Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Pelabuhan merupakan salah satu aset penting suatu daerah yang berfungsi sebagai tempat
berlabuhnya kapal sekaligus sebagai tempat untuk melakukan kegiatan bongkar muat
barang, kebutuhan masyarakat dan industri serta sebagai tempat pelayanan penyeberangan
penumpang baik domestik maupun internasional . Pelabuhan juga dapat berperan sebagai
pintu gerbang transportasi penyebaran penyakit dan merupakan ancaman penyakit global
atau masalah kesehatan internasional (PHEIC). Kapal yang sandar di pelabuhan harus
terbebas dari faktor risiko lingkungan dengan cara mempertahankan kondisi kesehatan kapal
sehingga tidak dijadikan tempat berkembang penyakit dan vektor penular penyakit .
Mobilitas yang tinggi sebuah kapal dari suatu daerah ke daerah lain ataupun dari suatu
negara ke negara lain menyebabkan kapal dapat menjadi sarana perpindahan vektor penyakit
dari suatu daerah ke daerah lain . Perlu adanya sistem kewaspadaan dini yang dapat
diterapkan di pelabuhan agar dapat melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap
penyakit yang berpotensi KLB. Salah satu institusi yang erat hubungannya dengan masalah
ini adalah Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang merupakan unit organisasi yang
bertugas melaksanakan pencegahan masuk dan keluarnya penyakit, penyakit potensial
wabah, surveilans epidemiologi, kekarantinaan, pengendalian dampak kesehatan
lingkungan, pelayanan kesehatan ,serta pengamanan terhadap penyakit yang muncul
kembali, dan lintas batas negara salah satu instansi ini memiliki peran strategi dalam
pencegahan dan penanggulangan penyakit antar negara. Sanitasi adalah suatu usaha
pencegahan penyakit dengan mengendalikan faktor – faktor lingkungan yang merupakan
mata rantai penularan penyakit . Sanitasi kapal adalah segala usaha yang ditujukan terhadap
faktor lingkungan di dalam kapal untuk memutuskan mata rantai penularan penyakit guna
menjaga derajad kesehatan . Sanitasi kapal merupakan salah satu faktor yang sangat penting
dalam mendukung pengawasan kesehatan khususnya anak buah kapal di dalamnya maupun
masyarakat pada umumnya. Kondisi sanitasi kapal yang baik akan menurunkan risiko

1
gangguan kesehatan dan sebaliknya kondisi sanitasi kapal yang buruk akan mempertinggi
risiko gangguan kesehatan pada anak buah kapal.

2. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud kesehatan pelabuhan ?


2. Bagaimana epidemiologi di kesehatan pelabuhan ?
3. Apa saja unsur unsur kesehatan pelabuhan ?
4. Apa saja faktor yang memengaruhi kesehatan pelabuhan ?
5. Bagaimana peran tenaga kesehatan dalam kesehatan pelabuhan ?
6. Apa saja kasus-kasus yang sering terjadi dalam pelabuhan ?
7. Bagaimana cara menangani kasus yg terjadi ?
8. Apa saja Jenis pelayanan yang dilakukan pada kesehatan pelabuhan ?

2
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Kesehatan Pelabuhan

Pelabuhan merupakan salah satu aset penting suatu daerah yang berfungsi sebagai tempat
berlabuhnya kapal sekaligus sebagai tempat untuk melakukan kegiatan bongkar muat barang,
kebutuhan masyarakat dan industri serta sebagai tempat pelayanan penyeberangan penumpang
baik domestik maupun internasional. Pada saat ini pelabuhan tidak hanya berfungsi sebagai pintu
keluar masuk barang, lebih dari itu sudah merupakan sebagai sentra industri, pusat perdagangan
dan pariwisata yang banyak menyerap tenaga kerja. Mobilisasi yang tinggi dari aktivitas di
pelabuhan, secara otomatis penyebaran penyakit akan semakin cepat dan beragam, sehingga
akan berpotensi menimbulkan dampak yang merugikan bagi pencapaian tujuan pembangunan
kesehatan nasional.

Kesehatan Pelabuhan adalah segala upaya tenaga kesehatan di pelabuhan dalam


mencegah masuk dan keluarnya penyakit, penyakit potensial wabah (melalui kegiatan surveilans
epidemiologi, kekarantinaan, pengendalian dampak kesehatan lingkungan), pelayanan kesehatan,
pengawasan Obat, Makanan, Kosmetika, Alat Kesehatan dan Bahan Adiktif (OMKABA) serta
pengamanan terhadap penyakit baru dan penyakit yang muncul kembali, bioterorisme, unsur
biologi, kimia dan pengamanan radiasi di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas
darat negara.

2. Prevalensi

Masalah kesehatan yang semakin kompleks seiring dengan perkembangan teknologi


transportasi. Menyebabkan kecepatan waktu tempuh perjalananantar negara melebihi masa
inkubasi penyakit. Berdasarkan data profil Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas III Sampit, dari
kedatangan kapal dalam kurun waktu 2009 sampai 2011, terdapat 78 kedatangan kapal dari luar
negeri pada tahun 2009, pada tahun 2010 sebanyak 69 kapal dan tahun 2011 sebanyak 71 kapal.
Kapal dari luar negeri yang berlabuh di wilayah kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas III

3
Sampit berasal dari kawasan Asia di antaranya China, Hongkong, Taiwan, Singapura, Vietnam,
Malaysia dan Thailand. Pada tahun 2005 Vietnam, Thailand dan China merupakan negara
terjangkit Avian Influenza (Depkes 2007c).
Di Indonesia sampai akhir bulan Mei tahun 2008 menunjukkan kecenderungan penurunan
kasus. Pada bulan Mei tahun 2008 terdapat 2 kasus positif Avian Influenza, menunjukkan
penurunan 50% di banding 4 kasus Avian Influenza pada bulan Mei tahun 2007. Serta penurunan
tajam yaitu 88,8% dibanding 18 kasus Avian Influenza pada bulan Mei tahun 2006. Meski
demikian kasus Avian Influenza sejak tahun 2005 sampai bulan Desember tahun 2012 berjumlah
192 kasus dengan 160 kematian (Depkes, 2008c; Kemenkes RI, 2012b).

3. Unsur-Unsur Kesehatan Pelabuhan


A. Unsur Utama Kekarantinaan Kesehatan
1. Pengawasan Kesehatan Alat Angkut, Orang, dan Barang dan/atau Pelayanan
Dokumen Kesehatan
2. Tindakan Karantina
B. Unsur Utama Surveilans Kesehatan
1. Laporan
2. Diseminasi Informasi
C. Unsur Utama Pengendalian Faktor Resiko Lingkungan
1. Inspeksi Kesehatan Lingkungan
2. Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit
D. Unsur Utama Pelayanan Kesehatan
1. Pelayanan Kesehatan Dasar
2. Vaksinasi dan Profilaksis
E. Unsur Utama Sumber Daya Manusia Teknis
1. SDM Teknis
F. Unsur Penunjang Sumber Daya
1. Keuangan
2. Sumber Daya Manusia Adminstrasi
3. Tanah dan Bangunan
4. Sarana Operasional

4
4. Faktor yang memengaruhi Kesehatan Pelabuhan

Ancaman penyakit masuk melalui pintu menjadi tantangan yang besar untuk Indonesia.
Karena itu, upaya cegah tanggal penyakit potensial wabah di pintu gerbang negara harus terus
menerus diperkuat dan ditingkatkan. Sebagaimana kita ketahui pada abad ke-20 lalu terjadi tiga
kali pandemi Influenza dan tidak jarang episenternya muncul di lokasi yang tidak terduga,.

Potensi penularan melalui pelabuhan sangat memungkinkan terjadi, bisa menjadi


pandemi dengan kategori importasi penyakit datang dari luar negeri, tambah Dirjen P2P
Kemenkes.
Penyakit menular telah menjadi permasalahan global. Dalam 2 dekade terakhir, komunitas global
menghadapi tantangan terkait penyebaran mikroorganisme yang menyebabkan berbagai kejadian
luar biasa (KLB) penyakit menular. Globalisasi penyakit menular akan sangat berpengaruh
terhadap human security. Hal ini tidak hanya menyebabkan penderitaan masyarakat di berbagai
negara, namun juga akan mengurangi kepercayaan publik terhadap negara, yang kemudian akan
berpengaruh terhadap legitimasi negara yang bersangkutan, melemahkan dasar ekonomi,
perubahan tatanan sosial dan ketidakstabilan regional.

Apabila terjadi pandemi, tentu akan mempengaruhi semua negara di dunia. Sejumlah
besar kematian akan terjadi, persediaan medis menjadi tidak memadai, dan situasi nasional
terganggu. Semua negara tentunya harus siap menghadapi tidak terkecuali Indonesia, terang
Dirjen P2P Kemenkes.

1. Arus Penumpang
Arus penumpang harus mendapatkan pelayanan khusus, sebab arus penumpang ini adalah
manusia yang bias melakukan protes, klaim, atau menjadi marah dan emosional jika mendapat
perlakuan yang tidak layak atau kurang memuaskan.
Arus penumpang juga berpotensi menjadi moda pembawa virus/bakteri serta berpotensi
melakukan berbagai illegal activities. Oleh karena itu, mereka harus diantisipasi dengan aktivitas
pelayanan kesehatan dari pihak port health center (PHC).
Selain memberi manfaat sebagai pintu masuk alat angkut, orang dan barang, pelabuhan juga
dapat membawa potensi dampak negatif khususnya terkait penyebaran penyakit yang berpotensi
wabah atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).

2. Arus Hewan dan Produk Asal Hewan


Pelabuhan laut bukan hanya pintu keluar-masuknya barang dan manusia, namun juga menjadi
pintu keluar-masuknya arus berbagai jenis hewan, antara lain sapi, kerbau, kuda, kambing, ayam,
babi, dan lainnya. Yang mana banyak dari hewan-hewan tersebut yang bias menularkan
virus/bakteri.

5
3. Arus Tumbuhan dan Produk Asal Tumbuhan
Berbagai jenis tumbuhan, baik berbentuk bibit/pohon tumbuhan, juga melalui pelabuhan laut.
Kapal yang datang dengan muatan puluhan ribu ton biji gandum curah kemungkinan membawa
serangga, kutu-kutu serangga, maupun telur-telur serangga yang masih aktif dalam jumlah besar.
Jika Balai Karantina Tumbuhan setempat tidak jeli dan teliti dalam melakukan pemeriksaan
maka kutu kutu tersebut bias terbang dan berkembang biak di hutan hutan serta mengancam
tanaman padi di seluruh negeri.

4. Arus Virus, Bakteri, Kutu, Serangga, dan Sejenisnya


Lalu lintas hewan, manusia, maupun tumbuhan tentu berpotensi membawa berbagai arus virus.
Contohnya beberapa waktu yang lalu arus manusia atau penumpang yang berasal dari Hongkong
ternyata membawa “oleh-oleh” yang sangat ditakuti, yaitu virus/bakteri flu hongkong. Hewan
pun begitu Impor hewan peliharaan seperti kucing, anjing, dan kera dari luar negeri juga
berpotensi membawa virus/bakteri anjing gila, kera gila, kucing gila. Selain itu impor ternak
ayam dan burung juga bias menyebabkan terjadinya flu burung

5. Sanitasi
Sanitasi pelabuhan merupakan salah satu usaha yang ditujukan terhadap faktor risiko lingkungan
di pelabuhan untuk memutuskan mata rantai penularan penyakit guna memelihara dan
mempertinggi derajat kesehatan.
Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit dengan melenyapkan atau mengendalikan
factor-faktor risiko lingkungan yang merupakan mata rantai penularan penyakit. Hasil
pemeriksaan dinyatakan berisiko tinggi atau risiko rendah, jika kapal yang diperiksa dinyatakan
risiko tinggi maka diterbitkan Ship Sanitation Control Certificate (SSCC) setelah dilakukan
tindakan sanitasi dan apabila faktor risiko rendah diterbitkan Ship Sanitation Exemption Control
Certificate (SSCEC), dan pemeriksaan dilakukan dalam masa waktu enam bulan sekali.
Adapun institusi yang memiliki kewenangan untuk melakukan pemeriksaan adalah Kantor
Kesehatan Pelabuhan (KKP). Menurut Permenkes No. 356/Menkes/IV/2008, bahwa KKP
mempunyai tugas melaksanakan pencegahan masuk dan keluarnya penyakit karantina dan
penyakit menular potensial wabah, kekarantinaan, pelayanan kesehatan terbatas di wilayah kerja
Pelabuhan/ Bandara dan Lintas Batas, serta pengendalian dampak kesehatan lingkungan.
Selain itu salah satu fungsi penting KKP adalah pelaksanaan pengamatan penyakit karantina dan
penyakit menular potensial wabah nasional sesuai penyakit yang berkaitan dengan lalulintas
internasional, pelaksanaan pengawasan kesehatan alat angkut dan pelaksanaan pengendalian
risiko lingkungan Pelabuhan / Bandara dan Lintas Batas Darat Kantor Kesehatan Pelabuhan

6
memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan kondisi pelabuhan yang bebas dari
penularan penyakit.
Tujuan pemeriksaan sanitasi dimaksudkan agar pelabuhan bebas dari ancaman penyakit yang
berpotensi wabah, dan mencegah penularan penyakit menular, serta menciptakan suasana
nyaman dan aman bagi penumpang, ABK maupun nakhoda kapal.
Salah satu upaya untuk meningkatkan sanitasi adalah melakukan pengelolaan sampah dengan
menetapkan SOP pengelolaan sampah. Pada kapal penumpang perlu diciptakan sanitasi kapal
yang benar, selain itu perlu pemenuhan indikator sanitasi lainnya seperti penyediaan air bersih,
dan pengendalian vektor atau rodent.

5. Vektor Penularan Penyakit

1. Air (Penyediaan air yang tidak bersih, atau banyaknya genangan air)
2. Kebersihan fasilitas atau alat-alat yang tidak dibersihkan dengan baik
3. Pencahayaan kurang
4. Kebersihan diri
5. Tingginya beban kerja

Diatas adalah beberapa vektor yang dapat menyebabkan penularan penyakit pada kesehatan
pelabuhan.

6. Peran Perawat Pada Kesehatan Pelabuhan

Peran perawat yang utama meliputi pelaksanan layanan keperawatan (care provider),
pengelola (manager), pendidik (educator), dan peneliti (researcher). Terkait dengan peran
perawat sebagai pendidik, perawat dituntut mampu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat
akan pentingnya kesehatan melalui kegiatan promosi kesehatan. Melalui promosi kesehatan
perawat dapat memberikan edukasi pada masyarakat secara luas terkait dengan masalah
kesehatan. Dalam kesehatan pelabuhan perawat dapat sebagai ;

1. Edukator

Membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan sehingga terjadi perubahan
perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan. Misalnya mulai dari memberikan
promosi kesehatan tentang pentingnya kesehatan sekitar pelabuhan, dermaga, ataupun kesehatan

7
kapal-kapal di pelabuhan, mengedukasi resiko yang dapat terjadi jika kebersihan tidak
diperhatikan.

2. Kolaborator

Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter,
fisioterapis, ahli gizi dan lain-lain berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang
diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam penentuan bentuk pelayanan selanjutnya.
Dalam kesehatan pelabuhan perawat sebagai kolaborator dapat menyediakan pelayanan
kesehatan bersama tim kesehatan lainnya yang terdekat seperti adanya Rumah Sakit Pelabuhan,
dan siap tanggap jika terdapat masalah pada kesehatan pelabuhan.

3. Konsultan

Tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan keperawatan yang tepat


untuk diberikan. Peran ini dilakukan atas permintaan klien terhadap informasi tentang tujuan
pelayanan keperawatan yang diberikan. Pada kesehatan pelabuhan sebagai perawat kita sebagai
tempat konsultasi para pekerja, penumpang, ataupun yang disekitar pelabuhan apa yang ia
rasakan, apakah ada yang menganggu terhadap resiko penularan wabah/penyakit, fasilitas yang
tidak baik untuk kesehatan dll

4. Pemberi asuhan keperawatan

Sebagai perawat tidak hanya dalam kesehatan pelabuhan, tetapi untuk semua lingkup kesehatan.
Memberikan asuhan keperawatan yang terbaik sangat penting, bila terjadi musibah, penularan
penyakit, wabah dll.

7. Kasus-Kasus Yang Sering Terjadi Di Pelabuhan

1. kasus Avian Infl uenza di wilayah kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas III Sampit
berdasarkan IHR (2005). Saat ini perjalanan dan perdagangan lintas negara meningkat
pesat seiring dengan meningkatnya teknologi informasi. Hal ini menimbulkan tantangan
terhadap pengendalian penyebaran penyakit infeksi, seperti penyakit new emerging dan

8
re-emerging disease. Selain itu kemajuan teknologi di berbagai bidang lainnya yang
menyebabkan pergeseran epidemiologi penyakit, ditandai dengan pergerakan kejadian
penyakit dari satu benua ke benua lainnya. Pergerakan secara alamiah maupun
pergerakan melalui komoditas barang di era perdagangan bebas dunia yang dapat
menyebabkan peningkatan faktor risiko. Adanya globalisasi semakin melancarkan
perjalanan penyakit antar negara yang disebabkan oleh peningkatan frekuensi dan jumlah
perjalanan antar negara (Kemenkes, 2010b).Influenza adalah penyakit saluran pernapasan
akut yang disebabkan oleh virus influenza dengan bermacam-macam tipe dan subtipe.
Penularan flu burung (Avian Influenza) dari unggas kemanusiaan disebabkan oleh virus
sub tipe H5N1 pertama kali terjadi Hongkong pada tahun 1996 dengan jumlah kasus 18
dan 6 orang diantaranya meninggal dunia. Meski demikian kasus Avian Inf luenza sejak
tahun 2005 sampai bulan Desember tahun 2012 berjumlah 192 kasus dengan 160
kematian (Depkes, 2008c; Kemenkes RI, 2012b).
2. Potensi penularan penyakit melalui pelabuhan sangat memungkinkan terjadi, bisa
menjadi pandemi dengan kategori importasi penyakit datang dari luar negeri. Penyakit
menular telah menjadi permasalahan global.dalam 2 dekade terakhir,komunitas global
menghadapi tantangan terkait penyebaran mikroorganisme yang menyebabkan berbagai
kejadia luar biasa (KLB) penyakit menular seperti penyakit Middle Eastern Respiratory
Syndrome Corona Virus (MERSCoV) di dermaga 204-205 pelabuhan tanjung priok,
jakarta utara. Globalisasi penyakit menular akan sangat berpengaruh terhadap human
security.

8. Upaya Preventive

1. Sanitasi

Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit dengan melenyapkan atau


mengendalikan faktor – faktor risiko lingkungan yang merupakan mata rantai penularan
penyakit. Sanitasi kapal berlaku untuk semua jenis kapal baik kapal penumpang, maupun
kapal barang baik dari dalam maupun luat negeri. Pemeriksaan sanitasi kapal
dimaksudkan untuk pengeluaran sertifikat sanitasi guna memperoleh Surat Izin
Kesehatan Berlayar (SIKB).

9
Hasil pemeriksaan dinyatakan berisiko tinggi atau risiko rendah, jika kapal yang
diperiksa dinyatakan risiko tinggi maka diterbitkan Ship Sanitation Control Certificate
(SSCC) setelah dilakukan tindakan sanitasi dan apabila faktor risiko rendah diterbitkan
Ship Sanitation Exemption Control Certificate (SSCEC), dan pemeriksaan dilakukan
dalam masa waktu enam bulan sekali.

Tujuan pemeriksaan sanitasi kapal dimaksudkan agar kapal bebas dari ancaman
penyakit yang berpotensi wabah, dan mencegah penularan penyakit menular, serta
menciptakan suasana nyaman dan aman bagi penumpang, ABK maupun nakhoda kapal.
Upaya sanitasi kapal merupakan tanggung jawab pemilik kapal melalui nakhoda kapal
dan anak buah kapal

Rendahnya sanitasi kapal tersebut mengindikasikan minimnya penyediaan air


bersih dan sanitasi dok kapal, serta masih ditemukannya vektor atau rodent dalam kapal
meskipun dalam jumlah yang relatif kecil.

Salah satu upaya untuk meningkatkan sanitasi kapal adalah melakukan


pengelolaan sampah kapal dengan menetapkan SOP pengelolaan sampah. Pada kapal
penumpang perlu diciptakan sanitasi kapal yang benar, selain itu perlu pemenuhan
indikator sanitasi lainnya seperti penyediaan air bersih, dan pengendalian vektor atau
rodent.

Selain itu salah satu fungsi penting KKP adalah pelaksanaan pengamatan penyakit
karantina dan penyakit menular potensial wabah nasional sesuai penyakit yang berkaitan
dengan lalulintas internasional, pelaksanaan pengawasan kesehatan alat angkut dan
pelaksanaan pengendalian risiko lingkungan Pelabuhan / Bandara dan Lintas Batas Darat
Kantor Kesehatan Pelabuhan memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan
kondisi pelabuhan yang bebas dari penularan penyakit. Dengan adanya Peraturan
Kesehatan Internasional/International Health Regulation (IHR) tahun 2005 untuk
mengatur tata cara dan pengendalian penyakit, baik yang menular maupun yang tidak
menular, maka Kantor Kesehatan Pelabuhan harus kuat dan prima dalam melaksanakan
cegah tangkal penyakit karantina dan penyakit menular. Sanitasi adalah suatu usaha
pencegahan penyakit dengan melenyapkan atau mengendalikan faktor – faktor risiko
lingkungan yang merupakan mata rantai penularan penyakit. Tugas dan fungsi Kantor

10
Kesehatan Pelabuhan (KKP) adalah mencegah masuk dan keluarnya penyakit, penyakit
potensial wabah (melalui kegiatan surveilans epidemiologi, kekarantinaan, pengendalian
dampak kesehatan lingkungan), pelayanan kesehatan, pengawasan Obat, Makanan,
Kosmetika, Alat Kesehatan dan Bahan Adiktif (OMKABA) serta pengamanan terhadap
penyakit baru dan penyakit yang muncul kembali, bioterorisme, unsur biologi, kimia dan
pengamanan radiasi di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara.
Menjadi tugas Kementerian Kesehatan untuk membekali sumber daya manusia di KKP
untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dengan kemampuan dan keterampilan
yang memadai.

2. Pengendalian Faktor Risiko Lingkungan


a. Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit, terdiri atas:
1) Pengendalian Vektor Nyamuk
Upaya kegiatan pemberantasan terhadap vektor nyamuk, meliputi peniadaan
sarang nyamuk, pengasapan (fogging), maupun penyemprotan (residual spraying).
2) Pengendalian Jentik Nyamuk
Upaya kegiatan pemberantasan terhadap jentik nyamuk vektor, meliputi tindakan
dengan tindakan 3M (menguras, menutup, mengubur) maupun dengan cara kimia
dan biologi terhadap tempat perindukan secara berkala.
3) Pengendalian Tikus dan Pinjal
Upaya kegiatan pemberantasan terhadap tikus dan pinjal, meliputi penangkapan
tikus dan penghapusan sarang tikus.
4) Pengendalian Lalat dan Kecoa
Upaya kegiatan pemberantasan terhadap lalat dan kecoa dengan insektisida.
5) Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit Lainnya
Upaya kegiatan pemberantasan terhadap vektor dan binatang penular penyakit
lainnya, baik di dalam kapal/pesawat maupun di lingkungan pelabuhan, bandara,
dan lintas batas darat.

3. Penyediaan sarana dan prasarana

ketersediaan sarana dan prasarana ini seperti

11
a. Alat Pelindung Diri (APD). Yang terdiri dari :
1) sepatu safety
2) pelampung
3) helm
4) kacamata
5) gaun
6) masker N95
7) sarung tangan
8) sepatu boat
b. ruang isolasi
c. Quarantine Health Clearance Speed Boad Quarantina
d. Health Quarantine Evakuasi
e. Penyakit Menular Personal Protective
f. diagnostic test
g. laboratorium sederhana

Menurut Wijono (2000) fasilitas yang cukup harus tersedia bagi semua staf
sehingga dapat tercapai tujuan dan fungsi pelayanan dengan efektif. Dalam hal ini berupa
sarana dan prasarana yang lengkap serta sesuai standar yang telah ditetapkan. Fasilitas
yang tersedia hendaknya dalam jumlah serta jenis yang memadai dan selalu keadaan siap
pakai. Untuk melakukan tindakan harus di tunjang fasilitas yang lengkap dan sebelumnya
harus sudah disiapkan.

Menurut Wijono (1999), metode merupakan peraturan, standar pelayanan dan


kebijakan yang ada di suatu organisasi. Pelaksanaan kegiatan pemeriksaan kapal yang
berhubungan dengan penemuan kasus Avian Inf luenza oleh petugas boarding di wilayah
kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas III Sampit menggunakan metode yang telah
tersedia berupa Standar Operasional Prosedur yang dapat digunakan sebagai panduan
dalam kegiatan pemeriksaan kapal. Merujuk kepada hasil penelitian tentang SOP dalam
pelaksanaan pemeriksaan kapal, SOP yang digunakan sebagai pedoman tidak sepenuhnya
dilakukan oleh petugas boarding. Pemeriksaan fisik awak kapal secara langsung tidak
selalu dilakukan mengingat keterbatasan tenaga dan berdasarkan MDH tidak ditemukan

12
awak kapal yang sakit. Tidak dilakukannya pemeriksaan secara langsung memungkinnya
lepasnya faktor risiko penular penyakit dari pengamatan sehingga dapat menularkan
penyakit.

4. Tenaga teknis untuk petugas boarding


a. Dokter
b. Sarjana Kesehatan Masyarakat
c. Kesehatan Lingkungan
d. Keperawatan.
5. mengikutsertakan petugas dalam pelatihan kekarantinaan guna meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan untuk mencegah masuknya penyakit menular potensial
wabah khususnya Avian Inf luenzadi wilayah Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas
III Sampit.
6. Sosialisasi SOP/peraturan mengenai pemeriksaan kapal yang datang dari luar negeri,
sehingga dicapai pemahaman yang sama dalam pelaksanaan tugas juga perlu dilakukan.
7. Pemeriksaan fisik juga perlu dilaksanakan untuk penentuan status kesehatan awak kapal
dalam rangka penemuan kasus Avian Influenza.

Standar Prosedur Pemeriksaan :


1. Persiapan tenaga kerja sesuai dengan rencana pemeriksaan seperti; puasa 12 jam,
tidak terpajan kebisingan selama 12 jam, dll.
2. Tenaga kerja mengambil formulir, mengisinya dengan lengkap dan menyerahkan
kembali ke meja pendaftaran
3. Pemeriksaan tinggi badan, berat badan dan tekanan darah.
4. Pemeriksaan fisik dokter, meliputi :
 Anamnesis lengkap termasuk keterkaitan keluhan dengan faktor bahaya di
tempat kerja;
 Pemeriksaan fisik secara menyeluruh;
 Menyimpulkan diagnosis sementara;
 Menyarankan pemeriksaan penunjang sesuai keluhan dan faktor bahaya di
tempat kerja bila diperlukan.
5. Pemeriksaan Rontgen Toraks

13
6. Pemeriksaan mata (visual, ketajaman penglihatan)
7. Pemeriksaan EKG (bila diperlukan)
8. Pemeriksaan penunjang lainnya (bila diperlukan)
a. Anamnesi
Anamnesis (Interview) harus teliti dan lengkap sehingga:
 Pada pemeriksaan calon tenaga kerja, dapat menilai kondisi kesehatan calon
tenaga kerja yang akan diterima.
 Pada pemeriksaan tenaga kerja berkala, dapat menilai sesuai dengan faktor
risiko di tempat kerja.

Kemampuan yang harus dimiliki interviewer:

 Mampu menggali informasi mengenai riwayat penyakit


 Mampu menggali informasi mengenai riwayat pekerjaan
 Mampu menggali informasi mengenai faktor-faktor yang bahaya di tempat
kerja sesuai dengan keluhan tenaga kerja
 Mengetahui jenis-jenis pemeriksaan penunjang sesuai dengan faktor bahaya
 Mampu menganalisis hubungan faktor bahaya dan keluhan

Formulir anamnesis
pemeriksaan kesehatan mencakup hal-hal berikut (sebagian bisa
menggunakan kuesioner) :
a) Pemeriksaan kesehatan awal dan berkala:
 Identitas
 Riwayat penyakit
 Riwayat penyakit khusus (asma, allergi, epilepsi dll)
 Riwayat kecelakaan
 Riwayat pekerjaan
 Pemeriksaan kesehatan dasar (fisik/badan dan mental, pemerisaan
laboratorium, pemeriksaan Rontgen dada).
 Pemeriksaan penunjang khusus lainnya sesuai faktor risiko
b) Pemeriksaan kesehatan khusus:

14
b. Pemeriksaan fisik
Fisik diagnostik dari seluruh bagian badan dengan inspeksi, palpasi,
perkusi dan auskultasi, pengukuran tekanan darah, nadi, pernafasan, tinggi badan,
berat badan, pemeriksaan ketajaman penglihatan, pendengaran, perabaan, reflek.
1) Formulir pemeriksaan fisik mencakup:
 Tinggi badan
 Berat badan
 Indeks massa tubuh
 Pemeriksaan mata (visual dan visus)
 Pemeriksaan telinga, hidung dan tenggorokan
 Pemeriksaan gigi dan mulut
 Pemeriksaan kulit
 Pemeriksaan jantung (auskultasi)
 Pemeriksaan paru (perkusi, auskultasi)
 Pemeriksaan abdomen (palpasi, perkusi, auskultasi)
 Pemeriksaan anggota gerak otot, tulang, sendi (ROM, nyeri gerak,
perhatikan WMSDs dll)
 Pemeriksaan refleks (refleks fisiologis dan patologis)
 Pemeriksaan fisik lain sesuai keluhan dan penilaian dokter pemeriksa
 Diagnosis (tetap/sementara)
2) Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk melihat dan menilai kondisi
kesehatan tenaga kerja dikaitkan dengan jenis pekerjaan yang akan
dikerjakannya, misalnya :
 Rontgen dada
 Tes alergi
 Spirometri (bila terdapat potensi bahaya thd saluran pernafasan)
 Audiometri (bila terdapat potensi bahaya thd fungsi pendengaran)
 EKG
 Pemeriksaan penunjang lainnya sesuai risiko kesehatan

15
Hasil Pemeriksaan berupa pengelompokan status kesehatan.. Berikut contoh
pengelompokan berdasarkan hasil MCU yang dikombinasikan dengan kelayakan kerja:
Gol 1: normal dan fit untuk semua pekerjaan.
Gol 2: terdapat faktor risiko dan fit untuk pekerjaan semula
Gol 3: terdapat penyakit tetapi dapat dikendalikandengan tatalaksana yang
baikdan fit untuk pekerjaan semula.
Gol 4: terdapat cacat atau penyakit yang tidak dapat dikendalikan dan unfit untuk
pekerjaan semula.
Gol 5: terdapat cacat atau penyakit yang tak dapat dikendalikan, un fit untuk
semua jenis pekerjaan.

9. Penatalaksanaan kasus
Kasus Influenza
Tatalaksana Umum
1. Isolasi pasien dalam ruang tersendiri. Bila tidak tersedia ruang untuk satu pasien, dapat
menempatkan beberapa tempat tidur yang masing-masing berjarak 1 meter dan dibatasi
sekat pemisah.
2. Penekanan akan Standar Kewaspadaan Universal.
3. Pergunakan Alat Pelindung Pribadi (APP) yang sesuai: masker, gaun proteksi,
google/pelindung muka, sarung tangan.
4. Pembatasan jumlah tenaga kebersihan, laboratorium dan perawat yang menangani pasien.
Perawat tidak boleh menangani pasien lainnya.
5. Tenaga kesehatan harus sudah mendapat pelatihan kewaspadaan pengendalian infeksi.
6. Pembatasan pengunjung dan harus menggunakan APP.
7. Pemantauan saturasi oksigen dilakukan bila memungkinkan secara rutin dan berikan
suplementasi oksigen untuk memperbaiki keadaan hipoksemia.
8. Spesimen darah dan usap hidung-tenggorok diambil serial.
9. Foto dada dilakukan serial.

Tatalaksana Khusus

16
1. Antiviral Oseltamivir dan zanamivir aktif melawan virus influenza A dan B termasuk
virus AI. Rekomendasi Terapi Menurut WHO yaitu:
 Oseltamivir (Tamiflu®) merupakan obat pilihan utama
 Cara kerja: Inhibitor neuraminidase (NA)
 Diberikan dalam 36-48 jam setelah awitan gejala
 Dosis: 2 mg/kg ( dosis maksimum 75 mg) 2 kali sehari selama 5 hari
Dosis alternatif (WHO):
 ≤ 15 kg : 30 mg 2 x sehari
 15-23 kg : 45 mg 2 x sehari
 23-40 kg : 60 mg 2 x sehari
 40 kg : 75 mg 2 x sehari
 Anak usia ≥ 13 th dan dewasa: 75 mg 2 x sehari

2. Modifikasi rejimen antiviral, termasuk dosis ganda, harus dipertimbangkan kasus demi
kasus, terutama pada kasus yang progresif dan disertai dengan pneumonia. Kortikosteroid
tidak digunakan secara rutin, namun dipertimbangkan pada keadaan seperti syok septik
atau pada keadaan insufisiensi adrenal yang membutuhkan vasopresor.
3. Kortikosteroid jangka panjang dan dosis tinggi dapat menimbulkan efek samping yang
serius, termasuk risiko adanya infeksi oportunistik. Meskipun badai sitokin diduga
bertanggung jawab dalam mekanisme patogenesis pneumonia akibat A/H5N1, bukti
terkini belum mendukung penggunaan kortikosteroid atau imunomodulator lainnya dalam
penanganan infeksi A/H5N1 yang berat.
4. Antibiotika kemoprofilaksis tidak harus dipergunakan. Pertimbangkan pemberian
antibiotika bila diperlukan yaitu jenis antibiotik untuk community acquired pneumonia
(CAP) yang sesuai sambil menunggu hasil biakan darah.
5. Hindarkan pemberian salisilat (aspirin) pada anak <18 tahun karena berisiko terjadinya
sindrom Reye. Untuk penurun panas, berikan parasetamol secara oral atau supositoria.

Kriteria Pemulangan Pasien

17
Pasien anak dirawat selama 21 hari dihitung dari awitan gejala penyakit, karena anak <12
tahun masih dapat mengeluarkan virus (shedding) hingga 21 hari setelah awitan penyakit.
Apabila tidak memungkinkan, keluarga harus dilatih tentang kebersihan pribadi, cara
pengendalian infeksi (cuci tangan, anak tetap memakai masker muka) dan tidak boleh masuk
sekolah selama masa tersebut.

Kasus MERS-Cov

1. Orang yang dicurigai terinfeksi MERS-Cov harus masuk ke dalam ruang perawatan
isolasi selama munculnya gejala hingga 24 jam setelah gejala hilang
2. Tidak ada pengobatan antiviral yang spesifik bagi penderita MERS-Cov.
3. Pada umumnya penderita hanya mendapatkan obat untuk meredakan gejala. Pada kasus
yang parah, pengobatan juga termasuk untuk pemulihan fungsi organ-organ vital.
4. MERS-Cov akan muncul sebagai penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) berat
sehingga pengobatan diberikan sesuai diagnosa tersebut.
5. Pada penderita anak dan ibu hamil, harus dilakukan suportif awal dan pemantauan pasien

Tatalaksana gangguan napas berat, hipoksemia dan ARDS (Acute Respiratory Distress
Syndrome) :

 Pemberian aliran oksigen dengan konsentrasi tinggi


 Pemberian ventilasi mekanik
 Tindakan intubasi endotrakeal
 Untuk pasien ARDS, menggunakan strategi Lung Protective Strategy Ventilation (LPV)

Cara Pencegahan Untuk Profesional Medis

Dalam upaya melokalisir penyebaran infeksi secara hirarkis di tata sesuai dengan
efektivitas pencegahan dan pengendalian infeksi (Infection Prevention and Control – IPC),
meliputi :

a. Pengendalian administratif

Identifikasi dini pasien dengan ISPA / ILI (Influenza like Illness) baik ringan
maupun berat yang diduga terinfeksi MERS.

18
b. Pengendalian dan rekayasa lingkungan.
 Dilakukan diinfrastruktur sarana pelayanan kesehatan dasar dan di rumah tangga
(yang merawat kasus dengan gejala ringan dan tidak membutuhkan perawatan di RS).
 Tersedianya ventilasi lingkungan yang cukup memadai di semua area didalam
fasilitas pelayanan kesehatan serta di rumah tangga.
 Kebersihan lingkungan yang memadai, seperti pengelolaan limbah yang baik.
 Dijaga pemisahan jarak minimal 1 m antara setiap pasien ISPA dan pasien lain,
termasuk dengan petugas kesehatan (bila tidak menggunakan APD)
 Isolasi terhadap pasien di rumah.
 Pengendalian terhadap hewan pembawa penyakit (menghindari hewan sakit,
menghindari makanan yang mungkin telah terkontaminasi dengan sekresi hewan)
 Alat Perlindungan Diri (APD): Penggunaan APD sesuai risiko pajanan.

10. Jenis Pelayanan Kesehatan

a. Pelayanan Kesehatan Dasar, terdiri atas:

1) Pemeriksaan Kesehatan dan Pengobatan

Tindakan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan terhadap awak dan penumpang pada moda
angkutan laut, udara, dan lintas batas darat serta masyarakat di lingkungan pelabuhan, bandara,
dan lintas batas darat, baik pada saat rutin maupun pada kondisi matra.

2) Pelayanan Skrining Kesehatan

Tindakan pemeriksaan kesehatan tertentu yang berhubungan dengan KKMMD, terhadap awak
dan penumpang pada moda angkutan laut, udara, dan lintas batas darat negara serta masyarakat
di lingkungan pelabuhan, bandara, dan lintas batas darat, termasuk pada saat kondisi matra.

3) Pelayanan Gawat Darurat Medik

Tindakan pelayanan medik dan asuhan keperawatan darurat terhadap awak dan penumpang pada
moda angkutan laut, udara, dan lintas batas darat serta masyarakat di lingkungan pelabuhan,
bandara, dan lintas batas darat negara, baik pada saat rutin maupun pada kondisi matra.

19
4) Tindakan Rujukan

Tindakan pemindahan penderita atau beberapa penderita atas dasar indikasi medik dari instalasi
poliklinik dan instalasi isolasi, maupun di lapangan serta yang berasal dari kejadian kecelakaan,
keracunan, atau kedaruratan di lingkungan pelabuhan, bandara, dan lintas batas darat negara ke
fasilitas pelayanan kesehatan terdekat, baik pada saat rutin maupun pada kondisi matra.

5) Pelayanan Penunjang

Tindakan pelayanan penunjang medik, berupa pemeriksaan laboratorium diagnosis sederhana,


pemberian alat bantu, dan berbagai peralatan yang diperlukan untuk pemeriksaan kesehatan dan
pengobatan terhadap awak dan penumpang pada moda angkutan laut, udara, dan lintas batas
darat serta masyarakat di lingkungan pelabuhan, bandara, dan lintas batas darat negara.

6) Pelayanan/Pengawasan Kesehatan Kerja

Tindakan pemeriksaan dan penyampaian saran perbaikan terhadap kondisi/status kesehatan


pekerja dan lingkungan pada institusi kerja formal maupun non formal di lingkungan pelabuhan,
bandara, dan lintas batas darat negara.

b. Vaksinasi dan Profilaksis, terdiri atas:

1) Pelayanan Vaksinasi

Vaksinasi adalah pemberian Vaksin yang khusus diberikan dalam rangka menimbulkan atau
meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga apabila suatu
saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan dan
tidak menjadi sumber penularan. Tindakan pemberian vaksin meningitis, yellow fever, kolera,
influenza, dan vaksinasi dasar terhadap awak dan penumpang pada moda angkutan laut, udara,
dan lintas batas darat serta masyarakat di lingkungan pelabuhan, bandara, dan lintas batas darat.

Pelayanan Vaksinasi Internasional

Pelayanan Vaksinasi Internasional adalah upaya untuk memberikan kekebalan kepada orang
terhadap suatu penyakit karantina/potensial wabah tertentu, yang akan berpergian ke Negara
daerah endemis atau negara yang mensyaratkan vaksinasi tertentu.

a. Vaksinasi Yellow Fever / Demam kuning

20
 Indikasi : Untuk memberikan kekebalan terhadap Yellow Fever / demam kuning
 Kemasan: Vaksin ini berbentuk beku kering (dosis tunggal), pelarut berisi 0,5 ml
 Cara pemberian dan dosis : Sebelum digunakan vaksin harus terlebih dahulu
dicampurkan antara cairan dengan vaksin beku kering. Dosis pemberian 0,5 ml
disuntikkan secara subkutan pada lengan kiri atas
 Penyimpanan dan kadaluarsa: Vaksin disimpan pada suhu 2 ° C s / d + 8 ° C.
Pengangkutan dalam keadaan dingin menggunakan kotak dingin cair dan hindari panas
berlebihan, sinar matahari langsung. Kadaluarsa 10 tahun (injeksi ulangan
direkomendasikan setiap 10 tahun)
 Antibodi terbentuk 10 hari setelah dilakukan vaksinasi
 Efek Samping : Reaksi lokal seperti demam, sakit kepala, rasa sakit ditempat
penyuntikan, kemerahan.
 Kontra indikasi : Hipersensitif terhadap telur, bayi dibawah 9 bulan, penderita HIV
positif, wanita hamil.
 Perhatian:
-Vaksin demam kuning (vaksin hidup) jangan diberikan bersamaan dengan vaksin
cholera karena akan saling mempengaruhi dan menurunkan respon antibodi kedua vaksin
tersebut. Vaksin dapat diberikan dengan interval waktu 3 minggu
-Vaksin YF dapat diberikan bersamaan dengan vaksin thypoid
-Vaksin YF dapat diberikan bersamaan dengan vaksin meningitis A + C

b. Vaksinasi Meningitis

 Vaksin ACW135Y adalah preparat polisakharida murni yang diambil dari bahan Neisseria
Meningitis grup ACW 135Y
 Kemasan: dosis tunggal dan multi-dosis (10 dosis)
 Vaksin meningitis berbentuk kering. Pelarutnya sebaiknya disimpan pada suhu kamar,
meskipun tidak rusak bila disimpan di lemari es, tetapi tidak boleh disimpan di freezer
 Dosis dan cara pemberian : Dosis pemberian adalah 0,5 cc diberikan subkutan pada
lengan atas untuk dewasa dan anak-anak berumur diatas 2 tahun keatas dan 0,3 cc untuk
anak di bawah 2 tahun

21
 Penyimpanan dan kadaluarsa : Vaksin disimpan pada suhu + 2 ° C s / d + 8 ° C.
Kadaluarsa setelah 2 tahun
 Efek samping : Reaksi lokal nyeri dibekas penyuntikan
 Kontra indikasi: wanita hamil, panas tinggi, yang alergi terhadap phenol. Bila terjadi
syok anafilaksis: atasi dengan menyuntikan adrenalin 1 1000 dengan dosis 0,2-0,3 cc
secara Intra Muskular (IM)
 Antibodi terbentuk 10 hari setelah divaksinasi

c. Vaksinasi Typhoid (Typhim Vi)

 Kemasan vaksin typhoid polisakarida sudah berbentuk larutan dosis tunggal, jadi
pemberiannya bisa langsung diberikan tanpa harus dicampur
 Diberikan di lengan kiri atas melalui Intra Muskular dengan dosis 0,5 cc.
 Vaksinasi diberikan 7 hari sebelum melakukan perjalanan, antibodi terbentuk 7 hari
setelah dilakukan vaksinasi. Vaksinasi bisa diulang setelah 3 tahun.
 Efek samping : di sekitar suntikan agak bengkak dan terasa sakit
 Kontra indikasi: vaksin terhadap rupa-rupa vaksin, penyakit kronis atau penyakit berat,
demam, sebaiknya vaksinasinya ditunda.
 Perhatian: Pemberian Vaksinasi Thypoid tidak boleh diberikan pada orang yang sedang
minum antibiotik 1 minggu sebelum vaksinasi atau 1 minggu setelah vaksinasi, proguanil
dan melfoquine juga tidak diberikan pada anak-anak usia di bawah 2 tahun.
 Penyimpanan: Penyimpanan vaksin disimpan pada suhu + 2 ° C s / d + 8 ° C (jangan
dimasukkan di freezer)

2) Pelayanan Profilaksis

Tindakan pemberian pengobatan pencegahan terhadap awak dan penumpang pada moda
angkutan serta masyarakat di lingkungan pelabuhan, bandara, dan lintas batas darat negara.
Profilaksis adalah suatu tindakan medis pemberian obat tertentu untuk memberikan perlindungan
terhadap penyakit menular tertentu dalam jangka waktu tertentu.

3) Pengelolaan Cold Chain

22
Kegiatan fasilitasi dan advokasi dalam pemeliharaan, pemantauan, serta pengawasan kualitas
vaksin, cold box dan/atau cold room di KKP berdasarkan pedoman teknis yang berlaku. Vaksin
merupakan barang biologis yang memiliki karakteristik tertentu dan memerlukan penanganan
rantai dingin (cold chain) tersendiri sejak diproduksi hingga dipakai di unit pelayanan.
Penyimpangan dari ketentuan yang ada dapat mengakibatkan vaksin rusak dan tidak memiliki
potensi lagi atau bahkan dapat memberikan efek samping bila tetap diberikan kepada sasaran.
Untuk mencegah rusaknya vaksin diperlukan penanganan dengan cara rantai dingin atau cold
chain, yaitu suatu sistem penyimpanan vaksin dengan suhu antara 2 – 8 derajat celsius, agar
supaya komponen dalam vaksin yang bersifat bioaktif tidak mengalami kerusakan karena suhu
yang tinggi atau suhu yang terlalu rendah, sehingga dengan suhu penyimpanan yang tepat,
potensi proteksi vaksin akan tetap terjaga maksimal hingga waktu yang telah ditentukan oleh
pabrik pembuat vaksin, yang ditentukan dengan yang biasa disebut expiration date atau waktu
kadaluarsa vaksin.

c. Karantina Kesehatan

Karantina adalah kegiatan pembatasan atau pemisahan seseorang dari sumber penyakit
atau seseorang yang terkena penyakit atau bagasi, container, alat angkut, komoditi yang
mempunyai risiko menimbulkan penyakit pada manusia. Karantina kesehatan adalah
tindakan karantina dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit serta faktor-faktor
risiko gangguan kesehatan dari dan atau ke luar negeri serta dari suatu area ke area lain dari
dalam negeri melalui pelabuhan, bandara dan lintas batas darat. Upaya karantina kesehatan
adalah segala kegiatan di pelabuhan untuk mencegah tersebarnya penyakit karantina dan atau
faktor risiko gangguan kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah. Kantor Kesehatan
Pelabuhan (KKP) yang merupakan unsur pemerintah pusat, berada di bawah dan
bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit,
memiliki tugas dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan
khususnya di pintu masuk negara.

Penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan bertujuan untuk melindungi, mencegah, dan


menangkal dari penyakit dan/atau faktor risiko kesehatan masyarakat yang berpotensi

23
menimbulkan kedaruratan kesehatan masayarakat dalam rangka meningkatkan ketahanan
nasional di bidang kesehatan secara terpadu, dan dapat melibatkan Pemerintah Daerah.

Identifikasi Faktor Risiko Penyakit Karantina dan Penyakit Menular Potensial Wabah

1. Ruang Lingkup

Secara Operasional Penyelenggaraan Penyelidikan Faktor Risiko Penyakit Karantina dan


Penyakit Menular Potensi Wabah

a. Alat angkut (Kapal Laut, Pesawat) dan memuatnya (termasuk kontainer)

b. Manusia (ABK / Kru, Penumpang)

c. Lingkungan pelabuhan dan Bandara

2. Jenis-jenis Faktor Risiko Penyakit Potensi Wabah Karantina dan Penyakit Menular

Jenis-jenis faktor risiko penyakit karantina dan penyakit menular potensial wabah meliputi :

a. Virus yang menginfeksi penumpang maupun awak kapal / pesawat

b. Bakteri yang menginfeksi penumpang maupun awak kapal / pesawat

C. Protozoa yang menginfeksi penumpang maupun awak kapal / pesawat

d. Vektor yang menjadi perantara penyakit karantina dan penyakit menular potensial wabah

3. Kegiatan Identifikasi

a. Identifikasi pada alat angkut

Alat angkut / kapal yang singgah / berlabuh dalam waktu pendek atau panjang perlu
diwaspadai sebagai faktor risiko yang timbulnya penyakit menular potensi wabah, seperti
SARS, Flu Burung, Influenza A (Al). Pengawasan terhadap kapal dilakukan sesaat setelah
kapal sandar di pelabuhan dengan memperhatikan hal-hal tersebut dibawah ini antara lain:

1) Pelabuhan singgah terakhir, dengan tujuan untuk memastikan adanya wabah / KLB
penyakit menular di wilayah tersebut (affected area).

24
2) Asal kapal, dengan tujuan untuk menentukan perjalanan yang pernah dilakukan.

b. Identifikasi pada Penumpang

Penumpang kapal meliputi awak kapal dan orang yang diantar dari pelabuhan asal ke
pelabuhan tujuan dengan menggunakan alat angkut / kapal. Penumpang merupakan faktor
risiko yang paling rentan untuk terjadinya suatu penyakit menular potensial wabah.

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah

1) Ada tidaknya penumpang kapal yang sedang sakit

2) Ada tidaknya penumpang kapal yang menderita penyakit menular

3) Jumlah penumpang kapal yang sedang sakit menular

4) Jenis penyakit menular yang menyerang penumpang kapal

5) Ada tidaknya penumpang yang berasal dari wilayah terjangkit suatu penyakit menular

c. Identifikasi pada Barang

Barang yang dibawa penumpang maupun awak kapal yang diletakkan dalam kabin maupun
dibagasikan juga bisa menjadi faktor risiko munculnya penyakit menular potensial wabah.

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:

1) Ada tidaknya bahan berbahaya yang terbawa oleh penumpang di kabin atau bagasi.

2) Ada tidaknya bahan makanan / minuman mudah busuk yang terbawa penumpang di kabin
maupun bagasi.

3) Ada tidaknya binatang / tumbuhan yang terbawa penumpang di dalam kabin maupun
bagasi.

d. Identifikasi di Lingkungan Pelabuhan

Media Lingkungan (air, tanah, udara, biota) dengan segala komponen dan sifatnya merupakan
faktor risiko yang harus dikendalikan

1) Ada Vektor di Lingkungan pelabuhan yang menjadi perantara penular penyakit

25
2) Ada tidaknya pencemaran udara, air dan tanah yang dapat menimbulkan masalah kesehatan
masyarakat

3) Hygiene dan sanitasi makanan minuman yang dapat menimbulkan masalah kesehatan

26
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Pelabuhan merupakan sarana berlabuhnya kapal, lintasan penumpang untuk berpindah, bongkar
muat barang export maupun secara import. Selain itu sejalan dipergunakannya pelabuhan dengan
berbagai macam kegiatan ataupun sebagai tempat wisatawan menyebrang, kesehatan pelabuhan
sangatlah penting. Banyaknya wabah penyakit dengan penyebaran yang sangat cepat dan
beragam.

Dengan itu, kesehatan Pelabuhan setidaknya meliputi, cegah penyakit dan masalah kesehatan,
pengelolaan kesehatan di lingkungan bandara/pelabuhan, serta membantu dalam menangani
masalah pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan yang ada dengan meminimalisir
faktor –faktor yang beresiko terjadinya vektor penyebaran wabah atau penyakit, mengikuti
standar kesehatan pelabuhan yang baik sesuai anjuran pemerintah, dan memberikan pelayanan
yang selalu ditingkatkan atau dievaluasi apa saja yang perlu diperbaiki.

Jadi, kesehatan pelabuhan sangat penting untuk siapa saja, baik para pengguna pelabuhan
ataupun masyarakat sekitarnya, dan sebagai tenaga kesehatan baik perawat, dokter, ahli gizi
ataupun yang lainnya dapat memberikan edukasi ataupun promosi kesehatan untuk mencegah
terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, serta sebagai perawat dapat memberikan asuhan
keperawatan bagi yang membutuhkannya dengan siap, sigap, dan tangkap.

2. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas maka peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut :

1. Diharapakan kepada petugas kesehatan di Pelabuhan lebih meningkatkan pengawasan dan


pembinaan terhadap ABK secara menyeluruhdan sercara terus menerus terutama kegiatan yang
lebih meningkatkan pengetahuan tentang sanitasi kapal yang baik dan memenuhi syarat.

2. Diharapkan kepada Kantor Kesehatan Pelabuhan untuk meningkatkan kegiatan promosi


kesehatan terutama kegiatan penyuluhan agar lebih meningkatkan pengetahuan tentang sanitasi

27
kapal serta penyebaran informasi seperti leaflet dan pamflet agar seluruh ABK mendapat
informasi

3. Diharapkan kepada ABK untuk mematuhi peraturan dan meningkatkan kesadaran tentang
sanitasi kapal yang sudah ditetapkan agar menciptakan suasana kapal yang bersih dan terhindar
dari penularan penyakit.

28
DAFTAR PUSTAKA

Dangiran, H. L., Joko, T., & Thohir, B. (2018). Hubungan Sanitas Kapal Dengan Keberadaan
Vektor Penyakit dan Rodent Pada kapal penumpang dipelabuhan Merak Provinsi Banten.
Jurnal Kesehatan Masyarakat, 410-416.

Hendrati, L. Y., & Nurita, D. (2013). Evaluasi Penemuan Kasus Avian Influenza Di Kantor
Kesehatan Pelabuhan kelas III Sampit. Jurnal Berkala Epidemiologi, 201-212.

Irfa'i, M., Joko, Y., & Norhayati. (2017). Hubungan Sanitas Kapal dengan Kebedaradaan Tikus
Pada Kapal Yang berlabuh Di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Jurnal Kesehatan
Lingkungan, 496-500.

Adriyani. Manajemen Sanitasi Pelabuhan Domestik. Jurnal Kesehatan Lingkungan Volume 2;


2005.
Departemen Kesehatan Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan No.356/Menkes/Per/IV/2008
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan. Jakarta; 2008.
Elaine H Cramer. Sanitation Inspection On Cruise Ships 1990-2005 Vessel Sanitation Program,
Centers for Disease Control and Prevention. Jurnal of Envoronmental Health, March
2008.
Notoadmodjo S. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta; 2010.
Ovra, dkk. Tingkat Risiko Kesehatan Kapal di Pelabuhan Belawan Medan dan Faktor yang
Mempengaruhi. Medan
Soejudi H. Pengendalian Rodent Suatu Tindakan Karantina. Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol
2; 2005.
Supriyadi. Faktor yang berhubungan dengan Tingkat Sanitasi pada Kapal yang Bersandar di
Pelabuhan Pangkalan Balam Pangkalan Pinang tahun 2005. Jurnal Makara Kesehatan 10
(2); 2006.
World Helath Organization. International Medical Gaide for Ship. Edisi ke II, Switzerland; 2005.
World Helath Organization. Global Burden of Stroke World Health Organization; 2007.
depkes.go.id/article/view/16041400003/kkp-tanjung-priok-inisiasi-simulasi-penanggulangan-
wabah-di-pelabuhan.html
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014

29
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NO
424/MENKES/SK/IV/2007

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NO


425/MENKES/SK/IV/2007

Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2004 Tentang Klasifikasi
Kantor Kesehatan Pelabuhan

30