Anda di halaman 1dari 5

Peraturan Terpenting Keselamatan

Pagi itu cuaca begitu cerah. Sinar mentari yang menyehatkan dan menandakan adanya
kehidupan di Bumi Khatulistiwa. Rambu-rambu lalu lintas pun berganti-gantian dari
berwarna merah, kuning, hingga hijau. Beberapa kendaraan pun ikut berlalu-lalang dengan
tertib akan rambu tersebut. Namun, tak banyak juga yang menerobos aturan lalu lintas itu.
Oleh karena itulah, banyak terjadinya kecelakaan saat berkendaraan baik itu kendaraan
bermotor, mobil, sepeda dan lain-lain. Padahal, setiap kota memiliki peraturan dalam
berkendara, tetapi masih saja ada yang melanggar peraturan itu.
Mentari telah tiba dari ufuk timur serta burung-burung pun seolah menyanyikan lagu
yang begitu indah dan terdengar merdu di telingga ku. Saatnya aku bergegas untuk menuntut
ilmu. aku pun berjalan menuju kamar mandi sambil membawa handuk. Setelah itu akupun
bersiap-siap untuk menyantapi sarapan pagi yang telah disediakan oleh ibuku.
“Dani...! Ayo turun sarapan” Panggil sang ibu kepada ku.
“Sebentar Bu..” Sahut ku sambil mengambil tas yang tergeletak di meja belajar
dengan sejumlah buku di dalamnya.
Ibu pun menyiapkan sarapan untukku dan Ayah. Aku dengan pakaian seragam
sekolah dan Ayah dengan pakaian seragam kerja sementara Ibupun menggunakan pakaian
sehari-hari. Kami dengan sangat bersyukur menikmati rizki yang telah Allah berikan pada
keluargaku..
“Ayo bu.. nanti Dani telat” ujarku saat di meja makan.
“Mari..mari” jawab Ibu.
Aku, Ibu, dan Ayah menikmati sarapan dangan tawa-tawa kecil dan sedikit lelucon yang
Ayah ceritakan serta rayuan dan pujian untuk Ibuku.

“Wah istri ku selain cantik, masakan mu tidak enak” olokkan Ayah kepada ibu, tetapi ayah
malah menambah sesendok nasi goreng buatan ibu dan memakannya hingga habis.

“Tidak Yah, masakan ibu selalu enak” sahut ku kepada Ayah.

“Iya nih si Ayah, masa tidak enak tapi dimakan terus habis lagi” Ejek Ibu.

“Eum…i-ini karna ayah sedang lapar bu” gugup Ayah akan ejekan Ibu.

“Masa sih Yah, jadi kalau lapar semua makanan di lahap yaa..haha” ketawa kecil Ibu.

“Iyalah, namanya juga lapar” jawab ayah.

“Yasudah nanti Ibu siapin racun aja mau?” tanya sang Ibu.

“Eoh..e-eeh, ja-jangan Bu, nanti Ayah rindu sama Ibu” jawab Ayah dengan nada memelas.

“hahaha..Ayah-ayah” ketawa sang Ibu.

Aku yang melihat perdebatan kecil itupun ikut tertawa,Ayah paling senang menggoda
Ibu tapi Ibu selalu punya cara untuk menjawabnya. Setelah makan aku segera berpamitan
untuk menuju tempat dimana aku di beri ilmu untuk masa depan. Jarak sekola dari rumah ku
tidak bisa di bilang dekat, tetapi juga tidak terlalu jauh.
Setelah berpamitan kepada Ibu dan Ayah, aku pun segera menggenakan sepatu dan
segera pergi menuju Sekolah tempat dimana para siswa dan siswi menuntut lebih banyak
ilmu.

“Ibu..Ayah, Dani pergi dulu yaa” Ucapku saat hendak pergi ke Sekolah.

“Iya..hati-hati yaa” jawab Ayah kepada ku.

“Itu helm nya dipakai yang benar, agar kalau semisalnya terjadi kecelakaan kepalamu
terlindungi dan” ucap Ibu menggigatkan ku agar selalu berhati-hati.

“Baik Bu.. dahh Ayah, dahh Ibu.. Assalamu’alaikum” pamit ku pada Ibu dan Ayah.

“Wa’alaikum salam” jawab Ibu dan Ayah bersamaan.

Satu-persatu yang menonjol di bagian aspal jalan atau bisa dibilang polisi tidur telah
ku lewati. Aku pun menyapa serta memberi senyuman kepada Ibu-ibu yang sedang
berbelanja di tukang sayur keliling.

“Assalamu’alaikum Ibu-ibu” sapa ku ramah dengan lengkungan dibibirku.

“Wa’alaikumsalam” sahut secara bersamaan para Ibu-ibu dan Tukang sayur keliling.

Sebuah aspal yang cukup lebar pun terlihat, banyak kendaraan yang berlalu lalang.
Begitu pun dengan para angota kepolisian dibagian lalu lintas telah berdiri ditempatnya dan
menggatur jalan agar tidak terjadinya hal yang tidak diinginkan. Disepanjang jalan Penjara
terdapat beberapa rumah, tempat makan, toko butik, bahkan spbu( tempat penggisian kembali
bahan bakar pada motor maupun mobil). Banyak juga dari para penggendara yang tidak
menggunakan helm, bahkan ada juga yang berkendara secara liar tanpa memikirkan
keselamata sendiri.

Terkadang aku berpikir, untuk apa peraturan berkendara dibuat jika masih banyak
yang melanggarnya. Sebenarnya ini juga bukan kesalahan dari pemimpin Negara atau
Kotanya, tapi kesadaran dari para pengendara yang berkendaraan. Seharusnya beberapa
kecelakaan yang sudah pernah terjadi di Kota Indah ini yaitu Kota Pontianak dapat menjadi
pelajaran bagi penggendara lainnya untuk lebih berhati-hati. tapi para pengendara hanya
membiarkan nya begitu saja, padahal peraturan itu dibuat untuk keselamatan bersama dan
keselamatan diri sendiri.

Aku pun telah tiba di tempat yang penuh akah ilmu yang berguna. Dengan senyum
yang terukir sempurna di bibirku, aku berjalan memasuki sekolah tak lupa juga untuk
melontarkan salam hormat kepada beberapa guru yang berpapasan denganku. Pagi ini begitu
cerah dengan udara yang begitu menghangatkan serna suasana yang begitu damai.

“Kriing…kriing..kriing..”

Bel pertanda pelajaran pertama pun telah terdengar di telingaku. Dengan mengghirup udara
dan senyuman yang masih melekat pada bibirku seakan siap untuk menerima ilmu pada
pelajaran pertama ini.
“Assalamu’alaikum anak-anak” ucap Pak Budi seorang guru matematika.

“wa’alaikum salam Pak” jawab siswa-siswi serempak.

“sebelum belajar mari kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Berdo’a mulai..”
ujar seorang siswa yang berjabat sebagai Ketua kelas pada kelas ini.

Para siaswa-siswi di kelas XII MIPA 2 pun menundukan kepalanya sebagai rasa hormat serta
menadahkan tangan dan berdo’a dengan sungguh-sungguh.

“Selesai..” ujar kembali Ketua kelas.

Para siswa-siswi pun kembali seperti sebelum berdo’a. dan menggeluarkan beberapa buku
yang berjudul Matematika. Sebelum pelajaran Pak Budi selalu mengabsen anak didiknya
terlebih dahulu agar dapat diketahui siapa saja yang hadir dan tidak hadir. Pengabsenan pun
selesai dan pelajaran dimulai.

“Baik, anak-anak ku semua.. sebelum kita lanjut ke materi selanjutnya, bapak ingin bertanya
pada kalian.. kalian masih ingat apa tidak tentang materi yang telah kita bahas pada
pertemuan kemarin” tanya Pak Budi.

Para siswa-sisiwi pun hanya diam. Pak Budi yang melihat itupun langsung saja secara
medadak menunjuk salah satu siswi yang terlihat seperti melamun. Namun siswi tersebut
tidak menyadari nya. Pak Budi mendekati siswi tersebut dan menepuk pelan pudaknya.

“Hey Siska..” panggil Pak Budi sambil menepuk pundak Siska pelan. Yaa nama siswi itu
adalah Siska.
Siska pun tersentak kaget.

“E-eh..i-iya Pak?” jawab Siska gugup.

“Kamu kenapa? Sakit?” tanya Pak Budi. Siska pun menggeleng-gelengkan kepala nya.

“Yasudah, ayo di jawab pertanyaan Bapak barusan” sambung Pak Budi.

“Pertanyaan? Maaf pertanyaan apa ya Pak?” tanya Siska.

“Hmm.. tentang materi sebelum nya apa yang telah kamu pelajari?” tanya Pak Budi.

“Eum..i-itu Pak” ucap Siska kebinggungan. “duh..apa yaa” batin Siska.

Pak Budi pun menunggu jawaban Siska. Namun Siska masing berpikir kebinggungan, karna
kemarin saat Pak Budi menjelaskan Siska tidak menyimak dengan benar, dia melihat tapi
pikirannya memikirkan hal lain.

“Oke baiklah..belajar lagi Sis! Sepertinya kamu tidak menyimak materi kemari. Pinjamlah
catatan teman mu dan pelajari serta pahami, jika ada yang belum di menggerti kamu bisa
tanya bapak” ucap Pak Budi, yang coba memahami siswinya tersebut dan memberikan
sedikit masukan padanya.
“Baik Pak, maaf atas ketidak simaknya siska atas materi kemarin Pak” kata Siska dengan
sopan dan menundukan sedikit kepalanya.
“Tidak apa-apa” jawab Pak Budi sambil tersenyum.

Pak Budi pun kembali kedepan dan menasehati anak didiknya. Agar mereka lebih focus pada
saat guru menjelaskan sebuah materi baik penting atau tidak tetap harus mendengarkan.

“Bapak harap untuk materi selanjutnya tidak ada lagi yang tidak focus pada saat pelajaran,
karna pendidikan dan ilmu yang diberikan itu sangatlah penting” ucap Pak Budi menasehati
siswa-siswi nya.

“Baik Pak” sahut siswa-siswi bersama-sama.

“Oke, baiklah Bapak akan menggulang sedikit menggenai materi kemarin” ujar Pak Budi
Lalu menggulang kembali materi yang telah di sampaikan kemarin dan melanjutkan materi
berikutnya hingga bel pergantian pelajaran pun terdengar.

Untuk pelajaran selanjutnya seorang guru wanita yang menggunakan kaca mata tak
lupa dengan hijab yag selalu melekat padanya melangkah memasuki kelas dengan senyuman.
Guru itu bernama Ibu Dewi, ia mengajar mata pelajaran mengenai sosial.. apalagi kalo buan
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Pelajaran pun dimulai.

“Nah anak-anak kalian tau tidak bahwa Negara Indonesia ini mempunyai keistimewaan dan
letaknya pun sanggatlah strategis sehingga banyak para penjajah yang dulu mengingginkan
Negara ini” tanya Bu Dewi.

“Tau bu” jawab beberapa siswa-siswi bersamaan.

“Nah, ayo beritahu pada Ibu apa saja keistimewaannya” ucap Bu Dewi.

Aku pun mengacungkan tangan ku keatas bersedia memberitahukan apa saja keistimewaan
serta kestrategisan Negara Indonesia ini yang dimana di Negara ini terdapat Kota tempat
dimana ku berdiri sekarang dan itu Kota Pontianak.

“Ah yaa, silahkan Dani” ujar Bu Dewi saat melihatku mengacungkan tanganku.

Aku pun menggangguk dan bangkit dari duduk untuk berdiri.

“Keistimewaan Negara ini adalah banyaknya budaya, suku dan bangsa yang beraneka ragam.
Dan kestrategisannya Negara ini terletak pada dua benua dan dua samudra serta dilaluli atau
dilewati garis Khatulistiwa sebagai titik panaran cahaya oleh matahari.” Jawabku

“Wah..benar sekali Dani, terima kasih dan beri tepuk tangan untuk dani” ucap Bu Dewi.

Para siswa-siswi pun tersenyum dan memberi tepuk tangan untukku. Aku pun merasa malu,
dan hanya dapat tersenyum lalu duduk kembali.
***

“kriing…kriing…kriing…”

Bel pertanda pelajaran telah usai pun berbunyi. Semua siswa-siswi pun bergegas umtuk
pulang kerumah, tapi tak banyak juga yang singgah ke tempat makan terlebih dahulu atau
tempat-tempat lainnya.

“Alhamdulillah” ucap ku saat pelajaran telah selesai,dan banyak ilmu yang telah ku dapatkan
dari para guru yang mengajar pada hari ini.

Mentari pun tanpak begitu indah dengan cahaya merah keemasan yang menghiasi
Kota Pontianak tercinta ini. Aku pun bergegas untuk pulang kerumah.

***
Beberapa bulan kemudian….

Kini tiba saatnya dimana perpisahan untuk menggejar impian terjadi. Rintihan haru
pun terdengar soalah tak ingin kehilangan. Kini kami harus berpisah dan meraih masa depan
yang cerah. Deras air mata pun tak dapat lagi tergambarkan saat detik-detik kami berpelukan
dan berpamitan satu sama lainnya. Banyak hal yang kami lalui bersama, susah, senang, duka
bersama. Tapi di bibir terukir senyum karna betapa bangganya kami atas pencapaian kami
yang membuahkan hasil, atas usaha kami yang tidak menggecewakan. Kami bangga karna
tidak ada satu pun yang tertinggal di antara kami, dan kami lulus bersama.. dan kami harap
sukses bersama meski kami tidak lagi bersama-sama dan hanya ada sedikit waktu untuk
bersama-sama.Acara perpisahan anak kelas XII pun telah selesai dilaksanakan, dan seluruh
siswa-siswi pun pulang dengan haru kerumah masing-masing dan menyiapkan diri untuk
tahap selanjutnya.

Saat pulang menuju rumah, aku pun melihat beberapa anak sekolah berpakaian putih
abu-abu dengan banyak coretan di pakaian yang mereka kenakan. Bahkan diantara mereka
ada yang mengendarai motor secara liar tanpa menggunakan helm. Padahal peraturan berlalu
lintas sudah ada, dan setiap pengendara harus menggenakan helm, untuk melindungan
benturan di kepala jika terjadi kecelakaan nanti. Tapi mereka melalaikannya, atau mungkin
bahkan tidak menggangap peraturan itu ada. Dapat disayangkan jika banyak generasi muda
penerus bangsa yang tidak tertib. Padahala Kota ini sangat indah dan begitu di dambakan
banyak Negara luar.

Apalagi dengan adanya Tugu Khatulistiwa yang tersinar akan mentari menamba
kesan pada sang Tugu. Jadi para penerus banga, dari cerita ini kalian pasti tau dong apa saja
kewajiban kalian sebagai Generasi Muda Penerus Bangsa. Dan sebagai contoh untuk mereka
diluar sana yang mungkin belum begitu menggetahui penting nya suatu peraturan. Jadikan
cerita ini sebagai suatu pelajaran ambil sisi positif nya dan hindari sisi negatif nya. Semoga
para Generasi Muda Penerus semakin baik kedepannya.

-svtrmln-