Anda di halaman 1dari 16

TUGAS MATA KULIAH

PETROLOGI BATUAN GUNUNGAPI

Oleh :

Nama : Novaldi Yahya Arif Guntara


NIM : 410017032

Menu Tugas :
TEKTONISME DAN MAGMATISME-VULKANISME

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


DEPARTEMEN TEKNIK
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL YOGYAKARTA
2019
Daftar Isi

A. Tektonisme...................................................................................................................................... 3
B. Magmatisme ................................................................................................................................... 8
C. Vulkanisme .................................................................................................................................... 11
D. Hubungan Tektonisme dengan Magmatisme-Vulkanisme ........................................................... 14
A. Tektonisme

Secara umum, tektonisme atau yang juga dapat disebut sebagai tenaga tektonik ataupun
diatropisme merupakan tenaga geologi yang berasal dari dalam bumi ke segala arah baik secara
vertikal atau horizontal yang mengakibatkan pergeseran, pergerakan, pengangkatan dan
perubahan letak lapisan batuan atau kerak bumi dalam skala global, pada umumnya meliputi
patahan, lipatan, dan tektonik lempeng yang membentuk permukaan bumi. Gerakan tektonisme
juga disebut dengan istilah dislokasi.

Menurut konsep isostasi bahwa material kerak bumi mengapung karena kesetimbangan
antara berat material dengan gaya ke atas yang ditopang oleh lapisan fluida (magma). Menurut
teori tektonik lempeng, bahwa litosfer dipandang terdiri dari beberapa lempeng pejal (rigid)
yang bergerak relatif lambat namum secara menerus mengalami pergerakan secara stabil
sebagai akbiat dari adanya pergerakan magma yang bersifat mobile yang ada dilapisan
astenosfer.
Dalam teori tektonik lempeng tersebut, lapisan luar bumi (litosfer) terdiri dari kerak bumi
dan bagian padat mantel atas, yang memiliki kedalaman kira-kira 80 km sedangkan pada
bagian bawah lapisan litosfer terdapat lapisan asthenosfer yang dianggap cukup panas,
sehingga mudah mengalir dan bersifat mobile dan berbentuk fluida (silikat pijar/magma).
Berdasarkan jenisnya, tektonisme terbagi menjadi 2 jenis yaitu:

1. Epirogenesa
Yaitu proses tektonisme yang menggerakan batuan atau kulit bumi dengan area yang luas
atau skala global dengan waktu pergerakan yang relatif lama (perlahan). Arah pergerakan
epirogenesa ini relatif vertikal yaitu dapat bergerak naik ataupun turun atau gerakannya ada
yang keatas atau kebawah. Epirogenesa ini kemudian terbagi menjadi 2 jenis yaitu meliputi:
A. Epirogenesa Positif
Adalah gerakan permukaan bumi secara vertikal yang menuju ke bawah atau penurunan.
Penyebabnya adalah adanya tambahan beban, misalnya adanya sedimen yang sangat tebal di
daerah geosinklinal yang menyebabkan terganggunya kese-imbangan isostasi. Sehingga
seolah-olah permukaan bumi yang ada mengalami penurunan dibandingkan dengan permukaan
air laut pada keadaan semula. Contohnya adalah pada masa Pleistosen yaitu zaman es (glasial)
terjadi perluasan wilayah es ke arah equator dan menghasilkan beban berlebih sehingga
menghasilkan penurunan beberapa daerah.dalam cakupan wilayah yang luas dibandingakn
keadaan semula seperti ilustrasi berikut ini:

Gambar 3. Epirogenesa Positif

B. Epirogenesa Negatif
Adalah gerakan permukaan bumi yang pergerakan vertikanlnya relatif menimbulkan
pergerakan menuju atas atau kenaikan permukaan bumi dalam skala regional dari keadaan awal
sehingga seolah-olah permukaan air laut mengalami penurunan dibandingkan keadaan semula.
Hal ini disebabkan oleh adanya pengurangan beban lapisan kerak bumi misalkan lapisan es
mencair sehingga permukan laut seakan-akan turun. Contohnya meliputi Pantaai Stocckholm,
yang diperkirakan naik rata-rata 1 m/100 tahun, naiknya dataran tinggi di Colorado di Amerika
serta naiknya Pulau Timor dan Pulau Buton di Indonesia. Berikut contoh ilustrasinya:

Gambar 4. Epirogenesa Negatif


2. Orogenesa
Yaitu proses tektonisme yang meliputi area yang relatif sempit dan terjadi dalam waktu
yang singkat dibandingkan proses epirogenesa. Gerakan orogenetik ini dapat menyebabkan
tekanan horizontal dan juga vertikal di kulit Bumi namun dengan skala yang relatif sempit.
Gerak orogenetik ini juga bisa menyebabkan terjadinya dislokasi atau perpindahan letak
lapisan kulit Bumi, seperti lipatan dan juga patahan.

Sehingga jenis ini umumnya juga dikenal sebagai proses pembentukan pegunungan yang
memiliki area relatif sempit, contoh dari gerakan orogenetik ini misalnya adalah pembentukan
pegunungan- pegunungan yang ada di Bumi, seperti Pegunungan Andes, Pegunungan Rocky,
Pegunungan Sirkum Mediterania dan juga Pegunungan Alpen. Adapun kenampakan geologi
hasil proses orogenesa ini meliputi:

I. Lipatan
Proses lipatan atau folded process merupakan suatu bentukan kulit bumi yang berbentuk
lipatan atau gelombang yang terjadi karena adanya tenaga endogen yang arahnya mendatar dari
dua arah yang berlawanan sehingga lapisan- lapisan batuan di sekitar daerah tersebut
mengalami perlipatan dan membentuk puncak lipatan atau antiklin serta lembah lipatan atau
sinklin dari batuan asalnya sebelum terkena gaya tersebut.
Di dunia terdapat beberapa pegunungan hasil lipatan ini misalnya pegunungan tua seperti
Pegunungan Ural ataupun pegunungan muda seperti Pegununga Mediterania dan juga Sirkum
Pasifik bahkan di Indonesia seperti Pegunungan Kendeng

Gambar 5. Ilustrasi lipatan akibat proses orogenesa

II. Patahan

Proses Patahan (Fault Process), terjadi ketika lempeng yang membentuk kerak bumi
bergerak dan saling berdesakan sehingga gerakan tersebut memberi tegangan yang sangat besar
sampai pada akhirnya memecahkan dan mengeserkan batuan atau lapisan kerak bumi. Lokasi
pusat batuan itu terpisahkan disebut patahan (fault), dan alur akibat pecah dan pisahnya batuan
tersebut disebut alur patahan.
Alur patahan yang besar dapat sampai ke batuan dibawah tanah yang dalam dan merentang
sepanjang benua. Selain gempa bumi, patahan dapat terjadi karena adanya tenaga endogen
yang arahnya mendatar dan saling menjauh satu sama lain sehingga pada bongkah batuan
terjadi retakan-retakan dan pada akhirnya patah membentuk bagian yang merosot dan bergeser
yang biasa disebut sebagai graben atau slenk sedangkan bagian yang menonjol disebut horst.

Salah satu relief geologis terkenal di dunia adalah Patahan San Andreas yang membelah
Pantai Pasifik di California, Amerika Serikat, panjang patahan horizontal ini sejauh 1.200 km.
Berikut contoh patahan sebagai hasil pergerakan orogenesa:

Gambar 6. Patahan merupakan bentukan alam akibat


pergerakan lempeng membentuk graben dan horst.

Sedangkan bila ditinjau dari arah atau jenis pergerakanya secara umum tektonisme ini dibagi
menjadi 3 arah yaitu:

A. Pergerakan lempeng saling mendekat ( Konvergen )


Pergerakan lempeng yang saling mendekat dapat menyebabkan terjadinya tumbukan
dengan berbagai hasil produk yang bervariasi (tergantung jenis benua yang saling bertemu)
meliputi pertemuan antara lempeng benua dengan benua akan menyebabkan terjadinya
tubrukan lempeng benua yang akan menyebabkan sebuah pegunungan tinggi yang disebut
dengan collision, antara lempeng samudera dengan lempeng samudera akan menyebabkan
terjadinya pulau pulau gunungapi ( island arc ) serta lempeng benua dengan lempeng samudera
yang salah satu lempengnya akan menunjam ke bawah tepi lempeng yang lain (Zona Subduksi)
dan daerah penunjaman tersebut membentuk palung yang dalam dan merupakan jalur gempa
bumi yang kuat. Serta bagian belakang jalur penunjaman tersebut akan terbentuk aktivitas
vulkanisme dan terbentuknya cekungan pengendapan yang disebut sebagai Vulcanic Arc.
Contoh pergerakan lempeng ini di Indonesia adalah pertemuan Lempeng Indo-
Australia dan Lempeng Eurasia. Pertemuan kedua lempeng tersebut menghasilkan jalur
penunjaman di selatan Pulau Jawa, jalur gunung api di Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara,
serta berbagai cekungan di Sumatra dan Jawa. Batas antar lempeng yang saling mendekat
hingga mengakibatkan tumbukan dan salah satu lempengnya menunjam ke bawah lempeng
yang lain yang disebut batas konvergen atau batas lempeng destruktif.

B. Pergerakan lempeng saling menjauh ( Divergen )


Pergerakan lempeng yang saling menjauh akan menyebabkan penipisan dan peregangan kerak
bumi hingga terjadi aktivitas keluarnya material magma baru yang membentuk jalur
vulkanisme. Meskipun saling menjauh, kedua lempeng ini tidak terpisah karena di belakang
masing-masing lempeng terbentuk kerak lempeng yang baru. Proses ini berlangsung secara
kontinu (menerus) dan perlahan hingga akhirnya terbentuk gunungapi pada zona lemah
tersebut. Contoh hasil dari pergerakan lempeng ini adalah terbentuknya gunung api di tengah
laut akibat pemekaran kerak samudera (Mid-Oceanic Ridge) serta pemekaran kerak benua.
Seperti pada punggung tengah samudra di Samudra Pasifik dan Benua Afrika. Batas antar
lempeng yang saling menjauh hingga mengakibatkan terjadinya perluasan punggung samudra
disebut batas divergen atau batas lempeng konstruktif.

C. Pergerakan lempeng saling sejajar ( Transform )


Pergerakan lempeng yang saling melewati terjadi karena gerak lempeng sejajar dengan arah
yang berlawanan sepanjang perbatasan antarlempeng. Pada pergerakan ini kedua perbatasan
lempeng hanya bergesekan. Oleh karena itu, tidak terjadi penambahan atau pengurangan luas
permukaan. Namun, gesekan antarlempeng ini kadang-kadang dengan kekuatan dan tegangan
yang besar sehingga dapat menimbulkan gempa yang besar. Contoh hasil dari pergerakan
lempeng ini adalah patahan San Andreas di Kalifornia. Patahan tersebut terbentuk karena
Lempeng Amerika utara bergerak ke arah selatan, sedangkan Lempeng Pasifik bergerak ke
arah utara. Batas antar lempeng yang saling melewati dengan gerakan yang sejajar disebut
batas menggunting (shear boundaries).
Berikut ini contoh dari ketiga jenis pergerakan lempeng tersebut beserta hasil produk yang akan
dibentuknya:

Gambar 7. Persebaran 3 jenis tektonisme berdasarkan


arah pergeseranya.

B. Magmatisme

Secara definisi, magmatisme merupakan rangkaian proses kegiatan magma milai dari
pembentukan magma awal (peleburan), aktivitas magma didalam perut bumi hingga proses
pergerakan magma yang merubah relief muka bumi akibat produk yang dihasilkanya.
Magmatisme sendiri tidak terlepas dari aktivitas tektonik yang ada diseluruh bagian bumi ini,
hal tersebut semakin terkuatkan oleh adanya teori yang dikemukakan oleh para ahli.
Lokasi-lokasi pembentukan magma inilah yang menjadi model-model setting tektonik,
Magma terbentuk karena adanya perubahan tiga parameter utama, yaitu temperatur, tekanan,
dan komposisi kimia. Berdasarkan konteks tektonik global, lokasi terbentuknya magma dapat
dibedakan menjadi (Wilson, 1989) :
1. Batas lempeng konstruktif, merupakan batas lempeng divergen yang meliputi rekahan
tengah samudera dan back-arc spreading.
2. Batas lempeng destruktif, merupakan batas lempeng konvergen yang meliputi busur
kepulauan (island arc) dan tepi benua aktif (active continental margin).
3. Tatanan antar lempeng samudera, meliputi busur samudera.
4. Tatanan antar lempeng benua, meliputi continental flood basalt, zona rekahan benua.

Dalam perkembanganya, dalam magmatisme ini berdasarkan genesis serta lokasinya


terbagi menjadi 7 magmatism arc (busur magmatisme) meliputi:

A. Mid-Oceanic Ridge ( MOR )

Merupakan zona dimana lempeng samudera mengalami pergerakan divergen (saling


mejauhi) yang megakibatkan adanya pemekaran kerak samudera. Hal tersebut disebabkan oleh
adanya zona lemah yang terterobos oleh magma yang naik kepermukaan sebagai akibat adanya
arus konveksi yang ada pada astenosfer (lapisan bumi yang tersusun oleh fluida magma).
Hingga kemudian terjadi pemekaran kerak samudera yang akan menyebabkan pergerakan
lempeng samudera mendekati lempeng benua dan terbentuknya gunungapi bawah laut yang
umumnya memiliki magma bersifat basa hingga ultrabasa.

B. Volcanic Arc ( Busur Gunungapi )

Merupakan busur magmatisme yang merupakan produk dari pergerakan lempeng


konvergen antara lempeng samudera dan lempeng benua (zona subduksi) akibat menunjamnya
lapisan kerak samudera yang relatif lebih berat (SiMg) dibanding kerak benua (SiAl). Gejala
ini biasanya di perlihatkan oleh jajaran gunung api di atas lempeng benua sebagai akibat dari
dorongan arus konveksi dari selubung dan membentuk deretan busur gunungapi yang berjajar
sebagai produk magmatismenya. Produk magma yang dihasilkan pada tipe ini umumnya
adalah magma intermediet.

C. Hotspot (Oceanic Island )

Merupakan busur magmatisme dimana magma menerobos ke atas melalui arus konveksi tanpa
pergerakan lempeng yang terjadi di lantai samudra. Di interpretasikan bahwa zona
magmatisme ini termasuk zona lemah sehingga magma dapat menerobos ke atas membentuk
rangkaian struktur vulkanik ataupun gunung api baru. Hal ini juga merupakan efek dai
keberadaan MOR sehingga terjadi pemekaran kerak benua dan menipiskan / melemahkan zona
zona ini sehingga terterobos magma dan jenis magma yang dihasilkan adalah magma basaltis.
Contoh keberadaanya adalah seperti pulau Hawaii yang merupakan pulau gunungapi akibat
adanya hotspot ini.

D. Island Arc
Sama halnya dengan proses yang terjadi pada pembentukan busur magmatis volcanic arc
yaitu pertemuan antara dua lempeng namun bedanya adalah pada island arc lempeng yang
bertumbuk adalah dua lempeng samudra dimana salah salah satu lempeng mununjam ke bawah
menuju astenosfer kemudian meleleh pada suhu tertentu yang menyebabkab arus konveksi ke
atas yang mendorong lapisan di atasnya. Sehingga gejalanya diperlihatkan oleh terbentuknya
pulau-pulau di tengah samudra dan juga gunung api kecil yang berjejer sebagai akibat
pergerakan megmatisme ini. Jenis magma yang di hasilkan di busur magmatisme ini adalah
magma bertipe basaltis.

E. Back Arc Basin

Merupakan busur magmatisme yang terbentuk sebagai hasil sampingan dari zona
subduksi,yaitu pertemuan lempeng benua dan lempeng samudra dimana lemepeng samudra
tertekuk ke bawah menyusup di bawah lempeng benua menuju astenosfer. Gejala ini
diperlihatkan oleh menipisnya kerak dan suatu bukaan cekungan yang melengkung. Oleh
karena itu disebut sebagai cekungan belakang zona subduksi. Sehingga jenis magma yang di
hasilkan pada busur ini adalah magma intermediet hasil percampuran serta proses diferensiasi
magma dari zona subduksi.

F. Continental Rift Zone

Merupakan tipe busur magmatisme yang dihasilkan oleh proses yang terjadi pada zona ini
mirip dengan proses pada busur MOR yaitu pembentukan yang dikontrol oleh pergerakan
divergen namun pada zona ini pergerakan lempenng yang saling menjauh adalah dua lempeng
benua. Gejala yang di perlihatkan adalah terbentuknya gunung-gunung api muda dan kecil-
kecil di atas dataran benua. Jenis magma yang di hasilkan adalah jenis magma asam.

G. Continental intraplate ( hotspot )

Sedangkan continental interpolate ini prosesnya sama seperti pada proses pembentukan busur
magmatisme pada oceanic island pada busur continental drift juga terbentuk akibat erupsi
langsung oleh magma yang naik ke atas akibat arus konveksi dari selubung Namun pada busur
magmatisme ini terjadi pada lempeng benua. Gejala yang ditimbulkan juga sama yaitu berupa
struktur vulkanik dan gunung api tanpa adanya tumbrukan dan hanya disebabkan oleh naiknya
magma melalui zona lemah (graben-horst) yang ada sehingga terbentuk bentukan gunungapi
baru ini. Dan magma yang dihasilkan adalah magma asam.
Berikut contoh persebaran 7 busur magmatisme ini pada lapisan bumi:

Gambar 8. Ilustrasi busur magmatisme yang ada dibumi.

C. Vulkanisme

Vulkanisme merupakan semua peristiwa yang berhubungan dengan magma yang keluar
mencapai permukaan bumi melalui retakan dalam kerak bumi atau melalui sebuah pita sentral
yang disebut terusan kepundan atau diatrema.Magma yang keluar sampai ke permukaan bumi
disebut lava dan bila terjadi secara kontinyu akan menyebabkan bentukan baru roman muka
bumi yang dikenal sebagai gunungapi. Magma dapat bergerak naik karena memiliki suhu yang
tinggi dan mengandung gas-gas yang memiliki cukup energi untuk mendorong batuan di
atasnya. Sehingga proses vulkanisme ini juga dapat dikatakan sebagai proses lanjutan dari
adanya proses tektonisme dan magmatisme yang ada dibumi sehingga memiliki suplai magma
yang melimpah yang kemudian mengalami proses vulkanisme ini.
Di dalam litosfer magma menempati suatu kantong yang disebut dapur magma.
Kedalaman dapur magma merupakan penyebab perbedaan kekuatan letusan gunung api yang
terjadi. Pada umumnya, semakin dalam dapur magma dari permukaan bumi, maka semakin
kuat letusan yang ditimbulkannya. Lamanya aktivitas gunung api yang bersumber dari magma
ditentukan oleh besar atau kecilnya volume dapur magma. Dapur magma inilah yang
merupakan sumber utama aktivitas vulkanik.
Berikut hasil produk kegiatan vulkanisme ini meluputi:

Gambar 9. Ilustrasi jenis vulkanisme yang ada dibumi.

1. Tipe Intrusi magma

Hasil dari vulkanisme yang pertama adalah intrusi magma. Yang dimaksud dengan intrusi
magma merupakan aktivitas terobosan magma ke dalam lapisan- lapisan litosfer namun
terobosan magma tersebut tidak sampai ke permukaan Bumi. Sehingga dalam aktivitas intrusi
magma ini kita tidak akan bisa menyaksikannya karena terjadi di dalam perut Bumi. Dan oleh
peristiwa intrusi magma ini tidak ditemui adanya lava, karena magma yang keluar tidak
mencapai ke permukaan Bumi. Adapun gejala intrusi magma ini dapat dibagi menjadi lima
macam. Macam- macam dari intrusi magma antara lain sebagai berikut:

A. Batolit yaitu bentuk atau jenis dari intrusi magma yang pertama adalah batolit.
Batolit merupakan batuan beku (baca juga: batuan sedimen dan batuan
metamorf) yang terbentunya di dalam dapur magma. Batolit ini terbentuk
sebagai akibat dari penurunan suhu yang terjadi sangat lambat
B. Lakolit yaitu jenis atau bentuk dari intrusi magma yang kedua adalah lakolit.
Yang dimaksud dengan lakolit yakni merupakan magma yang menyusup di
antara lapisan- lapisan batuan yang menyebabkan lapisan batuan yang berada
di atasnya menjadi terangkat sehingga akan menyerupai lensa cembung.
Sementara permukaan yang berada di atasnya tetap rata atau datar.
C. Sill merupakan bentuk intrusi magma yang selanjutnya adalah Sill. Sill adalah
lapisan magma yang tipis yang menyusup di antara lapisan- lapisan batuan yang
ada di bawah permukaan bumi. Ya, karena intrusi magma sendiri merupakan
istilah yang menggambarkan kegiatan material- material yang ada di bawah
permukaan bumi
D. Diaterma ialah bentuk intrusi magma yang selanjutnya atau yang keempat
adalah diaterma. Diatrema merupakan batuan yang mengisi pipa letusan. Pipa
letusan sendiri mempunyai bentuk silinder, yang terdapat mulai dari dapur
magma sampai dengan ke permukaan Bumi. Kita bisa membayangkan betapa
panjangnya pipa letusan ini. Pipa letusan juga merupakan jalan atau pengubung
yang menghubungkan antara magma yang ada di dapur magma dengan
permukaan Bumi. Pipa letusan ini biasanya terdapat di dalam gunung berapi
yang masih aktif. Pipa ini berupa tabung memanjang yang berasal dari dapur
magma hingga tembus ke mulut gunung berapi, dan apabila magma keluar maka
disebut dengan erupsi
E. Intrusi Korok atau Gang merupakan korok atau yang disebut juga dengan
gang adalah batuan hasil intrusi magma yang memotong lapisan- lapisan litosfer
yang berbentuk pipih atau berbentuk lempeng.

2. Tipe Ekstrusi Magma

Sedangkan hasil dari vulkanisme yang selanjutnya adalah ekstrusi magma. Ekstrusi magma
merupakan proses keluarnya magma dari dalam Bumi dan sampai ke permukaan
Bumi. Perbedaan intrusi dan ekstrusi magma adalah pencapaian magma yang keluar. Jika
intrusi magma, magma tidak sampai di permukaan Bumi. Namun ekstrusi magma, magma
sudah mencapai ke permukaan Bumi. Aktivitas ekstrusi magma ini akan mengeluarkan
berbagai material. Beberapa material yang dikeluarkan dari aktivitas ekstrusi magma antara
lain adalah:

 Lava, yakni magma yang keluar sampai ke permukaan Bumi dan mengalir hingga ke
permukaan Bumi.
 Lahar, yaitu material campuran antara lava dan juga materi- materi yang terdapat di
permukaan Bumi berupa pasir, kerikil atau bahkan debu dengan air sehingga membentuk
lumpur.
 Eflata dan piroklastika, yakni material padat berupa bom, lapili, kerikil, dan juga debu
vulkanik.
 Ekhalasi atau gas, yakni material berupa gas asam arang, seperti fumarol yakni uap air dan
zat lemas), solfatar atau sumber gas belerang, dan mofet gas asam arang.

D. Hubungan Tektonisme dengan Magmatisme-Vulkanisme

Secara genesis, bila melihat dari proses tektonisme hingga proses vulkanisme yang ada
dibumi dapat dikatakan bahwa ketiga proses ini merupakan sebuah rangkaian yang panjang
dimana bila ditarik benang merah, rangkaian ini dimulai dengan adanya proses tektonisme yang
disebabkan oleh adanya arus konveksi yang membuat magma yang ada dilapisan asteniosfer
naik menuju kepermukaan melalui zona lemah yang ada di Mid-Oceanic Ridge (MOR) dan
terjadi proses pemekaran kerak samudera yang bertipe basaltic (sifat magma SiMg).

Kemudian berlanjut menjadi beberapa proses magmatisme lain yang ada dibumi meliputi
7 busur magmatisme baik itu zona subduksi yang terjadi akibat proses konvergen (mendekati)
antara 2 lempeng yaitu lempeng samudera hasil pemekaran lempeng samudera tersebut
mendekati lempeng benua dan menyebabkan terbentuknya busur vulkanik (volcanic arc)
dengan tipe magma intermediet hasil penunjaman dan peleburan kedua lempeng tersebut
seperti yang ada diselatan pulau sumatera dan jawa yang berjejer sepanjang barat-timur kedua
pulau tersebut.

Divergen (menjahui) seperti yang terjadi didaerah MOR serta daerah pemekaran kerak
benua yang menyebabkan saling menjauhinya lempeng benua dan menyisakan zona lemah
yang kemudian mudah diterobos oleh kegiatan magmatisme dan menyebabkan terjadinya
proses vulkanisme menjadikan darah lemah tersebut sebagai bentukan vulkanik baru berupa
gunungapi yang bersifat asam (sifat lempeng benua adalah asam / SiAl) ataupun transform
(bergesekan) yang ada di lapisan kerak bumi ( kerak benua dan kerak samudera ) dan berlanjut
mengalami proses vulkanisme sehingga produk magmatisme yang berupa magma tersebut
dapat keluar ke permukaan bumi melalui proses vulkanisme seperti ilustrasi yang ada dibawah
ini:
Gambar 10. Ilustrasi hubungan proses tektonisme dengan proses magmatisme dan proses
vulkanisme yang ada dibumi.
Sehingga ketiga proses endogen tersebut merupakan sebuah rangkaian yang saling
terjadi berkaitan dengan proses pembentukan magma baik itu karena magma asal itu sendiri
ataupun pelebutan hasil lapisan kerak bumi yang disebabkan oleh kegiatan tektonisme yang
kemudian memiliki produk berupa magma dan kegiatan magmatisme yang memicu terjadinya
proses vulkanisme yang ada dibumi sehingga menyebabkan bnaykanya busur magmatisme
yang adadibumi beserta proses vulkanisme yang mengikutinya.
Daftar Pustaka

1. http://id.wikipedia.org/wiki/Tektonisme (Diakses pada tanggal 19 Maret 2019 pukul 20.25


WIB)
2. http://id.wikipedia.org/wiki/Subduksi (Diakses pada tanggal 20 Maret 2019 pukul 22.10
WIB)
3. http://en.wikipedia.org/wiki/Island_arc (Diakses pada tanggal 20 Maret 2019 pukul 22.40
WIB)
4. https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/gunung/pengertian-vulkanisme (Diakses pada
tanggal 21 Maret 2019 pukul 21.20 WIB)
5. https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/geomorfologi/pengertian-tektonisme (Diakses pada
tanggal 21 Maret 2019 pukul 22.00 WIB)
6. http://geomagz.geologi.esdm.go.id/petrogenesa-magma-busur-di-indonesia-dan-
aplikasinya/ (Diakses pada tanggal 21 Maret 2019 pukul 22.23 WIB)