Anda di halaman 1dari 13

TRAINING OF TRAINER (TOT)

TERAPI ICE MASASE

DISUSUN OLEH :

MAHASISWA PROFESI NERS STIKIM

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU
TAHUN 2019
A. TOPIK
Pengaruh Terapi Dingin Ice Message Terhadap Perubahan Intensitas Nyeri Pada
Penderita Low Back Pain

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dalam memberikan asuhan
keperawatan gerontik pada lansia dengan gangguan Low Back Pain di STW RIA
Pembangunan, Jakarta Timur.

2. Tujuan Khusus
a. Bagi Mahasiswa
Agar mahasiswa dapat mengetahui tentang definisi nyeri Low Back Pain,
etiologi nyeri, patofisiologis, manifestasi klinik, pemeriksaan penunjang, dan
pengaruh terapi ice massaage masalah keperawatan gangguan rasa nyaman
nyeri di STW RIA Pembangunan Cibubur.
b. Bagi Care Giver
Agar care giver mampu melakukan tindakaan ice massaage pada pasien Low
Back Pain.

C. PENDAHULUAN
Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari
proses kehidupan yang tak dapat dihindarkan dan akan dialami oleh setiap
individu. Pada tahap ini individu mengalami banyak perubahan baik secara fisik
maupun mental, khususnya kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan
yang pernah dimilikinya. Salah satu perubahan fisik yang dialami oleh lansia
adalah nyeri pada punggung bawah atau Low Back Pain (Samsun, 2011).
Nyeri adalah suatu sensori subjektif dan pengalamn emosional yang
tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang aktual atau
potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian dimana terjadi kerusakan
(Potter & Perry, 2005).
Low Back Pain (LBP) atau yang sering disebut dengan nyeri punggung
bawah (NPB) merupakan keluhan yang sering dijumpai. LBP untuk selanjutnya
adalah nyeri yang dirasakan di daerah punggung bawah, dapat merupakan nyeri
lokal maupun nyeri radikular atau keduanya (Mahadewa & Maliawan, 2009).
Nyeri ini terasa diantara sudut iga terbawah dan lipat bokong bawah yaitu di
daerah lumbal atau lumbal-sakral dan sering disertai dengan penjalaran nyeri ke
arah tungkai dan kaki. Menurut Sigamani (2007) nyeri adalah pengalaman sensori
dan emosional yang tidak menyenangkan yang dapat disertai dengan kerusakan
jaringan akut atau potensial.
Keluhan low back pain ini menempati urutan kedua tersering setelah nyeri
kepala di Amerika Serikat dan lebih dari 80% penduduk pernah mengeluh low
back pain. Faktanya LBP merupakan penyebab umum ketidakmampuan ketiga di
Amerika Serikat (MacCann, 2003). LBP merupakan penyebab kedua kehilangan
waktu kerja, penyebab kelima untuk hospitalisasi, dan alasan ketiga prosedur
bedah.
Data epidemiologi mengenai nyeri punggung bawah di Indonesia belum ada.
Namun diperkirakan 40% penduduk Jawa Tengah berusia 65 tahun pernah
menderita LBP dan prevalansinya pada laki-laki18,2% dan pada wanita 13,6%
(Mahadewa & Maliawan, 2009). Dari hasil penelitian secara nasional yang
dilakukan di 14 kota di Indonesia oleh kelompok nyeri Persatuan Dokter Saraf
Seluruh Indonesia atau PERDOSSI (2002) dalam Purba dan Susilawaty (2008)
ditemukan 18,13% penderita nyeri punggung bawah dengan rata-rata nilai VAS
(Visual Analog Scale) sebesar 5,46±2,56 yang berarti nyeri sedang sampai berat.
LBP tidak mengenal perbedaan umur, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial
dan tingkat pendidikan. Setiap orang bisa terkena LBP. Lebih dari 80% umat
manusia dalam hidupnya pernah mengalami LBP (Sunarto, 2005). LBP dapat
diderita oleh semua kalangan dengan berbagai faktor penyebab misalnya
pekerjaan atau aktifitas yang dilakukan dengan tidak benar, seperti aktifitas
mengangkat barang yang berat, pekerjaan yang menuntut pekerjanya untuk duduk
dalam waktu yang lama, seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Lizawati
(2009) tentang hubungan lama duduk terhadap terjadinya LBP pada pengemudi
antar kota dalam provinsi Riau. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa dari
kelompok yang duduk dalam waktu singkat hanya 34,4% mengalami LBP
sedangkan dari kelompok yang duduk lama 61,4% mengalami LBP. Berdasarkan
uji chi square didapatkan hasil bahwa ada hubungan antara lama duduk terhadap
terjadinya LBP pada pengemudi angkutan antar kota.
Nyeri punggung bawah yang dirasakan ini tentunya dapat menjadi masalah
jika mengganggu aktifitas sehari-hari. Bagi pekerja nyeri ini tentu akan
mengganggu pekerjaannya dan mengurangi produktifitasnya. Akibat dampak
yang dapat dirasakan oleh penderita LBP, maka perlu dilakukan upaya untuk
mengurangi nyeri. Mengurangi nyeridapat dilakukan menggunakan terapi
farmakologis ataupun menggunakan terapi nonfarmakologis yaitu tanpa
menggunakan obat-obatan. Salah satu bentuk terapi nonfarmakologis adalah
fisioterapi berupa terapi dingin (cryotherapy) yaitu prosedur yang sederhana dan
efektif untuk menurunkan spasme otot sehingga dapat mengurangi nyeri
(Sigamani, 2007). Metode terapi dingin yang dapat digunakan yaitu ice massage.
Ice massage adalah tindakan pemijatan dengan menggunakan es pada area yang
sakit. Tindakan ini merupakan hal sederhana yang dapat dilakukan untuk
menghilangkan nyeri. Pemberian ice massage dilakukan selama 5 sampai 10
menit.
Berdasarkan data pengkajian oleh mahasiswa Profesi Ners STIKIM
didapatkan lansia dengan nyeri punggung atau Low Back Pain di STW RIA
Pembangunan sebanyak 3 lansia. Sehingga mahasiswa Profesi Ners STIKIM
tertarik untuk melakukan Training Of Trainer (TOT) dengan menggunakan
terapi dingin ice message terhadap perubahan intesistas nyeri pada penderita Low
Back Pain di STW RIA Pembangunan, Jakarta Timur.

D. LANDASAN TEORI

1. Pengertian
Nyeri adalah suatu sensori subjektif dan pengalamn emosional yang
tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang aktual atau
potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian dimana terjadi
kerusakan. (Potter & Perry, 2005).
Low back pain (LBP) atau nyeri punggung belakang adalah suatu
sindroma nyeri yang terjadi pada regio punggung bagian bawah yang
merupakan akibat dari berbagai sebab (kelainan tulang punggung/spine sejak
lahir, trauma, perubahan jaringan, pengaruh gaya berat). LBP merupakan
keluhan yang sering kita dengar dari orang usia lanjut, namun tidak tertutup
kemungkinan dialami oleh orang usia muda (Vira, 2009).
LBP atau NPB (Nyeri Pungung Bawah) didefinisikan sebagai nyeri yang
terlokalisasi pada vertebra thorakalis 12 sampai gluteus inferior dengan atau
tanpa nyeri pada bagian kaki dan bukan merupakan suatu penyakit. Sinaki dan
Mokri meyebutkan nyeri punggung bawah mekanik merupakan nyeri
punggung nondiskogenik yang disebabkan oleh aktivitas fisik dan berkurang
dengan istirahat. Nyeri ini berhubungan dengan stress/strain otot-otot
punggung, tendon dan ligamen yang biasanya ada bila melakukan aktivitas
sehari-hari berlebihan, duduk atau berdiri yang terlalu lama juga mengangkat
benda berat. Nyeri tidak disertai hipestesi, parestesi, kelemahan atau defisit
neurologi.Selama hidupnya, 50-80% orang dewasa pernah mengalami LBP
dan 90% diantaranya merupakan LBP karena faktor mekanik.

2. ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI


Etiologi LBP dapat berupa:
a. LBP Traumatik
Lesi traumatik dapat dimasukkan dalam kategori lesi mekanik. LBP
traumatik dibagi menjadi 2 yaitu :
1) Trauma pada unsur miofasial
Setiap harinya ribuan orang mendapat trauma miofasial, baik karena
pekerjaan kasar yang menyebabkan pembebanan berkepanjangan pada
tulang lumbosakral, keadaan tubuh yang tidak optimal seperti
kegemukan, terlalu banyak duduk dan terlalu kaku karena tidak
mengadakan gerakan untuk mengendurkan otot-ototnya. Tonus otot
yang buruk (otot-otot yang sudah mengendur karena kurang
berolahraga), obesitas, duduk dengan tulang belakang melengkung,
bekerja sambil duduk berjam-jam dan sebagainya merupakan
pembebanan berkepanjangan yang menyebabkan nyeri pada punggung
bawah. Pada umumnya faktor-faktor trauma tersebut mengenai otot,
fasial dan ligamen yang dikenal sebagai LBP Mekanik miofasial.
2) Trauma pada komponen keras
LBP akibat trauma fraktur kompresi di vertebra torakal bawah atau
lumbal atas. Fraktur kompresi juga dapat terjadi pada kondisi tulang
patologik karena trauma ringan, kolumna vertebralis yang sudah
osteoporotik, tulang belakang yang sudah ditempati metastase
cenderung mengalami fraktur kompresi karena trauma sedang.
b. LBP akibat proses degeneratif
Perubahan degeneratif pada vertebra lumbo sakralis dapat terjadi pada
korpus vertebra berikut arkus dan prosesus artikularis serta ligament yang
menghubungkan bagian-bagian ruas tulang belakang satu dengan yang lain.
Dulu proses degeneratif ini dikenal sebagai osteoartrosis deformans tapi
kini dinamakan spondilosis. Perubahan degeneratif juga dapat terjadi pada
annulusfibrosus diskus intervertebralis yang bila suatu saat terobek dapat
disusul dengan protusio diskus intervertebralis yang akhirnya menimbulkan
Hernia Nukleus Pulposus (HNP). Unsur tulang belakang lain yang sering
mengalami proses degeneratif ialah kartilago artikularis yang dikenal
sebagai osteoartritis.
c. LBP akibat proses inflamasi
Sering dijumpai pada usia muda antara 25 sampai 45 tahun.
a) LBP pada artritis rematoid
Artritis rematoid sering timbul sebagai penyakit akut. Apabila nyeri
punggung dirasakan pada sindroma poliartritis yang memperlihatkan
ciri bilateral maka sangat mungkin LBP tersebut disebabkan oleh
artritis rematoid.
b) LBP pada spondilitis angkilopoetika
Keluhan yang paling dini dialami oleh spondilitis angkilopoetika ialah
nyeri punggung dan nyeri pinggang. Sifatnya adalah pegal-kaku dan
pada waktu dingin dan lembab.
c) LBP akibat gangguan metabolisme atau LBP osteoporotik
Nyeri bersifat pegal. Keluhan juga dapat berupa nyeri yang tajam atau
nyeri radikuler. Terdapat fraktur kompresi yang menjadi komplikasi
osteoporosis tulang belakang. Kompresi terjadi pada Th.XII dan L.I.
Daerah nyeri terletak dibawah gibus. Nyeri radikular dirasakan bertolak
dari kedua sisi puncak gibus dan menjalar sebagai nyeri intercostal
Th.XII.
3. FAKTOR RISIKO LBP
Faktor risiko dibagi atas dua kelompok utama yaitu faktor risiko
berhubungan dengan pekerjaan dan faktor risiko berhungan dengan pasien:
a. Faktor risiko yang berhubungan dengan pekerjaan, pekerjaan yang kasar
dan berat dianggap sebagai penyebab nyeri pada lebih dari 60 % pasien
LBP, mengangkat, menarik dan mendorong, memuntir, terpeleset, duduk
lama, baik sendiri atau bersama dpat menimbulkan LBP.
b. Faktor risiko yang berhubungan dengan pasien
1) Umur
2) Kemungkinan perkembangan LBP meningkat secara perlahan sampai
berumur ± 55 tahun.
3) Jenis kelamin
4) Pria dan wanita mempunyai risiko LBP yang sama sampai umur 60
tahun, setelah itu wanita mempunyai risiko lebih besar oleh karena
terjadi osteoporosis.
c. Faktor antropometri
Tidak ada hubungan yang erat antara tinggi, berat dan bentuk tubuh
dengan LBP. Bagaimanapun risiko LBP lebih tinggi pada orang obese dan
kemungkinan pada orang tinggi.
d. Faktor postur
Kemungkinan perubahan postur yang berhubungan dengan LBP adalah
skoliosis, kifosis, lordosis lumbal yang berlebihan atau berkurang dan
diskrepansi tungkai.
e. Mobilitas vertebra
Sebagian besar pasien LBP mengalami paling tidak sedikit keterbatasan
lingkup gerak sendi (LGS) vertebra lumbal.
f. Kekuatan otot
Beberapa studi memperlihatkan pada pasien – pasien LBP kekuatan otot
abdominal, spinal menurun.
g. Kebugaran fisik
Penelitian yang dilakukan pada petugas pemadam kebakaran di Los
Angeles memperlihatkan bahwa kebugaran dan kondisi fisik berefek
mencegah terjadinya cedera punggung bawah.
4. MANIFESTASI KLINIK
McKenzie mengemukakan tiga gejala utama yang termasuk dalam
kelompok LBP Mekanik :
a. Sindroma Postural
Biasanya dijumpai pada usia dibawah 30 tahun terutama mereka yang
pekerjaannya memerlukan posisi duduk dan kurang berolah raga, nyerinya
bersifat intermiten dan timbul akibat deformasi jaringan lunak, ketika
jaringan lunak sekitar segmen lumbalis dalam posisi teregang dalam waktu
yang lama. Terlihat dalam posisi duduk yang salah termasuk adanya
forward head rounded shoulders dan fleksi berlebihan dari pinggang
bawah.
b. Sindroma disfungsi
Biasanya dijumpai pada usia diatas 30 tahun, kecuali jika disebabkan oleh
trauma sering dijumpai adanya postur yang buruk dalam jangka waktu lama
(lebih dari 10 tahun) dan berupa hasil akibat spondylosis, trauma, atau
derangement. Sindroma disfungsi adalah gejala kedua di mana terjadinya
adaptive shorthening dan hilangnya mobilitas yang menyebabkan nyeri
sebelum dapat mencapai gerakan akhir secara penuh. Kondisi ini timbul
karena gerakan yang dihasilkan tidak cukup dilakukan pada saat
pemendekan jaringan lunak berlangsung. Disfungsi ini dinamai berdasarkan
gerakan yang hilang atau dibatasi misalnya disfungsi fleksi akan membatasi
kemampuan seorang individu untuk membungkuk ke depan di daerah
tulang belakang.
c. Sindroma derangement
Biasanya dijumpai pada usia antara 20-55 tahun, pasien mempunyai sikap
duduk yang salah. Sindroma derangement adalah situasi di mana posisi
istirahat yang normal dari dua permukaan artikular vertebra yang
berdekatan terganggu sebagai akibat dari perubahan posisi cairan
nukleus.Perubahan posisi nukleus juga dapat mengganggu materi anular.
Perubahan dalam sendi akan mempengaruhi kemampuan permukaan sendi
untuk bergerak dalam jalur normal. Kondisi ini menjadi menyakitkan ketika
terjadi intrudes nukleus pada jaringan lunak yang sensitif terhadap nyeri.
Gejala cenderung tersentralisasi dan akhirnya berkurang sebagai hasil dari
relokasi diskus dan deformitas jaringan sekitarnya berkurang.
5. PENATALAKSANAAN
Tujuan penatalaksanaan adalah
a. Mengatasi nyeri
b. Meningkatkan lingkup gerak sendi
c. Memperbaiki kekuatan otot
d. Meningkatkan atau mempertahankan fungsi

Ada 2 kategori penatalaksanaan LBP yaitu:


a. Konservatif
1) Tirah baring
Tirah baring berguna untuk mengurangi rasa nyeri mekanik dan
tekanan intradiskal yang dianjurkan pada pasien HNP.
2) Medikamentosa
Obat – obatan yang diberikan dapat berupa analgetik dan NSAID,
muscle relaxant,opioid, kortikosteroid oral maupun analgetik adjuvan.
3) Terapi Modalitas (Ice Massage)
Ice massage sangat tepat digunakan pada anggota tubuh yang datar
seperti punggung, sholder, group otot quadiceps dan group otot
hamstring. Dapat juga diberikan pada derah yang tidak begitu lebar
misalnya pada muscle belly, tendon, bursa, atau trigger poin sebelum
dilakukan deep-pressure massage. Keuntungan ice massage adalah
pengaruhnya lebih terlokalisir. Lama terapi sekitar 5 hingga 10 menit.
Bentuk pecahan es yang digunakan adalah silindris atau kubus, arah
gerakan sirkuler atau bisa juga merupakan garis lurus. Pemberian ice
massage dihentikan bila sudah timbulan aesthesia relatif pada kulit bila
kulit dikenai es.

E. PENGORGANISASIAN
Leader : Maulita Purwita Sari
Co-Leader : Joseph Bhay
Fasilitator : 1. Riska Kwar
2. Darwi Sela
Observer : 1. Yulien Termature
2. Fitri Amalia

F. METODE
a. Seminar
b. Roll Play
G. WAKTU
Hari/Tanggal : Jumat, 15 November
Pukul : 10.00 WIB – Selesai
H. TEMPAT
Tempat : Ruang Melati
I. MEDIA
Infokus
J. PROSES PELAKSANAAN
Ice massage sangat tepat digunakan pada anggota tubuh yang datar seperti
punggung, sholder, group otot quadiceps dan group otot hamstring. Dapat juga
diberikan pada derah yang tidak begitu lebar misalnya pada muscle belly, tendon,
bursa, atau trigger poin sebelum dilakukan deep-pressure massage. Keuntungan ice
massage adalah pengaruhnya lebih terlokalisir. Lama terapi sekitar 20 hingga 30
menit.
Bentuk pecahan es yang digunakan adalah silindris atau kubus, arah gerakan
sirkuler atau bisa juga merupakan garis lurus. Pemberian ice massage dihentikan
bila sudah timbulanaesthesia relatif pada kulit bila kulit dikenai es.
Dalam penatalaksanaan hidroterapi dengan cold pack, tahap-tahap
penatalaksanaannya adalah sebagai berikut:
1. Persiapan
Persiapan alat
Alat yang digunakan untuk terapi harus tersedia sesuai dengan metode terapi.
Berikut alat-alat yang digunakan untuk ice masage:
 Plastik lembaran + 1 m2
 Handuk
 Selimut
 Bongkahan es batu
 Plastik untuk membungkus es batu

2. Tahap Orientasi
Pasien diberikan pengetahuan / diberi tahu tentang perlakuan-
perlakuan apa saja yang akan diberikan oleh terapis kepada pasien.
Pelaksanaan terapi terkait dengan pemilihan metode terapi. Yang
perlu diperhatikan juga adalah pengaturan dosis dan juga pengaturan posisi
pasien. Posisi pasien dapat diposisikan seperti yang telah diuraikan di atas.
Misalkan daerah yang akan diterapi pada bagian posterior pasien, misalnya
punggung bawah.
3. Tahap Kerja
1. Pasien diposisikan tengkurap seperti yang telah dijabarkan di atas, tetapi
selimut hanya sebatas pelvic.

2. Plastik lembaran dilipat kemudian diselimutkan ke bagian tubuh pasien


yang belum diselimuti ( daerah pelvic ke atas sampai leher ). Sisa plastik
tersebut dilipatkan ke arah bawah.

3. Lapisan plastik dibuka terlebih dulu hingga hanya tersisa satu lapis saja
setelah itu baru bungkusan es tersebut mulai dimassagekan ke punggung
pasien. Cara massage-nya adalah dengan salah satu tangan memfiksasi
plastik agar tidak bergeser, kemudian tangan yang lainnya menekan es
tersebut ke punggung pasien ke arah bawah (caudal) kemudian dingkat
dan diulangi lagi massage dari atas ke bawah.

4. Tanyakan pada pasien apakah sudah merasa cukup dengan


penekanan/massage tersebut.

5. Lakukan ice massage selama 20 hingga 3 menit.

6. Perhatikan kenyamanan pasien.

7. Setelah selesai, selimut dibuka selebar pelvic.

8. Plastik dibuka, lipatan handuk juga dibuka

9. Es diambil, handuk diambil.


4. Tahap Terminasi
1. Rapikan peralatan.

2. Evaluasi dan dokumentasi

Evaluasi dan dokumentasi bertujuan untuk:


a) Melihat / mengetahui efek hasil terapi

b) Membandingkan kondisi patologis sebelum dan sesudah diberikan


terapi

c) Menentukan tindakan / terapi selanjutnya.

Selama dilakukan ice massage, pasien akan merasakan setidaknya empat


macam sensasi yakni, dingin yang menyengat, panas, sakit (nyeri), kemudian
analgesik. Rasa nyeri dan terbakar akan berlalu dengan cepat sekitar 1-2 menit.
Sensasi tersebut akan terasa lebih lama jika pasien hipersensitif.
Setelah 3 menit, akan timbul perasaan kaku, tebal, anaesthasia relatif (rasa nyeri
tidak ada). Kemudian setelah 5 hingga 10 menit akan timbul hiperemia pada daerah
yang bersangkutan.
DAFTAR PUSTAKA

Arovah, Novita Intan. (2010). Dasar-Dasar Fisioterapi pada Cedera Olahraga.


Yogyakarta: Pustaka Ilmu
Kozier, B. et al. (2002). Kozier & Erb’s techniquesin clinical nursing. (5th ed).
Newjersey: Prenticehall
Miller, Carol A.1999.Nursing Care of Older Adults: Theory and Practice.Philadepia:
Lippincott
Mahadewa, T. G. B., & Maliawan, S. (2009).Diagnosis dan tatalaksana kegawat
daruratantulang belakang. Jakarta: Sagung seto.
McCann, J. A. S. (2003). Pain management madeincredibly easy. Springhouse:
LippincottWilliams & Wilkins.
Potter. (2005). Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktik. Jakarta:
EGC. Hlm 1502-1533
Stanley, Mickey, and Patricia Gauntlett Beare. 2006.Buku Ajar Keperawatan
Gerontik, ed 2. Jakarta:EGC
Samsun, Ahmad. (2011). Keperawatan Gerontik. Jakarta : Salemba Medika
Toni Setiabudhi dan Hardiwinoto. (1999).Panduan Gerontologi Tinjauan dari
Berbagai Aspek.Jakarta:Gramedia Pustaka Utama
Tamher, Noorkasiani.2009.Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan Asuhan
Keperawatan.Jakarta: Salemba Medika
Tamsuri, A. (2007). Konsep dan penatalaksanaan nyeri. Jakarta : EGC.
Vira, S. 2009. Pengaruh Ergonomi Terhadap Timbulnya Kejadian Low Back Pain I
(LBP) pada Pekerja Komputer di Kelurahan Gedong Meneng Bandar
Lampung Tahun 2009. Skripsi. Bandar Lampung.