Anda di halaman 1dari 21

INSTRUMEN KEUANGAN SYARIAH

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Manajemen Pemasaran
Dosen Pembimbing : Ibu Nur Aini Fitriya Ardiani Aniqoh

Disusun Oleh :
Yunia Elviyanti (1705036013)
Maya Mariya Ulfa H (1705036033)
Ahmad Yoga W (1705036046)
Suhail Romzy R (1705036049)
Dimas Thoriq (1705036053)
Deselva Indah T (1705036058)

S1 PERBANKAN SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan nikmat, rahmat,
dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal kewirausahaan yang berjudul
“Usaha Kantin Kejujuran” ini dengan baik. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata
kuliah Manajemen Keuangan Syariah.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada segenap pihak yang telah memberikan
bantuan dan dukungan dalam penyusunan proposal ini. Dan harapan kami semoga proposal ini
dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi para pembaca. Untuk kedepannya dapat
memperbaiki bentuk maupun menambah isi proposal agar menjadi lebih baik lagi.
Penulis menyadari bahwa proposal ini banyak kekurangan dan kelemahan, kritik dan
saran yang bersifat membangun dari pembaca sangat diharapkan demi perbaikan dan
kesempurnaan penyusunan proposal selanjutnya. Semoga proposal ini dapat bermanfaat bagi
pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya.

Semarang, 2 November 2019

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Islam menganjurkan manusia untuk bekerja atau berniaga, dan menghindari


kegiatan meminta-minta dalam mencari harta kekayaan. Manusia memerlukan harta
kekayaan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari termasuk unuk
memenuhi sebagian perintah Allah seperti infaq, zakat, pergi haji, perang (jihad), dan
sebagainya.
Transaksi yang dilarang dalam islam adalah riba, penipuan, perjudian, gharar,
penimbunan barang, monopoli,rekayasa permintaan dan lain-lain. Maka dari itu
pelarangan riba, pembagian resiko, larangan melakukan kegiatan spekulatif, kesucian
kontrak, aktivitas usaha harus sesuai syariah merupakan sistem keuangan islam
sebagaimana diatur melalui Al-Qur’an dan As-sunah untuk melaksanakan aktivitas
masyarakat dalam dunia ekonomi islam.
Aktivitas ekonomi dalam sistem ekonomi manapundapat dilihat sebagai akad
antara pelaku-pelaku ekonomi. Instrumen keuangan juga merupakan akad , dimana syarat
dan kondisinya akan menentukan risiko dan profil keuntungan instrumen tersebut. Dalam
islam akad/kontrak dianggap legal dan berkekuatan hukum oleh syariah jika pasal
akad/kontrak tersebut bebas dari yang dilarang dan diharamkan.
Dalam makalah ini, akan dijelaskan mengenai instrumen keuangan syariah.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Instrumen keuangan syariah?
2. Apa saja macam kontrak dalam instrumen keuangan Syariah?
3. Apa saja jenis instrumen keuangan ?
4. Apa itu instrumen keuangan syariah primer?
5. Apa itu instrumen keuangan syariah sekunder?
6. Bagaimana pengembangan instrumen syariah?

3
C. Tujuan
1. Untuk menjelaskan pengertian Instrumen keuangan syariah.
2. Untuk mengetahui macam kontrak dalam instrumen keuangan Syariah.
3. Untuk mengetahui pengembangan instrumen syariah.

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Instrumen Keuangan Syariah


Dalam KBBI arti kata instrumen adalah Alat yang dipakai untuk me-ngerjakan
sesuatu (seperti alat yang dipakai oleh pekerja teknik, alat-alat kedokteran, optik, dan
kimia). Dalam hal ini yang dimaksud dengan instrumen keuangan merupakan aset yang
dapat diperdagangkan dalam bentuk apapun, baik kas, bukti kepemilikan dalam suatu
entitas, atau hak kontraktual untuk menerima atau memberikan, uang tunai atau instrumen
keuangan lainnya. Menurut SAI 32 dan 39, instrumen keuangan didefinisikan sebagai
"setiap kontrak yang menimbulkan aset keuangan dari satu entitas dan kewajiban
keuangan atau instrumen ekuitas entitas lain."
Dalam ekonomi islam Aktivitas ekonomi dalam sistem ekonomi manapun dapat
dilihat sebagai kontrak (akad) antara pelaku-pelaku ekonomi. Instrumen keuangan juga
merupakan akad, di mana syarat dan kondisinya akan menentukan risiko dan profil
keuntungan instrumen tersebut. Konsep, isi dan aplikasi seluruh struktur inti Hukum Ilahi
dalam Islam bersifat kontraktual. Sebuah kontrak dianggap legal dan berkekuatan hukum
oleh syari’ah jika pasal kontrak tersebut bebas dari semua yang dilarang atau diharamkan.
seseorang dapat mengelompokkan kontrak tertentu sesuai dengan fungsi dan
tujuannya dalam ekonomi dan sistem keuangan. Kontrak yang berhubungan dengan
transaksi komersial dan bisnis dapat diklasifikasikan ke dalam empat kategori besar yaitu:
1. Kontrak Transaksional
Kontrak transaksional berhubungan dengan sektor transaksi ekonomi riil yang
memfasilitasi pertukaran, penjualan, dan perdagangan komoditas dan jasa. Inti
kontrak transaksional didasarkan pada aktivitas perdagangan atau pertukaran.
Pertukaran dapat berbasis on the spot atau berjangka (deffered) dan dapat berupa
pertukaran komoditas dengan komoditas, jual beli barang dengan harga tertentu, atau
jual beli dengan utang. Berbagai kontrak ini menciptakan aset, yang bisa menjadi
basis peluang pendanaan dan investasi. Perdagangan yang dimaksud bukan hanya
memperdagangkan aset fisik tetapi juga memperdagangkan hak untuk menggunakan
aset fisik. Karena itu kontrak dasarnya adalah kontrak pertukaran, penjualan aset atau

5
penjualan hak untuk menggunakan aset. Kontrak pertukaran dan penjualan
menimbulkan pengalihan kepemilikan, sedangkan kontrak penggunaan aset hanya
mengalihkan hak untuk menggunakan barang dari satu pihak ke pihak lain.
2. Kontrak Pembiayaan
Kontrak pembiayaan (financing contract) menawarkan jalan untuk menciptakan
dan memperluas kredit, memfasilitasi pembiayaan kontrak transaksional, dan
memberikan saluran untuk pembentukan kapital dan mobilisasi sumber daya antara
investor dan pengusaha. Ciri utama kontrak pembiayaan adalah tidak adanya kontrak
utang. Kontrak pembiayaan dimaksudkan untuk pendanaan kontrak transaksional
dalam bentuk trade finance (pembiayaan perdagangan) atau asset-backed securities
(sekuritas berbasis aset), atau menyediakan modal melalui equity partnership
(kemitraan dalam modal) yang dapat diwujudkan dalam beberapa bentuk seperti
kemitraan, penyetaraan kepemilikan atau kemitraan lainnya.
3. Kontrak Intermediasi
Kontrak intermediasi adalah kontrak yang memfasilitasi pelaksanaan kontrak
transaksional dan finansial yang efisien dan transparan. Kontrak ini memberikan
kepada agen ekonomi seperangkat alat untuk melaksanakan intermediasi keuangan
sekaligus menawarkan jasa profesional (fee based) untuk aktifitas ekonomi. Kontrak
intermediassi mencakup mudharabah (kontrak dengan perwalian), musyarakah
(penyertaan modal), kafalah (penjaminan), amanah (kepercayaan), takaful (asuransi),
wakalah (agensi), jo’ala (jasa profesional). Dalam kontrak mudharabah, agen
ekonomi dengan modal (pemilik modal) dapat menjalin kemitraan dengan agen
akonomi lain yang memiliki keterampilan dengan perjanjian bagi hasil. Walaupun
kerugian ditanggung pemilik modal, mudharib dapat bertanggung jawab atas kerugian
yang disebabkan oleh perbuatan tidak pantas atau pengacuhan pada pihaknya.
Kontrak mudharabah dan musyarakah merupakan hal penting dalam penciptaan kredit
dan modal, namun kontrak lain seperti wakalah, jo’ala, dan rahn memainkan peran
penting dalam memberikan jasa ekonomi penting yang bisa ditawarkan oleh
intermediator finansial konvensional.

6
4. Kontrak Kesejahteraan Sosial
Kontrak kesejahteraan sosial ialah kontrak antara individu dan masyarakat untuk
memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi mereka yang kurang mampu.
Walaupun fasilitas kontrak kesejahteraan adalah di luar cakupan intermediasi, namun
intermediasi dapat menawarkan layanan masyarakat dengan menginstusionalisasikan
kontrak kesejahteraan sosial. Contoh kontrak ini adalah akad qardh pad pembiyaan di
Bank Syariah.1

B. Macam Kontrak Dalam Instrumen Keuangan Syariah


Terdapat dua macam kontrak dalam instrumen keuangan syariah yaitu :
1. Instrumen Keuangan Syari’ah Primer
2. Instrumen Keuangan Syari’ah sekunder
1. Instrumen keuangan syariah primer
a. Mudharabah
Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara shahibul maal (pemilik
dana) dan mudharib (pengelola) dengan nisbah bagi hasil menurut kesepakatan di
muka. Jika usaha mengalami kerugian, maka seluruh kerugian ditanggung oleh
pemilik dana, kecuali ditemukan adanya kelalaian atau kesalahan oleh pengelola
dana.
Mudharabah terdiri dari dua jenis, yaitu Mudharabah Muthlaqah(investasi
tidak terikat) dan Mudharabah Muqayyah (investasi terikat).Mudharabah
Muthlaqaah adalah mudharabah di mana pemilik dana memberikan kebebasan
kepada pengelola dana dalam mengelola investasinya. Mudharabah Muqayyah
adalah mudharabah di mana pemilik dana memberikan batasan kepada pengelola
dana mengenai tempat, cara, dan obyek investasi.
b. Musyarakah
musyarakah adalah akad kerjasama di antara para pemilik modal yang
mencampurkan modalnya untuk tujuan mencari keuntungan. Dalam musyarakah,
mitra dan bank sama-sama menyediakan modal untuk membiayai suatu usah
tertentu, baik yang sudah berjalan maupun yang baru. Selanjutnya mitra dapat

1
Muhammad, “Manajemen Keuangan Syariah”, (Yogyakarta : UPP STIM YKPN, 2016), Hlm. 229-231

7
mengembalikan modal tersebut berikut bagi hasil yang telah disepakati secara
bertahap atau sekaligus kepada bank.
Musyarakah dapat bersifat musyarakah permanen maupun menurun.
Dalam musyawarah permanen, bagi modal setiap mitra ditentukan sesuai akad dan
jumlahnya tetap hingga akhir masa akad. Sedangkan musyarakah menurun,
bagian modal bank akan menurun dan pada akhir masa akad mitra akan menjadi
pemilik usaha tersebut.
c. Murabahah
Murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga
perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual maupun
pembeli. Murabahah dapat dilakukan berdasarkan pesanan maupun tanpa
pesanan. Dalam murabahah berdasarkan pesanan, bank melakukan pembelian
barang setelah ada pemesanan dari nasabah. Bank dapat meminta nasabah untuk
menyiapkan agunan atas piutang murabahah, antara lain dalam bentuk barang
yang telah dibeli dari bank.
d. Salam dan Salam Pararel
Salam adalah akad jual beli muslam fiih (barang pesanan) dengan
penangguhan pengiriman oleh muslam alaihi (penjual) dan pelunasannya
dilakukan segera oleh pembelian sebelum barang pesanan tersebut diterima sesuai
dengan syarat-syarat tertentu. Bank dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual
dalam suatu transaksi salam. Jika bank bertindak sebagai penjual kemudian
memesan kepada pihak lain untuk menyediakan barang pesanan dengan cara
salam maka hal ini disebut salam paralel. Salam paralel dapat dilakukan dengan
syarat:
1. Akad kedua antara bank dan pemasok terpisah dari akad pertama antara bank
dan pembeli akhir.
2. Akad kedua dilakukan setelah akad pertama sah.
e. Istishna dan Istishna Pararel
Istishna adalah akad jual beli antara al-mustashni (pembeli) dan as-
shani(produsen yang juga bertindak sebagai penjual). Berdasarkan akad tersebut,
pembeli menugasi produsen untuk menyediakan al-mashnu (barang pesanan)

8
sesuai spesifikasi yang disyaratkan pembeli dan menjualnya dengan harga yang
sudah disepakati. Cara pembayaran dapat dilakukan dengan pembayaran di muka,
cicilan, atau ditangguhkan sampai jangka waktu tertentu.
Bank dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual dalam suatu
transaksiistishna’. Jika bank bertindak sebagai penjual kemudian memesan
kepada pihak lain (sub-kontraktor) untuk menyediakan barang pesanan dengan
cara istishna’ maka hal ini disebut istishna paralel. Istishna paralel dapat
dilakukan dengan syarat:
1. Akad kedua antara bank dan sub-kontraktor terpisah dari akad pertama dari
bank dan pembeli akhir.
2. Akad kedua dilakukan setelah akad pertama sah.
f. Ijarah dan Ijarah Muntahiyah Bittamlik
Kata ijarah diderivasi dari bentuk fi’il: ajara - ya’juru - ajran”. Ajran
semakna dengan kata al-awadh yang mempunyai arti ganti atau upah, dan dapat
juga berarti sewa. Dengan kata lain ijarah adalah akad sewa menyewa antara
pemilik ma’jur (obyek sewa) dan musta’jir (penyewa) untuk mendapatkan
imbalan atas obyek sewa dan penyewa untuk mendapatkan imbalan atas obyek
sewa yang disewakannya.
Ijarah muntahiyah bittamlik adalah akad sewa menyewa antara pemilik
obyek sewa dan penyewa untuk mendapatkan imbalan atas obyek sewa yang
disewakannya dengan opsi perpindahan hak milik obyek sewa pada saat tertentu
sesuai dengan akad sewa.
g. Wadiah
Wadiah adalah titipan nasabah yang harus dijaga dan dikembalikan setiap
saat apabila nasabah yang bersangkutan menghendaki, bank bertanggung jawab
atas pengembalian titipan. Wadiah dibagi atas wadiah yad-mudhamanah dan
wadiah yad-amanah. Wadiah yad-mudhamanah adalah titipan yang selama belum
dikembalikan kepada penitip dapat dimanfaatkan oleh penerima titipan.
Sedangkan dalam prinsip wadiah yad-amanah, penerima titipan tidak boleh
memanfaatkan barang titipan tersebut samai diambil kembali oleh penitip.
h. Qardh dan Qardh Hasan

9
Pinjaman qardh adalah penyediaan dana atau tagihan yang dapat
dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara
peminjam dan pihak yang meminjamkan kewajiban peminjam melunasi utangnya
setelah jangka waktu tertentu. Qardh hasan adalah pinjaman tanpa jaminan yang
memungkinkan peminjam untuk menggunakan dana tersebut selama jangka
waktu tertentu dan mengembalikan dalam jumlah yang sama pada akhir periode
yang disepakati.
i. Sharf
Sharf adalah transaksi jual beli dengan komoditi berupa alat pembayaran
(nuqud), atau mata uang (suatu valuta dengan valuta lainnya). Transaksi valuta
asing pada Bank Syariah (di luar jual beli banknotes) hanya dapat dilakukan
dengan tujuan lindung nilai (hedging) dan dibenarkan untuk tujuan spekulatif.
Selisih penjabaran aktiva dan kewajiban valuta asing dalam rupiah (revaluasi)
diakui sebagai pendapatan atau beban.
j. Wakalah
Wakalah adalah akad pemberian kuasa dari muwakil (pemberi kuasa/
nasabah) kepada wakil (penerima kuasa/ bank) untuk melaksanakan suatu taukil
(tugas) atas nama pemberi kuasa. Akad wakalah tersebut dapat digunakan antara
lain dalam pengiriman transfer, penagihan utang baik melalui kliring maupun
inkaso, dan realisasi L/C.
k. Kafalah
Kafalah adalah akad dimana seseorang yang diperbolehkan mengelola
hartanya sendiri untuk menunaikan suatu hak yang diwajibkan kepada seseorang
atau kemestian menghadirkannya ke hadapan hakim (pengadilan). Kafalah adalah
akad pemberian pinjaman yang diberikan oleh kafil (penerima jaminan) dan
pinjaman tertanggung jawab atas pemenuhan kembali suatu kewajiban yang
menjadi hak penerima jaminan.
l. Hiwalah
Hiwalah adalah pemindahan pengalihan hak dan kewajiban baik dalam
bentuk pengalihan piutang maupun hutang, dan jasa pemindahan/ pengalihan dana
dari satu orang ke orang lain atau satu pihak ke pihak lain.

10
II. Instrumen Keuangan Syariah Sekunder
Instrumen keuangan syari’ah sekunder banyak diaplikasikan pada lembaga keuangan
dalam bentuk pasar modal. Instrumen keuangan sekunder merupakan instrumen turunan
dari instrumen keuangan primer. Ada berbagai macam instrumen pasar modal, menurut
Obaidullah instrumen penting yang dapat diperdagangkan sebagai hasil pemikiran
menurut hukum Islam, di antaranya adalah sebagai berikut :
a. Dana Mudharabah (Mudharabah Fund)
Dana Mudharabah merupakan instrumen keuangan bagi investor untuk
pembiayaan bersama proyek besar berdasarkan prinsip bagi hasil. Instrumen ini
diperbolehkan menurut hukum Islam.
b. Saham Biasa Perusahaan (Common Stock)
Saham biasa yang diterbitkan oleh perusahaan yang didirikan untuk kegiatan
bisnis yang sesuai dengan Islam diperbolehkan
c. Obligasi Muqaradah (Profit Sharing Bond)
Obligasi ini diterbitkan untuk pembiayaan proyek yang menghasilkan uang atau
proyek yang terpisah dari kegiatan umum perusahaan.
d. Obligasi Bagi Hasil (Profit Sharing Bond)
Obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan yang aktivitas bisnisnya sesuai dengan
syariah Islam dan berdasarkan prinsip bagi hasil jenis ini diperbolehkan.
e. SahamPreferen (Preferred Stock)
Saham ini memiliki hak-hak istimewa seperti deviden tetap dan prioritas dalam
likuidasi. Karena ada unsur pendapatan tetap (seperti bunga), maka dilarang
menurut hukum Islam.2

C. Pengembangan Instrumen Keuangan Syari’ah


Di samping adanya instrumen-instrumen keuangan utama, maka perkembangan
ke depan perlu pemikiran lebih jauh adanya instrumen-instrumen keuangan lainnya
sebagai bahan kajian dalam hukum Islam, yaitu:

2
https://www.researchgate.net/publication/315725790_Bisnis_Syariah_Etika_Islam_dan_Instrumen_Keuangan_
Syariah_Sebuah_Pendekatan_Meta_Analisis?enrichId=rgreq-ca7074858de6ca4e58bda69113faaae1-
XXX&enrichSource=Y292ZXJQYWdlOzMxNTcyNTc5MDtBUzo0NzgxODU3ODA0NTMzNzZAMTQ5MTAxOTc4MjYyN
w%3D%3D&el=1_x_3&_esc=publicationCoverPdf [03/10/2019, 21:22]

11
a. Option
b. Future contract
c. Forward Purchased
d. Interest Rate Cap
e. Forward Rate Agreement
f. Repo Rate (Repurchase Agreement)

12
Pertanyaan Audience :

1. Tolong jelaskan pngertian dari 6 instrumen pengembangan keuangan syariah yang


telah pemateri sebutkan ?
a. Option
Kontrak opsi pada dasarnya dibedakan atas dua macam, yaitu calls sebagai hak
beli dan puts sebagai hak jual. Pembeli call atau pemilik call memiliki hak membeli aktiva
tertentu pada harga tertentu pada tanggal tertentu di masa yang akan datang. Sebaliknya
pembeli put atau pemilik put adalah memiliki hak menjual aktiva tertentu pada harga
tertentu pada tanggal tertentu di masa yang akan datang.
Harga dalam kontrak disebut strike price atau exercise price, dan tanggal pada
kontrak disebut expiration date atau maturity date. Gaya opsi ada dua, gaya Eropa dan
Gaya Amerika. Opsi Eropa dapat di exercise hanya persis pada tanggal jatuh tempo,
sedangkan Opsi Amerika dapat di exercise kapan saja sepanjang hidup opsi atau selama
opsi belum jatuh tempo maupun persisi pada tanggal jatuh tempo.
b. Future contract
Menurut John C Hull “ A Futures Contract is an agreement to buy or to sell an
asset at a certain time in the future for a certain price”. Futur Contract merupakan
kesepakatan membeli atau menjual aktiva tertentu pada tanggal tertentu dengan harg
ayang telah ditetapkan dimasa yang akan datang.
Adapun karakteristik dari futurescontracts antara lain:

a) Perlu transfer tunai pada awal transaksi. Transfer tunai sebagai jaminan (margin).

b) Transfer tunai harus dilakukan setiap hari.

c) Risiko kredit sangat kecil.

d) Kontrak yang disesuaikan dengan kebutuhan dua pihak tidak tersedia.

e) Kontrak yang tersedia terutama untuk jangka pendek (paling lama satu tahun).

f) Pasar lebih aktif dibandingkan pasar forward, untuk kontrak-kontrak tertentu.

g) Posisi semula dapat ditutup atau dibalik dengan cepat.


c. Forward Purchased

13
Kontrak penyerahan kemudian (forwardcontracts) sama dengan futurescontracts,
yakni sama-sama merupakan kesepakatan antara dua pihak untuk membeli dan menjual
aktiva yang dilakukan pada tanggal tertentu di masa yang akan datang dan pada harga
tertentu yang telah disepakati pada saat kontrak ditandatangani. Tetapi, futures
diperdagangkan di bursa terorganisir sementara forwardcontracts diperdagangkan di luar
bursa atau over the counter market.
Menurut Siahaan & Manurung (2006: 24), beberapa hal yang perlu diketahui
mengenai forward contracts antara lain:
a) Kesepakatan membeli atau menjual aktiva tertentu pada tanggal tertentu di harga yang
telah ditetapkan di masa yang akan datang.

b) Transaksi selalu dilakukan melalui broker dengan telepon atau telex.

c) Biasanya digunakan untuk memastikan harga di masa yang akan datang.

d. Interest Rate Cap


Adalah suatu perjanjian yang melindungi peminjam dari kenaikan suku bunga
tertinggi tertentu sehingga peminjam tidak akan membayar lebih dari suku bunga
tersebut. Atas perjanjian ini peminjam dikenakan biaya.
e. Forward Rate Agreement
Forward rateee atau bunga maju adalah suku bunga yang berlaku untuk transaksi
keuangan yang akan terjadi di masa depan. Forward rate dihitung dari kasus spot dan
disesuaikan dengan biaya carry untuk menentukan suku bunga di masa depan.
Forward rate merupakan nilai tukar yang ditetapkan pada jangk awaktu tertentu
setelah transaksi dilakukan di kemudian hari.
f. Repo Rate (Repurchase Agreement)
Adalah transaksi penjualan instrumen efek antara dua belah pihak yang diikuti
dengan perjanijian dimana pada tanggal yang telah ditentukan dikemudian hari akan
dilaksanakan pembelian kembali atas efek yang sama dengan harga teretentu yang
telah disepakati. Walaupun dari mekanismenya mirip seperti pinjaman namun dari
sudut pandang hukum dalam transaksi REPO terjdai pemindahan kepemilikan atas
yang ditransaksikan.
2. Bagaimana perkembangan instrumen keuangan syariah yang ada di Indonesia ?

14
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mendapat ucapan selamat dari Managing
Director Majalah Global Markets Toby Fildes (kanan) pada sesi Global Market Award
Ceremony di Nusa Dua, Bali, Sabtu (13/10). Sri Mulyani Indrawati mendapatkan
penghargaan Finance Minister of the Year for East Asia Pacific Awards dari majalah
ekonomi Global Markets.
Bisnis.com, NUSA DUA -- Pemerintah Indonesia bercerita mengenai pengalaman
menggunakan instrumen keuangan Islam dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan.
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memaparkan pengalaman
Indonesia dalam mengoptimalkan peran instrumen keuangan Islam saat menyampaikan
keynote speech pada seminar "Mainstreaming Islamic Finance into Global Initiatives"
pada Annual Meetings IMF-World Bank Group (WBG) 2018 di Bali International
Convention Center (BICC), Nusa Dua, Bali, Minggu (14/10/2018).
Menurutnya, instrumen keuangan Islam telah menjadi bagian penting dari
pembangunan nasional di Indonesia. Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) ritel atau
sukuk misalnya, sudah menjadi instrumen terpenting pemerintah.
“Untuk menjawab tantangan global, industri keuangan Islam menawarkan peluang
besar dalam mencapai sasaran pembangunan berkelanjutan. Hal ini tentu relevan dengan
program yang tiga tahun lalu dicanangkan Bank Dunia, yakni Sustainable Development
Goals atau SDGs” jelasnya.Menkeu melanjutkan Indonesia tidak hanya fokus pada
pengembangan industri keuangan Islam yang bersifat komersial, tapi juga pada keuangan
Islam yang bersifat sosial.
“Ini adalah instrumen efektif untuk mengurangi kemiskian dan mengatasi
ketidaksetaraan, dengan cara memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, memberdayakan
masyarakat berpendapatan rendah, dan tentu membuka akses pada dunia bisnis," tuturnya.
Oleh karena itu, Indonesia melalui Bank Indonesia (BI) bekerja sama dengan Islamic
Development Bank (IDB) untuk mengembangkan Zakat Core Principles dan Waqf Core
Principles.
“Integrasi antara sukuk dan wakaf adalah inovasi yang menarik dalam keuangan
Islam,” ujar Menkeu.
Sukuk berpotensi menjadi instrumen untuk memobilisasi dana, sedangkan wakaf
memiliki kapasitas untuk mendapatkan income dan aktivitas keuangan yang produktif.

15
Kolaborasi antara sukuk dan wakaf dinilai dapat menjadi inovasi dalam pembiayaan
berbiaya rendah untuk menjalankan keberlanjutan ekonomi.

Sementara itu, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan perlunya upaya


mengoptimalkan keuangan sosial syariah untuk mencapai pertumbuhan yang inklusif.
Prinsip keuangan Islam dipandang cocok dalam aktivitas SDGs dan inklusi keuangan,
serta pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
“Kami di BI bersama IDB, Baznas, telah membuat Zakat Core Initiative pada Mei
2016. Ini perlu regulasi yang terintegrasi. Inisiatifnya dikenalkan di seluruh dunia,
termasuk Indonesia," ungkapnya.
Dalam seminar tingkat tinggi ini, tampil pula Wakil Presiden IDB Mohammed Nouri
Jouini yang menekankan pentingnya upaya pengembangan keuangan Islam secara
global.3
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Instrumen sekunder, bukankan instrumrn
sekunder itu turunan dari instrumen primer, Contoh : salam makan turunannya itu
salam pararel, Ijarah turuannya ada IMBT ?
Instrumen keuangan syari’ah sekunder banyak diaplikasikan pada lembaga keuangan
dalam bentuk pasar modal. Instrumen keuangan sekunder merupakan instrumen turunan
dari instrumen keuangan primer. Ada berbagai macam instrumen pasar modal, menurut
Obaidullah instrumen penting yang dapat diperdagangkan sebagai hasil pemikiran
menurut hukum Islam, di antaranya adalah sebagai berikut :
a. Dana Mudharabah (Mudharabah Fund)
Dana Mudharabah merupakan instrumen keuangan bagi investor untuk
pembiayaan bersama proyek besar berdasarkan prinsip bagi hasil. Instrumen ini
diperbolehkan menurut hukum Islam.
b. Saham Biasa Perusahaan (Common Stock)
Saham biasa yang diterbitkan oleh perusahaan yang didirikan untuk kegiatan
bisnis yang sesuai dengan Islam diperbolehkan

3
https://www.google.com/amp/s/m.bisnis.com/amp/read/20181014/9/849013/sri-mulyani-bercerita-
pengalaman-indonesia-gunakan-instrumen-keuangan-syariah-ke-dunia

16
c. Obligasi Muqaradah (Profit Sharing Bond)
Obligasi ini diterbitkan untuk pembiayaan proyek yang menghasilkan uang atau
proyek yang terpisah dari kegiatan umum perusahaan.
d. Obligasi Bagi Hasil (Profit Sharing Bond)
Obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan yang aktivitas bisnisnya sesuai dengan
syariah Islam dan berdasarkan prinsip bagi hasil jenis ini diperbolehkan.
e. SahamPreferen (Preferred Stock)
Saham ini memiliki hak-hak istimewa seperti deviden tetap dan prioritas dalam
likuidasi. Karena ada unsur pendapatan tetap (seperti bunga), maka dilarang
menurut hukum Islam.

17
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran

18
DAFTAR PUSTAKA

19
20
DAFTAR PUSTAKA

21