Anda di halaman 1dari 59

PRAKTIKUM METODOLOGI PENELITIAN

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN


TERAPI ANTIRETROVIRAL (ARV) PADA ANAK DENGAN
HIV/AIDS DI “JOMBANG CARE CENTER PLUS (JCC+)”
KABUPATEN JOMBANG

Oleh :
NURULLAH IKA PUJILESTARI
NIM.1608.14201.507

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIDYAGAMA HUSADA
MALANG
2019

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan

kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus Human

Immunodeficiency Virus (HIV) yang dapat menular dan mematikan

(Nur'ainun & Wahyuni, 2017). Virus tersebut dapat menyerang sistem

kekebalan tubuh manusia. Individu yang terinfeksi akan mengalami

penurunan daya tahan tubuh yang ekstrim dan mengakibatkan turunnya

atau hilangnya daya tahan tubuh sehingga mudah terjangkit penyakit

infeksi (Indriani & Fauziah, 2017). Virus HIV sendiri dapat ditemukan

dalam cairan tubuh terutama pada darah, cairan sperma, cairan vagina,

dan air susu ibu (Nur'ainun & Wahyuni, 2017). Penularan terutama terjadi

melalui hubungan seksual berisiko, transfusi darah, penggunaan jarum

suntik yang terinfeksi HIV, transplantasi organ/ jaringan dan penularan

dari ibu hamil ke janin yang di kandungnya (Hardiansyah et al., 2014).

Virus HIV terus mengalami peningkatan yang signifikan sejak

pertama kali ditemukan pada tahun 1981 di New York. Virus HIV

diperkirakan telah mengakibatkan kematian lebih dari 25 juta orang di

seluruh dunia (Buscher, Kallen, Suarez-almazor, & Giordano, 2015).

Berdasarkan laporan United Nation of AIDS (UNAIDS) tahun 2011,

didapatkan data 34,2 juta orang di dunia hidup dengan virus AIDS dan 1,7

juta meninggal dunia (Buscher et al., 2015). Sedangkan data dari World

Health Organization (WHO) telah menunjukkan hingga saat ini lebih dari

39 juta jiwa mengidap HIV. Pada tahun 2013, 1.5 juta orang meninggal
karena HIV. Sekitar 35 juta orang yang hidup dengan HIV pada tahun

2013 secara global (Bjelon & Gojová, 2017). Kasus anak yang meninggal

terkait penyakit AIDS pada tahun 2012 di seluruh dunia mencapai

260.000 (UNAID , 2010). Risiko kematian secara umum bayi dengan HIV

positif sangat besar. Hanya sejumlah kecil bayi yang lahir dengan HIV

positif bisa bertahan hidup sampai usia 6 tahun ( UNICEF, 2011).

HIV dan AIDS merupakan masalah kesehatan yang menyebabkan

kekhawatiran di berbagi belahan dunia, yang dapat mengancam

Kehidupan. Kejadian HIV/AIDS di Indonesia merupakan salah satu yang

paling cepat di Asia. Menurut Depkes RI secara kumulatif kasus HIV di

Indonesia tahun 2011 sebanyak 21.031 kasus dan kasus AIDS sebanyak

4.162 kasus. Persentase kasus AIDS tertinggi ada pada kelompok umur

30-39 tahun (33,4%). Proporsi kasus pada laki-laki sebesar 63,1% dan

pada perempuan sebesar 34%. Pada tahun 2013, Ditjen PP & PL

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merilis data tentang

penemuan kasus baru HIV pada tahun 2012 mencapai 21.511 kasus.

Data ini meningkat daripada tahun sebelumnya pada 2011 sejumlah

21.031 kasus. Data lain dari Kementrian Kesehatan RI menunjukkan

jumlah penderita HIV di Indonesia sampai 30 September 2015 terdapat

118.792 kasus, 67.028 AIDS dan 8.553 telah meninggal dunia (Yasmin,

2017). Kasus anak yang meninggal terkait penyakit AIDS di Indonesia

rata-rata meninggal sebelum usia 5 tahun (Mboi, 2011). Demikian halnya

dengan kasus HIV/AIDS yang terjadi di propinsi Jawa Timur, tercatat

sebanyak 2646 kasus, terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya

sejumlah 2233 kasus. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (DinKes)

Kabupaten Jombang, sejak tahun 1999 hingga tahun 2016 sebanyak

1088 warga positif HIV/AIDS, sedangkan berdasarkan data yang dirilis


Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Jombang, hingga akhir

tahun 2018 jumlah penderita HIV-AIDS di Kabupaten Jombang yang

berhasil dideteksi sekitar 1.600 orang.

Pengobatan setelah terjadi pajanan infeksi HIV pada seseorang

adalah terapi Antiretroviral, yang berarti mengobati infeksi HIV dengan

beberapa obat. Karena HIV adalah retrovirus maka obat ini disebut

sebagai obat Antiretroviral (ARV). ARV tidak membunuh virus itu, namun

hanya dapat memperlambat laju pertumbuhan virus, begitu juga penyakit

HIV (Spiritia,2012). HIV merupakan salah satu penyakit yang belum

ditemukan obatnya. Virus yang ada di dalam tubuh penderita ini tidak bisa

keluar, sehingga seseorang harus mengonsumsi obat ARV seumur hidup

dan tepat waktu. Jadwal ketat minum obat HIV ini tidak boleh meleset

agar bisa menekan jumah virus di tubuhnya. Jika tidak disiplin maka obat

akan menjadi resisten terhadap tubuh (Kemenkes RI, 2014). HIV adalah

retrovirus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia,

terutama sel T CD4 dan makrofag yang merupakan komponen vital dari

sistem kekebalan tubuh. Hal inilah yang membuat ADHA memiliki sistem

kekebalan tubuh lemah dan mudah terkena infeksi. Karenanya seseorang

harus mengonsumsi obat ARV untuk mempertahankan kekebalan

tubuhnya (Kemenkes RI, 2014).

Tingginya resiko kematian ini karena infeksi HIV tidak diobati dan

tidak mendapatkan perawatan optimal atau penolakan dari orang yang

seharusnya menjaga dan merawatnya seperti orang tua, wali dan kerabat

(Avert, 2011). Keluarga sangat berperan penting terutama dalam

memberikan dukungan kepada keluarga yang menderita HIV dan AIDS

baik dari segi kepatuhan pengobatan, motivasi hidup dan sejenisnya.

Fungsi keluarga biasanya didefinisikan sebagai hasil atau konsekuensi


dari struktur keluarga. Adapun fungsi keluarga tersebut adalah Fungsi

afektif (fungsi pemeliharaan kepribadian), Fungsi sosialisasi dan fungsi

penempatan sosial, Fungsi reproduktif, Fungsi ekonomis, Fungsi

perawatan kesehatan (Friedman, 2010). Menurut (Pratiwi, 2011)

Dukungan keluarga adalah keberatan, kesedihan, kepedulian dari orang-

orang yang dapat diandalkan, menghargai dan menyayangi kita,

pandangan yang sama juga dikemukakan oleh Cobb (2002)

mendefinisikan dukungan keluarga sebagai adanya kenyamanan,

perhatian, penghargaan atau menolong orang dengan sikap menerima

kondisinya, dukungan keluarga tersebut diperoleh dari individu maupun

kelompok. Salah satu dukungan keluarga yang sangat dibutuhkan oleh

penderita HIV dan AIDS adalah pengontrolan kepatuhan pengobatan

Antiretrovial (ARV).

Kepatuhan adalah tingkat pasien melaksanakan cara pengobatan

dan perilaku yang disarankan oleh dokter atau oleh orang lain (Pratiwi,

2011). Sementara ini masih ada kecendrungan dari pasien untuk

berperilaku kurang patuh terhadap nasehat atau saran tersebut. Secara

umum ketidakpatuhan dapat meningkatkan risiko berkembangnya

masalah kesehatan, atau memperburuk, atau memperpanjang sakit yang

diderita. Kepatuhan menentukan seberapa baik pengobatan Antiretroviral

(ARV) dalam menekan jumlah viral load. Ketika lupa meminum satu dosis,

meskipun hanya sekali, virus akan memiliki kesempatan untuk

menggandakan diri lebih cepat. Hasil yang tidak dapat dielakkan dari

semua tantangan ini adalah ketidakpatuhan, perkembangan resistensi,

kegagalan terapi dan risiko pada kesehatan masyarakat akibat penularan

jenis virus yang resistan. Obat ARV perlu diminum sesuai petunjuk dokter

baik dosis maupun waktunya. Mengingat bahwa HIV adalah virus yang
selalu bermutasi, maka jika tidak mematuhi aturan pemakaian obat ARV,

obat yang dikonsumsi tidak bisa lagi Memperlambat laju HIV menuju ke

tahap AIDS, sehingga perlu diganti dengan obat lain yang mungkin lebih

mahal atau lebih sulit diperoleh.

Hasil penelitian (Mahardining, 2010) di Semarang menyimpulkan

bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan terapi ARV adalah

motivasi, pengetahuan, dan dukungan keluarga merupakan faktor yang

paling kuat mempengaruhi kepatuhan terapi ARV. Sehingga sangat

penting dilakukan penelitian tentang hubungan dukungan keluarga

terhadap kepatuhan terapi ARV pada anak dengan HIV/AIDS.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang tersebut maka permasalahan

dalam penelitian ini dapat dirumuskan: “Apakah ada hubungan dukungan

keluarga terhadap kepatuhan pengobatan Antiretroviral (ARV) pada Anak

dengan HIV dan AIDS (ADHA) di “Jombang Care Center Plus (JCC+)”?”

C. Tujuan Penelitian

a. Tujuan Umum

Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk

mengetahui hubungan dukungan keluarga terhadap kepatuhan

pengobatan Antiretroviral (ARV) pada anak dengan HIV dan AIDS

(ADHA) di “Jombang Care Center Plus (JCC+)”.

b. Tujuan Khusus

1) Mengetahui karakteristik responden yang meliputi jenis

kelamin, umur, pendidikan, status tinggal, lama

pengobatan dan kondisi pada pasien HIV dan AIDS di

“Jombang Care Center Plus (JCC+)”.


2) Mengetahui tingkat kepatuhan terhadap pengobatan

Antiretroviral (ARV) pada anak dengan HIV dan AIDS

(ADHA) di “Jombang Care Center Plus (JCC+)”.

3) Mengetahui hubungan dukungan keluarga terhadap

kepatuhan pengobatan Antiretroviral (ARV) pada anak

dengan HIV dan AIDS (ADHA) di “Jombang Care Center

Plus (JCC+)”.

D. Manfaat Penelitian

a. Manfaat Teoritis

Memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan,

juga sebagai bahan kajian bagi penelitian selanjutnya dan

dokumentasi ilmiah sehingga hasilnya akan lebih luas dan

mendalam.

b. Manfaat Praktis

1) Bagi Responden

Memberikan informasi mengenai pentingnya dukungan

keluarga terhadap kepatuhan pengobatan Antiretroviral (ARV)

pada anak dengan HIV dan AIDS (ADHA).

2) Bagi Peneliti

Sebagai pengembangan ilmu pengetahuan baru dalam bidang

penelitian dan untuk mendapatkan gambaran secara nyata

tentang pentingnya dukungan keluarga terhadap kepatuhan

pengobatan Antiretroviral (ARV) pada anak dengan HIV dan

AIDS (ADHA).

3) Bagi Tempat Penelitian


Sebagai tempat untuk mengaplikasikan hasil penelitian tentang

hubungan dukungan keluarga terhadap kepatuhan pengobatan

Antiretroviral (ARV) pada anak dengan HIV dan AIDS (ADHA).


BAB II

TINJAUAN

TEORI

A. Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS)

1. Definisi

HIV merupakan singkatan dari “Human Immunodeficiency Virus”, Virus

ini menyerang manusia dan menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh,

sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi (WHO, 1990).

Dengan kata lain, kehadiran virus ini dalam tubuh akan menyebabkan

defisiensi (kekurangan) sistem imun. Menurut DepKes RI (2008)

menyatakan bahwa HIV adalah sejenis retrovirus-RNA yang menyerang

sistem kekebalan tubuh manusia. HIV adalah virus sitopatik yang

diklasifikasikan dalam famili Retroviridae, subfamili Lentivirinae, genus

Lentivirus. HIV termasuk virus RNA dengan berat molekul 9,7 kb (kilobases).

Jenis virus RNA dalam proses replikasinya harus membuat sebuah salinan

DNA dari RNA yang ada di dalam virus. Gen DNA tersebut yang

memungkinkan virus untuk bereplikasi. Seperti halnya virus yang lain, HIV

hanya dapat bereplikasi di dalam sel pejamu (Fenner, 2017). HIV merupakan

virus yang memiliki selubung virus (envelope), mengandung dua kopi

genomik RNA virus yang terdapat di dalam inti. Di dalam inti virus juga

terdapat enzim-enzim yang digunakan untuk membuat salinan RNA, yang

diperlukan untuk replikasi HIV yakni antara lain: reverse transcriptase,

integrase, dan protease (Astari, Safitri, & P, 2007).

AIDS yang merupakan singkatan dari Acquired Immunodeficiency

Syndrome adalah suatu kumpulan gejala penyakit yang didapat akibat


menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh virus HIV

(Yuliyanasari, 2017). Price & Wilson (2006) mendefinisikan AIDS sebagai

kejadian penyakit yang disifatkan oleh suatu penyakit yang menunjukkan

adanya gangguan immunoseluler, misalnya sarcoma Kaposi atau satu atau

lebih penyakit opportunistic yang didiagnosis dengan cara yang dapat

dipercaya (Henni Kususma, 2011). AIDS diartikan sebagai bentuk paling

berat dari keadaan sakit terus-menerus yang berkaitan dengan infeksi

Human Immunodeficiency virus (HIV), mulai dari kelainan ringan dalam

proses imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan

imunosupresi dan berkaitan dengan berbagai infeksi yang dapat membawa

kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi (Wang et al.,

2018).

Kesimpulan dari beberapa definisi di atas adalah HIV/AIDS adalah suatu

syndrom atau kumpulan tanda dan gejala yang terjadi akibat penurunan dan

kekebalan tubuh yang didapat atau tertular/terinfeksi virus HIV.

2. Etiologi

Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) disebabkan oleh virus

yang mempunyai beberapa nama, yaitu HTL II, LAV, RAV, yang nama

ilmiahnya disebut dengan Human Immunodeficency Virus (HIV), yang

berupa agen viral yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan oleh darah

dan punya afinitas yang kuat terhadap limfosit T (Depkes, 2009). Penyebab

kelainan imun pada AIDS adalah suatu agen antiviral yang disebut HIV dari

kelompok Retrovirus Ribonucleic Acid (RNA).

Retrovirus mempunyai afinitas yang kuat terhadap limfosit T (Hudak &

Gallo, 2010). Disebut retrovirus RNA karena virus tersebut menggunkan

RNA sebagai molekul pembawaan informasi genetik dan memiliki Enzim

Reverse Transciptase. Enzim ini memungkinkan virus mengubah informasi


genetiknya yang berada dalam RNA ke dalam bentuk Deoxy Nucleic Acid

(DNA) yang kemudian diintegrasikan pada informasi genetik sel limfosit yang

diserang. Dengan demikian HIV dapat memanfaatkan mekanisme sel limfosit

untuk menduplikasi dirinya menjadi virus baru yang memiliki ciri HIV

(Widoyono, 2011).

Menurut Bratawijaya & Rengganis (2010), tipe HIV ada 2, yaitu Tipe 1

(HIV-1), penyebab utama AIDS yang merupakan bentuk virus yang paling

virulen, prevalensinya lebih banyak dan bermutasi lebih cepat. Tipe 2 (HIV-

2), menyebabkan penyakit yang serupa dengan HIV-1. Patogenesisnya lebih

rendah dibandingkan dengan HIV-1. Keduanya merupakan virus yang

menginfeksi sel CD4+T yang memiliki reseptor dengan afinitas tinggi untuk

HIV. Setelah infeksi oleh HIV, terjadi penurunan sel CD4 secara bertahap

yang menyebabkan peningkatan gangguan imunitas yang diperantarai sel

dengan akibat kerentanan terhadap berbagai infeksi opertunistik

(Bratawijaya & Rengganis, 2010).

Dasar utama penyakit infeksi HIV ialah berkurangnya jumlah sel darah

putih (limfosit T helper) yang mengandung marker CD4 (sel T4). Limfosit T4

mempunyai pusat dan sl utama yang terlibat secara langsung maupun tidak

langsung dalam menginduksi kebanyakan fungsi-fungsi kekebalan, sehingga

kelainan-kelainan fungsional pada sel T4 akan menimbulkan tanda-tanda

gangguan respon kekebalan tubuh. Setelah HIV memasuki tubuh seseorang,

HIV dapat dapat diperoleh dari limfosit terutama limfosit T4, monosit, sel glia,

makrofag, dan cairan otak pendrita AIDS (Nyamathi et al., 2017). Fungsi dari

sel T4 helper adalah mengenali antigen yang asing, mengaktifkan limfossit B

yang memproduksi antibodi, menstimulasi limfosit T sitotoksit, memproduksi

limfokin, dan mempertahankan tubuh terhadap infeksi parasit. Kalau fungsi

sel T4 helper terganggu, mikroorganisme yang biasanya tidak menimbulkan


penyakit akan memiliki kesempatan untuk meginvasi dan menyebabkan

penyakit yang serius (Astari et al., 2007).

3. Faktor Resiko

Maka tes ELISA dan western blot akan postif meskipun bayi tidak

terinfeksi HIV karena tes ini berdasarkan ada atau tidaknya antibodi pada

HIV. Tes paling spesifik untuk mengidentifikasi adalah PCR untuk DNA HIV.

Kultur HIV yang positif juga mennjukkan pasien terinfeksi HIV. Untuk

pemeriksaan PCR, bayi harus dilakukan pengambilan sampel darah untuk

dilakukan tes PCR pada dua waktu yang berlainan. DNA PCR pertama

diambil saat berusia 1 bulan karena tes ini kurang sensitif selama 1 bulan

setelah lahir. CDC merekomendasikan pemeriksaan DNA PCR setidaknya

diulang pada saat bayi berusia 4 bulan. Jika tes ini negatif, maka bayi tidak

terinfeksi HIV sehingga tes PCR perlu diulang setelah bayi disapih. Pada

usia 18 bulan, pemeriksaan ELISA bisa dilakukan pada bayi bila tidak

tersedia sarana pemeriksaan yang lain. Anaak-anak berusia lebih dari 18

bulan bisa didiagnosis dengan menggunakan kombinasi antara gejala klinis

dan pemeriksaan laboratorium. Anak denagn HIV sering mengalami infeksi

bakteri, gagal tumbuh atau wasting, limfadenopati menetap, keterlambatan

berkembang, sariawan pada mulut dan faring. Anak usia lebih dari 18 bulan

bisa didiagnosis dengan ELISA dan tes konfirmasi lain seperti pada dewasa.

Terdapat dua klasifikasi yang bisa digunakan untuk mendiagnosis bayi dan

anak dengan HIV yaitu menurut CDC dan WHO (Nurs dan Kurniawan,

2013).

4. Klasifikasi

Terdapat beberapa klasifikasi HIV/AIDS. Adapun sistem klasifikasi yang

biasa digunakan adalah menurut WHO (World Health Organization) dan

CDC (Center for Deasease Control and Prevention)


a. Klasifikasi menurut CDC

Klasifikasi CDC mengklasifikasikan HIV/AIDS berdasarkan dua

sistem, yaitu dengan melihat supresi kekebalan tubuh yang ditampilkan

oleh oleh limfosit CD4 dan kategori klinis. Untuk lebih jelasnya dapat

dilihat pada tabel 2.1 berikut ini:

Tabel 2.1 Klasifikasi penyakit menurut CDC

CD4 Kategori Klinis


A B C
Total % (Asimptomatik,
(Simptomatik) (AIDS)
Infeksi Akut)
≥ 500/ml ≥ 29% A1 B1 C1
200-499/ml 14-28% A2 B2 C2
< 200/ml <14% A3 B3 C3
Sumber: Depkes, 2003 (dalam Nursalam & Kurniawati, 2009)

Klasifikasi CDC yang bisa digunakan untuk survailans penyakit

adalah menurut kategori klinis yang dikategorikan sebagai AIDS adalah

kelompok A3, B3 dan C1-3.

Kategori Klinis A meliputi infeksi HIV tanpa gejala (asimptomatik),

limfadenopati generalisata yang menetap, dan infeksi akut primer

dengan penyakit penyerta atau adanya riwayat infksi akut.

Kategori Klinis B terdiri atas kondisi dengan gejala (simptomatik) yang

tidak termasuk dalam kondisi C dan memenuhi paling sedikit satu dari

beberapa kriteria tersebut:

a) Keadaan yang dihubungkan dengan infeksi HIV atau adanya

kerusakan kekebalan dengan perantara sel, atau

b) Kondisi yang dianggap oleh dokter telah memerlukan

penanganan klinis atau membutuhkan penatalaksanaan akibat

komplikasi HIV.
Kategori Klinis C meliputi gejala yang ditemukan pada pasien AIDS.

Pada tahap ini, individu yang terinfeksi HIV menunjukkan perkembangan

infeksi dan keganasan yang menancam keidupan.

b. Klasifikasi menurut WHO

Pada tahun 1990, World Health Organization (WHO)

mengelompokkan berbagai infeksi dan kondisi AIDS dengan

memperkenalkan sistem tahapan untuk pasien yang terinfeksi dengan

HIV-1. Sistem ini diperbarui pada bulan September tahun 2005.

Kebanyakan kondisi ini adalah infeksi oportunistik yang dengan mudah

ditangani pada orang sehat. Sistem mengklasifikasian menurut World

Health Organization (WHO) untuk infeksi HIV digunakan dengan

memakai data klinis dan laboratorium seperti CD4. Bila pemeriksaan

CD4 tidak tersedia maka dalam hal ini pasien dapat dikategorikan

gambaran klinis dan skala aktivitas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat

pada tabel 2.2 berikut:

Tabel 2.2 Klasifikasi Infeksi HIV Menurut WHO 2006

Kelas Kriteria
Stadium Klinis I Asimtomatik 1. Asimtomatik
Total CD4 : >500/ml 2. Limfadenopati generalisata persisten
1. Penurunan berat badan 10%
Stadium Klinis II Sakit Ringan 2. Ispa berulang (sinusitis, tonsillitis, otitismedia dan faringitis
Total CD4 : 200-499/ml 3. Herpes zoster
4. Kelitis angularis
1. Diare kronis > 1 bulan
Stadium Klinis III Sakit sedang 2. Kandidiasis oral
Penurunan berat badan >10% 3. TB Paru
4. Limfadenopati generalisata persisten
1. HIV wasting syndrome
2. Pneumonia pneu mosistis
Stadium Klinis IV Sakit berat 3. Herpes simpleks > 1 bulan
(AIDS) 4. Kandidiasis esophagus
5. TB ekstra paru
6. Sarkoma Kaposi
7. Retinitis CMV
8. Toksoplasmosis
Total CD4 : < 200/ml 9. Ensefalopati HIV
10. Meningitis kriptokus
11. Infeksi mykobakterium non TB iseminata
12. Progresssivemultifocal
13. Mikosis profunda
14. Limfoma
15. Karsinoma
16. Isoproriasis kronis
17. Nefropati
Sumber: DepKes, 2003

Berdasarkan klasifikasi tersebut diatas, maka makin kronis suatu

penyakit terutama pada pasien HIV/AIDS dapat mengganggu kemampuan

untuk terlibat dalam aktivitas yang menunjang perasaan berharga atau

berhasil, makin besar pengaruhnya pada peningkatan harga diri. Penyakit

HIV/AIDS yang mengubah pola hidup dapat juga menurunkan perasaan nilai

diri. Sedangkan harga diri pada pasien HIV/AIDS adalah rasa ingin

dihormati, diterima, kompeten, dan bernilai. Orang dengan harga diri rendah,

sering merasa tidak dicintai dan sering mengalami depresi dan ansietas

sehingga menyebabkan menurunnya kualitas hidup (Perry & Potter, 2005).

5. Manifestasi Klinis

Bayi tertular HIV dari ibu bisa saja tampak normal secara klinis

selama periode neonatal. Penyakit penan da AIDS tersering yang ditemukan

pada anak adalah pneumonia yang disebabkan pneumocystis cranii, gejala

umum yang ditemukan pada bayi dengan infeksi HIV adalah gangguan

tumbuh kembang, kandidiasis oral, diare kronis, atau hepatosplenomegali

(pembesaran pada hepar dan lien).


Diagnosis AIDS dapat ditegakkan apabila menunjukkan tes HIV

positif dan sekurang-kurangnya didapatkan 2 gejala mayor dan 1 gejala

minor seperti pada tabel berikut:

Tabel 2.3: Gejala mayor dan minor diagonis AIDS

Gejala Mayor Gejala Minor

Berat badan turun >10% dalam 1 bulan Batuk menetap >1 bulan

Diare kronik >1 bulan Dermatitis generalisata

Demam berkepanjangan >1 bulan Herpes Zooster multisegmental dan berulang

Penurunan kesadaran Kandidiasi orofaringeal

Demensia / HIV ensefalopati Herpes simpleks kronis progresif

Limfadenopati generalisata

Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita

Retinitis virus sitomegalo

Sumber : DepKes, 2003

Manifestasi klinik utama dari penderita AIDS umumnya meliputi 3 hal yaitu:

a. Manifestasi tumor

1) Sarkoma Kaposi

Kanker pada semua bagian kulit dan organ tubuh. Penyakit

ini sangat jarang menjadi sebab kematian primer.

2) Limfoma ganas

Timbul setelah terjadi Sarkoma Kaposi dan menyerang saraf

serta dapat bertahan kurang lebih 1 tahun.

b. Manifestasi oportunistik

1) Manifestasi pada Paru


a) Peneumocystis Carinii Pneumonia (PCP): Pada

umumnya 85% infeksi oportunistik pada AIDS

merupakan infeksi paru. PCP dengan gejala sesak

nafas, batuk kering, sakit bernafas dalam dan demam.

b) Cytomegalovirus (CMV): Pada manusia 50% virus ini

hidup sebagai komensal pada paru-paru tetapi dapat

menyebabkan pneumocystis. CMV merupakan 30%

penyebab kematian pada AIDS.

c) Mycobacterium avilum: Menimbulkan pneumoni difus,

timbul pada stadium akhir dan sulit disembuhkan.

d) Mycobacterium tuberculosis: Biasanya timbul lebih dini,

penyakit cepat menjadi milier dan cepat menyebar ke

organ lain di luar paru.

2) Manifestasi gastrointestinal: Tidak ada nafsu makan, diare

kronis, penurunan berat badan >10% per bulan.

c. Manifestasi neurologis

Sekitar 10% kasus AIDS menunjukkan manifestasi neurologis

yang biasanya timbul pada fase akhir penyakit. Kelainan saraf

yang umum adalah ensefalitis, meningitis, demensia, mielopati,

neuropati perifer.

Menurut Nursalam (2006), tanda dan gejala penderita yang terinfeksi

HIV/AIDS biasanya penderita mengalami berat badanya menurun lebih dari

10% dalam waktu singkat, demam tinggi berkepanjangan (lebih dari satu

bulan), diare berkepanjangan (lebih dari satu bulan), batuk perkepanjangan

(lebih dari satu bulan), kelainan kulit dan iritasi (gatal), infeksi jamur pada
mulut dan kerongkongan, serta pembengkakan kelenjar getah 1 bening di

seluruh tubuh, seperti di bawah telinga, leher, ketiak dan lipatan paha.

Menurut WHO dan CDC (2002, dalam Widoyono, 2011), manifestasi

klinis HIV/AIDS pada penderita dewasa berdasarkan stadium klinis yang

disertai skala fungsional dan kalisifikasi klinis, yaitu:

Stadium klinis I: pada skala I memperlihatkan kondisi asimtomatis,

dimana klien tetap melakukan aktivitas secara normal maupun disertai

adanya limfadenopati presistent generalisata.

Stadium klinis II: pada skala II memperlihatkan kondisi asimtomatis,

dimana klien tetap melakukan aktivitas normal tetapi disertai adanya

penurunan berat badan <10% dari berat badan sebelumnya, manifestasi

mukokotaneius minor (dermatitis seborhhoic, prurigo, infeksi jamur pada

kuku, ulserasi mukosa oral berulang, cheilitis angularis), herpes zoster dalam

5 tahun terakhir, dan ISPA berulang.

Stadium III: pada skala III memperlihatkan adanya kelemahan,

berbaring di tempat tidur <50% sehari dalam 1 bulan terakhir disertai

penurunan berat badan >10%, diare kronis dengan penyebab tidak jelas >1

bulan, demam dengan penyebab yang tidak jelas (intermitent atau tetap) >1

bulan, kandidiasis oral, oral hairy leukoplakia, TB pulmoner dalam satu tahun

terakhir, dan infeksi bacterial berat (misal: pneumonia, piomiostitis).

Stadium klinis IV: pada skala IV memperlihatkan kondisi yang sangat

lemah, selalu berada ditempat tidur > 50% setiap hari dalam bulan-bulan

terakhir disertai HIV wasting syndrome (sesuai yang ditetapkan CDC),

Peneumocystis Carinii Pneumonia (PCP), encephalitis toksoplasmosis, diare

karena cryptosporidiosis >1 bulan, cryptococcosis ekstrapulmoner, infeksi

virus sitomegalo, infeksi herpes simpleks >1 bulan, berbagai infeksi jamur
berat (histoplasma, coccoidioidomycosis), kandidiasis esophagus, trachea

atau bronkus, mikobakteriosis atypical, salmonelosis non tifoid disertai

eptikemia, TB ekstrapulmoner, limfoma maligna, sarcoma Kaposi’s

ensefalopati HIV.

6. Patofisiologi

Penyakit HIV dimulai dengan infeksi akut yang hanya dikendalikan

sebagian oleh respon imun spesifik dan berlanjut menjadi infeksi kronik

progresif pada jaringan limfoid perifer. Perjalanan penyakit dapat dipantau

dengan mengukur jumlah virus dalam serum pasien dan menghitung jumlah

sel T CD4+ dalam darah tepi. Bergantung pada lokasi masuknya virus ke

dalam tubuh, sel T CD4+ dan monosit dalam darah atau sel T CD4+ dan

makrofag dalam jaringan mukosa merupakan sel – sel pertama yang

terinfeksi. Besar kemungkinan bahwa sel dendritik berperan dalam

penyebaran awal HIV dalam jaringan limfoid, karena fungsi normal sel

dendritik adalah menangkap antigen dalam epitel lalu masuk ke dalam

kelenjar getah bening. Setelah berada dalam kelenjar getah bening, sel

dendritik meneruskan virus kepada sel T melalui kontak antar sel. Dalam

beberapa hari saja jumlah virus dalam kelenjar berlipat ganda dan

mengakibatkan viremia. Pada saat itu, jumlah partikel HIV dalam darah

banyak sekali disertai sindrome HIV akut. Viremia menyebabkan virus

menyebar di seluruh tubuh dan menginfeksi sel T, monosit maupun

makrofag dalam jaringan linfoid perifer. Sistem imun spesifik kemudian akan

berupaya mengendalikan infeksi yang tampak dari menurunnya kadar

viremia, walaupun masih tetap dapat dideteksi.

Infeksi akut awal ditandai oleh infeksi sel T CD4+ memori (yang

mengekspresikan Chemokine (C-C motif) reseptor 5 (CCR5) dalam jaringan

limfoid mukosa dan kematian banyak sel terinfeksi. Setelah infeksi akut,
berlangsunglah fase kedua dimana kelenjar getah bening dan limfa

merupakan tempat replikasi virus dan destruksi jaringan secara terus

menerus. Oleh karena itu, jumlah virus menjadi sangat banyak dan jumlah

sel T-CD4 menurun. Serokonversi membutuhkan waktu beberapa minggu

sampai beberapa bulan. Simptom pada fase ini demam, limfadenopati, gatal

– gatal. Selama periode ini sistem imun dapat mengendalikan sebagian

besar infeksi, karena itu fase ini disebut fase laten.

Grafik 2.1 Perjalanan penyakit HIV/AIDS

Sumber: Nasronudin (2008)

Pada fase laten atau pada fase yang kedua ini merupakan infeksi HIV

yang asimptomatik atau pasien yang terinfeksi HIV tidak menunjukkan gejala

atau simptom untuk beberapa tahun yang akan datang. Di fase ini juga

hanya sedikit virus yang diproduksi dan sebagian besar sel T dalam darah

tidak mengandung virus. Walaupun demikian, destruksi sel T dalam jaringan

limfoid terus berlangsung sehingga jumlah sel T makin lama makin menurun

hingga 500-200 sel/mm3. Jumlah sel T dalam jaringan limfoid adalah 90%

dari jumlah sel T diseluruh tubuh. Pada awalnya sel T dalam darah perifer

yang rusak oleh virus HIV dengan cepat diganti oleh sel baru tetapi destruksi
sel oleh virus HIV yang terus bereplikasi dan menginfeksi sel baru selama

masa laten akan menurunkan jumlah sel T dalam darah tepi.

Selama masa kronik progresif, respon imun terhadap infeksi lain akan

merangsang produksi HIV dan mempercepat destruksi sel T. Selanjutnya

penyakit menjadi progresif dan mencapai fase letal yang disebut AIDS, pada

saat mana destruksi sel T dalam jaringan limfoid perifer lengkap dan jumlah

sel T dalam darah tepi menurun hingga dibawah 200/mm3. Viremia

meningkat drastis karena replikasi virus di bagian lain dalam tubuh

meningkat. Pasien menderita infeksi opportunistik, cachexia, keganasan dan

degenerasi susunan saraf pusat. Kehilangan limfosit Th menyebabkan

pasien peka terhadap berbagai jenis infeksi dan menunjukkan respon imun

yang infektif terhadap virus onkogenik.

Selain tiga fase tersebut ada masa jendela yaitu periode di mana

pemeriksaan tes antibodi HIV masih menunjukkan hasil negatif walaupun

virus sudah ada dalam darah pasien dengan jumlah yang cukup banyak.

Antibodi terhadap HIV biasanya muncul dalam 3-6 minggu hingga 12 minggu

setelah infeksi primer. Periode jendela sangat penting diperhatikan karena

pada perode jendela ini pasien sudah mampu dan potensial menularkan HIV

kepada orang lain.

Berdasarkan rujukan dari Family Health International (2007), apabila

sudah terinfeksi HIV, maka penatalaksaan yang dilakukan pada ODHA yaitu:

a. Pengendalian infeksi opportunistic. Bertujuan menghilangkan,

mengendalikan, dan pemulihan infeksi yang aman untuk mencegah

kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus

dipertahankan bagi pasien di lingkungan peawatan kritis.


b. Pemberian obat-obatan anti viral HIV dan meningkatkan kepatuhan.

Pemberian ARV (Antiretroviral) telah menyebabkan kondisi

kesehatan ODHA menjadi jauh lebih baik

c. Perawatan palliatif dan terminal. Diberikan kepada pasien yang

berada pada tahap akhir stadium penyakit dengan komplikasi yang

berat atau menggunakan alat bantu kesehatan untuk

mempertahankan kehidupannya.

d. Pendidikan kesehatan untuk intirahat adekuat, menghindari rokok,

alcohol, dan obat terlarang, olahraga, makan-makanan sehat (gizi

yang kurang akan mengganggu fungsi imun), dan menghindari

stress.

e. Menghindari infeksi lain, karena infeki tersebut dapat mengaktifkan

sel T dan mempercepat replikasi Human Immunodeficiency Virus

(HIV).

f. Mecegah penularan virus HIV ke orang lain.

g. Mencegah dan menangani masalah psikososial yang dapat

memperburuk kondisi kesehatan.

h. Menyiapkan keluarga dan masyarakat untuk dapat terlibat dalam

pmberian dukungan dan bantuan perawatan bagi ODHA di rumah.

7. Pemeriksaan Penunjang

Untuk membantu menegakkan diagnosa infeksi HIV/AIDS harus

berdasarkan pemeriksaan laboratorium dan pembagian gejala klinis baik

mayor maupun minor. Dikatakan positif mengidap HIV/AIDS apabila

pemeriksaan tes HIV Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) dari

metode yang berbeda menunjukkan hasil reaktif dan telah dikonfirmasi

dengan pemeriksaan western blot serta didapatkan dua gejala mayor dan

satu gejala minor (Nasronudin, 2007).


Diagnosa HIV pada umumnya baru dapat ditegakkan pada stadium

lanjut dan merupakan masalah yang paling sering di bidang klinik. Untuk

mengubah hal ini perlu ditingkatkan kepedulian terhadap infeksi HIV,

perluasan fasilitas diagnosis serta diterapkanya PITC (Provider Treatment

and Conceling) (Djauzi, 2010).

Beberapa pemeriksaan laboratorium yang umum digunakan dalam

menegakkan infeksi HIV, yaitu:

a. ELISA

Merupakan pemeriksaan serologi standart/uji penapsian terhadap

antibodi HIV. Sensitivitasnya tinggi yaitu sebesar 98,1-100%.

Biasanya tes ini memberikan hasil positif 2-3 bulan setelah infeksi

(Carroll, 2007).

b. Western Blot

Merupakan tes konfirmasi uji pemastian terhadap komponen protein

HIV. Spesifitasnya tinggi yaitu sebesar 99,6-100%. Pemeriksaanya

cukup sulit, mahal, dan membutuhkan waktu sekitar 24 jam

(Widoyono,2011).

c. PCR (Polymerase Chain Reaction)

Tes ini banyak digunakan pada bayi, karena ini dapat meminimalkan

kerja dari zat antimaternal yang dapat mengaburkan hasil

pemeriksaan, seolah-olah sudah ada infeksi pada bayi tersebut

(Mandal at. al, 2008).

8. Cara Penularan

Dalam penularan infeksi HIV dikenal ada istilah yang disebut dengan

ESSE yaitu prinsip dimana dimungkinkan untuk terjadi penularan HIV dari

satu manusia ke manusia lainnya. ESSE ini adalah kepanjangan dari Exit,

Survive, Sufficient dan Enter. Dalam bahasa indonesia bisa diartikan: Jalan
keluar virus, Virus yang hidup, Kandungan VIrus yang cukup untuk

menginkubasi serta adanya jalur masuk virus ke tubuh seseorang. HIV

hanya bisa menular jika empat prinsip ini dipenuhi semua dan tidak bisa

menular jika hanya salah satu atau sebagian prinsip terpenuhi (Kumar,

2014).

Empat prinsip dasar penularan HIV/AIDS (KPAD, 2010) adalah :

a. Exit

Exit ini maksudnya ada jalan keluar bagi cairan tubuh yang

mengandung HIV yang ada dalam tubuh seseorang keluar tubuh.

Hal semacam ini misalnya jika terjadi luka atau keluarnya cairan

tubuh yang mengandung HIV seperti ketika seseorang melakukan

hubungan seksual. Bagi penularan melalui jarum suntik bisa

diartikan karena ada darah yang tersisa di dalam jarum bekas dan

kemudian masuk kedalam tubuh seseorang.

b. Survival

Survive ini maksudnya dari cairan tubuh yang keluar ini

harus mengandung virus yang tetap bertahan hidup. HIV bila

berada di luar tubuh inangnya (manusia) dia tidak akan bertahan

hidup lama. Ini misalnya ketika cairan tubuh keluar di saat

berenang atau berada dalam udara bebas lainnya. Prinsip survive

ini juga tidak terpenuhi bila diberitakan HIV dimasukkan dalam

minuman soda atau makanan sebab asam lambung yang pekat

akan membuat HIV ini tidak bertahan hidup.

c. Sufficient

Sufficient ini maksudnya kandungan HIV dalam cairan tubuh

yang keluar dari orang yang terifeksi HIV harus ada dalam

kandungan yang cukup. Jika jumlahnya sedikit, HIV tidak akan


bisa menginkubasi tubuh manusia lainnya. Ini mengapa cairan

keringan dan saliva (ludah) tidak bisa menularkan HIV.

d. Enter

Adanya jalur masuk di tubuh manusia yang memungkinkan

kontak dengan cairan tubuh yang mengandung HIV. Ini mengapa

penggunaan kondom serta pelicin kemudian penting sebab akan

meminimalisir terjadinya perlukaan ketika terjadi kontak hubungan

seksual.

Menurut Martono (2006) virus HIV dapat ditularkan melalui beberapa cara

yaitu :

a. Hubungan seksual

Dengan orang yang menderita HIV/AIDS baik hubungan seksual secara

vagina, oral maupun anal, karena pada umumnya HIV terdapat pada

darah, sperma dan cairan vagina. Ini adalah cara penularan yang paling

umum terjadi. Sekitar 70-80% total kasus HIV/AIDS di dunia (hetero

seksual >70% dan homo seksual 10%) disumbangkan melalui

penularan seksual meskipun resiko terkena HIV/AIDS untuk sekali

terpapar kecil yakni 0,1-1,0%.

b. Tranfusi darah yang tercemar HIV

Darah yang mengandung HIV secara otomatis akan mencemari darah

penerima. Bila ini terjadi maka pasien secara langsung terinfeksi HIV,

resiko penularan sekali terpapar >90%. Transfusi darah menyumbang

kasus HIV/AIDS sebesar 3-5% dari total kasus sedunia.

c. Tertusuk atau tubuh tergores oleh alat yang tercemar HIV

Jarum suntik, alat tindik, jarum tatto atau pisau cukur yang sebelumnya

digunakan oleh orang HIV (+) dapat sebagai media penularan. Resiko
penularannya 0,5-1-1% dan menyumbangkan kasus HIV/AIDS sebesar

5-10% total seluruh kasus sedunia.

d. Ibu hamil yang menderita HIV (+) kepada janin yang dikandungnya

dengan resiko penularan ±30% dan berkontribusi terhadap total kasus

sedunia sebesar 5-10%. Penularan dari ibu ke anak terjadi karena

wanita yang menderita HIV/AIDS sebagian besar (85%) berusia subur

(15-44 tahun), sehingga terdapat risiko penularan infeksi yang bisa

terjadi saat kehamilan (in uteri). Berdasarkan laporan CDC Amerika,

prevalensi penularan HIV dari ibu ke bayi adalah 0,01% sampai 0,7%.

Bila ibu baru terinfeksi HIV dan belum ada gejala AIDS, kemungkinan

bayi terinfeksi sebanyak 20% SAMPAI 35%, sedangkan jika sudah ada

gejala pada ibu kemungkinan mencapai 50%. Penularan juga terjadi

selama proses persalinan melalui transfusi fetomaternal atau kontak

antara kulit atau membran mucosa bayi dengan darah atau sekresi

maternal saat melahirkan . semakin lama proses kelahiran, semakin

besar pula risiko penularan, sehingga lama persalinan bisa dicegah

dengan operasi sectio caecaria. Transmisi lain juga terjadi selama

periode postpartum melalui ASI, risiko bayi tertular melaui ASI dari ibu

yang positif sekitar 10% (Nurs dan Kurniawan, 2013).

9. Komplikasi

Menurut Gunawan (2006), komplikasi dari penyakit HIV/AIDS

menyerang paling banyak pada bagian tubuh seperti:

a. Oral lesi

Lesi ini disebabkan karena jamur kandidia, herpes simpleks, sarcoma

kaposi, HPV oral, gingivitis, periodonitis HIV, leukoplakia oral,

penurunan berat badan, keletihan, dan cacat.

b. Neurologik
Pada neurologik, virus ini dapat menyebabkan kompleks dimensia

AIDS karena serangan langsung HIV pada sel saraf, berefek

perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan,

disfagia, dan isolasi sosial. Enselopaty akut karena reaksi terapeutik,

hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, meningitis atau

ensepalitis. Dengan efek seperti sakit kepala, malaise demam,

paralise, total/parsial, infrak serebral kornea sifilis meningovaskuler,

hipotensi sistemik, dan maranik endokarditis.

c. Gastrointestinal

Pada gastrointestinal dapat menyebabkan beberapa hal seperti: diare

karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma,

dan sarcoma kaposi. Dengan efek penurunan berat badan,

anoreksia, demam, malabsorbsi, dan dehidrasi. Hepatitis karena

bakteri dan virus, limpoma, sarcoma kaposi, obat illegal, alkoholik

Dengan anoreksia, mual, muntah, nyeri abdomen, ikterik, demam

atritis. Penyakit anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan

inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi dengan efek inflamasi

sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan diare.

d. Respirasi

Infeksi karena pneumocitis, carinii, cytomegalovirus, virus influenza,

pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas pendek, batuk,

nyeri, hipoksia, keletihan, dan gagal nafas.

e. Dermatologik

Lesi kulit stafilokukus, virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis

karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekubitus dengan

efek nyeri, gatal, rasa terbakar, infeksi sekunder dan sepsis.

f. Sensorik
Pada bagian sensorik virus menyebabkan pandangan pada sarcoma

kaposis pada konjuntiva berefek kebutaan. Pendengaran pada otitis

eksternal dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek

nyeri.

10. Penatalaksaan HIV/AIDS pada Anak

a. Pengobatan pada Anak dengan HIV/AIDS Prinsip pemberian ART

pada anak hampir sama dengan dewasa, tetapi pemberian ART pada

anakmemerlukan perhatian khusus tentang dosisi dan toksisitasnya.

Pada bayi, sistem kekebalannya mulai dibentuk dan berkembang

selama beberapa tahun pertama. Efek obat pada bayi dan anak juga

akan berbeda dengan orang dewasa (Nurs dan Kurniawan, 2013).

Pedoman pengobatan HIV/AIDS pada Anak menurut (Departemen

Kesehatan Indonesia: Direktotat Jendran Pengendalian Penyakit dan

Penyehatan Lingkungan, 2008) yaitu Rejimen Lini pertama yang

direkomendasikan adalah 2 Nucleosida Reverse Transkriptase

Inhibitor (NRTI) + 1 (NNRTI).

b. Perawatan pada Anak dengan HIV/AIDS

1) Nutrisi pada Anak dengan HIV/AIDS.

Pemberian Nutrisi pada bayi dan anakdengan HIV/AIDS

tidak berbeda dengan anak yang sehat, hanya saja asupan kalori

dan proteinnya perlu ditingkatkan. Selain itu perlu juga diberikan

multivitamin, dan antioksidan untuk mempertahankan kekebalan

tubuh dan menghambat replikasi virus HIV. sebaiknya dipilih

bahan makanan yang risiko alerginya rendah dan dimasak dengan

baik untuk mencegah infeksi oportunistik. Sayur dan buah-buahan

juga harus dicuci dengan baik dan sebaiknya dimasak sebelum

diberikan kepada anak. Pemberian (Nurs dan Kurniawan, 2013).


2) Dukungan sosial spiritual pada Anak dengan HIV/AIDS

Anak yang didiagnosis HIV juga mendatangkan trauma

emosi yang mendalam bagi keluarganya. Orang tua harus

menghadapi masalah berat dalam perawatan anak, pemberian

kasih sayang, dan sebagainya sehingga dapat mempengaruhi

pertumbuhan mental anak. Orang tua memerlukan waktu untuk

mengatasi masalah emosi, syok, kesedihan, penolakan, perasaan

berdosa, cemas, marah, dan berbagai perasaan lain. Anak perlu

diberikan dukungan terhadap kehilangan dan perubahan

mencakup (1) memberi dukungan dengan memperbolehkan

pasien dan keluarga untuk membicarakan hal-hal tertentu dan

mengungkapkan perasaan keluarga, (2) membangkitkan harga diri

anak serta keluarganya dengan melihat keberhasilan hidupnya

atau mengenang masa lalu yang indah, (3) menerima perasaan

marah, sedih, atau emosi dan reaksi lainnya, (4) mengajarkan

pada keluarga untuk mengambil hikmah, dapat mengendalikan diri

dan tidak menyalahkan diri atau orang lain (Nurs dan Kurniawan,

2013).

B. Dukungan Keluarga

1. Definisi Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga adalah suatu bentuk hubungan interpersonal yang

melindungi seseorang dari efek stress yang buruk (Novrianda et al., 2015).

Dukungan keluarga menurut Friedman (2010) adalah sikap, tindakan

penerimaan keluarga terhadap anggota keluarganya, berupa dukungan

informasional, dukungan penilaian, dukungan instrumental dan dukungan

emosional. Menurut Tamher dan Noorkasiani (2009), dukungan keluarga


merupakan unsur terpenting dalam membantu individu menyelesaikan

masalah. Apabila ada dukungan, maka rasa percaya diri akan bertambah

dan motivasi untuk menghadapi masalah yang terjadi akan meningkat.

Jadi dukungan keluarga merupakan suatu bentuk hubungan

interpersonal yang meliputi sikap, tindakan dan penerimaan terhadap

anggota keluarga, sehingga anggota keluarga merasa ada yang

memperhatikan.

2. Bentuk Dukungan Keluarga

Keluarga memiliki beberapa bentuk dukungan (Friedman, 2010) yaitu:

a. Dukungan Penilaian

Dukungan ini meliputi pertolongan pada individu untuk memahami

kejadian depresi dengan baik dan juga sumber depresi dan strategi

koping yang dapat digunakan dalam menghadapi stressor. Dukungan ini

juga merupakan dukungan yang terjadi bila ada ekspresi penilaian yang

positif terhadap individu. Individu mempunyai seseorang yang dapat

diajak bicara tentang masalah mereka, terjadi melalui ekspresi

pengaharapan positif individu kepada individu lain, penyemangat,

persetujuan terhadap ide-ide atau perasaan seseorang dan perbandingan

positif seseorang dengan orang lain, misalnya orang yang kurang mampu.

Dukungan keluarga dapat membantu meningkatkan strategi koping

individu dengan strategi-strategi alternatif berdasarkan pengalaman yang

berfokus pada aspek-aspek yang positif (Cluver & Sherr, 2017).

b. Dukungan Instrumental

Dukungan ini meliputi penyediaan dukungan jasmaniah seperti

pelayanan, bantuan finansial dan material berupa bantuan nyata

(instrumental support material support), suatu kondisi dimana benda atau

jasa akan membantu memecahkan masalah praktis, termasuk di


dalamnya bantuan langsung, seperti saat seseorang memberi atau

meminjamkan uang, membantu pekerjaan sehari-hari, menyampaikan

pesan, menyediakan transportasi, menjaga dan merawat saat sakit

ataupun mengalami depresi yang dapat membantu memecahkan

masalah. Dukungan nyata paling efektif bila dihargai oleh individu dan

mengurangi depresi individu. Pada dukungan nyata keluarga sebagai

sumber untuk mencapai tujuan praktis dan tujuan nyata (Cluver & Sherr,

2017).

c. Dukungan Informasional

Jenis dukungan ini meliputi jaringan komunikasi dan tanggung jawab

bersama, termasuk di dalamnya memberikan solusi dari masalah,

memberikan nasehat, pengarahan, saran, atau umpan balik tentang apa

yang dilakukan oleh seseorang. Keluarga dapat menyediakan informasi

dengan menyarankan tentang dokter, terapi yang baik bagi dirinya dan

tindakan spesifik bagi individu untuk melawan stresor. Individu yang

mengalami depresi dapat keluar dari masalahnya dan memecahkan

masalahnya dengan dukungan dari keluarga dengan menyediakan feed

back. Pada dukungan informasi ini keluarga sebagai penghimpun

informasi dan pemberi informasi (Cluver & Sherr, 2017).

d. Dukungan Emosional

Selama depresi berlangsung, individu sering menderita secara

emosional, sedih, cemas dan kehilangan harga diri. Jika depresi

mengurangi perasaan seseorang akan hal yang dimiliki dan dicintai.

Dukungan emosional memberikan individu perasaan nyaman, merasa

dicintai saat mengalami depresi, bantuan dalam bentuk semangat,

empati, rasa percaya, perhatian sehingga individu yang menerimanya


merasa berharga. Pada dukungan emosional ini keluarga menyediakan

tempat istirahat dan memberikan semangat (Cluver & Sherr, 2017).

3. Fungsi Pokok Keluarga

Fungsi keluarga menurut Friedman (1998) dalam Sudiharto, (2007),

antara adalah sebagai berikut:

a. Fungsi Afektif (The affective function). Fungsi afektif adalah gambaran diri

anggota keluarga, perasaan memiliki dan dimiliki dalam keluarga,

dukungan keluarga terhadap anggota keluarga lain, saling menghargai

dan kehangatan di dalam keluarga. Anggota keluarga mengembangkan

konsep diri yang positif, saling mengasuh dan menerima, cinta kasih,

mendukung, menghargai sehingga kebutuhan psikososial keluarga

terpenuhi (Nur’aini, 2017) . Fungsi keluarga yang utama untuk

mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga

berhubungan dengan orang lain, fungsi ini dibutuhkan untuk

perkembangan individu dan psikososial keluarga (Halli et al., 2017).

b. Fungsi Sosialisasi dan penempatan sosial (sosialisation and social

placement fungtion): Fungsi sosialisasi adalah interaksi atau hubungan

dalam keluarga, bagaimana keluarga belajar disiplin, norma, budaya, dan

perilaku berhubungan dengan interaksi. Fungsi pengembangan dan

tempat melatih anak untuk berkehidupan sosial sebelum meninggalkan

rumah untuk berhubungan dengan orang lain di luar rumah (Nur’aini,

2017).

c. Fungsi Reproduksi (reproductive function): Fungsi untuk dapat

meneruskan kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya

manusia. Fungsi keluarga dalam hai ini termasuk membina kehidupan

keluarga sebagai wahana pendidikan reproduksi sehat baik bagi anggota

keluarga maupun bagi keluarga sekitarnya (Endrik, 2017).


d. Fungsi Ekonomi (the economic function): Fungsi ekonomi adalah keluarga

memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Keluarga berfungsi

untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk

mengembangkan kemampuan individu meningkatkan penghasilan untuk

memenuhi kebutuhan keluarga (Nur’aini, 2017).

e. Fungsi Perawatan atau pemeliharaan kesehatan (the healty care

function): Fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota

keluarga agar tetap memiliki produktivitas tinggi. Fungsi ini dikembangkan

menjadi tugas keluarga di bidang kesehatan untuk bertanggung jawab

merawat anggota keluarga dengan penuh kasih sayang serta kemauan

keuarga untuk mengatasi masalah kesehatan yang sedang dihadapi

(Nur’aini, 2017).

4. Tugas Keluarga

Friedman (1998) dikutip dari Setiadi (2008) membagi 5 tugas keluarga

dalam bidang kesehatan yang harus dilakukan yaitu:

a. Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya. Kesehatan merupakan

kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan

segala sesuatu tidak akan berarti dan karena kesehatanlah kadang

seluruh kekuatan sumber daya dan dana keluarga habis. Orang tua perlu

mengenal keadaan kesehatan dan perubahan- perubahan yang dialami

anggota keluarga. Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota

keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian dan tanggung jawab

keluarga, maka apabila menyadari adanya perubahan perlu segera

dicatat kapan terjadinya, perubahan apa yang terjadi dan seberapa besar

perubahannya (Henni, 2011).

b. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan kesehatan yang tepat

bagi keluarga. Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk
mencari pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga,

dengan pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai

kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga. Tindakan

kesehatan yang dilakukan oleh keluarga diharapkan tepat agar masalah

kesehatan dapat dikurangi atau bahkan teratasi. Jika keluarga

mempunyai keterbatasan dapat meminta bantuan kepada orang di

lingkungan sekitar keluarga (Henni, 2011).

c. Memberikan keperawatan anggota keluarga yang sakit atau yang tidak

dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya yang terlalu

muda. Perawatan ini dapat dilakukan di rumah apabila keluarga memiliki

kemampuan melakukan tindakan untuk memperoleh tindakan lanjutan

agar masalah yang lebih parah tidak terjadi (Henni, 2011).

d. Mempertahankan suasana rumah yang menguntungkan kesehatan dan

perkembangan kepribadian anggota keluarga. Keluarga memainkan

peran yang bersifat mendukung anggota keluarga yang sakit. Dengan

kata lain perlu adanya sesuatu kecocokan yang baik antara kebutuhan

keluarga dan asupan sumber lingkungan bagi pemeliharaan kesehatan

anggota keluarga (Henni, 2011).

e. Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga

kesehatan (pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada). Hubungan yang

sifatnya positif akan memberi pengaruh yang baik pada keluarga

mengenai fasilitas kesehatan. Diharapkan dengan hubungan yang positif

terhadap pelayanan kesehatan akan merubah setiap perilaku anggota

keluarga mengenai sehat sakit (Henni, 2011).

5. Cara Menilai Dukungan Keluarga

Menurut Nursalam (2008), untuk mengetahui besarnya dukungan

keluarga dapat diukur dengan menggunakan kuisioner dukungan keluarga


yang terdiri dari 20 buah pertanyaan yang mencakup empat jenis dukungan

keluarga yaitu dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan

informasional dan dukungan penilaian. Dari 20 buah pertanyaan, masing-

masing dukunagn memiliki 4 pertanyaan dimana untuk pertanyaan nomor

1,3,4,5,6 mengenai dukungan emosional, pertanyaan nomor 7,8,9,10,11

untuk dukungan instrumental, sedangkan pertanyaan 2,12,13,14,15 untuk

dukungan informasi atau pengetahuan, seangkan pertanyaan 16,17,18,19

dan 20 merpakan pertanyaan untuk dukungan penilaian atau penghargaan

(Yasmin, 2017).

Masing-masing dari pertanyaan tersebut terdapat 5 alternatif jawaban

yaitu “selalu”, “sering”, “kadang-kadang”, “jarang” dan “tidak pernah”. Jika

menjawab “selalu” akan mendapat skor 4, menjawab “sering” mendapat skor

3, menjawab “kadang-kadang” mendapat skor 2, menjawab “jarang”

mendapat skor 1, dan menjawab “tidak pernah” mendapat skor 0. Total skor

pada kuisioner ini adalah 0-80. Jawaban dari responden dilakukan dengan

scoring (Yasmin, 2017).

Kuesioner dukungan keluarga sudah banyak digunakan untuk menilai

dukungan keluarga terhadap individu yang menderita suatu penyakit. Salah

satunya digunakan oleh Ika (2013) seorang dosen di salah satu STIKes di

Surakarta yang meneliti tentang “Efektivitas Dukungan Keluarga Terhadap

Kepatuhan Pengobatan ARV Pada Penderita HIV/AIDS Komunitas Sebaya

Kartasura”. Selain Ika, kuesioner dukungan keluarga juga telah digunakan

oleh Nur’aini (2017) seorang mahasiswi Keperawatan STIKES Widyagama

Husada Malang untuk mengukur “Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap

Respon sosial-Emosional Pada Odha Di Jombang Care Center (JCC)

Kabupaten Jombang”.

C. Konsep Dasar Kepatuhan


1. Pengertian Kepatuhan

Kepatuhan adalah istilah yang dipakai untuk menjelaskan ketaatan atau

pasrah pada tujuan yang telah ditetapkan (Susan. B, 2002). Sackett (1976)

mendefinisikan kepatuhan adalah sejauh mana perilaku pasien sesuai

ketentuan yang diberikan oleh profesional kesehatan (Neil Nevin, 2002).

Kepatuhan terhadap pengobatan didefinisikan sebagai sejauh mana

perilaku pasien sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh tenaga medis

mengenai penyakit dan pengobatannya. Tingkat kepatuhan setiap pasien

biasanya digambarkan sebagai presentase jumlah obat yang diminum setiap

hariya dan waktu minum dalam jangka waktu tertentu (Osterberg dan

Terrence, 2005).

Kepatuhan didefinisikan sebagai kesetiaan, ketaatan atau loyalitas.

Kepatuhan yang dimaksud disini adalah ketaatan dalam pengobatan ARV

pada pasien HIV. Namun kepatuhan individu berdasarkan rasa terpaksa

atau ketidaksepahaman dapat disusul dengan kepatuhan demi menjaga

hubungan baik dengan petugas kesehatan yang menganjurkan perubahan

(Sarwono, 2009).

Berdasarkan pengertian tentang kepatuhan dapat disimpulkan

kepatuhan dalam pengobatan yaitu sejauh mana perilaku pasien

menggunakan obat yang diminum setiap harinya dan waktu minum dalam

jangka waktu tertentu sesuai ketentuan yang diberikan oleh tenaga medis.

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan

Faktor yang penting dalam keberhasilan terapi ARV adalah kepatuhan

penderita HIV untuk meminum obat. Kepatuhan atau adherence pada terapi

adalah suatu keadaan pasien sadar sendiri dan bukan semata-mata karena
mematuhi perintah dokter untuk menjalani pengobatannya (Shintawati,

2014).

Menurut Empelen (2005), faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan

pengobatan dalam literatur ilmiah berhubungan secara khusus dengan

pengasuh keluarga, yaitu:

i. Pemahaman mereka tentang ketentuan terapi.

ii. Ketakutan dan kekhawatiran tentang terapi.

iii. Keyakinan mereka.

iv. Tingkat pengetahuan mereka tentang penyakit kronis anak.

v. Kebutuhan mereka untuk memecahkan masalah dan membuat

keputusan untuk memastikan mengikuti rejimen terapi anak.

vi. Masalah praktis dan logistik pengasuh keluarga yang ada.

Menurut Grean (1980) faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan

antara lain:

a. Faktor predisposisi mencakup pengetahuan, pendidikan, sikap,

kepercayaan, keyakinan dan nilai.

b. Faktor pendukung mencakup tersedianya sarana dan fasilitas

kesehatan dan juga lingkungan.

c. Faktor pendorong mencakup sikap petugas kesehatan, perilaku

petugas kesehatan, perilaku masyarakat.

Kepatuhan pasien terhadap pengobatanya dipengaruhi oleh beberapa

faktor, meliputi (Osterberg dan Terrence, 2005; Delamater, 2006; Kocurek,

2009):

1) Faktor demografi

Faktor demografi, seperti suku, status sosio-ekonomi yang

rendah dan tingkat pendidikan yang rendah dikaitkan dengan

kepatuhan yang rendah terhadap regimen pengobatan.


2) Faktor psikologi

Faktor psikologi juga dikaitkan dengan kepatuhan terhadap

regimen pengobatan. Kepercayaan terhadap pengobatan dapat

meningkatkan kepatuhan. Sedangkan faktor psikologi, seperti

depresi, cemas, dan gangguan makan yang dialami pasien dikaitkan

dengan ketidakpatuhan.

3) Faktor Sosial

Hubungan antara anggota keluarga dan masyarakat juga

berperan penting dalam pengobatan ARV. Dukungan sosial dapat

menurunkan rasa depresi atau stres penderita.

4) Faktor yang berhubungan dengan penyakit dan medikasi

Penyakit kronik yang diderita pasien, regimen obat yang

kompleks, dan efek samping obat yang terjadi pada pasien dapat

meningkatkan ketidakpatuhan pada pasien.

5) Faktor yang berhubungan dengan tenaga kesehatan

Komunikasi yang rendah dan kurangnya waktu yang dimiliki

tenaga kesehatan, seperti dokter menyebabkan penyampaian

informasi menjadi kurang sehingga pasien tidak cukup mengerti dan

paham akan pentingnya pengobatan. Keterbatasan tenaga

kesehatan, seperti Apoteker waktu dan keahlian yang dimiliki

Apoteker juga berpengaruh terhadap pemahaman pasien mengenai

pengguanaan obat sehingga cenderung meningkatkan

ketidakpatuhan pasien.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketidakpatuhan

Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan dapat dibagi

menjadi 4 bagian, yaitu:


a. Pemahaman tentang instruksi. Tak seorangpun dapat mematuhi

instruksi jika ia salah paham mengenai instruksi yang diberikan

padanya. Ley dan Splemen (1967) menemukan bahwa lebih dari 60%

yang diwawancarai setelah bertemu dengan dokter salah mengerti

tentang instruksi yang diberikan pada mereka.

b. Kualitas interaksi, antara professional kesehatan dan pasien merupakan

bagian yang penting dalam meningkatkan kepatuhan pasien.

c. Isolasi sosial dan keluarga. Keluarga dapat menjadi faktor yang sangat

berpengaruh dalam menentukan keyakinan dan nilai kesehatan serta

dapat menentukan tentang program pengobatan yang mereka terima.

Part (1976) telah memperhatikan peran keluarga dalam pengembangan

kebiasaan kesehatan dan pengajaran terhadap anak-anak mereka.

d. Keyakinan, sikap dan kepribadian, hubungan antara professional

kesehatan dan pasien, keluarga dan teman, keyakinan tentang

kesehatan dan kepribadian seseorang berperan dalam menentukan

respon pasien terhadap anjuran pengobatan.

Berdasarkan beberapa teori tersebut dapat ditarik kesimpulan faktor-

faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan meliputi pemahaman interaksi

yang baik oleh pasien, hubungan interaksi yang baik antara pasien dan

konselor, dukungan sosial dan keyakinan dari orangtua maupun teman dan

juga petugas kesehatan. Salah satu faktor penyebab rendahnya kepatuhan

minum obat pada anak HIV adalah kejenuhan dan kebosanan baik care

giver maupun anak HIV dalam minum obat ARV karena anak HIV harus

meminum obat yang sama setiap hari dan tidak boleh ada yang terlewat

selama seumur hidup (Sugiharti, 2014).

4. Metode Pengukuran Tingkat Kepatuhan


Tingkat kepatuhan terhadap pengobatan dapat diukur melalui dua

metode, yaitu (Osterberg dan Terrence, 2005) :

a. Metode langsung

Pengukuran kepatuhan melalui metode langsung dapat dilakukan

dengan beberapa cara, seperti mengukur viral load dalam darah atau

urin, mengukur atau mendeteksi petanda biologi di dalam. Metode ini

umumnya mahal, memberatkan tenaga kesehatan dan rentan terhadap

penolakan pasien.

b. Metode tidak langsung

Pengukuran kepatuhan melalui metode tidak langsung dapat

dilakukan dengan bertanya pada pasien tentang penggunaan obat,

menggunakan kuesioner, menilai respon klinik pasien, menghitung

jumlah pil obat dan menghitung tingkat pengambilan kembali resep obat.

Tingkat kepatuhan terhadap pengobatan dapat diukur melalui

Pengukuran kepatuhan dilakukan dengan cara menghitung sisa obat

sesuai dosis obat yang diberikan pada waktu tertentu, Kepatuhan tinggi

adalah : jumlah kombinasi obat ARV kurang dari 0-3 dosis yang tidak

diminum dalam periode 30 hari (≥ 95%). Kepatuhan sedang adalah

jumlah kombinasi obat ARV antara 3-12 dosis yang tidak diminum dalam

periode 30 hari (80-95%). Kepatuhan rendah, adalah jumlah kombinasi

obat ARV lebih dari 12 dosis yang tidak diminum dalam periode 30 hari

(<80%) (Depkes, 2007). Berdasarkan pengertian tingkat kepatuhan

tersebut maka untuk mengetahui kepatuhan peneliti akan melakukan

observasi jumlah sisa obat dan pemeriksaan CD4.

5. Kepatuhan Minum Obat


Kepatuhan minum obat adalah istilah yang digunakan untuk

menggambarkan perilaku pasien dalam minum obat secara benar tentang

dosis, frekuensi dan waktunya. Supaya patuh, pasien dilibatkan dalam

memutuskan apakah minum atau tidak (Nursalam, 2007).

Kepatuhan dalam pengobatan menjadi masalah dalam pengobatan

ARV hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: hubungan yang kurang

serasi antar pasien HIV dan petugas kesehatan, jumlah pil yang harus

diminum, depresi, tingkat pendidikan, kurangnya pemahaman pasien tentang

obat-obat yang akan ditelan dan toksisitas obat dan pasien terlalu sakit untuk

menelan obat (Depkes, 2007).

Kepatuhan adalah hal yang sangat penting dalam hal hidup sehat,

sehingga butuh pemahaman yang baik terhadap proses perubahan dan apa

yang akan dialaminya untuk mengubah perilaku. Dukungan dari pribadi

pasien sendiri dan juga petugas kesehatan merupakan faktor yang penting

dalam kepatuhan pasien menjalani pengobatan.


D. Kerangka Teori

Terinfeksi virus HIV Hidup sebagai anak dengan HIV/AIDS

Stigma Buruk tentang penyakit HIV/AIDS


Cara penularan:
1. Hubungan sosial.
2. Tranfusi darah yang tercemar HIV.
3. Tertusuk/tergores alat yang Perilaku diskriminatif pada pederita ODHA
tercemar HIV.
4. Ibu hamil yang positif HIV.

Kesejahteraan sosial, psikologi & spiritual


Bentuk dukungan Klg: terganggu
1. Penilaian.
2. Instrumental.
3. Informasional.
4. Emosional.
Dukungan Keluarga Kepatuhan terapi

Faktor yg mempengaruhi:
1. Tingkat pengetahuan
Tugas Klg: Fungsi pokok Klg:
2. Efek samping
1. Mengenal masalah. 1. Afektif
3. Lama pengobatan
2. Mengambil Keputusan 2. Sosialisasi
3. Memberikan perawatan 3. Reproduksi
4. Mempertahankan suasana rumah 4. Ekonomi
5. Mempertahankan hub. Timbal balik. 5. Perawatan

Keluarga tidak suportif dalam Kes. Psikologis dan Hub. Sosial


memberi dukungan kepada
ADHA terganggu
ODHA

Penurunan kepatuhan terapi ARV ADHA

ADHA membutuhkan dukungan keluarga sbg support system


dalam mempertahankan kepatuhan terapi yang baik.

Skema 2.1 Bagan Kerangka Teori hubungan Dukungan Keluarga terhadap kepatuhan terapi ADHA di
“Jombang Care Center (JCC)” Kabupaten Jombang.
BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kerangka Konsep

Kerangka konsep merupakan bagian penelitian yang menyajikan

konsep atau teori dalam bentuk kerangka konsep penelitian (Notoatmodjo,

2010). Berdasarkan hal tersebut, kerangka konsep menggambarkan

keterkaitan antara variabel dalam peneitian, variabel dalam penelitian ini

adalah:

1. Variabel bebas (Independen): dukungan keluarga

2. Variabel terikat (Dependen): kepatuhan terapi

3. Variabel Potensial Konfounding : Jenis kelamin, usia, pendidikan, status

ekonomi, tingkat pengetahuan dan lama menderita penyakit.

Variabel Independen Variabel Dependen

Dukungan Keluarga Kepatuhan Terapi ARV Anak


Dengan HIV/AIDS (ODHA)

Jenis Dukungan Keluarga: Patuh Tidak Patuh


1. Dukungan Informasial.
2. Dukungan Emosional.
3. Dukungan Penilaian.
4. Dukungan Instrumental

Supportif Non-Supportif

Variabel Potensial Konfounding


1. Pengetahuan
2. Efek samping
3. Lama pengobatan

43
Keterangan:

: Variabel yang diteliti : Mempengaruhi

: Variabel yang tidak diteliti

Skema 3.1 Kerangka Konsep Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap Kepatuhan Terapi ARV ADHA

Berdasarkan skema 3.1 diatas, peneliti akan meneliti terkait dengan

dukungan keluarga dan kepatuhan terapi ARV anak dengan HIV/AIDS

(ADHA). Telah diketahui bahwa dukungan keluarga menjadi salah satu

faktor penting dalam meningkatkan kepatuhan terapi ARV anak dengan

HIV/AIDS (ADHA). Pada dukungan keluarga terdapat empat bentuk

dukungan yang akan diteliti yaitu dukungan informasional, dukungan

penilaian, dukungan instrumental, dan dukungan emosional. Dari ke empat

dukungan tersebut akan dinilai hasil dari dukungan keluarga yang didapat

oleh ADHA apakah mereka mendapatkan dukungan keluarga yang supportif

atau tidak supportif (Non-Supportif). Setelah didapatkan nilai hasil dukungan

keluarga, selanjutnya akan dilakukan penelitian terhadap kepatuhan terapi

ARV ADHA apakah patuh atau tidak patuh. Dalam melakukan penelitian

terdapat beberapa faktor konfounding atau faktor perancu yang tidak masuk

dalam penelitian, tetapi dapat mempengaruhi hasil dari kepatuhan terapi

ARV seperti pengetahuan, semakin baik tingkat pengetahuan yang

didapatkan oleh anak maka semakin meningkat pula kepatuhan terapi ARV

pada anak tersebut, hal ini dikarenakan anak yang memiliki tingkat

pengetahuan baik sudah mengetahui tentang penyakitnya. Pada faktor efek

samping, semakin besar efek samping yang dirasakan oleh anak, maka

semakin rendah tingkat kepatuhan terapi ARV pada anak tersebut, hal ini

dikarenakan anak yang merasakan efek samping lebih besar akan merasa
takut. Selanjutnya pada faktor lama pengobatan, semakin lama masa

pengobatan pada anak maka semakin rendah kepatuhan terapi ARV pada

anak tersebut, hal ini dikarenakan masa pengobatan yang lama membuat

anak merasa jenuh (Khairunnisa, LD, Mateus, Adi, & Ari, 2017). Setelah

mengabaikan beberapa faktor konfouding tersebut, hasil akhir dari penelitian

dukungan keluarga dan kepatuhan terapi ARV kemudian akan dilakukan

pengolahan data sehingga akan diketahui apakah dukungan keluarga

mempengaruhi kepatuhan terapi anak dengan HIV/AIDS.

B. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau pertanyaan

penelitian (Nursalam ,2009). Berikut ini adalah hipotesis penelitian:

H1 : Ada hubungan dukungan keluarga terhadap kepatuhan terapi ARV anak

dengan HIV/ AIDS (ADHA) di “Jombang Care Center Plus (JCC+)”

Kabupaten Jombang.
BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian adalah rancangan penelitian secara umum yang

mencakup dari identifikasi masalah hingga teknik analisis data yang akan

dilakukan untuk mencapai tujuan penelitian. Pemilihan desain yang tepat

akan menentukan bobot penelitian yang dilakukan (Saryono, 2013). Jenis

desain yang digunakan pada penelitian ini adalah analitik observasional

dengan pendekatan Cross Sectional. Metode cross sectional merupakan

metode penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor

risiko yaitu dukungan keluarga dengan efek yaitu kepatuhan terapi, dengan

cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu

saat, yang artinya tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja

(Notoatmodjo, 2012). Penelitian cross sectional ini sering disebut penelitian

transversal, dan sering digunakan dalam penelitian epidemiologi dimana

subyek penelitian yang diperlukan relatif besar atau banyak, dengan asumsi

variable bebas yang berpengaruh cukup banyak (Notoatmodjo, 2012).

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi merupakan keseluruhan sumber data yang diperlukan dalam

suatu penelitian (Saryono, 2013). Populasi dalam penelitian ini adalah

sebanyak kurang lebih 24 ADHA, dimana 24 anak tersebut sudah terdata

di Jombang Care Center Plus (JCC+) kabupaten Jombang.


2. Sampel

Sampel merupakan sebagian dari populasi terjangkau yang dapat

dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling. Supaya hasil

penelitian sesuai dengan tujuan, maka penentuan sampel yang

dikehendaki harus sesuai dengan kriteria yang diterapkan (Saryono,

2013). Jumlah sampel yang diambil untuk menjadi responden dalam

penelitian ini adalah kurang lebih sebanyak 24 responden, dimana 24

responden tersebut belum bisa memenuhi target 100% untuk menjdi

subjek penelitian. Hal ini dikarenakan pada keadaan populasi itu sendiri,

dimana peneliti kesulitan untuk mengumpulkan jumlah sampel 100% dari

jumlah populasi.

3. Sampling (Cara Pengambilan Sampel)

Cara pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan

menggunakan metode Non Probability Sampling dengan melalui tehnik

pendekatan Purposive Sampling yang artinya cara pengambilan sampel

berdasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang sesuai dengan

kriteria yang dibuat oleh peneliti. Pengambilan sampel pada penelitian ini

menggunakan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi.

Adapun kriteria yang di maksud dalam penelitian ini yaitu sebagai

berikut:

a. Kriteria Inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu

populasi target terjangkau yang akan diteliti (Nursalam, 2010). Bahan

pertimbangan kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah :

1) Keluarga dari ADHA yang terdata di Jombang Care Center Plus

(JCC+) Kabupaten Jombang dengan usia <12 tahun.


2) Keluarga dari ADHA yang telah didiagnosa positif terinfeksi HIV

>3 bulan, dimana setelah 3 bulan biasanya keluarga dari ADHA

telah menunjukkan keterbukaan terhadap orang lain.

3) Masih berhubungan dengan keluarga baik yang tinggal serumah

maupun yang berpisah.

4) Bisa membaca atau menulis.

5) Kesadaran penuh/compos mentis.

6) Bersedia berpartisipasi dalam penelitian dan kooperatif.

b. Kriteria eksklusi

1) Keluarga dari ADHA yang tidak terdata di Jombang Care Center

Plus (JCC+) Kabupaten Jombang.

2) Mengalami ketidaknyamanan fisik yang memberatkan pasien

(seperti nyeri, pusing, atau lainnya) sehingga tidak

memungkinkan untuk responden melanjutkan penelitian.

3) Responden memutuskan untuk tidak melanjutkan pengisian

ataupun tidak mengisi secara lengkap kuesioner.

C. Variabel Penelitian

1. Variabel Independen (Variabel Bebas)

Variabel independen dalam penelitian ini adalah dukungan keluarga

terhadap ADHA.

2. Variabel Dependen (Variabel Terikat)

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kepatuhan terapi ARV

ADHA.

D. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan pada tanggal 01 Desember 2019 di

komunitas “Jombang Care Center Plus (JCC+)” Kabupaten Jombang.


E. Definisi Operasional

Definisi operasional merupakan metode yang digunakan untuk

mengukur konsep yaitu variabel independen dan variabel dependen

(Nursalam, 2010).

Tabel 4.1 Definisi Operasional.

Variabel Definisi operasional Alat Ukur Hasil ukur Skala


Persepsi responden dalam hal Kuisioner 4 = Selalu (Bila diberi Kategorik
Dukungan ini ADHA terhadap dukungan dukungan dukungan >6x dalam 1 (Ordinal)
keluarga yang diberikan oleh keluarga keluarga. bulan terakhir)
(Variabel meliputi: dukungan emosional, 3 = Sering (Bila diberi
independen) dukungan informasial, dukungan 5-6x dalam 1
dukungan instrumental, bulan terakhir)
ndukungan penilaian ala 1 2 = Kadang-Kadang (Bila
bulan terakhir. diberi dukungan 3-4x
dalam 1 bulan terakhir)
1 = Jarang (Bila diberi
dukungan 1-2x dalam 1
bulan terakhir)
0 = Tidak Pernah (Bila tiak
pernah diberi dukungan
dalam 1 bulan terakhir).
Hasil skor :
Total skor: 80
Supportif = Skore 40-80
Non-Supportif = Skore ≤39.

Lanjutan tabel 4.1

Kepatuhan Kepatuhan terapi adalah Kuisioner Untuk poin jawaban Kategorik


terapi (Variabel kepatuhan (ketaatan) anak kepatuhan pertanyaan yaitu: (Ordinal)
dependen) yang menderita HIV dalam 1= Tidak Pernah
mengonsumsi obat ARV 2-3 = Jarang
4-5= Cukup Sering
6= Sering
7 = Selalu
Hasil akumulasi:
Total skor: 140
Patuh = 140
Tidak patuh = ≤140

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk

pengumpulan data (Notoatmodjo, 2010). Dalam penelitian ini instrument

yang digunakan untuk pengambilan data yaitu sebagai berikut:

1. Kuesioner

Kuesioner adalah suatu cara untuk pengumpulan data atau

suatu penelitian mengenai suatu masalah yang umumnya banyak

menyangkut kepentingan secara umum. Kuesioner dapat dilakukan

dengan mengedarkan suatu daftar pertanyaan yang berupa

kuisioner-kuisioner, diajukan secara tertulis kepada sejumlah subjek

untuk mendapatkan tanggapan, informasi, jawaban, dan sebagainya

(Arikunto, 2010). Berdasarkan pada hal tersebut maka alat

pengumpulan data penelitian yang dapat digunakan dalam penelitian

ini adalah kuesioner dukungan keluarga dan kuesioner kualitas

hidup pasien HIV/AIDS.

a) Kuesioner Dukungan Keluarga

Kuesioner ini terdiri 20 item pertanyaan dengan 5 alternatif jawaban,

berisi tentang pertanyaan tertutup yang menyangkut dukungan

keluarga dimana cera pengisiannya responden tinggal memberi

tanda centang “√” terhadap alternatif jawaban yang telah dipilih.

Metode penilaian dukungan keluarga menggunakan skala Likert

dengan menggunakan scoring atau nilai jawaban sbagai berikut:


Tabel 4.2 Skala penilaian dukungan keluarga

Skor
Alternatif
Keterangan Jawaban Pertanyaan
Jawaban

Bila menerima dukungan >6x dalam 1


Selalu (SL) 4
bulan terakhir
Bila menerima dukungan 5-6x dalam 1 3
Sering (SR)
bulan terakhir
Kadang-kadang Bila menerima dukungan 3-4x dalam 1 2
(KD) bulan terakhir
Bila menerima dukungan 1-2x dalam 1 1
Jarang (JR)
bulan terakhir
Bila tidak menerima dukungan dalam 1 0
Tidak Pernah (TP)
bulan terakhir

Skor Total 80, dengan kriteria penilaian :

1) Supportif : 40 – 80

2) Non-Supportif : ≤39

b) Kuesioner Kepatuhan Terapi

Menggunakan kuesioner yang dimodifikasi dari Wistika (2018).

Kuesioner ini terdiri dari 20 item pertanyaan. Didalamnya terdapat

pertanyaan positif dan negatif. Responden memilih satu dari tujuh

pilihan jawaban yang ada pada kuesioner dengan mnggunakan

skoring atau nilai jawaban sebagai berikut:

Tabel 4.3 Skala penilaian kualitas hidup

Skor Pertanyaan
Alternatif Jawaban

7
Selalu (SL)

6
Sering (SR)

4-5
Kadang-kadang (KD)

2-3
Jarang (JR)

1
Tidak Pernah (TP)
Skor total 140, dengan kriteria penilaian :

1. Patuh = skore 140

2. Tidak patuh = Skore ≤140

2. Uji Validitas (Kesahihan)

Validitas berarti suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan

dan kesahihan suatu instrument. Telah diketahu bahwa dari penelitian-

penelitian sebelumnya bahwa kusioner dukungan keluarga dan kualitas

hidup telah valid dengan nilai valid >0,5.

3. Uji Reabilitas

Data yang diperoleh dari uji coba selanjutnya dialisis untuk

mngetahui kualitas alat ukur tersebut. Perhitungan analisis bavariat

menggunakan bantuan SPSS 16 for Windows. uji reabilitas

menggunakan uji koefisien reliabilitas alpha Cronbah dengan nilai R =

0, 987 (Wistika, 2018).

G. Prosedur Penelitian

1. Prosedur Administrasi

a. Membuat surat permohonan izin penelitian dengan

sepengetahuan Ketua Program Studi Pendidikan Ners STIKES

Widyagama Husada.

b. Mendapatkan izin dari Ketua koordinator komunitas “Jombang

Care Center Plus (JCC+)” Kabupaten Jombang.

c. Mendapatkan izin dari Dinas Kesehatan (DinKes) dan Badan

Kesatuan Bangsa dan Politik (BaKesBangPol) Kabupaten Malang.

d. Menyampaikan maksud dan tujuan dari penelitian.

e. Memilih subyek sesuai dengan kriteria inklusi.


f. Melakukan pengambilan data dengan menggunakan lembar

kuesioner.

g. Meminta surat telah melakukan penelitian pada bagian

manajemen “Jombang Care Center Plus (JCC+)” Kabupaten

Jombang.

2. Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan

menggunakan data primer dan data sekunder.

a. Data primer

Data primer didapatkan dari hasil observasi studi pendahuluan

dengan data yang teliti adalah dukungan keluarga dan kepatuhan

terapi ARV pada ADHA.

b. Data sekunder

Data sekunder didapatkan dari hasil studi pendahuluan yang

dilakukan di Jombang Care Center bagian administrasi dengan

sobjek yang diambil adalah data pasien ODHA di Jombang Care

Center Plus (JCC+) Kabupaten Jombang.

Skema 4.1 Prosedur Pengumpulan Data

Populasi
Anak dengan HIV/AIDS yang terdata di “Jombang Care Center Plus (JCC+)” Kab. Jombang

Sampel 24 Orang

Meminta Persetujuan Kepada Keluarga dan ADHA untuk menjadi


Responden (Informed Consent)

Pengisian kuesioner oleh responden


Peneliti menjaga kerahasiaan informasi yang diberikan Keluarga
ADHA (Confidentialy)

Menjaga Kerahasiaan ADHA dengan penggunaan nama inisial atatu


nomor responden (R1, R2, R3, dan seterusnya (Anonimity)

Analisa data

Langkah-langkah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a) ADHA yang terdata di “Jombang Care Center Plus (JCC+)”

Kabupaten Jombang.

b) Setelah itu pengambilan sampel ADHA sebanyak 24 orang sesuai

dengan kriteria inklusi.

c) Mengumpulkan ADHA dalan satu tempat dan waktu.

d) Menjelaskan maksud dan tujuan penelitian dan melakukan pengisian

informed concent oleh Keluarga ADHA.

e) Kemudian keluarga ADHA melakukan pengisian kuesioner dukungan

keluarga yang berisi bagaimana dukungan yang diberikan oleh

keluarga dalam 1 bulan terakhir, dan kuesioner kualitas hidup yang

berisikan tentang kesejahteraan fisik, kesejahteraan psikologi,

hubungan sosial, lingkungan, tingkat kemandirian, dan

kesejahteraan spiritual yang dirasakan dalam 1 bulan terakhir.

f) Setelah semua kuesioner diisi, dicek kembali kebenaran pengisian

dan kelengkapan serta kecocokan data.

g) Kemudian data yang diperoleh dikumpulkan dan dilakukan analisa

data menggunakan SPSS 16 for Windows.


H. Pengolahan Data dan Analisis Data

Pengolahan data meliputi kegiatan sebagai berikut :

1. Pemeriksaan Data (Editing)

Proses editing dilakukan dengan cara mengoreksi data yang telah

diperoleh meliputi kelengkapan data berdasarkan hasil penyebaran

kuesioner yang dilakukan. Hal ini dilakukan untuk mengecek apakah

semua lembar kuesioner masih ada yang belum diisi. Editing merupakan

pemeriksaan kembali daftar pertanyaan dan jawaban yang telah

diperoleh dari responden. Hasil kuesioner tersebut perlu diedit terlebih

dahulu. Apabila ada jawaban yang belum lengkap, maka perlu

dilakukan pengambilan data ulang jika memungkinkan (Notoatmodjo,

2012).

2. Pemberian Kode (Coding)

Peneliti memberi kode pada tiap variabel yang didata, hal ini untuk

memudahkan proses selanjutnya. Pada penelitian ini peneliti

memberikan kode dari masing-masing variabel. Variabel independen

dalam penelitian ini adalah dukungan keluarga yang dibuat dengan

skala ordinal dengan mmberikan masing-masing kode yang berbeda,

yaitu:

a. Non supportif kode [0]

b. Supportif [1]

Sedangkan pada variabel dependen dalam penelitian ini adalah

kepatuhan terapi yang di buat dengan skala numerik dan diberikan

kode sebagai berikut:


a. Patuh [1]

b. Tidak Patuh [0]

3. Penilaian (Scoring)

Pada tahap Scoring ini peneliti memberikan nilai pada data sesuai

dengan skor yang telah ditentukan berdasarkan kuesioner yang telah

diisi oleh responden.

4. Tabulasi Data (Tabulating)

Data kepatuhan terapi ARV pada ADHA dikelompokkan menjadi

dua kategori yaitu: baik dan buruk. Selanjutnya setiap data dilakukan

tabulasi data agar data siap diolah secara statistika.

5. Memasukkan Data (Entry Data)

Entry data dapat langsung dilakukan pada data editor. Data harus

berbentuk kode. Salah satu progam aplikasi yang sering digunakan

untuk entry data adalah SPSS16.

6. Pembersihan Data (Cleaning Data)

Apabila semua data dari tiap responden sudah dimasukkan, perlu

di cek kembali untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan dari

pengkodean kemudian dilakukan koreksi. Cleaning merupakan teknik

pembersihan, data-data yang tidak sesuai dengan kebutuhan akan

terhapus.

7. Analisa Data

Analisa univariat dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan,

efek samping, dan lama terapi ARV. Analisa bivariat dalam penelitian ini

untuk mengetahui hubungan atau korelasi dukungan keluarga terhadap

kualitas hidup ODHA di Jombang Care Center Plus (JCC+) Kab.

Jombang dan menggunakan uji statistik Spearman jika memenuhi

syarat. Jika tidak memenuhi syarat digunakan uji statistik alternative


Gamma untuk melihat adanya korelasi 2 variabel tersebut bermakna

dan tidak bermakna.

I. Etika Penelitian

Penelitian adalah upaya mencari kebenaran terhadap semua

fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar yang menyangkut kehidupan

manusia. Dalam bidang kesehatan, subyek penelitian ini adalah manusia

atau yang disebut dengan pasien dengan HIV/AIDS. Sebuah penelitian

dapat dilakukan ketika telah mendapatkan perizinan yang menekan pada

masalah etika (Notoatmodjo, 2012)

1. Lembar Persetujuan (Informed consent)

Tujuan informed consent adalah agar responden mengetahui

maksud dan tujuan penelitian selama dalam pengumpulan data. Peneliti

membagikan lembar persetujuan kepada keluarga ADHA sebagai

responden dengan tujuan agar responden mengetahui maksud dan

tujuan penelitian serta dampak yang diteliti selama pengumpulan data.

Jika rsponden bersedia menjadi subjek penelitian, maka diminta tanda

tangannya, namun jika tidak bersedia maka peneliti tidak akan memaksa

dan menghormati hak responden

2. Kerahasiaan (Confidentialy)

Peneliti akan menjaga kerahasiaan dari data yang diperoleh.

Peneliti menjamin kerahasiaan atas informasi yang diberikan oleh

keluarga ADHA sebagai responden dan hanya akan disajikan dalam

kelompok tertentu yang berhubungan dengan penelitian, sehingga

rahasia subyek penelitian benar-benar terjamin.

3. Tanpa Nama (Anonimity)


Untuk menjaga kerahasiaan identitas, peneliti tidak akan

mencampur adukkan nama subyek pada lembar persetujuan hanya

diberi nomor kode tertentu. Peneliti juga tidak boleh menampilkan

informasi identitas dan kerahasiaan subyek. Kerahasiaan identitas

responden yaitu kerahasiaan identitas ADHA terjaga dengan cara

peneliti tidak mencantumkan nama responden pada lembar kuiesioner

tetapi diganti dengan penggunaan nama inisial atau nomor responden

(R1, R2, R3, dan seterusnya).

4. Keadilan dan Kejujuran (Justice dan Veracity)

Prinsip keadilan memenuhi prinsip keterbukaan yaitu penelitian

dilakukan dengan jujur, hati-hati, professional, berperikemanusiaan, dll.

Aplikasi keadilan pada prinsip ini dilakukan dengan memberikan perilaku

yang sama pada setiap keluarga ADHA sebagai responden tanpa

membedakan gender, ras, agama, etnis, sosial dan pendidikan.

5. Manfaat dan Kegunaan

Sebuah penelitian hendaknya memperoleh manfaat semaksimal

mungkin bagi masyarakat pada umumnya. Penelitian meminimalkan

dampak yang merugikan keluarga ADHA sebagai responden.

J. Jadwal Penelitian

(Lampiran 4)
59