Anda di halaman 1dari 24

Adab Murid Terhadap Guru, Adab Mengendalikan Hawa Nafsu dan Adab Menghargai

Orang Lain

“Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Matematika Diskrit.”

DOSEN PENGAMPU

Meinarini Catur Utami M.T.

DISUSUN OLEH

REYNALD FITRIYADI (11180930000056)

SISTEM INFORMASI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2019
ADAB MURID TERHADAP GURU

A. Pengertian Adab Murid Terhadap Guru


Kata Adab ini berasal dari bahasa arab yaitu aduba, ya’dabu, adaban, yang
mempunyai arti bersopan santun, beradab. Sedangkan dalam kamus besar indonesia
menyebutkan adab berarti kesopanan, tingkah laku, dan akhlak kata adab ini tidak
sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan yang sering digunakan adalah kata
akhlak.
Sedangkan Murid adalah orang yang menghendaki agar mendapatkan ilmu
pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan kepribadian yang baik untuk bekal
hidup agar bahagia di dunia dan di akhirat dengan jalan belajar yang sungguh-
sungguh. Dan guru adalah orang yang menyampaikan ilmu pengetahuan kepada
peserta didik.
Dari uraian di atas, dapat ditarik benang merah bahwa adab murid terhadap
guru adalah bagaimana hubungan murid dengan guru dalam belajar baik di dalam
kelas maupun diluar kelas. Inilah adab-adab terhadap guru yang perlu kita terapkan
ketika menuntut ilmu:

1. Mendoakan kebaikan untuk guru


Balaslah kebaikan dengan kebaikan pula. Salah satu hal yang dapat kita
lakukan untuk membalas kebaikan guru adalah dengan mendoakannya. Jika
bukan karena ilmu yang disampaikan oleh guru, mungkin kita masih dalam
keadaan bodoh dan tidak tahu banyak hal.
Rasulullah bersabda: “Apabila ada yang berbuat baik kepadamu maka
balaslah dengan balasan yang setimpal. Apabila kamu tidak bisa membalasnya,
maka doakanlah dia hingga engkau memandang telah mencukupi untuk
membalas dengan balasan yang setimpal.” (HR Bukhari)
Banyak dari kalangan salaf berkata,

‫ما صليت إال ودعيت لوالدي ولمشايخي جميعا‬


“Tidaklah aku mengerjakan sholat kecuali aku pasti mendoakan kedua orang
tuaku dan guru guruku semuanya.”
2. Tidak menggaduh di hadapan guru
Bagaimana rasanya ketika kita sedang berdiri menyampaikan sesuatu
namun orang yang kita ajak berbicara malah mengobrol sendiri? Tidak enak
bukan? Pun begitu dengan guru. Ketika mereka sedang menyampaikan sesuatu,
maka dengarkanlah dengan seksama.
“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan
di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” (HR.
Bukhari).
3. Menghormati hak guru
Guru juga memiliki hak-hak dalam mengajar, maka hargailah hak guru
tersebut. “Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menghormati
orang yang tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengerti hak ulama
kami.” (HR. Al-Bazzar 2718, Ahmad 5/323, lafadz milik Al-Bazzar. Dishahihkan
oleh al-Albani dalam Shohih Targhib 1/117)
4. Merendahkan diri di hadapan guru
Rendah dirilah di hadapan guru, sebab orang yang sombong biasanya
akan sulit menerima apa yang disampaikan oleh orang lain. Ibnu Jama’ah
rahimahullah berkata: “Hendaklah seorang murid mengetahui bahwa rendah
dirinya kepada seorang guru adalah kemuliaan, dan tunduknya adalah
kebanggaan.” (Tadzkirah Sami’ hal. 88)
5. Duduk, bertanya, dan mendengarkan dengan baik
Di dalam majlis ilmu, lakukan segala sesuatunya dengan baik. Misalkan
ingin bertanya, maka memohonlah ijin dengan sopan dan tidak menyelanya ketika
berbicara. Syaikh Bakr Abu Zaid Rahimahullah di dalam kitabnya Hilyah Tolibil Ilm
mengatakan, “Pakailah adab yang terbaik pada saat kau duduk bersama
syaikhmu, pakailah cara yang baik dalam bertanya dan mendengarkannya.”
6. Bersabar terhadap kesalahan guru
Guru juga memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada yang dengan lemah
lembut, juga ada guru yang memiliki cara mengajar yang keras. Ketika sudah
berniat untuk menuntut ilmu, maka sudah seharusnya kita bersabar dalam
berjuang di dalamnya, termasuk bersabar terhadap guru kita. Jangan malah
marah atau malas karena tidak ingin bertemu dengan guru yang tidak sesuai
dengan yang kita harapkan.
Al Imam As Syafi Rahimahullah mengatakan, “Bersabarlah terhadap
kerasnya sikap seorang guru Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena
memusuhinya”. Kewajiban menuntut ilmu tidak akan berhenti sampai kita mati.
Maka pahamilah bagaimana adab yang seharusnya dilakukan terhadap guru.
Agar ilmu yang kita peroleh menjadi berkah dan bermanfaat.
7. Adab Duduk

Ibnu Jamaah mengatakan, “Seorang penuntut ilmu harus duduk rapi,


tenang, tawadhu’, mata tertuju kepada guru, tidak membetangkan kaki, tidak
bersandar, tidak pula bersandar dengan tangannya, tidak tertawa dengan keras,
tidak duduk di tempat yang lebih tinggi juga tidak membelakangi gurunya”.

8. Adab Berbicara
Berbicara dengan seseorang yang telah mengajarkan kebaikan haruslah
lebih baik dibandingkan jika berbicara kepada orang lain. Imam Abu Hanifah pun
jika berada depan Imam Malik ia layaknya seorang anak di hadapan ayahnya.

Para Sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, muridnya Rasulullah, tidak


pernah kita dapati mereka beradab buruk kepada gurunya tersebut, mereka tidak
pernah memotong ucapannya atau mengeraskan suara di hadapannya, bahkan
Umar bin khattab yang terkenal keras wataknya tak pernah menarik suaranya di
depan Rasulullah, bahkan di beberapa riwayat, Rasulullah sampai kesulitan
mendengar suara Umar jika berbicara. Di hadist Abi Said al Khudry radhiallahu
‘anhu juga menjelaskan,

‫كنا جلوسا في المسجد إذ خرج رسول هللا فجلس إلينا فكأن على رؤوسنا الطير ال يتكلم أحد منا‬

“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah


shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan
di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” (HR.
Bukhari). Sungguh adab tersebut tak terdapatkan di umat manapun.

9. Adab Bertanya
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ِّ ‫فَ ْسئَلُوا أ َ ْه َل‬


َ‫الذ ْك ِّر ِّإن ُكنت ُ ْم الَت َ ْعلَ ُمون‬
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak
mengetahui” (QS. An Nahl: 43).
Bertanyalah kepada para ulama, begitulah pesan Allah di ayat ini, dengan
bertanya maka akan terobati kebodohan, hilang kerancuan, serta mendapat
keilmuan. Tidak diragukan bahwa bertanya juga mempunyai adab di dalam Islam.
Para ulama telah menjelaskan tentang adab bertanya ini. Mereka mengajarkan
bahwa pertanyaan harus disampaikan dengan tenang, penuh kelembutan, jelas,
singkat dan padat, juga tidak menanyakan pertanyaan yang sudah diketahui
jawabannya.

Di dalam Al-Qur’an terdapat kisah adab yang baik seorang murid terhadap
gurunya, kisah Nabi Musa dan Khidir. Pada saat Nabi Musa ‘alihi salam meminta
Khidir untuk mengajarkannya ilmu,

‫صبْرا‬ َ ‫ِّإنَّ َك لَ ْن ت َ ْست َ ِّطي َع َم ِّع‬


َ ‫ي‬
“Khidir menjawab, Sungguh, engkau(musa) tidak akan sanggup sabar
bersamaku” (QS. Al Kahfi: 67).

10. Adab dalam Mendengarkan Pelajaran


Para pembaca, bagaimana rasanya jika kita berbicara dengan
seseorang tapi tidak didengarkan? Sungguh jengkel dibuatnya hati ini. Maka
bagaimana perasaan seorang guru jika melihat murid sekaligus lawan
bicaranya itu tidak mendengarkan? Sungguh merugilah para murid yang
membuat hati gurunya jengkel.

Agama yang mulia ini tak pernah mengajarkan adab seperti itu, tak
didapati di kalangan salaf adab yang seperti itu. Sudah kita ketahui kisah Nabi
Musa yang berjanji tak mengatakan apa-apa selama belum diizinkan. Juga
para sahabat Rasulullah yang diam pada saat Rasulullah berada di tengah
mereka.

Bahkan di riwayatkan Yahya bin Yahya Al Laitsi tak beranjak dari tempat
duduknya saat para kawannya keluar melihat rombongan gajah yang lewat di
tengah pelajaran, yahya mengetahui tujuannya duduk di sebuah majelis adalah
mendengarkan apa yang dibicarakan gurunya bukan yang lain.

Apa yang akan Yahya bin Yahya katakan jika melihat keadaan para
penuntut ilmu saat ini, jangankan segerombol gajah yang lewat, sedikit
suarapun akan dikejar untuk mengetahuinya seakan tak ada seorang guru di
hadapannya, belum lagi yang sibuk berbicara dengan kawan di sampingnya,
atau sibuk dengan gadgetnya.
11. Memperhatikan adab-adab dalam menyikapi kesalahan guru
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

‫كل ابن آدم خطاء و خير الخطائين التوابون‬


“Setiap anak Adam pasti berbuat kesalahan, dan yang terbaik dari
mereka adalah yang suka bertaubat” (HR. Ahmad)

Para guru bukan malaikat, mereka tetap berbuat kesalahan. Jangan


juga mencari cari kesalahannya, ingatlah firman Allah.

ُ‫ض ُكم بَ ْعضا أَي ُِّحبُّ أ َ َح ُد ُك ْم أَن يَأ ْ ُك َل لَحْ َم أ َ ِّخي ِّه َميْتا فَ َك ِّر ْهت ُ ُموه‬
ُ ‫سوا َو َال يَ ْغت َب بَّ ْع‬ َّ ‫َو َال ت َ َج‬
ُ ‫س‬

“Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah


menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka
memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa
jijik kepadanya” (QS. Al Hujurot:12).

Sungguh baik para Salaf dalam doanya,

‫اللهم استر عيب شيخي عني وال تذهب بركة علمه مني‬
“Ya Allah tutupilah aib guruku dariku, dan janganlah kau hilangkan
keberkahan ilmuya dari ku.”

Adab dalam menegur mereka pun perlu diperhatikan mulai dari cara
yang sopan dan lembut saat menegur dan tidak menegurnya di depan orang
banyak. Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Jika Gurumu itu sangat baik akhlaknya,
jadikanlah dia qudwah atau contoh untukmu dalam berakhlak. Namun bila
keadaan malah sebaliknya, maka jangan jadikan akhlak buruknya sebagai
contoh untukmu, karena seorang guru dijadikan contoh dalam akhlak yang
baik, bukan akhlak buruknya, karena tujuan seorang penuntut ilmu duduk di
majelis seorang guru mengambil ilmunya kemudian akhlaknya.”
ADAB MENGENDALIKAN HAWA NAFSU

Secara bahasa, hawa nafsu adalah kecintaan terhadap sesuatu sehingga


kecintaan itu menguasai hatinya. Kecintaan tersebut sering menyeret seseorang
untuk melanggar hukum Allâh Azza wa Jalla . Oleh karena itu hawa nafsu harus
ditundukkan agar bisa tunduk terhadap syari’at Allâh Azza wa Jalla . Adapun secara
istilah syari’at, hawa nafsu adalah kecondongan jiwa terhadap sesuatu yang
disukainya sehingga keluar dari batas syari’at.

Syaikhul Islam berkata, “Hawa nafsu asalnya adalah kecintaan jiwa dan
kebenciannya. Semata-mata hawa nafsu, yaitu kecintaan dan kebencian yang ada di
dalam jiwa tidaklah tercela. Karena terkadang hal itu tidak bisa dikuasai. Namun yang
tercela adalah mengikuti hawa nafsu, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

ِ‫ّللا‬ َ ‫ق َو ََل تَت َّ ِب ِع ا ْل َه َو ٰى فَيُ ِض َّلكَ ع َْن‬


َّ ‫س ِبي ِل‬ ِ ‫اس ِبا ْل َح‬ ِ ‫َاوو ُد إِ َّنا َجعَ ْل َناكَ َخ ِليفَةً ِفي ْاْل َ ْر‬
ِ ‫ض فَاحْ ُك ْم بَ ْينَ ال َّن‬ ُ ‫يَا د‬

Hai Daud! sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di


muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil
dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan
kamu dari jalan Allâh. [Shâd/38: 26] [Majmû’ Fatâwâ, 28/132]

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Seseorang yang mengikuti hawa nafsu


adalah seseorang yang mengikuti perkataan atau perbuatan yang dia sukai
dan menolak perkataan atau perbuatan yang dia benci dengan tanpa dasar
petunjuk dari Allâh Azza wa Jalla ” [Majmû’ Fatâwâ, 4/189]

HAWA NAFSU MENGAJAK KESESATAN

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ُ ‫ض‬
‫ط ِر ْرت ُ ْم إِ َل ْي ِه‬ ْ ‫ع َل ْي ُك ْم إِ ََّل َما ا‬
َ ‫ص َل لَ ُك ْم َما َح َّر َم‬ َّ ‫ع َل ْي ِه َوقَ ْد َف‬
َ ِ‫ّللا‬ ْ ‫يرا لَيُ ِضلُّونَ ۗ َو َما لَ ُك ْم أ َ ََّل تَأ ْ ُكلُوا ِم َّما ذُ ِك َر ا‬
َّ ‫س ُم‬ ً ِ‫َوإِنَّ َكث‬
‫ِإنَّ َر َّبكَ ه َُو أ َ ْع َل ُم ِبا ْل ُم ْعت َ ِدينَ ۗ ِبأ َ ْه َوا ِئ ِه ْم ِبغَي ِْر ِع ْلم‬

Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang


disebut nama Allâh ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allâh
telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali
apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan
(dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan
hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah
yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. [Al-An’âm/6: 119]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah pembolehan dari Allâh
Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya, orang-orang Mukmin untuk
memakan sembelihan-sembelihan yang dilakukan dengan menyebut nama
Allâh Azza wa Jalla . Yang terfahami (dari ayat ini) yaitu tidak boleh memakan
semua sembelihan yang dilakukan dengan tanpa menyebut nama Allâh Azza
wa Jalla , sebagaimana orang-orang kafir yang musyrik membolehkan
mengkonsumsi bangkai dan semua sembelihan (yang dipersembahkan-red)
untuk berhala (punden), atau lainnya.

Kemudian Allâh Azza wa Jalla mendorong para hamba-Nya untuk


mengkonsumsi sembelihan-sembelihan yang dilakukan dengan menyebut
nama Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang
artinya, ‘Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang
halal) yang disebutkan nama Allâh ketika menyembelihnya, padahal
sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla telah menjelaskan kepada kamu apa
yang diharamkan atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu
memakannya’. Yaitu kecuali dalam keadaan darurat, maka ketika itu
dibolehkan bagi kamu (untuk mengkonsumsi) apa yang kamu dapatkan.

Kemudian Allâh Azza wa Jalla menjelaskan kebodohan orang-orang musyrik


dalam pendapat mereka yang rusak tersebut, yaitu berupa penyataan yang
membolehkan memakan bangkai dan sembelihan-sembelihan yang dilakukan
dengan menyebut nama selain nama Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa
Jalla berfirman, yang artinya, ‘Dan sesungguhnya kebanyakan (dari
manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa
nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang
lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas’. Yaitu: Dia yang
lebih mengetahui terhadap perbuatan mereka yang melampaui batas,
kedustaan mereka, dan kebohongan mereka.” [Tafsîr Ibnu Katsir, 3/323]

Termasuk mengikuti hawa nafsu adalah orang yang menolak syari’at setelah
penjelasan datang kepadanya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

‫ست َ ِجيبُوا لَكَ َفا ْعلَ ْم أَنَّ َما يَتَّبِعُونَ أ َ ْه َوا َء ُه ْم‬
ْ َ‫ّللاِ ۚ فَ ِإ ْن َل ْم ي‬ َ َ‫ّللاَ ََل يَ ْهدِي ۚ َو َم ْن أ‬
َّ َ‫ض ُّل ِم َّم ِن اتَّبَ َع َه َواهُ بِغَي ِْر ُهدًى ِمن‬ َّ َّ‫ِإن‬
َّ َ
َ‫الق ْو َم الظا ِل ِمين‬ْ

Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa


sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan
siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya
dengan tidak mendapat petunjuk dari Allâh sedikitpun. Sesungguhnya Allâh
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. [Al-Qashshash/28:
50]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

‫ضلُّوا ع َْن‬ َ ‫يرا َو‬ َ َ‫ضلُّوا ِم ْن قَ ْب ُل َوأ‬


ً ِ‫ض ُّلوا َكث‬ َ ‫ق َو ََل تَتَّبِعُوا أ َ ْه َوا َء قَ ْوم قَ ْد‬
ِ ‫غي َْر ا ْل َح‬ ِ ‫قُ ْل يَا أ َ ْه َل ا ْل ِكتَا‬
َ ‫ب ََل تَ ْغلُوا ِفي دِينِ ُك ْم‬
‫س ِبي ِل‬
َّ ‫اء ال‬
ِ ‫س َو‬
َ

Katakanlah, “Hai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui


batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum
kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan
(manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” [Al-Mâidah/5: 77]

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Barangsiapa mengikuti hawa nafsu


manusia setelah mereka mengetahui agama Islam yang Allâh amanahkan
kepada Rasul-Nya untuk membawa agama itu dan juga setelah mengetahui
petunjuk Allâh yang telah dijelasakan kepada para hamba-Nya, berarti dia
berada dalam kedudukan ini (yaitu sebagai pengikut hawa nafsu-pen). Oleh
karena itu para Salaf menamakan ahli bid’ah dan orang-orang yang berpecah-
belah, orang-orang yang menyelisihi al-Kitab (al-Qur’an) dan as-Sunnah (al-
Hadits) sebagai ahlul ahwa’ (orang-orang yang mengikuti hawa nafsu).
Karena mereka menerima apa yang mereka sukai dan menolak apa yang
mereka benci dengan dasar hawa nafsu (kesenangan semata-pen), tanpa
petunjuk dari Allâh Azza wa Jalla ”. [Majmû’ Fatâwâ, 4/190]

BAHAYA MENGIKUTI HAWA NAFSU

Orang yang mengikuti hawa nafsu tidak akan mementingkan agamanya dan
tidak mendahulukan ridha Allâh dan Rasul-Nya. Dia akan selalu menjadikan
hawa nafsu menjadi tolok ukurnya.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Fondasi agama (Islam) adalah


mencintai karena Allâh dan membenci karena Allâh, mendukung karena Allâh
dan menjauhi karena Allâh, beribadah karena Allâh, memohon pertolongan
kepada Allâh, takut kepada Allâh, berharap kepada Allâh, memberi karena
Allâh, dan menghalangi karena Allâh. Ini hanya dapat dilakukan dengan
mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena perintah Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perintah Allâh Azza wa Jalla ,
larangannya adalah larangan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , memusuhinya
berarti memusuhi Allâh, mentaatinya sama dengan mentaati Allâh dan
mendurhakainya sama dengan mendurhakai Allâh Azza wa Jalla .
Bahkan orang yang mengikuti hawa nafsunya telah dibuat buta dan tuli oleh
hawa nafsunya. Sehingga dia tidak bisa memperhatikan dan melaksanakan
apa yang menjadi hak Allâh dan Rasul-Nya dalam hal itu, dan dia tidak
mencarinya. Dia tidak ridha karena ridha Allâh dan Rasul-Nya, dia tidak
marah karena kemarahan Allâh dan Rasul-Nya. Tetapi dia ridha jika
mendapatkan apa yang diridhai oleh hawa nafsunya, dan marah jika
mendapatkan apa yang membuat hawa nafsunya marah”. [Minhajus Sunnah
an-Nabawiyah, 5/255-256]

Dengan demikian maka mengikuti hawa nafsu akan menyeret pelaku kepada
kesesatan dan kerusakan. Sebab timbulnya bid’ah adalah hawa nafsu,
sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam, “Permulaan bid’ah adalah
mencela Sunnah (ajaran Nabi) dengan dasar persangkaan dan hawa nafsu
(sebagaimana bibit kemunculan golongan Khawarij-pen), sebagaimana Iblis
mencela perintah Allâh (saat diperintahkan sujud kepada Adam) dengan
fikirannya dan hawa nafsunya”. [Majmû’ al-Fatâwâ, 3/350]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sudah mengingatkan bahwa mengikuti


hawa nafsu akan membawa kehancuran. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :

ِ ‫اب ا ْل َم ْر ِء ِبنَ ْف‬


‫س ِه‬ ٌ ‫ش ٌّح ُم َطا‬
ُ ‫ع َو َه ًوى ُمتَّبَ ٌع َوإِ ْع َج‬ ٌ ‫ث ُم ْن ِجيَاتٌ فَأ َ َّما ثَ ََل‬
ُ : ٌ‫ث ُم ْه ِلكَات‬ ٌ ‫ث ُم ْه ِلكَاتٌ َو ثَ ََل‬
ٌ ‫ث َ ََل‬

‫الرضَا‬
ِ ‫ب َو‬ َ َ‫ص ُد ِفي ا ْلفَ ْق ِر َوا ْل ِغنَى َوا ْلعَ ْد ُل ِفي ا ْلغ‬
ِ ‫ض‬ َّ ُ‫شيَة‬
ْ َ‫ّللاِ ِفي الس ِِر والعَلني ِة َوا ْلق‬ ٌ ‫و ث َ ََل‬
ْ ‫ َخ‬: ٌ‫ث ُم ْن ِجيَات‬

Tiga perkara yang membinasakan dan tiga perkara yang menyelamatkan.

Adapun tiga perkara yang membinasakan adalah: kebakhilan dan kerakusan


yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang yang membanggakan
diri sendiri.

Sedangkan tiga perkara yang menyelamatkan adalah takut kepada Allâh di


waktu sendirian dan dilihat orang banyak, sederhana di waktu kekurangan
dan kecukupan, dan (berkata/berbuat) adil di waktu marah dan ridha.

[Hadits ini diriwayatkan dari Sahabat Anas, Ibnu Abbas, Abu Hurairah,
Abdullah bin Abi Aufa, dan Ibnu Umar g . Hadits ini dinilai sebagai hadits
hasan oleh syaikh al-Albani di dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahihah, no.
1802 karena banyak jalur periwayatannya]

Demikian juga bahaya mengikuti hawa nafsu adalah mendatangkan


kesusahan dan kesempitan hati. Syaikhul Islam berkata, “Barangsiapa
mengikuti hawa nafsunya, seperti mencari kepemimpinan dan ketinggian
(dunia-pen), keterikatan hati dengan bentuk-bentuk keindahan (kecantikan,
ketampanan, dan lain-lain-pen), atau (usaha) mengumpulkan harta, di tengah
usahanya untuk mendapatkan hal itu dia akan menemui rasa susah, sedih,
sakit dan sempit hati, yang tidak bisa diungkapkan. Dan kemungkinan hatinya
tidak mudah untuk meninggalkan keinginannya, dan dia tidak mendapatkan
apa yang menggembirakannya. Bahkan dia selalu berada di dalam ketakutan
dan kesedihan yang terus menerus. Jika dia mencari sesuatu yang dia sukai,
maka sebelum dia mendapatkannya, dia selalu sedih dan perih karena belum
mendapatkannya. Jika dia sudah mendapatkannya, maka dia takut
kehilangan atau ditinggalkan (sesuatu yang dia sukai itu) [Majmû’ al-Fatâwâ,
10/651]

MENUNDUKKAN HAWA NAFSU

Maka untuk meraih keselamatan, orang yang mengikuti hawa nafsu harus
menerapi dirinya dengan rasa takut kepada Allâh Azza wa Jalla sehingga
akan menghentikannya dari mengikuti hawa nafsunya. Demikian juga perlu
diterapi dengan ilmu dan dzikir. Dengan keduanya maka hawa nafsu akan
terpental. Jika rasa takut kepada Allâh Azza wa Jalla sudah tertanam di dalam
hati, maka hati akan bisa memahami dan melihat kebenaran sebagaimana
mata yang melihat benda-benda dengan sinar terang matahari.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

‫﴾ فَ ِإنَّ ا ْل َجنَّةَ ِه َي ا ْل َمأ ْ َو ٰى‬٤٠﴿ ‫س ع َِن ا ْل َه َو ٰى‬ َ ‫َوأ َ َّما َم ْن َخ‬


َ ‫اف َمقَا َم َربِ ِه َونَ َهى ال َّن ْف‬

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan


menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah
tempat tinggal(nya). [An-Nazi’at/79: 40-41]

Baca Selengkapnya : https://almanhaj.or.id/6627-jangan-mengikuti-hawa-


nafsu.html

Menundukkan Hawa Nafsu


Dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
‫الَ يُؤْ ِم ُن أ َ َحدُ ُك ْم َحتَّى يَ ُك ْونَ ه ََواهُ تَبَعًا ِل َما ِجئْتُ ِب ِه‬

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia menundukkan hawa


nafsunya untuk tunduk pada ajaran yang aku bawa.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-
Hujjah dengan sanad yang shahih menurut Imam Nawawi. Namun penshahihan hadits
ini tidak tepat menurut Ibnu Rajab).

Walau hadits di atas adalah hadits yang dha’if, namun maknanya benar. Makna hadits
tersebut menurut Ibnu Rajab Al-Hambali, kita dikatakan memiliki iman yang sempurna
yang sifatnya wajib ketika kita tunduk pada ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa
sallam dengan mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya serta mencintai
perintah dan membenci setiap larangan. Demikian dijelaskan oleh Ibnu Rajab
dalam Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 395.

Banyak dalil lain yang menjelaskan semisal itu. Seperti firman Allah Ta’ala,

‫ش َج َر بَ ْينَ ُه ْم ث ُ َّم َال يَ ِجدُوا فِي أ َ ْنفُ ِس ِه ْم َح َر ًجا‬ َ ‫فَ ََل َو َربِ َك َال يُؤْ ِمنُونَ َحتَّى يُ َح ِك ُم‬
َ ‫وك فِي َما‬
‫س ِل ُموا ت َ ْس ِلي ًما‬ َ ُ‫ْت َوي‬
َ ‫ضي‬َ َ‫ِم َّما ق‬
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka
menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka
tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu
berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)

Dalam ayat lain juga disebutkan,

‫سولُهُ أ َ ْم ًرا أ َ ْن يَ ُكونَ لَ ُه ُم ْال ِخيَ َرة ُ ِم ْن أ َ ْم ِر ِه ْم‬ َّ ‫ضى‬


ُ ‫َّللاُ َو َر‬ َ َ‫َو َما َكانَ ِل ُمؤْ ِم ٍن َو َال ُمؤْ ِمنَ ٍة ِإذَا ق‬
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang
mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi
mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah
dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Sedangkan orang yang membenci sesuatu yang Allah cintai atau mencintai sesuatu yang
Allah benci, dialah yang mendapatkan celaaan.

Allah Ta’ala berfirman,

‫ط أ َ ْع َمالَ ُه ْم‬
َ َ‫َّللاُ فَأَحْ ب‬
َّ ‫ذَ ِل َك ِبأَنَّ ُه ْم َك ِر ُهوا َما أ َ ْنزَ َل‬
“Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang
diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal
mereka.” (QS. Muhammad: 9)

Juga disebutkan dalam surat yang sama,

‫ط أ َ ْع َمالَ ُه ْم‬
َ َ‫َّللاَ َو َك ِر ُهوا ِرض َْوانَهُ فَأَحْ ب‬
َّ ‫ط‬ َ ‫ذَ ِل َك ِبأَنَّ ُه ُم اتَّبَعُوا َما أ َ ْس َخ‬

“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang
menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu
Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 28)

Melakukan yang Wajib dan Sunnah, Meninggalkan yang Haram dan


Makruh
Wajib bagi setiap mukmin mencintai segala yang Allah cintai sehingga harus baginya
melakukan perkara yang wajib. Jika kecintaannya bertambah, ia menambah lagi dengan
melakukan amalan sunnah. Itulah tambahan untuknya.

Begitu pula wajib bagi setiap muslim membenci segala yang Allah benci sehingga sudah
selayaknya baginya menahan diri dari segala perkara yang haram. Rasa bencinya
ditambah lagi dengan meninggalkan hal yang makruh (makruh tanzih).

Ada hadits dalam shahihain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

َ‫اس أَجْ َم ِعين‬


ِ َّ‫الَ يُؤْ ِم ُن أ َ َحدُ ُك ْم َحتَّى أ َ ُكونَ أ َ َحبَّ ِإلَ ْي ِه ِم ْن َوا ِل ِد ِه َو َولَ ِد ِه َوالن‬
“Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman sampai aku lebih ia cintai dari orang
tua, anak dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari, no. 15; Muslim, no. 44)

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

َ‫اس أَجْ َم ِعين‬


ِ َّ‫ع ْبدٌ َحتَّى أ َ ُكونَ أ َ َحبَّ ِإلَ ْي ِه ِم ْن أ َ ْه ِل ِه َو َما ِل ِه َوالن‬
َ ‫الَ يُؤْ ِم ُن‬
“Seorang hamba tidaklah beriman hingga aku lebih ia cintai dari keluarga, harta, dan
manusia seluruhnya.” (HR. Muslim, no. 44)

Jangan Sampai Cinta Allah dan Rasul Dikalahkan oleh Dunia


Allah Ta’ala berfirman,

‫ِيرت ُ ُك ْم َوأ َ ْم َوا ٌل ا ْقت َ َر ْفت ُ ُموهَا‬


َ ‫عش‬َ ‫قُ ْل ِإ ْن َكانَ آَبَاؤُ ُك ْم َوأ َ ْبنَاؤُ ُك ْم َو ِإ ْخ َوانُ ُك ْم َوأ َ ْز َوا ُج ُك ْم َو‬
‫سو ِل ِه َو ِج َها ٍد ِفي‬ َّ َ‫ض ْونَ َها أ َ َحبَّ ِإلَ ْي ُك ْم ِمن‬
ُ ‫َّللاِ َو َر‬ َ ‫سا ِك ُن ت َ ْر‬ َ ‫سادَهَا َو َم‬ َ ‫ارة ٌ ت َ ْخش َْونَ َك‬
َ ‫َو ِت َج‬
َ‫َّللاُ َال يَ ْهدِي ْالقَ ْو َم ْالفَا ِس ِقين‬
َّ ‫َّللاُ بِأ َ ْم ِر ِه َو‬ ْ
َّ ‫ي‬ َ ‫صوا َحتَّى يَأ ِت‬ ُ َّ‫س ِبي ِل ِه فَت َ َرب‬
َ
“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum
keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri
kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah
dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24)

Dalam ayat disebutkan harta yang ia usahakan. Dikhususkan demikian karena yang
memiliki harta tentu sangat cinta sekali pada hartanya. Apalagi harta tersebut diperoleh
dengan keletihan dan kepayahan tentu lebih dicintai dibanding dengan yang tidak
demikian.

Sedangkan yang dimaksudkan perdagangan dalam ayat di atas itu umum, mencakup
berbagai bentuk perdagangan dan berbagai aset yang dijual, ada berupa alat tukar,
bejana, senjata, barang-barang, biji-bijian, tanaman dan ternak.

Begitu pula tempat tinggal yang bagus dan penuh dengan berbagai perhiasan serta
rumah yang sesuai keinginan.

Jika itu semua lebih dicintai dari Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan Allah, maka ia
termasuk orang yang fasik lagi zalim. Lihat penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir
As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya, Taisir Al-Karim Ar-Rahman.

Bahkan Rasul Harus Lebih Dicintai dari Diri Sendiri


Dari ‘Abdullah bin Hisyam, ia berkata,

‫ع َم ُر يَا‬ ُ ُ‫ب فَقَا َل لَه‬


ِ ‫َطا‬َّ ‫ع َم َر ب ِْن ْالخ‬ ُ ‫آخذٌ ِبيَ ِد‬ ِ ‫ُكنَّا َم َع النَّ ِب ِى – صلى هللا عليه وسلم – َو ْه َو‬
‫ى – صلى هللا عليه‬ ُّ ‫ فَقَا َل النَّ ِب‬. ‫ش ْىءٍ ِإالَّ ِم ْن نَ ْفسِى‬ َ ‫ى ِم ْن ُك ِل‬ َّ َ‫ت أ َ َحبُّ إِل‬ َ ‫َّللاِ أل َ ْن‬
َّ ‫سو َل‬ ُ ‫َر‬
ُ ُ‫ فَقَا َل لَه‬. » ‫ِك‬
ُ‫ع َم ُر فَإِنَّه‬ َ ‫وسلم – « الَ َوالَّذِى نَ ْفسِى ِبيَ ِد ِه َحتَّى أ َ ُكونَ أ َ َحبَّ ِإلَي َْك ِم ْن نَ ْفس‬
‫ى – صلى هللا عليه وسلم – « اآلنَ يَا‬ ُّ ِ‫ فَقَا َل النَّب‬. ‫ى ِم ْن نَ ْفسِى‬ َّ َ‫ت أ َ َحبُّ ِإل‬َ ‫َّللاِ أل َ ْن‬
َّ ‫اآلنَ َو‬
» ‫ع َم ُر‬ ُ
“Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau ketika itu memegang
tangan Umar bin Al-Khattab. ‘Umar berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah, engkau lebih
aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Tidak. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, pokoknya aku tetap
harus lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.” Umar pun berkata, “Sekarang, demi Allah,
engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Pokoknya mulai dari sekarang wahai Umar.” (HR. Bukhari, no. 6632).

Timbulnya Maksiat dan Bid’ah


Semua maksiat timbul karena seseorang mendahulukan hawa nafsu daripada kecintaan
pada Allah dan Rasul-Nya. Contoh yang disebutkan oleh Allah tentang orang musyrik,

‫ض ُّل ِم َّم ِن اتَّبَ َع ه ََواهُ ِبغَي ِْر ُهدًى‬ َ َ ‫فَإِ ْن لَ ْم يَ ْست َ ِجيبُوا لَ َك فَا ْعلَ ْم أَنَّ َما يَتَّبِعُونَ أ َ ْه َوا َء ُه ْم َو َم ْن أ‬
َّ ‫َّللاَ َال يَ ْهدِي ْالقَ ْو َم‬
َ‫الظا ِل ِمين‬ َّ ‫َّللاِ ِإ َّن‬
َّ َ‫ِمن‬
“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya
mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat
daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari
Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang
zalim.” (QS. Al-Qashshash: 50)

Begitu pula bid’ah bisa muncul karena mendahulukan hawa nafsu daripada mengikuti
syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sekarang, sudahkah kita benar-benar mencintai Rasul dan mengikuti ajaran


beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ataukah kita malah mengedepankan hawa nafsu
kita?

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Sumber https://rumaysho.com/12601-menundukkan-hawa-nafsu-demi-mengikuti-
ajaran-nabi.html

Saudaraku, berjihad melawan hawa nafsu dan syahwat adalah jihad yang
paling dasar. Tak mungkin kita dapat menjihadi musuh bila kita tak mampu
menjihadi hawa nafsu sendiri.
Oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

َ ‫الر ُج ُل نَ ْف‬
ُ‫سهَ َو َه َواه‬ َ ‫أ َ ْف‬
َّ ‫ض ُل ا ْل ِج َها ِد أ َ ْن يُ َجا َه َد‬
“Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad (berjuang) melawan
dirinya dan hawa nafsunya” (Hadits shahih diriwayatkan oleh ibnu Najjar dari
Abu Dzarr).

Simaklah faidah indah yang disampaikan oleh ibnu Qayyim ketika


menjelaskan surat Al-Ankabut ayat 69,

‫سبُلَنَا‬
ُ ‫ِين َجا َهدُوا فِينَا لَنَ ْه ِديَنَّ ُه ْم‬
َ ‫َوالَّذ‬
“Dan orang orang yang berjihad di jalan Kami, Kami akan memberikan
kepada mereka hidayah kepada jalan jalan Kami” (Al-Ankabut: 69).

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini Allah mengaitkan


hidayah dengan jihad. Orang yang paling sempurna hidayahnya adalah yang
paling sempurna jihadnya. Jihad yang paling wajib adalah menjihadi diri
sendiri, menjihadi hawa nafsu, menjihadi setan, dan menjihadi dunia.

Siapa yang menjihadi empat perkara ini karena Allah, maka Allah akan
memberinya hidayah kepada jalan jalan keridhaan-Nya yang akan
menyampaikannya ke surga. Siapa yang meninggalkan jihad maka ia akan
kehilangan hidayah sejumlah jihad yang ia tinggalkan.

Al-Junaid berkata, “(Maknanya) Dan orang orang yang menjihadi hawa


nafsunya di jalan Kami dengan cara bertaubat, Kami akan memberikan
kepada mereka hidayah kepada jalan-jalan ikhlas.

Tidak mungkin ia menjihadi musuhnya yang lahiriyah kecuali dengan


menjihadi musuhnya yang batin. Barang siapa yang menang melawan
musuhnya yang batin, ia akan menang melawan musuhnya yang lahiriyah.
Dan siapa yang kalah oleh musuhnya yang batin, ia akan dikalahkan oleh
musuhnya yang lahiriyah.”

(Fawaidul Fawaid hal. 177)

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/31073-jihad-yang-paling-dasar.html


SALAH satu sikap penting yang harus ditanamkan dalam diri setiap Muslim adalah
sikap menghormati dan menghargai orang lain. Menghormati dan menghargai orang
lain merupakan salah satu upaya untuk menghormati dan menghargai diri sendiri.
Bagaimana orang lan mau menghormati dan menghargai diri kita, jika kita tidak mau
menghormati dan menghargainya. Cara mengormati dan menghargai orang lain pun
berbeda tergantung dalam keberagaman masing-masing.
Terhadap orang lain sesama Muslim, kita harus membina tali silaturahmi dan memenuhi hak-
haknya seperti yang dijelasakan dalam hadist Nabi Muhamad SAW. Dalam hadist yang
diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim ditegaskan, Nabi SAW bersabda:

BACA JUGA: Hormatilah Ibumu Agar Hidup Menjadi Berkah


“Hak seorang Muslim terhadap Muslim lainnya ada lima, yaitu 1) apabila bertemu, berilah
salam kepadanya, 2) mengunjunginya, apabila ia (Muslim lain) sedang sakit, 3)
mengantarkan jenazahnya, apabila ia meninggal dunia, 4) memenuhi undangannya, apabila ia
mengundang, dan 5) mendoakannya, apabila ia bersin,” (H.R. al-Bukhari dan Muslim). Kita
harus membina dan memperkuat persaudaraan sesama Muslim, karena persaudaraan sesama
Muslim diibaratkan satu bangunan yang bagian-bagiannya saling menguatkan (H.R. al-
Bukhari dan Muslim), atau bagaikan suatau badan yang jika anggotanya sakit akan terasa
pada bagian lainnya (H.R. al-Bukhari dan Muslim). Selebihnya, di antara sesama Muslim
tidak boleh saling menghina dan mengkhianati, sebaliknya diantara mereka harus saling
mencintai seperti mencintai dirinya sendiri.

BACA JUGA: Dimana Cintaku untuk Ibu?

Hikmah Menghargai Karya Orang Lain


 Kita akan mendapatkan pahala dari Allah SWT. karena secara tidak langsung kita telah
membuat hati seseorang menjadi senang.
 Menjadikan orang lain lebih bersemangat dalam menghasilkan karya yang baru.
 Menjadi motivasi dan inspirasi bagi diri pribadi agar dapat mengembangkan diri dengan baik,
sehingga dapat menciptakan sebuah hasil karya sendiri.
 Menambah erat tali silaturahmi antar sesama manusia. []
Sumber: santi/islampos/perhiasan

SESEORANG bercerita dengan nada kesal, perihal rekannya yang telah berulang kali
menerobos area dan otoritas kerja yang diembannya. Padahal mereka satu tim, hanya memang
dalam bagian tertentu ada teritorial masing-masing yang antara satu dan lainnya memang harus
saling menghormati.
Hal ini mendorong dirinya menyampaikan perihal tersebut ke dalam grup diskusi online yang
diikutinya. Bukan mendapat respon yang diharapkan, pihak yang semestinya memberikan
klarifikasi justru bersikap kurang kooperatif.
Sebagian merespon dengan taushiyah alias nasehat. Namun, dalam konteks tersebut, nasehat
belum cukup, sebab selain perlunya segera regulasi yang mengatur, sikap sebagai seorang
Muslim terhadap Muslim lainnya belum benar-benar ditegakkan, yakni saling menghargai.
Padahal, sebagai sebuah umat, antara satu Muslim dengan Muslim lainnya adalah satu tubuh,
sehingga bagaimana mungkin tangan rela melukai kaki, dan kaki kanan menyakiti kaki kiri.
Semua adalah kesatuan yang tak terpisahkan satu sama lain. Dengan kata lain, saling
menghormati dan menghargai adalah perkara yang tak bisa dijauhkan dari sikap setiap pribadi
Muslim.
Fuad bin Abdil Aziz Asy-Syalhub dalalm bukunya “Fiqh Adab” menjelaskan bahwa sikap Muslim
terhadap Muslim lainnya mestinya saling merendah dan berlemah lembut. Sikap ini dapat
mengekalkan persaudaraan di tengah mereka juga memperkuat ikatan persaudaraan di antara
mereka. Sedangkan takabbur dan meremehkan orang lain adalah sebab sebagian di antara
mereka menjauhi sebagian lainnya yang bisa jadi akan memutuskan tali persaudaraan.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian merendah
hingga tidak ada seorang pun meremehkan orang lain dan bersikap sombong kepada orang
lain.” (HR. Muslim).
Ada kisah menarik dalam hal ini, yang terjadi antara dua sahabat Nabi, yakni Abidzar Al-Ghifari
dengan Bilal bin Rabah radhiyallahuanhuma.
Suatu waktu beberapa shahabat berkumpul dalam satu majelis. Ada Khalid bin Walid,
Abdurrahman bin Auf, Bilal, dan Abidzar, sementara Rasulullah sedang tidak bersama mereka.
Majelis itu pun berdiskusi tentang suatu perkaraKemudian Abidzar menyampaikan pendapat,
“Aku mengusulkan agar pasukan diperlakukan demikian dan demikian.”
Mendengar usulan tersebut, Bilal menimpali, “Tidak, itu adalah usulan yang salah.”
Mendapati ucapan Bilal, Abidzar emosi lalu berkata, “Beraninya kamu menyalahkanku, wahai
anak wanita berkulit hitam?”
“Lâ Ilâha illallâh! Bercerminlah engkau. Lihatlah siapa dirimu sebenarnya?” sambung Abidzar.
Merajut Benang Ukhuwah
Bilal pun berdiri dengan kemarahan yang sama. Dengan nada tinggi dia berkata, “Demi Allah,
aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah Shaallahu ‘Alaihi Wassallam,” lalu Bilal pun pergi
kepada Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam.
Begitu bertemu Rasulullah, Bilal berkata, “Wahai, Rasulullah. Maukah engkau mendengar apa
yang telah dikatakan oleh Abidzar kepadaku?”
Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam menjawab, “Apakah yang telah dikatakannya?”
Bilal berkata, “Dia telah berkata begini dan begitu.”
Mendengar jawaban Bilal, rona muka Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam berubah.
Tidak lama kemudian dengan tergopoh-gopoh Abidzar datang. Dia berkata, “Wahai, Rasulullah.
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.”
Ketika itu Rasulullah sangat marah, hingga dikatakan, “Kami tidak tahu apakah Nabi menjawab
salamnya atau tidak.”
Nabi bersabda, “Wahai, Abidzar. Engkau telah menghinakannya dengan merendahkan ibunya.
Di dalam dirimu terdapat sifat jahiliyah.” (HR. Bukhari).
Dengan demikian, janganlah perbedaan pendapat menjadikan tali persaudaraan terputus. Sebab
tidak ada kemuliaan pada sikap diri merendahkan sesama, apalagi merasa diri yang paling
benar untuk selanjutnya memaki-maki bahkan melucuti kehormatan sesama Muslim.
Sebaiknya berupaya agar tetap bisa saling merendahkan diri. Rasulullah bersabda, “Tidaklah
seseorang merendahkan diri di hadapan Allah melainkan Allahakan mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim).
[Foto] Menjaga Ukhuwah
Hanya dengan sikap demikian, perintah Allah yang bersifat strategis dalam upaya membangun
kekuatan umat bisa dilaksanakan dengan baik dan tersistem.
ِّ ‫شدِّيد ُۡٱل ِّعقَا‬
‫ب‬ َ ‫ٱّللَۖإِّنَّٱللَّ َه‬ ِّ ‫ىٱۡل ۡثمِّ َو ۡٱلع ُ ۡد َو‬
َّ ْ‫ٲنۚ َوٱتَّقُوا‬ ِّ ۡ َ‫عل‬
َ ْ‫اونُوا‬ ۡ َ‫عل‬
َ َ‫ىٱلبِّ ِّر َوٱلت َّ ۡق َوىۖ َو َالتَع‬ َ ْ‫اونُوا‬
َ َ‫ۘ َوتَع‬
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-
menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah,
sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 2).
Jadi, mari tetap menjadi pribadi yang benar dengan tidak membiarkan sesama terjerumus pada
ketidakbenaran. Andai pun harus bereaksi dengan sikap keras, tetaplah itu diorientasikan pada
terwujudnya semangat ukhuwah, bukan permusuhan.
Semoga Allah senantiasa membimbing diri kita untuk senantiasa menghormati, menghargai
sesama Muslim, sehingga dengan demikian barisan umat Islam semakin kuat dalam segala sisi
kehidupan. Wallahu a’lam.*

Anda belum mahir membaca Qur'an?Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Menghargai Pendapat Orang Lain


MENGHARGAI PENDAPAT ORANG LAIN

Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Azza wa Jalla, Dzat yang telah
mengangkat kedudukan para ulama yang bertakwa. Shalawat dan salam
kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam penutup para nabi.
Juga kepada keluarga, para sahabat dan yang mengikuti mereka sampai hari
kiamat
Amma ba’du.

Slogan “menghargai pendapat orang lain”, berulang kali disampaikan melalui


media audio maupun media cetak, dan ungkapan ini, seolah-olah sudah
menjadi sebuah peraturan mengikat. Padahal ungkapan ini tidak mutlak, tidak
sepenuhnya benar. Karena masalah-masalah yang berkaitan dengan din
(agama), pijakannya ialah Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan berdasarkan
pendapat. Sehingga siapapun yang salah dalam permasalahan din, maka
pendapatnya tidak boleh dihargai dan tidak boleh didiamkan. Karena
menghargai atau diam merupakan pengkhianatan terhadap Islam dan kaum
muslimin ; juga berarti menyembunyikan al-haq (kebenaran), padahal Allah
Azza wa Jalla berfirman.

ِ َّ‫اب لَت ُ َب ِينُنَّهُ ِللن‬


ُ‫اس َو ََل ت َ ْكت ُ ُمونَه‬ َّ َ‫َو ِإ ْذ أ َ َخذ‬
َ َ‫ّللاُ ِميثَاقَ الَّ ِذينَ أُوت ُوا ا ْل ِكت‬

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah
diberi kitab (yaitu) : “Hendaklah kalian menerangkan isi kitab itu kepada
manusia, dan jangan kalian menyembunyikannya…” [Ali-Imran/3 : 187]
Meskipun yang keliru itu adalah orang terbaik atau orang yang paling tinggi
martabatnya (dia tetap tidak boleh didiamkan, -red) karena kedudukan al-haq
lebih tinggi dari dirinya.

Lihatlah! Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu membantah pendapat Abu


Bakar dan Umar Radhiyallahu ‘anhuma ketika mereka menyelisihi dalil
tentang pembatalan haji ke umrah. Dan Abdullah bin Abbas Radhiyallahu
‘anhu berkata : “Hampir saja ada batu yang jatuh dari langit menimpa kalian.
Aku mengatakan Rasulullah bersabda, sedangkan kalian mengatakan Abu
Bakar dan Umar mengatakan”. Karena tidak boleh berijtihad, jika ada nash
atau dalil.

Oleh karena itu, tidak boleh menghargai pendapat orang lain dengan
mengorbankan agama. Membantah kesalahan, bukan berarti merendahkan
atau menurunkan derajat orang yang dibantah. Kecuali jika yang dibantah itu
bukan ahli ilmu, maka keadaan orang ini harus dijelaskan, supaya ia tidak
dianggap sebagai ulama, karena ia bukan ulama. Para ulama tidak
membolehkan umat mendiamkan kesalahan-kesalahan mereka (jika ada,
red), dan mereka juga tidak merasa berat menerima kebenaran dari orang
yang membawakannya.

Contohlah Imam Abu Hanifah rahimahullah, beliau berkata : “Jika ada hadits
yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was allam, maka kami taat
sepenuhnya. Jika ada ucapan yang datang dari para sahabat Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kami taat sepenuhnya. Jika ada ucapan
yang datang dari selain mereka, maka mereka adalah tokoh, dan kami juga
tokoh”. Maksudnya, sama-sama ulama, selama itu merupakan masalah
ijtihadiy

Masalah ijtihadiy, yang belum jelas kebenarannya, tidak bisa diingkari apabila
yang berpendapat itu seseorang yang berhak untuk berijtihad. Yaitu yang
memenuhi persyaratan sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab ushul,
bukan seorang yang merasa berilmu, padahal bodoh. Jadi, berijtihad bukan
hak semua orang.

Imam Malik rahimahullah juga berkata : “Kita semua bisa membantah dan
bisa dibantah, kecuali penghuni kubur ini”. Maksudnya, ialah Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, tidak ada seorangpun yang tidak boleh
dibantah jika salah, dan ia tidak boleh fanatik dengan pendapatnya.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata : “Jika ucapanku bertentangan dengan


sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka benturkanlah
pendapatku dengan tembok”. Maksud beliau, tinggalkanlah pendapatku
Imam Ahmad rahimahullah berkata : “Aku heran dengan sebagian manusia
yang sudah mengetahui sanad dan keshahihan sanad, namun mereka
mengikuti pendapat Sufyan. Padahal Allah Azza wa Jalla berfirman.

‫اب أَ ِلي ٌم‬ َ ‫فَ ْليَحْ ذَ ِر ا َّل ِذينَ يُ َخا ِلفُونَ ع َْن أ َ ْم ِر ِه أ َ ْن ت ُ ِصيبَ ُه ْم ِفتْنَةٌ أ َ ْو يُ ِصيبَ ُه ْم‬
ٌ َ‫عذ‬

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan


ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” [An-Nur/24 : 63]

Kemudian, untuk diketahui, orang-orang yang mempropagandakan slogan


“menghargai pendapat orang lain”, mereka ini hanya akan menghormati dan
menghargai pendapat-pendapat yang sesuai dengan nafsu dan sejalan
dengan ambisi mereka, meskipun pendapat itu bertentangan dengan Al-
Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak
akan menghargai pendapat yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah,
jika pendapat ini berseberangan dengan nafsu dan ambisi mereka. Bahkan
kemudian, mereka menyematkan gelar jumud (beku, tidak fleksibel), ekstrim,
dangkal, dan berbagai gelar buruk lainnya terhadap pendapat yang sesuai
dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Juga dalam memberikan bantahan, tidak harus menyebutkan kebaikan orang


yang dibantah, sebagaimana dikatakan para pengusung pendapat
muwazanah (keseimbangan)[1]. Karena tujuannya bukan mengoreksi orang
itu, namun hanya menjelaskan kesalahan-kesalahannya supaya orang lain
tidak terpedaya. Sekali lagi bukan meluruskan orang itu.

Membantah orang yang menyimpang dalam urusan din (agama) merupakan


perkara wajib, supaya al-haq tidak bercampur dengan yang bathil. Allah Azza
wa Jalla telah membantah perkataan orang-orang kafir dan orang-orang
munafiq dalam kitab-Nya yang mulia.

Ketika Abu Sufyan mengatakan kepada kaum muslimin saat perang Uhud,
“kami memiliki Uzza, sedangkan kalian tidak memiliki Uzza”, maka Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat.

َّ ‫ّللاِ َما نَقُو ُل َقا َل قُولُوا‬


‫ّللاُ َم ْو ََلنَا َو ََل َم ْولَى لَ ُك ْم‬ ُ ‫أ َ ََل ت ُِجيبُوا لَهُ َقالُوا يَا َر‬
َّ ‫سو َل‬

“Tidakkah kalian membalasnya?” Para sahabat berkata ; “Wahai Rasulullah,


apa yang harus kami ucapkan ?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab : “Allah Azza wa Jalla adalah maula (pelindung) kami, sedangkan
kalian tidak memilki maula” [2]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menyuruh Hassan bin
Tsabit Radhiyallahu ‘anhu membantah kaum musyrikin dengan menggunakan
syair-syairnya Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda.

ِ ‫أ َ ِج ْب عَنِي َو ُرو ُح ا ْلقُد‬


َ‫ُس َم َعك‬

“Jawablah untukku, dan semoga Ruhul-Qudus (Malaikat Jibril) bersamamu”


[3]

Lalu Hassan membantah kaum musyrikin dengan bantahan yang lebih


menyakitkan dari hujaman anak panah dan tombak. Dan para ulama terus
melakukan bantahan terhadap orang-orang yang menyimpang. Kitab-kitab
mereka, dalam masalah ini sudah ma’ruf (dikenal).

Hanya saja (yang perlu diperhatikan, red) dalam membantah harus tetap
dengan menggunakan adab-adab yang disyari’atkan. Dan tujuan melakukan
bantahan ialah membela kebenaran, bukan membela diri dan menghabisi
orang yang dibantah.

Hendaklah tidak menyinggung pribadi orang yang dibantah, (misalnya)


dengan menjarh atau merendahkannya, kecuali jika orang yang dibantah itu
sesat, atau ahli bid’ah, atau orang yang sok tahu dengan berbicara atas nama
Allah dan Rasulullah tanpa dasar ilmu. Kalau keadaannya seperti ini, maka si
pembantah wajib menjelaskan keadaan ilmu dan din (agama) seorang yang
dibantahnya, sehingga ucapan orang yang dibantah itu tidak dipercaya, dan
pendapat yang datang darinya tidak diambil, karena sarana yang bisa
menyempurnakan suatu yang wajib, maka hukumnya wajib.

Allah Azza wa Jalla berfirman tentang ahli kitab yang mencela kaum muslimin,
mengejek dan menyematkan gelar buruk pada mereka.

ٰ
‫ع َب َد‬
َ ‫ير َو‬َ ‫علَ ْي ِه َو َجعَ َل ِم ْن ُه ُم ا ْل ِق َر َدةَ َوا ْل َخنَ ِاز‬
َ ‫ب‬
َ ‫غ ِض‬َ ‫ّللاُ َو‬ َّ ‫قُ ْل َه ْل أُنَبِئ ُ ُك ْم بِشَر ِم ْن ذَ ِلكَ َمثُوبَةً ِع ْن َد‬
َّ ُ‫ّللاِ ۚ َم ْن لَ َعنَه‬
‫س ِبي ِل‬َّ ‫اء ال‬
ِ ‫س َو‬َ ‫ض ُّل ع َْن‬ َ َ‫غوتَ ۚ أُو ٰلَ ِئكَ ش ٌَّر َمكَانًا َوأ‬ ُ ‫ال َّطا‬

“Katakanlah (wahai Muhammad) : “Apakah akan aku beritakan kepada kalian


tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik)
itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuk dan dimurkai Allah, di antara
mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi (dan orang yang) menyembah
Taghut”. Mereka itu lebih buruk tempatnya di lebih tersesat dari jalan yang
lurus” [Al-Maidah/5 : 60]
Ringkasnya, dalam keadaan bagaimana pun, seorang ahli ilmu tidak boleh
mendiamkan perkataan orang-orang yang menyimpang dan perkataan orang-
orang soak tahu yang terus mengatakan sesuatu yang tidak mereka ketahui
(hakikatnya, red). Seorang ahli ilmu, wajib menjelaskan al-haq dan
membantah kebathilan, sebagai bentuk pembelaan terhadap Allah Azza wa
Jalla, Rasul-Nya, Kitab-Nya, dan pembelaan terhadap seluruh kaum muslimin.
Allah Azza wa Jalla berfirman.

‫ّللاُ يَقُو ُل ا ْلحَقَّ َوه َُو يَ ْهدِي‬


َّ ‫َو‬

“Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang
benar)” [Al-Ahzab/33 : 4]

Dalam mukaddimah (pembukaan) bantahan terhadap Jahmiyah, Imam


Ahmad rahimahullah mengatakan : “Segala puji milik Allah Azza wa Jalla yang
telah menjadikan pada setiap masa, sekelompok ahli ilmu yang
membersihkan penyimpangan orang-orang yang berbuat ghuluw terhadap
Kitabullah, pengakuan orang-orang yang menolak sifat-sifat Allah, serta
menghilangkan penakwilan-penakwilan orang jahil.

Para ahli ilmu ini mendakwahi orang yang sesat menuju petunjuk. Mereka
bersabar dari gangguan orang-orang yang sesat. Betapa banyak orang-orang
sesat itu telah mendapatkan petunjuk dengan perantaraan para ahli ilmu. Dan
betapa banyak menusia yang dimatikan (hatinya, red) oleh iblis telah
dihidupkan kembali melalui para ahli ilmu. Alangkah baiknya pengaruh
mereka kepada manusia, dan alangkah buruk balasan manusia kepada
mereka”.

Demikian, kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar diberi ilmu yang
bermanfaat dan amalan shalih. Kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla
agar memperbaiki para penguasa kita, dan para penguasa kaum muslimin
dimanapun berada ; agar Allah memenangkan din (agama)-Nya dan
meninggikan kalimat-Nya, memberikan petunjuk kepada kaum muslimin yang
tersesat.

Kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar memperlihatkan al-haq itu
sebagai kebenaran dan memberikan kekuatan kepada kita untuk
mengikutinya ; serta memperlihatkan kebathilan itu sebagai kebathilan dan
memberikan kekuatan kepada kita untuk menjauhinya.

Kita memohon kepada Allah agar tidak menjadikan suatu kebathilan itu
menjadi samara-samar, sehingga mengakibatkan kita tersesat.
Baca Selengkapnya : https://almanhaj.or.id/2385-menghargai-pendapat-
orang-lain.html