Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Psikologi transpersonal dikembangkan pertama kali oleh para ahli yang sebelumnya
mengkaji secara mendalam bidang humanistic, seperti Abraham Maslow, C.G. Jung, Victor
Frankl, Antony Sutich, Charles Tart dan lainnya. Psikologi transpersonal lahir dari psikologi
humanistic, tetapi terdapat perbedaan di dalamnya, dimana psikologi transpersonal lebih
menggali kemampuan manusia dalam dunia spiritual, pengalaman puncak, dan mistisme yang
dialami manusia.

Secara garis besar, seperti yang dikemukakan oleh Lajoie dan Saphiro dalam Journal of
Transpersonal Psychology, psikologi transpersonal di definisikan sebagai studi mengenai potensi
tertinggi manusia melalui pengenalan, pemahaman dan realisasi terhadap keesaan, spiritualitas
dan kesadaran transsendental.

Menurut Tart (1993), psikologi transpersonal merupakan kekuatan ke empat dalam


psikologi yang dikembangkan dari psikologi humanistic pada tahun 1960-an. Sedangkan
menurut Daniels (2007) psikologi transpersonal merupakan cabang psikologi yang memusatkan
perhatiannya pada studi tentang bagian dan proses pengalaman mendalam atau perasaan yang
luas tentang siapa dirinya atau sensasi yang besar terhadap koneksitas dengan orang lain, alam
dan dimensi spiritual.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa psikologi transpersonal merupakan


kekuatan ke empat dalam bidang psikologi yang menjembatani antara psikologi dan spiritual
yang memusatkan perhatiannya pada studi tentang bagian dan proses tentang pengalaman
mendalam atau perasaan yang luas tentang siapa dirinya atau sensasi yang besar terhadap
koneksitas dengan orang lain, alam atau dimensi spiritual dan berusaha membantu seseorang
untuk mengeksplorasi tingkat energy dan melewati kesadaran atau sisi lain dari topeng dan pola-
pola kepribadian.

1
B. Rumusan Masalah

1. Apa itu psikologi transpersonal ?


2. Bagaimana sejarah psikologi transpersonal ?
3. Siapa tokoh-tokoh psikologi transpersonal ?

C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui pengertian psikologi transpersonal.


2. Mengetahui sejarah psikologi transpersonal.
3. Mengetahui tokoh-tokoh psikologi transpersonal.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Psikologi Transpersonal

Secara etimologi transpersonal berasal dari kata trans dan personal. Trans artinya di atas
(over) dan personal adalah diri. Sehingga transpersonal membahas atau mengkaji pengalaman di
luar batas diri, seperti pengalaman spiritual.
Di tahun 1992, setelah melakukan penelahaan kurang lebih 40 definisi, maka Lajoie dan
Shapiro dua orang pionir psikologi transpersonal merangkum dan merumuskan pengertian
psikologi transpersonal yang lebih sesuai untuk kondisi saat ini. Dimana psikologi transpersonal
mempunyai perhatian terhadap studi potensial tertinggi umat manusia dan dengan pengakuan,
pemahaman keadaan-keadaan kesadaran yang mempersatukan spiritual dan transenden.

B. Sejarah Psikologi Transpersonal

Psikologi transpersonal lahir dan tumbuh di tengah-tengah perubahan politik, budaya dan
agama di Amerika pada tahun 1960 dan 1970 an. Gelombang yang menuntut persamaan hak,
dimulai dari protes mahasiswa terhadap perang Vietnam sampai gerakan ekologi, pembebasan
perempuan dan hak-hak kaum homo seksual melanda Amerika hingga Eropa. Di bawah protes
itu, mengalir arus spiritual yang kuat, karena gereja-gereja dari kelompok minoritas kulit hitam
dan kulit putih bergabung dengan demonstrasi anti-perang Vietnam.
Kejenuhan akan kemewahan material mendorong anak-anak muda pada jaman itu untuk
mencoba mariyuana, zat-zat psikedelik, seperti mescaline dan LSD. Eksperimen ini
mengantarkan mereka pada apa yang di sebut dengan altered states of consciousness, ketika
mereka menyaksikan realitas yang berbeda dengan apa yang mereka ketahui sebelumnya. Dan
mereka menggunakannya sebagai hiburan. Tetapi di Harvard, Timothy Leary seorang psikolog
klinis mencoba menggunakan zat itu itu memperoleh pengalaman keagamaan. Bersama
temannya Ricard Alpert membantu Walter Pahnke untuk mengetahui efek psilochybin pada
pengalaman ruhaniah.
Sumber lain mengatakan bahwa, di penghujung tahun1960-an dan awal tahun 1970-an
pintu gerbang antara barat dan timur mulai terbuka lebar. Beragam tradisi dan budaya timur yang

3
eksotis mulai mendapat perhatian dari orang-orang barat yang sedang mengalami kejenuhan dan
frustasi yang mendalam. Krisis-krisis kemanusiaan yang melanda dunia bagian barat ini,
kemudian di cari akar masalahnya. Kemudian sebagian orang berpendapat bahwa penyebabnya
adalah karena orientasi peradaban yang terlampau matrelialistis.
Kemudian Judeo dan Kristiani, mereka pergi ke arah timur dunia untuk memuaskan
dahaga spiritualnya, terutama di Negara India. Agama dan filsafat di India memang menawarkan
kekayaan yang luar biasa. Tradisi filsafat di India memang menawarkan beragam pendekatan
yang paling canggih terhadap struktur kepribadian manusia. Tradisi Timur ini mulai dari yoga,
buddhisme dan Taoisme lebih menyerupai psikoterapi dari pada suatu agama dan filsafat.
Dikarenakan penekanan yang kental terhadap pengaturan aspek-aspek fisik dan psikis dari tradisi
timur dalam transformasi kesadaran manusia.
Kebangkitan spiritualisme baru atau new age di barat, tidak hanya mengantarkan orang-
orangnya pada tradisi timur yang eksotis, tetapi tradisi kesukuan lainnya atau tribalisme,
semacam tradisi Amerika asli (indian). Orang-orang barat, terutama generasi mudanya mulai
melakukan gerakan kontra kultural yang melahirkan flower generation. Mereka hidup dan
berperilaku sepertti suku-suku primitive kadang dengan sengaja, pergi ke pinggir hutan dengan
berpakaian seadanya bahkan nyaris telanjang. Dampak dari gerakan ini juga mengantarkan
banyak generasi muda Amerika kepada pengalaman-pengalaman trance melalui tarian, nyanyian
serta obat-obatan psikedik semacam morfin, LSD, mariyuana dan ganja.
Pengalaman spiritual yang ada dalam psikoanalisa dianggap sebagai pengalaman masa
kecil yang traumatis, terutama pengaruh ibu yang menderita kecemasan. Orang dikatakan gila
karena represi pengalaman traumatis tersebut dalam alam tak sadarnya. Sehingga beberapa
pelopor gerakan new age menolak pendekatan psikoanalisa dan pendekatan lain yang
memandang rendah dan negative pengalaman-pengalaman spiritual sebagai akibat perubahan
kondisi kesadaran (altered states of consciousness). Mereka mendesak diakuinya angakatan ke
empat dalam bidang psikologi, yaitu psikologi transpersonal.

B. Tokoh-Tokoh Psikologi Transpersonal

Hampir semua tokoh psikilogi transpersonal berusaha memberikan arti bernuansa


spiritual terhadap kata psikologi. Mereka merujuk pada akar katanya, yaitu kata psyche. Jika

4
definisi modern mengarah pada proses mental, definisi awal psyche sebenarnya adalah napas
kehidupan, ekuivalen dengan makna jiwa.
Pada tahun 1869, Von Hartmann menjelaskan bahwa di bawah kesadaran individu
terletak kesadaran kosmis, dimana bagi sebagian orang masih dalam bentuk ketidak sadaran
yang bisa dibangkitkan. Dengan membuat ketidak sadaran ini menjadi sadar , seseorang menjadi
hebat. Hal tersebut setidaknya membuka jalan bagi suatu pandangan bahwa semua yang tampak
pada perilaku manusia sebenarnya hanyalah bagian kecil dari kepribadian.
Manusia memiliki aspek tersembunyi dalam dirinya, yang justru sebagian besar perilaku
yang tampak hanyalah manifestasi dari apa yang tidak tampak, yang disebut dengan
ketidaksadaran. Berikut ini tokoh – tokoh yang memiliki kontribusi besar bagi pembentukan
angkatan psikologi transpersonal.

1. William James
William James lebih dikenal sebagai penggagas pragmatisme dalam filsafat. Istilah
pragmatism berasal dari bahasa yunani, pragma yang berarti tindakan, maka pragmatism
diartikan sebagai filsafat tindakan. Pragmatism hanya berusaha menentukan konsekuensi praktis
dari masalah-masalah itu dan bukan memberikan jawaban finalnya.
James menekankan bahwa sifat manusia yang khas ditemukan dalam kehidupan dinamis
arus kesadaran manusia. Baginya kesadaran merupakan kunci untuk mengetahui pengalaman
manusia, khususnya agama. Dan untuk menafsirkan agama, manusia harus melihat isi kesadran
agama. James melihat kesadaran keagamaan sebagai hal yang subjektif. Bagi james kebenaran
harus ditemukan bukan melalui argument logis, melainkan melalui pengalaman dan
pengamatan. Maka jalan menuju kesadaran keagamaan adalah melalui pengalaman keagamaan
yang diungkapkan orang.
Dalam The Varities of Religious Experience, mengungkapkan bahwa sejauh manusia
berhubungan dengan alam semesta, ia hanya berhubungan dengan symbol-simbol realitas, tetapi
dalam pengalaman religious yang bersifat pribadi. Dimana James menekankan kembali, bahwa
yang paling penting bukan pengalamannya, melainkan perubahan nyata dalam hidup yang
terjadi setelah pengalaman tersebut. Pengalaman keagamaan yang hanya di dasarkan pada dalil
dan aturan yang menjadi sumber pengalaman agama, hanya akan menciptakan pemahaman
agama yang kering dan tanpa penghayatan.

5
Singkatnya, pengalaman percaya kepada Tuhan, misalnya diperlukan hanya jika
memuaskan kebutuhan-kebutuhan manusia dan membawa dampak real dalam dirinya, dan
dampak yang paling penting adalah meningkatnya kekuatan moral. Cara pandang positif
terhadap pengalaman religious dari William James, cukup bepengaruh besar pada zaman itu,
dan pengaruh tersebut sampai di daratan Eropa, terutama para tokoh psikologi kemudian.

2. Maurice Bucke
Richard Kanada Maurice Bucke merupakan salah satu tokoh psikologi yang kurang di
kenal dalam bidang psikologi. Maurice Bucke lahir pada tahun 1937 di Methwold, Inggris. Saat
Maurice berusia satu tahun, orang tuanya berimigrasi ke kanada dan kemudian menetap di
London, Ontario.
Maurice Bucke pernah terdaftar sebagai mahasiswa kedokteran di sekolah kedokteran
McGill University di Montreal. Meskipun dia berlatih kedokteran umum tetapi dia pernah juga
mengkhususkan diri di bidang psikiatri. Pada tahun 1876, Maurice Bucke menjadi pengawas di
rumah sakit jiwa di Hamilton, Ontario dan kemudian menjadi kepala rumah sakit jiwa pada
tahun 1877.
Maurice Bucke merupakan salah satu tokoh psikologi yang pertama kali menawarkan
gagasan teori psikologi yang menempatkan model kesadaran manusia dan realitas sebagai
elemen transpersonal yang terbuka dan melestarikan dogma agama. Penelitian tersebut dilakukan
berdasarkan atas pengalaman hidupnya. Pada tahun 1872, Maurice Bucke mengalami
pengalaman mistik yang mengubah hidupnya, yang dia sebut dengan kesadaran kosmik.
 Pemikiran Maurice Bucke
Selain menggambarkan pengalamannya, Maurice Bucke juga mengemukakan teori yang
menyatakan bahwa manusia mampu mengalami tiga tahap utama dari kesadaran, kesadaran
sederhana, kesadaran diri dan kesadran kosmik yang merupakan kesadaran yang jarang
dialami oleh manusia.
1) Kesadaran sederhana
Kesadaran sederhana yaitu kesadaran yang semata-mata tidak dimiliki oleh
manusia saja, tetapi dimiliki oleh hewan juga. Kesadran sederhana juga merupakan
kesadaran yang ditandai oleh kurangnya kesadaran dari dunia bathin, sehingga di sebut
dengan kesadaran sederhana. Contohnya seekor kucing menyadari sesuatu yang
dilihatnya, menyadari baunya, akan tetapi dia tidak tahu bahwa itu semua adalah sebuah

6
“kesadaran” atau dia tidak sadar ketika dia melakukannya. Artinya, kucing tersebut tidak
sadar pada kesadarannya bahwa dia sedang mengalami atau melakukan hal tersebut.
2) Kesadaran diri
Kesadaran diri sering di sebut dengan kesadaran menengah atau normal, yaitu
kesadaran sehari-hari manusia pada umumnya. Pada tingkat kesadaran ini manusia
berbeda dengan hewan, hal ini karena manusia memiliki kemampuan untuk berfikir
dalam konsep-konsep dan juga sanggup untuk mengenal dirinya sendiri.
Pada tingkat kesadaran ini, manusia tidak hanya dapat melihat pohon-pohon dari
kejauhan atau mencium bau busuk yang menusuk hidung, akan tetapi dia menyadari
bahwa dirinya mengalami hal tersebut. Contohnya, ketika seorang anak kecil yang
bertanya kepada ibunya “bu apakah gajah tahu kalau dia gajah?” ketika dia melihat
seekor gajah di kebun binatang.
Pada diri manusia dapat berlangsung proses penggandaan, yaitu dalam proses
pengenalannya manusia menjadi subjek maupun objek. Manusia sadar mengenai apa
yang telah dilihat dan dialaminya. Manusia juga sadar saat dia menjadi subjek atas dunia
luarnya dan ketika menjadi objek bagi dirinya sendiri dan orang lain. Selain itu, manusia
juga memiliki kemampuan untuk mengamati isi pikirannya atau objek eksternal berbagai
peristiwa di sekitarnya.
3) Kesadaran kosmik
Kesadaran kosmik merupakan kesadran tingkat tinggi yang digambarkan sebagai
pengalaman mistik seseorang. Secara radikal kesadran kosmik berbeda dengan kesadaran
normal, dikarenakan kesadran kosmik tidak dibatasi oleh objek dan subjek, dan juga
karena keduanya menyatu dalam kesatuan yang menawarkan pengalaman dari seluruh
ciptaan dan persepsi langsung oleh kosmos yang didefinisikan oleh rasa kesatuan atau
penyatuan. Secara kosmologis, kehidupan di dunia merupakan bagian dari kesatuan
eksistensi yang meliputi segalanya pada “Yang Maha Tunggal”, yaitu hidup yang
menghidupkan susunan alam semesta dan bumi yang merupakan hakikat serta
rahasianya.
Perpindahan dari kesadaran diri ke kesadaran kosmik memiliki beberapa
karakteristik, diantaranya :

7
a) Merasakan pengalaman yang subjektif terhadap adanya cahaya dan kegembiraan
atau sering di sebut sebagai ekstasi.
b) Merasakan rangsangan intelektual, dimana manusia memiliki konsepsi yang jelas
bahwa alam semesta adalah sebuah kenyataan hidup berdasarkan pada cinta dan
keutuhan.
c) Memahami arti keabadian.
d) Hilangnya rasa takut akan kematian dan juga rasa dosa.
e) Rasa kebangkitan yang mendadak.
f) Terjadi perubahan kepribadian pada orang yang mengalami kesadaran kosmik.
g) Memiliki kapasitas yang jauh lebih besar untuk belajar dan memulai tindakan.

Proses pemahaman manusia terhadap kosmos atau kosmik biasa dilakukan dengan
melaksanakan ritual-ritual yang banyak diselimuti dengan makna dan symbol. Ritual-ritual yang
berhubungan dengan peristiwa kehidupan manusia mengambil titik-titik poros incidental atau
pada waktu tertentu. Titik yang secara turun-temurun dianggap mempunyai makna penting dan
vital dianggap sebagai inti kejadian pada dimensi ruang dan waktu. Dari kejadian incidental
itulah suatu tanda hidup bermula dan berakhir ke titik tanpa ujung. Adapun titik poros incidental
ini menyangkut awal dan akhir manusia yang ada di dunia.
Menurut Linus Suryadi, bahwa titik poros incidental awal bagi manusia, yaitu yang
berhubungan dengan kelahiran manusia yang diperingati dengan seperangkat ritual yang ada
dalam ruang dan waktu. Sedangkan titik poros incidental akhir, merupakan titik yang
berhubungan dengan kematian manusia. Kematian yang selalu ditandai dengan isyarat dan
lambing, dengan menggunakan bahasa fisik atau metafisik, dan bergantung pada intensitas
penghayatan pada hidup serta tingkat kesadaran spiritual seseorang. Di tengah rentang awal dan
akhir manusia dalam proses hidupnya, terpapar berbagai ritual yang diselenggarakan secara
mendadak sesuai kebutuhan.
Sebagai pusat dari totalitas kosmos, manusia memiliki kewajiban untuk menjaga agar
harmoni kehidupan senantiasa indah. Pengalaman mistik adalah proses dimana fungsi manusia
dan fungsi alam tetap pada porosnya, sehingga manusia dapat menyelesaikan dan memenuhi
harapan hidupnya agar hidup lebih sempurna dan dapat melangkah lebih jauh bersatu dengan
Tuhan dengan kapasitas dirinya yang mumpuni. Manusia yang mengalami puncak kesadaran

8
kosmik adalah para nabi, orang-orang suci, orang-orang saleh yang dapat mengendalikan hawa
nafsu duniawinya dan memprioritaskan ukhrawinya.
Selain mengalami tiga tingkat kesadaran, Maurice Bucke berpendapat bahwa manusia
kemungkinan memiliki tri-partite psikologis yang terdiri atas sifat-sifat aktif, intelektual dan
moral. Maurice Bucke mencoba menghubungkan sifat intelektual seseorang dalam system saraf
otak dan sifat moral dalam system saraf otonom. System saraf otonom memiliki dua cabang,
yaitu parasimpatis dan simpatis.
System saraf simpatik berkaitan dengan kesenangan atau ketegangan, yang sering disebut
dengan sindrom “menyerang atau lari”. Contohnya : apabila seseorang melihat anjing gila datang
menghampiri, maka jantungnya berdetak kencang karena system saraf simpatik secara otomatis
merespon untuk melawan anjing atau melarikan diri. Maurice Bucke juga mengemukakan bahwa
sifat moral berpatite antara elemen positif dan negative. Contohnya adalah cinta dan iman yang
merupakan elemen positif sedangkan benci dan takut merupakan elemen negative. Oleh sebab
itu, menurut Maurice Bucke manusia berkembang dari yang negative menuju positif atau dari
kebencian dan ketakutan menuju cinta dan iman.
Maurice Bucke juga mengemukakan bahwa sifat intelektual yang terdapat pada manusia
bertanggung jawab untuk filsafat dan ilmu pengetahuan, serta dapat digunakan sebagai media
untuk ekspresi iman dalam bentuk pemahaman terhadap doktrin, sedangkan sifat moral
bertanggung jawab atas agama dan fungsi estetika. Maurice Bucke juga memahami bahwa
agama-agama yang ada di dunia merupakan ekspresi iman, sedangkan estetika dan seni
merupakan ekspresi cinta.
3. Carl Gustav Jung
Di perbatasan timur laut, lereng pegunungan Alpen, pinggiran danau Costance terdapat
desa kecil bernama Kesswil. Carl Gustav Jung dilahirkan pada tanggal 26 juni 1857 di desa
Kesswil. Sejak kecil Jung ibunya selalu memperkenalkan Jung pada studi tentang perbandingan
agama melalui komik-komik. Jung menaruh minat yang sangat besar terhadap gambar-gambar
eksotik dewa-dewa dalam agama hindu.
Minat Jung terhadap dunia ghaib atau spiritualitas, membawanya pada dunia mistik yang
luar biasa. Artinya, Jung dapat menarik benang merah antara dunia spiritual dan kebutuhan
rohani dan jasmani manusia. Jung berjasa besar memperkenalkan istilah transpersonal, meskipun
secara akademis psikoterapi transpersonal belum mapan. Ada banyak kasus yang dapat

9
digunakan untuk membangun sebuah teori transpersonal yang mapan, terutama karena banyak
ahli teori transpersonal modern yang dipengaruhi oleh pemikiran bahwa semua bidang
penciptaan memasukan unsur rohani, atau setidaknya bahwa unsur rohani adalah unsur tersendiri
dan realitas.
Jung melihat bahwa dunia spiritualisme dan psikologi memiliki hubungan korespondensi.
Hal itu dituangkan pada penelitiannya, dimana penelitiannya itu didasarkan pada laporan Jung
(berkomunikasi dengan arwah yang telah meninggal, sering di lakukan dengan cara
berkelompok) dan telah di amati selama dua tahun. Sesuai dengan latar belakang kehidupannya
yang pernah mengalami berbagai mistis dan pemikirannya mengenai dunia spiritual, legimitasi,
keilmuan atau kekuatan utama dalam psikologi Jung menjadi goyah dan di ragukan. Bagaimana
tidak, Jung merupakan seorang ilmuwan yang objektif dan rasional tetapi Jung juga menggeluti
dunia mistik dan minatnya pada paranormal yang tentu tidak rasional dan sangat subjektif.
Jung hidup di dalam lingkungan keluarga yang mayoritasnya seorang pendeta, maka
tidak bisa dipungkiri bahwa nilai spiritual tumbuh di dalam dirinya. jung memberikan gagasan
bahwa dunia mistik adalah bagian dari hidup manusia yang perlu juga diperhatikan. Jung juga
menganggap suara-suara hantu dari orang mati tidak berasal dari sumber luar, melainkan melalui
media itu, dan juga bukan produk dari suatu penyakit mental.
Sebagai ilmuwan Jung hanya bisa mengambil sikap empiris, sehingga hanya bisa
menggunakan logika reduksionistik untuk menginformasikan pemikirannya. Maka, Jung tidak
bisa menyamakan antara transpersonal dengan spiritual sebagai ketidaksadaran kolektif karena
bersifat universal. Menurut Jung, pengaruh pola dasar atas individu sebagai tempat
ketergantungan merupakan asumsi yang adil untuk menyatakan bahwa ketidaksadaran kolektif
mengandung materi spiritual, meskipun tidak semua arketipe dapat dianggap sebagai rohani.
Menurut Jung, ketidak sadaran kolektif merupakan bagian dari struktur kepribadian.
Ketidak sadaran kolektif merupakan sisa psikis perkembangan evolusi manusia atau sisa yang
menumpuk sebagai akibat dari pengalaman yang berulang-ulang dari generasi ke generasi. Bisa
juga diartika sebagai gudang bekas ingatan laten yang diwariskan dari masa lampau leluhur
seseorang. Ketidaksadaran kolektif berisi :
1. Arketipe-arketipe, yaitu bentuk pikiran atau ide universal yang mengandung unsur emosi
yang besar. Bentuk pikiran ini menciptakan gambaran dalam kehidupan sadar normal
berkaitan dengan aspek tertentu dari situasi.

10
2. Persona, yaitu topeng yang dipakai sang pribadi sebagai respon terhadap tuntutan
kebiasaan dan tradisi masyarakat serta terhadap kebutuhan arketipe. Tujuan topeng
adalah menciptakan kesan tertentu pada orang lain dan menyembunyikan hakikat pribadi
yang sebenarnya.
3. Anima dan animus, jung mengaitkan sisi feminism kepribadian pria dan sisi maskulin
kepribadian wanita dalam arketipe-arketipe. Arketipe feminism pada pria disebut anima,
dan arketipe maskulin pada wanita disebut animus.
4. Baying-bayang, mencerminkan sisi binatang pada kodrat manusia.
5. Diri atau self, arketipe yang mencerminkan perjuangan manusia ke arah kesatuan.
Ketidaksadaran kolektif lebih baik dipahami sebagai transindividual, walaupun
konsepnya berbeda dengan transpersonal. Transindividuality merupakan konsep yang jelas yang
menunjuk pada sebuah teori yang mengakui bahwa individu terletak di dalam dan merupakan
bagian integral dari kolektif. Ini tidak menyarankan bahwa isi dari ketidaksadaran kolektif
berpotensi untuk mempengaruhi semuanya sebagai transpersonal, hanya karena mereka
melampaui identifikasi individu serta budaya dan sosial.
4. Roberto Assagioli
Roberto Assagioli merupakan tokoh psikologi yang pertama kali menggunakan istilah
transpersonal dalam psikoterapi. Roberto memperkenalkan system psikosintesis yang mendapat
pengaruh dari Jung. Psikosintesis merupakan orientasi yang menangani orang secara
keseluruhan, baik fisik, emosional, mental maupun spiritual. Maksdunya spiritual adalah bukan
konotasi agama, melainkan sebagai esensi ilahi dalam diri individu sebagai pencipta dan aspek
yang menyemangati hidup.
Psikosintesis berasal dari kata yunani, Psyco yang artinya diri atau jiwa sedangkan
sistesis yang artinya untuk menempatkan bersama-sama atau kombinasi dari bagian untuk
membentuk kesatuan yang utuh. Meskipun lebih sering digunakan sebagai pendekatan terapi
yang digunakan dari satu konseling ke konseling yang lain dan terapi satu ke terapi yang lain,
psikosintesis memiliki aplikasi yang luas. Dengan demikian, secara terbuka transpersonal
mengombinasikan pandangan untuk mencari sintesis universal bahwa medis dan mistis dapat
dipertemukan.
Pada tahun 1910, Roberto mengakui bahwa pentingnya mengeksplorasi unsur-unsur
primitive dari jiwa, ia menekankan bahwa eksplorasi biografi dan efeknya masa sekarang hanya

11
bagian dari apa yang dibutuhkan. Baginya, pertumbuhan psikologis lebih dari itu, dan ia
menganggap perlu untuk memasukan dimensi spiritual dari pengalaman manusia , bentuk
psikologi yang universal bagi seluruh manusia. Tujuannya bukan untuk menggantikan
psikoanalisis, meliankan untuk menawarkan pendekatan yang dapat melengkapi dan
menawarkan peta yang lebih lengkap dari seluruh jiwa untuk di eksplorasi.
Hasil yang sukses dari konseling psikosintesis dapat digambarkan sebagai rasa
identitasnya diperluas, yaitu diri dipandang sebagai konteks pengalaman hidup. Rasa sering
memperluas identitas, membangkitkan motivasi yang meliputi peningkatan diri. Apa yang baik
bagi individu, baik pula untuk seluruh batas ego yang lebih besar menuju kesejahteraan sosial
dan global. Peningkatan toleransi tampak tampak paradox dan ambigu, tetapi pengalaman dalam
dan pengalaman luar menjadi lebih baik. Dimana paradoksnya pengalaman transpersonal
dimensi yang sering disertai peningkatan rasa kebebasan pribadi dan rasa segar dalam arah dan
tujuan.
Sebuah cara mudah untuk menggambarkan secara gambling tentang jiwa adalah model
yang bergambar DIAGRAM TELUR. Dimana Roberto mengatakan bahwa ketidaksadaran
memiliki beberapa tingkatan, diantaranya :
1) Ketidaksadaran rendah dapat disamakan dengan psikologis masa lalu sebagaimana
konsep Freudian, yaitu id yang merupakan sebuah dunia yang dikendalikan oleh insting,
impuls dan neurosis.
2) Alam bawah sadar tengah, analog psikologis yang dapat kita samakan dengan prasadar
freud.
3) Ketidaksadaran yang lebih tinggi atau supra, mewakili masa depan psikologis individu
dan merupakan ranah potensi, aspirasi dan intuisi, rumah energy spiritual yang
tersembunyi.
4) Bidang kesadaran berisi semua kesadaran yang langsung, seperti pikiran, perasaan,
gambar dan sensasi sadar yang diamati.
5) Aku atau diri pribadi, dianggap menjadi titik kesadaran murni. Batin yang sadar da nisi
kesadaran. Akan tetapi, bukanlah identitas utama individu karena merupakan refleksi diri.
6) Diri, terkadang disebut sebagai diri yang lebih tinggi, yang sengaja ditempatkan di tepi
ketidaksadaran kolektif dan alam bawah sadar yang lebih tinggi dan terkait dengan “aku”.
Hal ini dapat dilihat masih sebagai pusat ketidaksadaran yang lebih tinggidari konteks

12
kepribadian. Hal ini dapat dengan mudah disamakan dengan konsep mistik dari sesensi
ilahi, yang memiliki eksistensi di dalam ataupun di luar waktu.
7) Ketidaksadaran kolektif dilihat sebagai ketidaksadaran umat manusia, dan tempat tinggal
bagi pola dasar. Isi dunia ini dianggap transhistorik dan transcultural yang disampaikan
dalam bentuk dongeng, mitos, agama dan symbol suci.
Selain menawarkan peta jiwa, Roberto juga menciptakan refresentasi bergambar dari apa
yang dia lihat sebagai fungsi kepribadian yang disebut dengan BINTANG DIAGRAM. Dimana
terdapat tujuh fungsi kepribadian dan diungkapkan melalui mode atau saluran pengalaman,
seperti tubuh, perasaan dan pikiran. Semua manusia memiliki fungsi dasar, meskipun manusia
memiliki kecenderungan alami yang berbeda satu sama lain.
Roberto mengatakan bahwa fungsi yang paling dekat dengan diri akan dianggap sebagai
energy yang digunakan oleh diri untuk mengatur dan mengarahkan semua fungsi lainnya melalui
kemauan. Akan tetapi ada tiga dimensi yang berbeda, yaitu :
1) Aspek, merupakan aspek yang paling dasar dan merupakan aspek yang yang dapat
diakui sepenuhnya untuk dikembangkan.
2) Kualitas, mengacu pada ekspresi kehendak, dan merupakan bentuk ekspresi dari sebuah
tindakan.
3) Tahapan, yaitu merujuk secara khusus pada proses bersedia, merekam dan mengatur
semua tindakan dari awal sampai akhir.
Dia mengklasifikasikan aspek utama manusia yang dikembangkan sepenuhnya sebagai “akan”.
Kualitas ini disebut : energy, penguasaan, konsentrasi, tekad, ketekunan, inisiatif dan organisasi.
Dia mengakui bahwa kualitas “akan” sesungguhnya mewujud sebagai individu meskipun
tersembunyi.
5. Victor Frankl
Victor Frankl merupakan seorang pemikir yang berpengaruh yang kadang dianggap
transpersonalist meskipun ia diakui sebagia pendukung awal psikologi eksistensial dalam
beberapa hal dan pemikirannya banyak berpusat sekitar makna. Frankl merupakan seorang
pendiri LOGOTHERAPY. Dimana logotherapy berasal dari kata “logos” yang berarti makna dan
juga rohani, spiritual, sedangkan “therapy” merupakan penyembuhan atau pengobatan. Jadi
logotherapy secara umum dapat digambarkan sebagai corak psikologi atau psikiatri yang
mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia, disamping dimensi ragawi dan jiwa, serta

13
beranggapan bahwa makna hidup dan hasrat untuk hidup bermakna merupakan motivasi utama
manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna yang didambakannya yang harus diraih oleh
setiap orang.
Menurut Frankl makna hidup dapat ditemukan tidak hanya dalam keadaan normal dan
menyenangkan, tetapi juga dalam penderitaan, seperti dalam keadaan sakit, bersalah dan
kematian. Frankl berpendapat bahwa adanya semacam harapan atau hikmah di balik musibah
dan adanya makna dalam penderitaan. Untuk itu, pandangan Frankl tentang kesehatan psikologi
menekankan tentang pentingnya arti kemauan. Dalam teori kepribadian, ia membahas pula
determinasi kepribadian, yaitu bawaan (genetic), kondisi psikis dan situasi sosial budaya yang
selalu saling berkaitan dan saling mempengaruhi.
 LOGOTHERAPY
Landasan teori kepribadian logotherapy bercorak eksistensial-humanistik. Artinya
logotherapy mengakui manusia sebagai makhluk yang memiliki kebebasan berkehendak sadar
diri, dan mampu menentukan apa yang terbaik bagi dirinya sesuai julukan kehormatan bagi
manusia. Selain itu, manusia memiliki kualitas insani, yaitu berbagai potensi, kemampuan, bakat
dan sifat yang tidak terdapat pada makhluk-makhluk lain, seperti kesadaran diri, transendensi
diri, memahami dan mengembangkan diri, kebebasan memilih, kemampuan menilai diri sendiri
dan orang lain, spiritualitas dan religiulitas, humor dan tertawa, etika dan rasa estetika, nilai dan
makna dan sebagainya.
Dengan demikian, teori kepribadian ini bukan berorientasi pada masa lalu, seperti teori
psikodinamik atau pandangan behavioristic. Melainkan berorientasi pada masa mendatang,
karena makna hidup harus ditemukan dan hidup bermakna benar-benar sadar dan sengaja
dijadikan tujuan, diraih dan diperjuangkan. Logotherapy memberikan tiga cara memberikan
makna bagi kehidupan, diantaranya :
 Dengan memberikan pada dunia melalui suatu ciptaan.
 Dengan sesuatu yang kita ambil dari dunia dalam pengalaman.
 Dengan sikap yang kita ambil terhadap penderitaan.
Selain itu, logotherapy mengemukakan asas-asas utama, seperti :
 Hidup itu memiliki arti dalam setiap situasi, bahkan dalam penderitaan dan kepedihan
sekalipun. Dimana makna atau arti disini merupakan sesuatu yang dirasakan sangat

14
penting, benar, berharga dan didambakan serta memberi nilai khusus bagi seseorang dan
layak dijadikan tujuan hidup.
 Setiap manusia memiliki kebebasan yang hampir tidak terbatas untuk menemukan sendiri
makna hidupnya. Makna hidup dan sumber-sumbernya dapat ditemukan dalam
kehidupan, khusunya pada pekerja dan karya bakti yang dilakukan, serta keyakinan
terhadap harapan dan kebenaran penghayatan atas keindahan, iman dan cinta kasih.
 Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengambil sikap terhadap penderitaan dan
peristiwa tragis yang tidak dapat dielakan lagi, yang menimpa diri sendiri dan lingkungan
sekitar, setelah upaya mengatasinya telah dilakukan secara optimal tetap tidak berhasil.
Ketiga asas tersebut tercakup dalam ajaran logotherapy mengenai eksistensi manusia dan makna
hidup sebagai berikut :
 Dalam setiap keadaan, termasuk dalam penderitaan sekalipun kehidupan ini selalu
mempunyai makna.
 Kehendak untuk hidup bermakna merupakan motivasi utama setiap orang.
 Dalam batas-batas tertentu, manusia memiliki kebebasan dan tanggung jawab pribadi
untuk memilih, menentukan dan memenuhi makna dan tujuan hidup.
 Hidup yang bermakna diperoleh dengan jalan merealisasikan tiga nilai kehidupan, yaitu
nilai-nilai kreatif, penghayatan dan bersikap.
Eksistensi menurut logotherapy ditandai oleh kerohanian, kebebasan dan tanggung jawab. Selain
asas-asas dan ajaran tersebut, logotherapy sebagai teori kepribadian dan terapi praktikal juga
memiliki tujuan agar setiap pribadi :
 Memahami potensi dan sumber daya rohaniah yang secara universal ada pada setiap
orang, terlepas dari ras, agama, dan keyakinan yang dianut.
 Menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat dan
diabaikan, bahkan terlupakan.
 Memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk mampu
tegak kukuh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk
meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.
Frankl berpendapat bahwa manusia merupakan satu-satunya makhluk yang mampu
mentransendesikan dirinya sendiri, dan muncul diatas tingkat jiwa dan kondisi fisik. Frankl juga
mengatakan bahwa manusia memiliki bawaan motivasi untuk menemukan makna dan tujuan

15
hidup dan melakukan gerakan untuk mencapai tujuan hidup menumbuhkan pengakuan bahwa
individu bertanggung jawab untuk kehidupan mereka.
6. Charles T.Tart
T.Tart dikenal sebagai seorang parapsikologist yang berusaha memadukan pengalaman
spiritual (d-ASC) dengan sains. Manusia menurut T.Tart berusaha mendapatkan d-ASC atau
pengalaman spiritual, sebuah perasaan kesadaran bahwa dirinya merasa terbuka dan menyatu
dengan alam semesta, ada aliran energy di seluruh tubuhnya, merasakan bahwa dunia adalah
satu, penuh cinta, dan waktu seakan berhenti. Hanya beberapa orang mendapatkan d-ASC
melalui drugs (LSD-heroin ganja) yang mempunyai dampak kerusakan fisik. Padahal,
menurutnya terdapat beberapa teknik selain drugs yang bisa digunakan dan lebih positif, seperti
meditasi dan ritual keagamaan yang lainnya. Sumbangan besar lainnya adalah pemetaan
kedudukan dan tingkat kesadaran, yaitu :
1. State of consciousness (SoC) : segala hal yang berada dalam pikiran seseorang pada saat
tertentu.
2. Altered State of Consciouness (ASC) : sesuatu yang dipikirkan sekarang, berbeda
(karena ada perubahan objek) dengan apa yang dipikirkan beberapa saat yang lalu.
3. Discrete States of Consciousness (d-SoC) : pola yang khas dari fungsi pemikiran.
4. Pola khas (d-SoC) : bergantung pada cara pandang observernya.
5. Discrete Altered States of Consciousness (d-SAC) : perubahan radikal dari keseluruhan
fungsi berfikir dan kesadaran, contohnya : mimpi, pengalaman fly (drugs), juga
pengalman-pengalaman spiritual.
Selain itu, ia juga mendefinisikan fenomena di luar kondisi psikis yang umum atau
parapsikologi, yaitu “parapsikologi berarti penyelidikan terhadap hal-hal yang berada di luar
psikologi biasa”. Adapun fenomena parapsikologi adalah sebagai berikut :
1) Telepati : komunikasi langsung pikiran dengan pikiran antar manusia yang lain.
2) Clairvoyance : kontak langsung dengan objek fisik.
3) Precognition : mengetahui kejadian pada masa mendatang.
4) Psikokinesis : kemampuan pikiran untuk mempengaruhi benda tanpa kontak fisik.
Semua fenomena tersebut mengacu pada ESP atau Extrasensory Perseption yang di dunia
paranormal dikenal sebagai psy phenomena.

16
7. Ken Wilber
Selama 30 tahun terakhir, Wilber telah mengolaborasi teorinya yang terkemuka dan tanpa
diragukan lagi, yaitu SPEKTRUM KESADARAN, yang ia kemukakan pertama kalinya pada
tahun 1977. Akan tetapi, apa yang ia tawarkan merupakan integrasi dari teori kuno dan up-to-
date dari sifat manusia yang span semua tingkat realitas atau menggunakan istilahnya
“pluridimensional” konsepsi.
Meskipun Wilber melakukan koreksi terhadap tradisi-tradisi sebelumnya, ia tidak lantas
antipasti dan meninggalkannya. Melalui kepiawaiannya, Wilber mampu meramu secara sinergis
tradisi-tradisi psikologis sebelumnya. Psikoanalisis, behaviorisme dan humanistic didialogkan
dengan tradisi spiritual timur yang kaya akan spiritualnya menjadi sebuah bangunan pemikiran
yang integral. Psikologi belum dianggap sempurna sebelum di fokuskan kembali ke dalam
pandangan spiritual dan transpersonal. Psikologi spectrum lahir sebagai genre baru dalam
gerakan psikologi transpersonal.
Psikologi spectrum tersebut mempersatukan berbagai macam pendekatan, baik barat
maupun timur ke dalam spectrum model dan teori psikologi yang mencerminkan spectrum
kesadaran manusia. Setiap tingkat atau berkas dari spectrum ini ditandai oleh suatu rasa identitas
yang berbeda, yang mencakup sejak identitas kosmik yang agung dan hingga identitas ego yang
sempit. Sebagaimana halnya dalam spectrum, berbagai berkas memperlihatkan bayangan dan
gradasi yang tidak terhingga dan lambat laun satu sama lain akan menyatu. Sekalipun demikian,
beberapa tingkat kesadaran dikaitkan dengan tingkat-tingkat psikoterapi yang sesuai, seperti
tingkat ego, biososial, eksistensial dan transpersonal.
Pada tingkat ego, manusia tidak dapat melihat individu sebagai system yang utuh, karena
hanya mencerminkan perwujudan mental individu, yang dikenal dengan citra diri ego. Kesadran
biososial sebagai tingkat kesadaran yang kedua, dimana manusia sebagai bagian dari lingkungan
sosialnya (keluarga, tradisi budaya, kepercayaan) yang dipetakan pada organisme biologis dan
sangat mempengaruhi persepsi dan perilaku manusia. Tingkat eksistensial merupakan tingkat
organisme yang utuh, ditandai oleh rasa identitas yang melibatkan kesadaran seluruh system jiwa
dan tubuh sebagai suatu keseluruhan yang mengatur dirinya sendiri dan terintegrasi.
Akhirnya, setiap tahap kesadran eksistensial , manusia sudah mampu menghayati secara
penuh, kesadran akan melakukan lompatan menuju pengalaman-pengalaman transpersonal yang
melibatkan perluasan kesadaran di luar batas-batas konvensial organisme dan sesuai dengan rasa

17
identitas yang lebih besar. Pada akhir spectrum kesadaran, berkas-berkas transpersonal itu masuk
dalam tingkat jiwa, menurut istilah Wilber. Tingkat ini merupakan tingkat kesadaran kosmik,
yaitu ketika orang menenggelamkan diri menyatu dengan alam semesta.
Dalam menyempurnakan gagasan psikologi spectrum, Wilber menyusun hierarki
ontologis yang mendasari tingkatan-tingkatan spectrum kesadaran manusia. Diantaranya :
1. Fisik ketidaksadaran
2. Biologis
3. Psikologis
4. Sebab-musabab
5. Halus
6. Ultime kesadaran

18
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Psikologi transpersonal dikembangkan oleh tokoh dari psikologi humanistic, antara lain
Abraham Maslow, Antony Sutich dan Charles T.Tart. Psikologi transpersonal mengkaji tentang
potensi yang dimiliki manusia, dan melakukan penggalian, pemahaman, perwujudan dari
kesatuan, spiritualitas serta kesadran trensendensi. Rumusan di atas menunjukan dua unsur
penting yang menjadi telaah psikologi transpersonal, yaitu potensi-potensi yang luhur dan
fenomena kesadran manusia. Adapun tokoh-tokoh psikologi transpersonal seperti :

1. William James
2. Maurice Bucke
3. Carl Gustav Jung
4. Alberto Assagioli
5. Victor Frankl
6. Charles T.Tart
7. Ken Wilber

Mereka semua menyumbangkan pemikiran-pemikirannya terhadap psikologi transpersonal tanpa


menghilangkan tradis-tradisi dari tokoh terdahulu.

B. Saran

Alhamdulilah makalah yang berjudul “ Tokoh-Tokoh Psikologi Transpersonal ” sudah


selesai, akan tetapi masih banyak kekurangan dari segi penulisan maupun isi. Maka dari itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk memperkarya materi tentang
tokoh-tokoh psikologi transpersonal.

19
DAFTAR PUSTAKA

- www.afikarohmatillah.blogspot.com
- Jaenudin, Ujam. 2012. Psikologi transpersonal. Bandung : CV pustaka setia.

20