Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD)

Oleh:

I GEDE PERI ARISTA


(P071202139099)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
TAHUN 2019
Laporan Pendahuluan Konsep Chronic Kidney Disease (CKD)
A. Definisi
Chronic kidney disease (CKD) atau penyakit ginjal kronis adalah obstruksi struktur
ginjal yang progresif dan terus-menerus (Corwin, 2009).
B. Klasifikasi
Klasifikasi CKD berdasarkan derajat/stadium LFG (Laju Filtrasi Glomerulus) nilai
normalnya adalah 125 ml/min/1,73m2 dengan rumus Kockroft-Gault sebagai berikut :

Stadium Penjelasan LFG (ml/mn/1.73m2)


1 Kerusakan ginjal dengan LFG normal atau ↑ ≥ 90
2 Kerusakan ginjal dengan LFG ↓ atau ringan 60-89
3 Kerusakan ginjal dengan LFG ↓ atau sedang 30-59
4 Kerusakan ginjal dengan LFG ↓ atau berat 15-29
5 Gagal ginjal < 15 atau dialisis
Sumber : (Corwin, 2009)
C. Etiologi
Empat penyebab utama CKD adalah Diabetes, hipertensi, glomerulonephritis dan
penyakit ginjal polikistik (Price & Wilson, 2003).
D. Pathway
Terlampirkan
E. Manifestasi Klinis
1. Pada gagal ginjal stadium 1 tidak tampak gejala klinis
2. Seiring dengan perburukan penyakit, penurunan pembentukan eritropoetin
menyebabkan keletihan kronis dan muncul tanda-tanda awal hipoksia jaringan dan
gangguan kardiovaskular
3. Dapat timbul polyuria (peningkatan pengeluaran urine) karena ginjal tidak mampu
memekatkan urine seiring dengan perburukan penyakit
4. Pada gagal ginjal stadium akhir, pengeluaran turun akibat GFR rendah
Sumber : (Corwin, 2009).
F. Komplikasi
1. Pada gagal ginjal progresif, terjadi beban volume, ketidakseimbangan elektrolit,
asidosis metabolic, azotemia dan uremia
2. Pada gagal ginjal stadium 5 (penyakit stadium akhir), terjadi azotemia dan uremia
berat. Asidosis metabolic memburuk, yang secara mencolok merangsang kecepatan
pernapasan
3. Hipertensi, anemia, osteodistrofi, hyperkalemia, ensefalopati uremik, dan pruritus
(gatal) adalah komplikasi yang sering terjadi
4. Penurunan pembentukan eritropoetin dapat menyebabkan sindrom anemia
kardiogenal, suatu trias anemia yang lama, penyakit kardiovaskular dan penyakit
ginjal yang menyebabkan peningkatan morbiditas dan mortalitas
5. Dapat terjadi gagal jantung kongestif
6. Tanpa pengobatan terjadi koma dan kematian
Sumber: (Corwin, 2009).
G. Perangkat Diagnostik
1. Radiografi atau ultrasound akan memperlihatkan ginjal yang kecil dan atrofi
2. Nilai BUN serum, kreatinin, dan GFR tidak normal
3. Hematocrit dan hemoglobin turun
4. pH plasma rendah
5. peningkatan kecepatan pernapasan mengisyaratkan kompensasi pernapasan akibat
asidosis metabolic
Sumber: (Corwin, 2009).
H. Penatalaksanaan
 Pencegahan gagal ginjal adalah tujuan utama. Pencegahan mencakup perubahan gaya
hidup dan jika diperlukan, obat untuk mengontrol hipertensi, obat pengontrol
glikemik yang baik pada penderita diabetes, dan jika mungkin menghindari obat-obat
nefrotoksik. Pemakaian lama analgesic yang mengandung kodein dan obat-obat anti
inflamasi non steroid (NSAID) harus dihindari khususnya pada individu yang
mengalami gangguan ginjal. Diagnosis dini dan pengobatan lupus eritematosus
sistemik dan penyakit lainnya yang diketahui merusak ginjal amat penting.
Pengobatan perlu dimodifikasi seiring dengan perburukan penyakit
 Untuk gagal ginjal stadium 1,2 dan 3, tujuan pengobatan adalah memperlambat
kerusakan ginjal lebih lanjut, terutama dengan membatasi asupan protein dan
pemberian obat-obatan antihipertensi.
 Renal anemia management period, RAMP diajukan karena adanya hubungan antara
gagal jantung kongestif dan anemia terkait dengan penyakit ginjal kronis RAMP
adalah batasan waktu setelah suatu awitan penyakit ginjal kronis saat didiagnosis dini
dan pengobatan anemia memperlambat progresi penyakit ginjal, memperlambat
komplikasi kardiovaskular, dan memperbaiki kualitas hidup. Pengobatan anemia
dilakukan dengan memberikan eritropoetin manusia rekombinan (rHuEPO). Obat ini
terbukti secara dramatis memperbaiki kualitas hidup dan mengurangi kebutuhan
transfuse. Selain itu, rHuEPO memperbaiki fungsi jantung secara bermakna.
 Pada stadium lanjut, terapi ditujukan untuk mengoreksi ketidakseimbangan cairan dan
elektrolit
 Pada penyakit stadium akhir, terapi berupa dialysis atau transplantasi ginjal
 Pada semua stadium, pencegahan infeksi perlu dilakukan
Sumber: (Corwin, 2009).
I. Masalah Keperawatan
Masalah keperawatan yang mungkin muncul pada CKD adalah sebagai berikut:
1. Hipervolemia
2. Gangguan pertukaran gas
3. Perfusi perifer tidak efektif
4. Intoleransi aktivitas
Sumber : (PPNI, 2016)
J. Intervensi Keperawatan

NO Diagnosa Keperawatan Luaran Keperawatan Intervensi Keperawatan


Hipervolemia Setelah dilakukan intervensi selama ...... x Manajemen Hipervolemia
Penyebab: ...... jam maka status cairan membaik dan  Periksa tanda dan gejala hypervolemia (mis. Ortopnea,
 Gangguan mekanisme perfusi renal meningkat dengan kriteria dyspnea, edema)
regulasi hasil :  Monitor status hemodinamik (mis. Frekuensi jantung,
 Kelebihan asupan cairan  Output urine meningkat tekanan darah)
 Kelebihan asupan natrium  Ortopnea menurun  Monitor intake dan output
 Gangguan aliran balik  Dyspnea menurun  Monitor tanda hemokonsentrasi (mis. kadar natrium
vena  Paroxysmal nocturnal dyspnea (PND) BUN, hematokrit, berat jenis urine)
Gejala dan tanda mayor menurun  Monitor efek samping diuretic (mis. Hipotensi ortostatik,
Subjektif:  Edema anasarca menurun hypovolemia, hypokalemia, hyponatremia)
 Ortopnea  Edema perifer menurun  Batasi asupan cairan dan garam
 Dyspnea  Kadar urea nitrogen darah membaik  Tinggikan kepala tempat tidur 30-40o
 Paroxysmal nocturnal  Kadar kreatinin plasma membaik  Kolaborasi pemberian diuretik
dyspnea (PND)  Kolaborasi penggantian kehilangan kalium akibat
Objektif: diuretic
 Edema anasarca dan/atau Pemantauan Cairan
edema perifer  Monitor jumlah, warna dan berat jenis urine
 Berat badan meningkat  Monitor hasil pemeriksaan serum (natrium, kalium,
dalam waktu singkat BUN)
Gejala dan tanda minor  Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi
Subjektif: - pasien
Objektif:  Dokumentasikan hasil pemantuan
 Kadar Hb/Ht turun
 Oliguria
 Intake lebih banyak dari
output (balans cairan
positif)
 Kongesti paru
Gangguan pertukaran gas Setelah dilakukan intervensi selama ...... x Terapi oksigen
Penyebab: ...... jam maka pertukaran gas meningkat  Monitor kecepatan aliran oksigen
 Ketidakseimbangan dengan kriteria hasil :  Monitor posisi alat terapi oksigen
ventilasi-perfusi  Dyspnea menurun  Monitor aliran oksigen secara periodik dan pastikan
 Perubahan membrane  Bunyi napas tambahan menurun fraksi yang diberikan cukup
alveolus-kapiler  Napas cuping hidung menurun  Monitor efektivitas terapi oksigen (mis. Oksimetri,
Gejala dan tanda mayor  PCO2 membaik analisa gas darah)
Subjektif:  PO2 membaik  Monitor tanda-tanda hipoventilasi
 Dispnea  Takikardia membaik  Pertahankan kepatenan jalan napas
Objektif:  pH arteri membaik  Kolaborasi penentuan dosis oksigen
 PCO2  Kolaborasi penggunaan oksigen saat aktivitas dan/atau
meningkat/menurun tidur
 PO2 menurun
 Takikardia
 bunyi napas tambahan
Gejala dan tanda minor
Subjektif:
 Pusing
 Penglihatan kabur
Objektif:
 Sianosis
 Diaforesis
 Gelisah
 Napas cuping hidung
 Pola napas abnormal
(cepat/lambat,
regulerireguler,
dalam/dangkal)
 Warna kulit abnormal
(mis. Pucat/kebiruan)
 Kesadaran menurun
Perfusi perifer tidak efektif Setelah dilakukan intervensi selama ...... x Transfusi darah
Penyebab: ...... jam maka status sirkulasi membaik dan  Monitor tanda-tanda vital sebelum, selama dan setelah
 Hiperglikemia perfusi perifer meningkat dengan kriteria transfuse (tekanan darah, suhu, nadi dan frekuensi napas)
 Penurunan konsentrasi hasil :  Monitor tanda kelebihan cairan (mis. Dyspnea,
hemoglobin  Kekuatan nadi meningkat takikardia, sianosis, tekanan darah meningkat, sakit
 Peningkatan tekanan  Saturasi oksigen meningkat kepala, konvulsi)
darah  Pucat menurun  Monitor reaksi transfuse
 Penurunan aliran arteri  Akral dingin menurun  Lakukan pengecekan ganda pada label darah (golongan
dan/atau vena  Edema perifer menurun darah, rhesus, tanggal kadaluwarsa, nomor seri, jumlah
 Kurang aktivitas fisik  Hipotensi ortostatik menurun dan identitas pasien)
Gejala dan tanda mayor  Fatigue menurun  Berikan NaCl 0,9 % 50-100 ml sebelum tranfusi
Subjektif: - dilakukan
Objektif:  Atur kecepatan aliran transfuse sesuai produk darah 10-
 Pengisian kapiler > 3 15 ml/KgBB dalam 2-4 jam
detik  Berikan transfuse dalam waktu maksimal 4 jam
 Nadi perifer menurun atau  Hentikan transfuse jika terdapat reaksi transfuse
tidak teraba  Dokumentasikan tanggal, waktu, jumlah darah, durasi
 Akral teraba dingin dan respon transfuse
 Warna kulit pucat  Jelaskan tujuan dan prosedur transfuse
 Turgor kulit menurun  Jelaskan tanda dan gejala reaksi transfuse yang perlu
Gejala dan tanda minor dilaporkan (mis. Gatal, pusing, sesak napas, dan/atau
Subjektif: nyeri dada)
 Parastesia Pemantauan hasil laboratorium
 Nyeri ekstremitas  Identifikasi pemeriksaan laboratorium yang diperlukan
(klaudikasi intermitten)  Monitor hasil laboratorium yang diperlukan
Objektif:  Periksa kesesuaian hasil laboratorium dengan
 Edema penampilan klinis pasien
 Penyembuhan luka lambat  Ambil sampel sesuai protocol
 Indeks ankle brachial <  Interpretasikan hasil pemeriksaan laboratorium
0,9  Kolaborasi dengan dokter jika hasil laboratorium
 Bruit femoral memerlukan intervensi media
Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan intervensi selama ...... x Manajemen Energi
Penyebab: ...... jam maka toleransi aktivitas meningkat  Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan
 Ketidakseimbangan antara dengan kriteria hasil : kelelahan
suplai dan kebutuhan  Frekuensi nadi meningkat  Monitor kelelahan fisik dan emosional
oksigen  Keluhan lelah menurun  Monitor pola dan jam tidur
 Tirah baring  Dispnea saat aktivitas menurun  Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan
 Kelemahan  Dispnea setelah aktivitas menurun aktivitas
 Imobilitas  Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis.
Gejala dan tanda mayor Cahaya, suara, kunjungan)
Subjektif:  Lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif
 Mengeluh lelah  Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan
Objektif:  Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat
 Frekuensi jantung berpindah atau berjalan
meningkat >20 % dari  Anjurkan tirah baring
kondisi istirahat  Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap
Gejala dan tanda minor  Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala
Subjektif: kelelahan tidak berkurang
 Dyspnea saat/setelah  Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan
aktivitas  Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan
 Merasa tidak nyaman asupan makanan
setelah beraktivitas
 Merasa lemah
Objektif:
 Tekanan darah berubah >
20 % dari kondisi istirahat
 Gambaran EKG
menunjukkan aritmia
saat/setelah aktivitas
 Sianosis
Sumber : (PPNI, 2016) (PPNI, 2019) (PPNI, 2018)
PATHWAY
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, E. J. (2009). Buku Saku Patofisiologi (3 Revisi). Jakarta: EGC.

PPNI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (1st ed.). Jakarta: PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (1st ed.). Jakarta: PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (1st ed.). Jakarta: PPNI.

Price, S. A., & Wilson, L. M. (2003). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit
(6th ed.; H. Hartanto, P. Wulansari, N. Susi, & D. A. Mahanani, Eds.). Jakarta: EGC.

Purwo. (2010). Pathway Gagal Ginjal Kronis.