Anda di halaman 1dari 284

ANALISIS KESESUAIAN KEBERADAAN SAFETY SIGN

BERDASARKAN IDENTIFIKASI BAHAYA DI BIDANG PROFILLING


PRISMATIC MACHINE DEPARTEMEN MACHINING DIREKTORAT
PRODUKSI PT. DIRGANTARA INDONESIA TAHUN 2014

SKRIPSI

OLEH:

EVIANTI ANGGUN LESTARI

1110101000009

PEMINATAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2014 M / 1434 H
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
Skripsi, Juli 2014

Evianti Anggun Lestari, NIM : 1110101000009

ANALISIS KESESUAIAN KEBERADAAN SAFETY SIGN


BERDASARKAN IDENTIFIKASI BAHAYA DI BIDANG PROFILLING
PRISMATIC MACHINE DEPARTEMEN MACHINING DIREKTORAT
PRODUKSI PT. DIRGANTARA INDONESIA TAHUN 2014

178 Halaman, 21 Tabel, 19 Gambar, 2 Bagan, 11 Lampiran

ABSTRAK
Menurut OHSAS 18001:2007, implementasi Sistem Manajemen K3 di
perusahaan harus menerapkan HIRARC yang meliputi identifikasi bahaya,
penilaian dan pengendalian risiko. Pentingnya identifikasi dan pengendalian
bahaya sangat berpengaruh besar terhadap angka kecelakaan kerja dan kesehatan
pekerja. Oleh karena itu, perusahaan membutuhkan aplikasi yang tepat untuk
mereduksi pekerja dari bahaya yang dapat menyebabkan kecelakaan ditempat
kerja.Terdapat 5 spesifik tindakan pengendalian, yaitu dengan pendekatan
eliminasi, substitusi, pengendalian teknis, pengendalian administrasi dan alat
pelindung diri. Pengendalian risiko yang dilakukan PT. Dirgantara Indonesia
masih dengan pendekatan administrasi, yaitu diantaranya dengan pelatihan kerja,
rotasi kerja, pemberian safety sign. Akan tetapi, berdasarkan hasil studi
pendahuluan safety sign yang diterapkan di Bidang Profilling Prismatic Machine
masih belum tepat, karena belum sesuai dengan potensi bahaya, risiko dan lokasi
kerjanya.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yang dimaksudkan untuk
melihat kesesuaian penerapan pengendalian administrasi, dalam bentuk safety sign
di PT. Dirgantara Indonesia. Adapun pengambilan data dilakukan melalui
wawancara mendalam (dengan informan utama, pendukung, dan kunci), observasi
dan telaah dokumen.
Hasil identifikasi bahaya dan penilaian risiko memiliki hasil yang
bervariasi dari low risk hingga high risk. Sebagian besar keberadaan dan
kebutuhan safety sign tidak sesuai berdasarkan hasil identifikasi bahaya yang ada.

i
Untuk meningkatkan kewaspadaan pekerja terhadap potensi bahaya di
tempat kerja, maka sebaiknya PT. Dirgantara Indonesia memasang safety sign
sesuai dengan bahaya. Selain itu, sebaiknya PT. Dirgantara Indonesia melakukan
inspeksi risiko bahaya secara rutin keseluruh Direktorat Produksi.

Daftar bacaan : 49 (1970 – 2014)

ii
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE
PUBLIC HEALTH STUDY PROGRAM
OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY SPECIALIZATION
Undergraduate Thesis, Juli 2014

Evianti Anggun Lestari, NIM : 1110101000009

ANALYSIS ON THE SUITABILITY PRESENCE OF SAFETY SIGN


BASED ON HAZARD IDENTIFICATION IN PROFILLING PRISMATIC
MACHINING MACHINE DEPARTMENT PRODUCTION
DIRECTORATE PT. DIRGANTARA INDONESIA IN 2014
178 Pages, 21 Table, 19 Picture, 2 Chart, 11 Appendix

According to OHSAS 18001:2007, implementation of Health and Safety


Works Management System in a company should applying HIRARC which
consists of hazard identification, risk assesment and risk controlling. The
importance of risk identification and controlling have a big impact to number of
accidents and worker’s health. Therefore, a company needs right application to
reduce worker’s hazard that could cause accidents at work. There are five specific
controlling actions, which is elimination approach, substitution, technical control,
adminstration control, and personal protective equipment. Control risk by PT.
Indonesian Aerospace is the administrative approach, some of them with job
training, job rotation, the provision of safety signs. However, based on the results
of preliminary studies of safety sign that is applied in the field of profiling
Prismatic Machine is still not right, because it is not in accordance with the
potential hazards, risk and their places of work.

This study is a qualitative study, in order to to look at the suitability of the


application of administrative controls. Data collected through in-depth interview
(with key informants, suppoters, and key), observation, and document review.

Results hazard identification and risk assessment have varied results from
low risk to high risk. Most of the existence and needs of safety sign is not
appropriate based on the identification of hazards.

To increase awareness of workers against potential hazards in the


workplace, then you should PT. Indonesian Aerospace installing safety sign in
accordance with danger. In addition, should the PT. Indonesian Aerospace
conduct regular hazard inspections throughout the Production Directorate.
Reference : 49 (1970 – 2014)

iii
iv
v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Evianti Anggun Lestari

Jenis Kelamis : Perempuan

Tempat, Tanggal Lahir : Surabaya, 8 Januari 1992

Kebangsaan : Indonesia

Status : Belum menikah

Tinggi / Berat : 151 cm / 58 kg

Agama : Islam

Alamat : Jl.Wr.Supratman Gg. Bacang No.90A Rt003 / Rw


009 Ciputat Timur, Tangerang selatan.

No. Ponsel : 085694025327 / 087771037927

Email : Hardshake_vi@yahoo.com

PENDIDIKAN

1996 – 1998 : TK Islam Al-Quran

1998 - 2004 : SD Negeri Pondok Ranji 1

2004 - 2007 : SMP Negeri 3 Kota Tangerang Selatan

2007 - 2010 : SMA Negeri 1 Kota Tangerang Selatan

2010 – now : UIN SYARIF HIDATATULLAH JAKARTA

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Program Studi : Kesehatan Masyarakat

Department : Keselamatan dan Kesehatan Kerja

(KKK/K3)

vi
KATA PENGANTAR

Diawali dengan segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah

SWT atas segala keberkahan, kenikmatan dan kebesaran – Nya, serta sholawat

dan salam selalu tercurah kepada baginda besar Nabi Muhammad SAW yang

telah memberikan kehidupan dari jaman jahiliyah menjadi jaman yang terang

benderang seperti saat ini. Sehingga alhamdulilah laporan skripsi dengan judul

“ANALISIS KESESUAIAN KEBERADAAN SAFETY SIGN BERDASARKAN

IDENTIFIKASI BAHAYA DI BIDANG PROFILLING PRISMATIC MACHINE

DEPARTEMEN MACHINING DIREKTORAT PRODUKSI PT. DIRGANTARA

INDONESIA TAHUN 2014” dapat terselesaikan dengan baik, alhamdulillah.

Penyusunan laporan skripsi ini merupakan satu persyaratan kelulusan

program S1 Kesehatan Masyarakat Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dengan pelaksanaan penelitian skripsi ini yang dilaksanakan selama kurang lebih

tiga bulan, penulis mengalami banyak tantangan baru, sehingga penulis merasa

lebih semangat lagi untuk menjalankan amanah sebagai lulusan di bidang

Keselamatan dan Kesehatan kerja. Semoga laporan skripsi ini dapat bermanfaat

bagi yang membaca pada umumnya dan khususnya bagi penulis sendiri. Dan

dalam laporan skripsi ini penulis menyadari bahwa masih jauh dari kata

sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat dibutuhkan untuk memperbaiki

laporan ini.

Pada pelaksanaan dan pembuatan laporan ini banyak pihak terkait yang

telah membantu penulis dalam segi apapun sehingga dapat terselesaikannya

laporan skripsi yang telah memberikan banyak pelajaran bagi penulis. Oleh karena

itu penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

vii
1. Keluarga tercinta, Mama yang selalu memberikan nasihat – nasihat di

setiap waktu, Bapa yang selalu mendukung di setiap langkahku demi

penjajakan kehidupan yang lebih baik di setiap harinya, dan adikku Dian

Nur Utami yang selalu membantuku di setiap hari kita bersama dan

senantiasa mendukung setiap kegiatan yang dilakukan.

2. Ibu Yuli Amran., SKM, MKM. Selaku pembimbing skripsi I yang telah

memberikan masukan, nasihat, dan telah membimbing dengan penuh

kesabaran sehingga peneliti dapat menyelesaikan laporan skripsi ini.

Terimakasih banyak Bu.

3. Ibu Iting Shofwati., ST, MKKK. Pembimbing skripsi II yang selalu

memberikan nasihat, trik – trik dalam berusaha, memberikan semangat

yang sangat power full, dan kesabaran kepada peneliti sehingga

menjadikan inspirasi kepada penulis.

4. Mas Tri Anggoro Mardiutomo yang selalu ada dan mendukung penulis di

setiap waktu, selalu memberikan nasihat dan semangat yang positif dan

membangun, memberikan pandangan yang jauh kedepan.

5. Untuk para sahabat – sahabatku Anis Syarifah Nasution, Vivi, Harum,

Dinda yang selalu memberikan dukungan di setiap waktu.

6. Untuk teman – teman Kesehatan Masyarakat 2010 dan K3 2010 yang tidak

bisa disebutkan satu persatu, terimakasih telah mengisi di perjalanan

kehidupanku di tengah – tengah bangku perkuliahan.

7. Komunitas Pelatih tari Ratoh Jaroe (Aceh) Jakarta yang selalu mendukung

dan membantu penulis dalam bidang seni tari.

viii
Akhir kata dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT, penulis

berharap semua kebaikan yang telah diberikan mendapatkan balasan dari

Allah SWT. Amin.

Ciputat, Juli 2014

Evianti Anggun Lestari

ix
DAFTAR ISI
Abstrak ................................................................................................................... i

Lembar Pengesahan ............................................................................................. iv

Lembar Persetujuan Panitia Sidang Skripsi ......................................................... v

Riwayat Hidup ..................................................................................................... vi

Kata Pengantar .................................................................................................... vii

Daftar Isi ................................................................................................................... x

Daftar Tabel ....................................................................................................... xiv

Daftar Gambar ................................................................................................... xvi

Daftar Bagan .................................................................................................... xvii

Daftar Istilah......................................................................................................xviii

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 1

1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................... 7

1.3 Pertanyaan ....................................................................................................... 7

1.4 Tujuan Penelitian ............................................................................................ 7

1.5 Manfaat Penelitian .......................................................................................... 9

1.6 Ruang Lingkup .............................................................................................. 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 12

2.1 Bahaya ........................................................................................................... 12


2.2 Keselamatan Kerja ......................................................................................... 13

2.2.1 Kecelakaan Kerja ........................................................................................ 15

2.2.2 Incident ....................................................................................................... 16

2.3 Manajemen Risiko ......................................................................................... 17

x
2.3.1 Identifikasi Bahaya......................................................................................19

2.3.1.1 Preliminary Hazard Analisis (PHA) ....................................................... 23

2.3.1.2 Hazard and Operability and analysis (HAZOP) ..................................... 23

2.3.1.3 Worksheet Failure Modes and Effect Analysis (FMEA) ....................... 26

2.3.1.4 Job Safety Analisis (JSA) ....................................................................... 27

2.3.1.5 Task Risk Assessment (TRA) .................................................................. 28

2.3.1.6 Checklist ............................................................................................... 30

2.3.1.7 Brainstorming ......................................................................................... 32

2.3.2 Penilaian Risiko ......................................................................................... 33

2.3.2.1 Analisis Kualitatif ................................................................................... 34

2.3.2.2 Analisis Kuantitaif .................................................................................. 36

2.3.2.3 Analisis Semi Kuantitatif ........................................................................ 37

2.3.3 Pengendalian Risiko ................................................................................... 39

2.4 Safety Sign ..................................................................................................... 43

2.4.1 Pengertian .................................................................................................. 43

2.4.2 Kategori Safety Sign ................................................................................... 47

2.4.2.1 Kategori Berdasarkan OSHA .................................................................. 47

2.4.2.2 Kategori Berdasarkan ANSI Z535 .......................................................... 49

2.4.2.3 Kategori Safety Sign Menurut BSI 5499 ................................................. 55

2.4.3 Psikologi Warna Berdasarkan BSI 5499 .................................................... 67

2.5 Kerangka Teori...............................................................................................68

BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN DEFINISI ISTILAH ......................... 69

3.1 Kerangka Berpikir ......................................................................................... 69

xi
3.2 Definisi Istilah ............................................................................................... 71

BAB IV METODELOGI PENELITIAN ............................................................ 73

4.1 Jenis Penelitian .............................................................................................. 73

4.2 Waktu dan Lokasi Penelitian ......................................................................... 73

4.3 Informan Penelitian ....................................................................................... 73

4.4 Instrumen Peneltian........................................................................................75

4.5 Sumber Data .................................................................................................. 76

4.6 Metode Pengumpulan Data ........................................................................... 76

4.7 Pengolahan Data ............................................................................................77

4.8 Analisis Data ................................................................................................. 78

4.9 Triangulasi data ............................................................................................. 80

4.10 Penyajian Data ............................................................................................. 82

BAB V HASIL .................................................................................................... 83

5.1 Proses Produksi di Bidang Profilling Prismatic Machine.............................. 83

5.2 Pelaksanaan Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko Bidang Profilling

Prismatic Machine ......................................................................................... 88

5.2.1 Hasil Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko dan Pengendalian di mesin


DGMP dan DGAL Bidang Profilling Prismatic Machine ................................. 90

5.2.2 Hasil Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko dan Pengendalian di mesin


MATEC dan JOBS ............................................................................................. 99

5.2.3 Daftar Potensi Bahaya dan Risiko di Bidang Profilling Prismatic Machine..
............................................................................. ....................................106

5.3 Keberadaan Safety Sign Bidang Profilling Prismatic Machine ................. 109

5.3.1 Prosedur Penerapan Safety Sign di Departemen Machining .................... 116

xii
5.3.2 Standar Safety Sign yang Digunakan ....................................................... 117

5.3.3 Petugas yang Memasang Safety Sign ....................................................... 118

5.4 Analisa Kebutuhan Safety Sign Berdasarkan Hasil Identifikasi Bahaya di


Bidang Profilling Prismatic Machine ............................................................... 120

5.5 Analisis Kesesuaian Keberadaan Safety Sign di Bidang Profilling Prismatic


Machine ............................................................................................................. 135

BAB VI PEMBAHASAN ................................................................................. 150

6.1 Keterbatasan Penelitian ............................................................................... 150

6.2 Prosedur Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, dan Pengendalian Risiko ..


............................................................................. ..............................................151

6.3 Daftar Bahaya, Risiko, Penilaian Risiko dan Pengendalian Berdasarkan Hasil
Identifikasi Bahaya di Bidang Profilling Prismatic Machine ........................... 152

6.4 Keberadaan Safety Sign di Bidang Profilling Prismatic Machine .............. 155

6.5 Kebutuhan Safety Sign Berdasarkan Daftar Bahaya ................................... 162

6.6. Kesesuaian Keberadaan Safety Sign di Bidang Profilling Prismatic Machine.


...........................................................................................................................167

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 172

7.1 Kesimpulan .................................................................................................. 172

7.2 Saran ............................................................................................................ 174

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 175

LAMPIRAN

xiii
Daftar Tabel

2.1 Informasi Identifikasi Bahaya ....................................................................... 22

2.2 Contoh HAZOP ............................................................................................. 25

2.3 Contoh Worksheet Failure Modes and Effect Analysis FMEA.....................26

2.4 Contoh Job Safety Analysis Worksheet ....................................................... 28

2.5 Contoh Analisis Risiko dengan Task Risk Assessment (TRA) ................... 30

2.6 Contoh Checklist .......................................................................................... 31

2.7 Ukuran Kualitatif dari “likelyhood” Menurut standar AS/NZS 4360 ...........34

2.8 Ukuran Kualitatif dari “consequency” MENURUT STANDAR AS/NZS 4360


................................ .............................. .............................. ...............................35

2.9 Perkiraan Probabilitas.................................................................................... 36

2.10 Analisis Kuantitatif ...................................................................................... 37

2.11 Analisis Semi Kuantitatif ............................................................................ 38

4.1 Informan Penelitian ...................................................................................... 74

4.2 Karakteristik Informan ................................................................................. 74

4.3 Metode Pengumpulan Data .......................................................................... 77

4.4 Triangulasi Data ........................................................................................... 81

5.1 Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko dengan Task Risk Assessment dan
Keberadaan Safety sign di Mesin DGMP dan DGAL ......................................... 91

5.2 Hasil Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko dan Pengendalian di mesin


MATEC dan JOBS ............................................................................................. 99

5.3 Daftar Potensi Bahaya dan Risiko di Bidang Profilling Prismatic


Machine ............................................................................................................. 106

5.4 Keberadaan Safety Sign di Bidang Profilling Prismatic Machine .............. 109

xiv
5.5 Analisa Kebutuhan Safety sign Berdasarkan Hasil dari Manajemen Risiko dan
Keberadaan Safety sign pada Mesin DGMP (A-B-C-D), SGMP-J, DGAL (E-F-G-
H), SGAL-I, MATEC dan JOBS ....................................................................... 120

5.6 Analisis Kesesuaian Keberadaan Safety sign berdasarkan hasil Identifikasi


Bahaya dan Keberadaan Safety sign dengan Kebutuhan Safety sign di Mesin
(DGMP-A,B,C,D, SGMP-J) ............................................................................. 135

xv
Daftar Gambar

2.1 Hirarki pengendalian .................................................................................... 45

2.2 Format safety sign yang dilengkapi signal word panel dan word message
......................................................... ................................................................... 53

2.3 Piktogram dengan STANDAR ANSI Z535...................................................54

2.4 Kategori safety sign BSI 5499.......................................................................56

2.5 Kategori safety sign BSI 5499........................................................................67

2.6 Tanda larangan (Prohibition Sign) ................................................................ 58

2.7 Tanda bahaya (Danger Sign) ........................................................................ 59

2.8 Tanda kendaraan darurat (Emergency Response Sign) ................................. 61

2.9 Tanda api (Fire Fighting Sign) ..................................................................... 63

2.10 Tanda perintah APD (mandatory sign) ....................................................... 65

2.11 Tanda perintah APD (mandatory sign) ...................................................... 76

2.12 Psikologi warna menurut BSI .5499. .......................................................... 67

5.1 Flow chart proses produksi PT. Dirgantara Indonesia...................................89

5.1 Bidang Profilling Prismatic Machine (Area Mesin DGMP) ......................... 91

5.2 Bidang Profilling Prismatic Machine (Area Mesin DGMP) ......................... 92

5.3 Bidang Profilling Prismatic Machine (Area Mesin MATEC & JOBS) ........ 93

6.1 Keberadaan Safety Sign di Mesin DGMP. .................................................. 159

6.2 Keberadaan Safety Sign di Mesin DGAL................................................... 160

6.3 Keberadaan Safety Sign di Mesin MATEC dan JOBS ............................... 161

xvi
Daftar Bagan

2.1 Bagan Alur Kerangka Teori .......................................................................... 68

3.1 Bagan Alur. Kerangka Konsep......................................................................70

xvii
Daftar Istilah

- Safety sign : Tanda keselamatan, salah satu bentuk pengendalian

administratif dalam hirarki pengendalian K3

- SIR : Severity Injury Rate (tingkat keparahan kecelakaan kerja per-

tahun)

- FIR : Frekuensi Injury Rate (tingkat frekuensi kepaparan kecelakaan

kerja per-tahun)

- ANSI : America National Standard Institute (Standar safety sign dari

Amerika)

- BSI : British Standard Institute (Standar Safety Sign dari Eropa /

British)

- APD : Alat Pelindung Diri (hirarki pengendalian bahaya yang terakhir

yaitu melindungi tubuh dari bahaya)

- P2K3 : Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja

- OHSAS : Occupational Health and Safety Standar Assessment (standar

penilaian mengenai sistem manajemen K3

- P2K3 : Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja

- TRA : Task Risk Assessment (salah satu metode untuk mengidentifikasi

bahaya)

- HIRARC : Identifikasi bahaya, penilaian risiko dan pengendalian risko

xviii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan dalam kegiatan industri saat ini sangat pesat, salah

satunya industri manufaktur produksi pesawat yang memiliki risiko tinggi

terhadap aspek keselamatan dan kesehatan kerja serta lingkungan. Mulai dari

penggunaan teknologi, material yang sangat berbahaya, prosedur kerja yang

kompleks, kegiatan produksi dengan risiko tinggi, ditambah jika terjadi

kecelakaan kerja ataupun bencana yang menimpa pekerja, peralatan, proses /

produksi, dan lingkungan yang sangat bervariasi.

PT. Dirgantara Indonesia bergerak dalam bidang industri dan jasa

dimana perusahaan ini memiliki beberapa unit usaha yang mendukung

perkembangan perusahaan serta merupakan suatu perusahaan yang bergerak

dibidang pembuatan pesawat terbang, salah satunya adalah satuan usaha (SU)

Aircraft Service (ACS) yang perkembangannya meliputi proses penyediaan

dan penjualan material sparepart pesawat terbang serta melakukan jasa

service pesawat terbang. Pada salah satu divisi AirCraft PT. Dirgantara

Indonesia mempunyai fungsi sebagai satuan produksi atau satuan yang

merancang serta membuat komponen luar dari pesawat terbang, seperti :

sayap, ekor, baling-baling, kepala pesawat, badan pesawat.

Menurut arsip iptek (2011) industri pesawat terbang merupakan salah

satu industri yang dianggap penting dan strategis bagi bangsa Indonesia.

Pesawat terbang memiliki keunggulan dalam hal kecepatan dan daya capai

1
bila dibandingkan dengan sarana transportasi darat dan laut. PT. Dirgantara

Indonesia adalah salah satu industri manufaktur terbesar di Indonesia, dimana

menurut Heizer dan Render (2005) manufaktur adalah industri membuat

dengan tangan (manual) atau dengan mesin sehingga menghasilkan sesuatu

barang.

Menurut data Jamsostek hingga akhir tahun 2012 telah terjadi 103.074

kasus kecelakaan kerja, dimana 91,21% korban kecelakaan kembali sembuh;

3,8% mengalami cacat fungsi; 2,61% mengalami cacat sebagian, dan sisanya

meninggal dunia (2.419 kasus) dan menalami cacat total tetap (37 kasus),

dengan rata-rata terjadi 282 kasus kecelakaan kerja setiap harinya (laporan

Tahunan Jamsostek, 2012) dalam Press Release Prof.dra. Fatma Lestari

(2014). Begitu juga menurut Cahyani (2009) data kecelakaan yang masih

sering terjadi menunjukkan dunia industri di Indonesia cukup

mengkhawatirkan, terlebih pada sektor manufaktur Indonesia. Setiap tahun

ribuan kecelakaan terjadi di tempat kerja yang menimbulkan korban jiwa,

kerusakan materi dan gangguan produksi. Berdasarkan hasil dari riset

mengenai kecelakaan kerja menurut Syartini (2010) menyatakan bahwa

bahan baku, peralatan, manusia, serta lingkungan kerja mengandung potensi

bahaya yang tinggi sehingga diperlukan suatu upaya pencegahan agar tidak

terjadi kecelakaan. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya kecelakaan

kerja menurut Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012 yaitu dibutuhkannya

upaya pemantauan dan pengukuran lingkungan kerja dengan Sistem

Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3).

2
Begitu juga dengan PT. Dirgantara Indonesia sebagai salah satu

industri manufaktur yang cukup besar di Indonesia membutuhkan aplikasi

Sistem Manajemen K3 dengan tepat, yang berguna untuk mereduksi pekerja

dari hazard / bahaya dan kecelakaan kerja. Walaupun kejadian kecelakaan

tidak dapat dihindari hingga zero accident, perusahaan dapat melakukan

tindakan pengendalian untuk meminimalisir angka kecelakaan di tempat

kerja, sehingga produk yang dihasilkan akan semakin meningkat sebagai

investasi perusahaan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Menurut OHSAS 18001 (2007) di dalam klausal 4.3.1 dalam

implementasi Sistem Manajemen K3 di perusahaan harus menerapkan

HIRARC yaitu meliputi identifikasi bahaya, penilaian dan pengendalian

risiko. Setelah mengenali dan melakukan penilaian terhadap bahaya yang ada

di perusahaan, langkah penting selanjutnya yaitu menentukan pengendalian

bahaya. Berdasarkan hirarki pengendalian keselamatan dan kesehatan

menurut OHSAS 18001 ada 5 spesifik tindakan pengendalian dengan

pendekatan eliminasi, substitusi, pengendalian teknis, pengendalian

administrasi, dan alat pelindung diri.

Pentingnya identifikasi dan pengendalian bahaya yang dilakukan

perusahaan sangat berpengaruh besar terhadap angka kecelakaan dan

kesehatan para pekerja. Berdasarkan hasil studi pendahuluan saat melakukan

magang bulan Februari 2014 di PT. Dirgantara Indonesia dengan metode

wawancara, observasi, telaah dokumen dan identifikasi bahaya di seluruh

Direktorat Produksi. Oleh karena itu, pemilihan lokasi penelitian di

departemen Direktorat Produksi dipilih berdasarkan pertimbangan dari angka

3
kecelakaan, nilai SIR, nilai FIR. Data tersebut didapat dengan melakukan

wawancara mendalam saat turun lapangan kepada informan utama (02).

Didapat dari hasil wawancara dengan informan utama (02) dan

analisa dokumen data kecelakaan 5 tahun terakhir, bahwa kecelakaan

tertinggi, nilai SIR, nilai FIR terdapat di Aerostructure Divisi Detail Part

Manufacurimg. Dalam pencatatan kecelakaan kerja belum berdasarkan per

divisi atau per departemen di Direktorat Produksi. Akan tetapi, dari hasil

pemaparan wawancara mendalam dengan informan utama (01, 02, 03)

kecelakaan kerja dan potensi bahaya tertinggi terdapat di Departemen

Machining Divisi Detail Part Manufacturing Direktorat Produksi.

Selanjutnya, hasil wawancara mendalam yang di dapat dari informan

pendukung yaitu Manajer (001) Departemen Machining memiliki beberapa

bidang dalam area kerjanya. Dari 7 bidang di Departemen Machining yang

saat ini masih mengalami perluasan area kerja, angka kecelakaan kerja

tertinggi dan yang memiliki tingkat risiko cukup tinggi adalah di bidang

Profilling Presmatic Machine. Pernyataan Informan pendukung (001) di

Departemen Machining juga didukung oleh Supervisor sebagai informan

pendukung (003, 004) karena memiliki banyak bahaya dibandingkan dengan

departemen lainnya. Salah satu karakteristik pekerjaan di Machining yaitu

pekerja dihadapkan langsung dengan bahan, mesin dan alat yang berbahaya.

Terdapat alat kerja yang sangat berbahaya, lantai kerja yang sangat licin,

pekerja masih banyak yang tidak menggunakan APD padahal terdapat tanda

wajib pakai APD, crane yang bergerak diatap hanggar ruang produksi,

kemudian bisingnya ruang produksi yang berasal dari suara mesin, debu

4
dengan bau yang menyengat dan dapat dirasakan di lingkungan kerja, jalur

evakuasi yang belum jelas, terpasangnya tanda bahaya yang masih belum

sesuai dengan standar berdasarkan penempatan, pemasangan, bentuk, bahan,

dan warna. Selain itu, ditemukan bahwa pelaksanaan identifikasi bahaya dan

pelaksanaan pengendalian belum dilaksanakan secara maksimal dan belum

dilakukan secara berkesinambungan.

Penerapan pengendalian teknis (engineering control) yaitu dengan

pendekatan eliminasi, substitusi, isolasi serta pengendalian jarak yang

diunkapkan oleh Ramli (2010), tidak mudah diterapkan di Direktorat

Produksi karena adanya beberapa kendala dan hambatan yang ada di

lapangan seperti mengganggunya proses produksi. Sehingga pengendalian

selanjutnya yang diterapkan oleh perusahaan yaitu dengan pengendalian

administrasi. Perusahaan melengkapinya dengan pelatihan untuk Supervisor

dan P2K3, pengaturan jadwal kerja, penerapan safety sign, serta lanjut dengan

pengendalian Alat Pelindung Diri (APD). Pengendalian dengan program

tersebut juga belum efektif dan maksimal, yang didapat dari hasil wawancara

mendalam kepada informan pendukung (002) mengenai pengendalian yang

dilakukan. Pekerja hanya mengenal APD sebagai pengendalian bahaya.

Safety sign sebagai pengendalian administrasi yang diterapkan di

Divisi Detail Part Manufacturing Direktorat Produksi, berdasarkan hasil

observasi, terlihat kurang tepat jika dibandingkan dengan bahaya, risiko dan

proses kerjanya. Hal tersebut dapat memberikan persepsi yang berbeda

terhadap potensi bahaya yang ada dan keberadaannya juga kurang lengkap,

sehingga tidak dapat memberikan warning terhadap pekerja ataupun tamu

5
perusahaan bahwa di lingkungan kerja terdapat bahaya. Untuk itu, perlu

dilakukan analisa kebutuhan safety sign berdasarkan hasil identifikasi bahaya

yang benar, sehingga hasil kebutuhan safety sign sesuai dengan bahaya yang

ada.

Menurut Badan safety sign Indonesia (2009), safety sign / rambu

keselamatan adalah peralatan yang bermanfaat untuk membantu melindungi

keselamatan dan kesehatan para pekerja dan pengunjung yang berada di

lingkungan produksi. Safety sign memang bukan pengendalian yang utama

dan tidak dapat mengeliminasi atau mengurangi bahaya dan tidak dapat

mencegah terjadinya kecelakaan. Akan tetapi menurut Ilmi (2012) safety sign

dapat memberikan perhatian yang menarik, memberikan sikap waspada akan

adanya bahaya yang tidak terlihat oleh mata atau peringatan waspada

terhadap tindakan yang tidak diperbolehkan, memberikan informasi umum

dan memberikan pengarahan kepada tamu perusahaan akan adanya bahaya

yang dapat tertuang dengan berbagai macam bentuk dan gambar yang dapat

dilihat dari jarak kejauhan maupun dekat, serta mengingatkan para karyawan

dimana harus menggunakan peralatan perlindungan diri, mengindikasikan

dimana peralatan darurat keselamatan berada, dan sebaginya.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan di Direktorat Produksi PT.

Dirgantara Indonesia, yang memiliki banyak risiko bahaya baik untuk pekerja

maupun pengunjung yang datang ke wilayah produksi dimana masih kurang

dilakukannya pengendalian terhadap bahaya tersebut berdasarkan hirarki

pengendalian. Maka pengendalian yang memungkinkan yang dapat terlihat

oleh mata dan dapat memberikan himbauan bagi pekerja atau tamu

6
perusahaan untuk saat ini menurut peneliti yaitu dalam bentuk administrasi

dengan penerapan safety sign adalah tepat. Hal tersebut untuk memberikan

warning kepada pekerja dan tamu perusahaan karena adanya potensi bahaya

dan risiko, sehingga keelakaan kerja dapat diminimalisir. Oleh karena itu,

peneliti ingin melihat keberadaan safety sign apakah sesuai dalam

penerapannya khusus di wilayah kerja Departemen Machining Direktorat

Produksi dengan judul “Identifikasi Kesesuaian Keberadaan Safety Sign

Di Bidang Profilling Prismatic Machine Departemen Machining

Direktorat Produksi Pt. Dirgantara Indonesia Tahun 2014” dengan

standar yang digunakan sebagai acuan penerapan safety sign yaitu dengan

ANSI Z535 dan British Standard Institute (BSI 5499) .

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu pengendalian risiko yang

dilakukan PT. Dirgantara Indonesia masih dengan pendekatan administrasi,

yaitu diantaranya dengan pelatihan kerja, rotasi kerja, pemberian safety sign.

Akan tetapi, berdasarkan hasil studi pendahuluan safety sign yang diterapkan di

Bidang Profilling Prismatic Machine masih belum tepat, karena belum sesuai

dengan potensi bahaya, risiko dan lokasi kerjanya.

1.3 Pertanyaan

Berdasarkan uraian masalah sebelumnya, maka dirumuskan dalam

suatu pertanyaan sebagai berikut :

7
1. Bagaimanakah proses produksi di Bidang Profilling Prismatic Machine

Departemen Machining Direktorat Produksi PT. Dirgantara Indonesia

Tahun 2014 ?

2. Apa sajakah bahaya yang ada di Bidang Profilling Prismatic Machine

Departemen Machining Direktorat Produksi PT. Dirgantara Indonesia

Tahun 2014 ?

3. Bagaimanakah keberadaan safety sign yang telah ada di Departemen

Bidang Profilling Prismatic Machine Departemen Machining Direktorat

Produksi PT. Dirgantara Indonesia Tahun 2014 ?

4. Safety sign apa saja yang dibutuhkan berdasarkan bahaya yang ada di

Bidang Profilling Prismatic Machine Departemen Machining PT.

Dirgantara Indonesia Tahun 2014 ?

5. Bagaimana kesesuaian safety sign yang sudah diterapkan di Bidang

Profilling Prismatic Machine Departemen Machining Direktorat Produksi

PT. Dirgantara Indonesia Tahun 2014 dengan standar safety sign ANSI

Z535 dan BSI 5499 ?

1.4 Tujuan

1.4.1 Tujuan Umum

Tujuan umum dari skripsi ini adalah untuk menganalisis

kesesuaian keberadaan safety sign berdasarkan hasil identifikasi

bahaya dalam meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja

maupun pengunjung di PT. Dirgantara Indonesia, tahun 2014.

8
1.4.2 Tujuan Khusus

1. Diperolehnya informasi proses produksi di Bidang Profilling

Prismatic Machine Direktorat Produksi PT. Dirgantara

Indonesia Tahun 2014.

2 Diketahuinya bahaya apa saja yang ada di Bidang Profilling

Prismatic Machine Direktorat Produksi PT. Dirgantara

Indonesia Tahun 2014.

3 Diketahuinya keberadaan safety sign yang telah ada di Bidang

Profilling Prismatic Machine Direktorat Produksi PT.

Dirgantara Indonesia Tahun 2014.

4 Diketahuinya kebutuhan penerapan safety sign berdasarkan

bahaya yang ada di Bidang Profilling Prismatic Machine PT.

Dirgantara Indonesia Tahun 2014.

5 Diketahuinya kesesuaian safety sign yang sudah diterapkan di

Bidang Profilling Prismatic Machine Direktorat Produksi PT.

Dirgantara Indonesia Tahun 2014 dengan standar safety sign

ANSI Z535 dan BSI 5499.

1.5 Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Mengetahui sistem pengendalian administrasi dalam bentuk tanda

keselamatan / safety sign, jalur evakuasi, tanda berbahaya, tanda

penggunaan APD, tanda keadaan di lingkungan kerja yang baik dan tepat

9
sehingga dapat membantu untuk meminimalisir terjadinya potensi

kecelakaan kerja di tempat kerja di PT. Dirgantara Indonesia.

2. Bagi PT. Dirgantara Indonesia (Persero)

a. Memperoleh tambahan informasi dan penjelasan secara lebih rinci

mengenai penerapan safety sign dengan karakterisitik lingkungan

kerja di Machining Direktorat Produksi.

b. Memberikan kontribusi dalam upaya penerapan safety sign bukan

hanya di Machining teteapi di Departemen lainnya di Direktorat

Produksi PT. Dirgantara Indonesia.

c. Dapat menentukan standarisasi penerapan safety sign. Bukan hanya

standar yang berasal dari nasional saja tetapi juga standar

internasional yang disesuaikan dengan karakteristik dan bahaya di

Direktorat Produksi maupun gedung lainnya yang ada di PT.

Dirgantara Indonesia.

1.6 Ruang Lingkup

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan sasaran manajemen

perusahaan Departemen K3LH, Supervisor, Team Leader dan beberapa pekerja

yang bekerja di Departemen Machining Direktorat Produksi pembuatan

komponen pesawat di PT. Dirgantara Indonesia Bandung, Jawa Barat yang

dilaksanakan pada bulan April – Juni 2014.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan

sekunder. Data primer dilakukan dengan cara melakukan identifikasi bahaya

untuk mengetahui potensi bahaya apa saja yang terdapat ruang produksi

10
Bidang Profilling Prismatic Machine, melakukan wawancara terbuka dan

mendalam kepada pihak manajemen K3LH, pengawas lapangan (Supervisor),

dan Manajer mengenai proses, bahaya, dan pengendalian terhadap bahaya,

serta penerapan safety sign. Selanjutnya melihat kebutuhan safety sign dari

hasil identifikasi bahaya dan melakukan observasi kesesuaian keberadaan

safety sign yang di bandingkan dengan standar ANSI Z535 dan BSI 5499 serta

pengambilan dokumentasi dalam bentuk foto atau gambar tentang keberadaan

safety sign sebagai tanda bukti yang ada di Bidang Profilling Prismatic

Machine Departemen Machining Direktorat Produksi PT. Dirgantara

Indonesia. Data sekunder dilakukan dengan telaah dokumen di bagian

Departemen K3LH. Dokumen yang digunakan yaitu prosedur penerapan

safety sign dengan No. Dok D4 S2 07.

11
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bahaya

Bahaya menurut OHSAS 18001 (2007) adalah sumber, situasi atau

tindakan yang menyebabkan kerugian bagi manusia, baik yang bisa

menyebabkan luka-luka, gangguan kesehatan ataupun kombinasi dari

keduanya (OHSAS, 2007).

Potensi bahaya yang ada dilingkungan kerja, diantaranya (Tarwaka,

2008) :

a. Potensi bahaya dari bahan – bahan yang berbahaya

b. Potensi bahaya udara bertekanan

c. Potensi bahaya udara panas

d. Potensi bahaya kelistrikan

e. Potensi bahaya mekanik

f. Potensi bahaya gravitasi

g. Potensi bahaya radiasi

h. Potensi bahaya mikrobiologi

i. Potensi bahaya kebisingan dan getaran

j. Potensi bahaya ergonomi

k. Potensi bahaya lingkungan kerja

l. Potensi bahaya yang berhubungan dengan kualitas dan jasa, proses

produksi, properti, image publik.

12
2.2 Keselamatan Kerja

Keselamatan kerja menurut Suma’mur (1981) adalah pengetahuan

tentang upaya untuk pencegahan kecelakaan kerja yang berhubungan dengan

penggunaan mesin, pesawat, alat, bahan, dan proses pengolahannya,

lingkungan tempat kerja serta melakukan pekerjaan. Tujuan dari keselamatan

itu sendiri adalah sebagai berikut (Suma'mur, 1981) :

a. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan

pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta

produktivitas nasional.

b. Menjamin keselamatn setiap orang lain yang berada di tempat kerja.

c. Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien.

Adapun syarat-syarat keselamatan kerja yang di atur dalam Undang-Undang

keselamatan dan kesehatan kerja yang dibuat untuk (UUK3, 1970) :

a. Mencegah dan mengurangi kecelakaan

b. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran

c. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan

d. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu

kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya

e. Memberi pertolongan pada kecelakaan

f. Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja

13
g. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu,

kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca,

sinar atau radiasi, suara dan getaran

h. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik

fisik maupun psikis, peracunan, infeksi dan penularan

i. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai

j. Menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik

k. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup

l. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban

m. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan,

cara dan proses kerjanya

n. Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang,

tanaman atau barang

o. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan

p. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar-muat, perlakuan

dan penyimpanan barang

q. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya

r. Menyeseuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan

yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.

Dalam implementasi bidang keselamatan dan kesehatan kerja di

lingkungan kerja dibutuhkannya sistem manajemen keselamatan dan

kesehatan kerja yang melindungi pekerja dari berbagai macam bahaya,

kecelakaan dan penyakit akibat kerja dengan melaksanakan upaya K3 secara

14
efisien dan efektif. Menurut OHSAS 18001, sistem manajemen merupakan

suatu set elemen-elemen yang terkait untuk menetapkan kebijakan dan

sasaran untuk mencapai objektif tersebut. Menurut OHSAS 18001,

manajemen risiko terbagi atas 3 bagian yaitu Hazard Identification, Risk

Assessment, dan Risk Control, biasa dikenal denganHIRARC. HIRARC

terdapat pada awal elemen perencanaan sistem manajemen K3 yang dijadikan

sebagai pangkal dari pengelolaan K3 (Ramli,2010).

Menurut OHSAS 18001 (2007), HIRARC harus dilakukan di seluruh

aktivitas organisasi untuk menentukan kegiatan organisasi yang mengandung

potensi bahaya dan menimbulkan dampak serius terhadap keselamatan dan

kesehatan kerja.

2.2.1 Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja merupakan suatu kejadian yang tidak

diinginkan yang dapat berakibat cedera, gangguan kesehatan hingga

kematian pada manusia, kerusakan properti, gangguan terhadap

pekerjaan (kelancaran proses produksi) atau pencemaran (Suardi,

2005). Beberapa ahli juga mendefinisikan kecelakaan kerja, yaitu

diantaranya:

 Suma’mur (1981) kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan

berhubung dengan hubungan kerja pada perusahaan. Hubungan

disini yaitu berarti bahwa kecelakaan terjadi dikarenakan oleh

pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan.

15
 Tarwaka (2008) Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang

jelas tidak dikehendaki dan sering kali tidak terduga semula yang

dapat menimbulkan kerugian baik waktu, harta benda atau

properti maupun korban jiwa yang terjadi didalam suatu proses

kerja industri atau yang berkaitan denganya

 Sedangkan menurut UU No.03 Tahun 1992 Kecelakaan kerja

adalah kecelakaan yang terjadi berhubungan dengan hubungan

kerja, termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja,

demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan

berangkat dari rumah menuju tempat kerja, dan pulang ke rumah

melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui.

Sehingga pendapat dari beberapa ahli dapat disimpulkan

bahwa kecelakaan kerja merupakan suatu hal yang tidak

diinginkan karena dapat mengakibatkan kerugian berupa cidera,

kerugian atau kerusakan property, kerugian materi, gangguan

kesehatan, bahkan menyebabkan kematian. Semuanya dapat

diartikan menimbulkan kerugian baik kerugian manusia (harm to

people), kerusakan material (damage to property), terhentinya

proses kerja (loss to process).

2.2.2 Incident

Incident yaitu suatu kejadian yang tidak diinginkan,

bilamana pada saat itu sedikit saja ada perubahan maka dapat

16
mengakibatkan terjadinya accident (Widodo Siswowardojo,

2003). Critical incident adalah setiap luka atau kecelakaan kerja

yang menyebabkan :

a. Masuk rumah sakit

b. Kematian karyawan

c. Kematian pihak ketiga dalam lingkungan perusahaan dan atau

karyawan yang terlibat ketika menjalankan tugas pekerjaan.

d. Permulaan penuntutan

e. Persoalan perbaikan atau pengumuman larangan.

Near miss adalah insiden dimana belum sempat terjadi

kecelakaan atau penyakit. Sehingga menurut OHSAS 18001:2007,

incident dapat berupa kecelakaan atau near miss (OHSAS, 2007).

2.3 Manajemen Risiko

Menurut Webb (1994) manajemen risiko adalah suatu kegiatan yang

dilakukan untuk menanggapi risiko yang telah diketahui melalui rencana

analisa risiko atau bentuk observasi lain untuk meminimalisasi konsekuensi

buruk yang mungkin muncul. Sedangkan menurut Kerzner Harold (2001)

mengemukakan pengertian manajemen risiko sebagai semua rangkaian

kegiatan yang berhubungan dengan resiko, dimana didalamnya termasuk

perencanaan (planning), penilaian (assesment) (identifikasi dan dianalisa),

penanganan (handling), dan pemantauan (monitoring) risiko.

17
Sebagaimana penjelasan menurut beberapa ahli diatas bahwa

manajemen risiko adalah sebagai bentuk atau upaya untuk mengelola

terhadap risiko untuk meminimalisasikan konsekuensi bruuk yang mungkin

terjadi, dapat dilakukan dengan cara perencanaan, identifikasi, penanganan /

pengendalian, dan pemantauan risiko.

Didalam manajemen keselamatan dan kesehatan kerja juga mengatur

manajemen risiko dengan tujuan untuk mengurangi konsekuensi buruk yang

mungkin akan muncul dalam kegiatan industri. Menurut OHSAS 18001

dalam Ramli (2010). Manajemen K3 adalah upaya terpadu untuk mengelola

risiko yang ada dalam aktivitas perusahaan yang dapat mengakibatkan cidera

pada manusia, kerusakan atau gangguan terhadap bisnis perusahaan. Karena

itu salah satu klausal dalam siklus manajemen K3 adalah mengenai

manajemen risiko. Manajemen risiko dalam K3 yaitu HIRARC (Hazard

Identification, Risk Assessment, dan Risk Control).

Menurut standar AS/NZS 4360 dalam Ramli (2010) tentang standar

Manajemen Risiko, proses manajemen risiko mencakup lankah sebagai

berikut :

1. Menentukan konteks

2. Identifikasi risiko

3. Penilaian risiko

 Analisa risiko

 Evaluasi risiko

18
4. Pengendalian risiko

5. Komunikasi dan konsultasi

6. Pemantauan dan tinjau ulang

2.3.1 Identifikasi Bahaya

Menurut Ramli (2010), identifikasi bahaya adalah upaya

sistematis untuk mengetahui potensi bahaya yang ada di lingkungan

kerja. Dengan mengetahui sifat dan karakteristik bahaya, kita dengan

lebih berhati-hati, waspada dan melakukan langkah-langkah

pengamanan agar tidak terjadi kecelakaan.

Namun demikian tidak semua bahaya dapat dikenali dengan

mudah.Bahkan untuk mencapai zero accident di lingkungan kerja

adalah hal yang paling sulit, karena kemungkinan bahaya dan risiko

pasti akan terus ada jika lingkungan kerja belum dikenali bahayanya

serta tindakan yang dilakukan untuk mengatasi bahaya tersebut dalam

menekan tingkat risiko accident masih minim dilakukan. Hal ini

dipengaruhi oleh pengetahuan dan kreativitas pekerja safety dalam

mengkaji pekerjaannya untuk menurunkan risiko kecelakaan, baik

dalam engineering control maupun administrative control.

Identifikasi bahaya merupakan langkah awal dalam

mengembangkan manajemen risiko K3. Identifikasi bahaya merupakan

upaya sistematis untuk mengetahuin adanya bahaya dalam aktivitas

19
organisasi. Identifikasi bahaya merupakan landasan dari manajemen

risiko. tanpa melakukan identifikasi bahaya tidak mumgkin melakukan

pengelolaan risiko dengan baik (Ramli, 2010c). Identifikasi bahaya

mungkin didapat dari penggunaan berbagai macam alat, stategi, dan

sumber informasi, sumber informasi itu diantaranya (Taylor, 2004) :

 Material safety data sheet (MSDS)

 National, kecelakaan kerja berdasarkan daerah

 Pengetahuan tentang bahaya kima dan penilaian dokumen

dibawah protokol OECD

 Standar atau kriteria keselamatan dan kesehatan kerja

Menurut Ramli (2010b. P.84) prosedur identifikasi bahaya

dan penilaian risiko harus mempertimbangkan :

a. Aktivitas rutin dan non rutin

b. Aktivitas dari semua individu yang memiliki akses ke tempat

kerja termasuk kontraktor

c. Perilaku manusia, kemampuan dan faktor manusia lainnya

d. Identifikasi semua bahaya yang berasal dari luar tempat kerja

yang dapat menimbulkan efek terhadap kesehatan dan

keselamatan manusia yang berada dibawah perlindungan

organisasi di dalam tempat kerja

20
e. Bahaya yang ditimbulkan di sekitar tempat kerja dari aktivitas

yang berkaitan dengan pekerjaan yang berada dibawah kendali

organisasi

f. Infrastruktur, peralatan dan material di tempat kerja, apakah yang

disediakan organisasi atau pihak lain

g. Perubahan atau rencana perubahan dalam organisasi, kegiatannya

atau material

h. Modifikasi pada sistem manajemen K3, termasuk perubahan

sementara dan dampaknya terhadap operasi, proses dan aktivitas

Dalam teknik identifikasi bahaya ada berbagai macam yang

dapat diklasifikasikan atas (Ramli, 2010) :

1. Teknik / metode pasif

2. Teknik / metode semiproaktif

3. Teknik / metode proaktif

Menurut Peraturan Kepala BATAN untuk mengenali

identifikasi bahaya pada tahapan kegiatan dan bahaya yang

ditimbulkan, diperlukan beberapa informasi kunci seperti tabel

berikut (BATAN, 2012) :

21
Tabel 2.1 Informasi Identifikasi Bahaya

Parameter yang perlu


Cara mendapatkan informasi
diketahui

 Tempat pekerjaan  Denah lokasi pekerjaan/lay out

dilakukan

 Personil yang  Data pekerja, observasi

melakukan

pekerjaan

 Peralatan dan bahan  Daftar alat dan bahan yang

yang digunakan digunakan, MSDS, dan lain-lain

 Tahanapan/urutan  Diagram alir/prosedur/instruksi

pekerjaan kerja

 Tindakan kendali  Laporan kecelakaann dan/atau

yang telah ada PAK

 Peraturan terkait  Peraturan perundang-undangan,

yang mengatur standar, dan pedoman

 Wawancara, inspeksi, audit dan

lain-lain

Sumber : Peraturan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional Nomor :


020/Ka/I/2012

Untuk membantu pelaksanaan manajemen risiko khususunya untuk

melakukan identifikasi bahaya, penilaian dan pengendaliannya

22
diperlukan metode atau perangkat. Berikut adalah identifikasi yang lebih

rinci untuk potensi bahaya dan risiko yang dilakukan berdasarkan

macam, penyebab, atau akibat yaitu diantaranya :

2.3.1.1 Preliminary Hazard Analysis (PHA)

Preliminary Hazard Analysis (PHA) menurut Budiono

(2003) yaitu metode identifikasi yang dilaksanakan sebagai analisis

awal.

2.3.1.2 Hazard and Operability Analysis (HAZOP)

Hazard and Operability Analysis (HAZOP) yaitu suatu

metode identifikasi bahaya yang digunakan untuk industri proses

seperti industri kimia, petrokimia, dan kilang minyak (Budiono,

2003). Dalam teknik HAZOP ini analisis lebih detail pada disain

dan operasi. Dengan kata lain metode ini digunakan sebagai upaya

pencegahan sehingga proses yang berlangsung dalam suatu sistem

dapat berjalan lancar dan aman (Juliana, 2008).

Tujuan penggunaan HAZOP sendiri adalah untuk meninjau

suatu proses atau operasi pada suatu sistem secara sistematis untuk

menentukan apakah proses penyimpangan dapat mendorong kearah

kejadian atau kecelakaan yang tidak diinginkan. HAZOP secara

sistematis mengidentifikasi setiap kemungkinan penyimpangan

(deviation) dari kondisi operasi yang telah ditetapkan dari suatu

plant, mencari berbagai faktor penyebab yang memungkinkan

23
timbulnya kondisi abnormal tersebut, dan menentukan konsekuensi

yang merugikan sebagai akibat terjadinya penyimpangan serta

memberikan rekomendasi atau tindakan yang dapat dilakukan

untuk mengurangi dampak dari potensi risiko yang telah berhasil

diidentifikasi (Munawir, 2010).

Langkah-langkah untuk melakukan identifikasi bahaya

dengan menggunakan HAZOP worksheet dan Risk Assessment

adalah sebagai berikut (Nugroho,dkk. 2013) :

1. Mengetahui urutan proses yang ada pada area penelitian.

2. Mengidentifikasi bahaya yang ditemukan pada area penelitian.

3. Melengkapi kriteria yang ada pada HAZOP worksheet dengan

urutan sebagai berikut:

a. Mengklasifikasikan bahaya yang ditemukan (sumber

bahaya dan frekuensi temuan bahaya)

b. Mendeskripsikan penyimpangan yang terjadi selama

proses operasi

c. Mendeskripsikan penyebab terjadinya penyimpangan

d. Mendeskripsikan apa yang dapat ditimbulkan dari

penyimpangan tersebut (consequences).

e. Menentukan tindakan sementara yang dapat dilakukan.

f. Menilai risiko (risk assessment) yang timbul dengan

mendefinisikan kriteria likelihood dan consequences

24
(severity). Kriteria likelihood yang digunakan adalah

frekuensi dimana dalam perhitunganya secara kuantitatif

berdasarkan data atau record perusahaan selama kurun

waktu tertentu. Kriteria consequences (severity) yang

digunakan

Tabel 2.2 Contoh Worksheet Hazard and

Operability Analysis (HAZOP)

Node : 1. Tangki Air

Type : Tangki

Design Condition : Level

Deviasi : More Level


Risk
Causes Consequences Matrix Safeguards Recommendations
S L RR
1. Pelampun 1.Level ditangki 1 2 2 Tidak ada 1. periksa
g rusak naik pelampung
2. Air tumpah berkala
3. Rumah banjir
2. Auto 1. Pompa tidak bisa 2 3 6 Tidak ada Periksa secara
switch berhenti berkala
tidak 2. Pompa panas
berfungsi 3. Air tumpah
3. Pipa 1. Air tidak keluar 2 2 4 Level 1. Periksa pipa
penyalur dari tangki alarm 2. Flushing
dari tangki 2. Level tangki naik berkala
buntu 3. Tangki luber
Sumber : Ramli (2010)

25
2.3.1.3 Failure Modes and Effect Analysis (FMEA)

Failure Modes and Effect Analysis (FMEA) menurut Ramli

(2010) yaitu metode yang ditunjukkan untuk menilai potensi

kegagalan dalam produk atau proses. FMEA merupaka kajian

bahaya yang sistematis, terstruktur, dan komprehensif. FMEA

adalah suatu tabulus dari sistem, peralatan pabrik, dan pola

kegagalannya serta efeknya terhadap operasi, dapat dikatakan

suatu uraian mengenai bagaimana suatu peralatan dapat

mengalami kegagalan.

Tabel 2.3 Contoh Worksheet Failure Modes and Effect

Analysis FMEA

Subsistem: 1. Tangki bahan bakar

Type:

FAILURE RISK MATRIX RECOMMEND STA


EFFECTS CONTROLS
MODES LL S RR ATIONS TUS
Tangki bocor Efek minyak 4 2 T Standar Tank diperiksa
kosong, ketebalan berkala
mesin mati lapisan
Minyak Mesin mati 4 2 T Saringan Periksa kualitas
bercampur air BBM
Ketinggian 3 3 M Indicator Periksa berkala
Pelampung
BBM tidak instrumen
rusak
terdeteksi
Pipa penyalur Aliran BBM 4 3 M Ketebalan Pemasangan pipa
bocor berkurang Pipa pada posisi yang
Pembakaran Penyalur aman terhadap
tidak benturan
sempurna
Kebakaran
jika kontak
dengan panas
BBM boros

Sumber : Ramli (2010)

26
2.3.1.4 Job Safety Analysis (JSA)

Job Safety Analysis (JSA) menurut Soeripto (1997) adalah

suatu cara yang digunakan untuk memerikasa metode kerja dan

menentukan bahaya yang sebelumnya telah diabaikan dalam

merencanakan pabrik atau gedung dan didalam rancang bangun

mesin-mesin, alat-alat kerja, material, lingkungan tempat kerja,

dan proses.

Pekerjaan yang memerlukan kajian JSA, antara lain :

1. Pekerjaan yang sering mengalami kecelakaan atau memiliki

angka kecelakaan tinggi

2. Pekerjaan berisiiko tinggi dan dapat berakibat fatal misalnya

membersihkan kaca dengan gondola

3. Pekerjaan yang jarang dilakukan sehingga belum diketahui

secara persis bahaya yang ada

4. Pekerjaan yang rumit atau kompleks dimana sedikit kelalaian

dapat berakibat kecelakaan atau cedera.

Langkah dalam melakukan JSA , yaitu (Ramli, 2010a) :

1. Pilih pekerjaan yang akan dianalisa

2. Pecah pekerjaan menjadi langkah aktivitas

3. Identifikasi potensi bahaya pada setiap langkah

4. Tentukan langkah pengamanan untuk megendalikan bahaya

5. Komunikasikan kepada semua pihak yang berkepentingan

27
Tabel 2.4 Contoh Job Safety Analysis Worksheet

Pekerjaan : Mengganti Ban Serap


Langkah 1 : Memasang dongkrak
Konsekuen Risk Matrix Pengendalian saran Tanggu
Potensi
si S L R yang ada ng
Cedera
R jawab
1. Tangan 1. Luka 2 3 6 1. Tidak ada 1. Jaga
terjepit sayat posisi
2. Dongkra 1. Cedera 2 2 4 1. Pasang 1. Posisi
k lepas 2. Mobil pengaman dongkra
anjlok k
diperiks
a
3. Dst. 2 2 4
Sumber : Ramli (2010)

2.3.1.5 Task Risk Assessment (TRA)

Task Risk Assessment (TRA) menurut Ramli (2010) yaitu

metode identifikasi bahaya yang dilakukan untuk mengetahui apa

saja dan besarnya potensi bahaya yang timbul selama kegiatan

berlangsung.

Pekerjaan yang memerlukan TRA yaitu :

1. Mengandung potensi bahaya yang tinggi seperti bekerja di

ketinggian, pembersihan tangki, pengelasan dan lainnya

2. Pekerjaan yang sebelumnya pernah mengalami kecelakaan

3. Pekerjaan yang bersifat baru atau jarang / belum pernah

dilakukan sebelumnya

28
Teknik melakukan TRA, yaitu :

1. Tentukan jenis pekerjaan yang akan dianalisa

2. Identifikasi apa saja aktivitas, material, peralatan, atau prosedur

kerja yang digunakan

3. Analisa semua potensi bahaya yang dapat terjadi untuk setiap

aktivitas dan konsekuensinya

4. Tentukan tingkat risiko untuk masing-masing aktivitas

5. Tentukan apa langkah pengamanan yang dperlukan

6. Tentukan sisa risiko dapat (residual risk) yang ada setelah

dilakukan langkah pengamanan

7. Jika risiko dapat diterima (tolerable) pekerjaan dapat

dilangsungkan, tetapi jika risiko di atas batas yang dapat

diterima perlu dipertimbangkan langkah pengamanannya

lainnya, seperti perubahan metoda kerja, peralatan, atau

prosedur. Jika tidak memungkinkan pekerjaan dibatalkan.

29
Tabel 2.5 Contoh Analisis Risiko dengan Task Risk
Assessment (TRA)

No : ANALISA RISIKO PEKERJAAN Hal :

Pekerjaan Assessed by ; ……………………

Peringkat Risiko Saran Sisa Risiko


Activitas Pengama
Potensi Konsekuensi
No. Fasilitas n yang
Bahaya Bahaya L R Risi L R
Alat ada S S Risiko
L R ko L R

1. Pompa Sembur  kebakaran Katup


an jika kontak buang
minyak dengan
panas
 pencemara
n
 cedera
manusia

Sumber : Ramli (2010)

2.3.1.6 Checklist (Daftar Periksa)

Metode daftar periksa untuk mengidentifikasi bahaya sangat

mudah dan sederhana yaitu dengan membuat daftar pmeriksaan

bahaya di tempat kerja (Ramli, 2010).

Hal yang perlu di perhatikan dalam metode ini, yiatu :

1. Metode bersifat spesifik untuk peralatan atau tempat kerja

tertentu. Daftar periksa untuk gudang berbeda dengan daftar

periksa untuk bengkel atau unit proses,

2. Daftar periksa harus dikembangkan oleh orang yang

memahami atau mengenal tempat kerja atau peralatan. Dengan

demikian daftar periksa dapat menjangkau setiap kemungkinan

bahaya yang ada,

30
3. Daftar periksa harus dievaluasi secara berkala, terutama jika

ditemukan ada bahaya baru, atau penambahan dan perubahan

sarana produksi, sistem atau proses, dan

4. Pemeriksaan bahaya dilakukan oleh mereka yang mengenal

dengan baik kondisi lingkungan kerjanya. Semakin dalam

pemahamannya, semakin rinci identifikasi bahaya yang apat

dilakukan. Karena itu, pengembangan daftar periksa perlu

melibatkan para pekerja setempat.

Tabel 2.6 Contoh Checklist

NO. PERTANYAAN YA TIDAK

Apakah kondisi lantai dalam keadaan bersih dan tidak


1.
licin?

2. Apakah penerangan cukup dan kondisi baik

3. Apakah jalan-jalan aman dan tidak terhalang

4. Apakah ventilasi mencukupi dan terpelihara

Apakah semua peralatan listrik dalam kondisi baik dan


5.
aman?

6. Apakah alat pemadam tersedia dan kondisi baik ?

31
Apakah semua alat kantor dalam kondisi baik dan
7.
aman ?

2.3.1.7 Brainstorming

Brainstorming menurut Ramli (2010) yaitu melakukan

identifikasi bahaya dengan berdiskusi dalam suatu kelompok atau

tim ditempat kerja, tim dapat berasal dari suau bidang atau

departemen tetapi dapat juga bersifat lintas fungsi. Dalam kelompok

ini, setiap pekerja dapat mengungkapkan seluruh pendapatnya

mengenai bahaya yang ada dilingkungan kerja.

Berdasarkan prosedur identifikasi bahaya yang dilaksanakan PT.

Dirgantara Indonesia tidak baku dalam industri penerbangan. Maka dari

itu, peneliti menggunakan metode Task Risk Assessment (TRA) dalam

pelaksanaan identifikasi bahaya guna mengetahui kebutuhan pengendalian

administrasi tepatnya dalam penerapan safety sign.

Penggunaan dengan metode TRA dalam mengidentifikasi bahaya

dalam penelitian ini tepat sekali digunakan oleh peneliti. Dalam

mengidentifikasi yang membutuhkan teknik TRA yaitu jika pekerjaan

mengandung potensi bahaya yang tinggi seperti bekerja di ketinggian,

pembersihan tangki, pengelasan dan lainnya, pekerjaan yang sebelumnya

32
pernah mengalami kecelakaan, pekerjaan yang bersifat baru atau jarang /

belum pernah dilakukan sebelumnya. Hal tersebut sesuai dengan

karakterisitik keadaan dan pekerjaan yang terdapat di Bidang Profiling

Prismatic Machine yaitu memiliki mesin yang besar dan tinggi,

identifikasi bahaya jarang dilakukan, pernah terjadi kecelakan sebelumnya,

serta pekerjaan di bidang tersebut memiliki risiko yang tinggi.

Mengidentifikasi bahaya dengan metode TRA juga dapat dilakukan

berdasarkan jenis mesin. Oleh karena itu dalam proses mengidentifikasi

bahaya yang dilakukan oleh peneliti sendiri, peneliti menggunakan teknik

TRA.

2.3.2 Penilaian Risiko

Penilaian risiko adalah upaya untuk menghitung besarnya suatu

risiko dan mentapkan apakah risiko tersebut dapat diterima atau ditolak.

Mencakup dua tahapan proses yaitu menganalisa risiko (analysis risk)

dan mengevaluasi risiko (evaluation risk). Analisa risiko adalah untuk

menentukan besarnya suatu risiko yang merupakan kombinasi antara

kemungkinan dengan terjadinya dan keparahan jika risiko itu terjadi.

Sedangkan evaluasi risiko adalah untuk menilai apakah risiko tersebut

dapat diterima atau tidak, dengan membandingkan dengan standar yang

berlaku (Ramli, 2010). Metode dalam analisa risiko, yaitu :

33
2.3.2.1 Analisis kualitatif

Dalam penilaian risiko dengan analisa kualitatif

menggunakan bentuk kata atau skala deskriptif untuk menjelaskan

seberapa besar kondisi potensial dari kemungkinan yang akan di

ukur. Pada umumnya analisis kualitatif digunakan untuk

menentukan prioritas tingkat risiko yang lebih dahulu harus

diselesaikan (AS / NZS 4360 : 2004).

Menurut standar AS/NZS 4360, kemungkinan / likelyhood

diberi rentang antara suatu risiko yang jarang terjadi sampai risiko

yang dapat terjadi setiap saat.

Tabel 2.7
Ukuran Kualitatif dari “likelyhood” Menurut standar AS/NZS 4360

Peringkat Definisi Uraian

A Almost Certain Dapat terjadi setiap saat

B Likely Kemungkinan terjadi sering

C Possible Dapat terjadi sekali-kali

D Unlikely Kemungkinan terjadi jarang

Sumber : Australian/New Zealand Standard (2004)

34
Tabel 2.8
Ukuran Kualitatif dari “consequency” MENURUT STANDAR

AS/NZS 4360

Peringkat Definisi Uraian

Tidak terjadi cedera, kerugian


1 Insignifant
finansial kecil

Cidera ringan, kerugian finansial


2 Minor
sedang

Cidera sedang, perlu penanganan


3 Moderate
medis, kerugian finansial besar

Cidera berat lebih satu orang,

4 Major kerugian besar, gangguan

produksi

Fatal lebih satu orang, kerugian

sangat besar dan dampak luas


5 Catastrophic
yang berdampak panjang,

terhentinya seluruh kegiatan

Sumber : Australian/New Zealand Standard (2004)

35
Tabel 2.9
Perkiraan Probabilitas

Peringkat Uraian Uraian

> 0.1 kejadian (1 dalam 10


A Sering terjadi
kemungkinan)

B Sangat mungkin terjadi 0,1 – 0,01

Dapat terjadi atau

C pernah terdengar 0,01 – 0,001

kejadian serupa

Jarang terjadi atau tidak

D pernah terdengar 0,001 – 0,000001

kejadian serupa

Kemungkinan sangat
E < 0,000001
kecil

Sumber : Australian/New Zealand Standard (2004)

2.3.2.2 Analisis kuantitatif

Dalam penilaian risiko dengan analisa kuantitatif

menggunakan hasil perhitungan numerik untuk tiap konsekuensi dan

tingkat probabilitas dengan menggunakan data variasi, seperti

catatan kejadian, literatur, dan eksperimen. Dengan adanya sumber

data tersebut, hasil analisis kuantitatif memiliki keakuratan lebih

tinggi dibandingkan dengan analisis risiko yang lain (Kolluru, 1996).

36
Tabel 2.10 Analisis Kuantitatif

0,0000001 atau 1 dalam 10 juta


Sambaran petir
kejadian

Kebakaran / ledakan dirumah 0,000001 atau 1 dalam 1 juta

Mati dalam “industri yang aman” 0,00001 atau 1 dalam 100.000

Mati dalam kecelakaan lalu lintas 0,0001 atau 1 dalam 10.000

Mati di pertambangan 0,001 atau 1 dalam 1000

Terbang dengan pesawat komersil 0,00001 atau 1 dalam 100.000

Merokok 0,05 atau 1 dalam 200


Sumber : Center for Chemical process Safety (CCPS) (2000)

Contoh teknik kuantitatif antara lain :

 Fault Tree Analysis (FTA)

 Analisis Lapis Proteksi (Layer of Protection Analysis – LOPA)

 Analisa Risiko Kuantitatif (Quantitative Risk Analysis – QRA)

2.3.2.3 Analisis Semi Kuantitatif

Dalam penilaian risiko dengan analisa semi kuantitaif yaitu

pada prinsipnya hampir sama dengan metode analisis kualitatif,

perbedannya terletak pada deskripsi parameter, pada analisis semi

kuantitatif dinyatakan dengan nilai atau skor tertentu. Menurut AS /

NZS 4360 : 1999, analisis semi kuantitatif mempertimbangkan

37
kemungkinan untuk menggabungkan 2 elemen, yaitu probabilitas

(likelihood) dan paparan (exposure) sebagai frekuensi.

Tabel 2. 11

Analisis Semi Kuantitatif

Konsekuensi
Kemungkinan
Tidak
Kecil Sedang Berat Bencana
signifikan
A T T E E E
B S T T E E
C R S T E E
D R R S T E
E R R S T T

E-Risiko Ekstrim Kegiatan tidak boleh dilaksanakan atau dilanjutkan sampai risiko
telah direduksi.

Jika tidak memungkinkan untuk mereduksi risiko dengan


sumberdaya yang terbatas, maka pekerjaan tidak dapat
dilaksanakan.
T-Risiko Tinggi Kegiatan tidak boleh dilaksanakan sampai risiko telah direduksi.

Perlu dipertimbangkan sumberdaya yang akan dialokasikan


untuk mereduksi risiko.

Apabila risiko terdapat dalam pelaksanaan pekerjaan yang masih


berlangsung, maka tindakan harus segera dilakukan.
S-Risiko sedang Perlu tindakan untuk mengurangi risiko, tetapi biaya
pencegahan yang diperlukan harus diperhitungkan dengan teliti
dan dibatasi.

Pengukuran pengurangan risiko harus diterapkan dalam jangka


waktu yang ditentukan.
R-Risiko rendah Risiko dapat diterima. Pengendalian tambahan tidak diperlukan.

Pemantauan diperlukan untuk memastikan bahwa pengendalian


telah dipelihara dan diterapkan dengan baik dan benar.
Sumber : Ramli (2010b)

38
2.3.3 Pengendalian Risiko

Risiko atau bahaya yang sudah diidentifikasi dan dilakukan

penilaian memerlukan langkah pengendalian untuk menurunkan

tingkat risiko atau bahaya ke titik yang aman. Untuk melakukan

pengendalian atau perubahan pengendalian risiko yang sudah ada

perlu melakukan tindakan yaitu hirarki pengendalian risiko. menurut

klausal 4.3.1 hirarki pengendalian risiko yaitu eliminasi, substitusi,

pengendalian teknis, pengendalian administratif/rambu keselamatan,

dan alat pelindung diri.

Seringkali, proses-proses pengendalian risiko pada hirarki

HIRARC, berujung pada rekomendasi pemasangan tanda-tanda

peringatan bahaya, tanda-tanda anjuran, ataupun tanda-tanda larangan

yang kita kenal dengan safety sign (Safety Sign Indonesia, 2013).

Berkaitan dengan risiko K3, pengendalian risiko dilakukan

dengan mengurangi kemungkinan atau keparahan dengan hirarki yaitu

: (Ramli, 2010a)

1. Eliminasi

Elimininasi adalah teknik pengendalian dengan

menghilangkan sumber bahaya, misalnya lobang dijalan ditutup,

ceceran minyak dilantai dibersihkan, mesin yang bising

dimatikan. Cara ini sangat efektif karena sumber bahaya

dieliminasi sehingga potensi risiko dapat dihilangkan. Karena itu,

39
teknik ini menjadi pilihan utama dalam hirarki pengendalian

risiko.

2. Substitusi

Substitusi adalah teknik pengendalian dengan mengganti

alat, bahan, sistem atau prosedur yang berbahaya dengan yang

lebih aman atau yang lebih rendah bahayanya. Teknik ini banyak

digunakam, misalnya, bahan kimia berbahaya dalam proses

produksi diganti dengan bahan kimia lain yang lebih aman.

3. Engineering Control / pengendalian teknis

Sumber bahaya biasanya berasal dari peralatan atau sarana

teknis yang ada dilingkungan kerja. Karena itu, pengendalian

bahaya dapat dilakukan melalui perbaikan pada desain,

penambahan peralatan dan pemasangan peralatan pengaman.

Sebagai contoh, mesin yang bising dapat diperbaiki secara teknis

misalnya dengan memasang dengan peredam suara sehingga

tingkat kebisingan dapat ditekan.

Pencemaran diruang kerja dapat diatasi dengan memasang

sistem ventilasi yang baik. Bahaya pada mesin dapat dikurangi

dengan memasang pagar pengaman atau sistem interlock.

4. Administrative Control / pengendalian administratif

Pengendalian bahaya juga dapat dilakukan secara

administratif misalnya dengan mengatur jadwal kerja, istirahat,

cara kerja atau prosedur kerja yang lebih aman, rotasi atau

40
pemeriksaan kesehatan, pemasangan tanda bahaya atau rambu-

rambu keselamatan.

Pada administrative control atau pengendalian administratif

dilakukan shift kerja, rotasi kerja dan mutasi personel, prosedur kerja

keselamatan, pemasangan simbol/tanda-tanda bahaya termasuk

radiasi, lembar data keselamatan bahan (Material Safety Data

Sheet:MSDS) didaerah kerja (BATAN, 2012). Contoh pengendalian

risiko pada administratif control menurut BATAN (2012) terbagi

menjadi 7 yaitu jadwal pemeliharaan, on the job training, standard

operating procedure (SOP), rambu/amaran atau peringatan, program

kepedulian, jawal pemantauan, kesiapsiagaan dan tanggap darurat.

Pemasangan tanda keselamatan pada lingkungan kerja

adalah suatu upaya dalam implementasi pengendalian risiko yang

dapat mengantarkan paradigma pekerja untuk bekerja aman serta

menekan tingkat risiko. Lingkungan yang dikelilingi radiasi

khususnya wajib memasang tanda keselamatan agar pekerja maupun

pengunjung di wilayah pekerja mengetahui akan bahaya radiasi di

tempat tersebut ada. Dengan adanya tanda keselamatan atau rambu

keselamatan pekerja juga akan lebih awareness terhadap bahaya

dilingkungan kerja. Serta menjadikan petunjuk arah jika terjadi

keadaan darurat di tempat kerja. Menurut Ramli (2010b) bahaya yang

ada di tempat kerja memiliki perbedaan tergantung jenis pekerjaan dan

41
tanda keselamatan mengikuti sesuai dengan bahaya atau lay out di

lingkungan kerja.

5. PPE / Alat pelindung diri

Pilihan terakhir untuk pengendalian bahaya adalah dengan

memakai alat pelindung diri. Misalnya, pelindung kepala, sarung

tangan, pelindung pernafasan (respirator/masker), pelindung jatuh, dan

pelindung kaki. Dalam konsep K3, penggunaan APD merupakan

pilihan terakhir atau last resort dalam pencegahan kecelakaan. Hal ini

disebabkan karena alat pelindung diri bukan untuk mencegah

kecelakaan (reduce likelyhood) namun hanya sekedar mengurangi efek

atau keparahan kecelakaan (reduce consequences).

Gambar 2.1 Hirarki Pengendalian


Sumber : Ramli (2010)

42
2.4 Safety Sign (Tanda Keselamatan)

2.4.1 Pengertian

Safety sign adalah adalah tanda informasi yang bersifat

himbauan, peringatan, maupun larangan. Ditujukkan secara positif

untuk mengendalikan, mengatur, dan melindungi publik. (Tinarbuko,

2008).

Pengertian safety sign atau tanda keselamatan menurut

beberapa sumber yaitu :

a. Menurut OSHA

Menurut OSHA, Sign / tanda adalah peringatan bahaya,

sementara atau permanen ditempelkan atau ditempatkan, di lokasi

di mana terdapat bahaya. Tanda-tanda akan dihapus ketika bahaya

sudah tidak ada lagi atau ditutupi selama jam ketika tidak ada

bahaya bagi pekerja atau masyarakat.(Simpson, 2013).

OSHA mempersempit ruang lingkup untuk menutup semua

tanda-tanda keselamatan kecuali orang-orang yang dirancang untuk

jalan-jalan, jalan raya, rel kereta api dan peraturan kelautan.

Spesifikasi tidak berlaku untuk papan buletin tanam atau poster

keselamatan. Peraturan tanda OSHA fokus pada pencegahan

potensi bahaya yang dapat menyebabkan cedera pada pekerja atau

masyarakat, atau kerusakan properti. (Simpson, 2013).

43
Rambu- rambu / simbol- simbol K3 adalah peralatan yang

bermanfaat untuk membantu melindungi kesehatan dan

keselamatan para karyawan dan pengunjung yang sedang berada di

tempat kerja. Rambu-rambu keselamatan berguna untuk

(Abdurrahman, 2013) :

a. Menarik perhatian terhadap adanya bahaya kesehatan dan

keselamatan kerja.

b. Menunjukkan adanya potensi bahaya yang mungkin tidak

terlihat.

c. Menyediakan informasi umum dan memberikan pengarahan.

d. Mengingatkan para karyawan dimana harus menggunakan

peralatan perlindungan diri.

e. Mengindikasikan dimana peralatan darurat keselamatan berada.

f. Memberikan peringatan waspada terhadap beberapa tindakan

yang atau perilaku yang tidak diperbolehkan.

b. Menurut ANSI (American National Standard Institute)

Safety Sign menurut standar ANSI yaitu tanda-tanda

keselamatan yang dapat menarik perhatian dengan jelas

mengingatkan tentang potensi bahaya. Meskipun banyak

organisasi dan perusahaan telah membuat pedoman sendiri untuk

memproduksi tanda-tanda keselamatan yang efektif dan nyata.

Standar yang ditetapkan oleh American National Standards

44
Institute (ANSI) biasanya norma yang paling diterima dalam

penerapan tanda (Marquette, 2013).

c. Menurut BSI (British Standard Institute)

British Standar Institute (BSI) adalah standar mengenai

penerapan tanda keselamatan. BSI memberikan peningkatan

representatif teknis dari tanda-tanda keselamatan dan

memperkenalkan prinsip utama sebagai berikut (BSI, 1996) :

- Memberikan rekomendasi dengan penggunaan huruf besar

dan kecil

- Memberikan penjelasan untuk orang tuna netra agar

membaca dan memahami seperti: peringatan, Api keluar

dll.

- Semua tanda-tanda keselamatan BSI sekarang mematuhi

standar dengan teknis terbaru lainnya.

Standar safety sign dengan BSI series 5499 peneliti gunakan

dalam acuan penelitian mengenai kesesuaian keberadaan safety

sign. Semua standar safety sign yang ada memiliki kelebihan

masing-masing, akan tetapi dengan standar BSI dijelaskan

secara rinci mengenai ukuran, warna, spesifikasi, jenis, bentuk,

dan sebagainya secara lengkap.

45
Pembuatan Safety Sign yang baik menurut Sumbo

Tinarbuko (2008), yaitu harus memenuhi 4 kriteria berikut ini :

1. Mudah dilihat

Penempatan sign juga harus dipikirkan secara tepat. Dan

penempatan sign yang baik yaitu ditempat yang mudah

diakses orang.

2. Mudah dibaca

Bentuk huruf atau tipografi yang digunakan dalam sign.

Sebisa mungkin dapat terbaca.

3. Mudah dimengerti

Bentuk penulisan yang tertera pada sign harus mudah untuk

dipahami. Bentuk tulisan juga sebisa mungkin singkat dan

padat.

4. Dapat dipercaya

Kebenaran informasi yang ada dapat dipercaya tidak

menyesatkan.

Menurut Sumbo Tinarbuko (2008) dalam merancang desain

untuk Sign sistem harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut ini

1. Memahami institusi dan lingkungannya serta mengetahui

kegiatan utama institusi tersebut.

46
2. Mengidentifikasi fasilitas yang akan dipresentasikan. Serta sign

harus mengidentifikasikan fasilitas apa saja yang ada di institusi

itu.

3. Menentukan lokasi penempatan serta lokasi harus mudah dilihat

dan mudah diakses oleh semua orang.

4. Implementasi sign sistem. Selain desain, kita juga harus

memperhatikan material Dalam pembuatan sign. Sekarang ini,

desain menarik dan informasi yang benar saja tidaklah cukup.

2.4.2 Kategori Safety sign

2.4.2.1 Kategori Berdasarkan OSHA

Berikut adalah spesifikasi safety sign menurut OSHA dalam

(Simpson, 2013) , yaitu :

a. Tanda Bahaya / Danger Sign

OSHA membutuhkan tanda bahaya menjadi merah untuk

panel atas dengan garis hitam di perbatasan dan panel bawah putih

untuk kata-kata tambahan. Tidak ada variasi yang diizinkan.

OSHA mensyaratkan majikan untuk mendidik karyawan bahwa

tanda-tanda bahaya dan tindakan pencegahan yang diperlukan.

Gambar diterima tanda bahaya yang terkandung dalam peraturan

OSHA (Simpson, 2013).

47
b. Tanda Peringatan / Warning Sign

Tujuan dari tanda hati-hati adalah untuk memperingatkan

potensi bahaya atau untuk mengingatkan terhadap praktik yang

tidak aman. Menurut peraturan OSHA, tanda hati-hati memiliki

latar belakang kuning. Hitam diperlukan untuk panel atas dengan

tulisan kuning, membaca “PERHATIAN” Semakin rendah panel

kuning untuk kata-kata tambahan yang harus hitam. Bahan tanda

dan warna yang ditetapkan dalam Standar Nasional Amerika dan

dihubungkan pada website OSHA (Simpson, 2013).

c. Tanda Exit / Keluar (Emergency Sign)

OSHA membutuhkan tanda keluar berada di latar belakang

putih dengan huruf merah tidak kurang dari 6 inci tinggi. Script

Font harus tidak kurang dari 3/4th dari satu inci tebal.

d. Tanda dan Arah Keselamatan

Tanda keselamatan harus memiliki putih dengan panel atas

hijau dengan tulisan putih untuk menyampaikan pesan utama.

Panel bawah adalah menjadi huruf hitam pada latar belakang putih.

OSHA membutuhkan tanda-tanda arah untuk penggunaan non-lalu

lintas harus memiliki latar belakang putih dengan panel hitam dan

simbol directional putih.

48
e. Tanda Lalu Lintas

Daerah konstruksi harus memiliki tanda lalu lintas terbaca

yang memperingatkan bahaya. Semua rambu lalu lintas dan

perangkat yang digunakan untuk melindungi pekerja konstruksi

harus sesuai dengan Bagian VI Manual Uniform Traffic Control

Devices. Salinan manual ini tersedia di situs OSHA.

2.4.2.2 Kategori Berdasarkan ANSI Z535

Klasifikasi Safety Sign menurut standard ANSI Z535, yaitu :

(Marquette, 2013)

a. Tanda Bahaya (Danger Sign)

ANSI telah metetapkan kata bahaya untuk

menggambarkan bahaya langsung yang dapat mengakibatkan

cidera parah atau kematian. Bahaya merupakan tingkat

tertinggi bahaya dalam situasi tertentu. ANSI juga telah diberi

warna merah untuk menunjukkan bahaya atau berhenti.

b. Tanda Peringatan (Warning Sign)

Peringatan menandakan tingkat tertinggi kedua dari

bahaya dan situasi indicatespotentially berbahaya di mana akan

memungkinkan terluka parah atau kematian. Warna oranye

digunakan pada tanda peringatan untuk memberi tahu bagian

dari mesin yang tidak aman dan yang peralatan energi.

49
c. Tanda Waspada (Caution Sign)

Tanda hati-hati mengingatkan pada situasi yang

membahayakan seperti menderita cedera kecil atau sedang,

atau memperingatkan terhadap perilaku berisiko. Selain itu

tanda hati-hati menurut ANSI dengan latar belakang kuning

solid, garis-garis kuning dan hitam atau pola kotak-kotak

kuning dan hitam.

d. Tanda Keselamatan lainnya (Others Safety Sign)

Tidak terkait dengan warna, tanda-tanda pemberitahuan

memberitahu tentang pedoman perusahaan yang berhubungan

dengan keselamatan atau keamanan properti perusahaan.

Tanda-tanda keselamatan umum memberikan petunjuk tentang

langkah-langkah keamanan yang tepat, praktek-praktek

keselamatan dan di mana untuk menemukan peralatan

keselamatan. Tanda-tanda ini tidak terkait dengan warna

tertentu. Tanda-tanda keselamatan kebakaran mengingatkan ke

lokasi alat pemadam kebakaran seperti alat pemadam

kebakaran. ANSI belum diberi warna wajib untuk tanda-tanda

ini.

50
e. Warna Keselamatan (Color Safety)

Beberapa warna keselamatan ANSI tidak berhubungan

dengan kata tertentu, tetapi mengidentifikasi peralatan dan

lokasi. Hijau mengidentifikasi peralatan keselamatan, kit

pertolongan pertama dan pintu keluar darurat. Biru

menandakan adanya informasi keselamatan pada tanda-tanda

dan papan buletin. Sampai saat ini, warna ungu, abu-abu dan

coklat tidak membawa makna tertentu.

f. Penempatan

Sama seperti ANSI mengatur warna dan kata-kata pada

tanda, juga mendikte penempatan tanda-tanda keselamatan, dan

tidak harus berada dalam bahaya sebelum melihat tanda. Ini

berarti bahwa semua tanda-tanda keselamatan harus digantung

di lokasi yang memberikan banyak waktu untuk menghindari

bahaya. Kata-kata pada tanda harus dapat dibaca dan

ditempatkan di lokasi di mana tidak menjadi bahaya untuk diri

sendiri. Selain itu tanda tidak dapat menggantung di pintu,

jendela atau benda portabel lainnya yang pergerakan objek

akan menyembunyikan tanda.

51
Menurut Standar ANSI Z535.4-2007 for Product Safety Sign

and Labels, panel pesan sinyal ditandai dengan warna sign yang

berbeda-beda, yaitu diantaranya :

a. Danger sign / tanda bahaya  background berwarna

merah dengan kata DANGER berwarna putih.

Mengindikasikan situasi bahaya yang memiliki

kemungkinan tinggi terjadinya kematian atau luka serius.

b. Warning sign / tanda peringatan  background

berwarna oranye dengan kata WARNING berwarna

hitam. Mengindikasikan situasi kemungkinan terjadinya

kecelakaan serius atau kematian.

c. Caution sign / tanda waspada  background berwarna

kuning dan kata CAUTION berwarna hitam.

Mengindikasikan situasi berbahaya yang bisa

menyebabkan luka ringan atau sedang.

d. Notice sign / perhatian  background berwarna biru

dengan kata NOTICE berwarna putih. Mengindikasikan

pesan yang disampaikan berhubungan dengan

keselamatan personil atau perlindungan terhadap properti

perusahaan bersangkutan

e. Emergency / safety first / utamakan keselamatan 

background berwarna hijau dan gambar atau kata

berwarna putih. Memberikan Instruksi-instruksi umum

52
yang berhubungan dengan praktek kerja yang aman dan

memberikan tanda jalur evakuasi.

Disain safety sign dengan ANSI dilengkapi dengan signal

word seperti warning, danger, caution, notice, safety first seperti

penjelasan diatas juga dilengkapi dengan symbol panel /

piktogram serta terdapat kalimat yang memberikan pesan dari sign

tersebut. Contohnya seperti gambar dibawah ini :

Gambar 2.2 Format safety sign yang dilengkapi signal


word panel dan word message
Sumber : ANSI Z535.4-2007 for Product Safety Sign and
Labels.

53
Piktogram / simbol yang dimilki standar Amerika

berdasarkan ANSI Z535.3-2011 Criteria for Safety Symbol yaitu

dapat digambarkan sebgai berikut :

54
Gambar 2.3Piktogram dengan STANDAR ANSI Z535

Sumber : ANSI Z535.3-2011 Criteria for Safety Symbol.

2.4.2.3 Kategori Safety Sign menurut BSI 5499

Berdasarkan warna, piktogram, simbol pada standar BSI sedikit

memilki perbedaan dengan standar ANSI, akan tetapi maksud dan

55
tujuanya sama. Berikut adalah kategori safety sign dengan panel simbol

prohibition / tanda larangan, command yaitu tanda mengindikasikan

peralatan keselamatan, danger yang mengindikasikan adanya bahaya,

rescue yang memberikan info kerja secara aman, fire protection yaitu

mengindikasikan adanya alat pemadam kebakaran.

Gambar 2.4 Kategori safety sign

Sumber : Standar BSI 5499 (www.bradyeurope.com)

56
Gambar 2.5 Kategori safety sign

Sumber : Standar BSI 5499 (www.bradyeurope.com)

a. Tanda Larangan (Prohibition Sign)

Prohibition Sign adalah salah satu rambu larangan

dalam British Standard (BS) yang sering digunakan oleh

perusahaan-perusahaan Multinasional yang berpusat di Inggris

juga atau negara-negara persemakmuran, seperti Australia,

57
Singapura, Malaysia, dan lain-lain. Sering pula digunakan

perusahaan multinasional yang berasal dari Eropa.

Prohibited Sign dalam bahasa indonesia disebut rambu

larangan, bertujuan untuk memberitahukan kepada orang yang

melihat untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang tersebut

karena dapat mengakibatkan kecelakaan fatal. Prohibited Sign

ditandai dengan piktogram berwarna hitam yang dikelilingi

geometri outline lingkaran dan tanda silang tunggal berwarna

merah.

Gambar 2.6 Tanda Larangan

Sumber : Standar BSI 5499 (www.bradyeurope.com)

58
b. Tanda Bahaya (Danger Sign)

Tanda bahaya adalah rambu bahaya, yang

mengindikasikan kondisi yang sangat dekat dengan bahaya,

yang jika tidak dihindari, akan menyebabkan kematian atau

cedera serius. Rambu ini dibatasi penggunaannya hanya untuk

kondisi yang sangat ekstrim saja. Danger Sign ditandai dengan

bagian header berwarna merah ditambah geometri segitiga

dengan tanda seru dan tulisan danger atau bahaya berwarna

putih. Danger Sign yang sering digunakan antara lain : Bahaya

listrik tegangan tinggi, Bahaya radiasi, Bahaya bahan beracun,

dan lain-lain.

Gambar 2.7 Tanda Bahaya

Sumber : Standar BSI 5499 (www.bradyeurope.com)

59
c. Tanda Keadaan Darurat (Safety First / Emergency Sign)

Safety First / Emergency Sign adalah rambu utamakan

keselamatan / darurat. Walaupun pada beberapa industri di

Indonesia ada yang menggunakan header Safety First

(Utamakan Keselamatan) dan ada pula yang menggunakan

header Emergency (Darurat), namun pada prinsipnya Safety

First / Emergency Sign digunakan untuk menyampaikan

instruksi umum yang berhubungan dengan praktik kerja aman,

mengingatkan prosedur keselamatan yang sesuai dan

menunjukkan lokasi peralatan keselamatan. Safety First /

Emergency Sign ditandai dengan bagian header berwarna hijau

dan tulisan Utamakan Keselamatan / Darurat berwarna putih.

60
Gambar 2.8 Tanda Keadaan Darurat

Sumber : Standar BSI 5499 (www.bradyeurope.com)

d. Tanda Api

Fire Sign / tanda api adalah salah satu rambu

pemadaman api yang cukup populer dalam British Standard

(BS) yang sering digunakan oleh perusahaan-perusahaan

Multinasional yang berpusat di Inggris atau negara-negara

persemakmuran, seperti Australia, Singapura, Malaysia, dan

61
lain-lain. Sering pula digunakan perusahaan multinasional yang

berasal dari Eropa. Fire Sign dalam bahasa indonesia disebut

rambu pemadaman api, bertujuan untuk memberikan informasi

kepada orang yang melihatnya agar mengetahui dimana letak

peralatan pemadaman api seperti fire extinguisher, fire hydrant,

fire alarm, dan lain-lain ketika terjadi kebakaran. Fire Sign

ditandai dengan piktogram berwarna putih yang dikelilingi

bentuk geometri segi empat berwarna merah.

62
Gambar 2.9 Tanda Api

Sumber : Standar BSI 5499 (www.bradyeurope.com)

e. Tanda Kondisi Aman

Safe Condition Sign adalah salah satu rambu

penyelamatan dalam British Standard (BS) yang sering

63
digunakan oleh perusahaan-perusahaan Multinasional yang

berpusat di Inggris juga atau negara-negara persemakmuran,

seperti Australia, Singapura, Malaysia, dan lain-lain. Sering

pula digunakan perusahaan multinasional yang berasal dari

Eropa.

Safe Condition Sign dalam bahasa indonesia disebut

rambu darurat, bertujuan untuk memberikan informasi kepada

orang yang melihatnya untuk mengetahui dimana letak

peralatan untuk menangani keadaan darurat. Safe Condition

Sign ditandai dengan pictogram berwarna putih yang dikelilingi

bentuk geometri segi empat berwarna hijau.

f. Tanda Perintah Alat Pelindung Diri (Mandatory Sign)

Mandatory Sign adalah tanda yang bertujuan untuk

memberikan perintah agar pekerja dalam kondisi aman dengan

menggunakan alat pelindung diri sesuai dengan bahaya yang

ada di lingkungan kerja.

64
Gambar 2.10 Tanda Perintah APD (1)

Sumber : Standar BSI 5499 (www.bradyeurope.com)

65
Gambar 2.11 Tanda Perintah APD (2)

Sumber : Standar BSI 5499 (www.bradyeurope.com)

66
2.4.3 Psikologi Warna Berdasarkan BSI 5499

Gambar 2.12 Psikologi Warna Menurut BSI

Sumber : Standar BSI 5499 (www.bradyeurope.com)

Dimulai dari warna adalah peran penting sebagai tanda

keselamatan (safety sign), diantaranya dapat menyampaikan

pesan dan dapat memberikan arti keselamatan secara spesifik.

Sifat dari warna tanda keselamatan, yang artinya adalah :

- Merah : Larangan

- Biru : Perintah / saran

- Kuning : Peringatan / Perhatian

- Hijau : Kondisi selamat dan pertolongan pertama

67
Berdasarkan studi pendahuluan PT. Dirgantara Indonesia dalam penerapan

safety sign juga menggunakan standar ANSI dan BSI (pihak ketiga perusahaan).

Oleh karena itu,dalam penelitian ini standar yang lebih cocok digunakan di PT.

Dirgantara Indonesia dalam menganalisa penerapan standar safety sign yaitu

dengan standar ANSI dan BSI.

2.5 Kerangka Teori

Bahaya / Penilaian Pengendalian


Hazard Risiko bahaya

Kebutuhan
safety sign

2.1 Bagan Alur. Kerangka Teori

68
BAB III

KERANGKA BERPIKIR DAN DEFINISI ISTILAH

3.1 Kerangka Berpikir

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif untuk menganalisis

kesesuaian keberadaan safety sign berdasarkan hasil identifikasi bahaya di

Bagian Profilling Prismatic Machine Departemen Machining Direktorat

Produksi PT. Dirgantara Indonesia. Setelah diketahui bahaya dan mengetahui

apa saja kebutuhan safety sign yang dibandingkan dengan konsep standar

safety sign ANSI Z535 dan BSI 5499.

Pengambilan data primer yaitu melakukan identifikasi bahaya di

Bidang Profilling Prismatic Machine dengan pengelompokkan mesin dan

proses kerjanya yang memiliki risiko bagi pekerja maupun tamu perusahaan

yang datang ke Bidang Profilling Direktorat Produksi. Maka langkah

selanjutnya yaitu dengan melakukan wawancara mendalam dengan informan

yang bersangkutan untuk menemukan bagaimana langkah dalam menentukan

identifikasi bahaya dan menghasilkan kebijakan mengenai pengendalian

bahaya yang telah dilakukan. Selanjutnya menganalisa kebutuhan dan

kesesuaian safety sign berdasarkan hasil identifikasi bahaya.

69
Kerangka Berpikir

Input Proses

1. Identifikasi bahaya dan


Analisa kebutuhan safety
keberadaan safety sign
sign berdasarkan
2. Indikator (undang –
identifikasi bahaya &
undang , standar safety
penilaian risiko
sign, SOP)

Output

Kesesuaian keberadaan safety


sign dengan potensi bahaya
dan risiko dan standar ANSI
Z535 dn BSI 5499

3.1 Bagan Alur. Kerangka Konsep

70
3.2 DEFINISI ISTILAH

Istilah Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Validitas

Identifikasi Identifikasi bahaya adalah upaya - Wawancara - Tabel TRA (Task - Hasil - Transkip
bahaya sistematis untuk mengetahui - Observasi Risk Assessment) identifikasi wawancara
adanya bahaya dalam aktivitas dilakukan oleh bahaya, - Hasil Observasi
peneliti penilaian
organisasi. Identifikasi bahaya
- Daftar pertanyaan risiko
merupakan landasan dari wawancara
manajemen risiko. - Kamera
- Alat recording
Keberadaan Penerapan safety sign yang sudah - Observasi - Tabel TRA (Task - Hasil - Standar ANSI Z535
safety sign ada - Wawancara Risk Assessment) penerapan dan BSI 5499
(informan utama - Standar ANSI dan pengendalian - Hasil observasi
dan pendukung) BSI safety sign - Hasil gambar
- Kamera

Kebutuhan Segala sesuatu yang dibutuhkan - Observasi - Tabel Kebutuhan - Hasil - Observasi
safety sign dalam penerapan safety sign sesuai - Telaah dokumen - Standar ANSI analisis - Standar ANSI Z355
dengan hasil identifikasi bahaya identifikasi bahaya Z535 dan BSI kebutuhan dan BSI 5499
5499 safety sign
- Tabel identifikasi berdasarkan
bahaya hasil
identifikasi
bahaya dan
keberadaan

71
safety sign
Kesesuaian Diperolehnya informasi terkait Perbandingan - Data keberadaan - Sesuai dan - Standar ANSI
safety sign kualitas & kuantitas penerapan keberadaan safety safety sign tidak sesuai Z535 dan
safety sign yang sudah ada, yaitu sign dan kebutuhan - Hasil kebutuhan dengan rekomendasi BSI
dengan cara membandingkan hasil safety sign safety sign potensi 5499
kebutuhan safety sign berdasarkan - Standar ANSI Z- bahaya, - Identifikasi bahaya
hasil identifikasi bahaya dengan 535 BSI 5499 risiko dan
keyataan keberadaan safety sign - Dokumen standar
perusahaan ANSI Z535
dan BSI
5499

72
BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang ditujukan untuk

mendapatkan informasi tentang kesesuaian keberadaan safety sign berdasarkan

hasil identifikasi bahaya di Bidang Profilling Prismatic Machine Departemen

Machining.

4.2 Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan bulan April hingga Juli tahun 2014 di PT.

Dirgantara Indonesia Bandung.

4.3 Informan Penelitian

Pemilihan informan ini dilakukan dengan menggunakan metode

snowball sampling, dengan teknik snowball sampling yaitu penentuan

sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini dipinta

untuk memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel, begitu

seterusnya. Sehingga jumlah sampel semakin banyak. (Sugiyono, 2008).

Informan yang akan di teliti di PT. Dirgantara Indonesia adalah

sebagai berikut :

73
Tabel 4.1 Informan Penelitian

Bentuk
No. Definisi Informan
Informan
1. Utama Orang yang terlibat dengan Staf Departemen K3LH
pelaksanaan identifikasi bahaya
di Departemen K3LH secara
menyeluruh dan mengeluarkan
kebijakan penerapan safety sign.
2. Kunci Seseorang yang secara lengkap Seseorang yang ditunjuk
dan mendalam mengetahui peneliti, berprofesi di bidang
informasi yang akan menjadi K3 dan ahli dalam penilaian
permasalahan dalam penelitian. identifikasi bahaya, serta
rekomendasi pengendalian
dalam penerapa safety sign di
lingkungan kerja yang
terdapat bahaya.
3. Pendukung Orang yang dapat membantu Kepala pekerja di setiap
dalam pelaksanaan identifikasi bidang yang ada di
bahaya dan wawancara tentang Departemen Metal Forming
keadaan safety sign, karena yaitu Supervisor dan Team
informan pendukung memiliki Leader.
tangung jawab terhadap proses
kerja.

Tabel 4.2 Karakteristik Informan

No. Informan Kode Jabatan/Pekerjaan

1. Utama 1 Kepala staf bidang pengendalian &


01
pengawasan
2. Utama 2 02 Staf bidang pengendalian & pengawasan

74
3. Utama 3 03 Staf bidang pengendalian & pengawasan
4. Utama 4 04 Staf bidang pengendalian & pengawasan
5. Pendukung 1 001 Manajer
6. Pendukung 2 002 Supervisatau Machining
7. Pendukung 3 003 Supervisatau Machining
8. Kunci 09 Staf ahli K3 diluar PT. Dirgantara Indonesia

4.4 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Peneliti sendiri, yang dimaksud peneliti sebagai instrumen yaitu pada

tahap pengumpulan data, peneliti menggunakan wawancara terbuka

kepada inforaman. Pertanyaan yang diajukan dapat melebar berdasarkan

fokus penelitian yang pertanyaannya langsung diucapkan atau

ditambahkan oleh peneliti sendiri.

2. Tabel identifikasi bahaya, menggunakan TRA (Task Risk Assessment)

dengan standar AS/NZS 4360

3. Pedoman wawancara / indepth interview mengenai prosedur pengendalian

dengan safety sign.

4. Lembar observasi untuk menganalisis keberadaan safety sign berdasarkan

hasil identifikasi bahaya.

5. Pedoman standar safety sign Amerika dengan ANSI Z 535 dan Eropa

dengan British Standard Institute (BSI 5499).

6. Dokumen standar operasional prosedur safety sign yang telah di tetapkan

perusahaan.

7. Dokumen standar operasional prosedur CNC Operator bidang Profilling

Prismatic Machine

75
8. Checklist sebagai pendukung observasi dalam membandingkan kebutuhan

safety sign dengan kenyataan keberadaan safety sign diperusahaan, guna

untuk mendapatkan kesesuaian.

9. Alat perekam.

10. Alat tulis.

11. Kertas catatan.

12. Kamera.

13. Laptop.

4.5 Sumber Data

4.5.1 Data Primer

Data primer dari hasil wawancara mendalam / indepth interview,

observasi.

4.5.2 Data Sekunder

Data sekunder dengan menggunakan dokumen prosedur penerapan

safety sign dengan No. Dok D4 S2 07, tingkat kecelakaan, nilai SIR dan

FIR, jumlah bidang di Departemen Machining, serta Standar Operational

Prosedur CNC Operator di Bidang Profilling Prismatic Machine.

4.6 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang diambil dari penelitian ini adalah

dengan observasi lapangan, wawancara mendalam / indepth interview, dan

studi dokumentasi, yang dapat digambarkan kedalam matriks seperti dibawah

ini :

76
Tabel 4.3 Metode Pengumpulan Data

No. Metode Keterangan Jumlah

1. Observasi - Form identifikasi - Setiap mesin


Lapangan bahaya - Proses kerja
- Keberadaaan safety
sign
2. Wawancara - Transkrip - Manajer
Mendalam / wawancara dalam - Supervisor
indepeth penerapan safety - Staf
Departemen
interview sign.
K3LH
- Matriks wawancara
dalam penerapan
safety sign
3. Telaah Dokumen - SOP Penerapan -
safety sign
- SOP proses kerja
Bidang Profilling
- Kebutuhan safety
sign
- Standar ANSI Z535
dan BSI 5499

4.7 Pengolahan Data

Pengolahan data yang dilakukan untuk menganalisis kesesuaian

keberadaan safety sign berdasarkan bahaya yang terdapat di Departemen

Machining Divisi Detail Part Manufacturing Direktorat Produksi, yaitu

diantaranya :

1. Melakukan pengelolaan data hasil identifikasi bahaya dengan Task Risk

Assessment (TRA).

2. Melakukan pengelolaan data observasi terkait keberadaan safey sign yang

terpasang di Departemen Machining, hal ini berguna pada saat

77
menganalisis kesesuaian keberadaan safety sign dibandingkan dengan hasil

kebutuhan safety sign berdasarkan hasil identifikasi bahaya

3. Pengelolaan data untuk mengetahui bahaya apa saja yang perlu diberi

tanda keselamatan / safety sign yaitu dengan TRA, sebagai pemenuhan

kebutuhan yang didapat dari hasil hasil identifikasi bahaya dan penilaian

risiko di Bidang Profilling Prismatic Machine.

4. Data yang telah dikumpul guna mendapatkan kesesuaian, disusun dalam

bentuk tabel yaitu hasil observasi keberadaan safety sign, data kebutuhan

safety sign dengan standar safety sign ANSI Z.535 dan BSI 5499

berdasarkan hasil identifikasi bahaya.

4.8 Analisis Data

Analisis data pada penelitian ini menggunakan pendekatan analisis

kualitatif seperti yang diungkapkan oleh Milles dan Huberman dalam Tjetjep

(1992) terdiri dari :

1. Reduksi Data

Pada tahap ini dilakukan pemilihan tentang relevan tidaknya

antara data dengan tujuan penelitian. Data-data yang tidak penting dan

tidak berkaitan dengan kebutuhan penelitian kemudian

dihapus/dihilangkan dan tidak dilakukan analisis lebih lanjut.

Sementara data-data yang penting kemudian diolah dan dianalisis

lebih lanjut.

78
2. Penyajian Data

Data-data pada variabel input yaitu hasil identifikasi bahaya,

keberadaan safety sign, SOP, undang-undang prosedur, dokumen.

Pada variabel proses yaitu analisa kebutuhan safety sign berdasarkan

identifikasi bahaya). Pada variabel output yaitu kesesuaian keberadaan

safety sign, berdasarkan hasil perbandingan antara penerapan/

keberadaan safety sign dengan kebutuhan safety sign yang sudah

direduksi kemudian dibuat dalam bentuk tabel, interpretasi hasil tabel,

hasil matriks, dan trasnkip wawancara.

3. Analisis Data

Analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik analisis

isi atau content analysis. Dengan teknik analisis isi data-data dari

masing-masing variabel dalam penelitian ini (variabel input, proses

dan output) yang sudah direduksi dan disajikan kemudian dilihat

kesesuaiannya berdasarkan perbandingan kenyataan penerapan safety

sign dengan kebutuhan safety sign. Pada tahap proses yaitu analisa

kebutuhan safety sign, peneliti menggunakan standar ANSI Z535 dan

BSI 5499. Apakah hasil yang didapat pada kebutuhan safety sign,

sesuai atau tidak dengan kenyataan dilapangan berdasarkan hasil

identifikasi bahaya, risiko dan penerapan pengendalian bahaya.

4. Penarikan Kesimpulan

79
Kesimpulan dalam penelitian ini didapatkan setelah peneliti

melakukan analisis data. Penarikan kesimpulan yaitu dengan

mengaitkan antara hasil yang didapat dari penelitian dan dihubungkan

dengan teori dan standar safety sign.

4.9 Triangulasi Data

Untuk melengkapi keabsahan data peneliti menggunakan teknik

triangulasi data agar data yang diperoleh dapat dipertanggung jawabkan pada

saat penarikan kesimpulan. Menurut Denzin (1994) dapat dibedakan menjadi

4 macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yaitu triangulasi metode,

sumber, teori, dan penyidik. Dalam penelitian ini, uji keabsahan data

menggunakan triangulasi sumber dan metode, dimana menurut Sugiono

(2012) triangulasi sumber berarti untuk mendapatkan data dari sumber yang

berbeda-beda dengan teknik yang sama. Sedangkan trianguasi metode adalah

teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari

sumber yang sama. Adapun untuk mencapai kepercayaan itu, langkah yang

akan dicapai adalah sebagai berikut :

1. Triangulasi Sumber

Melakukan pemeriksaan terhadap hasil wawancara mendalam

dengan informan utama dan pendukung. Pemeriksaan dilakukan dengan

membandingkan hasil wawancara mendalam dari informan utama dengan

informan pendukung tentang potensi bahaya dan penerapan safety sign.

Selanjutnya adanya informan kunci untuk memberikan masukan, pada

80
tahap melakukan identifikasi bahaya dan kebutuhan safety sign yang

dilakukan peneliti.

2. Triangulasi Metode

Metode yang digunakan selain wawancara mendalam, yaitu dengan

observasi, telaah dokumen dan membandingkan dengan standar regulasi

safety sign. Pada teknik observasi, dilakukan untuk mendukung hasil dari

wawancara mendalam. Adapun observasi yang dilakukan yaitu dengan

melakukan identifikasi bahaya dan observasi keberdadaan safety sign.

Sedangkan telaah dokumen yaitu dengan Standar Operasional Prosedur

Penerapan safety Sign dan Proses kerja di Bidang Profilling. Standar

regulasi safety sign berdasarkan ANSI Z535 dan BSI 5499, yaitu

digunakan pada tahap pemenuhan kebutuhan safety sign berdasarkan hasil

potensi bahaya yang ada. Adapun tabel triangulasi data dapat dilihat

sebagai berikut

Tabel 4.4

Triangulasi data

Triangulasi Data
Variabel Triangulasi Sumber Triangulasi Metode
Penelitian Standar
Informan Informan Informan Wawancara Telaah
Observasi Safety
Utama Pendukung Kunci Mendalam Dokumen
Sign
Prosedur
penerapan - -
safety sign
Kondisi - - -
safety sign
Standar -

81
Triangulasi Data
Variabel Triangulasi Sumber Triangulasi Metode
Penelitian Standar
Informan Informan Informan Wawancara Telaah
Observasi Safety
Utama Pendukung Kunci Mendalam Dokumen
Sign
safety sign
yang
diterapkan
Alasan
mengguna
kan - - - -
standar
tersebut
Petugas
pemasang - - - -
safety sign

4.10 Penyajian Data

Data yang diperoleh ditampilkan dalam bentuk tabel hasil identifikasi

bahaya, pengendalian dan keberadaan safety sign serta dilengkapi narasi

dengan menyimpulkan hasil matriks wawancara yang disertai kutipan dari

transkrip. Penyajian data akan didukung dengan hasil kebutuhan safety sign

untuk mendapatkan kesesuaian penerapan safety sign.

82
BAB V

HASIL PENELITIAN

5.1 Proses Produksi di Bidang Profilling Prismatic Machine

PT Dirgantara Indonesia (Persero) merupakan salah satu perusahaan

penerbangan di Asia yang berpengalaman dan berkompetensi dalam rancang

bangun, pengembangan, dan menufacturing pesawat terbang. Diawali dengan

membangun dasar penguasaan teknologi melalui lisensi, perusahaan industri

yang berdiri pada 23 Agustus 1976 ini, memproduksi helikopter dan pesawat

terbang: NBO-105, Super puma NAS-332, NC-212; dan tiga tahun kemudian

mengintegrasikan teknologi, PT Dirgantara Indonesia bersama CASA

merancang dan memproduksi CN-235.

Selanjutnya, dengan penguasaan teknologi serta keahlian yang terus

berkembang, Dirgantara Indonesia merancang bangun N250, generasi

pesawat penumpang subsonic dengan daya angkut 64-68 penumpang dengan

fly by wire sistem. Prototype pertamanya telah berhasil diterbangkan pertama

kalinya, pada tanggal 10 Agustus 1995, dan telah menjalani sekitar 600 jam

uji terbang. Kemudian diteruskan dengan mengembangkan N2130 pesawat jet

transonic dengan inovasi baru, dalam tahap preliminary design. Namn, kedua

program tersebut terhenti adanya kendala pendanaan.

Kini, PT Dirgantara Indonesia telah berhasil sebagai industri

manufaktur dan memiliki diversifikasi produknya, tidak hanya bidang

pesawat terbang, tetapi juga dalam bidang lain, seperti teknologi infomasi,

83
telekomunikasi, otomotif, maritim, militer otomasi dan kontrol, minyak dan

gas, turbin industri, teknologi simulasi, dan engineering services.

Berikut adalah proses produksi di seluruh Direktorat Produksi PT.

Dirgantara Indonesia :

Gambar 5.1 Flow Chart Proses Produksi PT. Dirgantara Indonesia

Berdasarkan hasil data bagan flow chart kegiatan Produksi di

PT. Dirgantara Indonesia yang berada di bawah pimpinan Direktorat

Produksi, yaitu terdiri dari berbagai Departemen, diantaranya :

1. Raw Material

2. Pre-Cutting

3. Metal Forming

4. Proses Machining

5. Welding

6. Proses Surfafe Treatment

7. Proses Bonding & Composite

8. Primer & Marking

9. Proses Tahap Akhir

84
10. Proses Pengujian Akhir

Pada tahap, Metal Forming, Machining dan Heat Treathment

dibawah pimpinan Divisi Detail Part Manufacturing memiliki risiko yang

dapat menyebabkan kecelakaan. Sistem kerja di bagian tersebut

menggunakan 2 x shift kerja dan banyaknya potensi bahaya yang

ditimbulkan dari mesin, lingkungan kerja dan perilaku pekerja sehingga

dapat mempengaruhi pada hasil produktivitas kerja yang mengakibatkan

kecelakaan kerja seperti near miss, ringan, sedang, berat hingga fatality.

Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan informan utama

yaitu staf dari Departemen K3LH dan informan pendukung yaitu Manajer

dan para Supervisor di PT. Dirgantara Indonesia, mengarahkan peneliti

kepada salah satu bidang yang ada di Departemen Machining Divisi Detail

Part Manufacturing yaitu bidang Profilling Prismatic Machine dengan

memiliki justifikasi tingkat kecelakaan yang paling tinggi dan memiliki

risiko kerja yang tinggi berdasarkan karakterisitik mesin yang ada dan hasil

kesimpulan wawancara dengan informan utama dan pendukung.

Setelah melakukan wawancara mendalam, peneliti melakukan

identifikasi bahaya menggunakan metode Task Risk Assessment (TRA)

dengan standar AS/NZS 4360. Berdasarkan hasil wawancara, Bidang

Profilling Prismatic Machine memiliki karakteristik mesin yang besar-besar,

memiliki potensi bahaya tinggi, pernah terjadi kecelakaan. Karakteristik

tersebut tepat jika melakukan identifikasi dengan teknik TRA. Berdasarkan

hasil wawancara mendalam kepada informan 002 Bidang Profilling

85
Prismatic Machine terdapat 3 bagian pekerjaan dan dibagi berdasarkan jenis

mesin, diantaranya :

1. Mesin DGMP (Double Gantry Multi Purpose) yaitu mesin untuk

memotong dan melubangi material pesawat dengan kecepatan 3000

rpm mempunyai 1 meja mesin dan terdapat dua mesin gantry. Maka

dari itu penamaan mesin ini double. Mesin ini dalam kegunaannya

dapat melubangi, memotong dan membentuk material dari bahan apa

saja seperti baja, alumunium, besi, dsb. Mesin ini terdiri sebanyak 5

buah. Hanya satu 1 mesin dinamakan SGMP (Single Gantry Multi

Purpose) karena dalam 1 meja hanya terdapat 1 mesin Gantry. Standar

Operasional Prosedur pada proses ini dilampirkan dilembar lampiran.

Gambar 5.2 Bidang Profilling Prismatic Machine (Area Mesin


DGMP)

86
2. Mesin DGAL (Double Gantry Alumunium) yaitu mesin untuk

memotong dan melubangi material pesawat dengan kecepatan 3000

rpm, mempunyai 1 meja dan terdapat dua mesin gantry. Maka dari itu

penamaan mesin ini double. Mesin ini dalam kegunaannya dapat

melubangi, memotong dan membentuk material, tetapi material hanya

dari bahan alumunium saja. Mesin ini terdiri sebanyak 5 buah. Hanya

satu 1 mesin dinamakan SGAL (Single Gantry Alumunium) karena

dalam 1 meja hanya terdapat 1 mesin gantry. Standar Operasiona

Prosedur pada proses ini dilampirkan dilembar lampiran.

Gambar 5.3 Bidang Profilling Prismatic Machine (Area Mesin DGAL)

3. MATEC dan JOBS yaitu mesin terbaru yang dimiliki PT. Dirgantara

Indonesia dengan kecepatan tinggi yaitu > 3000 rpm. Mesin ini

87
terdapat sebanyak satu per nama mesinnya, MATEC hanya 1 mesin

dan JOBS hanya 1 mesin, kegunaan dari pada mesin keduanya sama

yaitu untuk melubangi, memotong dan membentuk material dari bahan

apa saja seperti baja, alumunium, besi, dsb. Fungsi dan cara kerja

mesin MATEC dan JOBS memiliki karakter yang sama dengan mesin

DGMP, akan tetapi mesin terbaru ini sudah terlindungi disekeliling

mesinnya dengan alat penutup (terisolasi dari disain pabrik) sehingga

dalam proses pekerjaannya, pekerja dapat terlindungi serta dapat

mengurangi tingkat risiko pekerjaan. Standar Operasiona Prosedur

pada proses ini dilampirkan dilembar lampiran.

Gambar 5.3 Bidang Profilling Prismatic Machine (Area Mesin


MATEC & JOBS)

5.2 Pelaksanaan Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko Bidang Profilling

Prismatic Machine

Bidang Profilling Prismatic Machine memiliki 3 bagian dalam

pekerjaannya berdasarkan jenis mesin yang sudah diterangkan pada sub bab

sebelumnya. Dalam mengidentifikasi bahaya, bagian mesin DGMP dan

88
DGAL dibuat dalam satu tabel karena karakteristik mesin, proses kerja,

kecepatan mesin dengan 3000 rpm serta pengendalian yang diterapkan

memiliki kesamaan, sehingga potensi bahaya yang dihasilkan juga sama.

Akan tetapi perbedaannya hanya pada material yang dikerjakan. Walaupun

material yang ada di mesin DGMP dan DGAL berbeda, risiko yang

dihasilkan adalah sama yaitu gangguan pernapasan dan bisa mengakibatkan

paru-paru basah serta kanker paru-paru. Sedangkan mesin MATEC dan

JOBS jika dibandingkan dengan mesin DGMP memiliki persamaan dalam

karakteristik mesin, proses kerja dan material yang digunakan. Hanya saja

mesin MATEC dan JOBS sudah memiliki pengendalian isolasi yang berasal

dari pabrik pembuat mesin sehingga potensi risiko dapat berkurang.

89
5.2.1 Hasil Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko dan Pengendalian di

mesin DGMP dan DGAL Bidang Profilling Prismatic Machine

Identifikasi bahaya dan penilaian risiko dengan metode Task Risk

Assessment menggunakan standar AS/NZS 4360. Pada tahap identifikasi

bahaya dikelompokkan menjadi dua yaitu 2 bagian di Bidang Profilling

yang dijadikan satu pada bagian mesin DGMP dengan DGAL dan 1

bagian di mesin MATEC dan JOBS, karena 2 bagian yang terdapat di

mesin DGMP dan DGAL memiliki karakteristik mesin dan potensi

bahaya yang sama dengan kecepatan mesin 3000 rpm. Begitu juga dengan

mesin MATEC dan JOBS yang sudah memiliki pengendalian mesin yang

sudah di isolasi (kerangkeng) dari awal disain mesinnya dengan kecepatan

mesin > 3000 rpm. Berikut adalah hasil identifikasi bahaya, penilaian

risiko, pegendalian yang diterapkan pada mesin DGMP dan DGAL yang

hasilnya sudah disetujui dan disepakati oleh informan kunci dapat dilihat

pada tabel 5.1 berikut ini.

90
TABEL 5. 1 Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko dengan Task Risk Assessment dan Keberadaan Safety Sign di Mesin DGMP dan DGAL

Bagian : Mesin DGMP dan mesin DGAL


Aktivitas : Melubangi, memotong dan membentuk material
Material : DGMP (Baja, alumunium, besi, dsb) dan DGAL (alumunium)
Prosedur Kerja : Standar Operating Milling
Project/Task Risk Assessment Fataum & Guide Departemen : Machining
Bidang Profiling Prismatic Machine
Double Gantry Multi Purpose (DGMP-A, DGMP-B, DGMP-C, DGMP-D, SGMP-J) Double Gantry Alumunium (DGAL-E, DGAL-F, DGAL-G, DGAL-H, SGAL-I) Nama Pekerjaan :
Mesin
Semua mesin memiliki karakteristik sama, hanya material berbeda CNS Operation
Peringkat Risiko Sisa Risiko
No. Langkah Aktivitas Potensi Bahaya Risiko Pengendalian
C LL RR C LL RR
1. Start up mesin Lantai licin disebabkan oleh Terpeleset 2 5 H - Lantai tidak di keramik 2 3 M
cairan material dan oli - Terdapat geng way (safety line)
- Sepatu safety
- Lantai diberihkan setiap 1 hari / 1 x
Bekerja diketinggian lebih dari Terjatuh 3 4 H - Sepatu safety 2 5 H
1 m (meja mesin : ±1 m) dan - Diberi tangga ke meja mesin
(mesin DGMP & DGAL : ± > - Ada tangga dan penyanggah di mesin
3 m)
Crane yang bergerak di atap Tertimpa 4 2 H - Crane di sertifikasi 1 tahun / 1 X 3 2 M
Operation

Raw material (alumunium Tersayat 2 5 H - Pekerja memakai sarung tangan 2 4 H


baja, besi,dsb) yang tajam

91
Project/Task Risk Assessment Fataum & Guide Departemen : Machining
Bidang Profiling Prismatic Machine
Double Gantry Multi Purpose (DGMP-A, DGMP-B, DGMP-C, DGMP-D, SGMP-J) Double Gantry Alumunium (DGAL-E, DGAL-F, DGAL-G, DGAL-H, SGAL-I) Nama Pekerjaan :
Mesin
Semua mesin memiliki karakteristik sama, hanya material berbeda CNS Operation
Peringkat Risiko Sisa Risiko
No. Langkah Aktivitas Potensi Bahaya Risiko Pengendalian
C LL RR C LL RR
Material hasil coollant yang - Gangguan pernapasan 3 4 H - medical check-up 3 3 H
berbahaya yang berwarna putih - kanker paru-paru - Masker
keabu-abuan - paru-paru basah
Ruang produksi di Departemen Kebakaran (risiko ruang kerja) 4 2 H - Tersedia APAR 3 2 M
lain yang memiliki potensi - Jalur evakuasi (secara keseluruhan gedung)
kebakaran, satu gedung dengan - Tanda alat APAR
- Tanda dilarang merokok
bidang profiling machine
- Terdapat SOP manajemen kebakaran
2. Melakukan pemeriksaan Lantai licin disebabkan oleh Terpeleset 2 5 H - Lantai tidak di keramik 2 3 M
dan pemahaman cairan material dan oli - Terdapat geng way (safety line)
- Sepatu safety
- Lantai diberihkan setiap 1 hari / 1 x
Crane yang bergerak di atap Tertimpa 4 2 H - Crane di sertifikasi 1 tahun / 1 X 3 2 M
Operation
Bekerja diketinggian lebih dari Jatuh dari ketinggian 3 4 H - Sepatu safety 2 5 H
1 m (meja mesin : ±1 m) dan - Diberi tangga ke meja mesin
(mesin DGMP & DGAL : ± > - Ada tangga dan penyanggah di mesin
3 m)
Raw material (alumunium - Tersayat 2 5 H - Pekerja memakai sarung tangan 2 4 H
baja, besi,dsb) yang tajam - Tergores
Material hasil coollant yang - Gangguan pernapasan 3 4 H - medical check-up 3 3 H
berbahaya yang berwarna putih - kanker paru-paru - Masker
keabu-abuan - paru-paru basah
Posisi pekerja naik turun Gangguan ergonomi (low back 3 4 H - Diberi tangga untuk memudahkan pekerja naik turun 3 2 M
keatas meja mesin, posisi pain)
jongkok dan dilakukan secara
berulang-ulang
Ruang produksi di Departemen Kebakaran (risiko ruang kerja) 4 2 H - Tersedia APAR 3 2 M
lain yang memiliki potensi - Jalur evakuasi
kebakaran, satu gedung dengan - Tanda alat APAR

92
Project/Task Risk Assessment Fataum & Guide Departemen : Machining
Bidang Profiling Prismatic Machine
Double Gantry Multi Purpose (DGMP-A, DGMP-B, DGMP-C, DGMP-D, SGMP-J) Double Gantry Alumunium (DGAL-E, DGAL-F, DGAL-G, DGAL-H, SGAL-I) Nama Pekerjaan :
Mesin
Semua mesin memiliki karakteristik sama, hanya material berbeda CNS Operation
Peringkat Risiko Sisa Risiko
No. Langkah Aktivitas Potensi Bahaya Risiko Pengendalian
C LL RR C LL RR
bidang profiling machine - Tanda dilarang merokok
- Terdapat SOP manajemen kebakaran
3. Melakukan set up Lantai licin disebabkan oleh Terpeleset 2 5 H - Lantai tidak di keramik 2 3 M
cairan material dan oli - Terdapat geng way (safety line)
- Sepatu safety
- Lantai diberihkan setiap 1 hari / 1 x
Kondisi meja mesin dan Terpeleset 3 4 H - Sepatu safety 2 3 M
material yang licin - (APD) Sarung tangan
Crane yangbergerak di atap Tertimpa 4 2 H - Crane di sertifikasi 1 tahun / 1 X 3 2 M
Operation
Unsafe condition - Tersengat listrik 2 3 M 2 3 M
- Tersandung
- Jari terpotong
Bekerja diketinggian lebih dari Terjatuh 3 4 H - Sepatu safety 2 5 H
1 m (meja mesin : ±1 m) dan - Diberi tangga ke meja mesin
(mesin DGMP & DGAL : ± > - Ada tangga dan penyanggah di mesin
3 m)

Alat kerja yang cukup berat Tertiban 2 3 M - sepatu safety 2 2 L


dan bahaya (kunci, palu, karet, - alat diletakkan di tempat penyimpanan alat

93
Project/Task Risk Assessment Fataum & Guide Departemen : Machining
Bidang Profiling Prismatic Machine
Double Gantry Multi Purpose (DGMP-A, DGMP-B, DGMP-C, DGMP-D, SGMP-J) Double Gantry Alumunium (DGAL-E, DGAL-F, DGAL-G, DGAL-H, SGAL-I) Nama Pekerjaan :
Mesin
Semua mesin memiliki karakteristik sama, hanya material berbeda CNS Operation
Peringkat Risiko Sisa Risiko
No. Langkah Aktivitas Potensi Bahaya Risiko Pengendalian
C LL RR C LL RR
pin, vacum, majun, sling, eye
bolt, T-Nut, hand gun, obeng
dan Dial indicatatau, dll)
Mesin dengan ukuran besar, Tergencet 4 3 E - Trainning pada pekerja baru 4 2 H
pekerja dapat masuk dibawah
bagian mesin yang berbahaya
- Cutter pin saat pemasang di Tersayat 2 3 M - (APD) Sarung tangan 2 2 L
mesin Jari terpotong - Terdapat alat angkut berat untuk membawa raw material
- Raw material (alumunium
baja, besi,dsb) yang tajam
Unsafe condition - Tersengat listrik 2 3 M 2 3 M
- Tersandung

Ruang produksi di Departemen Kebakaran (risiko ruang kerja) 4 2 H - Tersedia APAR 3 2 M


lain yang memiliki potensi - Jalur evakuasi
kebakaran, satu gedung dengan - Tanda alat APAR
- Tanda dilarang merokok
bidang profiling machine
- Terdapat SOP manajemen kebakaran
Posisi pekerja naik turun Gangguan ergonomi (low back 3 4 H - Diberi tangga untuk memudahkan pekerja naik turun 3 2 M
keatas meja mesin, posisi pain)
jongkok dan dilakukan secara
berulang-ulang
4. Melakukan running Area di dalam safety line Terpeleset 2 5 H - Lantai tidak di keramik 2 3 M
produksi mesin Double Gantry dengan - Terdapat geng way (safety line)
kondisi lantai licin disebabkan - Sepatu safety
- Lantai diberihkan setiap 1 hari / 1 x
oleh cairan material dan oli

94
Project/Task Risk Assessment Fataum & Guide Departemen : Machining
Bidang Profiling Prismatic Machine
Double Gantry Multi Purpose (DGMP-A, DGMP-B, DGMP-C, DGMP-D, SGMP-J) Double Gantry Alumunium (DGAL-E, DGAL-F, DGAL-G, DGAL-H, SGAL-I) Nama Pekerjaan :
Mesin
Semua mesin memiliki karakteristik sama, hanya material berbeda CNS Operation
Peringkat Risiko Sisa Risiko
No. Langkah Aktivitas Potensi Bahaya Risiko Pengendalian
C LL RR C LL RR
Crane yang bergerak di atap Tertimpa 4 2 H - Crane di sertifikasi 1 tahun / 1 X 3 2 M
Operation

Bekerja diketinggian lebih dari Terjatuh 3 4 H - Sepatu safety 2 5 H


1 m (meja mesin : ±1 m) dan - Diberi tangga ke meja mesin
(mesin DGMP & DGAL : ± > - Ada tangga dan penyanggah di mesin
3 m)
Raw material (alumunium - Tersayat 3 4 H - (APD) sarung tangan 3 3 H
baja, besi,dsb) yang tajam - Jari Tergores

Proses pembentukan dan Cipratan dural (baja/alumunium) 3 4 H - (APD) kaca mata / safety googles 3 3 H
pelubangan material, hasilnya yang dapat mengenai mata - Seragam kerja
chips terbang-terbang
Posisi pekerja naik turun Gangguan ergonomi (low back 3 4 H Diberi tangga untuk memudahkan pekerja naik turun 3 2 M
keatas meja mesin, posisi pain)
jongkok dan dilakukan secara
berulang-ulang
Meja kerja mesin dan lantai Terpeleset 2 5 H (APD) sepatu safety 2 3 M
sekitar mesin yang licin
Suara mesin yang keras Gangguan pendengaran 4 5 E - Dilakukan pengukuran jika ada permintaan 3 4 H
(bising) - (APD) ear muff / ear plug
Material hasil coollant yang Gangguan kesehatan (kanker 4 5 E - Dibersihkan setiap proses pembentukan material setiap 3 4 H
berbahaya yang berwarna putih paru-paru, paru-paru basah) hari
keabu-abuan - Diberikan kepada pihak ketiga yang menggunakan
limbah material tersebut
Limbah material yang tersisa Tertusuk chips 3 4 H - Sepatu safety 3 3 H

95
Project/Task Risk Assessment Fataum & Guide Departemen : Machining
Bidang Profiling Prismatic Machine
Double Gantry Multi Purpose (DGMP-A, DGMP-B, DGMP-C, DGMP-D, SGMP-J) Double Gantry Alumunium (DGAL-E, DGAL-F, DGAL-G, DGAL-H, SGAL-I) Nama Pekerjaan :
Mesin
Semua mesin memiliki karakteristik sama, hanya material berbeda CNS Operation
Peringkat Risiko Sisa Risiko
No. Langkah Aktivitas Potensi Bahaya Risiko Pengendalian
C LL RR C LL RR
berbentuk chips (kecil &
tajam) yang jatuh di meja
mesin dan sekitar mesin
Ruang produksi di Departemen Kebakaran (risiko ruang kerja) 4 2 H - Tersedia APAR 3 2 M
lain yang memiliki potensi - Jalur evakuasi
kebakaran, satu gedung dengan - Tanda alat APAR
- Tanda dilarang merokok
bidang profiling machine
- Terdapat SOP manajemen kebakaran
5. Melaksanakan handling / Pemasangan pengait Crane ke Terjepit 3 3 H - Sarung tangan 3 2 M
load – unload material material - melakukan maintenance pada Crane
material yang diangkat, tinggi Tertiban material (berat 500 kg – 4 3 E - Pelatihan 3 2 M
melebihi di atas kepala 6 ton) - Sepatu safety
Crane yang bergerak di atas Tertimpa benda dari atas 4 3 E - Pelatihan penggunaan Crane 3 2 M
Operation dan pekerja - Sepatu safety
Kondisi meja mesin dan - Terpeleset 3 4 H - Lantai dan sisa limbah dibersihkan setiap hari 2 3 M
material yang licin - Sepatu safety
Memegang material saat - Tersayat 3 4 H (APD) sarung tangan 2 3 M
dibalik dengan Crane
Penyemprotan material dengan Sisa material mengenai mata 4 5 E sarung tangan 4 3 E
angin saat didirikan oleh Crane
Material yang diangkat untuk Terbentur material 3 3 H Pelatihan 2 2 L
dibalik dengan bantuan Crane
Material hasil coollant yang - Gangguan pernapasan 4 4 E Masker 4 3 E
berbahaya yang berwarna putih - Gangguan kesehatan (kanker
keabu-abuan paru-paru, paru-paru basah),
Limbah material yang tersisa Tertusuk chips 3 4 H - Sepatu safety 3 3 H
berbentuk chips (kecil &
tajam) yang jatuh di meja
mesin dan sekitar mesin

96
Project/Task Risk Assessment Fataum & Guide Departemen : Machining
Bidang Profiling Prismatic Machine
Double Gantry Multi Purpose (DGMP-A, DGMP-B, DGMP-C, DGMP-D, SGMP-J) Double Gantry Alumunium (DGAL-E, DGAL-F, DGAL-G, DGAL-H, SGAL-I) Nama Pekerjaan :
Mesin
Semua mesin memiliki karakteristik sama, hanya material berbeda CNS Operation
Peringkat Risiko Sisa Risiko
No. Langkah Aktivitas Potensi Bahaya Risiko Pengendalian
C LL RR C LL RR
Ruang produksi di Departemen Kebakaran (risiko ruang kerja) 4 2 H - Tersedia APAR 3 2 M
lain yang memiliki potensi - Jalur evakuasi
kebakaran, satu gedung dengan - Tanda alat APAR
- Tanda dilarang merokok
bidang profiling machine
Posisi pekerja naik turun Gangguan ergonomi (low back 3 4 H - Diberi tangga untuk memudahkan pekerja naik turun 3 2 M
keatas meja mesin, posisi pain)
jongkok dan dilakukan secara
berulang-ulang

Keterangan :
C : Konsekuensi
LL : Kemungkingkan terjadi
RR : Penilaian Risiko = C × LL

97
Berdasarkan hasil tabel 5.1 di atas, bahwa diketahui dari 5 tahapan proses

kerja di bagian mesin DGMP dan DGAL memiliki potensi bahaya dan risiko

yang berbeda, tetapi potensi bahaya yang ada cenderung sama. Sehingga risiko

yang muncul cenderung sama di setiap proses kerja. Hasil penilaian risiko dari

perkalian konsekuensi dan kemungkinan terjadi menunjukan peringkat risiko di

mesin DGMP dan DGAL mulai dari low risk sampai extreme risk, dengan rata-

rata tingkat risiko high risk. Sedangkan hasil sisa risiko setelah dilakukan

pengendalian tidak mengalami perubahan yang signifikasn, karena hirarki

pengendalian dengan misalnya pendekatan eliminasi, substitusi, teknis dan

administrasi belum diterapkan secara maksimal di bagian tersebut. Pengendalian

lebih mengutamakan kepada pengadaan dan penggunaan APD untuk pekerja agar

terhindar dari potensi bahaya, serta melakukan pelatihan-pelatihan untuk

karyawan baru dan rotasi kerja.

98
5.2.2 Hasil Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko dan Pengendalian di mesin MATEC dan JOBS

Berikut adalah tabel hasil identifikas bahaya, penilaian risiko dan pengendalian terhadap bahaya di bagian mesin MATEC dan JOBS yang

hasilnya sudah disetujui dan disepakati oleh informan kunci.

TABEL 5. 2 Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko dengan Task Risk Assessment dan Keberadaan Safety Sign di Mesin MATEC & JOBS

Bagian : Mesin Mesin MATEC dan JOBS


Aktivitas : Membentuk dan Melubangi Dural (Raw Material Pesawat)
Material : Baja, alumunium, besi, dsb
Prosedur Kerja : Standar Operating Milling Operator
Karakteristik Mesin : Mesin baru dengan kecepatan tinggi lenbih dari 3000 rpm, oleh karena itu disain mesin diberi pelindung agar material tidak
mengenai pekerja
Project/Task Risk Assessment Fataum & Guide Departemen : Machining
Bidang Profiling Prismatic Machine
Mesin MATEC Mesin JOBS Nama Pekerjaan :
Mesin
Kedua mesin memiliki karakteristik dan material yang sama CNS Operation
Peringkat Risiko Sisa Risiko
No. Langkah Aktivitas Potensi Bahaya Risiko Pengendalian
C LL RR C LL RR
1. Start up mesin Lantai licin disebabkan oleh cairan Terpeleset 2 5 H - Lantai tidak di keramik 2 3 M
material dan oli - Terdapatt geng way (safety line)
- Sepatu safety
- Lantai diberihkan setiap 1 hari / 1 x

99
Project/Task Risk Assessment Fataum & Guide Departemen : Machining
Bidang Profiling Prismatic Machine
Mesin MATEC Mesin JOBS Nama Pekerjaan :
Mesin
Kedua mesin memiliki karakteristik dan material yang sama CNS Operation
Peringkat Risiko Sisa Risiko
No. Langkah Aktivitas Potensi Bahaya Risiko Pengendalian
C LL RR C LL RR
Crane yang bergerak di atap operator Tertimpa 4 2 H - Crane di sertifikasi 1 tahun / 1 X 3 2 M

Raw material (alumunium, besi,dsb) yang Tersayat 2 5 H - Pekerja memakai sarung tangan 2 4 H
tajam
Raw material (alumunium, besi,dsb) - Gangguan pernapasan 3 4 H - medical check-up 3 3 H
- kanker paru-paru - Masker
- paru-paru basah
Bahan dan alat berbahaya yang memiliki Kebakaran 4 2 H - Tersedia APAR 3 2 M
risiko terbakar, terdapatt didalam satu - Jalur evakuasi
gedung produksi bidang dan Departemen - Tanda alat APAR
- Tanda dilarang merokok
yang lain
- Terdapat SOP manajemen kebakaran
Unsafe condition - Tersengat listrik 2 3 M 2 3 M
- Tersandung
2. Melakukan pemeriksaan Lantai licin disebabkan oleh cairan Terpeleset 2 5 H - Lantai tidak di keramik 2 3 M
dan pemahaman material dan oli - Terdapatt geng way (safety line)
- Sepatu safety
- Lantai diberihkan setiap 1 hari / 1 x
Crane yang bergerak di atap operator Tertimpa 4 2 H - Crane di sertifikasi 1 tahun / 1 X 3 2 M

Raw material (alumunium, besi,dsb) yang - Tersayat 2 5 H - Pekerja memakai sarung tangan 2 4 H
tajam - Tergores
Raw material (alumunium, besi,dsb) - Gangguan pernapasan 3 4 H - medical check-up 3 3 H
- kanker paru-paru - Masker
- paru-paru basah
Posisi pekerja jongkok, berdiri, dan duduk Gangguan ergonomi 3 4 H Terdapat bangku untuk pekerja selama proses 3 2 M
dilakukan secara berulang-ulang running
Bahan dan alat berbahaya yang memiliki Kebakaran 4 2 H - Tersedia APAR 3 2 M
risiko terbakar, terdapatt didalam satu - Jalur evakuasi
gedung produksi bidang dan Departemen - Tanda alat APAR
- Tanda dilarang merokok
yang lain
- Terdapat SOP manajemen kebakaran

100
Project/Task Risk Assessment Fataum & Guide Departemen : Machining
Bidang Profiling Prismatic Machine
Mesin MATEC Mesin JOBS Nama Pekerjaan :
Mesin
Kedua mesin memiliki karakteristik dan material yang sama CNS Operation
Peringkat Risiko Sisa Risiko
No. Langkah Aktivitas Potensi Bahaya Risiko Pengendalian
C LL RR C LL RR
3. Melakukan set up Lantai licin disebabkan oleh cairan Terpeleset 2 5 H - Lantai tidak di keramik 2 3 M
material dan oli - Terdapatt geng way (safety line)
- Sepatu safety
- Lantai diberihkan setiap 1 hari / 1 x
Kondisi meja mesin dan material yang Tergelincir 3 4 H - Sepatu safety 2 3 M
licin - (APD) Sarung tangan
Crane yangbergerak di atap operator Tertimpa 4 2 H - Crane di sertifikasi 1 tahun / 1 X 3 2 M

Alat kerja yang cukup berat dan bahaya Tertiban 2 3 M - sepatu safety 2 2 L
(kunci, palu, karet, pin, vacum, majun, - alat diletakkan di tempat penyimpanan alat
sling, eye bolt, T-Nut, hand gun, obeng
dan Dial indicator, dll)
- Cutter pin saat pemasang di mesin - Tersayat 2 3 M - (APD) Sarung tangan 2 2 L
- Raw material (alumunium, besi,dsb) - Jari terpotong - Terdapatt alat angkut berat untuk membawa raw
yang tajam material
Ruang produksi di Departemen lain yang Kebakaran (risiko ruang kerja) 4 2 H - Tersedia APAR 3 2 M
memiliki potensi kebakaran, satu gedung - Jalur evakuasi
dengan bidang profiling machine - Tanda alat APAR
- Tanda dilarang merokok
- Terdapat SOP manajemen kebakaran
Posisi pekerja jongkok, berdiri, dan duduk Gangguan ergonomi 3 3 H Terdapat bangku untuk pekerja selama proses 3 2 M
dilakukan secara berulang-ulang running
4. Melakukan running Area di dalam safety line mesin Double Terpeleset 2 5 H - Lantai tidak di keramik 2 3 M
produksi Gantry dengan kondisi lantai licin - Terdapatt geng way (safety line)
disebabkan oleh cairan material dan oli - Sepatu safety
- Lantai diberihkan setiap 1 hari / 1 x
Crane yang bergerak di atap operator Tertimpa 4 2 H - Crane di sertifikasi 1 tahun / 1 X 3 2 M

Memahami masalah kondisi cutter pin - Jari terpotong 3 3 H 3 2 M


-
saat mesin beroperasi
Proses pembentukan dan pelubangan Cipratan dural 3 4 H Disain mesin sudah terisolasi dengan tertutup, pada 2 2 L

101
Project/Task Risk Assessment Fataum & Guide Departemen : Machining
Bidang Profiling Prismatic Machine
Mesin MATEC Mesin JOBS Nama Pekerjaan :
Mesin
Kedua mesin memiliki karakteristik dan material yang sama CNS Operation
Peringkat Risiko Sisa Risiko
No. Langkah Aktivitas Potensi Bahaya Risiko Pengendalian
C LL RR C LL RR
material, hasilnya chips terbang-terbang (baja/alumunium) yang dapat saat running pekerja dilarang masuk kedalam
mengenai mata mesin
Suara mesin yang keras (bising) Gangguan pendengaran 4 5 E - Dilakukan pengukuran jika ada permintaan 3 4 H
- (APD) ear muff / ear plug
Limbah material berbentuk chips (tajam) Gangguan kesehatan (kanker 4 5 E - Dibersihkan setiap proses pembentukan material 3 4 H
dan proses pembentukan material pada paru-paru, paru-paru basah) setiap hari
saat diberi cooling (pendingin) - Diberikan kepada pihak ketiga yang
menggunakan limbah material tersebut
menyisakan cairan berbahaya berwarna
putih keabu-abuan
Limbah material yang tersisa berbentuk Tertusuk chips 3 4 H - Sepatu safety 3 3 H
chips (kecil & tajam) yang jatuh di meja
mesin dan sekitar mesin
Ruang produksi di Departemen lain yang Kebakaran (risiko ruang kerja) 4 2 H - Tersedia APAR 3 2 M
memiliki potensi kebakaran, satu gedung - Jalur evakuasi
dengan bidang profiling machine - Tanda alat APAR
- Tanda dilarang merokok
- Terdapat SOP manajemen kebakaran
5. Melaksanakan handling / Pemasangan pengait Crane ke material Terjepit 3 3 H - Sarung tangan 3 2 M
load – unload material - melakukan maintenance pada Crane
material yang diangkat, tinggi melebihi di Tertiban material (berat 500 kg 4 3 E - Pelatihan 3 2 M
atas kepala – 6 ton) - Sepatu safety
Crane yang bergerak di atas operator dan Tertimpa benda dari atas 4 3 E - Pelatihan penggunaan Crane 3 2 M
pekerja - Sepatu safety
Kondisi meja mesin dan material yang - Tergelincir 3 4 H - Lantai dan sisa limbah dibersihkan setiap hari 2 3 M
licin - Terpeleset - Sepatu safety
- Terjatuh
Memegang material saat dibalik dengan - Tersayat 3 4 H (APD) sarung tangan 2 3 M
Crane
Proses pembentukan material pada saat - Gangguan pernapasan 4 4 E Masker 4 3 E
diberi cooling (pendingin) menyisakan - Gangguan kesehatan (kanker

102
Project/Task Risk Assessment Fataum & Guide Departemen : Machining
Bidang Profiling Prismatic Machine
Mesin MATEC Mesin JOBS Nama Pekerjaan :
Mesin
Kedua mesin memiliki karakteristik dan material yang sama CNS Operation
Peringkat Risiko Sisa Risiko
No. Langkah Aktivitas Potensi Bahaya Risiko Pengendalian
C LL RR C LL RR
cairan berbahaya berwarna putih keabu- paru-paru, paru-paru basah),
abuan
Limbah material yang tersisa berbentuk Tertusuk chips 3 4 H - Sepatu safety 3 3 H
chips (kecil & tajam) yang jatuh di meja
mesin dan sekitar mesin
Ruang produksi di Departemen lain yang Kebakaran (risiko ruang kerja) 4 2 H - Tersedia APAR 3 2 M
memiliki potensi kebakaran, satu gedung - Jalur evakuasi
dengan bidang profiling machine - Tanda alat APAR
- Tanda dilarang merokok
- Terdapat SOP manajemen kebakaran
Posisi pekerja jongkok, berdiri, dan duduk Gangguan ergonomi 3 4 H Terdapat bangku untuk pekerja selama proses 3 2 M
dilakukan secara berulang-ulang running

Keterangan :
C : Konsekuensi
LL : Kemungkingkan terjadi
RR : Penilaian Risiko = C × LL

103
Berdasarkan hasil tabel 5.2 di atas, bahwa diketahui dari 5 tahapan proses

kerja di bagian mesin MATEC dan JOBS memiliki potensi bahaya dan risiko

yang berbeda-beda, tetapi potensi bahaya yang ada cenderung sama. Sehingga

risiko yang muncul cenderung sama di setiap proses kerja. Hasil penilaian risiko

dari perkalian konsekuensi dan kemungkinan terjadi menunjukan peringkat risiko

di mesin tersebut mulai dari low risk sampai extreme risk, dengan rata-rata

tingkat risiko high risk. Sedangkan hasil sisa risiko setelah dilakukan

pengendalian tidak mengalami perubahan yang signifikasn, kecuali pada proses

running potensi bahaya yang muncul yaitu chips yang dapat terbang-terbang,

sehingga dapat mengenai mata mendapatkan nilai sisa risiko yang berbeda jauh.

Hal tersebut dikarenakan bentuk dari mesin yang sudah diberikan pengendalian

isolasi dari pabrik mesin, sehingga paparan potensi bahaya yang akan mengenai

pekerja dapat berkurang.

Selain itu pada potensi bahaya dan risiko lainnya tidak mengalami

perubahan yang siginifikan, karena hirarki pengendalian dengan pendekatan

eliminasi, substitusi, teknis, dan administrasi belum diterapkan secara maksimal

di bagian tersebut. Pengendalian lebih mengutamakan kepada pengadaan dan

penggunaan APD untuk pekerja agar terhindar dari potensi bahaya, serta

melakukan pelatihan-pelatihan untuk karyawan baru dan rotasi kerja.

Kesimpulan dari ketiga bagian di Bidang Profilling Prismatic Machine

memiliki fungsi kerja yang sama, sehingga potensi bahaya dan risiko yang

dihasilkan sama. Sedangkan bentuk mesin, kecepatan mesin antara DGMP dan

DGAL dengan MATEC dan JOBS berbeda, sehingga sisa risiko yang dihasilkan

juga akan berbeda. Misalnya, pada potensi bahaya chips terbang-terbang peringkat

104
risiko yang dihasilkan dengan high risk. Akan tetapi, karena mesin MATEC dan

JOBS sudah ada pengendalian isolasi / mesin dikerangkeng dari disain pabrik,

maka sisa risiko yang dihasilkan menjadi low risk. Berbeda dengan mesin DGMP

dan DGAL yang tidak penerapan pengenndalian dengan pendeketan teknik, hanya

mengandalkan sarung tangan saja, oleh karena itu sisa risikonya sama dengan

peringkat risikonya yaitu high risk. Penilaian risiko tersebut terdapat dalam tabel

5.1 dan 5.2 identifikasi di ketiga bagian di Bidang Profilling Prismatic Machine.

105
5.2.3 Daftar Potensi Bahaya dan Risiko di Bidang Profilling Prismatic

Machine

Berdasarkan potensi bahaya yang terdapat di Bidang Profilling

Prismatic Machine pada ketiga bagian mesin , bahwa memiliki risiko yang

berbeda-beda, akan tetapi pada beberapa proses kerja memiliki risiko

bahaya yang sama. Oleh karena itu, dapat disimpulkan daftar potensi

bahaya dan risiko mesin DGMP dan DGAL dengan kecepatan memotong

3000 rpm dan bagian mesin MATEC dan JOBS dengan kecepatan

memotong > 3000 rpm, dijelaskan seperti tabel dibawah ini.

TABEL 5.3
Daftar Potensi Bahaya dan Risiko di Bidang Profilling
Prismatic Machine
Terdapat Terdapat
Keterangan pada pada
No. Potensi Bahaya Risiko Bahaya Tahapan mesin mesin
pada Proses DGMP MATEC
dan DGAL dan JOBS
Lantai licin disebabkan oleh cairan
1, 2, 3
material dan oli
Area di dalam safety line mesin
Terpeleset
1. Double Gantry dengan kondisi lantai 4
licin disebabkan oleh collant dan oli
Kondisi meja mesin dan material
3, 4, 5
yang licin
Bekerja diketinggian lebih dari 1 m
2. (meja mesin : ±1 m) dan (mesin Terjatuh 1,2, 3, 4, 5 --
DGMP dan DGAL : ± > 3 m)
Crane yang bergerak di atap
3. operator
Tertimpa 1, 2, 3, 4, 5

- Cutter pin saat pemasang di mesin


Tersayat
4. - Raw material (alumunium, besi
Tergores
1, 2, 3, 4, 5
baja, ,dsb) yang tajam
Memahami kondisi cutter pin saat
5. mesin beroperasi
Jari terpotong 4

- Gangguan
Material hasil coollant yang
pernapasan
6. berbahaya yang berwarna putih 1,2 , 5
- kanker paru-paru
keabu-abuan
- paru-paru basah
- Tersengat listrik
7. Unsafe condition - Tersandung 2, 3

Posisi pekerja naik turun keatas meja


Gangguan ergonomi
8. mesin, posisi jongkok dan dilakukan
(low back pain)
2, 3, 4, 5 --
secara berulang-ulang

106
Terdapat Terdapat
Keterangan pada pada
No. Potensi Bahaya Risiko Bahaya Tahapan mesin mesin
pada Proses DGMP MATEC
dan DGAL dan JOBS
Posisi pekerja jongkok, berdiri, dan
Gangguan ergonomi --
duduk dilakukan secara berulang- 2,3,5
(low back pain)
ulang
Alat kerja yang cukup berat dan
bahaya (kunci, palu, karet, pin,
9. vacum, majun, sling, eye bolt, T- Tertiban 3
Nut, hand gun, obeng dan Dial
indicator, dll)
Mesin dengan ukuran besar, pekerja
10. dapat masuk dibawah bagian mesin Tergencet 3 --
yang berbahaya
Cipratan dural
Proses pembentukan dan pelubangan
(baja/alumunium)
11. material, hasilnya chips terbang-
yang dapat
4 --
terbang
mengenai mata
Gangguan
12. Suara mesin yang keras (bising)
pendengaran
4

Limbah material yang tersisa


berbentuk chips (kecil & tajam) Tertusuk chips
13. yang jatuh di meja mesin dan sekitar
4, 5

mesin
Pemasangan pengait Crane ke
14. material
Terjepit 5

Tertiban material
material yang diangkat, tinggi (berat 500 kg – 6
15. melebihi di atas kepala ton)
5

Terbentur material
Penyemprotan material dengan Sisa material
16. angin saat didirikan oleh Crane mengenai mata
5

Ruang produksi di departemen lain


yang memiliki potensi kebakaran, Kebakaran (risiko
17. satu gedung dengan bidang ruang kerja)
1, 2, 3, 4, 5
Profiling Prismatic Machine

Keterangan :
- Proses 1 : Start up mesin

- Proses 2 : Melakukan pemeriksaan dan pemahaman

- Proses 3 : Melakukan set-up

- Proses 4 : Melakukan running produksi

- Proses 5 : Melaksanakan handling / load – unload material

Berdasarkan hasil tabel 5.3 di atas, bahwa pada mesin DGMP dan DGAL,

terdapat 19 daftar potensi bahaya dan 22 risiko yang dirangkum menjadi 17

bagian di tabel tersebut, karena terdapat lebih dari satu risiko di satu kolom tabel
107
potensi bahaya dan terdapat lebih dari satu potensi bahaya dalam satu risiko.

Sedangkan pada mesin MATEC dan JOBS, terdapat 17 daftar potensi bahaya dan

18 risiko yang dirangkum menjadi 14 bagian di tabel tersebut, karena terdapat

lebih dari satu risiko di satu kolom tabel potensi bahaya dan terdapat lebih dari

satu potensi bahaya dalam satu risiko.

Berdasarkan daftar potensi bahaya dan risiko di mesin DGMP dan DGAL

bahwa dapat disimpulkan risiko yang muncul yaitu terpeleset, tertimpa, gangguan

pernapasan, tersayat, jari terpotong, tersengat listrik, tersandung, gangguan

ergonomi, tertiban, tergencet, cipratan dural yang mengenai mata, gangguan

pendengaran, tertusuk chips, terjepit, tertiban material seberat 500 kg – 6 ton, sisa

material mengenai mata, serta risiko terjadinya kebakaran. Sedangkan risiko yang

muncul di mesin MATEC dan JOBS yaitu terpeleset, tertimpa, gangguan

pernapasan, tersayat, tergores, jari terpotong, tersengat listrik, tersandung,

gangguan ergonomi, tertiban, tergencet, gangguan pendengaran, tertusuk chips,

tertiban material seberat 500 kg – 6 ton, serta risiko terjadinya kebakaran.

108
5.3 Keberadaan Safety Sign Bidang Profilling Prismatic Machine

Berdasarkan hasil observasi keberadan safety sign yang disesuaikan dengan daftar potensi bahaya dan risiko di Bidang Profilling

Prismatic Machine yang dibagi berdasarkan 3 bagian mesin yaitu DGMP, DGAL, MATEC dan JOB S seperti tabel 5.4 di bawah ini.

TABEL 5.4
Keberadaan Safety Sign di Bidang Profilling Prismatic Machine
Keberadaan Safety
Keberadaan Safety Sign Keberadaan Safety Sign Sign
No. Potensi Bahaya Risiko Keterangan Keterangan Keterangan
Di Mesin DGMP Di Mesin DGAL Di Mesin MATE &
JOBS
Lantai licin
disebabkan oleh
cairan material dan Tidak menunjukkan
oli tanda peringatan
bahwa adanya risiko
Area di dalam terpeleset hanya
safety line mesin dibatasi dengan safety - Terdapatt safety line
Double Gantry line (geng way). - Terdapatt 1 tanda
dengan kondisi Hanya saja bahaya terpeleset yang
lantai licin pengendalian dengan gantungkan dengan
Tidak ada tanda potensi
disebabkan oleh menggunakan sepatu diberi tiang didepan
1. Terpeleset - bahaya dengan risiko
collant dan oli safety terdapat 2 tanda mesin DGAL-F
terpeleset
mandatory - Terdapatt 1 tanda sepatu
penggunaan sepatu safety di gantungkan
safety di samping meja disamping mesin
mesin DGMP-C dan di DGAL-H
Kondisi meja ujung jalan
mesin dan material ditempelkan di tembok
yang licin dengan jarak 20 m dari
mesin

109
Keberadaan Safety
Keberadaan Safety Sign Keberadaan Safety Sign Sign
No. Potensi Bahaya Risiko Keterangan Keterangan Keterangan
Di Mesin DGMP Di Mesin DGAL Di Mesin MATE &
JOBS
Tidak ada
menunjukkan tanda
peringatan bahwa
adanya risiko terjatuh.
Hanya saja
Bekerja pengendalian dengan
diketinggian lebih menggunakan sepatu
2. Tidak ada tanda bahaya
dari 1 m (meja safety dan terdapat 2
Terjatuh terjatuh. Hanya ada 1 tanda ----
mesin : ±1 m) dan tanda mandatatau
mandatory sepatu safety
(mesin DGMP dan sepatu safety di
DGAL : ± > 3 m) samping mesin
DGMP-C dan di
ujung jalan
ditempelkan di tembok
dengan jarak 20 m dari
mesin
Tidak ada yang
menunjukkan risiko
3. Crane yang
jika ada Crane yang Tidak ada tanda bahaya Tidak ada tanda bahaya
bergerak di atap Tertimpa - - -
bergerak untuk aktivitas Crane aktivitas Crane
Operation
melakukan operasi di
mesin yang lain.

- Cutter pin saat


Tidak ada tanda risiko
pemasang di Tidak ada tanda potensi
tersayat atau tergores Tidak ada tanda risiko
4. mesin bahaya dengan risiko
Tersayat serta juga tidak ada tersayat dan tidak ada
- Raw material - - tersayat, hanya ada tanda
Tergores tanda mandatory tanda mandatory
(alumunium, prohibition gunting di
penggunaan APD penggunaan sarung tangan
besi,dsb) yang dinding pentutup mesin
sarung tangan.
tajam

Tidak ada indikasi


adanya potensi
5. Memahami kondisi Tidak ada tanda bahaya Tidak ada tanda bahaya
- tersayat dan juga tidak
cutter pin saat Jari terpotong - cuuter dan risiko jari cutter pin yang berisiko
ada tanda mandatory
mesin beroperasi terpotong jari terpotong
penggunaan APD
sarung tangan

119
Keberadaan Safety
Keberadaan Safety Sign Keberadaan Safety Sign Sign
No. Potensi Bahaya Risiko Keterangan Keterangan Keterangan
Di Mesin DGMP Di Mesin DGAL Di Mesin MATE &
JOBS

Potensi pada saat


coollant, chips yang
berserakan dilantai dan
- Gangguan
Material hasil sekitar meja mesin,
pernapasan
coollant yang ram material yang Tidak ada tanda potensi
- kanker Tidak ada tanda risiko
6. berbahaya yang diletakkan di samping - - bahaya dengan risiko
paru-paru pada gangguan kesehatan
berwarna putih - mesin. Tidak ada tanda gangguan pernapasan
paru-paru
keabu-abuan infataumasi bahwa
basah
pekerja harus
menggunakan masker
dan bahan berbahaya.
Tidak terdapat tanda
- Tersengat
7. indikasi adanya Tidak ada tanda bahaya Tidak ada tanda bahaya
listrik -
Unsafe condition sengatan listrik hanya - tersengat listrik dan tanda - aliran listrik dan risiko
- Tersandung
pengendalian dengan tersandung tersandung
disediakannya APAR.
Posisi pekerja naik
turun keatas meja
Tidak ada tanda Tidak ada tanda bahaya
mesin, posisi
- bahaya gangguan - dengan risiko gangguan ----
jongkok dan
Gangguan ergonomi ada pekerja ergonomi pada pekerja
8. dilakukan secara
ergonomi
berulang-ulang
(low back
Posisi pekerja pain) Tidak ada tanda potensi
jongkok, berdiri,
bahaya dengan risiko
dan duduk --- -
gangguan ergonomi pada
dilakukan secara
pekerja
berulang-ulang

111
Keberadaan Safety
Keberadaan Safety Sign Keberadaan Safety Sign Sign
No. Potensi Bahaya Risiko Keterangan Keterangan Keterangan
Di Mesin DGMP Di Mesin DGAL Di Mesin MATE &
JOBS

Alat kerja yang


cukup berat dan
Tidak terdapat tanda Tidak ada tanda risiko Tidak ada tanda potemsi
bahaya (kunci,
bahaya tertiban . hanya tertiban benda kerja atau bahaya dengan risiko
9. palu, karet, pin,
terdapat tanda alat kerja, tidak ada tertiban dengan alat kerja
vacum, majun, Tertiban -
mandatory mandatory penggunaan dan juga tidak ada
sling, eye bolt, T-
penggunaan sepatu Helm, hanya ada 1 tanda mandatory penggunaan
Nut, hand gun,
safety penggunaan sepatu safety sepatu safety
obeng dan Dial
indicatatau, dll)

Mesin dengan
10. ukuran besar, - -
pekerja dapat Tidak terdapat tanda Tidak terdapatt tanda
Tergencet ----
masuk dibawah bahaya tergencet bahaya tergencet
bagian mesin yang
berbahaya
Cipratan Terdapat satu tanda
Proses
dural mandatory Tidak ada tanda bahaya
11. pembentukan dan
(baja/alumuni penggunaan kaca dari risiko cipatran dural, Terdapat tanda
pelubangan
um) yang mata, akan tetapi hanya ada satu tanda prohibition dilarang
material, hasilnya
dapat letaknya ± 20 m dari mandatory pengunaan kaca masuk
chips terbang-
mengenai area kerja mesin mata
terbang
mata DGMP
Mandatory safety sign
Tidak ada himbauan Tidak ada tanda
penggunaan Ear muff
12. besaran hasil desibel informasi tentang besar
hanya satu di area
Suara mesin yang Gangguan kebisingan di area kerja kebisingan di area kerja
mesin DGMP yaitu - -
keras (bising) pendengaran mesin DGAL dan tidak ada dan tidak ada tanda
terletak ± 20 m dari
himbauan adanya mandatory penggunaan
mesin DGMP-
penggunaan ear muff safety sign
(A,B,C,D,E)

112
Keberadaan Safety
Keberadaan Safety Sign Keberadaan Safety Sign Sign
No. Potensi Bahaya Risiko Keterangan Keterangan Keterangan
Di Mesin DGMP Di Mesin DGAL Di Mesin MATE &
JOBS

Tidak ada tanda


Limbah material
bahaya tertusuk chips,
yang tersisa Tidak ada tanda potensi
13. hanya terdapat tanda
berbentuk chips Tertusuk bahaya dengan risiko
penggunaan sepatu
(kecil & tajam) chips tertusuk chips, hanya ada 1 ----
safety di samping
yang jatuh di meja tanda mandatory
mesin DGMP-C dan di
mesin dan sekitar penggunaan sepatu safety
ujung jalan sejauh ±
mesin
20 m

14.
Pemasangan Tidak ada tanda Tidak ada tanda potensi Tidak ada tanda potensi
pengait Crane ke Terjepit - bahaya risiko terjepit - bahaya dengan risiko - bahaya limbah materiah
material oleh mesin atau dural. terjepit dan risiko tertusuk chips

Tidak ada tanda


bahaya tertiban
Tertiban
material, hanya Tidak ada tanda potensi
15. material yang material
terdapat tanda bahaya material dengan Tidak ada tanda potensi
diangkat, tinggi (berat 500 kg
penggunaan sepatu risiko tertiban dan - bahaya dengan risiko
melebihi di atas – 6 ton)
safety di samping terbentur material.hanya tertiban material
kepala Terbentur
mesin DGMP-C dan di ada 1 tanda sepatu safety
material
ujung jalan sejauh ±
20 m

Tidak ada tanda bahaya


Hanya ada 1 tanda material yang dapat
16. Penyemprotan mandatory kaca mata, mengenai mata dan
Sisa material
material dengan tidak ada tanda mandatory penggunaan
mengenai ----
angin saat didirikan mandatory masker & sarung tangan.
mata
oleh Crane menggunakan masker Hanya ada 1 tanda
dan sarung tangan mandatory penggunaan
kaca mata

113
Keberadaan Safety
Keberadaan Safety Sign Keberadaan Safety Sign Sign
No. Potensi Bahaya Risiko Keterangan Keterangan Keterangan
Di Mesin DGMP Di Mesin DGAL Di Mesin MATE &
JOBS

Terdapat 3 buah
APAR yang masih
dapat digunakan dan
Ruang produksi di
tanda merah segitiga
Departemen lain Terdapatt 1 APAR dan 1
17. alat pemadam Tidak ada tanda segitiga
yang memiliki Kebakaran tanda segitiga merah yang
kebakaran. Letak pemadam api dan APAR
potensi kebakaran, (risiko ruang mengindikasikan adanya -
APAR kehalangan dan jalur evakuasi yang
satu gedung dengan kerja) alat pemadam di samping
oleh mesin yang besar tepat
bidang p Profiling meja operator
dan terdapat tanda
Prismatic Machine
dilarang merokok di
letakkan di sentral
seluruh mesin DGMP.

114
Berdasarkan tabel 5.4 di atas, bahwa safety sign yang terpasang

berdasarkan hasil observasi di lingkungan kerja Bidang Profilling Prismatic

Machine berdasarkan bagian mesin DGMP, DGAL, MATEC dan JOBS belum

memenuhi semua standar potensi bahaya sesuai dengan proses kerjanya.

Berdasarkan hasil identifikasi bahaya dengan disimpulkan daftar potensi bahaya

dan risiko di mesin DGMP dan DGAL bahwa safety sign yang terdapat di area

kerja tersebut hanya berupa mandatory sign saja seperti sepatu safety, kaca mata

safety. Berdasarkan hasil penilaian risiko pada tabel 5.1 risiko rata-rata dari

proses kerja di mesin DGMP dan DGAL dengan skor risiko tinggi.

Begitu juga di bagian mesin MATEC dan JOBS, belum memenuhi semua

standar potensi bahaya dan risiko sesuai dengan proses kerjanya. Berdasarkan

hasil identifikasi bahaya dengan disimpulkan daftar potensi bahaya dan risiko di

mesin MATEC dan JOBS bahwa safety sign yang terdapat di area kerja tersebut

hanya berupa safety sign yang berasal dari pabrik pembuat mesin. Sign tersebut

hanya mengindikasikan adanya potensi bahaya yang muncul di mesin jika

beroperasi. Safety sign di mesin MATEC dan JOBS juga belum dibuat sama

sekali oleh pihak Departemen K3LH maupun manajerial dari Bidang Profilling

Prismatic Machine. Berdasarkan hasil penilaian risiko pada tabel 5.1 nilai risiko

rata-rata dari proses kerja di mesin MATEC dan JOBS dengan skor risiko tinggi.

Pengendalian dengan teknik dan administrasi juga belum maksimal

dilaksanakan di Bidang Profilling Prismatc Machine. Seharusnya jika safety sign

di area kerja diterapkan secara optimal sesuai potensi bahaya dan risiko akan

memberikan peringatan atau tanda hati-hati kepada pekerja, agar pekerja merasa

aman dan selamat dalam bekerja.

115
5.3.1 Prosedur Penerapan Safety Sign di Departemen Machining

Safety sign adalah tanda keselamatan yang diterapkan di

perusahaan untuk mengindikasikan adanya potensi bahaya, perintah untuk

menggunakan APD atau pekerjaan lain, jalur evakuasi, dsb. Kesimpulan

dari hasil matriks wawancara mendalam informan utama yaitu berdasarkan

potensi bahaya dari hasil identifikasi bahaya, audit, rekomendasi

investigasi jika terjadi kecelakaan, serta sampai tahap mendisain dan

mencetak warning sign. Sedangkan kesimpulan hasil matriks informan

pendukung prosedur penerapan safety sign di departemen machining yaitu

dilakukan oleh tim K3LH produksi dan pengadaan safety sign dari

Departemen K3LH. Sebelumnya, penempatan safety sign disesuaikan

dengan bahaya dan penggunaan APD yang bekerja sama dengan pihak

produksi/bengkel. Kesimpulan tersebut dapat dibuktikan dari pernyataan

informan utama dan pendukung dengan kutipan sebagai berikut :

Informan 01 :

“Nah, di HIRAC itu kan ada yak, kemudian didalam sub itu tadi
diakhirnya kan ada administratif. Disitulah kita lakukan, oh ini harus
safety sign dipasang, apa. Nah, itu apa ya yang juga udah cetak banyak.
Jadi kita himbau safety sign yang sudah labur, sudah rusak dll. Diganti.
Yang lain, ada proses baru, dimana ada potensi bahayanya yang apa,
perintahnya apa, tinggal pinta kesini.“

Informan 03 :

“ .... , dari langkah awal yah, dari mendisain, di fungsi kita kan ada, fungsi
saya itu ada pengadaan warning sign, diantaranya kita membuat
merencanakan kebutuhan dibengkel itu seperti apa, ...... kebanyakan harus
memakai safety atau sepatu safety atau harus apa kalau digudang harus
pakai masker dan lain2.”

116
Informan 04

“..... berdasarkan satu inspeksi dilapangan yaa kalau sekarang itu lebih
cenderung audit. Yaa untuk selanjutnya yaa, kemudian biasanya kalau ada
investigasi kecelakaan dimana ada kekurangan safety sign itu bisa juga..”

5.3.2 Standar Safety Sign yang Digunakan

Standar safety sign yang digunakan berdasarkan kesimpulan hasil

matriks wawancara dengan informan utama yaitu mengikuti kebijakan

terdahulu, menggunakan beberapa referensi sumber internet serta lebih

menganut ke standar Amerika yaitu ANSI. Kesimpulan tersebut dapat

didukung oleh pernyataan informan utama dengan kutipan sebagai berikut

Informan 01

“........... dari kita sudah menggunakan manual kebijakan K3LH aja,


nomor berapa, cuman kan disitu terakhir ada referensinya.”

“ referensi dari vendatau.”

“Nah kita pakai semua, semua kita pakai. Makanya tadi kan, dari audit
dari ANSI dari standar Amerika, nah kita pakai standar Amerika. Supaya
sama gitu, sudut pandang persepsinya, dengan fataumat yang sama.”

Informan 02

“gak tau, ini pak ya*** tuh, pak ya*** (informan03) itu yang
pengukurannya. Saya juga engga tau dari mana. Sebenarnya gini, dalam
manual itu dibelakangnya ada yah.”

“Jadi kita engga spesifik ke BSI.. saya engga terlalu ini yah.. jadi
referensinya ya kalau menurut saya si searching darimana mana.. jadi
manual kabeh aya diditu terus di ditu aya, jadi kesemua, tidak mengacu

117
kemana-mana. Tapi kalau disini kan diliyat dari kepantasan yang ada di
lingkungan. ”

Informan 03

“Kayanya kita ngambil dari referensi mana2 yah, ..... ”

Informan 04

“safety sign itu kita ngadopnya itu... (diam) kita itu OHSAS biasanya
karena kemarin itu kan kaya semacam hanya menjelaskan ini yah,
warning sign sistem ini kan yang wajib biru, tapi kalau menurut ini
wajibnya kuning.. nah ANSI ya kalau warna kuning itu. Nah itu yang
wajib dikita itu kuning.”

5.3.3 Petugas yang Memasang Safety Sign

Pemasangan safety sign berdasarkan kesimpulan hasil matriks

wawancara mendalam dengan informan utama yaitu pengadaan terpusat di

Departemen K3LH, yang memasang bisa dari Supervisor yang meminta

ke Departemen K3LH, kataupatauasi K3LH produksi maupun pihak

P2K3 sebagai jembatan antara produksi dan K3LH. Sedangkan

kesimpulan hasil matriks wawancara mendalam dengan informan

pendukung yaitu Kerjasama antara atauang dari machining, K3LH

produksi dan Departemen K3LH. Kesimpulan dari informan utama dan

pendukung memiliki jawaban yang sama bahwa pemasangan safety sign

dilakukan oleh kerjasama anatara Departemen K3LH, pihak kataupatauasi

K3LH, Supervisor sebagai pihak dari bengkel, dan P2K3 sebagai jembatan

antara keduanya. Kesimpulan itu dapat dibuktikan dari pernyataan

informan utama dan pendukung dengan kutipan sebagai berikut :

118
Informan 02 :

“yaa kita, tapi sebenernya kalau ada yang minta kita kasih, gituu..”

Informan 04 :

“kalau sekarang itu karena sudah di desentralisasi, jadi warning sign


yang sekarang yang pasang itu oleh Organisasi yang terkait. Jadi kalau
disana misalkan disana teh ada K3LH nya, kadang2 orang K3LH nya
minta berapa puluh untuk di anu di anu.. kemudian mereka di
distribusikan lagi.. kalau P2K3 itu hanya untuk penjebatannya aja, kalau
praktek dilapangan itu harus dengan riset sebenarnya. Kaya kita bikin
risk assessment, nah risk assessment itu kan perlu diketahui unit
Organisasinya, yg tanda tangan itu P2K3nya itu..”

Informan 002 :

“kadang itu orang dari K3LH produksi yah, tapi pernah kita juga yang
memasang seperti tanda terjatuh itu..”

Informan 003 :

“itu kerjasama antara orang K3LH dan bengkel.”

Hasil kutipan di atas sudah memiliki tanggapan yang sama dan

jawaban sudah jenuh, pemasangan safety sign adalah kerja sama antara

pihak Departemen K3H dan Departemen Machining.

119
5.4 Analisa Kebutuhan Safety Sign Berdasarkan Hasil Identifikasi Bahaya di Bidang Profilling Prismatic Machine

Dari hasil identifikasi bahaya dengan karakteristik mesin dan proses pekerjaan, analisa kebutuhan safety sign terhadap bahaya, risiko dan

pengendaliannya pada proses kerja di bagian mesin DGMP dan DGAL yaitu dijelaskan pada tabel berikut :

TABEL 5.5
Analisa Kebutuhan Safety Sign Berdasarkan Hasil dari Manajemen Risiko dan Keberadaan Safety Sign pada Mesin DGMP (A-B-C-D), SGMP-
J, DGAL (E-F-G-H), SGAL-I, MATEC dan JOBS
Untuk Untuk
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian Kebutuhan Safety Sign Keterangan Mesin Mesin
DGMP & MATEC &
DGAL JOBS
1. Lantai licin disebabkan oleh Terpeleset - Lantai tidak di keramik Ditempatkan disamping meja mesin
cairan material dan oli - Terdapat geng way Caution - Risiko terpeleset dekat operator atau pekerja.
(safety line)
- Sepatu safety S = Small (20 x 40) cm2
- Lantai dibersihkan M = Medium (30 X 60) cm2
setiap 1 hari / 1 x Al. = Aluminium
ANSI Standard
Ac. = Acrylic
Lum = Luminous
Area di dalam safety line
mesin Double Gantry dengan Notice – APD (sepatu safety) S = Small (20 x 40) cm2
kondisi lantai licin disebabkan M = Medium (30 X 60) cm2
oleh collant dan oli Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic
Lum = Luminous
ANSI Standard

120
Untuk Untuk
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian Kebutuhan Safety Sign Keterangan Mesin Mesin
DGMP & MATEC &
DGAL JOBS
Kondisi meja mesin dan
material yang licin CAUTION – lintasan forklift Diletakkan di samping area safety line
memasuki area kerja mesin DGMP

S = Small (20 x 40) cm2


M = Medium (30 X 60) cm2
Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic
Lum = Luminous
ANSI Standard
2. Bekerja diketinggian lebih Terjatuh - Sepatu safety
dari 1 m (meja mesin : ±1 m) - Seragam kerja Caution – Risiko terjatuh
dan (mesin DGMP dan DGAL - Diberi tangga ke meja S = Small (20 x 40) cm2
mesin M = Medium (30 X 60) cm2
: ± > 3 m)
Ada tangga dan Al. = Aluminium
penyanggah di mesin ANSI Standard
Ac. = Acrylic
Meja mesin dan mesin gantry diberi tangga Lum = Luminous
--
S = Small (20 x 40) cm2
M = Medium (30 X 60) cm2
Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic
Lum = Luminous

3. Crane yang bergerak di atap Tertimpa Crane di sertifikasi 1 tahun


Operation /1X WARNING

S = Small (20 x 30) cm2


M = Medium (40 x 60) cm2
Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic
Lum = Luminous
BSI Standard

121
Untuk Untuk
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian Kebutuhan Safety Sign Keterangan Mesin Mesin
DGMP & MATEC &
DGAL JOBS

NOTICE – Gunakan Helm

S = Small (20 x 40) cm2


M = Medium (30 X 60) cm2
Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic
Lum = Luminous

ANSI + BSI Standard

4. - Cutter pin saat pemasang Tersayat Pekerja memakai sarung


di mesin Tergores tangan WARNING – bahaya benda tajam S = Small (20 x 40) cm2
- Raw material (alumunium, M = Medium (30 X 60) cm2
besi, baja, dsb) yang tajam Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic
ANSI standard Lum = Luminous

NOTICE – APD (sarung tangan)


S = Small (20 x 40) cm2
M = Medium (30 X 60) cm2
Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic
Lum = Luminous
ANSI + BSI Standard

5. Memahami kondisi cutter pin Jari terpotong -


S = Small (20 x 40) cm2
saat mesin beroperasi WARNING – bahaya benda tajam
M = Medium (30 X 60) cm2
Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic
Lum = Luminous

122
Untuk Untuk
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian Kebutuhan Safety Sign Keterangan Mesin Mesin
DGMP & MATEC &
DGAL JOBS

WARNING – bahaya cutter

ANSI Standard

NOTICE – APD (sarung tangan)


S = Small (20 x 40) cm2
M = Medium (30 X 60) cm2
Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic
Lum = Luminous
ANSI + BSI Standard

6. Material hasil coollant yang - Gangguan pernapasan - medical check-up Label Sign – Karsinogenik Ditempel dialat angkut raw material
berbahaya yang berwarna - kanker paru-paru - Masker Dengan ukuran : small (10 x 10) cm2
putih keabu-abuan - paru-paru basah

Respiratatauy sensitization, categatauy


1
Germ cell mutagenicity, categatauies
1A, 1B, 2
Carcinogenicity, categatauies 1A, 1B, 2
Reproductive toxicity, categatauies 1A,
1B, 2
Specific target ataugan toxicity
following single exposure, categatauies
1, 2

123
Untuk Untuk
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian Kebutuhan Safety Sign Keterangan Mesin Mesin
DGMP & MATEC &
DGAL JOBS
Specific target ataugan toxicity
following repeated exposure,
categatauies 1, 2
Aspiration hazard, categatauies 1, 2

S = Small (10 x 10) cm2


M = Medium (30 x 30) cm2
L = Large (60 x 60) cm2

NOTICE - APD (masker)


S = Small (20 x 40) cm2
M = Medium (30 X 60) cm2
Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic
Lum = Luminous
ANSI Standard

7. Unsafe condition - Tersengat listrik


- Tersandung WARNING – bahaya tegangan Ditempel di dekat mesin

ATAU S = Small (20 x 40) cm2


M = Medium (30 X 60) cm2
Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic
ANSI Standard Lum = Luminous

124
Untuk Untuk
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian Kebutuhan Safety Sign Keterangan Mesin Mesin
DGMP & MATEC &
DGAL JOBS
Dapat dipajang / diempel di samping
CAUTION – Bahaya Tersandung tumpukan raw material atau didalam
geng way

S = Small (20 x 40) cm2


M = Medium (30 X 60) cm2
ANSI Standard Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic
Lum = Luminous
8. Posisi pekerja naik turun Gangguan ergonomi Diberi tangga untuk CAUTION – Lakukan kerjaan Per tahap Ditempatkan disamping tangga meja
keatas meja mesin, posisi memudahkan pekerja naik mesin dan mesin gantry
jongkok dan dilakukan secara turun
berulang-ulang
S = Small (20 x 40) cm2 --
M = Medium (30 X 60) cm2
Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic
BSI Standard Lum = Luminous
Posisi pekerja jongkok, Terdapat bangku untuk
berdiri, dan duduk dilakukan pekerja selama proses Hati-hati
secara berulang-ulang running

--

BSI Standard

125
Untuk Untuk
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian Kebutuhan Safety Sign Keterangan Mesin Mesin
DGMP & MATEC &
DGAL JOBS
9. Alat kerja yang cukup berat Tertiban - Sepatu safety Notice – APD (sepatu safety)
dan bahaya (kunci, palu, - Alat diletakkan S = Small (20 x 40) cm2
karet, pin, vacum, majun, ditempat M = Medium (30 X 60) cm2
sling, eye bolt, T-Nut, hand penyimpanan alat Al. = Aluminium
gun, obeng dan Dial Ac. = Acrylic
indicatatau, dll) Lum = Luminous
ANSI Standard

WARNING – manual handling yang benar Ditempatkan di dekat penyimpanan alat-


untuk pekerja alat

S = Small (20 x 40) cm2


M = Medium (30 X 60) cm2
Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic
ANSI standard Lum = Luminous

10. Mesin dengan ukuran besar, Tergencet Trainning pada pekerja


pekerja dapat masuk dibawah baru WARNING untuk pekerja – Bahaya Terjepit /
bagian mesin yang berbahaya tergencet
Ditempelkan / dipajang di mesin Gantry

S = Small (20 x 40) cm2


M = Medium (30 X 60) cm2 --
Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic
Lum = Luminous

ANSI Standard

11. Proses pembentukan dan Cipratan dural - (APD) kaca mata / Label Sign – Karsinogenik Ditempel dialat angkut raw material
pelubangan material, hasilnya (baja/alumunium) yang safety googles
Dengan ukuran : small (10 x 10) cm2

126
Untuk Untuk
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian Kebutuhan Safety Sign Keterangan Mesin Mesin
DGMP & MATEC &
DGAL JOBS
chips terbang-terbang dapat mengenai mata - Sepatu safety
- Seragam kerja
Respiratatauy sensitization, categatauy
1
Untuk mesin MATEC dan
JOBS, disain mesin sudah Germ cell mutagenicity, categatauies
terisolasi dengan tertutup, 1A, 1B, 2
maka pada saat mesin Carcinogenicity, categatauies 1A, 1B, 2
running pekerja dilarang Reproductive toxicity, categatauies 1A,
masuk kadalam mesin 1B, 2
- Specific target ataugan toxicity
following single exposure, categatauies
1, 2
Specific target ataugan toxicity
following repeated exposure,
categatauies 1, 2
Aspiration hazard, categatauies 1, 2

S = Small (10 x 10) cm2


M = Medium (30 x 30) cm2
L = Large (60 x 60) cm2
Ditempelkan di tabung penyimpanan
LIMBAH B3 – Berbahaya terhadap limbah chips dengan ukuran small (10 x
lingkungan 10) cm

Material :
Vinyl Reflective Sticker (Cutting
Sticker)
Vinyl Sticker (Printing)

Ukuran
Simbol yang dipasang pada kemasan
minimal berukuran 10 cm x 10 cm

127
Untuk Untuk
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian Kebutuhan Safety Sign Keterangan Mesin Mesin
DGMP & MATEC &
DGAL JOBS
Sedangkan simbol pada kendaraan
pengangkut limbah B3 dan tempat
penyimpanan limbah B3 minimal 25 cm
x 25 cm.

NOTICE – APD (mata)

ANSI Standard

NOTICE – seragam kerja S = Small (20 x 40) cm2


M = Medium (30 X 60) cm2
Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic
Lum = Luminous

BSI Standard

DANGER – Prohibition Dilarang masuk


--

ANSI Standard
12. Suara mesin yang keras Gangguan pendengaran - Dilakukan pengukuran S = Small (20 x 40) cm2
(bising) jika ada permintaan NOTICE - APD Ear Muff M = Medium (30 X 60) cm2
- (APD) ear muff / ear plug Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic

128
Untuk Untuk
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian Kebutuhan Safety Sign Keterangan Mesin Mesin
DGMP & MATEC &
DGAL JOBS
Lum = Luminous

ANSI Standard
13. Limbah material yang tersisa Tertusuk chips Sepatu safety
berbentuk chips (kecil & NOTICE – APD (sepatu safety)
tajam) yang jatuh di meja S = Small (20 x 40) cm2
mesin dan sekitar mesin M = Medium (30 X 60) cm2
Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic
Lum = Luminous
ANSI Standard

14. Pemasangan pengait Crane ke Terjepit - Sarung


material tanganmelakukan WARNING untuk pekerja – Bahaya Terjepit Ditempelkan / dipajang di mesin Gantry
maintenance pada
Crane S = Small (20 x 40) cm2
M = Medium (30 X 60) cm2
Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic
ANSI Standard Lum = Luminous

15. Material yang diangkat, tinggi Tertiban material (berat - Pelatihan Ditempatkan di dekat penyimpanan alat-
melebihi di atas kepala 500 kg – 6 ton) - Sepatu safety WARNING – manual handling yang benar alat
Terbentur material untuk pekerja

S = Small (20 x 40) cm2


M = Medium (30 X 60) cm2
Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic
ANSI Standard Lum = Luminous

129
Untuk Untuk
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian Kebutuhan Safety Sign Keterangan Mesin Mesin
DGMP & MATEC &
DGAL JOBS
Ditempel di dekat meja mesin / di
WARNING – Terbentur benda samping mesin Operation

S = Small (20 x 40) cm2


M = Medium (30 X 60) cm2
Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic
ANSI Standard Lum = Luminous

APD – sepatu safety


S = Small (20 x 40) cm2
M = Medium (30 X 60) cm2
Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic
Lum = Luminous
ANSI Standard

16. Penyemprotan material Sisa material mengenai (APD)


dengan angin saat didirikan mata - sarung tangan APD
oleh Crane - Masker
- Kaca mata

S = Small (20 x 40) cm2


M = Medium (30 X 60) cm2
Al. = Aluminium --
Ac. = Acrylic
Lum = Luminous

ANSI Standard

130
Untuk Untuk
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian Kebutuhan Safety Sign Keterangan Mesin Mesin
DGMP & MATEC &
DGAL JOBS
17. Ruang produksi di Kebakaran (risiko ruang - Tersedia APAR DANGER – Petunjuk APAR
Departemen lain yang kerja) - Jalur evakuasi
memiliki potensi kebakaran, - Tanda alat APAR
satu gedung dengan bidang Tanda dilarang merokok
Profiling Prismatic Machine

DANGER – Bahaya Kebakaran

Sign Description
• Sign Reads: Alat Pemadam Api
ANSI Standard • Colataus: White - Red
DANGER – Dilarang Merokok • Signs are available in: Sticker Only,
Aluminum 1,2mm, Aluminum 2mm,
Acrilyc 2mm

S = Small (25 x 20) cm2


ANSI Standard M = Medium (35 x 30) cm2
Al. = Aluminium
Ac. = Acrylic
Lum = Luminous

BSI Standard

Safe Condition

ANSI Standard

131
Berdasarkan hasil tabel 5.5 di atas, bahwa safety sign di bagian mesin

DGMP dan DGAL yang memiliki karakteristik, fungsi kerja yang sama, maka

kebutuhan yang dihasilkan juga memiliki kesamaan. Sementara pada mesin

MATEC dan JOBS memiliki fungsi mesin yang sama dengan meisn DGMP.

Tetapi, ada beberapa potensi bahaya yang berbeda, sehingga menimbulkan risiko

yang berbeda juga. Berdasarkan hasil potensi bahaya, risikonya dan pengendalian

yang diterapkan, didapatkan hasil kebutuhan berupa caution sign, warning sign,

danger sign, prohibition sign dan notice sign. Kebutuhan dengan caution sign di

mesin DGMP dan DGAL untuk mengingatkan agar pekerja lebih waspada

terhadap risiko bahaya berdasarkan potensi bahayanya, risikonya, dan

pengendaliannya yaitu seperti :

a. Risiko bahaya terpeleset dengan standar safety sign ANSI Z535

b. Lintasan forklift dengan standar safety sign ANSI Z535

c. Risiko bahaya terjatuh dengan standar safety sign ANSI Z535

d. Bahaya adanya aktivitas crane dengan standar BSI 5499

e. Risiko bahaya tersandung dengan standar safety sign ANSI Z535

f. Risiko bahaya tertiban alat kerja dengan standar safety sign ANSI

Z535

Sedangkan kebutuhan caution sign pada mesin MATEC dan JOBS sama

seperti urutan diatas, teapi ada yang berbeda dengan kebutuhan safey sign mesin

DGMP dan DGAL, karena bentuk mesin yang berbeda. Diantaranya tidak ada

risiko bahaya terjatuh untuk mesin MATEC dan JOBS. Hal tersebut karena mesin

132
MATEC dan JOBS mempunyai ukuran yang sedang, tidak tinggi dengan disain

mesin sudah terisolasi.

Selain caution sign, kebutuhan safety sign sesuai dengan potensi bahaya

dan risiko di mesin DGMP dan DGAL pada warning sign yaitu seperti :

a. Adanya bahaya benda yang tajam yang dapat berisiko tersayat dan

tergores dengan standar safety sign ANSI Z535,

b. Adanya bahaya benda tajam yang dapat berisiko jari terpotong dengan

standar safety sign ANSI Z535

c. Adanya potensi bahaya unsafe condition yang dapat berisiko

tengangan listrik dan tersandung dengan standar safety sign ANSI

Z535

d. Adanya potensi bahaya mesin yang besar yang dapat berisiko terjepit

atau tergencet dengan standar safety sign ANSI Z535

e. Adanya tanda bahaya dari aktivitas handling yang dapat berisiko

terbentur mengenai kepala

Sama seperti caution sign, kebutuhan warning sign pada mesin MATEC dan

JOBS juga terdapat perbedaan yaitu dengan warning sign potensi bahaya mesin

yang besar yang dapat berisiko terjepit atau tergencet. Hal tersebut karena bentuk

mesin MATEC dan JOBS dengan ukuran tidak besar seperti mesin DGMP dn

DGAL.

Kebutuhan safety sign sesuai dengan potensi bahaya dan risiko di mesin

DGMP dan DGAL dengan mesin MATEC dan JOBS pada notice sign yang

mengindikasikan informasi untuk mandatory penggunaan alat pelindung diri

memiliki kesamaan, karena potensi dan risikonya sama yaitu seperti :


133
a. Sepatu safety dengan standar safety sign ANSI Z535

b. Helm dengan standar safety sign ANSI Z535

c. Gloves / sarung tangan dengan standar safety sign ANSI Z535

d. Masker dengan standar safety sign ANSI Z535

e. Kacamata safety dengan standar safety sign ANSI Z535

f. Earmuff dengan standar safety sign ANSI Z535

Kebutuhan safety sign sesuai dengan potensi bahaya dan risiko di mesin

DGMP dan DGAL pada prohibition sign seperti tanda dilarang merokok yang

dapat menyebabkan kebakaran. Sedangkan kebutuhan safety sign sesuai dengan

potensi bahaya dan risiko di mesin MATEC dan JOBS pada prohibition sign

selain tanda dilarang merokok, terdapat juga dan dibutuhkan tanda dilarang masuk

kedalam mesin jika sedang beroperasi Selain itu kebetuhan safety sign di seluruh

bagian Bidang Profilling Prismatic Machine dengan indikasi adanya alat fire

fighting dilengkapi dengan lambang segitiga Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

Kebutuhan safety sign lainnya pada tanda jalur evakuasi (safe condition)

dilengkapi dengan tanda “EXIT”. Selain itu kebutuhan safety sign untuk

kesehatan pekerja dilengkapi dengan pelabelan karsinogenik yang ditempatkan

pada box raw material dan bahaya limbah pada tabung pengangkut chips yang

mengindikasikan bahan berbahaya pada limbah.

134
5.5 Analisis Kesesuaian Keberadaan Safety Sign di Bidang Profilling Prismatic Machine

Analisis kesesuaian penerapan safety sign berdasarkan hasil identifikasi bahaya dan keberadaan safety sign (tabel 5.4)

dibandingkan dengan kebutuhan safety sign (tabel 5.5). Kebutuhan safety sign dilampirkan dengan standar ANSI Z535 dan BSI 5499.

Sedangkan dalam penerapan keberadaannya dilihat berdasarkan hasil observasi dan standar operasional prosedur tentang kebijakan

safety sign.

TABEL 5.6

Analisis Kesesuaian Keberadaan Safety Sign berdasarkan hasil Identifikasi Bahaya dan Keberadaan Safety Sign

dengan Kebutuhan Safety Sign di Mesin (DGMP-A,B,C,D, SGMP-J)

Kesesuaian
Keberadaan
keberadaan
Safety Sign Bidang Profilling Prismtic Machine Kebutuhan
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian safety sign
Safety Sign Ya Tidak
Mesin MATEC dan
Mesin DGMP Mesin DGAL
JOBS

- Lantai tidak di Caution - Risiko terpeleset


Lantai licin keramik
disebabkan oleh - Terdapat geng way
1. Terpeleset -
cairan material dan (safety line)
oli - Sepatu safety
Lantai dibersihkan setiap ANSI Standard

135
Kesesuaian
Keberadaan
keberadaan
Safety Sign Bidang Profilling Prismtic Machine Kebutuhan
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian safety sign
Safety Sign Ya Tidak
Mesin MATEC dan
Mesin DGMP Mesin DGAL
JOBS
1 hari / 1 x
Notice – APD (sepatu safety)
Area di dalam safety
line mesin Double
Gantry dengan
kondisi lantai licin
disebabkan oleh
collant dan oli ANSI Standard

CAUTION – lintasan forklift

Kondisi meja mesin


dan material yang
licin

ANSI Standard

Caution – Risiko terjatuh


Bekerja - Sepatu safety
diketinggian lebih - Seragam kerja
dari 1 m (meja - Diberi tangga ke meja
2. Terjatuh -
mesin : ±1 m) dan mesin
(mesin DGMP dan - Ada tangga dan ANSI Standard
DGAL : ± > 3 m) penyanggah di mesin

136
Kesesuaian
Keberadaan
keberadaan
Safety Sign Bidang Profilling Prismtic Machine Kebutuhan
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian safety sign
Safety Sign Ya Tidak
Mesin MATEC dan
Mesin DGMP Mesin DGAL
JOBS
Meja mesin dan mesin gantry
diberi tangga

BSI Standard
Crane yang
Crane di sertifikasi 1
3. bergerak di atap Tertimpa - - - NOTICE – Gunakan Helm
tahun / 1 X
Operation

ANSI Standard
- Cutter pin saat
pemasang di - (APD) Sarung tangan WARNING – bahaya benda tajam
mesin - Tersayat - Terdapat alat angkut
4. - -
- Raw material - Tergores berat untuk membawa
(alumunium, raw material
besi,dsb) yang

137
Kesesuaian
Keberadaan
keberadaan
Safety Sign Bidang Profilling Prismtic Machine Kebutuhan
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian safety sign
Safety Sign Ya Tidak
Mesin MATEC dan
Mesin DGMP Mesin DGAL
JOBS
tajam ANSI Standard

NOTICE – APD (sarung tangan)

ANSI + BSI Standard

WARNING – bahaya cutter

Memahami kondisi ANSI Standard


5. cutter pin saat mesin Jari terpotong - - -
beroperasi

NOTICE – APD (sarung tangan)

ANSI + BSI Standad

138
Kesesuaian
Keberadaan
keberadaan
Safety Sign Bidang Profilling Prismtic Machine Kebutuhan
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian safety sign
Safety Sign Ya Tidak
Mesin MATEC dan
Mesin DGMP Mesin DGAL
JOBS
Label Sign – Karsinogenik

- Gangguan
Material hasil
pernapasan
coollant yang
- kanker paru- - medical check-up
6. berbahaya yang - - -
paru - Masker
berwarna putih
- paru-paru
keabu-abuan
basah
NOTICE - APD (masker)

ANSI Standard

WARNING – bahaya tegangan

- Tersengat
listrik ATAU
7. Unsafe condition - - - -
- Tersandung

ANSI Standard

CAUTION – Bahaya Tersandung

139
Kesesuaian
Keberadaan
keberadaan
Safety Sign Bidang Profilling Prismtic Machine Kebutuhan
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian safety sign
Safety Sign Ya Tidak
Mesin MATEC dan
Mesin DGMP Mesin DGAL
JOBS

ANSI Standard

CAUTION – Lakukan kerjaan Per


tahap
Posisi pekerja naik
turun keatas meja
Diberi tangga untuk
mesin, posisi
memudahkan pekerja - -
jongkok dan
naik turun
dilakukan secara
berulang-ulang
Gangguan BSI Standard
8. ergonomi (low -
Posisi pekerja back pain) Terdapat bangku untuk
jongkok, berdiri, pekerja selama proses Hati-hati
dan duduk running
dilakukan secara
berulang-ulang
---

BSI Standard

Alat kerja yang


cukup berat dan Notice – APD (sepatu safety)
bahaya (kunci, palu, - Sepatu safety
karet, pin, vacum, - Alat diletakkan
9. Tertiban -
majun, sling, eye ditempat
bolt, T-Nut, hand penyimpanan alat
gun, obeng dan Dial
ANSI Standard
indicatatau, dll)

140
Kesesuaian
Keberadaan
keberadaan
Safety Sign Bidang Profilling Prismtic Machine Kebutuhan
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian safety sign
Safety Sign Ya Tidak
Mesin MATEC dan
Mesin DGMP Mesin DGAL
JOBS

CAUTION – manual handling


yang benar untuk pekerja

ANSI standard

WARNING untuk pekerja –


Bahaya Terjepit / tergencet

Mesin dengan
ukuran besar,
pekerja dapat masuk Trainning pada pekerja
10. Tergencet - - -
dibawah bagian baru
mesin yang
berbahaya

ANSI Standard

Label Sign – Karsinogenik

Proses pembentukan
Cipratan dural - (APD) kaca mata /
dan pelubangan
(baja/alumuniu safety googles
11. material, hasilnya -
m) yang dapat - Sepatu safety
chips terbang-
mengenai mata - Seragam kerja
terbang

141
Kesesuaian
Keberadaan
keberadaan
Safety Sign Bidang Profilling Prismtic Machine Kebutuhan
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian safety sign
Safety Sign Ya Tidak
Mesin MATEC dan
Mesin DGMP Mesin DGAL
JOBS
LIMBAH B3 – Berbahaya
terhadap lingkungan

NOTICE – APD (mata)

ANSI Standard

APD – seragam

BSI Standard

Untuk mesin MATEC DANGER – Prohibition Dilarang


dan JOBS, disain mesin masuk
sudah terisolasi dengan
tertutup, maka pada saat
mesin running pekerja
dilarang masuk kadalam ANSI Standard
mesin

142
Kesesuaian
Keberadaan
keberadaan
Safety Sign Bidang Profilling Prismtic Machine Kebutuhan
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian safety sign
Safety Sign Ya Tidak
Mesin MATEC dan
Mesin DGMP Mesin DGAL
JOBS

NOTICE - APD Ear Muff


- Dilakukan pengukuran
Suara mesin yang Gangguan jika ada permintaan
12. - - -
keras (bising) pendengaran - (APD) ear muff / ear
plug
ANSI Standard

Limbah material NOTICE – APD (sepatu safety)


yang tersisa
berbentuk chips Tertusuk chips
13. Sepatu safety -
(kecil & tajam) yang
jatuh di meja mesin
dan sekitar mesin ANSI Standard

WARNING untuk pekerja –


Bahaya Terjepit

Pemasangan pengait Sarung tanganmelakukan -


14. Terjepit - -
Crane ke material maintenance pada Crane

ANSI Standard

143
Kesesuaian
Keberadaan
keberadaan
Safety Sign Bidang Profilling Prismtic Machine Kebutuhan
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian safety sign
Safety Sign Ya Tidak
Mesin MATEC dan
Mesin DGMP Mesin DGAL
JOBS

CAUTION – manual handling


yang benar untuk pekerja

ANSI Standard

Tertiban WARNING – Terbentur benda


material yang
material (berat
diangkat, tinggi - Pelatihan
15. 500 kg – 6 ton) -
melebihi di atas - Sepatu safety
Terbentur
kepala
material
ANSI Standard

APD – sepatu safety

ANSI Standard

Penyemprotan (APD) APD (masker)


material dengan Sisa material - sarung tangan
16. -
angin saat didirikan mengenai mata - Masker
oleh Crane - Kaca mata

144
Kesesuaian
Keberadaan
keberadaan
Safety Sign Bidang Profilling Prismtic Machine Kebutuhan
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian safety sign
Safety Sign Ya Tidak
Mesin MATEC dan
Mesin DGMP Mesin DGAL
JOBS
APD (mata)

APD (sarung tangan)

ANSI Standard

DANGER – Petunjuk APAR

Ruang produksi di
Departemen lain - Tersedia APAR
yang memiliki Kebakaran - Jalur evakuasi
17. potensi kebakaran, (risiko ruang - Tanda alat APAR -
satu gedung dengan kerja) - Tanda dilarang
bidang p Profiling
Prismatic Machine
merokok DANGER – Dilarang
Merokok

ANSI Standard

145
Kesesuaian
Keberadaan
keberadaan
Safety Sign Bidang Profilling Prismtic Machine Kebutuhan
No. Potensi Bahaya Risiko Pengendalian safety sign
Safety Sign Ya Tidak
Mesin MATEC dan
Mesin DGMP Mesin DGAL
JOBS

BSI Standard

DANGER – Bahaya Kebakaran

ANSI Standard

Emergency Route

ANSI Standard

146
Berdasarkan tabel 5.6 tentang kesesuaian keberadaan safety sign

dari hasil keberadaan safety sign atau kenyataan dilapangan, jika

dibandingkan dengan kebutuhan safety sign yang dibuat sesuai dengan hasil

identifikasi bahaya, risiko dan pengendaliannya menggunakan standar ANSI

Z535 dan BSI 5499. Semua gambaran kesesuaian keberadaan safety sign di

bagian mesin DGMP , DGAL, MATEC dan JOBS Bidang profilling

Prismatic Machine menunjukkan ketidaksesuaian. Walaupun terdapat tanda

mandatory penggunaan APD seperti septu safety, kacamata safety, earmuff,

tidak mendukung jika dibandingkan dengan kebutuhan safety sign yang ada.

Hal tersebut dikarenakan safety sign yang terpasang belum di update

kembali, kondisinya sudah mulai luntur, tidak sesuai dengan standar ANSI

pada tahun 2014 dengan piktogram yang berbeda dan tidak menampilan

word message pada safety sign yang diterpakan, penempatan safety sign

juga tidak terlihat karena terhalang oleh mesin yang besar dan diletakkan

jauh dari mesin ± sejauh 20 m.

Hasil tersebut telah didukung berdasarkan wawancara mendalam

dengan informan. Kondisi safety sign yang ada di Departemen Machining

menurut kesimpulan dari matriks dengan informan utama yaitu cukup baik,

akan tetapi belum di update, sudah mengelotok, warnanya luntur, serta

keberadaannya belum sesuai dengan tempat kerja karena masih adanya

struktural Organisasi yang berubah sehingga lokasi produksi juga berubah

yang mempengaruhi safety sign yang sudah ada. Kesimpulan tersebut telah

didukung oleh penyataan wawancara kepada informan utama dan

pendukung, seperti kutipan dibawah ini :

147
Informan 02

“ .... udah pada luntur. Belum di up date lah.”

Informan 03

“alahamdulillah ada,...... terus juga sekarang lebih bagus lagii aaa K3LH
yang disana katanya dalam bentuk plat. Karena kan kalau dari kita itu kan
cepet ngelotok yah,, ehhm cukup lah...”

Informan 04

“kondisinya kalau menurut saya itu, 90 % tu udah bagus gitu.. 90 %


masih bagus, ya 10% nya masih ada kekurangan untuk tempat2 tertentu
karena sekarang itu masih terjadi movible. Karena masih ada perubahan,
karena asih ada perubahan struktural itu maka otomatis terjadi perubahan
tempat kerja, yang tadinya safety sign harusnya nya ini ini itu, sekarang itu
laen, jadi kita monitatau terus..”

Berdasarkan hasil kesimpulan informan utama kondisi safety sign

yang ada cukup bagus, bahkan informan 04 menyatakan bahwa “..., 90 % tu

udah bagus .... 10% nya masih ada kekurangan untuk tempat2 tertentu...”

Sedangkan kesimpulan hasil dari matriks informan pendukung yaitu kualitas

masih kurang, karena sign yang ada sudah buram, letaknya sudah tidak

sesuai, kotatau, dan bahkan banyak yang tidak ada sign nya. Kesimpulan

berdasarkan informan pendukung sedikit berbeda dengan jawaban yang

diberikan. Pernyataan informan pendukung 002 sebagai Supervisor Bidang

Profilling Machine juga memberikan jawaban yang sama, bahwa safety sign

yang ada cukup lengkap, akan tetapi kualitas sudah buram, kotatau, hilang,

hanya tanda mandatatauy / penggunaan APD saja, tidak di maintenance. .

Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kutipan sebagai berikut :

Informan 002 :

“Ya cukup lengkap sebenarnya, Cuma penerapan safety sign yang disaya
tuh yang Cuma mandatatory apa gitu. Nah itu tuh yang mungkin karena
148
penerapan safety sign jauh lama dari lama, semenjak awal kita baru
bangun bengkel ini. Nah mungkin kualitasnya udah belel, udah kotatau,
atau udah ditiup angin, .... atau udah ada yang ngambil buat alas duduk,
kan gitu.. nah itu tidak ada yang memaintenance.”

Berdasarkan kesimpulan matriks dan transkrip wawancara dengan

hasil observasi menunjukkan bahwa terdapat kesamaan yaitu adanya

ketidaksesuaian antara keberadaan safety sign dilapangan dengan kebutuhan

safety sign. hanya saja terdapat satu safety sign yang sesuai yaitu pada

prohibition sign dilarang merokok.

149
BAB VI

PEMBAHASAN

6.1 Keterbatasan Penelitian

Dalam penelitian ini memiliki keterbatasan yaitu dipaparkan

sebagai berikut.

1. Informan kunci tidak hadir saat melakukan identifikasi bahaya di

Bidang Profilling Prismatic Machine. Hal itu disebabkan karena

adanya keterbatasan ijin dari pihak PT. Dirgantara Indonesia dan

keterbatasan waktu yang dimiliki oleh informan kunci sebagai staf

ahli K3 di suatu perusahaan. Oleh karena itu, informan kunci

dalam memberikan masukan terhadap identifikasi bahaya,

penilaian risiko dan analisa kebutuhan safety sign yang telah dibuat

oleh peneliti untuk diliat keakuratannya. Hanya saja dalam

memahami gambaran proses kerja pada mesin di Bidang Profilling

kepada informan kunci, didukung oleh rekaman video yang

dibuat peneliti saat melakukan identifikasi bahaya.

2. Kualitas gambar safety sign yang diambil dalam rangka

menunjukkan keberadaan safety sign yaitu dengan jarak yang jauh

karena kondisi yang tidak memungkinkan. Sehingga berpengaruh

pada kualitas gambar yang diambil.

150
6.2 Prosedur Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, dan Pengendalian

Risiko

Berdasarkan prosedur risk assessment No. Dokumen D4 G0 03

dengan judul “petunjuk penilaian dan pengendalian risiko (risk

assessment)”, bahwa penilaian risiko menggunakan teknik semi

kuantitatif dan mengklasifikasikan bahaya berdasarkan mesin yang ada di

proses tersebut. Menurut PP No.50 tahun 2012 sebagaimana pengusaha

paling sedikit harus melakukan identifikasi potensi bahaya, penilaian dan

pengendalian risiko. Maka PT. Dirgantara Indonesia telah sesuai untuk

melaksanakan prosedur yang telah ditetapkan pemerintah dengan

melakukan identifikasi bahaya, penilaian dan pengendalian risiko.

Prosedur manajemen risiko yang dimiliki PT. Dirgantara

Indonesia berdasarkan hasil wawancara kepada kepala staf pengendalian

dan pengukuran Departemen K3LH bahwa manual kebijakan dalam

melakukan manajemen risiko tidak mutlak dengan indutri penerbangan.

Oleh karena itu peneliti melakukan observasi dengan mengidentifikasi

potensi bahaya dan penilaian risiko di Bidang Profilling Prismatic

Machine dengan metode Task Risk Assessment dalam AS/NZS 4360:2004.

151
6.3 Daftar Bahaya, Risiko, Penilaian Risiko dan Pengendalian

Berdasarkan Hasil Identifikasi Bahaya di Bidang Profilling Prismatic

Machine

Menurut Peraturan Pemerintah No.50 tahun 2012 tentang

penerapan SMK3 yang menyatakan bahwa identifikasi potensi bahaya,

penilaian dan pengendalian risiko sebagai rencana strategi K3 yang

dilakukan oleh petugas yang berkompeten. Hal tersebut sebagaimana

telah disampaikan menurut Redja (2003), risiko dapat diartikan sebagai

kejadian yang tidak tentu dan dapat mengakibatkan suatu kerugian. Pada

tahap ini peneliti menggunakan informan kunci sebagai staf ahli K3 yang

membantu dalam proses identifikasi dan penilaian risiko, bahwa terdapat

potensi bahaya yang bersumber dari berbagai faktor yaitu faktor teknis,

faktor lingkungan, dan faktor manusia. Hal tersebut sebagaimana telah

diungkapkan oleh Tarwaka (2008) yang menyatakan potensi bahaya

dilingkungan kerja bersumber dari berbagai faktor yaitu faktor teknis,

lingkungan dan manusia.

Menurut Risk Assessment and Management Handbook risiko

terbagi menjadi 5 macam, yaitu diantaranya risiko keselamatan kerja

(Safety Risk), risiko kesehatan (Health Risk), risiko lingkungan dan

ekologi, risiko kesejahteraan masyarakat, dan risiko keuangan.

Berdasarkan Risk assessment and Management Handbook, di Bidang

Profilling Prismatic Machine juga memiliki macam-macam risiko, yaitu

152
diantaranya risiko keselamatan kerja, risiko kesehatan, risiko lingkungan

dan ekologi yang didapat dari hasil identifikasi bahaya.

Sebagaimana macam-macam risiko yang sudah dijelaskan, risiko

yang ada di Bidang Profilling Prismatic Machine yang dapat

mengakibatkan kecelakaan, diantaranya yaitu terpeleset, terjatuh, tertimpa,

tersayat, tergores, jari terpotong, gangguan pernapasan, tersengat listrik,

tersandung, tertiban, tergencet, cipratan dural (kontak dengan bahaya),

terjepit, gangguan pendengaran, tertusuk, sisa material mengenai mata,

dan kebakaran. Risiko yang ada di area mesin DGMP, DGAL, MATEC,

dan JOBS berdasarkan klasifikasi menurut jenis kecelakaan sebagaimana

telah diungkapkan menurut ILO (1962) yaitu seperti terjatuh, tertimpa

benda jatuh, terkena benda-benda, terjepit oleh benda, gerakan melebihi

kemampuan, pengaruh suhu tinggi, terkena arus listrik, serta kontak

dengan bahan-bahan berbahaya atau radiasi, jika dibiarkan akan

mengakibatkan kecelakaan kerja dan akan menimbulkan kerugian. Oleh

karena itu, harus dilakukan strategi terhadap pengendalian risiko bahaya.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Peraturan Pemerintah No. 50 tahun

2012 tentang penerapan SMK3 yang dibahas pada bab 2.1 rencana strategi

K3.

Selanjutnya klasifikasi penilaian risiko terhadap potensi bahaya

menurut Tarwaka (2008), yaitu dibedakan berdasarkan tingkat bahaya

sangat tinggi, serius, sedang, dan kecil. Hal tersebut telah sesuai dengan

hasil penilaian risiko yang telah dilakukan dan diklasifikasikan

153
berdasarkan tingkat risiko extrime, high, medium, low. Dari hasil

identifikasi penilaian risiko di Bidang Profilling Prismatic Machine

sebagian besar adalah high risk.

Menurut Tarwaka (2008) apabila suatu risiko terhadap kecelakaan

dan penyakit akibat kerja telah di identifikasi dan dinilai, maka

pengendalian risiko harus diimplementasikan untuk mengurangi risiko

sampai batas-batas yang dapat diterima berdasarkan ketentuan, peraturan

dan standar yang berlaku. Sedangkan Menurut AS/NZS 4360:2004 risiko

adalah peluang munculnya suatu kejadian yang dapat menimbulkan efek

terhadap suatu objek. Oleh karena itu, sesuai dengan pengendalian yang

dilakukan di Direktorat Produksi dalam prosesnya produksinya untuk

mencegah terjadinya risiko kecelakaan dilakukan pengendalian di Bidang

Profilling Prismatic Machine. Menurut OHSAS 18001, terdapat 5 hirarki

pengendalian risiko yaitu dengan eliminasi, substitusi, pengendalian

teknis, pengendalian administratif, dan penggunaan APD (Alat Pelindung

Diri). Pengendalian yang diterapkan di bidang Profilling Prismatic

Machine masih dengan pendekatan administratif dan penggunaan APD,

yaitu dengan pelatihan, pengaturan jadwal kerja, penerapan safety sign,

penggunaan APD yang disesuaikan dengan potensi bahaya dengan tujuan

untuk mengurangi risiko terjadinya kecelakaan. Oleh karena itu, Bidang

Profilling Prismatic Machine sebaiknya lebih meningkatkan pengendalian

dengan hirarki yang lain. Seperti misalnya dengan pengendalian teknis,

bentuk lain dari pengendalian administratif.

154
Hirarki pengendalian dengan pendekatan administratif yaitu salah

satunya dengan tindakan pemasangan safety sign di Bidang Profilling

Prismatic Machine berdasarkan No. Dokumen D4 S2 07 tentang Standar

Rambu Keselamatan Kerja telah sesuai dengan UU No.01 Tahun 1970

bahwa telah memenuhi syarat keselamatan kerja untuk mencegah dan

mengurangi kecelakaan. Pada UU No.01 Tahun 1970 Pasal 14b yang

menyatakan memasang dalam tempat kerja yang dipimpinnya, semua

gambar keselamatan kerja yang diwajibkan dan semua bahan pembinaan

lainnya, pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan terbaca menurut

petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja. Akan tetapi,

keberadaan safety sign di Bidang Profilling Prismatic Machine belum

sesuai jika disesuaikan dengan hasil identifikasi bahaya. Analisa

kesesuaian tersebut dapat terlihat pada tabel 5.6. Hal tersebut dikarenakan

masih minimnya safety sign yang terpasang di area kerja Bidang Profilling

Prismatic Machine yang disesuaikan dengan potensi bahaya maupun

risiko pekerjaan.

6.4 Keberadaan Safety Sign di Bidang Profilling Prismatic Machine

Berdasarkan daftar bahaya di mesin DGMP dan DGAL yang

memilki karakteristik mesin yang sama dari hasil identifikasi bahaya.

Menurut Tarwaka (2008) terdapat potensi bahaya dari proses produksi,

yaitu potensi bahaya yang ditimbulkan oleh berbagai kegiatan yang

155
dilakukan dalam proses produksi, yang sangat tergantung dari bahan, dan

peralatan yang dipakai, serta jenis kegiatan yang dilakukan. Potensi

bahaya mekanik dari proses produksi tersebut di mesin DGMP dan DGAL

mengakibatkan risiko terpeleset, terjatuh, tertimpa, tersayat, tergores, jari

terpotong, tertusuk chips, tertiban, tergencet, terjepit. Selanjutnya,

pengendalian yang diterapkan terhadap potensi bahaya mekanik dan risiko

di mesin tersebut yaitu dengan penggunaan APD, seperti sepatu safety agar

pekerja tidak terpeleset, tertiban, tertusuk chips, penggunaan sarung

tangan agar tidak tersayat, helm agar tidak tertimpa. Diberi tangga agar

pekerja tidak jatuh. Diberi pelatihan agar pekerja tidak tergencet dan risiko

jari terpotong.

Selain potensi bahaya mekanik dari proses produksi di mesin

DGMP dan DGAL juga terdapat potensi bahaya fisik, kimia, fisiologis

dan ergonomi. Hal tersebut sebagaimana telah diungkapkan oleh Tarwaka

(2008), potensi bahaya fisik di area mesin DGMP dan DGAL dapat

mengakibatkan gangguan pendengaran, karena bahaya dari suara mesin.

Potensi bahaya kimia dapat mengakibatkan risiko paparan toksisitas dari

material, risiko gangguan kesehatan berasal dari cairan hasil collant yang

dapat membahayakan kesehatan. Sedangkan potensi bahaya fisiologis

dalam bentuk posisi kerja naik turun mesin, jongkok, berdiri dan duduk

yang dilakukan secara berulang-ulang, dapat mengakibatkan gangguan

ergonomi pada pekerja / operator mesin. Semua potensi bahaya dan risiko

156
dijelaskan pada tabel 5.1 dan 5.2 yaitu identifikasi dan penilaian risiko

pada mesin DGMP, DGAL, MATEC dan JOBS.

Jika ditempat kerja memiliki potensi bahaya maka harus dilakukan

pengendalian, yang dapat mereduksi paparan bahaya kepada pekerja.

Menurut Tarwaka (2008), terdapat 2 metode yaitu sarana pengendalian

permanen (jangka panjang) dan pengendalian sementara (jangka pendek).

Untuk menentukan sarana dengan pengendalian permanen atau sementara

harus dilakukan prioritas pengendalian terlebih dahulu. Sebagaimana yang

yang diungkapkan oleh Ramli (2010a) terdapat strategi pengendalian

risiko yaitu menekan likelihood / kemungkinan terjadinya suatu kejadian,

menekan kosekuensi / paparan yang diterima, dan pengendalian risiko.

Sebagaimana pedoman pengendalian risiko yang lebih spesifik

menurut OHSAS yaitu dengan pendekatan eliminasi, substitusi,

pengendalian teknis, pengendalian administratif, dan penggunaan alat

pelindung diri (APD). Sebagaimana berdasarkan beberapa teori yang telah

diungkapkan bahwa hirarki pengendalian tentu saja harus dibuat prioritas

untuk menekan kemungkinan terjadinya kejadian. Berdasarkan prinsip

pengendalian permanen menurut Tarwaka (2008), pengendalian teknis

seperti eliminasi (menghilangkan sumber bahaya) adalah yang utama,

selanjutnya diikuti oleh pengendalian lainnya. Di Bidang Profilling

Prismatic Machine itu sendiri berdasarkan hasil wawancara mendalam dan

observasi belum pernah meningkatkan dengan pengendalian teknis.

Manajemen meningkatkan dengan pengendalian administratif dalam

157
bentuk pelatihan, shift kerja, penerapan safety sign. Akan tetapi dalam

pelaksanaan pengendalaian administratif dengan penerapan safety sign

masih belum maksimal.

Oleh karena itu, sebaiknya pengendalian administratif dalam

bentuk safety sign dibuat sesuai dengan potensi bahaya, risiko dan

pengendaliannya agar pekerja dan tamu perusahaan mengetahui potensi

dan risiko bahaya yang mungkin terjadi. Menurut standar ANSI

pemasangan safety sign harus berdasarkan potensi bahaya yang ada di

tempat kerja dan berdasarkan Peraturan Pemerintah No.50 tahun 2012

pada bab keamanan bekerja berdasarkan SMK3 tentang sub bab area

terbatas, bahwa rambu-rambu mengenai keselamatan dan tanda pintu

darurat harus dipasang sesuai dengan standar dan pedoman teknis. Jika

dibandingkan dengan kenyataan, tidak ada satupun keberadaan safety sign

yang mengindikasikan risiko dan potensi bahaya dari proses produksi

secara tepat. Sementara, pengaruh dari potensi bahaya dan risiko tersebut

dapat mengganggu kesehatan secara fisik dimana dapat menyebabkan

gangguan-gangguan atau kerusakan pada tubuh (Tarwaka, 2008).

Di bagian mesin DGMP dan DGAL hanya terdapat tanda berupa

mandatory penggunaan sepatu safety, kacamata safety, ear muff, dan safety

line. Letak 1 tanda sepatu safety juga terhalang oleh mesin besar dari

DGMP sehingga tidak terlihat dan tidak dapat memberikan pesan kepada

pekerja maupun pengunjung yang datang ke area kerja. Safety sign lainnya

di are mesin DGMP juga terletak jauh dari area mesin yaitu sejauh ± 20 m.

158
Warna sign juga sudah pudar dan ukurannya juga kecil Karena belum di

update.

Gambar 6.1 Keberadaan Safety Sign di Mesin DGMP

Gambar 6.2 Keberadaan Safety Sign di Mesin DGAL

Keberadaan Safety Sign di mesin DGMP dan DGAL menurut

standar safety sign ANSI Z535.4-2007 berdasarkan situasi bahaya yang

menginstruksikan pesan keselamatan untuk melindungi pekerja maupun

properti dari risiko kerugian belum sesuai dengan risiko bahaya yang ada

ditempat kerja. Oleh karena itu, harus dilakukan evaluasi terhadap

penerapan safety sign sebagai bentuk pengendalian bahaya yang sudah

diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2012 tentang sistem

manajemen keselamatan.

Menurut Sumbo Tinarbuko (2008), pembuatan safety sign yang

baik adalah yang memenuhi 4 kriteria seperti : mudah dilihat, mudah

dibaca, mudah dimengerti, dan dapat mudah dipercaya. Safety sign di

159
mesin DGAL memiliki kelebihan dibandingkan dengan mesin DGMP,

yaitu dengan adanya caution sign (terpeleset). Letak 1 tanda sepatu safety

juga terhalang oleh mesin besar dari DGAL sehingga tidak terlihat dan

tidak dapat memberikan pesan kepada pekerja maupun pengunjung yang

datang ke area kerja. Warna sign juga sudah pudar dan ukurannya juga

kecil karena penerapan safety sign yang belum di update. Sedangkan

tanda-tanda tersebut bertujuan menyampaikan suatu informasi sehingga

bersifat komunikatif. Menurut Sumbo Tinarbuko (2008), keberadaan

safety sign mampu menggantikan sesuatu yang lain, dapat dipikirkan, atau

dibayangkan. Berdasarkan teori tersebut bahwa keberadaan safety sign di

mesin DGMP dan DGAL sepenuhnya belum lengkap dan belum berfungsi

dengan baik. Hal tersebut dapat dibuktikan pada tabel 5.4 yaitu keberadaan

safety sign berdasarkan potensi bahaya dan risiko.

Begitu juga keberadaan safety sign yang ada di mesin MATEC dan

JOBS yang memilki potensi bahaya dan risiko sama dengan mesin

DGMP, seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya. Tetapi, terdapat

sedikit perbedaan potensi bahaya yang dihasilkan yaitu risiko terjatuh,

tergencet karena mesin MATEC dan JOBS tidak tinggi dan besar. Risiko

terpapar cipratan dural, karena bentuk dari mesin MATEC dan JOBS yang

sudah terisolasi. Di mesin MATEC dan JOBS tidak ada sama sekali

indikasi penerapan safety sign untuk pekerja, hanya terdapat tanda

prohibition di kerangkeng mesin, itupun juga berasal dari pabrik mesin.

160
Gambar 6.3 Keberadaan Safety Sign di Mesin MATEC dan JOBS

Keberadaan Safety Sign di mesin MATEC dan JOBS menurut

standar safety sign ANSI Z535.4-2007 berdasarkan situasi bahaya yang

menginstruksikan pesan keselamatan untuk melindungi pekerja maupun

properti dari risiko kerugian belum sesuai dengan risiko bahaya yang ada

ditempat kerja. Hal tersebut karena tidak ada safety sign sama sekali yang

terpajang di mesin MATEC dan JOBS, yang mengindikasikan adanya

tanda risiko bahaya sesuai dengan hasil identifikasi yang dilakukan.

Menurut Kusrianto (2009), bahwa manusia mampu memberikan

makna dan menginternalisasikan makna terhadap suatu objek, tempat,

maupun suasana dari orang-rang yang berada dalam lingkungan simbolik.

Hal tersebut menunjukkan bahwa di mesin MATEC dan JOBS tidak

terdapat makna untuk mengindikasikan suasana bahaya yang dapat terjadi

kapan saja untuk pekerja dan tamu perusahaan, karena tidak adanya

satupun safety sign yang terpasang.

Menurut Gustosign (2013) sebagai ahli konsultan dan pembuat

safety sign, keberadaan safety sign memiliki tujuan untuk mencegah

kecelakaan ditempat kerja. Safety sign berisi pesan-pesan mengenai

bahaya serta penempatan informasi lain yang berhubungan dengan

161
keamanan kerja. Begitu juga di Bidang Profilling Prismatic Machine,

penempatan safety sign yang masih kurang tepat serta tidak adanya safety

sign yang mengindikasikan adanya potensi bahaya atau pemberitahuan

akan memberikan makna sikap yang normal saja untuk pekerja. Akan

tetapi, jika disetiap mesin atau proses kerja yang memiliki sign¸ akan

memberikan rasa tanggung jawab untuk menjaga dirinya agar lebih

berhati-hati untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Sehingga risiko yang

dapat muncul, bisa diminalisir dengan memunculkan safety sign tersebut.

Sebaiknya, PT. Dirgantara Indonesia dalam manajemen K3LH,

pada penerapan safety sign, menggunakan standar yang berlaku dan

memilih perusahaan pembuat safety sign yang terbaik agar penerapan

safety sign dapat tepat sesuai dengan standar dan komposisi. Selain itu,

keberadaan safety sign sebaiknya dilakukan berdasarkan hasil identifikasi

bahaya, agar penerapannya dapat berguna untuk meminimalisir terjadinya

kecelakaan kerja.

6.5 Kebutuhan Safety Sign Berdasarkan Daftar Bahaya

Kebutuhan safety sign berdasarkan hasil identifikasi bahaya yang

telah didiskusikan oleh key informan, yaitu dengan memberikan

rekomendasi safety sign di mesin DGMP, DGAL, MATEC dan JOBS

berdasarkan situasi bahaya dan risiko pekerjaan. Safety sign dalam bentuk

mandatory yang sudah ada juga dibuat kebutuhan berdasarkan referensi

162
standar ANSI Z535 dan BSI 5499 dengan pictogram, symbol panel, signal

word, dan word message yang terbaru.

Berdasarkan hasil identifikasi bahaya dan penilaian risiko, di dapat

daftar potensi bahaya yang ada di mesin DGMP, DGAL, MATEC dan

JOBS adalah berupa potensi bahaya mekanik, fisik, kimia, fisiologis,

ergonomis. Kebutuhan safety sign berdasarkan risiko bahaya dan

pengendalian yang diterapkan di Bidang Profilling Prismatic Machine.

Oleh karena itu, analisa kebutuhan safety sign sudah sesuai dengan

pedoman Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2012 tentang penerapan

sistem keselamatan dan kesehatan kerja pada bab area terbatas yang

menyatakan bahwa rambu-rambu K3 harus dipasang sesuai dengan standar

dan pedomen teknis. Standar yang digunakan yaitu dengan ANSI Z535

dan BSI 5499 yang dibuat berdasarkan hasil identifikasi bahaya di Bidang

Profilling Prismatic Machine.

Berdasarkan daftar potensi bahaya, risiko dan pengendalian

kebutuhan safety sign sudah disesuaikan dengan klasifikasi tanda bahaya

sesuai dengan standar ANSI Z535 dan BSI 5499. Diantaranya warning

sign, caution sign, danger sign, notice sign, dan prohibition sign. Potensi

bahaya yang memilki risiko tinggi sangat diutamakan untuk diberikan

informasi, karena akan mengakibatkan bahaya mekanik seperti terpeleset,

terjatuh, tertimpa, tertusuk chips, tersayat, terpotong, tertiban, dan terjepit.

163
Menurut standar safety sign ANSI Z535.4-2007 yang menyatakan

bahwa safety symbol dipilih berdasarkan representasi grafis dengan jelas

untuk menyampaikan pesan keselamatan secara spesifik, dan juga

memberikan signal word (DANGER : merah, WARNING : oranye.

CAUTION : kuning, NOTICE : biru). Safety sign menurut ANSI Z535.4-

2007 juga harus dilengkap dengan symbol panel (pictogram), dan pesan

yang disampaikan. Hal tersebut membuktikan keberadaan safety sign

belum sesuai dengan standar ANSI Z535 yang juga diterapkan di Bidang

Profilling Prismatic Machine.

Untuk memberikan perbandingan kesesuaian terhadap keberadaan

safety sign dilapangan, kebutuhan penggunaan safety sign berdasarkan

potensi bahaya, risiko dan perintah penggunaan APD. Menurut ANSI

Z535.4 2007 dan Gustosign (2013) dapat dijelaskan dengan pesan yang

disampaikan seperti :

a. Warning sign

Warning sign dengan background berwarna oranye dan kata

WARNING berwarna hitam. Hal tersebut mengindikasikan situasi

kemungkinan terjadinya kecelakaan serius atau kematian. Sementara

di Bidang Profilling Prismatic Machine memiliki risiko bahaya

tersayat, tergores, jari terpotong, tertusuk chips, tersengat listrik,

terjepit mesin, serta tertiban benda berat. Oleh karena itu, di Bidang

Profilling Prismatic Machine dibutuhkan warning sign. Tetapi,

164
khusus di mesin MATEC dan JOBS karena karakteristik bentuk mesin

yang tidak besar maka tidak dibutuhkan warning sign dengan risiko

bahaya terjepit.

b. Caution sign

Caution sign dengan background berwarna kuning dan kata

CAUTION berwarna hitam, mengindikasikan situasi berbahaya yang

dapat menyebabkan luka ringan atau sedang. Oleh karena itu,

himbauan atau waspada akan adanya risiko bahaya di Bidang

Profilling Prismatic Machine dibutuhkan tanda caution sign,

diantaranya karena adanya potensi bahaya dan risiko terpeleset,

lintasan forklift, bahaya terjatuh (hanya mesin DGMP dan DGAL),

tersandung, serta tertiban alat kerja yang berat.

c. Danger sign

Danger sign dengan background berwarna merah dan kata

DANGER berwarna putih, mengindikasikan situasi bahaya yang

memiliki kemungkinan tinggi terjadinya kematian atau luka serius.

Sementara di Bidang Profilling Prismatic Machine memiliki risiko

bahaya kebakaran karena satu ruang dengan ruang produksi yang

memiliki risik terbakar. Oleh karena itu, dibutuhkan tanda bahaya

terbakar, mengindikasikan adanya alat APAR sebagai fire fighting

sign dan dilarang merokok.

165
d. Notice Sign

Notice sign dengan background berwarna biru dan kata

NOTICE berwarna putih, yang menyampaikan pesan keselamatan

personil atau perlindungan terhadap properti perusahaan

bersangkutan. Notice sign biasa dipakai unuk membeikan mandatory

sign. Di Bidang Profilling Prismatic Machine membutuhkan Notice

sign dalam bentuk himbauan pemakaian / mandatory penggunaan alat

pelindung diri seperti : sepatu safety, helm, sarung tangan, masker,

seragam kerja, earmuff, dan kacamata safety.

e. Safe Condition Sign / safety first background berwarna hijau dan

gambar atau kata berwarna putih, yang memberikan Instruksi-

instruksi umum yang berhubungan dengan praktek kerja yang aman,

serta memberikan tanda jalur evakuasi. Oleh karena itu, berdasarkan

potensi bahaya di Bidang Profilling Prismatic Machine

dibutuhkannya tanda jalur evakuasi.

f. Selain tanda diatas kebutuhan safety sign juga ditambah dengan

adanya prohibition sign di mesin MATEC dan JOBS yaitu tanda

dilarang masuk saat mesin beroperasi. Selain itu, untuk semua mesin

di Bidang Profilling dibutuhkan tanda bahaya dari limbah material

dan risiko gangguan kesehatan pada pekerja efek dari collant dan

material yang dibentuk oleh mesin.

166
Material yang digunakan berdasarkan standar BSI 5499 yaitu

diantaranya adalah poliester, plastik kaku, alumunium dan polypropylene

juga sudah sesuai secara keseluruhan, karena material safety sign yang

digunakan di Bidang Profilling Prismatic Machine terbuat dari bahan

alumunium, plastik kaku dan stainless.

Walaupun sifat dari pengendalian dalam bentuk safety sign hanya

berupa tanda peringatan, pemberitahuan / informasi akan lebih baik jika

safety sign diterapkan secara optimal berdasarkan potensi bahaya dengan

memberikan tanda warning, caution, danger, notice, serta indikasi adanya

alat-alat pemadam kebakaran.

6.6 Kesesuaian Keberadaan Safety Sign di Bidang Profilling Prismatic

Machine

Menurut Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2012 bahwa rambu-

rambu mengenai keselamatan dan tanda pintu darurat harus dipasang sesuai

dengan standar dan pedoman. Berdasarkan hasil identifikasi bahaya,

terdapat risiko bahaya terpeleset, tertimpa, terjatuh, tersayat, tergores,

tertiban, kebisingan, gangguan ergonomi, yang diklasifikasikan secara

potensi bahaya fisik menurut Tarwaka (2008) dapat menyebabkan gangguan

pendengaran, kerusakan pada otot, dapat menyebabkan kelelahan kerja,

bahkan potensi terjadinya kebakaran. Tetapi, keberadaan safety sign tidak

ada yang sesuai dengan analisa kebutuhan safety sign berdasarkan potensi

bahaya yang ada.

167
Berdasarkan hasil kebutuhan safety sign yang dibandingkan

dengan keberadaan safety sign di mesin DGMP dan DGAL dengan tanda

perintah (mandatory sign) yaitu penggunaan sepatu safety, ear muff, safety

googles tidak memiliki kesesuaian. Hanya terdapat 2 kesesuaian yaitu

indikasi potensi bahaya dengan tanda segitiga mengindikasikan alat APAR

dan tanda dilarang merokok. Selebihnya safety sign berdasarkan potensi

bahaya dan risiko di mesin DGMP tidak memiliki kesesuaian. Walaupun

terdapat tanda sepatu safety, peggunaan earmuff, kaca mata safety di

masing-masing mesin, safety sign yang terpasang sudah tidak sesuai

dengan standar regulasi ANSI Z535 yang berlaku. Menurut ANSI Z535

safety sign harus dilengkapi dengan kata sinyal, simbol peringatan

keselamatan, dan pesan dari kata sinyal.

Begitu juga dengan analisa kesesuaian keberadaan safety sign di

mesin MATEC dan JOBS berdasarkan potensi bahaya dan risiko di mesin

tersebut tidak memiliki kesesuaian berdasarkan keberadaan dan kebutuhan

safety sign, karena safety sign yang terdapat di mesin MATEC dan JOBS

hanya berdasarkan sign yang sudah teridentifikasi dari pabrik pembuatan

mesin tersebut mesin, bukan berdasarkan pekerjaan yang berhubungan

dengan mesin tersebut yang seharusnya di buat kebijakan yang baru oleh

pihak Departemen K3LH atau Bidang Profilling Prismatic Machine.

Potensi bahaya yang terdapat di mesin MATEC dan JOBS

memiliki kesamaan dengan mesin DGMP, akan tetapi terdapat beberapa

perbedaan seperti terjatuh dan tergencet karena bentuk mesin MATEC dan

168
JOBS tidak besar. Oleh karena itu berdasarkan kebutuhan safety sign tidak

ada.

Menurut Undang-undang Tahun 1970 tentang keselamatan kerja

pasal 9,12 dan 14 penggunaan APD di tempat kerja merupakan suatu

keharusan. Oleh karena itu berdasarkan APD yang sesuai dengan risiko

bahaya yang teridentifikasi juga harus didukung oleh tanda perintah

(mandatory sign) penggunaan APD di lingkungan kerja. Hal tersebut

adalah untuk mendukung perilaku pekerja agar menggunakan APD sesuai

dengan potensi bahaya di tempat kerja agar terhindar dari kejadian atau

kecelakaan kerja. Di Bidang Profilling Prismatic Machine sendiri, tanda

mandatory tidak mendukung dari setiap potensi bahaya yang ada. Selain

tidak terpasang, safety sign dengan sinyal pemberitahuan penempatannya

tidak sesuai yaitu jauh dari pekerja dan kondisinya sudah kurang baik.

Sebagaimana disampaikan oleh Tinarbuko (2008), bahwa terdapat 4

kriteria penerapan safety sign yang baik yaitu mudah dilihat, mudah

dibaca, mudah dimengerti, dan dapat dipercaya. Jika tanda penggunaan

APD pada mandatory sign tidak dirubah sesuai dengan tempatnya, maka

yang akan terjadi adalah tidak dapat dilihat dan dimengerti karena tidak

dapat memberikan pesan kepada pekerja atau tamu perusahaan, bahwa di

area tersebut menyimpan bahaya dan harus melindungi diri dengan APD.

Akibatnya dapat menimbulkan risiko bahaya seperti terpeleset, terjatuh,

tersayat, jari terpotong, dsb.

169
Selain tanda indikasi perintah, pada potensi bahaya biologis

terhadap gangguan pernapasan juga tidak disertai dengan simbol dan

tanda berbahaya di sekitar mesin DGMP, DGAL, MATEC dan JOBS. Hal

tersebut menunjukkan ketidaksesuaian terhadap potensi bahaya biologis

yang mengakibatkan gangguan pernapasan. Oleh akrena itu, upaya

pengendalian yang dilakukan dalam bentuk safety sign perlu dilakukan

evaluasi. Evaluasi berdasarkan ketidaksesuaian tersebut diatur dalam

Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2012 pada bab keamanan bekerja

berdasarkan SMK3 yang menyatakan upaya pengendalian risiko di

evaluasi secara berkala apabila terjadi ketidaksesuaian atau perubahan

pada proses kerja.

Menurut Health and Safety Executive (2009) yang mengikuti

ketentuan dari BSI bahwa safety sign terbagi menjadi 5 yaitu prohibition

sign (tanda larangan), warning sign (tanda peringatan), mandatory sign

(tanda perintah, safe condition sign (tanda kondisi aman), dan fire fighting

(tanda peralatan kebaran). Sedangkan dengan standar ANSI Z535

memiliki kesamaan dengan standar BSI akan tetapi terdapat perbedaan

yaitu terdapat caution sign dan notice sign pada standar ANSI. Warna

simbol warning sign juga berwarna oranye, jika di BSI berwarna kuning

warna kuning dengan standar BSI adalah indikasi adanya warning sign.

Oleh karena itu PT. Dirgantara Indonesia dalam penerapan safety sign

dapat menggunakan salah satu standar atau kedua-duanya sesuai dengan

potensi bahaya di tempat kerja.

170
BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang didapat berdasarkan hasil dari tujuan penelitian

ini adalah sebagai berikut :

1. Proses produksi di Bidang Profilling Prismatic Machine memiliki 3

bagian berdasarkan karakteristik dan jenis kerja mesin diantaranya

mesin DGMP, DGAL, MATEC dan JOBS. fungsi dari ketiga bagian

mesin yaitu melubangi dan membentuk material yang berasa dari

alumunium, besi, baja, dsb.

2. a) Potensi bahaya yang terdapat di Bidang Profilling Prismatic Machine

yang terbagi berdasarkan 3 bagian mesin yaitu DGMP, DGAL,

MATEC dan JOBS, memiliki potensi bahaya yang berasal dari

proses produksi. Terdapat bahaya mekanik, fisik, kimia, fisiologis

dan ergonomi. yang dijelaskan pada tabel 5.3

b) Sebagian besar tingkat risiko di Bidang Profilling Prismatic Machine

dari hasil penilaian risiko yaitu high risk. Diantaranya dibedakan

berdasarkan tingkat bahaya sangat ekstrim, tinggi, serius, sedang,

dan kecil. Risiko yang ada di Bidang Profilling Prismatic Machine

yaitu bahaya mekanik (terpeleset, terjatuh, tertimpa, tersayat,

tergores, jari terpotong, gangguan pernapasan, gangguan

pendengaran, tersengat listrik, tersandung, tertiban, serta tergencet).

171
Bahaya fisik (cipratan dural, sisa material/chips). Selanjutnya risiko

gangguan ergonomi dan kimia (limbah hasil material).

3. Keberadaan safety sign yang mengindikasikan risiko dan potensi bahaya

dari proses produksi masih kurang tepat, karena belum sesuai dengan

potensi bahaya dan risiko ditempat kerja.

4. Analisa kebutuhan safety sign dilakukan sesuai dengan pedoman

Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2012, standar ANSI Z535 dan BSI

5499 di Bidang Profilling Prismatic Machine yaitu dibutuhkannya

caution sign, warning sign, notice sign, dnger sign, prohibition sign,

serta safe conition sign yang telah disesuaikan dengan hasil identifikasi

bahaya.

5. Hasil analisa kesesuaian keberadaan safety sign di Bidang Profilling

Prismatic Machine menunjukkan tidak sesuai. Ketidaksesuaian

berdasarkan aspek keberadaan, penempatan, kondisi, analisa kebutuhan,

dan hasil wawancara mendalam, bahwa jika dibandingkan dengan

standar dan potensi bahaya tidak cocok. Hal tersebut telah didukung

dari hasil perbandingan antara kebutuhan dengan keberadaan safety sign

di 3 bagian Bidang Profilling, berdasarkan hasil identifikasi bahaya dan

risiko bahaya.

172
7.2 Saran

Adapun saran yang diberikan berdasarkan hasil penelitian ini adalah

sebagai berikut :

1. Sebaiknya dilakukan kegiatan identifikasi bahaya ulang dan inspeksi

bahaya rutin di seluruh Direktorat Produksi. Inspeksi dilakukan dengan

tujuan untuk melihat kemunculan potensi bahaya yang tidak terlihat

saat melakukan identifikasi bahaya.

2. Walaupun safety sign bukan pengendalian yang utama, tapi dapat

memberikan gambaran bahaya di area kerja serta dapat

meminimalisasikan kecelakaan ditempat kerja. Oleh karena itu, akan

lebih baik jika safety sign diterapkan secara optimal berdasarkan

potensi bahaya dengan memberikan tanda warning, caution, danger,

notice,safe condition serta indikasi adanya alat-alat pemadam kebakaran

sesuai dengan standar yang berlaku.

173
DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, S. 2013. Modul Kesehatan dan Keselamatan Kerja (pp. 26).

ANSI Standard. 2007. ANSI Z535.4-2007 for Product Safety Sign and Labels.

Rosslyn : National Electrical Manufactures Association.

ANSI Standard. 2011. ANSI Z535.3-2011 Criteria for Safety Symbol. National

Electrical Manufactures Association (NEMA)

Alijoyo, Antonius. 2005. Enterprise Risk Management, Pendekatan Praktis. Ray

Indonesia.

Australia Standars/New Zaeland. 2004. Risk Management 4360. Standard

Association of Australia, Strathfield.

B. Miles, Matthew & Huberman, A. Michael. 1992. Analisis Data Kualitatif.

Terjemahan Tjetjep Rohendi Rohidi, Jakarta : UI Press.

British Standar Institute. 1996. Safety Sign Regulations. British. Brady

Budiono, sugeng A.M. 2003. Manajemen Risiko dalam Hiperkes dan

Keselamatan Kerja Bunga Rampai Hiperkes dan KK Edisi kedua

Semarang : Universitas Diponegoro.

Badan Safety Sign Indonesia. 2009. Diakses di http://safetysign.co.id/ pada 12

Maret 2014 – 3 Juli 2014

Cahyani, P. 2009. Pemetaan Sistem Organisasi Sebagai Refleksi Budaya

Keselamatan Kerja (Safety Culture) Industri Manufaktur Indonesia.

Institut Teknologi Bandung, Bandung.

174
Center for Cheemical Process Safety (CCPS). 2000. Guidelines for Chemical

Process Quantitative Risk Analysis, 2 edition, American Institute of

Chemical Engineers (AIChE). New York.

Gustosign. 2013. Safety sign atau rambu keselamatan/rambu K3 merupakan

kelompok sign yang berfungsi untuk mejaga keselamatan kerja.

Bandung. Diakses di http://gustosign.com/web/safety-sign/ pada 1 Juli

2014.

Harold, Kerzner. 2001. Project Management: a. System to Planning, Scheduling

and Controlling.

Harold, Kerzner. 2001. Project Management: a. System to Planning, Scheduling

and Controlling.

Health and Safety Executive. 2009. The Health and Safety (Safety Signs and

Signals) Regulation 1996. United Kingdom.

Herdiansyah, Haris. 2011. Metodologi Penelitian Kulitatif. Jakarta: Salemba

Humanika.

Ilmi, Toyibatul. 2012. Rambu-Rambu Kesehatan & Keselamatan Kerja.

Engineering Articles.

Juliana, Anda Ivana 2008. Implementasi Metode Hazops dalam Proses

Identifikasi Bahaya dan Analisa Risiko Pada Feedwater System di Unit

Pembangkitan Paiton PT. PJB. Surabaya: Politeknik Perkapalan Negeri

Surabaya.

175
Jay Heizer dan Barry Render. 2005. Operation Management, 7th edition. Jakarta :

Salemba Empat

Kolloru, Rao V et all. 1996. Risk Assessment and Management handbok for

environmental health and safety professionals. Newyork : Mc Graw Hill.

Kusrianto, Adi. 2009. Pengantar Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta: ANDI.

Lestari, Fatma. 2014. Strategi Peningkatan Keselamatan Kerja & Keselamatan

Publik di Indonesia melalui Pendekatan Sistematik Pencegahan

Munawir, A. 2010. HAZOP, HAZID, VS JSA. Migas Indonesia

Marquette, K. 2013. ANSI Standars for Safety Signs. eHow

NFPA 1600. Standar on Disaster / Emergency Management and Business

Continuity Program 2007 Edition, NFPA, Batterymarch Park, Quincy

Norman K Denzin, Yvona Lincoln. 1994. Hand Book of Qualitative Research,

California : SAGE Publications

OHSAS 18001. 2007 Occupational Health and Safety Assessment Series, OH&S

Safety Management System Requirements.

PT. Dirgantara Indonesia. 2011. Arsipiptek. Diakses di

http://arsipiptek.blogspot.com/2011/01/pt-dirgantara-indonesia-peluang-

dan.html) pada 12 November 2013 pukul 11.25 PM

Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen

Keselamatan Dan Kesehatan Kerja. oleh : Presiden RI

Redja, George E. 2003. Principles of Risk Management and Insurance. Eight

Edition : Person Education.

176
Render, B. J. Heizer. 2005. Operations Management. Penerbit Salemba Empat.

Pearson Education Asia.

Ramli, S. 2010. Manajemen Risiko Dalam Perspektif K3 OHS Risk Management.

Jakarta: Dian Rakyat.

Ramli, S. 2010b. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja OHSAS

18001 (Vol. 01). Jakarta: Dian Rakyat.

Safety Line Institute. 2005. Identify Hazard and Assess OHS Risk. Australia.

Safety Line Institute. 2005. Risk Management Process. Australia.

Suma’mur, Dr. P.K. Msc. 1981. Keselamatan Kerja & Pencegahan Kecelakaan.

PT. Toko Gunung Agung.

Simpson, Mary Anne. 2013. OSHA Sign Standards. eHow.

Standard Nasional Indonesia (SNI). 2006. Manajemen Tanggap Darurat untuk

Keadaan Darurat di kegiatan Usaha Pertambangan

Siswowardojo, Widodo. 2003. Norma Perlindungan Ketenaga Kerjaan,

Keselamatan Dan Kesehatan Kerja. Yogyakarta

Syartini, Titi. 2010. Penerapan SMK3 dalam Upaya Pencegahan Kecelakaan

Keja di PT. Indofood CBP Sukses Makmur Divisi Noodle Cabang

Semarang. Surakarta : Laporan Khusus Program Diploma III Hiperkes

Keselamatan Kerja, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret

Sugiyono. 2012. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Soeripto, IR. Vol. XXXI : No. 1 Oktober-Desember. 1997. Job Safety Analysis.

Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja.

177
Tarwaka. 2008. Manajemen dan Implementasi K3 di Tempat Kerja. Surkarta :

Harapan Press.

Tinarbuko, Sumbo 2008. Semiotika Komunikasi Visual. Yogyakarta : Jalasutra

Taylor, G., dkk. 2004. Enhancing Occupational Safety and Health. India: Great

Britain.

UNSW Health and Safety. 200). Risk Management Program. Canberra:

University of New South Wales. Diakses di

http://www.ohs.unsw.edu.au/ohs-riskmanagement/index.html. pada 2

Mei 2014)

Undang-undang No. 03 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Oleh :

Presiden RI.

Undang-undang No 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. oleh : Presiden RI

Webb, A. 1994. Risk Analysis for Business Decisions. Engineering Management

Journal.

178
LAMPIRAN
Kepada Yth :

Calon Informan Penelitian

Di PT. Dirgantara Indonesia

Dengan Hormat,

Yang bertanda tangan di bawah ini Mahasiswi Program Studi Kesehatan


Masyarakat Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Nama : Evianti Anggun Lestari

NIM : 1110101000009

Akan mengadakan penelitian dengan judul “Analisis Kesesuaian


Keberadaan Safety Sign Berdasarkan Bahaya yang terdapat di Departemen
Machining Direktorat Produksi PT. Dirgantara Indonesia, Tahun 2014”.
Penelitian ini dilaksanakan sebagai salah satu kegiatan dalam menyelesaikan tugas
akhir untuk memperoleh gelar sarjana Strata 1 di Program Studi Kesehatan
Masyarakat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan


safety sign berdasarkan hasil dari identifikasi bahaya dalam kegiatan proses
indutsri bidang manufaktur PT. Dirgantara Indonesia. Penelitian ini tidak
menimbulkan akibat yang merugikan bagi informan dan kerahasiaan semua
informasi yang diberikan akan dijaga, serta hanya digunakan dalam kepentingan
penelitian.

Atas perhatian dan kesediaan Bapak/Ibu yang bersedi menjadi informan saya
ucapkan terima kasih.

Peneliti,

Evianti Anggun Lestari


Pedoman Wawancara

“ANALISIS KESESUAIAN KEBERADAAN SAFETY SIGN BERDASARKAN

BAHAYA YANG TERDAPAT DI DEPARTEMEN METAL FORMING

DIREKTORAT PRODUKSI PT. DIRGANTARA INDONESIA, TAHUN 2014”

Panduan Wawancara Informan Utama


(Staf Departemen K3LH)

Kode Informan :

Tanggal Informan :

Pewawancara :

Identitas Informan :

a. Nama / Inisial Informan :


b. Jabatan / Jenis Pekerjaan :
c. Jenis kelamin :
d. Usia :

Tertanda Bersedia Menjadi Informan :

Signature Informan,

(.......................................)
Topik : Informasi Mengenai Tempat Penelitian di Direktorat Produksi

Panduan Wawancara

1. Bagaimana angka kecelakaan di Direktorat Produksi ?

2. Terdapat di Departemen apa kecelakaan tertinggi di Direktorat Produksi ?

3. Berapa angka SIR dan FIR di Departemen yang memiliki angka

kecelakaan tertinggi selama kurun waktu 5 tahun sebelumnya ?


Topik : Informasi Mengenai Pelaksanaan Manajemen Risiko

Panduan Wawancara

1. Bagaimanakah pelaksanaan proses produksi di Direktorat Produksi PT.

Dirgantara Indonesia ?

2. Bahaya apa saja yang terdapat di Departemen Machining Direktorat Produksi

PT. Dirgantara Indonesia ?

3. Bagaimana cara melakukan identifikasi bahaya di Direktorat Produksi oleh

Departemen K3LH PT. Dirgantara Indonesia ?

4. Bagaimana cara menilai bahaya atau risiko yang dilaksanakan Departemen

K3LH di PT. Dirgantara Indonesia ?

5. Bagaimana cara pengendalian bahaya yang dilakukan Departemen K3LH PT.

Dirgantara Indonesia berdasarkan hasil identifikasi dan penilaian risiko /

bahaya ?

6. Siapa saja orang yang terlibat dalam penentuan kebijakan dalam mengatur

manajemen risiko di Direktorat Produksi PT. Dirgantara Indonesia ?

7. Apakah form yang dipakai dalam mengidentifikasi bahaya, penilaian serta

pengendalian bahaya yang digunakan adalah prosedur yang mutlak dalam

manajemen risiko di industri penerbangan seperti PT. Dirgantara Indonesia ?

8. Bagaimana penerapan pengendalian teknis / engineering control yang sudah

dilaksanakan oleh Departemen K3LH ?

9. Bagaimana penerapan pengendalian administrasi / administrasi control yang

sudah dilaksanakan oleh Departemen K3LH ?

10. Bagaimana cara pengendalian bahaya yang dilakukan Departemen K3LH

berdasarkan penggunaan APD yang harus dipakai pekerja ?


Topik : Informasi Penerapan Safety Sign

Panduan Wawancara

1. Bagaimana kebijakan terhadap penerapan safety sign sebagai bentuk

pengendalian adinistrasi di Direkorat Produksi PT. Dirgantara Indonesia ?

2. Bagaimana kondisi safety sign saat ini yang sudah diterapkan ?

3. Standar safety sign apa yang digunakan di Direktorat Produksi PT.

Dirgantara Indonesia ?

4. Apa alasan menggunakan standar safety sign tersebut ?

5. Siapakah yang ditugaskan untuk memasang safety Sign di Direktorat Produksi

?
Panduan Wawancara Informan Pendukung
(Manajer / Supervisor / Team Leader)

Kode Informan :

Tanggal Wawancara :

Pewawancara :

Identitas Informan :

a. Nama / Inisial Informan :

b. Jabatan / Jenis Pekerjaan :

c. Jenis kelamin :

d. Usia :

Tertanda Bersedia Menjadi Informan:

Signature Informan,

(.......................................)
Panduan Wawancara Nara Sumber Pendukung
(Manajer / Supervisor / Team Leader)

Kode Nara Sumber :

Tanggal Wawancara :

Pewawancara :

Identitas Nara Sumber :

a. Nama / Inisial Nara Sumber :

b. Jabatan / Jenis Pekerjaan :

c. Jenis kelamin :

d. Usia :

Tertanda Bersedia Menjadi Nara Sumber :

Signature Informan,

(.......................................)
Panduan Wawancara (Manajer)

1. Terdapat berapa bidang tahapan di Departemen Machining ?

2. Bagaimana tingkat incident / kejadian di Departemen Machining ?

3. Bagaimana tingkat kecelakaan di Departemen Machining ?

4. Pada tahap bidang apa tingkat kecelakaan tertinggi di Departemen Machining

5. Bagaimana tahapan proses produksi di bidang tersebut ?

6. Berapa jumlah mesin yang terdapat di bidang tersebut ?

7. Bahaya apa saja yang terdapat di bidang tesebut ?

8. Bagaimana catatan P3K di bidang tersebut ?

9. Bagaimana pelaksanaan manajemen risiko (identifikasi bahaya, penilaian

risiko dan pengendalian risiko) di Departemen Machining dan di bidang yang

memiliki tingkat kecelakaan tertinggi ?

10. Bagaimana penerapan pengendalian bahaya yang sudah dilakukan di

Departemen Machining dan di bidang yang memiliki tigkat kecelakaan

tertinggi ?

11. Bagaimana penerapan pengendalian teknis (engineering control) yang sudah

diterapkan di Departemen Machining ?

12. Bagaimana penerapan pengendalian administrasi (administrasi control) yang

sudah dilakukan ?

13. Bagaimana prosedur penerapan safety sign di Departemen Machining ?

14. Bagaimana keadaan safety sign di Departemen Machining ?

15. Apakah penempatan safety sign yang sudah ada sesuai dengan bahaya dan

proses kerja di Departemen Machining ?

16. Siapakah yang bertugas memasang Safety Sign di Departemen Machining ?


17. Bagaimana pendapat Bapak/ibu tentang pentingnya penerapan safety sign di

Departemen Machining Direktorat Produksi PT. Dirgantara Indonesia ?


Panduan Wawancara (Supervisor)

1. Terdapat berapa bidang tahapan di Bidang ini ?

2. Bagaimana tingkat incident / kejadian di Departemen Machining ?

3. Bagaimana tingkat kecelakaan di Departemen Machining ?

4. Pada tahap bidang apa tingkat kecelakaan tertinggi di Departemen Machining

5. Bagaimana tahapan proses produksi di bidang tersebut ?

6. Berapa jumlah mesin yang terdapat di bidang tersebut ?

7. Bahaya apa saja yang terdapat di bidang tesebut ?

8. Bagaimana catatan P3K di bidang tersebut ?

9. Bagaimana pelaksanaan manajemen risiko (identifikasi bahaya, penilaian

risiko dan pengendalian risiko) di Departemen Machining dan di bidang yang

memiliki tingkat kecelakaan tertinggi ?

10. Bagaimana penerapan pengendalian bahaya yang sudah dilakukan di

Departemen Machining dan di bidang yang memiliki tigkat kecelakaan

tertinggi ?

11. Bagaimana penerapan pengendalian teknis (engineering control) yang sudah

diterapkan di Departemen Machining ?

12. Bagaimana penerapan pengendalian administrasi (administrasi control) yang

sudah dilakukan ?

13. Bagaimana prosedur penerapan safety sign di Departemen Machining

khususnya dibidang tersebut ?

14. Bagaimana keadaan safety sign di Departemen Machining khususnya di

bidang tersebut ?
15. Apakah penempatan safety sign yang sudah ada sesuai dengan bahaya dan

proses kerja di Departemen Machining khususnya di bidang tersebut ?

16. Siapakah yang bertugas memasang Safety Sign di Departemen Machining ?

17. Bagaimana pendapat Bapak/ibu tentang pentingnya penerapan safety sign di

Departemen Machining Direktorat Produksi PT. Dirgantara Indonesia ?


Lampiran

Matriks Hasil Wawancara – Penerapan Safety Sign

Informan Utama

Informan 1 Informan 2 Informan 3 Informan 4


(01) (02) (03) (04)
Topik Penanggung Jawab
Kriteria Staf Bidang Staf Bidang Kesimpulan
Pembahasan Staf Bidang Staf Bidang
Pengendalian & Pengendalian &
Pengendalian & Manajemen
Pengukuran Pengukuran
Pengukuran Departemen K3LH
Departemen K3LH Departemen K3LH
Departemen K3LH
Penerapan Prosedur Sesuai dengan Melihat potensi Pengadaan dari, Berdasarkan Berdasarkan potensi
Safety Sign penerapan safety potensi bahaya hasil bahaya. K3LH. Dimulai dari inspeksi lapangan, bahaya yang didapat
sign identifikasi, hasil mendisain, audit, rekomendasi dari proses hasil
audit, jika sudah merencakan sesuai pengendalian identifikasi bahaya,
labur, rusak, ada dengan kebutuhan di setelah investigasi audit, rekomendasi
proses baru dll. proses produksi. kecelakaan kerja, investigasi jika terjadi
Diganti dan tinggal untuk di awal kecelakaan, serta
meminta ke berdasarkan sampai tahap
Departemen K3LH. identifikasi bahaya. mendesain dan
mencetak warning
sign.
Kondisi safety sign Bagus, jika barang Belum di update lagi, Ada, cepat 90% bagus, 10% Cukup baik, akan
sudah habis, sudah sudah luntur. mengelotok, sekarang masih kurang tetapi belum di
diantisipasi dengan dalam bentuk plat karena masih update, sudah
mencetak yang baru, yang dibuat oleh terjadi perubahan mengelotok, warnanya
selalu ter-update. K3LH produksi. struktural lokasi luntur, belum sesuai
prosuksi perbagian. dengan tempat kerja
karena masih adanya
struktural organisasi
yang berubah
sehingga lokasi
produksi juga berubah
yang mempengaruhi
safety sign yang sudah
ada.
Standar safety Referensi dari mana Searching dari mana Referensi dari mana Warnanya kuning- Berdasarkan kebijakan
sign yang saja, dengan saja, menggunakan saja. kuning, ANSI terdahulu,
diterapkan kebijakan manual sumber dari mana menggunakan
K3LH, standar saja. beberapa referensi
SMK3 refernsinya sumber internet serta
dari vendor. Semua lebih menganut ke
dipakai dari audit, standar Amerika yaitu
ANSI, standar ANSI.
amerika. Dominan
pakai standar
Amerika.
Alasan Memenuhi Tidak tahu alasannya. Menggunakan Menganut ke Sebagai pemenuhan
menggunakan requirement kebijakan dari yang Amerika requirement customer.
standar tersebut customer. terdahulu, dan
mengadop dari
perusahaan besar.
Petugas pemasang Jika ada yang Staf departemen Pengadaan dari Organisasi terkait, Pengadaan ada di
safety sign meminta ke K3LH, akan tetapi K3LH, jadi jika di dari petugas K3LH departemen K3LH,
Departemen K3LH jika ada yang meminta direktorat produksi produksi dan yang memasang bisa
diberikan. diberikan. ingin memakai tinggal sebagai jembatan dari Supervisor yang
menggunakan saja. adalah P2K3 meminta ke
Departemen K3LH,
tim K3LH produksi
maupun pihak P2K3
sebagai jembatan
antara produksi dan
K3LH.
Lampiran

Matriks Hasil Wawancara – Penerapan Safety Sign

Informan Pendukung

Informan 3
Informan 1 Informan 2
(003)
(001) (002)
Topik Pembahasan Kriteria Supervisor di Kesimpulan
Manajer Departemen Supervisor di Departemen
Departemen
Machining Machining
Machining
Bagian/bidang yang ada Bagian adalah Saat ini masih ada 4 bidang Saat ini ada 4 bidang, Saat ini masih ada 4
di Departemen organisasi, mempunyai yaitu profilling, medium, Saya berwewenang bidang, dan akan adanya
Machining 7 Supervisor dengan small, dan late. 7 bidang di Bidang 3 Axis perluasan struktur
struktur bidang yang adalah rencana organisasi Prismatic Machine. organisasi yang akan
baru. Dibedakan selanjutnya dan sedang datang menjadi 7 bidang.
berdasarkan gru dri berproses.
teknologi.
enerapan safety Prosedur penerapan Dilakukan identifikasi Dalam penerapan safety Telah disesuaikan Pelaksanaan dilakukan
ign safety sign bahaya oleh tim dari sign pihak Machining tidak dengan bahaya dan oleh tim K3LH produksi,
Machining dan tim dari dilibatkan, yang APD yang digunakan dan pengadaan safety
Departemen K3LH menerapkan adalah K3LH di tempat kerja. sign dari Departemen
dan K3LH produksi. di produksi yang meminta K3LH. Sebelum
Pengadaan dari sign ke Departemen K3LH. penempatan safety sign
Departemen K3LH, Akan tetapi dalam disesuaikan dengan
pelaksanaan oleh penempatannya masih bahaya dan penggunaan
K3LH produksi. kurang tepat, sehingga sign APD yang bekerja sama
yang ada tidak memberikan dengan pihak
makna. produksi/bengkel.
Kondisi safety sign Kondisinya tidak Safety sign lengkap, tetapi Masih kurang dan Kualitas masih kurang,
memuaskan. kualitas sudah buram, kotor, harus dipasang lagi, karena sudah buram,
hilang, hanya tanda karena adanya letaknya sudah tidak
mandatory/penggunaan perubahan tata letak sesuai, kotor, dan bahkan
APD, tidak di maintenance. lokasi produksi. banyak yang tidak ada
sign nya.
Standar safety sign yangAda yang sudah sesuai Sudah sesuai dengan Belum sesuai dengan Ada yang sudah sesuai
diterapkan ada yang belum karena mandatory, akan tetapi potensi bahaya dan ada yang belum
belum pick hanya letaknya saja yang karena masih terjadi sesuai karena masih
pemindahan rotasi belum tepat. perpindahan lokasi adanya perpindahan
kerja dan belum di kerja. lokasi kerja.
revisi termasuk safety
sign yang ada.
Alasan menggunakan Pentingnya sebesar Secara manajemen itu Sangat penting Di pandang penting
standar tersebut 10% karena fungsinya penting, tapi secara moral karena yang utama karena dapat
hanya untuk belum mencapai efektivitas dan dapat memberikan pengaruh
mengingatkan saja, kepada pekerja. mengindikasikan kepada pekerja untuk
sedangkan operator adanya potensi mengindikasikan adanya
maupun pekerja bahaya maupun potensi bahaya dan
lainnya sudah tahu tanda peringatan agar mandatory yang ada di
risiko yang ada di terhindar dari tempat kerja.
lingkungan kerja. kecelakan.
Petugas pemasang safety Semua dari K3LH. Sudah ada dari di Kerjasama antara tim Kerjasama antara orang
sign bangunnya ruang produksi. K3LH dan bengkel. dari machining, K3LH
produksi dan
Departemen K3LH.
Lampiran

Transkip Hasil Penerapan Safety Sign – Informan Utama

Kode Informan 01
Inisial : SY
Tanggal Wawancara : 13 Mei 2014

Topik Peneliti Informan (Kepala Staf Bidang Pengawasan dan Pengukuran Departemen K3LH)
Penerapan Safety “ok pak, karena saya disini fokus “Nah, di HIRAC itu kan ada yak, kemudian didalam sub itu tadi diakhirnya kan ada
sign kepada safety sign yaitu salah administratif. Disitulah kita lakukan, oh ini harus safety sign dipasang, apa. Nah, itu apa ya
satu tindakan bentuk yang juga udah cetak banyak. Jadi kita himbau safety sign yang sudah labur, sudah rusak dll.
pengendalian administrasi, itu Diganti. Yang lain, ada proses baru, dimana ada potensi bahayanya yang apa, perintahnya
tahapan prosedur penerapan apa, tinggal pinta kesini. “
safety sign yang ada disini seperti
apa pak?”
“Berarti yang melakukan “iya, kita libatkan antisipasi mereka, kenapa, karena ketika semuanya dipandu dari sini, dia
identifikasi itu siapa pak?” merasa tidak dilibati, enggak merasa berkepentingan. Padahal kan safety itu kepentingan
semua orang, sehingga smua orang harus peduli. Ketika kepedulian itu datang dari diri
sendiri itu bagus, peduli apa, ya peduli mengingatkan. Pedulikan kondisi lingkungan aman
tadi kan. Misalnya warning sign, kadang2 banyak yang lupa untuk ngingetin. Katanya, gak
ada warning sign nya sih, mana. Itu terbukti diaudit ada kompinen tadi.
“ok pak berarti yang pertama dai “heem, baguss baguss..jadi kita asudah antisipasi ketika barang ini habis, kita sudah cetak.
hasil identifikasi ya pak, lalu yang Kemudian, poster juga pernah kita lombakan, untuk membuat hal yang baru lah maksudnya.
kedua berdasarkan hasil audit. Jadi itu kita update terus yah. Disamping fasilitasnya di update, itu juga disesuaikan juga
Lalu bagaimana kondisi safety dengan fasilitasnya. ”
sign saat ini yang ada pak, baik
materialnya, penempatannya,
serta baik keberadaannya?”
“itu apakah sesuai dengan “Ahh, tentang warning sign disamping kita juga memberikan peluang mereka untuk berkreasi.
bahayanya pak, dalam Mungkin slogan, rambu-rambu, warning sign yang kita buat sudah standar. tapi mereka kita
pemasangan safety sign.lalu juga berikan kebesan berkreasi, yang penting slogan it bermanfaat dan sesuai dengan potensi
bagaimana keadaan safety sign berbahaya yang ada di tempat kerjanya. Itu banyak itu, dan itu kita juga apresiasi tinggi dan
saat ini, misalkan ada bagian punya nilai yang tinggi. Karena dia bisa berinisiatif sendiri dan ternyata dari segi estetika dll
yang tdk boleh di pegang, disitu itu bagus. Kita bisa mengadop dari mereka2. Cuman umumnya di PT. Di maunya terima jadi.
ada tandanya, tanda harus Ahhh, kalau udah mau terima jadi, yaudah yang standar, kita kasih aja yang ada, buat itu
menggunakan face shield ada yang standar. karena dari bentuk dan ukuran dan lain-lain itu kan seolah kaku yah, gak ada
tandanya. Nah, di PT. DI sendiri nyeni nya lah gitu. Nah, kita berikan kebebsan juga disitu, yang penting ada potensi bahaya
ini apakah sudah sesuai ? tinggi tidak terjadi kecelakaan. “
“itu di seluruh karyawan di “yaaah, eehh, artinya kami memberikan peluang ya untuk mereka berkarya, Cuma ya sedikit.
Direkorat Produksi pak, itu Biasanya ya ketika mau ikut lomba 5 R, nah pesertanya itu yan punya mental juara, dia
membuat warning, tanda slogan berkreasi sendiri, karena itu dapet point tinggi. Gak hanya mainn terima jadilah gitu, dari sini
atau poter dan lain sebainya ?” tempel2 kan gitu..”
“Lalu pak, standar yang di “Ada, referensi boleh dicari dimana saja, tapi dari kita sudah menggunakan manual
tetapkan, menurut prosedur yang kebijakan K3LH aja, no berapa, cuman kan disitu terakhir ada referensinya.”
ada di Departemen K3LH,
mengenai safety sign sendiri itu
menggunakan standar apa pak?”
“tapi mohon maaf pak, setelah “iya, ahh SMK3 yah, emang belum ada. Tapi referensi dari vendor.”
saya mencari referensi standar
dari K3LH maupun SMK3 belum
mengeluarkan standar safety sign
pak?”
“Nah pak, vendornya itu terdapat (sambil menjawab betul, betul...)
dari bagian negara apa pak, “Nah kita pakai semua, semua kita pakai. Makanya tadi kan, dari audit dari ANSI dari
karena kan standar yang saya standar amerika, nah kita pakai standar amerika. Supaya sama gitu, sudut pandang
pelajari itu ada dari amerika, persepsinya, dengan format yang sama.”
eropa, dan OHSAS itu juga. Nah
PT. Di sendiri vendornya dari
cassa ya pak, cassa itu kan airbus
ya pak, nah itu dari Eropa.
Apakah PT.DI menggunakan
standar dari British dengan nama
BSI (British Standar Institute,
kalau yang dari Amerika
namanya ANSI..?
“oh berarti keduanya di padukan “iyah, iyah....”
gitu pak?”
“nah di setiap standarnya kan “nahh, iya kalau hanya unsur selera, cirilah ciri, artinya kita itu gak terlalu kekeh lah. Jadi
juga punya kelebihan dan kita ikutin itu ketika ada audit, nah eropa juga kan sekaran uni eropa, spanyol itu, engga itu
kekurangan dari segi khusus pesawat terbang itu airbus. Itu uni eropa kita, gak ada spanyol lagi, gak ada. Jadi
pictogramnya, tergantung selera airbus, kita ikutin airbus, makanya standarnya kita pakai. Kan PT. DI itu industri pesawat
ya pak. Kebetulan saya bawa terbang bertara internasional. Kita bisa terima semua order dari mana saja, kita harus
regulasi standar BSI pak (sambil menyesuaikan persyaratan yang diminta. Soalnya apa, termasuk tentang K3LH juga begitu.
menunjukkan file BSI). Ini kan Mencaku K3LH juga harus dipenuhi. Makanya kalau mencakup warna2 disini emang banyak
kebetulan proposal skripsi saya warna2. Ahh, gitu, kaya misalnya helmt ada warna kuning ada biru, kita juga punyaa. ... dulu
menggunakan standar dari BSI , kalau misalkan mau lewat sini ada warna2, tapi skrg engga. Kalau dulu di bengkel kerja juga
karena saya pikir BSI ini sering ada warna hijau karna dulu jerman kita. Trs kan skrg uni eropa, apakah skrg memperhatikan
banyak dipakai di berbagai warna2 itu, engga terlalu penting juga sih, tapi kan dalam rangka menyenangkan costumer
perusahaan, khususnya di Asia, kita, menyenangkan vendor kita, kita ikutin, hanya sekedar warna apa susahnya sih? Iya kan,
lalu PT. DI sendiri kan bekerja beli misalkan helmt disana misalkan standarnya harus kuning, apa susah nya kita beli yang
sama dengan cassa yang lekat warna kuning,kan gitu.. nah, itu bukan substansinya sebenarnya, jadi substansi yang
dengan Eropa makanya saya sebenarnya ya itu pakai helmt nya untuk lebih menyenangkan lagi. Kalau perlu untuk helmt2
bawa standar ini pak. Mengenai yang ada warna warni suoaya bisa menyesuaikan permintaan dia, ya kita warnain kuning y
tandanya ANSI dan BSI maksud engga masalah, kan gitu.. dan anda harus tahu, ketika kita produk N250 itu referensinya dari
dan tujuannya sama, Cuma warna mana2 itu udh gak kita pakai, tapi pakai standar nusantara. Nahh,, semacam SNI nya lah
dan bentuknya aja yang berbeda skrg. udah, termasuk skrg tadi ISO itu dll nya pakai SMK3 , kita kedepankan standar produk
pak.. “ kita. Dan kita yakinkan apa yang mereka mau, sudah mencakup di SMK3, tinggal kita
terjemahkan kita polakan apa yang mereka inginkan, kan masing2 negara juga punya. Nah
kalau standar kita bisa kuat, bisa diakui oleh mereka, bahkan standar kita bisa diikuti oleh
mereka. Nah berhubung, kita masih belum kuat, yang kuat dikatakan amerika tadi, ya dia
duluan ya enak aja dia bisa menguasai dunia pakai standar ini, ibaratnya yang metal itu ISO
lah, yang bisa diterima di semua pihak. Padahal masukannya kan ISO juga dimasukan
berdasarkan standar2 didalam negara yang maju duluan, gitu.. “
“lalu kenapa alasan PT. DI “yah, memenuhi requirement customer gitu.. misalnya airbus aja, kita harus mengacu kesana.
menggunakan berbagai standar Kalau yang dipesan. Kalau engga ya kita pakai standar nasional. Misalnya untuk K3LH nya
safety sign yang tadi bapak bilang kita pakai aja SMK3. “
itu standar indonesia, ANSI, BSI
dicampur seperti itu pak?”
“pak, mohon maaf setelah saya “iyah. Nah dulu kita itu ada fungsi yang menangani standarisasi yang berbau keperawatan
tanyakan ke pembimbing saya yah, itu ada dan kreati f yah, apalagi diluar itu ada haki haki kan. Cuma untuk standar2 saya
apakah Indonesia sudah belum pernah liyat. Apalagi yang berhubungan dengan safety sign tadi yah. Jadi kalau belum
mempunyai standar safety sign itu ada kita gunakan saja standar2 yang sudah paten sudah terkenal. Tapi untuk tingkat
rasanya belum meluncurkan atau manajemennya kita pakai SMK3. Singkat aja yang akan kita kedepankan. Nah, umumnya
mengeluarkan standar sendiri ketika SMK3 kita itu bagus di setiap divisi2 yang diaudit oleh luar itu, bagus SMK3LH nya dia
pak. Nah, kalau untuk juga bagus diaudit dari model mana aja, gitu..”
memadukan prosedur disini bisa
jadi, tapi kalau dari SMK3 sendiri
belum ada, kecuali OHSAS secara
umum itu sudah ada...”
Lampiran

Transkip Hasil Penerapan Safety Sign – Informan Utama

Kode Informan 02
Inisial : TD
Tanggal Wawancara : 13 Mei 2014

Topik Peneliti Informan (Staf Bidang Pengawasan dan Pengukuran Departemen K3LH)
Penerapan “Ok pak, karena saya fokus dengan “Kan udah diliyat, lupa lah tuh hihihi.. nah dilihat dari identifikasi bahaya dulu,mulai dari
safety sign penerapan safety sign yang ada disini, situ kita bisa lihat potensi bahaya yang ada itu apa, misalnya kebisingan itu misalnya diberi
nah safety sin kan juga saah satu tanda.kondisinya berubah-ubah, kalau abis pengukuran desibelnya berubah ya tandanya
bentuk dari pengendalian administrasi diganti“
yah, lalu bagaimana kebijakan
penerapan safety sign yang ada disini
seperti apa pak?”
“lalu bagaimana sih pak kondisi “eee, inih, udah pada luntur. Belum di up date lah.”
safety sign saat ini yang ada di
lapangan seperti apa pak?”
“lalu standar safety sign yang “gak tau, ini pakk yayan tuh, pak yayan itu yang pengukurannya. Saya juga engga tau dari
digunakan itu berdasarkan apa pak mana. Sebenarnya gini, dalam manual itu dibelakangnya ada yah.”
khususnya di Machining, kan ada
standar dari amerika, eropa, juga
ohsas ?”
Jadi yang digunakan itu berdasarkan “jadi gini eehh, apah pemilihan safety sign yang ada di machining misalnya kita bikinnya
apa pak, ini kan saya bawa regulasi yang kecil kan engga mungkin, ukurannya berapa kali berapa.. jadi disana tuh sesuai dengan
dari BSI karena waktu proposal saya lokasinya justru.” (menanyakan ke pak yayan salah satu staf dengan campuran bhs sunda)
fikir karena ini perusahaan yang “pak yayan ari safety sign emang itu masuk kamana pak yayan? Mengacu kamana bikin
bekerja sama dengan eropa makanya duluna?nya aturan, tapi aturanna terlalu banyak. Jawab pak yayan : “Jadi kita secara garis
mengarah ke BSI, tapi bagaimana pak besarnya aja yah.. semua ada yah yang tadi disebut.“ Informan 2 langsung menjawab: “Jadi
kalau kondisi dilapangannya?” kita engga spesifik ke BSI.. saya engga terlalu ini yah.. jadi referensinya ya kalau menurut
saya si searching darimana mana.. jadi manual kabeh aya diditu terus di ditu aya, jadi
kesemua, tidak mengacu kemana-mana. Tapi kalau disini kan diliyat dari kepantasan yang
ada di lingkungan. ”
“Terus kenapa pak menggunakan “Ya karena...itu tadi.. gak tau alasannya apa, karena engga tahu, sesuai itu aja..
beberapa referensi?”
“lalu siapa yang bertugas memasang “yaa kita, tapi sebenernya kalau ada yang minta kita kasih, gituu..”
safety sign?”
“Ok pak, mungkin itu saja yang saya tanyakan , terimakasih pak ..”
Lampiran

Transkip Hasil Penerapan Safety Sign – Informan Utama

Kode Informan 03
Inisial : YS
Tanggal Wawancara : 19 Mei 2014

Topik Peneliti Informan (Staf Bidang Pengawasan dan Pengukuran Departemen K3LH)
Penerapan “Ok pak, karena fokus penelitian saya ke “aaaah, seperti safety sign, dari langkah awal yah, dari mendisain, di fungsi kita kan ada,
Safety Sign safety sign yaitu salah satu tindakan hail fungsi saya itu ada pengadaan warning sign, diantaranya kita membuat merencanakan
dari pengendalian dengan pendekatan kebutuhan dibengkel itu seperti apa, jadi kita juga seperti di bengkel A misalnya
administratif. Kebijakan dalam penerapan kebanyakan harus memakai safety atau sepatu safety atau harus apa kalau digudang
safety sign disini seperti apa pak untuk di harus pakai masker dan lain2.”
direktorat produksi?”
“Kalau untuk mengklasifikasikan safety “enggak, itu per area. Tapi untuk permesin itu ada seperti kata2 gini yah, aaaa hanya
sign nya sendiri itu per proses atau per boleh dijalankan oleh yang berwenang, karena dia kan permesin. Biasanya ada warning
mesin pak?” sign gitu yah, seperti cuci tangan, apah cuci tangan setelah operasi, yang gitu2 ada,
banyak sebenernya.”
“Ok pak, baik kalau gitu bagaimana si “alahamdulillah ada, tapii seee,, biasanya selalu ada, terus juga sekarang lebih bagus
pak kondisi safety sign yang ada saat ini lagii aaa K3LH yang disana katanya dalam bentuk plat. Karena kan kalau dari kita itu
yang sudah diterapkan menurut bapa?” kan cepet ngelotok yah,, ehhm cukup lah...”
“Lalu pak, standar yang digunakan dalam “Kayanya kita ngambil dari referensi mana2 yah, kayanyaaa yah. ... Karena saya kan
penerapan safety sign ini menggunakan juga warisan dari yang dulu yah, mungkin yang dulu2 ngambilnya dari mana saya juga
apa pak, standar safety sign ini sendiri kurang tahu. Tapi di kita dicoba di manual kan ada yah, di khusus manual , mungkin
kan juga ada dari eropa yaitu BSI, seperti itu. Nah mungkin dibelakang ada referensi dari mana, bisa aja dari situ dijadikan
amerika yaitu ANSI dan juga OHSAS. menjadi referensi.”
Nah, kalau PT. DI sendiri dalam
penerapannya mengikuti standar apa
pak?”
“Kalau secara lebih spesifik lagi “Aduh, saya juga kurang, kurang tahu yahh...”
mengadop atau menggunakan referensi
dari mana pak?”
“Lalu alasan PT.DI menggunakan “Kita mengambil yang sudah berjalan di tempat lain, terus dari perusahaan besar juga,
beberapa referensi itu kenapa pak?” ya itu kan nyari di google kan banyak. Kalau dari dulu2 mungkin ya dari pemerintah kan
juga ada yah. Tapi dibuku itu gak ada yah? “
“Jadi ini saya bawa regulasi dari BSI pak “tapi ada yang sama kan yah dengan kita?” eehhhmmm, eehhmmm..” (sambil membuka
seperti ini, karena kebetulan proposal selembaran hand out standar safety sign BSI 5499)
saya menggunakan referensi dari BSI” “dari beberapa mungkin ada yang saa nih, tapi mungkin dari warna kan kita juga kuning
(sambil memberikan hand out tersebut) yah? Iya kayanya kita ngambil dari..”
“itu dalam pemasangannya mereka di “iyah, karena yang pengadaannya kita. Jadi kalau mereka butuh kita inii kasihhh..
roduksi meminta ke departemen K3LH kadang kan kalau kita audit, kelihatan sudah kusam. Kadang2 kita yang kasih, kalau
pak?” misalkan seperti ini di area yang jauh seperti di Tasik, kan kasian jauh. Pas ada orang
yang mau kesana ada kepentingan nahh minta tolong titip. Jadi macem2 gitu, terus
kemarin yang ke surabaya juga sama. Nanti dititip, tp nanti dipesan tolong
pemasangannya diperhatikan ketinggiannya seberapa, harus dimana, gitu..”
“tapi bapak apakah punya standar “kalau yang seperti ini saya gak punya. Pokonya yang dijadikan acuan itu yang ada
regulasi manual khusus yang seperti dimanual itu lah pokonya intinya. Walau pada kenyataannya kan berkembang yang gak
regulasi yang saya bawa ini misalnya?” selalu seperti itu.”
“Ok baik pak terimakasih atas waktu Bapak, semoga informasi dari bapa bisa bermanfaat”
Lampiran

Transkip Hasil Penerapan Safety Sign – Informan Utama

Kode Informan 04
Inisial : ES
Tanggal Wawancara : 20 Mei 2014

Topik Peneliti Informan (Staf Bidang Pengawasan dan Pengukuran Departemen K3LH)
Pembahasan
Penerapan “lalu pak bagaimana kebijakan “hhmm sebentar, sebentar... hhmmm kebijakannya itu, sebenarnya kita itu berdasarkan satu inspeksi
safety sign penerapan safety sign yang sudah dilapangan yaa kalau sekarang itu lebih cenderung audit. Yaa untuk selanjutnya yaa, kemudian
diterapkan disana?” biasanya kalau ada investigasi kecelakaan dimana ada kekurangan safety sign itu bisa juga..”
“itu dilakukan identifikasi bahaya “ aaah iya kalau itu mah.. kalau inii kan untuk penerapan selanjutnya. Nah kalau penerapan
dulu tidak pak sebelumnya?” awalnya itu dilihat dari potensi bahaya yang ada dilingkungan kerja, ya kemudian kita itu kan masih
sentralisasi, lalu kita bagi-bagi, malah dulu mah kita masang sendiri, warning sign nya kita pasang-
pasang warning sign nya. Kemudian poster-posternya kita pasang sendiri. Nah kemudian kalau
sekarang, karena sudah di sentralisasi kaya APD mah dulu di sentralisasi jadi penerapanny aitu
paling juga berdasarkan audit, kemudian dari temuan itu mereka suka minta, nih temuannya warning
sign kurang, ini ini.. yah mereka yang aware datang kekita. Nah kemudian di audit kan di kasih
rating nah dengan dikasih audit itu mereka merespon, kok kita rting saya kecil, seperti ini.. kemudian
dari kebijakan di manual pun ada kalau utnuk safety sign itu. Kalau gak salah ada rambu2
keselamatan kerja. itu uga meruopakan aplikasi dilingkungan kerja?”
“Lalu pak menurut bapak “kondisinya kalau menurut saya itu, 90 % tu udah bagus gitu.. 90 % masih bagus, ya 10% nya masih
bagaimana kondisi safety sign ada kekurangan untuk tempat2 tertentu karena sekarang itu masih terjadi movible. Karena masih
yang ada pada saat ini pak?” ada perubahan, karena asih ada perubahan struktural itu maka otomatis terjadi perubahan tempat
kerja, yang tadinya safety sign harusnya nya ini ini itu, sekarang itu laen, jadi kita monitor terus..”
“Ok pak standar safety sign yang “safety sign itu kita ngadopnya itu... (diam) kita itu ohsas biasanya karena kemarin itu kan kaya
digunakan itu berdasarkan apa semacam hanya menjelaskan ini yah, warning sign sistem ini kan yang wajib biru, tapi kalau menurut
pak? Kan ada ANSI, OHSAS, ini wajibnya kuning.. nah ANSI ya kalau warna kuning itu. Nah itu yang wajib dikita itu kuning.”
BSI..”
“tapi yang saya lihat ANSI yang “yaa itu bedaa, kalau di limbah itu itu warning sign nya logam biaya. Sebenarnya itu waktu audit
ada itu yang sudah lama, karena tahun lalu di jadikan temuan sama kita. Sekarang kan masa, kita PT. DI tapi warningnya sign tu
mungkin dipengaruhi berbeda, yang lainnya itu warna kuning kok ini biru. Ya mungkin karena kemarin itu karena apa,
perpindahan tempat ya pak. Lalu karena mesin press nya udh berjalan makanya belum di tindak lanjuti. “
yang saya observasi itu yang d
tempat penyimpanan limbah ada
yang mebggunakan BSI yang
warnanya biru-biru pak..”
“lalu kenapa pak menggunakan (diam) “hhhhmm kalau alasannya yah, hhmm kalau itu kan saya tidak berkopeten yah, kita staf jadi
standar tersebut pak?” itu kadang-kadang hirarki nya itu kan dari atasan. Ya kalau misalkan mau ngambil ini ini.. nah itu
juga cenderung ke amerika.. itu kebijakan manajer lama kalau yang sekarang mah kan belum..”
“lalu pak yang bertugas untuk “kalau sekarang itu karena sudah di desentralisasi, jadi warning sign yang sekarang yang pasang
memasang safety sign siapa itu oleh organisasi yang terkait. Jadi kalau disana misalkan disana teh ada K3LH nya, kadang2
pak?” orang K3LH nya minta berapa puluh untuk di anu di anu.. kemudian mereka di distribusikan lagi..
kalau P2K3 itu hanya untuk penjebatannya aja, kalau praktek dilapangan itu harus dengan riset
sebenarnya. Kaya kita bikin risk assessment, nah risk assessment itu kan perlu diketahui unit
organisasinya, yg tanda tangan itu P2K3nya itu..
“pak tadi itu kan bapak “ini kalau ini saya ini berbicara keseluruhan bukan melihat per departemen, karena kalau disini itu
menyebutkan kalau kondisi yang melihat kondisi buram atau enggaknya, dan tadi itu apakah sudah memenuhi, bukan memenuhi yah..
ada 90% baik, nah itu terdapat di apakah sudah terpasangi, karena kan sekarang itu kan kita masih melihat-melihat dulu nih, kira
departemen apa pak?” bagaimana yang pindah kesini pindah kesini.. nah jangan sampai warning sign itu dipasang aja.. oh
sekarang idlarang merokok diatas meja disitu karena kan yang namanya safety sign itu mahal satu
nya 80rb. Kemudian ini ada bahan kimia berbahaya, korosif, tempel aja disitu dimeja dikantor.
Padahal gak ada sangkut pautnya, nah setelah kita tanya-tanya itu ruangan tertentu yang fungsinya
sekarang dudah berubah. Nah mereka main ambil aja dan gatau kalau itu tuh mahal, main tempel
aja kan mungkin menarik bagus tempel aja. Nah pada saat itu audt kita menemukan seperti itu, pak
ini bukan pada tempatnya harganya mahal gini gini gini.. jadi biar aplikatif dilapangan itu harus
pada tempatnya..”
“Ok pak, mungkin cukup sampai segitu aja wawancara dari saya, terimakasih pak..”
Lampiran

Transkip Hasil Penerapan Safety Sign – Informan Pendukung

Kode Informan 001


Inisial : TN
Tanggal Wawancara : 14 Mei 2014

Topik Peneliti Manajer Departemen Machining Divisi Detail Part Manufacturing Direktorat
Pembahasan Produksi
Penerapan safety “Ok pak, kebetulan penelitian saya ini “gini, jadi kalau safety sign itu kan bukan prosedur yah, kalau prosedur sih ada, bahwa
sign mengenai kesesuaian penerapan safety harus dipasang safety sign. dibawah itu kita sudah pasang bahwa ada tanda dilarang
sign, safety sign sendiri kan adalah bentuk merokok, dan tergantung di daerahnya. Dan kalau di daeerah mana harus pakai sepatu
rekomendasi dari pengendalian kita pasang itu. Nah, itu yang ngadain semuanya dari K3LH.”
administrasi ya pak. Nah di machining
sendiri bagaimana prosedur penerapan
safety sign ?”
“nah pak untuk menerapkan safety sign “Iya yang melakukan identifikasi itu artinya dari machining dan tim K3LH sehingga
sendiri apakah dilakukan identifikasi waktu machining dan K3LH, itu waktu kita manajemen risiko kita kan ada manajemen
bahaya dulu sebelumnya?” risiko di tiap ini risikonya apa baru kita ada safety sign disitu. Karena ada juga yah,
kalau safety sign terlalu banyak dan tidak sesuai dengan tempatnya itu juga engga
efektif sih.. “
“oh gitu ya pak, lalu bagaimana pak “Tadi saya pertanyakan saya belum puas dengan K3LH ini, tidak puas karena
keadaan safety sign di machining ini pak?” kondisinya tidak seperti yang saya bayangkan. Contohnya aja, anda liyat lantai bengkel
itu yah, ingin saya engga seperti itu, Cuma petugas pembersih lantai kan dari luar.
Barusan saya udah telfon fungsi dari cleaning service saya minta engga mau seninharus
bersih. Nah, lantai aja menjaganya susah, karena tiap pagi, setiapjam oli nyebrot ke
lantai. Tapi pagi yang bersihin setelah itu gak muncul besok lagi, begitu siang kan kotor
kan. Saya inginnya tiap jam dibersihin gitu. Jadi artinya mengurus K3LH disini adalah
tanggung jawab saya, tetapi yang melaksanakan dari fungsi luar bukan tanggung jawab
saya, itu satu kendala. Contohlah , saya perlu sepatu, saya butuh sepatu, tapi orang
yang beli sepatu adalah orang lain.gak bisa saya, yoo kamu beli sepatu saya gak bisa
seperti itu.. terus banyak listrik masih berserakan dilantai, pipa2 dilantai, untuk supaya
itu gak dilantai saya punya keinginan, saya gak mau di lantai kotor. Tapi untuk
menggali fungsi fasilitasnya harus pindah di tempat lain lagi gitu. Jadi mekanisme itu
gak bisa kalau saya bilang hari ini minggu depan itu ada. Mungkin tahun depan adanya
gitu loh.. tapi walaupun demikian, saya punya plan yang transision plan itu. Tahun 2013
saya punya 32 item tansision plan, ya artinya meyangkut K3LH harus dibenahi. Nah
dari 32 item itu sekarang 2014 baru 16 yang selesai yang lainnya belum selesai. Yaa,
karena menyangkut uag dsb nya kan ada diluar. Nah, karena saking besarnya PT. DI.”
“Lalu menurut bapa safety sign yang ada “Gini, safety sign itu dipasang 2013 yang terakhir yah. Cuma pada 2013 pertengahan,
sekarang ini sudah tepat dengan bahaya machining di rotasi, pindah-pindah tempat. Bisa jadi safety sign yang ada sekarang itu
yang ada di Machining sendiri belum karena belum pick pemindahannya, belum direvisi. Ada yang masih sesuai tapi mungkin
pak?” ada yang belum ada dan ada yang belum sesuai. Contohnya daerah sana ada dipasang
safet sign, tetapi mesinnya udah dipindah semua. Harusnya udah engga ada tapi
ditempat baru belum dipasang lagi kan, karena pemindahannya belum selesai, nanti
kalau udah selesai semuanya saya petakan, pasangkan lagi yang baru. Karena 2013
2014 saya punya program yang namanya pembenahan bengkel, termasuk itu fitter.
Kalau anda tahu dulu itu fitter di tengah2 itu, untuk fitter itu kalau saya mau mindahin
ke suatu tempat. Kalau fitter itu kan debu, masalahnya ditempatkan di tengah debunya
itu kan kemana2. Nah untuk memindahkannya kesini saya perlu waktu 1 tahun itu.
Karena apa, perlu benahin listrik benahin keuangan, mindahin mesin dsb, itu baru satu
tahapan sehingga debu tidak menyebar disana. Belum lagi muncul masalah barum
ruangannya ini belum bagus penyedot udaranya, sehingga operator saat ini tidak
menghisap debu kan, nah itu kan saya punya plan bagaimana debu menyedot itu. Itu
juga perlu perencanaan dan prosesnya lama, perlu dana, perlu disain dsb.“
“Ok kalau menurut bapa sendiri seberapa “Persenannya apa? Gimana maksudanya?”
besar sih pak pentingnya safety sign
sebagai pengendalian bahaya?”
“Gini pak menurut bapak pentingnya safety “Kalau safety sign itu penting hanya untuk mengingatkan aja yah, tapi tanpa safety sign
sign?” pun operator tuh udah dikasih tau udah diajarin bahwa apa aja yang harus dilakukan
disitu. Sign hanya untuk mengingatkan saja. ya tapi pentingnya menurut saya ya 10 %.
Ya artinya karena kalau tidak ada safety sign pun orang sudah sadar, kan dia udah tahu
kalau kaya di cincinati, operatornya tuh udah dikasih tau risikonya disitu ada kepleset,
kejepit, kan gitu, sama percikan. Sehingga kalau kamu mau gak kepleset kamu harus
menggunakan sepatu safety yang kualitasnya seperti ini, supaya gak kejepit, kamu alat
handlingnya harus seperti ini, itu ada. Sudah disiapin alat handlingnya. Supaya biar gak
kejepit operatornya cranenya harus di training, kan sudah di training kan gitu.. tidak
ada safety sign pun juga kalau dia menjalankan kan gak masalah begitu loh .. kalau dia
sadar, supaya dia engga kena percikan misalnya dia harus pakai pelindung mesin dsb.
Cuma safety sign bahwa disitu saya sudah ingatkan kalau disitu risiko kecelakaannya
ada.”
“Tapi pekerjanya sendiri sudah tahu pak “kalau tamu saya gak tahu yah, tapi kalau operator machining harusnya udah tahu,
kalau disitu ada bahaya, baik pekerja baru karena kan ada satu materi pelajaran waktu dia sebelum jadi operator salah satunya
maupun lama, ataupun tamu perusahaan.” kan tentang K3LH itu”
“Ok baik pak terimakasaih atas waktu yang telah diberikan, semoga informasi yang diberikasn dapat bermanfaat”
Lampiran

Transkip Hasil Penerapan Safety Sign – Informan Pendukung

Kode Informan 002


Inisial : RI
Tanggal Wawancara : 14 Mei 2014

Topik Peneliti Informan


Pembahasan (Supervisor Departemen Machining Divisi Detail Part Manufacturing
Direktorat Produksi)
Penerapan “Ok pak kebetulan tema penelitian “Nah safety sign dikita itu kan itungannya engga dilibatkan, nah itulah tadi yang
safety sign saya ini kan tentang penerapan dalam departemen machinng, bahkan site produksi itu ada petugas bidang
safety sign, nah bagaiman pak masalah K3LH. Mereka lah yang menerapkan nah itu kadang2 itu tidak tepat.
prosedur safety sign yang ada di Yaa kurang tepat itu istilahnya ya karena sign nya kurang dilihat, like nya kaya
Machining khususnya di bidang gimana. Daerah orang yang sering melewati disana, kalau orang sekali kali
profilling? lewat sana dipasang safety sign yah apa artinya kan gitu.. nah tapi dia
mengingatkan misalnya yang lain gak ada celah kan gitu, gak ada tempat, ya
begitu lah ..
“Itu biasanya permasalahannya “iyaa nah, gitu lah permasalahannya karena gak ada tempat, kadang2 kan
dalam penempatan safety sign nya disana gelap,nah contohnya kan gitu..”
seperti apa aja pak?”
“nah menurut bapa sendiri keadaan “Ya cukup lengkap sebenarnya, Cuma penerapan safety sign yang disaya tuh
safety sign yang sudah ada seperti yang Cuma mandatory apa gitu. Nah itu tuh yang mungkin karena penerapan
apa pak di profilling sendiri safety sign jauh lama dari lama, semenjak awal kita baru bangun bengkel ini.
khususnya?” Nah mungkin kualitasnya udah belel, udah kotor, atau udah ditiup angin,
hiihihihi kan gitu.. atau udah ada yang ngambil buat alas duduk, kan gitu.. nah
itu tidak ada yang memaintenance.”
“Pak kalau menurut bapa “Secara ilmu safety itu udah jelas itu himbauan, terus kembali kalau menurut
bagaimana efektivitas penerapan saya kalau bangsa kita itu khususnya kembali ke atitute. Atitute dalam arti pada
safety signyang sudah ada itu dasarnya makin banyak safety sign itu disiplinnya masih banyak dibawah
seberapa pentingnya menurut standar, kan gitu.. nah sekarang penyakit kita safety sign safety sign gua gua gua
bapa?” gua, kan gitu. Nah efektivitasnya kalau boleh dikatakan itu tuh secara moral
belum terlalu mengena. Tapi kalau secara manajemen istilahnya itu tuh kita
persyaratan safety sign nya udah terpenuhi kan mungkin udah, kan gitu.. nah
karena gini, penyakit orang kita itu kan kaya 5 R misalnya. 5 R itu kalau kita
ringkas resik rapih rawat rajin. 1 2 3 ini itu aktivitas, ini moral kalau menurut
saya, nah rawat rajin kita kalau presiden mau datang kesini, kita bersih, bisa
semua, kan gitu.. bahkan kan yang kepake juga kadang hilang. Baru aja presdien
keluar pagar, nanti di kasih snack, snacknya udah kemana mana itu hahaha.. itu
istilah saya, jadi pengaruhnya masih kurang,”
“Pak, lalu menurut bapa “Udah, udah sesuai karena kan itu ada setiap shop itu ada mandatory, karena
penempatan safety sign yang sudah kalau dia disini yang mandatory safety sign nya seperti safety shoes, kan gitu..
ada itu sesuai tidak dengan bahaya mungkin permasalahannya hanya letaknya saja ya..”
yang ada di tempat kerja?
“Lalu siapa orang yang bertugas “kadang itu orang dari K3LH produksi yah, tapi pernah kita juga yang
memasang safety sign pak?” memasang seperti tanda terjatuh itu..”
“Ok pak kalau gitu terimakasih banyak ya pak atas waktunya..”
Lampiran

Transkip Hasil Penerapan Safety Sign – Informan Pendukung

Kode Informan 003


Inisial : ST
Tanggal Wawancara : 19 Mei 2014

Topik Peneliti Informan


Pembahasan (Supervisor Departemen Machining Divisi Detail Part Manufacturing Direktorat
Produksi)
Penerapan safety “Ok pak, nah penelitian saya ini kan “Kalau penerapannya ya emang kebutuhannya kita harus pakai safety, harus dianjurkan
sign mengenai penerapan safety sign ya pak berdasarkan K3LH tadi. Jadi udah ada aturannya gitu. Ya biasanya kita pertama itu
yang ada disini. Nah kalau prosedur pelatihan, kalau safety sign itu kita gambar2 aja, kalau yang masang itu dari K3LH, jadi
penerapan sampai adanya safety sign kalau perusahaan yang pasang itu berarti sudah standar. jadi itu tergantung dari
ditempat kerja itu seperti apa pak?” potensinya, misalkan potensinya karena potensi suara, terus harus pakai ear plug, dan
itu harus ada tanda ear plug. Terus disitu kalau ada harus pakai sepatu, berarti harus
ada tanda sepatu safety. Disini sih hampir semua area ada tanda itu, terus ada area
misalnya ada tanda kimia misalnya kalau ditempat lain, itu ada tanda api misalnya itu
gak boleh disitu. Itu biasanya sudah disesuaikan dengan lokasi kerjanya. Gitu..”
“lalu kalau menurut bapa sendiri safety “kelihatannya kalau sekarang kurang karena tempatnya kan baru, ada perpindahan
sign yang ada disini sesuai dengan bahaya tempat, atau perubahan atau transisi plan, dari satu tempat ketempat lain. Jadi
dan proses kerjanya tidak pak?” istilahnya ada perubahan tata letak. Jadi tanda2 itu kelihatannya perlu ditambah lagi.
Yang dulu pernah ada tapi dicopot, jadi perlu ditambah.”
“lalu siapa pak orang yang berwewenang “itu kerjasama antara orang K3LH dan bengkel.”
memasang safety sign ?”
“lalu menurut bapa seberapa pentingnya “kalau memang namanya suatu bahaya itu kan penting yah, harusnya diadakan. Jadi
sih adanya penerapan safety sign sebagai tanda2 itu yang menunjukkan kalau orang itu harus hati2. Jadi ya emang mau gak mau
tanda bahaya di tempat kerja?” harus dipasang, kan gitu. “
“nah pak kalau di 3 axis prismatic itu “kalau keadaan yang itu tadi saya bilang karena adanya perubahan tata letak, sehingga
sendiri bagaimana keadaan safety sign nya tanda2 itu ada yang hilang gitu. Jadi memang harus dipasang lagi”
pak?”
“kalau menurut bapa kebutuhan akan “ada yang kurang, dan jalur evakuasi ya dibutuhkan. Itu kan harusnya artinya harus
safety sign di 3 axis prismatic ini ada yang digambarkan, sekarang kan ga ada karena tadi kan ada perubahan tata letak itu yang
kurang atau sesuai tidak pak?begitu juga dulunya ada sekarang tidak ada, jadi harus dibuat lagi.”
dengan jalur evakuasi sebenarnya
dibutuhkan tidak menurut bapa?”
“kalau menurut bapa sendiri seberapa “Ya sangat penting karena yang utama. Iya karena kalau ini terjadi, kebetulan karena
besar pentingnya dilakukan penerapan disini belum banyak yah, mereka juga care terhadap kecelakaan mau gak mau mereka
safety sign itu pak??” juga sudah menjiwai apa2 yan ada di areanya. Kalau menurut saya itu tetep menjadi
yang utama. Iya, datang harus selamat pulang juga harus selamat, kan gitu.. jadi gitu,
kalau prinsipnya orang berangkat selamet pulang gak selamet berarti itu bermaslah
didalamnya, kan berarti ada sesuatu yang dibenahi. kalau untuk seberapa persen ya
karena memang kecelakaannya kalau dilihat dari angkanya yaitu baru sedikit, ya sedikit
sekali gitu yah. “
“ok pak baik terimakasih atas waktunya pak..“
Lampiran

Matriks Hasil Wawancara- Studi Pendahuluan

Informan Utama

Informan 1 Informan 2 Informan 3 Informan 4


(01) (02) (03) (04)
Topik Penanggung Jawab
Kriteria Staf Bidang Staf Bidang Kesimpulan
Pembahasan Staf Bidang Staf Bidang
Pengendalian & Pengendalian &
Pengendalian & Manajemen
Pengukuran Pengukuran
Pengukuran Departemen K3LH
Departemen K3LH Departemen K3LH
Departemen K3LH
Pemilihan Tingkat Sebanyak2nya ada Incident masih minus, Informan mengikuti Berdasarkan Tingkat kecelakaan di
Lokasi kecelakaan di satu dua, incident tapi kalau accident data yang ada di jumlah kejadian Direktorat Produksi
Penelitian di Direktorat tidak semua ada didata dan informan 02. mengalami mengalami
Direktorat Produksi dilaporkan. Tertinggi pecatatannya tidak per peningkatan 2 peningkatan 2 tahun
Produksi ada di Machining departemen tapi se- tahun belakang terakhir, pencatatan
dan Metal Forming. PT.DI. dalam perhitungan hanya dilihat jika ada
kuantitasnya. accident dan
pencatatan di seluruh
PT. Dirgantara
Indonesia.
Tingkat Divisi Detail Part Di Aerostructure di Informan mengikuti Departemen Di Divisi Detail Part
kecelakaan di Manufacturing manufacturing. data yang ada di Machining Manufacturing
Divisi dan Departemen Berdasarkan informan 02. Departemen
Departemen Machining. Kalau di pelaporan paling Machining.
Metal Forming & sering di departemen
heat treathment machining karena
memiliki potensi yg bahaya yang tinggi.
tinggi.
Penyebab Unsafe action Masih muda,kurang Karyawan baru, tidak Karyawan baru.
Kecelakaan pembinaan senior, pakai APD, kurang pengawasan,
setelah pelatihan keteledoran, dan kelelahan kerja,
diawal kurang diawasi kelelahan kerja. unsafe action.
lagi, kelelehan kerja.
Nilai SIR dan SIR Datanya ada di Pak (Tercatat dari data Informan mengikuti Data berdasarkan Data SIR dan FIR dari
di Departemen Te** (informan 2) yang terdapat di data yang ada di Informan 2. tahun 2009 sampai
yang memiliki komputer informan) informan 02. 2013. Pencatatan
angka kecelakaan berdasarkan seluruh
PT. Dirgantara
Indonesia dan tingkat
kejadian yang paling
besar ada di
Aerostructure
Departemen
Machining
Pemilihan Divisi Divisi Detail Part Manufacturing Informan kurang Departemen Divisi Detail Part
tempat penelitian Manufacturing. Ada departemen machining mengetahui. Machining bagian Manufacturing
di Direktorat di Machining milling Departemen
Produksi konvensional, Machining.
mesin „cincinati‟
Pelaksanaan Receiving, storage, Idem dengan informan Merekomendasikan Pekerjaan Mulai dari
proses produksi di pre cutting,Sheet 01 informan 01 yang berdasarkan acc receiving,storage, lalu
Direktorat Metal : bengkel lebih mengerti. dari tahap masuk ke aktivitas
Produksi komposit sebelumnya dan manufacturing dan
&machining. sesuai dengan lanjut ke perakitan
permintaan gambar, pesawat (assembly).
ukuran, tebal.
Bahaya yang (Dept. Machining) Hasilnya ada Dari mesin, Bahaya tergantung Sumber bahaya dari
terdapat di Putaran mesin. didokumen manual kecelakaan mesin. pada mesin. Potensi mesin dan material.
Departemen yang yang ada. terlilit, tersayat,
memiliki potensi gangguan ergonomi
bahaya tinggi dan terjepit,
pekerjaan di Dep.
Machining.
Pelaksanaan Cara melakukan Penanggung jawab Sesuai dengan UUD, Dari hasil pengamatan Berdasarkan mesin, Melakukan observasi
manajemen identifikasi Departemen K3LH, dari hasil pelatihan- / observasi, dari spesial proses dan berdasarkan mesin,
risiko bahaya serta bekerja sama pelatihan. adanya kecelakaan alatnya. Pihak dan proses kerja.
dengan ahli di kerja. Dept. K3LH dan Departemen K3LH
direktorat produksi produksi. bekerja sama dengan
dan membuat karyawan yang ahli /
kebijakan juga Supervisor
bersama. dilapangan.
Cara menilai Berdasarkan manual Berdasarkan hasil Sesuai HIRAC yang Menanyakan Berdasarkan prosedur
bahaya kebijakan dan yang analisis dengan ada di buku manual kepada pihak penilaian bahaya yang
melibatkan kategori high middle, lapangan dan yang disesuaikan dengan
kebijakan ada SOP medium, low. memberi masukan bahaya yang ada
administrasi tentang bahayanya dilapangan.
prosedur, tingkat apa saja.
internal, dan menjelaskan
bertingkat proses/mesin yang
berbahaya
Pengendalian Setelah adanya Pelatihan karyawan Melakukan perbaikan Jika terjadi masalah Setelah adanya
bahaya yang investigasi kembali. mesin yang rusak serta dan gangguan pada kecelakaan , mesin
dilakukan kecelakaan kerja pegendalian terhadap alat yang dihasikan. yang rusak dilakukan
dengan menambah pencahayaan. rekomendasi
& membuat pengendalian dan
pengaman, diadakan pelatihan
melakukan HIRAC untuk mencegah
lagi dan safety terjadinya kecelakaan.
briefing, dengan
APD.
Orang yang Departemen K3LH Departemen K3LH, Departemen K3LH Departemen K3LH Departemen K3LH,
terlibat penentu dan pihak yang ahli jika di lapangan ada K3LH produksi dan
kebijakan dibidang produksi. K3LH produksi. pihak yang ahli di
manajemen risiko direktorat produksi
seperti Manajer dan
Supervisor.
Form yang Form sesuai standar. Bukan berdasarkan Awal mengadopnya Dibuat berdasarkan Prosedur dari
dipakai dalam industri penerbangan, dari penerbangan. hasil identifikasi kebijakan terdahulu
HIRARC mutlak berdasarkan bahaya dan sebagai industri
atau tidak pada identifikasi mesin dibuatkan risk penerbangan dan
industri yang ada. Identifikasi assessment yang mengalami perluasan
penerbangan belum ter-update. sudah ada. sumber mengikuti
(pembuatan kemajuan teknologi.
pesawat)
Bagaimana Temuan-temuan dari Memperbaiki pijakan Kurang mengetahui. - Di pompa surface Melakukan
pengendalian audit di tindak kaki, eliminasi, treathment : pengendalian dengan
teknis lanjuti, houskeeping substitusi. mereduksi pendekatan eliminasi,
(engineering kontest secara rutin. kebisingan substitusi, isolasi,
control) Dengan mengisolasi dengan merubah material,
selang pipa yang memberikan air merubah proses kerja
bocor. Merubah pada exhaust di dan merubah disain.
material, merubah - Di shot pining :
disain, merubah mereduksi debu
proses kerja. dibuat cerobong
asap
Bagaimana Check up, rotasi / Pelatihan, safety Mengadakan Training Manajer, Mengadakan
pengendalian shift kerja, briefing. pelatihan, pengadaan Supervisor, pelatihan, medical
administratif membatasi jam warning sign. Karyawan. check up, membatasi
(administratif lembur, safety Penerapan warning jam lebur kerja, safety
control) briefing, rapat LIN sign briefing, warning sign
manufaktur di meja , shift kerja, dan rapat
panel mengenai LIN manufacture.
SQCDP tingkat
manajer, Supervisor,
dan Direktorat
Bagaimana Disesuaikan dengan Safety shoes, seragam Sesuai dengan potensi Sesuai potensi Disesuaikan dengan
pengendalian bahaya, seperti kerja. bahaya yang ada. bahaya di tempat potensi bahaya yang
dengan APD sarung tangan woll, kerja. dibuatkan ada di tempat kerja,
sepatu, masker. petunjuk seperti pengadaan
penggunaan APD. safety shoes, sarung
tangan, masker,
seragam kerja.
Lampiran

Matriks Hasil Wawancara – Studi Pendahuluan

Informan Pendukung

Informan 3
Informan 1 Informan 2
(003)
(001) (002)
Topik Pembahasan Kriteria Supervisor di Kesimpulan
Manajer Departemen Supervisor di Departemen
Departemen
Machining Machining
Machining
Bagian/bidang yang ada Bagian adalah Saat ini masih ada 4 bidang Saat ini ada 4 bidang, Saat ini masih ada 4
di Departemen organisasi, mempunyai yaitu profilling, medium, Saya berwewenang bidang, dan akan adanya
Machining 7 Supervisor dengan small, dan late. 7 bidang di Bidang 3 Axis perluasan struktur
struktur bidang yang adalah rencana organisasi Prismatic Machine. organisasi yang akan
baru. Dibedakan selanjutnya dan sedang datang menjadi 7 bidang.
berdasarkan gru dri berproses.
teknologi.
Tingkat kecelakaan Tingkat Incident di Masih diambang batas, Record kejadian terpusat di Tidak ada, karena Tidak adanya pelaporan
Departemen Machining pernah ada accident di Departemen K3LH karena tidak ada alat safety. dan data yang jelas
tahun 2013. setiap bidang tidak tentang incident.
menyimpan datanya,
diklasifikasikan mulai dari
kecelakaan tingkat berat,
ringan dan sedang.
Potensi accident di Berdasarkan Jari terjepit karena material Jarang terjadi. Jarang terjadi, hanya
Departemen Machining keparahannya cacat, yang besar dan tidak dulu pernah ada kejadian
tangannya putus, seiramanya/kekompakan jari terputus, terjepit,
jarinya putus. antara operator dengan mengalami cacat.
Frekuensinya 1 tahun 1 pekerja.
x.
Pemilihan lokasi Bidang yang memiliki Bidang Profiling Tercatat di Departemen Tingkat kecelakaan Tercatat di Departemen
penelitian di bidang risiko dan tingkat Prismatic Machine dan K3LH dan tingkat korporet paling sering di K3LH terdapat di Bidang
yang ada di kecelakaan tertinggi bidang Lathe & Milling K3LH produksi. bidang Milling Profilling Prismatic
Departemen Machine konvensional. Machine dan Milling.
Machining Tahapan proses di (Bidang Profiling (Bidang Profiling Prismatic (3 axis prismatic Di Departemen
bidang tersebut Prismatic Machine) Machine) machine) Machining terdapat
Memotong, Raw material  detail part Ada 2 tahap yaitu tahapan tahapan pre
pelubangan, sesuai yang diinginkan pre operation operasi, main operasi,
membentuk material. dengan cara prepare raw mengerjakan lubang post operasi. Di bidang
Di Machining ada pre material, proses, dan main operation: profilling prismatjc
operasi, main operasi, mengangkat airbot dengan yaitu di 3 axis. machine yaitu
post operasi yang crane, operasikan mesin, membentuk, memotong,
tersebar dalam 7 memotong material kasar melubangi dural. Di
bidang. menjadi material. bidang 3 axis prismatic
machine hanya 2 tahap
yaitu pre operasi dan
main operasi.
Jumlah mesin yang ada Seluruhnya di Seluruhnya ada 10 mesin. Ada 14 mesin. Mesin diseluruh
di bidang tersebut Machining ada 165 Terdapat 2 bagian, yang Departemen Machining
mesin. pertama 5 mesin jenis multi terdapat 165 mesin. Di
purpose, yang kedua 5 bidang profilling
mesin jenis alumunium. prosmatic machine
terdapat 10 mesin mesin,
di bidang axis prismatic
machine terdapat 14
mesin.
Catatan P3K di bidang Terdapat 25 kotak di Terletak dekat dengan Kurang dalam Dalam penggunaan alat
tersebut seluruh Machining, pekerja, pengadaan sudah mendukung dalam P3K tidak dicatat. Kotak
akan tetapi penyediaan sesuai dengan kebutuhan, pengadaan isi dai P3K terdapat diseluruh
isi dari P3K belum akan tetapi kontinyuitas kotak P3K. Tidak lingkungan Machining
dilaksanakan dengan control nya yang masih ada pencatatan dengan total 25 kotak
konsisten dan lemah. penggunaan kotak P3K. Akan tetapi,
kontinyuitas. Serta P3K tapi sering kontinyuitas dalam
belum ada karyawan digunakan. pengadaan isi dari P3K
sebagai penanggung masih lemah.
jawab P3K yang tetap.
Manajemen Risiko Risiko bahaya yang (Bidang Profiling Manual handling, chips Licin, tergelincir, Terpeleset, tergelincir,
terdapat di bidang Prismatic Machine) yang terbang, hasil dari tersayat, terpotong, terjepit, tersayat,
tersebut Terjepit, terpleset, coollant, ergonomi karena terjepit. terpotong, gangguan
tersayat. operator yang bekerja diatas ergonomi, chips yang
meja mesin, bahan material ada dilantai dan meja
yang menyebabkan tergores. mesin, hasil dari
coollant.
Pelaksanaan APD disesuaikan Identifikasi secara visual, Penggunaan APD Identifikasi dilakukan
manajemen risiko di dengan bahaya di pengendalian dengan teori berdasarkan hasil secara visual dan
Machining tempat kerja. jika dalam K3LH, setelah identifikasi pengendalian dilakukan
pekerja tidak memiliki pelaksanaan audit dilakukan disesuaikan dengan setelah program audit
APD yang layak maka perbaikan-perbaikan. pekerjaan dan dengan mengutamakan
dilarang untuk bekerja. bahaya. penggunaan APD pada
pekerja disesuaikan
berdasarkan bahaya yang
ada ditempat kerja.
Penerapan Training pada operator, Pengendalian moral yaitu Ada tanda-tanda Melakukan training
pengendalian di membuat grup K3LH selalu mengingatkan pekerja bahaya ditempel, pekerja, memberikan
Departemen Machining untuk melaporkan dan satu sama lain. mengingatkan pengawasan dan saling
mengawasi. penggunaan APD, mengingatkan,
membersihkan lantai memberikan tanda
yang licin. bahaya dan penggunaan
APD.
Pengendalian teknis / Tidak menerapkan Engineering control dengan - Tidak menerapkan
engineering control yang engineering control. visual dan pengendalian pengendalian teknis.
diterapkan engineering dari hasil
rekomendasi audit.
Pengendalian Persyaratan dari P2K3 membuat rapat plan Training pekerja on Melakukan training,
administrasi yang Machining dikasih ke tindakan apa saja yang harus the spot. pertemuan LIN
diterapkan K3LH untuk disiapkan, dilakukan untuk aspek manufacturing.
lalu membuat program K3LH.
Training, pertemuan
LIN manufacturing
melalui jalur
manajerial.

Penerapan safety Prosedur penerapan Dilakukan identifikasi Dalam penerapan safety Telah disesuaikan Pelaksanaan dilakukan
sign safety sign bahaya oleh tim dari sign pihak Machining tidak dengan bahaya dan oleh tim K3LH produksi,
Machining dan tim dari dilibatkan, yang APD yang digunakan dan pengadaan safety
Departemen K3LH menerapkan adalah K3LH di tempat kerja. sign dari Departemen
dan K3LH produksi. di produksi yang meminta K3LH. Sebelum
Pengadaan dari sign ke Departemen K3LH. penempatan safety sign
Departemen K3LH, Akan tetapi dalam disesuaikan dengan
pelaksanaan oleh penempatannya masih bahaya dan penggunaan
K3LH produksi. kurang tepat, sehingga sign APD yang bekerja sama
yang ada tidak memberikan dengan pihak
makna. produksi/bengkel.
Kondisi dan keadaan Kondisinya tidak Safety sign lengkap, tetapi Masih kurang dan Kualitas masih kurang,
safety sign memuaskan. kualitas sudah buram, kotor, harus dipasang lagi, karena sudah buram,
hilang, hanya tanda karena adanya letaknya sudah tidak
mandatory/penggunaan perubahan tata letak sesuai, kotor, dan bahkan
APD, tidak di maintenance. lokasi produksi. banyak yang tidak ada
sign nya.
Penerapan Safety sign Ada yang sudah sesuai Sudah sesuai dengan Belum sesuai dengan Ada yang sudah sesuai
sesuai dengan bahaya ada yang belum karena mandatory, akan tetapi potensi bahaya dan ada yang belum
belum pick hanya letaknya saja yang karena masih terjadi sesuai karena masih
pemindahan rotasi belum tepat. perpindahan lokasi adanya perpindahan
kerja dan belum di kerja. lokasi kerja.
revisi termasuk safety
sign yang ada.
Bagaimana pentingnya Pentingnya sebesar Secara manajemen itu Sangat penting Di pandang penting
penerapan safety sign di 10% karena fungsinya penting, tapi secara moral karena yang utama karena dapat
Departemen Machining hanya untuk belum mencapai efektivitas dan dapat memberikan pengaruh
mengingatkan saja, kepada pekerja. mengindikasikan kepada pekerja untuk
sedangkan operator adanya potensi mengindikasikan adanya
maupun pekerja bahaya maupun potensi bahaya dan
lainnya sudah tahu tanda peringatan agar mandatory yang ada di
risiko yang ada di terhindar dari tempat kerja.
lingkungan kerja. kecelakan.
Orang yang bertugas Semua dari K3LH. Sudah ada dari di Kerjasama antara tim Kerjasama antara orang
memasang safety sign di bangunnya ruang produksi. K3LH dan bengkel. dari machining, K3LH
Departemen Machining produksi dan
Departemen K3LH.
Lampiran

Transkip Wawancara Studi Pendahuluan

Lembar Transkip Wawancara Informan Utama

Analisa Kesesuaian Keberadaan Safety Sign

Di PT. Dirgantara Indonesia

Kode Informan : 01

Inisial : SY

Topik : Tempat penelitian, manajemen risiko, dan penerapan safety sign


Topik Peneliti Informan (Kepala Staf Bidang Pengawasan dan Pengukuran Departemen K3LH)
Pemilihan Lokasi “Jadi gini pak, saya ingin “Hehe ,ya sebanyak- banyaknya satu dua, tapi sayang kalau tingkat incident tidak semua
Penelitian di menentukan di Departemen apa dilaporkan datanya, tapi kalau kita lihat sepintas di bengkel tingkat kecelakaan tertinggi ya
Direktorat saya meneliti yang ada di ada di surface treathment, heat treathment. “ (sambil mengambil data Departemen yang ada di
Produksi Direktorat produksi. Tingkat Direktorat Produksi) “Nah, ini yang paling tinggi ada di Divisi Detail Part Manufacturing, itu
kecelakaan tertinggi yang kan ada Machining, nah di Machining dan high speed machining juga di metal forming. “
terdapat di Direktorat Produksi
terdapat di Departemen apa pak
?khususnya dari incident sampai
tingkat accident ?”
“kalau diantara Departemen “yaa, kalau dari hasil kecelakaan ya, bukan dari incident. Karena kalau dari incident itu tidak
Machining sama Metal Forming dilaporkan. Jadi kita hanya melihat data berdasarkan laporan hasil analisa ituuu... tapi kalau
tingkat kecelakaan tertinggi ada dari data kecelakaan terakhir di machining ada, kemudian perawatan fasilitas produksi,
dimana pak?” inipun bukan karyawan tetap. Jadi kalau Divisi yaa di Divisi Detail Part Manufacturing dan
kalau departemen Departemen Machining. Terus di metal forming dan heat treathment punya
potensi tertinggi, tapi tidak ada kecelakaan. Berarti, K3 nya berjalan bagus. Nah, kalau metal
forming sama heat treathment lebih tinggi heat treathment karena banyak terdapat bahan
kimianya yah... kemudian, Surface treathment juga tinggi potensinya karena terdapat bahan
kimiajuga yaa.. karena incidentnya tidak dilaporkan jadi kita gak punya data , kecuali kita
menyaksikan langsung.. ”
Tingkat “nah, kalau kecelakaan 5 tahun “Kalau incident itu yaa ada disini niii,, Divisi Detail Part Manufacturing (DPM) yaa
kecelakaan belakangan ini itu ada di Departemennya Machining. ”
Departemen apa pak ? “
“Jadi DPM itu terdiri dari apa “Jadi DPM itu, terdiri dari ahh, Manajer namanya disini DM 1000 itu perencanaan
aja pak? “ pengendalian produksi, kemudian laen manufactur, kemudian machining sendiri, kemudian
high speed machining. Nah, karena machining itu sekarang banyak, maka kit a kelompokkan
menjadi dua yaitu yang low speed dibawah 3000 RPM , kemudian yang high speed itu diatas
3000 RPM karena putarannya tinggi. Nah, karena putaran tinggi makanya mesinnya di
kerangkeng, jadi bahayanya lebih tinggi itu..”
“lalu pak, incident yang sering “Biasanya itu karena pekerjanya, pekerja yaitu unsafe action namanya, tindakan perilaku
terjadi di machining itu karena tidak aman”
apa pak ? “
“Ok pak, berarti saya tahu key “Nah, kalau per Departemen kita gak ada sih yah, itu datanya ada di pak Tedy. Tapi mungkin
word kecelakaan terbesar kalau di hitung bisa kali yah. Kita hanya buat itu sa-PT DI. Bisa-bisa itu tidak ada, apakah
menurut bapa kan di Machining pertahun ada kecelakaan atau gak ada”
pak. Nah, lalu angka nilai SIR
dan FIR di Departemen
Machining dalam 5 tahun
kebelakang berapa pak?”
“Tapi kalau ada datanya berarti “nah iya itu kalau ditelusuri kemungkinan bisa saja, karena kita buat datanya se-PT.DI kalau
ada dong pak di Departemen misalnya ada satu ya berarti itulah kebetulan satu adanya di machining”
Machining berapa datanya?”
Manajemen “Ok pak, bagaimana sih pak “iya kan, nah, dari hasil investigasi kan kita tahu penyebabnya. Pada umumnya itu perilaku
Risiko pengendalian yang sudah tidak aman kan. Nah itu kalau perilakunya kita kasih disitu contohnya (sambil mengeluarkan
dilakukan untuk mencegah berkas investigasi kecelakaan dengan metode domino) tuuhh, terakgi tanggal 7 April di
terjadinya kecelakaan yang ada Machining produksi. Kemudian, di 2 april maintenance di daerah machining, tapi ini
Departemen Machining atau di karyawan kontrak. Nih misalnya satu ini penyebabnya tindakan tidak aman, karena kurang
Direktorat Produksi? jam terbang, karyawan baru, karena meletakkan tangan bukan pada tempatnya, lalu jarinya
terpotong, lalu saya masukin kekulkas itu jarinya, tapi sudah saya kubur (sambil
membacakan kejadian di salah satu dokumen investigasi kecelakaan) . lalu korban lupa kalau
tangannya ada dilintasan jalan mesin, dan pas diangkat tangannya sudah lepas aja segini,
kemudian kondisi fisiknya baik. Tidakan perbaikannya yaitu mengidentifikasi potensi bahaya
di tempat kerja, lalu kita menyarankan untuk dibuatkan pengaman, kemudian diberikan safety
breafing seperti yang kalian lakukan itu ya, jadi sebelum bekerja karyawan diberikan
pengarahan terlebih dahulu tentang cara-cara mengoperasikan mesin, kemudian mencegah
bagaimana cara terjadinya kecelakaan, itu salah satunya sudah termasuk kedalam
pencegahan.“
“Nah itu kan masuk kepada “nah, yang jelas membuat dalam investigasi penyebabnya 2 aja tidak bercabang unsafe action
identifikasi bahaya, penilaian dan unsafe condition. Namun diluar itu ini kan untuk pengendalian langsung kepada
risiko dan pengendalian ya pak. pengendalian utama. Walaupun ada sebab akibat, itu juga kita lakukan. Dalam investigasi ini
Nah, pegendaian yang dilakukan kita hanya mencari route cause yang utama”
itu seperti apa pak?
“jadi pengendalian yang sudah “nah, karena penyebab nya sudah diketahui, yaitu pertama pengendalian yang dilakukan
dilakukan apa pak?” membuat dan menambah alat pengaman. Lalu melakukan HIRAC lagi dan safety briefing.
Lalu dengan APD. Walaupun APD terakhir, ya tidak masalah yang penting cari route cause
nya. “
“lalu pak, pengendalian teknis / “yak, dengan membuat program K3LH secara kontinyus, yaitu salah satu program
engineering control yang sudah pengendalian yang ada yah, audit itu dengan luasnya area, dengan banyaknya struktur
dilakukan baik sebelum terjadi organisasi. Kita lihat aja programnya aja ya, programnya itu sekarang sudah masuk bulan
kecelakaan maupun setelah april – juli itu kita ada audit setalah juli ini ada monitoring ada yang terjadwal nah itu
terjadinya kecelakaan ?” konsisten. Nah ini temuan-temuan yang ada di tindak lanjuti, kemudian houskeeping kontes itu
secara rutin supaya bisa membudidayakan K3LH nya. Terus monitoring itu ada yang
terjadwal ada yang on the spot nah itu secara konsisten. Nah tadi ada temuan salah satu
selang solar ada yang bocor. Nah, itu punya potensibahaya tinggi,kalau ada putung rokok aja
bisa, maka langsung ditindak lanjuti. Nah konsiten kita untuk menjadikan temuan-temuan
yang memiliki potensi tinggi, lalu dilakukan pengendalian karena disitu ada potensi bahaya
yang tinggi.
“Nah lalu ketika ada bahaya “nah yak, ehm, ketika ada tata pelaksanaan mereka harus memperbaiki, kita fleksibel. Kalau
tindakan pengendalian teknis memang bisa, dari sejak awal kasusnya dari awal bisa di engineering ya dilakukan.Nsh, kalau
seperti eliminasi, substitusi, tidak bisa ya dengan APD kan gapapa dilakukan.”
menghilangkan bahaya itu, lalu
isolasi yang tadi bapak bilang
ketika terdapat kecelakaan mesin
nya dilindungi, itu yang saya
tanyakan sudah dilakukan selain
itu apa saja pak? “
“Lalu engineering yang dilakukan “ya bisa saja merubah material kah, merubah desain, merubah proses kerjanya.”
dalam bentuk apa pak? “
“yang sering dilakukan dalam “ya kalau dilakukan ya dilihat dulu dalam bentuk kecelakaan apa, disitu kan ada . nah ini kan
bentuk apa pak?” cerita ilmu pengetahuannya tadi. Tapi real nya saya tidak hafal. Misalnya tahun kemarin ada
kecelakaan apa saya tidak hafal, misalnya juga tindakannya. Artinya kita tidak kita kaku,
ketika ada kejadian, kita langsung berikan solusinya. Nah kan ada 5 aspek juga bisa kan,
semakin banyak barier yang di berikan jika gugur satu masih ada 4, kan begitu. Jadi ketika
dilapangan kita informasikan kemungkinan yang bisa dilakukan tahap pertahapnya, ya
dilakukan. Jadi umumnya yang menyangkut biaya itu akan terkendala, kan gitu. Tapi kalau
menyangkut biaya tapi itu sampai fatal ya itu sampai korban jiwa ya itu rekomendasinya cepet
juga. Ya itu misalnya tadi bocoran, seperti bocor pipa. Maka harus diganti kan pipanya. Nah
untuk pengendaliannya kan ditutupi plastik dulu, karena masalah biaya dan lainnya. Untuk
tindakan permanennya di tindak lanjuti.
“Terus pak pengendalian secara “nah itu tadi, kalau tergores itu kan incident yah. Nah, kalau kita gak dikasih tahu kita gak
teknis khusus di machining apa tahu. Paling kalau pas lagi audit aja dia cerita, oh iya ni ni ni.. kita sampaikan disitu,
pak yang sudah dilakukan?’ solusinya. Yaaa, paling ya itu tadi APD nya.
“Nah, pak kan kalau APD bukan “yah, eee misalnya contohnya yang tergores yah. Dia tergores umumnya sarung tangannya
teknisnya pak, kalau teknisnya tidak tepat. Jadi kita sarankan jangan model yang woll, apalagi yang gerinda. Nah kalau
gimana pak? nanti kalau APD pakai woll kan bisa ketarik kan, padahal sarung tangan macem2. Jadi umumnya gitu aja,
ada lagi pak.” ehhmm itu aja ada ketidak pahaman juga dalam pembelian. Orang pembelian itu tidak tahu
baik sepatu, sarung tangan, masker, itu kan macem2 kan dari sisi K3 tergantung bahayanya
apa debu, partikel atau hanya sekedar cipratan aja, air, kotoran, itu kan macam2. Nah kalau
sudah bicara masker, orang kalau gak paham di beli aja, asal masker asal murah kuat. Nah,
padahal di K3LH idak bicara harganya dulu. Kita malah gak lihat itu harganya berapa, tapi
fungsinya yah.ketika partikel2 debu itu kita harus rapet, filternya didalem, diganti dalem
filternya ajaa...”
“Nah, pas kan pak, penelitian “saya sih kalau kecenderungan karyawan itu tau.tapi kan yang belinya gak tahu. Jadi
saya kan dengan tema safety sign, pertimbangannya mungkin belum training K3 kali yah, ya memang si stafing tidak prioritas,
nah, kalau pekerja sendiri aja gak ya bukan prioritas kan menurut dia, tapi kalau menurut K3 kan seluruhnya wajib mengikuti
tahu yang harus pakai filter training. Jadi tetep harus walau bukan prioritas tapi wajib dong. Nah kalau yang prioritas
dimana harus menggunakan orang produksi berarti orang stafing yang selanjutnya dong. Nah itu makanya kesalahan
sarung tangan dimana, tanpa pembelian itu. Ini bukan spesifikasinya, mereka tahu. Ya tapi dari pada gak ada mau gimana...
adanya tanda, makanya saya nah, gitu kan bisa di cek kan..dari pada gak ada ya pakai yang ada..”
ingin melanjuti seperti itu pada
akhirnya nanti, kebutuhan safety
sign ......... “
“baik pak, mungkin cukup untuk “yaa, yaa, yaa.. yah, check up. Kemudian itu diberi pengertian, bekerja itu kan juga ada
penjelasan pengendalian waktunya. Bekerja itu kan sehari 8 jam, kalau lembur maksimal juga 3 jam. Itu juga kadang2
teknisnya. Lalu bagaimana pak karena kebutuhan, memaksakan diri. Kalau karyawan ditanya itu sehat-sehat aja, bisa2 aja
pengendalian administrasi yang lembur full ternyata setelah itu sakit, nah itu diberikan kesadaran bahwa kemampuan fisik
sudah dilakukan seperti yang manusia itu terbatas. Dengan cara diperketat, dengan lembur dibatasi. Misalnya lembur per
bapak bilang safety breafing, orang maksimal 2 jam. Nah, kadang2 ketika ada peraturan kecuali lembur khusus,
pelatihan, lalu safety sign rekomendasi pimpinan, itu juga adaa.. manusia kan kadang2 kalau dikejar kan materi, nah
termasuk didalamnya ?” ketika ada lembur khusus ini yasudah. .. ”
“Nah, pak kalau pelatihan itu “pelatihan K3 itu kan ada macam2 ya, contoh safety cuture itu untuk seluruh karyawan , itu
sasarannya kesiapa aja pak?” diberikan pada saat karyawan baru masuk. Satu tahun satu kali idealnya kan gitu. Jangankan
yang umum yang khususkrtika satu tahun sekali mau refreshing yah juga kesibukan, program
K3 mah kita adakan. Ada p3k3 untuk siapa? Untuk pengurus P3k3. Berarti pengurus P2K3
itu, ya karyawan dan perwakilan manajemen. Nah, bukan juga yang bukan pengurus P2K3
gak boleh ngurus itu, yah boleh, kan pengurus itu juga berotasi, jadi gak ada si A ada si B.
Jadi gak mutlak trainingnya itu P2K3. Nah ketika ada P2K3 ada persyaratan berikutnya
harus mengikuti training. Perkara yang ikut, ada orang yang bukan P2K3, gak masalah
karena itu juga akan bermanfaat. Kemudian ada training 5 R untuk seluruh karyawan dari top
manajemen sampai level karyawan. Nah kemudian ada trainning K3 sendiri, K3 sendiri itu
suda spesifik, k3 di bengkel machining ya K3 machining, k3 dibonding ya bonding, sheet metal
sheet metal, k3 welding ya welding. Nah materinya itu ada spesifik, manual handling ya gitu..
terus operator untuk crane ya crane K3 nya. Untuk forklift ya forklift. Itu K3 spesifik. Nah,
terus materi2 HIRAC nya sendiri, untuk para supervisor, nah, selebihnya banyak. “
“Lalu pak safety briefing “ya Cuma tidak dalam bentuk namanya safety briefing , ya sebelum kerja dilakukan
dilaksanakan secara rutin juga penjelasan mengenai keselamatan kerja lah. Itu juga sekarang ada lin manufaktur kan, anda
pak?” bisa lihat disitu di meja panel ada SQCDP. S nya itu safety jadi kita kalau kontrol, tinggal
lihat S nya saja, ada warna merah atau hijau. Kalau warna merah itu ada persoalan dari sisi
safety nya, kita lihat persoalannya apa solusinya apa. Kita lihat sudah siklus belum, kalau
belum kita lihat apa pesoalannya. Cuma belum ada pernah kalau ada persoalan safety kami
diundang. Itu sekedar sharing sampaikan solusi. Nah, safety briefing yang anda lakukan itu
juga baik, ternyata di respon positif kan, jadi medianya bisa menggunakan lin manufacturing.
Paling lama 15 menit untuk berbagai tingkatan, tingkatan pertama itu flur, paa anggota
dipimpin oleh leader, dia membahas persoalan2 yang terjadi di bengkelnya masing2.
Persoalan apa, ya masalah SQCDP itu, nah, masalah safety ada gak, quality ada gak, control
ada gak, delivery ada gak, personal ada gak gitu.. oh ternyata bisa diselesaikan di level
pertama, oh yaudah clear. Nah kalau di level pertama dipimpin leader gak selesai naik kelevel
kedua, itu jam seperempat berikutnya berarti jam 8.15 WIB. Itu rutin yah dan harus konsisten,
dipimpin oleh supervisor. Begitu tidak selesai, naik kelevel ketiga dipimpin oleh manajer.
Level 4 dipimpin oleh divisi, level 5 dimpimpin oleh direksi,itu jam 2 biasanya siang. itu ada
sampai tingkat direktur juga yang harus memutuskan biasanya yang menyangkut biaya besar,
mobilitas tinggi, itu yang melibakan kebijakan2 perusahaan, itu ada.
Tempat “ok pak, mungkin pertanyaan “yaa soalnya kalau bicara soal proses produksi itu tergantung tingkat levelnya yah. Kalau
Penelitian di tentang safety sign sudah cukup, anda secara umum udh plan tour kan yah. Jadi yang gambaran umum proses produksi, mulai
Direktorat selanjutnya mengenai manajemen dari receiving, ya disitu peran K3LH dia harus mengecek material2 yang datang sesuai
Produksi dan risiko pak. Lalu pak yang pertama dengan spesifikasi. Apalagi yang bahan kimia itu msds nya harus ada. Kemudian masuk ke
pelaksanaan bagaimana pak proses produksi storage/gudang. Ya itu, standar K3LH nya standar penyimpanannya, apalagi kan itu barang
manajemen risiko yang ada di Departemen kimia, gaboleh dicampur ini itu dari sisi K3 nya itu juga kita peduli di gudang. Setalah itu, di
Machining ?” pre cutting, itu pemotongan awal ya kotak2 lah sebelum, panjang lebar itu kan di pre cutting.
Setelah di pre cutting masuk ke proses produksi itu ada yang melalui sheet metal ada yang di
bengkel komposit ada yang machining. Nah kalau yang sheet metal berarti raw materialnya
dalam bentuk sheet / lembar. Yang dinamakan sheet itu 3 milli ke bawah, diatas itu menjadi
plat tebel, berarti masuk proses machining karena di kerok2 menjadi keping. Kalau sheet
metal di bentuk di press di ini itu dari yang sheet. Kemudian yang non metal itu dibonding.”
“lalu pak di Machining sendiri “ya sekarang katakan saja di machining, skrg di machining kan dibagi dua, jadi machining
ada berapa bagian pak dalam yang konvensional itu dengan putaran kecepatan mesinnya, dibawah 3000 itu masuk
pengerjaannya?” machining. Padahal machining itu ada konvensional ada TNC , CNC. Yang konvensional itu
diputar pakai tangan, yang TNC sudah pakai touch di machining jadi tinggal mencet. Nah ada
CNC yang sudah komputerise, ada programnya jadi operator tinggal mengawasin, kan dia
tinggal masukin programnya saja.”
Manajemen “lalu pak ada data per bagian di “nah, itu kan organisasi di tingkat Departemen yah, kalau se departemen nya saya tidak tahu
Risiko machining tidak pak karena saya karena itu kan perubahannya lebih cepat. Jadi bisa saja disini anda datang, untuk mengetahui
untuk melakukan identifikasi apa saja bagiannya. Tapi secara pintas seperti tadi yang saya jelaskan. Nah secara garis
bahaya harus mengelompokkan besar penempatannya dibuat blok blok ada 2 bagian yaitu machining dan high speed
berdasarkan bagiannya pak?” machining, jadi itu yang putaran2 tinggi. Nah ini dari machining nya sendiri dibagi menjadi
beberapa supervisor lagi itu. Machining ini isinya mesin yang putarannya dibawah 3000,
mesin apa saja, milling, grinding, borring. Nah terus yang high speed mesin, itu yang
kecepatannya tinggi. Jadi mesinnya macem2 lah pokoknya, pengaturannya penempatannya
suka2 orang sana.”
“ok pak, lalu untuk melakukan “ya itu tadi, HIRAC itu kan dilakukan bertanggung jawab ini ya K3LH dan pimpinan di
identifikasi bahaya itu apakah departemen machining. Pimpinan disana ya konotasinya orang yang tahu, jadi sebagai
dilakukan oleh pihak Supervisor penanggung jawab kita tapi yang membuat itu kan kita sebagai penanggung jawab belum
atau dari departemennya atau tentu ahlinya. Kalau memang ahli tetap menggunakan user yang lebih tahu. Kalau kita disini
bareng2 yg seperti bapak bilang tapi kan yang disana lebih tahu ya mereka ahlinya. Jadi yang menanggung jawab kita dan
tadi?” user2 mengapprove juga. Menentukan kebijakan juga sama2 bareng2.”
“lalu pak yang dimaskud dengan “ya sebenarnya yang dinamakan pimpinan seharusnya tahu apa yang kita buat itu bener, gitu
ahli ini itu adalah supervisor loh.. jadi kan bisa dikonotasikan yang ahli yang kompeten yang lebih tahu, yang lebih
pak?” bertanggung jawab, yang buat bs siapa saja kan.”
“Ok pak, lalu mengenai form “formnya ya sudah standar.”
identifikasi itu mutlak atau tidak
mutlak pak digunakan seperti di
industri penerbangan/pembuatan
pesawat?”
“lalu pak langkah menilai risiko “Ya dituangkan dalam kebijakan yang harus menjadi panduan bagi siapa saja yang bekerja di
setelah melakukan identifikasi itutempat itu, jadi kita tuangkan dalam bentuk petunjuk, itu bertingkat ada petunjuk internal ,
bagaimana pak dalam bisa internel bengkel, divisi, direktorat. Kalau yang melibatkan antar kebijakan ada yang
pelaksanaannya?” namanya OP , PA, ada yg namanya SOP, ada yang namanya SOP administrasi prosedur, ada
yang tingkat internal, itu bertingkat.”
“itu pak cara menilainya itu “Jadi semuanya sudah ada di manual kebijakan kita. Referensinya dari apa ya betul, jadi kita
menggunakan apa bagaimana pak pandulah, namun petunjuk ini juga kan harus up to date mengikuti jaman, bisa berubah. Nah,
apa berdasarkan tingkat high, siapa yang merubah boleh datang dari mana saja, intinya kan yang lebih inisiatif kan si user
medium ..... (terpotong)” karena dia kan yang lebih taulah karena kita kan Cuma diatas meja saja. “
“lalu pak di daerah machining itu “di machining itu kan pada umumnya putaran mesin, nah putaran mesin ini kan memiliki
terdapat bahaya apa saja pak?” tinggi bahaya, nah itu kan berarti potensi bahaya. Nah umumnya itu diberi pelindung isolasi
tadi yang suka engga dipasang kalau mesin lama. misalnya gerindra, padahal beli barunya itu
lengkaploh termasuk kaca pelindung. Nihh kadang2 kaca pelindungnya dilepas, baik sengaja
maupun tidak sengaja.
“terus pak pengendalian terhadap “nah kalau di machining itu kan APD yang disarankan itu sepatu, sepatu juga ada yang
bahaya yang sudah dilakukan frekuensinya 3 bulan sekali, setahun sekali, tergantung itu potensi bahayanya. Kalau yang di
berarti isolasi itu ya pak, lalu machining itu tinggi potensi bahayanya, dia mesti menginjak itu coolen atau pelumas, ini gak
pengendalian lainnya yang tahan lama kalau itu kan merusak dia kan, jadi itu 3 bulan udah mengangak sepatunya. Kalau
dilakukan seperti APD yang di machining ini sepatu utama disamping jelas sparepaknya, lalu sarung angan ear muff ear
disarankan pak?” plug, tergantung mesinnya seperti apa, kalau mesin yang menghasilkan suara tinggi. Kalau
mesin yang mengandung cipratan tinggi, seperti cipratan api, bisa bentuk partikel ya
macam2.”
“Ok pak baik mungkin cukup sekian wawancara dari saya terimakasih atas waktunya pak .... ”
Lampiran

Transkip Wawancara Studi Pendahuluan

Lembar Transkip Wawancara Informan Utama

Analisa Kesesuaian Keberadaan Safety Sign

Di PT. Dirgantara Indonesia

Kode Informan : 02

Inisial : TN

Tujuan : Informasi Mengenai Tempat Penelitian di Divisi Detail Part Manufacturing Direktorat Produksi
Topik Peneliti Informan (Staf Bidang Pengawasan dan Pengukuran Departemen K3LH)
Pemilihan “Ok pak Tedy langsung saja. pak, “Nah, kalau incident di kita mah ya minus, tapi kalau tingkat accident nya ini ada datanya”
Lokasi bagaimana tingkat kecelakaan yang (sambil cari file yang ada di komputer)
Penelitian ada di Direktorat Produksi?”
di “Terdapat di Departemen apa “Nah, kebetulan pencatatannya tidak per departemen sih ya. Tapi ini nih ada yang paling
Direktorat kecelakaan yang tertinggi di tinggi itu setau saya di Aerostructure, ya itu di manufacturing. Kalau dari pelaporan ya itu
Produksi Direktorat produksi pak?” paling sering di Machining karena bahayanya juga tinggi yah disana..”
“ok pak, kalau begitu nilai SIR dan (sambil menunjukkan data angka kecelakaan kerja, SIR dan FIR di komputer) “kalau di PT.
FIR yang memiliki angka kecelakaan Di mah pencatatannya ya se PT.DI jadi engga per divisi, jadi kalau per divisi atau per
tertinggi selama kurun waktu 5 tahun departemen kita gak punya datanya. Jadi pelaporan jika terjadi kecelakaan aja gitu baru
berapa aja pak?” dicatat per direktoratnya. Nah itu paling besar ada di Aerostructure yah... kalau
departemennya di Machining.”
“itu penyebab kecelakaan yang terjadi “yang pertama itu masih muda, yang kedua pembinaan dari senior, pembinaan yang
disana biasanya disebabkan oleh apa dilapangan itu ke junior nya juga kurang mempuni. Jadi hasilnya Cuma seadanya dari hasil
pak?” pelatihan pertama kali masuk kerja, kalau masuk kan pelatihan dulu disini. Jadi pas udah
dilapangan jarang yang diawasi. Itu yang pertama, yang kedua lembur, kadang kelelahan
juga bisa mempengaruh insiden itu. “
Manajemen “Nah, kalau sudah terjadi kecelakaan “tadi pak Dar**** (informan utama 1) gimana? Udah kan? Sama lah jawabannya, idem lah..
risiko tadi menurut pak (informan utama 1) “
itu dilakukan identifikasi bahaya, nah “ok, sebelumnya kita sudah punya manual nya kan soal identifikasi itu, disana misalnya kan
cara melakukan identifikasi risiko di mesin x disitu”
departemen machining gimana pak? “
“Nah, manual nya itu sebagai form “kita yang ada disini, kita yang ada disini.. manual mesin yang ada disini, bukan
identifikasi mutlak di pakai di industri berdasarkan industri penerbangan. Jadi mesin2 yang ada disini, semuanya kita identifikasi
penerbangan atau tidak pak?” bahayanya seperti apa, kita sudah punya sebenarnya, sudah ada. Tinggal orang2 yang ada
disana pengawasannya seperti apa.terus pekerja2 disana supervisornya, leader2nya
harusnya punya SOP nya lah.. ya seperti itu.. “
“Terus cara melakukannya mengikuti “iya seharusnya seperti itu, hehehehehe ..”
manual yang ada gitu pak?”
“Nah, yang melakukannya siapa “seharusnya kan pas pelatihan itu disitu liyat, cuman pas pelakasanaannya ya itu tadi, ada
pak?” kelelahan juga terus dia mengabaikan SOP nya itu.. jadi, kalau manual sih sudah ada tapi
pelaksanaannya kurang dari orang itu..”
“kalau orang yang terlibat dalam “Sebenarnya kan kita, departemen K3LH. Cuman kan kalau misalkan dilapangan, ada K3LH
pembuatan kebijakan identifikasi yang di produksi, tapi kita sih yang buat kebijakan sebenarnya..”
bahaya itu siapa pak?”
“pak kalau form identifikasi bahaya “form apa nih? Ohh form identifikasi kan udah ada, kita form yang ada disini sesuai dengan
yang diugnakan itu mutlak dan harus UUD kalau gak salah sama apalah, lupa gitu, yang udah didapat sama pelatihan-pelatihan
digunakan oleh industri penerbangan gitu kan.. dan engga mutlak berarti yah.. hehehe kan udah liyat kan?“
di PT. DI atau tidak pak?”
“Ok pak, lalu setelah melakukan “Kan disitu sudah ada, di form nya sudah ada. Itu ada high, middle, terus apa.. dari medium,
identifikasi kan menilai bahaya, kalau low, disitu kan ada. Segala macemnya kan sudah ada penilaian. Nah kalau misalkan, disitu
cara assessment terhadap penilaian kan udah ada kok, nilainya tergantung dari hasil analisis itu. “
bahayanya disini gimana pak?”
“Nah, setelah dilakukan semuanya “eeeeeeee, yang sudah dilakukan yang sudah banyak dilakukan itu pelatihan kembali.”
kan dilakukan rekomendasi
pengendalian ya pak, itu
pengendalian yang sudah dilakukan
bagaimana pak?”
“selain pelatihan apa lagi pak?” “eee itu modifikasi ya, apa itu namanya .. disini itu kan ada tempat mesin apa tempat pijakan
kaki yah, itu kan ergonominya yah, kalau misalkan itu harus diperbaiki itunya, substitusi. Apa
dah, ada 5 yah?
“iya, jadi yang pertama itu kan “iya iya nanti aja itu ada diujian itu..”
eliminasi, substitusi, engineering
control, administrasi control, lalu
APD pak. “
“Pak, bahaya yang ada di Machining “kalau saya sih belum kesana yah.. yang sudah ada dimanual aja di machining tuh, tapi yang
yang sudah diidentifikasi itu terdapat jelas kan di machining itu sudah berbentuk yang diidentifikasi berdasarkan manual yang ada.
bahaya apa saja sih pak?” Hasil2 nya juga sudah ada di manual. Jadi kalaupun mau liyat disana kan bisa diliyat disana
dan juga ada nilai2 nya kok.
“terus pengendalian yang “Di machining ya, kalau disitu kan ya yg standar2 aja, kaya safety shoes, kemudian baju
berdasarkan penggunaan APD itu kerja, sebenernya pekerja itu bukan APD sih..tapi kalau baju sih ini yah, engga mutlak.”
apa aja pak di Machining?”
“identifikasi bahaya yang dilakukan “Yaa, sebenarnya kata kita gak ada mesin yang baru dan identifikasinya juga baru kemarin
itu di update tidak pak dalam ya jadi belum di up date lah.. haha. Karena sudah ada disana, dari nilainya sekian sampai
pelaksanaannya?” sekian..”
“lalu pak bagaimana penerapan “ya yang pertama mungkin itu tadi, pelatihan itu“
engineering control atau
pengendalian teknis yang sudah
dilakukan ?”
“hehe pak pelatihan kan tadi udah “eh udah ya, itu dimana tadi? Pengendalian teknis ya, jadi bingung saya, liyat kamu jadi
termasuk kedalam administrasi bingung saya.. itu pak Dar apa? Samain aja lah ya samain aja...”
control”
“kalau sama seperti apa pak “itu eliminasi ada gak? Artinya gini, kalaupun tarolah mesinnya nah kadang bukan mesinnya
contohnya?” tapi tool nya seperti untuk pengamanan dari pada tool tersebut. Jadi, kalau misalkan si tool
tool yang tajam itu kan bisa dilindungi, ini kadang kan kita bisa terpeleset.”
“lalu kalau administrasi control yang “hhmm, gak tahu apa.. hehehehehmmmhmhm...”
sudah dilaksanakan apa saja pak?”
“kalau regulasinya seperti apa pak?” “Bukan regulasi yah, tapi mungkin kalau disana mah ada yah kaya misalkan sebelum kerja
karyawan sama leadernya semacam safety briefing yah”
“kalau pemasangan proteksi aktif “itu hubungannya apa dengan pengendalian? Kalau pengendalian bahaya dari
pasif seperti alarm disini ada tidak machiningnya kebakaran apa? Kalau menurut saya ya misalkan dipasang hhmm bisa juga
pak, itu kan juga temasuk lah karena kabel kabel kan.. hehe yah boleh lah bolehh.. karena kemarin sudah ada kejadian
administratif control” kebakaran itu, tapi kebakarannya bukan dari situnya, dari sumber yang lain, ”
“kalau dengan pengaturan jarak dari “uuu kalau itu gak ada yah..”
bahaya itu apa pak yang sudah
dilakukan?”
Lampiran

Transkip Wawancara Studi Pendahuluan

Lembar Transkip Wawancara Informan Utama

Analisa Kesesuaian Keberadaan Safety Sign

Di PT. Dirgantara Indonesia

Kode Informan 03
Inisial : YS
Tanggal Wawancara : 19 Mei 2014
Tujuan : Informasi Mengenai Tempat Penelitian di Divisi Detail Part Manufacturing Direktorat Produksi

Topik Peneliti Informan (Staf Bidang Pengawasan dan Pengukuran Departemen K3LH)
Pemilihan “Bagaimana sih pak proses pelaksanaan “oo, ehhhmm, ini sih saya agak kurang ini sih.. hhmm udah dapet masalah di direktorat
Lokasi produksi di Direktorat produksi di PT.DI produksi? Kalau dari pak Dar? Yang lebih memenuhi kan pak dar suka memberikan
Penelitian yang bapa tahu di manufacturing?” training tentang masalah itu, mungkin lebih tau dia.Karena dia itu kan asal dari trainer,
di jadi semua permasalahan yang ada hubungannya dengan produksi dia trainer gitu.
Direktorat Mungkin, mungkin lebih itu lagi, atau kalau ke tempat yang direktorat produksinya sudah
Produksi bertanya masalah ini?”
“jadi gini pak, ini kan hanya gambaran “Tingkat kecelakaan produksii... datanya ada di Pak Te** (informan 02) yah? Kalau
sebelum saya menentukan tempat untuk masalah kecelakaan kerja datanya ada di pak Tedy. Itu lebih itu, karena kan saya
penelitian saya di direktorat produksi manajemen.”
dimana, makanya saya ingin memilih
tempat di departemen apa gitu pak, tapi
saya arus memiiki justifikasi yang kuat
untuk memilih tempat tersebut, ok kalau
gitu nanti saya tanyakan ke pak dar,
kebetulan saya sudah wawancara beliau.
Ok pak, kalau gitu, bagaimana sih pak
tingkat kecelakaan yang ada di direktorat
produksi?”
“Ok pak,nah menurut bapak, terdapat di “waduh,, saya kurang tahu dulu datanya ada di pak Tedy kayanya..”
departemen apa pak kecelakaan tertinggi
di direktorat produksi?”
“lalu nilai SIR dan FIR gimana pak?” “ehem, juga di pak Tedy”
Manajemen “Karena kemarin saya dapet informasi “di machining? Ya bahaya2 nya ya mungkin dari mesinnya, itu dari kecelakaan mesin,
Risiko dari informan sebelumnya kecelakaan dari apa, biasanya dari mungkin anak baru yah, kurang mengetahui begitu, jadi akhirnya
tertinggi di Machining, nah menurut bapa mereka...mungkin tidak pakai APD yah bisa.. terus selain itu mungkin keteledoran bisa,
penyebab nya karena apa pak kecelakaan mungkin karena kecapean, tingkat ini.. mungkin bisa saja. “
bisa terjadi di departemen Machining ?”
“ok pak, lalu bagaimana si pak cara “kan ininya ada di kita, identifikasi ada. Dengan pengamatan bisa, kaya misalnya pak
melakukan identifikasi bahaya di edy kan asalnya dari bengkel. Jadi pengamatan, ya dari pengamatan, dari observasi,
Direktorat Produksi PT. Dirgantara terus dari seringnya terjadinya kecelakaan juga bisa diliyat juga yah..”
Indonesia?”
“Lalu selanjutnya langkah untuk menilai “mungkin ini dari HIRAC ya neng yah, yang pernah dibawa itu kan yah, ehem , iya
risiko seperti apa pelaksanaannya dan seperti itu..”
pakai standar apa pak?”
“Lalu pak, bagaimana cara pengendalian “Untuk mengendalikan bahaya itu, ya mungkin dengan perbaikan diarea mesin yang
bahaya yang dilakukan PT.DI rusaknya, misalnya atau antisipasi pendukungnya seperti pencahayaan.”
berdasarkan hasil identifikasi dan
penilaian risiko pak?”
“Kalau untuk pencahayaannya dilakukan “kalo, dari kita K3 misalnya ada permintaan pengukuran, tapi kita kan kalau audit juga
pengukuran terlebih dahulu gak pak?” kan seperti pencahayaan, dari secara kasat mata kan kelihatan yah, oh ini gelap. Aahh,
tapi kalau ingin memperjelas untuk ada bukti kita juga ada kok datanya.
“lalu selain pengukuran pencahayaan “hoo, pencahayaan ya kan seperti udara mah kan diluar yah, iklim kerja yah paling,
apa ada lagi pak?” cahaya , udara nah apa air yah, banyak kayanya. Ohh, eneng fokusnya untuk diruangan
itu yah”
“Terus pak, form yang dipakai dalam “Mungkin, mungkin awalnya dari penerbangan kayanya yah, ngadopnya, mungkin dulu
mengidentifikasi bahaya itu yang dari boeing atau apa. Saya juga kurang, kurang mengerti. “
digunakan apakah prosedur yang mutlak
digunakan di industri penerbangan
seperti PT. DI atau tidak pak?”
“Ok pak, lalu bagaimana sih pak “Kurang, kurang mengetahui. Karena kan itu eehh data dari mereka yah”
penerapan engineering control /
pengendalian teknis yang sudah
dilaksanakan di departemen machining
itu?”
“Lalu pak setelah pengendalian teknis, “ehhm, oh iya itu ada kalau yang itu. Pelatihan2 ada, terutama untuk karyawan baru,
kalau dengan pendekatan pengendalian terus itu juga ada tentang penerapan warning sign. kebetulan kan untuk mengadakannya
administrasi misalnya dalam bentuk di K3LH, jadi untuk yang butuh biasanya mereka kesini, gitu.. terus pak waktu audit kita
slogan, 5 R itu gimana ak?” juga kasih tau, di tempat kita sudah tersedia, karena ini potensinya ini ini ini, tinggal
ambil aja, nanti ngambil kekita.”
“Lalu bagaimana pak pengendalian “Membelikan APD tapi sesuai dengan kebutuhan mereka, disesuaikan dengan potensi
dalam bentuk APD ?” bahaya yang ada. Tidak semua dibelikan. “
Lampiran

Transkip Wawancara Studi Pendahuluan

Lembar Transkip Wawancara Informan Utama

Analisa Kesesuaian Keberadaan Safety Sign

Di PT. Dirgantara Indonesia

Kode Informan 04
Inisial : ES
Tanggal Wawancara : 20 Mei 2014
Tujuan : Informasi Mengenai Tempat Penelitian di Divisi Detail Part Manufacturing Direktorat Produksi
Topik
Peneliti Informan (Staf Bidang Pengawasan dan Pengukuran Departemen K3LH)
Pembahasan
Pemilihan “ok pak, langsung saja, “Nah itu mungkin dengan adanya pertambahan karyawan, tadinya hanya 3000 sekrang udah 4000,
Lokasi bagaimana pak tingkat dan notabennya di bengkel itu banyak. Apalagi kalau sekarang itu... yah yah, kalau dilihat dari
Penelitian di kecelakaan di Direktorat Produksi persentasi sih gak begitu banyak yaa, tapi kalau dilihat dari jumlah kejadian itu meningkat. Kalau
Direktorat jika dlihat dari segi incident dan datanya kan itu terpusat, ada di pak Te** (informan 02). Kalau tahun2 sebelumnya, itu ada
Produksi accident nya pak?” berapalah gitu..itu kan kalau sekarang itu ada peningkatan, tapi itu kan dalam arti dalam
kuantitasnya, bukan dari perhitungan apa teh zero accidentnya. Kan harus di hitung per 1000.000
pekerja, itu kan ada hitungannya..”
“Ok pak kalau begitu menurut “itu teh, kalau gak salah mungkin dalam arti bukan tertinggi yah, agak2 paling banyak yah.. kalau
Bapak terdapat di Departemen gak salah itu tuh di Departemen Machining. “
apa pak angka kecelakaan
tertinggi di Direktorat Produksi?”
“itu biasanya kejadian apa pak “Itu biasanya luka karena tersayat biasanya.. “
yang terjadi?”
“Ok pak tapi ketika ada pekerja “hhmm jadi gini yah, kalau mereka melaporkan kekita itu artinya tersayat itu yang dimaksudkan itu
yang tersayat itu ada catatannya seandainya kalau 1 hari tidak masuk kerja yang mengakibatkan kehilangan hari kerja gitu yah.. tapi
tidak pak?” kalau masih mampu bekerja ya di anggap incident, gitu.. “
“ok pak untuk catatan SIR dan “iyaa bener sudah di pak Ted** (informan 02) ”
FIR itu sudah di pak Tedy yah?”
Manajemen “Ok pak lalu bagaimana sih pak “oh di direktorat produksi yah, karena di direktorat produksi segalanya sudah tersedia itu
Risiko proses di direktorat Porduksi di gambarnya sudah ada, biasanya itu ada proses cat, cat itu misalnya diawali dengan pengadaan
Direktorat Produksi?” gambarnya, kemudian proses yang dimintanya itu apa, kemudian dari situ ke planner sudah di acc
kemudian proses turun ke bengkel. Nah itu material disitu yang dimintanya berapa kekerasannya
beberpaa tebelnya berapa. apakah itu untuk proses machining, apakah itu untuk proses sheet metal.
Nah apakah itu yang diminta yang metal atau non metal, logam atau non logam, gitu yaa.. mah
kemudian disitu ada yang proses pre cutting nah disitu ada yang untuk proses machining ada yang
sheet metal. Nah kemudian mereka meminta ukuran di gambar dan di proes. Karena yang diminta itu
ukurannya jelas, lebar sekian, tebal sekian, itu acc per drawing itu biasanya mereka itu. “
“Lalu pak bahaya apa saja sih “di machining itu kalau di lihat bahaya itu tergantung dari pada mesinnya, nah sekarang itu kan
pak yang tedapat di Direktorat sudah datang mesin yang relatif cukup aman dari segi keselamatan kerja, kalau yang konvensional
Produksi itu pak?” yaitu masih kompleks dari bahayanya. Itu dilihat dari mesin konvensional, itu biasanya di milling
machine tuhh, maupun borring lah gitu, maupun bubut.lalu yang kedua itu ada bahaya terjepit pada
saat setting material benda kerja dengan tool picture dengan meja mesinnya. Ya mereka itu kan
kadang2 terjepit, kemudian dari segi ergonominya juga seperti pada saat setting keatas harus naik ke
mesinnya seperti termasuk cincinati itu mereka disana kemudian terpleset pun ada karena memang
bukan kotor, memang seperti itu keadaannya. Licin oleh coollant atau oli. Kalau di coolent itu kan
ada basednya oli. Kemudian terbentur juga karena naik turun nya kerja yang mempengaruhi
ergonominya. Itu bisa, kemudian dari ergonomi juga berpengaruh, yang dari percikan chips ataupun
dari percikan coollant nya sendiri. Mungkin pada saat di mesin konvensional itu tuh yang di
cincinati, nah itu kan ada proses pendinginan atau coolling antara pemotong dengan benda
kerjanya. Nah disitu kan terjadilah akumulasi kabut fium dari putaran mesin, kemudian memutarkan
coollant nya sendiri. Nah itu kan akhirnya terbang kemana, nah akhirnya kecium oleh karyawan
yang ada disitu. “
“itu kalau apakah termasuk “iyaa iyaa, itu kan karena bisa menimbulkan paru-paru basah yah. Nah kalau di check itu belum,
penyakit akibat kerja pak dan tapi kalau check apa tuh namanya yang ditiup teh, tapi hanya di beberapa bagian yang cenderung
sudah pernah ada medical check potensi dari vium atau apa namanya tuh, itu pernah. Apa namanya , ahh test paru-paru. Itu pernah
up yang dilakukan pak?” dilakukan di seluruh PT. Di yang memiliki potensi bahaya tinggi dengan aspek kimia yaitu termasuk
mungkin disitu.”
“Lalu pak bagaimana proses “kalau di machining itu kalau di kita kan identifikasi lapangan, kemudian kita lengkapkan isian
dalam melakukan identifikasi blangko kosong dari kita mengenai identifikasi, jadi dari disitu dijelaskan nomor satu, dari proses
bahaya pak khususna di mesin, atau alatnya itu apa, karena kita berbicara identifikasi tuh bukan perproses atau bukan per
Departemen Machining pak?” bagian, karena kalau sewaktu-waktu ada bagian tertentu berubah organisasi nanti berubah lagi,
jadi kita tuh diisini per mesin, per spesial proses dan per alat.”
Yaa itu, kita identifikasinya itu kesatu mengenal mesinnya seperti apa,kedua kita kita konversikan
semacam angket, hhmm bukanyaa ngket yah, yah semacam isian identitas lah kepada supervisor
masing2 dilapangan, diseluruh PT. DI. Jadi waktu itu bukan DP yah, waktu itu kan masih
aerostructure, nah misalkan di daerah aerostructure sekarang programnya ini kita kasihkan
misalkan di daerah machining, ini tolong diisi potensi bahayanya apa aja. Nah sambil kita berikan
data based di machining itu misalkan yang ini nih untuk potensi bahayanya yang muncul apa, kalau
ada kekurangan dan kelebihannya tolong dikoreksi.nah kita nunggu dari mereka, nah seandainya
kita nunggu tapi mereka karena kesibukan atau apalah, kemudian mereka engga mengirim. Yaa apa
boleh buat, kita sendiri yang membuat identifikasi bahaya. “
“lalu pak langkah selanjutnya, “ya kita dari identifikasi potensi bahaya nantikan itu dari satu mesin ada proses. Dalam satu mesin
bagaimana cara menilai misalkan di mesin cincinati misalkan, ya kita kelompokkan hanya di milling machine. Di milling
bahayanya dari identifikasi machine itu yang satu itu handling duu, dalam arti itu kalau identifikasi sebelumnya handling itu
tersebut?” dipisah. Itu handling anggap buang sajalah.. nah satu itu hhhhmmmmmm,, apa namanya.. loading
unloading kalau ga salah.loading itu dalam arti disitu persiapan lah. Itu identifikasinya dulu ya
persiapan lah, nah itu dari situ persiapan potensi bahayanya apa. Ya persiapaan dalam arti misalkan
ini material, belum ada, belum ada handlingnya. Kemudian beri apa beri apa..kemudian yang
pertama itu setting tool picture pada meja kerja. nah tool picture yang dibutuhkan beda-beda kan.
Nah dari situ kan potensi bahaya ada yang terpentur, terjatuh terpeslest kan.. tapi kalau ada pekerja
yang kasih masukan ini pak ada potensi bahaya disini pak disini, ya kita msukan,, kita
pertimbangkan betul gak ada kejadian, kalau ada kita masukan ada bahayanya. Kemudian setelah
setting itu barulah ada proses mesinnya,nah pada saat proses itulah seperti mesin konvensional
seperti percikan coollantnya, percikan chips nya, panas, kemudian pada saat rapping ada kebisingan
ya kebisingan tinggi. Kalau di profilling itu gak besar, nah kalau yang di mesin cincinati yang besar..

“nah kebetulan saya sudah “nah kalau profilling itu kan istilahnya,oohh kalau pak renaldi itu di large prismatic machine
ketempat profilling dan itu bukannya. Naahh kalau memang bgtu yang mesinnya ada DGAL , DGMP itu kita masukkan dalam
mesinnya cincinati pak. Kebetulan pengelompkkan mesin milling konvensional. Nah itu petugasnya pada saat pengerjaan tadi itu kan,
saya sudah ketemu dengan pak kemudian kalau misalkan disitu ada penerangan kurang, nah kalau di situ kan ada limbahnya.
re***** pak sebagai Kemudian setelah selesai itu kan kebisingan itu muncul pada saat proses rapping nya muncul
supervisornya.. ” kebisingan, pada saat pemakaian pertama. Nah kalau yang proses akhir mah engga karena kan
prosesnya beda yah.. nah pada saat rapping itu kan proses pemakanan pertama, jadi memerlukan
tenaga besar kan nah selanjutnya ganti cutter kan , tambah lagi kecepatannya. Nah setelah itu masuk
lagi ke proses coolling tadi. Nah selanjutnya itu pembongkaran setelah kerja itu potensi bahayanya
sama dengan loading. Kemudian pada saat pembongkaran benda kerja itu potensinya sama. “
“ohh begitu ya pak, lalu siapa pak “oo kalau di direktorat produksi itu.. kalauu,, sebenarnya apa yang kita buat kemaren, untuk
yang mengatur kebijakan dalam manajemen risiko untuk mengenai itu kita buatkan berdasarkan identifikasi aspek K3LH yang telah
manajemen risiko?” kita buat, dengan kita bikinkan RMS nya, tinggal kta buat risk assessmentnya.”
“pak, lalu kedudukan divisi DPM “aaahh, iya kalau DPM itu bagian dari direktorat produksi, kan dibawahnya DP itu ada Divisi2 apa
itu bagian dari direktorat saja dibawahnya itu.. DPM itu membawahi machining, departemen machining, meal forming,
produksi kan pak?” surface treathment, aaaa aaaa... nah itu setelah kita buatkan risk assessment, setelah kita buatkan
risk assessment kemudian kita itu disini di evaluasi bersama. Kami sebagai pembuatnya misalkan
sebagai penyusun, kemudian menajar kita juga di semprong istilahnya itu pake auto fokus, kemudian
ada temen-temen para supervisor misalkan gitu taah, mereka saling mengoreksi kira-kira ini ada
kelebihan ada kekurangan, kita kira2 bisa gak temen2 itu mempersentasikan. Kalau menurut ini nih
begini gini tapi ah sebenarnya aya seperti ini ini. Sebenarnya kan risk assessment kan lebih pada
kekerapan kejadian, nah kekerapan kejadian disitu kan kaya apa..”
“lalu pak pengendalian yang “aaaa kalau dari produksi atau dari manaa, oo kalau dari K3LH pusat dari engineering control
sudah dilakukan berdasarkan biasanya begini, kan itu mesin kan sudah ada apa namanya tuh sudah di setting semua disitu, nah
pendekatan engineering control, seandainya sewaktu waktu terjadi masalah, dan kemudian bukan melibatkan kita yah, itu mah
lalu administrasi control, serta kewajiban kita yaah untuk mengendalikan dan mengukur lingkungan kerjanya seperti apa, dan
APD seperti apa pak di DPM dan kemudian kalau ada yang berbahaya seperti apa misalkan kebisingannya tinggi, dan kemudian
di direktorat produksi?” engineering control kita itu merubah kira2 seperti apa nih, satu contoh kita dulu ada kebisingan di
pompa apaa namanya yah itu namanya di pompa surface treathment, itu terjadi suatu kebisingan
pada pompa saat menekan dan mengempes, itu kebisingannya sampai merambat jauh ke gedung
ditek, kemudian mereka itu komplain kekita. Kita ukur, kemudian kita ukur sampai sejauh mana nih
kebisingannya , lalu kebisingan disana itu sampai 50 kebisingan sampai 50 itu memang kita kalau
untuk standar misalkan standar perkantoran teh harusnya 40 lah tapi kalau misalkan ada mesin pick
manual kan itu bisa 60 dB. Tapi mereka tetep komplain karena merasa konsentrasi keganggu, dari
pengendalian teknisnya kan itu kan ke pak Do**. Itu exhausnya itu dibuat sedemikian rupa,
kemudian exhaustnya itu dimasukan kedalam air... akhirnya kebisingannya itu kan bisa direndem,
jadi sekarang itu kan bisa sekalipun spontan mesin itu berjalan, karena kan otomatis gak bising lagi.
Dikasih air di exhausntnya jadi suara itu gak langsung keluar merambat melalui keudara tapi
terendam dulu sama air. Kemudian, exhaust yang di shot pining juga itu dulu bermasalah karena
pada saat terjadi proses shot pining di blower itu kelur debu, masuk keruangan kerja. selain tidak
membuat kenyamanan terhadap karyawan, juga bisa mengotori komponen-komponen yang sudah
jadi. Kemudian itu dari aspek teknis nya, seperti apa dibuatkan cerobong sedemikian rupa, sehingga
terbuang secara bebas, itu teknisnya... kalau pengendalian administrasinya itukita kadang-kadang
kan satu itu mengadakan training, apakah tingkat manajer, apakah level supervisor, apakah
karyawan. Kemudian dari training itu dicoba di kasikan oleh suatu percobaan apa namanya tuh,
perbandingan, studi kasus lapangan, nah seperti ini mkisalkan dikasihnya seperti apa.. risk
assessmentnya apa, pak Bam**** seperti apa. Kemudian kita tuh seperti menguji karyawan ware ke
tempat lingkungannya..”
“Kalau dengan penerapan atau “aaaa iyaa iyaa itu termasuk, barusan tu juga saya mau sampaikan, itu juga termasuk itu warning
dengan rekomendasi safety sign sign, nah warning sign itu kan ada yang berupa poster, ada yang berupa warning sign, dalam
tanda keselamatannya itu kan warning sign itu kan dalam bentuk misalkan seperti harus pakai APD ini ini ini, kalau poster kan
termasuk dengan pengendalian harus tertera ini ini ini. Kalau bila kan bekerja selamat keluarga menanti dirumah, nahh itu kan
administrasi..” salah satu bentuknya. “
“lalu pengendalian APD nya “yaa kalau pengendalian APD itu kita dilihat dulu potensi bahayanya seperti apa, bahaya yang ada
seperti apa pak?” di bengkel atau di tempat kerja yang bersangkutan, karena kan tidak semua tempat kerja harus
dikasih ear muff, tidak semua tempat pekerja harus dikasih sarung tangan karet ya kan.. nah
patokannya kita itu ke risk assessment, dari risk asssessment kan muncul bahayanya itu apa, nah
memang mengendalikan supaya yang tadinya major menjadi minor itu harus seperti apa. Kalau kita
inikan itu potensi bahayanya secara risk assessment itu ini major nih masuknya major atau mungkin
dari karakteristiknya termasuk bahayanya tinggi atau nanti apa tuh, ya kan nanti disitu
pengendaliannya itu bisa tadi dari engineering, administrasi itu diadakan training, kemudian dari
dikasih dokumen pentingnya itu. Untuk lingkungan kerja ini seperti apa, kemudian dari potensi
bahaya yang muncul, kita aplikasikan APD yang kita kasih, ini apa aja yang ada. Dipetunjuk itu kan
juga dijelaskan misalkan petunjuk yang di Maching itu kan di machining kan dikasih sarung tangan.
Itu kan di petunjuk dijelaskan, khusus digunakan sarung tangan pada saat men setting, dilarang
menggunakan sarung tangan pada saat berhadapan dengan benda yang berputar. Kecuali dengan
yang berpress silahkan kalau yang sepeerti itu mah silahkan, takut terlilit, seperti itu. Kalau APD itu
tuh kita sesuaikan dari risk assessment tadi.”
Lampiran

Transkip Wawancara Studi Pendahuluan

Lembar Transkip Wawancara Informan Pendukung

Analisa Kesesuaian Keberadaan Safety Sign

Di PT. Dirgantara Indonesia

Kode Informan 001


Inisial : TN
Tanggal Wawancara : 14 Mei 2014

Topik Manajer Departemen Machining Divisi Detail Part Manufacturing Direktorat


Peneliti
Pembahasan Produksi
(menjelaskan maksud dan tujuan penelitian
penelitian serta memilih Departemen
Machining karena dari hasil wawancara dan
dokumen kecelakaan kerja, nilai SIR dan
FIR)
Tingkat “Ok langsung saja pak, di Machining “Organisasinya yah maksudnya?”//
kecelakaan sendiri tuh terdapat berapa bagian pak “Enggak, bedakan proses produksi dengan organisasi, karena bagian itu organisasi.
dalam proses tahapannya?” // Kalau organisasi saya bilang Machining itu punya 7 Supervisor” (sambil mengambil
“iya, seperti di Departemen Metal Forming kertas, dan memberikan kepada peneliti struktur organisasi di Machining)
yang memiliki profile press forming, sheet “Nih, Kalau organisasi ya punya supervisor Tapi, Supervisor bukan menunjukkan
metal forming, nah kalau di Machining ini tahapan operasi, mungkin kalau di tempat lain bisa iya, tapi kalau di Machining itu dia
sendiri seperti apa pak berdasarkan proses lebih banyak ke grup tekhnologi, jadi grup tekhnologi, kaya misalnya ini grup dua
produksinya?” misalnya yah, tekhnologi yang profiler aja, tekhnologi yang bermain. Jadi, ada 7
bidang, bisa jadi pro mekanisme kerja setiap bidang itu sama. Cuma, digarapannya
teknlogi berbeda gitu.. Tapi kalau tahapan kerja beda kalau di Machining itu tahapan
kerjanya itu, dari sini bisa jadi masuk kesini bisa jadi masuk kesini” (sambil menunjuk
strutur organisasi bidang yang tadi diberikan). “Karena tergantung teknologinya tadi.
Satu contoh, ada suatu kelompok part, dia harus masuk di bidang ini dulu misalnya,
setelah itu dia masuk kesini, ada bagian dia harus masuk kesini. Dari sini dia bisa jadi
masuk lagi kesini, bisa jadi dari sini kesini, jadi organisasinya tidak by proses.
Organisasinya berdasarkan gru teknologi, jadi grup teknologi patok besar itu satu
bidang sendiri, grup teknologi 5 eksis part satu bidang sendiri. Perencanaan produksi
ada disini, gitu.. “ (menunjuk bidang Machining Production Planning)
“Ok pak, untuk pertanyaan selanjutnya, “Kita tuh punya target yah, satu per sejuta yah. Jadi istilahnya satu kali accident per
bagaimana tingkat kecelakaan Incident sejuta man hours. Itu targetnya nol, tapi ee artinya targetnya itu nol. Tetapi kalau kita
atau kejadian di Departemen Machining ?” satu per sejuta masih masuk artinya masih di bawah ambang batas minimum, tapi
tergetnya kan nol itu. Tapi safety itu harus nol, gak boleh targetnya satu dua tiga, gak
boleh. Target safety harus nol.tapi kita kejadian di 2013 itu kejadiannya adalah satu
kali. Tapi anda bisa hitung man hours di Machining, man hours di machining 300 orang
x 8 jam x 1 tahun lebih dari satu juta itu. Jadi artinya masih diambang batas gitu kan.”
“Ok kalau tingkat kecelakaan di “Bentuknya atau frekuensinya? Kalau frekuensinya saya bilang, keparahannya itu
departemen Machining sendiri itu seperti sampai cacat yah, yang paling parah kita cacat aja, ada yang patah, tangannya putus,
apa pak?” itu yang paling parah. Jarinya putus, karena kejepit benda kerja, ya itu kecelakaannya.
Tapi frekuensinya ya itu tadi satu tahun ya paling satu kali. 2012 nol, 2013 terjadi satu
kali. 2014 terjadi 1 kali. Padahal kita baru 5 bulan yah. ”
Pemilihan lokasi “Nah, kalau diantara 7 bidang yang ada “Yang terjadi disini nih, disini sama disini” (sambil menunjuk struktur bidang Profiling
penelitian di disini itu pada bidang apa pak tingkat Prismatic Machine dan bidang Lathe & Milling Machine) “Itu yang memiliki tingkat
bidang yang ada di kecelakaan tertinggi?” risiko tertinggi, karena ini plat2 besar kemudian disini part2 nya agak rumit dan
Departemen alat2nya konvensional, kalau ditempat lain alat2nya udah canggih. Disini tingkat
Machining risikonya gede. Anda kepeleset aja bisa keseleo. Anda salah angkat beda kerja kan
tajam anda tidak pakai sarung tangan nanti tangan anda tergores. Kalau part kecil
Cuma menekan yah, tapi kalau besar kan bisa kejepit itu. “
“Terus jumlah mesin yang ada disini ada “saya perbagiannya jumlahnya enggak hapal, tapi kalau di totalkan ada 165 mesin,
berapa banyak pak?” kalau ditotalkan keseluruhan”
“Kalau tahapan produksi di bagian “Ya tahapannya adalah ini kan dia hanya memotong aja, dia memasang kemudian
profiling prismatic machine secara garis memotong ya disetiap mesin itu. Istilahnya kita ada 3 kelompok yah itu ada pre operasi,
besarnya itu seperti apa pak?” main operasi, post operasi. Nah, pre operasi itu di siapkan benda itu supaya bisa
dipotong, bagaimana dia mengklaimnya, dia harus disiapin, dia harus disiapin di
fishing dulu, kemudian dibikin lubang dulu. Kemudian main operasi dn i ngebentuk
sesuai dengan desain yang diminta. Nah, post operasi dia ada menghaluskan
menghilangkan yang tajam, membuat lubang yang presisi, yaitu di post operasi. Nah
tahapannya sampai kesitu. Cuman di pre operasi main operasi post operasi tidak
berurutan disetiap bidang. Pre operasi paling banyak bidang disini” (menunjuk bidang
Lathe & Milling) “Nah main operasi ada disini semuanya” (menunjuk 5 bidang diantara
7 bidang) “Nah post operasi ada disini” (Bidang Fitter drill & dorring machine) “Nah
disini juga terdapat main operasi gitu, karena kita organisasnya bukan berdasarkan
proses. Berdasarkan teknologi.”
Manajemen risiko “lalu pak bahaya apa saja sih pak yang “Yang banyak itu yah, yang pertama kejepit, kepleset, tersayat itu yang paling banyak.
terdapat di bidang yang memiliki Yang paling banyak itu tersayat, terpeleset, terjepit. “
kecelakaan tertinggi” (sambil menunjuk
bidang profiling machine)
“ok pak lalu bagaimana pak catatan P3K “Nih gini, P3K di bengkel itu banyak, satu lokasi ini lebih jumlahnya ada dua. Dan itu
yang ada di machining ini?” ada orangnya yang di pernah di training P3K. Cuman permaslaahannya program P3K
ini dari pusatnya kurang lancar, banyak orang yang sudah keluar belum ada
penggantinya belum di training lagi. Terus kalau kotak P3K nya sudah disiapin dari
setiap tempatnya itu ada beberapa lebih dari 25 diseluruhnya ini, cuman konsistensi
pengisian didalamnya itu yang tidak lancar. Kan seharusnya betadine kosong terus
ganti, kan gitu. Ini enggak konsisten, begitu kita minta stoknya kosong habis hiehiehie
kan gitu.. jadi itu aja konsistennya aja yang belum baik, kontinyuitasnya.”
“Lalu pak, bagaimana pelaksanaan “aa untuk risiko ini sebenarnya udah didefinisikan tadi yah disetiap tempat itu ada
manajemen risiko seperti identifikasi risikonya, nah risikonya itu kita buat APD apa yang cocok disini yang dikelompokkan
bahaya, penilaian risiko serta tadi, grup2 ini adalah yang paling banyak adalah satu kepleset, sama terjepit, makanya
pengendaliannya di departemen machining aturan dimesin itu anda boleh tidak kerja, kalau sepatu anda rusak itu karena disitu
dan di bidang yang memiliki risiko tinggi mutlak. Nah itu boleh enggak kerja kalau sepatu anda rusak. Anda boleh tidak bekerja
pak seperti prismatic ini?” kalau sarung tangan habis. Itu saya intruksikan itu memang. Karena saya gak mau
denger, mereka celaka karena sepatunya rusak gitu loh.. Jadi sudah saya antisipasi
duu, saya gak mau denger dia celaka gara2 sepatunya rusak. Makanya saya bilang,
kamu ga boleh kerja kalau kamu gak punya sepatu, jadi gak ada alasan, kamu gak boleh
kerja kalau kamu gak pakai sarung tangan. Jadi saya gak mau denger, oh syaa kejepit
karena saya gak dikasih sarung tangan. Kan saya udah instruksikan kamu gak boleh
bekerja, kan gitu.. nah terus disini itu ada risikonya terjepit sama terciprat logam. Nah
kalau disana itu di mesin, kalau kamu mau bekerja, kamu harus pakai kaca mata, kan
gitu.. kamu boleh berenti bekerja kalau kacamata kamu gak ada, kan gitu.. nah cuman
kan kadang-kadang dilemanya kan begitu ketika kaca matanya rusak begitu kita minta
ganti kan belum siap, kan begitu..harusnya dari K3LH membuat stok kan, karena saya
tidak boleh yang membuat stok. Yang membuat stok di K3LH seharusnya ketika habis,
rusak dituker kan gitu.. Tapi tetep say aakan meiliah berhenti.”
“Lalu pak bagaimana si pak tindakan “Ya itu tadi, yang pertama yah didalam standar operasi SOP operator itu sebelum jadi
pengendalian di machining dan di tempat operator juga di training, itu sudah cukup dijelaskan kalau kamu bekerja apa saja yang
yang memiliki risiko tinggi dan tingkat harus kamu siapin. Terus yang kedua adalah tadi, saya membuat grup2 K3LH. Itu grup2
kecelakaan yang tinggi ?” K3LH fungsinya bukan cuma hanya melaporkan tetapi juga harus mengawasi temennya.
Nah, mengawasi temennya dari aspke K3LH itu. Cuman memang kendalanya adalah, ini
bukan cuma di PT.DI aja yah tapi diseluruh Indonesia juga. Disiplin itu emang paling
masalah, contohnya aja yah, tidak boleh merokok di bengkel. Orang itu kalau liyat saya
turun terus di merokok terus diumpetin sampe ada yang kebakar tangannya. Tapi gak
sadar, dia harusnya gak merokok itu kan bahaya. Disitu ada oli dan sebagainya yah,
nah kesadarannya itu yang susah sehingga dia merokok setanem gitu. Tapi kan akhirnya
ketahuan, karena dia buang puntung sembarangan, padahal ada tempat puntungnya kan
gitu.. Ditegur saat itu nurut, tapi besok lusa ngelakuin kaya gitu lagi gitu. Itu yang
memang agak beratnya disiplin seperti itu.”
“Lalu penerapan pengendalian dengan “Kalau engineering saya, saya gak ada. Gak nerapin seperti itu”
pendekatan engineering control / secara
teknis terhadap bahaya seperti apa saja pak
yang dilakukan?
“Kalau dengan pendekatan administrasi “aahh kalau itu, mengenai kelengkapan safety itu, machining itu punya persyaratan yah
controlnya misalnya pelatihan, briefing nah persyaratannya itu, dikasihkan ke K3LH nanti K3LH yang nyiapin, dia yang
sebelum kerja, lalu alarm kebakaran, lalu membuat program training, dia yang membuat kelengkapan bengkel, dan apa yang
safety sign gimana pak?” dimintakan. Seperti tadi yang dibilang saya sebagai eksekutor hanya mengontrol apakah
perlengkapan di machining sudah terpenuhi atau belum, kalau belum balik lapor kamu
belum dilengkapi. Nah terus yang kedua saya mengontrol operator itu sudah
menjalankan atau belum, nah program2 yang belum dinyatakan apa yang sudah apa
yang belum itu yang sebatas saya membuat laporan dan wewenang saya membuat
usulan. Usulan itu yang dituangkan, satu bisa lewat P2K3 yang ada pertemuan tiap
bulan atau bisa lewat jalur yang manajerial, yang seperti setiap hari itu jam 8 jam 2. Itu
pertemuan SQCDP namanya. Pertemuan LIN manufacturing. Jadi ada pertemuan LIN
ada pertemuan LIN di direktorat produksi itu, dan pertemuan itu seragam diseluruh
direktorat produksi. Nah, pertemuan itu ada level 1,2,3,4,5. Level 1 itu pertemuan
diantara operator, tapi itu biasanya engga sistematis, jadi itu biasanya melaporkan tiap
paginya itu ada masalah apa. Jam 8 itu di level supervisor2. Nah di level supervisor
disampaikan ada masalah apa, nah itu yang masalahnya itu harus SQCDP. Nah itu
masalah safety, quality, delivery, maslah cost. Nah itu harus dilaporkan. Safety itu
K3LH maksudnya. Nah jam 8.30 itu di level manajer, jadi setiap masalah naik keatas
terus dalam hari ini. Jam 2 di level kepala divisi. Nah dalam seminggu sekali dilevel
direktur. Jadi ada yang salah jika disuatu masalah tidak sampai ke direktur.”
Lampiran

Transkip Wawancara Studi Pendahuluan

Lembar Transkip Wawancara Informan Pendukung

Analisa Kesesuaian Keberadaan Safety Sign

Di PT. Dirgantara Indonesia

Kode Informan 002


Inisial : RI
Tanggal Wawancara : 14 Mei 2014

Informan
Topik
Peneliti (Supervisor Departemen Machining Divisi Detail Part Manufacturing
Pembahasan
Direktorat Produksi)
(menjelaskan maksud dan tujuan
penelitian serta memilih Departemen
Machining karena dari hasil
wawancara dan dokumen
kecelakaan kerja, nilai SIR dan FIR)
Tingkat “Terdapat berapa bagian pak di “Oh itu mungkin yang kedepan, organisasi kedepan rencananya mau 7, tapi
kecelakaan Departemen Machining ini? sebelumnya itu ada 4, itu sebenernya belum resmi yang 7 ini. Ini sebenernya
Kebetulan saya sudah dapat dari sistemnya masih 4, yang itu saya bilang tadi, 4 yang profilling, medium, small,
Pak didin itu menurut beliau ada 7 sama late. Nah itu pengembangannya tapi yang sampai level 3 tingkat supervisor
bidang ya pak?” ini sebenernya belum. “
“oh gtu pak, ok kalau gitu “kalau kejadian sebenernya tingkat record dengan aturan kita sebenernya wajib
bagaimana sih pak tingkat insident lapor, tapi itu dikoleksinya di departemen itu enggak mengoleksi sebenarnya.
atau kejadian yang ada di Walaupun setiap bidang itu pengawasan secara safety secara kualiti hasil
Departemen Machining?” produk secara perfomance manusianya itu tanggung jawab supervisor, kan gitu..
nah kalau untuk recordnya itu mungkin bisa dilihat di bidangnya di K3LH. Nah
kalau dari kita sendiri itu sebenarnya data kecelakaannya itu tidak ke record
boleh dikatakan. Karena kalaupun ada kejadian itupun recordnya langsung ke
K3LH. Nah itu kalau kecelakaan yang ada itu tingkat berat ringan, kalau boleh
dikatakan itu tidak ada.“
“tapi kalau tingkat keparahan yang “kalau tingkat keparahan yang terjadi, itu seperti terjepit, karena materialnya
ada yang pernah terejadi itu seperti besar-besar. Nah waktu dia download raw material tadi, karena mungkin dia
apa pak?” bekerja lebih dari orang satu, ya mungkin itu irama mungkin kesepakatan dia
kapan mau turun kapan mau melepas rem itu tidk seirama ya mungkin dia belum
siap ya mungkin dia terjepit itu biasanya, jari. “
Pemilihan “lalu pak terdapat di bidang apa “nah itu dia karena saya tidak megang data, mungkin itu datanya bisa di kolek
lokasi pak kecelakaan yang paling sering di departemen K3LH itu. Kalau produksi itu kalau gak salah pak sudarman
penelitian di di Departemen Machining ini pak?” kalau gaksalah kalau dulu. Sekarang mungkin pak apa, pak junaedi. Nah kita
bidang yang kan di produksi nah itu setiap tingkat korporet K3LH nya juga ada, itu pak
ada di suparman itu kalau gak salah.”
Departemen “jadi tidak ada datanya ya pak, ok “itu kita intinya membuat bahan baku, barang yang awalnya dari raw material
Machining kalau gitu bagaimana tahapan padat gitu yah, nah itu di proses menjadi detail part sesuai yang diinginkan. Nah
proses produksi yang bapa pegang lalu prosesnya itu kalau dilihat tahapan2 itu kita mungkin satu prepare dari raw
itu pak di bidang profilling?” material kan, dari proses tadi kan bagaimana dia mengangkat yaitu crane yaitu
di sana juga ada airbot yaitu sling yaitu diangkat. Nah pada suatu dia ingin
memindahkan dari suatu tempat ke material tadi dari meja mesin, nah tahapan
selanjutnya itu mendownload benda kerja hasilnya kan, hasil tahapan itu dia
disimpan itu ada tahapan itu aman dia memasang bendanya tadi di mesin entah
dia pakai apa dia pakai baut misalnya entah pakai alat misalnya neumatik gan
pokonya dia mulai mengoperasikan mesin, nah di operasi mesin tadi dia proses
situ itu ada programing dia menggunakan program, terus dia menggunakan
cutting tool sama mesin. Jadi operator tadi mengendalikan mesin dari program
sama cutting tool, memotong material kasar tadi menjadi material jadi. Nah
disana risikonya ada, istilahnya chips atau pemotongan, terbang gitu kan, itu
risikonya. Aahh risiko kedua itu muncrad itu dari pendingin tadi, nah risiko
ketiga itu cutting tool tadi. Kalau cutter itu patah mungkin dia bisa jadi mental
gtu. “
“lalu pak mesin yang ada di “ada 10, itu dibagi menjadi 2 jenis. Jenis pertama dia punya 5 multi purpose itu
profilling ini ada berapa pak?” kita sebut bagian. Nah yang kedua khusus alumunium, itu dia hanya bisa
memotong yang dari alumunium. Tapi yang multi purpose dia juga bisa
memotong hard metal, bisa juga memotong alumunium”
Manajemen “lalu pak bahaya apa saja sih pak “ya itu tadi risiko yang saya bilang tadi kan, ya pada saat memindahkan
risiko yang terdapat di bisang profilling mengangkat raw material, yang kedua terus pada saat dia mengoperasikan saat
ini? produksi risiko itu chips terbang, nah risiko coollant, nah terus risiko pada saat
bekerja. Operator tadi bekerja di atas meja mesin. Pada saat dia download
unload, aahh clean up itu dia naik keatas meja mesin, ahh itu risiko terpeleset.”
“nah itu sudah pernah terjadi pak “yaaaa aahh belum sih, tapi risikonya itu.nah itu makanya kita pakai safety
kejadian seperi itu?” shoes yang oil resistennya bagus.nah safety shoes pas menginjak gramnya itu
tajam kalau keinjak. Nah itu ada di meja mesin. Makanya kita melakukan
penelitian yang besar di mesin profilling ini, safety shoes paling lama umurnya 2
bulan. Butuh biaya hahaha..”
“ok pak selanjutnya, bagaimana “P3K itu kita ada lokasi, ada posisi2nya. Jadi disusun daerah misalnya barat
catatan P3K di profilling ini pak?” utara, itu mewakili dengan yang terdekat dengan pekerja. Yaa itu kita udah
siapin aja denahnya. Di setiap machining juga ada sebenarnya. Nahh, P2K3 itu
kadang2 kelemahannya kalau kita pengadaannya itu udah disesuaikan dengan
kebutuhannya hanya saja itu kontinyuitas kontrol barangnya tidak tersedia. Itu
tuh kita di support sama departemen yang lain. Nah itu departemen yang lain
kita punya kap itu tadi kalau menurut saya resposibelnya kalau kata saya itu kita
hanya melaporkan. Kotak P3K tadi kosong kadang2 stoknya enggak punya
disana. Karena saking seringnya digunakan,mereka misalnya tergores kan gitu,
ya betadine misalnya terus handiplas.”
“itu kejadian seperti itu sering “yaa iya sering, ya biasalah gores2..ah kalau operator udah gak aneh, kalau
terjadi pak?” bahasa sundanya kan disini jauh keneh tinah peujit hahaha.”
“lalu pak kalau pelaksanaan “Ya pengendalian itu kan kita bisa secara teori, misalnya teori dalam K3LH itu
identifikasi risiko, penilaian risiko udah ada. Nah identifikasi tadi kita secara visual kebanyakan, jadi bakal bahaya
dan pengendalian risiko yang ada di udah bahaya, misalnya liyat lantai atau liyat apa aliran listrik. Nah itu tuh kita
Departemen Machining seperti apa udah luput sama yang namanya audit tadi. Pada saat audit tadi kita bisa
pak?” memperbaikinya.”
“lalu pengendalian yang sudah “kita istilahnya dalam arti jangan bosen kita gingetin pekerja, kan gitu..itu
diterapkan seperti apa saja pak?” pengendalian moral namanya, kita ingetin, kan gitu.”
“Ok pak, saya spesifik lagi “kalau yang engineering control kita plan nya tadi hanya yang dari visualnya
pengendalian dengan pendekatan aja. Visual, terus nanti ada data audit. Audit misalnya taun lalu nanti ada
engineering control pak.” referensi, nanti kontrolnya kesana.”
“Ok pak lalu bagaimana dengan “heem, ya sebenarnya itu yang kita lakukan manajemen K3LH itu ada yang
pengendalian dengan pendekatan namanya P2K3, nah P2K3 lah istilahnya yang menularkan ke bagian2 yang lain.
administrasi pak? Seperti rotasi Karena saya tadinya di P2K3 cara saya ya itu kalau ada kita menularkan ada
kerja, pelatihan kerja, alarm program di P2K3 pada saat rapat, kita mau apa, nah itu kita bikin plan. Itu aja
kebakaran, tanda bahaya, dsb.” yang dilaksanakan.”
“nah plan yang biasa dilaksanakan “ya plan nya ya biasanya kita, kalau diruangan saya misalnya di profilling, saya
itu seperti apa pak?” butuh membenahi safety line misalnya kan, itu yah, safety line, safety sign. nah
itu nanti apa aja, nah terus siapa responsiblenya, karena pengadaannya kan
begitu aja.”
Lampiran

Transkip Wawancara Studi Pendahuluan

Lembar Transkip Wawancara Informan Pendukung

Analisa Kesesuaian Keberadaan Safety Sign

Di PT. Dirgantara Indonesia

Kode Informan 003


Inisial : ST
Tanggal Wawancara : 19 Mei 2014

Informan
Topik
Peneliti (Supervisor Departemen Machining Divisi Detail Part Manufacturing Direktorat
Pembahasan
Produksi)
(menjelaskan maksud dan tujuan penelitian
penelitian serta memilih Departemen
Machining karena dari hasil wawancara dan
dokumen kecelakaan kerja, nilai SIR dan
FIR)
Tingkat “Ok pak, ada berapa tahapan pak di “Kalau Departemen Machining, kebetulan kan saya hanya menangani LIN , kalau mau
Kecelakaan Departemen Machining ini?” tanya tentang Machining harusnya ke Pak Didin. Harusnya Pak Didin karena dia
Departemennya. Kalau untuk menanyakan bagian saya bisa menjawab, tapi bukan ini
saya gitu..”
“Mohon maaf sebelumnya Bapa sebagai “oo kalau sekarang itu ada 4 bidang, tapi kalau ada yang baru hhmmm berarti saya ada
Supervisor di bidang apa?” di Bidang 3 Axis Prismatic Machine”
“Ok pak kalau begitu, lalu menurut bapa “kalau apa nih? Kalau tingkat keseringan itu karena memang tidak ada alat safety nya.
bagaimana tingkat incident di Bidang 3 Yaitu karena alat safety nya belum dipenuhi. Jadi mungkin dulu ada, tapi tiba2 kalau
Axis Prismatic Machine?” diminta stok nya gak ada. Ya seperti sarung tangan, ya seperti APD, kebanyakan APD.
“pak bagaimana pak kalau tingkat “Itu jarang yah, jarang terjadilah. “
kecelakaan di bidang 3 axis prismatic ?”
“ok pak, lalu menurut bapa tingkat pada “di 3 Axis itu nama mesinnya HAAS. Kalau tingkat kecelakaan paling sering ya Milling
bagian apa pak tingkat kecelakaan yah. Karena kan manual yah. Ya itu di milling”
tertinggi di Machining ?”
“Kalau begitu bagaimana pak tahapan “ada 2 tahap, yang pertama ada pre operation, pre operation itu mengerjakan lubang,
produksi di 2 axis prismatic ini pak?” lubang untuk dikerjakan di mesin main operasi. Nah main operasi itu 3 axis tadi.
Setelah dari tool itu dikerjakan lalu ke HAAS ini. Setelah dikerjakan di HAAS baru
dikerjakan di fitter finishing. “
“kalau jumlah mesin yang ada di 3 Axis “ada 14 mesin”
prismatic ada berpaa pak?”
“lalu pak, menurut bapak bahaya apa saja “Kalau bahaya itu banyak, potensi bahaya itu banyak. Ya seperti tergelincir, ya artinya
pak yang terdapat di bidang 3 axis licin ya tergelincir, tersayat, terpotong, terus satu lagi adalah terjepit. “
prismatic ini?”
“terus kejadian seperti itu sudah pernah “yaa kebetulan kalau disini, potensi yang selain tersayat belum ada. Kalau yang
terjadi pak?” ditempat lain itu mungkin ada. Kalau terjepit itu misalnya, dibagian Cincinati itu di
Profilling, itu pernah terjadi tapi tahun2 belakangan kesana. Saya kurang tahu tahun
berpanya.”
“lalu pak, bagaimana pak catatan P3K di 3 “kalau P3K keliatannya kurang memang, kurang supportnya lah, kadang2 terlambat
axis prismatic ini?” stok nya gak ada, kadang kosong”
“kalau penggunaan P3K sendiri itu gimana “kalau penggunaannya sendiri ya sering. Kalau artinya sering itu kan karena kalau
pak?” tersayat sendiri itu kan gak di catat yah, kalau yang luka2 sedikit itu biasanya gak di
catat. Ya kan itu gak tercatat di LIN lah yah maksudnya. Kalau misalkan ada yang
tersayat dan perlu jahitan itu baru dicatat, dan pernah terjadi tahun 2014. “
Manajemen Risiko “Lalu pak, bagaimana pelaksanaan “Kita hanya ada satu , ada gambar ada tanda2 bahaya, potensi2 bahaya itu biasanya di
manajemen risiko, seperti identifikasi tempel, lalu kita selalu mengingatkan bahwa kita selalu menggunakan APD”
bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian
risiko yang ada di 3 axis prismatic ini?”
“Lalu pak sebelum dilakukan “kalau identifikasi bahaya itu udah lama, sudah ada. Kaya sarung tangan kan
pengendalian itu adanya identifikasi sebenarnya itu kan udah difeinisikan. Terus sepatu safety itu uda didefinisikan, harus
bahaya ya pak, bagaimana identifikasi pakai pakaian kerja itu didefinisikan. Terus pakai kaca mata atau masker atau tutup
bahaya yang telah dilakukan pak?” telinga ear plug, itu udah didefinisikan. Cuma pada saat sekarang itu untuk pemenuhan
ini, itu biasanya stoknya kadang2 sudah kurang, gitu.. itu masalahnya stok, kalau
penggunaan sebenarnya kalau orang kasih pasti dipakai,”
“Lalu pak, pengendalian bahayanya sendiri “Kalau pengendalian yang ada itu kan sebenarnya sudah ada. Itu kaya lantai licin itu
yang sudah dilakukan itu dalam bentuk apa dibersihkan, ya artinya ada cleaning service. Itu di pel lantainya. Kalau lantainya kena
pak?” oli itu dibersihkan. Kalaupun misalnya ada himbauan bekerja itu artinya bentuknya
kontrol berarti kan. “
“ok pak itu kan salah satu bentuk “ada pelatihan itu kaya on the spot gitu yah, kaya misalnya di tempat kerja, dan itu kita
pengendalian administratif ya pak, lalu kasih tau bahwa itu trainingnya langsung disitu gitu. “
selain pemberian tanda apa lagi pak?”
Lampiran

Triangulasi Sumber

Triangulasi Data
Variabel
Triangulasi Sumber
Penelitian
Informan Informan
Informan Utama
Pendukung Kunci
Prosedur Pelaksanaan dilakukan
penerapan oleh tim K3LH
safety sign produksi, dan
Berdasarkan potensi bahaya pengadaan safety sign
yang didapat dari proses hasil dari Departemen
identifikasi bahaya, audit, K3LH. Sebelum Pada hasil identifikasi bahaya,
rekomendasi investigasi jika penempatan safety sign penilaian risiko, dan kebutuhan
terjadi kecelakaan, serta disesuaikan dengan safety sign
sampai tahap mendesain dan bahaya dan
mencetak warning sign. penggunaan APD yang
bekerja sama dengan
pihak
produksi/bengkel.
Kondisi Cukup baik, akan tetapi belum
safety sign di update, sudah mengelotok,
Kualitas masih kurang,
warnanya luntur, belum sesuai
karena sudah buram,
dengan tempat kerja karena Pada hasil identifikasi bahaya,
letaknya sudah tidak
masih adanya struktural penilaian risiko, dan kebutuhan
sesuai, kotor, dan safety sign
organisasi yang berubah
bahkan banyak yang
sehingga lokasi produksi juga
tidak ada sign nya.
berubah yang mempengaruhi
safety sign yang sudah ada.
Standar Berdasarkan kebijakan
Ada yang sudah sesuai
safety sign terdahulu, menggunakan
dan ada yang belum Pada hasil identifikasi bahaya,
yang beberapa referensi sumber
sesuai karena masih penilaian risiko, dan kebutuhan
diterapkan internet serta lebih menganut safety sign
adanya perpindahan
ke standar Amerika yaitu
lokasi kerja.
ANSI.
Alasan Di pandang penting
menggunaka karena dapat
n standar memberikan pengaruh Pada hasil identifikasi bahaya,
Sebagai pemenuhan
tersebut kepada pekerja untuk penilaian risiko, dan kebutuhan
requirement customer safety sign
mengindikasikan
adanya potensi bahaya
dan mandatory yang
ada di tempat kerja.
Petugas Pengadaan ada di departemen
pemasang K3LH, yang memasang bisa
safety sign dari Supervisor yang Kerjasama antara orang
meminta ke Departemen dari machining, K3LH Pada hasil identifikasi bahaya,
penilaian risiko, dan kebutuhan
K3LH, tim K3LH produksi produksi dan safety sign
maupun pihak P2K3 sebagai Departemen K3LH.
jembatan antara produksi dan
K3LH.
Lampiran

Triangulasi Metode

Triangulasi Metode
Variabel Penelitian
Wawancara Telaah Standar
Observasi
Mendalam Dokumen Safety Sign
Prosedur penerapan safety - prosedur
sign risk
assessme
nt No.
Dokume
n D4 G0
03
Informan - No. ANSI Z535
Utama dan - Dokume dan BSI
Pendukung n D4 S2 5499
07
tentang
Standar
Rambu
Keselam
atan
Kerja
Kondisi safety sign Informan Keberadaan
Utama dan safety sign - -
Pendukung pada tabel 5.4
Standar safety sign yang Informan
Berbagai
diterapkan Utama dan ANSI dan BSI ANSI Z535
referensi
Pendukung
Alasan menggunakan Informan
standar tersebut Utama dan - - -
Pendukung
Petugas pemasang safety Informan
sign Utama dan - - -
Pendukung