Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

ASUHAN KEBIDANAN NIFAS DAN MENYUSUI

Merumuskan Diagnosa Masalah Aktual Perawatan Perineum, Payudara,


ASI Eksklusif

Dosen Pengampu : Hj. Isnaniah, S.ST.M.Pd

Disusun Oleh :

Kelompok 4

Devina Ramadanty P07124118178

Mailinda Sari P07124118206

Nur Ayu Wulandari P07124118223

Nurul Magfirah P07124118227

Sri Wahyu Achiry P07124118245

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN BANJARMASIN

D III KEBIDANAN

SEMESTER 3A

2019

i
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah tentang " Merumuskan Diagnosa Masalah Aktual
Perawatan Perineum, Payudara, ASI Ekslusif “

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal terlepas dari semua itu,
Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan
kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini bermanfaat untuk masyarakat dan
dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca

Banjarbaru, 05 November 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................................... iii
BAB I .................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN ............................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ...................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................ 1
C. Tujuan .................................................................................................................... 1
BAB II ................................................................................................................................ 2
PEMBAHASAN ................................................................................................................ 2
A. Pengertian Perawatan Perineum ......................................................................... 2
1. Tujuan perawatan perineum ............................................................................... 2
2. Bentuk luka perineum ...................................................................................... 3
3. Lingkup perawatan ........................................................................................... 3
4. Waktu perawatan perineum ............................................................................ 4
5. Penatalaksanaan ............................................................................................... 4
6. Faktor yang mempengaruhi perawatan perineum ........................................ 5
7. Dampak dari perawatan luka perineum ......................................................... 6
B. Perawatan Payudara ............................................................................................ 7
1. Masalah pada payudara ................................................................................... 8
2. Manfaat perawatan payudara ......................................................................... 8
C. Asi Ekslusif .......................................................................................................... 11
1. Manfaat ASI Eksklusif Enam Bulan ............................................................. 11
2. Cara penyimpanan ASI: .................................................................................... 12
3. TANDA CUKUP ASI.......................................................................................... 13
BAB III............................................................................................................................. 17
PENUTUP........................................................................................................................ 17
A. KESIMPULAN ........................................................................................................ 17
B. SARAN ................................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 18

iii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa nifas dimulai setelah lahir dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil dan berlangsung kira-
kira 6 minggu. Masa nifas adalah dimulai setelah plasenta lahir dan
berakhir ketika organ-organ reproduksi kembali seperti semula dan
berlangsung kira-kira 6 minggu.
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Perawatan Perineum


Perawatan adalah proses pemenuhan kebutuhan dasar manusi
(biologis, psikologis, sosial dan spiritual ) dalam reantang sakit sampai
dengan sehat. Perineum adalah daerah antara kedua belah paha yang
dibatasi oleh vulva dan anus. Post partum adalah selang waktu antara
kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada
waktu sebelum hamil.
Perawatan perineuum adalah pemenuhan kebutuhan untuk
menyehatkan daerah antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya
organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil.

1. Tujuan perawatan perineum


Adalah menecegah terjadinya infeksi sehubungan dengan
penyembuhan jaringan.
Bidan berperan menjelaskan pada ibu dan suaminya tentang
perawatan perineum selama masa nifas :
a. Anjurkan ibu untuk tidak menggunakan tampon pasca partum
karena resiko infeksi.
b. Jelaskan perkembangan perubahan lochea dari rubra ke serosa
hingga menjadi lochea alba.
c. Anjurkan ibu untuk menyimpan dan melaporkan bekuan darah
yang berlebihan serta pembalut yang dipenuhi darah banyak.
d. Ajari ibu cara mengganti pembalut setiap kali berkemih atau
defekasi dan setelah mandi pancuran atau rendam.
e. Ibu dapat menggunakan kompres es segera mungkin dengan
menggunakan sarung tangan atau bungkus es untuk mencegah
edema.
f. Ajari ibu untuk menggunakan botol perineum yang diisi air hangat.

2
g. Ajari penting nya membersihkan perineum dari arah depan ke arah
belakang untuk mencegah kontaminasi.
h. Ajari langkah-langkah memberikan rasa nyaman pada area
hermoroid.
i. Jelaskan pentingnya mengosongkan kandung kemih secara
adekuat.
j. Identifikasi gejala ISK . Jelaskan pentingnya asupan cairan adekuat
setiap hari.

2. Bentuk luka perineum


Bentuk luka perineum setelah melahirkan ada 2 macam, yaitu :
a. Rupture
Rupture adalah luka pada perineum yang diakibatkan oleh
rusaknya jaringan secar alamiah karena proses desakan kepala
janin atau bahu pada saat proses persalinan. Bentuk rupture
biasanya tidak teratur sehingga jaringan yang robek sulit
dilakukan penjahitan.
b. Episiotomi
Episiotomi adalah sebuah irisan bedah pada perineum untuk
memperbesar muara vagina yang dilakukan tepat sebelum
keluarnya kepala bayi. Episiotomi suatu tindakan yang disengaja
pada perineum dan vagina yang sedang dalam keadaan meregang.
Tindakan ini dilakukan jika perineum diperkirakan akan robek
teregang oleh kepala janin, harus dilakukan infiltrasi perineum
dengan anestasi lokal, kecuali bila pasien sudah diberi anestesi
epiderual. Insisi episiotomi dapat dilakukan di garis tengah atau
mediolateral. Insisi garis tengah mempunyai keuntungan karena
tidak banyak pembuluh darah besar dijumpai disini dan daerah ini
lebih mudah diperbaiki.

3. Lingkup perawatan

3
Lingkup perawatan perineum ditujukan untuk pencegahan infeksi
organ-organ reproduksi yang disebabkan oleh masuknya
mikroorganisme yang masuk melalui vulva yang terbuka atau akibat
dari perkembangbiakan bakteri pada peralatan penampung lochea (
pembalut ).

Lingkup perawatan perineum adalah :


a. Mencegah kontaminasi dari rektum
b. Menangani dengan lembut pada jaringan yang terkena trauma
c. Bersihkan semua keluaran yang menjadi sumber bakteri dan bau

4. Waktu perawatan perineum


a. Saat mandi
Pada saat mandi, ibu post partum pasti melepas pembalut, setelah
terbuka maka ada kemungkinan terjadi kontaminasi bakteri pada
cairan yang tertampung pada pembalut, untuk itu maka perlu
dilakukan penggantian pembalut, demikian pula pada perineum
ibu, untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
b. Setelah buang air kecil
Pada saat buang air kecil, pada saat buang air kecil kemungkinan
besar terjadi kontaminasi air seni pada rektum akibatnya dapat
memicu pertumbuhan bakteri pada perineum untuk itu diperlukan
pembersihan perineum.
c. Setelah buang air besar
Pada saat buang air besar, diperlukan pembersihan sisa-sisa
kotoran disekitar anus, untuk mencegah terjadinya kontaminasi
bakteri dari anus ke perineum yang letaknya bersebelahan maka
diperlukan proses pembersihan anus dan perineum secara
keseluruhan.

5. Penatalaksanaan
a. Persiapan

4
1) Ibu post partum
Perawatan perineum sebaiknya dilakukan di kamar mandi
dengan posisi ibu jongkok jika ibu telah mampu atau berdiri
dengan posisi kaki terbuka.
2) Alat dan bahan
Alat yang digunakan adalah botol, baskom dan gayung atau
shower air hangat dan handuk bersih. Sedangkan bahan yang
digunakan adalah air hangat.
b. Penatalaksanaan
Perawatan khusus perineal bagi wanita setelah melahirkan anak
menguurangi rasa ketidaknyamanan, kebersihan, mencegah
infeksi, dan meningkatkan penyembuhan dengan prosedur adalah
sebagi berikut :
1) Mencuci tangannya
2) Mengisi botol plastik yang dimiliki dengan air hangat
3) Buang pembalut yang telah penuh dengan gerakan ke bawah
mengarah ke rektum dan letakkan pembalut tersebut ke
dalam kantung plastik.
4) Berkemih dan BAB ke toilet
5) Semprotkan ke seluruh perineum dengan air
6) Keringkan perineum dengan menggunakan tissue dari depan
ke belakang
7) Pasang pembalut dari depan ke belakang
8) Cuci kembali tangan
c. Evaluasi
Parameter yang digunakan dalam evaluasi hasil perawatan adalah:
1) Perineum tidak lembab
2) Posisi pembalut tepat
3) Ibu merasa nyaman

6. Faktor yang mempengaruhi perawatan perineum


a. Gizi

5
Faktor gizi terutama protein akan sangat mempengaruhi
terhadap proses penyembuhan luka pada perineum karena
penggantian jaringan sangat membutuhkan protein.
b. Obat – obatan
1) Steroid : dapat menyamarkan adanya infeksi dengan
mengganggu respon inflamasi normal
2) Antikoagulan : dapat menyebabkan hemoragi
3) Antibiotik spektrum luas atau spesifik : efektif bila diberikan
segera sebelum pembedahan untuk patologi spesifik atau
kontaminasi bakteri. Jika diberikan setelah luka ditutup, tidak
efektif karena koagulasi intravaskular
c. Keturunan
Sifat genetik seseorang akan mempengaruhi kemampuan
dirinya dalam penyembuhan luka. Salah satu sifat genetik yang
mempengaruhi adalah kemampuan dalam sekresi insulin dapat
dihambat, sehingga menyebabkan glukosa darah meningkat. dapat
terjadi penipisan protein-kalori
d. Sarana prasarana
Kemampuan ibu dalam menyediakan sarana dan prasarana
dalam perawatan perineum akan sangat mempengaruhi
penyembuhan perineum, misalnya kemampuan ibu dalam
menyediakan antiseptik

e. Budaya dan keyakinan


Budaya dan keyakinan akkan mempengaruhi penyembuhan
perieneum, misalnya kebiasaan tarak telur, ikan dan daging ayam,
akan mempengaruhi asupan gizi ibu yang akan sangat
mempengaruhi penyembuhan luka

7. Dampak dari perawatan luka perineum


Perawatan perineum yang dilalukan dengan baik dapat
menghindarkan hal berikut ini :

6
a. Infeksi
Kondisi perineum yang terkena lokhia dam lembab akan sangat
menunjang perkembangbiakan bakteri yang dapat menyebabkan
timbulnya infeksi pada perineum
b. Komplikasi
Munculnya infeksi pada perineum dapat merambat pada saluran
kandung kemih ataupun pada jalan lahir yang dapat berakibat
pada munculnya komplikasi infeksi kandung kemih maupun
infeksi pada jalan lahir.
c. Kematian ibu post partum
Penanganan komplikasi yang lambat dapat menyebabkan
terjadinya kematian pada ibu post partum mengingat kondisi fisik
ibu post partum masih lemah

B. Perawatan Payudara
Perawatan payudara pada masa nifas adalah suatu kebutuhan bagi ibu
yang baru saja melahirkan. Masa nifas sendiri adalah selama 6 minggu
atau 4o hari setelah persalinan. Pada masa nifas perawatan payudara
merupakan suatu tindakan yang sangat penting untuk merawat payudara
(ASI). Hal ini terjadi karena pada masa ini ibu mengalami perubahan fisik
dan alat reproduksi yang kembali ke keadaan sebelum hamil, masa laktasi
maupun perubahan psikologis untuk mendapatkan keturunan baru.
Dengan melakukan perawatan yang tepat yang biasanya berupa
pengurutan dan pemijatan menggunakan beberapa bahan dan alat-alat
yang alami, diharapkan ibu merasa lebih nyaman menyusui bayinya.
Dengan melakukan perawatan payudara saat nifas diharapkan ibu dapat
meningkatkan produksi ASI dengan merangsang kelenjar air susu.
Payudara adalah satu-satunya penghasil ASI. Jika hal itu sudah terjadi
maka dapat berdampak pada bayi. Selain itu, payudara ibu juga beresiko
menjadi kendur setelah menyusui jika tidak langsung dirawat saat masa
nifas.

7
1. Masalah pada payudara
Data dasar subyektif :
a. Keluhan nyeri pasien pada payudaranya
b. Badan terasa demam dan dingin
c. Pasien mengatakan tidak dapat menyusui bayinya karena
putingnya masuk ke dalam.

Data dasar obyektif :


a. Puting susu masuk ke dalam ( tidak menonjol )
b. Adanya abses payudara
c. Payudara lecet
d. Payudara bengkak

2. Manfaat perawatan payudara


Perawatan payudara adalah suatu tindakan untuk merawat
payudara terutama pada masa nifas untuk memperlancar pengeluaran
ASI. Perawatan payudara dapat dilakukan dua kali sehari yaitu saat
mandi pagi dan mandi sore.

Berikut adalah manfaat perawatan payudara :


a. Memelihara kebersihan payudara sehingga bayi mudah menyusu
pada ibunya
b. Melenturkan dan menguatkan puting susu sehingga bayi mudah
menyusu
c. Mengurangi risiko luka saat bayi menyusu
d. Merangsang kelenjar air susu sehingga produksi ASI menjadi
lancar
e. Untuk persiapan psikis ibu menyusui dan menjaga bentuk
payudara
f. Mencegah penyumbatan pada payudara
Langkah – langkah perawatan
1) Persiapan ibu

8
a) Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir
b) Buka pakaian
c) Persiapan alat
 Handuk
 Kapas yang dibentuk bulat
 Minyak kelapa atau baby oil
 Waslap atau handuk kecil untuk kompres
 Dua baskom masing-masing berisi air hangat dan air
dingin
2) Pelaksanaan
a) Buka pakaian ibu
b) Letakkan handuk di atas pangkuan ibu tutuplah
payudara dengan handuk
c) Buka handuk pada daerah payudara dan taruh di
pundak
d) Kompres puting susu dengan menggunakan kapas
minyak selama 3-5 menit agar epitel yang lepas tidak
menumpuk lalu bersihkan kerak-kerak pada puting susu
e) Bersihkan dan tariklah puting susu keluar terutama
untuk puting susu yang datar
f) Ketuk-ketuk sekililing puting susu dengan ujung-ujung
jari
- Pengurutan I
(1) Licinkan kedua tangan dengan baby oil
(2) Menyokong payudara kiri dengan tangan kiri,
lakukan gerakan kecil dengan 2 atau 3 jari tangan
mulai dari pangkal payudara dengan gerakan
memutar berakhir pada daerah puting (dilakukan
20-30 kali).

- Pengurutan II

9
Membuat gerakan memutar sambil menekan dari
pangkal payudara dan berakhir pada puting susu
(dilakukan 20-30 kali ) pada kedua payudara

- Pengurutan III
Meletakkan kedua tangan diantara payudara,
mengurut dari tengah ke atas sambil mengangkat
kedua payudara dan lepaskan keduanya perlahan.

- Pengurutan IV
Mengurut payudara dengan sisi kelingking dari arah
pangkal ke arah puting susu. Payudara dikompres
dengan air hangat lalu dingin secara bergantian kira-
kira 5 menit ( air hangat dahulu ). Keringkan dengan
handuk dan pakailah BH khusus yang dapat
menopang dan menyangga payudara.

Akibat yang timbul jika tidak melakukan perawatan


payudara
a. Anak susah menyusu karena payudara yang kotor
b. Puting susu tenggelam sehingga bayi susah menyusu
c. ASI menjadi lama keluar sehingga berdampak pada
bayi
d. Produksi ASI terbatas karena kurang dirangsang
melalui pemijitan dan pengurutan
e. Terjadi pembengkakan, peradangan pada payudara
dan kulit payudara terutama pada bagian puting
mudah lecet.

10
C. Asi Ekslusif
Menurut Utami (2005), ASI eksklusif dikatakan sebagai pemberian
ASI secara eksklusif saja, tanpa tambahan cairan seperti susu formula,
jeruk, madu, air teh, air putih dan tanpa tambahan makanan padat seperti
pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi dan tim.
ASI eksklusif (menurut WHO) adalah pemberian ASI saja pada
bavi sampai usia 6 bulan tanpa tambahan cairan ataupun makanan lain.
ASI dapat diberikan sampai bayi berusia 2 tahun.
Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dianjurkan oleh pedoman
internasional yang.didasarkan pada bukti ilmiah tentang manfaat ASI baik
bagi bayi, ibu, keluarga maupun negara.
Menurut penelitian yang dilakukan di Dhaka pada 1667 bayi
selama 12 bulan (Pediatric, 2001. Arifeen, S) mengatakan bahwa : ASI
eksklusif dapat menurunkan resiko kematian akibat infeksi saluran nafas
akut dan diare.
WHO dan UNICEF merekomendasikan kepada para ibu, bila
memungkinkan memberikan ASI eksklusif sampai 6 bulan dengan
menerapkan:
 Inisiasi menyusu dini selama 1jam setelah kelahiran bayi.
 ASI eksklusif diberikan pada bayi hanya ASI saja tanpa makanan
tambahan atau minuman.
 ASI diberikan secara on demand atau sesuai kebutuhan bayi, setiap
hari setiap malam.
 ASI diberikan tidak menggunakan botol, cangkir maupun dot.
 Mengeluarkan ASI dengan memompa atau memerah dengan tangan,
disaat tidak bersama anak.
 Mengendalikan emosi dan pikiran agar tenang.

1. Manfaat ASI Eksklusif Enam Bulan


a. Untuk Bayi
1) Melindungi dari infeksi gastrointestinal

11
2) Bayi yang ASI ekslusif selama enam bulan tingkat pertumbuhannya
sama dengan yang ASI eksklusif hanya empat bulan.
3) ASI eksklusif enam bulan ternyata tidak menyebabkan keku- rangan
zat besi
b. Untuk Ibu
1) Menambah panjang kembalinya kesuburan pasca melahirkan,
sehingga
a) Memberi jarak antar anak yang lebih panjang alias menunda
kehamilan berikutnya
b) Karena kembalinya menstruasi tertunda, ibu menyusui tidak
membutuhkan zat besi sebanyak ketika mengalami menstruasi
2) Ibu lebih cepat langsing. Penelitian membuktikan bahwa ibu
menyusui enam bulan lebih langsing setengah kg dibanding ibu yang
menyusui empat bulan.
3) lebih ekonomis

2. Cara penyimpanan ASI:


a. ASI dapat disimpan dalam botol gelas atau plastik, termasuk plastik klip,
+80-100 cc
b. ASI yang disimpan dalam frezzer dan sudah dikeluarkan sebaiknya tidak
digunakan lagi setelah 2 hari.
c. ASI beku perlu dicairkan dahulu dalam lemari es 4 derajat Celcius.
d. ASI beku tidak boleh dimasak atau dipanaskan, hanya dihangatkan
dengan merendam dalam air hangat.
e. Petunjuk umum untuk penyimpanan ASI di rumah
1) Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
2) Setelah diperas, ASI dapat disimpan dalam lemari es atau frezzer.
3) Tulis jam, hari dan tanggal saat diperas.

ASI Suhu Ruang Lemari es Freezer


Setelah diperas 6 - 8 jam(kurang 3-5 hari (kurang 2 mg freezer jadi 1 dg
lebih 26° C) lebih 4° C) refrigerator, 3 bl dg

12
pintu sendiri, 6-12
bln.(kurang lebih -18°
C)
Dari frezeer, di 4 jam atau 24 jam Jangan dibekukan ulang
simpan lemari es kurang minum
(tdk di berikutnya
hangatkan)
ASI Suhu Ruang Lemari es Freezer
Dikeluarkan dari Langsung 4 jam / minum Jangan dibekukan ulang
lemari es berikan berikutnya
Sisa minum Minum Buang Buang
Buang bayi berikutnya

3. TANDA CUKUP ASI


a. Bayi usia 0-6 bulan, dapat dinilai mendapat kecukupan ASI bila
mencapai keadaan sebagai berikut:
1) Bayi minum ASI tiap 2-3 jam atau dalam 24 jam minimal
mendapatkan ASI 8 kali pada 2-3 minggu pertama.
2) Kotoran- berwarna kuning dengan frekuensi sering, dan warna
menjadi lebih muda pada hari kelima setelah lahir.
3) Bayi akan buang air kecil (BAK) paling tidak 6-8 x sehari.
4) lbu dapat mendengarkan pada saat bayi menelan ASI.
5) Payudara terasa lebih lembek, yang menandakan ASI telah habis.
6) Warna bayi merah (tidak kuning) dan kulit terasa kenyal.
7) Pertumbuhan berat badan (BB) bayi dan tinggi badan (TB) bayi sesual
dengan grafik pertumbuhan.
8) Perkembangan motorik bayi (bayi aktif dan motoriknya sesuai dengan
rentang usianya).
9) Bayi kelihatan puas, sewaktu-waktu saat lapar bangun dan tidur
dengan cukup.

13
10) Bayi menyusu dengan kuat (rakus), kemudian melemah dan tertidur
pulas.

b. Memerah ASI Teknik Memerah Asi


Bagi para ibu-ibu menyusui baik yang masih bekerja ataupun yang
full time di rumah, ada baiknya mengetahui tentang teknik memerah ASI.

1) Mengapa ASI Perlu Di Perah?

Bagi ibu bekerja, memerah ASI berarti menyediakan stok ASI buat Si
bayi agar senantiasa mendapatkan ASI meskipun kita tidak selalu ada
disampingnya

2) Tiga Teknik Memerah ASI:


a) Manual menggunakan tangan dan jari Cara ini disukai karena
cukup praktis dan tidak repot menyiapkan peralatan, cukup
'menyediakan' tangan yang bersih dan wadah yang bersih.
b) Menggunakan pompa manual (banyak tersedia di pasaran) namun
perlu dicermati bahwa ada beberapa pompa yang tidak dianjurkan
karena cara kerja pompa 'meremas' sehingga dapat merusak
jaringan payudara.
c) Menggunakan pompa listrik Sebaiknya gunakan alat pompa yang
cara kerjanya 'mirip dengan cara 'mengisap bayi' (tidak memutar
atau meremas payudara).

3) Cara menyimpan ASI hasil pompa atau perah


a) Simpan ASI dalam botol yang telah disterilkan terlebih dahu
b) Botol yang paling baik sebenarnya adalah yang terbuat dari kaca
c) Jika terpaksa menggunakan botol plastik, pastikan plastiknya cukup
kuat (tidak mudah meleleh jika direndam dalam air panas)
d) Jangan menggunakan botol susu berwarna atau bergambar karena ada
kemungkinan catnya meleleh jika terkena panas

14
e) Jangan lupa untuk membubuhkan label setiap kali ibu akan
menyimpan botol ASI, dengan mencantumkan tanggal dan jam ASI
dipompa atau diperas
f) Simpan ASI dibotol yang tertutup rapat, jangan ditutup dengan dot,
karena masih ada peluang untuk berinteraksi dengan udara
g) Jika dalam satu hari ibu memompa atau memeras ASI beberapa kali,
bisa saja ASI digabungkan dalam satu botol yang sama syaratnya suhu
tempat botol disimpan harus stabil
h) Penggabungan hasil simpanan ini bisa dilakukan asalkan jangka waktu
pemompaan atau pemerasan pertama sampai dengan terakhir tidak
lebih dari 24 iam

4) Cara memberikan ASI yang sudah didinginkan pada bayi


a) Panaskan ASI dengan cara membiarkan botol dialiri air panas yang
bukan mendidih yang keluar dari keran
b) Atau merendam botol didalam baskom atau mangkuk yang berisi air
panas yang bukan mendidih
c) jangan sekali-kali memanaskan botol dengan cara mendidihkannya
dalam panci, menggunakan microwave atau alat pemanas lainnya
karena beberapa zat kekebalan enzim dapat berkurang, kecuali yang
memang di desain untuk memanaskan botol simpanan ASI
d) Sesuaikan jumlah susu yang dipanaskan dengan kebiasaan bayi sekali
minum
e) Ingat susu yang sudah dipanaskan tidak bisa disimpan lagi

5) Cara Menyusui yang Benar


a) Posisi ibu dan bayi yang benar
 Berbaring miring
Ini posisi yang amat baik untuk pemberian ASI yang pertama
kali atau bila ibu merasakan lelah atau nyeri. Ini biasanya
dilakukan pada ibu menyusui yang melahirkan melalui operasi
sesar. Yang harus diwaspadai dari teknik ini adalah pertahankan
jalan nafas bayi agar tidak tertutup oleh payudara ibu. Oleh

15
karena itu, ibu harus selalu didampingi oleh orang lain ketika
menyusui.
 Duduk
Untuk posisi menyusui dengan duduk, ibu dapat memilih
beberapa posisi tangan dan bayi yang paling nyaman.

16
BAB III

PENUTUP
A. KESIMPULAN
B. SARAN

17
DAFTAR PUSTAKA

Sulistyawati,Ari.2009.Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Ibu


Nifas.Yogyakarta:CV.ANDI OFFSET
Nugroho,Taufan.2014.Buku Ajar Asuhan Kebidanan 3 Nifas.Yogyakarta:Nuha
Medika
Marmi.2011.Asuhan Kebidanan Masa Nifas Peurperium
Care.Yogyakarta:Pustaka Pelajar

18