Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH PARASITOLOGI

SPOROZOA

NI PUTU AYU NADI (1909482010102)


NI KADEK SUKERTIASIH (1909482010106)
PUTU AYU SURATMINI (1909482010111)
NYOMAN DESIMAWATI (1909482010112)

PROGRAM STUDI S-1 FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat dan rahmat, serta karuniaNyalah penulis dapat menyelesaikan Makalah
Parasitologi dengan materi Sporozoa ini sebagaimana mestinya. Dalam kesempatan ini
penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
terselesaikannya makalah ini. Selain itu, penulis juga meminta maaf apabila terdapat
kesalahan kata dalam penulisan makalah ini. Penulis menyadari bahwa penyusunan
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan
saran yang membangun demi penyempurnaan makalah ini.

Denpasar, 20 November 2019

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Parasitologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang semua organisme
parasit pada manusia. Parasit adalah organisme yang hidupnya menumpang
(mengambil makanan dan kebutuhan lainnya) dari makhluk hidup lain. Parasit
yang termasuk dalam parasitologi, yaitu: protozoa, cacing, dan beberapa
arthropoda. Parasit yang penting berada di bawah kingdom protista dan animalia.
Protista termasuk eukaroit bersel tunggal mikroskopis yang dikenal sebagai
protozoa (Padoli, 2016).
Parasit protozoa merupakan organisme dari sel tunggal yang secara
morfologi dan fungsional dapat melakukan semua fungsi kehidupan. Protozoa
adalah organisme bersel satu yang hidup sendiri atau dalam bentuk koloni. Tiap
protozoa merupakan kesatuan lengkap yang sanggup melakukan semua fungsi
kehidupan yang pada jasad lebih besar dilakukan oleh sel khusus. Protozoa
mempunyai nucleus (inti) yang berisi chromosome dan terletak di dalam
cytoplasma (protoplasma). Pada beberapa protozoa di dalam nukleus ini terdapat
satu atau beberapa granula yang disebut anak inti (karyosome). Jumlah inti dapat
satu atau lebih (Padoli, 2016).
Bagian dalam dari sitoplasma disebut endoplasama. Di dalam endoplasma
terdapat inti yang mengatur gizi sel dan reproduksi. Endoplasma berisi pula
vakuola makanan, cadangan makanan, benda asing, vakuola kontraktil, dan benda
kromatoid. Bagian luar sitoplasma yang membungkus endoplasma disebut
ektoplasma. Ektoplasma tampak jernih dan homogen berfungsi sebagai alat
pergerakan, mengambil makanan, ekskresi, respirasi, dan pertahanan diri. Parasit
dapat berubah dari stadium aktif (trofozoit) ke stadium tidak aktif (kista) yang
kehilangan daya motilitas dan membungkus dirinya sendiri dalam dinding kuat.
Pada stadium kista parasit protozoa kehilangan kekuatannya untuk tumbuh dan
berkembang biak. Kista merupakan stadium bertahan dan merupakan stadium
infektif bagi host manusia (Padoli, 2016).
Protozoa dapat memperbanyak diri (reproduksi) secara aseksual dan
seksual. Reproduksi aseksual dapat berupa pembelahan biner (binary fusion): satu
menjadi dua, atau pembelahan ganda (multiple fusion): satu menjadi beberapa
(lebih dari dua) sel protozoa yang baru. Reproduksi seksual dapat berupa
konjugasi atau bersatunya gamet (fusi gamet). Salah satu klasifikasi protozoa
berdasarkan alat geraknya, yaitu sporozoa yang tidak adanya alat gerak dan
pergerakan amuboid sedikit. Pada makalah ini, dibahas mengenai infeksi yang
termasuk ke dalam kelas parasit sporoza.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah infeksi yang termasuk ke dalam kelas parasit sporozoa?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui infeksi yang termasuk ke dalam kelas parasit sporozoa.
BAB II
PEMBAHASAN

Semua sporozoa hidup sebagai parasit pada satu atau lebih spesies hewan.
Bentuk-bentuk dewasanya tidak mempunyai organ untuk pergerakan tetap.
Mungkin pada satu stadium, bergerak dengan cara meluncur. Sporozoa ini tidak
dapat menelan partikel-partikel padat, tetapi hidup dari sel atau zat alir tubuh
inangnya. Plasmodium sp. dan Toxoplasma gondii termasuk ke dalam kelas
sporozoa yang penting.

2.1 Plasmodium sp.


Plasmodium sp. termasuk golongan protozoa famili plasmodiidae, dan
order Coccidiidae. Melalui perantaraan tusukan (gigitan) nyamuk Anopheles sp.
Plasmodium menyebabkan penyakit malaria. Ada empat spesies utama
Plasmodium, yaitu:
1. Plasmodium vivax, penyebab malaria tertiana benigna atau malaria vivax.
2. Plasmodium falciparum, penyebab malaria tertiana maligna (ganas), dan dapat
menyebabkan serebral malaria.
3. Plasmodium malariae, penyebab malaria kuartana atau malaria malariae.
4. Plasmodium ovale, penyebab malaria tertiana benigna atau malaria ovale.
Jenis ini jarang sekali dijumpai, umumnya banyak di Afrika dan Pasifik Barat.

2.1.1 Patogenesis
Gejala klinis yang muncul pada infeksi malaria disebabkan secara tunggal
oleh bentuk aseksual Plasmodium yang bersirkulasi di dalam darah. Parasit ini
menginvasi serta menghancurkan sel darah merah, menetap di organ penting dan
jaringan tubuh, menghambat sirkulasi mikro, serta melepaskan toksin yang akan
menginduksi pelepasan sitokin yang bersifat proinflammatory sehingga terjadi
rigor malaria yang klasik (Roe & Pasvol, 2009). Patologi malaria berhubungan
dengan anemia, pelepasan sitokin, dan pada kasus Plasmodium falciparum,
kerusakan organ multipel yang disebabkan oleh gangguan mikrosirkulasi.
Parasitemia Plasmodium falciparum adalah lebih parah karena ia memparasitisasi
eritrosit berbagai usia. Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale hanya
menginfeksi retikulosit dan eritrosit muda sedangkan Plasmodium malariae hanya
menyerang pada eritrosit yang lebih tua.

2.1.2 Siklus hidup


Plasmodium sp. sebagai penyebab penyakit malaria memiliki siklus hidup
seksual (sporogoni) berlangsung pada nyamuk Anopheles, dan siklus aseksual
yang berlangsung pada manusia.
1. Siklus aseksual
Siklus aseksual dimulai ketika nyamuk Anopheles betina menusuk
(menggigit) manusia dan memasukkan stadium infektif sporozoit yang
terdapat pada air liurnya ke dalam darah manusia. Melalui aliran darah
sporozoit dapat memasuki hati dan menginfeksi sel hati. Disini selama 5-16
hari sporozoit mengalami reproduksi aseksual disebut sebagai proses
skizogoni atau proses memperbanyak diri, yang akan menghasilkan kurang
lebih 10.000-30.000 merozoit, yang kemudian akan dikeluarkan dari sel hati
dan selanjutnya menginfeksi eritrosit. Sewaktu merozoit dilepaskan dari
hepatosit masuk ke dalam sirkulasi darah, dimulailah proses skizogoni
eritrositik atau reproduksi aseksual dalam sel darah merah (eritrosit). Merozoit
P. vivax dan P. ovale akan menginfeksi eritrosit tua, dan P. Falciparum akan
menginfeksi semua stadium eritrosit hingga dapat menginfeksi sampai 10-
40% eritrosit. Setelah pembentukan merozoit selesai, eritrosit akan pecah dan
melepaskan merozoit ke dalam plasma dan selanjutnya akan menyerang
eritrosit lain dan memulai proses baru. Setiap siklus skizogoni eritrositik akan
berlangsung selama 48 jam pada plasmodium vivax, Plasmodium ovale,
maupun pada Plasmodium falciparum dan 72 jam pada Plasmodium malariae.
Beberapa merozoit yang menginvasi eritrosit berdeferensiasi menjadi bentuk
seksual parasit yaitu gametosit yang berkembang terutama pada malam hari.
Gametosit akan tertelan bersama darah yang dihisap nyamuk yang menggigit
penderita, selanjutnya dimulai siklus sporogoni atau gametogonium pada
nyamuk.
2. Siklus seksual
Di mulai gametosit matang di dalam darah penderita yang terhisap oleh
nyamuk, akan mengalami proses pematangan di dalam usus nyamuk untuk
menjadi gamet (gametogenesis), gamet jantan (mikrogamet), dan gamet betina
(makrogamet). Dalam beberapa menit mikrogamet akan membuahi
makrogamet (fertilisasi) dalam waktu 3 jam setelah nyamuk menghisap darah
terbentuk ookinet. Selanjutnya ookista akan pecah dan melepaskan sporozoit
ke dalam sirkulasi darah nyamuk, dan bergerak menuju kelenjar ludah
nyamuk kemudian akan ditransmisi kepada manusia lainnya melalui tusukan
atau gigitan nyamuk yang terinfeksi ini. Siklus perkembangan Plasmodium
dalam nyamuk berkisar 7-20 hari dan akhirnya berkembang menjadi
sporozoit yang bersifat infektif dan nyamuk Anopheles yang terinfeksi ini
akan bersifat infektif sepanjang hidupnya.
Gambar 2.1 Siklus hidup Plasmodium sp. (Prasetyo, 2005)

2.1.3 Gejala klinik


Gejala klinik malaria pada umumnya muncul 9-14 hari setelah gigitan
nyamuk Anopheles yang terinfeksi. Gejala klinis yang paling sering ditemui pada
malaria adalah demam. Demam yang bersifat intermiten, menggigil yang tiba-
tiba, keluar keringat dan delirium. Pada infeksi awal, malaria bisa bermanifestasi
sebagai malaise, sakit kepala, nyeri otot atau pegal-pegal, muntah, atau diare.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan anemia, pembesaran limpa (splenomegali) atau
hati (hepatomegali). Untuk memperdalam pemahaman Anda tentang penyakit
malaria, coba Anda diskusikan dalam kelompok belajar masing-masing,
morfologi, siklus hidup, gejala klinik untuk keempat jenis Plasmodium sp.

2.1.4 Diagnosis
Penting pada pemeriksaan ini adalah siklus eritrositik. Pada infeksi
falciparum memperberat dan menyerang otak dan menyebabkan serebral malaria.
Pewarnaan Giemsa pada sediaan darah tepi paparan tebal dan paparan tipis
merupakan gold standard untuk diagnose malaria. Pemeriksaan diagnostik yang
lain adalah analisa quantitative buffy coat (QBC) untuk melihat parasit malaria
dan rapid diagnostic tests (RDT) untuk mendeteksi antigen spesifik (protein) yang
dihasilkan oleh parasit malaria dan berada dalam sirkulasi darah orang yang
terinfeksi. Polymerase chain reaction (PCR) sangat berguna untuk menegakkan
diagnosa malaria berdasarkan spesiesnya dan mendeteksi infeksi walaupun pada
kadar parasitemia yang rendah.

2.1.5 Pencegahan malaria


Berbagai kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi malaria adalah:
1. Menghindari atau mengurangi kontak atau gigitan nyamuk Anopheles
(pemakaian kelambu, repelan, obat nyamuk, dan sebagainya).
2. Membunuh nyamuk dewasa (dengan menggunakan berbagai insektisida).
3. Membunuh jentik (kegiatan anti larva) baik secara kimiawi (larvisida) maupun
secara biologis (ikan, tumbuhan, jamur, bakteri).
4. Mengurangi tempat perindukan (source reduction).
5. Mengobati klien malaria.
6. Penggunaan kemoprofilaksis bagi orang yang memasuki daerah endemis
malaria.

2.2 Toxoplasma gondii


Toxoplasma gondii menyebabkan toksoplasmosis. Host definitif adalah
kucing. Manusia dan mamalia lainnya bertindak sebagai host intermediate.
Toxoplasma gondii biasanya diperoleh melalui konsumsi atau secara kongenital
transmisi transplasenta dari ibu yang terinfeksi ke janin yang dikandungnya.
Setelah infeksi pada epitel usus, organisme menyebar ke organ lain, terutama
otak, paru-paru, hati, dan mata. Sebagian besar infeksi primer pada orang dewasa
imunokompeten tidak menunjukkan gejala. Infeksi kongenital dapat
mengakibatkan aborsi, lahir mati, atau penyakit neonatal dengan hidrocephalus,
ensefalitis, chorioretinitis, dan hepatosplenomegali. Demam, sakit kuning, dan
kalsifikasi intrakranial juga terlihat. Diagnosis infeksi akut dan bawaan, serta
mendeteksi antibodi digunakan teknik immunofluorescence. Pemeriksaan
mikroskopis preparat pewarnaan Giemsa menunjukkan trofozoit berbentuk bulan
sabit. Kista dapat dilihat dalam jaringan. Pengobatan dengan kombinasi
sulfadiazine dan pyrimethamine.

Gambar 2.2 Siklus hidup Toxoplasma gondii (Prasetyo, 2005)

2.3 Penyakit Akibat Infeksi Sporozoa


2.3.1 Malaria
Penyakit malaria disebabkan oleh parasit sporozoa plasmodium yang
ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina infektif. Sebagian besar
nyamuk anopheles akan menggigit pada waktu senja atau malam hari, pada
beberapa jenis nyamuk puncak gigitannya adalah tengah malam sampai fajar. Ada
tiga faktor utama yang saling berhubungan dalam penyebaran malaria, yaitu: host
(manusia dan nyamuk), agent (plasmodium), dan environment (lingkungan).
Penyebaran malaria terjadi apabila ketiga komponen tersebut saling mendukung.
Sebagai host intermediate manusia bisa terinfeksi oleh plasmodium dan sebagai
tempat berkembang biaknya plasmodium. Sedangkan, lingkungan yang
berpengaruh terhadap penyakit malaria, meliputi: lingkungan fisik (suhu,
kelembaban, hujan, ketinggian, angin, sinar matahari, arus air, dan tempat
perindukan), biologik (tumbuhan bakau, lumut, ikan pemakan larva, hewan
ternak), dan sosial budaya (kebiasaan keluar rumah pada malam hari,
menggunakan kelambu, memasang kawat kassa pada rumah dan menggunakan
obat nyamuk).

2.3.2 Toksoplasmosis
Toksoplasmosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Toxoplasma
gondii yang merupakan golongan protozoa yang sifatnya parasit obligat
intraseluler. Penemu dari Toxoplasma gondii yang pertama kali adalah Nicole dan
Splendore pada tahun 1908 pada hewan pengerat (tenodactylus gundii) pada
bagian limfa dan hati di Tunisia Afrika dan pada seekor kelinci di Brazil dan
disebut sebagai Toxoplasma gondii (Dubey, 2008). Infeksi pada manusia dapat
terjadi melalui tiga rute transmisi utama, yaitu: makanan yang dikonsumsi
(konsumsi daging yang terinfeksi oleh kista jaringan), penularan hewan ke
manusia (menelan ookista gudang dalam tinja kucing yang terinfeksi), dan ibu-ke-
janin (infeksi kongenital melalui plasenta selama kehamilan) (Robert, 2012).
Toksoplasmosis pada kehamilan menyebabkan infeksi Toxoplasma gondii pada
janin melalui sirkulasi uteroplasenta. Ada korelasi positif yang sangat signifikan
antara isolasi toksoplasmosis dari jaringan plasenta dan infeksi neonatal
(Suparman, 2012). Salah satu provinsi terbesar di Indonesia, yaitu Provinsi Riau
terdapat kasus toksoplasmosis yang menurut data dari rekam medis RSUD Arifin
Achmad Provinsi Riau toksoplasmosis merupakan penyakit peringkat 9 tertinggi
dari 15 penyakit terbesar dalam kehamilan.
BAB III
KESIMPULAN

Parasitologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang semua organisme


parasit pada manusia. Salah satu parasit yang termasuk dalam parasitologi adalah
protozoa. Protozoa adalah organisme bersel satu yang hidup sendiri atau dalam
bentuk koloni. Sporozoa merupakan bgaian dari protozoa yang diklasifikasikan
berdasarkan alat geraknya. Plasmodium sp. dan Toxoplasma gondii termasuk ke
dalam kelas sporozoa yang penting. Plasmodium sp. merupakan protozoa
golongan sporozoa yang ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina
infektif yang menyebabkan penyakit malaria pada manusia sebagai host
intermediate. Sedangkan Toxoplasma gondii merupakan golongan protozoa yang
sifatnya parasit obligat intraseluler yakni mikroorganisme parasit yang tidak
langsung dapat bereproduksi di luar sel inang untuk membantu reproduksi sel
parasit. Penularan Toxoplasma gondii terjadi ketika mengonsumsi daging yang
sudah terinfeksi oleh kista jaringan atau melalui tinja kucing kepada ibu hamil
yang menyebabkan infeksi kongenital melalui plasenta selama kehamilan.
DAFTAR PUSTAKA

Hermawan, D. 2016. Jurnal Medika Malahayati. Hubungan Keberadaan Tempat


Perindukan Nyamuk Dan Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap
Kejadian Malaria Didesa Sukajaya Lempasing Kabupaten Pesawaran
Provinsi Lampung Tahun 2015. 3(4):190-196.

Padoli. 2016. Mikrobiologi dan Parasitologi Keperawatan. Kementerian


Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Indonesia.

Prasetyo, R.H. 2005. Pengantar Praktikum Protozoologi Kedokteran. Edisi 2.


Airlangga University Press.

Triana, A. 2015. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Faktor Determinan


Toksoplasmosis pada Ibu Hamil. 11(1):25-31.