Anda di halaman 1dari 16

TUGAS MATRIKULASI

MAKALAH PEMERIKSAAN PENUNJANG SISTEM ENDOKRIN

Fasilitator : Ika Nur Pratiwi S.Kep., Ns., M. Kep.


Disusun Oleh : Kelompok 3
ANGKATAN B21

1) Servianus Gonsaga R 131811123025


2) Hindatur Rohmah 131811123027
3) Suwarning 131811123028
4) Umi M Latifah 131811123033
5) Yulia Meiliany N 131811123023
6) Dimas Satrya W 131811123024
7) Ariyani Wisudawati 131811123029
8) Meili Maria L 131811123030
9) Citra Danurwenda 131811123031
10) Ilham Ainunnajib 131811123076
11) Yosevin Karunia N 131811123020

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2019

1
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sistem endokrin merupakan sistem kelenjar yang bekerja pada tubuh
manusia yang hasil sekresinya disebut hormon. Hormon adalah zat kimia yang
dibawa dalam aliran darah ke jaringan dan organ kemudian merangsang
hormon untuk melakukan tindakan tertentu. Cara kerja hormon yaitu langsung
ke dalam darah tanpa melalui duktus atau saluran. Hormon hasil sekresi dari
kelenjar endokrin ini pada umumnya berfungsi sebagai homeostasis atau
menyeimbangkan fungsi dari dalam tubuh. Beberapa fungsi hormon hasil sekresi dari
kelenjar endokrin adalah untuk pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi, fungsi
seksual, mood, ketahanan tubuh, pernafasan, suhu tubuh, detak jantung dan
metabolisme tubuh (Didin Wahyu Utomo, Suprapto, Nurul Hidayat, 2017).
Penyakit kelenjar endokrin sangat berbahaya dan bahkan bisa berujung
kematian apabila tidak segera ditangani. Beberapa penyakit yang timbul akibat
gangguan pada sistem endokrin, yaitu diabetes mellitus, diabetes insipidus,
hipothiroid, hiperthiroid, cushing syndrome, penyakit addison, sindrom
androgenital, gigantisme dan acromegali. Penyakit sistem endokrin ini,
umumnya disebabkan kelebihan atau kekurangan produksi hormon dan
keganasan pada kelenjar endokrinnya.
Berkembangnya berbagai pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan
penunjang lainnya yang canggih telah mendorong klinisi banyak bergantung
padanya karena hasilnya lebih akurat. pemeriksaan meliputi laboaratorium,
biopsi, imaging dengan kontras atau tanpa kontras, dan sinar X. Pemeriksaan
diagnostik dan penunjang tersebut disesuaikan dengan penyakit atau gangguan
kelenjar endokrin yang ada.
Peran perawat sangat krusial dalam setiap jenis pemeriksaan mulai dari
persiapan, pelaksanaan, sampai setelah pemeriksaan (pre, intra, dan post
prosedura). Perawat selain menyiapkan alat, yang terutama adalah
mendampingi pasien. Kehadiran perawat akan mengurangi kecemasan pasien.
Dengan demikian proses pemeriksaan akan berjalan lancar dan memperoleh
hasil yang akurat.

2
1.2. Tujuan
1.2.1. Tujuan umum
Setelah mengikuti perkuliahan, mahasiswa mampu memahami
jenis-jenis pemeriksaan penunjang pada gangguan sistem endokrin
1.2.2. Tujuan khusus
1. Menjelaskan jenis pemeriksaan penunjang pada gangguan kelenjar
Hipofise
2. Menjelaskan jenis pemeriksaan penunjang pada gangguan kelenjar
Thiroid
3. Menjelaskan jenis pemeriksaan penunjang pada gangguan kelenjar
Parathiroid
4. Menjelaskan jenis pemeriksaan penunjang pada gangguan kelenjar
Pankreas
5. Menjelaskan jenis pemeriksaan penunjang pada gangguan kelenjar
Adrenal

3
BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1 Pemeriksaan Penunjang pada Kelenjar Hipofise


2.1.1 Foto tengkorak (Cranium)
Dilakukan untuk melihat kondisi sella tursika. Dapat terjadi tumor
atau juga atropi. Tidak dibutuhkan persiapan fisik secara khusus,
namun pendidikan kesehatan tentang tujuan dan prosedur sangatlah
penting.

Gambar 1. Hasil rongent kepala pada gangguan Hipofise


(https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_penelitian_1_dir/ab247cff1b92526da8
8f5841a6e04620.pdf)

2.1.2 Foto tulang (Osteo)


Dilakukan untuk melihat tulang. Pada klien dengan gigantisme
akan dijumpai ukuran tulang yang bertambah besar dari ukuran
maupun panjangnya. Pada akromegali akan dijumpai tulang-tulang
perifer yang bertambah ukurannya kesamping. Persiapan fisik secara
khusus tidak ada, pendidikan kesehatan diperlukan.

4
Gambar 2. Hasil rongent jari tangan pada Gigantisme
(https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_penelitian_1_dir/ab247cff1
b92526da88f5841a6e04620.pdf)

2.1.3 CT-Scan kepala


Dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya tumor pada hipofisis
atau hipotalamus melalui komputerisasi. CT Scan Otak ada dua, yaitu
tanpa kontras dan dengan kontras. Bahan kontras dipakai pada
pencitraan dengan sinar-X untuk meningkatkan daya atenuasi dari sinar-
X. Media kontras mampu membedakan jaringan-jaringan pada gambar
foto polos yang tidak terlihat dalam radiografi biasa.
Pada pemeriksaan CT Scan tanpa kontras, tidak ada persiapan fisik
secara khusus, namun diperlukan penjelasan agar klien dapat diam tidak
bergerak selama prosedur. Sedangkan pemeriksaan CT Scan dengan
kontras, pasien perlu dikaji riwayat alergi, persiapan fisik untuk
diinjeksi bahan kontras (pemasangan infus), dan observasi setelah
pemeriksaan.

5
Gambar 1.3 CT Scan dan Hasil CT Scan Pitutary
(https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_penelitian_1_dir/ab247cff1b92
526da88f5841a6e04620.pdf)

2.1.4 Pemeriksaan darah dan urin


1. Kadar growth hormone
Nilai normal 10 µg/ml baik pada anak dan orang dewasa.
Pada bayi dibulan-bulan pertama kelahiran nilai ini meningkt
kadarnya. Spesimen adalah darah vena lebih kurang 5 cc. Persiapan
khusus secara fisik tidak ada.
2. Kadar thyroid stimulating hormone (TSH)
Nilai normal 6-10 µg/ml. Dilakukan untuk menentukan
apakah gangguan tiroid bersifat primer atau sekunder. Dibutuhkan
darah kurang lebih 5 cc. Tanpa persiapan khusus.
3. Kadar adreno kartiko tropik hormone (ACTH)
Pengukuran dilakukan dengan test supresi deksametason.
Spesimen yang diperlukan adalah darah vena lebih kurang 5 cc dan
urin 24 jam.
Persiapan:
1) Tidak ada pembatasan makanan dan minuman
2) Bila klien menggunakan obat-obatan seperti kortisol atau
antagonisnya dihentikan lebih dahulu 24 jam sebelumnya.
3) Bila obat-obatan harus diberikan, lampiran jenis obat dan
dosisnya pada lembaran pengiriman spesimen.
4) Cegah stres fisik dan psikologis
Pelaksanaan:
1) Klien diberi dexametason 4 x 0,5 ml/hari selama-lamanya
dua hari.
2) Besok paginya darah vena diambil sekitar 5 cc.
3) Urine ditampung selama 24 jam.
4) Kirim spesimen (darah dan urin) ke laboratorium.
Hasil:
Normal bila:

6
1) ACTH menurun kadarnya dalam darah. Kortisol darah
kurang dari 5 ml/dl.
2) 17-Hydroxi-Cortiko-Steroid (17-OHCS) dalam urine 24 jam
kurang dari 2,5 mg.
Cara sederhana dapat juga dilakukan dengan pemberian
dexametason 1 mg/oral tengah malam, baru darah vena diambil
lebih kurang 5 cc pada pagi hari dan urin ditampung selama 5 jam.
Specimen dikirim ke laboratorium.
Nilai normal bila kadar kortisol darah kurang atau sama dengan
3 mg/dl dan eksresi 17 OHCS dalam urine 24 jam kurang dari 2,5
mg.
2.2 Pemeriksaan Penunjang pada Kelenjar Thiroid
2.2.1 Up take Radioaktif (RAI)
Tujuan pemeriksaan darah untuk mengukur kemampuan kelenjar
tiroid dalam menangkap iodine.
Persiapan:
1. Klien puasa 6-8 jam.
2. Jelaskan tujuan dan prosedur.
Pelaksanaan:
1. Klien diberikan Radioaktif Iodium (I¹³¹) per oral sebanyak 50
microcuri dengan alat pengukur yang ditaruh diatas kelenjar tiroid
diukur radioaktif yang tertahan.
2. Juga dapat diukur clearence I¹³¹ melalui ginjal dengan
mengumpulkan urine selama 24 jam dan diukur kadar radioaktif
Iodiumnya
Banyaknya I¹³¹ yang ditahan oleh kelenjar tiroid dihitung dalam
persentase sebagai berikut:
1. Normal: 10-35 %
2. Kurang dari: 10 % disebut menurun, dapat terjadi pada
hipotiriodisme.

7
3. Lebih dari: 35 % disebut meninggi dapat terjadi pada tirotoxikosis
atau pada defisisensi Iodium yang suddah lama dan pada pengobatan
lama hipertiroidisme.
2.2.2 T3 dan T4 Serum
Persiapan fisik secara khusus tidak ada. Spesimen yang dibutuhkan
adalah darah vena sebanyak 5-10 cc.
Nilai normal pada oang dewasa:
1. Iodium bebas: 0,1-0,6 mg/dl
2. T3: 0,2-0,3 mg/dl
3. T4: 6-12 mg/dl
Nilai normal pada bayi/anak:
T3: 180-240 mg/dl
2.2.3 Up take Resin
Bertujuan untuk mengukur jumlah hormon tiroid (T3) atau tiroid
binding globulin (TBG) tak jenuh. Bila TBG naik berarti hormon tiroid
bebas meningkat. Peningkatan TBG terjadi pada hipertiroidisme dan
menurun pada hipotiroidisme. Dibutuhkan spesimen darah vena
sebanyak 5 cc. Klien puasa selama 6-8 jam.
Nilai normal pada dewasa adalah 25-35 % uptake oleh resin,
sedangkan pada anak umumnya tidak ada.
2.2.4 Protein Bound Iodine (PBI)
Bertujuan mengukur Iodium yang terikat dengan protein plasma.
Nilai normal 4-8 mg% dalam 100 ml darah. Spesimen yang dibutuhkan
darah vena sebanyak 5-10 cc. Klien dipuasakan sebelum pemeriksaan
6-8 jam.
2.2.5 Laju Metabolisme Basal (BMR)
Bertujuan unutk mengukur secara tidak langsung jumlah oksigen
yang dibutuhkan tubuh dibawah kondisi basal selama beberapa waktu.
Persiapan:
1. Klien puasa selama 12 jam
2. Hindari kondisi yang menimbulkan kecemasan dan stress
3. Klien harus tidur paling tidak 8 jam.

8
4. Tidak mengkonsumsi obat-obat analgesik dan sedatif.
5. Jelaskan pada klien tujuan pemeriksaan dan prosedurnya.
6. Tidak oleh bangun dari tempat tidur sampai pemeriksaan dilakukan.
Pelaksanaan:
1. Segerah setelah bangun, dilakukan pengukuran tekanan darah dan
nadi.
2. Dihitung dengan rumus; BMR (0,75 x pulse) + (0,74 x Tek nadi) –
72.
3. Nilai normal BMR: 10 s/d 15 %
Pertimbangkan faktor umur, jenis kelamin dan ukuran tubuh dengan
kebutuhan oksigen jaringan. Pada klien yang sangat cemas, dapat
diberikan fenobarbital yang pengukurannya disebut Sommolent
Metabolisme Rate. Nilai normalnya 8-13% lebih rendah dari BMR.
2.2.6 Up Take lodine
Digunakan untuk menentukan pengambilan iodium dari plasma.
Nilai normal 10 s/d 30% dalam 24 jam.
2.2.7 Scanning Tyroid
Radio lodine Scanning. Digunakan unutk menentukan apakah nodul
tiroid tunggal atau majemuk dan apakah panas atau dingin (berfungsi
atau tidak berfungsi). Nodul panas menyebabkan hipersekresi jarang
bersifat ganas. Sedangkan nodul dingin (20%) adalah ganas.

2.3 Pemeriksaan Penunjang pada Kelenjar Parathiroid


2.3.1 Sulkowitch
Dilakukan untuk memeriksa perubahan jumlah kalsium dalam urine,
sehingga dapat diketahui aktivitas kelenjar paratiroid. Percobaan
dilakukan dengan menggunakan Reagens Sulkowitch. Bila pada
percobaan tidak terdapat endapan maka kadar kalsium, plasma
diperkirakan antara 5 mg/dl. Endapan sedikit (Fine white cloud)
menunjukan kadar kalsium darah normal (6 ml/dl). Bila endapan
banyak, kadar kalsium tinggi.
Persiapan:

9
1. Urine 24 jam ditampung.
2. Makanan rendah kalsium 2 hari berturut-turut
Pelaksanaan:
1. Masukkan urine 3 ml kedalam tabung (2 tabung)
2. Kedalam tabung pertama dimasukkan reagens sulkowitch 3 ml,
tabung kedua hanya sebagai kontrol.
Hasil:
1. Negatif (-): Tidak terjadi kekeruhan.
2. Positif (+): Terjadi kekeruhan yang halus.
3. Positif (++): Kekeruhan sedang
4. Positif (+++): Kekeruhan banyak timbul dalam waktu kurang dari
20 detik.
5. Positif (++++): Kekeruhan hebat, terjadi seketika.
2.3.2 Ellwort-Howard
Percobaan didasarkan pada diuresis pospor yang dipengaruhi oleh
parathormone.
Klien disuntik dengan parathormon melalui intravena kemudian
urine ditampung dan diukur kadar pospornya. Pada hipoparatiroid,
diuresis pospor bisa mencapai 5-6 x nilai normal. Pada hiperparatiroid,
diuresis pospornya tidak banayak berubah.
2.3.3 Kalsium intravena
Percobaan ini didasarkan pada anggapan bahwa bertambahnya
kadar serum kalsium akan menekan pembentukan parathormon. Normal
bila pospor serum meningkat dan pospor diuresis berkurag. Pada
hiperparatiroid, pospor serum dan pospor diuresis tidak banyak berubah.
Pada hipoparatiroid, pospor serum hampir tidak mengalami perubahan
tetapi pospor diuresis meningkat.
2.3.4 Radiologi
Persiapan khusus tidak ada. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat
kemungkinan adanya kalsifikasi tulang, penipisin dan osteoporosis.
Pada hipotiroid, dapat dijumpai kalsifikasi bilateral pada dasar
tengkorak. Densitas tulang bisa noral atau meningkat. Pada hiper tiroid,

10
tulang menipis, terbentuk kista dalam tulang serta tuberculae pada
tulang.
2.3.5 Elekrokardiogram (EKG)
Persiapan khusus tidak ada. Pemeriksaan ini bertujuan untuk
mengidentifikasi kelainan gambaran EKG akibat perubahan kadar
kalsium serum terhadap otot jantung. Pada hiperparatiroid, akan
dijumpai gelombang Q-T yang memanjang, sedangkan hiperparatiroid
interval Q-T mungkin normal.
2.3.6 Elektromiogram (EMG)
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan
kontraksi otot akibat perubahan kadar kalsium serum. Persiapan khusus
tidak ada.

2.4 Pemeriksaan Penunjang pada Kelenjar Pankreas


2.4.1. Pemeriksaan glukosa
Jenis pemeriksaannya adalah gula darah puasa. Bertujuan untuk
menilai kadar gula darah setelah puasa selama 8-10 jam.
Persiapan:
1. Klien dipuasakan sebelum pemeriksaan dilakukan minimal 8 jam.
2. Jelaskan tujuan prosedur pemeriksaan
Pelaksanaan:
1. Spesimen adalah darah vena lebih kurang 5 s/d 10 cc.
2. Gunakan anti koagulasi bila pemeriksan tidak dapat dilakukan
segera.
3. Bila klien mendapat pengobatan insulin atau oral hipoglikemik
untuk sementara tidak diberikan.
4. Setelah pengambilan darah, klien diberi makan dan minum serta
obat-obatan sesuai program.
Nilai normal:
1. Dewasa: 70-110 md/dl
2. Bayi: 50-80 mg/d
3. Anak-anak: 60-100 mg/dl

11
Gula darah 2 jam setelah dimakan. Sering disingkat dengan gula
darah 2 jam PP (post prandial). Bertujuan untuk menilai kadar gula
darah 2 jam setelah makan. Dapat dilakukan secara bersamaan dengan
pemeriksaan gula darah puasa artinya setelah pengambilan gula darah
puasa, kemudian klien disuruh makan menghabiskan porsi yang biasa
lalu setelah 2 jam kemudian dilakukan pengukuran kadar gula darahnya.
Atau bisa juga dilakukan secara terpisah tergantung pada kondisi klien.
2.4.2. Pemeriksaan HbA1c (hemoglobin glikat)
Pemeriksaan HbA1c yang merupakan komponen utama dan
terbanyak dari hemoglobin glikat menggambarkan kadar glukosa
selama masa 2-3 bulan sebelumnya sesuai masa paruh eritrosit,
dianjurkan untuk diperiksa setiap 3 bulan sekali pada diabetes melitus
yang stabil. Pemeriksaan HbA1c telah dibakukan (standardisasi) dan
diharmonisasi. Oleh karena itu selain untuk memantau pengobatan
diabetes melitus, sekarang juga diajukan untuk penyaring dan diagnosis
diebetes melitus.

Tabel 1. Nilai normal HbA1c


2.4.3. Pemeriksaan albumin glikat
Pemeriksaan albumin glikat (AG) yang menggambarkan kadar
glukosa sesuai masa paruh albumin yang jauh lebih pendek daripada
eritrosit. AG jugamenunjukkan beberapa kelebihan dibandingkan
HbA1c, misalnya lebih tepat mencerminkan kontrol glikemik, juga
retinopati pada pasien DM tipe 2, dan perubahan glukosa postprandial
serta penyebab semua mortalitas pada pasien hemodialisis.
Prinsip persiapan dan pelaksanaan sama saja namun perlu diingat waktu
yang tepat untuk pengambilan spesimen karena hal ini dpat

12
memepengaruhi hasil pemeriksaan bagi klien yang mendapat obat-
obatan sementara dihentikan sampai pengambilan spesimen dilakukan.

Tabel 2. Kadar Glikat Hemoglobin pada Diabetes


2.5 Pemeriksaan Penunjang Pada Kelenjar Adrenal
2.5.1. Pemeriksaan hemokonsentrasi darah
Tidak ada persiapan secara khusus. Spesimen darah dapat diperoleh
dari perifer seperti ujung dari atau melalui fungsi intravena. Bubuhi
antikoagulan kedalam darah untuk mencegah pembekuan.
Nilai normal:
1. Dewasa wanita: 37-47 %
2. Dewasa pria: 45 -54 %
3. Anak-anak: 31-43 %
4. Bayi: 30-40 %
5. Neonatal: 44-62 %
2.5.2. Pemeriksaan Elektrolit serum ( Na,k,Cl)
Pada hipofungsi adrenal akan terjadi hipernatremi dan hipokalemi,
dan sebaliknya terjadi pada hiperfungsi adrenal yaitu hiponatremia dan
hiperkalemia. Tidak diperlukan persiapan fisik secara khusus.
Nilai normal:
1. Natrium: 310-335 mg (13,6-14 meq/liter)
2. Kalium: 14-20 mg% (3,5-5,0 meq/liter)
3. Chlorida: 350-375 mg% (100-106 meq/liter)
2.5.3. Vanil mandelic acid (VMA)
Bertujuan untuk mengukur katekolamin dalam urine. Dibutuhkan
urine dalam 24 jam. Nilai normal 1-5 mg. Tidak ada persiapan khusus.
2.5.4. Stimulasi tes

13
Dimaksudkan untuk mengevaluasi dan mendeteksi hipofungsi
adrenal. Dapat dilakukan terhadap kortisol dengan pemberian ACTH.
Stimulasi terhadap aldosteron dengan pemberian sodium.

14
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sistem endokrin merupakan salah satu sistem yang tidak kalah
pentingnya dalam tubuh manusia. Sistem endokrin terdiri dari kelenjar
hipofisis, tiroid, paratiroid, pancreas, dan adrenal. Masing-masing
kelenjar memiliki fungsi untuk sekresi hormone yang dibutuhkan tubuh.
Apabila terjadi gangguan pada sistem endokrin maka dapat
menimbulkan gangguan kesehatan yang serius dan kompleks.
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dalam rangka skrining
untuk pencegahan dan meminimaliris terjadinya dampak dari suatu
kelainan pada sistem endokrin, maupun untuk menegakkan suatu
diagnosa untuk selanjutnya mendapatkan penatalaksanaan yang lebih
optimal.
3.2 Saran
Dari penjelasan makalah, diharapkan mahasiswa keperawatan
mampu menguasai materi mengenai pemeriksaan penunjang pada
sistem endokrin.

15
DAFTAR PUSTAKA

(https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_penelitian_1_dir/ab247cff1b92526da88f5
41a6e04620.pdf)

https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_penelitian_1_dir/ab247cff1b92526da88f5
41a6e04620.pdf)

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016. Menkes : Mari Kita


Cegah Diabetes dengan Cerdik. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Tersedia di: <http://www.depkes.go.id/article/print/16040700002/menkes -mari-
kita-cegah diabetes-dengan-cerdik.html> [Diakses 13 Agustus 2016].

Kusumadewi, S., 2003. Artificial Intelligence. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Utomo Wahyu, dkk ., Juni 2017. Pemodelan Sistem Pakar Diagnosis Penyakit pada
Sistem Endokrin Manusia dengan Metode Dempster-Shafe. Jurnal Pengembangann
Teknologi Informasi Dan Ilmu Komputer. Vol 1 No. 9 Hlm 893 - 903

16