Anda di halaman 1dari 5

Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling UNIPA Surabaya 2019.

ISBN:XXXXXXX

TRAUMA HEALING: APAKAH “FITNAH” MAMPU


MEMPENGARUHI SOSIAL PADA REMAJA?

Ayu Alivia Aufar1, Apolinarius Dari Saka2, Lofes Ardiansyah3


FKIP Prodi Bimbingan dan Konseling UNIPA Surabaya
bka1.2k17@gmail.com

Masyarakat pada umumnya tidak terlepas dari keadaan sosial yang terjadi
dalam keseharian. Dalam bersosialisasi dan berhubungan sosial antar individu di
lingkungan masyarakat terkadang individu mengalami beragam persoalan.
Hubungan interaksi dan komunikasi yang tidak harmonis menyebabkan terjadi
persoalan tersebut. Begitu banyak persoalan sosial dapat menyebakan individu
merasa teraniaya secara fisik maupun psikis seperti perkelahian, perselisihan antar
individu, rasa iri hati dan dengki akibat ketidakpuasan perasaan antar individu yang
bertikai.

Kebiasaan menjelekan orang lain tanpa mengetahui kebenarannya


merupakan awal terjadinya fitnah. Fitnah adalah bentuk komunikasi kepada satu
pihak atau lebih yang bertujuan untuk memberikan stigma/pemikiran negatif pada
sesuatu peristiwa yang dilakukan oleh pihak lain. Fitnah didasarkan pada fakta
palsu yang dipengaruhi oleh sifat penghormatan, buruk sangka, obsesi, atau
menjatuhkan dan/atau menaikkan nilai reputasi seseorang atau sesuatu pihak.

Beberapa korban fitnah baik secara rasional bahkan sangat optimis dalam
menghadapi fitnah, mungkin 5% dari mereka. Sebagian mereka merasa lebih
terobsesi membela diri dan terlalu banyak yang menjadi penghancur diri mereka
sendiri, dengan memprotes ketidakbersalahan mereka kepada semua orang yang
mereka temui termasuk orang-orang yang tidak akan pernah mendengarnya ataupun
merespon mereka.

Menghadapi fitnah secara rasional adalah pengecualian karena pencemaran


fitnah jarang bersifat rasional. Hal ini dilakukan tidak hanya oleh psikopat klinis
dan sosiopat semi-fungsional, tetapi juga orang normal yang memiliki terlalu
Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling UNIPA Surabaya 2019. ISBN:XXXXXXX

banyak waktu untuk menyenangkan batinya. Orang-orang memikirkan urusan


orang lain ketika urusan mereka sendiri tidak layak untuk ditangani.

Pencemaran dapat terjadi dimana saja. Ada hot spot, seperti asrama,
sekolah, tempat kerja dan lingkungan pertemanan. Fitnah biasanya menggunakan
penghinaan secara verbal, kemudian menuduh secara sepihak baik dibelakang
ataupun didepan korban.

Menghentikan fitnah seringkali sulit dilakukan. Ada perasaan kegembiraan


dalam menyebarkan fitnah, dan dilakukan orang-orang baik yang sebenarnya tidak
mengetahui tentang fitnah. Meeka bergabung dalam menyebarkan fitnah dengan
antusias. Mereka tidak harus bertindak dalam rasa kebencian tetapi hanya senang
mengobrol tentang sesuatu atau apa pun. Fitnah bisa menyebakan orang yang
menjadi korban mengalami trauma berat hingga resiko bunuh diri. Korban fitnah
seringkali kehilangan kepecayaan tehadap orang lain dan dirinya sendiri bahkan
mengalami ketakutan dan sikap paranoid.

Beragam pertanyaan muncul mengenai bagaimanakah perasaan


sesungguhnya orang yang difitnah, sejauh mana meraka dapat mengatasi fitnah
yang terjadi pada diri mereka, bagaimanakah mengembalikan keadaan psikologis
meraka ke keadaan normal, dan apa yang di mereka butuhkan. Hal-hal ini yang
perlu dikaji dan ditelusuri secara mendalam.

Trauma merupakan keadaan dimana seseorang mengalami gangguan baik


fisik maupun psikologis akibat kejadian/pengalaman yang cukup mengerikan dan
membuat mereka tidak berdaya. Trauma juga sering dikaitkan dengan kondisi
seseorang yang terpuruk akibat pengalaman pahit yang menimpanya. Weaver,
Flanelly dan Preston, 2003 dalam Nirwana (2012) trauma merupakan suatu
kejadian fisik atau emosional yang cukup serius yang mengakibatkan kerusakan
dan ketidakseimbangan secara substansial terhadap fisik dan psikologis seseorang
dalam jangka waktu yang relatif lama. Sementara trauma psikis dalam psikologi
diartikan sebagai anxiety/kecemasan hebat dan mendadak akibat kejadian di
lingkungan individu yang melampaui batas kemampuannya untuk bertahan,
mengatasi atau menghindar. Di samping itu trauma merupakan suatu kondisi
emosional yang terus berlanjut setelah suatu kejadian trauma yang tidak
menyenangkan, menyedihkan, menakutkan, mencemaskan dan menjengkelkan.

Trauma psikis terjadi ketika seseorang dihadapkan pada peristiwa yang


menekan yang menyebabkan rasa tidak berdaya dan dirasakan mengancam. Reaksi
umum terhadap kejadian dan pengalaman yang traumatis adalah berusaha
menghilangkannya dari kesadaran, namun bayangan kejadian itu tetap berada
Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling UNIPA Surabaya 2019. ISBN:XXXXXXX

dalam memori. Untuk mengatasi traumatic yang terjadi, para korban trauma/konseli
perlu membutuhkan tindakan konkrit untuk kesembuhannya. Melalui konseling,
konseli mampu melewati masa trauma yang terjadi olehnya.

Dilihat dari tujuan, konseling traumatic lebih menekankan pada pilihannya


kembalinya konseli pada keadaan sebelum trauma dan mampu menyesuaikan diri
dengan keadaan yang baru. Secara spesifik, Muro dan Kottman (1995), tujuan
konseling:

1. berfikir realistis bahwa trauma adalah bagian dari kehidupan


2. memperoleh pemahaman tentang peristiwa dan situasi yang menimbulkan
trauma
3. memahami dan menerima perasaan yang berhubungan dengan trauma
4. belajar ketrampilan baru untuk mengatasi trauma.

Didunia maya pula kita harus mewaspadai tentang fitnah. Sering kali orang
terperdaya karena informasi tertentu yang bisa memperngaruhi pembaca dan
membuat pola pikir berubah. Misalkan, pendapat sesuatu tentang makanan yang
berbahaya pada tipe daya tubuh tertentu. Biasanya mampu mempengaruhi pembaca
yang awam dan menjadikan sebuah pola piker yang berubah.
Fitnah sudah diatur dalam perundang-undangan (Pasal 311 KUHP), yakni
apabila perbuatan yang dituduhkan sebagaimana dimaksud pada Pasal 310 KUHP
tidak benar. Ada beberapa indikator seseorang menjadi tukang fitnah, yakni:
1. senang mencari kesalahan orang lain
2. kecemburuan sosial
3. gemar melebih-lebihkan cerita
4. menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginan pribadi

Banyak dampak yang terjadi terhadap mereka yang menjadi korban fitnah.
Salah satunya dalam ruang lingkup sosial. Jika yang menjadi korban ini anak-anak
sampai remaja, maka akan menjadikan trauma yang mendalam sampai ia tumbuh
dewasa.

Pada studi kasus yang pernah dilakukan, bahwa anak remaja yang menjadi
korban fitnah cenderung sulit untuk membuka kehidupan sosialnya. Pada masalah
ini yang berawal dari tuduhan dalam keadaan dan momen yang pas sehingga
menjadikan fitnah itu semakin nyata. Remaja akan mengalami kekalutan dan tidak
mendapatkan ketenangan pada kesehariannya. Tidak berdaya, yang dirasakan oleh
remaja membuat trauma yang sangat mendalam. Kehidupan sosial akan terganggu
dan akan menarik diri dari lingkungan. Bahkan menghindari hal-hal yang ia kira
bisa mengulang trauma yang pernah dialami.
Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling UNIPA Surabaya 2019. ISBN:XXXXXXX

Ketika guru, konselor, dan administrator gagal untuk campur tangan,


beberapa korban fitnah akhirnya melakukan langkah-langkah yang salah untuk
melepaskan rasa sakit hati yang dialami, seringkali langkah yang diambil bahkan
menjadi ekstrim. Menutup diri dari sosial, diam, dan lebih meminimalisir kegiatan
diluar rumah adalah dampak yang terlihat. Keadaan batin yang lebih tertekan dan
memikirkan hal-hal yang belum pernah terjadi. Remaja korban fitnah, khususnya
siswa di sekolah, cenderung akan menghindari area publik sekolah seperti kantin
dan toilet sebagai upaya untuk menjauhi keramaian. Untuk beberapa siswa,
ketakutan dan pengalaman pahit yang begitu besar akibat fitnah bahkan
menghindari sekolah sama sekali. Remaja yang tidak bisa mengatasi fitnah bisa
mengalami depresi berat, trauma, bahkan bunuh diri. Selain itu, remaja korban
fitnah bisa melakukan tindakan yang bahkan melanggar hukum seperti kejahatan
dengan kekerasan.

Korban fitnah akan memiliki perasaan dendam yang sangat mendalam,


kemarahan, malu, dan mengasihani diri sendiri setelah insiden terjadi. Campuran
perasaan yang meledak-ledak bisa tersebut bila tidak segera diobati dan dibiarkan
maka reaksi tersebut bisa berkembang menjadi depresi, penyakit fisik, dan dalam
beberapa kasus bahkan bunuh diri. Rasa kehilangan kepercayaan terhadap orang
lain sebagai efek dari fitnah menimbulkan remaja menjadi anti sosial. Sikap dan
perilaku hati-hati yang berlebihan akhirmya muncul dan memicu rasa curiga
terhadap setiap orang disekitarnya. Segala perbuatan yang dilakukan selalu
dipenuhui dengan rasa takut akan adanya massalah. Anak menajadi sosok yang
penakut terhadap lingkungan dan dunia sekitarnya. Ketakutan menjadikan anak
seringkali bersikap murung dan tidak bersemangat menjalani kehidupan. Anak
yang tidak mampu menghadapi ketakuan dan emosinya sendir akhirnya mengambil
langkah terakhir dengan bunuh diri.

Selain itu anak-anak yang kehilangan kepercayaan terhadap orang lain


akibat fitnah manjadi peribadi anti sosial yang lebih menakutkan. Tentu saja
peribadi anti sosial yang dimaksud adalah makna yang sebenarnya yakni membenci
dan marah dengan lingkungan sosial. Anak merasa dunia telah menghakiminya atas
perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Dunia dan lingkungan tidak mampu
membelanya ketika dia membutuhkan pembelaan. Teman-teman, sahabat, guru,
dan orang tua bahkan tidak bisa mengerti dirinya. Anak merasa tidak dianggap dan
tidak diberi kesempatan untuk membela diri. Anak seperti ini bisa melakukan
tindakan-tindakan kejahatan dengan kekerasan sebagai bentuk protes atas
penghakiman yang diterimanya. Kekerasan sebagai upaya menunjukan pembelaan
terhadap dirinya sendiri dilakukan terhadap semua orang bukan hanya pada pelaku.
Hal ini karena anak tersebut sudah tidak mempercayai lingkungan sosialnya.
Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling UNIPA Surabaya 2019. ISBN:XXXXXXX

Perlu adanya perhatian lebih dari orang tua, guru, dan konselor agar
memperhatikan perubahan sikap dan perilaku anak. Guru dan konselor harus
mampu melakukan tindakan-tindakan pencegahan terhadap perilaku menyimpang
dalam lingkungan sekolah. Memberikan edukasi tentang dampak buruk perilaku
tersebut akan membantu menciptakan lingkungan sekolah yang menyenangkan dan
bersahabat bagi siswa.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Martin, G., & Pear, J. (2003). Behavior modification: What it is and
how to do it. Seventh Edition. New Jersey: Prentice Hall, Inc.
[2] Poerwandari, K. (2001). Pendekatan kualitatif untuk penelitian
perilaku manusia. Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan
Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
[3] Soewondo, S. (2003). Modul latihan relaksasi. Jakarta: Lembaga
Psikologi Terapan. Universitas Indonesia.
[4] Suryaningrum. Cahyaning, “Cognitive Behavior Therapy (Cbt)
Untuk Mengatasi Gangguan Obsesif Kompulsif,” Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan.,
vol. 1, no. 1, pp. 1-11, 2013.