Anda di halaman 1dari 26

BAB II

PENGELOLAHAN KASUS

A. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan dengan Masalah Kebutuhan Dasar


Eliminasi Urine
1. Konsep Dasar Eliminasi Urine
Eliminasi urine normalnya adalah pengeluaran cairan. Proses pengeluaran ini
sangat bergantung pada fingsi-fungsi organ eliminasi urine seperti ginjal, ureter,
bladder, dan uretra. Ginjal memindahkan air dari darah dalam bentuk urine.
urerter mengalirkan urine ke bladder. Dalam bladder urine ditampung sampai
mencapai batas tertentu sampai batas yang kemudian dikeluarkan melalui uretra.
Air sisa metabolisme dalam darah difiltrasi oleh ginjal. Darah mengalir sampai
ke ginjal melalui artei renal yang merupakan cabang dari aorta abdoment. Kira-
kira darah akan masuk ke ginjal 20-25% dari kardiak output. Dalam glomerulus
ginjal difiltrasi airdan zat-zat lain seperti glukosa, asam amino, urea, kreatinin,
dan elektrolit. Glomerulus akan memfiltarasi kira-kira 125ml/menit. Tidak semua
hasil filtrasi akan dikeluarkan sebagai urine, tetapi sebagian dari zat berupa
glukosa, asam amino, uric acid , sodium,dan pottasium kembali ke plasma.
Pengeluaran urine tergantung intake cairan. Pada orang dewasa
normalpengeluaran urine kira-kira 1500-1600ml/hari, atau 60ml/ menit. Jika
pengeluaran urine kurang dari 30ml/menit kemungkinan terjadi gagal ginjal(Potter
& Perry 1999).
Ginjal menghasilkan hormon eritropoitin yang berfungsi untuk merangsang
produksi eritropitisetin yang merupakan bahan baku sel darah merah pada
sumsum tulang. Hormon ini dirangsangnoleh adanya kekurangan aliran darah
(hipoksia)pada ginjal. Disamping eritropoitin ginjal juga menghasilkan hormon
renin yang berfungsi sebagai pengatur aliran darah ginjal pada saat terjadi
isskhemia. Renin dihasilkan pada pada sel juxtaglomerulus pada apartus
juxtaglomerulus di nefron. Renin berfungsi sebagai enzim yang berfungsi
mengubah angiotensinogen (dihasilkan di hati) menjadi angiotensin I yang

Universitas Sumatera Utara


kemudian diudbah di paru-paru menjadi angitensin II dan angiotensin III.
Angiotensin II berdampak pada vasokontriksi dan menstimulus aldosteron untuk
menahan/meretensi air dan meningkat volume darah. Angiotensin III memberikan
efek tekanan pad aliran pembuluh darah arteri(Potter & Perry, 1999).

2. Anatomi dan Fisiologi Sistem Perkemihan


Sistem perkemihan terdiri atas beberapa organ yaitu ginjal, ureter, vesika urinaria
(kandung kemih), dan uretra.
a. Ginjal
Fungsi vital ginjal ialah sekresi air kemih dan pengeluarannya dari tubuh
manusia. Di samping itu, ginjal juga merupakan salah satu dari mekanisme
terpenting homeostasis. Ginjal berperan penting dalam pengeluaran zat-zat
toksin/racun, memperlakukan suasana keseimbangan air, mempertahankan
keseimbangan asam-basa cairan tubuh, dan mempertahankan keseimbangan
garam-garam dan zat-zat lain dalam darah(Potter & Perry,1999).
Bentuk ginjal kiri lebih besar dari ginjal kanan. Ontogenitis, berasal dari
mesoderm, terletak dalam rongga perut pada daerah retroperitoneal, di sebelah
kanan dan kiri dari kolumna vertebralis dan melekat langsung pada dinding
belakang abdomen. Ginjal kanan terletak lebih rendah dari ginjal kiri, hal ini
karena adanya hati di sebelah kanan dan menekan ke bawah. Bila ginjal dibelah
dua, secara longitudinal (memanjang), dapat terlihat(Potter & Perry,1999).
Bagian luar yang bercak-bercak disebut korteks, serta bagian dalam yang
bergaris-garis disebut medula. Medula terdiri dari bangunan-bangunan berbentuk
kerucut yang disebut renah piramid(Potter & Perry,1999).
Pada pemeriksaan secara mikroskopis, terlihat ginjal berbentuk seperti
corong dengan batang yang panjang dan berkelok-kelok. Bagian corong tersebut
dinamakan kapsula Bowman yang terdiri atas dua lapis sel-sel gepeng. Ruangan
kapsula Bowman dan glomerolus disebut karpusguli renalis (korpuskulam
malfigi). Proses pembentukan urine diawali dengan masuknya darah melalui vas
aferen ke dalam glomerolus clan keluar melalui vas eferent. Bagian yang
mer,yerupai bentuk batang yang terdiri dari tubulus kontortus proksimal, ansa
Henle, tubulus kontortus distal. tubulus koligentes. Pada Bagian-Bagian batang ini

Universitas Sumatera Utara


terjadi proses: filtrasi, reabsopsi, dan sekresi. Proses filtrasi terjadi pada
glomerolus karena permukaan aferen lebih began daripada permukaan
eferen(Potter & Perry,1999).
Hal ini akan mengakibatkan terjadinya penyaringan darah. Pada proses ini
yang tersaring adalah Bagian cair dari darah kecuali protein. Selanjutnya, cairan
tersebut, yaitu air, glukosa, natrium, klorida, sulfat, dan bikarbonat. Ditampung
oleh simpai Bowman yang selanjutnya diteruskan ke tubulus-tubulus ginjal(Potter
& Perry,1999).
Proses reabsorbsi terjadi pada tubulus-tubulus ginjal. Di sini terjadi
penyerapan kembali dari sebagian air, glokosa, atrium, klorida, sulfat, bikarbonat
dan beberapa ion bikarbonat. Pada tubulus ginjal bagian atas, terjadi proses pasif
(reabsorpsi obligatori). Sedangkan pada tubulus ginjal bawah terjadi proses aktif
(fakultatif reabsorpsi) yang menyerap kembali natrium dan ion bikarbonat bila
diperlukan. Sisa hasil reabsorpsi akan dialirkan ke papilla renalis(Potter &
Perry,1999).
Pelvis renalis (piala ginjal) merupakan bagian dari ginjal dengan duktus
papillaris Bellini bermuara pada renalis yang menyebabkan terbentuknya area
kribiformis pada papilla ginjal. Papilla renalis terlihat, menonjol kedalam satu
kaliks minor, bersatu menjadi kaliks mayor, inipun menjadi pelvis renalis. Pelvis
renalis ini berlanjut menjadi ureter(Potter & Perry,1999).

b. Ureter
Air kemih disekresi oleh ginjal, dialirkan ke vesika urinairia (kandung
kemih) melalui ureter. Ureter berada pada kiri dan kanan kolumna vertebralis
(tulang punggung) yang menghubungkan pelvis renalis dengan kandung
kemih. Panjang ureter kurang lebih 30 cm dan berdiameter 0,5 cm. Uretra
sebagian terletak dalam rongga perut (pars abdominalis) dan selanjutnya berjalan
di dalam rongga panggul (pars pelvira). Otogenitis ureter termasuk berasal dari
mesoderm, karena itu, ureter juga terletak pada retroperitonialis. Dinding utera
terdiri atas tiga lapisan, yaitu lapisan mukosa, otot polos, dan jaringan
fibrosa(Potter & Perry,1999).

Universitas Sumatera Utara


c. Vesika urinaria
Aliran urine dari ginjal akan bermuara ke dalam kandung kemih (vesika
urinaria). Kandung kemih merupakan kantong yang dapat menggelembung seperti
balon karet, terletak di belakang simfisis pubis, di dalam rongga panggul. Bila
terisi penuh, kandung kemih dapat terlihat sebagian ke luar dari rongga panggul.
Kandung kemih berbentuk seperti kerucut. Bagian-bagiannya ialah verteks,
fundus, dan korpus. Bagian verteks adalah bagian yang meruncing ke arah depan
dan berhubungan dengan ligamentum vesiko umbilikale medius. Bagian fundus
merupakan bagian yang menghadap ke arah belakang dan bawah. Bagian korpus
berada di antara verteks dan fundus. Bagian fundus terpisah dari rektum oleh
spasium rektovesikula yang terisi oleh jaringan ikat, duktus deferens, vesikula
seminalis. Dinding kandung kemih terdiri dari tiga lapisan otot polos dan selapis
mukosa yang berlipat-lipat. pada diding belakang lapisan mukosa, terlihat bagian
yang tidak berlipat, daerah ini disebut trigonum liestaudi(Potter & Perry,1999).

c. Uretra
Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang
berfungsi menyalurkan air kemih ke luar dan juga untuk menyalurkansemen. Pada
laki-laki, uretra berjalan berkelok-kelok, menembus prostat, kemudian melewati
tulang pubis, selanjutnya menuju ke penis. Oleh karera itu, pada laki-laki, uretra
terbagi menjadi 3 bagian, yaitu pars proetalika, pars membranosa, dan pars
kavernosa. Muara uretra ke arah dunia luar disebut meatus. Pada perempuan,
uretra terletak di belakang simfisis pubis, berjalan miring, sedikit ke atas,
panjangnya kurang lebih 3-4 cm. Muara uretra pada perempuan terletak di sebelah
atas vagina, antara klitoris dan vagina. Uretra perempuan berfungsi sebagai
saluran ekskretori(Potter & Perry,1999).

3. Refleks miksi
Kandung kemih dipersarafi oleh saraf sakral 2(S-2) dan sakral 3(S-3). Saraf
sensorik dari kandung kemih dikirimkan ke medula spinalis bagian sakral 2
sampai dengan sakral 4 kemudian diteruskan ke pusat miksi pada susunan saraf
puasat. Puasat miksi mengirimkan sinyal kepada otot kandng kemih untuk

Universitas Sumatera Utara


berkontraksi. Pada saat destrusor berkontraksi spinter interna relaksasi dan spinter
eksterna yang di bawah kontrol kesadaran akan berperan. Apakah mau miksi atau
ditunda. Pada saat miksi otot abdominal berkontraksi bersama meningkatnya otot
kandung kemih. Biasanya tidak lebih dari 10 ml urine tersisa dalam kandung
kemih yang disebut dengan residu urine(Brunner & Suddath, 1997).
4. Karakteristik urine normal
Warna urine normal adalah kuning terang karena adanya pigmen urochrome.
Namun demikian, warna urine tergantung pada intake cairan, keadan dehidrasi
konsentrasinya menjadi lebih pekat dan kecoklatan, penggunaan obat-obatan
tertentu seperti multivitamin dan preparat besi maka urine akan berubah menjadi
kemerahan sampai kehitaman(Brunner & Suddath, 1997)..
Bau urine normal adalah bau khas amoniak yang merupakan hasil pemecahan
urea oleh bakteri. Pemberian pengobatan akan mempengaruhi bau urine(Brunner
& Suddath, 1997)..

5. Proses Berkemih
1. Proses Filtrasi ,di glomerulus
Terjadi penyerapan darah, yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali
protein. Cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowmen yang terdiri dari
glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll, diteruskan ke tubulus
ginjal. Cairan yang disaring disebut filtrate glomerulus(Brunner & Suddath,
1997).

2. Proses Reabsorbsi
Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa,
sodium, klorida, fospat dan beberapa ion bikarbonat. Prosesnya terjadi secara
pasif (obligator reabsorbsi) di tubulus proximal(Brunner & Suddath, 1997).
Sedangkan pada tubulus distal terjadi kembali penyerapan sodium dan ion
bikarbonat bila diperlukan tubuh. Penyerapan terjadi secara aktif (reabsorbsi
fakultatif) dan sisanya dialirkan pada papilla renalis(Brunner & Suddath, 1997).

Universitas Sumatera Utara


3. Proses sekresi.
Sisa dari penyerapan kembali yang terjadi di tubulus distal dialirkan ke papilla
renalis selanjutnya diteruskan ke luar.
6. Faktor yang Mempengaruhi Eliminasi Urine
1. Diet dan Asupan (intake)
Jumlah dan tipe makanan merupakan faktor utama yang memengaruhi
output urine (jumlah urine). Protein dapat menentukan jumlah urine yang
dibentuk. Selain itu, juga dapat meningkatkan pembentukan urine.
2. Respon Keinginan Awal untuk Berkemih
Kebiasaan mengabaikan keinginan awal untuk berkemih dapat
menyebabkan urine banyak tertahan di dalam urinaria sehingga memengaruhi
ukuran vesika urinaria dan jumlah urine.
3. Gaya Hidup
Perubahan gaya hidup dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan
eliminasi dalam kaitannya terhadap tersedianya fasilitas toilet.
4. Stres Psikologis
Meningkatnya stres dapat mengakibatkan meningkatnya frekuensi
keinginan berkemih. Hal ini karena meningkatnya sensitivitas untuk keinginan
berkemih dan jumlah urine yangdiproduksi.
5. Tingkat Aktivitas
Eliminasi urine membutuhkan tonus otot vesika urinaria yang baik untuk
fungsi sfingter. Hilangnya tonus otot vesika urinaria menyebabkan kemampuan
pengontrolan berkemih menurun dan kemampuan tonus otot didapatkan dengan
beraktivitas.
6. Tingkat Perkembangan
Tingkat pertumbuhan dan perkembangan juga dapat memengaruhi pola
berkemih. Hal tersebut dapat ditemukan pada anak, yang lebih memiliki
mengalami kesulitan untukmengontrol buang air kecil. Namun dengan usia
kemampuan dalam mengontrol buang airkecil.
7. Kondisi Penyakit
Kondisi penyakit dapat memengaruhi produksi urine, seperti diabetes
melitus.

Universitas Sumatera Utara


8. Sosiokultural
Budaya dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi urine, seperti
adanya kulturpada masyarakat tertentu yang melarang untuk buang air kecil di
tempat tertentu.
9. Kebiasaan Seseorang
Seseorang yang memiliki kebiasaan berkemih di mengalamikesulitan
untuk berkemih dengan melalui urineal/pot urine bila dalam keadaan sakit.
10. Tonus Otot
Tonus otot yang memiliki peran penting dalam membantu proses
berkemih adalah ototkandung kemih, otot abdomen dan pelvis. Ketiganya sangat
berperan dalam kontraksi pengontrolan pengeluaran urine.
11. Pengobatan
Pemberian tindakan pengobatan dapat berdampak pada terjadinya
peningkatan atau penurunan proses perkemihan. Misalnya pemberian diuretik
dapat meningkatkan jumlah urine, sedangkan pemberian obat antikolinergik dan
antihipertensi dapat menyebabkan retensi urine.
12. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik ini juga dapat memengaruhi kebutuhan eliminasi urine,
khususnya prosedur-prosedur yang berhubungan dengan tindakan pemeriksaan
saluran kemih seperti IVY (intra uenus pyelogram), yang dapat membatasi jumlah
asupan sehingga mengurangi produksi urine. Selain itu tindakan sistoskopi dapat
menimbulkan edema lokal pada uretra yang dapat mengganggu pengeluaran
urine(Alimul, 2006)

5. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Aspek biologis
1 .Usia. Kebutuhan eliminasi, baik eliminasi urine maupun fekal, salah satunya
dipengaruhi oleh usia yang mengacu pada pertumbuahan dan perkembangan
individu. Misalnya, kemampuan untuk mengontrol mikturisi dan defekasi
berbeda sesuai dengan tahap perkembangan individu. Pada manusia lanjut usia,

Universitas Sumatera Utara


sering mengalami nokturia, frekuensi berkemih meningkat, konstipasi, dan
lain-lain .
2. Aktivitas fisik. Immobilisasi dapat menyebabkan terjadinya konstipasi,
retensi urine, dan penurunan tonus otot.
3. Riwayat kesehatan dan diet. Kajian riwayat penyakit atau pembedahan yang
pernah dialami pasien yang dapat mempengaruhi eliminasi, seperti
nefrolitiasis, colostomy, dan lain-lain. Dikaji juga riwayat diet yang dijalani
klien, seperti jenis makanan yang dikonsums; jumlah, frekuensi, dan lamanya
diet yang dijalani.
4. Penggunaan obat-obatan. Pengkajian meliputi jenis obat, dosis, dan sudah
berapa lama mengonsumsi obat tersebut. Penggunaan obat-obatan ini perlu
dikaji karena beberapa jrnis obat dapat mempengaruhi eliminsi urine dan
fekal.
b. Pemeriksaan urine.
a. Eliminasi urine
Masalah eliminasi urine sering terjadi dikaitkan dengan
ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, maka perlu dikaji dengan
mengenai turgor kulit dan mukosa mulut. Bila dikaitkan dengan organ
sistem perkemihan, maka perlu dikaji ginjal, vesika urinaria, dan meatus.
Hal yang dikaji seperti adakah nyari di daerah pinggul?, distensi kandungan
kemih?, perkusi kandungan kemihpada kondisi penuh menimbulkan bunjyi
tumpul?, adakah nyeri tekan pada kandung kemih?, pengkajian pada
keadaan meatus uretra, seperti adakah kemerahan?, luka?, dan lain-lain.
b. Pemeriksaan laboratorium
i. Warna urine normal bervariasi dari warna pucat, agak kekuningan
sampai kuning coklat (seperti warna madu). Warna bergantung pada
kepekatan urine (potter dan perry 2006)
ii. Pendaran pada ginjal atau ureter menyebabkan urine menjadi merah
gelap. Bila urine berwarna merah terang, menunjukkan adanya pendarahan
pada kandung kemih atau uretera. Selain itu, perubahan warna urine juga
dapat dipengaruhi oleh konsumsi obat. Oleh karena itu, perlu dikaji obat
yang dikomsumsi.

Universitas Sumatera Utara


iii Warna urine coklat gelap dapat disebabkan karena tingginya konsentrasi
bilirubin akibat disfungsi hepar.
c. Kejernihan
Urin yang tampak normal tampak transparant saat dikeluarkan.
Pada klien yang mempunyai penyakit ginjal, urine yampak keruh atau
berbusa akibat tingginya konsentrasi protein dalam urine. selain itu, urine
pada orang yang menderita penyakit ginjal juga tampak pekat dan keruh
akibat adanya bakteri.
d. Bau
Urine memiliki bau yang khas. Semakin pekat warna urine, semakin
kuat baunya. Urine yang dibiarkan dalam jangka waktu lama akan
mengeluarkan bau amonia (potter dan perry 2006)
e. Nilai normal hasil urinalisis antara lain:Ph 4,6-8,0;protein < 10 mg/100
ml;glukosa tidak ad;berat jenis 1,010-1,030, tidak ada keton, tidak ada
bakteri, dan lain-lain(Potter & Perry,1999).

c. Analiasa Data

Data Dasar adalah kumpulan data yang berisikan mengenai status


kesehatan klien, kemampuan klien untuk mengelola kesehatan terhadap
dirinya sendiri, dan hasil konsultasi dari medis atau profesi kesehatan
lainnya. Data Fokus adalah data tentang perubahan-perubahan atau respon
klien terhadap kesehatan dan masalah kesehatannya serta hal-hal yang
mencakup tindakan yang dilaksanakan terhadap klien.

Pengumpulan data adalah pengumpulan informasi tentang klien yang


dilakukan secara sistematis untuk menentukan masalah-masalah, serta
kebutuhan-kebutuhan keperawatan dan kesehatan klien.

Pengumpulan informasi merupakan tahap awal dalam proses keperawatan.


Dari informasi yang terkumpul, didapatkan data dasar tentang masalah-
masalah yang dihadapi klien. Selanjutnya data dasar tersebut digunakan
untuk menentukan diagnosis keperawatan, merencanakan asuhan
keperawatan, serta tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah-masalah
klien.

Universitas Sumatera Utara


Tujuan Pengumpulan Data

1. Memperoleh informasi tentang keadaan kesehatan klien.

2. Untuk menentukan masalah keperawatan dan kesehatan klien.

3. Untuk menilai keadaan kesehatan klien.

4. Untuk membuat keputusan yang tepat dalam menentukan langkah


selanjutnya.

Tipe Data :

1. Data Subjektif

Data yang didapatkan dari klien sebagai suatu pendapat terhadap suatu
situasi dan kejadian. Informasi tersebut tidak bisa ditentukan oleh perawat,
mencakup persepsi, perasaan, ide klien tentang status kesehatannya. Misalnya
tentang nyeri, perasaan lemah, ketakutan, kecemasan, frustrasi, mual, perasaan
malu.

2. Data Objektif

Data yang dapat diobservasi dan diukur, dapat diperoleh menggunakan


panca indera (lihat, dengar, cium, raba) selama pemeriksaan fisik. Misalnya
frekuensi nadi, pernafasan, tekanan darah, edema, berat badan, tingkat
kesadaran.

Karakteristik Data

1. Lengkap

Data yang terkumpul harus lengkap guna membantu mengatasi masalah


klien yang adekuat. Misalnya klien tidak mau makan selama 3 hari. Perawat
harus mengkaji lebih dalam mengenai masalah klien tersebut dengan
menanyakan hal-hal sebagai berikut: apakan tidak mau makan karena tidak ada
nafsu makan atau disengaja? Apakah karena adanya perubahan pola makan atau
hal-hal yang patologis? Bagaimana respon klien mengapa tidak mau makan.

Universitas Sumatera Utara


2. Akurat dan nyata

Untuk menghindari kesalahan, maka perawat harus berfikir secara akurat dan
nyata untuk membuktikan benar tidaknya apa yang didengar, dilihat, diamati dan
diukur melalui pemeriksaan ada tidaknya validasi terhadap semua data yang
mungkin meragukan. Apabila perawat merasa kurang jelas atau kurang mengerti
terhadap data yang telah dikumpulkan, maka perawat harus berkonsultasi
dengan perawat yang lebih mengerti. Misalnya, pada observasi : “klien selalu
diam dan sering menutup mukanya dengan kedua tangannya. Perawat berusaha
mengajak klien berkomunikasi, tetapi klien selalu diam dan tidak menjawab
pertanyaan perawat. Selama sehari klien tidak mau makan makanan yang
diberikan”, jika keadaan klien tersebut ditulis oleh perawat bahwa klien depresi
berat, maka hal itu merupakan perkiraan dari perilaku klien dan bukan data yang
aktual. Diperlukan penyelidikan lebih lanjut untuk menetapkan kondisi klien.
Dokumentasikan apa adanya sesuai yang ditemukan pada saat pengkajian.

3. Relevan

Pencatatan data yang komprehensif biasanya menyebabkan banyak sekali data


yang harus dikumpulkan, sehingga menyita waktu dalam mengidentifikasi.
Kondisi seperti ini bisa diantisipasi dengan membuat data komprehensif tapi
singkat dan jelas. Dengan mencatat data yang relevan sesuai dengan masalah
klien, yang merupakan data fokus terhadap masalah klien dan sesuai dengan
situasi khusus.

Sumber Data

1. Sumber data primer

Klien adalah sumber utama data (primer) dan perawat dapat menggali
informasi yang sebenarnya mengenai masalah kesehatan klien.

2. Sumber data sekunder

Orang terdekat, informasi dapat diperoleh melalui orang tua, suami atau istri,
anak, teman klien, jika klien mengalami gangguan keterbatasan dalam

Universitas Sumatera Utara


berkomunikasi atau kesadaran yang menurun, misalnya klien bayi atau anak-
anak, atau klien dalam kondisi tidak sadar.

3. Sumber data lainnya

1. Catatan medis dan anggota tim kesehatan lainnya.

Catatan kesehatan terdahulu dapat digunakan sebagai sumber informasi yang


dapat mendukung rencana tindakan perawatan.

2. Riwayat penyakit

Pemeriksaan fisik dan catatan perkembangan merupakan riwayat penyakit


yang diperoleh dari terapis. Informasi yang diperoleh adalah hal-hal yang
difokuskan pada identifikasi patologis dan untuk menentukan rencana tindakan
medis.

3. Konsultasi

Kadang terapis memerlukan konsultasi dengan anggota tim kesehatan


spesialis, khususnya dalam menentukan diagnosa medis atau dalam
merencanakan dan melakukan tindakan medis. Informasi tersebut dapat diambil
guna membantu menegakkan diagnosa.

4. Hasil pemeriksaan diagnostik

Seperti hasil pemeriksaan laboratorium dan tes diagnostik, dapat digunakan


perawat sebagai data objektif yang dapat disesuaikan dengan masalah kesehatan
klien. Hasil pemeriksaan diagnostik dapat digunakan membantu mengevaluasi
keberhasilan dari tindakan keperawatan.

5. Perawat lain

Jika klien adalah rujukan dari pelayanan kesehatan lainnya, maka perawat
harus meminta informasi kepada perawat yang telah merawat klien sebelumnya.
Hal ini untuk kelanjutan tindakan keperawatan yang telah diberikan.

Universitas Sumatera Utara


6. Kepustakaan.

Untuk mendapatkan data dasar klien yang komprehensif, perawat dapat


membaca literatur yang berhubungan dengan masalah klien. Memperoleh
literatur sangat membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang
benar dan tepat.

Metoda Pengumpulan Data

1. Wawancara

2. Observasi

3. Pemeriksaan fisik

4. Studi Dokumentasi

6. Rumusan masalah
Pengkajian fungsi eliminasi urine klien yang dilakukan terus menerus
menunjukkan pola data yang memungkinkan perawat untuk merumuskan
masalah yang relevan dan akurat. Perawat berpikir secara kritis dengan
merefleksikan pengetahuannya tentang klien sebelumnya, meninjau kembali
karakteristik penentu yang teridentifikasi, menerapkan pengetahuan tentang
fungsi urine, dan kemudian membuat perumusan masalah yang spesifik.
Perumusan masalah dapat berfokus pada perubahan eliminasi urine atau
masalah-masalah terkait, seperti kerusakan integritas kulit yang berhubungan
dengan inkontinensia urine. identifikasi karakteristik penentu mengarahkan
perawat dalam merumuskan masalah yang tepat. Menspesifikkan faktor-faktor
terkait untuk setiap diagnosis memungkinkan pemilihan intervensi keperawatan
yang bersifat individual. Perumusan masalah pada klien retensi urine yang
disertai overflow, intervensi keperawatan jangka panjangnya bervariasi
tergantung kepada sebab akibatnya(Marilyn E, 1999).

Universitas Sumatera Utara


7. Perencanan
Dalam mengembangkan suatu rencan keperawatan, perawat menetapkan
tujuan dan hasil akhir yang diharapkan untuk setiap diagnosis. Rencan
menggabungkan aktivitas untuk meningkatkan kesehatan dan intervensi
terapeutik untuk klien yang mengalami masalah eliminasi urine. intervensi
preventif mungkin dibutuhkan oleh klien yang beresiko mengalami masalah
perkemihan. Perawat juga merencanakan terapi sesuai dengan tingkat keparahan
risiko pada klien. Dalamn proses keperawatan, penting untuk
mempertimbangkan lingkungan rumah klien dan eliminasi rutinnya yang normal
saat merencanakan terpi untuk klien. Merencanakan asuhan keperawatan juga
melibatkan suatu pemahaman tentang kebutuhan klien untuk mengontrol fungsi
tubuhnya. Perubahan eliminasi urine dapat menjadi sesuatu yang memalukan,
membuat tidak nyaman, dan sering membuat klien frustasi. Perawat dan klien
bekerja sama untuk menetapkan langkah guna mempertahankan keterlibatan
klien dalam asuhan keperawatan untuk mempertahankan eliminasi urineyang
normal(Marilyn E, 1999). Tujuan asuhan keperawatan untuk klien meliputi hal-
hal dibawah ini :
1. Memahami eliminasi urine yang normal
2. Meningkatkan pengeluaran kemih yang normal
3. Mencapai pengosongan kandungan kemih yang lengkap
4. Mencegah infeksi
5. Mempertahankan integritas kulit
6. Mendapatkan rasa nyaman

Universitas Sumatera Utara


PROGRAM DIII KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN USU

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI RUMAH SAKIT

BIODATA

A. IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn.B

Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 56 Tahun

Status Perkawinan : Menikah

Agama : Kristen

Pendidikan : Diploma

Pekerjaan : PNS

Alamat : Wonosari lk III Aek kanopan

Tanggal Masuk RS : 29 Mei 2013

No. Register : 00.56.07.69

Ruangan/Kamar : RA2 kamar 1A

Golongan Darah 0

Tanggal Pengkajian : 17 Juni 2013

Universitas Sumatera Utara


Tanggal Operasi : 02 Juli 2013

Diagnosa Medis : Urolitiasis

II. KELUHAN UTAMA

Sulit buang air kecil

III. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG

A. Provocative/Pallative
1. Apa penyebabnya
Tn.B sering menahan untuk BAK , dan sering komsumsi makanan dan
minuman tinggi kandungan kalsium dan purin
2. Hal-hal yang memperbaiki keadaan
Pasien mengatakan hal yang dapat memperbaiki keadannya dengan konsumsi
obat-obatan
3. Quantity/quality
1. Bagaimana dirasakan
Tn. B mengatakan merasakan sakit saat BAK
2. Bagaimana dilihat
Tn.B terlihat meringis saat BAK
dan volume urine (±300cc setiap BAK) , BAK dalam sehari tidak lebih
dari 4kali
4. Region
1. Dimana lokasinya
Pada saluran kemih
2. Apakah menyebar
Menyebar hingga pinggang kiri
5. Severity (mengganggu aktivitas)
Tn.B mengatakan sakit yang dirasakannya mengganggu aktivitas Tn.B
6. Time (kapan mulai timbul dan bagaimana terjadinya)
Tn. B mengatakan sejak 2 tahun yang lalu

Universitas Sumatera Utara


IV. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU

A. Penyakit yang pernah dialami


Hipertensi
B. Pengobatan/tindakan yang dilakukan
Berobat ke dokter spesialis
C. Pernah dirawat/dioperasi
Tn.B tidak pernah dirawat dan dioperasi
D. Lamanya dirawat
Tidak pernah
E. Alergi
Tn.B mengatakan tidak memiliki riwayat alergi
F. Imunisasi
Tn.B tidak mengetahui imunisasi yang telah didapat Tn.B

V. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA

A. Orang tua
Orangtua laki-laki Tn.B memiliki riwayat hipertensi
B. Saudara kandung
Saudara laki-laki Tn.B memiliki riwayat nefrotialisis
C. Penyakit keturunan yang ada
Hipertensi
D. Anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa
Tidak ada
E. Anggota keluarga yang meninggal
Kedua orang tua dan satu oarang saudara Tn. B
F. Penyebab meninggal
Penyakit hipertensi dan nefrotialisis

VI. RIWAYAT/KEADAAN PSIKOSOSIAL

A. Persepsi pasien tentang penyakitnya


Pasien masih optimis, kalau penyakitmya masih dapat sembuh.

Universitas Sumatera Utara


B. Konsep diri
1. Body Image : Pasien merasa dirinya sudah merepotkan orang
lain
2. Ideal diri : Pasien masih optimis untuk sembuh
3. Harga diri : Keluarga sangat menyayangi pasien
4. Peran diri : Peran pasien sebagai sebagai kepala keluarga
5. Personal Identity : Pasien sangat senang membaca koran
C. Keadaan emosi

Tn. B masih dapat mengontrol emosinya

D. Hubungan sosial
- Orang yang berarti
Keluarga pasien
- Hubungan dengan keluarga
Terlihat harmonis
- Hubungan dengan orang lain
Harmonis
- Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain
Penyakit yang di derita Tn.B
E. Spiritual :
- Nilai dan keyakinan : Agam kristen
- Kegiatan ibadah : Kebaktian minggu di gereja

VII. PEMERIKSAAN FISIK

A. Keadaan umum
Compos mentis
B. Tanda-tanda vital :
Suhu tubuh : 37,5˚ C Nadi : 85x/i
TD : 140/90 mmHg RR : 22x/i
TB : 160 cm Skala nyeri: 6
BB : 60 k

Universitas Sumatera Utara


C. Pemeriksaan kepala dan leher
Keadaan kepala, rambut , wajah Tn. B dalam keadaan normal, pada wajah
tidak ada kelainan, mata lengkap dan simetris serta tidak ada kelainan. Keadaan
hidung normal, lubang hidung bersih. Bentuk telinga Tn. B dalam keaadaan
normal serta tidak ada kelainan, pendengaran Tn. B baik/normal. Mulut dan
faring normal tidak ada pembengkakan, posisi leher normal dan tidak ada
pembengkakan.

D. Pemeriksaan integumen,payudara, ketiak dan thoraks


Keadaan integumen Tn. B bersih dan hangat,turgor kulit kembali cepat (<3
detik) serta tidak ada kelainan pada kulit Tn. B. Ukuran dan bentuk payudara
dalam keadaan normal, dan tidak ada pempemgkakan pada ketiak Tn. B .
thoraks dalam keadaan normal, pernafasan 22 kali permenit, irama teratur dan
tidak ada kesulitan dalam bernafas.

E. Pemeriksaan abdomen
Pada pengkajian inspeksi bentuk abdomen Tn. B tidak ada kelainan,
setelah diauskultasi bunyi peristaltik 8x/menit, ada nyeri tekan yang dirasakan
oleh Tn. B dan bunyi pada pengkajian perkusi adalah timpani serta tidak ada
tanda-tanda asites.

F. Pemeriksaan kelamin dan daerah sekitarnya


Keadan penis dalam kedaan normal,rambut pubis ada. Anus dan perinium
tidak ada kelaianan.

G. Pemeriksaan muskuloskeletal, neurologi.


Keadan muskuletal Tn. B normal dan simetris serta kekuatan otot baik.
Keadaan nervus pada pemeriksaan neurologi dalam keadaan normal.

Universitas Sumatera Utara


H. Pola kebiasaan sehari-hari
Pola makan Tn. B 3x makan utama +2x makan tambahan, nafsu makan
kurang baik,tidak ada alergi makanan tertentu.pemasukan cairan melalui oral
sebanyak 1400cc perhari ditambah cairan intravena sebanyak 2000cc perhari

I. Perawatan diri /personal hygiene


Perawtan diri dilakukan dengan bantuan minimal yang dilakukan oleh
perawat dan keluarga

J. Pola kegiatan / aktivitas


- Uraian aktivitas pasien untik makan, eliminasi, ganti pakaian dilakukan
secara mandir,sebagian atau total.
Tn. B melakukan aktivitasnya dibantu sebagian oleh keluarga dan
perawat.
- Uraian aktivitas ibadah pasien selam dirawat.
Tn. B melakukan aktivitas ibadahnya di tempat tidur,yaitu berdoa
K. Pola eliminasi
1. BAB
BAB lancar dan konsistensi lembek serta dalam keadaan normal
2. BAK
Pola BAK Tn. B tidak lancar (±4 kali/perhari) dengan volume urine ±300 cc
setiap kali BAK, ada kesulitan yang dirasakan ssat berkemih,warna urine
keruh, Tn. B mengatakan bahwa pernah mengalami riwayat kencing
batu(urine campur batu).

Universitas Sumatera Utara


Masalah keperawatan

Retensi urine

Diagnosa Keperawatan

Retensi urine berhubungan dengan tingginya tekanan uretra yang disebabkan oleh
kelemahan destrusor ditandai dengan urin residu 230cc, nyeri saat BAK ,nyeri
tekan pada umbilikus, kandung kemih terasa penuh.

Universitas Sumatera Utara


ANALISA DATA

No. Data Penyebab Masalah keperawatan

1. DS: Tn. B Urolitisis Retensi urine berhubungan dengan tingginya tekanan uretra
mengatakan
yang disebabkan oleh adanya sumbatan saluran kemih ditandai
kandung kemih
terasa penuh, nyeri dengan residu kandung kemih(+), nyeri saat BAK 5, ada nyeri
saat BAK, tidak Penyumbatan saluran kemih
tekan pada umbilikus, kandung kemih terasa penuh, tidak
meras puas setelah
BAK merasa puas setelah BAK.

Peningkatan tekanan uretra


DO: residu kandung
kemih(+)
ada nyeri tekan pada
umbilikus sampai Sulit berkemih
simfisis pubis, skala
nyeri pada saat BAK
:5
ketidakseimbangan intake output

Retensi urine

Universitas Sumatera Utara


PERENCANAAN KEPERAWATAN DAN RASIONAL

Hari/ No. Dx I Perencanaan Keperawatan Rasional


Tanggal
Selasa Tujuan dan 1. Awasi pemasukan dan pengeluaran memberikan informasi tentang fungsi ginjal
18 juni 2013 Kriteria Hasil : serta karakteristik urine dan adanya komplikasi contoh infeksi dan
Mempertahankan pendarahan. Pendarahan dapat
keseimbangan mengidentifikasi peningkatan obstruksi atau
intake output, iritasi ureter.
Nyeri tekan pada 2. Tentukan pola berkemih pasien dan kalkulus dapat menyebabkan eksitabilitas
umbilikus perhatikan variasi berkemih saraf, yang menyebabkan sensasi
berkurang, residu kebutuhan berkemih segera. Biasanya
urine dalam batas frekuensi dan urgensi meningkat bila
normal kalkulus mendekati pertemuan

3. Periksa semua urine. Catat adanya uretrovesikal.

keluaran batu dan kirim ke


laboratorium untuk di analisa Penemuan batu memungkinkan identifikasi
4. Selidiki keluhan kandung kemih tipe batu dan mempengaruhi pilihan terapi.

Universitas Sumatera Utara


penuh : palpasi untuk distensi
suprapubik. Perhatikan penurunan Retensi urine dapat terjadi, menyebabkan
keluaran urine, adanya edema distensi jaringan (kandungan kemih/ginjal)
periorbital/tergantung. dan potensi resiko infeksi, gagal ginjal.
5. Observasi perubahan status mental,
perilaku atau tingkat kesadaran.

Akumulasi Sisa Uremik Dan


6. Awasi pemeriksaan laboratorium Ketidakseimbangan Elektrolit Dapat
Menjadi Toksik Pada Spp
peninggian BUN, kreatinin, dan elektrolit
mengindikasikan disfungsi ginjal.

Universitas Sumatera Utara


IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Hari/ Dx Implementasi Keperawatan Evaluasi


tanggal
19 juni Retensi urine 1. Mengawasi pemasukan dan S: Tn. B mengatakan masih merasa tidak puas setelah
2013 berhubungan pengeluaran serta karakteristik BAK
dengan tingginya urine nyeri tekan pada umbilikus berkurang,
tekanan uretra yang
disebabkan adanya 2. Menenentukan pola berkemih O: Pasien tampak meringis saat BAK urine : ± 350 cc sekali
pasien dan perhatikan variasi
sumbatan pada BAK,volume residu(+)
berkemih
saluran kemih. Skala nyeri:5
HR :84 x/menit
3. memeriksa semua urine. Catat
TD :130/90 mmHg
adanya keluaran batu dan kirim
RR : 22 x/menit
ke laboratorium untuk di analisa
T :37 °C

4. menyelidiki keluhan kandung


kemih penuh : palpasi untuk A: Masalah belum teratasi

distensi suprapubik. Perhatikan


penurunan keluaran urine. P : Intervensi dilanjutkan

Universitas Sumatera Utara


5. mengobservasi perubahan status
mental, perilaku atau tingkat
kesadaran.
6. Mengawasi pemeriksaan
laboratorium

Universitas Sumatera Utara