Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI 19201

“Uji Aktivitas Antimikroba”

Selasa, 5 November 2019

Kelas B2/ Kelompok B2-6

Nama : 1. Alviyana Damayanti (182210101149)

2. Salma Luthfiana N (182210101150)

3. Aprilia Pratiwi (182210101151)

4. Intan Shania (182210101153)

Asisten Praktikum : Ilham Robbynoor (152210101036)

Zitni Hafiza (182210101019)

LABORATORIUM MIKROBIOLOGIDAN BIOTEKNOLOGI

BAGIAN BIOLOGI FARMASI FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS JEMBER

2019
BAB I
PEBDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mikroorganisme sangat erat kaitannya dengan kehidupan sekitar kita bahkan tinggal
di tubuh sebagai flora normal. Mikroorganisme dapat bersifat patogenik, oportunistik dan
bermanfaat bagi manusia dan juga lingkungan. Untuk mencegah penyaluran penyakit dan
penghilangan dari tubuh inang dan pengawetan makanan atau minuman dalam industri,
mikroorganisme dapat dihindarkan, dihambat ataupun dibunuh. Hal tersebut dapat
dijalankan melalui peningkatan atau penurunan intensitas suhu, cahaya dan kelembaban
secara fisik. Sedangkan secara kimia bisa dengan zat antibiotik/antimikroba.
Antibiotik/antimikroba ialah zat-zat yang diciptakan oleh mikroorganisme dan zat-zat
dalam jumlah yang sedikit pun dapat memiliki daya penghambat kegiatan mikroorganisme
yang lain (Dwidjoseputro, 2005).
Dalam cakupan kefarmasian, penyaki infeksi dapat diatasi dengan menggunakan
antibiotika. Penggunaan antibiotika yang tidak rasional dapat memicu mikroba patogen
menjadi resisten (Refdanita, et al., 2004) dan terlihatnya mikroba resisten ini menjadi
penyebab utama kegagalan pengobatan penyakit infeksi (Ibrahim, et al.,2011). Oleh karena
itu, dibutuhkan alternatif dalam mengatasi masalah ini dengan menggunakan bahan -
bahan aktif antimikroba dari tanaman obat.
Uji sensitivitas bakteri merupakan cara untuk memahami dan memperoleh produk
alam yang berpotensi sebagai bahan antimikroba dalam konsentrasi yang rendah.
Berdasarkan penjelasan di atas maka dilakukan praktikum uji daya kerja antimikroba dari
ekstrak berbagai tanaman yang dilakukan dengan 2 metode umum yaitu metode difusi agar
dan metoda dilusi (Pratiwi, S, T., 2008).
1.2 Tujuan Praktikum
1. Mampu melakukan uji aktivitas antimikroba
2. Mampu melakukan uji potensi antibiotik
1.3 Manfaat Praktikum
1. Praktikan dapat memahami berbagi uji aktivitas antimikroba serta kelemahan dan
kekurangannya.
2. Praktikan dapat melakukan uji potensi antimikroba dengan metodo dengan tepat secara
terampil.
BAB III

LANDASAN TEORI

Antimikorba adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri, zat tersebut
memiliki khasiat atau kemampuan untuk mematikan/menghambat pertumbuhan kuman
sedangkan toksisitas terhadap manusia relative kecil. Pernyataan tentang definisi antimikroba
menurut Waluyo (2004), antimikroba merupakan suatu zat-zat kimia yang diperoleh/dibentuk
dan dihasilkan oleh mikroorganisme, zat tersebut mempunyai daya penghambat aktifitas
mikororganisme lain meskipun dalam jumlah sedikit. Pengertian antimikroba menurut Entjang
(2003) dalam Rostinawati (2009), antimikroba adalah zat kimia yang dihasilkan oleh suatu
mikroba yang mempunyai khasiat antimikroba.

Antimikroba adalah obat yang digunakan untuk memberantas infeksi mikroba pada
manusia.Sedang antibiotika adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme
(khususnya dihasilkan oleh fungi) atau dihasilkan secara sintetik yang dapat membunuh atau
menghambat perkembangan bakteri dan organisme lain. Secara garis besar antimikroba dibagi
menjadi dua jenis yaitu yang membunuh kuman (bakterisid) dan yang hanya menghambat
pertumbuhan kuman (bakteriostatik). Antibiotik yang termasuk golongan bakterisid antara
lainpenisilin, sefalosporin, aminoglikosida (dosis besar), kotrimoksazol, rifampisin, isoniazid
danlain-lain. Sedangkan antibiotik yang memiliki sifat bakteriostatik, dimana penggunaanya
tergantung status imunologi pasien, antara lain sulfonamida, tetrasiklin, kloramfenikol,
eritromisin, trimetropim, linkomisin, klindamisin, asam paraaminosalisilat, dan lain-lain (Utami,
2011). Mekanisme penghambatan mikroorganisme oleh senyawa antimikroba dapat
disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) gangguan pada senyawa penyusun dinding sel,
(2) peningkatan permeabilitas membran sel yang dapat menyebabkan kehilangan cairan sel, (3)
menginaktivasi enzim, dan (4) destruksi atau fungsi material genetik (Susrama, 2012).

Beberapa sifat yang perlu dimiliki oleh zat antimikroba menurut Waluyo (2004) adalah
sebagai berikut :

1. Menghambat atau membunuh mikroba patogen tanpa merusak hospes atau inang,
yaitu antimikroba dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan mikroba bahkan
menghentikan pertumbuhan bakteri/membunuh namun tidak berpengaruh/merusak
pada hospes.
2. Bersifat bakterisida dan bukan bakteriostatik, yaitu antimikroba baiknya bersifat
bakterisida atau bersifat menghentikan laju pertumbuhan/membunuh mikroba bukan
bakteriostatik yang hanya menghambat laju pertumbuhan mikroba.
3. Tidak menyebabkan resistensi pada kuman atau mikorba, yaitu antimikroba tidak akan
menimbulkan kekebalan kepada mikroba sehingga antimikorba tidak dapat digunakan
untuk menghentikan pertumbuhan mikroba patogen lagi.
4. Berspektrum luas, yaitu antimikroba efektif digunakan untuk berbagai spesies bakteri,
baik bakteri kokus, basil, dan spiral.
5. Tidak menimbulkan alergenik atau menimbulkan efek samping bila digunakan dalam
jangka waktu lama, yaitu antimikroba yang digunakan sebagai obat tidak menimbulkan
efek samping kepada pemakai jika digunakan dalam jangka waktu yang lama.
6. Zat antimikroba tetap aktif dalam plasma, cairan tubuh atau eskudat, antimikroba yang
berada dalam plasma atau cairan tubuh tetap bersifat aktif dan tidak dalam keadaan
berhenti tumbuh atau dormansi.
7. Zat antimikroba dapat larut dalam air dan stabil, antimikroba dapat larut dan menyatu
dalam air.

Metode pengujian daya antimikroba bertujuan untuk menentukan konsentrasi suatu zat
antimikroba sehingga memeperoleh suatu sustem pengobatan yang efektif dan efisien.
Terdapat dua metode untuk menguji daya antimikroba, yaitu dilusi dan difusi. Menurut Pratiwi
(2008) dalam Atikah (2013) metode difusi dan metode dilusi terbagi menjadi beberapa metode,
yaitu:

1. Metode Difusi adalah pengukuran dan pengamatan diameter zona bening yang
terbentuk di sekitar cakram, dilakukan pengukuran setelah didiamkan selama 18-24
jam dan diukur menggunakan jangka sorong (Khairani, 2009; Sari, dkk,2013)
 Ditch plste technique, zat antimirkoba diletakkan pada parit yang dibuat dengan
cara memotong media agar dalam cawan petri pada bagian tengah secara
membujur dan bakteri uji digoreskan ke arah parit.
 Cup-plate technique, metode ini hampir sama dengan metode disc diffusion
namun bedanya tidak menggunakan kertas. Pada media agar dibuat sumur, dan
pada sumur tersebut diberi zat antimikroba.
 Gradient-plate technique, media agar dicairkan dan ditambahkan larutan uji
kemudian campuran tersebut dituangkan ke dalam cawan petri dan diletakkan
dalam posisi miring.
 Metode disc diffusion atau metode Kirby Baure, metode ini menggunakan
kertas cakram yang berisi zat antimikroba dan diletakkan pada media agar yang
telah ditanami bakteri uji.
 Metode E-Test digunakan untuk menentukan KHM (Kadar Hambat Minimum),
yaitu konsentrasi minimal zat antimikroba dalam menghambat pertumbuhan
bakteri uji. Metode ini menggunakan strip plastik yang telah berisi zat
antibakteri dan diletakkan pada media agar.
2. Metode Dilusi dibedakan mejadi dua, yaitu:
 Metode Dilusi cair/ broth dilution test, digunakan untuk mengukur KHM dan
KBM. Zat antimikroba diencerkan pada medium cair yang telah ditambhakan
bakteri uji. Larutan antimikroba dengan kadar terkecil dan terlihat jernih
ditetapkan sebagai KHM. KHM dikultur ulang pada media cair tanpa
penambahan bakteri dan zat antimirkoba, kemudian diinkubasi selama 18-24
jam. Media yang tetap cair ditetapkan sebagai KBM.
 Metode dilusi padat/ solid dilution test, metode ini hampir sama dengan
metode dilusi cair, namun menggunakan media padat/solid. Metode dilusi
padat dapat menguji beberapa macambakteri dalam satu konsentrasi zat
antimikroba.
BAB III

METODE

3.1 Alat dan Bahan

 Alat : jangka sorong,corb bores,seperangkat KLT,ring


 Bahan : Media Kultur Muller Hinton (MH),sampel,cakram antibiotik,biakan bakteri

3.2 Prosedur Kerja


3.2.1 Persiapan Biakan Bakteri Uji

Dicaikan media MH steril yang berada dalam tabung reaksi. Tuang kedalam cawan petri
secara aseptis. Tunggu hingga mengeras.

Diberi bakteri uji pada permukaan media agar dengan metode swap

3.2.2 Metode Sumuran

Dibuat sumuran pada media agar dengan menggunakan cork borer steril

Masukan sempel uji dan larutan baku standar antibiotik ke dalam sumuran

Diinkubasi selama ±24 jam pada suhu 37°C

3.2.3 Metode Peper Filter Disk

Ditempelkan paper filter disk steril diatas media agar yang sudah diberi bakteri

Diteteskan 10 Ʋl sampel dan larutan baku standar antibiotik ke atas paper filter disk

Diinkubasi selama ±24 jam pada suhu 37°C

3.2.4 Metode TLC Bioautography

Disiapkan sampel yang sudah dieluasi dengan sistem KLT terntentu. Keringkan lempeng
KLT hingga benar-benar bebas dari fase gerak.
Ditemplekan lempeng KLT pada media agar yang sudah diberi bakteri uji ( sampel
kontak langsung dengan media )

Diinkubasi selama ±24 jam pada suhu 37°C

3.2.5 Analisi Data

Data berupa diameter hambat pada setiap sampel dan larutan baku standar diukur
dengan jangka sorong

Dilakukan analisi data berdasrkan uji aktivitas antibakteri dan uji potesi antibiotik

Tabel Sensivitas Antibiotik


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Metode Paper Filter Disk
Media : Mueller Hinton (MH)
Mikroba : Staphylococcus epidermidis
Metode : Paper filter disk
Kontrol positif : Gentamycin
Standar kekeruhan : Mc Farland
Pada praktikum kali ini dilakukan uji aktivitas antimikroba menggunakan paper filter
disk dengan media MH dan bakteri yang diuji adalah Staphylococcus epidermidis dengan
kontrol positif antibiotik gentamycin.
Pertama, panaskan media MH di atas hot plate hingga mencair, lalu dituang ke dalam
cawan petri steril tunggu hingga memadat. Kemudian, bakteri diencerkan pada Na
fisiologis, terus di vortex sampai sama keruhnya dengan pembanding Mc Farland. Lalu,
pipet 100 mikroliter sampel, ke masukkan dalam media yang memadat. Swap sampel
bakteri dengan merata. Beri label pada bawah cawan petri. Setelah itu, letakkan paper disk
dari setiap minyak ricini, mint, mawar pada bakteri yang diswap, lalu tutup cawan petri
dengan wrap dan diinkubasi selama 18 jam.
Setelah diinkubasi selama 18 jam didapatkan hasil:
 Pada minyak mint tidak terdapat daya hambat dikarenakan bakteri yang kami
tanam tidak sampai pada media yang diberi bahan uji.
 Didapatkan daya hambat sebesar 0,74; 0,64; 0,73 dengan rata rata 0,713 cm
pada minyak ricini. Dapat disipulkan bahwa minyak ricini memiliki potensi
antibiotik terhadap bakteri S. epidermidis.
 Diameter daa hambat pada minyak mawar ialah 0,575; 0, 54; 0,53 dengan rata
rata 0,548. Dapat disimpulkan bahwa minyak mawar memiliki potensi
antibiotik terhadap sampel bakteri.
 Diameter daya hambat pada kontrol negatif aquadest didapat 0,54; 0,56; 0,52
dengan rata rata 0,54. Dari hal tersebut, artinya kontrol negatif aquadest
memiliki potensi antibiotik dengan diameter daya hambat 0,54.
 Kontrol positif gentamycin memiliki diameterdaya hambat yang sangat kuat.
Diameter yang didapatkan 2,45; 2,69; 2,41 dengan rata rata 2,51 cm. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa gentamycin memiliki sifat bakteriostatik dengan
spektrum yang sangat luas yang menyebabkan daya hambat terhadap bakteri
dangat kuat

4.1.2 Metode TLC


Media : Mueller Hinton (MH)
Mikroba : Bacillus cereus
Metode : TLC
Kontrol positif : Gentamycin
Standar kekeruhan : Mc Farland
Langkah pertama pada percobaan adalah dengan memanaskan media MH di atas hot
plate hingga cair. Sambil menunggu cair, dibuat suspensi bakteri. Suspensi dibuat dengan
mengoleskan jarum ose ke biakan bakteri kemudian mencelupkannya ke larutan Na
fisiologis. Lalu, dihomogenkan dengan vortex. Suspensi kemudian dibandingkan dengan Mc
Farland.
Setelah media mencair, media dipindahkan ke cawan petri dan ditunggu hingga
mengeras. Setelah media mengeras, suspensi diambil sebanyak 50 mikroliter menggunakan
mikropipet, diteteskan pada cotton bud dan dioleskan di atas media.
Pada metode TLC digunakan plat KLT. Plat KLT diletakkan terbalik tepat di tengah
tengah cawan. Disamping kanan dan kirinya diberi kontrol positif gentamycin dan kontrol
negatif berupa aquadest. Setelah itu, cawan petri ditutup dengan plastik wrap dan
diinkubasi selama 18 jam.
Setelah 18 jam, pertumbuhan bakteri diamati. Pada kontrol positif gentamycin
terdapat daya hambat sebesar 2,68; 2,51; 2,265 cm dengan rata rata 2,485 cm. Sementara
pada kontrol negatif tidak terdapat daya hambat. Hal ini sudah sesuai bahwa kontrol positif
dapat memberikan aktivitas antimikroba sedangkan kontrol negatif tidak.
4.1.3 Metode Sumuran
Media : Mueller Hinton (MH)
Mikroba : Bacillus cereus
Metode : TLC
Kontrol positif : Gentamycin
Standar kekeruhan : Mc Farland
Pertama, media agar dipanaskan di atas hotplate hingga mencair. Mensterilisasi cawan
petri, setelah media agar mencair, tuang media ke dalam cawan petri dan ditunggu hingga
memadat. Lalu, disiapkan sampel bakteri S. epidermidis sambil memanaskan jarum ose,
tunggu hingga dingin, bakteri diambil sedikit dengan jarum ose diletakkan pada cawan
petri. Bakteri diratakan dengan spreader. Karena menggunakan metode sumuran, maka
setelah bakteri rata, media dalam cawan dilubangi (membentuk seperti sumuran) dengan
cork borer menjadi 4 lubang. Lubang 1 untuk kontrol positif dan ketiganya untuk kontrol
negatif. Debelum bakteri dimasukkan ke cawan petri, bakteri dmasukkan ke dalam
aquadest agar bakteri larut dan tanpa pengaruh osmotik lalu dibandingkan dengan Mc
Farland sampai keruhnya sama.
Setiap lubang kontrol negatif diberi ekstrak 10%, 20% dan 30%. Lalu ditutup dengan
plastik wrap dan diinkubasi selama 18 jam.
Setelah diinkubasi, aktivitas bakteri hanya terlihat pada kontrol positif, pada kontrol
negatif tidak terlihat adanya aktifitas bakteri. Seharusnya aktivitas bakteri tersebut juga
berada pada kontrol negatif. Hal tersebut kemungkinan disebabkan karena adanya
kontaminasi atau praktikan yang kurang berhati hati saat praktikum.
Dari hasil percobaan didapatkan diameter hambat pada kontrol positif gentamycin
sebesar 3,28; 3,005; 3,15 dengan rata rata 3,145. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
gentamycin memiliki daya hambat yang sangat kuat dengan spektrum yang sangat luas.

4.2 Pembahasan

Mikrobiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang mikroorganisme yang tidak


dapat dilihat dengan mata telanjang. Mikroorganisme dapat dikelompokkan menjadi virus,
jamur, bakteri, dan protista. Dalam melakukan penelitian mengenai mikroorganisme diperlukan
teknik atau cara khusus untuk mempelajari dan meneliti sifat serta karakter dari
mikroorganisme.

Antimikroba yaitu zat yang mampu membunuh pertumbuhan mikroorganisme sedangkan


antibiotik merupakan segolongan senyawa baik alami maupun sintetik, yang memiiki efek
menekan atau menghentikan suatu proses biokimia didalam organismne, terutama dalam
proses infeksi mikroba yang disebut antibiotik. Suatu antibiotik yang dapat membunuh
beberapa jenis mikroba disebut antibiotik yang berspektrum luas sedangkan antibiotik yang
hanya dapat membunuh satu jenis mikroba saja disebut antibiotik yang berspektrum sempit.

Antibakteri sendiri merupakan zat yang dapat dapat menganggu pertumbuhan atau
bahkan mematikan bakteri dengan cara menganggu metabolisme mikroba yang merugikan.
Mikroorganisme dikatakan berbahaya ketika kemampuan dalam menginfeksi dan menimbulkan
penyakit serta merusak bahan pangan . mekanisme kerja dari senyawa antibakteri yaitu yang
pertama menghambat sintesis dinding sel, kedua menghambat keutuhan permeabilitas dinding
sel bakteri, ketiga menghambat kerja enzim dan terakhir menghambat sintesis asam nukleat dan
protein.

Menurut Pratiwi (2008) terdapat tiga metode untuk menguji daya anti mikroba, yaitu
difusi, dilusi, dan autobiograf, yang akan dibagi menjadi beberapa macam lagi, namum pada
percobaan yang kami lakukan praktikan akan melakukan pengamatan uji aktivitas mikroba serta
melakukan ujji potensi antibiotik dengan menggunakan beberapa metode diantaranya metode
sumuran, metode paper filter disk dan metode TLC bioautography.

4.2.1 Metode Pengamatan

a. Metode sumuran atau Cup-Plate Technique


Metode sumuran/lubang yaitu membuat lubang pada agar padat yang telah diinokulasi
dengan bakteri. Jumlah dan letak lubang disesuaikan dengan tujuan penelitian,
kemudian lubang diinjeksikan dengan ekstrak yang akan diuji. Setelah dilakukan
inkubasi, pertumbuhan bakteri diamati untuk melihat ada tidaknya daerah hambatan di
sekeliling lubang (Kusmayati dan Agustin,2007).
b. Metode paper filter disk
Cara untuk menetapkan kerentanan organisme terhadap antibiotic dengan menginduksi
pelat agar dengan biakan dan membiarkan antibiotik terdifusi ke media agar.
c. Metode TLC bioautography
Prinsipnya dengan TLC (Thin Layer Chromatography) berdasarkan visualiasi senyawa yang
telah dipisahkan dengan TLC, baik secara langsung maupun dengan pengamatan dibawah sinar
UV. Metode ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi antibiotik yang belum diketahui metode
kimia dan fisikanya, karena hanya terbatas pada substansi yang murni.

4.2.2 Keunggulan Dan Kelemahan Dari Metode Diatas

a. Metode sumuran atau Cup-Plate Technique :


Keunggulan :
1. Mudah dan murah untuk dilakukan
2. Zona bening lebih mudah terlihat
3. Lebih mudah mengukur diameter daya hambat antibotik
Kelemahan :
1. Memerlukan waktu 24 jam untuk inkubasi.

2. Lebih mudah untuk terjadi kontaminasi.

b. Metode paper filter disk


Keunggulan :
1. Mudah dilakukan, tidak memerlukan peralatan khusus dan relative murah.
2. Penyebaran bakteri terlihat dengan jelas.
3. Zona bening lebih mudah untuk terlihat.
Kelemahan :
1. Ukuran zona bening yang terbentuk tergantung oleh kondisi inkubasi,
inokulumpredifusi, preinkubasi serta kelebihan dari medium itu sendiri.
2. Tidak dapat diaplikasikan pada mikroorganisme yang pertumbuhannya
lambat dan mikroorganisme yang bersifat anaerob obligat.
c. Metode TLC bioautography :
Keunggulan :
1. Lebih cepat, mudah dan ekonomis dibandingkan dengan kromatografi lainnya.
2. Deteksi dengan TLC membutuhkan 1 reagen
3. Tidak memerlukan alat yang mahal dan operator yang
handal.
Kekurangan :
1. Hanya sesuai untuk screeninga dengan sensitivitas dan akurasi yang rendah.
2. Pelarut penyambug TLC bersifat karsinogenik.
3. Sering terjadi interferensi oleh senyawa lainnya yang memiliki Rf sama, sehingga
butuh ekstrak .

4.2.3 Metode Yang Dilakukan Pada Uji Aktivitas Antibakteri


Pada praktikum kali ini digunakan teknik sebagai berikut:
1. Cup-Plate Technique atau Metode Sumuran
Membuat lubang atau sumuran pada agar padat yang telah disesuaikan dengan tujuan
penelitian, kemudian pada lubang diinjeksikan dengan ekstrak yang akan diuji. Setelah dilakukan
inkubasi, pertumbuhan bakteri diamati untuk melihat ada tidaknya daerah hambatan
disekeliling lubang.
2. Metode difusi cakram
Cara untuk menetapkan kerentanan organisme terhadap antibiotic dengan menginduksi
pelat agar dengan biakan dan membiarkan antibiotik terdifusi ke media agar.
3. TLC bioautography
Prinsipnya dengan TLC (Thin Layer Chromatography) berdasarkan visualiasi senyawa yang
telah dipisahkan dengan TLC, baik secara langsung maupun dengan pengamatan dibawah sinar
UV. Metode ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi antibiotik yang belum diketahui metode
kimia dan fisikanya, karena hanya terbatas pada substansi yang murni.
Praktikum kali ini dilksanakan dengan pembagian sebagai berikut:
a. Kelompok 1 Sumuran
b. Kelompok 2 Paper Filter Disk
c. Kelompok 3 Paper Filter Disk
d. Kelompok 4 TLC
4.2.4 Mekanisme Kerja Antibiotik

Struktur gentamicin

Gentamycim merupakan prototip golongan aminoglikosida. Aminoglikosida adalah


sekelompok obat-obatan bakterisid yang berasal dari berbagai spesies Streptomyces dan
mempunyai sifat kimiawi, antimikroba, farmakologi dan efek toksik yang sama. Selain
gentamisin, yang termasuk golongan aminoglikosida adalah streptomisin, kanamisin, neomisin,
amikasin, tobramisin, sisomisin, netilmisin, dll . Namun saat ini yang paling sering digunakan
seperti gentamisin, tobramisin dan amikasin (Katzung dkk, 2009).
Mekanisme kerjanya bakteri ini dengan menghambat sintesis protein pada bakteri.
Sintesis bakteri dihentikan setelah gentamicin terikat pada subunit 30S ribosom yang akan
mengkibatkan kode genetik pada mRNA tidak terbentuk subunit 70S, akibatnya biosintesis
protein pada bakteri dikacaukan.
Aminoglikosida adalah salah satu antibiotik pilihan untuk menangani infeksi serius.
Penggunaan antibiotik ini diindikasikan karena mempunyai spektrum luas terutama terhadap
infeksi kuman aerob gram negatif, dan berefek sinergis terhadap gram positif bila
dikombinasikan dengan antibiotik lain (misalnya β-laktam) (Rose, 2005).
Antibiotik ini mempunyai spektrum yang luas terhadap kuman aerob dan fakultatif basil
gram negatif. Aktifitasnya terutama terhadap Escherichia coli, Proteus mirabilis, dan Klebsiella
sp, Morganella sp, Citrobacter sp, Serratia sp dan Enterobacter sp, Pseudomonas sp,
Acinetobacter sp dan Haemophilus influenza (Leibovici dkk, 2009).
Aktifitas gentamisin adalah bakterisid, berdasarkan dayanya untuk menembus dinding
bakteri dan mengikat diri pada ribosom (partikel partikel kecil dalam protoplasma sel yang kaya
akan RNA, tempat terjadinya sintesa protein) di dalam sel. Proses translasi (RNA dan DNA)
diganggu sehingga biosentasa protein dikacaukan. Untuk menembus dinding bakteri mencapai
ribosom, aminoglikosida yang bermuatan kation positif akan berikatan secara pasif dengan
membran luar dinding kuman gram negatif yang mengandung muatan negatif (Radigan dkk,
2009).
4.2.5 Prinsip Terbentuknya Zona Hambat
Zona hambat merupakan tempat bakteri terhambat pertumbuhannya akibat antibakteri
atau antimikroba. Zona hambat adalah daerah untuk menghambat pertumbuhan
mikroorganisme pada media agar oleh antibiotik salah satunya gemtamycin. Prinsip dari
percobaan ini adalah penghambatan antimikroba terhadap pertumbuhan mikroorganisme,
yaitu zona hambatan akan terlihat sebagai daerah jernih disekitar daerah yang mengandung zat
antibakteri. Terdapatnya zona hambat pada percobaan disebabkan karena bakteri tersebut
tidak resisten terhadap antibiotik yang diberikan pada media. Resistensi ini merupakan suatu
sifat tidak terganggunya kehidupan sel mikroba oleh antimikroba. Sifat ini merupakan suatu
mekanisme alamiah untuk bertahan hidup. Diameter zona hambat pertumbuhan bakteri
menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap zat antibakteri. Semakin lebar diameter zona
hambatan yang terbentuk bakteri tersebut semakin sensitif. Sensitifitas menunjukkan bahwa uji
sensitifitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri
terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas
antibakteri.

4.2.6 Pengaruh konsentrasi dan jenis bakteri uji terhadap zona hambat yang terbentuk
Semakin tinggi konsentrasi bakteri, maka antibakteri semakin sulit untuk membunuh atau
menghambat pertumbuhan bakteri, sehingga zona hambat yang terbentuk semakin sempit.
Sehingga bakteri dapat mempengaruhi kerja antibakteri . Ada beberapa bakteri yang
menghambat pertumbuhan yaitu, bakteri yang mengalami mutasi genetik dengan mengalami
mutasi bakteri akan lebih sulit untuk menghambat pertumbuhannya. Gram positif lebih resisten
terhadap antimikroba dan pada gram negatif, hal ini dikarenakan bakteri gram positif dinding
sel nya tersusun atas lapisan peptidoglikan relatif tebal dikelilingi lapisan teritoic acid dan
beberapa spesies mempunyai lapisan polisakarida. Sedangkan gram negatif dinding selnya
memiliki lapisan lipoprotein, lipopolisakarida, fosfolipid dan beberapa protein.
DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro, D. 1987. Pengantar Mikrobiologi Edisi 2. Bandung: alumni
Entjang, Indah. 2003. Mikrobiologi dan Parasitologi Untuk Akademi Keperawatan dan Sekolah
Tenaga Kesehatan. 182.Bandung : Citra Aditya Putra.
Hadiotomo, R,1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktik. Jakarta:Gramedia
Hadioetomo, R.S. (1993). Mikrobiologi Dasar dalam Praktek : Teknik dan Prosedur
Dasar Laboratorium. Jakarta: Gramedia.
Harmita dan M. Radji.2008. Buku Ajar Analisis Hayati, Edisi 3. Jakarta: EGC
Jutono, dkk.1980. Pedoman praktikum Mikrobiologi umum (Untuk Perguruan Tinggi).
Yogyakarta: UGM Press
Pratiwi. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: Erlangga.
Rostinawati, T., 2009, Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffaL.)
Terhadap Escherichia Coli, Salmonella Typhi dan Staphylococcus Aureus Dengan
Metode Difusi Agar, Penelitian Mandiri : Fakultas Farmasi, Universitas Padjajaran.
Sitepu, I. S. Br.; I K. Suada dan I G. K. Susrama. (2012). Uji Aktivitas Antimikroba Beberapa Ekstrak
Bumbu Dapur terhadap Pertumbuhan jamur Curvularia lunata (Wakk.) Boed. dan
Aspergillus flavus LINK. E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika, Vol. 1 (2): 107-114
Waluyo, Lud. 2004. Mikrobiologi Umum. UMM PRESS : Malang.
Waluyo,Lud.2010.Teknik dan Metode Dasar dalam Mikrobologi .Malang : UMM Press
LAMPIRAN

Memanaskan PCA di atas hot plate Menuangkan media ke cawan petri

Menghomogenkan sampel dengan vortex Peletakan bakteri pada media yang sudah
selama ± 10 menit memadat

Pengambilan paper disk minyak mawar Mensterilkan cawan dengan bunsen


Hasil dari metode Sumuran Hasil dari metode paper filter disk

Kontrol Positif Gentamycin Meratakan bakteri dengan menggunakan


kapas steril

Pemanasan pinset setalah melakukan Hasil dari metode TLC bioautography


peletakan paper disk minyak mawar