Anda di halaman 1dari 8

MENGHITUNG JUMLAH SEL DAN PENGUKURAN KADAR

KLOROFIL MIKROALGA

Nursaidah Khairunnisa1, Sahrul Yudiawa2, Suslawati3, Siti Nur Latifah4 ,Utari5, Vivin Revina6,
Rizal Maulana Hasby7, Melfa Erica Lestari8
1,2,3,4,5,6,7,8
JURUSAN BIOLOGI, FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
,UNIVERSITAS ISAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
Cipadung, Cibiru, Kota Bandung
Jl. A.H Nasution No. 105

Email : nursaidahkhairunnisa@gmail.com, sahrully1@gmail.com , sitinurlatifah852@gmail.com


, susi01883@gmail.com , utarihrnwn@gmail.com , vvnrevina@gmail.com

ABSTRAK: Mikroalga merupakan organisme yang mengandung klorofil serta pigmen-pigmen lain
sehingga dapat melakukan proses fotosintesis. Tujuan dari praktikum ini adalah Mengetahui
pengaruh media terhadap jumlah sel dan kandungan klorofil mikroalga, mengetahui stuktur tubuh
(bentuk) mikroalga, dan memilki keterampilan menhitung jumlah sel mikroalga. Alat bahan yang
digunakan diantarnya adalah Mikroskop, rak kultur, botol kultur, selang, aerator, lampu TL 40 watt,
Haemacytometer, lux meter, pipet tetes, Erlenmeyer, kaca objek, spektrofotometer, centrifuge, gelas
ukur, tabung reaksi, glass bead, autoklaf. botol kultur, tabu , pengamatan dilakukan dengan
membuat media dari NPK 0,5 gram ditambahkan akuades 500 ml lalu disterilisasi dan kemudian
diberi 4 perlakuan yaitu tabung Erlenmeyer 1 diberi aerator selama 24 jam, tabung Erlenmeyer 2
diberi aerator selama 18 jam ,tabung Erlenmeyer 0 jam aerator, dan terakhir 0 jam aerator tanpa
cahaya, kemudian ke empatnya diamati pertumbuhan selnya setiap hari selama satu minggu dan
setelah itu dihitung jumlah kadar klorofil mikroalga dengan menggunakan sentrifuge dan diukur
dengan spektofotomter. Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh dari praktikum ini adalah media
sangat mempengaruhi pertumbuhan sel mikroalga dan kadar klorofil, terapat faktor yang juga
mempengarhui pertumbuhan sel dan kadar klorofil yaitu Cahya, nutrient, suhu, salinitas, dan pH.
Pada perhitungan sel paling banyak dan seimabang terjadi pada perlakuan 18 jam aerator,
sedangkan untuk jumlah kadar korofil paling banayk terjadi pada perlakuan 0 jam aerator tanpa
cahaya.

kata kunci : Jumlah sel, Kadar lorofil, Nanochloropsis,

I. PENDAHULUAN Mikroalga termasuk kedalam kelompok


Mikroalga merupakan organisme yang tumbuhan berukuran renik yang termasuk
mengandung klorofil serta pigmen-pigmen dalam kelas alga, baik sel tunggal maupun
lain sehingga dapat melakukan proses koloni yang hidup di seluruh wilayah
fotosintesis. Mikroalga berukuran perairan tawar maupun laut, yang lazim
mikroskopis, tersebar luas di alam dan dapat disebut fitoplankton, mikroala juga termasuk
di jumpai di semua lingkungan yang terkena eukariotik, yang bersiat fotosintetik dengan
sinar matahari sebagai sumber energi dan pigmen fotosintetik hijau (klorofil), coklat
nutrien anorganik seperti CO2, komponen (fikosantin), biru kehijauan (fikobilin), dan
nitrogen terlarut dan fosfat serta morfologi merah 9 fikoeritin) (Mahdi, 2012).
dan ciri-cirinya sangat beragam (Pelezar and
Chan, 1986 dalam Sobari et al., 2013).
Kemampuan fitoplankton (mikroalga) Tujuan dari praktikum ini adalah
untuk berfotosintesis, seperti tumbuhan Mengetahui pengaruh media terhadap
darat lainnya, dapat dimanfaatkan seoptimal jumlah sel, mengetahui stuktur tubuh
mungkin untuk menyerap CO2. Selain (bentuk) mikroalga, mengetahui pengaruh
potensinya yang besar sebagai sumber bahan media terhadap kandungan klorofil
baku energi baru dan terbarukan, mikroalga mikroalga, dan memilki keterampilan
juga dapat berperan dalam menurunkan menhitung jumlah sel mikroalga
emisi gas CO2 di atmosfer (Sopiah,2012).
II. METODE
Manfaat mikroalga untuk makhluk hidup
lainnya, terutama manusia sangat banyak, 2.1 Alat dan Bahan
diantaranya sebagai sumber makanan dan
bahan dalam pembuatan obat-obatan. Alat yang digunakan dalam praktikum
Penelitian sebelumnya menyebutkan pula ini adalah Mikroskop, rak kultur, botol
manfaat lain dari alga, yaitu sebagai kultur, selang, aerator, lampu TL 40 watt,
alternatif bahan baku biodisel Haemacytometer, lux meter, pipet tetes,
(widyanigrum, 2013) Erlenmeyer, kaca objek, spektrofotometer,
centrifuge, gelas ukur, tabung reaksi, glass
Media kultur merupakan salah satu bead, autoklaf.
faktor yang penting untuk pemanfaatan
mikroalga. Media kultur mengandung Untuk bahan yang digunakan adalah NPK
makronutrien dan mikronutrien yang 0,5 gram, Akuades, kultur mikroalga,
dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroalga. Aseton 90%
Komposisi nutrient yang lengkap dan 2.2 Cara kerja
konsentrasi nutrien yang tepat menentukan
produksi biomassa dan kandungan gizi 2.2.1 Pembuatan Media
mikroalga. Media yang umum digunakan
Pertama dibubukan media NPK
untuk kultur mikroalga adalah media sintetik
sebanyak 0,5 gram lalu dilarutkan kedalam
dan alami (Prihantini,2005).
akuades 500 ml, kemudian dimasukan
Perhitungan jumlah sel mikroalga kedalam Erlenmeyer dan bagian tutupnya
seringkali rumit dikarenakan skala alga yang disumbat , dimasukan kedalam plastik,
mikroskopis dan perhitungannya dilakukan diberi lubang kecil-kecil pada plastik dengan
bersama mediumnya. Perhitungan jumlah menggunakan jarum pentul , lalu
sel mikroalga yang sering digunakan oleh disterilisasikan didalam autoklaf selama 15
para ahli mikrobiologi adalah dengan menit . dibuat tiga pengamatan yaitu satu
menggunakan metode Total Plate Count tabung Erlenmeyer diberi aerator selama 24
(TPC), Kamar Hitung atau Counting jam, tabung Erlenmeyer kedua diberi aerator
Chamber (CC), pengukuran biomassa kering selama 18 jam dan terakhir tanpa aerator,
sel, dan pengukuran kerapatan optis (Optical ketiga tabung Erlenmeyer diamati
Density). Pada penelitian ini menggunakan pertumbuhan jumlah selnya setiap hari
suatu metode perhitungan jumlah alga selama satu minnggu.
dengan prinsip pengukuran nilai kapasitansi
2.2.2 Menghitung kadar Klorofil.
sel alga yang merupakan salah satu metode
alternatif untuk mendapatkan hasil dengan Diambil 10 ml sampel kultur mikroalga,
sensitivitas yang lebih baik (Posten, 2009). disentrifugasi sampel dengan kecepatan
3000 rpm selama 10 menit, dibuang
supernatant dan diambil endapannya, lalu
ditambahkan aseton 90% sehingga Minggu (13-10-2019) 453 X 106
volumenya menjadi 10 ml kemudian di
sentrifuge kembali dengan kecepatan dan Senin (14-10-2019) 456 X 106
waktu yang sama, diukur supernatant dan Selasa (15-10-2019) 180 X 106
diukur menggunakan spektometer pada
panjang gelombang 645 nm dan 663 nm. Rabu (16-10-2019) 445 X 106
Dihitung kadar klorofil dengan
Kamis (17-10-2019) 362 X 106
menggunakan rumus berdasarkan arnon
III. HASIL & PEMBAHASAN
3.1 pengihitungan jumlah sel mikroalga To Ao (0 jam aerator
tanpa cahaya)
To Ao (24 jam Aerator)
Jumat (11-10-2019) 270 X 106
6
Jumat (11-10-2019) 162 X 10
Sabtu (12-10-2019) 221 X106
Sabtu (12-10-2019) 219. X 106
Minggu (13-10-2019) 196 X 106
6
Minggu (13-10-2019) 223 X 10
Senin (14-10-2019) 185 X 106
Senin (14-10-2019) 274 X 106
Selasa (15-10-2019) 180 X 106
6
Selasa (15-10-2019) 201 X 10
Rabu (16-10-2019) 153 X 106
6
Rabu (16-10-2019) 121 X 10
Kamis (17-10-2019) 120 X 106
6
Kamis (17-10-2019) 173 X 10

Dalam praktikum ini menggunakan


To Ao (18 jam Aerator) mikroalga jenis Nanochloropsis sp. Yaitu
merupakan alga berwarna kehijauan , selnya
Jumat (11-10-2019) 144 X 106 berbentuk bola, berukuran keci diantara 2-4
Sabtu (12-10-2019) 295 X 106 mm, memiliki 3 flagel dengan sala satu
flagelnya berambut tipis, Nanochloropsis
Minggu (13-10-2019) 383 X 106 memiliki kloroflas dan nucleus yan dilapisi
membrane . kloroplas memiliki stigma (bitik
Senin (14-10-2019) 420 X 106
mata) yang bersifat senstif cahya,
Selasa (15-10-2019) 261 X 106 nanochloropsis dapat melakukan fotosintesis
karena memiliki klorofil , ciri khas nya
Rabu (16-10-2019) 253 X 106 adalah memiliki diding sel yang terbuat dari
Kamis (17-10-2019) 107 X 106 komponen selulosa (chen, 2012).
Menurut Eryanto (2003), klasifikasi dari
Nanochloropsis sp adalah sebagai berikut.
To Ao (0 jam Aerator)
Kingdom : Protista
Jumat (11-10-2019) 123 X 106
Filum : Chroniophyta
6
Sabtu (12-10-2019) 150 X 10
Kelas : Eustigmatophyceae
Ordo : Eustigmatales salinitas optimum untuk pertumbuhan
nanochloropsis sp adalah 33-35 ppt
Family : Monodopsidaceae (Javanmardian, 1991).
Genus : Nanochloropsis d. Nutrient
Mikroalga mendapatkan nutrient
Spesies : Nanochloropsis sp dari air laut yang sudah mengandung
Terdapat bebrapa faktor yang nutrin yang cukup lengkap, namun
mempengaruhi pertumbuhan pertumbuhan mikroalga dengan kultur
Nanochloropsis sp yaitu dapat mencapai optimum dengan
mencampurkan air laut dengan nutrient
a. Cahaya yang tidak terkandung dalam air laut
Cahaya diperlukan oleh mikroalga tersebut, nutrient tersebut terbagi
untuk proses asimilasi bahan anorganik menjadi makronutrien dan
sehingga menghasilkan energy yang mikronutrien, makronutrien meliputi
dibutuhkan. Juga sebagai sumber nitrat dan fosfat . makronutrien
fotosintetis yang berguna untuk merupakan pupuk dasar yang
pembentukan senyawa karbon organic, mempengaruhi pertumbuhan mikroalga,
kebutuhan kan cahaya juga bervariasi mikronutrien merupakan kombinasi
tergantung kedalam kultur dan dari beberapa vitamin yang berbeda-
kedapatannya, untesitas cahya yang beda. Vitamin tersebut diantaranya
terlalu tinggi dapat menyebabkan B12, B1dan Biotin. Micronutrient
fotoinbhisidan pemanasan, intensits tersebut diguakan mikroalga ntuk
cahaya 5000-10000 lux untuk volume berfotosintesis.
yang lebih besar (Coutteau, 1996).
b. Derajat keasaman (PH) untuk Praktikum kultur mikroalga ini
pertumbuhan nanchloropsis adalah pH dilakukan dengan menggunakan 4
8-9, pH akan mempengaruhi toksisitas perlakuan yaitu, perlakuan pertama dengan
semua senyawa kimia. Variasi pH dapat menggunakan aerator 24 jam,
mempengaruhi metabolism dan menggunakan aerator 18 jam,
pertumbuhan fitiplankton dalam menggunakan aerator 0 jam ( tapa aerator)
bebrapa hal, anatara lain mengubah dan aerator 0 jam tanpa cahaya matahari .
keseimbangan dan karbon organic ,
mengubah ketersediaan nutrient dan Pada perlakuan 24 jam aerator
dapat mempengaruhi fisiologis sel didapatkan hasil pertumbuhan sel pada hari
(Javanmardian, 1991). 1-4 mengalami kenaikan dan pada hari ke- 5
c. Sainlintas dan ke-6 mengalami penurunan kemudian
Kisaran salinitas yang berubah- pada hari ke-7 mengalami kenaikan kembali
ubah dapat mempengaruhi dan Pada perlakuan 18 jam aerator
menghambat pertumbuhan dari didapatkan hasil pertumbuhan sel pada hari
mikroalga. Beberapa mikroalga dapat 1-4 mengalami kenaikan dan pada hari ke 5-
tumbuh dalam kisaran salinitas yang 7 mengalami penurunan.
tinggi tetapi ada juga mikroalga yang
tumbuh dalam kisaran salinitas yang Pada prlakuan 0 jam aerator didapatkan
rendah. Pengauran salinitas pada hasil pertumbuhan sel pada hari ke- 1-4
medium yang diperkaya dapat mengalami kenaikan kemudian pada hari ke-
dilakukan engan pengenceran dengan 5 mengalami penurunan, pada hari ke-6
menggunakan air tawar. Kisaran
mengalami kenaikan, dan pada hari ke-7 mikroalga secara umum dapat dibagi
mengalami penurunan kembali. menjadi 5 fase yaitu fase lag, faseeksponsial,
Dan pada perlakuan 0 jam aerator tampa fase penurunan kecepatan pertumbuhan ,
cahaya dari hari ke-1-7 mengalami peurunan fase stasioner dan fase kematian ( Zainudin,
terus-menerus. 2017)

Dapat dilihat dari ke-4 perlakuan bahwa Fase lag adalah fase dimana pertambahan
cahaya sangat mempengaruhi pertumbuhan densitas populasi hanya sedikit bahkan
sel mikroalga sesuai dengan Coutteau, cenderung tidak ada, karna sel melakukan
(1996). Bahwa cahaya diperlukan oleh adaptasi secara fisiologi sehingga
mikroalga untuk asimilasi bahan anorganik metabolisme untuk pertumbuhan lamban.
dan proes fotosinteti, pada perlakuan 0 jam Pada fase eksponsial pertmabhan sel yang
aerator tanpa cahaya karna tidak ada cahaya meningkat secara intensif .pada fase ini
sehingga mikroalga tidak dapat melakukan merupakan terbaik untuk memanen
fotosintetis mengakibatkan jumlah selnya
mikroalga, pada fase penurunan kecepatan
menurun terus-menerus. Dan juga aerator
tumbuh pembelahan sel mulai melambat
pada kultur mikroalga sangat penting
dilakukan yang bertujuan untuk mencegah karena kondisi fisik dan kimia kultur mulai
dari pengendapan sel, nutrient dapat tersebar membatasi pertumbuhan, pada fase stasioner
sehingga mikroalga dalam kultur mendapat faktor pembatasan dan kecepatan
nutrient yang sama, mencegah sratifikasi pertumbuhan sama karena jumlah sel yang
suhu, dan meningkatkan pertukaran gas dari membelah dan yang mati seimbang. Pada
udara ke medium (Makridis, 2006). fase kematian kualitas fisik dan kimia kultur
berada pada titik dimana sel tidak mampu
Grafik Pertumbuhan Sel lagi mengalami pembelahan ( Zainudin,
Mikroalga 2017)
1600 Hasil grafik dari ke 4 perlakuan dapat
1400 dilihat bahwa yang paling sesuai dengan
1200
literature adalah pada perlakuan 18 jam
Jumlah Sel

1000
800 aerator,dimana pada hari pertama
600 mengalami fase lag dimana masih belum
400
200
banyak sel yang aktif membelah, kemudan
0 pada hari ke-2-4 mengalami fase eksponsial
0 1 2 3 4 5 6 7 dimana pertumbuhan sel terjadi sangat
Hari ke - cepat, dan pada hari ke- 5-7 mengalami fase
penurunan dimana jumlah sel terus menurun
24 jam + 18 jam hingga ke fase kematian.
0 Jam 24 jam -
Sedangkan pada perlakuan lain seperti
pada perlakuan 24 jam aerator, 0 jam aerator
Keberhasilan suatu pertumbuhan dalam
dan 0 jam aerator tanpa cahaya setelah
kultur mikroalga dapat dilihat dari kecepatan
mengalami fase stasioner jumlah sel tidak
tumbuh dan waku regenerasi, kecepatan
tumbuh adalah pertambahan sel dalam langsung menaglami fase kematian tapi
malah terjadi kenaikan jumlah sel kembali di
waktu tertentu. Untuk pertumbuhan
hari ke 6 dan mengalami penurunan kembali jam aerator
di hari ke 7, hal ini bisa terjadi karena
kesalahan perhitungan. 2 Klorofil 18 -0,306 1,25 0,944
jam aerator
Pada perlakuan 24 jam aerator seharusnya
menjadi fase yang paling baik karna aerator 3 Klorofil 0 -1,093 1,547 1,056
berfungsi untuk mencegah dari pengendapan jam aerator
sel, nutrient dapat tersebar sehingga
4 Klorofil 0 0,106 2,191 1,849
mikroalga dalam kultur mendapat nutrient
jam aerator
yang sama, mencegah sratifikasi suhu, dan
meningkatkan pertukaran gas dari udara ke tanpa
medium (Makridis, 2006). Pada cahaya
perlakuan 24 jam aerator didapatkan hasil
pertumbuhan sel pada hari 1 mengalami fase
lag, pada hari ke- 2-4 mengalami fase Pengamatan pada kadar klorofil
eksponsial kenaikan dan pada hari ke- 5 dan mikroalga menujukan bahwa mikroalga
ke-6 mengalami penurunan kemudian atau yang hidup dikisaran 0 jam tanpa aerator
fase penurunan, pada hari ke-7 mengalami dan tanpa cahaya mengalami pertumbuhan
kenaikan kembali yang seharusnya megalam yang sangat tinggi sehingga pertumbuhan
fase stesioner yaitu penurunan hingga ke
mikroalaga sangat banyak mampu
fase kematian, hal ini tidak sesuai degan
menghasilkan jumlah koorofil yang banyak
literator, bisa terjadi karna kesalahan
perhitungn sel mikroalga. puladengan jumlah klorofil a 0,106, klorofil
b 2,191 dan klorofil total (a+b) = 1,849
Sedangkan pada perlakuan 0 jam tidak padahal perlakuan 0 jam merupakan
menggunakan aerator tetapi dilakukan perlakuan tanpa menggunakan aerator dan
pengadukan secara manual, sehingga pada tanpa cahya, sehingga hal ini tidak sesuai
ke- 1-4 mengalami kenaikan kemudian pada dengan literature, menurut Coutteau (1996).
hari ke-5 mengalami penurunan yang sangat
Bahwa cahaya diperlukan oleh mikroalga
drastic dan pada hari ke-6 mengalami
kenaikan yang sangat drastic juga, dan pada untuk asimilasi bahan anorganik dan proes
hari ke-7 mengalami penurunan kembali. fotosinteti. Mungkin terjadi kesalahan
dalam perhitungan dan terdapat faktor lain
Dan pada perlakuan 0 jam aerator tanpa yang dapat membuat pertumbuhan kadar
cahaya dari hari ke-1-7 mengalami peurunan kolorofil.
terus menerus karna tidak adanya sinar
matahari mengakibatan mikroalga tidak Sedangkan pada perlakan 24 jam aerator
mampu melakukan fotosistetis. Karna kadar klorofil pada a mengalami minus yaitu
cahaya merupakan faktor yang paling –0,624, b -0,729 dan klorofil total (a+b)= -
penting untuk pertumbuhan sel mikroalga 0,678, pada perlakuan 18 jam aerator
didapatkan hasil klorofil a -0,306, klorofil b
3.2 Pengamatan kadar Klorofil 1,25 dan klorofil total (a+b)= 0,944. Dan
N Klorofil pada perlakuan 0 jam aerator klorofil a –
o 1,093 , klorofil b 1,547 dan klorofil total
Perlakuan A B Total (a+b)= 1,849.
1 Klorofil 24 -0,624 -0,729 -0,678
eksponsial dimana pertumbuhan sel terjadi
Grafik Kadar KLorofil sangat cepat, dan pada hari ke- 5-7
2 mengalami fase penurunan dimana jumlah
1.5 sel terus menurun hingga ke fase kematian.
Dan juga pada perhitungan kadar klorofil,
Kadar Klorofil

1
pertumbuha kadar klorofil paling banyak
0.5 terjadi pada perlakuan 0 jam aerator tanpa
0
cahaya karn awarna klorofil yang
24 + 18 0 24 - dihasilkannya lebih hijau juga, tetapi hal ini
-0.5 tidak sesuai dengan literature. Mungkin
-1 terdapat kesalahan saat perhitungan dan
Perlakuan Suplai O2 faktor lainnya sehingga terjad kesalahan.
Klorofil total

Daftar Pustaka
Dari diagram batang diatas sangat jelas
terlihat bahwa yang paling tinggi kadar Chen, Yeen- Chang and Meng- Chou lee.
kloriflnya yaitu pada perlkuan 0 jam aerator 2012. Double-power double
tanpa cahaya (24-) Heterastructure Light-Emiting
Diodes In Microalgae, Sprulina
Kandungan klorofil sangat dipengaruhi
platensis And Nanochloropsis
oleh beberapa faktor yaitu seperti cahaya,
Oculata, Culture. Journal of Marine
suhu, dan juga pengadukan dan kandungan
Science and Technology, Vol. 20 (2).
klorofil yang banyak berpengaruh terhadap
jumlah lipid yang dihasilkan oleh mikroalga, Coutteau. 1996. Trends in ecology and
hal ini sesuai dengan Widianingrum (2013) evolution. Doktor disertaton,
yang menyatakan bahwa pemberian tekanan Universityof Rostock. Rostoc.
terhadap lingkungan (suhu, salinitas,
Eryanto. 2003. Keanekaragaman hayati
fotoperod, intensitas cahaya, dan nutrient)
Laut: Aset Pembangunan
diketahui dapat mempengaruhi total lipid
pada mikroalga. berkelanjutan Indonesia. Gramedia
Pustaka. Jakarta.
IV. Kesimpulan
Javanmardian, M., B.O. Palsson. 1991.
Media sangat mempengaruhi High- Density Photoautrophic Algal
pertumbuhan sel mikroalga dan juga Cultures: Design, Construction and
terdapat faktor-faktor pertumbuhan Operation of a Novel
mikroalga yitu Cahaya, nutrient, pH Photobioreactor system,
,saniltas, dan suhu. Dari hasil ke-4 perlakuan Biotekchnology and Bioengineering.
pada perlakuan 18 jam aerator merupakan Vol.38
perlakuan yang paling baik untuk
pertumbuhan sel mikroalga karna pada hari Makridis, Pvlis, Rita, Alves, Costa, Maria,
pertama mengalami fase lag dimana masih Teresa, and Dinis. 2006. Mikrobial
belum banyak sel yang aktif membelah, Conditions ad Antimicrobial Acivity
kemudan pada hari ke-2-4 mengalami fase in Culture of Two Microalgae
Species, Tetrasekmis Chuii and Sopiah, N., ulyanto, A., Sahabudin, S.
Chorella ,Effect on Bacterial Load of 2012. Effect of Mikroalgae Cell
Enciched Artemia Metanauplii. Density (Chorella sp) on Absorption
Journal of Aquaculture. Vol 225 of Carbondioxiede. Jurnal Teknik
Lingkungan. Vol. 14(1).
Mahdi, M.Z., Titisari, Y.N., Hadiyanto.
2012. Evaluasi Pertumbuhan Widyaningsrum, N.F., Susilo,B.,
Mikroalga Dalam Medium Pome : Hermanto, M.B. 2013. Experimen
Variasi jenis Mikroalga, Medium Study of Photovoltaic
dan Waktu Penambahan Nutrien. Photobioreactor For Microalgae
Jurnal Teknologi Kimia dan Industri. Production ( Nanochloropsis octula).
Vol. 1 (1) Jurnal Bioproses Komoditas Tropis.
Vol. 1(2).
Posten, C. 2009. Design Principles of Photo-
bioreactors for Cultivition of Zainudin, M., Hamid, N., Mudiarti, L.,
Miroalgae Institute of Life Science Kursiyanto, N., Aryono, B. 2017.
Engineering, Vol. 9(3) Pengaruh Media Hiposalin Dan
Hipersalin Terhadap Respon
Prihartini, N.H., Putri, B & Yuliati, R. 2005.
pertumbuhan dan Biopigmen
Pertumbuhan Chorela sp. Dalam
Dunaliella salina. Jurnal Enggano.
Medium Ekstrak Tauge (MET)
Vol. 2(1).
dengan variasi pH awal, Makara
Sains. Vol. 9(1) : 1-6.
Sobari, R., A.B. Susanto, S. Dwi, dan Y.R.
Delicia. 2013. Kandungan Lipid
Beberapa Jenis iano Bakteria Laut
sebagai Bahan Sumber Penghasil
Biodise. Journal of Marine
Research. Vol. 2 (1): 112-119.