Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA FARMASI I
REAKSI-REAKSI PENDAHULUAN
“GOLONGAN ALKALOID DAN BASA NITROGEN”

NAMA : ANNA FITRIYANA


NIM : 1819.7.087

PROGRAM STUDI DIII FARMASI


AKADEMI FARMASI BUMI SILIWANGI
BANDUNG
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Dalam dunia medis dan kimia organik, istilah alkaloid telah lama
menjadi bagian penting dan tak terpisahkan dalam penelitian yang telah dilakukan
selama ini, baik untuk mencari senyawa alkaloid baru ataupun untuk penelusuran
bioaktifitas. Senyawa alkaloid merupakan senyawa organik terbanyak ditemukan di
alam. Hampir seluruh alkaloid berasal dari tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai
jenis tumbuhan. Secara organoleptik, daun-daunan yang berasa sepat dan pahit,
biasanya teridentifikasi mengandung alkaloid. Selain daun-daunan, senyawa alkaloid
dapat ditemukan pada akar, biji, ranting, dan kulit kayu. Alkaloid adalah senyawa
organik yang terdapat di alam bersifat basa atau alkali dan sifat basa ini disebabkan
karena adanya atom N (Nitrogen) dalam molekul senyawa tersebut dalam struktur
lingkar heterosiklik atau aromatis, dan dalam dosis kecil dapat memberikan efek
farmakologis pada manusia dan hewan.

1.2 TUJUAN PRAKTIKUM

Setelah melakukan praktikum ini, mahasiswa dapat mengidentifikasi reaksi –


reaksi pendahuluan golongan senyawa alkaloid dan basa nitrogen dengan uji
organoleptis dan analis kualitatif.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DASAR TEORI

Alkaloid adalah suatu golongan senyawa organik yang banyak ditemukan


dialam. Hampir seluruh alkaloid berasal dari tumbuh-tumbuhan dan tersebar luas
dalam berbagai jenis tumbuhan tingkat tinggi. Sebagian besar alkaloid terdapat pada
tumbuhan dikotil sedangkan untuk tumbuhan monokotil dan pteridofida mengandung
alkaloid dengan kadar yang sedikit.

Pengertian lain Alkaloid adalah senyawa organik yang terdapat di alam


bersifat basa atau alkali dan sifat basa ini disebabkan karena adanya atom N (Nitrogen)
dalam molekul senyawa tersebut dalam struktur lingkar heterosiklik atau aromatis, dan
dalam dosiskecil dapat memberikan efek farmakologis pada manusia dan hewan.
Sebagai contoh,morfina sebagai pereda rasa sakit, reserfina sebagai obat penenang,
atrofina berfungsi sebagai antispamodia, kokain sebagai anestetik lokal, dan strisina
sebagai stimulan syaraf. Selain itu ada beberapa pengecualian, dimana termasuk
golongan alkaloid tapi atom N (Nitrogen) nya terdapat di dalam rantai lurus atau
alifatis. Meyers Conversation Lexicons tahun 1896 dinyatakan bahwa alkaloid terjadi
secara karakteristik di dalam tumbuh- tumbuhan, dan sering dibedakan berdasarkan
kereaktifan fisiologi yang khas. Senyawa ini terdiri atas karbon, hidrogen, dan nitrogen.

1. SIFAT UMUM ALKALOID

Alkaloid tidak larut atau sukar larut didalam air, tetapi alkaloid yang berada
dalam bentuk garam biasanya mudah larut dalam air.Alkaloid bebas (yang bersifat
basa) biasanya larut dalam eter, CHCl3 atau pelarut organic lainnya, tapi garamnya
tidak larut. Sifat kelarutan ini digunakaan sebagai dasar untuk isolasi & pemurnian
alkaloid Kebanyakan alkaloid berbentuk kristal padat, beberapa berbentuk amorf.
Alkaloid yang berbentuk cair tidak mempunyai atom O dalam molekulnya. Garam
alkaloid tidak sama bentuk kristalnya dan, bentuk kristal ini berguna untuk identifikasi
secara mikroskopik. Ikatan N dalam alkaloid biasanya berada dalam bentuk amin
primer, sekunder, tersier, kuartener, amonium hidroksida dan semua ikatan N ini
bersifat basa. Alkaloid umunya mempunyai sepasang elektron sunyi yang dapat
mengikat proton secara kovalen sehingga membentuk garamnya yang umumnya larut
dalam air.

2. SIFAT FISIKA ALKALOID

Alkaloid sesuai sifat fisika umumnya mempunyai 1 atom N meskipun ada


beberapa yang memiliki lebih dari 1 atom N seperti pada Ergotamin yang memiliki 5
atom N. Atom N ini dapat berupa amin primer, sekunder maupun tertier yang semuanya
bersifat basa (tingkat kebasaannya tergantung dari struktur molekul dan gugus
fungsionalnya) Kebanyakan alkaloid yang telah diisolasi berupa padatan kristal tidak
larut dengan titik lebur yang tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisi. Sedikit
alkaloid yang berbentuk amorf dan beberapa seperti; nikotin dan koniin berupa cairan.
Kebanyakan alkaloid tidak berwarna, tetapi beberapa senyawa yang kompleks, species
aromatik berwarna (contoh berberin berwarna kuning dan betanin berwarna merah).
Pada umumnya, basa bebas alkaloid hanya larut dalam pelarut organik, meskipun
beberapa pseudo alkaloid dan proto alkaloid larut dalam air. Garam alkaloid quartener
sangat larut dalam air.

3. SIFAT KIMIA ALKALOID

Kebanyakan alkaloid bersifat basa. Sifat tersebut tergantung pada adanya


pasangan elektron pada nitrogen. Jika gugus fungsional yang berdekatan dengan
nitrogen bersifat melepaskan elektron, sebagai contoh; gugus alkil, maka ketersediaan
elektron pada nitrogen naik dan senyawa lebih bersifat basa. Hingga trietilamin lebih
basa daripada dietilamin dan senyawa dietilamin lebih basa daripada etilamin.
Sebaliknya, bila gugus fungsional yang berdekatan bersifat menarik elektron (contoh;
gugus karbonil), maka ketersediaan pasangan elektron berkurang dan pengaruh yang
ditimbulkan alkaloid dapat bersifat netral atau bahkan sedikit asam. Contoh ; senyawa
yang mengandung gugus amida. Kebasaan alkaloid menyebabkan senyawa tersebut
sangat mudah mengalami dekomposisi, terutama oleh panas dan sinar dengan adanya
oksigen. Hasil dari reaksi ini sering berupa Noksida. Dekomposisi alkaloid selama atau
setelah isolasi dapat menimbulkan berbagai persoalan jika penyimpanan berlangsung
dalam waktu yang lama. Pembentukan garam dengan senyawa oganik (tartarat, sitrat)
atau anorganik (asam hidroklorida atau sulfat) sering mencegah dekomposisi. Itulah
sebabnya dalam perdagangan alkaloid lazim berada dalam bentuk garamnya.
BAB III

METODE KERJA

3.1 Alat dan bahan

NO NAMA ALAT DAN BAHAN JUMLAH

1. Tabung reaksi 5 buah

2. Pipet tetes 3 buah

3. Sikat tabung reaksi 1 buah

4. Penjepit tabung reaksi 1 buah

5. Gelas kimia 250 ml 1 buah

6. Kaki tiga 1 buah

7. Pembakar spirtus 1 buah

8. Kassa abses 1 buah

9. Mikroskop 1 buah

10. Kaca preparat 1 buah

11. Papaverin HCl (C20H21NO4.HCl) Secukupnya

12. H2SO4 pekat 5 tetes

13. Kloroform 2 ml

14. CH3COOH 3 ml

15. Formalin 1 ml
16. Anhidrid asam asetat 3 tetes

17. Aquadest Secukupnya

18. Efedrin (C10H15NO) Secukupnya

19. CuSO4 Secukupnya

20. NaOH Secukupnya


3.2 PROSEDUR KERJA

3.2.1 Uji Pada Papaverin HCl (C20H21NO4.HCl) BM 397,3 JARAK LEBUR 200OC

Pemerian : serbuk kristalin putih

Struktur Kimia Papaverin

1. Siapkan 3 tabung reaksi, masukkan sampel secukupnya kedalam tabung


reaksi. Amati sampel secara organoleptis sebelum ditambah pereaksi

2. Tambahkan reagensia lieberman. Amati perubahan warna yang terjadi

3. Tabung kedua masukkan sampel secukupnya tambahkan reagensia


Marquis, Amati perubahan warna yang terjadi

4. Tabung ke tiga masukkan sampel secukupnya tambahkan 1 ml anhidrid


asam asetat dan tiga tetes asam sulfat pekat, kemudian dipanaskan. Amati
perubahan warna yang terjadi.

5. Buat kristal dengan HgCl2


3.2.2 Uji Pada Efedrin (C10H15NO) BM 174,2 jarak lebur 40-43OC

Pemerian : Serbuk kristal tidak berwarna atau putih terurai jika terkena cahaya

Struktur Kimia Efedrin

1. Siapkan 2 tabung reaksi, masukkan sampel secukupnya kedalam


tabung reaksi. Amati sampel secara organoleptis sebelum ditambah
pereaksi

2. Masukkan sampel secukupnya kedalam tabung reaksi tambahkan


reagensia liebermann. Amati perubahan yang terjadi

3. Masukkan sampel secukupnya kedalam tabung reaksi tambahkan


larutan CuSO4 dan NaOH encer kocok ad larut . Amati perubahan warna
yang terjadi

4. Lakukan kristal dengan HgCl2


BAB IV

HASIL PENGAMATAN

Hasil Pengamatan
No. Reagensia Hasil Foto
Sebelum Sesudah

Uji Pada sampel Papaverin HCl (C20H21NO4.HCl)


Larutan 2
fase
Papaverin
Warna
HCl Serbuk
Larutan atas
hanlur
1. + merah pekat
orange
Reagensia kemerahan Dan warna
Lieberman larutan
bawah
bening

Papaverin
HCl Serbuk
Larutan
hablur
2. + orange
orange
kecoklatan
Reagensia kemerahan
Marquis
Papaverin
HCl

+
Serbuk
Anhidrat
hablur
asam Larutan
3. orange
asetat merah
kemerahan
+

Asam
sulfat

Larutan
merah pink
4. Dipanaskan
endapan
merah bata
Papaverin
Serbuk
HCl Kristal bulat
hablur
5. tidak
+ orange
beraturan
kemerahan
HgCl2

Uji Pada Sampel Efedrin (C10H15NO)


Ephedrin
Larutan
HCl
Serbuk kuning
1. +
halus hijau Tidak ada
Reagensia
endapan
lieberman

Larutan
Ephedrin
hijau agak
+
Serbuk keruh
2. CuS04
halus hijau Ada
+
terdapat
NaOH encer
endapan
Kristal
Ephedrin
batang dan
HCl
Serbuk bentuk
3.
+ halus hijau segilima ada
hilus
HgCl2
ditengahny
BAB V

REAKSI KIMIA
BAB VI

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini bertujuan untuk mengidentifikasi reaksi reaksi


pendahuluan golongan senyawa alkaloid dan basa nitrogen dengan cara uji
organoleptis dan uji kualitatif terhadap masing-masing sampel. Uji organoleptis ini
mula-mula dilakukan pengamatan pendahuluan dengan menggunakan indera kita,
dilihat, diraba kehalusannya dengan ujung jari, dibau dan dirasakan. Sedangkan
analisa kualitatif adalah pemeriksaan ion atau unsur yang terdapat dalam suatu
unsur tunggal atau campuran senyawa identifikasi terhadap senyawa golongan alkaloid
dan basa nitrogen dengan bantuan reagensia liberman dan marquis.

Pada praktikum kali ini dilakukan identifikasi terhadap 2 senyawa golongan


alkaloid, yaitu Papaverin HCl dan Ephedrin HCl. Pertama dilakukan reaksi
identifikasi terhadap Pavaverin HCl.

Papaverin HCl memiliki bentuk serbuk hablur


berwarna orange kemerahan dan tidak berbau. Ada
empat pereaksi spesifik untuk Papaverin HCl,
pertama Papaverin HCl ditambahkan reagensia
lieberman yaitu campuran antara CH3COOH,
Kloroform dengan H2SO4 dengan perbandingan

1 ml : 1 ml : 1 tetes akan menghasilkan senyawa


kompleks yang berwarna larutan 2 fase warna larutan
atas merah dan warna larutan bawahnya adalah
larutan bening. Papaverin dapat menimbulkan reaksi
yang positif dengan pereaksi Liebermann karena
pereaksi tersebut spesifik terhadap gugus O-alkil
yang berikatan dengan cincin benzena. Berdasarkan stuktur papaverin, senyawa ini
memiliki gugus – OCH3 yang berikatan dengan cincin benzena.

Pada tabung kedua Pavaperin HCl ditambah reagensia marquis campuran


antara 1ml Formalin (H2CO) ditambah 1 tetes H2SO4 peubahan yang terjadi yaitu dari
serbuk hablur merah menjadi larutan orange kecoklatan.

Pada percobaan terakhir untuk papaverin yaitu dengan penambahan Hgcl2


menghasilkan larutan berwarna pink muda dan saat dilihat di mikroskop terlihat kristal
kecil tak beraturan

Senyawa alkaloid selanjutnya yang telah diidentifikasi oleh praktikan adalah


efedrin. Senyawa efedrin dilakukan dengan tiga percobaan , percobaan pertama dengan
menggunakan pereaksi Liebermann atau CH3COOH + H2SO4 dengan perbandingan
3:1 Larutan kuning terang bening tidak ada endapan ,Efedrin dapat menghasilkan
reaksi yang positif dengan pereaksi Liebermann dikarenakan efedrin memiliki cincin
benzena tersubstitusi tunggal yang tidak bergabung dengan gugus karbonil atau C=N-
O. Oleh karena itu dihasilkan suatu larutan keruh dengan endapan agak kuning yang
menunjukkan reaksi positif. lalu dengan menggunakan pereaksi CuSO4 dan NaOH
Larutan hijau agak keruh, karena suatu reaksi yang spesifik dimana terbentuk kompleks
larutan hijau dengan endapan putih karena CuSO4 dapat bereaksi dengan senyawa
yang memiliki cincin heterosiklik berasal dari efedrin.

Pada percobaan terakhir yaitu dengan penambahan Hgcl2 menghasilkan larutan


hijau bening,saatdilihat di mikroskop terlihat berwarn dasar mikroskop bening ke
abuan dengan gambaran Bulat tidak beraturan lebih besar dan ada hilus ditengahnya
BAB VII

KESIMPULAN

Alkaloid adalah senyawa organik yang terdapat di alam bersifat basa atau alkali dan
sifat basa ini disebabkan karena adanya atom N (Nitrogen) dalam molekul senyawa
tersebut dalam struktur lingkar heterosiklik atau aromatis, dan dalam dosis kecil dapat
memberikan efek farmakologis pada manusia dan hewan. Contoh dari senyawa
alkaloid yaitu Papaverin HCl dan Ephedrin HCl. Cara identifikasi alkaloid bisa
menggunakkan rekasi warna contohnya penambahan reagensia marquis selain itu bisa
menggunakkan reaksi uji lieberman dan mikroskopik.
BAB VIII

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1982. Card System dan Reaksi Warna . Ars-praeparandi : Institut Teknologi
Bandung. Bandung.
https://www.academia.edu/29378499/IDENTIFIKASI_GOLONGAN_ALKALOID

(diakses pada tanggal 5 desember 2016)

Anda mungkin juga menyukai