Anda di halaman 1dari 11

ANALISA PEMIKIRAN SYAFIQ HASYIM TERHADAP

WALI NIKAH PEREMPUAN

Makalah
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Kajian Gender

Dosen Pengampu:
Fatonah K.Daud, Lc., M.Pil

Oleh:
Umi Kholifah (NIM: 2013.01.01.164)

PROGAM STUDI ILMU AL QUR`AN DAN TAFSIR


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AL ANWAR
SARANG REMBANG
2016
ANALISA PEMIKIRAN SYAFIQ HASYIM TERHADAP
WALI NIKAH PEREMPUAN
Oleh: Umi Kholifah
I. Pendahuluan

Secara normatif sesungguhnya Islam adalah agama yang sangat


menyokong kesetaraan gender, antara perempuan dan laki-laki. Namun, secara
realitas masih banyak bias gender yang memenjarakan peran kaum
perempuannya. Sayangnya, penyebab utama dari realitas ini justru akibat
pemahaman teologis yang bias gender dalam memahami ajaran Islam yang terkait
kedudukan dan peran perempuan, baik diwilayah publik maupun domesti.

Kemudian dalam Islam, perbedaan merupakan suatu hal yang wajar terjadi
dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Tidak terkecuali dalam masalah
penentuan hukum atas suatu masalah yang terjadi serta sesuatu yang terkait
dengan ruang dan waktu berarti masih bisa berubah bahkan bisa ditolak,
sebagaimana contoh mengenai wali nikah.

Selanjutnya dalam hukum Islam, wali nikah merupakan salah satu rukun
yang menentukan sahnya akad nikah. kemudian seseorang yang menjadi wali
nikah harus memenuhi beberapa syarat, salah satunya adalah seorang laki-laki.
Namun dalam hal ini, mengenai wali nikah laki-laki terdapat pertimbangan untuk
masa sekarang.

Penafsiran mengenai wali nikah yang selama ini sudah terstruktur dengan
laki-laki, maka seiring dengan berkembanngnya waktu dan kapasitas perempuan
saat ini, maka wali nikah tidak mesti lagi laki-laki.

Untuk itu, dalam makalah ini penulis akan menjelaskan mengenai


permasalahan wali nikah perempuan menurut pandangan Syafiq Hasyim.

II. Biografi Syafiq Hasyim

Syafiq Hasyim merupakan seorang yang lahir dari keluarga Nahdlatul


Ulama (NU). Syafiq lahir di Kota Jepara, pada tanggal 18 April 1971. Syafiq
menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di kota kelahirannya. Tidak
diragukan lagi Syafiq akrab dengan tradisi Islam dan kitab kuning (teks-teks

1
klasik). Setelah itu pada tahun 1991, Syafiq hijrah ke Jakarta dengan tujuan
melanjutkan studi di Fakultas Ushuluddin, jurusan Aqidah dan Filsafat. Selama
dalam bangku kuliah, Syafiq mengamati bahwa banyak organisasi perempuan
yang mengalami kesulitan dalam melakukan Advokasi hak-hak perempuan.

Kemudian pada tahun 1996, Syafiq tergabung menjadi peneliti dalam


devisi Fiqh an-Nisa’ yang tugasnya adalah untuk melakukan penelitian mengenai
isu perempuan dan hak-hak advokat perempuan.

Setelah menyelesaikan Masternya dalam Studi Islam di Universitas


Belanda pada tahun 2000-2003, Syafiq terlibat dalam sebuah program dengan
Rahima dalam membangun kesadaran hak-hak perempuan. Syafiq juga bekerja
untuk Badan Pembangunan Internasional Kanada sebagai salah satu penasihat
jender untuk Badan Rehabilitas dan Rekonstruksi Aceh-Nias dari tahun 2005.
Begitu pula Syafiq terlibat dalam program penguatan peran perempuan ulama.1

Syafiq adalah seorang penulis yang produktif. Sejak mahasiswa, dia aktif
menulis artikel di Koran, majalah dan jurnal, seperti kompas, media Indonesia,
panji dan sebagainya.

Adapun beberapa karya Syafiq Hasyim antara lain:

1. Hal-hal tak terpikirkan Tentang Isu-isu Keperempuanan dalan Islam.


2. Menakar Harga Perempuan, Eksporasi Lanjut Atas Hak-hak Reproduksi
Perempuan dalam Islam.
3. Kekerasan dalam Rumah Tangga, Kejahatan yang Tersembunyi.
4. Kepemimpinan perempuan dalam Islam.
5. Dari Aqidah ke Revolusi.
6. Understanding Women in Islam: An Indonesian Perspective.

III. Nikah dan Syarat Sahnya

1 Wardatun Nabilah, “Metode enetapan Hukum Masdar Farid Mas’udi dan Syafiq Hasyim
Tentang Wali Niikah Perempuan”, (Surabaya: Skripsi IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2014), Bab 3,
hal. 4.

2
Kata nikah secara bahasa memiliki makna kumpul.2 Pernikahan adalah
akad serah terima antara laki-laki dan perempuan dengan tujuan untuk saling
memuaskan satu sama lainnya dan untuk membentuk sebuah bahtera rumah
tangga yang sakinah serta masyarakat yang sejahtera.3

Untuk melaksanakan suatu pernikahan, Islam membuat aturan-aturan yang


harus dipenuhi, yang biasanya dikenal dengan sebutan syarat dan rukun nikah.
Syarat yaitu sesuatu yang mesti ada yang menetukan sah atau tidaknya suatu
pekerjaan (ibadah), tetapi sesuatu itu tidak termasuk dalam rangkaian pekerjaan
itu, seperti menutup aurat untuk shalat atau menurut Islam calon pengantin laki-
laki perempuan itu harus beragama Islam. Rukun yaitu sesuatu yang mesti ada
yang menentukan sah atau tidaknya suatu pekerjaan (ibadah), dan sesuatu itu
termasuk dalam rangkaian pekerjaan itu, seperti membasuh muka untuk wudhu
dan takbiratul ihram untuk shalat. Atau adanya calon pengantin laki-laki/
perempuan dalam perkawinan. Sah, yaitu suatu pekerjaan (ibadah) yang
memenuhi rukun dan syarat.

Adapun rukun nikah adalah:

1. Mempelai laki-laki
2. Mempelai perempuan
3. Wali
4. Dua orang saksi
5. Sighat ijab kabul4
IV. Pandangan Syafiq Terhadap Wali Nikah Perempuan
A. Pengertian Wali Nikah

Secara etimologis “wali” mempunyai arti pelindung, penolong, atau


penguasa5. Sedangkan wali nikah adalah orang yang menikahkan seorang wanita
dengan seorang pria. Karena wali nikah dalam hukum perkawinan merupakan
rukun yang harus dipenuhi oleh calon mempelai yang bertindak menikahkannya.

2 Ahmad Warson Munawwir, “Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia”, (Surabaya: Pustaka


Progressif, 1997), hal. 1461.
3 Muhammad bin Qasim al-Ghazi, “Fath al-Qarib al-Mujib”, (Singapura: Haromain, 2005), 43.
4 Ibid, hal 44.
5 Ahmad Warson Munawwir, “Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia”, hal. 1582.

3
B. Pandangan Terhadap Wali Nikah Perempuan

Dari lima rukun yang telah disebutkan di atas yang menjadi pokok
permasalahan kali ini adalah mengenai wali nikah yang mana telah tertulis dalam
kitab Fath al-Qarib al-Mujib bahwa yang bertindak sebagai wali nikah adalah
seorang laki-laki yang memenuhi syarat hukum Islam yakni muslim, baligh,
berakal, merdeka, dan adil.6

Jumhur ulama bersepakat bahwa sebuah perkawinan tidak dianggap sah


menurut agama apabila tidak disertai seorang wali. 7 Sebagaimana sabda Nabi
Saw.

َ:‫َ َلحددثَّلثلناَ َألببو َلعلواَنللة َلقاَلل‬:‫ب َلقاَلل‬ ‫ك َبببن َألبب َاَلدشواَبر ب‬‫حددثَّلثلناَ َبملدمبد َبن َلعببد َاَلبملب ب‬
‫ل‬ ‫بب ب ل‬ ‫ل‬
‫َ َلقاَلل‬:‫ َلقاَلل‬،َ‫ َلعبن َألبب َبمولسى‬،‫ َلعبن َألبب َبثببرلدلة‬،‫ن‬ ‫لحددثَّلثلناَ َألببو َإببسلحاَلق َاَبللبملداَب ن‬
‫َ َ»لل َنبلكاَلح َإبدل َبلوب ل‬:‫ل َلعلبيبه َلولسلدلم‬
ِ‫ل«ٍّي‬ ‫صدلىَ َاَ ب‬
‫ب‬
‫لربسوبل َاَللده َ ل‬
Dari Abi Musa bahwasanya Nabi Saw telah bersaba: “Tidak sah nikah itu
melainkan dengan adanya wali”8

Para ulama fiqih memahami hadis tersebut sebagai bukti (dalil) autentik
bahwa disyaratkan adanya seorang wali bagi calon pengantin perempuan dalam
setiap pernikahan. Lalu, siapakah yang berhak menjadi wali? Dalam fiqih, orang
yang berhak menjadi wali adalah mereka yang berasal dari garis keturunan laki-
laki. Mulai dari ayah, kakek, saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki
seayah, anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung (keponakan), anak laki-
laki dari saudara laki-laki seayah, paman sekandung (adik ayah), paman seayah,
anak laki- laki dari paman sekandung, anak laki-laki dari paman seayah, dan yang
terakhir, hakim, apabila memang tidak dijumpai orang - orang tersebut di atas.9

Dalam menentukan persyaratan laki-laki dalam perwalian nikah, para ahli


fiqh kebanyakan mengambil legitimasinya dari ayat al-Qur’an:

6 Muhammad bin Qasim al-Ghhazi, “Fath al-Qarib al-Mujib”, hal. 44-45.


7 Muhammad Utsman al-Khasyt, “Fiqh Wanita Empat Madzhab”, (Bandung: Khazanah
Intelektual, 2011), hal. 290.
8 Ibnu Majah, “Sunan Ibnu Majah”, (ttp: Daar Ihya’ al-Kitab al-‘Arabiyah, tth), hal. 605.
9 Muhammad bin Qasim al-Ghazi, “Fath al-Qarib al-Mujib”, hal. 44-45.

4
َ‫ض َلوبلباَ َألنبثلفبقوا‬
‫ضبهبم َلعللىَ َبلثبع ض‬‫ضلل َاَللدبه َبلثبع ل‬‫اَلنرلجاَبل َقلثدواَبمولن َلعللىَ َاَلنلساَبء َببلاَ َفل د‬
‫ظ َاَللدبه َلواَلدلبت‬‫ب َببلاَ َلحبف ل‬ ‫ت َلببلغلبي ب‬ ‫ب‬ ‫صاَبلاَ ب‬ ‫بب‬ ‫ب‬
‫ت َلحاَفلظاَ ت‬ ‫ت َلقاَنلتاَ ت‬‫مبن َألبملواَلبم َلفاَل د ل ب‬
‫ضبرببوبهدن َفلبإبن َألطلبعنلبكبم‬ ‫لتاَبفولن َنبشوزهدن َفلعببظوهدن َواَهجروهدن َبف َاَلبم ب‬
‫ضاَجبع َلواَ ب‬‫ل ل‬ ‫ب ل ب بب ب‬ ‫ب لب‬ ‫ل‬
َ‫فللل َتلبثبثغبواَ َلعلبيبهدن َلسببييل َإبدن َاَللدله َلكاَلن َلعلبيياَ َلكبييا‬
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah
telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain
(wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari
harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada
Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah
telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan
nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat
tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu,
maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.
Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.10

Menurut syafiq, apabila diteliti secara seksama, sebenarnya ayat ini


menjelaskan bahwa kepemimipinan laki-laki atas perempuan dalam ayat ini
disebabkan oleh faktor sosiologis dan ekonomis, yang pada masa dahulunya
memang laki-lakilah yang memegang peran penting karena perempuan masa-
masa ayat ini diturunkan sangat terbatas ruang geraknya. Menurutnya, ayat ini
tidak mengungkapkan peristiwa historis yang harus menjadi norma agama, tetapi
mengungkapkan peristiwa historis, sosiologis dan ekonomis. Sehingga apabila
dikaitkan dengan masa sekarang, maka perlu ditinjau kembali mengingat situasi
dan kondisi perempuan tidak lagi sesempit dahulunya.11

Begitu juga dengan penelusurannya pada ayat-ayat al-Qur’an yang lain:

‫خيثتر َبمبن َبمبشبرلكضة َلولبو‬ ‫ب‬ ‫ب‬ ‫ب‬ ‫ب‬


‫لولل َتلثبنكبحواَ َاَلببمبشبرلكاَت َلحدت َيثببؤمدن َلوللللمتة َبمبؤمنلتة َ ل ب‬
‫خيثتر َبمبن َبمبشبرضك‬ ‫ب‬ ‫ب‬
‫ي َلحدت َيثببؤمنبواَ َلوللعببتد َبمبؤمتن َ ل ب‬
‫ب‬ ‫ب‬
‫ألبعلجبلبتبكبم َلولل َتبثبنكبحواَ َاَلببمبشبرك ل‬
10 QS. an-Nisa’: 34.
11 Wardatun Nabilah, “Metode enetapan Hukum Masdar Farid Mas’udi dan Syafiq Hasyim
Tentang Wali Niikah Perempuan”, Bab 4, hal. 14.

5
‫ك َيلبدبعولن َإبلل َاَلدناَبر َلواَللدبه َيلبدبعو َإبلل َاَبللندبة َلواَلبلمبغبفلربة َببإبذنببه‬ ‫لولبو َألبعلجبلبكبم َبأولئب ل‬
‫ي َآلياَتببه َبللدناَبس َللعلدبهبم َيلثتللذدكبرولن‬
‫لويبثبلث ن ب‬
Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka
beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita
musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan
orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka
beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang
musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka,
sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia
supaya mereka mengambil pelajaran.12

‫صاَبلب ل ب ب ب ب ب ب‬ ‫لوألنببكبحواَ َاَبلللياَلمىَ َبمبنبكبم َلواَل د‬


‫ي َمبن َعلباَدبكبم َلوإلماَئبكبم َإبن َيلبكونبواَ َفبثلقلراَءل‬
‫ضلببه َلواَللدبه َلواَبستع َلعبليتم‬
‫يثببغنببهبم َاَللدبه َبمبن َفل ب‬
Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan
orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang
lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka
miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan
Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.13

Kedua ayat ini secara eksplisit tidak pernah menyinggung ketidak bolehan
perempuan menjadi wali pernikahan. Dalam kedua ayat tersebut ada perintah
mengawinkan, tetapi yang diperintah tidak hanya laki-laki. Ayat tersebut
menggunakan bentuk perintah yang mengarah kepada laki-laki, namun ini sangat
terkait dengan budaya masyarakat tempat turunnya ayat tersebut yang memang
masih menganut pola kepemimpinan laki-laki. Dalam situasi ketika kaum
perempuan juga bisa menjadi pemimpin, seharusnya ayat tersebut bisa ditafsirkan
lain. Lalu darimana konsep perwalian yang mengharuskan diambil dari garis
keturunan keluarga laki-laki?

12 QS. al-Baqoroh: 221.


13 QS. an-Nur: 32.

6
Montgomery Watt, dalam salah satu bukunya menyatakan bahwa
sesungguhnya banyak tradisi Arab-Makkah yang diadopsi ke dalam sistem
legalisme Islam. Berdasarkan pernyataan Montgomery tersebut, bisa saja konsep
perwalian dari garis laki-laki tersebut merupakan pelanggengan fiqih Islam
terhadap konsep perwalian yang diadopsi dari budaya masyarakat Arab – Makkah
yang patriakhis sebab dalam al-Quran dan hadis, konsep perwalian seperti itu
tidak pernah diungkapkan secara eksplisit.14

C. Analisa Pemikiran Syafiq Hasyim terhadap Wali Nikah Perempuan

Dari surat al-Nur ayat 32 dan surat al-Baqarah ayat 221, secara ekspisit
memang tidak menjelaskan kebolehan perempuan menjadi wali. Meskipun ayat
tersebut dapat ditafsiri menurut si penafsir sendiri, bukan berarti ia dapat merubah
syariat dengan kehendaknya tanpa memikirkan akibatnya. Dari sini, penulis
mulai tidak setuju jika perempuan setelah masa reformasi boleh menjadi wali
nikah. Sebab jika hal ini terjadi, yang mana telah diketahui bahwa hadis Nabi
merupakan sumber pokok ajaran umat Islam setelah al-Qur`an, serta menjadi
bayan dari al-Qur`an sendiri bahkan menjadi salah satu sumber syariat, maka
akan dibawa kemana jika syariat umat Islam dapat berubah-ubah ? Dengan
demikian akan muncul banyak perbedaan dikalangan umat Islam. Selanjutnya
lambat laun hadis Nabi tidak lagi sebagai sumber pokok ajaran.

Sedangkan menurut Syaikh Syihab mengenai kandungan surat an-Nisa’


ayat 34, beliau mengatakan bahwa ayat ini mengemukakan hak perwalian dalam
pernikahan memang milik kaum laki-laki15, bukan berarti setelah wanita memiliki
ruang gerak dan tidak lagi sempit seperti dahulu mereka boleh menjadikan wali
nikah, sebagaimana yang telah disepakati banyak ulama. Begitu pula Syaikh
Syihab mengemukakan argumennya yaitu hadis yang terdapat di kitab Sunan Ibnu
Mājah:

14 Wardatun Nabilah, “Metode penetapan Hukum Masdar Farid Mas’udi dan Syafiq Hasyim
Tentang Wali Niikah Perempuan”, Bab 4, hal. 16.
15 Wardatun Nabilah, “Metode enetapan Hukum Masdar Farid Mas’udi dan Syafiq Hasyim
Tentang Wali Niikah Perempuan”, bab 3, hal.16.

7
‫َ َ»لل َتبثلزنوبج َاَلبلمبرألةب‬:‫ل َلعلبيبه َلولسلدلم‬
‫صدلىَ َاَ ب‬
‫ب‬
‫َلقاَلل َلربسوبل َاَللده َ ل‬:َ ‫ َلقاَلل‬،‫لعبن َألبب َبهلريبثلرلة‬
16
ِ‫ َفلبإدن َاَلدزاَنبيللة َبهلي َاَلدبت َتبثلزنوبج َنلثبفلسلهاَ«ٍّي‬،َ‫ َلولل َتبثلزنوبج َاَلبلمبرألبة َنلثبفلسلها‬،‫اَلبلمبرأللة‬
Dari Abu Hurairah telah bersabda Rasulallah Ṣalla Allah ‘AlaihywaSallam
“ tidak boleh seseorang perempuan mengawinkan perempuan lainnya, dan
tidak boleh mengawinkan dirinya sendiri. Sesungguhnaya wanita penina
adalah yang menikahkan dirinya sendiri”.

Menurut Syihab setiap keinginan untuk mengubah ketentuan tersebut


seharusnya ditolak karena ketentuan itu jelas didukung oleh hadis riwayat Ibnu
Mājah. Kemudian sebagian ahli fiqih lainnya juga menggunakan legitimasi surat
al-Baqarah ayat 221 dan Nur ayat 32 untuk menopang ketidak bolehan perempuan
menjadi wali pernikahan.

V. Kesimpulan

Dari pembahasan yang telah di uraikan di atas dapat disimpulkan bahwa


menurut ulama fiqh, orang yang berhak menjadi wali adalah mereka yang berasal
dari garis keturunan laki-laki. Mulai dari ayah, kakek, saudara laki-laki
sekandung, saudara laki-laki seayah, anak laki-laki dari saudara laki-laki
sekandung (keponakan), anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah, paman
sekandung (adik ayah), paman seayah, anak laki- laki dari paman sekandung, anak
laki-laki dari paman seayah, dan yang terakhir, hakim, apabila memang tidak
dijumpai orang - orang tersebut di atas.

Akan tetapi bagi Syafiq, wali nikah tidak mesti harus laki-laki. Hal ini bisa
dilihat dari penelusurannya pada surah al-Baqarah ayat 221 dan an-Nur ayat 31.
Syafiq menjelaskan bahwa ayat tersebut memang menjelaskan tentang perintah
mengawinkan, namun tidak eksplisit menujuk laki-laki yang diperintah ayat itu
memang menggunakan bentuk perintah yang mengarah kepada laki-laki, namun
ini sangat terkait dengan budaya masyarakat tempat turunnya ayat tersebut yang
memang masih menganut pola kepemimpinan laki-laki. Sehingga syafik

16 Ibnu Mājah Abu Abdillah Muhammad bin Yazid al-Qazwaini, Sunan Ibnu Mājah, (ttp: Dar Ihya’
al-Kitab Al-Arabiyah, tth), 606.

8
memutuskan segala penafsiran masa lalu yang menetapkan bahwa wali nikah itu
laki-laki dan mempertimbangkan kembali untuk wali nikah masa sekarang.

Dari hasil pemikiran Syafiq, penulis tidak setuju jika perempuan setelah
masa reformasi boleh menjadi wali nikah. Sebab jika hal ini terjadi, yang mana
telah diketahui bahwa Hadis Nabi merupakan sumber pokok ajaran umat Islam
setelah al-Qur`an serta menjadi bayan dari al-Qur`an sendiri bahkan menjadi salah
satu sumber syariat, maka akan dibawa kemana jika syariat umat Islam dapat
berubah-ubah ?

Sedangkan menurut Syaikh Syihab mengenai kandungan surat an-Nisa’


ayat 34, beliau mengatakan bahwa ayat ini mengemukakan hak perwalian dalam
pernikahan memang milik kaum laki-laki, bukan berarti setelah wanita memiliki
ruang gerak dan tidak lagi sempit seperti dahulu mereka boleh menjadi wali nikah,
sebagaimana yang telah disepakati banyak ulama.

Daftar Pustaka

Al-Qur`an

9
Ghazi (al), Muhammad bin Qasim. “Fath al-Qarib al-Mujib”. Singapura:
Haromain, 2005.
Khasyt (al), Muhammad Utsman. “Fiqh Wanita Empat Madzhab”.
Bandung: Khazanah Intelektual, 2011.
Majah, Ibnu. “Sunan Ibnu Majah”. ttp: Daar Ihya’ al-Kitab al-‘Arabiyah,
tth.
Munawwir, Ahmad Warson. “Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia”,.
Surabaya: Pustaka Progressif, 1997.
Nabila, Wardatun. “Metode enetapan Hukum Masdar Farid Mas’udi dan
Syafiq Hasyim Tentang Wali Niikah Perempuan”. Surabaya: Skripsi
IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2014.

10