Anda di halaman 1dari 14

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN

KETUBAN PECAH DINI

Telah disetuji pada :


Hari :
Tanggal :

DISUSUN OLEH

THALIA HANA SEPTIARA MULYANA

201820461011091

PEMBIMBING AKADEMIK PEMBIMBING LAHAN


I. KONSEP DASAR TEORI
A. Definisi
KPD merupakan keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan. Bila
terjadi KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu, disebut KPD pada kehamilan
prematur. Dalam keadaan normal 8-10% perempuan hamil aterm akan mengalami
KPD. Sementara itu. American college of Obstricans and gynecologist (2007) mengatakan
Premature Ruptured of Membranes (PROM) adalah pecahnya membran ketuban janin
secara spontan sebelum usia 37 minggu atau sebelum persalinan dimulai. Hal ini
disebabkan oleh berbagai hal, tetapi banyak yang percaya bahwa infeksi intra uterine
adalah faktor predisposisi utama (Sunarti, 2017).
B. Etiologi
Penyebab KPD masih belum diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti.
Beberapa laporan menyebutkan faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD,
namun faktor-faktor mana yang lebih berperan sulit diketahui. Yang menjadi faktor
predisposisinya adalah (Sunarti, 2017):
1. Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenderen dari
vagina atau infeksi pada cairan ketuban biasa menyebabkan terjadinya KPD.
2. Serviks yang inkompetensia, kanalis servikalis yang selalu terbuka oleh karena
kelainan pada serviks uteri (akibat persalinan dan kuretase)
3. Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan (overdistensi
uterus) misalnya trauma, hidromnian, gemelli.
4. Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam, maupun
amniosintesis menyebabkan terjadinya KPD karena biasanya disertai infeksi.
5. Kelainan letak, misalnya sungsang, sehingga tidak ada bagian terendah yang
menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap
membran bagian bawah.
6. Keadaan sosial ekonomi
Faktor lain:
a. Faktor golongan darah, akibat golongan darah ibu dan anak yang tidak sesuai
dapat menimbulkan kelemahan bawaan
b. Termasuk kelemahan jaringan kulit ketuban.
c. Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu (CPD).
d. Faktor multi graviditas, merokok dan perdarahan antepartum.
e. Defisienzi gizi dari tembaga atau asam askorbat/ vitamin C.
C. Patofisiologi
Kekuatan selaput ketuban ditentukan oleh keseimbangan sintesa dan
degradasi matriks ekstraseluler. Bila terjadi perubahan di dalam selaput ketuban,
seperti penurunan kandungan kolagen, perubahan sruktur kolagen dan peningkatan
aktivitas kolagenolitik maka KPD dapat terjadi.
Degradasi kolagen yang terjadi diperantarai oleh Matriks Metalloproteinase
(MMP) dan dihambat oleh Penghambat Matriks Metalloproteinase (TIMP) serta
penghambat protease. Keutuhan selaput ketuban terjadi karena kombinasi dari
aktivitas MMP yang rendah dan konsentrasi TIMP yang relatif lebih tinggi.
Mikroorganisme yang menginfeksi host dapat membentuk enzim protease disertai
respon imflamasi dari host sehingga mempengaruhi keseimbangan MMP dan TIMP
yang menyebabkan melemahnya ketegangan selaput ketuban dan pecahnya selaput
ketuban.
Infeksi bakteri dan respon inflamasi juga merangsang produksi prostaglandin
oleh selaput ketuban yang diduga berhubungan dengan ketuban pecah dini preterm
karena menyebabkan irritabilitas pada uterus dan terjadi degradasi kolagen membran.
Beberapa jenis bakteri tertentu dapat menghasilkan fosfolipase A2 yang melepaskan
prekursor prostaglandin dari membran fosfolipid. Respon imunologis terhadap
infeksi juga menyebabkan produksi prostaglandin oleh sel korion akibat
perangsangan sitokin yang diproduksi oleh monosit. Sitokin juga terlibat dalam
induksi enzim Siklooksigenase II yang berfungsi mengubah asam arakhidonat
menjadi prostaglandin. Prostaglandin mengganggu sintesis kolagen pada selaput
ketuban dan meningkatkan aktivitas MMP-1 dan MMP-3 (Sunarti, 2017).
D. Manifestasi Klinis
Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina,
aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, berwarna pucat,
cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran.
Tetapi, bila anda duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah
biasanya “mengganjal” atau “menyumbat” kebocoran untuk sementara. Sementara
itu, demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah
cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi (Sunarti, 2017).
E. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan inspekulo
Terdapat cairan ketuban yang keluar melalui bagian yang bocor menuju
kanalis servikalis atau forniks posterior, pada tingkat lanjut ditemukan cairan
amnion yang keruh dan berbau.
2. Pemeriksaan USG
Ditemukan volume cairan amnion yang berkurang / oligohidramnion,
namun dalam hal ini tidak dapat dibedakan KPD sebagai penyebab
oligohidramnion dengan penyebab lainnya.
3. Pemeriksaan Laboratorium
Untuk menentukan ada atau tidaknya infeksi, kriteria laboratorium yang
digunakan adalah adanya Leukositosis maternal (lebih dari 15.000/uL), adanya
peningkatan C-reactive protein cairan ketuban serta amniosentesis untuk
mendapatkan bukti yang kuat (misalnya cairan ketuban yang mengandung
leukosit yang banyak atau bakteri pada pengecatan gram maupun pada kultur
aerob maupun anaerob).
Tes lakmus (Nitrazine Test) merupakan tes untuk mengetahui pH cairan, di
mana cairan amnion memiliki pH 7,0-7,5 yang secara signifikan lebih basa
daripada cairan vagina dengan pH 4,5-5,5. jika kertas lakmus merah berubah
menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban. Normalnya pH air ketuban
berkisar antara 7-7,5. Namun pada tes ini, darah dan infeksi vagina dapat
menghasilkan positif palsu.
Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah Tes Fern. Untuk melakukan
tes, sampel cairan ditempatkan pada slide kaca dan dibiarkan kering. Pemeriksaan
diamati di bawah mikroskop untuk mencari pola kristalisasi natrium klorida yang
berasal dari cairan ketuban menyerupai bentuk seperti pakis.
(Sunarti, 2017)
F. Penatalaksanaan
KPD termasuk dalam kehamilan berisiko tinggi. Kesalahan dalam
mengelolah KPD akan membawa akibat meningkatnya angka morbiditas dan
mortalitas ibu maupun bayinya. Penatalaksanaan KPD masih dilema bagi sebagian
besar ahli kebidanan. Kasus KPD yang cukup bulan, jika kehamilan segera diakhiri,
maka akan akan meningkatkan insidensi secsio sesarea, dan apabila menunggu
persalinan spontan, maka akan meningkatkan insiden chorioamnionitis. Kasus KPD
yang kurang bulan jika menempuh cara-cara aktif harus dipastikan bahwa tidak akan
terjadi RDS, dan jika menempuh cara koservatif dengan maksud memberikan waktu
pematangan paru, harus bisa memantau keadaan janin dan infeksi yang akan
memeperjelek prognosis janin. Penatalaksanaan KPD,tergantung pada umur
kehamilan tidak di ketahui secara pasti segera dilakukan pemeriksaan ultrasonografi
(USG) untuk mengetahui umur kehamilan dan letak janin. Resiko yang lebih sering
pada KPD dengan janin kurang bulan adalah RDS dibandingkan dengan sepsis. Oleh
Karena itu pada kehamilan kurang bulan perlu evaluasi hati-hati untuk menentukan
waktu yang optimal untuk persalinan. Pada umur kehamilan matang, choriamnionitis
yang diikuti dengan sepsis pada janin merupakan sebab utama meningkatnya
morbiditas dan mortalitas janin. Pada kehamilan cukup bulan, infeksi janin langsung
berhubungan dengan lama pecahnya selaput ketuban atau lamanya periode laten
(Sunarti, 2017).
Adapun penatalaksanaannya:
1. Konservatif
Penanganan secara konservatif yaitu:
a. Rawat di rumah sakit.
b. Beri antibiotik: bila ketuban pecah > 6 jam berupa: Ampisilin 4x500 mg
atau gentamycin 1x 80 mg.
c. Umur kehamilan < 32-34 minggu: dirawat selama air ketuban masih
keluar atau sampai air ketuban tidak keluar lagi.
d. Bila usia kehamilan 32-34 minggu, masih keluar air ketuban, maka usia
kehamilan 35 minggu dipertimbangkan untuk terminasi kehamilan (hal ini
sangat tergantung pada kemampuan keperawatan bayi prematur).
e. Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi intra uterine).
f. Pada usia kehamilan 32-34 minggu, berikan steroid untuk memacu
kematangan paru-paru janin.
2. Aktif
Penanganan secara aktif yaitu:
a. Kehamilan > 35 minggu: induksi oksitosin, bila gagal dilakukan seksio
sesarea. Cara induksi: 1 ampul syntocinon dalam dektrosa 5 %, dimulai 4
tetes sampai maksimum 40 tetes/ menit.
b. Pada keadaan CPD, letak lintang dilakukan secsio sesarea.
Bila ada tanda infeksi: beri antibiotika dosis tinggi dan persalinan diakhiri.
(Sunarti, 2017)
G. Pencegahan
1. Memperbanyak minum air putih
Ibu hamil sebaiknya cukup minum air putih bila perlu diperbanyak untuk
menjaga kualitas air ketuban. Sekaligus mencegah ibu mengalami dehidrasi, ketika
terjadi maka janin akan melakukan kontraksi yang memicu persalinan prematur.
Perbanyak minum air putih akan menghindari air ketuban keruh intinya cairan
ketuban tetap sehat. Persalinan pun akan semakin lancar dengan kondisi ketuban
demikian.

2. Memilih mengkonsumsi buah kaya air


Apabila merasa bosan dan kesulitan minum 8 sampai 10 gelas air putih per
hari maka kekurangan cairan tubuh bisa dipenuhi melalui buah-buahan.
Terutama buah-buahan yang kaya akan air sehingga mencegah ketuban yang
pecah terlalu dini ataupun menyusutnya air ketuban tersebut. Pastikan
mengetahui jenis buah-buahan kaya air mana yang aman untuk ibu hamil, sebab
tidak semua buah aman bagi janin. Disarankan memilih buah seperti semangka,
strawberry, tomat, mentimun, jeruk, dan juga melon.

3. Menikmati olahraga ringan


Ibu hamil pun aman melakukan olahraga yang sifatnya ringan misal berenang
dan juga jalan kaki dan baik pula dilakukan secara rutin. Apabila tubuh mudah
letih ketika hamil ada baiknya menikmati olahraga ringan selama 30 atau 40
menit. Olahraga akan membantu melancarkan peredaran darah sehingga
mencukupi kebutuhan cairan bagi janin di dalam kandungan. Olahraga ini juga
efektif menjaga kadar air ketuban tetap normal sehingga menghindari kontraksi
janin sebelum waktunya. Bicarakan dengan dokter yang menangani kehamilan
untuk mengecek kondisi ketuban dan janin secara berkala.
(Sunarti, 2017)
H. Komplikasi
Adapun pengaruh KPD terhadap ibu dan janin adalah (Sunarti, 2017):
1. Komplikasi pada ibu
Komplikasi yang dapat disebabkan KPD pada ibu yaitu infeksi intrapartal/ dalam
persalinan, infeksi puerperalis/ masa nifas, dry labour/ partus lama, perdarahan post
partum, meningkatnya tindakan operatif obstetric (khususnya SC), morbiditas dan
mortalitas maternal.
2. Komplikasi pada janin
Komplikasi yang dapat disebabkan KPD pada janin itu yaitu prematuritas
(sindrom distres pernafasan, hipotermia, masalah pemberian makan neonatal,
retinopati premturit, perdarahan intraventrikular, enterecolitis necroticing, gangguan
otak dan risiko cerebral palsy, hiperbilirubinemia, anemia, sepsis, prolaps funiculli /
penurunan tali pusat, hipoksia dan asfiksia sekunder pusat, prolaps uteri,
persalinan lama, skor APGAR rendah, ensefalopati, cerebral palsy, perdarahan
intrakranial, gagal ginjal, distres pernapasan), dan oligohidromnion (sindrom
deformitas janin, hipoplasia paru, deformitas ekstremitas dan pertumbuhan janin
terhambat), morbiditas dan mortalitas perinatal.
I. Pathway
II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Dokumentasi pengkajian merupakan catatan hasil pengkajian yang
dilaksanakan untuk mengumpulkan informasi dari pasien, membuat data dasar
tentang klien dan membuat catatan tentang respon kesehatan klien.
1. Identitas atau biodata klien
Meliputi, nama, umur, agama, jenis kelamin, alamat, suku bangsa, status
perkawinan, pekerjaan, pendidikan, tanggal masuk rumah sakit nomor register,
dan diagnosa keperawatan.
2. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan dahulu
Penyakit kronis atau menular dan menurun seperti jantung, hipertensi, DM,
TBC, hepatitis, penyakit kelamin atau abortus.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Riwayat pada saat sebelun inpartus didapatkan cairan ketuban yang keluar
pervagina secara spontan kemudian tidak diikuti tanda-tanda persalinan.
3. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah penyakit keturunan dalam keluarga seperti jantung, DM, HT, TBC,
penyakit kelamin, abortus, yang mungkin penyakit tersebut diturunkan kepada
klien
4. Riwayat psikososial
Riwayat klien nifas biasanya cemas bagaimana cara merawat bayinya, berat badan
yang semakin meningkat dan membuat harga diri rendah.
5. Pola-pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan tata leksana hidup sehat
Karena kurangnya pengetahuan klien tentang ketuban pecah dini, dan
cara pencegahan, penanganan, dan perawatan serta kurangnya mrnjaga
kebersihan tubuhnya akan menimbulkan masalah dalam perawatan
dirinya.
b. Pola nutrisi dan metabolisme
Pada klien nifas biasanaya terjadi peningkatan nafsu makan karena dari
keinginan untuk menyusui bayinya.
c. Pola aktifitas
Pada pasien pos partum klien dapat melakukan aktivitas seperti biasanya,
terbatas pada aktifitas ringan, tidak membutuhkan tenaga banyak, cepat
lelah, pada klien nifas didapatkan keterbatasan aktivitas karena mengalami
kelemahan dan nyeri.
d. Pola eleminasi
Pada pasien pos partum sering terjadi adanya perasaan sering /susah
kencing selama masa nifas yang ditimbulkan karena terjadinya odema dari
trigono, yang menimbulkan inveksi dari uretra sehingga sering terjadi
konstipasi karena penderita takut untuk melakukan BAB.
e. Pola istirahat dan tidur
Pada klien nifas terjadi perubagan pada pola istirahat dan tidur karena
adanya kehadiran sang bayi dan nyeri epis setelah persalinan
f. Pola hubungan dan peran
Peran klien dalam keluarga meliputi hubungan klien dengan keluarga dan
orang lain.
g. Pola penanggulangan stres
Biasanya klien sering melamun dan merasa cemas.
h. Pola sensori dan kognitif
Pola sensori klien merasakan nyeri pada prineum akibat luka janhitan dan
nyeri perut akibat involusi uteri, pada pola kognitif klien nifas primipara
terjadi kurangnya pengetahuan merawat bayinya
i. Pola persepsi dan konsep diri
Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan kehamilanya, lebih-lebih
menjelang persalinan dampak psikologis klien terjadi perubahan konsep
diri antara lain dan body image dan ideal diri
j. Pola reproduksi dan sosial
Terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan seksual atau
fungsi dari seksual yang tidak adekuat karena adanya proses persalinan
dan nifas.
k. Pola tata nilai dan kepercayaan
Biasanya pada saat menjelang persalinan dan sesudah persalinan klien
akan terganggu dalam hal ibadahnya karena harus bedres total setelah
partus sehingga aktifitas klien dibantu oleh keluarganya.
6. Pemeriksaan fisik
a. Kepala
Bagaimana bentuk kepala, kebersihan kepala, kadang-kadang terdapat
adanya cloasma gravidarum, dan apakah ada benjolan
b. Leher
Kadang-kadang ditemukan adanya penbesaran kelenjar tiroid, karena
adanya proses menerang yang salah.
c. Mata
Terkadang adanya pembengkakan pada kelopak mata, konjungtiva, dan
kadang-kadang keadaan selaput mata pucat (anemia) karena proses
persalinan yang mengalami perdarahan, sklera kuning.
d. Telinga
Biasanya bentuk telinga simetris atau tidak, bagaimana kebersihanya,
adakah cairan yang keluar dari telinga.
e. Hidung
Adanya polip atau tidak dan apabila pada pos partum kadang-kadang
ditemukan pernapasan cuping hidung
f. Dada
Terdapat adanya pembesaran payudara, adanya hiperpigmentasi areola
mamae dan papila mamae.
g. Abdomen
Pada klien nifas abdomen kendor kadang-kadang striae masih terasa
nyeri. Fundus uteri 3 jari dibawa pusat.
h. Genitalia
Pengeluaran darah campur lendir, pengeluaran air ketuban, bila terdapat
pengeluaran mekomium yaitu feses yang dibentuk anak dalam kandungan
menandakan adanya kelainan letak anak.
i. Anus
Kadang-kadang pada klien nifas ada luka pada anus karena ruptur.
j. Ekstermitas
Pemeriksaan odema untuk melihat kelainan-kelainan karena
membesarnya uterus, karena preeklamsia atau karena penyakit jantung
atau ginjal.
k. Muskulis skeletal
Pada klien post partum biasanya terjadi keterbatasan gerak karena adanya
luka episiotomi.
l. Tanda-tanda vital
Apabila terjadi perdarahan pada pos partum tekanan darah turun, nadi
cepat, pernafasan meningkat, suhu tubuh turun.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis.
2. Kecemasan berhubungan dengan keselamatan janin dan ibunya.
3. Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurang pemahaman tentang
penyebab dan akibat penyakit.
4. Resiko infeksi dengan faktor resiko ketuban pecah dini.
C. Intervensi Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis.
NOC : Kontrol nyeri
a. Intensitas nyeri 4
b. Skala nyeri 4
c. Frekuensi nyeri 4
d. Tanda-tanda vital 4
e. Ekspresi wajah meringis 4

Keterangan outcomes:
1 = Deviasi berat dari kisaran normal
2 = Deviasi cukup berat dari kisaran normal
3 = Deviasi sedang dari kisaran normal
4 = Deviasi ringan dari kisaran normal
5 = Tidak ada deviasi dari kisaran normal

NIC : Manajemen nyeri


1. Lakukan pengkajian ulang nyeri.
2. Observasi reaksi non verbal pasien.
3. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi.
4. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri.
5. Tingkatkan istirahat.
6. Ajarkan teknik non farmakologi.
7. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri.
8. Evaluasi keefektifan control nyeri.
2. Kecemasan berhubungan dengan kurang pengetahuan dan hospitalisasi.
NOC : Anxiety control dan Coping
a. Identifikasi cemas 4
b. Kontrol Cemas 4
c. Tanda-tanda vital 4
d. Postur tubuh 4
e. Ekspresi wajah 4
f. Bahasa tubuh 4
g. Tingkat aktivitas 4

Keterangan outcomes:
1 = Deviasi berat dari kisaran normal
2 = Deviasi cukup berat dari kisaran normal
3 = Deviasi sedang dari kisaran normal
4 = Deviasi ringan dari kisaran normal
5 = Tidak ada deviasi dari kisaran normal

NIC : Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)


1. Gunakan pendekatan yang menenangkan
2. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien
3. Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
4. Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut
5. Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis
6. Dorong keluarga untuk menemani anak
7. Lakukan back / neck rub
8. Dengarkan dengan penuh perhatian
9. Identifikasi tingkat kecemasan
10. Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
11. Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi
12. Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi
13. Kolaborasi pemberian obat untuk mengurangi kecemasan

3. Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurang pemahaman tentang proses


penyakit.
NOC : Kowlwdge : disease process dan Kowledge : health Behavior
a. Paham tentang penyakit 4
b. Paham tentang kondisi penyakit 4
c. Paham tentang prognosis peyakit 4
d. Paham tentang program pengobatan penyakit 4
Keterangan outcomes:
1 = Berat
2 = Cukup berat
3 = Sedang
4 = Ringan
5 = Tidak ada

NIC : Teaching: disease Process

1. Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit


yang spesifik
2. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan
dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.
3. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara
yang tepat
4. Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
5. Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat
6. Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat
7. Hindari harapan yang kosong
8. Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang
tepat
9. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah
komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit
10. Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
11. Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion
dengan cara yang tepat atau diindikasikan
12. Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat
13. Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada
pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat

4. Resiko infeksi dengan faktor resiko ketuban pecah dini.


NOC : Deteksi Resiko dan Kontrol Resiko
a. Mengenali tanda dan gejala yang mengidentifikasi resiko 4
b. Memonitor perubahan status kesehatan 4
c. Mengidentifikasi faktor resiko 4
d. Mengenali faktor resiko 4
Keterangan outcomes:
1 = Deviasi berat dari kisaran normal
2 = Deviasi cukup berat dari kisaran normal
3 = Deviasi sedang dari kisaran normal
4 = Deviasi ringan dari kisaran normal
5 = Tidak ada deviasi dari kisaran normal
NIC : Kontrol Infeksi, Perlindungan Infeksi

1. Ganti peralatan perawatan per pasien sesuai protocol.


2. Anjurkan pasien mengenai teknik mencuci tangan dengan benar.
3. Pasikan penanganan aseptic dari semua saluran IV.
4. Monitor kerentanan terhadap infeksi.
5. Berikan perawatan kulit yang tepat periksa kulit dan selaput lendir untuk
adanya kemerahan, kehangatan ekstrim atau drainage.
6. Ajarkan pasien dan keluarga bagaimana cara menghindari infeksi.
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., & Wagner, C. M. (2016). Nursing Interventions
Classification (NIC), edisi ke-6. Singapore: Elsevier.

Herdman, H. T., & Kamitsuru, S. (2015). Nanda International Inc. diagnosis keperawatan: definisi dan
klasifikasi 2015-2017. Jakarta: EGC.

Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2016). Nursing Outcomes Classification (NOC),
5th edition. Singapore: Elsevier.

Sunarti. (2017). Manajemen Asuhan Kebidanan Intranatal Pada Ny. "R" Gestasi 37-38 minggu
dengan Ketuban Pecah Dini (KPD) Di RSUD Syekh Yusuf Kabupaten Gowa Tahun 2017.
Naskah Publikasi .