Anda di halaman 1dari 41

MAKALAH KEPERAWATAN GERONTIK

“PERUBAHAN SOSIAL DAN KOGNITIF LANSIA”

NAMA KELOMPOK :

1. Mamiri Febri Utami (201510201128)


2. Risa Riyanti (201510201129)
3. Dhea Ramadhayanti (201510201130)
4. Fildzah Arlinda Pratiwi (201510201131)
5. Galuh Dwi Ratna T (201510201132)
6. Hanif Prasetyaningtyas (201510201133)
7. Amalia Yuyun P (201510201134)
8. Vebrina Restyani P (201510201135)
9. Siwi Susanti W (201510201136)
10. Atik Apriyani (201510201137)
11. Desy Setyaningrum (201510201138)
12. Nur Agustina Al-K (201510201139)
13. Meida Dwi W (201510201140)
14. Riska Darmawati (201510201141)
15. Eris Permana (201510201165)
16. Syafrudin Yusuf (201510201166)
17. Handoyo (201510201167)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT atas berkat rahmad dan karunia-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Perubahan Sosial dan Kongnitif Pada
Lansia”.Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Gerontik Prodi S1
Keperawatan di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.
Kami menyadari, sebagai mahasiswa yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan
dalam makalah ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan
adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna penulisan makalah yang lebih baik lagi di
masa yang akan datang.

Yogyakarta, 31 Oktober 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................................... i


KATA PENGANTAR ....................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................................... iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang ......................................................................................................... 4
B. Tujuan ...................................................................................................................... 5
C. Manfaat .................................................................................................................... 5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Fungsi Sosial Lansia ................................................................................................. 6
B. Dukungan Sosial Pada Lansia .................................................................................. 7
C. Aspek Hubungan Sosial Pada Lansia ....................................................................... 9
D. Sikap Sosial Pada Lansia .......................................................................................... 10
E. Sumber Kontak Sosial Pada Lansia .......................................................................... 11
F. Pelayanan Kesehatan Sosial Lansia Di Masyarakat ................................................. 12
G. Pelayanan Sosial Bagi Lansia ................................................................................... 14
H. Posyandu Lansia ....................................................................................................... 19
I. Tunawisma Lansia .................................................................................................... 21
J. Keperawatan Lanjut Usia Di Masyarakat ................................................................. 23
K. Asuhan Keperawatan (ASKEP) ............................................................................... 26
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................................................. 37
B. Saran ........................................................................................................................ 39
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di Indonesia jumlah lansia saat ini diperkirakan lebih dari 629 juta jiwa (satu dari 10
orang berusia lebih dari 60tahun), pada tahun 2025 diperkiraan jumlah lanjut usia
mencapai 1,2 miliyar. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000 jumlah penduduk berusia
60 tahun keatas berjumlah 17,8 juta/jiwa (8%) dari jumlah penduduk dan pada tahun 2005
meningkat menjadi 20 juta jiwa (8,5%) dari jumlah penduduk dan pada tahun 2010
meningkat menjadi 24 juta jiwa (9,8%) dari jumlah penduduk. Hal ini membuktikan
bahwa setiap tahunnya jumlah lansia meningkat.(Nugroho,20014)
Peningkatan jumlah lansia dapat menyebabkan munculnya permasalahan.
Permasalahan tersebut berkaitan dengan perkembangan kehidupan lansia salah satunya
adalah proses menua, baik secara fisik, mental maupun psikososial. Semakin lanjut
usianya maka kemampuan fisiknya akan menurun sehingga dapat mengakibatkan
kemunduran peran sosialnya. Hal ini dapat mengakibatkan timbulnya gangguan dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga dapat meningkatkan ketergantungan kepada
orang lain.
Lanjut usia adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Manusia tidak secara tiba-
tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak-anak, dewasa dan akhirnya menjadi
tua. Hal ini normal dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang dapat diramalkan yang
terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai usia tahap perkembangan kronologis
tertentu.(Lilik Ma’rifatul,2011)
Mengantisipasi kondisi masalah-masalah usia lanjut perlu ditingkatkan untuk
menjamin tercapainya usia lanjut yang bahagiadalam kehidupan keluarga dan masyarakat
Indonesia(Tamher&Noorkasiani,2009:148)salah satu gangguan yang dapatmuncul pada
lansia tersebut adalah gangguan fungsi kognitif dan afektif yang dapat mempengaruhi
fungsi sosial. Lansia yang mengalami kesulitan dalam mengingat atauu kurangnya
pengetahuan penting dilakukan pengkajian fungsi kognitif dengan tujuan dapat

4
memberikan informasi kognitif. Pengkajian fungsi kognitif dan afektif dapat membantu
mengidentifikasi lansia beresiko mengalami penurunan fungsi kognitif dan
afektif.(Gallo,Reichel & Anderson,2000)
B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Meningkatkan kemampuan lansia untuk hidup sehat sehingga tercapai derajat
kesehatan yang optimal agar dapat menjalankan fungsi kehidupan sesuai dengan
kapasitas yang mereka miliki.
b. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi masalah kesehatan lansia yang dihadapi.
b. Menetapkan masalah kesehatan/keperawatan dan prioritas masalah.
c. Menanggulangi masalah kesehatan/keperawatan yang lansia hadapi.
d. Mendorong dan meningkatkan partisipasi lansia dalam pelayanan
kesehatan/keperawatan.
e. Meningkatkan kemampuan lansia dalam memelihara kesehatan secara mandiri
(self care).
f. h. Menanamkan perilaku sehat melalui upaya pendidikan kesehatan kepada
lansia.
C. Manfaat

1. Untuk menyelesaikan tugas makalah perkuliahan keperawatan gerontik mengenai


fungsi sosial dan kognitif pada lansia.
2. Untuk melatih dan mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam penulisan karya
ilmiah.
3. Untuk menambah dan mengembangkan pengetahuan mahasiwa dalam memberikan
asuhan keperawatan pada lansia.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Fungsi Sosial Lansia

a. Masalah dan stressor psikososial pada lansia

Faktor eksternal yang dapat membuat timbulnya stress pada lanisa seperti
masalah keuangan dan perhatian dari keluarga. Para lansia diduga stres karena tidak
mempunyai jaminan uang pensiun dan tidak mendapatkan perhatian dari keluarga.
Sehingga ia mengharapkan masalah ini segera diatasi, karena stres dalam jangka
panjang juga dapat memicu terjangkaunya penyakit diantaranya adalah gangguan
pendengaran atau pengelihatan.
Meningkatnya tuntutan dan kebutuhan hidup akan sesuatu yang lebih baik,
menyebabkan individu berlomba untuk memenuhi kebutuhan yang diinginkanya.
Akan tetepi pada kenyatannya sesuatu yang diinginkan tersebut, kadangkala tidak
dapat tercapai sehingga dapat menyebabkan individu tersebut bingung, melamun dan
akhirnya stress. Stres yang terjadi pada setiap individu berbeda beda tergantung pada
masalah yang dihadapi dan kemampuan menyelesaikan masalah tersebut atau biasa
disebut dengan mekanisme koping. Jika masalah tersebut dapat diselesaikan dengan
baik maka individu tersebut akan senang, tapi sebaliknya akan menjadi cepat marah
marah, frustasi bahkan akan depresi (suryani, 2005:81).
Penyebab stress dikalangan lansia berbeda dengan remaja dan anak anak.
Masalah yang sering menyebabkan stress pada lansia adalah post power sindrom,
kehilangan jabatan, perasaan kecewa karena tidak lagi dihormati seperti yang dulu,
menyebabkan perilakunya sering seperti anak kecil, ingin diperhatikan orang.
Hubungan dalam keluarga, juga bisa menimbulkan stress sering lansia tidak
diperhatikan lagi oleh anak atau menantunya, padahal dulu mereka selalu dekat
dengan anaknya tanpa diasingkan.
Problem utama pada lansia adalah rasa kesepian dan kesendirian.Mereka sudah
terbiasa melewatkan harinya dengan kesibukan bekerja yang juga merupakan
pegangan hidup dan dapat memberikan rasa aman dan harga diri.Pada saat pensiun,

6
hilanglah kesibukan, sekaligus mulai tidak diperlukan lagi.Bertepatan dengan itu,
anak-anak mulai menikah, dan meninggalkan rumah.Badan mulai lemah dan tidak
memungkinkan untuk bepergian jauh. Sebagai akibatnya, semangat mulai menurun,
mudah terjangkit penyakit dan besar kemungkinan akan mengalami kemunduran
mental, hal ini disebabkan karena menurunya fungsi otak , seperti sering lupa, daya
konsentrasi berkurang atau kemunduran senile (Purwanto, 1998:34--35).
Penyesuaian diri terhadap pekerjaan dan keluarga bagi lansia sangat sulit karena
hambatan ekonomis saat ini yang memainkan peran penting daaripada masa
sebelumnya. Selanjutnya, walaupun ada bantuan dari pemerintah dalam bentuk
jaminan sosial, bantuan kesehatan, dan pembagian keuntungan secara bertahap yang
diperoleh dari dana pensiun, dan dari perusahaan, mereka kadang kadang tidak
sanggup mengatasi masalah yang dihadapinya pada saat usia lanjut tersebut (Hurlock,
1980:414).
b. Dukungan sosial pada lansia
1) Pengertian
Menurut Apollo dan Cahyadi (2012:261), dukungan sosial adalah tindakan
yang bersifat membantu yang melibatkan emosi, pemberian informasi, bantuan
instrumen, dan penilaian positif pada individu dalam menghadapi
permasalahannya.
2) Sumber Dukungan Sosial
1. Dukungan sosial artifisial, yaitu dukungan sosial yang dirancang ke dalam
kebutuhan primer seseorang, misalnya dukungan sosial akibat bencana alam
melalui berbagai sumbangan sosial.
2. Dukungan sosial natural, yaitu yang natural diterima seseorang melalui
interaksi sosial dalam kehidupannya secara spontan dengan orang-orang yang
berada di sekitarnya, misalnya anggota keluarga (anak, istri, suami dan
kerabat), teman dekat atau relasi.
3) Bentuk Dukungan Sosaial
Dukungan sosial terdiri dari beberapa bentuk, menurut Sarafino (2006)
terdapat lima bentuk dukungan sosial, yaitu:

7
a. Dukungan emosional
Terdiri dari ekspresi seperti perhatian, empati, dan turut prihatin kepada
seseorang. Dukungan ini akan menyebabkan penerima dukungan merasa
nyaman, tenteram kembali, merasa dimiliki dan dicintai ketika dia
mengalami stres, memberi bantuan dalam bentuk semangat, kehangatan
personal, dan cinta
b. Dukungan penghargaan
Dukungan ini dapat menyebabkan individu yang menerima dukungan
membangun rasa menghargai dirinya, percaya diri, dan merasa bernilai.
Dukungan jenis ini akan sangat berguna ketika individu mengalami stres
karena tuntutan tugas yang lebih besar daripada kemampuan yang
dimilikinya.
c. Dukungan instrumental
Merupakan dukungan yang paling sederhana untuk didefinisikan, yaitu
dukungan yang berupa bantuan secara langsung dan nyata seperti memberi
atau meminjamkan uang atau membantu meringankan tugas orang yang
sedang stres.
d. Dukungan informasi
Orang – orang yang berada di sekitae akan memberikan dukungan informasi
dengan cara menyarankan beberapa pilihan yang dapat mengatasi masalah
yang membuat stress.
e. Dukungan kelompok
Merupakan dukungan yang dapat menyebabkan individu merasa bahwa
dirinya merupakan bagian dari suatu kelompok.

4) Faktor Penghambat Dukungan Sosial

Terdapat tiga faktor yang menjadi penghambat pemberian dukungan sosial


kepada seseorang, yaitu (Apollo dan Cahyadi, 2012:262):
1. Penarikan diri dari orang lain, disebabkan karena harga diri yang rendah,
ketakutan untuk dikritik, pengharapan bahwa orang lain tidak akan

8
menolong, seperti menghindar, mengutuk diri, diam, menjauh, tidak mau
meminta bantuan.

2. Melawan orang lain, seperti sikap curiga, tidak sensitif, tidak timbal balik,
dan agresif.

3. Tindakan sosial yang tidak pantas, seperti membicarakan dirinya secara terus
menerus, mengganggu orang lain, berpakaian tidak pantas, dan tidak pernah
merasa puas.

c. Aspek hubungan sosial pada lansia


Lilian Troll (1944, 200 dalam Santrock, 2006) menemukan bahwa lansia yang
dekat dengan keluarganya mempunyai kecenderungan lebih sedikit untuk stress
dibanding lansia yang hubungannya jauh.Berikut adalah 3 aspek hubungan sosial
pada lansia, yaitu hubungan pertemanan (Friendship), dukungan sosial (Social
Support) dan integrasi sosial (Social Integration).
a. Friendship
Laura Carstensen (1998) menyimpulkan bahwa orang cenderung mencari teman
dekat dibanding teman baru ketika mereka semakin tua. Penelitian membuktikan
bahwa lansia perempuan yang tidak memiliki teman baik kurang puas akan
hidupnya dibanding mempunyai teman baik.
b. Social Support
Menurut penelitian, dukungan sosial dapat membantu manusia mengatasi
masalahnya secara efektif.Dukungan sosial juga dapat meningkatkan kesehatan
fisik dan mental pada lansia (Bioschop & Others, 2004 Erber, 2005; Prunchnop
& Rosenbaum, 2003 dalam Santrock, 2006). Dukungan sosial berhubungan
dengan pengurangan gejala penyakit dan kemampuan untuk memenuhi
kebutuhannya sendiri akan perawatan kesehatan. Teori antonucci (1990, dalam
Santrock 1999) menyimpulkan bahwa interaksi sosial dengan orang-orang yang
menyediakan dukungan sosial memberikan pandangan yang lebih positif
mengenai dirinya kepada orang-orang tua tersebut.Dukungan sosial jga
mempengaruhi kesehatan mental dari para orang tua tersebut.Para orang tua yang
mengalami depresi memiliki jaringan sosial yang kecil, mengalami masalah

9
dalam berintegrasi dengan anggota keluarga dalam jaringan sosial yang mereka
miliki, dan sering mengalami pengalaman kehilangan dalam hidup mereka.
c. Integrasi Sosial
Integrasi sosial memainkan peranan yang sangat penting pada kehidupan lansia.
Kondisi kesepian terisolasi secara sosial akan menjadi faktor yang berisiko bagi
kesehatan lansia. Sebuah studi menemukan bahwa dengan menjadi bagian dari
jaringan sosial, hal ini akan berdampak pada lamanya masa hidup, terutama pada
laki-laki.

d. Sikap sosial pada lansia


Sebagian besar tugas perkembangan usia lanjut lebih banyak berkaitan dengan
kehidupan pribadi seseorang daripada kehidupan orang lain.Orang tua diharapkan
untuk menyesuaiakan diri dengan menurunkan kekuatan, dan menurunnya kesehatan
secara bertahap.Hal ini sering diartikan sebagai perbaikan dan perubahan peran yang
pernah dilakukan didalam maupun diluar rumah.Mereka juga diharapkan untuk
mencari kegiatan untuk menganti tugas-tugas terdahulu yang menghabiskan sebagian
besar waktu dikala masih muda dahulu.
Bagi beberapa lansia berkewajiban mengikuti rapat yang meyangkut kegiatan
sosial dan kewajiban sebagai warga negara sangat sulit dilakukan karena kesehatan
dan pendapatan yang menurun setelah mereka pensiun.Akibat dari menurunnya
kesehatan dan pendapatan, maka mereka perlu menjadwalkan dan menyusun kembali
pola hidup yang sesuai dengan keadaan saat itu, yang berbeda dengan masa lalu.
Pendapat klise tentang usia lanjut mempunyai pengaruh yang besar terhadap
sikap social baik terhadap usia lanjut. Dan karena kebanyakan pendapat klise tersebut
tidak menyenangkan, maka sikap socialtampaknya cendrung menjadi tidak efektif.
Arti penting tentang sikapsocial terhadap usia lanjut yang tidak menyenangkan
mempengaruhi cara merekamemperlakukan usia lanjut. Sikap social yang tidak
menyenangkan terhadap usia lanjut,dalam kebudayaan amerika dewasa ini hamper
bersifat universal, tetapi mereka cendrung bersifat rasial yang lebih kuat
dibandingkan kelompok rasial dan kelas social tertentu dibandingkan klompok lain
lain.

10
Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan
sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada
lansia.Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang,
penglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan.Hal itu
sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang
bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan.
Karena jika keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk berkomunikasi
dengan orang lain dan kdang-kadang terus muncul perilaku regresi seperti mudah
menangis, mengurung diri, mengumpulkan barang-barang tak berguna serta
merengek-rengek dan menangis bila ketemu orang lain sehingga perilakunya seperti
anak kecil.
e. Sumber kontak sosial pada lansia
1. Persahabatan pribadi yang akrab
Persahabatan pribadi yang akrab dengan para anggota dari kelompok jenis
kelamin yang sama (pria dengan wanita atau wanita dengan wanita), yang dibina
ulang sejak masa dewasa atau pada awal tahun pernikahannya, sering terhenti
apabila salah satunya mati, atau pindah tempat tinggal sehingga menjadi jauh,
dalam hal seperti ini nampaknya seorang lansia tidak mampu lagi untuk
menetapkan jenis persahabatan lain yang semacam itu.
2. Kelompok persahabatan
Kelompok semacam ini terbentuk dari pasangan-pasangan yang bersatu, yang
dibentuk pada waktu mereka masih muda karena meraka mempunyai minta dan
kesenangan ini antara lain bisa berasal dari perkumpulan usaha para suami atau
karena para istri dengan keluarga mempunyai keinginan timbal balik yang sama,
atau dalam bentuk organisasi masyarakat. Pada saat para pria mulai pensiun serta
kegiatan para wanita dalam rumah tangga dan masyarakat mulai berkurang,
anggota kelompok persahabatan juga berkurang dan secara bertahap mulai
menghilang.
3. Kelompok atau perkumpulan
Apabila peranan kepemimpinan dalam kelompok atau perkumpulan formal
diambil oleh anggota yang lebih muda dan apabila perencanaan kegiatan

11
terutama berorientasi pada minat mereka yang lebih muda itu, orang usia lanjut
merasa tidak diperlukan lagi dalam organisasi semacam ini dan menghentikan
keanggotaan mereka dalam perkumpulan tersebut.

f. Pelayanan kesehatan sosial lansia di masyarakat

Setiap jenis pelayanan kesejahteraan sosial lanjut usia baikyang dilaksanakan oleh
pemerintah maupun maupun masyarakat mengandung sifat frepentif , kuratif dan
rehabilitatif.

1. Prefentif atau pencegahan, Pelayanan sosial yang di arahkan untuk pencegahan


timbulnya m,asalah baru dan meluasnya permasalahan lanjut usia, maka
dilakukan melalui upaya pemberdayaan keluarga , kesatuan kelompok –
kelompok didalam masyarakat dan lembaga atau organisasi yang peduli terhadap
peningkatan kesejahteraan lanjut usia ,seperti keluarga terdekat /adapt, kelompok
pengajian , kelompok arisan karang werdha, PUSAKA, DNIKS, DNIKS ,LLI,
BK 3 S, K3 S.
2. Kuratif atau penyembuhan, Pelayanan sosial lanjut usia yang diarahkan untuk
penyembuhan atas gangguan-gangguan yang di alami lanjut usia, baik secara
fisik , psikis maupun sosial.
3. Rehabilitatif atau pemulian kembali , Proses pemulihan kembali fungsi-fungsi
sosial setelah individu mengalami berbagai gangguan dalam melaksanakan
fungsi-fungsi sosialnya.
PRISIP PELAYANAN
Prinsip kesejahteraan sosial sosial lanjut usia didasarkan pada resolusi PBB NO.
46/1991 tentang principles for Older Person ( Prinsip-prinsip bagi lanjut usia) yang
pada dasarnya berisi himbauan tentang hak dan kewajiban lanjut usia yang meliputi
kemandirian, partisipasi, pelayanan, pemenuhan diri dan martabat ,Yaitu :
1. Memberikan pelayanan yang menjujung tinggi harkat dan martabat lanjut usia.
2. Melaksanakan ,mewujutkan hak azasi lanjut usia.
3. Memperoleh hak menentukan pilihan bagi dirinya sendiri.
4. Pelayanan didasarkan pada kebutuhan yang sesungguhnya.

12
5. Mengupayakan kehidupan lanjut usia lebih bermakna bagi diri, keluarga dan
masyarakat.
6. Menjamin terlaksananya pelayanan bagi lanjut usia yang disesuaikan dengan
perkembangan pelayanan lanjut usia secara terus menerus serta meningkatkan
kemitraan dengan berbagai pihak.
7. Memasyarakatkan informasi tentang aksesbilitas bagi lanjut usia agar dapat
memperoleh kemudahan dalam penggunaan sarana dan prasarana serta
perlindungan sosial dan hokum.
8. Mengupayakan lanjut usia memperoleh kemudahan dalam penggunaan sarana
dan prasarana dalam kehidupan keluarga,serta perlindungan sosial dan hokum.
9. Memberikan kesempatan kepada lanjut usia untuk menggunakan sarana
pendidikan ,budaya spriritual dan rekreasi yang tersedia di masyarakat.
10. Memberikan kesempatan bekerja kepada lanjut usia sesuai dengan minat dan
kemampuan.
11. Memberdayakan lembaga kesejahteraan sosial dalam masyarakat untuk
berpartisipasi aktif dalam penanganan lanjut usia dilingkungannya.
12. Kusus untuk panti, menciptakan suasana kehidupan yang bersifat kekeluargaan.

PROSES PELAYANAN

Proses pelayanan dalam panti dan luar panti

A. Persiapan

1. Sosialisasi program dan kegiatan Panti/Orsos bagi lanjut usia penerima


pelayanan , keluarga dan masyarakat.
2. Kontak (Pertemuan pertama antara pihak panti/orsos dengan lanjut usia dan
keluarganya/yang mewakili).
3. Kontak( kesepakatan pelayanan atau bantuan secara tertulis antara klien
dengan pihak panti/pekerja sosial/orsos.
4. Pengungkapan masalah lanjut usia.
5. Rencana tindak/intervensi.
B. Pelaksanaan Pelayanan.

13
1. Pelayanan sosial
2. Pelayanan fisik
3. Pelayanan psikososial
4. Pelayanan ketrampilan
5. Pelayanan keagamaan/ spiritual
6. Pelayanan pendampingan
7. Pelayanan bantuan hokum.

Monitoring dan evaluasi .

1. Terminasi.
2. Pembinaan lanjut.

INFORMASI SARANA PELAYANAN

Untuk mendapat informasi pelayanan kesejahteraan sosial lanjut usia menghubungi :

1. Kantor Dinas Sosial setempat.


2. Panti Sosial Tresna Werda baik pemerintah maupun Swasta di seluruh
Indonesia.
3. Lembaga lanjut usia ( LLI ) yang membawahi sebanyak 63 organisasi
lanjut usia antara lain :
a. Perhimpunanan Gerontologi Indonesia (PERGERI) Wisma daria Wisma
Daria Jl. Iskandarsyah Raya No. 7 Jakarta bSelatan Telp.(021) 7222120
b. Yayasan emong lansia Jl.Probolinggo No.5 Jakarta Pusat. Telp.
O21 592065- 3921772.
c. Pusat santunan keluarga ( PUSAKA ) Tingkat Kelurahan di Jakarta.

g. Pelayanan sosial bagi lansia


Merujuk pada masalah dan kebutuhan yang dihadapi lansia yang telah
dipaparkan sebelumnya, lansia memerlukan pelayanan yang terkait dengan masalah
dan kebutuhan mereka, meliputi: pelayanan dasar, pelayanan kesehatan, pelayanan
yang terkait dengan kondisi sosial, emosional, psikologis, dan finansial. Jika merujuk

14
pada Peraturan Menteri Sosial No. 19 tahun 2012 tentang Pedoman Pelayanan Sosial
Lanjut Usia, pada pasal 7 tercantum bahwa pelayanan dalam panti dilakukan dengan
tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup, kesejahteraan, dan terpenuhinya
kebutuhan dasar lanjut usia. Adapun jenis pelayanan yang diberikan dalam panti,
meliputi:
1. Tempat tinggal yang layak bagi lansia adalah yang bersih, sehat, aman, nyaman,
dan memiliki akses yang mudah pada fasilitas yang dibutuhkan lansia, sehingga
dengan kondisi kemampuan fisiknya yang makin menurun masih memungkinkan
dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan mudah, aman, dan tidak sangat
tergantung pada orang lain. Umumnya lanjut usia dihadapkan pada masalah
hunian sebagai berikut: lokasi kamar yang berjauhan dengan lokasi kamar mandi,
keadaan kamar mandi yang kurang mendukung, penggunaan tangga, permukaan
lantai yang tidak rata, dan alur sirkulasi hunian terhadap fasilitas lingkungan
kurang menunjang. Tempat tinggal yang layak bagi lansia adalah yang lapang atau
barrier free. Hal ini sangat bermanfaat bagi lansia, terutama dalam pergerakan
atau aksesibilitas dalam rumah, bahkan ketika mereka harus menggunakan kursi
roda. Kurniadi (2012) merinci karakterik rumah yang ramah lansia, secara garis
besar, terbebas dari tangga dan lantai yang tidak rata atau licin, pencahayaan yang
baik, kamar mandi dekat dengan kamar dan memungkinkan kursi roda dapat
masuk, dan aman karena mereka kurang mampu melindungi dirinya terhadap
bahaya. Di negara-negara maju, pelayanan kelompok lanjut usia dilakukan dalam
ruangan khusus, bahkan rumah sakit khusus dan perkampungan khusus. Adanya
fasilitas tersebut ditujukan untuk memberi lingkungan kehidupan yang nyaman
dan sesuai bagi kelompok lanjut usia (Wijayanti, 2008). Kondisi hunian di dalam
panti pun seyogyanya memperhatikan kebutuhan lansia tersebut.
2. Para lansia seyogyanya mendapatkan makanan yang sesuai dengan kondisi
kesehatannya. Oleh karena itu, makanan untuk lansia sebaiknya dikontrol atas
rekomendasi ahli gizi. Ahli gizi perlu berkerjasama dengan dokter untuk
mengetahui kondisi kesehatan lansia atau jenis penyakit yang diderita, untuk
menentukan apa yang boleh atau tidak boleh dimakan. Dengan demikian, makanan
untuk masing-masing lansia kemungkinan berbeda dengan cara mengolah yang

15
berbeda pula. Pakaian yang digunakan sebaiknya bersih, layak dan nyaman
dipakai. Untuk pemeliharaan kesehatan seyogyanya terdapat fasilitas kesehatan
berupa poliklinik yang buka 24 jam dan memberikan pelayanan kegawatdaruratan
yang mudah diakses. Apabila perlu dirujuk, tersedia fasilitas ambulans yang siap
setiap saat. Biasanya diperlukan pula fasilitas fisioterapi.
3. Pemanfaatan waktu luang merupakan suatu upaya untuk memberikan peluang dan
kesempatan bagi lansia untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai kegiatan
atau aktivitas yang positif, bermakna, dan produktif bagi dirinya maupun orang
lain. Kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan harus sesuai dengan minat, bakat,
dan potensi yang mereka miliki (Annubawati, 2014). Tidak hanya sekedar mengisi
waktu luang tetapi sesuatu yang menyenangkan, akan lebih baik jika produktif;
sehingga dapat berfungsi sebagai terapi masalah psikososial dan emosional yang
mungkin dialami oleh lansia. Demikian juga dengan kegiatan rekreasi, seyogyanya
tidak hanya menyenangkan tetapi merupakan kesempatan untuk berinteraksi
dengan lingkungan di luar panti sehingga mereka merasa tidak terisolasi tetapi
masih terhubung dengan lingkungan di sekitarnya.
4. Bimbingan mental dan agama lebih ditujukan untuk mengatasi masalah emosional
dan psikologis. Berdasarkan informasi dari Tim Kajian Bentuk Pelayanan Lanjut
Usia di Daerah Istimewa Yogyakarta, banyak lansia yang tinggal di panti werdha
yang kesepian, sedih, menarik diri dari pergaulan dan kegiatan, pasif, murung,
mengalami emosi negatif, bermusuhan dengan sesama penghuni panti, dan
sebagainya. Untuk membantu mengatasi masalah tersebut kegiatan bimbingan
mental dan keagamaan melalui kegiatan konseling dapat membantu mereka.
Sementara itu, bimbingan sosial lebih ditujukan untuk mengatasi masalah relasi
sosial dengan keluarga atau lingkungan sosialnya. Terkait dengan pelaksanaan
bimbingan sosial di panti wedha, Tim Kajian Bentuk Pelayanan Lansia di DIY
(2014) menemukan bahwa di panti werdha ada kecenderungan pelayanan
bimbingan sosial ini relatif sama dengan bimbingan psikologis; belum diarahkan
untuk memfasilitasi interaksi atau komunikasi antar penghuni panti sosial maupun
dengan warga masyarakat lainnya. Masalah relasi sosial seringkali menjadi
penyebab atau saling pengaruh mempengaruhi dengan masalah emosional dan

16
psikologis, sehingga memperbaiki relasi sosial dengan keluarga atau lingkungan
sosial lainnya akan membantu memecahkan masalah emosional dan psikologis
juga
5. Pelayanan bagi lansia dalam panti diberikan sampai dengan lansia meninggal.
Pelayanan yang diberikan merupakan perawatan jangka panjang (Long-Term
Care). Oleh karena itu, pelayanan pengurusan pemakaman pun turut menjadi
tanggung jawab panti, sesuai dengan agama yang dianutnya masing-masing.
Oleh karena jenis-jenis pelayanan tersebut merupakan jenis pelayanan yang
tercantum dalam Pedoman Pelayanan Sosial Lanjut Usia (Permensos No. 19 tahun
2012) maka di setiap panti werdha, terutama yang dikelola oleh pemerintah, maka
tampaknya jenis layanan yang diberikan pada lansia relatif sama, karena semua
merujuk pada pedoman tersebut. Sebagai contoh misalnya jenis pelayanan di Panti
Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budhi Dharma Bekasi yang merupakan Unit
Pelaksana Teknis di lingkungan Kementerian Sosial RI; sebagaimana tercantum
dalam website resminya, jenis pelayanan yang diberikan meliputi: 1) Penyediaan
tempat yang sehat aman dan nyaman berupa tempat istirahat/ tidur dan tempat
beraktivitas; 2) Pelayanan fisik dan kesehatan meliputi makan dengan gizi
seimbang, pemeriksaan kesehatan, dan pelayanan kebugaran; 3) Pelayanan sosial
berupa bimbingan mental, sosial, dan konsultasi; 4) Pelayanan kerohanian seperti
sholat berjamaah, pengajian, ceramah agama bagi yang beragama Islam dan
kebaktian bagi yang beragama kristen; 5) Pelayanan rekreasi dan penyaluran hobi
meliputi darmawisata, hiburan (menyanyi, menari dll.), mengadakan perayaan-
perayaan, perpustakaan, pemberian bimbingan keterampilan/kerajinan tangan; 6)
Pelayanan pendampingan dalam pemenuhan kebutuhan harian dan pendampingan
aktivitas; 7) Pelayanan data dan informasi. Demikian juga di Balai Perlindungan
Sosial Tresna Wherda (BPSTW) Ciparay yang merupakan UPT Kanwil
Kementerian Sosial Provinsi Jawa Barat; dan di PSTW di DI Yogyakarta.
Walaupun jenis pelayanannya relatif sama namun kelompok sasaran panti-panti
sosial yang dikelola oleh pemerintah ternyata ada perbedaan. PSTW Budhi
Dharma Bekasi menerapkan Program Subsidi Silang. Kelompok sasaran yang
dilayani tidak hanya lanjut usia terlantar yang selama ini sudah ditampung di panti

17
ini, tetapi juga menampung lanjut usia dari keluarga mampu. Penerapan program
subsidi silang tersebut dilakukan untuk merespons berbagai kebutuhan dan
permasalahan semua lanjut usia. Lansia dari kalangan keluarga tidak mampu,
adalah lansia yang benar-benar terlantar tidak memiliki keluarga yang bertanggung
jawab; sementara lansia dari keluarga yang mampu secara ekonomi adalah yang
masih memiliki keluarga yang bertanggung jawab. Di BPSTW Ciparay Kabupaten
Bandung, tidak menggunakan sistem subsidi silang, semua fasilitas yang diberikan
pada lansia dibiayai oleh dana APBD Provinsi Jawa Barat. Tidak ada dana yang
diperoleh dari lansia yang mendapat pelayanan. BPSTW Ciparay tidak
menyebutkan persyaratan bahwa lansia harus yang tidak memiliki keluarga tetapi
harus yang tidak mampu secara ekonomi. PSTW di DIY menerapkan sistem
pelayanan yang sama dengan BSTW Ciparay, tetapi menyebutkan dengan jelas
bahwa kelompok sasarannya lansia yang tidak punya keluarga; walaupun dalam
kenyataannya sebagian besar masih memiliki keluarga.
Kriteria lansia sasaran layanan yang sama di ketiga lembaga pelayanan tersebut
adalah ‘masih dapat mengurus dirinya sendiri atau masih mandiri’. Persyaratan
tersebut dapat membatasi akses bagi lanjut usia yang sudah tidak mampu mandiri
dan banyak tergantung pada bantuan orang lain, yang justru lebih membutuhkan
perlindungan dan pelayanan dari negara. Jika merujuk pada konsep pelayanan
sosial dalam konteks kebijakan publik bahwa negara seyogyanya memfokuskan
pada kelompok-kelompok yang lemah (Suharto, 2007:5). Walaupun klien lanjut
usia berasal dari keluarga miskin, jika masih mandiri dan ada/tidak ada
keluarganya maka mereka masih dapat dilayani dengan model pelayanan di luar
panti, yaitu home care dan community care. Dalam hal ini tentu keluarga harus
mendapatkan pelayanan peningkatan kapasitas dalam merawat lansia. Panti yang
dikelola oleh pemerintah seyogyanya diperuntukkan bagi lanjut usia yang memang
benar-benar terlantar dan tidak mandiri. Merujuk pada kebijakan tentang layanan
Long-Term Care (LTC), bahwa salah satu komponen LTC adalah pemerintah;
tugas pemerintah adalah menyediakan sistem asuransi LTC dan layanan berbasis
institusi (institutional based). Porsi layanan berbasis institusi paling kecil
dibandingkan dengan yang berbasis keluarga dan komunitas; oleh karena itu

18
kelompok sasaran layanan harus ditentukan lebih selektif, lebih mengutamakan
pada lansia yang tidak memungkinkan dilayani melalui rumahtangga atau
komunitas.

h. Posyandu lansia
A. Pengertian Posyandu Lansia
Komisi Nasional Lanjut Usia (2010) disebutkan bahwa Pos Pelayanan
Terpadu (Posyandu) Lanjut Usia adalah suatu wadah pelayanan kepada lanjut usia
di masyarakat, yang proses pembentukan dan pelaksanaannya dilakukan oleh
masyarakat bersama lembaga swadaya masyarakat (LSM), lintas sektor
pemerintah dan non-pemerintah, swasta, organisasi sosial dan lain-lain, dengan
menitik beratkan pelayanan kesehatan pada upaya promotif dan preventif.
Disamping pelayanan kesehatan, di Posyandu Lanjut Usia juga dapat diberikan
pelayanan sosial, agama, pendidikan, ketrampilan, olah raga dan seni budaya serta
pelayanan lain yang dibutuhkan para lanjut usia dalam rangka meningkatkan
kualitas hidup melalui peningkatan kesehatan dan kesejahteraan mereka. Selain
itu mereka dapat beraktifitas dan mengembangkan potensi diri.
B. Tujuan Posyandu Lansia
1. Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat sehingga
terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia.
2. Mendekatkan keterpaduan pelayanan lintas program dan lintas sektor serta
meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan
kesehatan.
3. Mendorong dan memfasilitasi lansia untuk tetap aktif, produktif, dan mandiri
serta meningkatkan komunikasi di antara masyarakat lansia.
C. Manfaat Posyandu Lansia
1. Meningkatkan status kesehatan lansia
2. Meningkatkan kemandirian pada lansia
3. Memperlambat agingproses.
4. Deteksi dini gangguan kesehatan pada lansia.
5. Meningkatkan usia harapan hidup.

19
D. Upaya-upaya yang dilakukan dalam posyandu lansia antara lain :
1. Promotif
Upaya promotif merupakan tindakan secara langsung dan tidak langsung
untukmeningkatkan derajat kesehatan dan mencegah penyakit. Upaya
promotif juga merupakan proses advokasi kesehatan untuk meningkatkan
dukungan klien, tenaga profesional, dan masyarakat terhadap praktik
kesehatan yang positif menjadi norma-norma sosial. Penyampaian 10 perilaku
yang baik bagi lansia, baik perorangan maupun kelompok lansia adalah
dengan cara sebagai berikut.
a. Mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa.
b. Maumenerima keadaan, sabar dan optimis, serta meningkatkan rasa
percaya diri dengan melakukan kegiatan sesuai kemampuan.
c. Menjalin hubungan yang teratur dengan keluarga dan sesama.
d. Olahraga ringan setiap hari.
e. Makan sedikit tapi sering, memilih makanan yang sesuai, dan banyak
minum (sebanyak air putih).
f. berhenti merokok dan meminum minuman keras.
2. Peningkatan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,Meliputi kegiatan
peningkatan keagamaan(kegiatan doa bersama). Peningkatanketakwaan berupa
pengajian rutin satu bulan sekali. Kegiatan ini memberikan kesempatan
mewujudkan keinginan lanjut usia yang selalu berusaha terus memperkokoh
iman dan takwa.
3. Peningkatan kesehatan dan kebugaran lanjut usia meliputi :
a. Pemberian pelayanan kesehatan melalui klinik lanjut usia Kegiatan
b. Penyuluhan gizi
c. Penyuluhan tentang tanaman obat keluarga
d. Olah raga
e. Rekreasi
f. Peningkatan ketrampilan

20
4. Upaya pencegahan/prevention masing-masing upaya pencegahan dapat
ditunjukkan kepada :
a. Upaya pencegahan primer (primary prevention) ditujukan kepada
lanjutusia yang sehat, mempunyai resiko akan tetapi belum menderita
penyakit
b. Upaya pencegahan sekunder (secondary prevention) ditujukan
kepadapenderita tanpa gejala, yang mengidap faktor resiko. Upayaini
dilakukansejak awal penyakit hingga awal timbulnya gejala atau keluhan
c. Upaya pencegahan tertier (tertiery prevention) ditujukan kepada
penderitapenyakit dan penderita cacat yang telah memperlihatkan gejala
penyakit.
i. Tunawisma lansia
Tunawisma lansia merupakan orang atau lansia yang tidak mempunyai tempat
tinggal tetap dan didasarkan dengan berbagai alasan harus tinggal di bawah kolong
jembatan, taman umum, pinggir jalan, pinggir sungai, stasiun kereta api, atau
berbagai fasilitas umum lain untuk tidur dan menjalankan kehidupan sehari – hari.
Sebagai pembatas wilayah pribadi, tunawisma sering menggunakan kardus, lembaran
seng atau alumunium, lembaran plastik, selimut, kereta dorong pasar syawalan, atau
tenda sesuai dengan keadaan geografis dan negara tempat tunawisma berada. Untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari sering kali hidup dari belas kasihan orang
lain atau bekerja sebagai pemulung.
Ciri –ciri tunawisma pada lansia secara spesifik antara lain sebagai berikut :
 Para tunawisma lansia tidak mempunyai pekerjaan
 Kondisi fisik para tunawisma lansia tidak sehat
 Para tunawisma lansia biasanya mencari – cari barang atau memakan disembarang
tempat demi memenuhi kebutuhan hidupnya
 Para tunawisma lansia hidup bebas tidak bergantung kepada orang lain ataupun
keluarganya

21
Tunawisma lansia dibagi menjadi tiga, yaitu :
 Tunawisma biasa, yaitu mereka mempunyai pekerjaan namun tidak mempunyai
tempat tinggal tetap.
 Tunakarya, yaitu mereka yang tidak mempunyai pekerjaan dan tidak mempunyai
tempat tinggal tetap.
 Tunakarya cacat, yaitu mereka yang tidak mempunyai ppekerjaan dan tidak
mempunyai tempat tinggal, juga mempunyai kekurangan jasmani dan rohani.
Faktor – faktor yang mengakibatkan munculnya tunawisma pada lansia
Ada berbagai alasan yang menjadikan seseorang atau lansia memilih untuk
menjalani hidupnya sebagai seorang tunawisma.Mulai dari permsalahan psikologis,
kerenggangan hubungan dengan orang tua atau keinginan untuk hidup bebas.Namun
alasan yang terbanyak dan paling umum adalah kegagalan para perantau dalam
mencari pekerjaan.
Masalah kependudukan di Indonesia pada umumnya telah lama membawa
masalah lanjutan, yaitu penyediaan lapangan pekerjaan.Dan bila kita meninjau
keadaan dewasa ini, pemerataan lapngan pekerjaandi Indonesia masih kurang.
Sehingga kota besar pada umumnya mempunyai lapangan pekerjaan yang lebih
banyak dan lebih besar daripada kota – kota kecil.
Hal ini menjadi penyebab keengganan tunawisma untuk kembali ke daerahnya
selain karena perasaan malu karena berpiir bahwa daerahnya memiliki lapangan
pekerjaan yang lebih sempit daripada tempat dimana mereka tinggal sekarang.Mereka
memutuskan untuk tetap meminta – minta, mengamen, memulung, dan berjualan
seadanya hingga pekerjaan yang lebih baik menjemput mereka.
Dampak tunawisma pada lansia
Salah satu penyebab tunnawisma dipermasalahkan yaitu karena kebanyakan para
tunawisma tinggal dipemukiman kumuh dan liar, menempati zona – zona publik yang
sebetulnya melanggar hukum, biasanya dengan mengontrak petak – petak di daerah
kumuh di pusat kota atau mendiami stren – stren sebagai pemukim liar. Selain itu
adanya para tunawisma pemandangan indah suatu kota menjadi terganggu dan tidak

22
tertib. Hal tersebut berhubungan dengan pekerjaan tunawisma seperti menjadi
pengemis, pemulung sampah, pengamen, dll.
Penanganan yang dilakukan teradap tunawisma pada lansia
Permasalahan tunawisma pada lansia sampai saat ini merupakan masalah yang
tidak habis – habis karena berkaitan satu sama lain dengan aspek – aspek kehidupan,
namun pemerintah juga tidak abis – habisnya berupaya untuk menanggulanginya.
Dengan berupaya menemukan motivasi melalui persuasi dan edukasi terhadap
tunawisma supaya mereka mengenal potensi yang ada pada dirinya, sehingga tumbuh
keinginan dan berusaha untuk hidup lebih baik.

j. Keperawatan lanjut usia dimasyarakat


Tujuannya adalah mengupayakan sejauh mungkin agar seorang lansia dapat
hidup di rumahnya sendiri, lingkungannya sendiri atau dengan bantuan sesedikit
mungkin dari orang lain. Untuk mencapai tujuan ini, maka semua aspek geriatri mulai
dari upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif menjadi sangat
penting.Upaya-upaya tersebut harus dilaksanakan secara baik, dimana perawat
merupakan bagian dari upaya tersebut. Keempat upaya tersebut meliputi:
1. Upaya promotif
Merupakan upaya untuk menggairahkan semangat hidup dan meningkatkan
derajat kesehatan lansia agar tetap berguna, baik bagi dirinya, keluarga, maupun
masyarakat. Kegiatan tersebut dapat berupa:
a. Penyuluhan, demonstrasi dan pelatihan bagi petugas panti mengenai hal-hal
berupa masalah gizi dan diet, perawatan dasar kesehatan, keperawatan kasus
darurat, mengenal kasus gangguan jiwa, olahraga, teknik-teknik
berkomunikasi, serta bimbingan rohani.
b. Sarasehan, pembinaan mental dan ceramah keagamaan.
c. Pembinaan dan pengembangan kegemaran pada lansia di panti
d. Rekreasi
e. Kegiatan lomba antar lansia di dalam panti atau antar panti
f. Penyebarluasan informasi tentang kesehatan lansia di panti maupun
masyarakat luas melalui berbagai macam media.

23
2. Upaya preventif
Merupakan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya penyakit-penyakit
yang disebabkan oleh proses penuaan dan komplikasinya. Kegiatanya meliputi:
a. Pemeriksaan berkala yang dapat dilakukan dip anti oleh petugas kesehatan
yang datang ke panti secara periodik atau di puskesmas dengan
menggunakan KMS lansia.
b. Penjaringan penyakit pada lansia, baik oleh petugas kesehatan di puskesmas
maupun petugas panti yang telah dilatih dalam pemeliharaan kesehatan
lansia.
c. Pemantauan kesehatan oleh dirinya sendiri dengan bantuan petugas panti
yang menggunakan buku catatan pribadi.
d. Melakukan olahraga secara teratur sesuai dengan kemampuan dan kondisi
masing-masing.
e. Mengelola diet dan makanan lansia penghuni panti sesuai dengan kondisi
kesehatannya masing-masing.
f. Meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
g. Mengembangkan kegemarannya agar dapat mengisi waktu dan tetap
produktif.
h. Melakukan orientasi realita, yaitu upaya pengenalan terhadap lingkungan
sekelilingnya agar lansia dapat lebih mampu mengadakan hubungan dan
pembatasan terhadap waktu,
3. Upaya kuratif
Merupakan pengobatan bagi lansia oleh petugas kesehatan atau petugas
panti terlatih sesuai kebutuhan. Kegiatan ini dapat berupa hal-hal sebagai berikut:
a. Pelayanan kesehatan dasar di panti oleh petugas kesehatan atau petugas panti
yang telah dilatih melalui bimbingan dan pengawasan petugas
kesehatan/puskesmas.
b. Pengobatan jalan di puskesmas.
c. Perawatan dietetic.
d. Perawatan kesehatan jiwa.
e. Perawatan kesehatan gigi dan mulut.

24
f. Perawatan kesehatan mata.
g. Perawatan kesehatan melalui kegiatan di puskesmas.
h. Rujukan ke rumah sakit, dokter spesialis, atau ahli kesehatan yang
diperlukan.
4. Upaya reabilitatif
Merupakan upaya untuk mempertahankan fungsi organ seoptimal mungkin.
Kegiatan ini dapat berupa rehabilitasi mental,vokasional (keterampilan/kejuruan),
dan kegiatan fisik. Kegiatan ini dilakukan oleh petugas kesehatan, petugas panti
yang telah dilatih dan berada dalam pengawasan dokter, atau ahlinya (perawat).

25
ASUHAN KEPERAWATAN

Kasus

Ny.En, usia 63 tahun, dengan 3 anak, islam, jawa, pendidikan terakhir SMEA, ibu rumah
tangga. Keluhan Utama pasien merasa sedih dan ingin mati sejak satu bulan sebelum datang
ke poli jiwa. + 6 bulan sebelum pasien dating ke poli, suaminya mengalami serangan stroke
yang ke empat kalinya, perkataan suami (Tn.S) menjadi semakin kasar, menuduh dirinya
selingkuh, mudah tersinggung, cepat marah, dan berprasangka buruk pada semua orang.
Keadaan fisik Tn.S juga tidak memungkinkan untuk melakukan aktivitas hidup sehari – hari
sendiri, tangan dan kaki Tn.S terasa lemas sehingga tidak kuat bila memegang sesuatu dan Tn.
S sulit untuk buang air kecil/ besar di kamar mandi (terkadang buang air kecilnya tidak dapat
dikontrol). Pasien mengatakan akhir – akhir ini hilang mina dan kesenangan, sulit utnuk
memfokuskan pikiran dalam melakukan kegiatan sehari – hari karena masalah ini, pasien lebih
nyaman untuk tidur – tiduran saja di kamar, hilang nafsu makan, sering sulit tidur, guloa darah
pasien cenderung diatas 500 walaupun sudah control dan minum obat secara teraturseperti
biasanya. Seiap kali pasien teringat perkataan Tn. S yang kasar, pasien merasa kepalanya
sakit, perut atas terasa perih, dan telapak tangan terasa dingin. Selain masalah komunikasi
dengan suami, pasien menghadapi kondisi adiknya bercerai dan ketiga anaknya tidak masuk
sebagai pegawai negri. Pasien merasa bahwa hidupnya sudah tidak ada gunanya lagi, pasien
sering berpikir untuk lari dari rumah. Belakangan ini pasien juga sering berfikir untuk
mengakhiri hidup dengan cara merebahkan diri diatas rel kereta api dekat rumahnya\. Sejak
masa remaja pasien mengalami kekecewaan dengan ayahnya yang menikah lagi (pasien
menggambarkan sejak itu cintanya terbagi ). Pasien saying pada ayahnya tetapi juga kecewa
dengan perlakuan ayahnya.

Diagnosa Keperawatan:

1. Keputusasaan berhubungan dengan Stress jangka panjang


2. Resiko bunuh diri
3. Harga diri rendah kronik
4. Resiko perlemahan martabat

26
Diagnosa Utama:

1. Keputusasaan berhubungan dengan Stress jangka panjang


2. Resiko bunuh diri

27
Diagnosa
No Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan
1 Keputusasaan Setelah dilakukan Peningkatan Efikasi Diri
berhubungan tindakan selama 7 x 24  Eksplorasi persepsi  Untuk mengetahui
dengan Stress diharapkan individu mengenai persepsi yang diyakini
jangka panjang Keputusasaan kemampuannya untuk oleh klien
berhubungan dengan melaksanakan perilaku
Stress jangka panjang - perilaku yang di  agar dapat mengukur
dapat teratasi dengan inginkan kepatuhan pasien dalam
tindakan Koping,  Identifikasi persepsi melaksanakan tindakan –
dengan kriteria hasil individu mengenai tindaka yang telah
sebagai berikut: resiko tidak disepakati bersama
 Mengidentifikasi pola melaksanakan perilaku  agar mengetahu
koping yang efektif (3) – perilaku yang di hambatan – hambatan
 Melaporkan inginkan yang beresiko dalam
pengurangan stress (3)  Identifikasi hambatan keberhasilan
 Menyatakan untuk merubah perilaku pelaksanaan tindakan
penerimaan terhadap  Berikan informasi yang telah direncakan
situasi (3) mengenai perilaku yang bersama
 Modifikasi gaya hidup di inginkan  agar pasien yakin dan
untuk mengurangi  Bantu individu untuk percaya diri dalam
stress (3) berkomitmen terhadap pelaksanan proses

28
 Adaptasi perubahan rencana tindakan untuk perubahan diri yang lebih
hidup (3) merubah perilaku baik
 Menggunakan system  Berikan penguatan  untuk menambah
dukungan personal (3) kepercayaan diri dalam motivasi dan semangat
 Mendapatkan bantuan membuat perubahan serta membuat klien
dari professional perilaku dan mengambil nyaman daam proses
kesehatan (3) tindakan pelaksanaan tindakan
 Melaporkan  Berikan lingkungan yang telah direncanakan
penurunan perasaan yang mendukung  agar rencana tindakan
negative (3) perilaku yang di yang diberikan tidak
 Melaporkan inginkan untuk menyimpang ataupun
peningkatan mempelajari menambah beban dari
kenyamanan pengetahuan dan pasien mengingat pasien
psikologis (3) keterampilan yang adalah lansia yang
diperlukan untuk memliki permasalahan
berperilaku yang kompleks
 Gunakan strategi  untuk mengantisipasi
pembelajaran yang kejadian atau perilaku
sesuai dengan budaya yang dapat
dan usia (pasien) membahayakan klien
 Berikan penguatan atau membuat klien
positif dan dukungan kembali ingin bunuh diri.

29
emosi selama proses
pembelajaran dan saat
mengimplementasikan
perilaku
 Siapkan individu
mengenai kondisi fisik
dan emosi yang
mungkin akan dialami
sselama berusaha untuk
melakukan perilaku
baru

2. RESIKO BUNUH Setelah dilakukan Pencegahan Bunuh Diri


DIRI tindakan selama 7 x 24  Tentukan apakah pasien  Untuk mengantisipasi
diharapkan Keputusasaan memiliki alat untuk terjadinya bunuh diri
berhubungan dengan melaksanakan rencana untuk kesekian klainya
Stress jangka panjang bunuh dirinya  Mempertimbangkan
dapat teratasi dengan  Pertimbangkan untuk seberapa pentingnya
tindakan Tingkat membawa pasien yang perawatan secara
Depresi memiliki resiko serius langsung di rumah sakit

30
dengan kriteria hasil untuk (melakukan)  Untk menghindari
sebagai berikut: perilkau bunuh diri agar terjadinya bunuh diri
 Pikiran bunuh diri dapat dirawat kerumah terulang
yang berulang (4) sakit  Agar pasien dan
 Kesedihan (3)  Atasi dan tangani perawat memiliki
 Keputusasaan (4) penyakit pskiatrik hubungan terbuka dan
 Rendahnya hargta diri atau gejala – gejala saling percaya sehingga
(4) yang mungkin tindakan – tindakan
menempatkan yang direncanakan
pasien pada resiko dapat terlaksana sesuai
bunuh diri tujuan
(misalnya:  Untuk menambah
gangguan alam kenyamanan dalam diri
perasaan, pasien sehingga
halusinasi, delusi, tindakan – tindakan
panic, yang telah
penyalahgunaan zat, direncanakan dapat
berduka, gangguan terlaksana secara
kepribadian, efekstif
gangguan organic,  Untuk menguatkan
krisis) klien agara tidak
 Libatkan pasien mengulangi keinginan

31
dalam perencanaan atau perilaku bunuh diri
penanganannya,  Agar klien merasa
dengan tepat nyaman dan terbuka
 Instruksikan pasien saat berdiskusi tentang
melakukan strategi apa yang dirasakan dan
– strategi koping ( berkerjasama secara
misalnya latihan kooperatif dalam
asertif, control pelaksanan tindakan –
terhadap impuls, tindakan yang
dan relaksasi otot direncanakan
progresif) dengan
tepat
 Buat kontrak
(verbal atau tulis)
dengan pasien
untuk tidak
“menyakiti diri”
dalam suatu periode
waktu yang spesifik
 Bantu individu
untuk
mendiskusikan

32
perasaan nya terkait
dengan kontrak
 Observasi individu
terkait adanya tanda
– tanda
ketidaksesuaian
yang
mengindikasikan
kurangnya
komitmen untuk
memenuhi kontrak
 Gunakan
pendekatan
langsung, tidak
menghakimi dalam
mendiskusikan
mengenai (perilaku)
bunuh diri
 Dukung pasien
untuk mencari
perawatan, berikan
kesempatan untuk

33
berbicara pada saat
keinginan
menyakiti diri
muncul
 Hindri pengulangan
diskusi mengenai
riwayat bunuh diri
masa lalu dengan
tetap berdiskusi
yang berorientasi
pada saat ini dan
masa depan
 Diskusikan rencana
untuk mengatasi ide
bunuh diri dimasa
yang akan dating (
misalnya; faktor
yang memicu, siapa
yang akan dikontak,
apakah akan
mencari
pertolongan,

34
kemanana mencari
pertolongan, cara
untuk
menghilangkan
perasaan
membahayakan/
menyakiti diri)
 Observasi, catata
dan laporkan
perubahan alam
perasaan atau
perilaku yang
mungkin secara
bermakna
meningkatkan
resiko bunuh diri
dan
dokumentasikan
hasil dari
pengawasan
pengecean yang
regular

35
 Jelaskan
pencegahan bunuh
diri dan isu
keamanan yang
relevan pada pasien/
keluarga/ orang
yang pentingbagi
pasien
 Fasilitasi dukungan
bagi pasien dari
keluarga dan teman
– temannya

36
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan kajian pustaka yang telah penyusun temukan
mengenai Perubahan Sosial dan Kongnitif Pada Lansia, maka dapat
disimpulkan sebagai berikut:
 Masalah yang sering menyebabkan stress pada lansia adalah post
power sindrom, kehilangan jabatan, perasaan kecewa karena tidak lagi
dihormati seperti yang dulu, menyebabkan perilakunya sering seperti
anak kecil, ingin diperhatikan orang.
 Dukungan sosial adalah tindakan yang bersifat membantu yang
melibatkan emosi, pemberian informasi, bantuan instrumen, dan
penilaian positif pada individu dalam menghadapi permasalahannya.
 Lansia yang dekat dengan keluarganya mempunyai kecenderungan
lebih sedikit untuk stress dibanding lansia yang hubungannya jauh.
Berikut adalah 3 aspek hubungan sosial pada lansia, yaitu hubungan
pertemanan (Friendship), dukungan sosial (Social Support) dan
integrasi sosial (Social Integration).
 Orang tua diharapkan untuk menyesuaiakan diri dengan menurunkan
kekuatan, dan menurunnya kesehatan secara bertahap. Hal ini sering
diartikan sebagai perbaikan dan perubahan peran yang pernah
dilakukan didalam maupun diluar rumah.
 Sumber kontak sosial pada lansia yaitu persahabatan pribadi yang
akrab, kelompok persahabatan dan kelompok atau perkumpulan

 Komisi Nasional Lanjut Usia (2010) disebutkan bahwa Pos Pelayanan


Terpadu (Posyandu) Lanjut Usia adalah suatu wadah pelayanan
kepada lanjut usia di masyarakat, yang proses pembentukan dan
pelaksanaannya dilakukan oleh masyarakat bersama lembaga swadaya
masyarakat (LSM), lintas sektor pemerintah dan non-pemerintah,
swasta, organisasi sosial dan lain-lain, dengan menitik beratkan
pelayanan kesehatan pada upaya promotif dan preventif.

37
 Tunawisma lansia merupakan orang atau lansia yang tidak
mempunyai tempat tinggal.

 Keperawatan lanjut usia dimasyarakat, tujuannya adalah


mengupayakan sejauh mungkin agar seorang lansia dapat hidup di
rumahnya sendiri, lingkungannya sendiri atau dengan bantuan
sesedikit mungkin dari orang lain.
 Upaya promotif, merupakan upaya untuk menggairahkan semangat
hidup dan meningkatkan derajat kesehatan lansia agar tetap berguna,
baik bagi dirinya, keluarga, maupun masyarakat.
 Upaya preventif,merupakan pencegahan terhadap kemungkinan
terjadinya penyakit-penyakit yang disebabkan oleh proses penuaan
dan komplikasinya.
 Upaya kuratif, merupakan pengobatan bagi lansia oleh petugas
kesehatan atau petugas panti terlatih sesuai kebutuhan.
 Upaya reabilitatif, merupakan upaya untuk mempertahankan fungsi
organ seoptimal mungkin.
 Perkembangan psikologi lansia menurut John Leonard Horn. Horn
mengambil dari segi intelejensi perkembangan individu saat
menginjak masa tua. Model teoritis Horn’s menjelaskan
perkembangan kecerdasan yang mencair dan mengkristal selama
rentang hidup individu.
 Memori dapat didefinisikan sebagai kemampuan dalam menyimpan
dan mengulang kembali informasi yang diperoleh yangterdiri dari 3
tahap. Tahap pertama yaitu encoding yang merupakan fungsi
menerima, proses dan penggabungan informasi. Tahap kedua yaitu
storage merupakan pembentukan suatu catatan permanen informasi
yang telah dilakukan encoding. Tahap ketiga yaitu retrieval
merupakan suatu fungsi memanggil kembali informasi yang telah
disimpan untuk interprestasi dari suatu aktivitas
 Konsekuensi fungsional kognitif yang terjadi pada lansia, meliputi
berkuirangnya kemampuan meningkatnya fungsi intelektual,
berkurangnya efisiensi tranmisi saraf di otak (menyebabkan proses

38
informasi melambat dan banyak informasi hilang selama transmisi),
berkurangnya kemampuan mengakumulasi informasi baru dan
mengambil informasi dari memori,serta kemampuan mengingat
kejadian masa lalu lebih baik dibandingkan kemampuan mengingat
kejadian yang baru saja terjadi.
B. SARAN
Setelah penyusun membuat makalah ini, penyusun menjadi tau tentang
perubahan sosial dan kognitif lansia. Lansia adalah masa dimana
seseorang mengalami kemunduran, dimana fungsi tubuh sudah tidak
optimal lagi sehingga lansia mudah mengalami stres yang diakibatkan oleh
dirinya sendiri. Oleh karena itu lansia membutuhkan dukungan dari
keluarga untuk mengurangi stres dengan cara mengajak bercerita, jalan-
jalan dan mengajaknya berolahraga agar lansia sehat jiwa maupun
raganya.

39
DAFTAR PUSTAKA

Azizah, Lilik Ma’rifatul. 2011. Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta:

Ruko Jambusari No. 7A

Depkes RI. 1993. Buku Standar Keperawatan. Jakarta: Depkes RI

Gallo,J.J, Reichel, W & Anderson, L.M.2000.Buku Saku Gerontik.Jakarta:EGC.edisi ke-2

Hurlock, B.E.1980. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang

Rentang Kehidupan. Edisi ke lima. Jakarta: Erlangga.

Jahja, Yudrik ,Psikologi Perkembangan,Jakarta: Kencana, 2011

Marni, A. ( 2015 ). Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penerimaan Diri Pada

Lansia Di Panti Wredha Budhi Darma Yogyakarta

Nugroho, Wahjudi.2014.Keperawatan gerontikdan geriatrik.Jakarta:EGC.edisi ke-3

Purwanto, Heri.1998. Pengantar Perilaku Manusia. Jakarta: EGC.

Saputri, M. A. ( 2011 ). Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Depresi Pada Lanjut

Usia Di Panti Wreda Wening Wardoyo Jawa Tengah

Suryani, Eko dan Asmar yetti Zein.2005.Psikologi Ibu dan Anak. Yogyakarta: fitramaya.

Suharto, E. Meretas Kebijakan Sosial Pro Poor: Menggagas Pelayanan Sosial


yang Berkeadilan.
Melaluihttp://www.policy.hu/suharto/Naskah%20PDF/UGMPelayananSosial.pdf
(15-08-2015).

Tamher,S& Noorkasiani.2009.Kesehatan Usia Lanjut Dengan Pendekatan Asuhan

Keperawatan.Jakarta:Salemba Medika

http://nerys2.wordpress.com/perkembangan-masa-lanjut-usia/

http://abdulaziz.wordpress.com/2011/05

http://psycnet.apa.org/journals/amp/62/6/596/

http://alinaksi.blogspot.in/2010/03/teori-intelegensi-3.html?m=1

http://primazip.wordpress.com/2013/01/31/inteligensi-teori/

40
https://stikeskabmalang.files.wordpress.com/2009/10/tunawisma-pada-
lansia.doc&ved=2ahUKEwiq1_D_2K3eAhXGK48KHdLrDkoQFjAAegQIABAB
&usg=AOvVaw3HfPWOAnurOzt7ZynR9IGC

https://www.scribd.com/document/359148161/Tunawisma-Pada-Lansia

https://euanvisu.wordpress.com/2014/12/02/perkembangan-dan-perawatan-
kesehatan-pada-lansia/

https://www.scribd.com/document/373171686/Aspek-Hubungan-Sosial-Pada-
Lansia

http://dinsos.jogjaprov.go.id/pelayanan-kesejahteraan-sosial/

41