Anda di halaman 1dari 29

UPAYA PENINGKATAN AKTIFITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM

PEMBELAJARAN IPS KELAS VII DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK DAN


MODEL DISCOVERY LEARNING DI SMP NEGERI 3 WONOSARI

NAMA PESERTA : INDRI PUSPITASARI, M.Pd

NUPTK : 7550760661300012

SEKOLAH /TEMPAT TUGAS : SMP N 3 WONOSARI

KABUPATEN/KOTA : GUNUNGKIDUL

PROVINSI : YOGYAKARTA

MENTOR PEMBEKALAN : SUBANI, S.Pd

DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA

KABUPATEN GUNUNGKIDUL

TAHUN 2019

1
LEMBAR PENGESAHAN BEST PRACTICE

UPAYA PENINGKATAN AKTIFITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM


PEMBELAJARAN IPS KELAS VII B DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK
DAN MODEL DISCOVERY LEARNING DI SMP NEGERI 3 WONOSARI

DISAHKAN

PADA TANGGAL 8 NOVEMBER 2019

OLEH:

KEPALA SMP NEGERI 3 WONOSARI

Kepala Sekolah

Mulyadi, S.Pd
NIP. 196311081986011003

2
BIODATA PENULIS

1. Nama Indri Puspitasari, M. Pd.

2. NIP 1980198202182006042007

3. NUPTK 7550760661300012

4. Jabatan Guru Pertama

5. Pangkat/Gol.Ruang Penata Muda Tk I, /IIIb

6. Tempat / tanggal lahir Bantul, 18 Februari 1982

7. Jenis Kelamin Perempuan

8. Agama Islam

9. Pendidikan terakhir Sarjana (S2) Manajemen Pendidikan

10. Unit Kerja SMP Negeri 3 Wonosari

Besari, RT 04 RW 04 Siraman Wonosari


11. Alamat Rumah
Gunungkidul

Gunungkidul, 8 Nopember 2019

Penulis

KATA PENGANTAR

3
Puji syukur penulis panjatkan ke Hadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-
Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Best Practices dengan judul
“Upaya Peningkatan Aktifitas dan hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran IPS kelas
VII B Dengan Pendekatan saintifik dan Model Discovery Learning di SMP Negeri 3
Wonosari”.
Makalah ini berisi deskripsi mengenai penerapan pendekatan saintifik dan
Model Discovery Learning. Metode pembelajaran ini dapat menjadi salah satu alternatif
pemecahan masalah-masalah dalam dalam upaya meningkatkan hasil belajar peserta
didik Kelas VII di SMP Negeri 3 Wonosari.
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih terdapat berbagai
kelemahan baik dari segi isi maupun penggunaan tata bahasa. Saran dan kritik yang
membangun sangat penulis harapkan agar kedepan dapat menjadi lebih baik lagi dan
semoga tulisan ini dapat bermanfaat.

Gunungkidul, 8 November 2019

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.............................................................................................1

HALAMAN PENGESAHAN...............................................................................2

4
BIODATA PENULIS.............................................................................................3

KATA PENGANTAR............................................................................................4

DAFTAR ISI..........................................................................................................5

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah..................................................................6


B. Jenis Kegiatan.................................................................................8
C. Manfaat Kegiatan............................................................................8
BAB II PELAKSANAAN KEGIATAN

A. Tujuan dan Sasaran.........................................................................9


B. Bahan/materi Kegiatan....................................................................9
C. Cara Melaksanakan Kegiatan..........................................................9
D. Media dan Instrumen......................................................................10
E. Waktu dan Tempat Kegiatan...........................................................10
BAB III HASIL KEGIATAN

A. Hasil Kegiatan.................................................................................11
B. Masalah yang Dihadapi...................................................................12
C. Cara Mengatasi Masalah.................................................................12
BAB IV SIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Simpulan.........................................................................................13
B. Rekomendasi...................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................15

DAFTAR LAMPIRAN..........................................................................................

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

5
Diimplementasikannya kurikulum 2013 (K-13) membawa konsekuensi guru
yang harus semakin berkualitas dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. K-13
mengamanatkan penerapan pendekatan saintifik (5M) yang meliputi mengamati,
menanya, mengumpulkan informasi, menalar/mengasosiasikan, dan
mengkomunikasikan. Lalu optimalisasi peran guru dalam melaksanakan
pembelajaran abad 21 dan HOTS (Higher Order Thingking Skills). Selanjutnya ada
integrasi literasi dan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dalam proses belajar
mengajar (PBM), pembelajaran pun perlu dilaksanakan secara kontekstual dengan
menggunakan model, strategi, metode dan teknik sesuai dengan karakteristik
Kompetensi Dasar (KD) agar tujuan pembelajaran tercapai. Untuk mewujudkan hal
tersebut di atas, maka guru sebagai ujung tombak pembelajaran harus mampu
merencanakan dan melaksanakan PBM yang berkualitas.

Pada tahun pelajaran 2015/2016 yang lalu SMPN 3 Wonosari khususnya


kelas VII sudah mulia menggunakan kurikulum 2013. Kurikulum ini menerapkan
pendekatan saintifik dalam kegiatan pembelajarannya. Secara materi tidak jauh
berbeda dengan kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan
atau biasa disebut dengan istilah KTSP. Beberapa materi diambil dari kelas level
bawah.

Salah satu materi yaitu Masa praaksara dianggap agak sulit bagi peserta
didik. Karena materi ini harus tahu nama-nama manusia purba dan pembagian
zamannya. Oleh karena itu rendahnya hasil belajar dalam pembelajaran IPS di
SMPN 3 Wonosari merupakan suatu permasalahan yang mesti dicarikan solusinya.
Keadaan ini tentunya menuntut guru untuk bisa kreatif untuk menerapkan berbagai
metode dan model pembelajaran yang sesuai seperti menerapkan metode saintifik.
Dalam hal ini metode saintifik telah diterapkan dalam pembelajaran di kelas pada
peserta didik kelas VII B SMPN 3 Wonosari, diharapkan hasilnya sangat membantu
peserta didik dalam sehingga hasil belajar meningkat. Metode saintifik akan
memudahkan peserta didik dalam pembelajaran IPS, diharapkan metode tersebut
dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas VII B di SMP N 3 Wonosari
Gunungkidul.

Ada beberapa alasan mengapa penulis tertarik untuk menuliskan best


practice ini, diantaranya adalah memotivasi peserta didik agar hasil belajar peserta

6
didik meningkat. Maka untuk memperbaiki kelemahan para peserta didik dalam
hasil belajar yang belum memuaskan, penulis memilih metode saintifik. Tujuan
penulisan ini adalah untuk mengetahui adanya peningkatan aktifitas dan hasil belajar
dengan menggunakan pendekatan saintifik dengan model discovery learning peserta
didik kelas VII B dan diharapkan hasil penelitian ini bermanfaat bagi guru dan
sekolah.

Pembelajaran merupakan proses ilmiah, hal ini sejalan dengan kurikulum


2013 yang mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran.
Pendekatan ilmiah (scientific approach) diyakini sebagai titian emas perkembangan
dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan siswa (Kemendikbud,
2013). Model pembelajaran penemuan “discovery learning” diartikan sebagai proses
pembelajaran yang terjadi ketika siswa tidak disajikan informasi secara langsung
tetapi siswa dituntut untuk mengorganisasikan pemahaman mengenai informasi
tersebut secara mandiri. Siswa dilatih untuk terbiasa menjadi seorang yang saintis
“ilmuan”. Mereka tidak hanya sebagai konsumen, tetapi diharapkan pula bisa
berperan aktif, bahkan sebagai pelaku dari pencipta ilmu pengetahuan.

Ciri atau karakteristik Discovery Learning adalah Mengeksplorasi dan


memecahkan masalah untuk menciptakan, mengabungkan dan menggeneralisasi
pengetahuan. Berpusat pada siswa kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru
dan pengetahuan yang sudah ada. Model Discovery Learning memiliki tujuan
melatih siswa untuk mandiri dan kreatif. Dalam penemuan siswa memiliki
kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Kenyataan menunjukan
bahwa partisipasi banyak siswa dalam pembelajaran meningkat ketika penemuan
digunakan. Melalui pembelajaran dengan penemuan, siswa belajar menemukan pola
dalam situasi konkrit maupun abstrak, juga siswa banyak meramalkan “extrapolate”
informasi tambahan yang diberikan. Siswa juga belajar merumuskan strategi Tanya
jawab yang tidak rancu dan menggunakan Tanya jawab untuk memperoleh informasi
yang bermanfaat dalam menemukan. Pembelajaran dengan penemuan membantu
siswa membentuk cara kerja bersama yang efektif, saling membagi informasi, serta
mendengar dan menggunakan ide-ide orang lain. Terdapat beberapa fakta yang
menunjukan bahwa keterampilan-keterampilan, konsep-konsep dan prinsip-prinsip
yang dipelajari melalui penemuan lebih bermakna. Keterampilan yang dipelajari

7
dalam situasi belajar penemuan dalam beberapa kasus, lebih mudah ditransfer untuk
aktifitas baru dan diaplikasilkan dalam situasi belajar yang baru.

Bertolak dari uraian di atas, penulis bermaksud melaporkan hasil


pembelajaran terbaik ini dalam laporan best practice. Penggunaan kedua media ini
telah berhasil meningkatkan minat dan hasil belajar peserta didik secara signifikan.
Bahkan,. Oleh karena itu penulis melaporkan perbaikan pembelajaran tersebut
sebagai kegiatan best practice berjudul “Upaya Peningkatan Aktifitas dan hasil
Belajar Siswa Dalam Pembelajaran IPS kelas VII B Dengan Pendekatan saintifik
dan Model Discovery Learning di SMP Negeri 3 Wonosari”.

B. Jenis Kegiatan
Kegiatan yang dilaporkan dalam best practice ini adalah kegiatan
pembelajaran dengan menggunakanpendekatan saintifik dan model discovery
learning telah terbukti membuat proses dan hasil belajar di kelas VII B meningkat.
Pembelajaran seperti ini telah dilakukan penulis selama satu tahun pada beberapa
kelas.

C. Manfaat Kegiatan
1. Adanya peningkatan partisipasi peserta didik.
2. Adanya peningkatan motivasi dalam kegiatan pembelajaran.
3. Adanya peningkatan hasil pembelajaran IPS Kelas VII B.

BAB II

PELAKSANAAN KEGIATAN

8
A. Tujuan dan Sasaran
Tujuan penulisanini adalah dengan pendekatan saintifik dan model Discovery
learning, aktifitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS kelas VII B
meningkat. Sasaran pelaksanaan best practice ini adalah peserta didik kelas VII B
semester 1 di SMPN 3 Wonosari sebanyak 32 orang.

B. Bahan/Materi Kegiatan
Bahan yang digunakan dalam praktik baik pembelajaran ini adalah materi kelas VII
B KD 3.4 Memahami kronologi perubahan, dan kesinambungan dalam kehidupan
Bangsa Indonesia pada aspek politik, sosial, budaya, geografis, dan pendidikan sejak
masa Praaksara sampai masa Hindu Budha dan Islam.

C. Cara Melaksanakan Kegiatan


Menurut Suprihatiningrum “2014:244” terdapat dua cara dalam pembelajaran
penemuan “Discovery Learning” yaitu:
 Pembelajaran penemuan bebas “Free Discovery Learning” yakni
pembelajaran penemuan tanpa adanya petunjuk atau arahan.
 Pembelajaran penemuan terbimbing “Guided Discovery Learning” yakni
pembelajaran yang membutuhkan peran guru sebagai fasilitator dalam proses
pembelajarannya.
 Bentuk metode pembelajaran Discovery Learning dapat dilaksanakan dalam
komunikasi satu arah atau komunikasi dua arah bergantung pada besarnya
kelas, yang dijelaskan lebih detail sebagai berikut “Oemar Hamalik,
2009:187”:
 Menurut Suprihatiningrum “2014:244” terdapat dua cara dalam
pembelajaran penemuan “Discovery Learning” yaitu:
 Pembelajaran penemuan bebas “Free Discovery Learning” yakni
pembelajaran penemuan tanpa adanya petunjuk atau arahan.
 Pembelajaran penemuan terbimbing “Guided Discovery Learning” yakni
pembelajaran yang membutuhkan peran guru sebagai fasilitator dalam proses
pembelajarannya.
 Bentuk metode pembelajaran Discovery Learning dapat dilaksanakan dalam
komunikasi satu arah atau komunikasi dua arah bergantung pada besarnya
kelas.
D. Media dan Instrumen

9
Media pembelajaran yang digunakan dalam praktik terbaik ini adalah (a) beberapa
contoh teks report dan (c) lembar kerja peserta didik (LKS) tematik. Instrumen yang
digunakan dalam praktik baik ini ada 2 macam yaitu (a) instrumen untuk mengamati
proses pembelajaran berupa lembar observasi dan (b) instrumen untuk melihat hasil
belajar peserta didik dengan menggunakan (a) tes tulis pilihan ganda dan uraian
singkat.

E. Waktu dan Tempat Kegiatan


Praktik dilaksanakan pada tanggal 30 Oktober 2019 bertempat di kelas VII B SMPN
3 Wonosari.

BAB III

HASIL KEGIATAN

A. Hasil
Hasil yang dapat dilaporkan dari praktik baik ini diuraikan sebagai berikut :

1. Proses pembelajaranyang dilakukan dengan menerapkan pendekatan saintifik


dan model Discovery Learning dapat meningkatkan aktifitas siswa dalam

10
kegiatan pembelajaran. Aktifitas pembelajaran yang dirancang sesuai dengan
model Discovery learning mengharuskan peserta didik aktif selama proses
pembelajaran.
2. Pembelajaran dengan menerapkan pendekatan saintifik dan model Discovery
Learning dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam melakukan
transfer knowledge. Setelah membaca, peserta didik harus mampu menuangkan
peta konsep dari hal-hal yang menjadi kata kunci materi praaksara.
3. Penerapan pendekatan saintifik dan model Discovery Learning dapat
meningkatkan hasil belajar siswa.Penerapan pendekatan saintifik dan model
Discovery Learning dapat meningkatkan kemampuan peserta didik untuk
berpikir kritis. Hal ini dapat dilihat dari hasil kerja peserta didik untuk bertanya
dan menanggapi topik yang dibahas dalam pembelajaran.

Dalam pembelajaran sebelumnya yang dilakukan penulis tanpa berorientasi


HOTS suasana kelas cenderung sepi dan serius. Peserta didik cenderung bekerja
sendiri-sendiri untuk berlomba menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Fokus
guru adalah bagaimana peserta didik dapat menyelesaikan soal yang disajikan,
kurang peduli pada proses berpikir peserta didik. Tak hanya itu, materi
pembelajaran yang selama ini selalu disajikan dengan pola deduktif (diawali
dengan ceramah teori tentang materi yang dipelajari, pemberian tugas dan
pembahasan), membuat peserta didik cenderung menghafalkan teori,
pengetahuan yang diperoleh peserta didik adalah apa yang diajarkan oleh guru.

B. Masalah yang Dihadapi


Masalah yang dihadapi terutama adalah belum terbiasanya peserta didik
belajar dengan Penerapan pendekatan saintifik dan model Discovery Learning .
Dengan tujuan untuk mendapat nilai ulangan yang baik guru selalu menggunakan
metode ceramah, peserta didik pun merasa lebih percaya diri menghadapi ulangan
(penilaian) setelah mendapat penjelasan guru melalui ceramah.

C. Cara Mengatasi Masalah

11
Cara yang digunakan yaitu dengan pendekatan saintifik dan model Discovery
Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Sehingga dapat membuat siswa
lebih menguasai materi pembelajaran, guru memberi penjelasan sekilas tentang apa,
bagaimana, mengapa dan manfaat belajar berorientasi pada keterampilan berpikir
tingkat tinggi (higher order thinking skills/HOTS).

BAB IV

SIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Simpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Pembelajaran dengan pendekatan saintifik dan model Discovery learning layak


dijadikan praktik baik pembelajaran HOTS karena dapat meningkatkan aktifitas

12
peserta didik serta kemampuan peserta didik dalam melakukan transfer
pengetahuan, berpikir kritis dan pemecahan masalah.
2. Pembelajaran dengan pendekatan saintifik dan model discovery learning dapat
meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII B di SMP Negeri 3 Wonosari.
3. Dengan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) secara sistematis
dan cermat, pembelajaran tematik dengan model pembelajaran PBL yang
dilaksanakan tidak sekedar berorientasi HOTS, tetapi juga mengintegrasikan
PPK, literasi dan kecakapan abad 21.

B. Rekomendasi
Berdasarkan hasil pendekatan saintifik dan model discovery learning berikut
disampaikan rekomendasi yang relevan.

1. Guru seharusnya mengubah pola pikir dalam merencanakan dan melaksanakan


pembelajaran di abad 21. Untuk mewujudkan pembelajaran abad 21 dan HOTS,
guru harus memiliki keterampilan proses yang baik dalam pembelajaran.
Keterampilan proses dapat diartikan sebagai keterampilan guru dalam
menyajikan pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman belajar yang
bermakna dan menyenangkan bagi siswa. Pembelajaran berpusat kepada siswa
(student center), dan merangsang siswa untuk menyelesaikan masalah. Peran
guru dalam PBM bukan hanya sebagai sumber belajar, tapi juga sebagai
fasilitator.
2. Peserta didik diharapkan untuk menerapkan kemampuan berpikir tingkat tinggi
dalam belajar, tidak terbatas pada hafalan teori. Kemampuan belajar dengan cara
ini akan membantu peserta didik menguasai materi secara lebih mendalam dan
lebih tahan lama (tidak mudah lupa).
3. Sekolah, terutama kepala sekolah dapat mendorong guru lain untuk ikut
melaksanakan pembelajaran berorientasi HOTS. Dukungan positif sekolah,
seperti penyediaan sarana dan prasarana yang memadai dan kesempatan bagi
penulis untuk mendesiminasikan praktik baik ini akan menambah wawasan guru
lain tentang pembelajaran HOTS.

13
14
DAFTAR PUSTAKA

Asep Jihad dan Abdul Haris. (2008). Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi
Presindo.

Abdul Aziz Wahab. (2007). Metode dan Model-Model Pembalajaran. Bandung:


Alfabeta

Akhmad Sudrajat. (2011). Pembelajaran Berbasis Masalah. artikel diakses 2 November


2019darihttp://akhmadsudrajat.wordpress.com/2011/0928pembelajaranberdasarkanmasa
lah

Bambang Warsito. (2008). Teknologi Pembelajaran. Jakarta: Renika Cipta. Press.

Etin Solihatin dan Raharjo. (2008). Cooperatif learning. Jakarta: Bumi Aksara.

Iwan Setiawan, dkk. Edisi Revisi 2017. Buku Siswa, Ilmu Pengetahuan Sosial
SMP/MTs. Kelas VII. Jakarta: Kemendikbud

15
LAMPIRAN

Format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP )

Satuan Pendidikan : SMP


Mata Pelajaran : IPS
Tema/ BAB : Masa Praaksara sampai masa Hindu Budha dan Islam
Kelas/ Semester : VII/1
Materi Pokok : Mengkaitkan nilai budaya masa praaksara dengan masa
sekarang
Alokasi Waktu : 2 jpl (1 x pertemuan)

A. Kompetensi Inti (KI)


1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong
royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.
3. Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural)
berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni,
budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata.
4. Mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai,
merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca,
menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di
sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.

B. Kompetensi Dasar (KD), Indikator Pencapaian Kompetensi

No KOMPETENSI DASAR INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI


Kompetensi Pengetahuan IPK Penunjang:
3.4 Memahami kronologi Mencontohkan nilai budaya pada masa

perubahan, dan praaksara di Indonesia (C2)


IPK Kunci:
kesinambungan dalam
Mengkaitkan niai budaya masa praaksara
kehidupan Bangsa Indonesia
dengan masa sekarang (C4)
pada aspek politik, sosial,
budaya, geografis, dan
pendidikan sejak masa

16
praaaksara sampai masa Hindu
Budha dan Islam

Kompetensi Keterampilan IPK Penunjang:


4.4 Menguraikan kronologi Mengumpulkan contoh-contoh tentang nilai-nilai
perubahan dan budaya pada masa praaksara di Indonesia pada
tabel (C4)
kesimnambungan dalam
IPK Penunjang:
kehidupan Bangsa Indonesia
Mengumpulkan contoh-contoh tentang nilai-nilai
pada aspek politik, sosial, budaya pada masa praaksara di Indonesia pada
budaya, geografis, dan tabel (C4)
pendidikan sejak masa
praaksara sampai masa Hindu
Budha dan Islam

C. Tujuan Pembelajaran

Melalui DL (Discovery Learning), siswa diharapkan dapat:


1. Mencontohkan nilai budaya pada masa praaksara di Indonesia
2. Mengkaitkan niai budaya masa praaksara dengan masa sekarang
Fokus Penguatan Karakter:
Sikap Spritual : bersyukur.
Sikap Sosial : Jujur, kerjasama, percaya diri, bertanggung jawab
D. Materi Pembelajaran
Nilai-nilai budaya pada masapraaksara di Indonesia

E. Metode Pembelajaran
1. Pendekatan : Saintifik
2. Metode : Diskusi kelompok
3. Model Pembelajaran : Discovery learning, Problem Based Learning (PBL)

F. Media Pembelajaran
1. Gambar-gambar yang berkaitan dengan nilai-nilai budaya dari masa Praaksara
di Indonesia.
2. LCD Proyektor dan Komputer serta tayangan slide Power point (ppt) yang telah
disiapkan

G. Sumber belajar

17
Sumber Belajar : Buku Siswa IPS kelas VII, Buku IPS lain yang relevan, internet,
narasumber, lingkungan sekitar, dan sumber lain yang relevan

18
H. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan Ke 1
TAHAP ALOKASI
KEGIATAN PEMBELAJARAN
PEMBELAJARAN WAKTU
A. Kegiatan Pendahuluan
Pendahuluan 1. Mengucapkan salam,
(persiapan/orientasi) 2. Mengajak peserta didik berdoa bersama- 1 menit
sama untuk pelaksanaan pembelajaran
(Syukur)
3. Menanyakan kabar peserta didik
4. Mengecek kehadiran peserta didik
(Kedisiplinan)
Apersepsi 5. Menanyakan perasaan siswa 2 menit
pada hari ini (Jujur)
Motivasi 6. Guru memberi motivasi dan menanyakan 4 menit
materi yang telah dipelajari pada pertemuan
sebelumnya.
7. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
yang harus dicapai peserta didik (trasfer
knowlegde)
8. Peserta didik menerima informasi dari guru
tentang topik pembelajaran yaitu nilai-nilai
budaya masa praaksara di Indonesia
9. Menginformasikan teknik penilaian yang
digunakan selama proses pembelajaran
(trasfer knowlegde)
B. Kegiatan Inti

Sintak Model Merumuskan pertanyaan, masalah, atau 10 menit


Pembelajaran 1 topik yang akan diselidiki (creatical thinking,
Perumuskan 4C)
pertanyaan 1. Sebutkan nilai-nilai budaya masa praaksara
di Indonesia?
Sintak Model Merumuskan pertanyaan, masalah, atau 5 menit
Pembelajaran 1 topik yang akan diselidiki Kreatical thinking,
Merencanakan 4C
1. Bagaimana kaitan nilai-nilai budaya masa

19
sekarang dengan budaya masa praaksara
di Indonesia?
2. Peserta didik dapat mencari informasi/data
tersebut dari berbagai sumber seperti
membaca Buku Siswa, buku referensi lain
yang relevan, jaringan internet jika tersedia
fasilitas internet.
3. Berdasarkan informasi yang diperoleh,
peserta didik diminta menuliskan kaitan
nilai-nilai budaya masa sekarang dengan
nilai-nilai budaya masa praaksara di
Indonesia.
Sintak Model 3 Kegiatan mengumpulkan informasi, fakta, 20 menit
Mengumpulkan dan maupun data, dilanjutkan dengan kegiatan
menganalisis data menganalisisnya. (problem solving, literasi)
a) Peserta didik diminta melakukan
pengamatan terhadap masyarakat yang
ada di lingkungan sekitar tempat
tinggalnya.
b) Berdasarkan pengamatannya, peserta
didik diminta menemukan kesamaan
antara nilai-nilai budaya masyarakat
masa praaksara dengan nilai-nilai budaya
yang ada pada masyarakat di sekitar
tempat tinggalnya.
c) Setelah itu, peserta didik diminta menulis
kesamaan nilai-nilai budaya masyarakat
praaksara dengan nilai-nilai budaya
masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.
Misalnya, budaya gotong-royong, budaya
musyawarah, dan lainnya.
Sintak Model 4 1. Guru membantu peserta didik dalam 15 menit
Menarik simpulan merencanakan dan menyiapkan laporan yang
sesuai (mengubah moda audio visual menjadi
moda teks), serta membantu mereka untuk

20
berbagi tugas dengan temannya.problem
solving, literasi
2. Guru membimbing peserta didik untuk
menentukan penyelesaian masalah yang
paling tepat dari berbagai alternatif
pemecahan masalah yang peserta didik
temukan. Problem solving
3. Peserta didik menyusun laporan hasil
penyelesaian masalah, misalnya hasil
wawancara, mengamati, membrowsing atau
literature untuk menyusun laporan sederhana
hasil temuan dalam menjawab pertanyaan-
pertanyaan yang menjadi fokus kajian
creatical thinking, literasi
Sintak Model 5 Menerapkan hasil dan mengeksplorasi 17 menit
Aplikasi dan Tindak pertanyaan-pertanyaan atau permasalahan
lanjut lanjutan untuk dicari jawabnya.
Guru membantu peserta didik untuk
melakukan
refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan
mereka dan proses yang mereka gunakan.
1. Peserta didik mengumpulkan hasil kerjanya
kepada guru tanggung jawab
2. Peserta didik mendengarkan tanggapan guru
terhadap hasil kerjanya.
3. Masing-masing peserta didik membuat
kesimpulan dengan bimbingan guru
Penutup 1. Peserta didik diberi kesempatan untuk 6 menit
menanyakan hal-hal yang belum dipahami.
2. Guru memberikan penjelasan atas
pertanyaan yang disampaikan oleh peserta
didik.
3. Peserta didik diingatkan untuk
menyempurnakan hasil kerjanya.
Peserta didik diminta melakukan refleksi
terhadap proses pembelajaran terkait
dengan penguasaan materi, pendekatan

21
dan model pembelajaran yang
digunakan.jujur

22
I. Penilaian
a. Teknik Penilaian
1) Sikap Spiritual dan Sosial : Observasi/Jurnal
Waktu/ Nama Catatan Ttd Tindak
No. Butir Sikap
Tanggal Siswa Perilaku Lanjut

2) Keterampilan : Non Tes yaitu kegiatan diskusi dan presentasi nilai-nilai


budaya masa praaksara dan masa sekarang
1. Penilaian Kinerja dan Presentasi
Dilaksanakan pada saat proses pembelajaran, saat siswa menyampaikan
hasil diskusi tentang Jenis-jenis Lembaga Social Lembaga Pendidikan dan
Lembaga Politik)

LEMBAR OBSERVASI KINERJA DISKUSI

Mata pelajaran : ...


Kelas/Semester : ...

Aspek Penilaian Rerata


No
Nama Siswa Kerjasama Inisiatif Gagasan Keaktifan Nilai
.
4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1
1.
2.
3.

LEMBAR OBSERVASI KINERJA PRESENTASI

Mata pelajaran : ...


Kelas/Semester : ...

Nama Siswa Aspek Penilaian Rerata

23
Sistematik Nilai
Media
Penampila Penguasa a
No yang
n an materi penyampai
. digunakan
an
4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1
1.
2.
3.
4.

Keterangan Skor :
Baik sekali = 4
Baik = 3
Cukup = 2
Kurang = 1

Skor perolehan

Nilai =---------------------------- X 100


Skor maksimal

Kriteria Nilai
A = 86 – 100 : Baik Sekali
B = 71– 85 : Baik
C = 56 – 70 : Cukup
D = ≤ 55 : Kurang
3) Pengetahuan : Tes tertulis

Soal

Masyarakat desa memiliki keberagaman warna dan latar belakang masing-masing yang
melekat pada setiap individu. Masyarakat yang memiliki identitas mereka sendiri-sendiri
sebagai pribadi yang berbeda dengan yang lainnya. Dan keberagaman itulah yang
memberi warna pada satu kesatuan masyarakat yang hidup berdampingan dalam satu
wilayah yang disebut desa.
Hidup berdampingan dalam satu wilayah tempat tinggal dan memiliki kontak sosial
antara satu dan yang lainnya. Membuat masyarakat tak lepas dari saling menyapa,

24
bekerjasama, tolong menolong hingga terkadang memiliki rasa kesamaan dan
sepenanggungan. Hingga memunculkan adat dan tradisi yang terbentuk dari kearifan
lokal masyarakat menjadi sebuah kebiasaan yang turun-temurun diwariskan oleh nenek
moyang kita, dan sampai sekarang tetap terjaga eksistensinya.
Sambatan adalah salah satu tradisi yang sampai hari ini tetap terjaga eksistensinya di
dalam masyarakat pedesaan. ”sambatan” berasal dari kata “sambat” yang berarti
meminta bantuan atau pertolongan kepada orang lain. Tradisi sambatan atau di
masyarakat sering disebut juga “nyambat” adalah tradisi untuk meminta pertolongan
kepada warga masyarakat yang bersifat massal untuk membantu keluarga yang sedang
memiliki keperluan atau sedang terkena musibah. Seperti membangun, memperbaiki atau
memindah rumah, melaksanakan hajatan, dan juga keperluan-keperluan lain yang
membutuhkan bantuan orang banyak.
Sebuah kearifan lokal yang terbentuk dari semangat gotong-royong yang tinggi di dalam
masyarakat. Yang semua itu di dasarkan pada rasa kepedulian antara masyarakat satu dan
lainnya. Menyatukan perbedaan dan keberagaman menjadi satu rasa dan kepentingan
dalam kerja untuk bahu-membahu saling membantu. Rasa ikhlas untuk saling tolong-
menolong tanpa memandang warna dan latar belakang.
https://www.kompasiana.com/inyongyudi/5528274cf17e61f61d8b463b/sambatan-wujud-
kearifan-lokal-masyarakat-desa.
Kearifan local seperti wacana di atas masih kita jumpai di daerah pedesaan. kearifan
local seperti wacana di atas telah ada di masa praaksara yaitu….
a. Masyarakat praaksara hidup secara berkelompok, mereka bergotong royong
untuk kepentingan bersama, contohnya membangun rumah yang dilakukan
secara bersama-sama. Budaya gotong royong juga dapat terlihat dari
peninggalan mereka berupa bangunan-bangunan batu besar yag dapat
dipastikan dibangun secara gotong royong.
b. Dalam kehidupan berkelompok, masyarakat masyarakat praaksara telah
mengembangkan nilai musyawarah. Hal ini dapat ditunjukkan dengan dipilihnya
pemimpin yang dianggap paling tua (sesepuh ) yang mengatur masyarakat
dan memberikan keputusan untuk berbagai persoalan yang dihadapi bersama.
c. Nilai keadilan sudah diterapkan dalam masyarakat praaksara, yaitu dengan
adanya pembagian tugas sesuai dengan kemampuan dan keahliannya. Tugas
antara kaum laki-laki berbeda dengan kaum perempuan. Hal ini mencerminkan
sikap yang adil karena setiap orang akan memperoleh hak dan kewajiban

25
sesuai dengan kemampuannya.
d. Salah satu cara yang dilakukan masyarakat praaksara untuk memenuhi
kebutuhan hidup ialah dengan bercocok tanam. Hal ini dibuktikan dengan
ditemukannya alat khas pertanian yang berupa beliung persegi dan alat
lainnya.

Kunci Pedoman Penskoran


NO
KUNCI/KRITERIA JAWABAN SKOR
SOAL
1 A 1

Keterangan:
Soal ini termasuk soal HOTS karena mengukur kemampuan siswa dalam
1. menelaah stimulus berupa wacana
2. mengaitkan pertanyaan dengan jawaban
3. mengkaitkan nilai-nilai budaya yang ada pada stimulus dengan yang ada pada jawaban

LK-4C KARTU SOAL URAIAN


KARTU SOAL NOMOR 2
(URAIAN)

Mata Pelajaran : IPS


Kelas/Semester : VII/1

3.4 Memahami kronologi perubahan, dan kesinambungan dalam


kehidupan Bangsa Indonesia pada aspek politik, sosial, budaya,
Kompetensi Dasar
geografis, dan pendidikan sejak masa praaaksara sampai masa
Hindu Budha dan Islam
Materi Nilai budaya masa praaksara dengan masa sekarang

Siswa dapat mengkaitkan nilai budaya masa praaksara dengan


Indikator Soal
masa sekarang
Level Kognitif Mengkaitkan C4

Soal
Dalam kehidupan kelompok masyarakat yang sudah menetap diperlukan adanya aturan-aturan
dalam masyarakat. Pada masyarakat dari desa-desa kuno di Indonesia telah memiliki aturan
kehidupan yang demokratis. Hal ini dapat ditunjukkan dalam musyawarah dan mufakat memilih

26
seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang dipilih itu diharapkan dapat melindungi masyarakat
dari gangguan masyarakat luar maupun roh jahat dan dapat mengatur masyarakat dengan baik.
Bila seorang pemimpin meninggal, makamnya dipuja oleh penduduk daerah itu.

https://nchistoriaedu26.wordpress.com/sejarah/kehidupan-sosial-kebudayaan-
dan-teknoogi-masa-prasejarah-di-indonesia/
Nilai budaya yang ada pada masa praaksara, masih dapat kitajumpai dalam
kehidupan bermasyarakat kita. Contoh nilai budaya dalam wacana yang masih
dapat kita jumpai adalah….

Kunci Pedoman Penskoran


NO
URAIAN JAWABAN/KATA KUNCI SKOR
SOAL
1 Pemilihan ketua RT/RW 1
Pemilihan pemimpin dengan musyawarah mufakat

Keterangan:
Soal ini termasuk soal HOTS karena mengukur kemampuan siswa dalam
1. memahami stimulus yang ada
2. menganalisis pertanyan
3. menemukan jawaban yang sesuai

b. Pembelajaran Remedial dan Pengayaan

1) Pembelajaran Remedial
Pembelajaran remedial dilakukan baik dalam bentuk pembelajaran ulang,
bimbingan perorangan, belajar kelompok, ataupun pemanfaatan tutor
sebaya bagi peserta didik yang belum mencapai ketuntasan belajar sesuai
hasil analisis penilaian.
2) Pembelajaran Pengayaan
Berdasarkan hasil analisis penilaian, peserta didik yang sudah mencapai
ketuntasan belajar diberi kegiatan pembelajaran pengayaan untuk
perluasan dan/atau pendalaman materi (kompetensi) antara lain dalam
bentuk tugasmengerjakan soal-soal dengan tingkat kesulitan lebih tinggi,
meringkas buku-buku referensi dan mewawancarai narasumber.
.

J. Bahan Ajar
Nilai Nilai Tradisi dan Budaya pada Masyarakat Praaksara

27
Peninggalan budaya manusia Praaksara yang paling terkenal adalah budaya
megalithikum. Budaya tersubut berupa bangunan batu batu besar yang digunakan
untuk berbagai keperluan upacara adat dan religi pada masa Praaksara. Ada pula
yang berupa bentuk nilai nilai tradisi yang berkembang turun temurun. Contohnya
tradisi gotong royong, bekerja keras, berburu dan bertani, kemampuan melaut.
Dari tradisi dan budaya tersebut tentu kita wajib menjaga dan melestarikannya.
Agar kita mau menjaga dan melestarikannya maka kita harus mempelajari hasil
budaya
Mengetahui Wonosari, 31 Oktober 2019
Kepala Sekolah Peserta

Mulyadi, S.Pd Indri Puspitasari, M.Pd


NIP. 196311081986011003 NIP. 198202182006042007

28
29