Anda di halaman 1dari 4

Episode 4 Dekat Jangan?

Langkah Sia menuju ke toilet tertahan karena Arcel yang menahan tangannya. “Lu kenapa? Kok muka
sama baju lu begitu?” tanya Arcel. Dipikiran Arcel saat ini mengatakan jelas itu adalah perbuatan Bela.
Tapi dihatinya mengatakan Bela tidak mungkin melakukan itu. Bela bukan anak yang senang akan
penindasan seperti sekarang ini
“Gue nggak papa kok. Gue ke toilet dulu” jawab Sia sambil melepas genggaman tangan Arcel dan
beranjak dari tempat itu.
Arcel segera mencari Bela. Mencari kepastian dan kebenaran dari Bela. Karena dia tau Sia akan tetap
mengatakan dia baik-baik saja sebagaimanapun hatinya menangis dan berteriak. “Bel, kamu nyiram Sia?
Astaga aku beneran jujur bilang sama kamu. Sia itu cuman sahabat deket aku dari Jerman. Kalo dia
beneran selingkuhan aku, nggak mungkin aku sampe bela-belain buat susah susah jelasin ke kamu. Aku
cuman mau kamu sahabatan sama dia, aku cuman mau kamu sahabatan sama sahabat aku juga” jelas
sekali penjelasan Arcel membuat Bela semakin merasa tak enak hati kepada Sia. Dia sudah salah paham.
Bela tau dan mengerti akan penjelasan Arcel. Selama dia diselingkuhi tidak pernah sekalipun Arcel
menjelaskan bahwa itu salah paham. Kalau memang dia berselingkuh dia akan dengan jujur mengatakan
bahwa dia berselingkuh. “Jadi Arcel nggak selingkuh? Dia cuman sahabat Arcel? Sama kaya gua sama
Evans?” batin Bela menyesal.
Bela segera beranjak dari tempat duduknya dan segera berjalan menuju lokernya. Diraihnya baju seragam
yang masih bersih dan segera menuju ke kelasnya. Perlahan dia duduk di bangkunya. Dia lega, dia tidak
harus lelah mencari keberadaan Sia. Baju Sia masih basah karena dia membersihkan baju yang terkena
susu coklat tadi.
“Ini, ganti baju sergem lu pake seragam gua. Nanti lu masuk angin” ujar Bela sambil perlahan
menyodorkan seragam yang tadi ia ambil di lokernya tadi. Sia menoleh tampak kaget. Apakah Bela sudah
memaafkannya? Batin Sia sekarang.
“Makasih” ujar Sia sambil malu. Dia sebenarnya adalah gadis pemalu bila baru berkenalan dengan orang
lain.
“Ayok gua anterin ganti ke toilet” ajak Bela. Sia pun mengangguk dan berjalan bersama Bela beriringan
ke toilet. “Astaga cewek pendiem kaya gini gua buli tadi” batin Bela. Dia mengeluarkan nafasnya kasar.
“Kenapa?” tanya Sia yang melihat betapa sesaknya wajah Bela saat ini.
“Gua minta maaf ya udah salah paham sama lo dan Arcel. Maaf juga gua udah buat baju lo kotor begitu”
ujar Bela tak enak hati.
“Iya. Nggak papa kok. Santai aja. Gue ngerti kok perasaan lu” memang benar yang di ucapkan Sia. Sia
sangat mengerti perasaan Bela tadi. Itulah kenapa Sia sangat mudah memaafkan kesalahan Bela. Bahkan
sebelum Bela meminta maaf padanya.
“Abisnya gua kesel. Tuh Arcel nggak pernah tobat selingkuh. Seneng banget maen sama cewek lain
dibelakang gua. Jadi ya gitu” ujar Bela menjelaskan sedikit perasaannya saat ini. Sia kaget. Setau dia
Arcel bukan orang seperti itu. Arcel seperti orang asing saat ini bagi Sia. Arcel yang sekarang bukan Arcel
yang dulu dia kenal di Jerman. Di jerman Arcel bahkan tak mau berkenalan ataupun dekat dengan gadis
lain selain Sia.
“Arcel sering selingkuhin lu?” tanya Sia memastikan.
“Iya. Udah nggak kehitung dah berapa kali dia selingkuhin gua satu tahun setengah ini” jawab Bela
“Setau gue, Arcel bukan cowok kaya gitu. Gue bahkan kaget waktu denger dia udah punya pacar. Dia
paling anti kenalan sama cewek” jelas Sia. Bela langsung dapat berfikir sekarang bahwa dia bisa tau lebih
banyak Arcel adalah sosok seperti apa dari Sia ini. Benar kata Arcel, akan sangat seru bisa bersahabat
dengan Sia.
***
Siswa-siswi tampak memperhatikan guru yang sednag menjelaskan dipapan. Tak terkecuali Bela dan Sia.
Walaupun kadang-kadang mereka diam-diam berbicara dan bercanda. Hingga suara bel pulang berbunyi.
Semua siswa pun bergegas keluar kelas.
“Lo pulang pake apa? Lo belum afal jalanan di Kota ini kan?” tanya Bela kepada Sia sambil menyusuri
koridor sekolah itu.
“Gue di jemput nanti. Ini mau telfon orang rumah dulu” jawab Sia sambil meraih hape di kantong roknya.
“Ehhh mending pulang sama Evans aja. Dia sendiri kok. Tuh dia sama Arcel. ARCEL!!” Ujar Bela
kemudian melambaikan tangan pada Arcel dan bergegas mengajak Sia untuk bergabung dengan Evans
dan Arcel.
“Van, anterin Sia pulang ya” pinta Bela kepada Evans. Evans yang melihat keakraban antara Sia dan Bela
pun sedikit kaget. Bagaimana bisa mereka secepat itu dekat.
“Hmmm” jawab Evans. Dia malas harus berbicara panjang lebar untuk menolak. Toh Bela pasti akan
memohon sampai Evans mau mengantar gadis di samping Bela ini.
“Oh iya Van, kenalin ini Sia. Sia kenalin ini Evans. Yaudah kalo gitu aku sama Arcel pergi dulu ya.
Bubayy. Hati-hati di jalan. Van, jangan dikebutin anak orang. Pelan-pelan yang penting selamet sampe
tujuan” ujar Bela panjang lebar dan pergi beranjak sama Arcel.
“Oiii kodok. Gua duluan ya. Kalo dia macem-macem laporin aja ke gua atau Bela. Byee” jawab Arcel
kemudian menggandeng tangan Bela menjauh dari mereka dan memasuki mobil milik Arcel.
Melihat wajah datar dan dingin milik Evans saat ini membuat Sia semakin tak enak hati merepotkan
Evans.
“Nggak papa kok. Gue bisa telfon jemputan sekarang. Lo duluan aja” tolak Sia merasa tak enak
“Pake” suruh Evans sambil menyodorkan helm kepada Sia.

“Nggak usah repot-repot. Gua nggak mau repotin lo” tolaknya sekali lagi.

Karena ucapannya selalu di bantah, Evans pun memberikan sorotan tajam dari matanya ke Sia

“Tinggal naik aja sih. Gua nggak suka penolakan. Buruan. Sakit ni tangan gua” ujar Evans penuh dengan
penekanan. Jelas sekali tatapan matanya yang mematikan itu.

Siapun yang merasa tatao seperti itu hanya bisa mengerutkan bibirnya kesal. “Egois banget si” batin Sia.
Segera ia raih helm yang disodorkan Evans dan memakainya dan menaiki motor itu. Rasanya sudah
cukup lama saat terakhir kali Sia pernah menaiki motor sport seperti sekarang ini. Terakhir kali laki-laki
dimasa lalunya lah yang memboncengnya menggunakan motor sport seperti ini.
Evans pun mulai melajukan motor nya membelah jalanan Kota yang begitu ramai karena ini adalah jam
pulang kantor dan pulang sekolah. Sia hanya terdiam. Dia malu. Ini baru pertama kali dia dekat dengan
orang itu. Baru aja dia dikenalin sama cowok ini, Bela sama Arcel udah ninggalin mereka berdua. Gimana
nggak suasanannya bakalan canggung kaya begini.

Hanya ada suara deru motor yang sesekali diiringi suara Sia yang memberikan arahan menuju rumahnya.
Hingga mereka sampai di rumah kediaman Sia. Sia pun bergegas turun dari motor Evans.

“Makasi ehmm Evans” ujar Sia canggung. Evans hanya bergumam menjawab Sia.

“Nggak mam-“ ucapan Sia terpotong. Evans sudah melajukan motornya pergi. Sumpah serapah sudah Sia
keluarkan dalam benaknya untuk Evans saat ini.

“Dasar es batu. Kaku dingin begitu. Sok cuek, sok ganteng. Taiii lu. Pergi sono. Gue nggak butuh lo” kata-
kata itu sudah lolos dari mulut manis Sia saat ini. Akhirnya dia beranjak masuk ke rumahnya.

“SIA CANTIK UDAH PULAAANGGG…” teriaknya di ruang tamu.

“Sia asatagaaaa. Eh itu kamu baru sehari di sekolah udah ngegebet cowok aja. Cepet banget kamu Sia”
ujar ibunya yang tadi sempat mengintip dari jendela ruang tamu rumahnya.

“Mom, apaan sih. Temen itu. Temennya Arcel itu” jawab Sia

“Arcel sahabat kamu waktu di jerman itu?” tanya mamanya Sia setelah mendengar nama yang tidak
asing itu.

“Hmmmm” Sia hanya menjawab dengan gumaman dan berjalan naik ke kamarnya. “Aku istirahat dulu.
Capek” ucapnya sambil menaiki anak tangga itu

***

“HALOOOO. ERVAANS…. ARCEL GANTENG DATENG. MAIN YUK” teriak Arcel memenuhi ruangan rumah
megah Evans yang sepi karena orangtua Evans pergi keluar daerah.

“Berisik”ujar Evans sambil menarik selimutnya. Sekarang baru jam 3 Sore dan itu adalah jam istirahat
siang evans. Mumpung laki-laki ini belum dipenuhi kegiatan ekstra dari sekolahnya itu.

“Ayokkk van. Maen PS ayok” bujuk Arcel. Tapi tak kunjung dapat jawaban dari Evans. Hanya tatapan
tajam membunuh dari mata Evans

“Lu masih marah sama gua? Lu masih nggak percaya soal yang tadi di sekolah? Oh my God Evans gua
beneran nggak boong. Sia bukan siapa-siapa gua. Lagian Bela aja anteng-anteng aja. Kok malah lu yang
marah segininya si” jelas Arcel. Sahabat nya satu ini benar-benar susah sekali kalo soal Bela.

“Udahlah. Pokoknya gua mau men PS. Mau lu masih ngambul atau nggak gua bakaln tetep maen PS
disini” ujar Arcel dan langsung meraih PS di dekat tempat tidur Evans. Masa bodo dengan tatapan Evans
saat ini. Dia sudah sangat terbisa dengan tatapan itu.

***
Kelas XI IPA 1 sudah terlihat ramai. Arcel terlihat masih sibuk mebujuk Evans saat ini. Evans masih saja
marah kepada Arcel.

“Van, Sia itu bener-bener cuman sahabat gua. Nggak lebih. Elahhh. Udah dong ngambulnya. Ilang tuh
ganteng dari muka lu kalo lu ngambul begini” Arcel masih berusaha membujuk Evans untuk berhenti
marah padanya.

Arcel ini memang lebih tampak seperti anak kecil daripada Evans yang dingin dan tak tersentuh. Kadang
Evans bingung dan heran, apa sih yang dilihat Bela dari sosok Arcel ini. Arcel terlihat lebih seperti anak
SD. Berbeda dengan dirinya yang terlihat lebih dewasa. Contohnya saja sekarang. Arcel memohon
tampak seperti anak SD yang tak kunjung di belikan permen kapas. Evans pun mulai jengah dengan sikap
Arcel ini.

“Sia itu bukan cewek yang dengan mudah hatinya di sentuh oleh laki-laki Van. Hatinya itu tak tersentuh.
Jadi nggak mungkin lah gua sama dia van. Atau gini aja deh, lu coba sendiri. Buktiin sendiri” ujar Arcel
akhirnya. Evanspun terdiam mendengar kata-kata Arcel. “Apa-apaan sih anak ini” kesal Evans dalam hati.

Arcel yang merasakan ucapannya itu mampu mengambil perhatian Evans pun melanjutkan
perkataannya.

“Lu buktiin. Lu deketin dia. Kalo lu bisa deketin Sia dan buat dia jatuh cinta sama lu dalam waktu 1 tahun,
gua bakalan lakuin apa yang lu suruh”