Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI FARMASI

LIQUIDA SEMISOLIDA

INFUS MANITOL 5%

Disusun Oleh:
Kelompok 2B

1. Nanda Nurhaliza Z 170106032


2. Rama Rabiansyah 170106036
3. Ririn Artha Mulya 170106038
4. Riska Permatasari 170106039
5. Tias Kurniawati 170106047

PROGRAM STUDI FARMASI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANDUNG

2019
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Sediaan steril adalah bentuk sediaan obat dalam bentuk terbagi - bagi
yang bebas dari mikroorganisme hidup. Pada prinsipnya, yang termasuk
sediaan ini antara lain sediaan parental preparat untuk mata dan preparat
irigasi (misalnya infus). Sediaan parental merupakan jenis sediaan yang
unik di antara bentuk sediaan obat terbagi - bagi, karena sediaan ini
disuntikan melalui kulit atau membran mukosa ke bagian tubuh yang paling
efesien, yaitu membran kulit dan mukosa, maka sediaan ini harus bebas
dari kontaminasi mikroba dan dari bahan - bahan toksis lainnya, serta harus
memiliki tingkat kemurnian yang tinggi. Semua bahan dan proses yang
terlibat dalam pembuatan produk ini harus dipilih dan dirancang untuk
menghilangkan semua jenis kontaminasi, apakah kontaminasi fisik, kimia
atau mikrobiologis (Priyambodo, 2007).
Produk steril yang banyak diproduksi di industri farmasi adalah dalam
bentuk larutan terbagi (ampul) dan bentuk serbuk padat siap untuk
digunakan dengan diencerkan terlebih dahulu dengan larutan pembawa
(vial). Sediaan parental, bisa diberikan dengan berbagai rute: intra vena
(i.v), sub cutan (s.c), intradermal, intramuskular (i.m), intra articular, dan
intrathecal. Bentuk sediaan sangat mempengaruhi cara (rute) pemberian.
Sediaan bentuk suspensi, misalnya tidak akan pernah diberikan secara
intravena yang langsung masuk ke dalam pembuluh darah karena adanya
bahaya hambatan kapiler dari partikel yang tidak larut, meskipun suspensi
yang dibuat telah diberikan dengan ukuran partikel dari fase dispersi yang
dikontrol dengan hati-hati. Demikian pula obat yang diberikan secara
intraspinal (jaringan syaraf di otak), hanya bisa diberikan dengan larutan
dengan kemurnian paling tinggi, oleh karena sensivitas jaringan syaraf
terhadap iritasi dan kontaminasi (Priyambodo, 2007).
Infus adalah larutan dalam jumlah besar terhitung mulai dari 100 mL yang
diberikan melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan peralatan yang
cocok. Asupan air dan elektrolit dapat terjadi melalui makanan dan minuman
dan dikeluarkan dalam jumlah relative sama. Ketika terjadi gangguan
hemostatif, maka tubuh harus segera mendapatkan terapi untuk
mengembalikan air dan elektrolit (Anief, 1997).
Terapi Intravena (IV) adalah menempatkan cairan steril melalui jarum,
langsung kevena pasien. Biasanya cairan steril mengandung elektrolit
(natrium, kalsium,kalium), nutrient (biasanya glukosa), vitamin atau obat.
Terapi intravena adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh, melalui
sebuah jarum, ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk
menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh (Brunner
& Sudarth, 2002).
Terapi intravena (IV) digunakan untuk memberikan cairan ketika pasien
tidak dapat menelan, tidak sadar, dehidrasi atau syok, untuk memberikan
garam yang dirperlukan untuk mempertahankan keseimbangan elektrolit,
atau glukosa yang diperlukan untuk metabolisme dan memberikan medikasi
(Perry, 2005).
Manitol saat ini merupakan diuretika osmotika yang banyak digunakan
sebagai obat pilihan untuk mengatasi tekanan tinggi intrakranial. Manitol
merupakan diuretika osmotika utama yang digunakan untuk mengurangi
edema serebri. Manitol menurunkan tekanan intrakranial dengan cara
memindahkan cairan dari intraseluler ke ruang intravascular. Pemindahan
cairan tersebut karena menaikkan gradient osmotik antara otak dengan
darah. Efek cepat manitol didapat dari perubahaan keenceran darah yang
akan menaikkan aliran darah otak serta oksigenasi otak yang akan
menyebabkan vasokontriksi yang berujung pada penurunan tekanan
intracranial (Arifin dan Risdianto, 2012).
Manitol-gula ini (C6H14O6) terdapat di tumbuh-tumbuhan dan getahnya,
juga ditumbuhan laut. Diperoleh dengan cara reduksi elektrolitis dari
glukosa. Efek diuretisnya pesat tetapi singkat , dan berdasarkan sifatnya
dapat melintasi glomeruli secara lengkap , praktis tanpa reabsorpsidi tubuli ,
hingga penyerapan kembali air dirintamgi secara osmotis. Terutama
digunakan sebagai infus untuk menurunkan tekanan intraokuler pada
glaucoma dan selama bedah mata, juga untuk meringankan tekanan
intracranial pada bedah otak. Manitol adalah 0,6 kali kurang manis
dibandingkan gula (sakarosa) , maka digunakan sebagai zat pengganti gula
bagi penderita diabetes (1 g menghasilkan 1,9 kcal) dan dalam pelbagai
gula-gula bagi anak (candy) berkat sifat non-cariogennya (tidak
mengakibatkan carises). Diatas 20 g sehari , manitol berkhasiat laksatif,
maka ada kalanya digunakan sebagai obat pencahar (dr. Willy, 2018).
Dosis pada infus manitol untuk dieuretik pada dewasa : 50-100 gram
sebagai larutan infus intravena, diberikan dengan kecepatan 30-50 mL per
jam. Penurunan tekanan intracranial: 0,25 gram per kg BB diberikan tiap 6-8
jam. Untuk anak : 0,25-2 g/kg BB atau 60 gram per meter pesegi luas
permukaan tubuh sebagai larutan infus intravena manitol 20% diberikan
dalam waktu 2–6 jam. Penuunan tekanan intracranial: 0,25 g/kg BB
diberikan tiap 6 -8 jam (ISO hal 411, 2014).
I.2 Perumusan Masalah
1. Bagaimana rancangan formula sediaan infus manitol 5%?
2. Bagaimana karakteristik fisika-kimia sediaan infus manitol 5%?
I.3 Tujuan Praktikum
1. Menentukan rancangan formula sediaan infus manitol 5%.
2. Mengevaluasi karakteristik fisika-kimia sediaan infus manitol 5%.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Singkat Sedian


Larutan intravena volume besar adalah injeksi dosis tunggal untuk
intravena dan dikemas dalam wadah bertanda volume lebih dari 100 mL.
Infus adalah larutan dalam jumlah besar terhitung mulai dari 100 ml yang
diberikan melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan peralatan yang
cocok. Asupan air dan elektrolit dapat terjadi melalui makanan dan minuman
dan dikeluarkan dalam jumlah yang relatif sama, rasionya dalam tubuh
adalah air 57%, lemak 20,8%, protein 17,0%, serta mineral dan glikogen
6%. Ketika terjadi gangguan hemostatif, maka tubuh harus segera
mendapatkan terapi untuk mengembalikan keseimbangan air dan elektrolit
larutan untuk infus intravenous harus jernih dan praktis bebas partikel
(Lukas, 2006).
Injeksi volume besar atau injeksi yang dimaksudkan untuk pemberian
langsung ke dalam pembuluh darah vena harus steril dan isotonis dengan
darah, dikemas dalam wadah tunggal berukuran 100 mL-2000 mL. Tubuh
manusia mengandung 60 air dan terdiri atas cairan intraseluler (di dalam
sel), 40 yang mengandung ion-ion K+, Mg+, sulfat, fosfat, protein serta
senyawa organik asam fosfat seperti ATP, heksosa, monofosfat dan lain-
lain. Air mengandung cairan ekstraseluler (di luar sel) 20 yang kurang lebih
mengandung 3 liter air dan terbagi atas cairan intersesier (diantara kapiler)
15 dan plasma darah 5 dalam sistem peredaran darah serta mengandung
beberapa ion seperti Na+, klorida dan bikarbonat (Anief, 2008).
Manitol adalah obat diuretik yang digunakan untuk mengurangi tekanan
dalam kepala (intrakranial) akibat pembengkakan otak serta menurunkan
tekanan bola mata akibat glaukoma. Manitol akan membuat darah yang
akan disaring oleh ginjal menjadi lebih pekat, sehingga mengganggu fungsi
ginjal untuk menyerap air kembali. Hal ini mengakibatkan tubuh membuang
air dalam bentuk urine lebih banyak. Pembuangan urine yang banyak ini
membuat kandungan air di sel otak dan bola mata juga berkurang, sehingga
tekanan menurun. Dosis manitol bagi orang dewasa yang digunakan untuk
mengurangi tekanan di dalam otak atau bola mata adalah 0,25-2 g/kgBB.
Infus diberikan melalui pembuluh vena dalam (intravena) pada larutan yang
mengandung manitol 15-25%, selama 30-60 menit (dr. Willy, 2018).

Syarat-Syarat Infus (Lukas, 2006).


1. Aman, tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan dan efek toksis.
2. Jernih, berarti tidak ada partikel padat.
3. Tidak berwarna, kecuali obatnya memang berwarna.
4. Sedapat mungkin isohidris, pH larutan sama dengan darah dan cairan
tubuh lain yakni 7,4.
5. Sedapat mungkin isotonis, artinya mempunyai tekanan osmosis yang
sama dengan darah atau cairan tubuh yang lain tekanan osmosis cairan
tubuh seperti darah, air mata, cairan lumbai dengan tekanan osmosis
larutan NaCl 0,9 %.
6. Harus steril, suatu bahan dinyatakan steril bila sama sekali bebas dari
mikroorganisme hidup dan patogen maupun non patogen, baik dalam
bentuk vegetatif maupun dalam bentuk tidak vegetatif (spora).
7. Bebas pirogen, karena cairan yang mengandung pirogen dapat
menimbulkan demam. Pirogen adalah senyawa kompleks polisakarida
dimana mengandung radikal yang ada unsur N, dan P. Selama radikal
masih terikat, selama itu dapat menimbulkan demam dan pirogen
bersifat termostabil.

Keuntungan Sediaan Infus (Ansel, 2008).


1. Obat memiliki onset (mula kerja) yang cepat.
2. Efek obat dapat diramalkan dengan pasti.
3. Biovaibilitas obat dalam traktus gastrointenstinalis dapat dihindarkan.
4. Obat dapat diberikan kepada penderita sakit keras atau dalam keadaan
koma.
5. Kerusakan obat dalam tractus gastrointestinal dapat dihindarkan.

Kerugian Sediaan Infus (Ansel, 2008).


1. Rasa nyeri saat disuntikkan apalagi kalau harus diberikan berulang kali.
2. Memberikan efek fisikologis pada penderita yang takut suntik.
3. Kekeliruan pemberian obat atau dosis hapir tidak mungkin diperbaiki
terutama sesudah pemberian intravena.
4. Obat hanya dapat diberikan kepada penderita dirumah sakit atau
ditempat praktek dokter oleh perawat yang kompeten.
5. Lebih mahal dari bentuk sediaan non steril dikarenakan ketatnya
persyaratan yang harus dipenuhi (steril, bebas pirogen, jernih, praktis dan
bebas partikel).

II.2 Teori Zat Aktif


 Golongan Zat Aktif
Diuretik ( ISO vol 51 hal 239).
 Mekanisme Kerja
1. Farmakokinetik
Manitol harus diberikan secara parenteral karena pemberian
secara oral tidak diserap. Manitol didistribusikan hampir seluruhnya
dalam cairan ekstraseluler, dan hanya sedikit yang masuk ke dalam
sel. Sebagai hasilnya, hanya 7% hingga 10% yang dimetabolisme,
mungkin di hati, sedangkan sisanya secara bebas disaring oleh
glomerulus dan diekskresikan utuh dalam urin. Sekitar 7 persendi
serap kembali oleh tubulus ginjal. Dengan fungsi ginjal normal,
setelah dosis tunggal manitol intravena, half life manitol dalam
sirkulasi plasma adalah sekitar 15 menit. Dari dosis yang diberikan,
90% ditemukan dalam urin setelah 24 jam. Namun, pada insufisiensi
ginjal yang berat maka tingkat ekskresi manitol sangat berkurang
sehingga manitol dalam tubuh dapat meningkatkan tonisitas
ekstraselular menyebabkan pergeseran air keluar dari sel,
memperbanyak cairan ekstra selular dan menyebabkan terjadinya
hiponatremia serta osmolalitas serum yang meningkat. Oleh karena
itu, manitol harus digunakan dengan hati-hati pada kondisi
insufisiensi ginjal (Nissenson, 1979).
Karena berat molekulnya yang rendah (182), manitol secara
bebas disaring melalui tubulus ginjal. Namun, karena tidak diserap,
terus menjadi osmotik aktif dalam tubulus, hal inilah yang
menyebabkan aksinya sebagai diuretik osmotik. Manitol juga
menyebabkan pelepasan prostaglan di ginjal yang menyebabkan
vasodilatasi ginjal dan peningkatan aliran urin tubular yang dipercaya
untuk melindungi terhadap cedera ginjal dengan mengurangi
obstruksi tubular. Hal ini juga bertindak sebagai scavenger radikal
bebas dan mengurangi efek berbahaya dari radikal bebas selama
ischaemia–reperfusion injury (Shawkat, 2012).
2. Farmakodinamik
Diuretik osmotic terutama bekerja pada tubulus proksimal dan
parsedsendens lengkung Henle. Melalui efek osmotik, diuretic juga
menghambat efek ADH pada collecting tubule. Manitol mencegah
penyerapan normal air dengan kekuatan osmotik, sehingga volume
urin meningkat. Peningkatan laju aliran urin mengurangi waktu
kontak antara cairan dan epitel tubular, sehingga mengurangi Na+
serta reabsorpsi air (Tavakkoli, 2011).
 Indikasi
Terapi dan profilaksis pada gagal ginjal akut, edema otak,
peningkatan tekanan intrakranial (Kalbemed, 2019).
 Kontraindikasi
Kongesti atau edema paru, perdarahan intrakranial kecuali selama
prosedur kraniotomi, gagal jantung kongestif, edema metabolik dengan
fragilitas kapiler abnormal, dan gagal gantung (ISO vol 51 hal 239).
 Efek Samping
Gangguan keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit, gangguan
saluran cerna, rasa haus, sakit kepala, pusing, mengigil, demam,
takikardi, nyeri dada, hiponatremia, dehidrasi, penglihatan kabur,
urtikaria, hipotensi atau hipertensi (ISO vol 51 hal 239).
 Interaksi Obat
Interaksi penggunaan manitol dapat terjadi akibat penggunaan pada
waktu bersamaan dengan obat-obatan tertentu dan kondisi kesehatan
tertentu seseorang. Interaksi ini dapat mempengaruhi cara kerja obat
menjadi tidak baik dan meningkatkan resiko efek samping yang
berbahaya. Obat-obatan yang dapat berinteraksi tersebut seperti
arsenic trioxide, lithium, cisplatin, digoxin, metaraminol, droperidol,
sotasol, levomethadyl, noradrenaline, potassium chloride, sodium
chloride, streptomycin sulphate, suxamethonium, tetracycline,
tobramycin, dan licorice (Honestdocs, 2019).
 Dosis
250 mL - 1000 mL dalam 24 jam (ISO Vol 51 hal 239).
II.3 Preformulasi Zat Aktif dan Zat Tambahan
A. Manitol (BM 182,17)

 Pemerian
Serbuk hablur putih atau granul mengalir bebas; tidak berbau; rasa
manis (FI ed V hal 799, 2014).
 pKa/ pH
pH manitol : 5,0-7,0
pH sediaan injeksi : 4,5-7,0 (FI ed V hal 800, 2014).
 Kelarutan

Mudah larut dalam air; larut dalam larutan basa; sukar larut dalam
piridin; sangat sukar larut dalam etanol; praktis tidak larut dalam eter (FI
ed V hal 799, 2014).

 Inkomptabilitas
Larutan Mannitol 20% b/v atau lebih kuat, dapat diasinkan oleh
potasium klorida atau natrium klorida. Mannitol tidak kompatibel dengan
infus xylitol dan mungkin membentuk kompleks dengan beberapa logam
seperti aluminium, tembaga, dan besi. Mengurangi pengotor gula dalam
manitol telah terlibat dalam degradasi oksidatif peptida dalam formasi
terliofilisasi. Mannitol ditemukan untuk mengurangi ketersediaan hayati
oral simetidin dibandingkan dengan sukrosa (HOPE 6th, Hal 424).
 Fungsi
Agen terapi dan agen tonisitas (HOPE 6th, Hal 424).
 Bentuk Zat aktif
Serbuk.
 Bentuk sediaan
Infus.
 Penyimpanan wadah
Dalam wadah yang tertutup rapat di tempat sejuk dan kering (HOPE
6th, Hal 424).
B. Natrium Klorida.
 Pemerian
Hablur bentuk kubus, tidak berwarna atau serbuk hablur putih, rasa
asin (Farmakope Indonesia edisi IV hal 584).
 pH
 Kelarutan
Mudah larut dalam air, sedikit mudah larut dalam air mendidih, larut
dalam gliserin, sukar larut dalam etanol (Farmakope Indonesia edisi IV
hal 585).
 Inkompabilitas
 Fungsi
Pengatur tonisitas (Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th ed.,
2009, hlm. 637)
 Bentuk zat aktif yang digunakan
Cairan.
 Bentuk Sediaan
Injeksi
 Wadah dan Penyimpanan
dalam wadah tertutup baik (Farmakope Indonesia edisi IV hal 585).
C. Karbon Adsorben (FI ed IV hal 173, 1995).

 Pemerian
Serbuk halus, bebas dari butiran, hitam, tidak berbau, tidak berasa.
 pH
 Kelarutan
Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol.
 Inkompabilitas
Pembakaran yang cepat adalah mungkin ketika kontak dengan
oksidasi kuat seperti ozon, oksigen cair, klorin (MSDS).
 Fungsi
Penjerap pirogen, meghilangkan pirogen dalam sediaan.
 Bentuk zat aktif yang digunakan
Serbuk.
 Bentuk Sediaan
Infus.
 Wadah dan Penyimpanan
Dalam wadah tertutup baik.
D. Air Pro Injeksi (HOPE 6th, Hal 766-768).

 Pemerian
Cairan jernih, tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa.
 pH
 Kelarutan
Dapat bercampur dengan pelarut polar lainnya.
 Inkompabilitas
Air dapat bereaksi dengan obat dan berbagai eksipien yang rentan
akan hidrolisis (terjadi dekomposisi jika terdapat air atau kelembapan)
pada peningkatan temperatur. Air bereaksi secara kuat dengan logam
alkali dan bereaksi cepat dengan logam alkali tanah dan oksidanya
seperti kalsium oksida dan magnesium oksida. Air juga bisa bereaksi
dengan garam anhidrat menjadi bentuk hidrat.
 Fungsi
Pelarut.
 Bentuk zat aktif yang digunakan
Cairan.
 Bentuk Sediaan
Infus.
 Wadah dan Penyimpanan
Simpan dalam wadah tertutup rapat.
BAB III
METODOLOGI KERJA

III.1 Alat dan Bahan yang digunakan


Tabel 1. Alat yang digunakan Tabel 2. Bahan yang digunakan

No Alat No Bahan

1. Beaker Glass 1. Manitol

2. Batang Pengaduk 2. Natrium Klorida

3. Corong Gelas 3. Karbon Adsorben

4. Cawan Penguap 4. Akua Pro Injeksi

5. Gelas Ukur 5. Plastik Wrap

6. Kaca Arloji 6. Tali Kasur

7. Neraca Analitik 7. Alumunium foil

8. Pipet Tetes 8. Plastik Tahan Panas

9. Spatula Logam 9. Kertas Perkamen

10. Hot Plate 10. pH Meter

11. Termometer 11. Kapas Berlemak


12. Kassa
12. Pinset
13. Kertas Saring
13. Botol kaca

14. Autoklaf

15. Erlenmeyer
III.2 Permasalahan dan Penyelesaian Masalah dalam Formulasi
Tabel 3. Permasalahan dan penyelesaian masalah.
No Permasalahan Penyelesaian
1. Zat aktif manitol dibuat dalam sediaan Manitol dibuat dalam sediaan
infus. infus yang harus isotonis
terhadap cairan tubuh.
2. Sediaan steril harus bebas dari pirogen Ditambahkan karbon
adsorben agar sediaan bebas
dari pirogen.
3. Untuk mencapai pH sediaan yang Ditambahkan adjust pH
diinginkan seperti NaOH dan HCl 0,1 N.
4. Pada pembuatan sediaan infus Untuk mengatasinya manitol
dilakukan depirogenase menggunakan dilebihkan 3% pada saat
karbon aktif sehingga ada penimbangan.
kemungkinan berkurangnya kosentrasi
zat aktif akibat adsorbsi karbon.

III.3 Pendekatan Formula


Tabel 4. Pendekatan formula (Niazi, 2009).
No Bahan Konsentrasi Fungsi

1. Manitol 5% Zat Aktif

2. Natrium Klorida 0,0135% Pengisotonis

3. Karbon Adsorben 0,1% Penyerap Pirogen

3. Akua Pro Injeksi ad 100% Pelarut


III.4 Perhitungan Bahan dan Penimbangan
A. Perhitungan Tonisitas
No Nama Bahan Jumlah E Tonisitas
1. Manitol 5% 0,1773 0,8865%
Total 0,8865%
(Hipotonis)

Diketahui: - Liso = 1,9


- Bm manitol = 182,17
Ditanya: Tonisitas manitol?
Jawab: Tonisitas Manitol =
Ditanyakan = tonisitas ?
17 x Liso 17 x 1,9
Jawab : E= = = 0, 1773
BM 182,17

Rumus ekuivalen manitol = 5% x 0,1773%


= 0,8865%
Tonisitas = 0,9%-0,8865% = 0,0135%
B. Perhitungan Osmolaritas
Diketahui: - Bobot zat = 25 gram/liter
- Bobot Molekul = 182,17
- Jumlah Ion =1
Ditanya: Osmolaritas Manitol?
Bobot Zat
Jawab: Osmolaritas Manitol = Bobot Molekul x 1000 x jumlah ion
25 g/mL
0,5 L
= x 1000 x 1
182,17

= 274,47 mOsmol/L
Menurut perhitungan osmolaritas, maka larutan manitol bersifat hipotonis
sehingga perlu ditambahkan Natrium Klorida.
C. Perhitungan Bahan
Jumlah yang dibuat 1 botol kaca, botol kaca berisi 500 mL + 3% = 515 mL
5 gram
Manitol 5% = 100 mL x 515 mL = 25,75 gram
0,1 gram
Karbon Adsorben 0,1% = x 515 mL = 0,515 gram
100 mL
0,0135 gram
Natrium Klorida 0,0135% = x 515 mL = 0,07 gram
100 mL

Aqua pro injeksi ad 100%


III.5 Prosedur Kerja
A. Prosedur Pembuatan Sediaan
1. Kelas E (Ruang Sterilisasi)
Semua alat disterilkan dengan cara masing-masing
a. Alat-alat yang akan disterilkan, dicuci bersih terlebih dahulu dan
dikeringkan.
b. Alat yang mempunyai mulut seperti erlenmeyer dan gelas ukur di
tutup dengan kapas berlemak yang dilapisi menggunakan kassa.
Setelah itu dibungkus kembali menggunakan alumunium foil dan
plastik wrap kemudian diikat menggunakan tali kasur.
c. Khusus untuk alat-alat yang permukaannya harus steril seperti
pipet tetes, batang pengaduk, mortir, stamper, pinset, spatel
logam, corong, dan termometer dibungkus seluruhnya
menggunakan alumunium foil dan plastik wrap.
d. Untuk kaca arloji, beaker glass dan cawan penguap dibungkus
menggunakan perkamen lebar lalu diikat dengan tali kasur
kemudian dimasukkan kedalam plastik dan dilapisi dengan plastik
wrap.
e. Sedangkan untuk karet pipet tetes, sudip dan pot plastik direndam
menggunakan alkohol 70% di gelas kimia selama 24 jam.
f. Alat lainnya seperti lap dan tissu yang akan digunakan pada saat
praktikum perlu disterilkan dengan cara dimasukkan ke dalam
plastik tahan panas dan dilapisi plastik wrap.
g. Alat-alat yang berpresisi dan tidak berpresisi seperti diatas
disterilisasi menggunakan autoklaf pada suhu 121oC pada tekanan
0,15 ppm selama 15-20 menit lalu dikeringkan. Alat-alat yang
sudah steril diberi label dan disimpan.
h. Pembuatan aqua steril pro injeksi, 50 mL akuades yang disterilkan
menggunakan autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit.
i. Setelah disterilkan semua alat dan wadah dimasukkan kedalam
Kelas D melalui transfer box.
2. Kelas E (Ruang Penimbangan)
a. Lakukan penggerusan dan penimbangan untuk masing-masing
bahan.
b. Manitol ditimbang menggunakan cawan penguap steril dan Natrium
Klorida ditimbang menggunakan kertas perkamen steril.
c. Kaca arloji yang berisi bahan yang telah ditimbang ditutup
menggunakan alumunium foil.
d. Bahan baku (zat aktif dan zat eksipien) dimasukkan ke white area
melalui transfer box.
3. Kelas C (Ruang Pencampuran dan pengisian)
a. Manitol sebanyak dilarutkan dengan sebagian akua pro injeksi
kedalam beaker glass diaduk menggunakan batang pengaduk
hingga larut.
b. Natrium klorida dilarutkan menggunakan akua pro injeksi kedalam
beaker glass steril yang lain diaduk menggunakan batang
pengaduk, setelah larut dimasukan kedalam beaker glass yang
berisi larutan manitol.
c. Dilakukan pengecekan pH menggunakan pH meter.
d. Bila nilai pH belum mencapai nilai pH yang diinginkan ditambah
larutan NaOH 0,1N atau HCL 0,1 N hingga pH mencapai 7. Lalu,
volume digenapkan menggunakan akua pro injeksi hingga 515 mL.
e. Larutan disaring kembali menggunakan kertas saring.
f. Filtrat dimasukkan kedalam botol kaca yang telah ditara sebanyak
500 mL tiap botol botol kaca.
4. Kelas A baground B (Ruang Penutupan)
a. Botol kaca ditutup menggunakan tutup karet botol kaca steril.
5. Kelas E (Ruang Stelilisasi)
a. Sterilisasi akhir dilakukan dengan autoklaf pada suhu 121°C selama
15 menit.
6. Kelas E (Ruang Stelilisasi)
a. Dilakukan evaluasi sediaan, sediaan diberi etiket dan brosur dan
dikemas dalam dus.
B. Prosedur Evaluasi Sediaan (Prosedur Evaluasi dan Syarat)
Tabel 5. Prosedur evaluasi sediaan
No Prosedur Syarat

1. Evaluasi organoleptis Warna harus sesuai dengan


warna sediaan infus.
Warna :Dilihat kesesuaian warna.

2. Penetapan pH (FI IV hal 1563). Harga pH dilihat dari yang


tertera pada kertas indikator
Metode : menggunakan kertas
universal (FI IV hal 1563).
indikator universal dengan cara
dicelupkan kedalam sediaan. Persyaratan:

pH manitol : 5,0-7,0

pH sediaan injeksi : 4,5-7,0


(FI ed V hal 800, 2014).

3. Uji Kejernihan (FI ed IV hal 998, Suatu cairan dikatakan


1995). jernih apabila kejernihannya
Membandingkan kejernihan larutan sama dengan air atau
dengan suspensi padanan, pelarut yang digunakan.
dilakukan dibawah cahaya yang
terdifusi tegak lurus kearah bawah
dengan latar belakang hitam.
4. Uji Kebocoran (Agoes hal 191, Larutan didalam wadah
1993). tidak berwarna biru.
Wadah takaran tunggal yang masih Kertas saring tidak menjadi
panas setelah selesai disterilkan, basah (Agoes hal 191,
dimasukkan kedalam larutan 1993).
metilen blue 0,1%. Jika ada wadah
yang bocor maka larutan metilen
blue akan masuk kedalam karena
perubahan tekanan luar dan
didalam wadah tersebut sehingga
larutan dalam wadah akan
berwarna biru.
Menguji botol infuse dengan
membalikkan sediaan dibawah
kertas saring.
BAB IV

HASIL PERCOBAAN

IV.1 Hasil Evaluasi Sediaan


Tabel 6. Hasil Evaluasi Sediaan.

No Nama Syarat Hasil Kesimpulan


Evaluasi

1. Evaluasi Warna harus Warna: Larutan Memenuhi


Organoleptis sesuai sediaan Jernih. Persyaratan.
infus.

2. Penetapan Harga pH dilihat pH sediaan infus Memenuhi


pH. dari yang tertera manitol adalah 7. Persyaratan.
pada
potensiometer (FI
IV hal 1563).

Persyaratan:

pH manitol: 5,0-7,0

pH sediaan injeksi:
4,5-7,0 (FI ed V
hal 800, 2014).

3. Uji Suatu cairan Larutan infus yang Memenuhi


Kejernihan dikatakan jernih dihasilkan jernih. Persyaratan.
apabila
kejernihannya
sama dengan air
atau pelarut yang
digunakan (FI ed
IV hal 998, 1995).
4. Uji Tidak boleh ada Tidak ada Memenuhi
Kebocoran kebocoran selama kebocoran pada Persyaratan.
botol infus atau setelah botol infus.
(FI ed IV hal pengujian selesai
1086, 1995). (FI ed IV hal 1086,
1995).
BAB V

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini, dilakukan pembuatan sediaan parenteral


volume besar berupa infus dengan zat aktif manitol. Infus sendiri adalah
sediaan parenteral dengan volume besar berupa sediaan cairan steril yang
mengandung obat yang dikemas dalam wadah lebih dari 100 mL, dan umumnya
diberikan secara intravena dengan kecepatan pemberian dosis yang konstan. Infus
intravenous adalah sediaan steril berupa larutan atau emulsi, bebas pirogen dan
sedapat mungkin dibuat isotois terhadap darah, disuntikkan langsung kedalam
vena dalam volume relative banyak (FI ed III,1979). Tujuan dibuat sediaan infus
steril karena berhubungan langsung dengan darah atau cairan tubuh dan jaringan
tubuh lainnya untuk pertahanannya terhadap zat asing tidak selengkap pada
saluran pencernaan atau gastrointestinal.
Manitol berfungsi untuk terapi oedema otak. Manitol adalah suatu hiperosmotik
agent yang digunakan dengan segera meningkat volume plasma untuk
meningkatkan aliran darah otak dan menghantarkan oksigen. Manitol tergolong
sebagai obat diuretic osmotik. Diuretik osmotik terdiri dari dua kata yaitu diuretik
dan osmotik. Diuretik ialah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan
urine dengan adanya natriuresis (peningkatan pengeluaran natrium) dan diuresis
(peningkatan pengeluaran H2O). Manitol merupakan golongan obat keras dengan
tanda lingkaran merah dengan garis tepi hitam dan huruf K ditengah lingkaran
yang menyentuh garis tepi lingkaran. Obat ini adalah obat yang harus dibeli
dengan resep dokter di Apotek atau Instalasi Farmasi Rumah Sakit (Syamsuni,
2007).
Pada praktikum pembuatan sediaan infus ini digunakan zat aktif yaitu manitol
yang memiliki kelarutan mudah larut dalam air, larut dalam larutan basa, sukar
larut dalam piridin, sangat sukar larut dalam etanol, praktis tidak larut dalam eter.
Pada pembuatan infus ini membutuhkan bahan pengtonisitas yaitu Natrium Klorida
dan zat eksipien lainnya seperti aqua pro injeksi.
Dalam pembuatan sediaan infus zat aktif dan zat eksipien yang digunakan
dilebihkan 3% untuk mencegah bahan-bahan agar tidak hilang pada saat
pembuatan karena volume sediaan harus sesuai dengan yang tertera pada etiket.
Setelah itu, dilakukan sterilisasi alat-alat yang akan digunakan dengan
menggunakan autoklaf. Sterilisasi merupakan proses menghilangkan atau
pemusnahan bakteri dengan cara membunuh mikroorganisme pada suatu bahan
atau benda. Bahan ataupun peralatan yang dipergunakan di dalam membuat
sediaan steril, harus dalam keadaan steril. Artinya, pada bahan atau peralatan
tersebut tidak terdapat mikroba yang akan mengganggu atau merusak media
ataupun mengganggu proses yang sedang dikerjakan.
Pada percobaan sterilisasi alat-alat yang digunakan. Pertama-tama alat yang
akan disterilkan, dicuci bersih terlebih dahulu dan dikeringkan. Kemudian untuk
alat yang mempunyai mulut seperti erlenmayer dan gelas ukur ditutup dengan
kapas berlemak yang dibungkus dengan kain kassa. Kapas berlemak berfungsi
untuk menahan uap air yang masuk dan sebagai penguji kebutuhan bakteri
terhadap udara atau kebutuhan oksigen terhadap pertumbuhan bakteri atau
mikroorganisme, sedangkan kassa berfungsi untuk menghindari terjadinya uap air
masuk kedalam alat gelas yang dapat menyebabkan kontaminasi pada saat
melakukkan sterilisasi basah menggunakan autoklaf. Setelah itu dibungkus
kembali menggunakan alumunium foil dan plastik wrap yang bertujuan agar semua
alat yang di sterilkan benar-benar steril dari mikroba sehingga tidak ada lagi spora
atau mikroba yang masuk. Kemudian diikat dengan menggunakan tali kasur agar
tidak lepas pada saat tekanan uap autoklaf meningkat. Sedangkan untuk alat-alat
yang permukaannya harus steril seperti pipet, termometer, spatula logam, pinset,
corong dan batang pengaduk di bungkus satu persatu dengan alumunium foil dan
plastik wrap. Beaker glass dan cawan penguap dibungkus menggunakan
perkamen lebar yang berfungsi untuk mencegah terjadinya kontaminasi pada
waktu pendinginan atau penyimpanan, lalu diikat dengan tali kasur kemudian
dimasukkan kedalam plastik dan dilapisi dengan plastik warp. Karet pipet tetes,
sudip, dan pot plastik disterilkan dengan cara di rendam menggunakan cairan
alkohol 70% didalam gelas kimia. Alkohol 70% berfungsi sebagai cairan yang
mengandung 70% etil alkohol (CH3CH2OH) dan 30% air. Etil alkohol (etanol)
membunuh bakteri melalui 2 cara, yakni denaturasi protein dan pelarutan
membran lemak. Protein merupakan salah satu penyusun dari sel bakteri. Kerja
alkohol ini akan lebih efektif jika ada air didalamnya. Alkohol 70% merupakan
campuran antara alkohol sebanyak 70% volume dan air 30% volume (v/v) dan
pada alkohol yang konsentrasinya sangat tinggi hanya akan mampu
mendenaturasi protein diluar sel bakteri. Alat dan bahan lainnya seperti lap dan
tissu yang akan digunakan pada saat praktikum perlu disterilkan dengan cara
dimasukkan kedalam plastik yang dilapisi plastik wrap untuk dilakukan sterilisasi.
Alat-alat yang berpresisi dan tidak berpresisi disterilisasi menggunakan autoklaf.
Autoklaf termasuk dalam pengoperasian sterilisasi basah dimana pada proses
sterilisasinya memerlukan air. Tekanan yang digunakan pada autoklaf ini
umumnya 15 Psi atau sekitar 2 atm dan dengan suhu 121 oC selama 15-20 menit.
Prinsip kerja autoklaf yaitu saat sumber panas mulai dinyalakan, air di dalam
autoklaf akan mulai mendidih. Uap air yang terbentuk mendesak udara yang
mengisi autoklaf. Jika udara telah terganti uap air, katup udara atau katup uap
akan ditutup sehingga tekanan di dalamnya semakin bertambah. Saat tekanan
telah mencapai suhu sesuai, proses sterilisasi dimulai dan timer akan mulai
menghitung mundur. Setelah proses selesai dijalankan, sumber panas akan
langsung dimatikan dan tekakan akan kembali turun secara perlahan hingga
suhunya mencapai 0ºC. Sterilisasi ini dilakukan diruangan kelas E. Ruangan ini
digunakan untuk ruang produksi produk non steril, ruang pengemasan primer,
ruang timbang, laboratorium mikrobiologi (ruang preparasi, ruang uji potensi dan
inkubasi), ruang sampling di gudang. Setiap praktikan yang masuk ke area ini
wajib mengenakan gowning (pakaian dan sepatu grey).
Dalam praktikum ini pertama-tama disiapkan botol infus infus yang berukuran
500 mL yang akan digunakan dan zat aktif serta zat eksipien ditimbang
menggunakan neraca analitik di ruang penimbangan kelas E. Selanjutnya
dilakukan pencampuran di ruang white area atau disebut juga dengan kelas C.
Ruangan yang masuk dalam area ini merupakan ruangan yang digunakan untuk
penimbangan bahan baku produksi steril, ruang mixing untuk produksi steril,
laboratorium (ruang uji sterilitas). Setiap praktikan yang akan memasuki area ini
wajib mengenakan pakaian antistatik (pakaian dan sepatu yang tidak melepas
partikel). Berdasarkan literatur dapat diketahui bahwa manitol sangat mudah
larut dalam air serta memiliki pH 5,0-7,0 karena manitol mudah larut dalam air
sehingga pada proses pembuatan manitol ini dengan menggunakan pelarut air
yaitu aqua pro injeksi yang telah disterilkan sehingga bebas dari pirogen
karena sediaan yang dibuat tersebut ditujukan untuk injeksi intavena yang
langsung dialirkan ke dalam darah.
Pada saat sebelum membuat sediaan infus dilakukan perhitungan isotonis
terlebih dahulu. Hal ini merupakan syarat suatu infus yang baik karena infus yang
baik harus isotonis dengan tubuh sehingga tidak menyebakan sakit saat
disuntikkan atau hemolisis pada sel darah. Pada sediaan steril infus manitol
merupakan sediaan yang bersifat hipotonis. Sediaan infus isotonis setera dengan
0,9% NaCl. Sediaan infus biasanya dibuat isotonis dengan darah. Sehingga perlu
penambahan pengisotonis yaitu NaCl sebagai pengisotonis yaitu NaCl
Penggunaan NaCl sebagai pengisotonis karena dengan penambahan NaCl zat
aktif yang digunakan tidak rusak. Apabila sediaan infus bersifat hipotonis akan
menimbulkan hemolisis pada sel darah merah sedangkan apabila sediaan infus
hipertonis pada sistem tubuh cenderung menarik air dari jaringan tubuh membawa
kedalam larutan yang menyebabkan sel darah merah menarik pada alirannya.
Maka dari itu pada pembuatan infus larutan harus bersifat isotonis yaitu jika larutan
konsentrasinya sama dengan konsentrasi dalam sel darah merah sehingga tidak
terjadi pertukaran cairan diantara keduanya. Pada sediaan infus manitol ini tidak
hanya isotonis, tetapi harus memenuhi penetapan osmolaritasnya. Sediaan infus
diharapkan isoosmol yaitu 274,47 mOsmol/L. Isoosmol yaitu jika suatu larutan
memiliki tekanan osmosa sama dengan tekanan osmosa serum darah. Natrium
Klorida ini dilarutkan menggunakan aqua pro injeksi. Kedalam sediaan infus ini
tidak perlu ditambahkan pengawet karena digunakan untuk satu kali pemberian.
Selain itu sediaan infus ini merupakan sediaan yang dikategorikan dalam jumlah
yang besar (>100mL), sehingga jika ditambahkan pengawet maka akan
memerlukan banyak volume pengawet dan juga untuk menghindari terjadinya
toksisitas yang mungkin saja bisa terjadi akibat penggunaan pengawet dalam
jumlah yang banyak. Disebutkan pula bahwa injeksi yang diberikan dalam jumlah
besar seperti infus untuk pengganti cairan tubuh, nutrisi dan elektrolit juga tidak
diberikan pengawet (Anief,1997).
Setelah semua bahan tercampur, larutan disaring menggunakan alat
penyaring yaitu kertas saring. Penyaringan ini bertujuan untuk mencegah
kemungkinan ikutnya partikel-partikel asing kedalam sediaan infus. Setelah
disaring larutan infus dimasukan kedalam botol ukuran 500mL. Setelah itu
dilakukan evaluasi infus. Uji evaluasi terhadap infus manitol ini meliputi uji evaluasi
organoleptis, penetapan pH, uji kebocoran botol, dan uji kejernihan.
Berdasarkan hasil praktikum yang diperoleh untuk hasil uji evaluasi
organoleptis, warna harus sesuai dengan bahan-bahan yang digunakan. Hasil
yang didapat pada sediaan infus ini yaitu warna sediaan infus berwana larutan
jernih. Pada uji evaluasi ini sediaan dinyatakan sesuai dengan persyaratan uji
karena sediaan memenuhi kriteria atau syarat yang ditetapkan.
Selanjutnya, uji evaluasi penetapan pH menggunakan pH meter. pH Meter
merupakan jenis alat ukur untuk mengukur derajat keasaman atau kebasaan suatu
cairan, pada pH meter ini ada elektroda khusus yang berfungsi untuk mengukur pH
bahan-bahan semi padat, elektroda (probe pengukur) terhubung sebuah alat
elektronik yang mengukur dan menampilkan nilai pH. Prinsipnya didasarkan pada
potensial elektro kimia yang terjadi antara larutan yang terdapat di dalam elektroda
gelas yang telah diketahui dengan larutan yang terdapat di luar elektroda gelas
yang tidak diketahui. Hal ini dikarenakan lapisan tipis dari gelembung kaca akan
berinteraksi dengan ion hidrogen yang ukurannya relatif kecil dan aktif. Elektroda
gelas tersebut akan mengukur potensial elektrokimia dari ion hidrogen atau di
istilahkan dengan potential of hidrogen. pH yang didapatkan pada sediaan infus
yaitu 7. Karena sediaan sudah berpH 7, maka kedalam sediaan ini tidak perlu
ditambahkan buffer atau pengadjust karena sudah sesuai dengan pH darah
sehingga tidak akan menimbulkan efek yang membahayakan saat akan
digunakan. Hal ini menunjukan bahwa sediaan infus manitol memenuhi
persyaratan rentan pH untuk sediaan infus manitol yaitu 5,0-7,0.
Setelah itu, berdasarkan hasil praktikum yang diperoleh untuk hasil uji
kejernihan. Sediaan infus ini juga bebas kejernihan artinya tidak ada partikel asing
yang terkandung didalam sediaan. Hal ini dilakukan dengan cara meletakkan
sediaan didepan lampu yang mana didepannya terdapat background hitam untuk
melihat kejernihan berwarna putih dan didepan suatu background yang berwarna
putih untuk melihat kejernihan berwarna hitam (Lachman,1994). Hasil yang didapat
pada sediaan infus ini yaitu warna sediaan infus berwarna larutan jernih. Pada uji
evaluasi ini sediaan dinyatakan sesuai dengan persyaratan uji karena sediaan
memenuhi kriteria atau syarat yang ditetapkan.
Berdasarkan evaluasi kebocoran botol infus yaitu wadah atau botol yang berisi
sediaan dimasukkan kedalam wadah besar yang berisi air. Jika wadah bocor maka
air akan masuk kedalam karena perubahan tekanan luar dan didalam wadah
tersebut sehingga larutan dalam wadah akan terdapat air. Hal ini sesuai dengan
persyaratan karena hasil pengamatan yang didapat yaitu tidak ada air yang masuk
ke dalam wadah atau botol infus.
Berdasarkan keempat uji diatas yaitu uji organoleptis, uji kejernihan, uji pH dan
uji botol memenuhi syarat. Untuk menghasilkan sediaan krim yang baik praktikan
hendaknya saat memformulasi suatu sediaan harus memperhatikan karakteristik
bahan, konsentarsi bahan, dan sifat dari masing-masing bahan yang berinteraksi.
Perhatikan kelarutan zat aktif yang dipakai dalam pembuatan krim, dan kestabilan
zat aktif yang digunakan harus stabil tidak boleh mengalami perubahan fisika
ataupun kimia bila dilarutkan dalam pelarut karena pada pembuatan krim ada
pelarut-pelarut yang tertentu untuk digunakan dan pada bahan-bahan obat yag
digunakan praktikan juga harus mengetahui faktor-faktor yang dapat sediaan infus
agar isotonis agar dapat menghasilkan infus yang baik. Selain itu salah satu
persyaratan mutlak yang harus dipenuhi dalam sediaan infus yaitu bebas pirogen.
Pirogen adalah senyawa kompleks polisakarida dimana mengandung radikal yang
ada unsur N dan P. selama radikal masih terikat, selama itu masih dapat
menimbulkan demam dan pirogen bersifat termostabil. Pirogen sendiri dapat
berasal dari aquadest yang dibiarkan lama dan tercemar bakteri serta udara
ataupun bisa berasal dari bahan bahan tertentu seperti glukosa, NaCl, Na-Sitrat
(Anief, 1997). Oleh karena hal ini maka kedalam sediaan infus perlu ditambahkan
zat untuk pirogenisasi (menghilangkan pirogen) yaitu salah satunya menggunakan
karbon aktif (karbo adsorben). Karbo adsorben digunakan untuk mencegah
terbentuknya thrombus dan menghilangkan pirogen karena mekanisme kerja dari
karbo adsorben ini yaitu menyerap pirogen. Selain terserapnya pirogen, ada
kemungkinan bahan aktif yang digunakan juga ikut terserap oleh karbo adsorben.
Tetapi pada saat proses pembuatan infus tidak menggunakan bahan tambahan
karbon adsorben karena ketidaktelitian praktikan. Larutan yang sudah jadi
seharusnya di saring menggunakan membran filter ukuran 0,45 mikron,
penyaringan dilakukan agar partikel atau mikroba yang berukuran kecil dapat
bertahan pada saringan sediaan terbatas dari partikel partikel atau mikroba
berukuran kecil. Namun, karena keterbatasan alat dan waktu, proses penyaringan
dengan menggunakan membran filter berukuran 0,45 mikron tidak dilakukan.
BAB VI

PENUTUP

VI. 1 Kesimpulan

1. Dapat membuat sediaan infus manitol dengan komposisi manitol 5% b/v,


natrium klorida 0,0135% dan akua pro injeksi 100% v/v. Sediaan berupa
infus larutan jernih.
2. Berdasarkan evaluasi sediaan infus manitol memenuhi persyaratan pada
uji organoleptis, uji kebocoran botol, uji kejernihan, dan uji pH.
DAFTAR PUSTAKA

Agoes, G. 1993. Teknologi Farmasi Likuida Dan Semi Solida. Pusat Antar
Universitas Bidang Ilmu Hayati ITB: Bandung.
Allen, L. V., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients Sixth Edition. Rowe
R.C.,Sheskey, P. J., Queen, M. E., (Editor). Pharmaceutical Press and
American Pharmacists Assosiation, 697-699: London.
Anief, M. 1997. Ilmu Meracik Obat. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Anief, M. 2008. Ilmu Meracik Obat. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Ansel, H.C. 2008. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi keempat. Universita
Indonesia Press: Jakarta.
Arifin, Z. M. & Risdianto, A. 2012. Perbandingan Efektivitas Natrium Laktat dengan
Manitol Untuk Menurunkan Tekanan Intrakranial Penderita Cedera Kepala
Berat. Departemen Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran:
Bandung.
Brunner dan Suddarth., 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Alih Bahasa
Agung Waluyo Edisi 8. EGC: Jakarta.
Depkes, RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia: Jakarta.
Depkes, RI. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia: Jakarta.
Depkes, RI. 2014. Farmakope Indonesia edisi V. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia: Jakarta.
Dr. Willy, 2018. https://www.alodokter.com/manitol . Diakses 1 juli 2019

Honesdocs. 2019.
https://www.google.com/amp/s/www.honestdocs.id/%25E2%2580%258B%25
E2%2580%258Bmanitol.amp. diakses 30 Juni 2019.
ISO. 2014. Informasi Spesialite Obat Indonesia Volume 48. Ikatan Sarjana Farmasi
Indonesia: Jakarta.
ISO. 2017. Informasi Spesialite Obat Indonesia Volume 51. Ikatan Sarjana Farmasi
Indonesia: Jakarta.
Kalbemed. 2019.
www.kalbemed.com. Indikasi manitol. Diakses 30 juni 2019.
Lachman. 1994. The Theory And Partictice of Industrial Pharmacy, 2th ED, lea and
febiger, philadelphia.
Lukas, Syamsuni, H.A., 2006. Ilmu Resep. Penerbit Buku Kedokteran
EGC: Jakarta.
Martin. 2008. Farmasi Fisika Dasar-Dasar Farmasi Fisika dalam Ilmu Farmasetika
Edisi Ketiga Jilid 2. UI-Press: Jakarta.
Niazi, S. 2009. Handbook of Pharmaceutical Manufacturing Formulations Sterile
Products. Informa Healthcare: USA.
Nissenson, A.R., Weston, R.E., Cleeman, C.R. 1979. Mannitol. West J Med. 131 :
277-284.
Perry, A.G., 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan
Praktik, Edisi 4.Volume 2, Alih Bahasa : Renata Komalasari,dkk. EGC:
Jakarta
Priyambodo, B., 2007. Manajemen Farmasi Industri. Global Pustaka Utama:
Yogyakarta.
Shawkat, H., Westwood, M., Mortimer, A. 2012. Mannitol:a review of its clinical
uses. Contin Educ Anaesth Crit Care Pain. 12:82-85.
Syamsuni, A. 2007. Ilmu Resep. Penerbit Buku Kedokteran. EGC: Jakarta.

Tavakkoli, F. 2011. Review of the Role of Mannitol in the Therapy of Children.


Baltimore: Maryland.
LAMPIRAN

1. Etiket
2. Brosur