan tidak dilatih untuk

menentukan konsep, tidak dilatih untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

1. Anak-anak akan lebih mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai

dengan contoh konkret

2. Penemuan ilmu pengetahuan bersifat relatif, jadi tidak mutlak benar seratus persen.

Suatu teori dapat tidak berlaku lagi dengan adanya data baru yang mampu membuktikan

bahwa teori tersebut keliru.

3. Dalam pembelajaran, pengembangan konsep seyogianya tidak terlepas dari pengembangan

sikap dan nilai.


Adapun kegiatan yang dapat dilakukan yang berkaitan dengan kegiatan mengobservasi

misalnya menjelaskan sifat-sifat yang dimiliki oleh benda-benda, sistem-sistem dan

organisme hidup. Sifat-sifat yang dimiliki ini dapat berupa tekstur, warna, bau, bentuk,

ukuran, dan lain-lain.

C. KETERAMPILAN MENGKLASIFIKASI

Keterampilan mengklasifikasi menurut Esler dan Esler (1984) merupakan

keterampilan yang dikembangkan melalui latihan-latihan mengkategorikan benda-benda

berdasarkan pada (set yang ditetapkan sebelumnya dari) sifat-sifat benda tersebut.

Menurut Abruscato (1988) klasifikasi merupakan proses yang digunakan para ilmuan

untuk menentukan golongan benda-benda atau kegiatan-kegiatan. Sedangkan Carin (1992)

menyatakan bahwa klasifikasi adalah mengatur atau mebagi objek, kejadian, atau informasi

tentang objek ke dalam kelas menurut metode atau sistem tertentu. Jadi keterampilan

mengklasifikasi merupakan keterampilan yang dikembangkan melalui latihan-latihan

mengkategorikan, menggolongkan, mengatur atau membagi objek/benda/kejadian/informasi

berdasarkan sifat/karakteristik yang dimiliki menurut sistem atau metode tertentu. Skema

klasifikasi umumnya digunakan untuk mengidentifikasi dan untuk menunjukkan persamaan,

perbedaan, dan hubungan-hubungannya. Kegiatan yang dapat dilakukan untuk melatih

keterampilan ini misalnya memilih bentuk-bentuk kertas, yang berbentuk kubus,

gambar-gambar hewan, daun-daun, atau kancing-kancing berdasarkan sifat umumnya.

D. KETERAMPILAN MENGUKUR

Keterampilan mengukur menurut Esler dan Esler (1984) dapat dikembangkan melalui

kegiatan-kegiatan yang berkaitan denganpengembangan satuan-satuan yang cocok dari

ukuran panjang, luas, isi, waktu, berat dan sebagainya. Abruscato (1988) menyatakan bahwa

mengukur adalah suatu cara yang kita lakukan untuk mengukur observasi. Sedangkan menurut

Carin (1992) mengukur adalah membuat observasi kuantitatif dengan membandingkannya

terhadap standar yang konvensional atau standar nonkonvensional. Keterampilan

mengukur merupakan keterampilan membuat observasi secara kuantitatif (terhadap

standar ukuran tertentu) yang dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan yang berkaitan

dengan pengembangan satuan-satuan yang cocok dari ukuran panjang, luas, isi, waktu, berat,

massa, dan lain-lain. Kemampuan mengukur memerlukan kemampuan untuk menerapkan cara

penghitungan dengan menggunakan alat-alat ukur. Proses mengukur lebih melibatkan

pertimbangan tentang menentukan jenis instrument (alat) yang digunakan dan


menentukan saat melakukan perkiraan dari pada melakukan pengukuran secara tepat.

Untuk melakukan latihan pengukuran, tahap pertama dapat menggunakan alat ukur yang

dibuat sendiri atau dikembangkan dari benda-benda yang ada disekitar, sedangkan tahap

selanjutnya dapat menggunakan alat ukur yang telah baku digunakan sebagai alat ukur. Kebiasaan

mengukur secara tepat dapat dikembangkan bila guru menunjukkan bahwa dia menghargai

kebiasaan itu sebagai bagian dari sifatnya. Siswa dapat diajarkan bahwa rata-rata dari

beberapa kali pengukuran merupakan cara terbaik untuk mengukur secara tepat.

KEGIATAN BELAJAR 2

KETERAMPILAN MENGKOMUNIKASIKAN, MENGINFERENSI, MEMPREDEKSI, MENGENAL

HUBUNGAN RUANG DAN WAKTU, DAN MENGENAL HUBUNGAN-HUBUNGAN ANGKA

A. KETERAMPILAN MENGKOMUNIKASIKAN

Menurut Abruscato (1988) keterampialan mengkomunikasikan adalah menyampaikan

hasil pengamatan yang berhasil dikumpulkan atau menyampaikan hasil penyelidikan, yang

dapat dikembangkan dengan cara menghimpun informasi dari grafik atau gambar yang

menjelaskan benda-benda/kejadian-kejadian secara rinci. Komunikasi yang jelas dan tepat

merupakan dasar untuk semua kegiatan ilmiah. Dalam hal mengkomunikasikan sesuatu dapat

disampaikan secara lisan atau tertulis. Adapun hal yang dikomunikasikan dapat berupa

diagram, peta, grafik, persamaan matematika, dan berbagai peragaan visual.

Kemampuan untuk memilih penjelasan tepat tentang benda , organism, dan kejadian

merupakan dasar untuk komunikasi lisan dan tertulis secara efektif. Pelatihan untuk

kegiatan keterampilan ini dapat berupa latihan membuat dan menginteprestasikan

informasi dari grafik, charta, peta, gambar, dan lain-lain. Siswa dilatih untuk

mengembangkan keterampilan mengkomunikasikan dalam hal menjekaskan benda-benda dan

kejadian-kejadian secara rinci. Kemampuan mengkomunikasikan juga dapat dilatih melalui

penugasan untuk menyusun data dari suatu eksperimen ke dalam table atau grafik dan

melaporkan penemuannya kepada teman-temannya. Kegiatan yang lain lagi siswa ditugaskan

untuk menuliskan kejadian alam seperti perubahan cuaca dalam beberapa hari yang terjadi

dilingkungannya, seperti ukuran, bentuk, warna, tekstur dan cara geraknya, beberapa

hewan kecil kemudian ditugaskan untuk menyiapkan carta diagram yang dilengkapi

keterangan yang meperlihatkan bagaimana tumbuhan baru tumbuh dari batang yang di potong

tanpa melalui biji terlebih dahulu.


B. KETERAMPILAN MENGINFERENSI

Keterampilan menginferensi adalah keterampilan membuat kesimpulan sementara dari

yang kita observasi dengan menggunakan logika. Keterampilan ini dapat dikembangkan

dengan latihan-latihan yang mengembangkan lebih dari satu rangkaian keadaan yang

diobservasi. Contoh latihan yang diberikan adalah melakukan observasi terhadap cairan

jernih yang tidak berwarna, kemudian siswa mengidentifikasi bahwa cairan itu adalah air.

Contoh lainnya adalah siswa diminta untuk menyatakan penyebab panas mencairnya es batu

yang ditaruh dalam air.

C. KETERAMPILAN MEMPREDIKSI

Keterampilan memprediksi adalah keterampilan menduga, memprakirakan beberapa

kejadian yang terjadi sekarang, keterampialan menggunakan grafik untuk menyisipkan dan

meramalkan terkaan-terkaan. Prediksi didasarkan pada observasi, pengukuran dan

informasi tentang hubungan variable yang diobservasi. Prediksi yang tidak didasarkan pada

observasi hanya merupakan suatu terkaan. Prediksi yang tepat dapat dihasilkan dari

observasi yang teliti. Contoh kegiatan yang memprediksi lamanya lilin akan menyala.

D. KETERAMPILAN MENGENAL HUBUNGAN RUANG DAN WAKTU

Keterampilan mengenal hubungan ruang dan waktu meliputi keterampilan

menjelaskan posisi suatu benda terhadap benda lainnya atau terhadap waktu. Proses ini

dapat dipecah kedalam bermacam-macam kategori termasuk bentuk arah dan susunan yang

berkaitan dengan ruang waktu, gerak dan kecepatan, kesimetrisan, dan kecepatan

perubahan. Kegiatan untuk melatih keterampilan ini adalah menamakan dan

mengidentifikasi gambar-gambar geometris dua dan tiga dimensi, mengenal bentuk-bentuk

benda tiga dimensi dan bayangannya, membuat pernyataan tentang simetri dari benda-

benda.

E. KETERAMPILAN MENGENAL HUBUNGAN BILANGAN-BILANGAN

Keterampilan mengenal hubungan bilangan-bilangan meliputi kegiatan

menemukan hubungan kuantitatif diantara data dan menggunakan garis bilangan untuk

membuat operasi aritmatik. Menggunakan angka adalah mengaplikasikan aturan-aturan atau

rumus-rumus matematik untuk menghitung kuantitas atau menentukan hubungan dari

pengukuran dasar. Kegiatan yang dapat digunakan untuk melatih keterampilan ini adalah
menentukan nilai pi dengan mengukur suatu rangkaian silinder, menggunakan garis bilangan

untuk prasi penambahan dan perkalian. Latihan-latihan yang mengharuskan siswa

untuk mengurutkan dan membandingkan benda-benda atau data berdasarkan faktor numerik

membantu untuk mengembangkan keterampilan ini.

KEGIATAN BELAJAR 3:

KETERAMPILAN PROSES MEMFORMULASIKAN HIPOTESIS, MENGONTROL VARIABEL,

MEMBUAT DEFINISI OPERASIONAL, MENGINTERPRETASI DATA

Keterampilan proses IPA yang terintegrasi adalah merupakan kombinasi dari

beberapa keterampilan proses dasar IPA. Keterampilan proses IPA terintegrasi meliputi

memformulasikan hipotesis, mengontrol variabel, membuat devinisi operasional

melakukan eksperimen menginterpretasikan data, dan melakukan penyelidikan.

A. MEMFORMULASI HIPOTESIS

Memformulasikan hipotesis berkaitan erat dengan melakukan prediksi. Hipotesis adalah

prediksi yang sangat khusus. Hipotesis meramalkan bagaimana suatu variabel

akan mempengaruhi variabel lainnya. Pada umumnya hipotesis terdiri dari 2 variabel. Salah

satu variabel dapat diubah oleh peneliti yaitu variabel manipulasi merupakan variabel yang

dapat diubah-ubah, sedangkan variabel lainya diobservasi atau diukur untuk mengetahui

sejauh mana variabel tersebut dapat dipengaruhi. Hipotesis sangat berguna bagi orang

yang melakukan penyelidikan karena hanya memuaskan perhatian pada penyelidikan yang

akan kita lakukan. Kebanyakan berkenaan dengan inferensi yang dapat diuji atau percobaan

yang mungkin dapat dilakukan. Hipotesis biasanya diformulasikan dalam bentuk pernyataan

“jika....., maka....”.

B. VARIABEL

Variabel adalah faktor, kondisi dan/atau hubungan antara kejadian-kejadian atau

sistem.

Dikenal ada tiga jenis variabel yaitu variabel yang selalu berubah-ubah atau

variabel bebas (Manipulated Variable, MV), variabel yang merupakan hasil dari variabel

yang diubah-ubah atau variabel terikat ( Responding Variable, RV) dan variabel yang

dikontrol supaya tetap sama selama proses percobaan (Control Variable, CV). Dalam satu

percobaan hanya satu variable yang diubah, sedangkan variabel yang lainnya dibuat tetap atau
sam selam percobaan dilakukan. Variabel yang selalu dibuat tetap atau sama untuk setiap

percobaan disebut variabel kontrol. Oleh karena itu variabel adalah faktor-faktor atau

kondisi yang merupakan bagian dari suatu kejadian.

C. DEFINISI OPERASIONAL

Definisi operasional adalah metode untuk member definisi, mengukur, atau mendeteksi

adanya suatu variabel. Sebagai contoh Anda disuruh membedakan 3 buah definisi

operasional untuk mengukur daya serap dari kertas tisu yang meliputi: mencelupkan,

mengangkat, dan

menuang.

Definisi operasional dari ketiganya adalh sebagai berikut:

1. Definisi operasional mencelupkan adalah jumlah air yang dapat diserap oleh kertas tisu

setelah dimasukkan ke dalam gelas yang berisi air dengan volume tertentu. Volume air yang

diserap adalah volume air mula-mula dikurangi dengan volume air setelah kertas tisu

diangkat.

2. Definisi operasional menyerap/mengangkat adalah volume air yang dapat diserap atau

merambat ke dalam kertas tisu setelah kertas tisu diangkat.

3. Definisi operasional menuang adalah volume air yang dapat diserap oleh kertas tisu setelah

air dituang ke dalam kertas tisu. Volume air yang diserap adalah volume air mula-mula dalam

gelas dikurangi volume air yang tersisa dalam wadah penampung.

D. INTERPRETASI DATA

Membuat hasil pengamatan atau observasi menjadi bermakna disebut interpretasi

data. Interpretasi data biasanya melibatkan organisasi data kedalam tabel atau

gambar/bagan. Interpretasi data juga dapat dilakukan dengan jalan membuat gambar atau

grafik dari hasil pengamatan, biasanya melibatkan usaha-usaha penulisan hasil observasi,

membuat kesimpulan, inferensi/penafsiran dan merekomendasi. Kesimpulan biasanya berkenaan

dengan ringkasan dari hasil pengamatan. Sedangkan inferensi adalah pernyataan umum

yang berfungsi untuk menjelaskan atau membuat kesimpulan menjadi bermakna.

Rekomendasi adalah saran untuk tindakan di masa yang akan datang berdasarkan

kesimpulan dan inferensi yang telah dibuat. Interpretasi data sangat penting untuk

dikuasai karena akan sangat membantu kita dalam memberi makna dan pengertian yang

diperoleh sehingga dapat dikomunikasikan dengan baik


MODUL 6

PEMBELAJARAN IPA TERINTEGRASI

KEGIATAN BELAJAR 1

Pembelajaran Sains Terintegrasi Pengajaran IPA SD mempunyai tujuan antara lain agar

siswa memahami konsep-konsep IPA, mempunyai raa ingin tahu yang tinggi, mampu menggunakan

teknologi sederhana.

Pembelajaran sains teringrasi merupakan sebuah konsep yang dapat di anggap

sebagai suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan konsep-konsep dalam ilmu

pengetahuan untuk memberikan pengalaman belajar menjadi lebih bermakna kepada anak didik.

Ditegaskan oleh Miller (1992: 10) bahwah pembelajaran terpadu merupakan salah

satu mata rantai dari holistic education, memungkinkan anak didik untuk memahami

sebuah fenomena dari beberapa aspek, karena langsung dan aktif terlibat dalam proses,

pengalaman anak didik menjadi lebih bermakna dan selanjutnya anak didik menjadi

lebih peka terhadap lingkunganya. Mc Donald (1994:9) menyatakan bahwa pembelajaran

terpadu melatih dan meningkatkan kemampuan anak didik dalam hal keterampilan

proses, berkomunikasi, memecahkan masalah dan berpikir kritis dan kreatif. Peter (1995:636)

mengemukakan bahwa manfaat pembelajaran terpadu tidak hanya diperoleh anak didik saja

tetapi juga diperoleh guru mata pelajaran yang bersangkutan, yaitu dapat meningkatkan

keterampilan merancang dan mengorganisasi pembelajaran dan membina semangat kerja sama

antara sesame rekan seprofesi. Rober t Fogarty (1991) berpandangan bahwa kelas yang

bersemangat atau hidup adalah kelas yang terdiri dari anak didik dan guru yang saling

berinteraksi dan memiliki gairah serta perhatian dan memberikan kemampuan berpikir secara

interdisiplin.

1. Karakteristik Pembelajaran Terpadu

Sebagai suatu proses pembelajaran terpadu memiliki ciri-ciri sebagaimana yang

dikemukakan oleh Tim Pengembangan PGSD (1997:7) yaitu :

a. Bersifat holistic

b. Berpusat pada anak didik

c. Memberikan pengalaman langsung kepada anak didik

d. Pemisahan topik materi atau bidang studi tidak begitu jelas

e. Menyajikan konsep-konsep dari berbagai topik materi atau bidang studi dalam sebuah

pembelajaran
f. Hasil pembelajaran dapat mendorong perkembangkan anak lebih lanjut dengan minat dan

kebutuhannya

2. Model-model Pembelajaran Terpadu

Robert Fogarty dalam bukunya yang berjudul How to Integrate the Curricula,

menyatakan bahwa pembelajaran terpadu dibedakan ke dalam tiga kelompok berdasarkan

pada sifat keterpaduannya, yaitu:

a. Model dalam satu disiplin ilmu (within single discipline), meliputi model fragmented

connected dan nested

b. Model antar disiplin ilmu (across several discipline), meliputi model sequenced, shared,

webbeb, threaded dan integrated

c. Model lintas lingkup pembelajar (within and across learners) yang mencakup model

immersed.

3. Kelebihan Pembelajaran Terpadu antara lain:

a. Pengalaman dan kegiatan belajar anak-anak selalu relevan dengan tingkat perkembangan

anak

b. Kegiatan yang dipilih sesuai dan bertolak dari minat dan kebutuhan anak

c. Seluruh kegiatan lebih bermakna bagi anak, sehingga hasil belajar akan bertahan lebih

lama

d. Menumbuh kembangkan keterampilan social anak

4. Kelemahan pembelajaran terpadu antara lain:

a. Agak sulit dalam melaksanakan evaluasi materi yang disampaikan

b. Kurang efektif dalam mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang dituntut dalam

kurikulum

c. Bila konsep pembelajaran terpadu tidak dikuasai benar oleh guru, ada kecenderungan

menyajikan materi pengetahuan yang dangkal.

Secara garis besar pembelajaran terpadu dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan

cakupan materi yang akan diintegrasikan, yaitu intrakurikulum dan interdisplin ilmu.

Pembelajaran terpadu intradisplin ilmu mengintegrasikan topik-topik, konsep-konsep yang

terhadap dalam satu rumpun bidang studi misalnya studi misalnya IPA terdiri dari Fisika,

Kimia, dan Biologi walaupun pada kenyataannya untuk pembelajaran IPA di SD tidak ada

pemisahan yang jelas dalam arti tidak ada batas-batas yang jelas antara ketiga bidang tersebut.

Sedangkan pembelajaran terpadu inter disiplin ilmu mengintegrasikan topik atau konsep dalam

disiplin ilmu
KEGIATAN BELAJAR 2

Ada beberapa argument yang dapat dijadikan alasan perlunya penerapan cara

pembelajaran secara inter dan intradisplin ilmu, di antaranya:

1) Pemahaman peserta didik terhadap topik lebih bermakna, karena topik kegiatan yang

disajikan lazimnya berkaitan dengan kehidupan sehari-hari atau dunia anak.

2) Pengembangan keterampilan proses lebih baik karena sajian bahan pelajaran tidak berkotak-

kotak oleh pemilihan mata pelejaran.

3) Menghindari penyajian materi yang berulang yang menyebabkan peserta didik bosan.

4) Memungkinkan penghematan akibat perencanaan yang terpadu dari beberapa topik berbagai

mata pelajaran.

5) Pembelaran akan lebih menarik dan menantang

Langkah alternatif yang dapat kita gunakan

1. Tentukan salah satu bahasan dari GBPP yang dapat dikaitkan dengan bahasan dari mata

pelajaran lain

2. Cari pokok bahasan/subpokok bahasan dalam cawu yang sama dari setiap mata pelajaran

yang berkaitan dengan topic yang akan diajarkan.

3. Buatlah pemetaan kegiatan pembelajaran untuk mempermudah menentukam kegiatan

belajar-mengajar.

Perkembangan dalam pengajaran IPA SD dewasa ini mengalami pergeseran dari

pembelajaran berpusat pada guru ke arah pembelajaran berpusat pada siswa. Dalam

pembelajaran berpusat pada guru, semua aktivitas dilaksanakan oleh guru. Guru

cenderung mendominasi kelas dengan memberikan ceramah, sedangkan siswa hanya sebagai

pendengar setia, sambil mencatat apa yang diucapkan guru.

Secara garis besar pembelajaran terpadu dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan

cakupan materi yang akan diintegrasikan, yaitu intrakurikulum dan ekstrakurikulum.

Pembelajaran terpadu intrakurikulum mengintegrasikan topik-topik yang terdapat dalam

satu rumpun bidang studi misalnya IPA terdiri dari Fisika, Kimia, dan Biologi walaupun pada

kenyataannya untuk pembelajaran IPA di SD tidak ada pemisahan yang jelas dalam arti tidak

ada batas-batas yang jelas antara ketiga bidang tersebut. Sedangkan pembelajaran

terpadu extra kurikulum mengintergrasikan topic atau konsep dalam berbagai.

Pembelajaran terpadu merupakan;

1. Pembelajaran yang beranjak dari suatu tema tertentu sebagai pusat perhatian yang

digunakan untuk memahami gejala-gejala dan konsep lain, baik yang berasal dari bidang

studi yang bersangkutan maupun dari bidang studi lainnya.


2. Suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan berbagai bidang studi

yang mencerminkan dunia nyata.

3. Suatu cara untuk mengajarkan pengetahuan dan keterampilan secara simultan.

4. Merakit atau menghubungkan sejumlah konsep dalam beberapa bidang studi yang

berbeda dengan siswa akan belajar dengan lebih baik.


MODUL 7

EVALUASI PROSES DAN HASIL BELAJAR IPA

A. Kegiatan Belajar 1 ( Evaluasi Pendidikan di SD, Pengertian, Tujuan, Fungsi, dan Prinsip

Evaluasi)

Dalam KTSP disebutkan bahwa: penilaian (evaluasi) bertujuan untuk mengetahui

kemajuan belajar siswa, untuk keperluan perbaikan dan peningkatan kegiatan belajar siswa,

dan untuk memperoleh umpan balik bagi perbaikan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.

Penilaian berarti pengukuran keberhasilan seseorang baik dalam proses pembelajaran

maupun keberhasilan pembelajaran. Yang diukur tidak hanya materi yang dikuasai tetapi juga

dampak materi ini terhadap jenjang proses berpikir, jenjang pengembangan

kepribadian dan jenjang kemampuan keterampilan.



Evaluasi proses adalah pelaksanaan pengukuran yang bertujuan untuk mengetahui apakah tujuan

pembelajaran sudah dicapai. Evaluasi proses sebaiknya dilakukan tertulis agar semua

peserta mendapat kesempatan yang sama mengemukakan jawaban.



Tingkat penguasaan hasil belajar peserta didik akan lebih akurat pengukurannya kalau tes

hasil belajar dilakukan lebih sering.



Menurut bapak pendidikan (Ki hadjar Dewantara), pendidikan memiliki arti yang lebih

luas dari pengajaran. Pendidikan menurut beliau adalah peningkatan kemampuan yang

diperoleh peserta didik tidak hanya dari guru selama belajar tetapi juga dari apa dan siapa

saja (lingkungan) selama peserta didik dalam keadaan bangun (tidak tidur).


B.S. Bloom dan kawan-kawan membuat penjabaran tujuan pendidikan yang disebut Taksonomi

Tujuan Pendidikan yang terdapat 3 kawasan/daerah/ranah, yaitu:

a) Ranah Kognitif (ranah proses berpikir)

b) Ranah Afektif (ranah sikap hidup)

c) Ranah Psikomotor (ranah keterampilan fisik)



Guru dalam proses pembelajaran berupaya untuk memahirkan peserta didik pada

setiap jenjang melalui latihan. Kemahiran di setiap jenjang dapat diukur dengan alat ukur

(tes) untuk mengetahui tingkat kemahiran (kemampuan). Materi (bahan) dan ranah yang harus

dilatihkan berpedoman pada tujuan pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam

Undang-Undang Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006. Tujuan pendidikan yang tercantum

dalam dokumen ini mencakup :

a. Kerangka dasar dan struktur kurikulum yang merupakan pedoman dalam penyusunan

kurikulum pada tingkat satuan pendidikan

b. Beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah

c. Kurikulum tingkat satuan pendidikan yang akan dikembangkan oleh satuan pendidikan

berdasarkan panduan penyusunan kurikulum sebagai bagian tidak terpisahkan dari

standar isi, dan

d. Kalender pendidikan unuk penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan jenjang

pendidikan dasar dan menengah

B. Kegiatan Belajar 2 (Evaluasi Proses Belajar IPA di SD)



Di dalam KTSP tercantum bahwa tujuan mata pelajaran IPA di SD adalah:

1) Memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

2) Memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan, gagasan tentang alam

sekitar.

3) Mempunyai minat untuk mengenal dan mempelajari benda-benda serta kejadian di

lingkungan sekitar.

4) Bersikap ingin tahu, tekun, terbuka, kritis, mawas diri, bertanggung jawab, bekerja

sama, dan mandiri.

5) Mampu menerapkan berbagai konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam dan

memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

6) Mampu menggunakan teknologi sederhana yang berguna untuk memecahkan suatu

masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

7) Mengenal dan memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar, sehingga mempunyai kesadaran

dan keagungan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.



Aspek yang harus dikembangkan dalam proses belajar mengajar IPA, sebagaimana

tercantum dalam Tujuan Pendidikan IPA di SD meliputi ketiga ranah dalam Tujuan

Pendidikan Nasional, yaitu: kognitif, afektif dan psikomotor.



Untuk menentukan keberhasilan suatu proses memerlukan alat ukur. Alat evaluasi proses

pembelajaran IPA yang diperlukan terdiri dari alat evaluasi untuk mengukur kognitif, alat

evaluasi untuk menentukan kualitas hati nurani dan alat evaluasi untuk mengukur

kemampuan keterampilan.

Alat evaluasi untuk mengukur kognitif

Penguasaan ilmu pengetahuan yang disampaikan melalui pembelajaran dapat ditentukan

dengan menggunakan pertanyaan (tes) sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dalam

praktiknya, waktu khusus untuk keperluan evaluasi proses tidak disediakan oleh sekolah

sehingga pelaksanaannya tidak sama dengan evaluasi hasil belajar. Penilaian proses diatur

sendiri oleh guru pada proses pembelajaran berlangsung.

Alat evaluasi untuk menentukan kualitas hati nurani

Pengembangan afektif dimulai dari jenjang terendah yaitu dapat menerima suatu sikap hidup

misalnya: disiplin diperlukan dalam hidup dan kehidupan, contoh operasional adalah disiplin

diperlukan dalam lalu lintas. Selama proses pembelajaran, latihan tentang ranah afektif ini

terus menerus dilaksanakan. Agar latihan ini pada suatu saat memberikan hasil yang baik maka

guru perlu mengembangkan alat evaluasi untuk mengamati sikap hidup peserta didik. Contoh:

upaya melatih peserta didik memiliki disiplin adalah dengan mengamati atau mengobservasi

apakah mereka tepat waktu dalam hal-hal berikut: 1) datang di sekolah/kelas, 2) membayar

SPP, 3) mengikuti upacara sekolah, 4) mengerjakan pekerjaan rumah, 5) mengerjakan tugas

praktikum, 6) mengerjakan kebun sekolah, 7) mengerjakan sholat tepat pada waktunya, 8)

menepati janji, 9) mengembalikan pinjaman pada waktu yang dijanjikan dan

sebagainya.

Alat evaluasi yang akan mengukur keterampilan

Seperti pada proses pembelajaran kognitif dan afektif, proses pembelajaran

keterampilan pada dasarnya sama yaitu melatihkan agar pesera didik terampil menggunakan

panca indranya dalam pembelajaran IPA di SD , melalui demontrasi, percobaan, kunjungan lapang
an, dan sebagainya. Pelajaran IPA melatih peserta didik menggunakan tangan, indera penglihatan,

indera pendengaran, indera pengecap, dan indera penciuman serta peraba tetapi tidak terlalu

banyak melatih kaki.



Penilaian proses pembelajaran yang menyangkut pengembangan psikomotor dan afektif

biasanya dilaksanakan melalui observasi. Hasil penilaian proses digunakan untuk

menentukan kualitas pembelajaran bukan untuk menentukan nilai peserta didik.

C. Kegiatan Belajar 3 (Evaluasi Hasil Belajar IPA di SD)



Pengukuran kemampuan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran meliputi

kemampuan berpikir (kognitif), kemampuan keterampilan (psikomotor) dan kualitas

kepribadian (afektif). Untuk mengukur kemampuan tersebut diperlukan alat ukur (tes)

yang dapat dipercaya yaitu memiliki:

 Validias (ketepatan, kesahihan) yang tinggi

 Keseimbangan sesuai dengan materi yang dipelajari

 Daya pembeda yang minimal cukup

 Objektivitasnya tinggi, dan

 Reliabilitas (ketetapan) yang tinggi



Kisi-kisi pertanyaan dibuat berimbang sesuai dengan pentingnya materi. Melalui kisi-kisi

diupayakan daya pembeda yang minimal cukup karena jumlah soal yang mudah, sedang dan

sukar dibuat berimbang misalkan 25:50:25 atau 30:50:20.



Penilaian hasil pembelajaran IPA berkenaan dengan kognitif menggunakan tes bentuk

objektif atau tes bentuk uraian



Pengembangan keterampilan di laboratorium adalah kegiatan yang tidak terpisahkan dari

kegiatan kognitif dan menjadi tanggung jawab guru IPA untuk melaksanakannya.

Mengukur kemampuan keterampilan menggunakan teknik observasi.



Pengembangan kualitas kepribadian menjadi tanggung jawab semua pihak di sekolah (guru,

kepala sekolah dan tenaga administrasi) oleh sebab itu pengukuran hasil pembinaan peningkatan

kualitas ini dinilai satu kali dala satu periode, akhir catur wulan dan akhir tahun. Kualitas
kepribadaian (nilainya) tidak mungkin digolongkan dengan kemampuan kognitif ataupun

kemampuan keterampilan.
MODUL 8

TELAAH KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN ( KTSP) 2006 DAN

PENJABARANNYA DALAM RANCANGAN PEMBELAJARAN IPA DI TINGKAT

SD / MI

Kegiatan Belajar 1

Penyusunan KTSP dan Rancangan pembelajaran materi esensial di kelas III

A. Pengertian KTSP

Pada KTSP anda dapat mengembangkan kreativitas dalam membelajarkan siswa sampai

tingkat kompetensi yang dituntut. Implementasi KTSP disekolah didasarkan pada peraturan

menteri pendidikan nasional Nomor 22, 23 dan 24 tahun 2006 yang mengharuskan satuan

pendidikan mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan ( KTSP ). KTSP merupakan

kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing–masing satuan

pendidikan.KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan

kurikulum tingkat satuan pendidikan,kalender pendidikan dan silabus.

B. Landasan Implementasi KTSP

Landasan implementasi KTSP adalah :

1. Beberapa aturan

a. Undang–undang republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional Dan

peraturan pemerintah republik Indonesia N0.19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan.

b. Peraturan menteri pendidikan nasional No.24 tahun 2006 tentang pelaksanaan permen diknas

No.23 tahun 2006 ( standar kompetensi lulusan )

c. UU No.20 tahun 2003 tentang sisdiknas ,pasal 36 s.d 38, PP No . 19 tahun 2005 pasal 17 ayat

(2) permen DIKNAS no 24

2. Standar isi

Standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan

pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

3. Standar kompetensi lulusan

Standar kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap,

pengetahuan dan keterampilan sebagaimana yang ditetapkan dengan kepmendiknas No.23 tahun

2006.SKL digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik yang
meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan, kelompok mata pelajaran dan

mata pelajaran.

Perbedaan antara kurikulum 1994 dan kurikulum 2004 :

a. Terjadi pengurangan beban belajar pada kurikulum 2004 dan standar isi secara signifikan jika

dibandingkan dengan kurikulum 1994.

b. Pada kurikulum 1994 materi,alokasi waktu dan penilaian telah terinci sehingga guru tinggal

mengimplementasikan dalam pembelajaran.

c. Mata pelajaran IPS dan IPA pada kurikulum 1994 tidak secara implisit disajikan dalam

struktur kurikulum,sedangkan pada kurikulum 2004 dan standar isi kedua mata pelajaran

tersebut secara implisit tercantum dalam struktur program dengan kompetensi dasar dan

standar kompetensi tersendiri meskipun pendekatan pembelajarannya menggunakan tematis yang

terintegrasi.

d. Pendekatan yang digunakan dikelas I dan II pada kurikulum 2004 dan kelas I, II, dan III pada

standar isi sangat berbeda dengan kurikulum 1994, yaitu pendekatan tematis.

e. Kurikulum 1994 menggunakan sistem caturwulan sedangkan pada kurikulum 2004 dan standar

isi menggunakan sistem semester.

f. Pembentukan sikap dan perilaku siswa pada kurikulum 1994 terintegrasi pada seluruh mata

pelajaran sehingga tidak nampak pada struktur program, sedangkan pada kurikulum 2004

memiliki struktur tersendiri melalui program pembiasaan.

g. Sistem penilaian pada kurikulum 1994 menggunakan penilaian formatif dan sumatif, sedangkan

pada kurikulum 2004 dan standar isi menggunakan penilaian kelas yang mengetengahkan peranan

guru dalam penilaian baik proses maupun hasil.

Hal–hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan KTSP adalah melakukan analisis konteks.

Analisis konteks dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu :

1. Mengidentifikasi standar isi (SI) dan standar kompetensi lulusan (SKL) sebagai acuan.

2. Menganalisis kondisi yang ada disatuan pendidikan yang meliputi peserta didik, pendidik dan

tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, biaya dan program–program.

3. Menganalisis peluang dan tantangan yang ada di masyarakat dan lingkungan sekitar.

KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip–prinsip sebagai berikut :


1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan, peserta didik dan

lingkungannya.

2. Beragam da terpadu

3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.

4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan.

5. Menyeluruh dan berkesinambungan.

6. Belajar sepanjang hayat.

7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah

KOMPONEN KTSP

Komponen KTSP terdiri dari :

1. Visi dan Misi satuan pendidikan.

2. Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan.

3. Struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan.

4. Kalender pendidikan.

5. Silabus

6. Rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP )

Penyusunan komponen KTSP :

1. Mengisi kolom identitas sekolah

2. Merumuskan visi sekolah, visi adalah imajinasi moral yang menggambarkan profil sekolah yang

diinginkan dimasa datang.

3. Merumuskan misi sekolah,misi adalah tindakan atau upaya untuk mewujudkan visi. Misi

merupakan penjabaran dari visi dalam bentuk rumusan tugas, kewajiban, dan rancangan tindakan

yang dijadikan arahan dalam mewujudkan misi.

4. Merumuskan tujuan satuan pendidikan ( sekolah )

5. Menyusun struktur dan muatan kurikulum

Dalam mengembangkan struktur dan muatan kurikulum dituntut untuk mendeskripsikan dan

menetapkan aspek–aspek berikut :

a. Mata pelajaran

b. Muatan local

c. Kegiatan pengembangan diri

d. Pengaturan beban belajar


e. Ketuntasan belajar

f. Kenaikan kelas dan kelulusan

g. Penjurusan

h. Pendidikan kecakapan hidup

i. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global.

SILABUS

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan /atau kelompok mata pelajaran /tema

tertentu yang mencakup standar kompetensi,kompetensi dasar,materi pokok/pembelajaran,

kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu,dan sumber/bahan/alat belajar.

Prinsip pengembangan silabus adalah : Ilmiah, Relevan, sistematis, konsisten, memadai, aktual dan

konstektual, fleksibel dan menyeluruh.

Langkah–langkah pengembangan silabus :

1. Mengisi kolom identifikasi

2. Mengkaji standar kompetensi

3. Mengkaji kompetensi dasar

4. Mengidentifikasi materi pokok

5. Mengembangkan kegiatan pembelajaran.

6. Merumuskan indikator

7. Menentukan jenis penilaian.

Hal–hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan penilaian :

1. Dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi

2. Menggunakan acuan kriteria

3. Menggunakan sistem penilaian berkelanjutan

4. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut

5. Sesuai dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam kegiatan pembelajaran.

8. Menentukan alokasi waktu

9. Menentukan sumber belajar


A. Materi essensial kelas III ( lingkungan sehat dan tidak sehat )

Komposisi udara yang normal adalah nitrogen 78.08% ,oksigen 20.94 %,Argon

0.93%,karbon dioksida = 0.03% dan gas–gas lainnya(0.02%). Komposisi tersebut dinamakan udara

murni. Apabila susunan udara mengalami perubahan dari susunan keadaan normal, maka berarti

udara tercemar. Jadi pencemaran udara adalah perubahan komposisi udara akibat adanya bahan

atau gas lain. Lingkungan sehat merupakan lingkungan yang tidak tercemar, seperti pencemaran

udara, pencemaran air dan pencemaran tanah.pencemaran udara disebabkan oleh debu, asap dan

bau. Pencemaran air dan tanah disebabkan oleh limbah rumah tangga , pabrik, atau kegiatan lain.

Lingkungan tidak sehat merupakan lingkungan yang tercemar, baik udara, air maupun tanah.

Lingkungan yang tidak sehat dapat membangkitkan berbagai penyakit seperti diare, penyakit

pernapasan, penyakit kulit dan paru–paru. Agar lingkungan tetap sehat kita harus membuang

sampah pada tempatnya, memelihara kebersihan lingkungan rumah dan sekolah.

B.Materi esensial kelas IV (Gaya,gerak dan energi)

A. Gaya adalah sesuatu yang dapat menyebabkan suatu benda / makhluk hidup yang dikenainya

mengalami hal–hal berikut :

1. Berubah bentuknya

2. Berubah kecepatannya

3. Berubah arah geraknya

Untuk memahami pengertian gaya, Sir Isaac Newton telah berhasil merumuskannya. Rumus

tersebut terangkum dalam hokum newton, yang intinya:

1. Hukum newton I:

Semua benda cenderung mempertahankan keadaannya, artinya benda yang semula diam, maka

selamanya akan diam. Contohnya mobil mainan akan diam. Contohnya mobil mainan akan diam

selamanya.

2. Hukum Newton II

Suatu benda yang dikenai gaya tetap, maka benda tersebut akan mengalami perubahan kecepatan

yang tetap pula (besar kecepatan atau arah kecepatan). Perubahan kecepatan yang tetap itu

disebut percepatan.

3. Hukum Newton III

Jika benda I memberi gaya (gaya aksi ) kepada benda II, maka benda II juga akan memberi gaya

(gaya reaksi ) kepada benda I, besarnya gaya aksi sama dengan gaya reaksi.
B. Gaya gravitasi

Benda–benda yang berada diatas permukaan bumi akan selalu jatuh ke permukaan bumi. Hal ini

dipengaruhi oleh gaya gravitasi yang mengarah ke pusat bumi. Gaya gravitasi bumi juga disebut

sebagai gaya tarik bumi.

C. Gaya gesek

Gaya gesek terjadi apabila dua buah benda saling bersentuhan dan satu benda bergerak

terhadap benda lainnya ( misalnya satu benda diam ,lainnya bergerak ,kedua bergerak berlawanan

arah ,kedua benda bergerak searah tapi berbeda kecepatannya.

Gaya gesek yang melawan atau menahan gaya tarik / dorong berbeda–beda besarnya,tergantung

pada:

1. Keadaan permukaan benda yang saling bersentuhan.

2. Berat benda yang bergesekan.

D. Gaya pegas

Pegas yang diregangkan atau di mampatkan,akan timbul gaya kearah yang berlawanan dengan arah

gaya yang diberikan.gaya yang timbul tersebut disebut gaya pegas. Gaya pegas timbul karena

adanya sifat elastis / sifat lenting bahan pembuatnya.

E. Gaya listrik

Disekitar benda bermuatan listrik terdapat medan listrik ,demikian juga halnya dengan benda

yang bermuatan listrik statis (tidak mengalir). Benda–benda tertentu yang berada didalam

medan listrik akan ditarik oleh benda bermuatan listrik tersebut.


MODUL 9

MERANCANG PEMBELAJARAN IPA

KEGIATAN BELAJAR 1

MERANCANG PEMBELAJARAN IPA KELAS V

1. Makanan yang kita konsumsi terdiri dari makanan yang mudah dicerna dan sulit dicerna.

2. Proses pencernaan makanan dilakukan oleh alat pencernaan makanan yang dimulai dari

rongga mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, poros, sampai anus tempat sisa.

3. Makanan bergizi adalah makanan yang mengandung zat makanan yang diperlukan oleh

tubuh yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air.

4. Alat pencernaan makanan harus selalu dipelihara kesehatannya, dengan cara makan

dengan teratur, makanan tidak boleh mengandung banyak zat-zat yang merangsang alat

pencernaan makanan, makanan harus mengandung serat dengan cukup, membiasakan buang

air besar setiap hari, minum air dengan cukup, minimal delapan gelas sehari, memeriksakan

diri ke dokter jika merasakan ada kelainan pada alat pencernaan makanan, mengecek kesehatan

alat pencernaan ke dokter secara periodic, misalnya memeriksakan warna feses (kotoran),

kepadatan kotoran, dan saluran pencernaan.

5. Sistem yang berfungsi mengangkut dan mengedarkan zat itu disebut system peredaran

darah. Sedangkan zat yang beredar dan berfungsi mengangkut adalah darah.

6. Darah memiliki fungsi yang sangat penting seperti : pengedar sari -dan hormone, pemberantas

bibit penyakit, penutup luka dan pengatur suhu tubuh.

7. Sistem pernapasan pada manusia dimulai dari udara masuk ke dalam paru-paru melalui

hidung.

8. Dalam tubuh manusia terjadi proses pembakaran yang memerlukan oksigen dan

menghasilkan limbah berupa karbondioksida. Untuk itu diperlukan suatu sistem yang

membantu proses tersebut, yaitu proses pernapasan.

9. Proses pernapasan ada dua macam yaitu pernapasan dada dan pernapasan perut.
KEGIATAN BELAJAR 2

MERANCANG PEMBELAJARAN IPA KELAS VI

1. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dikembangkan sesuai dengan kondisi dan

kemampuan sekolah dengan berpedoman kepada Standar Isi yang ditetapkan melalui

Permendiknas nomor 22 tahun 2006.

2. Agar KTSP mudah diimplementasikan, maka guru harus mengembangkan silabus dan

rencana pembelajaran yang memperinci indicator pencapaian hasil belajar dan

pengalaman belajar.

3. Indikator dikembangkan harus mencerminkan ketercapaian standar kompetensi dan

kompetensi dasar.

4. Pengalaman belajar menjadi sangat penting dalam mengembangkan silabus karena

merupakan aktivitas siswa untuk mencapai standar kompetensi.

5. Pembelajaran yang terencana dan sistematis merupakan salah satu faktor dalam

pencapaian kompetensi dasar sehingga guru perlu menuangkannya dalam Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

6. Pembelajaran IPA tentang perpindahan dan perubahan energi akan efektif jika dalam

pembelajaran siswa diberikan kesempatan menggali dan menciptakan pengalaman melalui

kegiatan-kegiatan yang kreatif dan inovatif.

7. Konsep tentang perpindahan energi seperti konduksi, radiasi dan konveksi akan mudah

dipahami melalui kegiatan percobaan. Demikian juga konsep perubahan energi listrik akan

menjadi konsep yang bermakna bagi siswa bila ditemukan oleh siswa melalui eksperimen

yang eksploratif.

Anda mungkin juga menyukai