Anda di halaman 1dari 18

Makalah Materi Hadits di SMA/MA

Dakwah dan Pengajaran

Disusun Oleh Kelompok 6 :


Ainun Nadzifatuzzahra (1182020018)
Akbar Nurhasan Basri (1182020019)
Alya Azzahra Furqon (1182020024)

UIN Sunan Gunung Djati Bandung


Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Tahun Ajaran 2018-2019
PAI 1 Kelas A

Dosen Pengampu :
Dr. H. Maslani, M.Ag
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Di era modern ini,manusia disuguhi berbagai problematika dalam berbagai aspek
yang kompleks. Yang apabila dibiarkan dapat mengarah pada kehancuran diri bahkan
lingkungan sekitar. Praktek hidup yang menyimpang dan penyalahgunaan kesempatan
dengan mengambil bentuk perbuatan sadis dan merugikan orang lain kian tumbuh subur
diwilayah yang tak berakhlak dan tak bertasawuf. KKN dan perampasan HAM telah
menjadi tontonan sehari-hari dimata publik. Anarkisme manusia terhadap manusia lainnya
dan lingkungan sekitarnya sudah menjadi suatu ritual yang kadang kala telah terjadwal
pelaksanaannya. Bahkan Allah SWT.pn telah memperingatkan umat manusia dengan
berbagai cara.

Mengenai hal ini, Allah SWT. berfirman dala QS. Ar Rum Ayat 41 :

َ ۡ‫اِس ِلُيُِذِيَقَ ُهم بَۡع‬


‫َض ٱل ِِذي‬ َ ‫سادُ فِي ۡٱلبَ ِر َو ۡٱلبَ ۡح ِر بِ َما َك‬
ِ ‫سبَ ۡت أَ ۡي ِدي ٱلَّن‬ َ َ‫ظ َه َر ۡٱلف‬
َ
٤١ َ‫ع ِملُواْ لَ َۡعل ُه ۡم َي ۡر ِجۡعُون‬ َ
“(Telah tampak kerusakan di darat) disebabkan terhentinya hujan dan menipisnya
tumbuh-tumbuhan (dan di laut) maksudnya di negeri-negeri yang banyak sungainya
menjadi kering (disebabkan perbuatan tangan manusia) berupa perbuatan-perbuatan
maksiat (supaya Allah merasakan kepada mereka) dapat dibaca liyudziiqahum dan
linudziiqahum; kalau dibaca linudziiqahum artinya supaya Kami merasakan kepada
mereka (sebagian dari akibat perbuatan mereka) sebagai hukumannya (agar mereka
kembali) supaya mereka bertobat dari perbuatan-perbuatan maksiat.”

Aspek moral yang belakangan ini kian melemah menuntut berbagai perombakan
dalam kualitas pengajaran dalam negara serta kualitas dakwah yang seyogyanya disyiarkan
secara merata di muka bumi ini khususnya di negara Indonesia. Dalam pengertiannya
dakwah merupakan seruan atau ajakan kepada keinsyafan atua usha mengubah situasi
kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap pribadi maupun masyarakat.1

Menjadi seorang pendakwah atau yang kerap kali disebut sebagai da’i dan menjadi
seorang pengajar merupakan salah satu profesi yang paling mulia. Yang mana sejak zamah
dahulu bahkan Rasulullah SAW senidiripun menjadi seorang pendakwah. Yakni sebagai
pendakwah risalah Islam dan pengajar pertama Al Quran kepada umatnya. Lewat Al Quran

1
Munir Amin,2009: 4
inilah dakwah Rasulullah SAW. Akan terus berjalan. Karena lewat Al Quran lah perintah
berdakwah kepada penerus para nabi dan Rasul yakni para ulma yang akan melanjutkan
perjuangan para pendahulunya guna menyampaikan diinul Islam kepada seluruh umat
manusia hingga akhir zaman.

Kita harus menjadi pelopor kebaikan, dan mengajak orang lain untuk melakukan
kebaikan. Rasulullah saw menjanjikan imbalan yang sangat besar bagi orang yang
berkomitmen memberikan dakwah pencerahan, dan sebagaimana yang disebutkan didalam
hadits di atas, bahwa pahala orang yang mengajak orang lain berbuat baik tidak pernah
terputus. Ini merupakan salah satu bentuk amal jariyah. Mengapa begitu besar pahalanya?,
karena dakwah merupakan tugas utama para nabi dan rasul, dan dengan mengembangkan
dakwah berarti kita telah mengemban misi kenabian. ( Al Quran Hadits Buku Siswa Kelas
XII )

Seluruh perbedaan yang ada di alam semesta ini merupakan anugerah dari Allah
SWT. Yang mana seluruhnya itu tentu saja membutuhkan dakwah islamiyah yakni
petunjuk Allah SWT. Melihat dakwah dari persfektif Al Hadits menyampaikan risalah
Islam merupakan suatu kewajiban. Sebgaimana ditegaskan dalam riwayat Muslim :

‫بلغوا عني ولو آية‬


“Sampaikanlah walaupun satu ayat.”

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian di atas maka kami kerucutkan pembahasan makalah ini sebgaia berikut:
1. Bagaimana urgensi dakwah dan mengajar?
2. Bagaimana cara berdakwah dan mengajar?
3. Bagaimana sikap berdakwah dan mengajar?
4. Apa pesan moral yang terkandung dalam hadits dakwah dan pengajaran ?

1.3 Tujuan Makalah


1. Mengetahui dan dapat menjelaskan urgensi dari dakwah dan pengajaran.
2. Mengetahui serta dapat menjelaskan bagaimana cara berdakwah dan mengajar.
3. Dapat menjelasakan dan mempraktekan sikap berdakwah dan mengajar yang baik dan
benar.
4. Dapat mengetahui dan menjelaskan bagaimana realisasi konteks dakwah dan pengajaran
dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Urgensi Dakwah dan Pengajaran

2.1.1 Takhrij Hadits

Hadis Riwayat Ibnu Majah

‫ ع َْن‬،‫ْس‬ ٍ ‫ ع َْن بَك ِْر ب ِْن ُخنَي‬،‫ان‬ ِ َ‫الزب ِْرق‬ ِ ُ‫َاو ُد ْبن‬ ُ ‫ َح َّدثَنَا د‬،‫ف‬ ُ ‫ص َّوا‬َّ ‫] َح َّدثَنَا بِش ُْر ْبنُ ِه ََل ٍل ال‬229[ -)225(
‫َّللاِ صلى هللا‬ َّ ‫سو ُل‬ ُ ‫ َخ َر َج َر‬:َ‫ قَال‬،‫َّللاِ ب ِْن ع َْم ٍرو‬ َ ‫ ع َْن‬،‫َّللاِ ب ِْن يَ ِزي َد‬
َّ ‫ع ْب ِد‬ َّ ‫ع ْب ِد‬َ ‫ ع َْن‬،‫الرحْ َم ِن ب ِْن ِزيَا ٍد‬ َّ ‫ع ْب ِد‬ َ
َ‫ فَ ِإذَا ُه َو بِ ََح ْلقََتَي ِْن ِإِحْ دَا ُه َما يَ ْق َر ُُءونَ ا ْلقُ ْرآن‬،َ‫س ِجد‬ْ ‫ فَ َد َخ َل ا ْل َم‬،ِ‫ض ُح َج ِره‬ ِ ‫عليه وسلم قَالَذَاتَ يَ ْو ٍم ِم ْن بَ ْع‬
1 ‫علَى [ ج‬ َ ‫ " ُك ٌّل‬:‫ فَقَا َل النَّبِ ُّي صلى هللا عليه وسلم قَا َل‬، َ‫ َو ْاْل ُ ْخ َرى يََتَعَلَّ ُمونَ َويُعَ ِل ُمون‬،َ‫َّللا‬ َّ َ‫عون‬ ُ ‫َويَ ْد‬
،‫ َوِإِ ْن شَا َُء َمنَعَ ُه ْم‬،‫ فَ ِإ ْن شَا َُء أ َ ْع َطا ُه ْم‬،َ‫َّللا‬ َّ َ‫عون‬ ُ ‫ ] َخي ٍْر َهؤ ََُل ُِء يَ ْق َر ُُءونَ ا ْلقُ ْرآنَ َويَ ْد‬151 ‫ ص‬:
" ‫س َمعَ ُه ْم‬ َ َ‫ َوِإِنَّ َما بُ ِعثْتُ ُمعَ ِل ًما فَ َجل‬، َ‫َو َهؤ ََُل ُِء يََتَعَلَّ ُمون‬
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Hilal Ash Shawwafi berkata, telah
menceritakan kepada kami Dawud bin Az Zibirqan dari Bakr bin Khunais dari
Abdurrahman bin Ziyad dari Abdullah bin Yazid dari Abdullah bin 'Amru ia berkata; Pada
suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar dari salah satu kamarnya dan
masuk ke dalam masjid. Lalu beliau menjumpai dua halaqah, salah satunya sedang
membaca Al Qur`an dan berdo'a kepada Allah, sedang yang lainnya melakukan proses
belajar mengajar. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Masing-masing
berada di atas kebaikan, mereka membaca Al Qur`an dan berdo`a kepada Allah, jika Allah
menghendaki maka akan memberinya dan jika tidak menghendakinya maka tidak akan
memberinya. Dan mereka sedang belajar, sementara diriku diutus sebagai pengajar, " lalu
beliau duduk bersama mereka.2

Berdasarkan proses takhrij hadits dari dengan metode takhrij berbasis teknologi
informatika hadits tentang dakwah dan pengajran menggunakan Maktabah Syamilah dapat
diketahui Mashadir Ashliyahya adalah Sunan Ibnu Majah ( 275 H ).

2.1.1 Unsur Hadits


Sanad
1. ‫ابن مجاح‬
2. ‫ع ْم ٍرو‬
َ ‫َّللاِ ب ِْن‬
َّ ‫ع ْب ِد‬
َ

2
Muslim, Abu Abdullah, AL-HIKMAH: Jurnal Dakwah, Volume 13, Nomor 1, Tahun 2019 [P. 091-112].
Metode Dakwah Dalam Pengajaran Nabi Perspektif Hadits. 2019. hlm.97.
3. ‫َّللاِ ب ِْن يَ ِزي َد‬ َّ ‫ع ْب ِد‬ َ
4. ‫الرحْ َم ِن ب ِْن ِز َيا ٍد‬ َّ ‫ع ْب ِد‬ َ
5. ‫ْس‬ ٍ ‫بَك ِْر ب ِْن ُخنَي‬
6. ‫ان‬ِ َ‫الزب ِْرق‬ ِ ُ‫َاو ُد ْبن‬ ُ ‫د‬
7. ‫اف‬ ُ ‫ص َّو‬ َّ ‫ِبش ُْر ْبنُ ِه ََل ٍل ال‬
Rawi
1. ‫اف‬ ُ ‫ص َّو‬ َّ ‫بِش ُْر ْبنُ ِه ََل ٍل ال‬
2. ‫ان‬ ِ َ‫الزب ِْرق‬ ِ ُ‫َاو ُد ْبن‬ ُ ‫د‬
3. ‫ْس‬ ٍ ‫بَك ِْر ب ِْن ُخنَي‬
4. ‫الرحْ َم ِن ب ِْن ِز َيا ٍد‬ َّ ‫ع ْب ِد‬ َ
5. ‫َّللاِ ب ِْن يَ ِزي َد‬
َّ ‫ع ْب ِد‬ َ
6. ‫ع ْم ٍرو‬ َ ‫َّللاِ ب ِْن‬َّ ‫ع ْب ِد‬ َ
7. ‫ابن مجاح‬

2.1.2 Isi Kandungan Hadis

Berdasarkan hadis di atas, kami simpulkan bahwa baik itu perkumpulkan membaca
Al Quran, belajar mengajar hal itu termasuk kedalam ibadah. Jika Allah menghendaki
memberi hambanya kelapangan maka akan diberikannya dan jika tidak maka tidak akan
diberikan kelapangan pada hambanya itu. Maksudnya ialah, mengenai pahala baik bagi
orang yang belajar mengajar ataupun membaca Alquran. Ketika seseorang sedang belajar
mengajar bisa jadi sama dengan yang membaca Al Quran bahkan bisa jadi ketika seseorang
yang membaca Al Quran ketika ia tidak kuat niat dan tekadnya bahakan tidak bersungguh-
sunguh bisa jadi imbalannya itu lebih kecil dari pada yang menuntut ilmu dalam
perkumpulan-perkumpulan.

Disini dijelaskan bahwa dakwah merupakan satu kesatuan dimana ketika


pengajaran akan ada dakwah. Dakwah merupakan salah satu metode dalam pengajaran.
Ketika pengajaran tanpa metode dakwah bisa jadi dalam proses pembelajaran itu tidak
sempurna dan tidak akan berjalan dengan baik.

Menurut KBBI dakwah adalah penyiaran agama dan pengembanagnnya di


kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkanajran agama.

Ditinjau dari sudut etimologi atau bahasa,dakwah berasal dari bahasa Arab, yang
berati panggilan, ajakan, atau seruan. Menurut ilmu bahasa Arab, kata dakwah berbentuk
“isim masdar” yang bersal dari fiil ( kata kerja ) “ da’a" ) ‫“ ( دعا‬yad’u” ) ‫ ( يدعو‬yang artinya
memeanggil, megajak, atau meyeru.3

Pengertian Dakwah secaraterminologi yang di kemukakan para ahli :

1. Prof. Toha yahya Umar, MA. Dalam bukunya “Ilmu Dakwah” mendefinisikan dakwah
adlah mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan
perintah Tuhan untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirtat.4

2. Prof.H.M. Arifin M.Ed. dalam bukunya “Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi.
Mendefinisiakn dakwah sebagai suatu kegiatan ajakan baik dalam bentuk lisan tulisan,
tingkah laku, dan sebagainya yang dilakukan secara sadar dan berencana dalam usaha
mempengaruhi orang lain baik secra individual maupun secara kelompok agar timbul
dalam dirinya suatu pengertian, kesadaran, sikap, penghayatan serta pengalaman terhadap
agama sebgai messege yang disampaikan kepadanya dengan tanpa adanya unsur-unsur
pemaksaan. 5

3. Asmuni Syukir dalam bukunya “Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam” mendefinisikan


istilah dakwah dari dua segi, yakni pengertian dakwah yang bersifat pembinaan adalah
suatu usaha mempertahankan syari’at sehingga menjadi manusia yang mendapatkan
kebahagiaan di dunia dan di akhirat, sedangkan pengertian dakwah yang bersifat
pengembangan adalah usaha unutk mengajak manusia yang belum beriman kepada Allah
untuk mentaati syari’at Islam supaya (memeluk agama Islam) supaya hiduo bahagia dan
sejah tera di dunia maupun di akhirat.6

4. Dikutip dari Fir'adi Nasruddin Abu Ja'far, Lc dalam bukunya “Mata Kuliah Dakwah”
Kata dakwah bermakna menyebarkan dan menyampaikan.

5. Samsul Munir Amin (2009: 6 ) menyebutkan bahwa dakwah merupakan bagian yang
sangat esensial dalam kehidupan seorang muslim, dimana esensinya berada pada ajakan
dorongan (motivasi), rangsangan serta bimbingan terhadap oran glain untuk menerian
ajaran agama Islam dnegn penuh kesadaran demi keuntungan dirinya dan bukan untuk
kepentingan pengajakannya.

6. Wahidin Saputra (2011: 2 ) menyebutkan dakwah adalah menjadikan perilaku uslim


dalam menjalankan Islam sebagai agam rahmatan lil alamin yang harus didakwahkan
kepada seluruh manusia.

3
Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, (Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada. 2011 hlm.1 )
4
Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Hamzah, 2009), hlm.3
5
Ibid, hlm.4
6
Asmuni Syukir, “Dasar-Dasar Startegi Dakwah Islam. (Surabaya : Al Ikhlas, 1983), hlm.20
7. M. Munir dan Wahyu Ilahi (2006: 17) menyebutkan dakwah adalah aktivitas
menyampaikan ajaran Islam, meyeluruh berbuat baik dan mencegah perbuatan mungkar,
serta memebri kabar gembira dna perigatan bagi manusia.

8. Sayid Muhammad Nuh (2011: 4) menyebutkan dakwah adalah bukakan hanya terbatas
pada penjelasan dan penyampaian semata, namun juga eliputi pembinaan dan takwin
(pembentukan) pribadi, keluarga, dan masyarakat.

9. M.Quraish Shihab, dakwah adalah seruan atau ajakan kepada keinsyafan atua usha
mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap pribadi
maupun masyarakat. (Munir Amin,2009: 4)

10. Thoha Yahya Omar mengartikan dalwh sebagai usaha mengajaka manusia dengan cara
bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk keaslahatan dan
kebahagiaan mereka dunia dan akhirat.

11. ( Safrodin, 2008: 32) Prinsip dakawah adalah upaya mengajak, menganjurkan atau
menyerukan manusia agar mau menerima kebaikan dan petunjuk yang temuat dalam Islam.
Atau dengan kata lain, agar mereka au menerima Islam sehingga mereka mendapatkan
kebaikan dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.

Sedangakn menurut penulis dakwah merupakan ajakan yang dilakukan oleh


seseorang kepada individu dan kelompok menuju amar ma’ruf nahi munkar yang dilakuakn
secara spontan atau terencana.

Pengejaran menurut KBBI adalah kegiatan yang dilakukan guru dalam


menyampaikan pengetahuan kepada siswa. Pengajar juga diartikan sebagai interaksi
belajar dan mengajar, pengajaran berlangsung sebagai suatu proses yang saling
mempengaruhi antara guru dan siswa.

Menurut Lydia Harlina Martono, Satya Joewana “2006”


Pengajaran merupakan salah satu aspek dari pendidikan yaitu aspek pengetahuan
“kognitif” pengajaran memberikan ketrampilan dan pengetahuan, sedangkan pendidikan
membimbing anak ke arah kehidupan yang baik dan benar.7

Kamarudin (1993)
Pengajaran adalah suatu proses penanganan urusan untuk memungkinkan siswa
mengetahui atau menyelesaikan sesuatu yang mereka tidak dapat lakukan sendiri sebelum
itu.

7
www.dosenpendidikan.co.id diakses pada 1 Oktober 2019
Mahani Razali
Pengajaran adalah aktivitas - aktivitas yang bertujuan dan memiliki tujuan dimana
guru berbagi informasi dengan mahasiswa untuk memungkinkan mereka menyelesaikan
sesuatu tugas yang tidak bisa diselesaikan sendiri sebelum itu.

Sulaiman Masri, Mashudi Bahari, Juliliyana Mohd Junid (2007)


Pengajaran merupakan proses kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai unsur
termasuk kualitas pengajaran, kecerdasan, bakat dan minat siswa serta pengaruh motivasi,
lingkungan sekolah, rumah dan dorongan orang tua terhadap siswa.

Sedangkan menurut penulis, pengajaran adalah proses berbagi informasi dari


pengajar kepada murid dengan tujuan murid dapat meyelesaikan masalah sendiri

2.1.3 Kaitan Hadits dengan Fiqih


Dasar Hukum Dakwah dan Pengajaran
Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa hukum dakwah adalah wajib kifayah.
Antara dakwah dan Islam merupaka satu kesatuan yang ta dapat dipisahkan. Setiap muslim
diwajibkan menyampaikan dakwah Islam kepada seluruh manusia, sehingga mereka dapat
merasakan ketentraman dan kedamaian ( Pimay, 2006: 14 )

Hal ini berdasarkan firman Allah QS.Ali Imran ayat 104 :


َٰٓ
١٠٤ َ‫ع ِن ۡٱل ُمَّن َك ِۚ ِر َوأ ُ ْولَئِكَ ُه ُم ۡٱل ُم ۡف ِل ُحون‬ ِ ‫ة َي ۡدعُونَ ِإلَى ۡٱلخ َُۡي ِر َو َي ۡأ ُم ُرونَ ِب ۡٱل َمۡعۡ ُر‬ٞ ‫َو ۡلت َ ُكن ِمَّن ُك ۡم أُم‬
َ َ‫وف َو َي َّۡن َه ۡون‬
104. (Hendaklah ada di antara kamu satu golongan yang menyeru kepada kebaikan) ajaran
Islam (dan menyuruh kepada yang makruf dan melarang dari yang mungkar. Merekalah)
yakni orang-orang yang menyeru, yang menyuruh dan yang melarang tadi (orang-orang
yang beruntung) atau berbahagia. 'Min' di sini untuk menunjukkan 'sebagian' karena apa
yang diperintahkan itu merupakan fardu kifayah yang tidak mesti bagi seluruh umat dan
tidak pula layak bagi setiap orang, misalnya orang yang bodoh. ( Tafsir Jalalain: Jalaluddin
Asy Suyuthi dan Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al Mahally )

Ini juga merupakan salah satu munasabah Al Quran dengan Al Hadits dengan pola
ta’kid. Dimana satu sama lain saling menguatkan perintah dakwah, yakni seruan amar
ma’ruf nahi munkar.

‫ َح َّدثَنَا‬،‫ ح و َح َّدثَنَا ُم ََح َّم ُد ْبنُ ا ْل ُمثَنَّى‬. َ‫س ْفيَان‬ ُ ‫ ع َْن‬،‫ َح َّدثَنَا َو ِكيع‬،َ‫ش ْيبَة‬ َ ‫] َح َّدثَنَا أَبُو بَك ِْر ْبنُ أَبِي‬52[ -)73(
،‫ِيث أ َ ِبي بَك ٍْر‬
ُ ‫ َو َهذَا َحد‬،‫ب‬ ٍ ‫ش َها‬ ِ ‫ ع َْن َط ِار‬،‫س ِل ٍم‬
ِ ‫ق ب ِْن‬ ْ ‫ْس ب ِْن ُم‬ ِ ‫ ع َْن قَي‬،‫ش ْعبَةُ ِك ََل ُه َما‬ ُ ‫ َح َّدثَنَا‬،‫ُم ََح َّم ُد ْبنُ َج ْعفَ ٍر‬
:َ‫ ] فَقَال‬22 ‫ ص‬: 2 ‫ [ ج‬،‫ فَقَا َم ِإِلَ ْي ِه َر ُجل‬، ُ‫ َم ْر َوان‬،‫ص ََل ِة‬ َّ ‫ قَ ْب َل ال‬،ِ‫ أ َ َّو ُل َم ْن بَ َدأ َ بِا ْل ُخ ْطبَ ِة يَ ْو َم ا ْل ِعيد‬:َ‫قَال‬
‫سو َل‬ ُ ‫س ِمعْتُ َر‬ َ ،‫علَ ْي ِه‬ َ ‫ أ َ َّما َهذَا فَقَ ْد قَضَى َما‬:‫س ِعي ٍد‬ َ ‫ فَقَا َل أَبُو‬، َ‫ قَ ْد ت ُ ِركَ َما ُهنَا ِلك‬:َ‫ فَقَال‬،‫ص ََلةُ قَ ْب َل ا ْل ُخ ْطبَ ِة‬ َّ ‫ال‬
‫ ص‬: 2 ‫سَت َ ِط ْع[ ج‬ َ َ َ َ
ْ َ‫ ف ِإ ْن لَ ْم ي‬،‫ " َم ْن َرأى ِم ْن ُك ْم ُم ْنك ًَرا ف ْليُغَيِ ْرهُ بِيَ ِد ِه‬:‫َّللاِ صلى هللا عليه وسلم قا َل يَقُو ُل‬ َّ
‫ان‬
ِ ‫اإلي َم‬
ِ ‫ف‬ ُ َ‫ضع‬ ْ َ ‫ َوذَ ِلكَ أ‬،‫سَت َ ِط ْع فَبِقَ ْلبِ ِه‬
ْ َ‫ فَ ِإ ْن لَ ْم ي‬،‫سانِ ِه‬
َ ‫ ] فَبِ ِل‬25 ‫ ص‬: 2 ‫ ][ ج‬24 ‫ ص‬: 2 ‫ ][ ج‬23
‫ ع َْن‬،‫ش‬ ُ ‫ َح َّدثَنَا اْل َ ْع َم‬،َ‫ ] َح َّدثَنَا أَبُو ُم َعا ِويَة‬26 ‫ ص‬: 2 ‫ [ ج‬،‫ب ُم ََح َّم ُد ْبنُ ا ْل َع ََل ُِء‬ ٍ ‫ َح َّدثَنَا أَبُو ك َُر ْي‬."
،‫ب‬ٍ ‫ش َها‬ ِ ‫ق ب ِْن‬ ِ ‫ ع َْن َط ِار‬،‫س ِل ٍم‬ ْ ‫ْس ب ِْن ُم‬ ِ ‫ َوع َْن قَي‬،ِ ‫س ِعي ٍد ا ْل ُخد ِْري‬ َ ‫ ع َْن أ َ ِبي‬،‫ ع َْن أ َ ِبي ِه‬، ٍ‫س َما ِعيل ب ِْن َرجَاُء‬ ْ ِ‫ِإ‬
ُ ‫ َو‬،َ‫ش ْعبَة‬
َ‫س ْفيَان‬ ُ ‫ث‬ ِ ‫ بِ ِمثْ ِل َحدِي‬K ِ ‫ ع َِن النَّبِي‬،ٍ‫س ِعيد‬ َ ‫ث أَبِي‬ َ ‫ع َْن أَبِي‬
َّ ِ‫ فِي ق‬،ِ ‫س ِعي ٍد ا ْل ُخد ِْري‬
ِ ‫ص ِة َم ْر َوانَ َو َحدِي‬

“Barang siapa diantara kamu melihat kemunkaran maka hendaklah ia merubah dengan
tangannya, jika tidak kuasa maka dengan lisannya, jika tidak kuasa dengan lisannya maka
dengan hatinya, yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Hadits di atas menunjukkan perintah kepada umat Islam untuk melakukan dakwah
sesuai dengan kemampuan masing-masing. Apabila seorang muslim mempunyai sesuatu
kekuasaan tertentu maka dengan kekuasaannya itu ia diperintah untuk mengadakan
dakwah. Jika ia hanya mampu dengan lisannya maka dengan lisan itu ia diperintahkan
untuk mengadakan seruan dakwah, bahkan sampai diperintahkan untuk brdakwah dengan
hati, seandainaya dengan lisan pun ternyata ia tidak mampu (Munir, 2009: 53).

Bahkan dalam hadits Nabi yang lain dinyatakan:

،َ‫سانُ ْبنُ ع َِطيَّة‬ َّ ‫ َح َّدثَنَا َح‬،‫ أ َ ْخبَ َرنَا ْاْل َ ْو َزا ِع ُّي‬،‫ض ََّحاكُ ْبنُ َم ْخلَ ٍد‬ ِ ‫] َح َّدثَنَا أَبُو ع‬3461[ -)3226(
َّ ‫َاص ٍم ال‬
‫ " بَ ِلغُوا عَنِي َولَ ْو آيَةً َو َح ِدثُوا‬:َ‫ أَن النَّبِيَّصلى هللا عليه وسلم قَال‬،‫َّللاِ ب ِْن ع َْم ٍرو‬ َ ‫ ع َْن‬،َ‫ع َْن أَبِي َك ْبشَة‬
َّ ‫ع ْب ِد‬
" ‫علَ َّي ُمَتَعَ ِمدًا فَ ْليََتَبَ َّوأْ َم ْقعَ َدهُ ِمنَ النَّ ِار‬
َ ‫ب‬ َ َ‫س َرائِي َل َو ََل َح َر َج َو َم ْن َكذ‬
ْ ‫ع َْن بَنِي ِِإ‬
“Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat.” (HR. Al-Bukhari)

Perintah ini disampaikan Rasulullah kepada umatnya agar mereka menyampaikan


dakwah meskipun hanya satu ayat. Ajakan ini berarti bahwa setiap individu wajib
menyampaikan dakwah sesuai dengan kadar kemampuannya.

Dasar hukum pengajaran dalam islam melihat kembali kepada hukum belajar dan menuntut
ilmu itu sendir. Dimana dalam hadits Rasulullah menegaskan bahawa “menuntut ilmu
adalah fardhu bagi tiaptiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan.”( HR. Ibnul Abdul
Barr )

2.2 Cara Dakwah dan Pengajaran


Menurut Asmuni Syukir untuk mecapai tujuan dakwah yang efektif dan efisien,
beberapa metode dakwah yang dapat digunakan oleh juru dakwah antara lain:8
a. Metode Ceramah (Retorika)

8
Asmuni Syukir, Op. Cit., Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, hlm. 104-160
Ceramah adala suatu metode dakwah yang banyak diwarnai oleh ciri karakteristik
bicara seorang da‟i atau mubaligh pada suatu aktivitas dakwah. Ceramah dapat pula
bersifat propaganda, kampanye, berpidato (retorika), khutbah, sambutan, mengajar, dan
sebagainya.
b. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah penyampaian materi dakwah dengan cara mendorong
sasarannya (obyek dakwah) untuk menyatakan sesuatu masalah yang dirasa belum
mengerti dan da‟i atau mubaligh sebagai penjawabnya.
c. Metode Debat (Mujadalah)
Debat adalah mempertahankan pendapat dan idiologinya agar pendapat dan
idiologinya itu diakui kebenaran dan kehebatannya oleh musuh (orang lain).

d. Metode Percakapan Antar Pribadi (Percakapan Bebas)


Percakapan antar pribadi atau individu conference adalah percakapan bebas antara
seseorang da‟i atau mubaligh dengan individu-individu sebagai sasaran dakwahnya.
Percakapan pribadi bertujuan untuk menggunakan kesempatan yang baik di dalam
percakapan atau mengobrol untuk aktivitas dakwah.
e. Metode Demonstrasi
Berdakwah dengan cara memperlihatkan suatu contoh, baik berupa benda,
peristiwa, perbuatan dan sebagainya dapat dinamakan bahwa seorang da‟i yang
bersangkutan menggunakan metode demonstrasi. Artinya suatu metode dakwah, dimana
seorang da‟i memperlihatkan sesuatu terhadap sasarannya (massa), dalam rangka
mencapai tujuan dakwah yang diinginkan.
f. Metode Mengunjungi Rumah (Silaturrahmi)
Metode dakwah yang dirasa efektif juga untuk melaksanakan dalam rangka
mengembangkan maupun membina umat Islam ialah metode dakwah dengan mengunjungi
rumah obyek dakwah atau disebut dengan metode silaturrahmi atau home visit.

Menurut Quraish Shihab materi dakwah yang disajikan oleh Al-Qur‟an dibuktikan
kebenarannya dengan argumentasi yang dipaparkan atau dapat dibuktikan manusia melalui
penalaran akalnya, kenyataan ini dapat ditemui hampir pada setiap permasalahan yang
disajikan oleh Al- Qur‟an, ada kalanya Al-Qur‟an menuntut manusia dengan redaksi-
redaksi yang sangat jelas dengan tahapan pemikiran yang istematis sehingga manusia
menemukan sendiri kebenaran yang dikehendaki. 9

Methode Dakwah pada Alam Kontemporer


Bila kita belajar dari pengalaman para Nabi 'alaihimus salam dalam berdakwah,
kemudian kita praktekkan pada kondisi kita sekarang ini, maka kita temukan banyak titik

9
Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan,1999), hlm. 196.
persamaan antara dua zaman yang berbeda. Dan tak diragukan lagi jika kita berpegang
teguh kepada Al Qur'andan Sunnah Nabi SAW.
maka hal itu sudah cukup menjadi pedoman kita dalam berdakwah, dan tidak perlu lahirnya
seorang nabi baru sampai hari kiamat. Karena seluruh ajaran agama telah sempurna. Allah
SWT. berfirman :
‫ص ٍة غ َُۡي َر‬ ۡ ‫ٱۡل ۡسلَ َم ِدي َّٗن ِۚا فَ َم ِن‬
ُ ‫ٱض‬
َ ‫طر فِي َم ۡخ َم‬ ِ ۡ ‫ضُيتُ لَ ُك ُم‬ َ ُ‫ۡٱلُيَ ۡو َم أ َ ۡك َم ۡلتُ لَ ُك ۡم ِديَّنَ ُك ۡم َوأ َ ۡت َممۡ ت‬
ِ ‫علَ ُۡي ُك ۡم نِۡعۡ َمتِي َو َر‬
٣ ‫ُيم‬ٞ ‫ور ر ِح‬ ٞ ُ‫غف‬ َ َ‫ف ِ ِۡل ۡث ٖم فَإِن ٱَّلل‬ ٖ ِ‫ُمت َ َجان‬
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu) yakni hukum-hukum halal
maupun haram yang tidak diturunkan lagi setelahnya hukum-hukum dan kewajiban-
kewajibannya (dan telah Kucukupkan padamu nikmat karunia-Ku) yakni dengan
menyempurnakannya dan ada pula yang mengatakan dengan memasuki kota Mekah dalam
keadaan aman (dan telah Kuridai) artinya telah Kupilih (Islam itu sebagai agama kalian.
Maka siapa terpaksa karena kelaparan)” (QS. Al-Maidah : 3)
Hukum-hukum syari'at itu sangatlah sempurna. Ia memancarkan sinar hidayah bagi
manusia dan akan menetapkan hati kaum muslimin agar istiqamah di atas jalan yang benar.

2.3. Sikap Berdakwah dan Mengajar


Pendidikan dan pengajaran yang dipilih oleh Nabi Muhammad saw dalam
mendidik para sahabat, dipilihnya dengan cara-cara yang terbaik, sehingga mudah
dipahami dan diaplikasikan dengan tidak perlu lagi muncul banyak pertanyaan dari orang
yang dididik. Tentunya bentuk pendidikan yang disampaikan sesuai sebagaimana nilai-
nilai dari wahyu yang telah Allah turunkan melalui perantara malaikat Jibril kepada Nabi
saw.
Di antara sikap pengajaran Nabi saw kepada para sahabat yaitu :
a. Pengajaran Nabi saw melalui perjalanan hidup yang baik dan mencontohkan akhlak
mulia
Sikap pengajaran ini ditunjukan Nabi saw agar para sahabat dapat mencontoh
segala macam tingkah laku perbuatan Muhammad sebagai utusan Allah, yang mempunyai
uswah hasanah. Allah telah menyatakan dalam a-Qur‟an

َ َ‫ق ٱَّللَ َو ََل ت ُ ِطعِ ۡٱل َك ِف ِرينَ َو ۡٱل ُمَّنَ ِف َِقُي ِۚنَ إِن ٱَّللَ َكان‬
١ ‫ع ِلُي ًما َح ِك ُٗيما‬ ُّ ِ‫يََٰٓأَيُّ َها ٱلَّنب‬
ِ ‫ي ٱت‬
(Hai Nabi! Bertakwalah kepada Allah) teguhkanlah dirimu dalam bertakwa kepada Allah
(dan janganlah kamu menuruti keinginan orang-orang kafir dan orang-orang munafik)
dalam hal-hal yang bertentangan dengan syariatmu. (Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui) apa yang akan terjadi sebelumnya (lagi Maha Bijaksana) di dalam mengatur
urusan makhluk-Nya.
Menurut „Abd Fattah Abu Ghuddah dalam bukunya al-Rasul al-Mu‟allim, bahwa
tidak diragukan lagi pendidikan melalui perbuatan dan tingkah laku lebih kuat melekatnya
pada diri seseorang, serta mudah dipahami dan dijaga.10

(‘Abd Fattah Abu Ghuddah, al-Rasu>l al-Mu’allim wa Asali buhu fi al-Ta’li m (Beirut,
10

Dar al-Basha ir al-Islamiyah 2008), hlm. 65


b. Nabi saw Mengajarkan syariat dengan cara bertahap
Proses dalam membentuk karakter seseorang sangat diperlukan dalam pendidikan,
tidak mesti lalu menghasilkan dengan cara yang instant. Dalam teknik pengajarannya,
Rasul saw mengajarkan satu persatu syariat hingga para sahabat paham secara mendalam
secara definisi dan aplikasi nilai dari satu syariat tersebut, kemudian diaplikasikannya
dalam kehidupan mereka serta meresap sampai ke hati dengan terhindar dari rasa keraguan
dalam menjalakannya.
Berkenaan pengajaran Rasul yang mempunyai gaya bertahap dalam mendidik, di
sini ada sebuah hadis dari Imam Ibnu Majah, menjelaskan tentang proses pendidikan yang
diawali dengan iman lalu pembelajaran al-Qur‟an.

ٌ ‫ كَّنا مع الَّنبي صلى هللا علُيه وسلم ونحن فِتْ َُي‬:‫ب بن عبد هللا قال‬
‫ان َحزَ ا ِو َرة ٌ فتۡعلمَّنا اۡليمان قبل‬ ِ ُ‫عن ُج َّْند‬
‫) والطبراني في المۡعجم الكبُير‬61( ‫أن نتۡعلم الَقرآن ثم تۡعلمَّنا الَقرآن فازددنا به إيمانا ً ) رواه ابن ماجة‬
‫) وهو حديث صحُيح‬5075( ‫) والبُيهَقي في سَّنَّنه الكبرى‬1678(

Dari Jundub bin Abdillah beliau berkata: "Dahulu kami ketika remaja bersama Rasulullah
shallallaahu 'alaihi wa sallam, kami belajar iman sebelum Al Qur'an kemudian setelah
kami belajar Al Qur'an bertambahlah keimanan kami. Sedangkan kalian sungguh pada
hari ini justru belajar Al Qur'an dulu sebelum belajar iman" (Riwayat At Thabrani, Al
Baihaqi, Ibn Majah, dishahihkan Al Albani).

c. Gaya mengajar Rasul saw dengan berdialog dan mengajukan pertanyaan


Salah satu gaya dan cara mendidik Rasulullah saw ialah dengan berdialog dan
mengajukan pertanyaan. Karena hal ini lebih membekas pada diri para sahabat Nabi yang
mendengarkannya, kemudian disertai dengan jawaban sesuai dengan takaran pemahaman
teman berdialog beliau saw. Hal ini, dilakukan oleh Nabi agar dapat membuka pemahaman
kepada mereka dari kunci gembok yang menutupi lintasan pikiran.
Diriwayatkan dari Imam Bukhari dan Imam Muslim, dan lafaz dari Imam Muslim,
dari Abu Hurairah radhiya Allahu „anhu, ia berkata: Rasulullah shallahu „alaihi wa
sallam bersabda: Bagaimana menurut kalian, apabila ada sungai di depan pintu rumah
salah seorang dari kalian, lalu dia mandi lima kali setiap hari, apakah kalian masih
menganggap ada kotoran (daki) yang tersisa padanya? Sahabat menjawab, tidak ada
tersisa sedikitpun kotoran padanya. Lalu beliau bersabda: seperti itu pula shalat lima
waktu, dengannya Allah akan menghapus semua kesalahan.

d. Pengajaran Rasulullah saw dengan berdialog dan pertimbangan akal.


Bentuk pengajaran Rasulullah selain melalui berdialog dan bertanya jawab, beliau
juga menerapkan cara percakapan dan pertimbangan dangan akal para sahabat pada saat
itu. pada pengajaran ini Rasul saw lebih mengajak akal manusia agar dapat berpikir serta
mempertimbangkan mengenai apa yang beliau ajarkan adalah suatu hukum, syariat atau
sebuah hikmah.
Hadis diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, lafadznya dari Imam
Bukhari, dari Abi Sa‟id al-Khudri radhiya Allahu „anhu, ia berkata: Ketika Rasulullalh
sedang keluar untuk melaksanakan shalat Ied Adha atau Ied Fitri di tempat shalat, lalu
beliau bersabda: Wahai kaum perempuan, percayalah bahwa aku melihat kalian paling
banyak berada di neraka. Maka mereka menjawab (dengan pertanyaan): bagaimana bisa
ya Rasulullah saw? Rasulullah menjawab: kalian banyak berbuat sesuatu yang dilaknat
dan kufur terhadap nikmat, aku tidak melihat dari kekurangan akal dan agama pergi ke
pembakaran api bagi laki-laki dari pada perempuan. Mereka bertanya kepada Nabi saw:
Apa yang menjadikan kekurangan akal dan agama kami ya Rasulullah? Rasulullah
bersabda: Bukankah syahadat perempuan itu seperti setengah syahadat dari laki-laki?
Lalu mereka menjawab: iya, maka Rasul saw meneruskan sabdanya: oleh karena itu, dari
kekurangan akalnya (perempuan), bukankan apabila mereka haidh mereka tidak puasa
dan tidak shalat? Lalu mereka berkata: benar, dilanjutkan oleh Rasulullah dengan
sabdanya: maka dari itulah kekurangan agama bagi perempuan.

e. Pengajaran Rasulullah saw dengan cara memberi qiyasan dan perumpamaan.


Pengaruh pengajaran Rasu-lullah saw meliputi segala aspek pendidikan pada masa
itu. Nabi saw selalu mengajarkan sesuai dengan kebutuhan para sahabat baik berkenaan
dengan hukum di mana Nabi saw mengutarakannya dengan dalil-dalil syar‟i. Namun,
terkadang beliau menyampaikan pengajarannya dengan cara mengutarakan dengan bentuk
qiyas26, apabila permasalahan hukumnya menyerupai jalan hukum agama walau Nampak
berbeda dilihat dari kondisi dan tempat kejadian permasalahan tersebut. Maka beliau
menjelaskan dengan perkara yang sama sesuai dengan pengetahuan dalam syariah, fikih
dan maqasidiha. Dalam hal ini, Imam Bukhari meriwayatkan hadis terkait pembahsan
pengajaran melalui qiyas.
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Ibnu Abbas r.a, bahwasanya seorang
perempuan dari Juhainah datang kepada rasulullah shallahu „alaihi wa sallam, dan ia
bertanya: aku mempunyai ibu yang bernazar untuk pergi haji, dan sebelum berangkat haji
ibu saya telah meninggal, maka apakah bagi saya untuk melaksanakan haji untuknya?
Rasulullah saw menjawab: iya, tunaikanlah haji untuknya, apakah kamu telah melihat jika
ibumu mempunyai hutang, apakah engkau akan membayarkannya? Ia menjawab: iya,
maka Rasulullah bersabda: lunasilah hutang kepada Allah, sesungguhnya janji Allah yang
lebih berhak untuk ditepati.

Hadis di atas menjelaskan bahwa qiyasan mengenai permasalahan ibadah haji yang
belum sempat dilakukan sedangkan seseorang yang melaksanakan ibadah tersebut
bernazar namun terlebih dahulu meninggal. Perkara ini diqiyaskan kepada wajibnya
melunasi hutang kepada manusia, apalagi hutang yang bersangkutan merupakan hutang
antara manusia dengan Tuhannya, maka hal itu lebih berhak untuk dilunasi, walau diwakili
oleh ahli warisnya atau kerabatnya.

f. Kolaborasi Pengajaran Rasulullah saw antara penyampaian lisan disertai bahasa isyarat.
Terkadang sang Nabi saw melakukan metode pengajaran dengan cara berdialog
atau melontarkan pertanyaan. Namun adakalanya metode yang disampaikan dengan
mengkola-borasikan antara penyampaian lisan dengan isyarat, penjelasan dengan
memberikan sebuah gambaran atau menggunakan kedua tangan, sehingga dapat
menunjukan bahwa hal tersebut dapat menunjukkan bahwa pentingnya pembahasan yang
disampaikan serta mudah bagi para sahabat yang mendengar untuk mengingat pesannya.
Sedangkan hadis yang membahas tentang ini, mengutip periwayatan dari Imam Bukhari
dan Imam Muslim.
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, sedangkan lafadznya berasal
dari Imam Bukhari, dari Abu Musa al-Asy‟ari radhiya Allahu „anhu, ia berkata:
Rasulullah shallahu „alaihi wa sallam bersabda: Orang-orang beriman ibarat seperti
sebuah bangunan, saling menguatkan antara satu dengan lainnya, kemudian Rasul saw
menggabungkan kedua jarinya seperti mengikatkan keduanya.

g. Pengajaran Rasulullah saw diawali dengan sebuah statement tanpa soal.


Sebagai seorang guru, Rasulullah saw tidak mengajarkan kepada para sahabat
beliau dengan menggunakan satu atau dua metode, beliau mempunyai banyak alternatif
sehingga para sabahat ketika tidak memahami dengan penjelasan dari Rasul saw, maka
beliau akan memperjelasnya dengan cara yang mudah dipahami oleh sahabat. Salah satu
metode yang beliau gunakan adalah, diawalinya pengajaran dengan cara memberikan
statement, atau cara agar para sahabat dapat menjawab segala bentuk tuduhan-tuduhan
yang menyudutkan ajaran yang beliau ajarkan. Salah satu hadis yang akan dikutip
mengenai metode pembelajaran Rasulullah yaitu, hadis yang diriwayatkan oleh Imam
Bukhari dan Imam Muslim,
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiya
Allahu „anhu ia berkata: Rasulullah shallahu „alaihi wa sallam bersabda: suatu ketika
syaitan datang kepada kalian, kemudian ia mengatakan, siapa yang menciptakan ini dan
itu? hingga dia mengatakan baginya, siapa yang menciptakan Tuhanmu? Maka apabila
sampai pada pertanyaan tersebut pintalah perlindungan kepada Tuhanmu (Allah swt) dan
selesai.

h. Rasulullah saw Menjawab pertanyaan yang bertanya tentang apa yang ditanyakan.
Setiap pengajaran Nabi Muhammad saw, selalu bernilai syariat dan hukum demi
kepentingan agama pada saat itu serta untuk umatnya setelah beliau wafat. Beliau
mengajarkan ilmu dan pengetahuan agama dengan bermacam-macam metode, berikutnya
adalah dengan cara menjawaban pertanyaan para sahabat yang bertanya sesuai dengan apa
yang ditanyakan. Baik berupa aturan-aturan agama, nasehat-nasehat bagi para sahabat Nabi
saw yang bertanya berkenaan dengan sesuatu yang akan musnah maupun yang telah hilang
dari pengetahuan yang diperlukan oleh penanya tentang ajaran agama. Berkenaan dengan
metode ini, akan dikutip dari hadis diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Abu Daud
dari sahabat Ibnu Abbas r.a.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam abu Daud, dan lafadznya dari Imam
Abu Daud, dari Ibnu Abbas radhiya Allahu „anhuma, ia berkata: Rasulullah shallahu
„alaihi wa sallam mengutus seorang al-Aslami, bersamanya Rasul saw mengutus delapan
belas unta, maka al-Aslami berkata kepada Rasulullah saw: Apakah engkau telah melihat
bahwa aku dirayap oleh unta itu? Rasul saw berkata: sembelihlah ia, kemudian warnai
daerah kaki di darahnya, kemudian pukul ia, dan jangan engkau makan darinya, dan tidak
seorang pun dari rombonganmu.

2.4 Pesan Moral Dakwah / Pengejawantahannya Dengan Konteks Kehidupan Nyata


Setiap orang memiliki pemahaman yang berbeda. Di era modern ini kehidupan
manusia yang kian hari semakin terlihat dekadensi moralnya menyebabkan para alim
ulama serta para pengajar mesti memperketat proses dakwah dan pengajaran nya. Proses
secara bertahap mulai dari anak-anak hingga para orang tua, sebaiknya diberikan
pengajaran sesuai dengan cara yang tepat. Dengan etika serta kasih sayang dakwah dan
pengajaran harus disampaikan, sehingga tidak terasanya pandang bulu dikalangan murid
dan guru yang sebaya ataupun rasa direndahkan antara murid yang lebih berumur dari sang
guru.

Dakwah merupakan salah satu cara atau metode dalam pengajaran. Dakwah dan
pengajaran ini merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Karena tidak mungkin
terjadinya proses pengajaran apabila tidak diiringi oleh seorang yang berdakwah. Namun
konteks berdakwah dan mengajar ini tentu berbeda. Dalam segi sang penyampai, dimana
seorang yang berdakwah tidak diharuskan mempunyai ilmu luas bahkan legalitas, sesuai
dengan salah stu haidts Rasul " balighul anni walau ayyah" maksudnya adalah setiap orang
daoat menyampaikan apapun ilmu itu baik sedikit atau banyak kepada orang lain selama
hal itu menunjukkan kepada jalan kebaikan.
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Menurut Prof. Toha yahya Umar, MA. Dalam bukunya “Ilmu Dakwah”
mendefinisikan dakwah adlah mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang
benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka di dunia
dan akhirat. Sedangkan pengertian pengajaran menurut Kamarudin (1993), Pengajaran
adalah suatu proses penanganan urusan untuk memungkinkan siswa mengetahui atau
menyelesaikan sesuatu yang mereka tidak dapat lakukan sendiri sebelum itu. Sebagian
ulama yang lain berpendapat bahwa hukum dakwah adalah wajib kifayah. Antara dakwah
dan Islam merupakan satu kesatuan yang ta dapat dipisahkan. Setiap muslim diwajibkan
menyampaikan dakwah Islam kepada seluruh manusia, sehingga mereka dapat merasakan
ketentraman dan kedamaian.
Menurut Asmuni Syukir untuk mecapai tujuan dakwah yang efektif dan efisien,
beberapa metode dakwah yang dapat digunakan oleh juru dakwah yaitu metode ceramah,
tanya jawab, percakapan, demonstrasi dan mengunjungi rumah. Sedangkan Methode
Dakwah pada Alam Kontemporer, bila kita belajar dari pengalaman para Nabi 'alaihimus
salam dalam berdakwah, kemudian kita praktekkan pada kondisi kita sekarang ini, maka
kita temukan banyak titik persamaan antara dua zaman yang berbeda. Dan tak diragukan
lagi jika kita berpegang teguh kepada Al Qur'andan Sunnah Nabi SAW. maka hal itu
sudah cukup menjadi pedoman kita dalam berdakwah, dan tidak perlu lahirnya seorang
nabi baru sampai hari kiamat. Karena seluruh ajaran agama telah sempurna.
Adapun sikap dakwah dan mengajar, pendidikan dan pengajaran yang dipilih oleh
Nabi Muhammad saw dalam mendidik para sahabat, dipilihnya dengan cara-cara yang
terbaik, sehingga mudah dipahami dan diaplikasikan dengan tidak perlu lagi muncul
banyak pertanyaan dari orang yang dididik. Tentunya bentuk pendidikan yang disampaikan
sesuai sebagaimana nilai-nilai dari wahyu yang telah Allah turunkan melalui perantara
malaikat Jibril kepada Nabi saw.
Pesan Moral Dakwah dengan konteks kehidupan nyata, yaitu setiap orang memiliki
pemahaman yang berbeda. Di era modern ini kehidupan manusia yang kian hari semakin
terlihat dekadensi moralnya menyebabkan para alim ulama serta para pengajar mesti
memperketat proses dakwah dan pengajaran nya. Proses secara bertahap mulai dari anak-
anak hingga para orang tua, sebaiknya diberikan pengajaran sesuai dengan cara yang tepat.
Dengan etika serta kasih sayang dakwah dan pengajaran harus disampaikan, sehingga tidak
terasanya pandang bulu dikalangan murid dan guru yang sebaya ataupun rasa direndahkan
antara murid yang lebih berumur dari sang guru.

3.2 Saran

Telah kami susun makalah ini dengan usaha sebaik mungkin. Kami kaji dari
beberapa sumber dan aplikasi yang cukup berbobot. Kami harap apa yang telah disajikan
ini sesuai dengan ekspektasi para pembaca.

Untuk pengembangan lebih lanjut maka penulis memberikan saran yang sangat
bermafaat dan dapat membantu para pembaca dengan rekomendasi materi mengenai:

1. Implikasi haidts dakwah dengan fiqih.

2. Realisasi tema pembahsan dalam konteks kehidupan nyata.


DAFTAR PUSTAKA

Aplikasi Maktabah Syamilah.

Asmuni, Syukir. 1983. “Dasar-Dasar Startegi Dakwah Islam. Surabaya. Al Ikhlas,


Ja’far, Abu Fir’adi Nasruddin. Mata Kuliah Dakwah.

Muslim, Abu Abdullah, AL-HIKMAH: Jurnal Dakwah, Volume 13, Nomor 1,


Tahun 2019 [P. 091-112]. Metode Dakwah Dalam Pengajaran Nabi Perspektif Hadits.
2019.

Shihab, Quraish. 1999. Membumikan Al-Qur’an. Bandung.Mizan.

Amin, Samsul Munir. 2009. Ilmu Dakwah. Jakarta: Hamzah.

Saputra. 2011. Pengantar Ilmu Dakwah. Jakarta. PT.Raja Grafindo Persada.

Tafsir Jalalain : Jalaluddin Asy Suyuthi.

www.dosenpendidikan.co.id diakses pada 1 Oktober 2019.