Anda di halaman 1dari 10

Tugas Kelompok 1

EKLESIOLOGI

Nama Kelompok :

Susi.Rumthe

Nova. Kakisina

Justin.Matayane

Adam.Lakarang

Bobby. Sopamena

Ajems. Renel

UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA MALUKU


FAKULTAS TEOLOGI
PRODI FILSAFAT KEILAHIAN
1. Apa itu Politik

 Istilah politik berasal dari bahasa Yunani yakni polis yang berarti kota atau suatu
Komunitas. Istilah lain dalam bahasa Yunani ialah politeia yang berarti warga. Jadi
politik pada mulanya berarti suatu masyarakat yang berdiam di suatu kota. 1
 Menurut ahli
Aristoteles: Bahwa arti pengertian politik adalah upaya atau cara untuk memperoleh
sesuatu yang dikehendaki2
Dalam mendefenisikan mengenai politik Oscar Cullman, yang dikutip oleh Gunche Lugo,
membedakan antara politeia dan politeuma. Politeia berarti politik dalam arti merebut
kekuasaan atau kedudukan dalam pemerintahan. Sedangkan politeuma adalah politik
yang menekankan tegaknya nilai-nilai kerajaan Allah di dunia ini misalnya: keadilan,
kebenaran, kesejahteraan dan mewujudkan peradaban baru yang mengangkat harkat dan
martabat manusia sebagai gamar dan rupa Allah (Kej. 1:26-28).3
 Menurut ajaran GPM
Secara umum berpolitik berarti ikut serta atau berpartisipasi dalam segenap upaya
meningkatkan kesejahteraan rakyat demi terciptanya syalom Allah di bumi. Jadi
berpolitik berarti terlibat dalam menentukan hal-hal yang berkaitan dengan kesejahteraan
semua warga negara. Dalam arti ini maka para birokrat, legislator, eksekutor dan
yudikator semua berpolitik. Bahkan setiap orang dan lembaga yang 'concern' pada
kesejahteraan bersama seluruh bangsa telah berpartisipasi dalam kehidupan politik
(Yer.29:7; Mzm.122:6; Kis. 24:2)4

2. Teologi dan Demokrasi

Dalam memahami Teologi dan Demokrasi maka kita akan melihat pengertian dari Teologi dan
Demokrasi.

 Teologi
1
Martin L. Sinaga (peny), Pergulatan Kehadiran Kristen di Indonesia, Teks-Teks Terpilih Eka Darmaputra,
Jakarta: BPK Gunung Mulia, Hlm. 409.
2
https://www.zonareferensi.com/pengertian-politik/
3
Gunche Lugo, Manifesto Politik Yesus, Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2009, hlm. 42
4
Ajaran GPM Bab IV.2, GEREJA DAN NEGARA, no 135 tentang Apa itu politik?, hal. 31
Istilah teologi berasal dari akar kata dua istilah Yunani, theos dan logos. Theos berarti “Allah”
atau “Ilah”; dan logos berarti “ perkataan/firman/wacana. Jadi makna istilah teologi adalah
“wacana (ilmiah) mengenai Allah atau ilah-ilah5

 Demokrasi

Harafiah istilah demokrasi berarti pemerintahan oleh rakyat (dari bahasa Yunani demos
artinya rakyat; kratos artinya kekuatan atau kekuasaan, dalam arti pemerintahan). Dalam
pemakaian kontemporer, istilah demokrasi memiliki beberapa makna dasar. Pertama, sebagai
satu bentuk pemerintahan dimana keputusan politik secara langsung ada pada warga negara.
Kedua, bentuk pemerintahan dimana warga negara melaksanakan hak yang sama. Ketiga,
kekuasaan mayoritas dilaksanakan dalam kerangka kendali-kendali konstitusional yang disusun
untuk menjaminkan berbagai hak warga negara secara individual maupun kolektif 6

Demokrasi adalah istilah dunia politik di Yunani Kuno, oleh sebab itu kalangan Kristen
sekarang memberi perhatian dalam dunia demokrasi politik. Karena itu acap kali umat Kristen
gagal dalam tanggung jawab politik dan menerapkan demokrasi. Ada beberapa alasan bagi
gagalnya perwujudan tanggung-jawab politik ini yaitu;

 Pertama, ada anggapan bahwa politik itu adalah urusan yang kotor, penuh intrik dan
intimidasi serta permainan kasar
 Kurangnya pengertian tentang hakekat kekuasaan
 Takut terhadap konflik dan kontroversi, dan hendak berupaya hidup aman dan tenang
 Lebih mengutamakan pembentukan moral pribadi dan bukan moral sistem
 Karena salah pemahaman tentang pemisahan gereja dan negara

Padahal kalau kita coba berefleksi dan melihat beberapa pokok ajaran Kristen, kita bisa
menarik relevansinya berkaitan dengan bidang politik umumnya, khususnya bagi upaya
demokratisasi masyarakat. Kita coba angkat beberapa pokok teologis dan melihat relevansi
politiknya.

5
Drewes, B.F. & Julianus Mojau, Apa Itu Teologi?: Pengantar Ke Dalam Ilmu Teologi, (Jakarta: Gunung Mulia,
2007), hlm 16
6
Ngelow Zakaria et.al. eds., Teologi Politik, Makassar: Yayasan Oase INTIM, 2013, hlm 79
Pertama, dengan memahami ekklesia, yang istilah aslinya adalah istilah politik dalam
praktek demokrasi Yunani kuno. Yang dimaksudkan dengan ekklesia adalah pertemuan
rakyat untuk mengambil keputusan politik. Dengan demikian gereja atau eklesia adalah
terutama pertemuan umat. Kepala dari eklesia adalah Kristus sendiri, dengan begitu maka
dalam gereja berlaku Kristokrasi (kedaulatan Kristus), tetapi karena ekklesia adalah
pertemuan umat maka seharusnya dalam gereja prinsip-prinsip ekklesia dan kehendak umat
juga harus berlaku. Selain itu dalam gereja kita mengenal kepelbagaian, baik kepelbagaian
kharisma maupun kepelbagaian etnik, budaya dan latar belakang. Pluralisme mengharuskan
adanya demokrasi. Maka dalam ekklesia Kristen, mestinya proses demokratisasi berjalan
lancar. Dari segi ini maka kehidupan gereja perlu menjadi modal kehidupan demokratis yang
bisa mengajar masyarakat non-gereja tentang nilai-nilai demokrasi, penghargaan terhadap
kemajemukan, dan toleransi.

Kedua, kita mengenal Allah yang “berpolitik” dalam peristiwa Exodus, dimana Allah
membela rakyat yang ditindas di Mesir. Ia memerdekakan rakyat yang dijadikan objek.
Yesus juga tampil dalam pelayanan-Nya, Ia memberitahu bahwa misi-Nya terutama untuk
pembebasan orang kecil dan tersisih. Jadi seluruh kesaksian Alkitab sehubungan dengan
Allah dan Kristus, mengungkapkan maksud tindakan politik Allah di dunia ini yaitu
memihak rakyat kecil dan memulihkan kemanusiaan. Ini menjadi dasar bagi keprihatinan
Kristen terhadap demokrasi dan nilai-nilai demokratis.

Ketiga, paham Kristen menekankan kegandaan tabiat manusia, ada yang baik dan ada
yang jahat. Karena itu semua struktur dan sistem buatan manusia juga memiliki ambivalensi
moral yaitu bisa mengembangkan kemanusiaan, tetapi juga bisa menindas kemanusiaan.
Pemikir sosial dan teologi Kristen Reinhold Niebuhr berkata “sebagai gambar Allah dan
baik, manusia bisa berlaku adil, dan arena itu demokrasi bisa tumbuh; tetapi karena manusia
jahat dan cenderung tidak adil, maka demokrasi merupakan keharusan.

Sebagai gereja kita dipanggil untuk bersaksi juga dalam bidang politik. Kehidupan gereja
harus menjadi model demokrasi bagi pihak lain, justru karena dia adalah eklesia. Kalau ada
konflik antara percaya kepada Allah dan kepentingan bangsa, orang Kristen lebih
mementingkan kedaulatan Allah. Lalu realisme kita tentang manusia, termasuk penguasa
sekalipun , sebab selain dia baik, dia juga jahat dan egois dan bisa sangat destruktif7.

3. Hubungan Gereja dan Negara

Relasi gereja dan negara merupakan persoalan klasik yang selalu menjadi wacana penting
gereja-gereja di berbagai konteks. Secara historis, gereja-gereja (sejak gereja perdana) memang
telah berhadapan dengan kekuatan politik negara, karena gereja pada hakikatnya merupakan
bagian dari kehidupan sosial masyarakatnya. Gereja tidak terpisah dari masyarakat. Pada sisi
lain, masyarakat merupakan suatu konstelasi sosiologis dan politis yang dikelola oleh suatu
otoritas negara (pemerintah).

Menurut Andreas A. Yewangoe hubungan antara Gereja dan Negara bukanlah sesuatu yang
gampang untuk dirumuskan. Sejarah sudah memperlihatkan kepada kita, bahwa, bukan tidak
jarang perlombaan untuk saling mendominasi satu terhadap yang lainnya. Dalam kasus Gereja-
Negara, Negara mendominasi Gereja, sehingga segala sesuatu yang berlaku di dalam Gereja
ditentukan oleh Negara. Sejak Konstantin Agung (4M) menjadi Kristen, kecenderungan Negara
untuk ikut menentukan apa yang baik dan tidak baik.

Di Indonesia khusunya pada zaman kolonial, kita juga menghadapi kasus yang serupa.
Pemerintah kolonial Belanda antara lain menempatkan apa yang disebutnya “Commisarissen” di
dalam majelis-majelis Jemaat ‘De Indische Kerk’, yang pada waktu itu merupakan Gereja-
Negara, yang berfungsi sebagai yang mewakili kepentingan-kepentingan Negara.8 Menurut
Donald Jay Losher, secara umum pandangan mengenai hubungan antara Gereja dan Negara
dibagi menjadi tiga kategori yaitu pemisahan ketat, asimilasi dan interaksi. Pemisahan ketat
tidak bisa berbuat apa- apa terhadap Negara, karena kaum kristen memilih sendiri untuk tidak
berperan di bidang politik atau sosial. Asimilasi juga tidak mampu karena kaum beragama telah
dikuasai oleh pemerintah dan ideologinya, sehingga hanya mampu menerima segala kebijakan
secara pasif. Baik asimilasi maupun pemisahan ketat tidak mampu memegang peranan aktif
dalam perubahan sosial dan politik. Sikap interaksilah yang mampu bertahan lama dalam periode

7
Ngelow Zakaria et.al. eds., Teologi Politik, Makassar: Yayasan Oase INTIM, 2013, hlm 86-89
8
Weinata Sairin dan J.M. Pattiasina, Hubungan Gereja dan Negara dan Hak-Hak Asasi Manusia, Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1996 , Hlm. 23
kontemporer, karena transformasi dan pembebasan memegang peranan jauh lebih aktif dan
positif, meskipun juga dengan resiko yang lebih besar namun memegang peranan paling aktif,
kritikal dan positif terhadap Negara dan masyarakat.9

J. Phillip Wogaman dalam Christian Perspectives on Politics (hlm. 250-252)


mengidentifikasi empat sikap politik yang berkaitan dengan relasi gereja dan negara:

(1) Teokrasi – negara berada di bawah kendali para pemimpin atau lembaga-lembaga keagamaan
yang utamanya untuk tujuan-tujuan keagamaan
(2) Erastianisme – para pemimpin negara mengendalikan agama untuk tujuan-tujuan negara;
(3) Pemisahan Gereja dan Negara – Ramah: lembaga-lembaga keagamaan dan politik tetap
terpisah secara legal tanpa permusuhan
(4) Pemisahan Gereja dan Negara – Tidak Ramah: misalnya antiklerikalisme di Prancis pada
abad ke-19 dan kebijakan-kebijakan antikleris di Mexico di mana para pastor dilarang memakai
jubah pastor sehingga menimbulkan pemisahan gereja dan negara yang tidak harmonis.
Menurut Calvin sebagaimana yang dikutip oleh Andreas A. Yewangoe, mengenai hal tersebut
bahwa hubungan Gereja dengan Negara merupakan dua lingkaran yang pusatnya adalah Yesus
Kristus. Jadi baik negara maupun gereja berpusatkan satu pusat saja yaitu Yesus Kristus. Dengan
kata-kata lain, baik pelayanan gereja maupun pelayanan negara bersumber dari sumber yang satu
yaitu Yesus Kristus. Hanya memang lingkup pelayanan mereka berbeda. Yang satu mungkin
lebih terbatas, sedangkan yang lainnya lebih ”luas”. Marthin Luther pada pihak lain berbicara
mengenai dua kerajaan yang terpisah, namun terdapat juga tititk-titik singgung di antara
keduanya. Bagaimana menempatkan secara persis titik-titik singgung itu, tentu dibutuhkan
pemahaman mendalam dan kepekaan luar biasa menyiasati apa yang terjadi di dalam
masyarakat.10

Hubungan gereja dan negara juga terdapat dalam ajaran gereja GPM yaitu Hubungan itu
dapat dijelaskan sbb: karena gereja dan negara adalah lembaga- lembaga yang otonom yang
mengemban fungsi masing-masing di mana yang satu tidak boleh mencampuri urusan yang lain,
maka gereja dan negara harus membina hubungan yang koordinatif, bukan subordinatif. Yang

9
Weinata Sairin dan J.M. Pattiasina, Hubungan Gereja dan Negara dan Hak-Hak Asasi Manusia, Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1996 , Hlm. 105
10
Andreas A. Yewangoe, Agama dan Negara: Sebuah Hubungan Yang Tidak mudah, Disampaikan Dalam Kursus
“Pendidikan Politik Angkatan III” di Palangka Raya, 20 Oktober 2008.
satu tidak boleh menguasai yang lain. Hubungan keduanya adalah hubungan kemitraan yang
sejajar, kritis, realistis dan konstruktif11.

4. Pendeta dan Politik


Gereja bukanlah sebuah organisasi politik ataupun lembaga politik, Gereja tetaplah Gereja.
Hal ini begitu penting sehingga jika ada pelayan Gereja yang ingin berpolitik jangan di Gereja.
Namun demikian, “Gereja tetap memiliki tanggung jawab untuk berpolitik, tetapi tindakan
politiknya dilakukan dengan kesadaran penuh dalam fungsinya sebagai Gereja” (Eka
Darmaputera).
Filsuf Yunani kuno, Plato dan Aristoteles pada abad 5 SM, menyatakan politik adalah suatu
usaha untuk mencapai suatu masyarakat (polis, kota) yang terbaik. Hal ini baik Plato maupun
Aristoteles menyadari bahwa politik itu adalah cara yang dipakai untuk menciptakan kondisi
masyarakat yang terbaik. Kondisi yang terbaik disini adalah tercapainya kesehjateraan yang
maksimal, kebebasan mengekspresikan hak-hak individu dalam tatanan moral masyarakat yang
tertib dan beradab.
Di dalam Alkitab, Allah memberikan perintah kepada umat Israel yang saat itu dibuang ke
Babel untuk mengusahakan kesejahteraan kota dimana mereka berada, “Yeremia 29: 11;
Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada
TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu”. Perintah Tuhan jelas, usahakanlah
kesejahteraan kota (polis), kota tempat orang Israel dibuang pun harus diusahakan
kesejahteraannya. Padahal mereka tidak akan tinggal selamanya di kota itu. Apalagi kota sendiri
dan tentu memerlukan upaya ekstra yang harus dilakukan untuk membuat kota (polis), tempat
kita tinggal sejahtera. Baik dari Plato, Aristoteles maupun Nabi Yeremia ingin mengusahakan
Politik yang mulia/luhur yang mensehjaterakan kehidupan masyarakat. Bukan mengusahakn
politik kekuasaan yang hanya mementingkan diri sendiri dan yang mencari kekuasaan.
Tujuan politik luhur adalah membangunan kesejahteraan bangsa akan melahirkan negarawan.
Fokus utama negarawan adalah bagaimana memberi kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan
dan kemakmuran rakyat banyak. Kepentingan Rakyat yang diutamakan, bukan kepentingan
pribadi atau golongan. Bagi negarawan, urusan dan kepentingan pribadi sering tak terpikirkan

11
Ajaran GPM Bab IV.2, GEREJA DAN NEGARA, no 129 tentang Apakah ada hubungan antara gereja
dan negara?, hal. 30
bahkan terabaikan tetapi kepentingan negara menjadi prioritas utama. Gereja perlu makin terlibat
di dunia politik sebagai pembawa terang dan garam. Pemimpin gereja menyiapkan umat untuk
menjadi terang dan garam di dunia politik. Terang menerangi kegelapan. Garam mengawetkan
agar terhindar dari pembusukan. Keterlibatan warga gereja dalam ranah politik hendaklah dilihat
sebagai bagian dari pelayanan rohani. Fungsi terang dan garam harus menjadi landasan iman dan
moral. Sehingga jika ada warga gereja yang berkiprah di dunia politik, itu dilakukan untuk
menerangi dan menggarami balantika politik.
Pemimpin gereja seharusnya berada dalam tataran politik luhur, menjadi pengayom, pembina
sekaligus penggerak yang memobilisasi warga gereja agar terlibat dalam berbagai upaya untuk
mencapai kesejahteraan bangsa. Sarana yang dipakai sebagai alat perjuangan untuk
kesejahteraan bangsa salah satunya lewat politik. Pemimpin gereja tidak cukup hanya bergelut
dengan masalah-masalah teologis pembinaan umat untuk urusan surgawi. Kesadaran dan
pengetahuan politik perlu dimiliki sebagaimana memiliki pengetahuan rohani. Warga gereja
dilengkapi dan diberdayakan oleh pemimpin gereja agar terampil ketika berkiprah di ranah
politik.
Lalu apakah Pemimpin Gereja/Pendeta dapat terjun langsung dalam dunia politik?
Keterlibatan pendeta sebagai pemimpin gereja dalam politik, ada yang melarang dan ada juga
yang membolehkan dengan persyaratan tertentu. Tapi ada juga sinode yang mendorong agar
pendetanya aktif di politik. Tidak ada salahnya pendeta sebagai pemimpin gereja terlibat politik.
Apalagi jika pendeta itu memiliki kapasitas dan integritas yang kuat. Sebab kadang dalam situasi
tertentu dunia politik membutuhkan kehadiran pemimpin gereja. Benar bahwa kehadiran seorang
pendeta sebagai pewarta injil tidak dapat dibatasi cuma dalam ruang kebaktian pada hari minggu
saja, tetapi bisa di mana saja dan kapan saja termasuk dalam bidang politik. Namun yang
menjadi persoalan adalah kehadiran sang pendeta di sana adalah “atas nama gereja” atau atas
nama dirinya sendiri. Kalau kehadirannya “atas nama gereja” maka pertanyaan selanjutnya
adalah apakah ada gereja yang “mengutus” pendetanya untuk terlibat dan melibatkan dirinya
dalam politik (praktis)?.
Kalau toh ada pendeta yang mengambil keputusan untuk menjadi “calon” legislatif atau
eksekutif itu adalah keputusan pribadinya dan keputusan kekuatan (partai) politik yang
mengusungnya. Namun demikian, pendeta sebagai seorang warga masyarakat dan warga negara
patut menjalankan hak dan kewajiban politiknya, tentu berdasarkan nilai-nilai kristiani dan
hakekat jabatan kependetaan yang disandangnya.
Untuk melakukan hal-hal ini ada banyak cara yang bisa dilakukan, tidak cuma harus menjadi
anggota legislatif atau berpolitik praktis. Mengapa ? Karena untuk menjadi seorang politikus
mesti memiliki persyaratan (kualifikasi) tertentu, paling kurang kokoh integritas kepribadiannya
(supaya jangan jadi koruptor), mempunyai visi politik dan komitmen politik yang jelas (supaya
tidak menjadi oportunis) dan memahami cara kerja dalam dunia politik secara profesional
(supaya tidak mengecewakan para pendukungnya). Oleh sebab itu kehadiran seorang pendeta
dalam dunia politik praktis bukan terutama masalah doktrin jabatan menyangkut salah atau benar
; melainkan masalah etika, boleh atau tidak boleh dan motivasinya.
Jadi, apakah seorang pendeta yang sedang aktif melayani jemaat boleh masuk dalam politik
praktis misalnya dengan menjadi caleg salah satu partai politik? Sebaiknya tidak boleh. Tetapi
dalam praktek “kasus” seperti ini ditentukan oleh keputusan sang pendeta dan pengaturan
“lembaga” gerejanya. Ada gereja yang memperbolehkan pendetanya merangkap sebagai
pelayan jemaat sambil berpolitik. Ada yang mengatur supaya selama menjadi politikus status
kependetaannya “digantung” dan dapat dipakai lagi kalau sudah berhenti dari aktivitas politik
praktis. Ada pula gereja yang mencabutnya sama sekali, silahkan berpolitik tapi tanggalkan
kependetaan.
Daftar Pustaka

Martin L. Sinaga (peny), Pergulatan Kehadiran Kristen di Indonesia, Teks-Teks Terpilih Eka
Darmaputra, Jakarta: BPK Gunung Mulia

Gunche Lugo, Manifesto Politik Yesus, Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2009

Drewes, B.F. & Julianus Mojau, Apa Itu Teologi?: Pengantar Ke Dalam Ilmu Teologi, Jakarta:
Gunung Mulia, 2007

Ngelow Zakaria et.al. eds., Teologi Politik, Makassar: Yayasan Oase INTIM, 2013

Weinata Sairin dan J.M. Pattiasina, Hubungan Gereja dan Negara dan Hak-Hak Asasi Manusia,
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996

Andreas A. Yewangoe, Agama dan Negara: Sebuah Hubungan Yang Tidak mudah,
Disampaikan Dalam Kursus “Pendidikan Politik Angkatan III” di Palangka Raya, 20 Oktober
2008

Ajaran GPM

https://www.zonareferensi.com/pengertian-politik/