Anda di halaman 1dari 13

Jurnal Media Analis Kesehatan, Vol. 10, No.

1, Juni 2019
http://journal.poltekkes-mks.ac.id/ojs2/index.php/mediaanalis
e-ISSN : 2621-9557
p-ISSN : 2087-1333

STUDI HASIL PEMERIKSAAN UREUM DAN ASAM URAT PADA


PENDERITA TUBERKULOSIS PARU YANG MENGONSUMSI
OBAT ANTI TUBERKULOSIS(OAT) FASE INTENSIF

Syahida Djasang1, Meli Saturiski2


1,2
Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Makassar

Koresponden :syahida.djasang@gmail.com

ABSTRAK

Kasus Tb Paru di Indonesia menduduki peringkat ke dua, lebih dari 95% kematian
akibat infeksi yang disebabkanMycobacterium Tuberculosis. Salah satu upaya
Kemenkes RI ialah Program pengobatan Nasional untuk pemberantasan Tb Paru
dengan pengobatan Obat Anti Tuberkulosis. OAT merupakan pengobatan jangka
panjang, penggunaannya dapat mempengaruhi fungsi ginjal, yang dapat
mengakibatkan adanya penurunan fungsi ekskresi ginjal. Hal ini dapat
menyebabkan meningkatnya kadar ureum dan asam urat. Akibat efek samping dari
pengobatan OAT KDT pada fase intensif yang menjadi salah satu pemicu ialah
kombinasi ZE, dimana menfasilitasi pertukaran ion di tubulus ginjal yang
menyebabkan reabsorpsi berlebihan asam urat. Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui gambaran hasil pemeriksaan ureum dan asam urat pada penderita
tuberkulosis paru yang mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis fase intensif.
Penelitian ini bersifat deskriptif. Dari 30 sampel penderita tuberkulosis paru yang
diambil secara purposive sampling dari tanggal 15 februari s/d 9 mei 2018 di
Puskesmas Jumpandang Baru dan Puskesmas Barabaraya diperoleh hasil
pemeriksaan ureum yang meningkat 5 (16.67%) sampel dan 25 (83,33%) sampel
menunjukan kadar ureum normal dan hasil pemeriksaan asam urat yang mengalami
peningkatan sebanyak 18 (60,0%) sampel dan 12 (40,0%) sampel menunjukkan
kadar ureum normal. Disarankan pada penderita Tb paru untuk melakukan
pemeriksaan laboratorium untuk parameter pemeriksaan yang lain.

Kata Kunci : Tb Paru, OAT, Ureum, Asam Urat

Latar Belakang bersin, pasien menyebarkan kuman ke


Penyakit TuberkulosisParu (Tb udara dalam bentuk percikan dahak
Paru) merupakan suatu penyakit (droplet nuclei). Sekali batuk dapat
infeksi yang disebabkan bakteri menghasilkan sekitar 3000 percikan
berbentuk batang (basil) yang dikenal dahak dan akan mudah terinfeksi oleh
dengan nama Mycobacterium orang lain yang memiliki imunitas
tuberculosis. Penularan penyakit ini tubuh menurun. (Sholeh S. Naga,
melalui perantaraan ludah, dahak atau 2013).
droplet penderita yang mengandung Tb Paru adalah salah satu dari 10
bakteri yang dapat masuk ke dalam penyebab kematian terbanyak di
tubuh manusia melalui saluran dunia. Lebih dari 95% kematian
pernafasan. Pada saat batuk atau akibat tuberkulosis terjadi di negara

59
Jurnal Media Analis Kesehatan, Vol. 10, No.1, Juni 2019
http://journal.poltekkes-mks.ac.id/ojs2/index.php/mediaanalis
e-ISSN : 2621-9557
p-ISSN : 2087-1333

berpenghasilan rendah dan bulan. Obat dapat menjadi zat toksik


menengah. Tujuh negara dalam tubuh, akibat lamanya
menyumbang terbesar adalah India, mengonsumsi obat akan berpengaruh
diikuti oleh Indonesia, China, terhadap organ tubuh lainnya
Filipina, Pakistan, Nigeria, dan Afrika misalnya organ ginjal, bahkan bisa
Selatan. berdampak pada penyakit gagal
Kasus Tb Paru di Indonesia ginjal, dimana organ tersebut
menduduki nomor dua terbanyak berfungsi sebagai alat pembuangan
setelah India, sehingga harus ada atau ekskresi. Obat-obatan
upaya sungguh-sungguh dari seluruh dieliminasi dari dalam tubuh baik
pihak terkait untuk menurunkannya. dalam bentuk yang tidak diubah oleh
Setelah dinyatakan positif pasien proses ekskresi maupun diubah
Tb Paru, pasien harus melakukan menjadi metabolit. Ginjal merupakan
pengobatan Obat Anti Tuberkulosis organ yang paling penting untuk
(OAT). Bagi banyak pasien, masa mengeluarkan obat-obatan dan hasil
pengobatan menjadi berat karena efek metabolitnya.
obat yang menyiksa dan lamanya Pirazinamid dan Ethambutol
waktu pengobatan. Meski demikian merupakan kombinasi ZE yang
pasien tidak boleh meninggalkan bersifat tuberkulostatik. Dimana obat
pengobatan karena kuman TbParu pirazinamid memiliki metabolit
bisa menjadi kebal. (Carolus, 2017) (asam pirazinoat), dan Ethambutol
Program Nasional memiliki 10% sisa metabolisme
pemberantasan Tb Paru di Indonesia diantaranya asam karboksilat dan
sudah dilaksanakan sejak tahun 1950- dapat menyebabkan hiperurisemia.
an sampai saat ini. Sebagian besar Jumlah asam dalam tubuh dapat
pasien Tb Paru dapat menyelesaikan meningkat jika mengkonsumsi suatu
pengobatan tanpa mengalami efek asam atau suatu bahan yang diubah
samping OAT yang berarti. Namun, menjadi asam, dan dapat mengurangi
beberapa pasien dapat saja ekskresi asam urat melalui ginjal.
mengalami efek samping yang Kejadian gangguan fungsi ginjal
merugikan atau berat. Guna lebih tinggi pada kombinasi
mengetahui terjadinya efek samping dibanding dengan pemberian
OAT, sangat penting untuk Pirazinamid atau Ethambutol saja,
memantau kondisi klinis pasien Pirazinamid dan Ethambutol ini yang
selama masa pengobatan sehingga menfasilitasi pertukaran ion di
efek samping berat dapat segera tubulus ginjal yang menyebabkan
diketahui dan ditatalaksana secara reabsorpsi berlebihan asam urat
tepat. karena Jumlah asam dalam tubuh
Pengobatan OAT terdiri dari fase dapat meningkat jika mengonsumsi
intensif yaitu pengobatan OAT 4 suatu asam atau suatu bahan yang
kombinasi Dosis Tetap (KDT) selama diubah menjadi asam. sehingga
2 bulan dikomsumsi setiap hari menimbulkan hiperurisemia dan jika
dengan pengawasan, yang terdiri dari kedua obat digunakan bersamaan efek
Paket OAT yaitu Rifampisin (R), yang ditimbulkan lebih besar.
Isoniazid (H), Pirazinamid (Z). (Kondo. I, 2014).
Sedangkan sampai fase lanjutan Kesimbangan asam basa didalam
cukup lama pengobatan di atas 6 tubuh diatur oleh ginjal bekerja ekstra

60
Jurnal Media Analis Kesehatan, Vol. 10, No.1, Juni 2019
http://journal.poltekkes-mks.ac.id/ojs2/index.php/mediaanalis
e-ISSN : 2621-9557
p-ISSN : 2087-1333

mengeluarkan sisa efek toksik dari a. Penderita Tuberkulosis paru.


obat yang dikomsumsi dalam jangka b. Mengonsumsi OAT pada fase
waktu yang cukup lama. Hal ini intensif (selama 2 bulan) .
mengakibatkan ginjal harus bekerja c. Bersedia sebagai sampel
ekstra terus-menerus yang penelitian
memungkinkan terjadinya kelainan Instrument Penelitian
fungsi ginjal atau penurunan ekskresi Instrument yang digunakan
pada ginjal, sehingga sisa adalah spoit 3 cc, tabung (non
metabolisme yang seharusnya antikoagulan), tourniquet, mikropipet
dikeluarkan bersamaan melalui air 100 ul, tips biru dan kuning,
seni akan menumpuk pada ginjal dan alumunium foil, kapas, plaster, tissue,
menyebabkan kelainan fungsi ginjal. kuvet/tabung sampel, Photometer
Gangguan fungsi ginjal akan 5010 V5+, Box sampel, sentrifusserta
menyebabkan penurunan laju filtrasi alat pelindung diri yang terdiri dari jas
glomerulus (fungsi penyaringan laboratorium, masker dan handscoon.
ginjal) sehingga ureum, dan asam urat Sedangkan bahan penelitian yang
yang seharusnya disaring oleh ginjal digunakan dalam penelitian ini adalah
untuk kemudian dibuang melalui air serum, alkohol 70%, aquadest, reagen
seni menurun, akibatnya ureum dan Asam Urat.
memungkinan zat-zat tersebut akan Prosedur Kerja
meningkat di dalam darah. 1. Pengambilan darah vena
Oleh karena itu, peneliti Karet pembendung dipasang pada
berkeinginan melakukan suatu lengan kira-kira 10 cm di atas
penelitian tentang analisis hasil lipatan siku, dipilih bagian vena
pemeriksaan ureum dan asam urat median cubital atau cephalic,
terhadap penderita tuberkulosis paru kemudian dilakukan palpasi untuk
yang mengkonsumsi OAT pada fase memastikan posisi vena; pasien
intensif. diminta mengepalkan tangannya
agar vena terlihat jelas,
didesinfeksi dangan kapas alkohol
METODE 70%, dibiarkan sampai kering.
Jenis penelitian ini adalah Kemudian, Ditusuk bagian vena,
observasi laboratorium yang bersifat akan terlihat darah masuk ke
deskriptif. Penelitian ini dilaksanakan dalam semprit. lalu karet
di Laboratorium Kimia Klinik pembendung dilepas, setelah
Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes volume darah dianggap cukup,
Kemenkes Makassar dan tempat diminta pasien membuka kepalan
pengambilan sampel penelitian di tangannya, diletakkan kapas
PKM Jumpandang Baru dan PKM ditempat tusukan lalu segera
Bara-Baraya Kota Makassar. dilepaskan/ditarik jarum.
Penelitian dilaksanakan pada tanggal Kemudian, ditekan kapas
15 Februari s/d 9 Mei 2018. beberapa saat lalu diplester
Sampel dalam penelitian ini selama kira-kira 15 menit. Darah
adalah penderita Tuberkulosis Paru dispoit tadi disimpan kedalam
yang mengonsumsi OAT pada fase tabung yang telah disediakan
intensif yang diambil secara sesuai dengan identitas dan jenis
Purposive samplin, dengan kriteria : pemeriksaan. Jarum bekas pakai

61
Jurnal Media Analis Kesehatan, Vol. 10, No.1, Juni 2019
http://journal.poltekkes-mks.ac.id/ojs2/index.php/mediaanalis
e-ISSN : 2621-9557
p-ISSN : 2087-1333

dibuang pada tempat pembuangan Persiapan Reagen : reagen dan


khusus. standar siap digunakan
2. Prinsip Alat Photometer 5010 Persiapan Sampel : Serum/
V5+ plasma
Pengukuran penyerapan sinar Panjang Gelombang : 520 nm,
akibat interaksi sinar yang 570 - 600 nm, 546 nm
mempunyai panjang gelombang Suhu : 20 – 25°C atau 37°C
tertentu dengan larutan atau zat Pengukuran : Terhadap
warna yang dilewatinya. blanko reagen (Rb) hanya
Kebanyakan photometers dibutuhkan satu
mendeteksi cahaya dengan Blankoperseri.
photoresistors, dioda atau Disiapkan tabung 3 buah
photomultipliers. Untuk tabung untuk blanko, standar
menganalisis cahaya, fotometer dan sampel pada tabung kedua
bisa mengukur cahaya setelah dimasukkan 10 µl standar dan
melalui filter atau melalui tabung ketiga 10 µl sampel.
monokromator penentuan Kemudian tambahkan reagen
ditentukan panjang gelombang pada ketiga tabung masing-
atau untuk analisis terhadap masing 1000 µl, campur dan
distribusi spektrum cahaya. Alat diinkubasi selama 10 menit
fotometer pada prinsipnya 20-25ºC atau 5 menit
memiliki kesamaan seperti pada37ºC. Ukur absorben
spektrofotometer, yang sampel/standar terhadap
membedakan hanyalah reagen blanko setelah 15
penggunaan filter sebagai menit.
monokromatornya. Filter hanya Perhitungan
digunakan untuk meneruskan C : BUN =Abs Sampel × 37,28 mg/dl
cahaya namun dapat juga Abs Standar
menyerap sumber radiasi dari Nilai Normal
gelombang lain. Penggunaan Serum = 10 – 50 mg/dl
fotometer lebih sering digunakan b. Tahapan proses pengukuran asam
untuk kebutuhan laboratorium urat metode Uricase – PAP
klinis (analisa darah). Persiapan Reagen : Reagen dan
3. Prosedur kerja Photometer standar siap pakai
a. Tahapan proses pengukuran Persiapan Sampel : Serum/ plasma
Ureum metode Berthelot Panjang Gelombang: 520nm Hg
Urea dihidrolisis oleh adanya 546 nm
air dan urease menghasilkan Suhu : 20 – 25 °C atau 37°C
amoniak dan karbondioksida Pengukuran :Terhadap blanko
Reaksi modifkasi berthelot reagen (Rb) hanya dibutuhkan
ion amonium bereaksi satu Blanko perseri
hipoklorit dan salisilat untuk Cara Kerja
membentuk warna hijau. Disiapka 3 buah tabung untuk
Peningkatan absorbansi pada blanko, standar dan sampel pada
546 nm atau 578 nm tabung kedua dimasukkan 20 µl
sebanding dengan konsentrasi standar dan tabung ketiga 20 µl
urea dalam sampel. sampel. Kemudian tambahkan

62
Jurnal Media Analis Kesehatan, Vol. 10, No.1, Juni 2019
http://journal.poltekkes-mks.ac.id/ojs2/index.php/mediaanalis
e-ISSN : 2621-9557
p-ISSN : 2087-1333

reagen pada ketiga tabung P (%) =t/n× 100 %


masing-masing 1000 µl.
Dihomogenkan, Inkubasi 10 Keterangan
menit pada suhu 20-25°C P : Persentase
atauselama 5menit pada suhu T : Jumlah sampel yang diperiksa
37°C.Ukurabsorben dengan kadar mengalami Peningkatan
sampel/standar terhadapreagen diatas nilai normal.
blanko dalam 15 menit. n: Jumlah frekuensi/sampel yang
Perhitungan diperiksa.
Serum/Plasma :
C = 8× Abs Sampel (mg/dl) HASIL
Abs standar Berdasarkan hasil penelitian yang
Nilai Normal telah dilaksanakan pada tanggal 15
Laki – laki : 3.4 -7.0 mg/dl Februari s/d 9 Mei 2018 di
Perempuan : 2.4 -5.7 mg/dl Laboratorium Kimia Klinik Jurusan
Analisa Data Analis Kesehatan Poltekkes
Analisa data disajikan dalam Kemenkes Makassar, dari 30 sampel
bentuk tabel dan dianalisa secara penderita Tb Paru yang mengonsumsi
deskriptif dengan melihat hasil Obat Anti Tuberkulosis (OAT) fase
analisa pemeriksaan kadar ureum dan intensif diperoleh hasil seperti pada
asam urat penderita TBC Paru pada tabel berikut :
fase intensif, berdasarkan persentase
dengan rumus :

Tabel 1. Hasil pemeriksaan ureum pada penderita Tb Paru yang


mengonsumsi OAT fase intensif.
No Kode Jenis Umur Ureum Keterangan
Pasien Kelamin (Tahun) (mg/dl)
1 X-1 L 48 52 Normal
2 X-2 L 24 78 Meningkat
3 X-3 L 47 52 Normal
4 X-4 P 61 82 Meningkat
5 X-5 L 23 36 Normal
6 X-6 L 41 24 Normal
7 X-7 P 74 79 Meningkat
8 X-8 L 20 23 Normal
9 X-9 L 25 29 Normal
10 X-10 P 36 49 Normal
11 X-11 L 31 30 Normal
12 X-12 P 47 29 Normal
13 X-13 P 30 21 Normal
14 X-14 L 32 25 Normal
15 X-15 L 47 60 Meningkat
16 X-16 L 43 33 Normal
17 X-17 L 52 37 Normal
18 X-18 L 23 21 Normal
19 X-19 P 59 33 Normal

63
Jurnal Media Analis Kesehatan, Vol. 10, No.1, Juni 2019
http://journal.poltekkes-mks.ac.id/ojs2/index.php/mediaanalis
e-ISSN : 2621-9557
p-ISSN : 2087-1333

20 X-20 P 53 14 Normal
21 X-21 L 62 76 Meningkat
22 X-22 P 50 33 Normal
23 X-23 P 70 35 Normal
24 X-24 L 30 22 Normal
25 X-25 L 24 21 Normal
26 X-26 L 31 42 Normal
27 X-27 P 27 50 Normal
28 X-28 L 48 41 Normal
29 X-29 P 52 54 Normal
30 X-30 L 47 14 Normal
Sumber: Data Primer 2018

Pada tabel 1 menunjukkan hasil 83,33% dan 5 sampel menunjukkan


pemerinksaan ureum dari 30 sampel hasil pemeriksaan ureum yang
penderita Tb Paru yang meningkat dengan persentase 16,67
mengkonsumsi OAT fase intensif %.
terdapat 25 sampel masih dalam batas
normal dengan persentase sebanyak

Tabel 2 :Hasil pemeriksaan Asam urat penderita Tb Paru yang


mengonsumsi OATfase intensif
No Kode Pasien Jenis Umur Asam Urat Keterangan
Kelamin (Tahun) (mg/dl)
1 X-1 L 48 7 Normal
2 X-2 L 24 10 Meningkat
3 X-3 L 47 13 Meningkat
4 X-4 P 61 8 Meningkat
5 X-5 L 23 14 Meningkat
6 X-6 L 41 10 Meningkat
7 X-7 P 74 12 Meningkat
8 X-8 L 20 6 Normal
9 X-9 L 25 7 Normal
10 X-10 P 36 5 Normal
11 X-11 L 31 10 Meningkat
12 X-12 P 47 11 Meningkat
13 X-13 P 30 6 Normal
14 X-14 L 32 7 Normal
15 X-15 L 47 9 Meningkat
16 X-16 L 43 3 Normal
17 X-17 L 52 10 Meningkat
18 X-18 L 23 6 Normal
19 X-19 P 59 6 Normal
20 X-20 P 53 7 Meningkat
21 X-21 L 62 6 Normal
22 X-22 P 50 18 Meningkat
23 X-23 P 70 7 Meningkat

64
Jurnal Media Analis Kesehatan, Vol. 10, No.1, Juni 2019
http://journal.poltekkes-mks.ac.id/ojs2/index.php/mediaanalis
e-ISSN : 2621-9557
p-ISSN : 2087-1333

24 X-24 L 30 8 Meningkat
25 X-25 L 24 10 Meningkat
26 X-26 L 31 8 Meningkat
27 X-27 P 27 7 Meningkat
28 X-28 L 48 7 Normal
29 X-29 P 52 5 Normal
30 X-30 L 47 9 Meningkat
Sumber: Data Primer 2018

Pada tabel 2 menunjukkan hasil waktu 2 minggu. Sebagian besar


pemeriksaan asam urat dari 30 sampel pasien Tb Paru BTA positif menjadi
penderita Tb Paru yang mengonsumsi BTA negatif (konversi) dalam 2
OAT fase intensif terdapat 12 sampel bulan. Lamanya pengobatan OAT
masih dalam batas normal dengan memberikan efek samping begitu
presentase sebanyak 40,0% dan 18 menyiksa bagi penderita, diantaranya
sampel menunjukkan hasil efek minor yaitu gatal-gatal,
pemeriksaan ureum yang meningkat kemerahan di kulit, urin kemerahan,
sampel dengan presentase 60,0 %. rasa panas di kaki, nyeri sendi sampai
efek mayor yaitu gagal ginjal.
PEMBAHASAN Beberapa jenis OAT yang bisa
Pada hasil penelitian yang menjadi indikasi pemicu gangguan
telah dilakukan diperoleh hasil fungsi ginjal ialah obat Rifampisin
pemeriksaan ureum pada penderita (R) merupakan antibiotika oral yang
Tb Paru 5 (16,67%) sampel mempunyai aktivitas bakterisida
mengalami peningkatan kadar ureum terhadap Mycobacterium
dengan kadar rata-rata 39,83 mg/dl, tuberculosis. Mekanisme kerja
dan 25 (83.33%) sampel rifampisin dengan jalan menghambat
menunjukkan kadar ureum normal kerja enzim DNA-dependent RNA
dengan kadar ureum < 50 mg/dl. polymerase yang mengakibatkan
kondisi Peningkatan kadar ureum sintesa RNA mikroorganisme
dalam darah dapat disebabkan oleh dihambat. Dan sebagai komponen
adanya gangguan ekskresi urea yang kunci dalam setiap regimen
tertahan didalam darah. pengobatan. Rifampisin selalu
Urea meningkat dapat diikutkan kecuali bila ada
diakibatkan dari Pengobatan Obat kontraindikasi, rifampisin yang
Anti Tuberkulosis. Konsumsi OAT merupakan salah satu antibiotik
Kombinasi Dosis Tetap yang terdiri penyebab nefritis interstisial yaitu
dari isoniazid (H), Rifampisin (R), peradangan pada sel-sel ginjal.
Pirazinamid (Z), dan Etambutol (E) Nefritis adalah peradangan pada
diberikan setiap hari secara rutin ginjal yang terjadi karena infeksi
selama 2 bulan (2HRZE) pada fase bakteri penyakit pada nefron. Bakteri
intensif. Oleh karena itu, perlu adanya ini masuk melalui saluran pernafasan
bentuk pengawasan langsung oleh kemudian dibawah oleh darah ke
pengawas minum obat (PMO) untuk ginjal. Karena infeksi ini nefron
menjamin kepatuhan pasien menelan mengalami peradangan sehingga
obat, biasanya pasien menular protein dan sel–sel darah yang masuk
menjadi tidak menular dalam kurun bersama urine primer tidak dapat

65
Jurnal Media Analis Kesehatan, Vol. 10, No.1, Juni 2019
http://journal.poltekkes-mks.ac.id/ojs2/index.php/mediaanalis
e-ISSN : 2621-9557
p-ISSN : 2087-1333

disaring dan keluar bersama urine. menyebabkan kontraindikasi ialah


Selain itu, nefritis dapat adanya riwayat gagal ginjal, dan
menyebabkan uremia. koinfeksi HIV-TB.
Berkurangnya kemampuan Terdapat beberapa faktor yang
fungsi ekskresi pada ginjal ini yang memicu peningkatan ureum
menyebabkan senyawa-senyawa obat diantaranya ialah terlalu banyak
yang tidak termetabolisme akan mengonsumsi makanan yang
dikeluarkan melalui ginjal dimana mengandung tinggi protein dan usia.
proses ekskresi obat dalam tubuh Faktor pertama ialah mengonsumsi
melibatkan tiga proses yaitu Filtrasi makanan tinggi protein, asupan
glomerulus, Sekresi aktif di tubulus makanan yang tinggi protein akan
proksimal, Reabsorbsi pasif di menyebabkan tingginya kadar ureum
sepanjang tubulus. Ketika di filtrasi dan kreatinin. Kondisi susah buang
glomelurus terjadi disfungsi pada air kecil pada penderita, sehingga
ginjal dalam menghasilkan ultrafiltrat ureum yang seharusnya dikeluarkan
yaitu plasma minus protein, semua melalui urin menjadi menumpuk
obat bebas akan keluar dalam dalam darah. Tingginya kadar ureum
ultrafiltrasi sedangkan yang terikat dalam darah yang tidak bisa
protein tetap tinggal dalam darah. dikeluarkan karena fungsi ginjal yang
Berdasarkan hasil penelitian menurun dapat menjadi toksik
yang telah dilakukan pada penderita didalam tubuh. karena, ureum sendiri
Tb Paru, hasil pemeriksaan ureum merupakan suatu zat sisa
yang meningkat menegaskan bahwa metabolisme protein melalui
ureum sebagai uji skrinning pertukaran protein yaitu penguraian
pemeriksaan fungsi ekskresi ginjal dan resisten semua protein sel yang
menggambarkan belum terdapat berlangsung terus menerus. Untuk
pengaruh OAT terhadap fungsi memantau fungsi ekskresi ginjal
ekskresi ginjal, karena pemberian ureum digunakan sebagai salah satu
OAT tetap mempertimbangkan pemeriksaan laboratorium untuk uji
kesesuaian indikasi yaitu penggunaan skrining fungsi ginjal merupakan
obat sesuai dengan kebutuhan klinis salah satu produk dari pemecahan
yang dilihat dari diagnosis, protein dalam tubuh.
kesesuaian jenis OAT berdasarkan Penelitian lain yang
berat badan pasien pada aspek mendukung ialah oleh Nura
kesesuaian dosis penggunaan OAT, Ma’shumah (2013) tentang hubungan
kepatuhan selama pengobatan OAT, asupan protein dengan kadar ureum,
dan riwayat peyakit selain Tb Paru kreatinin, dan kadar hemoglobin
untuk mencegah terjadinya darah pada penderita gagal ginjal
kontraindikasi karena dikhwatirkan kronik menyatakan bahwa asupan
disatu sisi obat bertujuan mematikan protein / nutrisi memiliki hubungan
bakteri namun, disisi lain terhadap pengaruh kadar ureum.
memberikan dampak kepada organ Faktor kedua ialah usia,
selain ginjal yaitu hepar. Seperti, semakin tua usia erat kaitanya
Hepatitis akibat imbas obat atau drug terhadap penurunan fungsi organ, hal
induced hepatitis (DIC) akibat ini karena perubahan anatomi tubuh,
penggunaan obat-obat hepatotoksik dan fungsional dalam ginjal. Dengan
dan beberapa faktor lain yang meningkatnya usia, jumlah nefron

66
Jurnal Media Analis Kesehatan, Vol. 10, No.1, Juni 2019
http://journal.poltekkes-mks.ac.id/ojs2/index.php/mediaanalis
e-ISSN : 2621-9557
p-ISSN : 2087-1333

pada ginjal menurun dan mengonsumsi OAT fase intensif.


menyebabkan fungsi ginjal menjadi Peningkatan kadar asam urat dalam
menurun. darah (hiperurisemia) disebabkan
Jika mengkonsumsi OAT oleh peningkatan produksi
dengan waktu yang lama, tidak teratur (overproduction), dan penurunan
dan tidak mengikuti petunjuk Dokter, pengeluaran (underexcretion) asam
maka akan berpengaruh terhadap urat melalui ginjal.
organ ginjal. Hal ini disebabkan Peningkatan kadar asam urat
karena fungsi ginjal adalah sebagai dalam darah erat kaitanya dengan
alat ekskresi tubuh, Dan apabila kondisi ginjal penderita Tb paru.
terjadinya kerusakan fungsi ginjal, Terjadinya peningkatan asam urat
maka ginjal tidak mampu berkerja akibat penumpukan purin pada area
dengan baik dan mengakibatkan sendi. Tingginya kadar asam urat
kadar ureum meningkat. Peningkatan yang di picu penumpukan purin
kadar ureum terjadi karena ginjal dalam darah akan membuat
rentan terhadap efek toksik. terbentuknya kristal yang menumpuk
Peningkatan yang terjadi dalam batas pada persendian.
normal ini dapat disebabkan karena Purin ini sebenarnya tidak
Rifampisin yang merupakan salah akan menjadi masalah selama
satu antibiotik penyebab nefritis kadarnya masih ada dalam batas
interstisial yaitu peradangan pada sel- normal tubuh namun akan
sel ginjal yang bukan bagian dari unit menyebabkan resiko jika meningkat
pengumpulan cairan. dimana nefritis didalam darah, penyebabnya ialah
interstisial akut akibat obat dengan adanya kombinasi ZE pada
merupakan reaksi hipersensitivitas pengobatan Tb Paru digunakan OAT-
yang terbalik terhadap sejumlah obat- 4 KDT terdiri dari Isoniazid (H),
obatan yang meningkat. Reaksi mulai Rifampisin (R), Pirazinamid (Z) dan
timbul kurang lebih 15 hari setelah Etambutol (E) pada fase intensif.
pemaparan dengan obat. Gangguan Pirazinamid dan Ethambutol
fungsi ginjal sedang sampai berat merupakan kombinasi ZE yang
dapat terjadi, tetapi dapat menghilang bersifat tuberkulostatik. Dimana obat
segera atau perlahan-lahan dengan pirazinamid memiliki metabolit
dihentikannya obat, sehingga (asam pirazinoat), dan Ethambutol
meskipun secara statistik memang memiliki 10% sisa metabolisme
terjadi perbedaan bermakna, namun diantaranya asam karboksilat dan
secara substansi tidaklah mempunyai dapat menyebabkan hiperurisemia.
perbedaan yang berarti, karena semua Jumlah asam dalam tubuh menjadi
hasil ureum dalam batas normal, meningkat jika mengkonsumsi suatu
sehingga disimpulkan tidak ada asam atau suatu bahan yang diubah
peningkatan kadar ureum antara menjadi asam, dan dapat mengurangi
sebelum dan setelah pengobatan ekskresi asam urat melalui ginjal.
OAT- KDT selama enam bulan Berdasarkan kerja obat
dibandingkan dengan nilai normal. Pirazinamid dan Etambutol
Hal ini berbeda dengan hasil memfasilitasi pertukaran ion di
penelitian asam urat mengalami tubulus ginjal menyebabkan
peningkatan kadar pada 18 (60,0 %) reabsorpsi berlebihan asam urat
sampel penderita Tb Paru yang sehingga terjadi adanya gangguan

67
Jurnal Media Analis Kesehatan, Vol. 10, No.1, Juni 2019
http://journal.poltekkes-mks.ac.id/ojs2/index.php/mediaanalis
e-ISSN : 2621-9557
p-ISSN : 2087-1333

pada metabolisme tubuh yang bermakna kadar asam urat serum pada
biasanya normal menjadi sangat fase intensif, terutama pada minggu
terganggu. Inilah yang akan membuat ke-4 dan relatif menetap pada minggu
kadar asam urat menjadi terus ke-8 pengobatan OAT – KDT.
mengalami penumpukan dan akan Pirazinamid dan Etambutol
sangat sulit dikurangi. Jika sudah memfasilitasi pertukaran ion di
seperti itu tanda-tanda asam urat tubulus ginjal menyebabkan
seperti nyeri pada sendi, peradangan reabsorpsi berlebihan asam urat
hingga bengkak pada area sendipun sehingga menimbulkan
akan segera muncul dan hiperurisemia.
menimbulkan hiperurisemia. Umur sama sekali tidak
Metabolisme purin yang berpengaruh terhadap kadar asam
masuk dalam tubuh akan dibantu dan urat. Diketahui enzim urikinase yang
di ekskresi oleh ginjal untuk mengoksidasi asam urat menjadi
dikeluarkan melalui saluran urin, jika alotonin yang mudah dibuang akan
kadarnya berlebihan namun ginjal menurun seiring dengan bertambah
masih bisa mengatasinya maka tidak tuanya umur seseorang. Jika
akan menjadi masalah untuk ginjal. pembentukan enzim ini terganggu
Namun jika kadarnya sudah benar- maka kadar asam urat darah menjadi
benar sangat berlebihan maka ginjal naik. Hal ini membuktikan bahwa
juga sudah tidak bisa mengekresi tidak selalu orang yang berusia lebih
kelebihan purin dengan baik, tua cenderung memiliki kadar asam
akibatnya malah akan menyebabkan urat yang lebih tinggi. Meskipun
masalah pada fungsi ginjal. Bahkan diketahui pada usia > 40 tahun terjadi
bisa saja penderita mendapati ada penurunan fungsi ginjal. Namun pada
batu ginjal dalam kandung kemih nya. kasus Tb paru penderita dengan usia
Oleh sebab itu, adanya asam urat muda juga dapat mengalami
memang sangat berpengaruh buruk hiperurisemia.
selain pada sendi juga pada organ Terjadinya gangguan asam
yang ada dalam tubuh. urat dipicu oleh beberapa hal.
Munculnya efek samping dari Beberapa faktor risiko yang membuat
OAT dapat disebabkan oleh salah satu seseorang terserang asam urat yaitu,
atau lebih jenis obat yang makanan yang mengandung purin
dikandungnya. Adapun jenis obat berlebih, komsumsi alkohol, berat
yang terkandung dalam FDC antara badan berlebih, dehidrasi atau kurang
lain; Rifampisin (R), isoniazid (H), minum,dan genetik.
pirazinamid (Z), Etambutol (E), dan Dari kedua hasil pemeriksaan
streptomisin (S). Besarnya efek nyeri fungsi ekskresi ginjal pada penderita
sendi disebabkan oleh Pirazinamid Tb paru yang mengonsumsi OAT
(Z). Jenis obat lini pertama yang pada fase intensif, dapat disimpulkan
paling sering menimbulkan efek bahwa tingkat asam urat dapat
samping adalah kombinasi ZE. meningkat lebih awal dari pada
Peningkatan bermakna kadar tingkat ureum dalam darah,
asam urat serum pada pengobatan Peningkatan kadar asam urat dalam
dengan OAT terutama terlihat selama serum (hiperuresemia) bergantung
2 bulan pada fase intensif. Pemberian kepada fungsi ginjal, dan kecepatan
OAT 4 KDT, terdapat peningkatan metabolisme purin. Kondisi pada

68
Jurnal Media Analis Kesehatan, Vol. 10, No.1, Juni 2019
http://journal.poltekkes-mks.ac.id/ojs2/index.php/mediaanalis
e-ISSN : 2621-9557
p-ISSN : 2087-1333

kegagalan glomerulus ginjal atau bila OAT pada fase intensif namun belum
ada obstruksi aliran keluar urin, asam dapat di kategorikan sebagai dampak
urat serta ureum dan kreatinin awal penurunan fungsi eksresi pada
terakumulasi. Asam urat tinggi yang ginjal sehingga meningkat dalam
dapat terjadi tanpa azotemia atau darah. Gejala asam urat ini lebih
uremia disebabkan oleh lesi ginjal dahulu didapatkan penderita TBC
atau perubahan metabolisme asam Paru karena salah satu pemicu ialah
urat. akibat OAT kombinasi ZE, namun
Dari hasil penelitian telah untuk gejala yang ditimbulkan pada
didapatkan gambaran kadar asam urat ginjal akibat adanya penumpukan
yang meningkat sebanyak 60,0 %. asam urat tidak akan hadir pada tahap
Kondisi meningkatnya kadar asam awal fase intensif, karena dampak
urat ini dipicu penumpukan purin gejala baru bisa dirasakan untuk tahap
dalam darah akibat purin yang tidak lanjutan. Pada tahap lanjutan
termetabolisme dengan baik oleh tersebutlah jika peningkatan asam
enzim Hypoxanthine –Guanine urat berkepanjangan maka batu ginjal
Phosphoribosyl Transferase akan terbentuk dan apabila berlanjut
(HGPRT) yang berperan dalam maka infeksi berulang terjadi pada
mengubah purin menjadi nukleutida ginjal dan akhirnya bisa
purin agar dapat dugunakan kembali menyebabkan ketingkat lebih serius
sebagai penyusun DNA dan RNA yaitu gangguan fungsi ekskresi ginjal
(Adenosine dan Guanosin). Jika sampai pada gagal ginjal kronis. Hal
enzim ini mengalami defisiensi ini berbeda pada hasil pemeriksaan
penumpukan purin dalam darah ureum, 25 sampel menunjukkan kadar
akibat efek toxic komsumsi OAT ureum normal (83.33%) dengan kadar
yang mengandung banyak asam, ureum < 50 mg/dl. Hal ini
maka peran enzim berkurang dan menggambarkan bahwa kemampuan
purin menjadi meningkat. Purin yang ginjal yang masih baik dalam
tidak termetabolisme oleh enzim mengekskresi zat –zat sisa
HGPRT maka oleh enzim xanthine metabolisme dalam tubuh. Sehingga
oxidase akan dimetabolisme sehingga pengobatan OAT KDT masih aman
pada akhirnya kandungan asam urat digunakan selama sesuai dengan
meningkat dalam darah pada kondisi dosis dan petunjuk dari Dokter.
hiperusemia.
Beberapa hal yang tidak KESIMPULAN
diteliti dalam penelitian ini adalah Dari hasil penelitian 30 sampel
faktor lain penyebab peningkatan penderita tuberkulosis Paru yang
asam urat seperti berat badan, mengomsumsi Obat Tuberkulosis
kebiasaan penderita Tb Paru terhadap diperoleh hasil pemeriksaan kadar
komsumsi makanan dan minuman ureum yang meningkat sebanyak 5
yang mengandung tinggi purin yang (16,67%) sampel dan yang
bisa menjadi pemicu meningkatnya menunjukkan kadar ureum normal
asam urat selain pengobatan OAT. sebanyak 25 (83.33%) sampel, dan
Hasil penelitian ini telah hasil pemeriksaan asam urat yang
menggambarkan bahwa ada kaitan mengalami peningkatan sebanyak 18
antara asam urat terhadap ginjal (60,0%) sampel dan yang
penderita Tb Paru yang mengonsumsi

69
Jurnal Media Analis Kesehatan, Vol. 10, No.1, Juni 2019
http://journal.poltekkes-mks.ac.id/ojs2/index.php/mediaanalis
e-ISSN : 2621-9557
p-ISSN : 2087-1333

menunjukkan kadar ureum normal 12 Frances, K, 1995, Tinjauan Klinis


(40,0 %). Hasil PemeriksaanLaboratorium,
EGC., Jakarta
SARAN Ganong, W. F. 2009, Buku Ajar
Bagi penderita Tb Paru sebaiknya Fisiologi Kedokteran. Edisi 22.
mengkonsumsi OAT secara teratur EGC, Jakarta.
dan mengikuti petunjuk dari Dokter Goodman & Gilman. 2010. Manual
serta dapat melakukan pemeriksaan Farmakologi dan Terapi. EGC,
laboratorium untuk jenis parameter Jakarta
pemeriksaan yang lain. Jawetz, Melnick, & Adelberg. 2014.
Mikrobiologi Kedokteran, Buku
DAFTAR PUSTAKA Kedokteran EGC, Jakarta.
Arikunto S, 2010, Prosedur Irianto A, 2004, Statistik Konsep
Penelitian Suatu Pendekatan Dasar & Aplikasinya. Kencana
Praktik. Rineka Cipta. Jakarta. Prenada Media. Jakarta.
Anonim, 2017, Buku Panduan Kemenkes RI, 2011, Pedoman
Pemeriksaan Sputum Bta, Nasional Penanggulangan TBC,
Http://Med.Unhas. Ac.Id/ Dirjen Pengendalian Penyakit
Kedokteran/WpContent/Uploads dan Penyehatan Lingkungan,
/2017/09/Sputum-2017.Pdf Jakarta
Anonim, 2017, Hubungan Asam Kemenkes RI, 2016, Tuberculosis
Dengan Ginjal dan Cara Temukan Obati Sampai Sembuh.
Mengatasinya Asam urat.com. (Http://Www.Depkes.Go.Id/Arti
htm_Diakses 27 Juni 2017 cle/View/16040400008/Tos-Tb-
Alchudri, A, 2018. Ekskresi Obat Temukan-Tb-Obati-Sampai-
(Ekskresi obat - Anak-farmasi. Sembuh.Html)
com.htm) Diakses pada 15 juni Kemenkes RI, 2016, Info Dating
2017 Tuberculosis (www.depkes.go.
Berawi, K.N. 2009, Fisiologi Ginjal id/download.php?file=download
dan Cairan Tubuh. Edisi 2. /pusdatin/infodatin)
Penerbit Universitas lampung, Kondo.I, 2014. Gambaran Kadar
Bandar Lampung. Asam Urat Pada Penderita
Carolus, 2017. Tuberculosis Bisa Tuberkulosis Paru Yang
Disembuhkan Edisi 1. Penerbit Menerima Terapi Obat Anti
PT Gramedia, Jakarta. Tuberkulosis Di Rsup Prof. Dr.
Carrol N, 2002, Purine and R.D. Kandou Manado Periode
Pyrimidine Metabolism ; Purine Juli 2014 – Juni 2015 (https:/
Catabolism, https://library.med. /ejournal.unsrat.ac.id/index.php/
utah.edu/NetBiochem/pupyr/pp.h eclinic/article/download/10980/
tm 1069). Diakses 16 Desember
DepKes RI, 2003, Pasien 2017.
Pendarahan Ureum Meningkat. Magnus M, 2011, Buku Ajar
Depkes RI, Jakarta. Epidemiologi Penyakit Menular.
Elfindri; HasnitaE; Abidin Z; EGC., Jakarta
Mahmud R; Elmiyasna; Azis E, Maryani L; Muliani R; 2010,
2011, Metodologi Penelitian Epidemiologi Kesehatan

70
Jurnal Media Analis Kesehatan, Vol. 10, No.1, Juni 2019
http://journal.poltekkes-mks.ac.id/ojs2/index.php/mediaanalis
e-ISSN : 2621-9557
p-ISSN : 2087-1333

Pendekatan Penelitian, Penerbit Noor N.N, 2006, Pengantar


Graha Ilmu, Yogyakarta. Epidemiologi Penyakit Menular,
Masriadi, 2017. Epidemiologi Jakarta : Rineka Cipta.
Penyakit Menular. Edisi 2. Nura Ma’shumah, 2013, Hubungan
Penerbit PT. Raja Grafindo Asupan protein Dengan Kadar
Persada, Depok Jakarta. Ureum, Kreatinin dan Kadar Hb,
Moore KL., Agur AMR. 2002. Skripsi, Semarang
Anatomi Klinis Dasar. Penerbit Purwoko T, 2009, Fisiologi Mikroba.
Hipokrates. Jakarta. Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.
Naga, Sholeh.S. 2013, Buku Robiyanto, Dkk, 2014, Evaluasi
Panduan Lengkap Ilmu Penyakit Penggunaan Obat Anti
Dalam,Divapress, Yogyakarta. Tuberkulosis Paru Pada Pasien
Nanda, NT, 2015, Analisa Kadar Dewasa Rawat Jalan Di Unit
Ureum Dalam Serum Penderita Pengobatan Penyakit Paru-Paru
Tb Paru Yang Mengkonsumsi (Up4) Pontianak.
Obat Anti Tuberkulosis Lebih Upoyo, S, Dkk, 2009, Analisis
dari 4 bulan di UPT Kkesehatan Faktor–Faktor Yang
Paru Masyarakat Medan Mempengaruhi Kadar Asam Urat
(file:///C:/Users/User/Downloads Padapekerja Kantor Di Desa
/12034119_001(1).pdf) Diakses Karang Turi, Kecamatan
28 November 2017. Bumiayu, Kabupaten Brebes
Nizar M, 2017, Pemberantasan dan WHO Global Tuberculosis Report,
Penanggulangan Tuberculosis, 2017.
Edisi 1, Gosyen Publishng,
Yogyakarta.

71