Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KASUS

TINEA KAPITIS TIPE GRAY PATCH


Diajukan untuk
Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu Syarat
Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter
Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin di RSUD dr. H. Soewondo Kendal

Disusun oleh :
Ilma Aulia Zahra
30101407208

Pembimbing :
dr. Nur Aeni Mulyaningsih, Sp.KK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2019
BAB I
PENDAHULUAN

Tinea kapitis disebut juga tinea tonsurans atau ringworm of the scalp adalah

infeksi pada rambut dan kulit kepala oleh dermatofita yang terutama terjadi pada

anak-anak usia 3-7 tahun. Tinea kapitis dapat disebabkan oleh semua spesies

dermatofita yaitu yang termasuk dalam klasifikasi Microsporum (M) dan

Trichophyton (T) kecuali Epidermophyton floccosum dan Trichophyton

concentricum. Distribusi dermatofita berbeda tiap negara tergantung beberapa faktor

yaitu letak geografi, iklim dan gaya hidup. Tinea capitis dibagi menjadi 2 yaitu tipe

inflamasi dan non inflamasi. Inflamasi meliputi kerion, sedangkan non inflamasi

meliputi grey patch dan black dot.

Di Amerika Serikat lebih dari 90 % kasus tinea kapitis disebabkan oleh T.

tonsurans dan kurang dari 5 % disebabkan oleh spesies Microsporum. Penyebab

terbanyak tinea kapitis di Jepang Cina, Korea dan Afrika Selatan adalah M.

ferregineum. Berdasarkan laporan tahun 1994, penyebab tinea kapitis terbanyak di

Medan adalah T. rubrum dan T. mentagrophytes, sementara di Bali paling banyak

disebabkan oleh T. mentagrophytes (27,27%), diikuti oleh T. tonsurans (11,36%), dan

T. rubrum (4,54%).

Insiden tinea kapitis sangat kecil dibandingkan dermatofitosis lainnya. Tinea

kapitis tersebar di seluruh dunia dengan insiden yang berbeda-beda tergantung letak

geografi serta beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingginya kejadian tinea
kapitis yaitu buruknya higiene individu, kepadatan penduduk, kondisi sosial ekonomi,

pola adat istiadat dan pelayanan kesehatan. Epidemik dalam keluarga sering terjadi

dan adanya karier asimtomatik menyulitkan eradikasi penyakit ini.

Gambaran klinis tinea kapitis ditentukan oleh bentuk invasi dermatofita pada

rambut berupa endotrik, ektortik dan favus. Gambaran klinis sangat bervariasi,

meskipun penegakkan diagnosis tinea kapitis cukup mudah namun pada praktek

sehari-hari sering ditemukan pola campuran baik dalam gambaran klinis maupun

hasil pemeriksaan penunjang KOH sehingga kadang-kadang membingungkan.

Diagnosis banding juga perlu dipertimbangkan karena banyak sekali kelainan rambut

dan kulit kepala yang menyebabkan alopesia dengan ataupun tanpa skar.

Pengobatan untuk tinea kapitis dapat secara sistemik dan topikal namun yang

utama adalah pengobatan sistemik sementara pengobatan topikal hanya sebagai terapi

tambahan. Pengobatan yang tidak tepat atau keterlambatan pengobatan dapat

menyebabkan penyakit berlangsung kronis dan terjadi komplikasi berupa alopesia

permanen dengan atau tanpa skar.

Berikut ini akan dilaporkan kasus tinea kapitis pada anak dengan gambaran

klinis tipe gray patch yang diduga disebabkan oleh genus Microsporum dan

Trichophyton. Kasus ini dilaporkan untuk menambah pengetahuan kita tentang

variasi spesies penyebab tinea kapitis dan interpretasi hasil pemeriksaan penunjang.
BAB II
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN

Nama : An. S R N

Usia : 6 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Kendal

Agama : Islam

Pekerjaan : Pelajar

Tanggal Pemeriksaan : 27 November 2019

1. ANAMNESIS

KELUHAN UTAMA : Rambut rontok

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Pasien datang ke RSUD Soewondo Kendal dengan keluhan rambut rontok

sampai pitak pada daerah ubun-ubun. Keluhan dirasakan sudah 2 mingguan ini.

Awal mulanya pasien selalu bermain dengan anak kucing yang di peliharanya,

kemudian pasien menjadi gatal-gatal di seluruh tubuh yang di mulai dari tangan

kanan hingga ke daerah rambut (sekitar 1 bulan yang lalu). Awal muncul keluhan

di rambutnya terasa sangat gatal dan pedih, dan banyak ketombenya. Namun

lama kelamaan rambut menjadi rontok di satu daerah yaitu ubun-ubun. Sudah
diterapi sendiri dengan diberikannya salep 88 dan konsultasi ke dokter hewan

dan di berikan salep kucing oleh dokter tersebut yang di oleskan ke tubuh pasien

termasuk kedaerah rambut pasien. Namun keluhan tidak membaik, dan semakin

rontok.

Riwayat kucing yang di peliharanya : rambut kucing juga rontok, dan berkutu.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Tidak terdapat riwayat penyakit dahulu yang berkaitan dengan riwayat

penyakit sekarang.

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA

Keluarga tidak ada yang memiliki keluhan yang sama dengan pasien.

RIWAYAT SOSIAL EKONOMI

Kesan cukup, pasien menggunakan BPJS

2. PEMERIKSAAN FISIK

STATUS GENERALIS

- Keadaan umum : Baik

- Kesadaran : Compos mentis

- Status Gizi : Baik

- Tekanan Darah : tidak dilakukan pengecekan mmHg

- HR ( Nadi ) : 110x/ Menit , reguler, isi dan tegangan cukup.

- RR ( Laju Napas) : 24x/ Menit , reguler

- Suhu : tidak dilakukan pengecekan derajat celcius


STATUS DERMATOLOGIKUS

 Lokasi : Kepala bagian occipital

 UKK : papuloeritematosus multiple batas tegas, annular, bersisik,

disertai alopesia di daerah occipital.

 Distribusi : Regional

3. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pada Pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan penunjang.

4. DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis banding dari kelainan kulit tersebut setelah dilakukan anamnesis dan

pemeriksaan fisik adalah :

1). Alopesia areata

2). Trikotilomania

3). Pseudopelade

5. DIAGNOSIS KERJA

Tinea Capitis Tipe Gray Patch


6. PENATALAKSANAAN

 Griseofulvin 125 mg 2 x 1

 Cetirizine 10 mg prn gatal

 Ketoconazole cream 2% 2 x sehari sebagai pengobatan topikal

 Shampoo Selenium Zulvit 1%-1,8% 2-3 x/minggu, diamkan 5 menit

kemudian di cuci.

7. PROGNOSIS

a. Quo ad sanam : dubia ad bonam

b. Quo ad vitam : ad bonam

c. Quo ad kosmetikum : dubia ad bonam

d. Quo ad functionam : ad bonam


BAB III
PEMBAHASAN

DEFINISI

Tinea Kapitis (Ringworm of the scalp and hair, tinea tonsurans, herpes

tonsurans.) adalah infeksi dermatofit pada kepala, alis mata dan bulu mata

karena spesies Microsporum dan Trichophyton.

Penyakitnya bervariasi dari kolonisasi subklinis non inflamasi berskuama

ringan sampai penyakit yang beradang ditandai dengan produksi lesi

kemerahan berskuama dan alopesia (kebotakan) yang mungkin menjadi

beradang berat dengan pembentukan erupsi kerion ulseratif dalam. Ini sering

menyebabkan pembentukan keloid dan skar dengan alopesia permanen. Tipe

timbulnya penyakit tergantung pada interaksi pejamu dan jamur penyebab.

EPIDEMIOLOGI

Insidens tinea kapitis masih belum diketahui pasti, tersering dijumpai pada

anak-anak 3-14 tahun jarang pada dewasa, kasus pada dewasa karena infeksi T.

tonsurans dapat dijumpai misalkan pada pasien AIDS dewasa. Transmisi

meningkat dengan berkurangnya higiene sanitasi individu, padatnya penduduk,

dan status ekonomi rendah.

Insidens tinea kapitis dibandingkan dermatomikosis di Medan 0,4% (1996 -

1998), RSCM Jakarta 0,61 - 0,87% (1989 - 1992), Manado 2,2 - 6% (1990 -
1991) dan Semarang 0,2%.

Di Surabaya kasus baru tinea kapitis antara tahun 2001 - 2006 insidennya

dibandingkan kasus baru dermatomikosis di Poli Dermatomikosis URJ Kulit dan

Kelamin RSU Dr. Soetomo antara 0,31% - 1,55%. Pasien tinea kapitis

terbanyak pada masa anak-anak < 14 tahun 93,33% anak laki-laki lebih banyak

(54,5%) dibanding anak perempuan (45,5%). Di Surabaya tersering tipe kerion

(62,5%) daripada tipe Gray Patch (37,5%). Tipe Black dot tidak diketemukan.

Spesies penyebab Microsporum gypseum (geofilik), Microsporum ferrugineum

(antropofilik) dan Trichophyton mentagrophytes (zoofilik yang dijumpai pada

hewan kucing, anjing, sapi, kambing, babi, kuda, binatang pengerat dan kera).

ETIOLOGI

Spesies dermatofit umumnya dapat sebagai penyebab, kecuali E. floccosum,

T. concentricum dan T. mentagrophytes var. interdigitale (T. interdigitale) yang

semuanya jamur antropofilik tidak menyebabkan tinea kapitis dan T. rubrum

jarang.Tiap negara dan daerah berbeda-beda untuk spesies penyebab tinea

kapitis , juga perubahan waktu dapat ada spesies baru karena penduduk migrasi.

Spesies antropofilik (yang hidup di manusia) sebagai penyebab yang

predominan.

PATOGENESIS

Dermatofit ektotrik (diluar rambut) infeksinya khas di stratum korneum

perifolikulitis, menyebar sekitar batang rambut dan dibatang rambut bawak


kutikula dari pertengahan sampai akhir anagen saja sebelum turun ke folikel

rambut untuk menembus kortek rambut. Hifa-hifa intrapilari kemudian turun ke

batas daerah keratin, dimana rambut tumbuh dalam keseimbangan dengan

proses keratinisasi, tidak pernah memasuki daerah berinti. Ujung-ujung hifa-

hifa pada daerah batas ini disebut Adamson’s fringe, dan dari sini hifa-hifa

berpolifrasi dan membagi menjadi artrokonidia yang mencapai kortek rambut

dan dibawa keatas pada permukaan rambut. Rambut-rambut akan patah tepat

diatas fringe tersebut, dimana rambutnya sekarang menjadi sangat rapuh sekali.

Secara mikroskop hanya artrokonidia ektotrik yang tampak pada rambut yang

patah, walaupun hifa intrapilari ada juga.

Patogenesis infeksi endotrik (didalam rambut) sama kecuali kutikula tidak

terkena1 dan artrokonidia hanya tinggal dalam batang rambut menggantikan

keratin intrapilari dan meninggalkan kortek yang intak. Akibatnya rambutnya

sangat rapuh dan patah pada permukaan kepala dimana penyanggah dan dinding

folikuler hilang meninggalkan titik hitam kecil (black dot). Infeksi endotrik

juga lebih kronis karena kemampuannya tetap berlangsung di fase anagen ke

fase telogen.

MANIFESTASI KLINIK

Manifestasi klinis tergantung etiologinya. :

1. Bentuk non inflamasi, manusia atau epidemik.


Umumnya karena jamur ektotriks antropofilik, M. audouinii di Amerika dan

Eropa namun sekarang jarang atau M. ferrugineum di Asia.

Lesi mula-mula berupa papula kecil yang eritematus, mengelilingi

satu batang rambut yang meluas sentrifugal mengelilingi rambut-rambut

sekitarnya. Biasanya ada skuama, tetapi keradangan minimal. Rambut-

rambut pada daerah yang terkena berubah menjadi abu-abu dan kusam

sekunder dibungkus artrokonidia dan patah beberapa milimeter diatas

kepala. Seringkali lesinya tampak satu atau beberapa daerah yang berbatas

jelas pada daerah oksiput atau leher belakang.

Kesembuhan spontan biasanya terjadi pada infeksi Microsporum. Ini

berhubungan dengan mulainya masa puber yang terjadi perubahan komposisi

sebum dengan meningkatnya asam lemak-lemak yang fungistatik, bahkan

asam lemak yang berantai medium mempunyai efek fungistatik yang

terbesar. Juga bahan wetting (pembasah) pada shampo merugikan jamur

seperti M. audouinii.

2. Bentuk inflamasi

Biasanya terlihat pada jamur ektotrik zoofilik (M. canis) atau geofilik (M.

gypseum).

Keradangannya mulai dari folikulitis pustula sampai kerion yaitu

pembengkakan yang dipenuhi dengan rambut-rambut yang patah-patah dan

lubang-lubang folikular yang mengandung pus. Inflamasi seperti ini sering


menimbulkan alopesia yang sikatrik. Lesi keradangan biasanya gatal dan

dapat nyeri, limfadenopati servikal, panas badan dan lesi tambahan pada

kulit halus.

3. Tinea Kapitis black dot

Bentuk ini disebabkan karena jamur endotrik antropofilik, yaitu T. tonsurans

atau T. violaceum.

Rontok rambut dapat ada atau tidak. Bila ada kerontokan rambut

maka rambut-rambut patah pada permukaan kepala hingga membentuk

gambaran kelompok black dot. Biasanya disertai skuama yang difus; tetapi

keradangannya bervariasi dari minimal sampai folikulitis pustula atau lesi

seperti furunkel sampai kerion. Daerah yang terkena biasanya banyak atau

poligonal dengan batas yang tidak bagus, tepi seperti jari-jari yang

membuka. Rambut- rambut normal biasanya masih ada dalam alopesianya.

DIAGNOSIS BANDING

1. Diagnosis banding tinea kapitis berskuama dan keradangan minimal :

1.1. Dermatitis seborhoik

Keradangan yang biasanya terjadi pada sebelum usia 1 tahun atau

sesudah pubertas yang berhubungan dengan rangsangan kelenjar

sebasia. Tampak eritema dengan skuama diatasnya sering berminyak,

rambut yang terkena biasanya difus, tidak setempat. Rambut tidak

patah. Distribusi umumnya di kepala, leher dan daerah-daerah pelipatan.


Alopesia sementara dapat terjadi dengan penipisan rambut daerah

kepala, alis mata, bulu mata atau belakang telinga. Sering tampak pada

pasien penyakit syaraf atau immunodefisiensi.

1.2. Dermatitis atopik

Dermatitis atopik yang berat dan luas mungkin mengenai kepala dengan

skuama kering putih dan halus. Khas tidak berhubungan dengan

kerontokan rambut, bila ada biasanya karena trauma sekunder karena

garukan kepala yang gatal. Disertai lesi dermatitis atopik di daerah lain.

1.3. Psoriasis

Psoriasis kepala khas seperti lesi psoriasis dikulit, plak eritematos

berbatas jelas dan berskuama lebih jelas dan keperakan diatasnya, dan

rambut- rambut tidak patah. Kepadatan rambut berkurang di plak

psoriasis juga meningkatnya menyeluruh dalam kerapuhan rambut dan

kecepatan rontoknya rambut telogen. 10% psoriasis terjadi pada anak

kurang 10 tahun dan 50% mengenai kepala, dan sering lesi psoriasis

anak terjadi pada kepala saja, maka kelainan kuku dapat membantu

diagnosis psoriasis.

1.4. Pitiriasis amiantasea (Pitiriasis asbestos)

Adalah tumpukan skuama dalam masa yang kusut. Dermatitis kepala

lokalisata yang non infeksius yang tidak diketahui sebabnya. Skuama

yang putih tebal melekat sering dijumpai mengikat batang rambut


proksimal. Kepala dapat tampak beradang. Rontok rambut sementara

dapat terjadi dengan pelepasan manual skuama yang melekat. Kelainan

kulit dilain tempat yang menyertai biasanya tidak ada, namun dapat

mempunyai penyakit yang menyertai, yaitu Dermatitis atopik atau

keradangan kulit lainnya. Ada yang menganggap sebagai psoriasis dini.

2. Diagnosis banding tinea kapitis yang alopesia jelas:

2.1. Alopesia areata

Alopesia areata mempunyai tepi yang eritematus pada stadium

permulaan, tetapi dapat berubah kembali ke kulit normal. Juga jarang

ada skuama dan rambut-rambut pada tepinya tidak patah tetapi mudah

dicabut.

2.2. Trikotilomania

Khas adanya alopesia yang tidak sikatrik berbatas tidak jelas karena

pencabutan rambut oleh pasien sendiri. Umumnya panjang rambut

berukuran macam-macam pada daerah yang terkena. Tersering di

kepala atas, daerah oksipital dan parietal yang kontra lateral dengan

tangan dominannya. Kadang-kadang ada gambaran lain dari kelainan

obsesif- kompulsif misalnya menggigit-gigit kuku, menghisap ibu jari

atau ada depresi atau kecemasan. Dapat disertai efek efluvium telogen

yaitu berupa tumbuhnya kembali rambut yang terlambat atau rontoknya

rambut meningkat sebelum tumbuh kembali.


2.3. Pseudopelade

Dari kata Pelade yang artinya alopesia areata. Pseudopelade adalah

alopesia sikatrik progresif yang pelan-pelan, umumnya sebagai

sindroma klinis sebagai hasil akhir dari satu dari banyak proses

patologis yang berbeda (yang diketahui maupun yang tidak diketahui),

walaupun klinis spesifik jenis tidak beradang selalu dijumpai misalkan

karena likhen planus, lupus eritematus stadium lanjut.

3. Diagnosis banding tinea kapitis yang inflamasi :

3.1. Pioderma bakteri

Infeksi kulit karena bakteri Staphylococcus aerius atau Streptococcus

pyogenes, misalkan folikulitis, furunkel atau karbunkel.

3.2. Folliculitis decalvans

Adalah sindroma yang klinis berupa folikulitis kronis sampai sikatrik

progresif8. Folikulitis atrofik pada dermatitis seboroik.

4. Diagnosis banding alopesia sikatrik :

4.1. Diskoid Lupus eritematosus

Diskoid LE di kepala tampak alopesia dan biasanya permanent khas ada

foliculler plugging. Tampak pada 1/3 pasien DLE.

4.2. Liken planopilaris

Lesi folikular disertai skuama yang kemudian menjadi alopesia sikatrik.

4.3. Pseudopelade
4.4. Dermatitis radiasi

DIAGNOSIS

1. Gejala Klinis

Dipertimbangkan diagnosis tinea kapitis bila :

Pada anak-anak dengan kepala berskuama, alopesia, limfadenopati servikal

posterior atau limfadenopati aurikuler posterior atau kerion. Juga termasuk

pustul atau abses, dissecting cellulitis atau black dot.

2. Pemeriksaan penunjang

2.1. Pemeriksaan Lampu Wood

Rambut yang tampak dengan jamur M. canis, M. audouinii dan M.

ferrugineum memberikan fluoresen warna hijau terang oleh karena

adanya bahan pteridin.

Jamur lain penyebab tinea kapitis pada manusia memberikan fluoresen

negatif artinya warna tetap ungu yaitu M. gypsium dan spesies

Trichophyton (kecuali T. schoenleinii penyebab tinea favosa memberi

fluoresen hijau gelap). Bahan fluoresen diproduksi oleh jamur yang

tumbuh aktif di rambut yang terinfeksi.

2.2. Pemeriksaan sediaan KOH

Kepala dikerok dengan objek glas, atau skalpel no.15. Juga kasa basah

digunakan untuk mengusap kepala, akan ada potongan pendek patahan

rambut atau pangkal rambut dicabut yang ditaruh di objek glas selain
skuama, KOH 20% ditambahkan dan ditutup kaca penutup Hanya

potongan rambut pada kepala6 harus termasuk akar rambut, folikel

rambut dan skuama kulit12. Skuama kulit akan terisi hifa dan

artrokonidia. Yang menunjukkan elemen jamur adalah artrokonidia oleh

karena rambut-rambut yang lebih panjang mungkin tidak terinfeksi

jamur. Pada pemeriksaaan mikroskop akan tampak infeksi rambut

ektotrik yaitu pecahan miselium menjadi konidia sekitar batang rambut

atau tepat dibawah kutikula rambut dengan kerusakan kutikula. Pada

infeksi endotrik, bentukan artrokonidia yang terbentuk karena pecahan

miselium didalam batang rambut tanpa kerusakan kutikula rambut.

2.3. Kultur

Memakai swab kapas steril yang dibasahi akua steril dan digosokkan

diatas kepala yang berskuama atau dengan sikat gigi steril dipakai untuk

menggosok rambut-rambut dan skuama dari daerah luar di kepala, atau

pangkal rambut yang dicabut langsung ke media kultur. Spesimen yang

didapat dioleskan di media Mycosel atau Mycobiotic (Sabourraud

dextrose agar + khloramfenikol + sikloheksimid) atau Dermatophyte test

medium (DTM). Perlu 7 - 10 hari untuk mulai tumbuh jamurnya. Dengan

DTM ada perubahan warna merah pada hari 2-3 oleh karena ada bahan

fenol di medianya, walau belum tumbuh jamurnya berarti jamur dematofit

positif.
KOMPLIKASI

1. Infeksi sekunder

2. Alopesia sikatrik permanen

3. Kambuh

4. Reaksi Id

Pada tinea kapitis biasanya reaksi Id-nya lebih mengenai badan.

PENATALAKSANAAN

1. PENATALAKSANAAN UMUM

1.1. Mencari binatang penyebab dan diobati di dokter hewan untuk

mencegah infeksi pada anak-anak lain.

1.2. Mencari kontak manusia atau keluarga, dan bila perlu dikultur

1.3. Anak-anak tidak menggunakan bersama sisir, sikat rambut atau

topi, handuk, sarung bantal dan lain yang dipakai dikepala.

1.4. Anak-anak kontak disekolah atau penitipan anak diperiksakan ke

dokter/ rumah sakit bila anak-anak terdapat kerontokan rambut

yang disertai skuama. Dapat diperiksa dengan lampu Wood.

1.5. Pasien diberitahukan bila rambut tumbuh kembali secara pelan, sering

perlu 3-6 bulan. Bila ada kerion dapat terjadi beberapa sikatrik dan

alopesia permanen.

1.6. Mencuci berulang kali untuk sisir rambut, sikat rambut, handuk,

boneka dan pakaian pasien, dan sarung bantal pasien dengan air panas
dan sabun atau lebik baik dibuang.

1.7. Begitu pengobatan dimulai dengan obat anti jamur oral dan shampo,

pasien dapat pergi ke sekolah.

1.8. Tidak perlu pasien mencukur gundul rambutnya atau memakai

penutup kepala.

2. TERAPI MEDIS

2.1. Terapi Utama

Pengobatan yang ideal dan cocok untuk anak-anak adalah sediaan

bentuk likuid, terasa enak, terapi singkat, keamanan yang baik dan

sedikit interaksi antar obat.

2.1.1. Tablet

Griseofulvin

Sebagai Gold

Standard Dosis :

a. Tablet microsize (125, 250, 500mg)

20 mg / Kg BB/hari, 1-2 kali/hari selama 6-12 minggu

b. Tablet ultramicrosize (330mg)

15 mg/Kg BB/hari, 1-2 kali/hari selama 6-12 minggu

Diminum bersama susu atau es krim oleh karena

absorbsinya dipercepat dengan makanan berlemak.Semua baik

untuk karena Microsporum maupun Trichophyton. Pemberian


pertama untuk 2 minggu kemudian dilakukan pemeriksaan

lampu Wood, KOH dan kultur. Bila masih ada yang positif

maka

sebaiknya dosis dinaikkan. Bila hasil negatif maka obat

diteruskan sampai 6 minggu13. Bila hasil kultur negatif terbaik

diteruskan 4-6 minggu. Pemeriksaan laboratorioum rutin tidak

diperlukan.

Kegagalan pengobatan tinea kapitis dengan griseofuvin dapat

disebabkan karena:

- dosis tidak adekwat (sebab tersering)

maka sebaiknya dosis dinaikkan dapat sampai 25 mg/Kg BB/

hari terutama untuk kasus sulit sembuh.

- pasien tidak patuh

- gangguan absorbsi pencernaan

- Interaksi obat,

bersamaan phenobarbital mengurangi absorbsi griseofuvin

menyebabkan kegagalan terapi.

- jenis dermatofit yang resisten terhadap griseofuvin

- Terjadi reinfeksi terutama dari anggota keluarga atau teman

bermain.
2.1.2. Kapsul Itrakonazol (100 mg)

a. dosis 3-5 mg/Kg BB/hari selama 4-6 minggu

b. Terapi denyut

Dosis 5 mg/Kg BB/ hari selama 1 minggu, istirahat 2

minggu/siklus bila belum sembuh diulang dapat sampai 2-3

siklus. Bersifat fungisidal sekunder oleh karena terjadi

fungitoksik.

Minumnya kapsul bersama mentega kacang, atau saus

apel dan dilanjutkan dengan jus buah. Sama efektifnya untuk

karena Microsporum canis maupun Trichophyton.

Tidak boleh diminum bersama antasida atau H2

blocker oleh karena absorbsinya perlu suasana asam. Bila

diberikan bersama phenytoin dan H2 antagonis akan

meningkatkan kadar kedua obat tersebut. Sedang kadar

Itrakonazol akan lebih rendah bila diberikan bersamaan

rifampisin, isoniasid, phenytoin dan karbamazepin. Monitor

laboratorium fungsi hepar dan darah lengkap bila pemakaian

lebih 4 minggu.

2.1.3. Tablet Terbinafin (tablet 250 mg)

- bersifat fungisidal primer terhadap dermatofit

- dosis 3-6mg/KgBB/ hari selama 4 minggu :


< 20 mg : 62,5 mg (1/4

tablet)/ hari 20-40 mg : 125

mg (1/2 tablet)/ hari

> 40 mg : 250 mg/ hari

Bila karena M. canis perlu 6-8 minggu, lebih sukar

untuk dibasmi daripada karena Trichophyton oleh karena

virulensinya atau karena infeksi ektotriknya masih belum

diketahui.

Diberikan untuk anak umur > 2 tahun. Monitor

laboratorium fungsi liver dan darah lengkap diperiksa bila

pemakaian lebih 6 minggu.

2.1.4. Tablet Flukonazol

Sebetulnya juga bisa digunakan untuk terapi tinea kapitis namun

tidak lebih superior daripada obat lainnya. Lebih diindikasikan

untuk infeksi mukosa dan infeksi sistemik pada kasus

Kandidiasis, dan Kriptokokosis, terutama pada pasien

imunokompromais. Flukonazol lebih cepat resisten dibanding

obat jamur lain, sedangkan untuk tinea kapitis, flukonazol tidak

lebih superior, sehingga sebaiknya flukonazol digunakan untuk

kasus selektif. Dosisya 8 mg/Kg BB/minggu selama 8-16

minggu. Efektif untuk Microsporum maupun Trichophyton.


2.2. Terapi Ajuvan

2.2.1. Shampoo.

Shampo obat berguna untuk mempercepat penyembuhan,

mencegah kekambuhan dan mencegah penularan, serta

membuang skuama dan membasmi spora viabel, diberikan

sampai sembuh klinis dan mikologis:

a. Shampo selenium zulfit 1% - 1,8%

dipakai 2-3 kali/ minggu didiamkan 5 menit baru dicuci

b. Shampo Ketokonazole 1% - 2%

dipakai 2-3 kali/ minggu didiamkan 5 menit baru dicuci

c. Shampo povidine iodine

dipakai 2 kali / minggu selama 15 menit

Setelah menggunakan shampo diatas maka dianjurkan memakai

Hair Conditioner dioleskan dirambutnya dan didiamkan satu

menit baru dicuci air. Hal ini untuk membuat rambut tidak

kering.

Juga shampo ini dipakai untuk karier asimptomatik yaitu kontak

dekat dengan pasien, seminggu 2 kali selama 4 minggu. Karena

asimptomatik lebih menyebarkan tinea kapitis disekolah atau

penitipan anak yang kontak dekat dengan karier daripada anak-

anak yang terinfeksi jelas.


2.2.2. Terapi Kerion

Pengobatan optimal kerion tidak jelas apakah perlu dengan obat

oral antibiotika dan kortikosteroid sebagai terapi ajuvan dengan

griseofulvin. Beberapa penelitian menyatakan :

a. kerion lebih cepat kempes dengan kelompok yang menerima

griseofulvin saja

b. sedangkan skuama dan gatal lebih cepat bersih / hilang

dengan kelompok yang menerima ke 3 obat yaitu

griseofuvin, antibiotika dan kortikosteroid oral

c. Kortikosteroid oral mungkin menurunkan insiden sikatrik.

Juga bermanfaat menyembuhkan nyeri dan pembengkakan.

Dosis prednison 1 mg/Kg BB/pagi untuk 10-15 hari pertama

terapi.

d. Pemberian antibiotika dapat dipertimbangkan terutama bila

dijumpai banyak krusta.

PROGNOSIS

Tinea kapitis tipe Gray patch sembuh sendirinya dengan waktu, biasanya

permulaan dewasa. Semakin meradang reaksinya, semakin dini selesainya

penyakit, yaitu yang zoofilik (M. canis, T. mentagrophytes dan T. verrucosum).

Infeksi ektotrik sembuh selama perjalanan normal penyakit tanpa pengobatan.

Namun pasien menyebarkan jamur penyebab kelain anak selama waktu


infeksi. Sebaliknya infeksi endotrik menjadi kronis dan berlangsung sampai

dewasa. T. violacaum, T. tonsurans menyebabkan infeksi tetap, pasien menjadi

vektor untuk menyebarkan penyakit dalam keluarga dan masyarakat1, pasien

seharusnya cepat diobati secara aktif untuk mengakhiri infeksinya dan

mencegah penularannya.

KESIMPULAN

Tinea kapitis adalah infeksi yang sering terjadi pada anak-anak dengan

bermacam- macam gejala klinis. Keadaan penduduk yang padat menyimpan

jamur penyebab dan adanya karier asimtomatis yang tidak diketahui

menyebabkan prevalensi penyakit.

Tablet griseofulvin adalah pengobatan yang efektif dan aman, sebagai obat

lini pertama (gold standard). Obat lini kedua yaitu Itrakonazol, terbinafin atau

kalau terpaksa dengan flukonazol diberikan untuk pasien yang tidak sembuh

dengan griseofuvin, atau dapat sebagai obat jamur lini pertama. Terapi ajuvan

dengan shampo anti jamur untuk membasmi serpihan (fomites) yang

terinfeksi, mengevaluasi serta penanganan kontak yang dekat dengan pasien.


KEPUSTAKAAN

1. Rippon JW. Medical Mycology 3rd ed. Philadelphia: WB Saunders Co, 1988

2. Hay RJ, Morre M. Mycology. Dalam : Champion RH, Burton JZ, Burns DA,

Breatnach SDM, editors. Rook/Wilkinson/Ebling Textbook of Dermatology, 6th ed

Oxford : Blackwell Science, 1998 : p 1277-350.

3. Nelson MM; Martin AG, Heffernan MP. Superficial Fungal infection :

Dermatophytosis, Onychomycosis, Tinea Nigra, Piedra. Dalam : Freedberg IM,

Eisen AZ, Wolff K, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI. Fitzpatrick’s

Dermatology in General Medicine 6th ed. New York Mc Graw Hill, 2003 : p 1989-

2005.

4. Clayton YM, Moore MK. Superficial Fungal Infection. Dalam : Harper J; Oranje A,

Prose N. editors. Textbook of Pediatric Dermatology. 2nd ed. Massachusetts.

Blackwell Publishing, 2006 : p 542-56.

5. Nasution MA, Muis K, Rusmawardiana. Tinea Kapitis. Dalam : Budimulya U,

Kuswadji, Bramono K, Menaldi SL, Dwihastuti P, Widati S. editor. Dermatomikosis

Superfisialis cetakan ke 2. Jakarta, Balai Penerbit FKUI, 2004 : h.24-30.

6. Schroeder TL, Levy ML. Treatment of hair loss disorders in children. Dermatol

Ther 1997; 2 : 84-92.

7. Hebert AA. Diagnosis and treatment of tinea capitis in children. Dermatol Ther

1997; 2 : 78-83

8. Dawber RPR, de Becker D, Wojnarowska F, Disorder of Hair. Dalam : Champion

RH, Burton JZ, Burno DA, Breatnach SDM, editors. Rook/Wilkinson/Ebling

Textbook of Dermatology, 6th ed. Oxford : Blackwell Science, 1998 : p 2869-973

9. Rowell NR, Goodfield MJD. The Connective Tissue diseases. Dalam : Champion

RH, Burton JZ, Burns DA, Breatnach SDM, editors. Rook/Wilkinson/Ebling

Textbook of Dermatology, 6th ed. Oxford : Blackwell Science, 1998 : p 2437-575.

10. Black MM. Lichen planus and Lichenoid Disorders. Dalam : Champion RH, Burton
JZ, Burno DA, Breatnach SDM, editors. Rook/Wilkinson/Ebling Textbook of

Dermatology, 6th ed. Oxford : Blackwell Science, 1998 : p 1899-1926.

11. Cohen BA. Pediatric Dermatology 3rd ed. Philadelphia; Elsevier Mosby, 2005.