Anda di halaman 1dari 4

Devi Refina Julianti

3336160033
Teknik Sipil (Kelas A)

A. Metode Pemeriksaan Beton


Pemeriksaan rutin terhadap beton pada suatu kontruksi sangat diperlukan
mengingat masa pelayanannya yang terus bertambah serta pengaruh iklim, cuaca, dan
lingkungan. Pemeriksaan ini selayaknya harus dilaksanakan secara berkala agar kita bisa
mengetahui besar ketahanan kontruksi beton pada masa rentang waktu tertentu.
Pemeriksaan terhadap bangunan yang memiliki kontruksi beton ini biasanya diutamakan
untuk bangunan yang menjadi kebutuhan khalayak ramai seperti pasar, sekolah, rumah
sakit, hotel, kantor dll. Pelaksaan pemeriksaan ini ditugaskan pada suatu lembaga inspeksi
teknis yang ditunjuk. Tugas utamanya adalah mempersiapkan pemeriksaan serta
menganalisa data- data yang didapatkan sehingga diperoleh suatu rekomendasi yang
dapat digunakan untuk renovasi misalnya atau untuk memperkirakan kondisi dari
bangunan tersebut di masa yang akan datang.
Dalam kegiatan pemeriksaan ini dilakukan beberapa tahap kegiatan dengan
maksud pemeriksaan yang akan dilakukan nanti sesuai dengan kebutuhan dan
permasalahan yang ada pada bangunan tersebut. Adapun tahap-tahap yang dimaksud
antara lain :
1. Melakukan pengamatan atau pemeriksaan secara visual terhadap bagian-bagian
bangunan yang mengalami gejala kerusakan atau kerusakan yang telah terjadi dan
mencatat jenis kerusakan, tingkat kerusakan dan pola kerusakan.
2. Mengelompokkan bagian – bagian dari bangunan tersebut berdasarkan bagian
yang rusak dan yang tidak rusak, kemudian menandai bagian yang rusak untuk
dilakukan pemeriksaan nantinya.
3. Membuat sketsa bagian – bagian dari bangunan yang rusak, melakukan
pemotretan dan mendeskripsikan jenis kerusakannya.
4. Menetapkan metode pemeriksaan yang perlu dilakukan nantinya dengan melihat
kondisi dan situasi dari daerah yang mengalami kerusakan. (metode – metode ini
akan dibahas pada artikel selanjutnya)
5. Melakukan langkah-langkah re-design jika diperlukan

Memberikan rekomendasi terhadap pemilik bangunan untuk melakukan


perbaikan pada bagian – bagian yang dianggap perlu dan menunjukkan metode perbaikan
yang sesuai dengan jenis kerusakannua serta menjelaskan jenis material yang harus
digunakan.

Metode yang biasa dilakukan dalam melakukan pemeriksaan terhadap kontruksi


beton sebuah bangunan ada dua macam, yaitu :
1. Metode pemeriksaan tanpa merusak (Non Destructive Test/NDT)
2. Metode pemeriksaan dengan merusak (Destructive Test)
Metode pemeriksaan dengan cara tidak merusak adalah suatu metode pengujian
terhadap konstruksi beton (atau konstruksi baja) dengan tidak melakukan perusakan baik
secara struktural maupun nonstruktural untuk pengambilan sampel uji atau pengujian
langsung di lapangan. Sedangkan untuk pemeriksaan dengan cara merusak adalah suatu
pengujian terhadap kontruksi beton (konstruksi baja) dengan melakukan perusakan baik
secara struktural maupun nonstruktural. Untuk metode dengan cara merusak ini pihak
peneliti atau pihak pemilik bangunan kurang begitu menyukai untuk dilakukan. Selain
biayanya yang lebih mahal juga pelaksanaan pengujiannya sukar dan lama karena harus
diuji lagi di laboratorium.
Dalam melakukan pemeriksaan pada bangunan kontruksi beton dilakukan
beberapa pemeriksaan/pengujian secara tak merusak dan merusak seperti :
1. Pengujian untuk mengukur laju korosi pada tulangan beton dengan alat Potential Meter.
2. Pengujian untuk mengukur tingkst karbonasi dengan alat uji karbonasi
3. Pengujian untuk mengukur tegangan karakteristik beton dengan alat Schmidt Hammer
Test (NDT)/BS 1881­202;ASTM C805
4. Pengujian utnuk mengukur kepadatan beton, kedalaman retakan dengan alat Ultrasonic
Tests/UVP (NDT)/BS 1881­203;ASTM C597
5. Pengujian untuk mengukur tegangan karakteristik beton dengan alat Windsor Probe
Tests (NDT)
6. Pengujian untuk mengambil sampel dengan alat Core Drilled Test (DT) yang akan
diukur tegangan karakteristik beton.

Alat – alat yang digunakan dalam melakukan pemeriksaan ini kebanyakan


merupakan alat yang dipakai pada standar ASTM Amerika Serikat dan alat – alat ini
masih didominasi oleh alat yang digunakan untuk metode pemeriksaan tanpa merusak
(Non Destructive Test).

B. Metode Perawatan Beton


Perawatan Beton (Curing)
Perawatan Beton ini dilakukan setelah beton mencapai final setting, artinya beton
telah mengeras. perawatan ini dilakukan agar proses hidrasi selanjut nya tidak mengalami
gangguan. jika hal ini terjadi, beton akan menjadi keretakan karena kehilangan air yang
begitu cepat. perawatan dilakukan minimal selama 7 (tujuh) hari dan beton berkekuatan
awal tinggi minimal 3 (tiga) hari serta harus dipertahankan dalam kondisi lembab, kecuali
dilakukan dengan perawatan yang dipercepat. (PB. 1989:29).
Perawatan ini tidak dimaksudkan untuk mendapatkan kekuatan tekan beton yang
tinggi tapi juga dimaksudkan untuk memperbaiki mutu dari keawetan beton, kekedapan
terhadap air, ketahanan terhadap aus, serta stabilitas dari dimensi struktur.

Perawatan yang di Percepat


Perawatan dengan uap bertekanan tinggi, uap bertekanan atmosferik, pemanasan
pelembaban atau proses lain yang dapat diterima, boleh digunakan untuk mencapai
kekuatan tekan dan mengurangi waktu perawatan. perawatan ini harus mampu
menghasilkan kekuatan tekan sesuai dengan rencana.dan prosnya harus mampu
menghasilkan beton dan tegar. Untuk cuaca yang panas perlu di perhatikan bahan-bahan
penyusunnya, cara produksi penanganan dan pengangkutan, penuangan, perlidungan dan
perawatan untuk mencegah suhu beton atau penguapan air yang bnerlabihan sehingga
dapat mengurangi kekuatan takannya dan mempengaruhi kekuatan struktur.

Macam-macam Perawatan Beton


Perawatan beton ini dapat di lakukan pembasahan atau penguapan (steam) serta
dengan menggunakan membran. pemilihan cara mana yang digunakan samata-mata
mempetimbangkan biaya yang dikeluarkan.

1. Perawatan Beton dengan Pembasahan


Pembasahan dilakukan di laboratoriumataupun di lapangan. pekerjaan perawatan
dengan pembasahan dapat di lakukan dengan bebrapa cara yaitu:
a. Menaruh beton segar dalam ruangan yang lembab
b. Menaruh beton segar dalam genangan air
c. Menaruh beton segar dalam air
d. Menyelimuti permukaan beton dengan air
e. Menyelimuti permukaan dengan karung basah
f. Menyelimuti permukaan beton secara kontinyu
g. Melapisi permukaan beton dangan air dengan melakukan compound
Cara a, b dan c digunakan untuk contoh uji. Cara d,e,f digunakan untuk beton di
lapangan yang permukaannyan mendatar, sedangkan cara f dan g digunakan untuk yang
permukaannya vetikal.

Fungsi utama dari perawatan beton adalah untuk menghidari beton dari :
a. Kehilangan airsemen yang banyaj pada saatsaat setting time concrete
b. Kehilangan air akibat penguapan pada harihari pertama
c. Perbedaan suhu beton dengan lingkungan yang terlalu besar.

Untuk menanggulangi kehilangan air dalam beton ini dapat dilakukan


langkahlangkah perbaikan dengan perawatan. pelaksanaan Curing Compound, sesuai
dengan ASTM C.309, dapat diklasifikasikan menjadi:
a. Tipe I, Curing Compound tanpa Dye, biasanya terdiri dari parafin sebagai
selaput lilin yang dicampur dengan air.
b. Tipe I-D, Curing Compound dengan Fugitive Dye (warna akan hilng selama
beberapa minggu).
c. Tipe II, Curing Compound dengan zat berwarna putih.

Di pasaran, kita dapat menjumpai beberapa merek sikament, misalnya antisol Red
(termasuk tipe I-D), antisol white (termasuk tipe II) dan antisol E (termasuk tipe I, non
pigmented Curing Compound). Curing Compound ini selain berguna untuk perawatan
daerah vertikal juga berguna untuk daerah yang mempunyai temperatur yang tinggi,
karena bersifat memntulkan cahaya (terutama tipe I).

2. Perawatan Beton dengan Penguapan


Perawatan Beton dengan uap dapat di bagi menjadi dua, yaitu perawatan dengan
tekanan rendah dan perawatan dengan tekanan tinggi. perawatan tekanan rendah
berlangsung selama 10-12 jam pada suhu 40o-55o C,sedangkan penguapan dengan suhu
tinggi dilaksanakan selama 10-16 jam pada suhu 40o-550o C.Sebelum perawatan dengan
penguapan dilakukan, beton harus dipetahankan pada suhu 10o-30o C selama beberapa
jam.
Perawatan Beton dengan penguapan berguna pada daerah yang mempunyai
musim dingin. Perawatan ini harus di ikuti dengan perawatan dengan pembasahan setelah
lebih dari 24 jam, minimal selama umur 7 hari, agar kekuatan tekanan dapat tercapai
sesuai dengan rencana pada umur 28 hari.

3. Perawatan Beton dengan Membran


Membran yang digunakan untuk perawat merupakan penghalang fisik untuk
menghilangi penguapan air. bahan yang di gunakan harus kering dalam waktu 24 jam
(sesuai final setting time ),dan membentuk selembar film yang kontinyu, melekat dan
tidak bergabung,tidak beracun,tidak selip,bebas dari lubang-lubang harus dan tidak
membahayakan beton. Lembaran plastik atau lembaran lain yang kedap air dapat
digunakan dengan evisien.perawatan dengan menggunakan membran sangat berguna
untuk perawatan pada lapisan perkerasan beton(rigid pavement). Cara ini harus
dilaksanakan sesegera mungkin setelah waktu pengikatan beton. Perawatan dengan cara
ini dapat juga dilakukan setelah atau sebelum perawatan dengan pembasahan.

4. Perawatan Beton dengan Cara yang Lain


Perawatan pada beton lainnya dapat dilakukan adalah perawatan dengan
menggunakan sinar infra merah, yaitu dengan melakukan penyinaran selama 2-4 jam
pada suhu 90 oC.Hal tersebut dilakukan untuk mempercepat penguapan air pada beton
mutu tinggi. Selain itu ada pula perawatan hidrotermal (dengan memanaskan cetakan
untuk beton-beton pra-cetak selama 4 jam pada suhu 65 oC) dan perawatan dengan
karbonisasi.