Anda di halaman 1dari 7

Management Control in Not-for-profit Organizations

Sistem Pengendalian Manajemen

Disusun Oleh:

Departemen Administrasi dan Umum A

Kelas K

Kepala Departemen: Rizka AdhalinaAndini (2017310708)


Anggota Departemen:
1. Agustiyanti Cahyaningtiyas S (2017310688)
2. Febryani Dwijayanti (2017310689)

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PERBANAS SURABAYA

TAHUN AJARAN 2019-2020


Management Control in Not-for-profit Organizations

Sistem pengendalian pada organisasi nirlaba tidak memiliki tujuan utama yang
dimana hasil akhir merupakan keuangan. Organisasi ini memiliki tujuan utama untuk
memaksimalkan nilai bagi pemegang saham atau pemilik dan taat pada kepatuhan hukum
dan kepedulian yang memadai bagi karyawan, pelanggan, maupun pemangku kepentingan
lainnya. Organisasi nirlaba menetapkan target biasnya dengan tujuan lingkungan dan sosial
dan melaporkan kegiatannya baik laporan untuk bediri sendiri maupun sebagai laporan
tahunan. Contoh organisasi ini yaitu Unilever.

Menurut penelitian organisasi nirlaba bersifat sama dengan perusahaan subtantif


atau simbolis yang bertujuan pada dampak lingkungan dan sosial yang menguntungkan dan
untuk menambah nilai perusahaan. Sistem pengendalian manajemen yang efektif bagi
organisasi nirlaba yaitu dengan menyelaraskan tindakan dan perilaku setiap karyawan
dengan keseimbangan untuk tujuan perusahaan dengan akuntabilitas yang sesuai. Tidak
semua perusahaan bertujuan sosial atau lingkungan namun ada beberapa organisasi berbuat
baik beralasan selain menguntungkan tapi melakukan kebaikan.

 Corporations, B corporations, and not-for-profits

Korporasi C yang dimiliki oleh investor atau pemilik melakukan pengendalian


dengan memberikan suara untuk para diekturnya yang memberikan kendali atas
manajemen, sehingga tujuan utamanya yaitu memaksimalkan nilai pemegang saham.
Korporasi B memungkinkan untuk mengorbankan nilai pemegang saham demi kebaikan
dalam beberapa kondisi, pengorbanan ini dilakukan oleh dewan direksi maupun manajer.
Nirlaba biasanya disebut korporasi yang bebas dari pajak, karena organisasi nirlaba
biasanya tidak memiliki investor dan tidak ada individi maupun badan yang meiliki
kepemilikan atas pendapatan residual atau melakukan pengendalian sehingga dianggap
berbeda dari perusahaan yang dimiliki oleh investor.

Organisasi nirlaba memiliki misi yang hampir sama, misalnya untuk menawarkan
pendidikan melanjutkan penelitian kanker, atau menyediakan layanan kesehatan.
Organisasi nirlaba biasanya mereka menyediakan layanan dan harus bersaing dengan
organisasi lain untuk menjadi penyedia yang dipilih. Menyelaraskan organisasi nirlaba
dengan perusahaan merupakan hal yang baik karena bertujuan agar ekonomi lebih baik,
sosial yang lebih sejahtera, dan adanya perlindungan pada lingkungan.
 Key differences between for-profit and not-for-profit organizations

Perbedaan antara not-for-profit organizations dan for-profit organizations tidak


terletak pada berapa banyak laba yang diperoleh. Organisasi nirlaba yang mendapatkan
laba tidak dapat dibayarkan kepada pemilik atau siapa pun yang terkait dengan organisasi
namun uang tersebut digunakan untuk tujuan maupun misi dari organisasi tersebut.
Organisasi nirlaba memiliki karakter yang terletak pada tujuan dan misi. Organisi nirlaba
biasanya memiliki tujuan untuk memberikan layanan publik misalnya beramal, religius,
ilmiah, pendidikan, atau bahkan politis yang termasuk sekumpulan organisasi yang
beragam. Ada organisasi pemerintah dan organisasi swasta yang dioperasikan untuk
kepentingan umum, seperti museum, rumah sakit, universitas, dan sekolah. Organisasi
nirlaba, seperti organisasi keagamaan dan yayasan amal, melayani berbagai tujuan manfaat
pribadi. Organisasi nirlaba yang memiliki tujuan untuk saling menguntungkan, seperti
koperasi, dan asosiasi buruh, persaudaraan, perdagangan, dan sebagainya.
Organisasi nirlaba tidak memiliki kepentingan ekuitas luar, namun organisasi
nirlaba tetap menghasilkan pendapatan untuk melangsungkan operasi organisasi tersebut.
Organisasi nirlaba biasanya mendapatkan pendapatan dari menjual layanan atau produk,
seperti dengan membebankan biaya masuk untuk melihat pameran museum atau presentasi
teater. Contohnya rumah sakit yang menjalankan toko suvenir, unversitas yang menjual
buku, dan sebagainya. Seluruh laba dari pendapatan tersebut digunakan untuk tujuan
organisasi dan tidak diberikan pada pemilik maupun entitas yang terkait dengan organisasi.
Organisasi nirlaba tidak membayar dividen karena laba digunakan untuk memajukan tujuan
utama organisasi.
 Goal ambiguity and conflict
Sistem pengendalian manajemen yang efektif berdasarkan pada tingkat pencapaian
tujuan. Jika tujuan dari suatu organisasi dapat dicapai maka sistem pengendalian
manajemen tersebut dapat dikatakan efektif. Namun organisasi nirlaba biasanya tidak
memiliki tujuan yang terlalu jelas. Banyak konstituen yang memiliki minat namun kadang
bertentangan dengan tujuan dari organisasi nirlaba tersebut. Contohnya Dewan pengawas
museum tentu memiliki tujuan utama untuk menginspirasi publik yang beragam melalui
koleksi dan pameran karya seni berkualitas tinggi. Namun pemangkun kepentingan yang
lain, seperti masyarakat lokal dan pejabat pemerintah, mungkin lebih tertarik untuk
membuat pameran museum yang ditujukan untuk anak-anak. Berbeda lagi dengan
pemimpin agama, mungkin paling khawatir tentang apakah seni itu, dalam pandangan
mereka, dapat diterima secara sosial dan moral. Sehingga tedapat banyak perbedaan tujuan
dari organisasi nirlaba dengan pihak lainnya, hal tersebut membutuhkan penyelesaian
dengan pengambilan keputusan.
Konflik tidak hanya terjadi di organisasi nirlaba namun juga pada organisasi-
organisasi lain, misalnya organisasi pada pemerintahan. Konflik yang muncul pada
organisasi ini biasanya mengenai tanggapan pada undang-undang yang disahkan dan
keputusan yang dibuat oleh tingkat legislatif. Hal tersebut berdampak pada manajer
organisasi yang mendapatkan tekanan dari pihak eksternal karena pers dan publik dalam
masyarakat demokratis memiliki askses untuk informasi. Selain itu beberapa orang yang
menjabat akan mendapatkan konsekuensi pemilihan ulang. Konflik ini tentu menyulitkan
manajemen karena perlu kesesuaian dalam pengendalian manajamen secara khusus.
Sehingga untuk menilai seberapa baik sistem pengendalian manajemen dan kinerja
suatu organisasi nirlaba akan sulit karena tanpa kejelasan khusus tujuan apan yang akan
dicapai. Sehingga tujuan yang belum jelas harus diatasi untuk membangun sistem
pengendalian manajemen yang efektif sambil mencerminkan lingkungan hukum,
peraturan, kebijakan, dan sumber daya di mana organisasi nirlaba tertentu beroperasi.
 Difficulty in measuring and rewarding performance
Tingkat pecapaian tujuan organisasi nirlaba tidak bisa diukur secara akurat dalam
hal keuangan misalnya rumah sakit untuk menyelamatkan nyawa orang. Sekalipun tujuan
cukup jelas namun manajer tidak memiliki indikator bottom-line kuantitatif tunggal. untuk
mengukur kinerja maka manajemen perlu indikator. Jika tidak ada indikator untuk
mengukur kinerja maka tugas manajemen dan pengendalian manajemen akan lebih rumit,
tugas tersebut antara lain:

1. Mengukur kinerja organisasi dengan mengingat tujuan keseluruhan


menggunakan pengendalian hasil (termasuk insentif berbasis kinerja) bahkan
pada tingkat organisasi yang lebih luas
2. Menganalisis manfaat investasi alternatif atau tindakan
3. Mendesentralisasi organisasi dan meminta pertanggungjawaban manajer entitas
untuk area kinerja tertentu yang berhubungan persis atau cukup tepat dengan
tujuan utama organisasi
4. Membandingkan kinerja entitas yang melakukan kegiatan berbeda.
Tujuan dari pengukuran kinerja yaitu untuk melengkapi langkah-langkah
tradisional yang berfokus pada input dengan langkah-langkah yang berorientasi pada
hasil. Hal tersebut untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemerintah dengan
meningkatkan akuntabilitas manajer publik. Peningkatan fokus pada pengukuran
memiliki efek samping disfungsional, misalnya perpindahan perilaku dan gameplaying,
misalnya beberapa kualitas dihapus dari pertimbangan. Disamping itu tentu ada
keuntungan, misalnya satu studi manajer di rumah sakit nirlaba menemukan bahwa
pengukuran kinerja dan insentif terkait menarik manajer yang lebih berbakat dalam
menyeimbangkan buku (kinerja keuangan) sambil mencapai tujuan nirlaba.
Beberapa organisasi nirlaba menggunakan praktik insentif kompensasi. Insentif
yang digunakan biasanya insentif tunai jangka pendek. Insentif tersebut digunakan
untuk memotivasi dan memberi penghargaan pada karyawan.
 Accounting differences
Organisasi nirlaba memiliki laporan keuangan yang bervariasi karena standar
komprehensif untuk tujuan umum laporan keuangan eksternal yang disediakan oleh
organisasi nirlaba itu sendiri. Hal tersebut membuat FASB mengeluarkan Pernyataan
Akuntansi Keuangan No. 117 pada tahun 1993 (FAS 117) untuk meningkatkan
relevansi, pengertian, dan komparabilitas laporan keuangan organisasi nirlaba. Namun
utuk sekarang prinsip akuntansi perusahaan nirlaba maupun non sams, hal yang
membedakan hanya akun dana yang ada di laporan keuangan organisasi nirlaba.

Organisasi profit-organizations mendapatkan laba dari penjualan saham,


meminjam uang pada kreditur, dan menjual barang maupun jasa yang disediakan.
Sedangkan organisasi nirlaba ketika mendapatkan pendapatan maka pendapatan
tersebut disumbangkan untuk organisasi. Pendapatan yang disumbangkan memiliki
batasan yaitu untuk tujuan tertentu, pengeluaran tertentu, maupun periode tertentu,
misalnya untuk penelitian kanker/bangunan baru yayasan. Batasan tersebut merupakan
kewajiban hukum dan moral. Organisasi nirlaba biasanya menggunakan akuntansi
dana. Akuntansi dana memisahkan sumber daya yang dibatasi untuk tujuan yang
berbeda satu sama lain. Setiap dana memiliki seperangkat laporan keuangan sendiri:
neraca dan laporan perubahan saldo dana. Setiap organisasi nirlaba juga memiliki dana
umum yang digunakan untuk menjelaskan semua transaksi operasi dan sumber daya
yang tidak termasuk dalam dana terbatas mana pun.

 External scrutiny
Organisasi nirlaba harus menjawab sejumlah konstituensi eksternal, termasuk
penyumbang, lembaga pemerintah, alumni, dan masyarakat pada umumnya sampai
batas tertentu. Hal tersebut karena organisasi nirlaba didirikan untuk memberikan
layanan sosial sehingga perlu dipegang dengan standar yang lebih tinggi. Laporan
kinerja dapat memberikan informasi untuk membantu konstituen membuat keputusan,
misalnya sekolah yang akan dipilih untuk menyekolahkan anak-anaknya, rumah sakit
untuk mempercayakan kesehatan mereka, atau yayasan untuk menyumbangkan uang
mereka. Ekspektasi masyarakat yang tinggi menyebabkan tuntutan akuntabilitas yang
tinggi karena masyarakat umum membawa tekanan politik langsung pada organisasi.

Anggota dewan organisasi nirlaba yang dipilih terkadang tidak selalu


memenuhi syarat untuk melakukan pengawasan organisasi secara optimal. Anggota
tersebut dipilih karena berpotensi memberikan sumbangan besar untuk organisasi atau
karena memegang jabatan tinggi. Selain itu, sebagian besar pengawas organisasi nirlaba
dibayar sedikit atau tidak sama sekali sehingga pengawas kurang berkomitmen dalam
bertugas. Tata kelola untuk organisasi nirlaba diperketat secara umum karena tata
kelola yang efektif oleh dewan organisasi nirlaba adalah tindakan yang jarang dan tidak
wajar sehingga muncul tekanan langsung dibawa dari konstituensi eksternal.
Pengawasan eksternal dapat membentuk proses pengambilan keputusan termasuk
proses pengambilan keputusan pada sistem pengendalian manajemen.

 Employee characteristics

Karyawan yang dimiliki oleh organisasi nirlaba memiliki karakteristik yang


berbeda dari profit-organizations, karakteristik tersebut memiliki implikasi
pengendalian yang positif dan negatif. Kompensasi yang diberikan kepada karyawan di
organisasi nirlaba tidak dapat bersaing dengan apa yang ditawarkan pada profit-
organizations. Hal tersebut dapat menyebabkan masalah pada pengendalian yang
berpengaruh pada kualitas karyawan yang berkurang.

Sebagian besar organisasi nirlaba tidak memiliki strategi formal untuk


mempertahankan karyawan meskipun banyak yang menunjukkan bahwa retensi
karyawan merupakan tantangan organisasi. Organisasi nirlaba sering menarik
karyawan yang memiliki komitmen tinggi terhadap tujuan organisasi karena karyawan
semacam itu mungkin secara intrinsik lebih dihargai untuk mengejar tujuan organisasi,
misalnya menyediakan tempat tinggal bagi para tunawisma, makanan bagi yang
kelaparan, atau obat untuk AIDS, dibandingkan dengan menciptakan nilai bagi
pemegang saham dalam arti abstrak. Karyawan yang memiliki komitmen tinggi maka
akan meminimalkan masalah pada pengendalian, seperti kurangnya arah dan kurangnya
motivasi. Karena pengendalian akan lebih mudah dicapai melalui sarana personalia /
budaya.