Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Pengertian konsep diri
Konsep diri adalah semua pikiran, keyakinan, dan kepercayaan yang merupakan
pengetahuan individu tentang dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain.
Konsep diri tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil pengalaman unik
seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat dan realitas dunia. (Mukhripah
Damaiyanti, Iskandar, 2012: 35)
Konsep diri adalah penilaian subjektif individu terhadap dirinya, perasaan sadar atau
tidak sadar dan persepsi terhadap fungsi, peran dan tubuh. (Farida Kusumawati, Yudi H,
2010: 64)
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian konsep diri ?
2. Apa penyebab dari gangguan konsep diri ?
3. Apa penatalaksanaan dari gangguan konsep diri ?
4. Apa saja asuhan keperawatan dari konsep diri ?
5. Apa saja Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan 1?
6. Apa saja Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan 2?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian konsep diri
2. Untuk mengetahui penyebab dari konsep diri
3. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari konsep diri
4. Untuk mengetahui asuhan keperawatan dari konsep diri
5. Untuk mengetahui Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan 1
6. Untuk mengetahui Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan 2

1.4 Manfaat
Berdasarkan tujuan penulisan di atas penulis dapat menyimpulkan manfaat sebagai
berikut :
1. Bagi penulis dapat meningkatkan keterampilan dalam menyelesaikan makalah
mengenai tentang keperawatan dan mampu berfikir logis.
2. Bagi pembaca dapat mengetahui dan memahami mengenai asuhan keperawatan pasien
dengan gangguan konsep diri

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian konsep diri
Konsep diri adalah suatu pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang merupakan
pengetahuan individu tentang dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang
lain. Konsep diri tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil pengalaman
unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat dan realitas dunia
(mukhripah damaiyati, iskandar, 2012:35)
Konsep diri terdiri atas komponen-komponen berikut:
a. Citra tubuh adalah kumpulan dari sikap individu yang disadari dan tidak disadari
terhadap tubuhnya. Termasuk persepsi masa lalu dan sekarang, serta perasaan tentang
ukuran, fungsi, penampilan dan potensi yang secara berkesinambungan dimodifikasi
dengan persepsi dan pengalaman baru.
b. Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana dia seharusnya berprilaku
berdasarkan standar, aspirasi, tujuan, atau nilai personal tertentu.
c. Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan
menganalisa seberapa baik prilaku seseorang sesuai dengan identitas diri, harga diri
yang tinggi adalah perasaan yang berakar dalam penerimaan diri sendiri tanpa syarat,
walaupun melakukan kesalahan, kekalahan dan kegagalan, tetapi merasa sebagai
seorang yang penting dan berharga.
d. Penampilan peran adalah serangkaian pola prilaku yang diharapkan oleh lingkungan
sosial berhubungan dengan fungsi diberbagai kelompok sosial. Peran yang ditetapkan
adalah peran dimana seseorang tidak mempunyai pilihan. Peran yang di terima adalah
peran yang terpilih atau dipilih oleh individu.
e. Identitas personal adalah pengorganisasian prinsip dari kepribadian yang bertanggung
jawab terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi dan keunikan individu.
Pembentukan identitas dimulai pada masa bayi dan terus berlangsung sepanjang
hidupnya, tetapi merupakan tugas utama pada masa remaja.
Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri
sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan
2.2 Etiologi
Penyebab dari gangguan konsep diri adalah:
1. Situasional
Yaitu terjadi trauma yang tiba–tiba, misal : harus operasi, kecelakaan, dicerai
suami, putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu terjadi
(korban perkosaan, dituduh, korupsi, kolusi, nepotisme, dipenjara tiba-tiba).
2. Kronik

2
Yaitu perasaan negatif terhadap diri sendiri telah berlangsung lama sebelum sakit
atau dirawat, klien mempunyai cara berfikir negatif. Kejadian sakit dan dirawat
akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya.
a. Faktor Predisposisi
1) Penolakan orang tua.
2) Harapan orang tua yang tidak realistis.
3) Kegagalan berulang kali.
4) Kurang mempunyai tanggung jawab personal.
5) Ketergantungan pada orang lain.
6) Ideal diri yang tidak realistis.
b. Faktor presipitasi
c. Komplikasi
1) Isolasi sosial: menarik diri.
2) Timbulnya masalah persepsi sensori halusinasi dengar, lihat, raba, cium
dan lain-lain.
d. Rentang respon konsep diri

Respon adaptif Respon maladaptif

Aktualisasi Konsep diri Harga diri Kerancuan Deporsonalisasi


diri positif rendah identitas
e. Tanda dan gejala
Tanda dan gejala yang bisa muncul akibat dari gangguan konsep diri adalah
mengkritik diri sendiri atau orang lain, penurunan produktifitas, destruktif
yang diarahkan pada orang lain, gangguan dalam berhubungan, rasa diri
penting yang berlebihan, perasaan tidak mampu, rasa bersalah, mudah
tersinggung atau marah yang berlebihan, perasaan negatif mengenai tubuhnya
sendiri., ketegangan peran yang dirasakan, pandangan hidup yang pesimis,
keluhan fisik, pandangan hidup yang bertentangan, penolakan terhadap
kemampuan personal, destruktif terhadap diri sendiri, pengurangan diri,
penarikan diri secara sosial, penyalahgunaan zat, menarik diri dari realitas.
2.3 Penatalaksanaan
Harga diri rendah termasuk dalam kelompok penyakit skizoprenia tidak tergolongkan,
maka jenis penatalaksanaan yang bisa dilakukan adalah:
1) Psikofarmakol
Adalah terapi dengan menggunakan obat, tujuannya untuk mengurangi atau
menghilangkan gejala gangguan jiwa, obat yang biasa digunakan di RS jiwa
antara lain.

3
a) Anti Psikosis
(1) Cloropromazin ( Thorazime) dosis 25-2000 mg/hari
(2) Haloperidol (hal dol) dosis 2-40 mg/hr indikasi digunakan untuk
pengobatan psikosa, mengobati masalah perilaku yang berat pada anak-
anak yang berhubungan dengan keadaan yang tiba-tiba meledak,
mengontrol mual dan muntah yang berat dan kecemasan berat. Kontra
indikasi: hiperaktif, galaukoma, hamil dan menyesui, efek samping yaitu
anemia, mulut kering, mual dan muntah, konstipasi, diare, hipotensi,
aritmia cordis, takikardi, eksrapiramidal, penglihatan berkabut.
b) Anti Parkinson
Trihexypenidril (artane) dosis 5-15 mg/hr indikasi berbagai bentuk
parkinsonisme. Kontra indikasi: galukoma, takikardi, hipertensi, penyakit
jantung, asma, ulserasi, duodenum. Efek samping: sakit kepala, lemas, cemas,
psikosis, depresi, halusinasi, ortostatik, foto sensitivitas, penglihatan berkabut,
mual muntah, konstipasi, frekuensi/retansi urin.
2) Pengobatan Somatik
a) Elektro Convulsif Therapi (ECT)
Merupakan pengobatan untuk menimbulkan kejang grand mal yang
menghasilkan efek therapi dengan menggunakan arus listrik berkekuatan 75-
100 volt. Cara kerja belum diketahui secara jelas namun dapat dikatakan
bahwa therapi convulsif dapat memperpendek lamanya skizofrenia dan dapat
mempermudah kontak dengan orang lain, indikasi ECT yaitu depresi berat
dan bila therapi obat-obatan belum berhasil (gangguan berpolar), klien yang
sangat mania, hiperaktif, klien resiko tinggi bunuh diri, psikosis akut,
skozoprenia.
b) Pengkajian Fisik
Terdiri dari pengekangan mekanik dan isolasi
Pengekangan mekanik dilakukan dengan menggunakan manset untuk
pergelangan tangan dan kaki serta seprei pengekang.
Isolasi yaitu menempatkan klien dalam suatu ruangan tertentu di Rumah sakit.
Indikasi: Pengendalian prilaku amuk yang membahayakan diri dan orang lain
Kontra indikasi: resiko tinggi bunuh diri, hukuman.
3) Psikoterapi
Psikoterapi membutuhkan waktu yang relatif cukup lama dan merupakan bagian
penting proses terapeutik, upaya dalam psikoterapi yaitu memberikan rasa aman
dan tenang. Menerima klien apa adanya, motivasi klien untuk dapat
mengungkapkan perasaannya secara verbal, bersikap ramah sopan dan jujur pada
klien.

4
4) Terapy Modalitas
Therapi Okupasi:
Therapi okupasi adalah suatu ilmu dan seni untuk mengarahkan partisifasi
seseorang dalam melaksanakan aktivitas atau juga yang segala dipilih dengan
maksud untuk memperbaiki, memperkuat dan meningkatkan harga diri.
5) Terapi kognitif
Terapi kognitif (Cognitive Therapy) adalah suatu terapi yang mengidentifikasi
atau mengenali pemikiran-pemikiran yang negatif dan merusak yang dapat
mendorong ke arah rendahnya harga diri dan depresi yang menetap (Allen,2006).
Terapi kognitif adalah salah satu dari terapi spesialis keperawatan jiwa yang
ditujukan untuk memperbaiki ganguan perasaan murung ("mood"), (dalam stuart
& Laraia, 2011).
Pelaksanaan terapi kognitif menggunakan pasien positif pengaruh yang
signifikan antara kondisi pendekatan interpersonal peplau yang proses
keperawatan dari orientasi, identifikasi, eksploitasi dan resolusi. Pendekatan
Peplau sangat tepat dalam yang terdiri dari pengkajian (orientasi dan identitikasi),
eksploitasi (perencanaan dan implementasi) dan resolisi/evaluarsi. Begitu juga
yang digunakan dalam terapi kognitif dengan tahapan komunikasi terapeutik
yaitu: orientasi, kerja dan terminasi. Atas dasar kesesuaian tersebut menggunakan
interpersonal rendah dengan terapi kognitif. peplau sebagai kerangka
penyelesaian Kondisi diatas iuga sesuai dengan penerapan terapi kognitif untuk
masalah depresi mood disorder dan masalah psikiatrik lainnya, seperti, panik,
pengguna masalah untuk pengontrolan marah dan obat Dengan demikian terapi
kognitif sangat efektif digunakan pada gangguan alam perasaan harga diri rendah.
Peran perawat dalam memberikan terapi kognitif adalah untuk membuat pikiran
klien yang terselubung menjadi lebih terbuka dan ini sangat penting untuk
mengatasi kognitif yang bersifat otomatis (gladding, 2009)

5
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI

Dalam melakukan asuhan keperawatan pada gangguan konsep diri meliputi


beberapa kegiatan, diantaranya adalah:
1. Pengkajian
Didalam kegiatan pengkajian ini, beberapa komponen yang dikaji yaitu:
a. Faktor yang mempengaruhi gangguan konsep diri
Faktor ini meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistis,
kegagalan berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab personal,
ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang tidak realistis.
b. Stresor Pencetus
1). Adanya trauma
Trauma penganiyayaan seksual, psikologis, dan menyaksikan kejadian yang
mengancam kehidupan.
2). Ketegangan peran
Berhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan, dimana individu
mengalami fluktuasi.
c. Manifestasi klinis
Gejala – gejala yang muncul akibat dari gangguan konsep diri yaitu : Mengkritik diri
sendiri, perasaan malu terhadap diri sendiri, perasaan bersalah terhadap diri sendiri,
gangguan hubungan sosial, kurang percaya diri.
d. Pohon Masalah
Isolasi sosial : Menarik diri

Gangguan konsep diri : Harga diri rendah

Gangguan citra tubuh


(Kelliat 1998)
Masalah Keperawatan
1). Isolasi sosial: Menarik diri.
2). Gangguan konsep diri: Harga diri rendah.
3). Gangguan citra tubuh
2. Diagnosa Keperawatan
a. Isolasi sosial: Menarik diri berhubungan dengan gangguan konsep diri : Harga diri
rendah.
b. Gangguan konsep diri: Harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra tubuh.

6
3. Intervensi Keperawatan
a. Perencanaan Keperawatan:
1). Isolasi sosial menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
a). Tujuan umum: klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal
b). Tujuan Khusus:
(1). Klien dapat membina hubungan saling percaya
Kriteria Evaluasi:
(a). Klien dapat memperkenalkan dirinya
(b). Klien dapat mengungkapkan perasaannya terhadap penyakit yang
diderita
(c). Klien mau menjawab salam
(d). Klien menunjukan ekspresi bersahabat
Tindakan keperawatan:
(a). Bina hubungan saling percaya
- Salam terapeutik
- Jelaskan tujuan interkasi
- Buat kontrak yang jelas
(b). Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya dengan penyakit
yang diderita
(c). Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
(d). Katakan pada klien bahwa ia adalah seseorang yang berharga dan
bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri.
(2). Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Keriteria Evaluasi: klien dapat menyebutkan aspek positif dan kemampuan
dirinya
Tindakan keperawatan:
(a).Diskusikan kemampuan dan sapek positif yang dimiliki klien
(b).Setiap bertemu klien hindarkan memberi penilaian negatif
(c).Utamakan memberikan pujian yang realistik.
(3). Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
Kriteria Evaluasi: klien dapat menyabutkan kemampuan yang masih dapat
digunakan
Tindakan Keperawatan:
(a).Diskusikan kemampuan yang dapat digunakan selama sakit
(b).Diskusikan pula kemampuan yang dapat dianjurkan penggunaannya
setelah pulang sesuai dengan kondisi sakit klien
(4). Klien dapat menetapkan (merencanakan) kegiatan sesuai dengan kondisi
sakit dan kemampuan yamg dimiliki.

7
Kriteria Evaluasi: klien dapat menetapkan keinginan atau tujuan yang
realistis.
Tidakan Keperawatan:
(a).Rencana bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari
sesuai kemampuan
(b).Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
(c).Beri contoh pekasanaan kegiatan yang boleh klien lakukan
(5). Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kondisi sakit dan
kemampuan yang dimiliki
Kriteria Evaluasi: klien melakukan kegiatan sesuai dengan kemampuan
yang dimiliki
Tindakan keperawatan:
(a).Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah
direncanakan
(b).Beri pujian atas keberhasilan klien
(c).Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
(6). Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Kriteria Evaluasi: klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
dikeluarga
Tindakan keperawatan:
(a).Berikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat
klien harga diri rendah
(b).Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien di rawat
(c).Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
(7). Klien dapat mengguanakan obat dengan 6 benar
Kriteria Evaluasi: klien dapat mengguankan obat dengan prinsip 6 benar
Tindakan keperawatan:
(a).Beri pengetahuan tentang obat, dosis dan manfaat obat dengan benar
(b).Anjurkan klien meminta obat sendiri pada perawat

2). Gangguan konsep diri: harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra
tubuh
a). Tujuan umum: klien dapat menunjukan peningkatan harga diri
b). Tujuan Khusus
(1). Klien dapat meningkatkan keterbukaan dan hubungan saling percaya
Kriteria Evaluasi: klien dapat meningkatkan keterbukaan dan saling
percaya dengan perawat
Tindakan keperawatan:

8
(a) Bina hubungan saling percaya
- Salam terapeutik
- Komunikasi terbuka, jujur dan empati
- Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
- Berikan kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaan
terhadap perubahan itu
(2). Klien dapat mengidentifikasi perubahan citra tubuh
Kriteria Evaluasi: klien menerima perubahan tubuh yang terjadi
Tindakan keperawatan:
(a) Diskusikan perubahan struktur, bentuk atau fungsi tubuh
(b) Observasi ekspresi klien pada saat diskusi
(3). Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Kriteria Evaluasi: klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki
Tindakan keperawatan:
(a) Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki oleh klien dari
luar perubahab yang terjadi
(b) Beri pujian atas aspek positif dan kemampuan yang masih dimiliki
klien
(4). Klien dapat menerima realita perubahan struktur, bentuk atau fungsi tubuh
Kriteria Evaluasi: klien menerima perubahan tubuh yang terjadi
Tindakan keperawatan:
(a) Dorong klien untuk dan berperan serta dalam asuhan keperawatan
secara bertahap
(b) Libatkan klien dalam kelompok dengan masalah gangguan citra tubuh
(c) Tingkatkan dukungan keluarga pada klien terutama pasangan
(5). Klien dapat menyusun rencana cara-cara menyelesaikan masalah yang
harus dihadapi.
Kriteria evaluasi: klien dapat memilih beberapa cara mengatasi perubahan
yang terjadi
Tindakan keperawatan:
(a) Diskusikan cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak
perubahan struktur atau fungsi tubuh.
(b) Dorong klien memilih cara yang sesuai bagi klien
(c) Bantu klien melakukan cara yang dipilih
(6). Klien dapat melakukan tindakan pengambilan integritas tubuh
Kriteria evaluasi: Klien adaptasi dengan cara yang dipilih dan digunakan
Tindakan keperawatan:

9
(a) Bantu klien mengurangi perubahan citra tubuh, misalnya protes untuk
bagian tubuh yang tertentu
(b) Rehabilitasi bertahap bagi klien.

SP (Strategi Pelaksanaan)
Berdasarkan data diatas penulis merumuskan prioritas diagnose keperawatan yaitu
harga diri rendah, isolasi sosial, perubahan persepsi sensori : Halusinasi.
SP 1 Tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan klien dapat
mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki, klien dapat menilai
kemampuan yang dapat dilakukan, klien dapat menetapkan/memilih kegiatan yang sesuai
dengan kemampuan, klien dapat melatih kegiatan yang sudah dipilih, klien dapat
melakukan kegiatan yang sudah dipilih.
SP 2 melatih kemampuan yang dipilih klien, Tujuan klien mampu melakukan kegiatan ke
2 yang telah dipilih.
1. Intervensi keperawatan harga diri rendah SP 1 adalah mengidentifikasi kemampuan
dan aspek positif yang masih dimiliki klien, membantu klien menilai kemampuan
yang dapat dilakukan, membantu klien memilih kemampuan yang akan dilatih,
melatih kemampuan yang dipilih klien. SP 2 yaitu melatih kemampuan yang dipilih
klien, mendiskusikan dengan klien untuk melatih kemampuan kedua yang dipilih.
2. Implementasi yang dilakukan oleh penulis semua terlaksana.
3. Evaluasi masalah, optimalkan semua SP 1 dan SP 2 dan intervensi harus dilanjutkan.
4. Analisis pemberian strategi pelaksanaan herga diri rendah dengan komunikasi
terapeutik yaitu efektif dalam meningkatkan kemampuan positif yang masih dimiliki
klien, terbukti pada hari kedua setelah sebelumnya diajarkan cara merapikan tempat
tidur klien mengatakan sudah merapikan tempat tidurnya

10
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
Masalah : Gangguan konsep diri : Harga diri rendah
Pertemuan : ke-1
A. Proses keperawatan
1. Kondisi klien
Klien kurang mampu memulai pembicaraan.
Klien mengatakan malu karena menumpang dirumah mertua.
2. Diagnosa keperawatan
Harga diri rendah.
3. Tujuan
TUM : klien memiliki konsep diri yang positif.
TUK 1 : klien dapat membina hubungan saling percaya.
Dengan kriteria hasil :
a. Klien menunjukkan tanda-tanda percaya kepada perawat :
1) Ekspresi wajah bersahabat.
2) Menunjukkan wajah senang.
3) Ada kontak mata.
4) Mau berjabat tangan.
5) Mau menyebutkan nama.
6) Mau menjawab salam.
7) Mau duduk berdampingan dengan perawat.
8) Bersedia mengungkapkan masalah yang dihadapi.
4. Rencana tindakan keperawatan
a. Bina hubungan saling percaya
1) Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal.
2) Perkembangan diri dengan sopan.
3) Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien.
4) Jelaskan tujuan pertemuan, jujur dan menepati janji.
5) Tunjukkan sikap simpati dan menerima klien apa adanya.
6) Beri perhatian pada klien.
b. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya tentang masalah yang
diberikan.
c. Sediakan waktu untuk mendengar klien katakan pada klien bahwa ia adalah seseorag
yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri.
B. Strategi komunikasi tindakan keperawatan
1. Fase orientasi
a. Salam terapeutik

11
“Selamat pagi bu, apakah kita boleh berkenalan? Perkenalkan nama saya Monika
Citra Sari, bisa dipanggil monik, nama ibu siapa? Suka dipanggil apa? Ibu, tujuan
kita berkenalan yaitu supaya kita lebih akrab, ibu juga bisa mengungkapkan
perasaan ibu kepada saya”. “Bagaimana kalau kita berbincang-bincang selama 15
menit? Apakah ibu bersedia? Bagaimana ibu?
b. Validasi
“Bagaimana perasaan ibu saat ini? Adakah yang ibu pikirkan? Bagaimana kalau ibu
menceritakan kepada saya? Saya siap mendengarkan”.
c. Kontrak
1) Topik
“Baiklah, kita mulai bincang-bincangnya sekarang ya bu. Apa yang ingin ibu
bicarakan? Bagaimana kalau kita berbincangbincang tentang kesukaan dan hobi ibu”.
2) Tempat
“Bu, kita berbincang-bincang disini atau dimana jadinya? Disini saja ya bu”.
3) Waktu
“Ibu iingin berbincang-bincangnya berapa lama?”.
2. Fase kerja
“Nah, mari kita berbincang-bincang tentang kesukaan dan hobi dari ibu. Coba
sebutkan apa saja yang menjadi hobi atau kesukaan dari ibu, saya siap
mendengarkan”.
3. Fase terminasi
“Bagaimana perasaannya setelah kita berbincang-bincang hari ini? Baiklah kita ketemu
sekitar 2 jam lagi untuk berbincang-bincang tentang kemampuan dan aspek positif
yang dimiliki ibu. Bagaimana kalau kita berbincang-bincang disini saja bu, 10 menit
ya bu. Kalau begitu kita akhiri ya, selamat pagi”.

12
STRATEGI PELAKSANAA TINDAKAN KEPERAWATAN
Masalah : Gangguan konsep diri : Harga diri rendah
Pertemuan : ke-2
A. Konsep keperawatan
1. Kondisi klien.
Klien duduk didepan ruang perawatan bersama klien yang lain.
Klien tampak diam.
2. Diagnosa keperawatan
Harga diri rendah
3. Tujuan
TUM : klien dapat memiliki konsep diri yang positif
TUK 2 : klien dapat mengidentifikasi aspek positif dan kemampuan yang dimiliki
Dengan kriteria hasil :
a. Klien mampu menyebutkan :
1) Aspek positif dan kemampuan yang dimiliki klien.
2) Aspek positif keluarga.
3) Aspek positif lingkungan klien.
4. Rencana tindakan keperawatan
TUK 2 : klien dapat mengidentifikasi aspek positif dan kemampuan yang dimiliki.
a. Diskusikan bahwa klien masih memiliki sejumlah kemampuan dan aspek positif
seperti kegiatan klien di rumah, adanya keluarga dan lingkungan terdekat klien.
b. Beri pujian yang realistis atau nyata dan hindarkan penilaian yang negatif setiap
kali bertemu klien.
B. Strategi komunikasi tindakan keperawatan
1. Fase orientasi
a. Salam terapeutik“Selamat siang ibu (inisial), apakah masih ingat dengan saya?
Coba kalau masih ingat, nama saya siapa bu? Bagus ya, ibu masih ingat dengan
saya. Bagaimana kita berbincang-bincang selama 10 menit? Ibu bersedia?
Dimana?
b. Validasi
“bagaimana perasaan ibu saat ini? Saya lihat ibu sudah lebih segar”
c. Kontrak
1) Topik
“baiklah bu , sekarang kita akan berbincang-bincang tentang aspek positif dan
kemampuan yang dimiliki ibu”
2) Tempat
“kita berbincang-bincang disini atau dimana bu ?”
3) Waktu

13
“ibu ingin berbincang-bincang berpa lama?’’
2. Fase kerja
“nah baiklah ibu, sesuai dengan kontrak kita tadi, sekarang kita membahas tentang
aspek positif dan kemampuan yang dimiiki ibu. Sekarang coba ibu sebutkan apa saja
kemampuan yang ibu miliki.Saya akan mendengarkannya” “biasanya dirumah ibu
melakuakan apa saja? Kalau diluar ruumah ibu mengerjakan apa saja? Bagaimana
tanggapan keluarga?”“baik sekali ibu sudah menyebutkan kegiatan apa saja yang bisa
dilakukan, ibu masih punya banyak kemampuan ya”
3. Fase terminasi
a. Evaluasi subyektif
“bagaimana perasaan ibu setelah kita berbincang-bincang?
b. Evaluasi obyektif
“ternyata masih banyak kemampuan yang dapat dilakukan ibu. Baik sekali ya bu.
Bisakah ibu menceritakan atau menyebutkan kembali kegiatan-kegiatan atau
kemampuan yang ibu miliki”
c. Rencana tindak lanjut
“ baiklah sekarang ibu sudah tau kemampuan ibu ya berarti ibu tidak usah lagi
merasa kecil hati
d. Kontrak
1) Topik
“kalau begitu nanti kita berbincang-bincang lagi tentang kegiatan kegiatan apa saja
yang mungkin bisa ibu lakukan disini”
2) Tempat
“mau dimana ibu kita bincang-bincangnya? Apakah disini lagi?
3) Waktu
“mau berapa lama bu ? bagaimana kalau 10 menit ?”Kalau begitu saya pamit dulu
ya bu ,selamat siang.

14
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang membuat
seseorang mengetahui tentang dirinya dan mempengaruhi hubungan dengan orang lain
Konsep diri seseorang tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil dari
pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat, dan dengan realita
dunia.
Konsep diri adalah suatu pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang merupakan
pengetahuan individu tentang dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain.
Konsep diri tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil pengalaman unik
seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat dan realitas dunia (mukhripah
damaiyati, iskandar, 2012:35)

3.2 Saran
1. Bagi Institusi Pendidikan
Sebaiknya pihak yang bersangkutan memberikan pengarahan yang lebih
mengenai kependudukan lanjutan.
2. Bagi Mahasiswa
Mengenai makalah yang kami buat, bila ada kesalahan maupun ketidak lengkapan
materi mengenai asuhan keperawatan pada pasien gangguan konsep diri. Kami
mohon maaf, kamipun sadar bahwa makalah yang kami buat tidaklah sempurna.
Oleh karena itu kami mengharap kritik dan saran yang membangun.

15
DAFTAR PUSTAKA
Arief, F. (2010). Gangguan Konsep Diri.
Damaiyanti, I. (2012). Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama.
Kusumawati, H. (2010). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika.
Prasetyo. (2008). Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan.
Yosep Iyus dan Sutini Titin. 2016. Buku Ajar Keperawatan Jiwa Advance & Mental Health
Nursing.Bandung : PT.Refika Aditama.
Suerni T, Budi Anna Keliat, Novy Helena CD. 2013. Penerapan Terapi Kognitif & Psikoedukasi
Keluara Pada Klien Harga Diri Rendah diruang Yudistira Rumah Sakit Dr.Marzoeki Mahdi
Bogor. Jurnal Keperawatan Jiwa.Volume 1,No.2,November 2013;161-169.
Wakhid A, Achir Yani S.Hamid, Novy Helena CD. 2013. Penerapan Terapi Latihan Ketrampilan
Sosial Pada Klien Isolasi Sosial Dan Harga Diri Rendah Dengan Pendekatan Model Hubungan
Interpersonal Peplau Di Rs Dr Marzoeki Mahdi Bogor. Jurnal Keperawatan Jiwa.Volume 1,No
1,Mei 2013;34-48
Afnuhazi, R.(2015).Komunikasi Terapeutik Dalam Keperawatan Jiwa. Yogyakarta:Gosyen
Publishing.
Kusumawati, F, & Yudi, H. 2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: SalembaMedika

16