Anda di halaman 1dari 39

BAB 13

Disamping menghasilkan produk sisa, proses produksi


dimungkinkan memunculkan produk gagal (failure product) yang
dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis, yaitu produk rusak dan
produk kusip. Disebut produk rusak (spoilage product) jika
produk gagal secara ekonomi tidak lagi layak untuk diperbaiki.
Sementara itu, disebut produk kusip (defective product) jika
produk gagal perlu dilakukan perbaikan agar sesuai kualitas
standar yang telah ditetapkan.
Perusahaan pada umumnya membutuhkan informasi yang
memadai tentang produk gagal sehingga produk gagal lazimnya
ditampung di akun persediaan secara terpisah. Selanjutnya,
kerugian akibat dari produk gagal disarankan segera diakui ketika
produk rusak tersebut teridentifikasi, tanpa harus menunggu ketika
produk terjual.
1. AKUNTANSI PRODUK RUSAK
Kerugian akibat produk rusak yang terjadi secara rutin umumnya
dialokasikan ke kos overhead pabrik. Besarnya kerugian dihitung
dad kos yang telah dinikmati produk rusak dikurangi estimasi
harga jual dad produk rusak. Ketika produk rusak dijual, jika
terjadi selisih antara harga jual sesungguhnya dan estimasi harga
jual, maka selisih diakui sesuai kebijakan yang telah ditetapkan
manajemen.
• 13 Desember perusahaan AIR mengidentifikasi adanya 40 unit produk rusak
yang rutin terjadi pada proses
produksi 10.000 unit. Produk rusak tersebut diketahul telah
menikmati kos produksi sebesar Rp25.000/unit. Estimasi
harga jual produk rusak Rp8.000/unit. Kerugian
dialokasikan sebagai Kos overhead pabrik.
• 23 Desember perusahaan AIR menjual tunai semua produk rusak dengan
harga jual Rp10.000/unit, Sistem
Perpetual Murni digunakan. Penjualan produk rusak
ditampung di akun Penjualan produk rusak.Pencatatan yang
diperlukan:
13Des Persediaan produk rusak Rp320.000 Rp320
Kos overhead pabrik Rp680.000 Rp680
Persediaan produk dalam proses Rp1.000.000
(Pengakuan produk rusak: peristiwa rutin)

23 Des Kas Rp400.000 Rp400


Penjualan produk rusak Rp80.000
Kos produk terjual — produk rusak Rp320.000 Rp320
Persediaan produk rusak Rp320.000
(Sistem Perpetual Mumi: Penjualan produk rusak)

Jika produk rusak terjadi secara tidak rutin maka perlu


diidentifikasi faktor-faktor penjelas terjadinya kerusakan.
Kerugian lazimnya diakui sebagai kerugian lain-lain yang
merupakan beban operasional, bukan kos produksi.
• 3 Mei perusahaan SABAR menemukan 120 unit produk rusak yang terjadi
secara tidak rutin, yaitu karena
listrik padam. Produk rusak telah menikmati kos produksi
Rp10.0001unit. Estimasi harga jual produk rusak tersebut
sebesar Rp4.000/unit. Kerugian dialokasikan ke akun
Kerugian lain-lain.
• 20 Mei perusahaan menjual semua produk rusak tersebut dengan harga jual
Rp5.000/unit. Pencatatan
menggunakan sistem Perpetual Modifikasian. Selisih
(margin)antara harga jual dan estimasinya juga dicatat di
akun Kerugian lain-lain sebagai penambah/pengurang
kerugian. Pencatatan yang diperlukan:
3 Mei Persediaan produk rusak Rp. 480.000
Kos overhead pabrik Rp. 320.000
Persediaan produk dalam proses Rp. 1.200.000
(Pengkuan produk rusak: peristiwa rutin)
20 Mei Pulang dagang Rp. 600.000
Kerugian lain-lain Rp. 120.000
Persedian produk rusak Rp. 480.000
(Sistem Perpetual Modifikasian: Penjualan produk rusakak
dengan harga lebih tinggi dari estimasi)

2. AKUNTANSI PRODUK KUS1P


Jika produk kusip terjadi secara rutin maka kerugian lazimnya
dialokasikan ke kos overhead pabrik. Tambahan kos produksi
dikan langsung ke produk kusip (metode Langsung). Hasil
penjualan produk kusip umumnya ditampung secara terpisah,
misalnya di akun Penjualan produk kusip.
• 17 Mei perusahaanmengidentifikasi100 unit produk kusip yang rutin terjadi.
Produk tersebut telah menikmati
kos produksi Rp100.0001unit, dengan estimasi harga
wajar Rp80.000/unit. Perbaikan membutuhkan tambahan
kos berupa KBBL Rp500.000, KTKL Rp1.200.000 (tunai),
dan KOP Rp300.000 (pembebanan).
• 20 Mei perusahaan menjual tunai 75 unit produk kusip yang telah
diperbaiki dengan harga jual
Rp110.000/unit. Perusahaan menggunakan sistem Perpetual Mumi. Pencatatan
yang diperiukan:
17Mei Persediaan produk kusip Rp. 8.000.000
Kos overhead pabrik Rp. 2.000.000
Persediaan produk dalam proses Rp. 10.000.000
(Pengakuan produk kusip dan pengakuan kerugian dari peristiwa rutin)

17Mei Persediaan produk kusip Rp. 2.000.000


Persediaan bahan baku Rp. 500.000
Kas Rp. 1.000.000
Kas overhead pabrik Rp.300.000
(Pengakuan tambah kos produksi untuk produk kusip: KTKL-metode langsung, KOP-pembebanan)
20Mei Kas Rp. 8.250.000
Penjualan produk kusip Rp. 8.250.000
Kos produk terjual-produk kusip Rp. 7.500.000
Persediaan produk kusip Rp.7.500.000
(Sistem Perpetual Murni: Penjualan produk kusip, kosproduk kusip adalah sebesar Rp. 100.000/unit
yang dihitung dari [Rp.8.000.000+Rp.1.200.000+Rp.300.000]/100)

Jika produk kusip terjadi tidak rutin maka kerugian


(selisih kos dan harga wajar) lazimnya diakui sebagai kerugian/
pendapatan lain-lain. Selanjutnya, selisih(margin) penjualan
juga diakui sebagai kerugian/pendapatan lain-lain.
• 21 Agustus perusahaan ANGIN menetapkan 60 unit produk kusip yang terjadi
secara tidak rutin. Produk
kusip tersebut menikmati kos produksi Rp30.000/unit
dengan harga wajar Rp25.000/unit. Perbaikan
membutuhkan tambahan KBBL Rp100.000, KTKL
Rp150.000 (tunai), dan KOP Rp50.000 (pembebanan).
• 27 Agustus semua produk kusip dijual tunai Rp34.000/unit yang dicatat
menerapkan Perpetual Modifikasian
dimana selisih (margin) diakui sebagai biaya lain-lain atau pendapatan lain-lain.
Pencatatannya:
21 Agt Persediaan produk kusip Rp1.500.000
Kerugian/pendapatan lain-lain Rp300.000
Persediaan produk dalam proses Rp10.000.000
(Pengakuan produk kusip: peristiwa tidak rutin dan pengakuan kerugian dad
non-rutin)
21 Agt Persediaan produk kusip Rp300.000
Persediaan bahan baku Rp100.000
Kas Rp150.000
Kos overhead pabrik Rp50.000
(Pengakuan tambahan kos produksi produk kusip; KTKL-
Metode langsung, KOP pembebanan)

27Agt Kas Rp2.040.000


Persediaan produk kusip Rp1.800.000
Kerugian/pendapatan lain-lain Rp240.000
(Sistem Perpetual Modifikasian: Penjualan produk kusip, kos per unit Rp30.000
yang dihitung dad
[Rp1.500.000 + Rp100.000 + Rp150.000 + Rp50.0001160; dan pengakuan
selisih/margin penjualan)

A. MEMILIH JAWABAN
Pilihlah afternatif jawaban a s/d d. Jika dirasa tidak ada jawaban paling tepat,
tulislah "a' di bawah nomor soal.

01. Perbedaan produk gaga' dan produk sisa adalah:


a. Produk gagal terdiri dari produk sampingan
dan produk ampas, 'sedangkan produk sisa terdiri dari produk rusak dan
produk kusip.
b. Produk gagal menyebabkan kerugian
sedangkan produk sisa menghasilkan
penghasilan.
c. Produk gagal lebih banyak dihasilkan
dibanding produk sisa di proses produksi
normal.
d. Produk gagal lebih sering dihasilkan dibanding
produk sisa di proses produksi normal.

02. Produk gagal yang secara ekonomi tidak layak


diperbaiki sehingga langsung dijual lazim disebut:
a. Produk sampingan
b. Produk rusak
c. Produk ampas
cl. Produk kusip

03. Pengakuan etas kerugian yang terjadi akibat


adanya produk gagal lazimnya adalah:
a. Pada saat perencanaan.
b. Pada saat teridentifikasi.
c. Pada seat penjualan.
d. Pada saat diterima kas dari penjualan.

04. Jika produk rusak terjadi secara rutin maka


kerugian lazimnya dibebankan sebagai:
a. Kos overhead pabrik
b. Persediaan bahan baku langsung
c. Kos overhead pabrik
d. Kos produk terjual

05. Jika rusak terjadi secara tidak rutin (insidental)


maka kerugian lazimnya dibebankan sebagai:
a. Kerugian lain-lain (beban operasional)
b. Pendapatan lain-lain (penghasilan lain-lain)
c. Penambah kos produksi
d. Pengurangna kos produksi
06. Menerapkan sistem Perpetual Murni, akun yang
fazimnya tidak dibentuk yang terkait dengan
pencatatan produk rusak yang terjadi secara rutin adalah:
a. Persediaan produk rusak.
b. Kos produk terjual — produk rusak.
c. Kos overhead pabrik.
d. Margin penjualan — produk rusak.

07. 13 Des perusahaan manufaktur SUBUR


menemukan 60 unit produk rusak yang terjadi
secara rutin. Produk rusak telah menikmati kos
produksi Rp20.000/unit. Estimasi harga jual
produk rusak tersebut sebesar Rp6.0001unit.
Kerugian dialokasikan sebagai kos overhead
pabrik. Pencatatan yang diperlukan adalah:
a. Akun Persediaan produk rusak di debet
Rp360.000, akun Kos overhead pabrik di debet Rp840.000, dan
Persediaan produk dalam proses di kredit Rp1.200.000.
b. Akun Persediaan produk rusak di debet
Rp1,200.000, dan Persediaan produk dalam
proses di kredit Rp1.2000.000.
c. Akun Persediaan produk rusak di debet
Rp1.200.000, Kos overhead pabrik di kredit
Rp840.000, dan Persediaan produk dalam proses di kredit Rp360.000.
d. Akun Persediaan produk dalam proses di
debet Rp840.000, Kos overhead pabrik i debet
Rp360.000, dan Persediaan produk rusak di kredit Rp1.200.000.

08. Tambahan 3 jenis kos utama dalam proses


produksi terhadap produk kusip yang lazimnya
menggunakan metode Langsung ditampung di
akun:
a. Kos overhead pabrik.
b. Persediaan produk dalam proses.
c. Persediaan produk ku5ip.
d. Kos produk kusip terjual.
B. MENJAWAB SJNGKAT

1. Disebut produk rusak ( ) jika produk gagal secara ekonomi


untuk diperbaiki.
Sementara itu, disebut produk kusip ( ) jika produk gagal perlu dilakukan
agarsesuai kualitas standar yang telah ditetapkan.
2. Kerugian yang berasal dari adanya produk gagal disarankan segera diakui
ketika ( ), tanpa harus menunggu ketika produk terjual.
3. Kerugian akibat produk rusak yang terjadi secara rutin umumnya dialokasikan ke ( )
4. Besamya kerugian yang disebabkan dari produk gagal dihitung dari ( ) dikurangi
estimasi harga jual .dari produk rusak. Ketika produk rusak dijual, jika terjadi selisih
antara harga jual sesungguhnya dan estimasi harga jual maka selisih diakui sesuai
kebijakan yang telah ditetapkan.
5. Jika produk rusak terjadi secara tidak rutin maka perlu diidentifikasi faktor-faktor
penjelas terjadinya kerusakan. Kerugian Iazimnya diakui sebagai ( ) yang merupakan
beban ( ) I, bukan kos produksi.
6. Jika terjadi secara rutin maka produk gagal (balk rusak maupun kusip) lazimnya
dicatat menggunakan sistem ( ). Sementara itu, jika terjadi secara tidak rutin maka
produk gagal tersebut lazimnya dicatat menggunakan sistem ( )

C. ESSAY
SOAL 1
Manajer pabrik sepatu KIWOTENGEN melakukan inspeksi atas produk yang dihasilkan untuk
mengidentifikasi adanya produk rusak yang secara normal rutin terjadi. Produk rusak ditampung di
akun khusus, yaitu Persediaan produk rusak. Sistem pencatatan yang diterapkan untuk produk
rusak tersebut adalah sistem Perpetual Mumi. Kerugian yang disebabkan oleh produk rusak tersebut
segera dicatat ketika teddentifikasi, dan dialokasikan sebagai kos overhead pabrik.Berikut ini
informasi yang relevan dengan produk-produk gagal tersebut:
(a) 21 Agt: Terdapat 30 pasang sepatu jenis Running yang dinyatakan sebagai produk rusak. Kos
produksi yang telah dinikmati oleh sepatu jenis ini Rp17.000/pasang.
(b) 27 Agt: Semua produk rusak per 21 Agustus dijual secara kredit dengan kos Rp15.000/pasang.
Pencatatan, khususnya penjurnalan, yang diperlukan terkait dengan transaksi-transaksi di atas adalah:
Tgl Nama Akun Debet(Rp) Kredit(Rp)

SOAL 2
Manajer pabrik gerabah TANALIAT metakukan inspeksi atas
produk yang dihasilkan untuk mengidentifikasi adanya produk
rusak yang terjadi secara tidak rutin. Produk rusak ditampung di
akun khusus, yaitu Persediaan produk rusak. Sistem pencatatan
yang diterapkan untuk produk rusak tersebut adalah sistem
Perpetual Modifikasian. Kos produk rusak ditetapkan sebesar harga
wajar (estimasian) ketika produk rusak teridentifikasi, dan kerugian
langsung dicatat ketika teridentifikasi, dan dialokasikan sebagai
kerugian lain-lain. Jika ternyata harga jual berbeda dari kos yang
diestimasi maka selisih dialokasikan juga sebagai kerugian lain-
lain. Berikut ini informasi yang relevan dengan produk rusak yang
terjadi secara tidak rutin tersebut:
(a) 3 Mei: Terdapat 60 unit produk gerabah yang dinyatakan sebagai produk rusak
dengan rincian sebagai berikut:
• Gerabah Besar 15 unit dengan kos yang telah dinikmati Rp90.000/unit,
harga wajar Rp50.000/unit
• Gerabah Sedang 20 unit dengan kos yang telah dinikmati
Rp60.000/unit, harga wajar Rp30.000/unit
• Gerabah Kecil 25 unit dengan kos yang telah dinikmati Rp40,000/unit,
harga wajar Rp20.000Iunit.
(b) 13 Mei: Terjual secara tunai 10 unit gerabah Besar, 5 unit
gerabah Sedang, dan 5 gerabah Kecil dengan harga
jual gerabah Besar Rp40.0001unit, gerabah Sedang
Rp35.000/unit, dan gerabah Kecil Rp30.0001unit.
(c) 20 Mei: Terjual semua sisa gerabah rusak yang diketahui
tanggal 3 Mei lalu dengan harga jual gerabah Besar
Rp40.000/unit, gerabah Sedang Rp27.000/unit, dan gerabah
Kecil Rp25.000/unit. Penjualan dilakukan secara
barter dengan rekanan bahan baku. Dalam hal ini TANALIAT
menerima persediaan bahan baku senilal harga jual
semua gerabah yang diserahkan ke rekanan.

Pencatatan, khususnya penjurnalan, yang diperlukan terkait dengan transaksi-


transaksi di atas adalah:
Tgl Mama Alum Debet (Rp) Kredit (Rp)

SOAL 3
Manajer pabrik mebel kayu INGATMASA melakukan inspeksi
atas produk yang dihasilkan untuk mengidentifikasi adanya produk
kusip yang terjadi secara rutin. Produk kusip ditampung di akun
khusus, yaitu Persediaan produk kusip. Sistem pencatatan yang
diterapkan untuk produk kusip tersebut adalah sistem Perpetual
Mumi. Sesuai kelaziman yang balk, kerugian yang disebabkan
oleh produk kusip secara rutinlangsung diakui ketika teridentifikasi
dan dialokasikan sebagai kos overhead pabrik. Tambahan kos
produksi dicatat menggunakan metode Langsung. Berikut ini
informasi yang relevan dengan produk kusip tersebut:
a) 13 Des: Terdapat15 unit kursi yang dinyatakan sebagai produk kusip. Kos produksi
yang telah dinikmafi
Rp140.000/pasang dengan harga wajar Rpl 00.000/unit.
b) 14 Des: Kos bahan baku langsung tambahan untuk memperbaiki 15 unit produk
kusip Rp25.000/unit.
c) 16 Des: Kos tenaga kerja langsung tambahan untuk memperbaiki 15 unit produk
kusip Rp20.000/unit.
d) 20 Des: Kos overhead pabrik tambahan yang dibebankan untuk memperbaiki 15
unit produk kusip sebesar
25% dari kos tenaga kerja langsung.
e) 23 Des: Semua produk kusip dijual secara tunai dengan harga jual 90% dari harga
jual produk normal. Besaran
harga jual produk normal adalah Rp200.000/unit.

Pencatatan, khususnya penjurnalan, yang diperlukan terkait dengan transaksi-transaksi


di atas adalah:
Tgl Kama Akun Debet (Rp)
Kredit (Rp}

SQAL 4
Prusahaan Lingkar yang memproduksi beragam jenis roda
melakukan inspeksi proses produksi untuk mengidentifikasi
adanya produk gagal berupa produk kusip yang terjadi secara tidak
rutin. Produk kusip ditampung di akun khusus, yaitu Persediaan
produk kusip. Sistem pencatatan yang diterapkan untuk produk
rusak tersebut adalah sistem Perpetual Modifikasian, Kos produk
kusip ditetapkan sebesar harga wajar (estimasian) ketika produk
tersebut teridentifikasi, kerugian langsung dicatat ketika
teridentifikasi, dan dialokasikan sebagai kerugian/pendapatan lain-
lain. Tambahan kos produksi dicatat menggunakan metode
Langsung. Ketika terjadi penjualan, jika ternyata harga jual berbeda
dari kos yang diestimasi maka selisih dialokasikanjuga sebagai
kerugian/pendapatan lain-lain. Berikut ini informasi yang relevan
dengan produk kusip yang terjadi secara tidak rutin tersebut:
a) 1 Jun: Terdapat 25 unit roda yang dinyatakan sebagai produk
yang perlu diproses ulang sebagian karena standar
kualitas yang belum terpenuhi. Kos produksi yang telah
dinikmati adalah Rp40.000/unit sedangkan harga wajar
produk tersebut jika langsung dijual ke pasar Rp30.000/unit.
13) 2 Jun: Tambahan kos produksi berupa kos konversi
dilakukan. Tambahan kos bahan baku langsung
Rp3.000/unit yang diambilkan dari gudang bahan baku dan kos
tenaga kerja langsung Rp3.2001unit yang mana
upah dibayar tunai
c) 8 Jun: Tambahan kos produksi berupa pembebanan overhead pabrik senilai
Rp.800/unit.
d) 17 Jun: Terjual 20 unit produk kusip yang teridentifikasi 1
Juni dijual secara semi-barter. Harga jual roda
disepakati Rp40,0001unit dengan ketentuan pembayaran
sebagai berikut: pelanggan (yang merupakan unit
usaha yang bergerak di bidang jasa akuntansi) memberikan jasa
konsultasi akuntansi di hari yang sama senilai
Rp5.000.000, dan sisanya merupakan transaksi tunai.

Pencatatan, khususnya penjurnalan, yang diperlukan terkait dengan transaksi-


transaksi di atas adalah:
Tgl Name Akun Debet-fRp)
Kredit (Rp)
SOAP_ 5
Perusahaan Simutasi menetapkan beberapa ketentuan yang terkait dengan produk
gagal sebagai benkut:
(1) Semua produk gagal langsung diakui ketika teridentifikasi
dengan menampungnya di akun khusus, yaitu
Persediaan produk gagal.
(2) Produk gagal yang bersifat rutin dicatat menggunakan
sistem Perpetual Mumi, sedangkan produk gagal
yang bersifat non-rutin dicatat menggunakan sistem
Perpetual Modifikasian.
(3) Kos produk gagal adalah sebesar nitai wajar produk tersebut yang diestimasi
secara obyektif.
(4) Kerugian yang disebabkan karena produk gagal rutin dialokasikan ke akun
Kos overhead pabrik.
(5) Kerugian (maupun pendapatan jika dihasilkan ketika
penjualan) yang disebabkan karena produk gagal non-
rutin ditampung di akun Kerugian/pendapatan lain-lain.
(6) Pengakuan atas tambahan kos produksi atas produk
gaga! dicatat menggunakan metode Langsung. Berikut
ini beberapa transaksi yang terkait dengan produk gagal
yang teridentifikasi di perusahaan Simutasi:

 1 Apr. Terdeteksi 20 unit produk rusak rutinE dengan kos yang


telah dinikmati Rp68.000/unit. Harga wajar ditetapkan
Rp40.000/unit.
 3 Apr. Teridentifikasi 10 unit produk rusak non-rutin F dengan kos yang
telah dinikmati Rp90.000/unit. Harga wajar ditetapkan Rp55.000/unit
 3 Apr. Dijual 15 produk rusak E (1 April) secara tunai dengan harga Rp38.000/unit.
 10 Apr. Diketahui 40 unit produk kusip rutin K dengan kos yang telah
dinikmati Rp50.000. Harga wajar dinyatakan sebesar Rp40.0001unit.
 13 Apr, Ditambahkan kos untuk memperbaiki produk kusip K (10 April):
KBBL Rp3.000/unit, KTKL Rp6.000/unit dan KOP Rp1.000/unit.
 13 Apr. Dijual semua produk rusak non-rutin F (3 April) dengan cara
barter murni. Harga jual disepakati
Rp65.0001unit yang ditukar dengan bahan habis pakai
(supplies/perlengkapan) kantor dengan dial yang sama.
 17 Apr, Ditemukan 8 produk kusip non-rutin L dengan kos yang telah
dinikmati Rp115.000/unit Harga wajar dinyatakan sebesar
Rp100.000/unit.
 20 Apr. Ditambahkan kos perbaikan produk kusip L (17 April): KTKL Rp7.000/unit, dan
KOP Rp1.5001unit.
 23 Apr. Dijual 30 unit produk kusip K dengan harga jual normal
Rp60.000/unit. Penjualan dilakukan semi barter: diterima kas Rpl
.000,000, dan sisanya berupa jasa kebersihan ruang kantor pusat yang
dikerjakan hari ini.
 23 Apr. Dijual semua produk kusip L dengan harga Rpl 25.000/unit.
 27 Apr. Dijual secara tunai semua sisa produk rusak E sebesar sama persis dengan kosnya.
Pancatatan, khususnya penjurnalan, yang diperlukan terkait dengan transaksi-transaksi
di atas adalah:
TgI Mama Akun Debet (Rp)
Kredit (Rp)

Pipses produksi yang retatif berulang-ulang dan diperkuat dengan terjadinya proses
pembelajaran optimal memungkinkan perusahaan mengestimasi kos standar untuk produk-produk
yang dihasilkan. Jika hasit estimasi menyajikan kos standar yang akurat dan andal maka perusahaan
dapat menerapkan akuntansi berbasis kos standar (selanjutnya disingkat "akuntansi kos standar).
Namun demikian, salaft satu konsekuensi dad penerapan kos standar adalah terdapat selisih antara
kos standar dan kos produksi aktual. Dalam hal ini pada dasarnya akuntansi menyajikan
informasi keuangan berlandas pada kos aktual.
Disamping efektif dalam penyajian informasi keuangan, penerapan akuntansi kos
standar meningkatkan efisiensi dalam proses akuntansi terutama dalam pencatatan
produk jadi/selesai. Dengan menerapkan akuntansi kos standar maka kos produksi
produk lebih mudah dan cepat ditetapkan berdasar standar yang berlaku. Jika
perusahaan menerapkan akuntansi berbasis kos aktual maka perusahaan harus
melakukan penghitungan kos produksi (baik menggunakan sistem Pesanan maupun
sistem Proses) setiap kali dilakukan pengakuan produk.
Tiga pencatatan utama yang lazim dilakukan jika perusahaan menerapkan akuntansi
kos standar, yaitu:
1.Pengakuan kos aktual; pencatatannya identik dengan yang telah dibahas di bab-bab sebelumnya
buku ini.
2.Pengakuan produk (produk jadi maupun produk yang ditransfer ke departemen lain); yang
membedakan dari
pencatatan di bab-bab sebelumnya adalah besaran nilai moneter produk (dihitung
berdasarkan tarif standar).
3. Pengakuan selisih; Selisih antara kos standar dan kos aktual dialokasikan sesuai
kebijakan perusahaan melalui
pencatatan penyesuai. Pengalokasian selisih kos produksi lazimnya ditampung di
akun akun Kos produk terjual, akun Persediaan produk jadi, dan akun Persediaan
produk dalam proses.
Bab ini terutama membahas tentang analisis selisih (variance analysis) kos produksi.
Selisih kos produksi dapat berupa selisih Menyenangkan (favorable) atau selisih
Tak-Menyenangkan (unfavorable). Disebut selisih Menyenangkan jika kos aktual
lebih rendah daripada kos standar, dan sebaliknya disebut selisih Tak-Menyenangkan
jika kos aktual lebih tinggi daripada kos standar. Selanjutnya, selisih tersebut perlu
dianalisis untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya selisih.
Analisis selisih dikelompokkan berdasar jenis kos produksi (KBBL, KTKL, dan
KOP). Ragam selisih dan teknik analisis rnasing-masing jenis kos dibahas berikut ini.

1. ANALISIS SELISIH — KOS BAHAN BAKU LANGSUNG (KBpL)


Besaran KBBL terkait dengan 2 komponen utama, yaitu hangs (price) dan kuantitas
(quantity). Dengan demikian terdapat dua (2) jenis selisih KBBL, yaitu:
➢ Selisih harga; selisih antara kos harga standar pada kuantitas aktual (harga
standar x kuantitas aktual) dan kos aktual (harga aktual x kuantitas aktual).
➢ Selisih kuantitas; selisih antara kos standar (harga standar x kuantitas standar)
dan kos harga standar pada kuantitas aktual (harga standar x kuantitas aktual).

Contoh 1: Untuk memproses 5.000 unit produk, standar KBBL adalah 2.000kg
dengan harga Rp1.000/kg. Perusahaan Sabar menggunakan BBL aktual sejumlah
2.100kg dengan harga Rp1.100/kg.Total Selisih KBBL: Kos Standar Kos Aktual
(Rp1.000 x 2.000)— (Rp1.100 x 2.100) = Rp310.000 (Tak-MenyenangkanlTM)
• Selisih harga: Kos harga standar pada kuantitas aktual — Kos Aktual (Rp1.000 x 2.100) — (Rpl .1
OD x 2100) = Rp210.000 (Tak-MenyenangkanlTM)
• Selisih Kuantitas: Kos standar Kos harga standar pada kuantitas aktual (Rp1.000 x 2.000) —
(Rp1.000 x 2.100) = Rp100.000 (Tak-MenyenangkanfTM)
2. ANALISIS SELISIH — KOS TENAGA KERJA LANGSUNG (KTKL)
BesaranKTKL terkait dengan 2 komponen utama, yaitu tarif upah (wages rate)
dan jumlah jam (number of hours). Dengan demikian terdapat dua (2) jenis
selisih KTKL, yaitu:
Selisih tarif upah; selisih antara kos tarif upah standar pada jumlah jam aktual
(tarif upah standar x jumlah jam aktual) dan kos aktual (tarif upah aktual x
jumlah jam aktual),
> Selisih jumlah jam; selisih antara kos standar (tarifupah standar x jumlah
jam standar) dan kos tarif upah standar pada jumlah jam aktual (tacit upah
standar x jumlah jam aktual). Contoh 2: Untuk memproses 5.000 unit,
standar KTKL adalah 60 jam kerja dengan tarif Rp50.000/jam. Perusahaan
Sabar membutuhkan TKL aktual sejumlah 59 jam dengan tarif Rp49.000/jam.
Total Selisih KTKL: Kos Standar — Kos Aktual (Rp50.000 x 60) — (Rp49.000
x 59) = Rp109.000 (MenyenangkanfM)
• Selisih tacit upah: Kos tarif upah standar pada kuantitas aktual — Kos
Aktual (Rp50.000 x 59) — (Rp49.000 x 59) = Rp59.000 (Menyenangkan/M)
• Selisih jumlah jam: Kos Standar — Kos tarif upah standar pada kuantitas aktual (Rp50.000 x 60)
— (Rp50.000 x 59) = Rp50.000 (Menyenangkan/M)
3. ANALISIS SELISIH — KOS OVERHEAD PABR1K (KOP)
Berbeda dari KBBL dan KTKL yang keduanya merupakan kos variabel, KOP
merupakan semi-variabel yang terdiri dari kos variabel dan kos tetap. Dengan
demikian, analisis selisih dilakukan untuk masing-masing jenis KOP.
A. Kos Overhead Pabrik Variabei (KOPV)
Besaran KOPV terkait dengan 2 komponen utama, yaitu brit aplikasi
(application rate) dan volume (volume). Dengan demikian terdapat dua (2) jenis
selisih KOPV, yaitu:
> Selisih tarif aplikasi; selisih antara kos tarif aplikasi standar pada jumlah jam
aktual (tarif aplikasi standar x
jumlah jam aktual) dan kos aktual (tarif aplikasi aktual x
jumlah jam aktual).
> Selisih volume; selisih antara kos standar (tarif aplikasi standar x jumlah jam
standar) dan kos tacit aplikasi
standar pada jumlah jam aktual (tarif aplikasi standar x
jumlah jam aktual).
Contoh 3: Untuk memproses 5.000 unit, standar KOPV adalah 200 jam mesin
dengan tarif Rp500/jam mesin. Perusahaan Sabar membutuhkan KOPV aktual
sejumlah 210 jam mesin dengan tarif Rp490/jam mesin.
Total Selisih KOPV: Kos Standar— Kos Aktual
(Rp500 x 200) — (Rp490 x 210) = Rp2.900 (Tak-Menyenangkan/TM)
• Selisih tarif aplikasi: Kos tarif upah standar pada kuantitas aktual — Kos Aktual (Rp500 x 210) —
(Rp490 x 210) = Rp2.100 (MenyenangkaniM)
• Selisih volume: Kos Standar— Kos tacit upah standar pada kuantitas aktual (Rp500 x 200) —
(Rp500 x 210) = Rp5.000 (Tak-Menyenangkan/TM)
B. Kos Overhead Pabrik Tetap (KOPT)
Besaran KOPT ditetapkan dalam nilai moneter tertentu secara periodik yang
tidak dikaitkan dengan J'udah produk yang dihasilkan. Ofeh karena itu, satu jenis
selisih yang dapat ditetapkan, yaitu membandingkan antara KOPT Standar
dan KOPT Aktual. Selisih tersebut dapat disebut Selisih Efisiensi (efficiency
variance).
A. MEMILIH JAWABAN
Pilihlah alternatif jawaban a sfel d. Jika dirasa tidak ada jawaban paling tepat, tulislah "e" di bawah
nomor soal.

01. Salah satu konsekuensi penerapan akuntansi kos


standar adalah:
a, Kos produk menurun.
b. Harga jual produk meningkat.
c. Selisih antara kos aktual dan kos standar.
d. Laba bruto menurun.

02. Analisis selisih di kos produksi lazimnya


diklasifikasi menjadi 3 jenis kos. Berikut ini jenis-jenis klasifikasi kos untuk analisis selisih,kecuali:
a. KBBL b. KTKL.
b. KOP d. KPT (kos produk terjual)

03. Jika kos aktual lebih tinggi dibanding kos standar maka selisih kos dinyatakan:
a. Menyenangkan (favorable).
b. Tak-Menyenangkan (unfovorable).
c. Meningkat (increase)
d. Menurun (decrease)

04. Selisih kos bahan baku langsung terdiri dad:


a. Selisih harga dan selisih tarif aplikasi.
b. Selisih kuantitas dan selisih volume.
c. Selisih harga dan selisih volume.
d. Selisih tarif aplikasi dan selisih volume.

05. Selisih kos tenaga kerja langsung terdiri dari:


a. Selisih tarif upah dan selisih jumlah jam.
b. Selisih tarif upah dan selisih harga.
c. Selisih kuantitas dan selisih jumlah jam.
d. Selisih jumlah jam dan selisih kuantitas.

06. Selisih kos produksi lazimnya dialokasikan ke akun-akun berikut ini, kecuali:
a. Persediaan produk jadi.
b. Persediaan bahan baku.
c. Persediaan produk dalam proses.
d. Kos produk terjual.

07. Pencatatan yang pada umumnya membedakan antara akuntansi kos standar dan akuntansi kos
aktual atas transaksi pengakuan produk jadi adalah:
a. Tanggal transaksi
b. Nama-nama akun
c.Nilal moneter transaksi
d. Kode akun,

08. Penghitungan total selisih (total variance) adalah:


a. Kos standar — Kos aktual.
b. Kos aktual — Kos rata-rata.
c. Kos rata-rata Kos standar.
d. Kos standar tertinggi — Kos standar terendah,

09. Untuk memproses 10.000 unit, standar KTKL


adalah 120 jam kerja dengan tarif Rp50.000/jam. Perusahaan membutuhkan TKL aktual sejumlah
115 jam dengan tarif Rp52.000Ijam untuk memproses 10.000 unit. Total selisih sebesar:
a. Rp20.000 (Menyenangkan)
b, Rp30.000 (Menyenangkan)
c. Rp20.000 (Tak-Menyenangkan)
d. Rp30.000 (Tak-Menyenangkan)

10. Untuk memproses 10.000 unit, standar KTKL adalah 120 jam kerja dengan tarif
Rp50.0001jam. Perusahaan membutuhkan TKL aktual 115 jam
dengan tall Rp52.000/jam untuk memproses
10.000 unit. Selisih tarif upah sebesar:
a. Rp230.000 (Tak-Menyenangkan).
b. Rp250.000 (Menyenangkan).
c. Rp230.000 (Tak-Menyenangkan).
d. Rp250.000 (Menyenangkan).

11. Untuk memproses 10.000 unit, standar KTKL adalah 120 jam kerja dengan tarif Rp50.000/jam.
Perusahaan membutuhkan TKL aktual 115 jam dengan tarif Rp52.000/jam untuk memproses
10.000 unit. Selisih jumlah jam sebesar:
a. Rp230.000 (Tak-Menyenangkan).
b. Rp250.000 (Menyenangkan).
c. Rp230.000 (Tak-Menyenangkan).
d. Rp250.000 (Menyenangkan).
B. MENJAWAB SINGKAT

1. Proses produksi yang relatif dan dipertegas dengan terjadinya optimal memungkinkan
perusahaan mengestimasi kos standar untuk produk-produk yang dihasilkan.
2. Disamping efektif dalam penyajian informasi keuangan, penerapan akuntansi kos standar
meningkatkan dalam proses akuntansi terutama dalam proses pencatatan produk jadi/selesai.
Jika perusahaan menerapkan akuntansi berbasis kos aktual maka perusahaan hams melakukan
penghitungan setiap kali dilakukan pengakuan atas produk jadi.
3. Tiga pencatatan utama yang lazim dilakukan jika perusahaan menerapkan akuntansi kos
standar, yaitu (a) pengakuan kos aktual, (b) pengakuan produk, dan (c) pengakuan
4. Selisih antara kos standar dan kos aktual dialokasikan sesual kebijakan perusahaan melalui
pencatatan Pengalokasian selisih kos produksi lazimnya ditampung di akun-akun Persediaan produk
jadi, dan akun Persediaan produk dalam proses.
5. Disebut selisih jika kos aktual lebih rendah daripada kos standar, dan sebaliknya disebut selisih
Tak-Menyenangkan jika lebih tinggi daripada
6, Analisis KBBL terdiri dad 2 jenis selisih, yaitu selisih dan selisih
7. Analisis KTKL terdiri dad 2 jenis selisih, yaitu selisih dan selisih
8. Analisis KOP terdiri dari 3 jenis selisih, yaitu selisih dan selisih yang merupakan analisis terhadap
KOP variabel, dan selisih yang merupakan analisis terhadap KOP tetap.
9. Untuk memproses 8.000 unit produk, standar KBBL adalah 3.000kg dengan harga Rp1.000/kg.
Perusahaan Sabar menggunakan BBL aktual sejumlah 3.020kg dengan harga Rp1.040/kg. Total
selisih KBBL sebesar yang terdiri dari selisih harga dan selisih kuantitas
10. Untuk memproses 8.000 unit, standar KTKL adalah 80 jam kerja dengan
tarif Rp60.000/jam. Perusahaan Sabar membutuhkan TKL aktual sejumlah 76
jam dengan tarif Rp60.500/jam. Total selisih KTKL yang terdiri dad selisih tarif
upah dan selisih jumlah jam
11. Untuk memproses 8,000 unit, standar KOPV adalah 300 jam mesin dengan
tarif Rp600ljam mesin dan standar KOPT Rp400.000. Perusahaan Sabar
mengakul KOPV aktual sejumlah 310 jam mesin dengan tarif Rp610/jann
mesin dan mengakui KOPT Rp385.000. Total selisih KOP yang terdiri dad
selisih tarif aplikasi, selisih volume dan selisih efisiensi.

C. ESSAY
SOAL
Perusahaan Hati2 menerapkan akuntansi kos standar. Berikut ini informasi yang
terkait dengan standar untuk bahan baku langsung. Perusahaan menghasilkan
4.500 unit produk jadi. Kos standar yang berlaku adalah bahwa untuk setiap
produk jadi menggunakan 2kg bahan baku langsung dengan kos Rp32.000/kg.
Informasi dan akun Persediaan produk dalam proses menunjukkan bahwa
penggunaan aktual bahan baku langsung sejumlah 9.070kg dengan kos aktual
Rp31.800/kg.

Total Selisih KBBL: (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp (


• Selisih Harga: (Rp x kg) — (Rp x ........ kg) = Rp
• Selisih Kuardas: (Rp x kg) — (Rp x........ kg) = Rp ( ....)

SOAL 2
Perusahaan Hati2 menerapkan akuntansi kos standar. Berikut ini informasi yang
terkait dengan standar untuk tenaga kerja langsung. Perusahaan menghasilkan
4.500 unit produk jadi. Kos standar yang berlaku adalah bahwa untuk setiap
produk jadi menggunakan 3 jam tenaga kerja langsung dengan tarif upah
Rp60.000/jam. Informasi dari akun Persediaan produk dalam proses menunjukkan
bahwa penggunaan aktual tenaga kerja langsung sejumlah
13.450jam tenaga kerja dengan kos aktual Rp60.110/jam.

Total Selisih KTKL: (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp ( )


• Selisih Tarif Upah: (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp
•:- Selislh Jumlah Jam: (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp

SOAL 3
Perusahaan Hati2 menerapkan akuntansi kos standar. Berikut ini informasi yang
terkait dengan standar untuk kos overhead pabrik. Perusahaan menghasilkan
4.500 unit produk jadi. Kos standar yang berlaku adalah bahwa untuk setiap
produk jadi dibebanikos overhead pabrik variabel sejumlah 5 jam mesin dengan
tarif Rp3.000/jam, dan kos standar overhead pabrik tetap Rp22.800.000.
Informasi dan akun Persediaan produk dalam proses menunjukkan bahwa
pembebanan aktual kos overhead pabrik variabel sejumlah 22.275 jam mesin
dengan tarif Rp2.980/jam, dan pembebanan aktual kos overhead pabrik tetap
sebesar Rp22.600.000.

Total Selisih KOPV: (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp


( )
• Selisih Tarif Aplikasi: (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp
( )
•:. Selisih Volume: (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp ( )
Selisih Efisiensi KOPT: Rp — Rp =Rp ( )

SOAL 4
Perusahaan Cepat Ajar menerapkan akuntansi kos standar. Berikut ini informasi yang terkait dengan
standar per unit produk untuk masing-masing jenis kos produksi:
o KBBL: 2 kg dengan harga Rp16.400/kg.
o KTKL: 45 menit dengan tarif upah Rp45.000/jam kerja (catatan: 1 jam kerja samadengan 60 menit)
o KOPV: 2 jam mesin dengan tarif Rp4.000/jam mesin.
o KOPT: Jika produk kurang dari 12.000 unit, kos sebesar Rp10.000.000, produk antara 12.000
unit dan 16.000 unit, kos sebesar Rp12.000.000, dan produk lebih dari 16.000 unit maka kos sebesar
Rp14.000.000. Akuntansi menyajikan beberapa informasi yang terkait dengan kos aktual atas proses
produksi 15.200 unit:
■ KBBL: 2,03 kg dengan harga Rp16.4401kg.
■ KTKL: 46 menit dengan tarif upah Rp44.500/jam kerja
■ KOPV: 1,9 jam mesin dengan tarif Rp3.900Ijam mesh
■ KOPT: Rp12.160.000 (tarif pembebanan Rp800/unit produk yang dihasilkan).

(a) Analisis selisih per jenis kos adalah sebagai berikut:


Total Selisih KBBL: (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp
❖ Selisih Harga : (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp
• Selisih Kuantitas: (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp

Total Selisih KTKL: (Rp kg) — (Rp x kg) = Rp


• Selisih Tarif Upah : (Rp ...... x kg) — (Rp x kg) = Rp
• Selisih Jumlah Jam (Rp.. x kg) — (Rp x kg) = Rp

• Selisih Tarif Aplikasi (Rp x kg) — (Rp .. x ..... „kg) = Rp


• Selisih Volume : (Rp x .........kg) — (Rp x kg) = Rp
• Selisih Efisiensi KOPT: Rp — Rp Rp
(b) Analisi selisih kos keseluruhan:
Total kos standar (15.200 unit):
Rp + Rp + Rp = Rp
Total kos aktual (15.200 unit):
Rp + Rp + Rp = Rp
Total selisih kos produksi (15.200 unit):
Rp Rp = Rp ( )

SOAL 4
Perusahaan Ikhfiar menerapkan akuntansi kos standar. Berikut ini informasi yang
terkait dengan standar per unit produk untuk masing-masing,,jenis kos produksi:
o KBBL: 3,4 liter dengan harga Rpl 2.000/liter.
O KTKL: 30 menit dengan tarif upah Rp50.000/jam kerja (catatan: 1 jam kerja
samadengan 60 menit) o KOPV: 50% dari jam kerja langsung dengan tarif
Rp16.000/jam kerja.
o KOPT: Jika produk kurang dari 10.000 unit, kos sebesar Rp8.000.000, produk antara 10.000
unit dan 14.000 unit, kos sebesar Rp10.000.000, dan produk lebih dari 14.000 unit maka kos sebesar
Rp14.000.000. Akuntansi menyajikan beberapa informasi yang terkait dengan kos aktual atas proses
produksi 14.400 unit:
■ KBBL: 3,42 liter dengan harga Rp11.980/liter.
■ KTKL: 29 menit dengan tarif upah Rp51.100/jam kerja
• KOPV: 16 menit (jam kerjalangsung) dengan tarif Rp15.960/jam kerja langsung
• KOPT: Rp12.160.000 (Tarif pembebanan adalah Rp965/unit produk yang dihasilkan).

(a) Analisis selisih per jenis kos adalah sebagai berikut


Total Selisih KBBL: (Rp x kg) — (Rp kg) = Rp
• Selisih Harga : (Rp kg) — (Rp kg) = Rp
• Selisih Kuantitas: (Rp k9)— (RP kg) = Rp

Total Selisih KTKL: (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp


• Selisih Tarif Upah : (Rp x kg) — (Rp kg) = Rp ( )
❖ Selisih Jumlah Jam: (Rp x kg) — (Rp kg) = Rp ( )

Total Selisih KOPV: (Rp x kg) — (Rp kg) = Rp ( )


• Sefisitt Tarif Aplikasi : (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp
• Selisih Volume • (Rp x kg) — (Rp kg) = Rp
• Selisih Efisiensi KOPT: Rp — Rp Rp
(d) Analisis Wish
kos keseluruhan:
Total kos standar (14.400 unit):
Rp + Rp + Rp Rp
Total kos aktual (14.400 unit):
Rp + Rp + Rp = Rp
Total selisih kos produksi (14.400 unit):
Rp Rp Rp )

SOAL 3
Perusahaan Tiaten menerapkan sistem Pesanan untuk pencatatannya dengan
menggunakan kos standar. Berikut ini informasi kos standar dan transaksi yang
terkait dengan pesanan #2108:
Ketentuan kos standar per kartu: XBBL (2 lembar
dengan harga Rp100/lembar)
KTK
L (1 menit dengan tarif upah Rp300/menit)
KOP (Vac 1 menit dengan tarif Rp60/menit Tetap Rp22.500/pesanan)
03 Mei: Menerima pesanan pencetakan 450 kartu undangan dengan harga
kesepakatan Rp800/kartu. Pelanggan menyerahkan uang tunal Rp200.000
sebagai sahnya akad.
03 Mei: Mengirimkan 910 lembar bahan baku langsung ke proses produksi
yang dibeli Rp9011embar. Semua bahan baku langsung diproses, tanpa ada sisa.
13 Mei: Mengakui upah tenaga kerja langsung Rp132.880 yang mana diketahui tarif upah
Rp302Jmenit.
13 Mei: Mengakui pembebanan kos overhead pabrik variabel Rp26.400 yang
mana tarif sesuai dengan standar yang berlaku (Rp601menit) dan kos overhead
pabrik tetap Rp22.000.Lancar menyelesaikan proses produksi pesanan 2108 dan
dikirim kegudang sebelum diambil pemesan. 20Mei: Lancar menyerahkan
pesanan 2075 kepemesan, dan memperoleh sisa pembayaran dari pemesan.
23 Mei: Mengalokasikan semua selisih ke akun Kos produk terjual.

Pencatatan, khususnya penjurnalan, yang diperlukan adalah sebagai berikut:


Tgl Nama Akun Debel (Rp)
Kredit (Rp)

Di proses manual, kos produksi utama berupa kos bahan baku langsung (KBBL)
dan kos tenaga kerja langsung (KTKL). KBBL dan KTKL berbanding lures dengan
produk; semakin banyak produk yang dihasilkan semakin tinggi (secara
proprosional) KBBL dan KTKL. Sementara itu, besaran kos overhead pabrik (KOP)
diproses produksi manual relatif kecil dan bervariasi sehingga perusahaan lazimnya
menggunakan satu tarif untuk menentukanKOP.
Di era modern, pemanfaatan mesin mekanik modem dan teknologi informasi
(TO mendorong terjadinya perubahan. Pertama, komponen KOP menjadi semakin
besar dan signifikan dalam proses produksi. Kedua, pemanfaatan TI (terutama
komputer) memungkinkan pengukuran dan penghitungan yang lebih teliti.
Perubahan inl mendorong perusahaan menerapkan penghitungan kos produksi yang
berbasis aktivitas untuk KOP.
Penentuan kos berbasis aktivitas (activity based costing) berprinsip bahwa
pengeluaran pada dasamya disebabkan &eh aktivitas. Dengan kata lain, aktivitas
merupakan cost driver sehingga penentuan kos haws dikaltkan dengan cost driver
yang relevan dengan kos tersebut. Secara konsep, model activity based costing
(ABC) dapat sangat berbeda dad model penghitungan kos konvensional. Namun
demikian, dad perspektif praktis, penghitungan beearan KOP merupakan pembeda
utama diantara keduanya. Dalam hal ini, model ABC menggunakan beberapa tjf
KOP sedangkan model konvensional lazimnya menggunakan satu tarif KOP. Kos
produk yang dihitung menggunakan model ABC dipertimbangkan lebih akurat,
sepanjang pengukuran dilakukan secara cermat.

Contoh: Selama Januari Tlaten memproduksi tas sekolah 400 unit tas sekolah.
Perusahaan menerapkan penentuan kos model konvensional dengan metode kos
standar. Kos standar per produk jadi adalah sebagai berikut: KBBL (4 gulung, harga
Rp15.000/gulung), KTKL (30 menit, tarif Rp80.000/jam), dan KOP (15 menit, tarif
Rp100.000/jam mesin). Sementara itu, jika perusahaan menerapkan ABC maka
informasi KOP yang relevan adalah sebagai berikut:

No. Jenis Pengeluaran


1. Listrik pabrik
2. Mesin pabrik
3. Bahan baku tidak langsung
4. Tenaga kerja tidak langsung
5 Gedung pabrik
Cost Driver
(Ukuran Aktivitas)
Luaspabrik (m2)
Jam mesin (jam)
Panjang (yard)
Kelompok unit (batch)
Waktu (hari)
Tarif Jumlah Aktivitas
Rp500 200 m2
Rp70.000 100 jam mesin
Rp120 900 yard
Rp60.000 4 batch
Rp20.000 31

(a) Menerapkan model konvensional maka kos produk jadi 400 unit tas sekolah adalah:
400 unit x [(4 gulung x Rp15.000) + (30/60 jam x Rp80.000) + (15/60 jam x Rp100.000)] =
Rp50.000.000

Kos per unit tas sekolah: Rp50.000.000 : 400 unit = Rpl 25.000/unit

(I)) Menerapkan model ABC maka kos produk jadi 400 unit tas sekolah adalah:

Jenis Pengeluaran
Bahan baku langsung
Tenaga kerja langsung
Listrik pabrik
Mesin pabrik
Bahan baku tidak langsung
Tenaga kerja tidak langsung
Gedung
Tarif Perhitungan
Rp15.000 Rp15.000 x 4 gulunQx 400
Rp80.000 Rp80.000 x 30/60 jam x400
Rp500 Rp500 x 200 m2
Rp70.000 Rp70.000 x 100 jam mesin
Rp120 Rp120 x 900 yard
Rp60.000 Rp60.000 x 4 batch
Rp20.000 Rp20.000 x 31
Total Kos
per Pengeluaran
Rp24.000.000
Rp16.000.000
Rp100.000
Rp7.000.000
Rpl 08.000
Rp240.000
Rp610.000

Total Kos Produksi (Model ABC)

Rp48.058.000

Kos per unit tas sekolah: Rp48.058.000 : 400


unit = Rp120.145/unit

A. MEMILIH JAWABAN
Pilihlah altematif jawaban a 01 d. Jikadirasa tidak ada jawaban paling tepat, tulislah 'en di bawah
nomor soal.

01. Kos utama dan besaran nilai moneternya tinggi di proses produksi manual lazimnya adalah:
a. KBBL dan KOP.
b. KOP dan KTKL.
c. KTKL dan KBBL.
d. KOP Variabel dan KOP Tetap.

02. Penghitungan KOP di perusahaan modem yang kompleksitasnya rumit dapat dilakukan
secara teliti terutama melalui pemanfaatan:
a. Ahli matematika.
b. Alat mekanik
c. Manajer yang kompeten
d. Teknologi informasi

03. Kepanjangan ABC adalah:


a. Activity based costing
b. Aktivitas berbasis catatan
c. Activity busy costing
d. Akuntansi berbasis cost

04. Secara teknis, perbedaan antara model ABC dan model konvensional terutama dalam
penghitungan:
a. KOP.
b. KTKL.
c. KTKL.
d. Kos langsung.
05. Di model ABC, aktivitas yang menyebabkan munculnya kos lazim
disebut:
a. Cost driver.
b. Cost passangers.
c. Cost changers.
d. Cost chargers.

06. Ukuran aktivitas yang lazim dipertimbangkan di beberapa literatur


akuntansi layak untuk menghitung kos listrik untuk penerangan gedung
pabrik adalah:
a. Jumlah produk yang dihasilkan.
b. Jumiah jam tenaga keqa langsung.
c. Jumlah jam mesin
d. Judah luas gedung pabrik.

07.Terkait dengan model ABC, pemyataan berikut ini yang tepat dengan jumlah
tarif KOP adalah:
a. Jumlah tarif KOP menggunakan model ABC maupun konvensional lazimnya
hanya 1.
b. Jumlah tarif KOP menggunakan model ABC lazimnya lebih dan 1 sedangkan menggunakan
model konvensional lazimnya hanya 1.
c. Jumlah tarif KOP menggunakan model ABC lazimnya hanya 1 sedangkan
menggunakan model konvensional lazimnya lebih dari 1.
d. Jumlah tarif KOP menggunakan model ABC maupun konvensional lazimnya febih dari 1.

B. MENJAWAB SINGKAT

1. Di proses manual,kos produksi utama berupa dan Pengeluaran kedua kos tersebut dengan
produk; semakin banyak produk yang dihasilkan semakin besar (secara proprosional) KBBL dan
KTKL. Sementara itu, besaran diproses produksi manual relatif kecil dan bervariasi sehingga
perusahaan lazimnya menggunakan tarif KOP.
2. Dibandingkan dengan model konvensional, kos per unit yang dihitung menggunakan model
dipertimbangkan lebih akurat, sepanjang pengukuran dilakukan secara cermat.

C. ESSAY
SOAL 1
Selama bulan April Rajin memproduksi 1.000 unit ban sepeda. Kos standar per produk jadi adalah
sebagai berikut:
KI3BL (0,75 meter, harga Rp20.000/meter), KTKL (45 menit, tarif Rp100.0001jam), dan KOP ( 12
menit, tarif Rp120.0004am mesin). Jika menerapkan ABC maka informasi KOP yang relevan adalah
sebagai berikut:
CostDriver
No. Jenis Pengeluaran
1. Listrik pabrik
2. Mesin pabrik
3. Bahan baku tidak langsung
4. Tenaga kerja tidak langsung
5 Gedung pabrik
(Ukuran Aktivitas)
Luas pabrik (m2)
Jam mesin (jam)
Panjang (meter)
Kelompok unit (batch)
Waktu (hari)
Tarif Jumlah Aktivitas
Rp600 1.200 m2
Rp100.000 200 jam mesin
Rp2.000 800 meter
Rp200.000 5 batch
Rp30.000 30 hari

Pada akhir bulan April diketahul semua produk tersebut terjual dengan harga Rp150.000/unit.

a) Menerapkan model konvensional maka kos produk jadi 1.000 unit ban sepeda adalah:

Total Kos unit x [( meter x Rp ) + ( / jam x Rp


= Rp + Rp + Rp

Kos per unit ban sepeda: Rp unit = Rp

b. Menerapkan model ABC maka kos produk jadi 1.000 unit ban sepeda adalah: ) + ( / jam x
Rp )]

/unit

Total Kos

Jenis Pengeluaran Tarif Perhitungan

Bahan baku langsung Rp Rp x meter x

Tenaga kerja langsung Rp Rp x ( / .. ) jam x

Listrik pabrik Rp Rp x m2

Mesin pabrik Rp Rp x jam mesin

Bahan baku tidak langsung Rp Rp x meter

Tenaga kerja tidak langsung Rp Rp x batch

Gedung pabrik Rp Rp x hari

Total Kos Produksi (Model ABC)


Kos per unit ban sepeda Rp unit = Rp /unit

117
per Pengeluaran
Rp

Rp

Rp

Rp

Rp

Rp

Rp

Rp

c. Jika menerapkan model konvensional (asumsi: kos aktual samadengan kos standar):
Laba brut° produk terjual = ( unit x Rp ) ( unit x Rp

= Rp
d. Jika menerapkan model ABC (asumsi: kos aktual samadengan kos standar):
Laba bruto produk terjual = ( unit x Rp )—( unit x Rp

= Rp

SOAL 2
Selama bulan Mei Teliti memproduksi 600 unit produk. Kos standar per produk
jadi adalah sebagai berikut: KBBL (1,5kg, harga Rp40.000/kg), KTKL (30
menit, tarif Rp90.000/jam), dan KOP ( Variabel: 15 menit, tarif Rp140.000/jam
mesin). Jika perusahaan menerapkan ABC maka informasi KOP yang relevan
adalah sebagai berikut:

No. Janis Pengeluaran


1. Listrik pabrik
2. Mesin pabrik
3. Bahan baku ticlak langsung
4. Gedung pabrik
Cost Driver
(Ukuran Aktivitas)
Luas pabrik (m2)
Jam mesin (jam)
Panjang (meter)
Waktu (hari)
Tarif Judah Aktivitas
Rp600 1.200 m2
Rp100.000 150 jam mesin
Rp2.000 800 meter
Rp30.000 30 hari

Kos aktual selama bulan Mei untuk memproduksi 600 unit yang terkait
dengan dua kos utama adalah sebagai berikut: KBBL (460 meter
@Rp20.500/meter) dan KTKL (260 jam@Rp101.000/jam). Penetapan KOP
mengikuti standar yang berlaku sehingga analisis selisih dilakukan terhadap
KBBL dan KTKL yang mana hasil selisih balk menggunakan model
konvensional ataupun ABC menghasilkan perhitungan yang sama. Sedangkan
analisis KOP dianggap kurang relevan untuk dilakukan.
Selama bulan Mei, 80% dari 600 unit produk jadi tersebut dapat dijual dengan harga jual 150% dari
kos standar.

a) Menerapkan model konvensional maka kos produk jadi 600 unit adalah:

= Rp + Rp + Rp

Kos per unit produk: Rp unit Rp /unit

b) Analisis selisih KBBL:


Total Selisih KBBL: (Rp kg) — (Rp x kg) = Rp (
)
• Selisih Harga : (Rp
❖ Selisih Kuantitas: (Rp

c) Analisis selisih KTKL:

Total Selisih KTKL: (Rp kg) — (Rp. x

Selisih Jumlah Jam: (Rp x kg) — (Rp


d) Menerapkan model ABC maka kos produk jadi 600 unit adalah:
kg) = Rp ( )

kg) = Rp

Total Kos

Janis Pengeluaran Tarif Perhitungan


per Pengeluaran
Bahan baku langsung Rp Rp x meter x
Rp

Tenaga kerja langsung Rp Rp x ... / ... ) jam x


Rp

Listrik pabrik Rp Rp x......... m2


Rp

Mesin pabrik Rp Rp x jam mesin


Rp

Bahan baku tidak langsung Rp Rp x meter


Rp

Gedung pabrik Rp Rp x hari


Rp

Total Kos Produksi (Model ABC)


R
p

Kos per unit produk jadi = Rp unit = Rp /unit

e) Jika menerapkan model konvensional (catatan: kos produk terjual dihitung


berdasar kos aktual):
Laba bruto produk terjual = ( unit x Rp )—( unit x Rp
Rp — Rp
= Rp
f) Jika menerapkan model ABC (catatan: kos produk terjual dihitung berdasar
kos aktual):
Laba bruto produk terjual = ( unit x Rp ) ( unit x Rp
Rp — Rp
= Rp
g) Jika menerapkan model ABC (catatan: kos produk terjual dihitung berdasar
kos standar):
Laba bruto produk terjual = ( unit x Rp )—( unit x Rp
= Rp — Rp
Rp

SOAL 3
Perusahaan Cermat memproduksi 3.000 unit sandal. Kos standar per produk
jadi sandal adalah sebagai berikut: KI3BL (0,6kg, harga Rp15.000/kg), KTKL
(10 menit, tarif Rp90.0001jam), KOPV (15 menit, tarif Rp30.0001jam mesin),
dan KOPT sebesar Rp4,200.000 (akumulasian kos lista pabrik, bahan baku
tidak langsung, dan gedung pabrik). Perusahaan menerapkan ABC yang mana
informasi KOP yang relevan adalah sebagai berikut (termasuk informasi
tentang aktivitas standar dan aktual):

No. Janis Pengeluaran


1. Listrik pabrik
2. mesin pabrik
3. Bahan baku tidak langsung
4. Gedung pabrik
Cost Driver— Tarif Jumlah Aktivitas
Ukuran Aktivitas Standar [Aktual] Standar [Aktual]
Luas pabrik (m2) Rp2.000 [2.050] 2.000 [2.000]m2
Jam mesin (jam) Rp30.000 [29.500] 750[760] jam mesin
Panjang (meter) Rp800 [810] 1.500 [1.560] meter
Waktu (hari) Rp40,000 [40.000] 30 [28] hari

Kos aktual untuk memproduksi 3.000 unit adalah sebagai berikut: KBBL
(1820kg @Rp15.200/kg) dan KTKL (490 jam @Rp90.600/jam), dan KOPV
ditetapkan berdasar satu ukuran saja yaitu jam mesin, kecual pengeluaran untk
Gedung pabrik diperlakukan sebagai KOP Tetap). Perusahaan juga melakukan
analisis selisih di ketiga kos (KBBL, KTKL, maupun KOP). Dalam hal ini
analisis KOP dilakukan per jenis pengeluaran KOP. Menerapkan ABC maka
perusahaan memutuskan bahwa semua KOP bersifat variabel, tidak ada lagi
yang bersifat tetap.
Dan 3.000 unit sandal yang dihasilkan, 60% terjual secara eceran dengan
harga Rp50.0001unit, dan 30% terjual secaragrosir ke agen dengan harga jual
Rp4.500.000 per boks (catatan: 1 boks berisi 100 unit sandal).

a) Menerapkan model konvensional maka kos produk jadi 600 unit adalah:

= Rp + Rp + Rp

Kos per unit produk: Rp unit = Rp /unit

b) Analisis selisih KBBL (model konvensional):


Total Selisih KBBL: (Rp x kg) — (Rp x kg) =, Rp (
• Selisih Harga : (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp
+ Selisih Kuantitas: (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp

c) Analisis selisih KTKL (model konvensional):

• Selisih Tarif Upah : (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp


Selisih Jumlah Jam: (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp

d) Analisis selisih KOP (model konvensional)


Total Selisih KOPV: (Rp x
+ Selisih Tarif Aplikasi : (Rp
+ Selisih Volume : (Rp
Selisih Efisiensi KOPT: Rp

kg) — (Rp. x kg) = Rp ( )


x kg) — (Rp x kg) = Rp
x kg) — (Rp x kg) = Rp

— Rp = Rp

e) Menerapkan model ABC maka kos produk jadi 3.000 unit adalah:

Total Kos
Janis Pengeluaran Tarif Perhitungan
per Pengeluaran
Bahan baku langsung Rp Rp x kg x
Rp

Tenaga kerja langsung Rp Rp x ( . /... ) jam x


Rp

Listrik pabrik Rp Rp x m2
Rp

Mesin pabrik Rp Rp x jam mesin


Rp

Bahan baku tidak langsung Rp Rp x meter


Rp

Gedung pabrik Rp Rp x hari


Rp

Total Kos Produksi (Model ABC) Rp

Kos per unit sandal = Rp unit = Rp /mit

t) Jika menerapkan model konvensional (catatan: kos produk terjual berdasar kos
aktual) laba bruto sebesar:
Penjualan secara eceran ( unit x Rp ) Rp
Penjualan secara grosir ( unit x Rp ) Rp
Total penjualan Rp
Kos produk terjual ( unit x Rp ) Rp (-
Laba bruto (gross margin) Rp

g) Jika menerapkan model ABC (catatan: kos produk terjual berdasar kos aktual) labs bruto sebesar:
Penjualan secara eceran ( unit x Rp Rp
Penjualan secara grosir ( unit x Rp Ro
Total penjualan Rp
Kos produk terjual ( unit x Rp Rp (-)
Laba bruto (gross margin) Rp

h) Analisis selisih KBBL:

Selisih Harga : (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp )


Selisih Kuantitas: (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp )

i) Analisis selisih KTKL:


Total Selisih KTKL. (Rp kg) — (Rp x kg) = Rp )
Selisih Tarif Upah • (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp )
Selisih Judah Jam: (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp. )

j) Analisis selisih KOP (per jenis cost driver):


1) Total Selisih KOP (listrik) • (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp ( )
• Selisih Tarif Aplikasi : (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp ( )
4 Selisih Volume : (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp ( )

4 Selisih Tarif Aplikasi : (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp ( )


4 Selisih Volume : (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp ( )
3) Total Selisih KOP (listrik) • (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp ( )
• Selisih Tarif Aplikasi : (Rp x kg) — (Rp x ........ kg) = Rp ( )
4 Selisih Volume : (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp ( )
4) Total Selisih KOP (listrik) • (Rp x kg) — (Rp x kg) = Rp (.. -)
• Selisih Tait Apiikasi : (Rp x kg) — (Rp x. ..kg) = Rp (. )