Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mata merupakan satu diantara organ terpenting tubuh manusia dimana
mata memiliki fungsi sebagai indra penglihatan. Jika terjadi kerusakan atau
gangguan pada fungsi dan peran dari mata, maka pengaruhnya sangat besar pada
pengligatan. Gangguan penlihatan adalah suatu kondisi ditandai dengan
penurunan tajam penglihatan atau menurunya luas lapangan pandang yang dapat
mengakibatkan kebutaan. Satu diantara banyak kerusakan tau gangguan pada
mata adalau galukoma. Glaukoma merupakan suatu penyakit yang terjadi akibat
adanya peninggakatn tekan intraocular pada mata yang dapat mengganggu
penglihatan.

Glukoma berasal dari kata Yunani “Glaukos” yang berarti hijau kebiruan,
yang memberi kesan warna tersebut paa pupil penderita glaukoma. Kelainan mata
glaukoma ditandai dengan meningkatnya tekanan bola mata, atrofi saraf obtikus,
dan menciutnya lapang pandang.

Glaukoma merupakan penyebab kebutaan yang ketiga di Indonesia.


Terdapat sejumlah 0,40% penderita glaukoma di Indonesi yang mengakibatkan
kebutaan pada 0,60% penduduk prevalensi penyakit mata di Indonesia adalah
kelainan refraksi 24,72%, pterigium 8,79%, katarak 7,40%, konjungtivitis 1,74%,
parut kornea 0,34%, glaukoma 0,40%, retinopati 0,17%, strbismus 0,12%.
Prevalensi dan penyebab buta kedua mata adalah lensa 1,02% glaukoma dan saraf
kedua 0,16%.

Diperkirakan diAmerika Serikat ada 2 juta orang yang menderita


glaukoma. Diantaranya mereka hampir setengahnya mengalami gangguan
penglihatan, dan hampir 70.000 benaer-benar buta,bertambah sebanyak 5.500
orang buta tiap tahun. Untuk itu kali ini penulis memusatkan pada pencegahan
dan penatalaksanaan galukoma (Suzanne C. Smelzer 2001).

1
Berdasarkan hal tersebutlah penting kiranya bagi kita sebagai satu diantara
tenaga kesehatan untuk klebih mengetahui dan memahami konsep serta tindakan
apa yang dilakukan terhadap masalah diatas bagimana penyakit tersebut dapat
terjadi, apa penyebabnya dan bagaimana penanganannya. Itulah yang harus kita
pahami, diman hal itulah yang nantinya sangat diharapkan oleh msyarakat untuk
menekan lajunya angka kejadian penyakit glaukoma.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian dari Glaukoma?
2. Bagaimana etiologi dari Glaukoma
3. Bagaimana patofisiologi dari Glaukoma?
4. Bagaimana klasifikasi dari Glaukoma?
5. Bagaimana komplikasi dari Glaukoma?
6. Apa saja penatalaksanaan dari Glaukoma?
7. Bagaimana pathway dari Glaukoma?
8. Bagaimana manifestasi klinis dari Glaukoma?
9. Bagaimana pemeriksaan diagnostik dari Glaukoma?
10. Bagaimana asuhan keperawatan dari Glaukoma?
11. Bagaimana asuhan keperawatan dari kasus laukoma?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari glaukoma
2. Mengetahui etiologi dari glaukoma
3. Mengetahui patofisiologi dari glaukoma
4. Mengetahui klasifikasi dari glaukoma
5. Mengetahui komplikasi dari glaukoma
6. Mengetahui penatalaksanaan dari glaukoma
7. Mengetahui pathway dari glaukoma
8. Mengetahui manifestasi klinis dari glaukoma
9. Mengetahui pemeriksaan diagnostik dari glaukoma
10. Mengetahui asuhan keperawatan dari glaukoma
11. Mengetahui asuhan keperawatan dari kasus glaukoma

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian
Glaukoma merupakan suatu kumpulan penyakit yang mempunyai
karakteristik umum neuropatik yang berhubungan dengan hilangnya fungsi
penglihatan. Walaupun kenaikan tekanan intra okuler adalah satu dari resiko
primer, ada atau tidaknya faktor ini tidak merubah definisi penyakit (Herman,
2010).
Glaukoma berasal dari kata Yunani “glaukos” yang berarti hijau kebirauan,
yang memberikan kesan warna tersebut pada pupil penderita glaukoma. Kelainan
mata glaukoma ditandai dengan meningkatnya tekananbola mata, atrofi saraf
optikus, dan menciutnya lapang pandang.Glaukoma adalah suatu penyakit dimana
tekanan di dalam bola mata meningkat,
sehingga terjadi kerusakan pada saraf optikus dan menyebabkan penurunan fungsi
penglihatan (Mayenru Dwindra, 2009).
Glaukoma adalah suatu penyakit dimana tekanan di dalam bola mata
meningkat, sehingga terjadi kerusakan pada saraf optikus dan menyebabkan
penurunan fungsi penglihatan (Anonim, 2009)
Glaukoma adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya
peningkatan TIO, penggaungan, dan degenerasi saraf optik serta defek lapang
pandang yang khas ( Anas Tamsuri, 2010 : 72 )
Glaukoma adalah kondisi mata yang biasanya disebabkan oleh
peningkatan abnormal tekanan intraokular ( sampai lebih dari 20 mmHg).
(Elizabeth J.Corwin, 2009 : 382)

2.2 Klasifikasi
Berdasarkan penyebabnya, glaukoma dibedakan dalam:
1. Glaukoma primer, yaitu glaukoma yang tidak diketahui penyebabnya.
Umumnya dibedakan dalam glaukoma sudut terbuka dan glaukoma
sudut tertutup.
2. Glaukoma sekunder, adalah glaukoma yang disebabkan oleh trauma,
inflamasi, dan kelainan vaskular.
3. Glaukoma kongenital

3
Berdasarkan pada kondisi klinis, glaukoma dibedakan dalam glaukoma
sudut terbuka dan glaukoma sudut tertutup dan berdasarkan pada awitan penyakit,
dibedakan dalam glaukoma akut dan glaukoma kronis.
Glaukoma sudut terbuka merupakan sebagian besar dari glaukoma (90%)
yang terjadi di kedua mata. Timbulnya kejadian dan kelainan berkembang secara
lambat. Disebut sudut terbuka karena humor aqueus mempunyai pintu terbuka ke
jaringan trabekular. Pengaliran terhambat karena perubahan degeneratif jaringan
trabekular, saluran Schlemm dan saluran lain yang berdekatan. Perubahan
degeneratif saraf optik dapat juga terjadi. Gejala awal biasanya tidak ada.
Glaukoma sudut tertutup biasanya terjadi sebagai suatu episode akut,
meskipun dapat juga subakut atau kronik. Disebut susdut tertutup karena ruang
anterior (bilik mata depan) secara anatomis menyempit sehingga iris terdorong ke
depan, menempel jaringan trabekular dan menghambat aliran humor aqueus ke
saluran Schlemm. Pergerakan iris ke depan dapat meningkatkan tekanan viterus.
Gejalanya dapat berupa nyeri mata berat, penglihatan kabur, dan terlihat halo. Bila
tidak segera ditangani, dapat terjadi kebutaan (total atau parsial).
2.3 Etiologi
Penyebab adanya peningkatan tekanan intraokuli adalah perubahan
anatomi sebagai bentuk gangguan mata atau sistemik lainnya, trauma mata, dan
predisposisis faktor genetik. Glaukoma sering muncul sebagai manifestasi
penyakit atau proses patologik dan sistem tubuh lainnya. Adaupun faktor risiko
timbulnya glaukoma antara lain riwayat glaukoma pada keluarga, diabetes
melitus, dan pada orang kulit hitam.
Faktor-faktor resiko dari glaukoma adalah (Bahtiar Latif, 2009)
a. Umur
Resiko glaukoma bertambah tinggi dengan bertambahnya usia.
Terdapat 2 % daripopulasi usia 40 tahun yang terkena glaukoma. Angka ini akan
bertambah dengan bertambahnya usia.
b. Riwayat anggota keluarga yang terkena glaukoma
Untuk glaukoma jenis tertentu, anggota keluarga penderita glaukoma mempunyai
resiko 6 kali lebih besar untuk terkena glaukoma. Resiko terbesar adalah kakak
adik kemudian hubungan orang tua dan anak-anak.
c. Tekanan bola mata
Tekanan bola mata diatas 21 mmHg beresiko tinggi terkena glaukoma. Meskipun
untuk sebagian individu, tekanan bola mata yang lebih rendah sudah dapat

4
merusak saraf optik. Untuk mengukur tekanan bola mata dapat dilakukan dirumah
sakit mata atau pada dokter spesialis mata.
d. Obat-obatan
Pemakai steroid secara rutin misalnya pemakai obat tetes mata yang mengandung
steroid yang tidak dikontrol oleh dokter, obat inhaler untuk penderita asthma, obat
steroid untuk radang sendi, dan pemakai obat secara rutin lainnya.

2.4 Patofisiologi
Tingginya tekanan intraokular bergantung pada besarnya produk humor
aqueus oleh badan siliari dan mengalirkannya keluar. Besarnya aliran keluar
humor aqueus melalui sudut bilik mata depan juga bergantung pada keadaan kanal
Schlemm dan keadaan tekanan episklera. Tekanan intraokular dianggap normal
bila kurang dari 20 mm Hg pada pemeriksaan dengan tonometer Schiotz (aplasti).
Jika terjadi peningkatan tekanan intraokuli lebih dari 23 mm Hg, diperlukan
evaluasi lebih lanjut. Secara fisiologis, tekanan intraokuli yang tinggi akan
menyebabkan terhambatnya aliran darah menuju serabut saraf optik dan ke retina.
Iskemia ini akan menimbulkan keruskan fungsi secara bertahap. Apabila terjadi
peningkatan tekanan intraokular, akan timbul penggaungan dan degenerasi saraf
optikus yang disebabkan oleh beberapa faktor:
1. Gangguan perdarahan pada papil yang menyebabkan degenerasi berkas
serabut saraf pada papil saraf optik.
2. Tekanan intraokular yang tinggi secara mekanik menekan papil saraf optik
yang merupakan tempat dengan daya tahan paling lemah pada bola mata.
Bagian tepi papil saraf otak relatif lebih kuat daripada bagian tengah
sehingga terjadi penggaungan pada papil saraf optik.
3. Sampai saat ini, patofisiologi sesungguhnya dari kelainan ini masih belum
jelas.
4. Kelainanan lapang pandang pada glaukoma disebabkan oleh kerusakan
serabut saraf optik.
( Anas Tamsuri, 2010 : 72-73 )

2.5 Komplikasi
Kebutaan dapat terjadi pada semua jenis glaukoma, glaukoma penutupan
sudut akut adalah suatu kedaruratan medis. agens topikal yang digunakan untuk
mengobati glaukoma dapat memiliki efek sistemik yang merugikan, terutama

5
pada lansia. Efek ini dapat berupa perburukan kondisi jantung, pernapsan atau
neurologis.

2.6 Penatalaksanaan
Pengobatan dilakukan dengan prinsip untuk menemukan TIO, membuka
sudut yang tertutup (pada glaukoma sudut tertutup); melakukan tindakan
suportif (mengurangi nyeri, mual, muntah, serta mengurangi radang),
mencegah adanya sudut tertutup ulang serta mencegah gangguan pada mata
yang baik (sebelahnya). Upaya menurunkan TIO dilkukan dengan
memberikan cairan hiperosmotik seperti gliserin per oral atau dengan
menggunakan manitol 20% intravena. Humor aqueus ditekan dengan
memberikan karbonik anhidrase seperti acetazolamide (Acetazolam,
Diamox), dorzolamide (TruShop), Methazolamide (Nepthazane). Penurunan
humor aqueus dapat juga dilakukan dengan memberikan agens penyekat beta
adrenergik seperti latanoprost (Xalatan), timolol (Timopic), atau levobunolol
(Begatan).
Untuk melancarkan aliran humor aqueus, dilakukan konstriksi pupil
dengan miotikum seperti pilocarpine hydrochloride 2-4% setaip 3-6 jam.
Miotikum inimmenyebabkan pandangan kabur setelah 1-2 jam penggunaan.
Pemberian miotikum dilakukan apabila telah terdapat tanda-tanda penurunan
TIO. Penanganan nyeri, mual, muntah, dan peradangan dilakukan dengan
memberikan analgesik seperti pethidine (Demerol), antimuntah atau
kortikosteroid untuk reaksi radang.
Jika tindakan di atas tidak berhasil, dilakukan operasi untuk membuka
saluran Schlemm sehingga cairan yang banyak diproduksi dapat keluar
dengan mudah. Tindakan pembedahan dapat dilkukan seperti trabekulektomi
dan laser trabekuplasti. Bila tindakan ini gagal, dapat dilakukan
siklokrioterapi (pemasangan selaput beku).
Penatalaksanaan keperawatan lebih menekankan pada pendidikan
kesehatan terhadap penderita dan keluarganya karena 90% dari penyakit
glaukoma merupakan penyakit kronis dengan hasil pengobatan yang tidak
permanen. Kegagalan dalam pengobatan untuk mengontrol glaukoma dan

6
adanya pengbaian untuk mempertahankan pengobatan dapat menyebabkan
kehilangan penglihatan progresif dan mengakibatkan kebutaan.
Klien yang mengalami glaukoma harus mendapatkan gambaran tentang
penyakit ini serta pentalaksanaannya, efek pengobatan, dan tujuan akhir
pengobatan itu. Pendidikan kesehatan yang diberikan harus menekankan
bahwa pengobatan bukan untuk untuk mengembalik an fungsi penglihatan,
tetapi hanya mempertahankan fungsi penglihatan yang masih ada.

2.7 Pathway Glaukoma

7
8
2.8 Pemeriksaan Diagnostik

Menurut Sidarata Ilyas 2008, pemeriksaan diagnostik glaukoma dibagi


menjadi :
a. Tonometri Digital
yaitu pengukuran tekanan bola mata secara digital. Pemeriksaan ini adalah
untuk menentukan tekanan bola mata dengan cepat yaitu dengan memakai
ujung jari pemeriksa tanpa alat khusus (tenometer). Dengan menekan bola
mata dengan jari pemeriksa diperkirakan besarnya tekanan di dalam bola
mata. Penilaian dilakukan dengan pengalaman sebelumnya yang dapat
menyatakan tekanan mata N+1, N+2, N+3 atau N-1, N-2, N-3 yang
menyatakan tekanan lebih tinggi atau lebih rendah daripada normal.
b. Tonometri Schiotz
merupakan tonometer indentasi atau menekan permukaan kornea dengan
beban yang dapat bergerak bebas pada sumbunya. Pada tonometer schiotz
bila tekanan rendah atau bola mata empuk maka beban akan dapat
mengidentasi lebih dalam dibanding bila tekanan bola mata tinggi atau bola
mata keras. Pada tekanan lebih tinggi 20 mHg dicurigai adanya glaukoma,
bila tekanan lebih dari 25 mmHg pasien menderita glaukoma.
c. Scleral Rigidity
Pada pemeriksaan tonometri sering pengukuran tidak tepat akibat
terdapatnya kekauan sclera. Kekakuan sklera (scleral Rigidity) merupakan
tahanan sklera terhadap kemungkinan membesarnya bola. Pada uji kekauan
sclera dapat diketahui besarnya kekauan tersebut dengan memakai tabel
nomogram Friendenwald. Pemeriksaan dilakukan dengan tonometer Schiotz
dengan beban 5.5 dan 10 gram atau 7.5 dan 15 gram nilai kekauan normal =
0.0215
d. Tonometri Aplanasi
Dengan Tonometer aplanasi diabaikan tekanan bola mata yang dipengaruhi
kekauan sclera (selaput putih mata). Dengan tonometer aplanasi bila tekanan
bola mata lebih dari 20 mmHg dianggap sudah menderita glaukoma

9
e. Oftalmoskopi
Merupakan pemeriksaan kelainan papil saraf optik. Oftalmoskopi,
pemeriksaan ke dalam mata dengan dengan memakai alat yang dinamakan
oftamoskop. Dengan oftamoskop dapat dilihat saraf optik di dalam mata dan
akan dapat ditentukan apakah tekanan bola mata telah menganggu saraf optik.
Saraf optik dapat dilihat secara langsung. Warna serta bentuk dari mangok
saraf optik pun dapat menggambarkan ada atau tidak ada kerusakan akibat
glaukoma yang sedang diderita.

f. Tonografi
Tonografi bertujuan untuk mengukur daya kemampuan pengaliran akuos
humor atau daya pengosongan cairan mata pada sudut bilik mata.
g. Gonioskopi

10
adalah tindakan untuk melihat sudut bilik mata dengan goniolens.
Ginioskopi adalah suatu cara untuk melihat langsung keadaan patologik sudut
bilik mata, juga untuk melihat hal-hal yang terdapat pada sudut bilik mata
seperti benda asing. Dengan gonioskopi dapat ditentukan klasifikasi
glaukoma penderita apakah glaukoma sudut terbuka atau glaukoma sudut
tertutup dan malahan dapat menerangkan penyebab suatu glaukoma sekunder.
Pada ginioskopi dipergunakan giniolens dengan suatu sistem prisma dan
penyinaran yang dapat menunjukkan keadaan sudut bilik mata.

h. Pemeriksaan Lapang Pandangan


Perimetri dilakukan untuk mencari batas luar persepsi sinar perifer dan
melihat kemampuan penglihatan daerah yang sama dan dengan demikian
dapat dilakukan pemeriksaan efek lapang pandangan.
2.9 Manifestasi Klinis
Pada tahap awal biasanya tanpa gejala atau tanda. Penglihatan hilang
perlahan, penglihatan perifer hilang sebelum penglihatan sentral , nyeri mata yang
tumpul yang menetap, sulit menyesuaikan terhadap kegelapan, kegagalan
menemukan perubahan warna, selanjutnya; sakit kepala, nyeri, penglihatan kabur,
bayangan sekitar cahaya.
Akut; nyeri berat yang melelahkan penglihatan menurun, pupil membesar
dan mati, bayangan warna sekitar cahaya, mata merah, kornea beruap kebutaan
menetap bila peningkatan IOP selama 24-48 jam
Pembesaran mata, lakrimasi, foto fobia, blepharospasme. Dapat mirip
dengan sudut terbuka dan sudut tertutup tegantung pada penyebab.

11
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORI
3.1 Teori Asuhan Keperawatan Pada Pasien Glaukoma
A. Pengkajian
1. Riwayat
a. Riwayat okular
 Tanda peningkatan TIO : nyeri tumpul, mual, muntah ,
pandangan kabur.
 Pernah mengalami infeksi : uveitis, trauma, pembedahan
b. Riwayat Kesehatan
 Menderita diabetes melitus, hipertensi, penyakit
kardiovaskular, serebrovaskular, gangguan tiroid.
 Keluarga menderita glaukoma.
 Penggunaan obat kortikosteroid jangka lama: topikal/sistemik
 Penggunaan antidepresan trisiklik, antihistamin,fenotiazine.
c. Psikososial
Kemampuan aktivitas, gangguan membaca, risiko jatuh,berkendaraan
d. Pengkajian umum:
 Usia
 Gejala penyakit sistemik: diabetes melitus, hipertensi,gangguan
kardiovaskular,hipertiroid.
 Gejala gastrointestinal: mual, muntah.
e. Pengkajian khusus mata
 Pengukuran TIO dengan tonometer (TIO > 23 mmHg)
 Nyeri tumpul orbita.
 Perimetri: menunjukkan penurunan luas lapang pandang.
 Kemerahan (hiperemia mata)
 Gonioskopi menunjukkan sudut mata tertutup atau terbuka.
B. Diagnosis dan Intervensi Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien
yang nyatamaupun potensial berdasrkan data yang telah
dikumpulkan (Boedihartono,1994).
1. Gangguan Persepsi Sensori Berhubungan Gangguan penglihatan
2. Nyeri Akut berhubungan Agen pencedera fisiologis

3. Bisiko cedera berhubungan Perubahan fungsi psikomotot

C. Intervensi Keperawatan
Rencana asuhan keperawatan berikut ini diuraikan meliputi
diagnosis keperawatan, tindakan keperawatan mandiri dan

12
kolaborasi, serta rasionalisasi dari masing-masing tindakan
keperawatan.

N DIAGNOSA SLKI SIKI


O
(SDKI)
1. Gangguan Persepsi Persepsi Sensori Minimalisasi
Sensori. Rangsangan
Definisi : persepsi-
Definisi : perubahan realitas terhadap Definisi : mengurangi
persepsi terhadap stimulus baik jumlah atau pola
stimulus baik internal internal maupun rangsangan yang ada
maupun eksternal yang eksternal (baik internal atau
disertai dengan respon eksternal).
yang berkurang,
Tindakan :
berlebihan atau Ekspektasi :

terdistorsi. membaik Observasi :

Penyebab : - Periksa status


mental, status
1. Gangguan Kriteria Hasil :
sensori, dan
penglihatan 1. Distorsi sensori tingkat
dari skala kenyamanan
Gejala : distorsi sensori, 1(menurun) (mis. Nyeri,
respon tidak sesuai menjadi skala kelelahan)
3(sedang) Terapeutik :
2. Menarik diri
Kondisi : glaukoma, dari skala - Jadwalkan
katarak 1(menurun) aktivitas harian
menjadi dan waktu
3(sedang) istirahat
- Kombinasikan
prosedur/tindaka
n dalam satu

13
waktu, sesuai
kebutuhan
Edukasi :

- Ajarkan cara
meminimalisasi
stimulus
Kolaborasi :

- Kolaborasi dalam
meminimalkan
prosedur/tindaka
n
- Kolaborasi
pemberian obat
yang
mempengaruhi
persepsi stimulus
2. Nyeri Akut Tingkat Nyeri Manajemen Nyeri

Definisi : pengalaman Definisi : Definisi :


sensorik atau emosional pengalaman sensorik mengidentifikasi dan
yang berkaitan dengan atau emosional yang mengelola pengalaman
kerusakan jaringan aktual berkaitan dengan sensorik atau emosional
atau fungsional, onset kerusakan jaringan yang berkaitan dengan
mendadak atau lambat aktual atau kerusakan jaringan
dan berintensitas ringan fungsional, dengan aktual atau fungsional,
hingga berat yang onset mendadak atau dengan onset mendadak
berlangsung kurang dari lambat an atau lambat an
3 bulan Penyebab : berintensitas ringan berintensitas ringan
hingga berat dan hingga berat dan
1. Agen pencedera
konstan. konstan.
fisiologis (mis.
Inflamasi, iskemia, Tindakan :
neoplasma)
Ekspektasi : Observasi :

14
meningkat - Identifikasi skala
nyeri
Gejala : - Identifikasi
1. Mengeluh nyeri Kriteria Hasil : respon nyeri non
2. Bersikap protektif verbal
(mis. Waspada, 1. Keluhan nyeri - Identifikasi
posisi menghindari dari faktor yang
nyeri) 1(meningkat) memperberat dan
3. Sulit tidur menjadi memperingan
4. Gelisah
3(sedang nyeri
2. Gelisah dari - Monitor
3(sedang) keberhasilan
Kondisi : glaukoma
menjadi terapi
5(menurun) komplementer
3. Nafsu makan
yang sudah
dari
diberikan
1(memburuk)
menjadi
Terapeutik :
3(sedang)
- Fasilitasi istirahat
dan tidur
- Pertimbangkan
jenis dan sumber
nyeri dalam
pemilihan
strategi
meredakan nyeri
Edukasi :

- Jelaskan
penyebab,
periode, dan
pemicu nyeri
- Jelaskan strategi
meredakan nyeri

15
- Anjurkan
memonitor nyeri
secara mandiri
- Anjurkan
menggunakan
analgetik secara
tepat
Kolaborasi :

- Kolaborasi
pemberian
anlgetik, jika
perlu
3. Risiko cedera Fungsi Sensori Pencegahan Cedera

Definisi : berisiko Definisi : Definisi :


mengalami bahaya atau kemampuan untuk mengidentifikasi dan
kerusakan fisik yang merasakan stimulasi menurunkan risiko
menyebabkan seseorang suara, rasa, raba, mengalami bahaya atau
tidak lagi sepenuhnya aroma dan gambar kerusakan sensorik.
sehat atau dalam kondisi visual
Tindakan :
baik
Observasi :
Faktor Risiko :
Ekspektasi :
- Ientifikasi area
Eksternal : membaik
lingkungan yang
- Ketidakamanan berpotensi
transportasi menyebabkan
Kriteria Hasil :
Internal : cedera
- Ketajaman - Identifikasi obat
- Perubahan fungsi yang berpotensi
penglihatan
psikomotot menyebabkan
dari
3(sedang) cedera
Kondisi : gangguan menjadi Terapeutik :
penglihatan 1(menurun) - Sediakan

16
pencahayaaan
yang memadai
- Pertahankan
posisi tempat
tidur di posisi
terendah saat
digunakan
- Diskusikan
mengenal latihan
dan terapi fisik
yang diperlukan
- Diskusikan
bersama anggota
keluarga yang
apat
mendampingi
pasien
Edukasi :

- Anjurkan
berganti posisi
secara perlahan
dan duduk
selama beberapa
menit sebelum
berdiri

17
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN

4.1 Kasus
Ny. R (30 tahun) saat ini sedang dirawat dengan keluhan orbita dextra terasa sakit
jika ditekan, penglihatan kabur padahal Ny.R sudah menggunakan kaca minus 3
pada mata dextra dan sinistra, dua bulan yang lalu Ny.R menderita kelainan
Thyroid. Oleh dokter spesialis mata dilakukan pemeriksaan Ofthalmoscope,
Tonometri dan ukur lapang pandang. Hasil pemeriksaan teernyata Ny.R menderita
Glaukoma. Tanda-tanda vital saat ini TD : 150/100 mmHg, Nadi : 80x/menit,
Suhu : 37oC , Pernapasan : 20x/menit. Ny. R tidak tahu kenapa dia sampai
mengalami Glaukoma dan mendengar informasi dari orang-orang bahwa
Glaukoma bisa buta, sehingga Ny.R takut mengalami kebutaan.
4.2 Asuhan Keperawatan
A. PENGKAJIAN
1) Data Pasien :
Nama : Ny. R
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 23 Februari 1973
Umur : 40 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status perkawinan : Menikah
Status pendidikan : SLTA
Diagnosa medis : Glaukoma

2) Riwayat penyakit :
Keluhan Utama :

18
Klien datang ke Rumah Sakit hari Senin, 12 Mei 2013 dengan keluhan orbita
dextra terasa sakit jika ditekan, penglihatan kabur padahal Ny.R sudah
menggunakan kaca minus 3 pada mata dextra dan sinistra, dua bulan yang lalu
Ny.R menderita kelainan Thyroid.
Riwayat Penyakit Sekarang :
KU lemah, hasil pemeriksaan TTV , Tanda-tanda vital saat ini TD : 150/100
mmHg, Nadi : 80x/menit, Suhu : 37oC , Pernapasan : 20x/menit
Riwayat Penyakit Dahulu :
Klien tidak mempunyai riwayat penyakit atau riwayat masuk rumah sakit, tetapi
dua bulan yang lalu Ny.R menderita kelainan Thyroid.
Riwayat Kesehatan Keluarga :
Keluarga mempunyai riwayat penyakit terdahulu yaitu penyakit glaukoma dan ada
riwayat penyakit diabetes melitus
3) Pemeriksaan fisik
1. Aktivitas/Istirahat
Gejala : Perubahan aktivitas biasanya/hobi sehubungan dengan gangguan
penglihatan
2. Makanan/Cairan
Gejala : Mual, muntah (glaukoma akut)
3. Neurosensori
Gejala : Gangguan penglihatan (kabur/tidak jelas), sinar terang menyebabkan
silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan
kerja dengan dekat/merasa di ruang gelap (katarak). Penglihatan berawan/kabur,
tampak lingkaran cahaya/pelangi sekitar sinar, kehilangan penglihatan perifer,
fotofobia (glaukoma akut). Perubahan kacamata/pengobatan tidak memperbaiki
penglihatan
Tanda : Tampak kecoklatan atau putih susu pada pupil (katarak) Pupil menyempit
dan merah / mata keras dengan kornea berawan (glaukoma darurat) Peningkatan
air mata
4. Nyeri/Kenyamanan:
Gejala : Ketidaknyamanan ringan/mata berair (glaukoma kronis)
Nyeri tiba-tiba/berat menetap atau tekanan pada dan sekitar mata, sakit kepala
(glaukoma akut).
5. Penyuluhan /pembelajaran
Gejala : riwayat keluarga glaukoma, diabetes, gangguan sistem vaskuler
Riwayat stres, alergi, gangguan vasomotor (contoh peningkatan tekaan vena),
ketidakseimbangan endokrin, diabetes (glaukoma) Terpajan pada radiasi, steroid/
toksistas fenotiazin
Pertimbangan rencana pemulangan :

19
DRG menunjukkan rerata lama dirawat : 4,2 hati (biasanya dilakukan sebagai
prosedur pasien rawat jalan)
Memerlukan bantuan dengan transportasi, penyediaan maknaan, perawatan diri,
perawatan / pemeliharaan rumah
2. DATA FOKUS
DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF
1. Klien mengeluh orbita dextra 1. Tanda-tanda vital :
TD : 150/100 mmHg
terasa sakit jika ditekan
Nadi : 80x/menit
2. Klien mengeluh penglihatan
Suhu : 37oC
kabur padahal Ny.R sudah Pernapasan : 20x/menit.
2. Skala nyeri : 6
menggunakan kaca minus 3 pada
3. Klien terlihat menggunakan
mata dextra dan sinistra
kacamata
3. Klien mengatakan dua bulan
4. Klien tampak kecoklatan atau
yang lalu Ny.R menderita kelainan
putih susu pada pupil (katarak)
Thyroid 5.Klien terlihat pupil menyempit
4. Klien mengatakan tidak tahu
dan merah / mata keras dengan
kenapa dia sampai mengalami
kornea berawan (glaukoma darurat)
Glaukoma 6. Klien terlihat peningkatan
5. Klien mengatakan bahwa
produksi air mata
mendengar informasi dari orang- 7. Klien terlihat mual dan muntah
orang bahwa Glaukoma bisa buta,
sehingga Ny.R takut mengalami
kebutaan.
6. Klien mengatakan mengalami
perubahan aktivitas biasanya akibat
gangguan penglihatan
7. Klien mengeluh mual dan
muntah

3. ANALISA DATA

N DIAGNOSA SLKI SIKI


O
(SDKI)
1. Gangguan Persepsi Persepsi Sensori Minimalisasi
Sensori. Rangsangan
Definisi : persepsi-

20
Definisi : perubahan realitas terhadap Definisi : mengurangi
persepsi terhadap stimulus baik jumlah atau pola
stimulus baik internal internal maupun rangsangan yang ada
maupun eksternal yang eksternal (baik internal atau
disertai dengan respon eksternal).
yang berkurang,
Tindakan :
berlebihan atau Ekspektasi :

terdistorsi. membaik Observasi :

Penyebab : - Periksa status


mental, status
2. Gangguan Kriteria Hasil :
sensori, dan
penglihatan 3. Distorsi sensori tingkat
dari skala kenyamanan (mis.
Gejala : distorsi sensori, 1(menurun) Nyeri, kelelahan)
respon tidak sesuai menjadi skala Terapeutik :
3(sedang)
4. Menarik diri - Jadwalkan
Kondisi : glaukoma, dari skala aktivitas harian
katarak 1(menurun) dan waktu
menjadi istirahat
- Kombinasikan
3(sedang)
prosedur/tindakan
dalam satu waktu,
sesuai kebutuhan.
- Trabeculectomy :
adalah prosedur
pengobatan
glaukoma untuk
mengurangi
tekanan
intraokular
dengan
menghilang

21
bagian dari kerja
trabecular mata
dan struktur yang
berdekatan
Edukasi :

- Ajarkan cara
meminimalisasi
stimulus
Kolaborasi :

- Kolaborasi dalam
meminimalkan
prosedur/tindakan
- Kolaborasi
pemberian obat
yang
mempengaruhi
persepsi stimulus
2. Nyeri Akut Tingkat Nyeri Manajemen Nyeri

Definisi : pengalaman Definisi : Definisi :


sensorik atau emosional pengalaman mengidentifikasi dan
yang berkaitan dengan sensorik atau mengelola pengalaman
kerusakan jaringan emosional yang sensorik atau emosional
aktual atau fungsional, berkaitan dengan yang berkaitan dengan
onset mendadak atau kerusakan jaringan kerusakan jaringan aktual
lambat dan berintensitas aktual atau atau fungsional, dengan
ringan hingga berat yang fungsional, dengan onset mendadak atau
berlangsung kurang dari onset mendadak lambat an berintensitas
3 bulan Penyebab : atau lambat an ringan hingga berat dan
berintensitas ringan konstan.
2. Agen pencedera
hingga berat dan
fisiologis (mis. Tindakan :
konstan.
Inflamasi, iskemia,
Observasi :

22
neoplasma) - Identifikasi skala
nyeri
Ekspektasi : - Identifikasi
Gejala :
meningkat respon nyeri non
5. Mengeluh nyeri verbal
6. Bersikap protektif - Identifikasi faktor
(mis. Waspada, Kriteria Hasil : yang
posisi menghindari memperberat dan
4. Keluhan nyeri
nyeri) memperingan
7. Sulit tidur dari
8. Gelisah 1(meningkat) nyeri
- Monitor
menjadi
keberhasilan
Kondisi : glaukoma 3(sedang
5. Gelisah dari terapi

3(sedang) komplementer

menjadi yang sudah

5(menurun) diberikan
6. Nafsu makan
dari Terapeutik :
1(memburuk)
- Fasilitasi istirahat
menjadi
dan tidur
3(sedang) - Pertimbangkan
jenis dan sumber
nyeri dalam
pemilihan strategi
meredakan nyeri
- Relaksasi benson :
adalah suatu
teknik pengobatan
untuk
menghilangkan
nyeri, insomnia
atau kecemasan.
Edukasi :

23
- Jelaskan
penyebab,
periode, dan
pemicu nyeri
- Jelaskan strategi
meredakan nyeri
- Anjurkan
memonitor nyeri
secara mandiri
- Anjurkan
menggunakan
analgetik secara
tepat
Kolaborasi :

- Kolaborasi
pemberian
anlgetik, jika
perlu
3. Risiko cedera Fungsi Sensori Pencegahan Cedera

Definisi : berisiko Definisi : Definisi :


mengalami bahaya atau kemampuan untuk mengidentifikasi dan
kerusakan fisik yang merasakan stimulasi menurunkan risiko
menyebabkan seseorang suara, rasa, raba, mengalami bahaya atau
tidak lagi sepenuhnya aroma dan gambar kerusakan sensorik.
sehat atau dalam kondisi visual
Tindakan :
baik
Observasi :
Faktor Risiko :
Ekspektasi :
- Identifikasi area
Eksternal : membaik
lingkungan yang
- Ketidakamanan berpotensi
transportasi menyebabkan
Kriteria Hasil :
Internal : cedera
- Ketajaman - Identifikasi obat

24
- Perubahan fungsi penglihatan yang berpotensi
psikomotot dari menyebabkan
3(sedang) cedera
menjadi Terapeutik :
Kondisi : gangguan
1(menurun)
penglihatan - Sediakan
pencahayaaan
yang memadai
- Pertahankan
posisi tempat tidur
di posisi terendah
saat digunakan
- Diskusikan
mengenal latihan
dan terapi fisik
yang diperlukan
- Diskusikan
bersama anggota
keluarga yang
apat mendampingi
pasien.
- Pemberian obat-
obatan, terapi
laser dan
pembedahan.
Edukasi :

- Anjurkan berganti
posisi secara
perlahan dan
duduk selama
beberapa menit
sebelum berdiri

25
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan Persepsi Sensori Berhubungan Gangguan penglihatan
2. Kenyamanan
3. Nyeri Akut berhubungan Agen pencedera fisiologis
4. Bisiko cedera berhubungan Perubahan fungsi psikomotot

C. INTERVENSI
Intervennsi keperawatan meliputi penentuan prioritas masalah
,tujuan ,kriteria hasil rasioal untuk masing-masing diagnossa. Diagnosa
yang dirumuskan pada prioritas diagnosa prioritas pola nafas tidak efektif
behubungan dengan kelumpuhan otot diafragma .tujuan yang ingin dicapai
adalah pola nafas pasien kembali efektif. Intervensi yang pertama kaji
fungsi pernapasan dengan rasional , kedua pantau kecepatan irama,
kedalaman dan upaya bernapas dengan rasional mengetahui status
pernapasan,ketiga observasi warna kulit dengan rasional mengetahui
adanya kegagalan paru. Intervensi keempat ajarkan pasien nafas dalam
dengan rasional meningkatkan kemampuan pengembangan paru.Intervensi
kelima kolaborasi dengan dokter pemberian oksigen.
Penelitian yang dilakukan tentang efektifitas kompres dingin
terhadap penurunan intensitas nyeri pada pasien di RSUD Unggaran
menunjukkan bahwa intensitas nyeri sebelum pemberian kompres dingin
mempunnyai median 5.00 dengan nilai minimum 4.00 dan nilai
maksimum 6.00. Intensitas nyeri sesudah pemberian kompres dingin
mempunyai nilai median 2.00.

BAB IV
PEMBAHASAN JURNAL

26
No Judul Jurnal Population Intervention Comparison
Out come
1. Teknik Penelitian Penanganan Relaksasi
1. Intensitas
Relaksasi ini dilakukan nyeri pada benson : adalah
nyeri berat
pernafasan diruang mata pasieh suatu teknik
pada
(BENSON) RSUD Dr. glaukoma pengobatan
sebagian
terhadap Soegiri masih belum untuk besar
intensitas Lamongan, seperti yang menghilangkan
penderita
nyeri pada pada tanggal diharapkan, nyeri, insomnia
penyakit
penderita 18 februari sehingga atau kecemasan.
glaukoma
glaukoma. -18 maret perlu sebelum
2010 alternatif dilakukan
sebanyak 20 lain dalam teknik
orang. penanganan relaksasi
nyeri yaitu (BENSON)
teknik 2. Intensitas
pernafasan nyeri
relaksasi mengalami
(BENSON). penurunan
setelah
dilakukan
teknik
relaksasi
pernafasan
(BENSON)
3. ada
pengaruh
teknik
relaksasi
pernafasan
(BENSON)
terhadap
intensitas
nyeri pada
penderita
glaukoma.
2. Gambaran Seluruh Memberikan Dengan Hasil
kualitas pasien edukator pemberian penelitian
hidup glaukoma dan edukator dan gambaran
(fungsi yang konseler. konseler untuk kwalitas
penglihatan) menjalani Secara meningkatkan hidup
pasien perawatan holistik. pengetahuan (fungsi
dengan dipoli mata mengenai penglihatan)

27
glaukoma RSD Dr. glaukoma dan pasien
dipoli mata Soepandi,Rs. menentukan glaukoma
rumah sakit Tingkat 3 penanganan menjadi
dikabupaten baladhika lanjutan secara baik.
jember husada, dan holistik untuk
Rs bina mempertahankan
sehat jember kualitas hidup.
pada bulan
juli-
september
tahun 2018
yaitu
sebanyak
295 pasien

BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Glaukoma adalah suatu keadaan dimana di tandai dengan peningkatan
tekanan intra okuler yang dapat merusak saraf mata sehingga mengakibatkan
kebutaan. Glaukoma diklasifikasikan antara lain glaukoma primer, glaukoma
sekunder, glaukoma kongenital dan glaukoma absolut. Penyebabnya tergantung

28
dari klasifikasi glaukoma itu sendiri tetapi pada umumnya disebabkan karena
aliran aquos humor terhambat yang bisa meningkatkan TIO. Tanda dan gejalanya
kornea suram, sakit kepala, nyeri, lapang pandang menurun, dll. Komplikasi dari
glaukoma adalah kebutaan. Penatalaksanaannya dapat dilakukan pembedahan dan
obat-obatan.

5.2 Saran
1. Untuk mahasiswa bisa lebih paham tentang pengertian, pencegahan,
pengobatan serta cara-cara untuk memberikan pendidikan kesehatan terhadap
pasien.

2. Untuk institusi pendidikan diharapkan dapat melengkapi atau menambah buku-


buku yang berkaitan dengan bidang keilmuan keperawatan seperti buku
keperawatan medikal bedah, asuhan keperawatan, kamus kedokteran dan lain-lain
sebagai literatur dalam menambah ilmu bagi mahasiswa.

29
BAB VI
DAFTAR PUSTAKA
Anas Tamsuri, 2011. Klien gangguan mata dan penglihatan : keperawatan medikal
bedah. EGC. Jakarta.
Bulecek Butcher Dochterman and Wagner (2013). Nursing Intervension
Classification (NIC) edisi ke enam. Indonesia ELSHIVER
Herdman, T & S. Kamitsuru (2015). Diagnosa keperawatan devinisi & simbol
Klasifikasi 2015-2017 edisi 10. Jakarta : EGC
Moorhead, johnson, maas and swanson (2013) Nursing Intervension Outcomes
(NOC)
edisi ke enam. Indonesia ELSHIVER.
Sidarta Ilyas, 2007 . Glaukoma Tekanan Bola Mata Tinggi. Edisi ke 3. CV. Sagung
Seto Jakarta.

30

Anda mungkin juga menyukai